Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH DIETETIK LANJUT

“HUBUNGAN INDEKS GLIKEMIK RENDAH TERHADAP


PENYAKIT DM”

Kelompok 5
Disusun Oleh :

1. DELVIRA MIFTAHUL JANNAH PO.71.31.1.15.006


2. MELANDA DWI SANDI PO.71.31.1.15.015
3. RAHMA DESTIANI PO.71.31.1.15.025
4. TRISNA FABIOLAN AGUSTINA PO.71.31.1.15.034

Dosen Pembimbing :

1. Susyani, S.SiT, M.Kes


2. Muzakar, SST, MPH
3. Rusnelly, S.SiT, Msi

DIV GIZI
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2016-2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah dietetik lanjut ini dengan baik yang berjudul “hubungan indeks
glikemik rendah terhadap penyakit dm”. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak
akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah
curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah dieteik lanjut. Makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Palembang, September 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Semua makanan mempunyai pengaruh terhadap kenaikan gula darah, baik


untuk orang sehat maupun diabetesi. Makanan yang ber-indeks glikemik ( IG ) tinggi
akan cepat dirubah menjadi glukosa setelah dimakan. Makanan yang ber-IG rendah,
glukosa diubah secara lebih lambat sehingga peningkatan gula darah pun lebih
bertahap. Intinya, IG hanya memberikan sinyal kepada kita bahwa makanan tersebut
akan meningkatkan gula darah, tergantung jenis makanan yang dimakan. Daging dan
lemak tidak mengandung indeks glikemik karena tidak mengandung karbohidrat. Jadi,
definisi indeks glikemik pada makanan ( IG ) adalah sebuah ukuran kecepatan pada
makanan berkarbohidrat dalam meningkatkan kadar gula darah pada seseorang.
Diabetes Mellitus adalah istilah kedokteran untuk sebutan gula atau kencing
manis. Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani. Diabetes artinya mengalir terus, melitus
berarti madu atau manis. Jadi istilah ini menunjukan tentang keadaan tubuh penderita
yaitu adanya cairan manis yang mengalir terus. Menurut Setiawan (2006), Diabetes
merupakan sekumpulan gejala yang timbul pada seseorang ditandai dengan kadar
glukosa darah melebihi normal (hiperglikemi) akibat tubuh kekurangan insullin baik
absolut maupun relatif.
Ada beberapa jenis diabetes yaitu DM tipe-1 atau IDDM (Insulin Dependent
Diabetes Mellitus) dan DM tipe-2 atau disebut NIDDM (Non Insulin Dependent
Diabetes Mellitus). Ada diabetes yang disebabkan hal lain misalnya oleh kerusakan
pankreas akibat kurang gizi disebut MRDM (Malnutrition Related Diabetes Mellitus).
Dalam kelompok tipe lain ini termasuk pula DM karena faktor genetik, obat, hormon
dan lain-lain. Ada juga jenis lain yaitu diabetes pada kehamilan (Gestational Diabetes)
yang timbul hanya pada saat hamil (Sarwono W, 2002).
Umumnya penanganan menu makanan pada penderita DM lebih difokuskan
pada porsi makanannya terutama karbohidrat. Hal ini dilakukan karena anggapan
bahwa setiap karbohidrat pada jumlah yang sama memberikan efek yang sama pada
peningkatan kadar gula darah.

Penelitian Heather Dkk, dalam Indeks Glikemik Pangan, menunjukan bahwa


karbohidrat yang berbeda akan memberikan efek berbeda pada kadar gula darah dan
respon insulin, walaupun diberikan dalam jumlah (Gram) sama.
Pada penderita DM fakta dari penelitian jangka menengah menunjukan bahwa
penggantian karbohidrat yang memiliki IG tinggi dengan pangan yang memiliki IG
rendah akan memperbaiki pengendalian glikemik. Pada penelitian konsumsi pangan
kedua subyek penelitian diberikan makanan pagi yang memiliki IG berbeda dengan
komposisi zat gizi mikro yang konstan. Kemudian respon glukosa dan insulin diukur
setelah makan siang dengan komposisi gizi yang sama hasilnya adalah respon glukosa
dan insulin lebih tinggi pada kelompok makanan pagi dengan IG tinggi daripada
kelompok IG rendah (Rimbawan, 2004).
Penelitian pada subyek non DM diperoleh bahwa dengan mengkonsumsi
karbohidrat yang diserap lambat diperoleh puncak respon glukosa lebih rendah. Ini
berarti karbohidrat yang memiliki IG rendah dapat memperlambat peningkatan kadar
gula darah. Jenkins Dkk, telah merangkum berbagai hasil penelitian mengenai
hubungan IG dengan resiko DM. Kesimpulannya bahwa penerapan konsep IG
memberikan efek pencegahan dan bermanfaat pada penanganan penyakit kronik
(Rimbawan, 2004).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu indeks glikemi ?
2. Apa itu diabetes mellitus ?
3. Bagaimana hubungan indeks glikemi rendah dengan penyakit DM ?
4. Bagaimana pengaruh makanan indeks glikemi dengan penyakit DM ?

C. TUJUAN
1. Mengetahui apa itu indeks glikemi ?
2. Mengetahui apa itu diabetes mellitus ?
3. Mengetahui hubungan indeks glikemi rendah dengan penyakit DM ?
4. Mengetahui pengaruh makanan indeks glikemi dengan penyakit DM ?
BAB II

PEMBAHASAN

I. INDEKS GLIKEMI
A. Pengertian indeks glikemi
Indeks Glikemik adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap kadar gula
darah. Dengan kata lain indeks glikemik adalah respon glukosa darah terhadap
makanan dibandingkan dengan respon glukosa darah terhadap glukosa murni. Indeks
glikemik berguna untuk menentukan respon glukosa darah terhadap jenis dan jumlah
makanan yang dikonsumsi. Indeks glikemik bahan makanan berbeda-beda tergantung
pada fisiologi, bukan pada kandungan bahan makanan. (Sarwono W, 2002).
Indeks glikemik ditemukan pada awal tahun 1981 oleh Dr David Jenkins,
seorang Profesor Gizi pada Universitas Toronto, Kanada, untuk membantu
menentukan penanganan yang paling baik bagi penderita DM. Pada masa itu diet pada
penderita DM didasarkan pada system porsi karbohidrat. Konsep ini menganggap
bahwa semua pangan berkarbohidrat menghasilkan pengaruh yang sama pada kadar
gula darah (Rimbawan, 2004).
Secara tradisional karbohidrat digolongkan menurut struktur kimianya
(sederhana dan kompleks). Tahun 1990-an secara luas diyakini bahwa karbohidrat
kompleks diserap dengan lambat sehingga menyebabkan sedikit peningkatan kadar
gula darah. Dan Karbohidrat sederhana dianggap dicerna dan diserap dengan cepat
sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang cepat dan besar. Anggapan
ini salah. Pangan bergula tinggi tidak meningkatkan kadar gula darah secara drastis.
Karbohidrat dalam pangan yang dipecah dengan cepat selama pencernaan
memiliki indeks glikemik tinggi. Respon gula darah terhadap jenis pangan
(karbohidrat) ini cepat dan tinggi. Sebaliknya karbohidrat yang dipecah dengan lambat
memiliki indeks glikemik rendah sehingga melepaskan glukosa kedalam darah. Indeks
glikemik murni ditetapkan 100 dan digunakan sebagai acuan untuk penentuan IG
pangan lain (Rimbawan, 2004)
Katagori pangan menurut rentang IG yaitu :
1. IG rendah, rentang IG < 55
2. IG sedang, rentang IG 55 - 70
3. IG tinggi, rentang IG > 70

B. Jenis-Jenis Indeks Glikemik

Indeks glikemik ada 3 jenis yaitu :

a) Indeks glikemik pangan tunggal yaitu nilai indeks glikemik yang diperoleh
berasal dari pengujian makanan tunggal
b) Indeks glikemik pangan campuran yaitu nilai indeks glikemik yang diperoleh
dari perhitungan jumlah prosentase karbohidrat dikali dengan indeks glikemiks
tunggal masing-masing pangan.
c) Indeks glikemik menyeluruh yaitu nilai indeks glikemik yang diperoleh dari
perhitungan jumlah kandungan karbohidrat dikalikan frekwensi pemakaian
dalam sehari dikalikan dengan indeks glikemik tunggal dibagi dengan total
kandungan karbohidrat seluruh pangan (Rimbawan, 2004)

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik


Para ahli telah mempelajari faktor-faktor penyebab perbedaan IG antara pangan
yang satu dengan lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu cara pengolahan
(tingkat gelatinisasi pati dan ukuran partikel), perbandingan amilosa dan
amilopektin, gizi pangan (Sarwono W, 2002).
a) Proses Pengolahan
Proses penggilingan menyebabkan struktur pangan menjadi halus
sehingga pangan tersebut mudah dicerna dan diserap. Pangan yang mudah
cerna dan diserap menaikan kadar gula darah dengan cepat.
Penumpukan dan penggilingan biji-bijian memperkecil ukuran partikel
sehingga mudah menyerap air menurut Liljeberg dalam buku Indeks Glikemik
Pangan, makin kecil ukuran partikel maka IG pangan makin tinggi. Butiran
utuh serealia, seperti gandum menghasilkan glukosa dan insulin yang rendah.
Namun ketika biji-bijian digiling sebelum direbus, respon glokusa dan insulin
mengalami peningkatan yang bermakna. (Rimbawan, 2004).
b) Kadar Amilosa dan Amilopektin
Amilosa adalah polimer gula sederhana yang tidak bercabang. Struktur
yang tidak bercabang ini membuat amilosa terikat lebih kuat sehingga sulit
tergelatinisasi akibatnya mudah cerna.Sementara Amilopektin-polimer gula
sederhana memiliki ukuran molekul lebih besar dan lebih terbuka sehingga
mudah tergelatinisasi akibatnya mudah cerna.
Penelitian terhadap pangan yang memiliki kadar amilosa dan
amilopektin berbeda menunjukkan bahwa kadar glukosa darah dan respon
insulin lebih rendah setelah mengkonsumsi pangan berkadar amilosa tinggi
daripada pangan berkadar amilopektin tinggi. Sebaliknya bila kadar
amilopektin pangan lebih tinggi daripada amilosa,respon gula darah lebih
tinggi.(Rimbawan,2004).
c) Kadar Gula dan Daya Osmotik Pangan
Pengaruh gula secara alami terdapat didalam pangan dalam berbagai
porsi terhadap respon gula darah sangat sulit diprediksi. Hal ini dikarenakan
pengosongan lambung diperlambat oleh peningkatan konsumsi gula apapun
strukturnya (Sarwono, 2002).
d) Kadar Serat Pangan
Menurut Miller dalam buku Indeks Glikemik Pangan, Pengaruh serat
pada IG pangan tergantung pada jenis seratnya.bila masih utuh serat dapat
bertindak sebagai penghambat fisik pada pencernaan. Akibatnya IG cenderung
melebihi rendah. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kacang-kacangan
atau tepung biji-bijian memiliki IG rendah ( 30 – 40 ).
Menurut Rimbawan, 2004 serat kasar mempertebal kerapatan atau
ketebalan campuran makanan dalam saluran pencernaan. Hal ini
memperlambatnya lewatnya makanan pada saluran pencernaan dan
menghambat pergerakan enzim. Dengan demikian proses pencernaan menjadi
lambat dan akhirnya respon gula darah menjadi lebih rendah.
e) Kadar Lemak dan Protein Pangan
Pangan berkadar lemak dan protein tinggi cenderung memperlambat
laju pengosongan lambung. Dengan demikian laju pencernaan makanan di
usus halus juga diperlambat. Oleh karena itu pangan berkadar lemak tinggi
cenderung memiliki IG lebih rendah daripada sejenis berkadar lemak lebih
rendah ( Rimbawan, 2004 )

II. PENYAKIT DIABETES MELLITUS


A. Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus adalah istilah kedokteran untuk sebutan gula atau kencing
manis. Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani. Diabetes artinya mengalir terus, melitus
berarti madu atau manis. Jadi istilah ini menunjukan tentang keadaan tubuh penderita
yaitu adanya cairan manis yang mengalir terus. Menurut Setiawan (2006), Diabetes
merupakan sekumpulan gejala yang timbul pada seseorang ditandai dengan kadar
glukosa darah melebihi normal (hiperglikemi) akibat tubuh kekurangan insullin baik
absolut maupun relatif.
Ada beberapa jenis diabetes yaitu DM tipe-1 atau IDDM (Insulin
Dependent Diabetes Mellitus) dan DM tipe-2 atau disebut NIDDM (Non Insulin
Dependent Diabetes Mellitus). Ada diabetes yang disebabkan hal lain misalnya oleh
kerusakan pankreas akibat kurang gizi disebut MRDM (Malnutrition Related Diabetes
Mellitus). Dalam kelompok tipe lain ini termasuk pula DM karena faktor genetik,
obat, hormon dan lain-lain. Ada juga jenis lain yaitu diabetes pada kehamilan (
Gestational Diabetes ), yang timbul hanya pada saat hamil (Sarwono W, 2002).

B. Patofisiologi
Seperti suatu mesin badan memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan
mengganti sel yang rusak. Disamping itu badan juga memerlukan energi agar sel
badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada manusia berasal dari bahan makanan
yang kita makan sehari-hari yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak.
Menurut Sarwono, 2002 pengelolaan bahan makanan dimulai di mulut
kemudian kelambung selanjutnya ke usus. Didalam sel, zat makanan terutama glukosa
dibakar melalui proses kimia yang rumit dan hasil akhirnya adalah energi. Dalam
proses metabolisme itu insulin memegang peranan penting. Insulin dihasilkan oleh sel
betapankreas.
Bila insulin tidak aktif, glukosa tidak dapat masuk sel akibatnya glokusa akan
tetap berada didalam pembuluh darah yang artinya kadarnya didalam darah akan
meningkat. Inilah yang terjadi pada DM tipe-1 sedangkan pada dm tipe-2 jumlah
isulin normal malah mungkin lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang
terdapat pada pemukaan sel kurang.

C. Patogenesis
Menurut Sarwono (2006) pada keadaan setelah makan terjadi penyerapan
makanan seperti tepung-tepungan (karbohidrat) di usus, yang akan menyebabkan
kadar glukosa darah (GD) meningkat.
Peningkatan kadar GD ini akan merangsang pengeluaran hormon iinsulin.
Oleh pengaruh hormon insulin ini glukosa dalam darah sebagian besar akan
masuk kedalam berbagai macam sel tubuh dan sebagian lagi dipergunakan
sebagai energi dalam sel tersebut.Dalam sel otot sebagian akan diubah menjadi
glikogen, sebagian lagi diubah menjadi lemak dan dtimbun sebagai cadangan
energi. Dengan demikian kadar GD akan turun sampai batas normal kembali.
Dalam waktu dua jam kadar Gula darah akan normal kembali sekitar 70 – 110
mg/dl. Pada keadaan DM kadar insulin tubuh tidak mencukupi untuk mengatur
gula darah agar tetap normal seperti pada orang normal non-DM, gejala yang
mungkin sering timbul pada permulaan yaitu banyak makan, banyak minum, dan
banyak kencing. Dalam fase ini biasanya penderita menunjukan berat badan yang
terus bertambah,karena pada saat ini insulin masih mencukupi.
Kadang-kadang diabetisi tidak menunjukkan gejala akut tetapi menunjukkan
gejala yang sudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap DM. Gejala
kronik yang sering timbul yaitu (Askandar,2006):
 Kesemutan.
 Kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
 Terasa tebal dikulit,sehingga kalau berjalan seperti diatas kasur.
 Kram
 Lelah, mudah mengantuk.
 Mata kabur
 Gatal disekitar kemaluan terutama wanita.
 Gigi mudah goyah dan mudah lepas.
 Kemampuan seksual menurun, bahkan impotent.
 Pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam
kandungan atau berat bayi lahir lebih dari 4 kg.
D. Diagnosis Diabetes Mellitus
Tindakan diagnosis dilakukan untuk menentukan apakah seseorang telah
menderita penyakit DM atau belum. Diagnosis umumnya ditegakan berdasarkan
keluhan penderita yang khas dan adanya peningkatan kadar glukosa darah yang
ditentukan berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan.
a) Pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standard menurut WHO
Di Indonesia berdasarkan konsensus pemeriksaan glukosa darah pada
pemeriksaan TTGO biasanya hanya dilakukan pada saat setelah menjalankan
puasa ( 0 jam ) dan 2 jam setelah minum 75 g larutan glukosa.
b) Pemeriksaan Glikohemoglobin (HbA1c) dan Fruktosamin
Tes ini berguna sebagai indikator dalam memantau kontrol gula darah jangka
panjang, diagnosis, penentuan prognosis dan pengelolaan penderita DM.
Glikohemoglobin merupakan hasil reaksi glukosa dengan hemoglobin
A(HbA)yang terbentuk dan terakumulasi dalam sel darah merah.Nilai normal
Hba 1c adalah 4-6% dari Hb total. Jika perbandingan glycated hemoglobin
melampaui 8% dari total HbA maka angka ini telah termasuk normal.Nilai
yang melampaui 12% menggambarkan adanya glukosa darah yang
tinggi(Hiperglikemi)dalam jangka waktu yang lama. Cara lain untuk
melakukan pemantauan kontrol glukosa darah yaitu dengan pemeriksaan
fruktosamin. Dengan cara ini dapat dinilai kontrol penyakit DM dalam jangka
waktu 3 - 6 minggu sebelumnya. Kadar fruktosamin pada orang normal adalah
1,5-1,8 mMol/L. Bila hasil pengukuran >1,8 mMol/L maka berartikadar
glukosa darah meninggi.
c) Pemeriksaan Insulin, C-Peptide, dan Insulin Antibodi
Pemeriksaan ini dapat dilakukan secaa radio immuno assey. Pemeriksaan kadar
insulin sekarang digantikan dengan pemeriksaan C-Peptide yang lebih stabil
dan disekresikan dalam jumlah yang sama dengan insulin. Insulin antibodi
terdapat pada penderita DM yang mendapat pengobatan dengan suntikan
Insulin. Pemeriksaan antibodi ini tidak relevan secara klinis. Sebaliknya,
pemeriksaan antibodi terhadap insulin endogenus yang disebut
insulinautoantibodi (IAA) sangat penting karena dapat terjadi pada 30 – 40 %
anak yang menderita IDDM dan merupakan bagian dari respon auto imun
(Setiawan, 2006).

III. Hubungan indeks glikemi rendah dan DM

Hubungan Indeks Glikemik Dengan Diabetes Melitus. Makanan dikatakan


mempunyai indeks glikemik ( IG ) jika mengandung sejumlah karbohidrat.
Karbohidrat pada semua makanan mempunyai nilai berbeda yang akan mempengaruhi
kadar glukosa dalam darah dengan kecepatan tertentu, baik itu pada diabetesi maupun
orang sehat non-diabetes. Semakin tinggi nilai indeks glikemiks pada makanan maka
semakin cepat kadar glukosa darah menjadi naik, dan sebaliknya, semakin rendah nilai
indeks glikemik, semakin lambat dan bertahap pula kenaikan kadar gulanya.
Dengan menentukan indeks glikemik tidak perlu lagi menghitung jumlah
karbohidrat di dalam makanan tertentu. Indeks glikemik dapat menunjukkan apa
dampak sebenarnya dari makanan tersebut terhadap kadar gula darah. Nilai indeks
glikemik suatu makanan dipengaruhi oleh struktur suatu makanan, jenis zat tepung di
dalamnya (amilosa atau amilopektin), dan bagaimana proses pengolahannya. Semakin
banyak proses pengolahan suatu makanan, maka semakin tinggilah nilai indeks
glikemiknya dan sebaliknya. Indeks glikemik disebut sangat rendah bila suatu
makanan tidak memiliki efek sama sekali terhadap kadar gula darah anda (indeks
glikemik 0) dan hanya mengandung kurang dari 5 gram karbohidrat sederhana atau
bila suatu makanan memiliki indeks glikemik kurang dari 20 dan mengandung kurang
dari 7 gram karbohidrat sederhana.

Mengkonsumi diet dengan nilai indeks glikemik yang rendah telah terbukti
berhubungan dengan penurunan resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh
darah, diabetes tipe 2, sindrom metabolik (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan
kadar kolesterol total, tekanan darah, kadar gula darah, dan penumpukkan lemak perut
yang terjadi secara bersamaan), stroke, depresi, penyakit ginjal kronik, batu empedu,
kelainan saraf bawaan, mioma, kanker payudara, kanker usus besar, kanker prostat,
dan kanker pankreas.

IV. Pengaruh makanan indeks glikemi dengan penyakit DM


Umumnya penanganan menu makanan pada penderita DM lebih difokuskan
pada porsi makanannya terutama karbohidrat. Hal ini dilakukan karena anggapan
bahwa setiap karbohidrat pada jumlah yang sama memberikan efek yang sama pada
peningkatan kadar gula darah. Penelitian Heather Dkk, dalam Indeks Glikemik
Pangan, menunjukan bahwa karbohidrat yang berbeda akan memberikan efek berbeda
pada kadar gula darah dan respon insulin, walaupun diberikan dalam jumlah (Gram)
sama.
Pada penderita DM fakta dari penelitian jangka menengah menunjukan bahwa
penggantian karbohidrat yang memiliki IG tinggi dengan pangan yang memiliki IG
rendah akan memperbaiki pengendalian glikemik. Pada penelitian konsumsi pangan
kedua subyek penelitian diberikan makanan pagi yang memiliki IG berbeda dengan
komposisi zat gizi mikro yang konstan. Kemudian respon glukosa dan insulin diukur
setelah makan siang dengan komposisi gizi yang sama hasilnya adalah respon glukosa
dan insulin lebih tinggi pada kelompok makanan pagi dengan IG tinggi daripada
kelompok IG rendah (Rimbawan, 2004).
Penelitian pada subyek non DM diperoleh bahwa dengan mengkonsumsi
karbohidrat yang diserap lambat diperoleh puncak respon glukosa lebih rendah. Ini
berarti karbohidrat yang memiliki IG rendah dapat memperlambat peningkatan kadar
gula darah. Jenkins Dkk, telah merangkum berbagai hasil penelitian mengenai
hubungan IG dengan resiko DM. Kesimpulannya bahwa penerapan konsep IG
memberikan efek pencegahan dan bermanfaat pada penanganan penyakit kronik
(Rimbawan, 2004).
Pengaruh makanan indeks glikemik rendah
Makanan indeks glikemik rendah bukan berarti makanan tersebut dapat
mengurangi kadar gula dalam darah seperti anggapan kebanyakan orang, akan tetapi
makanan indeks glikemik rendah mengandung karbohidrat yang mempengaruhi gula
darah dengan kecepatan lambat dan bertahap. Makanan ber-IG rendah, belum tentu
mempunyai kalori yang rendah dan makanan yang manis belum tentu ber-IG tinggi.
Saat memilih makanan, seseorang harus cerdas dan bijak.
Ada beberapa makanan yang ber IG rendah namun tinggi kalori, seperti keripik
dan coklat, kedua makanan ini mempunyai IG rendah namun tinggi kalori dan lemak.
Pemanis minuman seperti sakarin, aspartam mempunyai IG rendah, namun tinggi
kalori. Beberapa contoh makanan yang berindeks glikemik rendah seperti

 Sayuran : cabe, tomat, selada, paprika, kacang panjang, jagung biasa, kacang
hijau, brokoli, kembang kol dll
 Buah-buahan : buah ceri, plum, jeruk, buah persik, apel, pir, aprikot, anggur,
santan kelapa, buah kiwi, stroberi, dll
 Lain-lain : bubur, roti gandum, roti kedelai, susu, susu krim, susu kedelai,
yogurt, spageti, beras merah, kue bolu, kue kismis, oatmeal, dll.

Meskipun mempunyai indeks glikemik yang rendah, akan tetapi jika seseorang
baik itu diabetesi maupun non-diabetesi jika mereka makan dalam porsi banyak, akan
tetap mempengaruhi dalam meningkatkan gula darah dengan cepat. Oleh karena itu,
porsi diet harus seimbang dalam jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi.

Menggabungkan antar makanan indeks glikemik

Menggabungkan antara makanan IG rendah dengan IG tinggi, atau IG rendah


dengan IG menengah adalah sangat penting untuk diet diabetes dengan tujuan untuk
mengimbangi efek kenaikan gula darah.Dalam hal penggabungan antar makanan ber-
IG, bagi diabetesi tipe 1 dan 2 pengguna insulin bertujuan untuk mencegah resiko
hipoglikemik akibat gula darah yang cenderung lambat jika mereka hanya
mengonsumsi makanan IG rendah saja, ketika beraktifitas.

Akan tetapi, menggabungkan makanan antar IG membutuhkan rekomendasi


dari ahli diet atau dokter, sebab kebutuhan diet untuk tiap diabetesi berbeda,
tergantung dari jenis makanan yang dipilih, faktor usia, tingkat aktifitas,dan tingkat
metabolisme harian mereka.Jika hanya mengonsumsi makanan yang berindeks
glikemik rendah saja, hal ini tidak dianjurkan sebab pola makan Anda harus seimbang
dan ini berlaku untuk umum, baik untuk diabetesi maupun non-diabetes.

Dalam memilih makanan untuk dikonsumsi, penderita diabetes harus


memperhatikan jenis karbohidrat yang terkandung dalam makanan tersebut. Ada jenis
karbohidrat yang cepat diserap tubuh (sehingga kadar gula darah melonjak dan cepat
terasa lapar lagi), ada juga karbohidrat yang lambat diserap (sehingga kadar glukosa
darah lebih stabil dan terasa kenyang lebih lama).

Indeks glikemik adalah ukuran seberapa besar efek suatu makanan yang
mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar gula darah setelah dimakan,
dibandingkan dengan glukosa atau roti putih. Makanan dengan indeks glikemik tinggi
adalah makanan yang cepat dicerna dan diserap sehingga kadar gula darah akan
meningkat dengan cepat secara signifikan. Makanan dengan indeks glikemik yang
rendah mengalami pencernaan dan penyerapan yang lebih lambat sehingga
peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah akan terjadi secara perlahan-lahan.
Makanan dengan indeks glikemik rendah telah terbukti memperbaiki kadar glukosa
dan lemak pada pasien-pasien diabetes melitus dan memperbaiki resistensi insulin.
Selain itu, makanan dengan indeks glikemik rendah juga membantu mengontrol nafsu
makan, memperlambat munculnya rasa lapar sehingga dapat membantu mengontrol
berat badan pasien.
BAB III
PENUTUP

I. Kesimpulan

Indeks glikemik (GI) adalah peringkat karbohidrat pada skala dari 0 hingga 100
sesuai dengan sejauh mana makanan menaikkan kadar gula darah setelah makan.
Makanan dengan indeks glikemik tinggi adalah makanan yang cepat dicerna dan
diserap dan hasilnya ditandai dengan adanya fluktuasi dalam kadar gula darah.
Makanan rendah indeks glikemik berdasarkan pencernaan dan penyerapan yang
lambat, menghasilkan kenaikan bertahap dalam kadar gula darah dan insulin, dan
telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan. diet rendah indeks glikemik telah
terbukti mengontrol kadar glukosa dan lipid pada penderita diabetes (tipe 1 dan
tipe 2). Diet indeks glikemik rendah juga mengurangi kadar insulin dan resistensi
insulin.
DAFTAR PUSTAKA

https://hellosehat.com/hidup-sehat/nutrisi/mengenal-indeks-glikemik-pada-makanan/
http://www.alodokter.com/diabetes
https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/diabetes-kencing-manis/indeks-glikemik-dan-
diabetes/
https://www.dokter.id/berita/hubungan-indeks-glikemik-dengan-diabetes
https://diabetics1.com/2016/01/pengaruh-indeks-glikemik-terhadap-diabetes-
melitus.html