Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pernikahan yang sukses merupakan usaha dan hasil kerjasama dari dua orang
yang berusaha merawat cinta
Beberapa ahli psikologi meyakini bahwa cinta merupakan emosi paling utama
yang mendasari berbagai nuansa emosi lainnya. Ada berbagai definisi atau pengertian
yang bisa dikemukakan apabila pada seseorang ditanyakan apa arti cinta. Ada pula
berbagai bentuk dan manifestasi cinta.
Konsep tradisional dari cinta dikemukakan oleh filosof Irving Singer dengan 4
macam cinta yaitu eros (cinta keindahan yang sifatnya fisik), philia (cinta
pertemanan), nomos (submisif & kepatuhan) dan agape (cinta spiritual, tidak
mementingkan diri sendiri). Suami istri mencintai pasangannya tidak selalu dengan
gaya, ekspresi, ataupun porsi yang sama.
Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menggambarkan bahwa cinta
adalah sebuah seni yang harus dipelajari, dipraktekkan dan terus diasah. Berarti cinta
tidak berkembang dengan sendirinya, perlu usaha untuk memelihara dan menjaganya.
Cinta membuat pasangan merasa dekat, terikat dan saling memiliki, sehingga bisa
membuka diri sampai taraf yang paling intim.
Robert Sternberg, seorang psikolog dari Yale University melakukan penelitian
tentang cinta romantis dan mengemukakan teori segitiga cinta yang memungkinkan
dipahami adanya dinamika serta model atau kualitas cinta yang berbeda-beda,
bergantung dari kombinasi ada tidaknya, ataupun besar kecilnya komponen cinta
yaitu Gairah (passion), Keintiman (intimacy) dan Komitmen (commitment).
Kombinasi ini bisa berbeda pada waktu yang berbeda dalam hubungan cinta yang
sama.
B. Rumusan Masalah
Memberitahukan tentang psikologi pernikahan supaya bisa mempersiapkan
mental terhadap masa depan pernikahan yang akan dialami

1
BAB II
PEMBAHASAAN
A. Pengertian Psikologi Pernikahan
Psikologi yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari dan meneliti tentang tingkah
laku manusia atau ilmu tentang gejala-gejala kejiwaan atau perbuaan manusia pada
umumnya.
Perkawinan adalah suatu hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan
yang diakui secara sosial, menyediakan hubungan seksual dan pengasuhan anak yang
sah, dan didalamnya terjadi pembagian hubungan kerja yang jelas bagi masing-
masing pihak baik suami maupun istri. (Duvall dan Miller, 1985).
Psikologi pernikahan artinya suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia
atau gejala-gejala kejiwaan dan perbuatan manusia pada umumnya sehubungan
dengan pernikahan.
B. Motif untuk Menempuh Perkawinan
Turner dan Helms (1983) menyebutkan ada dua faktor motif seseorang menikah
yaitu:
1. Faktor Pendorong
Hal-hal yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan perkawinan adalah
cinta, konformitas, legitimasi seks dan anak.
2. Faktor Penarik
Hal-hal yang menjadi faktor penarik untuk melakukan perkawinan adalah
persahabatan, berbagi rasa dan komunikasi.
Dengan perkataan lain dapat juga dikatakan bahwa melalui perkawinan akan dapat
dipenuhi beberapa kebutuhan manusia yaitu :
 Kebutuhan fisiologis dan material
 Kebutuhan psikologis
 Kebutuhan social
 Kebutuhan religious
C. Tahap-Tahap Perkawinan
Duvall dan Miller (1985) menyatakan adanya tujuh tahap perkawinan yang
dikaitkannya dengan usia anak, sebagai berikut:
1. Pasangan baru
2. Keluarga memiliki anak

2
3. Keluarga dengan anak usia pra sekolah
4. Keluarga dengan anak usia sekolah
5. Keluarga dengan anak usia remaja
6. Keluarga dengan anak usia dewasa muda
7. Keluarga dewasa madya
8. Keluarga lanjut usia.
Namun jika dikaitkan dengan peran sebagai orangtua, maka kehidupan
perkawinan dapat dibagi dalam empat tahap yaitu :
1. Perkawinan baru, yang relatif sangat singkat dan segera berakhir dengan lahirnya
anak pertama.
2. Perkawinan orangtua, berakhir ketika anak tertua memasuki usia remaja
3. Perkawinan tengah baya, dimulai ketika anak-anak meninggalkan rumah
4. Perkawinan lanjut usia, diawali pada awal masa pensiun dan berakhir saat salah
satu pasangan meninggal dunia.
D. Tahap Perkawinan
Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan juga marriage and
relationship educator and coach, dia mengatakan bahwa ada lima tahap
perkembangan dalam kehidupan perkawinan. Hubungan dalam pernikahan bisa
berkembang dalam tahapan yang bisa diduga sebelumnya. Namun perubahan dari satu
tahap ke tahap berikut memang tidak terjadi secara mencolok dan tak memiliki
patokan batas waktu yang pasti. Bisa jadi antara pasangan suami-istri, yang satu
dengan yang lain, memiliki waktu berbeda saat menghadapi dan melalui tahapannya.
Namun anda dan pasangan dapat saling merasakannya.
1. Tahap pertama : Romantic Love. Saat ini adalah saat Anda dan pasangan
merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu
pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan kegiatan
bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.
2. Tahap kedua : Dissapointment or Distress. Masih menurut Dawn, di tahap ini
pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa
pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang
salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan
perasaan stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain,
mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan

3
minat dan kebutuhan masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa
pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan
dengan pasangannya. Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan
pasangannya
3. Tahap ketiga : Knowledge and Awareness. Dawn mengungkapkan bahwa
pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana
posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi tentang
bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Menurut Dawn juga, pasangan
yang sampai di tahap ini biasanya senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan
rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seminar-
seminar dan konsultasi perkawinan.
4. Tahap keempat: Transformation. Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah
laku yang berkenan di hati pasangannya. Anda akan membuktikan untuk menjadi
pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah berkembang
sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi
perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan
penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan
yang nyaman dan tentram.
5. Tahap kelima: Real Love. “Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan
keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan
pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis ini menjelaskan pula bahwa waktu yang
dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling memberikan
perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih
pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk
Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya.
Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,”
ingat Dawn.
Dawn menyarankan pula, “Jangan hancurkan hubungan pernikahan Anda dan
pasangan hanya karena merasa tak sesuai atau sulit memahami pasangan. Anda
hanya perlu sabar menjalani dan mengulang tahap perkembangan dalam
pernikahan ini. Jadikanlah kelanggengan pernikahan Anda berdua sebagai suatu
hadiah berharga bagi diri sendiri, pasangan, dan juga anak.

4
E. Pola-Pola Perkawinan
Ihromi (1999) mengutip Scanzoni dan Scanzoni yang menyebutkan adanya empat
pola perkawinan yaitu;
1. Owner Property
Dalam pola ini suami sebagai pencari nafkah, dan istri sebagai ibu rumah
tangga yang harus tunduk kepada keputusan suami. Status sosial istri bergantung
pada status sosial suami. Istri bukan dianggap sebagai pribadi tetapi sebagai
barang milik si suami yang harus selalu siap melayani suami walaupun ia tidak
menginginkannya.
2. Head Complement
Dalam pola ini walau suami tetap sebagai pencari nafkah, dan si istri
mengurus rumah tangga, namun kehidupan perkawinan diatur secara bersama.
Istri memiliki hak suara, sehingga hubungan yang terjadi adalah saling
melengkapi, berbagi masalah, dan melakukan kegiatan bersama.
3. Senior Junior Partner
Suami dan istri sama-sama bekerja, sehingga si istri tidak sepenuhnya
bergantung pada suami meskipun dalam pola ini penghasilan dan karir si suami
tetap diatas istrinya.
4. Equal Partner
Suami dan istri dalam posisi duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak
ada pihak yang lebih tinggi atau lebih rendah. Setiap individu memiliki hak dan
kewajiban yang sama untuk mengembangkan diri dan melakukan tugas rumah
tangga. Keputusan diambil secara bersama dan selalu mempertimbangkan
kepuasan masing-masing pihak.
F. Tipe Perkawinan
Kepuasan perkawinan merujuk pada kebahagiaan perkawinan, yaitu seberapa jauh
pasangan merasakan perkawinannnya berjalan dengan stabil dan memuaskan.
Hasil riset Cuber dan Haroff (dalam Bird dan Melville,1994) terhadap 211
pasangan yang telah menginjak usia perkawinan 10 tahun dan tidak bercerai,
menyatakan adanya 5 tipe perkawinan yaitu :
1. Conflict Habituated, perkawinan tipe ini bercirikan mereka yang selalu bertengkar
namun tidak bermaksud untuk pisah. Mereka hampir selalu dalam keadaan tegang,
dan tidak cocok satu sama lain namun ingin tetap bersama.

5
2. Devitalized, perkawinan yang meredup. Kebersamaan perkawinan hanya rutinitas
semata, karena tanggung jawab dan tugas.
3. Passive Congenials, perkawinan yang berlangsung aman dan tertib tanpa atau
jarang diisi dengan pertengkaran. Pasangan berbagi minat bersama, terlibat dalam
kegiatan sosial bersama, mengasuh anak, mengembangkan karir namun tidak
mementingkan hubungan romantik.
4. Vitals, perkawinan yang diisi dengan kegiatan dan kebersamaan secara intens.
Pasangan terikat dalam semua persoalan kehidupan.
5. Totals, sama halnya dengan Vitals namun dalam derajat yang lebih dimana
sebanyak mungkin semua kegiatan dan persoalan kehidupan dinikmati bersama.
G. Faktor Prediktif Kepuasan Perkawinan
Kepuasaaan dalam perkawinan merupakan kesan subjektif individu terhadap
komponen perkawinannya secara keseluruhan yang meliputi cinta, kebersamaan,
anak, pengertian pasangan, dan standar hidup (Blood dan Wolfe, dalam Santrock,
1985). Lebih jauh Snyder (dalam Rathus dan Nevid, 1983) mengelaborasi sejumlah
faktor yang berperan secara konsisten dalam kepuasan perkawinan yakni, komunikasi
efektif, komunikasi problem solving, kesepahaman pengelolaan keuangan dan
kepuasaan seksual.
Hal yang menarik tentang kepuasan perkawinan ini disampaikan oleh Zastrow dan
Kirst-Ashaman (1987), yang mengaitkannya dengan faktor-faktor sebelum
berlangsungnya perkawinan dan selama berlangsungnya perkawinan. Dibawah ini
disampaikan dua faktor prediktif kebahagiaan perkawinan yang berkait erat dengan
masa sebelum dan selama perkawinan, yaitu :
1. Faktor- faktor sebelum perkawinan
a. Perkawinan orang tua yang berbahagia
b. Kebahagiaan di masa kanak-kanak
c. Disiplin lembut dan tegas dari ortu
d. Hubungan orang tua yang harmonis
e. Bergaul baik dengan lawan jenis
f. Telah mengenal lebih dari satu tahun sebelum perkawinan
g. Ada restu dari orang tua
h. Usia sepantar
i. Puas dengan kasih sayang pasangan

6
j. Cinta
k. Kesesuaian keyakinan agama
l. Kondisi pekerjaan dan karir memuaskan
m. Hubungan cinta karena persahabatan bukan nafsu
n. Kesadaran akan kebutuhan pasangan
o. Keterampilan interspersonal dan social
p. Kemampuan mencari jalan keluar dari masalah
q. Kemampuan pemahaman dan penerimaan diri baik
2. Faktor-faktor selama perkawinan :
a. Kemampuan komunikasi yang baik
b. Hubungan yang setara
c. Hubungan yang baik dengan mertua dan ipar
d. Minat dibidang yang sama
e. Menginginkan hadirnya anak
f. Cinta yang bertanggung jawab, saling hormat dan persahabatan
g. Menikmati waktu luang bersama
h. Hubungan yang penuh afeksi dan kebersamaan
i. Kemampuan untuk menerima sekaligus member
Sedangkan faktor prediktif terhadap ketidakpuasan atau kebahagiaan
perkawinan yang berkait pada masa sebelum dan selama perkawinan berlangsung
adalah :
1. Faktor-faktor sebelum perkawinan
a. Orangtua bercerai
b. Kematian orangtua
c. Ketidak cocokan ciri kepribadian utama pasangan
d. Kenal kurang satu tahun
e. Alasan perkawinan karena kesepian
f. Alasan perkawinan karena agar bisa meninggalkan keluarga
g. Perkawinan dibawah usia 20 tahun
h. Adanya predisposisi untuk tidak bahagia
i. Mengalami problem problem pribadi yang intensif
2. Faktor-faktor selama perkawinan
a. Suami lebih dominan

7
b. Istri lebih dominan
c. Kecemburuan
d. Merasa lebih pintar dari pasangan
e. Tinggal bersama orangtua atau ipar
Berdasarkan faktor-faktor diatas David dan Mace (1983), menegaskan bahwa
suatu perkawinan baru dianggap berhasil jika mampu mengalami tiga tahapan yaitu :
 Mutual Enjoyment, yang dialami pada saat pasanagan menjalani bulan madu
bersama.
 Mutual Adjustment,yang dialami dalam waktu relatif lama dimana masing-
masing saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik.
 Mutual Fulfillment, yang terjadi setelah pasangan melampaui dua tahap
sebelumnya dengan berhasil. Dalam tahap ini suami dan istri telah menjadi
satu kesatuan yang saling mengisi dan melengkapi. Oleh karenanya konflik-
konflik besar akan jarang ditemukan.
H. Keuntungan Perkawinan
Linda Waite mengutip beberapa kajian tentang efek positif perkawinan yaitu :
memiliki gaya hidup yang sehat,lebih panjang umur, memiliki hubungan sesksual
yang memuaskan, memiliki lebih kekayaan, dan secara umum anak-anak dapat
tumbuh kembang lebih baik dengan adanya orangtua di rumah.
I. Formula Kesuksesan Perkawinan
1. Masing-masing harus mandiri dan matang
2. Harus mencintai pasangan dan diri mereka sendiri
3. Menikmati kesendirian sama baiknya dengan kebersamaan
4. Mapan dalam pekerjaan
5. Mengenal baik pasangan masing-masin
6. Mampu berekspresi secara asertif
7. Keduanya adalah teman sekaligus lovers

8
BAB III
KESIMPULAN
Jadi, kesimpulan dari materi di atas bahwa mengenai pernikahan harus mengetahui
atau memahami tentang psikologi pernikahan untuk dapat mengetahui kesiapan terhadap
tahanpan, proses, dan lainnya pada massa yang akan dijalani setelah pernikahan
berlangsung, mental kita harus siap untuk menghadapinya supaya dapat mengatasi
permasalahan secara bersama-sama dengan kepala dingin.

9
DAFTAR PUSTAKA
https://www.ayahbunda.co.id/keluarga-psikologi/lima-tahap-dalam-perkawinan
Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, Senin, 03 Mei 2010 http://reniakbar.blogspot.co.id
/2010/05/psikologi-perkawinan-dan-keluarga.html
http://jendelabkkita.blogspot.co.id/2016/03/problematika-yang-muncul-dalamkeluarga9.html

10