Anda di halaman 1dari 16

ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN

“STOMATA”

DISUSUN OLEH :

NAMA : HERRA WASTU WIDANTI


NIM : F1071151033
KELOMPOK : 3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
ABSTRAK

Tujuan praktikum ini yaitu mengamati tipe-tipe stomata pada tumbuhan


dikotil dan monokotil serta mengamati struktur epidermis daun dikotil dan
monokotil. Praktikum dilakukan dengan melakukan pengamatan preparat awetan
dan preparat segar daun dikotil dan monokotil menggunakan mikroskop. Pada
tumbuhan Oryza sativa dan Nymphaea sp. memiliki sel penutupnya berbentuk
halter. Sedangkan pada Ficus sp. dan Arthocarpus integra sel penutupnya
berbentuk ginjal. Tipe stomata pada daun Oryza sativa yaitu tipe gramineae,
pada Ficus sp. yaitu tipe kriptopor, pada Nymphaea sp. tipe menonjol, dan pada
Arthocarpus integra tipe Amaryllidaceae. Daun dengan pertulangan menyirip
seperti pada dikotil, stomatanya tersebar, sedangkan daun dengan pertulangan
sejajar, seperti pada Gramineae, stomatanya tersusun berderet sejajar. Ditinjau
dari bentuk dan letak penebalan dinding sel penutup serta arah membukanya sel
penutup ada 4 tipe stomata yaitu Tipe Amaryllidaceae, Tipe Gramineae, Tipe
Mnium, dan Tipe Heleborus. Berdasarkan jumlah dan letak sel tetangga stoma
daun tumbuhan dikotil dibedakan menjadi Anomositik, Anisositik, Parasitik,
Diasitik, dan Siklositik. Menurut letak sel penutup terhadap permukaan epidermis
ada tiga tipe stoma yaitu Paneropor, Kriptopor, dan menonjol.
Kata kunci : stomata, sel penutup, sel tetangga, porus

ABSTRACT
The aim of this practicum is to observe the types of stomata in plants dicots and
monocots and observe the structure of the leaf epidermis of dicots and
monocots. Practicum is done by observing preparations preserved and fresh
preparations dicots and monocots leaf using a microscope. Oryza sativa and
Nymphaea sp. have a cell dumbbell-shaped lid. While on Ficus sp. and
Arthocarpus integra cell kidney-shaped lid. Type of stomata on the leaves of
Oryza sativa is Gramineae, the Ficus sp. is kriptopor, Nymphaea sp. is stand
out, and the type of Arthocarpus integra is Amaryllidaceae. Leaves with Pinnate
nervatioin dicotyledonous, stomata scattered , whereas leaves with parallel
nervatio , as in the Gramineae, stomata are arranged in parallel rows. From the
shape and location of the cell wall thickening as well as directions to open the cell
cover there are 4 types of stomatal closing the Amaryllidaceae,
Gramineae,Mnium and Heleborus. Based on the number and location of the
stoma neighboring cells differentiated into a dicots plant leaf are Anomositik,
Anisositik, Parasitic, Diasitik, and Siklositik. According to the cell layout cover the
surface of the epidermis, there are three types of stoma are Paneropor,
Kriptopor, and stand out.
Keywords: stomata, cell cover, neighboring cells, porous

PENDAHULUAN
Dalam aktivitas hidupnya, sejumlah air dikeluarkan oleh tumbuhan
dalam bentuk uap air ke atmosfer. Penguapan air dari tumbuhan ini disebut
dengan transpirasi. Mekanisme yang mengatur pengeluaran air dari jaringan
tumbuhan (daun dan organ lain) melalui proses transpirasi merupakan proses
yang sangat penting dalam tumbuhan. Udara selalu memiliki tekanan potensial
air yang jauh lebih negatif dari pada tekanan potensial air di dalam daun.
Akibatnya molekul air di dalam daun menguap bila tidak ada pembatas yang
dapat menghalangi keluarnya molekul-molekul air dari dalam daun. Sebagian
besar molekul air dari dalam daun keluar melalui stomata. Stomata adalah suatu
celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang berisi kloroplas
dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berlainan dengan epidermis. Pada
kebanyakan tumbuhan, stomata dikelilingi oleh sel-sel yang berbeda bentuknya
dan kadang-kadang isinya dari sel-sel epidermis lainnya. Sel-sel yang berbeda
tersebut disebut sel tetangga.
Volume sel penjaga dapat berubah-ubah tergantung dengan potensial di
dalam sel yang mengakibatkan dinding sel dapat menggembung atau mengkerut
pada saat tekanan potensial air sel meningkat atau menurun. Peningkatan
volume sel dapat ditandai dengan menggembungnya sel mengakibatkan stomata
membuka, sebaliknya penurunan volume sel mengakibatkan menutupnya
stomata. Karena peningkatan volume sel penjaga berlangsung melawan tekanan
yang berasal dari sel-sel epidermis lain yang ada disekelilingnya, maka sifat-sifat
osmotik sel-sel epidermis juga penting dalam mempengaruhi proses membuka
dan menutupnya stomata. Stomata terdapat pada daun dan sebagian besar
terdapat pada bagian bawah daun di karenakan untuk mengurangi transpirasi
pada tanaman tersebut. Karena begitu pentingnya bagian tanaman ini untuk
kelangsungan hidup tanaman ,maka dilakukanlah praktikum ini untuk mengamati
tipe-tipe stomata tersebut.
Epidermis daun merupakan jaringan terluar pada tumbuhan,epidermis
daun mengandung kipas-kipas dan stomata yang terdapat pada kedua
permukaan bawah saja,dibawah epidermis biasanya terdapat hipodermis,yang
merupakan derivat dari epidermis. Epidermis atas biasanya dilindungi oleh
kutikula atau lilin sebagai penahan terjadinya penguapanyang terlalau besar.
Epidermis juga dapat termodifikasi menjadi trikoma yang berasal dari penonjolan
epidermis, dapat berbentuk rambut, duri, gelembung atau tabung yang berfungsi
untuk melindungi dan memantulkan radiasi cahaya matahari. Selain itu pada
epidermis juga terdapat stomata, yaitu celah yang dibatasi oleh sel penutup.
Lapisan epidermis atas berfungsi melindungi bagian dibawahnya. Stomata
berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara dan dengan menghubungkan
ruang-ruang antar sel di dalam jaringan parenkim dengan atmosfer. Pada
tumbuhan darat, stomata terletak dipermukaan bawah daun, sedangkan pada
tumbuhan air terdapat di atas permukaan daun (Lakitan, 1996) .
Stomata berasal dari bahasa Yunani yaitu stoma yang berarti lubang
atau porus, jadi stomata adalah lubang-lubang kecil berbentuk lonjong yang
dikelilingi oleh dua sel epidermis khusus yang disebut sel penutup, dimana sel
penutup tersebut adalah sel-sel epidermis yang telah mengalami kejadian
perubahan bentuk dan fungsi yang dapat mengatur besarnya lubang-lubang
yang ada diantaranya. Sel-sel penutup tanaman dikotil umumnya berbentuk
ginjal, sedangkan monokotil mempunyai bentuk seragam dan strukturnya spesifik
yang jika dilihat dari permukaan sel terlihat sempit di bagian tengah dan
membesar pada ujungnya (Fahn, 1992).
Kekurangan air di dalam jaringan tanaman dapat disebabkan oleh
kehilangan air yang berlebihan pada saat transpirasi melalui stomata dan sel lain
seperti kutikula atau disebabkan oleh keduanya. Namun lebih dari 90%
transpirasi terjadi melalui stomata di daun. Selain berperan sebagai alat untuk
penguapan, stomata juga berperan sebagai alat untuk pertukaran CO2 dalam
proses fisiologi yang berhubungan dengan produksi. Stomata terdiri atas sel
penjaga dan sel penutup yang dikelilingi oleh beberapa sel tetangga. Mekanisme
menutup dan membuka-nya stomata tergantung dari tekanan turgor sel tanaman,
atau karena perubahan konsentrasi karbondioksida, berkurangnya cahaya dan
hormon asam absisat. Stomata berperan penting sebagai alat untuk adaptasi
tanaman terhadap cekaman kekeringan. Pada kondisi cekaman kekeringan
maka stomata akan menutup sebagai upaya untuk menahan laju transpirasi.
Senyawa yang banyak berperan dalam membuka dan menutupnya stomata
adalah asam absisat (ABA). ABA merupakan senyawa yang berperan sebagai
sinyal adanya cekaman kekeringan sehingga stomata segera menutup.
Mekanisme membuka dan menutup stomata pada tanaman yang toleran
terhadap cekaman kekeringan sangat efektif sehingga jaringan tanaman dapat
menghindari kehilangan air melalui penguapan (Lestari, 2006).
Intensitas cahaya yang optimal akan mempengaruhi aktivitas stomata
untuk menyerap CO2, makin tinggi intensitas cahaya matahari yang diterima oleh
permukaan daun tanaman, maka jumlah absorpsi CO2, relatif makin tinggi pada
kondisi jumlah curah hujan cukup, tetapi pada intensitas cahaya matahari diatas
50% absorpsi CO2 mulai konstan (Nasaruddin, 2002).
Kepadatan stomata dapat ditunjukkan dengan kondisi perubahan
konsentrasi karbondioksida. Karbondioksida dan intensitas cahaya merupakan
adalah satu-satunya faktor yang diketahui dapat digunakan untuk mengendalikan
perkembangan stomata dari sel epidermis. Efek dari karbondioksida, pada
pertumbuhan daun dapat diketahui dengan mengukur indeks stomata (IS), yang
menggambarkan rasio antara banyaknya stomata dengan jumlas sel pada
permukaan daun (Johnson et.al., 2002).
Stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan (dalam batas
tertentu) dan peningkatan cahaya menaikkan suhu daun sehingga air menguap
lebih cepat naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak
kelembaban sehingga transpirasi meningkat dan akan mempengaruhi bukaan
stomata. (Salisbury dan Ross, 1995).
Stomata akan membuka jika kedua sel penjaga meningkat. Peningkatan
tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel penjaga
tersebut. Pergerakan air dari satu sel ke sel lainnya akan selalu dari sel yang
mempunyai potensi air lebih tinggi ke sel ke potensi air lebih rendah. Tinggi
rendahnya potensi air sel akan tergantung pada jumlah bahan yang terlarut
(solute) didalam cairan sel tersebut. Semakin banyak bahan yang terlarut maka
potensi osmotic sel akan semakin rendah. Dengan demikian, jika tekanan turgor
sel tersebut tetap, maka secara keseluruhan potensi air sel akan menurun. Untuk
memacu agar air masuk ke sel penjaga, maka jumlah bahan yang terlarut di
dalam sel tersebut harus ditingkatkan (Lakitan, 1993).
Stomata regulate the exchange of gases between leaves and the
atmosphere,and thus control the water use efficiency of photosynthesis, i.e., the
balance between water loss and CO2 uptake. The development of stomata (about
400million years ago) is therefore considered a key event in the evolution
ofadvanced land plants (Hetherington & Woodward, 2003). Stomatal
diffusionresistance, and hence conductance, is directly related to the size and
spacing ofstomata on the leaf surface (Jones, 1992), and so guard cell length
and stomataldensity can both be considered important ecophysiological
parameters (Beerling,Chaloner, Huntley, Pearson, & Tooley, 1993). There is a
general negativecorrelation between guard cell length and stomatal density
(Carpenter & Smith,1975). Across functional groups, and even including
fossil plants, this relationshipis almost exactly compensatory: Although stomatal
densities ranging from 5 to 1,000 mm−2 are observed, the concurrent changes in
mean guard cell length result in a nearly constant (on the mean) stomatal
conductance (Hetherington &Woodward, 2003). Guard cell length and stomatal
density are both sensitive togrowth environment, and there is considerable
genotypic variation and phenotypic plasticity for these two traits. In a common-
garden experiment, stomatal densityand guard cell length varied among
provenances of Azadirachta indica, andstomatal density correlated with leaf-level
net photosynthesis and whole-plant dryweight (Kundu et. al, 1998). Other
comparative studies have indicated thatxeric species typically have higher
stomatal densities than mesic species(Carpenter & Smith, 1975), and sun leaves
typically have higher stomataldensities than shade leaves (N.Holland, 2009).

Tipe-tipe stomata (Fahn, 1992):


A. Ditinjau dari bentuk dan letak penebalan dinding sel penutup serta arah
membukanya sel penutup :
1. Tipe Amaryllidaceae
2. Tipe Gramineae
3. Tipe Mnium
4. Tipe Heleborus
B. Ditinjau dari letak sel-sel penutup terhadap permukaan epidermis :
1. Tipe paneropor. Misal pada Mesophyta
2. Tipe kriptopor. Misal pada Xerophyta (Pinus sp dan Ficus sp)
3. Tipe menonjol (misal : Teratai)
C. Berdasarkan hubungan ontogenetik antara sel penjaga dan sel tetangga,
stomata dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu (Dwijoseputro, 1984):
1. Stomata mesogen, yaitu sel tetangga dan sel penjaga asalnya sama.
2. Stomata perigen, yaitu sel tetangga berkembang dari sel protoderm
yang berdekatan dengan sel induk stomata.
3. Stomata mesoperigen, yaitu sel-sel yang mengelilingi stomata
asalnya berbeda, yang satu atau beberapa sel tetangga dan sel
penjaga asalnya sama, sedangkan yang lainnya tidak demikian.
D. Pada tumbuhan dikotil, berdasarkan susunan sel epidermis yang ada di
samping sel penutup dibedakan menjadi empat tipe stomata, yaitu
(Dwijoseputro, 1984):
1. Anomositik, sel penutup dikelilingi oleh sejumlah sel yang tidak beda
ukuran dan bentuknya dari sel epidermis lainnya. Umum pada
Ranuculaceae, Cucurbitaceae, Mavaceae.
2. Anisositik, sel penutup diiringi 3 buah sel tetangga yang tidak sama
besar. Misalnya pada Cruciferae, Nicotiana, Solanum.
3. Parasitik, setiap sel penutup diiringi sebuah sel tetangga/lebih dengan
sumbu panjang sel tetangga itu sejajar sumbu sel penutup serta
celah. Pada Rubiaceae, Magnoliaceae, Convolvulaceae,
Mimosaceae.
4. Diasitik, setiap stoma dikelilingi oleh 2 sel tetangga yang tegak lurus
terhadap sumbu panjang sel penutup dan celah. Pada
Caryophylaceae, Acanthaceae.
Tujuan praktikum Stomata kali ini yaitu mengamati tipe-tipe stomata
pada tumbuhan dikotil dan monokotil serta mengamati struktur epidermis daun
dikotil dan monokotil.

.METODOLOGI

Praktikum ini dilaksanakan pada 14 Maret 2017 di Laboratorium


Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Tanjungpura pukul 7.30 WIB hingga selesai.
Alat yang digunakan berupa mikroskop, silet, pipet tetes, beaker glass,
gelas objek, dan kaca penutup. Sedangkan bahan yang digunakan berupa
preparat segar daun tumbuhan monokotil yaitu Oryza sativa dan Nymphaea sp.
dan daun tumbuhan dikotil yaitu preparat awetan daun Ficus sp. dan preparat
segar daun Arthocarpus integra serta air.
Langkah kerjanya yaitu pada preparat segar epidermis bawah dari
masing-masing daun disayat dan diletakkan pada gelas objek dan ditetesi air.
Kemudan ditutup dengan kaca penutup dan diperiksa di bawah mikroskop
dengan perbesaran kuat. Setelah itu stoma dan sel epidermisnya digambar dan
diberi keterangan, kemudian ditulis tipe stomata dari masing-masing tumbuhan.
Sedangkan pada preparat awetan, letakkan preparat dibawah miroskop,
kemudian diamati. Setelah itu stoma dan sel epidermisnya digambar dan diberi
keterangan, kemudian ditulis tipe stomata dari masing-masing tumbuhan.
HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Hasil Pengamatan Stomata

1. Awetan daun Ficus sp. Keterangan

1) Sel tetangga
2) Sel penutup
3) Porus
4) Stomata

Tipe Stomata : Kriptopor


Sel Penutup : berbentuk ginjal

Perbesaran : 40x
2. Daun segar Oryza sativa Keterangan
1) Sel tetangga
2) Sel penutup
3) Porus
4) Stomata

Tipe Stomata : Gramineae


Sel penutup : berbentuk halter

Perbesaran : 40x
3. Daun segar Arthocarpus integra Keterangan
1) Sel tetangga
2) Sel penutup
3) Porus
4) Stomata

Tipe Stomata : Amaryllidaceae


Sel penutup : berbentuk ginjal

Perbesaran : 40x
4. Daun segar Nymphaeae sp. Keterangan
1) Sel tetangga
2) Sel penutup
3) Porus
4) Stomata

Tipe Stomata : menonjol


Sel penutup : berbentuk halter

Perbesaran : 40x

PEMBAHASAN

Tujuan praktikum kali ini yaitu mengamati tipe-tipe stomata pada


tumbuhan dikotil dan monokotil serta mengamati struktur epidermis daun dikotil
dan monokotil. Pada praktikum ini menggunakan preparat segar daun tumbuhan
monokotil yaitu Oryza sativa dan Nymphaea sp. dan daun tumbuhan dikotil
yaitu preparat awetan daun Ficus sp. dan preparat segar daun Arthocarpus
integra. Tiap preparat tersebut diamati dibawah mikroskop untuk melihat tipe
stomatanya serta struktur epidermis daunnya dengan perbesaran 40x.
Dari hasil pengamatan dapat dilihat sel penutup, porus, dan sel tetangga
pada tiap preparat. Sel penutup disebut juga sel penjaga. Sel penutup terdiri dari
sepasang sel yang kelihatannya simetris dan umumnya berbentuk ginjal. Sel-sel
penutup merupakan sel-sel aktif (hidup). Pada sel-sel penutup terdapat
kloroplas. Di antara kedua sel penutup terdapat celah (porus) yang berupa
lubang kecil. Sel penutup dapat mengatur menutup atau membukanya porus
berdasarkan perubahan osmosisnya. Sel tetangga merupakan sel-sel yang
berdampingan atau yang berada di sekitar sel-sel penutup. Sel-sel tetangga
dapat terdiri dari dua buah atau lebih yang secara khusus
melangsungkan fungsinya secara berasosiasi dengan sel-sel penutup.
Terlihatnya celah menunjukkan stomata dalam keadaan terbuka. Pada
stomata daun Oryza sativa yang merupakan tumbuhan monokotil, memiliki
bentuk halter. Selain itu memiliki tipe stomata gramineae yang ditandai dengan
ciri sel penutup berbentuk halter, bagian ujung-ujungnya membesar, dinding sel
pada ujung-ujung yang membesar tersebut relatif tipis daripada dinding sel
bagian bawah, arah membukanya sel penutup sejajar dengan permukaan
epidermis, dan juga tipe ini terdapat pada tumbuhan familia Gramineae
(Poaceae) dan Cyperaceae. Dan pada pengamatan terlihat struktur epidermisnya
teratur disekitar stomata pada Oryza sativa. Stomata pada daun Oryza sativa ini
tersusun berderet sejajar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyani (2006) yang
mengatakan daun dengan pertulangan sejajar, seperti pada Gramineae,
stomatanya tersusun berderet sejajar
Pada pengamatan daun Ficus sp., stomatanya berbentuk ginjal. Daun
Ficus sp. yang merupakan daun dikotil ini memiliki tipe stomata kriptopor yaitu
dengan ciri-ciri stomata letaknya tenggelam terhadap permukaan daun, terdapat
pada tumbuhan Xerophyta dan tumbuhan berdaun kaku serta tebal seperti
pada Pinus sp. dan Ficus sp.
Pada pengamatan daun Nymphaea sp., sel epidermisnya mengelilingi
stomata sehingga apabila dilihat stomata dan sel epidermis tersebut menyerupai
bentuk bunga. Pada daun Nymphaea sp. stomatanya berbentuk halter
(memanjang) dan berukuran lebih besar yang dikarenakan tumbuhan ini hidup
diperairan sehingga adanya stomata yang berukuran besar ini berfungsi untuk
mempercepat laju transpirasi. Selain itu menurut Mulyani (2006) Stomata
tumbuhan yang daunnya mengapung di permukaan air, seperti Nymphaeae sp.,
hanya terdapat pada permukaan atas saja. Hal tersebut tentunya
membedakan Nymphaea sp. dari tumbuhan yang hidup didaratan seperti Oryza
sativa, Ficus sp., dan Arthocarpus integra yang memiliki stomata umumnya pada
permukaan bawah daun. Tipe stomata Nymphaeae sp. yaitu tipe menonjol yang
bercirikan sel penutup lebih tinggi daripada sel-sel epidermis dan terdapat pada
tumbuhan air yang daunnya terapung.
Pada pengamatan daun Arthocarpus integra stomatanya berbentuk
ginjal. Dan daun Arthocarpus integra merupakan daun dikotil yang memiliki tipe
stomata Amaryllidaceae yang memiliki ciri-ciri yaitu sel penutup berbentuk ginjal,
dinding perut dan dinding punggung relatif tipis, dinding luar dan dinding dalam
menebal, arah membukanya sel penutup sejajar dengan permukaan dalam, dan
terdapat pada daun tumbuhan dikotil dan monokotil, terutama pada family
Amiryllideceae. Stomata pada daun Arthocarpus integra ini tersebar. Dan ini juga
sesuai dengan Mulyani (2006) yang menyatakan bahwa daun dengan
pertulangan menyirip seperti pada dikotil, stomatanya tersebar
Dapat dilihat bentuk stoma pada tumbuhan dikotil yaitu berbentuk ginjal
sedangkan pada monokotilnya berbentuk halter (memanjang). Hal tersebut
sesuai dengan pernyataan Salisbury & Ross (1995) bahwa stomata khas pada
dikotil terdiri dari dua sel penjaga berbentuk ginjal, sel penjaga rumputan dan teki
cenderung lebih memanjang (berbentuk halter). Sel penjaga mengandung sedikit
kloroplas, sedangkan sel epidermis tetangganya tidak punya (kecuali pada paku-
pakuan dan beberapa angiosperma air).
Ditinjau dari bentuk dan letak penebalan dinding sel penutup serta arah
membukanya sel penutup ada 4 tipe stomata yaitu Tipe Amaryllidaceae (sel
penutup berbentuk ginjal, dinding perut dan dinding punggung relatif tipis, dinding
luar dan dinding dalam menebal, arah membukanya sel penutup sejajar dengan
permukaan dalam, dan terdapat pada daun tumbuhan dikotil dan monokotil,
terutama pada family Amiryllideceae) , Tipe Gramineae (sel penutup berbentuk
halter, bagian ujung-ujungnya membesar, dinding sel pada ujung-ujung yang
membesar tersebut relatif tipis daripada dinding sel bagian bawah, arah
membukanya sel penutup sejajar dengan permukaan epidermis, dan juga tipe ini
terdapat pada tumbuhan familia Gramineae (Poaceae) dan Cyperaceae) , Tipe
Mnium (Sel penutup berbentuk seperti ginjal. Dinding perutnya tipis, adapun
dinding lainnya dapat dikatakan tipis ataupun tebal. Terdapat pada golongan
Bryophyta serta Pteridophyta) , dan Tipe Heleborus (Sel penutup jika dilihat dari
atas berbentuk ginjal, tetapi pada dinding punggung dan perut tipis. Dinding atas
dan bawah lebih tebal).
Berdasarkan jumlah dan letak sel tetangga stoma daun tumbuhan dikotil
dibedakan menjadi Anomositik ( sel penutup dikelilingi oleh sejumlah sel yang
tidak beda ukuran dan bentuknya dari sel epidermis lainnya. Umum pada
Ranuculaceae, Cucurbitaceae, Mavaceae), Anisositik (sel penutup diiringi 3 buah
sel tetangga yang tidak sama besar. Misalnya pada Cruciferae, Nicotiana,
Solanum), Parasitik (setiap sel penutup diiringi sebuah sel tetangga/lebih dengan
sumbu panjang sel tetangga itu sejajar sumbu sel penutup serta celah. Pada
Rubiaceae, Magnoliaceae, Convolvulaceae, Mimosaceae), Diasitik ( setiap
stoma dikelilingi oleh 2 sel tetangga yang tegak lurus terhadap sumbu panjang
sel penutup dan celah. Pada Caryophylaceae, Acanthaceae), dan Siklositik (sel
penutup berbentuk ginjal, dikelilingi oleh empat buah sel tetangga atau lebih
yang tersusun teratur membentuk lingkaran kecil yang mengelilingi stoma).
Menurut letak sel penutup terhadap permukaan epidermis ada tiga tipe
stoma yaitu Paneropor (Sel penutup terletak sejajar dengan permukaan helaian
daun, terdapat pada tumbuhan yang tergolong Xerophyta), Kriptopor (Stoma
letaknya tenggelam terdapatpermukaan daun, terdapat pada tumbuhan
Xerophyta dan tumbuhan yang berdaun kaku serta tebal seperti Pinus sp. dan
Ficus sp.), dan menonjol (Sel penutup lebih tinggi daripada sel-sel epidermis,
terdapat pada tumbuhan air yang daunnya terapung seperti Nymphaea sp.)

KESIMPULAN
Terdapat perbedaan tipe stomata dan juga struktur epidermis daun antara
tumbuhan dikotil dan monokotil. Pada tumbuhan Oryza sativa dan Nymphaea sp.
memiliki sel penutupnya berbentuk halter. Sedangkan pada Ficus
sp. dan Arthocarpus integra sel penutupnya berbentuk ginjal.
Tipe stomata pada daun Oryza sativa yaitu tipe gramineae, pada Ficus
sp. yaitu tipe kriptopor, pada Nymphaea sp. tipe menonjol, dan pada Arthocarpus
integra tipe Amaryllidaceae. Stomata pada tumbuhan yang hidup didarat
seperti Oryza sativa, Ficus sp. , dan Arthocarpus integra terdapat pada epidermis
bagian bawah sedangkan pada Nymphaea sp. yang merupakan tumbuhan yang
hidup diperairan stomatanya terdapat pada epidermis bagian atas. Jadi terdapat
perbedaan letak stomata pada tumbuhan yang berbeda habitatnya (didarat dan
perairan) serta pada tumbuhan yang berbeda tipe daun (monokotil dan dikotil).
Daun dengan pertulangan menyirip seperti pada dikotil, stomatanya
tersebar, sedangkan daun dengan pertulangan sejajar, seperti pada Gramineae,
stomatanya tersusun berderet sejajar.
Ditinjau dari bentuk dan letak penebalan dinding sel penutup serta arah
membukanya sel penutup ada 4 tipe stomata yaitu Tipe Amaryllidaceae, Tipe
Gramineae, Tipe Mnium, dan Tipe Heleborus. Berdasarkan jumlah dan letak sel
tetangga stoma daun tumbuhan dikotil dibedakan menjadi Anomositik, Anisositik,
Parasitik, Diasitik, dan Siklositik. Menurut letak sel penutup terhadap permukaan
epidermis ada tiga tipe stoma yaitu Paneropor, Kriptopor, dan menonjol.

DAFTAR PUSTAKA
Beerling, D.J., Chaloner, W.G., Huntley, B., Pearson, J.A. and Tooley, M.J. 1993.
Stomatal Density Responds to the Glacial Cycle of Environmental
Change. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences.
Vol : 251
Carpenter, S. B., And N. D. Smith. 1975. Stomatal distribution and size in
southern Ap- palachian hardwoods. J. Bot. Vol : 53.
Dwijoseputro, W. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia.
Fahn A . 1992. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.
Hetherington, AM & Woodward, FI 2003, The Role of Stomata in Sensing and
Driving Environmental Change. Nature. Vol : 424(6951).
Johnson, D.M., W.K.Smith, M.R. Silman. 2002. Climate-Independent
Paleoaltimetry Using Stomatal Density in Fossil Leaves as A Proxy for
CO2 Partial Pressure. North Carolina : Department of Biology, Wake
Forest University.
Jones HG. 1992. Plants and Microclimate. New York, NY: Cambridge University
Press.
Kundu, S.K., Q.N Islam, C.J.S.K. Emmanuel and P.M.A. Tigerstedt, 1998.
Observations on genotype x environment interactions and stability in the
international neem (Azadirachta indica) provenance trials in Bangladesh
and India. For Genet. Vol : 5.
Lestari, E.G. 2006. Hubungan antara kerapatan stomata dengan ketahanan
kekeringan pada Somaklon Padi Gajahmungkur, Towuti, dan IR 64.
Jurnal Biodiversitas 7(1): 44-48.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius
N. Holland. 2009. Stomatal Length Correlates with Elevation of Growth in Four
Temperate Species. Journal of Sustainable Forestry. Vol 28. Hal.63–
73.
Nasaruddin. 2002. Aktivitas Beberapa Proses Fisiologis Tanaman Kakao Muda
Di Lapang Pada Berbagai Naungan Buatan. Jurnal Agrisistem. 2(1).
Salisbury, F.B, dan C.W. Ross. 1995. Plant Physiology (Fisiologi Tumbuhan, alih
bahasa: D.R. Lukman dan Sumaryono). ITB, Bandung.