Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Desa atau udik, menurut definisi umum, adalah sebuah aglomerasi


permukiman di area perdesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah
pembagian wilayah administratif di Indonesia yang berada di bawah kecamatan,
yang dipimpin oleh Kepala Desa. Sebuah desa merupakan kumpulan dari
beberapa unit pemukiman kecil yang disebut kampung (Banten, Jawa Barat) atau
dusun (Yogyakarta) atau banjar (Bali) atau jorong (Sumatera Barat).
Pemimpin sebuah desa dinamakan Kepala Desa. Dapat juga disebut
dengan nama lain misalnya Kepala Kampung atau Petinggi di Kalimantan
Timur, Pambakal di Kalimantan Selatan, Hukum Tua di Sulawesi Utara,
geuchick di Aceh, pengulu di Sumatera utara. Sejak diberlakukannya otonomi
daerah Istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya di Sumatera Barat
disebut dengan istilah nagari, dan di Papua dan Kutai Barat, Kalimantan Timur
disebut dengan istilah kampung, gampong di aceh, huta di tapanuli. Begitu pula
segala istilah dan institusi di desa dapat disebut dengan nama lain sesuai dengan
karakteristik adat istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan
dan penghormatan Pemerintah terhadap asal usul dan adat istiadat setempat.
Di dalam sebuah desa terdapat berbagai unsur-unsur desa. Unsur-unsur
tersebut adalah :
1. Daerah atau wilayah yang merupakan tempat tinggal dan tempat beraktivitas
penduduk desa
2. Penduduk meliputi kualitas dan kuantitasnya
3. Tata kehidupan atau aturan-aturan yang berhubung langsung dengan keadaan
masyarakat dan adat istiadat
Berdasarkan uraian diatas, maka dua daerah yang dikunjungi dalam
kegiatan observasi dapat digolongkan kedalam sebuah desa. Desa pertama
adalah desa Jalin dan yang kedua adalah desa Jantho Baru. Kedua desa tersebut

1
menunjukkan tahap perkembangan yang berbeda dengan karakteristiknya
masing-masing. Tahap perkembangan kedua desa tersebut ditentukan oleh
banyak faktor diantaranya adalah potensi alam, SDM, lokasi, akses dan
transportasi, serta pola pikir masyarakatnya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan dalam penilitian ini sebagai berikut:
1. Apakah itu desa dan apa ciri-ciri desa?
2. Bagaimanakah pola persebaran pemukiman Desa Jalin dan Desa Jantho Baru?
3. Bagaimanakan aktifitas desa dan tingkat perkembangannya, menurut
klasifikasi tahap perkembangan desa, tergolong tahap apa desa Jalin dan desa
Jantho Baru ?
4. Bagaimana potensi alam dan potensi manusia yang dimiliki oleh Desa Jalin
dan Desa Jantho Baru, serta sejauh mana potensi desa tersebut telah
dikembangkan atau dimanfaatkan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya observasi adalah:
1. Mengamati secara langsung perkembangan desa sesuai dengan teori yang
telah diajarkan di bangku perkuliahan
2. Mengumpulkan data dan informasi seputar perkembangan sebuah desa untuk
mengetahui penggolongan kelas desa
3. Menentukan jenis desa sesuai dengan tahap perkembangannya berdasarkan
atas data dan informasi yang diperoleh
4. Mengetahui peran unsur-unsur desa terhadap proses perkembangan dan
kemajuan desa

Tujuan penulisan laporan adalah:


1. Memperdalam teori yang telah dipelajari di perkuliahan melalui observasi
lapangan
2. Memenuhi tugas yang telah diamanahkan oleh dosen pengasuh mata kuliah

2
3. Untuk melatih kemampuan dalam menyusun sebuah karya tulis ilmiah
tentang perkembangan suatu desa umumnya, dan desa Jalin, desa Jantho
Baruyang secara khususnya.
4. Menuangkan kembali data dan informasi seputar desa yang dikunjungi
menjadi sebuah karya ilmiah berbentuk laporan.

1.4 Metode penelitian


Ada pun metode yang kami gunakan adalah sebagai berikut.
 Observasi (pengamatan)
Observasi merupaka salah satu cara atau langkah- langkah permulaan untuk
Melakukan suatu penelitian, diperlukan peninjauan langsung ke lapangan
atau melihat secara langsung tentang Desa Jalin dan Desa Jantho Baru. Di
mana nanti akan menjadi bahan untuk menyusun laporan yang sesuai
dengan data survey yang ada dilapangan. Observasi yang kami lakukan
adalah melalui pengamatan secara langsung terhadap keadaan fisik dan
sosial desa, potensi desa, dan perkembangan desa
 Wawancara
Dalam metode wawancara ini, kami melakukan penelitian dengan
melakukan pendekatan dengan cara mengajukan pertanyaan atau
mengadakan tanya jawab langsung dengan mayarakat untuk memperoleh
data yang lengkap tentang kegiatannya sehari-hari mereka dan bagaimana
perkembangan desa juga apa saja potensi yang dimiliki desa tersebut.

1.5 Tempat dan Waktu


Hari/Tanggal : Minggu 17 Desember 2017
Pukul : 09.00 s/d 16.00 WIB
Tempat :
1. Desa Jalin , Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh
Besar
2. Desa Jantho Baru, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten
Aceh Besar

3
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Desa


Desa merupakan bentuk pemerintahan terkecil yang ada di negeri ini. Luas
wilayah desa biasanya tidak terlalu luas dan dihuni oleh sejumlah keluarga.
Mayoritas penduduknya bekerja di bidang agraris dan tingkat pendidikannya
cenderung rendah. Karena jumlah penduduknya tidak begitu banyak, maka
biasanya hubungan kekerabatan antarmasyarakatnya terjalin kuat. Para
masyarakatnya juga masih percaya dan memegang teguh adat dan tradisi yang
ditinggalkan para leluhur mereka.
Berikut ini adalah beberapa pengertian atau definisi desa:
1. Sutarjo Kartohadikusumo (1965)
Desa merupakan kesatuan hukum tempat tinggal suatu masyarakat yang
berhak menyelenggarakan rumahtangganya sendiri merupakan pemerintahan
terendah di bawah camat.
2. R.Bintarto (1977)
Memberi batasan pengertian desa sebagai suatu hasil perpaduan antara
kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil perpaduan itu
ialah suatu ujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh
unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang saling
berinteraksi antar unsur-unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan
daerah lain. Dalam arti umum desa merupakan unit pemusatan penduduk
yang bercorak agraris dan terletak jauh dari kota
3. Paul H Landis
Desa adalah suatu wilayah yang jumlah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa
dengan ciri-ciri sebagai berikut :
 Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan
jiwa.
 Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan.

4
 Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat
dipengaruhi alam sekitar seperti iklim, keadaan alam, kekayaan alam,
sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.2 Karakteristik Desa


Bagi masyarakat awam, desa merupakan suatu tempat tinggal penduduk
yang hidup dari bertani dengan suasana lingkungan yang tentram dan letaknya
jauh dari keramaian kota. Kondisi desa seperti itu, umumnya terdapat di negara-
negara berkembang, termasuk Indonesia dengan ciri-ciri yang hampir sama
disetiap negara.
Ciri-ciri adalah sebagai berikut:
a. Kehidupan masyarakat desa sangat erat dengan alam.
b. Kehidupan para petani sangat bergantung paa musim.
c. Desa merupakan kesatuan sosial dan kesatuan kerja.
d. Struktur perekonomian desa umumnya bersifat agraris.
e. Hubungan antar anggota masyarakat desa berdasarkan ikatan kekeluargaan
yang erat.
f. Perkembangan sosial relatif lambat dn sosial kontrol ditentukan oleh moral
dan hukum informal.
g. Norma agama dan hukum adat masih kuat.

2.3 Potensi dan Perkembangan Desa


Potensi desa merupakan kemampuan yang mungkin dapat diaktifkan
dalam pembangunan, mencakup potensi alam, potensi manusia danhasil kerja
manusianya. Potensi yang dimiliki suatu wilayah akan berpengaruh terhadap

5
perkembangan wilayah tersebut, wilayah yang memiliki potensi yang baik akan
menjadi wilayah yang maju.
Bintarto membedakan potensi desa menjadi dua yaitu potensi fisik
dan potensi non fisik.
1) Potensi fisik meliputi:
 Tanah sebagai sumber tambang dan mineral, sumber tanaman, bahan
makanan dan tempat tinggal;
 Air, kondisis air untuk irigasi dan untuk keperluan hidup sehari-hari;
 Iklim yang penting untuk kegiatan agraris;
 Ternak sebagai sumber tenaga,bahan makanan dan sumber pendapatan;
 Manusia, baik sebagai sumber tenaga kerja potensial, sebagai pengolah
lahan dan juga produsen bidang pertanian, juga sebagai tenaga kerja
di bidang non pertanian.
2) Potensi non fisik meliputi:
 Masyarakat desa yang hidup berdasarkan gotong royong;
 Lembaga-lembaga sosial, pendidikan dan organisasi organisasi sosial yang
dapat membimbing memajukan masyarakat;
 Aparatur atau pamong desa, untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta
kelancaran pemerintahan desa.

Departemen Dalam Negeri RI menyebutkan komponen-komponen potensi


desa terdiri atas:
1) Komponen alami yang mencakup faktor:
a. Lokasi;
b. Luas desa;
c. Keadaan tanah;
d. Keadaan air;
e. Keadaan alami nabati dan hewani.
2) Manusia dengan memperhatikan faktor:
a. Jumlah penduduk;
b. Penyebaran;

6
c. Karakteristiknya (umur, jenis kelamin, ada istiadat, organisasi dll)
3) Kegiatan ekonomi:
a. Agraris (primer): pertanian,perikanan,peternakan, pengumpulan hasil
hutan;
b. Industri/kerajinan (sekunder);
c. Perdagangan dan jasa (tersier).
4) Prasarana yang ada:
a. Perhubungan dan komunikasi;
b. Pengairan dan produksi;
c. Pemasaran;
d. Pendidikan dan kesehatan.

2.4 Unsur-Unsur Desa


Unsur-Unsur desa Sebagai daerah otonom desa memiliki beberapa unsur
pembentuknya, yaitu:
1) Daerah, terdiri atas tanah-tanah yang produktif dan non produktif serta
penggunaannya, lokasi, luas, batas yang merupakan lingkungan geografis
setempat. Wilayah desa umumnya digunakan untuk permukiman, pekarangan
dan lahan pertanian;
2) Penduduk meliputi jumlah, pertumbuhan, kepadatan, persebaran dan mata
pencaharian;
3) Tata kehidupan, meliputi organisasi pemerintahan, organisasi sosial, adat
istiadat, dan seluk beluk kemasyarakatan yang terkait dengan desa tersebut.
Ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan hidup (living unit) yang tidak
lepas satu sama lain. Daerah menyediakan kemungkinan hidup. Penduduk
dapat menggunakannya untuk mempertahankan hidup.Sedang tata kehidupan,
akan memberi jaminan ketenteraman dan keserasian hidup bersama di desa.

2.5 Fungsi Desa


Fungsi desa adalah sebagai berikut:
1. Desa sebagai hinterland (pemasok kebutuhan bagi kota)

7
2. Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan
3. Desa merupakan mitra bagi pembangunan kota
4. Desa sebagai bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Kesatuan Negara
Republik Indonesia.

2.6 Pola Persebaran Desa


1. Pola terpusat (Aglomerated, Compact Rural Settlement).
Bentuk permukiman terpusat merupakan bentuk permukiman yang
mengelompok pola seperti ini banyak dijumpai didaerah yang memiliki tanah
subur, daerah dengan relief sama, misalnya dataran rendah yang menjadi
sasaran penduduk bertempat tinggal. Banyak pula dijumpai di daerah dengan
permukaan air tanah yang dalam, sehingga ketersediaan sumber air juga
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap bentuk pola permukiman ini.
Demikian pula di daerah yang keamanan belum terjamin, penduduk akan
lebih senang hidup bergerombol atau mengelompok.
2. Pola Tersebar Atau Terpencar ( Fragmented Rural Settlement Type)
Bentuk permukiman tersebar, merupakan bentuk permukiman yang terpencar,
menyebar di daerah pertaniannya (farm stead), merupakan rumah petani yang
terpisah tetapi lengkap dengan fasilitas pertanian seperti gudang mesin
pertanian, penggilingan, kandang ternak, penyimpanan hasil panen dan
sebagainya. Bentuk ini jarang ditemui di Indonesia, umumnya terdapat di
negara yang pertaniannya sudah maju. Namun demikian, di daerah-daerah
dengan kondisi geografis tertentu, bentuk ini dapat dijumpai, misalnya daerah
banjir yang memisahkan permukiman satu sama lain,daerah dengan topografi
kasar, sehingga rumah penduduk tersebar, serta daerah yang kondisi air tanah
dangkal sehingga memungkinkan rumah penduduk dapat didirikan secara
bebas.
3. Pola Memanjang Atau Linier (Line Village Community Type) Pola
memanjang memiliki ciri permukiman berupa deretan memanjang di kiri
kanan jalan atau sungai yang digunakan untuk jalur transportasi, atau
mengikuti garis pantai. Bentuk permukiman seperti ini dapat dijumpai di

8
dataran rendah. Pola atau bentuk ini terbentuk karena penduduk bermaksud
mendekati prasarana transportasi, atau untuk mendekati lokasi tempat bekerja
seperti nelayan di sepanjang pinggiran pantai.
4. Pola mengelilingi pusat fasilitas tertentu. Bentuk permukiman seperti ini
umumnya dapat ditemukan di daerah dataran rendah, yang di dalamnya
terdapat fasilitas-fasilitas umum yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk
memenuhi kebutuhan seharihari, misalnya mata air, waduk dan fasilitas
lainnya.

2.7 Klasifikasi Perkembangan Desa


Setiap desa mempunyai terbentuk oleh unsur-unsur desa, unsur desa inilah
yang selanjutnya akan menentukan potensi desa yang
bersangkutan.Perkembangan suatu desa akan dipengaruhi baik oleh unsur
maupun potensi desa.
Berdasarkan perkembangannya, desa dapat diklasifikasikan menjadi
empat, yaitu:
a. Desa tradisional, atau pra desa yaitu tipe desa pada masyarakat terasing yang
seluruh kehidupannya tergantung pada alamsekitarnya. Ketergantungan itu
misalnya dalam hal cara bercocok tanam, cara membuat rumah,
pengolahanmakanan dan lain-lainnya. Pada desa semacam ini penduduk
cenderung tertutup, atau kurang komunikasi dengan pihak luar. Sistem
perhubungan dan komunikasi tidak berkembang. Contoh: Desa pada Suku
Baduy.
b. Desa swadaya
Desa swadaya merupakan tipe desa dengan ciri-ciri:
o Penduduknya jarang, masih terikat pada adat istiadat;
o Lembaga sosialyang ada masih sederhana;
o Tingkat pendidikan masyarakatnya rendah, produktivitas tanah rendah;
o Kegiatan penduduk dipengaruhi oleh keadaan alam;
o Topografi berupa pegunungan atau perbukitan;
o Lokasi terpencil;

9
o Mayoritas penduduk sebagai petani;
o Kegiatan ekonomi masyarakat bersifat subsisten;
o Masyarakt juga tertutup terhadap pihak luar, sehingga sistem perhubungan
dan transportasi kurang berkembang.
c. Desa swakarya
Desa Swakarya adalah desa yang sudah lebih berkembang maju, dengan
karakteristik :
o Adat istiadat mengalami perubahan; pengaruh dari luar mulai masuk
sehingga masyarakatnya mengalami perubahan cara berpikir;
o Mata pencaharian mengalami diversivikasi atau kemajuan ;
o Lapangan kerja bertambah sehingga produktivitas meningkat;
o Gotong royong lebih efektif
o Pemerintah desa berkembang baik
o Masyarakat desa mampu meningkatkan kehidupannya dengan hasil
kerjanya sendiri, bantuan pemerintah hanya sebagai stimulan saja.
d. Desa swasembada
Desa swasembada adalah desa yang telah maju, memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
o Ikatan adat istiadat yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi sudah tidak
berpengaruh terhadap masyarakat;
o Lokasi desa swasembada biasanya dekat dengan kota kecamatan, kota
kabupaten, kota
o Provinsi, yang tidak masuk wilayah kelurahan;
o Semua keperluan hidup pokok dapat disediakandesa sendiri;
o Alat teknis yang digunakan untuk memenuhi keperluan hidup lebih
modern;
o Lembaga sosial ekonomi dan budaya sudah dapat menjaga kelangsungan
hidup penduduknya;
o Mata pencaharian penduduk beragam, perdagangan dan jasa sudah
berkembang;
o Pendidikan dan keterampilan penduduk sudah tinggi;

10
o Hubungan dengan daerah sekitarnya berjalan lancar;
o Kesadaran penduduk mengenai kesehatan tinggi;
o Gotong royong masyarakat tinggi.

11
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Desa Jalin


Desa Jalin adalah salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Kota Jantho,
Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Desa ini berada pada ketinggian 700 m dpl
dengan kondisi topografi berbukit disekelilingnya, namun secara umum
pemukiman penduduk berada di daerah dengan kondisi lahan yang datar.

3.1.1 Lokasi dan Kondisi Fisik


Berikut data lokasi dan kondisi fisik wilayah Desa Jalin:
 Lokasi : Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar,
Aceh
 Luas : 30.000 ha
 Jarak dari Kota : 5 KM (Dari Jantho)
 Topografi : Berbukit dikelilingi pegunungan
 Batas Wilayah :
o Utara, berbatasan dengan Desa Sukatani
o Selatan, berbatasan dengan Desa Bueng
o Timur, berbatasan dengan Cagar Alam
o Barat, berbatasan dengan Desa Cut

Desa Jalin memiliki jarak sekitar 7 km dari Ibukota Kabupaten Aceh Besar
yaitu Jantho, sedangkan dari Kota Banda Aceh jaraknya sekitar 62 km. Akses
untuk menuju desa sudah terdapat jalan beraspal yang dapat dilalui oleh bus.
Namun kondisi jalan kurang baik karena terdapat banyak kerusakan pada lapisan
aspal ditambah dengan topografi yang berbukit sehingga menyebabkan jalan
berkelok, menurun, dan menanjak.

12
3.1.2 Karakteristik Masyarakat Desa Jalin
Desa Jalin adalah desa dimana ciri-ciri kehidupan sosial budaya
penduduknya masih kental dan dilestarikan oleh masyarakat desa. Hampir
semua penduduk yang menempati desa ini adalah Suku Aceh, oleh karena itu
budaya dan adat istiadat Aceh sangat jelas terlihat dalam kehidupan
masyarakat. Sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa aceh sebagai
bahasa pengantar dalam berkomunikasi sehari-hari. Selain menggunakan
bahasa aceh, masyarakat juga menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai
situasi dan kondisi.
Masyarakat di Desa Jalin masih memegang teguh adat dan tradisi Aceh,
hal ini terlihat dalam berbagai kegiatan adat yang masih kental dengan resepsi
adat aceh seperti dalam acara pernikahan. Selain itu masyarakat desa juga
masih memegang teguh nilai kerja sama atau gotong royong. Hal tersebut dapat
dilihat dimana kesadaran penduduk untuk bekerja sama masih tinggi tanpa ada
paksaan dari tetua adat ataupun kepala desa. Masyarakat memiliki kesadaran
tinggi bahwa kesulitan dan kesusahan akan lebih baik apabila diatasi secara
bersama-sama.
Semua penduduk desa menganut agama Islam aliran ahlul sunnah wal
jamaah. Didesa ini terdapat sebuah mushola yang menjadi pusat kegiatan
keagamaan penduduk desa. Kegiatan keagamaan penduduk desa dapat dilihat
dengan diadakannya pengajian bersama oleh penduduk setiap minggunya.
Penerapan niali nilai keagamanan masih sangat dijalankan oleh penduduk.
Selain itu masyarakat desa juga mempercayai hal-hal tabu seperti pantangan
untuk tidak pergi ke lading pada hari rabu, namun hal seperti ini sudah mulai
ditinggalkan seiring dengan berkembangnya pola piker masyarakat akibat
pengaruh dari luar.
Hubungan kekerabatan antar masyarakat desa masih sangat erat, sifat
kekeluargaan yang menjadi ciri khas sebuah desa masih sangat jelas dalam
interaksi para penduduk. Setiap penduduk saling mengenal satu sama lain, hal
ini diakibatkan karena jumlah penduduk yang masih sedikit dan juga rasa
kekerabatan penduduk masih erat. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat

13
masih memegang teguh nilai dan tradisi serta norma sosial . Apabila ditemukan
adanya masyarakat yang melanggar nilai dan norma yang dianut masyarakat
maka akan diberikan sanksi secara lisan ataupun melaporkan pada pihak
berwajib

3.1.3 Potensi Desa Jalin


1. Potensi Fisik
a. Tanah
Desa Jalin terletak pada daerah dengan topografi berbukit, namun secara
umum kondisi tanah di desa ini masih dapat digolongkan manjadi tanah
dengan tingkat kesuburan sedang. Dalam pengolahan tanah untuk pertanian
penduuk sudah menggunakan pemakaian pupuk kimia untuk menambah
kemamapuan produktifitas lahan. Di desa Jalin juga terdapat sebuah bukit
dengan hamparan rumput luas yang indah yang dinamakan Bukit Jalin,
tempat ini sudah mulai dikembangkan sebagai daerah wisata.

b. Iklim dan cuaca


Karakteristik cuaca dan iklim yang terdapat di desa Jalin adalah seperti
kondisi daerah tropis lainnya. Curah hujan tahunan cukup dengan suhu rata-
rata 26 derajat celcius. Amplitudo suhu harian dan tahunan tidak terlalu besar.
Pada bulan-bulan musim hujan maka para penduduk akan mulai melakukan
pengerjaaan terhadap lahan-lahan pertanian untuk ditanami.

c. Keadaan air
Pasokan air untuk keperluan pertanian diperoleh dari curah hujan, namun
selain dari curah hujan ada juga sumber lain yaitu dari aliran sungai yang
tidak jauh dari lokasi desa. Untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga maka
penduduk memperolehnya melalui air tanah yang diambil dengan membuat
sumur-sumur di setiap rumah penduduk.

14
d. Flora dan Fauna
Hampir semua penduduk di Desa Jalin berprofesi sebagai petani. Para petani
mengusahakan hasil pertanian dari sawah atau ladang.
Adapun hasil-hasil pertanian dan perkebunan di Desa Jalin adalah:
o Padi
o Kemiri
o Kelapa Sawit
o Kacang-kacangan dan Sayur-sayuran

Gambar 3.2 Salah satu hamparan lahan pertanian berupa sawah di


Desa Jalin

Selain memanfaatkan potensi flora atau tumbuhannya, para penduduk


juga umumnya memanfaatkan fauna atau hewan ternak untuk meningkatkan
kesejahteraan penduduk. Sebagian penduduk yang bekerja sebagai petani juga
memiliki pekerjaan sampingan yaitu beternak sapi, kambing, dan ayam
kampung. Hasil –hasil ternak
tersebut masih terbatas hanya
untuk memenuhi kebutuhan
keluarga dan sebagian kecil
dijual.

Gambar 3.1 Ayam merupakan salah satu hewan


yang umumnya dipelihara oleh penduduk desa

15
2. Potensi Sosial
Secara umum potensi sosial yang dimaksud adalah kualitas dan
kuantitas penduduk yang mendiami sebuah desa. Saat observasi kami hanya
memperoleh sedikit data mengenai keadaan masyarakat setempat. Secara
keseluruhan desa Jalin dihuni oleh :
o Jumlah penduduk : 300 jiwa
o Jumlak KK : Terbagi menjadi 80 kepala keluarga
o Rasio perbandingan : Lebih banyak penduduk laki-laki
dibandingkan dengan perempuan
o Komposisi umur : Kebanyakan penduduk berada pada usia
produktif yaitu antara usia 17-65 tahun

Tingkat pendidikan penduduk masih tergolong rendah. Sebagian besar


penduduk usia produktif hanya tamatan SD sederajat. Namun penduduk usia
sekolah sudah menempuh pendidikan hingga jenjang SMA bahkan ada yang
sudah melanjutkan ke peguruan tinggi. Untuk kondisi kesehatan penduduk
dapat dikatakan bahwa kondisi kesehatan masyarakat baik, pelayanan
masalah kesehatan ditangani oleh seorang bidan desa yang ditempatkan oleh
pemerintah. Kendala yang ditemuai dalam kesehatan adalah kurangnya obat-
obatan. Tingkat kesadaran penduduk untuk ikut bersama bekerja dengan
pemerintah sudah tergolong tinggi. Penduduk sudah mulai terbuka dengan
dunia luar walaupuun tidak secara total. Segala pengaruh dari dunia luar
disesuaikan dengan kondisi sosial dan norma agama yang berlaku di
masyarakat. Selain bekerja sebagai petani, ada sebagian kecil penduduk yang
juga bekerja sebagai tukang atau kuli bangunan.

3.1.4 Penggunaan Ruang dan Fasilitas Pendukung Kehidupan


a. Pola Pemukiman Desa
Pola pemukiman penduduk di Desa Jalin adalah memanjang mengikuti
badan jalan. Hal ini ditujukan supaya penduduk mudah untuk bepergian ke

16
pasar ataupun ke lahan pertanian. Adapun panjang pemukiman yang
mengikuti bentuk jalan adalah sekitar 200 m.

Gambar 3.3 Pola pemukiman penduduk desa adalah


memanjang mengikuti garis jalan

b. Kondisi transportasi, komunikasi, dan pemerintahan


Jalan yang dapat dilalui untuk menuju desa ini hanyalah jalan kecil dan sempit.
Namun jalan ini sudah dilapisi aspal dan dapat dilalui oleh Bus satu arah.
Untuk sistem informasi dan komunikasi sudah terdapat beberapa televisi di
rumah-rumah penduduk. Jaringan untuk komunikasi melalui telepon seluler
juga sudah dapat dilakukan.Dari segi pemerintahan, struktur pemerintahan desa
masih sederhana. Seorang Kepala desa dibantu oleh 5 kepala dusun demi
memudahkan jalannya pemerintahan desa. Kantor kepala desa sebagai pusat
administratif juga terlihat sederhana .

3.1.5 Tahap perkembangan Desa Jalin

Berdasarkan semua data dan informasi yang telah dituliskan diatas, bahwa
desa Jalin adalah desa yang tergolong ke dalam Desa Swakarya . Adapun ciri

17
dan karakteristik yang menyebabkan Desa Jalin digolongkan kedalam desa
swakarya adalah:
1. Pola pikir masyarakat sudah mulai terbuka dan berkembang.
Hal ini tergambar dari keterangan kepala desa yang mengatakan bahwa
sebagian besar masyarakat sudah mulai bisa menerima pengaruh dari luar
dan sudah mulai meninggalkan takhayul yang selama ini pernah dipercayai.
Walau demikian masyrakat masih memegang teguh semagat gotong royong.
2. Masyarakat sudah mulai mandiri
Yang dimaksud mandiri adalah bahwa masyarakat desa sudah mampu
mengusahakan dan memanfaatkan berbagai sumberdaya alam nya untuk
kebutuhan dalam desa sehingga masyarakat desa tidak lagi tergantung
dengan luar secara total
3. Perekonomian dan jenis pekerjaan mulai maju
Masyarakat desa sudah mulai dapat memanfaatkan potensi-potensinya untuk
meningkatkan kesejahteraan penduduk. Sebagian hasil pertanian sudah
dapat diolah di dalam desa namun sebagian lagi dijual keluar desa karena
ketidakmampuan untuk mengolah lebih lanjut.
4. Fasilitas transportasi, kesehatan, dan komunikasi sudah baik
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa kondisi akses jalan, komunikasi
dan kesehatan di desa sudah dikatakan baik.
5. Pemerintahan sudah mulai berjalan dengan baik
Pemerintahan desa Jalin sudah baik , kepala desa dibantu oleh beberapa
kepala dusun sehingga proses pelayanan kepada masyarakat berjalan lancar.
Keterlibatan masyarakat untuk bekerja sama dengan pemerintah sudah baik.
6. Tidak terlalu tergantung dengan luar
Artinya adalah bahwa masyarakat dan kehidupan di desa sudah dapat
diusahakan sendiri oleh penduduk dengan memanfaatka sumber daya yang
dimiliki. Hal ini menggambarkan bahwa Desa Jalin tidak lagi mengandalkan
dunia luar untuk mengolah sumber dayanya. Penduduk sudah dapat
mengelola dan memanfaatkan sumber daya walaupun belum optimal
7. Interaksi dengan wilayah lain berkembang

18
Masyarakat telah mengadakan interaksi dengan penduduk dari wilayah lain.
interaksi tersebut dapat terjadi dibidang ekonomi, kesehatan, pendidika
ataupun pengolahan sumber daya alam. Beberapa sumber daya alam sudah
dijual keluar desa dan sebaliknya, bahan-bahan makanan tambahan, sandang
dan papan dikirim dari luar desa.

3.2 DESA JANTHO BARU

Gambar 3.4 Kantor Geuchik Desa Jantho Baru


Desa Jantho baru merupakan desa yang berada di dalam Kecamatan Kota
Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Desa Jantho Baru berdiri sejak sebelum
terjadinya penjajahan Belanda,. Jumlah kepala keluarga yang berada di desa
Jantho Baru yaitu yaitu 320 kepala keluarga dan < 1300 jiwa/penduduk,
masyarakat di desa Lampanah 80% bermata pencaharian sebagai petani, 5%
bermata pencaharian sebagai nelayan dan 15% bekerja dibidang lainnya. Pola
persebaran penduduknya adalah pola memanjang mengikuti jalan.

3.2.1 Lokasi dan Kondisi Fisik


Berikut data lokasi dan kondisi fisik wilayah Desa Jalin:
 Lokasi : Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar,
Aceh
 Luas : 90 Km2
 Jarak dari kota : 1 KM (dari Kota Jantho)

19
 Topografi : Berbukit dikelilingi pegunungan
 Batas Wilayah :
 Utara, berbatasan dengan Bukit Barisan
 Selatan, berbatasan dengan Desa Bueng
 Timur, berbatasan dengan Kota Jantho
 Barat, berbatasan dengan Desa Teumerube

Desa Jantho Baro memiliki jarak dengan pusat peemerintahan kecamatan


yakni 3 km, jarak dari dari Ibukota Kabupaten Aceh Besar yaitu 1 km,
sedangkan dari Kota Banda Aceh jaraknya sekitar 50 km. Jalan untuk menuju
desa ini relatif baik karena jalannya sudah beraspal sehingga mudah untuk
dilalui oleh bus, maupun kendaraan besar lainnya. Akses untuk menuju ke desa
ini juga tidak sulit karena medannya tidak berkelok- kelok sehingga untuk
menuju ke desa Jantho Baro tidak ditemukan kesulitan yang berarti.

3.2.2 Karakteristik Sosial Budaya


Pada awalnya yang menduduki desa Jantho baru adalah suku jawa akan
tetapi karena seiring dengan perkembangan desa ini maka mulai banyak
berdatangan penduduk dari suku Aceh yang menetap di desa Jantho baru dan
pada saat ini justru lebih banyak dari penduduk suku Aceh sendiri
dibandingkan dengan suku jawa. Adat istiadat yang dominan digunakan adalah
adat aceh, akan tetapi bahasa yang digunakan sehari-hari lebih banyak
menggunakan bahasa Indonesia karena kondisi budaya masyarakatnya yang
heterogen yakni teridiri dari berbagai suku seperti suku Jawa, Aceh, Sunda, dan
sebagainya.
Masyarakat di desa Jantho Baro juga sangat teguh memegang adat istiadat
aceh sebagai budaya yang dominan, seperti misalnya pada upacara pernikahan,
walaupun di desa ini banyak terjadi pencampuran budaya misalnya antara Aceh
dan jawa namun pada kebiasaannya adat yang seringkali digunakan adalah adat
istiadat khas Aceh. Selain memegang teguh adat istiadat daerahnnya
masyarakta desa ini juga tetap memegang teguh budaya gotong royong
dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Hal tersebut dapat dilihat dimana

20
kesadaran penduduk untuk bekerja sama masih tinggi tanpa ada paksaan dari
kepala desa ataupu tuha-tuha gampong. Hai ini menunjukan walaupun di desa
ini memiliki suku yang beragam tidak membuat budaya gotong royang mereka
serta merta menjadi luntur karena adanya perbedaan.
Agama mayoritas yang dianut di desa ini adalah agama Islam didesa ini
ada sebuat mesjid sehingga masyarakat tidak perlujauh-jauh menuju kota
jantho. Pendidikan non formal juga tetap ada seperti adanya TPA bagi anak-
anak untuk menempuh pendidikan agama Islam. Sebagian besar masyarakat di
desa ini juga sudah tidak percaya lagi akan hal-hal mistis atau tabu namun
hanya segelintir yang masih percaya akan hal ini.
Hubungan kekerabatan antar masyarakat desa masih terjaga dengan erat
sifat kekeluargaan yang menjadi ciri khas sebuah desa masih sangat jelas
dalam interaksi para penduduk. Setiap penduduk saling mengenal satu sama
lain, hal ini dapat dilihat dari budaya masyarkat yang masih tolong menolong
jika ada kesusahan misalnya menjengung jika ada salah satu warga yang sakit
dll. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat masih memegang teguh nilai dan
tradisi serta norma sosial. Apabila ditemukan adanya masyarakat yang
melanggar nilai dan norma yang dianut masyarakat maka akan diberikan sanksi
secara lisan ataupun melaporkan pada pihak berwajib.
Selain kerja sama antar masyarakat yang baik, kerja sama anatar
perangkat desa juga sangat baik dalam bahu-membahu membangun desa
Jantho, misalnya ketika diadakan rapat semua elemen perangkat desa maupun
masyarakat turut ikut ambil bagian sehingga menciptakan keadaan yang
harmonis dan damai, menurut pengakuan pak Roby sangat jarang terjadi
peselisihan antar warga.

21
3.2.3 Potensi Desa Jantho Baru
1. Potensi Fisik
a. Tanah
Desa Jantho Baru terletak pada daerah dengan topografi yang dimana
daerahnya merupakan daerah perbukitan, kondisi tanah di desa ini masih
dapat digolongkan manjadi tanah yang cenderung subur mengigat banyak
tumbuhan yang dapat ditanam oleh masyarakatnya seperti padi, jagung,
kemiri, coklat dan masih banyak lagi. Dalam pengolahan tanah untuk
pertanian penduduk sudah menggunakan pemakaian pupuk kimia untuk
menambah kemamapuan produktifitas lahan.
b. Iklim dan Cuaca
Keadaan iklim dan cuaca di desa Jantho Baru seperti kondisi daerah tropis
lainnya. Curah hujan tahunan cukup dengan suhu rata-rata 26 derajat
celcius. Amplitudo suhu harian dan tahunan tidak terlalu besar. Pada bulan-
bulan musim hujan maka para penduduk akan mulai melakukan pengerjaaan
terhadap lahan-lahan pertanian untuk ditanami.
c. Keadaan Air
Pasokan air untuk desa Jantho baru sudah cukup memadai untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan memcuci biasanya berasal dari
sumur-sumur warga. Di desa ini pasokan
air juga berasal dari sungai-sungai yang
sangat berguna untuk kebutuhan pertanian
warga yang dialirkan melalui saluran
irigasi. Kualitas airnya juga sangat baik,
akan tetapi masih ada daerah di desa ini
yang belum terjangkau oleh irigasi
padahal seperti yang kami amati air di
desa ini cukup berlimpah.
Gambar 3.5 Keadaan irigasi di desa
Jantho Baru

22
d. Flora dan Fauna
Walaupun mata pencaharian penduduk yang sudah beragam di desa Jantho
Baru akan tetapi untuk potensi di bidang pertanian tetap menjadi komoditi
utama desa ini seperti yang kami amati saat masuk kehalaman belakang
kantor Geuchik desa Jantho Baru ternyata masyarakat mengembangkan
budidaya coklat.

Gambar 3.6 Budidaya Pohon Coklat yang Dikembangkan


Masyarkat Desa Jantho Baru

Selain pohon coklat potensi flora lainnya yakni seperti jagung, kemiri, dan
padi juga juga banyak ditanam oleh masyarakat yang berkerja dibidang
pertanian. Untuk potensi faunanya masyarakat ada juga yang berternak
seperti ayam,sapi dan kambing akan tetapi hanya dijadikan sebagai
perkerjaan sampingan dan juga ada budidaya ikanair tawar yang kami lihat
di kantor geuchik.

Gambar 3.7 Budidaya Ikan Air Tawar Desa Jantho Baru

23
2. Potensi Sosial
Potensi sosial yang ada di desa jantho baru sudang berkembang sangat
baik dapat dilihat dari perkerjaannya yang tidak hanya mengolah hasil
pertanian akan tetapi sudah mulai beragam seperti sebagai pegawai kantoran,
pedagang, dan tukang bangunan. Penduduk di desa ini juga kebanyakan
menengah ke atas. Secara keseluruhan desa Jalin dihuni oleh :
- Jumlah Penduduk : < 1300 Jiwa
- Jumlak KK : Terbagi menjadi 320 kepala keluarga
- Rasio Perbandingan : Lebih banyak penduduk laki-laki dibandingkan
dengan perempuan
- Komposisi Umur : Kebanyakan penduduk berada pada usia produktif
yaitu antara usia 17-65 tahun
Tingkat pendidikan masyarakat menurut pengakuan bapak Roby sedikit
demi sedikit sudah mengalami peningkatan seperti sudah dibangunnya tingkat
pendidikan dasar seperti TK dan SD walaupun untuk SMP dan SMA masih
harus ke Kota Jantho. Perkembangan pendidikan di desa ini sudah menjadi
proritas dilihat dari sudah tersedianya 1 unit Bus untuk mengantar jemput anak
sekolah. Tidak hanya bersekolah sampai jenjang SMA masyarakat di desa ini
juga sudah banyak yang menempuh jenjang perguruan tinggi.
Untuk kesehatan di desa ini sudah sangat baik pelayanannya bagi
masyarakat, karena sudah tersedia posyandu dan puskesmas yang beroperasi
secara rutin sehingga sumber obat-obatan bagi masyarakat tidak sulit untuk
didapatkan. Tingkat kesadaran penduduk untuk ikut bersama bekerja dengan
pemerintah sudah tergolong tinggi. Penduduk sudah mulai terbuka dengan
dunia luar akan tetapi tetap mengkondisikan dengan norma yang berlaku.
Tingkat keamanan didesa ini juga cukup terjaga dengan adanya pos siskamling
di setiap dusun, dimana masyarakat bergantian menjaganya setiap malam.

24
3.2.4 Penggunaan Ruang dan Fasilitas Pendukung Kehidupan
1. Pola Pemukiman Desa
Desa Jantho baru adalah desa yang terletak di kawasan atau daerah dataran
tinggi, seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya pola pemukiman yang ada
di Pegunungan atau dataran tinggi yang berelief kasar umumnya menyebar.
Pemukiman penduduk membentuk kelompok unit-unit yang kecil dan
menyebar.

Gambar 3.8 Peta yang Menunjukan Pola Persebaran Desa

2. Kondisi Transportasi, Komunikasi, dan Pemerintahan


Akses transportasi untuk desa ini sudah terbilang cukup baik karena sejauh
mata memandang jalan-jalannya sudah banyak yang diaspal dan jalan juga
tidak terlalu sempit. Serta untuk alat transportasi setiap rumah pasti sudah
memiliki 1 unit kendaraan.
Untuk sistem informasi dan komunikasi di desa ini juga dapat dikatakan
sangat baik karena setiap rumah sudah pasti ditemukan alat elektronik. Tower-
tower jaringan juga sudah dibangun dan masyarakat juga sudah menggunakan
alat-alat komunikasi yang canggih seperti yang kami amati di kantor geuchik
juga sudah ada beberapa unit komputer untuk proses administrasi maupun
kepentingan lainnya.
Dari segi pemerintahan struktur perangkat desa juga sudah tertata dengan
baik sehingga manajemennya lebih teratur dan juga kantor geuchiknya terlihat
cukup bagus.

25
Gambar 3.9 Struktur Perangkat Desa Jantho Baru

3.2.5 Tahap Perkembangan Desa Jantho


Berdasarkan semua data dan informasi yang telah dituliskan diatas, bahwa
desa Jalin adalah desa yang tergolong ke dalam Desa Swasembada . Adapun
ciri dan karakteristik yang menyebabkan Desa Jalin digolongkan kedalam desa
swasembada adalah:
1. Hubungan antar manusia bersifat rasional.
Hubungan antar manusia sudah sangat berkembanga artinya pola pikir
masyarakat sudah sangat terbuka terhadap segala bentuk perubahan yang
dipengaruhi dari luar selama itu berpengaruh positif. Hal ini terlihat dari
hungan kerjasama masyarakat dengan pihak luar.
2. Mata pencaharian hoterogen.
Sangat jelas terlihat mata pencaharian masyarakat yang sudah beragam
seperti misalnya sudah ada yang berprofesi sebagai pegagai kantoran,
pedagang yang membuka toko-toko kelontong, tukang kuli bangunan dan
masih banyak juga yang berprofesi sebagai petani baik itu petani beras,
jagung, kemiri serta coklat. Kondisi perekonomian masyarakat mayoritas
berasal dari kalangan menengah ke atas.
3. Teknologi dan pendidikan tinggi
Sesuai dengan penjabaran diatas masyarakat di desa ini sudah
memanfaatkan teknologi secara maksimal baik dalam bidang komunikasi
maupun transportasi dilihat dari masyarakat sudah setiap KK sudah
memiliki kendaraan sendiri, komunikasi yang mudah, maupun dalam

26
mengolah hasil pertanian sudah menggunakan mesin. Untuk kualitas
pendidikan sudah tinggi karena tidak sedit masyarakat yang bergelar
sarjana.
4. Produktivitas tinggi
Produktivitas masyarakat juga tinggi terutama di bidang pertanian baik itu
untuk pemanfaatan flora maupun fauna. Masyarakat sudah mampu
mengolah hasil pertaniannya sendiri sehingga hanya tinggal memasarkannya
saja. Hasil pertaniannya seperti beras, jagung, kemiri dan coklat. Untuk
hewan ternak juga tinggi seperti kambing, sapi, dan juga ikan tawar.
5. Terlepas dari adat.
Keberagam suku yang heterogen membuat masyarakat desa ini tetap
memegang teguh adatnya akan tetapi tidak sekental adat yang ada di desa
laiinya hal ini dipengaruhi karena pencampuran budaya seperti Sunda, Jawa,
dan Aceh.
6. Sarana dan prasarana lengkap dan modern
Sarana dan prasana di desa ini sudah cukup mendukung, seperti sudah
adanya mesjid, pusat pendidikan seperti TK dan SD, adanya puskesmas
untuk melayani kesehatan warga, pusat pemerintahan seperti kantor
Geuchik, balai pertemuan antar warga dan kantor PKK. Desa ini juga
memiliki sarana wisata yakni Riung Gunung dan Rata Resto.

27
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah kami lakukan di
dua desa yang berbeda yaitu desa Jalin dan desa Jantho baru data yang kami
dapatkan dari dua desa tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Seperti dari
mata pencaharian penduduk, pendidikan, kesehatan dan sarana dan prasarana.
Seperti di desa Jalin desa ini merupakan contoh desa swakarya dilihat dari
karakteristiknya yakni adanya pengaruh dari luar sehingga mengakibatkan
perubahan pola pikir masyarakat, sudah mulai terlepas dari adat, produktivitas
mulai meningkat, sarana prasarana mulai meningkat dan adanya pengaruh dari
luar yang mengakibatkan perubahan cara berpikir.
Sedangkan untuk desa Jantho baru perkembangannya sudah cukup pesat
dilihat dari mata pencaharian yang beragam, kualitas pendidikan sudah bagus,
kesehatan masyarakat terjaga, dan memiliki sarana dan prasarana yang lengkap
maka desa ini kami golongkan menjadi desa swasembada bedasarkan
karakteristiknya yakni, hubungan antarmanusia bersifat rasional, mata
pencaharian heterogen, teknologi dan pendidikan tinggi, produktivitas tinggi,
terlepas dari adat, dan sarana dan prasarana lengkap dan modern.

4.2 Saran
Saran dari penulis adalah agar pemerintah mempercepat pembangunan
jalan di desa Jalin. Untuk masalah kesehatan di desa Jalin agar pemerintah
mendirikan puskesmas di desa tersebut agar tingkat kesehatan masyarakat .
Pemerintah lebih memperhatikan masalah pendidikan di kedua desa tersebut
yakni dengan minimal membangun SMP Dan SMA agar anak-anak di kedua
desa tersebut dapat bersekolah sehingga meningkatkan kualitas penduduk karena
dengan meningkatnya kualitas penduduk maka semakin cepat suatu desa untuk
berkembang lebih maju.

28
DAFTAR PUSTAKA

Bardi, Syamsul. 2010. Pengantar Geografi Desa. Banda Aceh: Al- Washliyah
University Press.

Bintarto, R., 1983. Interaksi Desa- Kota. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Daldjoeni, N.,1987.Geografi Desa – Kota. Bandung: Alumni.

29