Anda di halaman 1dari 10

ARTIKEL

”TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)”

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


DOSEN PENGAMPU :
Dr. Ersis Warmansyah Abbas, M. Pd.

Disusun oleh:
Irfan Efendi: 1610111110009

PROGRAM STUDY PENDIDIKAN SEJARAH


JURUSAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERTAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017

1|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)


KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, yang mana atas berkat dan rahmat dan inayah
NYA lah, sehingga saya sebagai penulis dapat membuat artikel ini. Besar harapan saya
sebagai penulis agar kiranya dengan adanya artikel ini dapat berguna dan bermanfaat
sehingga pembaca dapat pengalaman serta ilmu dari artikel yang saya buat, saya sebagai
penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen pengajar dan
semua pihak yang telah menyumbangkan waktu dan pikiran selama pembuatan artikel ini..

Apabila dalam sejarah pergerakan nasional kita mengenal tokoh Tiga Serangkai yaitu
Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, maka dalam masa
pergerakan politik hingga mempertahankan kemerdekaan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah
ternyata memiliki tiga tokoh kebanggaan bergelar TRIKESUMA.

TRIKESUMA memiliki keunikan tersendiri, karena selain mereka adalah tiga saudara
kandung: M. Nawawie sebagai kakak tertua, Norman sebagai adik dan Al Hamdie sebagai si
bungsu, karakter merekapun ternyata saling berbeda namun saling melengkapi. Trio pejuang
ini mampu membangkitkan jiwa patriotisme dan membakar semngat juang pegikut mereka
untuk bangkit dan pantang menyerah “Waja Sampai Kaputing” melawan kolonial Belanda
serta tentara NICA yang bersenjata lengkap dan moderen. Pahit getir perjuangan, siksaan
penjara bahkan pengorbanan darah, air mata hingga kehilangan nyawa rela mereka berikan
tanpa mengharap pamrih. Mereka semua dedikasikan demi Indonesia jaya dan merdeka lepas
dari belenggu penjajahan.

Saya sebagai penulis sudah berupaya sekuat tenaga untuk menampilkan yang terbaik
dalam artikel ini. Namun, saya juga menyadari sepenuhnya artikel yang berjudul
“TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)” ini belum sempurna. Oleh karena itu, dengan
tulus dan rendah hati, saya penulis mengharapkan Kritik dan Saran dari para pembaca guna
memperbaiki dan penyempurnaan artikel ini dan saya sebagai penulis mengucapkan banyak
terima kasih

Banjarmasin, November 2017

Penulis

2|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)


Biodata Penulis Artikel

Nama : IRFAN EFENDI


Tempat/Tanggal Lahir : Basirih Hulu/03 Desember 1997
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Status : Mahasiswa
Agama : Islam
Alamat Sekarang : Jl. Cendana II D RT.01/RW.02 No.22, Banjarmasin.
No. Telepon : 085751634514
E-mail : efendiirfan179@gmail.com
Nama Orang Tua : Matsuhdi/Mulyati
Anak Ke/Dari :2 (dua bersaudara)
Pendidikan Sekarang : Mahasiswa Program Study Pendidikan Sejarah, Jurusan
IPS, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Pendidikan Terakhir : SMA 1 Negeri Samuda Mentaya Hilir Selatan,Kalimantan
Tengah.
Hobi : Olahraga Sepak Bola

3|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)


Mengenal TRIKESUMA
(Tiga Aksi Badangsanak)

Apabila dalam sejarah pergerakan nasional kita mengenal tokoh Tiga Serangkai yaitu
Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, maka dalam masa
pergerakan politik hingga mempertahankan kemerdekaan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah
ternyata memiliki tiga tokoh kebanggaan bergelar TRIKESUMA.

TRIKESUMA adalah panggilan kehormatan teman-teman seperjuangan pada satu


peristiwa menggegerkan pemerintahan NICA/Belanda ketika memimpin Aksi Perlawanan
Rakyat Barabai pada tanggal 19 ke 20 Maret 1946 atau dikenal dengan nama lain “Aksi Tiga
Badangsanak” (sebutan dalam bahasa Banjar yang artinya Aksi Tiga Bersaudara).

Terlahir dengan nama M. Nawawie atau nama lengkapnya adalah H.M Nawawie
Arief yang dilahirkan pada 10 Maret 1909 di Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Sebutan lain pada masa remajanya adalah Abang Inau, begitu dipanggil oleh adik-
adiknya bahkan teman sebayanya, seperti juga anak kebanyakan Abang Inau adalah anak
yang rajin suka membantu orang tuanya dan gampang bergaul dengan orang lain, bahkan
kepada orang-orang tua sekalipun, Abang Inau selalu bersikap hormat.

Berbeda dengan saudaranya, yang bernama Norman lahir pada tahun 1912, di masa
kecilnya juga sering dipanggil teman sepermainannya dengan nama Lukman, ia adalah anak
ke sembilan adik dari M. Nawawie sementara M. Nawawie adalah anak ke tujuh dari
ayahandanya M. Arief dan ibundanya bernama Rukayah. Sifatnya yang cenderung pendiam
tetapi kalau berbicara konon gaya bahasa yang digunakan mampu menyenangkan dan
mempengaruhi pendengarnya (komunikatif). Ia seorang guru yang penuh dengan kehangatan
dan dicintai oleh murid-muridnya. Sempat menamatkan Sekolah Guru/Cursus
Volksonderwijs (CVO) dan mengajar pada Volkschool di kuala kuayan, sampit sekarang
menjadi Kabupaten dari Kalimantan Tengah.

Al Hamdie anak yang paling bungsu dan paling disayang oleh orang tuanya, ia
dilahirkan di Barabai tahun 1916. Pendidikan terakhirnya sama seperti sang abangnya
Norman yaitu Sekolah Guru/Cursus Volksonderwijs (CVO), minat atau cita-citanya menjadi
seorang guru, tidaklah berbeda dengan ayahnya dan abangnya Norman.

1|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)


Berbeda dengan kedua abangnya yang seriuss dan cenderung pendiam, sosok Al
Hamdie yang menonjol dan unik adalah humoris dan sangat periang. Oleh saudara-saudara
tuanya Al Hamdie seperti dijadiakn mainan untuk bersendagurau.

Mereka itu adalah M. Nawawie bersama-sam adik kandungnya Norman atau dengan
panggilan lain Lukman dan si bungsu Al Hamdie. Tiga bersaudara ini terlahir dari hasil
pernikahan suami istri, M. Arief dan Rukayah. Ayahnya berasal dari keluarga pemberani
yang cukup terkenal disebuah desa di Negara Hulu Sungai Selatan yakni Haji Sueb seorang
ulama di Negara cucu dari saudara sepupu M. Arief, sedangkan ibunya berasal dari kampung
Qadhi Barabai yang di kenal sebagai keluarga ulama dari datuk H. Achkmad Akil (Qadhi H.
Achmad Naim).

Secara garis lurus Datuk H. Achmad Akil turunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al
Banjari ulama besar yang terkenal di pelosok Indonesia bahkan sampai ke negeri Jiran
Malaysia, Thailand, dan Filiphina, dan Kiai Dipasantayang konon berasal dari Sumedang.

Berbicara tentang TRIKESUMA, maka tentu kita akan membatasi jejak langkah
mereka sejak kecil hingga akhir hayatnya, sekalipun diantara saudara yang lain sebenarnya
juga memiliki konstribusi dalam perjuangan dari pergerakan politik hingga perjuangan
bersenjata dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan R.I.

Tiga saudara ini memang unik, satu dengan yang lainnya memiliki kedekatan dan
hubungan yang sangat dekat , sekalipun dipisahkan oleh saudara kandungnya yang lainnya,
M. Nawawie anak yang ketujuh, Norman anak yang kesembilan sementara Al Hamdie anak
yang kesebelas. Perbedaan usia dengn masing-masing dibatasi oleh satu saudara, inilah yang
menyebabkan M. Nawawie sangat dihormati oleh adik-adiknya, demikian juga Norman dan
adinya Al Hamdie.

Sekalipun begitu dimasa kecilnya tiga saudara ini layaknya sebagai teman
sepermainan, saling menghargai dan tentu M. Nawawie menjadi sosok teladan dan contoh
bagi adik-adiknya. Semasa hidupnya sudah banyak diketahui orang akan sifat dan karakter
pribadinya masing-masing.

Jika adiknya ditimpa masalah, maka juga masalah bagi M. Nawawie, bahkan orang
lainpun di masanya merasakan pembelaan dan solidaritasnya yang sangat tinggi terhadap
kasus atau persoalan yang dianggapnya benar akan dibela habis-habisan. Begitulah karakter
yang sangat menonjol bagi TRIKESUMA yang satu ini.

2|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)


TRIKESUMA memiliki keunikan tersendiri, karena selain mereka adalah tiga saudara
kandung: M. Nawawie sebagai kakak tertua, Norman sebagai adik dan Al Hamdie sebagai si
bungsu, karakter merekapun ternyata saling berbeda namun saling melengkapi. Trio pejuang
ini mampu membangkitkan jiwa patriotisme dan membakar semngat juang pegikut mereka
untuk bangkit dan pantang menyerah “Waja Sampai Kaputing” melawan kolonial Belanda
serta tentara NICA yang bersenjata lengkap dan moderen. Pahit getir perjuangan, siksaan
penjara bahkan pengorbanan darah, air mata hingga kehilangan nyawa rela mereka berikan
tanpa mengharap pamrih. Mereka semua dedikasikan demi Indonesia jaya dan merdeka lepas
dari belenggu penjajahan.

Sebenarnya mereka banyak memiliki banyak saudara yang lain terdiri dari 6 laki-laki
dan 6 perempuan, mereka adalah: Abdussamad, Bulkis, Hafsah, Sabariah, Abdussalam,
Samlah, M. Nawawie, Rehlah, Norman, Naim, Al Hamdie, dan Thaibah.

Sebut saja saudara tuanya Bulkis isteri dari opsinar Abdur Razak, sejak mudanya aktif
dalam organisasi pergerakan hingga akhir hayatnya sebagai aktivis Aisyiah di bawah
organisasi Muhammadiyah salah satu ormas terbesar di Indonesia, begitu pula Abdussalam
aktif dalam organisasi pergerakan dan pejuang yang banyak terlibat di dalam kelompok
bersenjata di Sampit.

Saudara iparnya H. Mahmudah suami dari Samlah selain aktif dalam organisasi
pergerakan PARINDRA juga terlibat dalam Aksi Tiga Badangsanak di Barabai, begitu pula
saudara iparnya yang lain Zarkasi Athahiry suami dari Rehlah juga ikut aktif dalam peristiwa
Aksi Tiga Badangsanak.

Mereka inilah pejuang-pejuang sejati hingga akhir hayatnya terlupakan akan jasa-
jasanya dan tidak pernah menuntut jasa dan imbalan atas pengorbanannya. Ironisnya semasa
hidupnya pun tidak pernah bergelimang dengan harta, tetapi menikmati hidup dengan
kesederhanaan. Mereka berbagi dan berkorban untuk kepentingan banyak orang, salingg bahu
membahu “ringan sama dijinjing berat sama dipikul”. Pepatah tersebut yang diajarkan oleh
orang tuanya sebagai warisan filosofi hidup (way of life), karena orang tuanya pun sadar akan
kesulitan hidup dan keterbatasan ekonomi untuk memberi nafkah bagi isteri dan 12 orang
anak.

Tongkat estafet dalam mengisi kemerdekaan telah diserahkan kepada generasi


penerus, amanah besar telah dititipkan oleh para pendahulunya. Semangat berkorban telah

3|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)


dibuktikan dengan berdirimya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat berkarya untuk
negeri tercinta, tetap merdeka.

4|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)


5|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)
6|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)
7|TRIKESUMA (Aksi Tiga Badangsanak)