Anda di halaman 1dari 37

Skenario 3

RONE MERAH DI PIPI

Seorang perempuan berusia 30 tahun, datang ke Rumah Sakit dengan keluhan demam
yang hilang timbul sejak enam bulan yang lalu. Keluhan lainnya mual, tidak nafsu makan,
mulut sariawan, nyeri persendian, rambut rontok dan pipi berwarna merah bila terkana sinar
matahari.
Pada pemeriksaan fisik didaptkan suhu subfebris, konjungtiva pucat, terdapat
sariawan di mulut. Pada wajah terliahat malarrash. Pemeriksaan fisik lain tidak didapatkan
kelainan. Dokter menduga pasien menderita Sistemic Lupus Eritematosus.
Kemudian dokter menyarankan permeriksaan laboratorium hematologi, urin, dan
marker autoimun (autioantibodi misalnya anti ds-DNA). Dokter menyarankan untuk dirawat
dan dilakukan follow up pada pasien ini. Dokter menyarankan agar pasien bersabar dalam
menghadapi penyakit karena membutuhkan penanganan seumur hidup.

IDENTIFIKASI KATA-KATA SULIT

Malarrash : Bercak atau ruam pada wajah.

Sistemic Lupus Eritematosus :Penyakit Autoimun yang ditandai dengan antibodi


spesifik pada antigen nukleus.

Suhu Subfebris : Suhu diatas normal (37oC-38 oC)

Marker Autoimin : Penanda adanya autoantibodi

Autoimun : Kondisi dimana antibodi diproduksi secara tidak


normal.

BRAINSTORMING PROBLEM

1. Apakah SLE hanya menyerang wanita?


2. Mengapa dapat terjadi pipi kemerahan pada penderita SLE?
3. Apakah malarrash hanya terdapat pada wajah?
4. Apa saja penyakit Autoimun selain SLE?
5. Mengapa dokter menyarankan pemeriksaan penunjang hematologi, urin dan marker
autoimun?
6. Apa saja faktor penyebab autoimun?
7. Apakah SLE bisa disembuhkan?

ANALISA MASALAH
1. SLE bisa juga menyerang kaum pria namun memang perbandingannya lebih besar
kaum wanita, hal ini disebebkan oleh hormon esterogen yang dimiliki wanita dapat
menstimulus limfosit B, sedangkan laki-laki memliki hormon androgen yang malah
menghambat autoimun dan Limfosit T yang lebih spesifik.

1
2. Akibat fotosensitivitas, malar rash timbul yang di wajah biasanya disebut juga
butterflyrush. Sinar UV dapat mengurangi supresi imun, mengeluarkan sitokin dan
prostaglandin sehingga menyebabkan inflamasi.
3. Malar rash juga terdapat pada lipatan tubuh.
4. Anemia Hemolitik Autoimun, Diabetes Melitus Tipe I, Syndrome Sjorgen
5. Karena penyakit SLE ini menyeranng secara sistemik, maka terdapat kerusakan di
beberapa organ. Kerja organ yang abnormal dapat dideteksi oleh pemeriksaan
tersebut.
6. Faktor hormon, Imunitas, genetik, obat-obatan, sinar UV dan stress.
7. SLE tidak bisa disembuhkan, hanya bisa diterapi, agar efeknya tidak menyebar ke
organ lainnya.
Terapi Konservatif : Untuk SLE ringan yang tidak mengancam nyawa.
Terapi Agresif : Untuk SLE berat yang mengancam nyawa.

2
LI 1. Mengerti dan memahami Autoimun
1.1 Definisi
Autoimunitas merupakan respons imun terhadap antigen jaringan sendiri yang disebabkan
oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan sel-tolerance sel B, sel T
atau keduanya. Autoimun terjadi oleh karena dikenalnya self antigen yang menimbulkan aktivasi,
proliferasi serta diferensiasi sel T autoreaktif menjadi sel efektor yang menimbulkan kerusakan
jaringan. Penyakit autoimun adalah kerusakan jaringan atau gangguan fungsi fisiologis yang
ditimbulkan oleh respons autoimun. (Baratawidjaya & Rengganis, 2010)
Penyakit autoimun yaitu ketidakmampuan mengenal dan memberikan respons
terhadap antigen asing tetapi tidak terhadap antigen sendiri (self-nonself discrimination).
Ketidakmampuan sistem imun untuk memberikan respons terhadap antigen tubuh sendiri
disebut toleransi diri (self-tolerance). (Kresno, 2003)

1.2 Klasifikasi
Penyakit Autoimun Organ-Specific
Penyakit autoimun yang melibatkan kerusakan seluler terjadi ketia sel limfosit atau
antibodi berikatan dengan antigen membran sel, sehingga menyebabkan lisis ataupun respon
inflamasi pada organ terkait. Lama kelamaan, struktur sel yang rusak itu diganti oleh jaringan
penyambung (scar tissue), dan fungsi organ nya menurun.

Penyakit Autoimun Sistemik (non organ-specific)


Pada penyakit autoimun sistemik, respon imunnya diarahkan kepada banyak antigen
target, sehingga melibatkan banyak jaringan dan organ. Penyakit ini disebabkan oleh
kerusakan pada regulasi imun, sehingga menyebabkan munculnya sel T dan sel B yang
hiperaktif. Kerusakan jaringan terjadi di banyak bagian tubuh. Kerusakan tersebut dapat
disebabkan oleh cell-mediated immune respone maupun direct cellular damage (seperti yang
sudah disebutkan pada penyakit autoimun organ-specific).

3
Beberapa Gangguan Autoimun
Jaringan yang
Gangguan Konsekwensi
terkena
Anemia (berkurangnya jumlah sel darah merah) terjadi,
Anemia hemolitik menyebabkan kepenatan, kelemahan, dan sakit kepala
Sel darah merah
autoimun ringan. Limpa mungkin membesar. Anemia bisa hebat
dan bahkan fatal.
Lepuh besar, yang kelilingi oleh area bengkak yang
Bullous pemphigoid Kulit merah, terbentuk di kulit. Gatal biasa. Dengan
pengobatan, prognosis baik.
Gejala, seperti pendeknya nafas, batuk darah,
kepenatan, bengkak, dan gatal, mungkin berkembang.
Sindrom Goodpasture Paru-paru dan ginjal
Prognosis baik jika pengobatan dilaukan sebelum
kerusakan paru-paru atau ginjal hebat terjadi.
Kelenjar gondok dirangsang dan membesar,
menghasilkan kadar tinggi hormon thyroid
(hyperthyroidism). Gejala mungkin termasuk detak
Penyakit Graves Kelenjar tiroid
jantung cepat, tidak tahan panas,tremor, berat
kehilangan, dan kecemasa. Dengan pengobatan,
prognosis baik.
Kelenjar gondok meradang dan rusak, menghasilkan
kadar hormon thyroid rendah (hypothyroidism). Gejala
seperti berat badan bertambah, kulit kasar, tidak tahan
Tiroiditis Hashimoto Kelenjar tiroid
ke dingin, dan mengantuk. Pengobatan seumur hidup
dengan hormon thyroid perlu dan biasanya mengurangi
gejala secara sempurna.
Seluruh sel syaraf yang terkena rusak. Akibatnya, sel
tidak bisa meneruskan sinyal syaraf seperti biasanya.
Gejala mungkin termasuk kelemahan, sensasi abnormal,
Multiple sclerosis Otak dan spinal cord kegamangan, masalah dengan pandangan, kekejangan
otot, dan sukar menahan hajat. Gejala berubah-ubah
tentang waktu dan mungkin datang dan pergi. Prognosis
berubah-ubah.
Koneksi antara saraf Otot, teristimewa yang dipunyai mata, melemah dan
dan otot lelah dengan mudah, tetapi kelemahan berbeda dalam
Myasthenia gravis
(neuromuscular hal intensitas. Pola progresivitas bervariasi secara luas.
junction) Obat biasanya bisa mengontrol gejala.
Lepuh besar terbentuk di kulit. Gangguan bisa
Pemphigus Kulit
mengancam hidup.

4
Kerusakan pada sel sepanjang perut membuat kesulitan
menyerap vitamin B12. (Vitamin B12 perlu untuk
produksi sel darah tua dan pemeliharaan sel syaraf).
Anemia adalah, sering akibatnya menyebabkan
kepenatan, kelemahan, dan sakit kepala ringan. Syaraf
Sel tertentu di
Pernicious anemia bisa rusak, menghasilkan kelemahan dan kehilangan
sepanjang perut
sensasi. Tanpa pengobatan, tali tulang belakang
mungkin rusak, akhirnya menyebabkan kehilangan
sensasi, kelemahan, dan sukar menahan hajat. Risiko
kanker perut bertambah. Juga, dengan pengobatan,
prognosis baik.
Banyak gejala mungkin terjadi. termasuk demam,
Sendi atau jaringan
kepenatan, rasa sakit sendi, kekakuan sendi, merusak
lain seperti jaringan
Rheumatoid arthritis bentuk sendi, pendeknya nafas, kehilangan sensasi,
paru-paru, saraf,
kelemahan, bercak, rasa sakit dada, dan bengkak di
kulit dan jantung
bawah kulit. Progonosis bervariasi
Sendi, walaupun dikobarkan, tidak menjadi cacat.
Gejala anemia, seperti kepenatan, kelemahan, dan
ringan-headedness, dan yang dipunyai ginjal, paru-paru,
sendi, ginjal, kulit, atau jantung mengacaukan, seperti kepenatan,
Systemic lupus
paru-paru, jantung, pendeknya nafas, gatal, dan rasa sakit dada, mungkin
erythematosus(lupus)
otak dan sel darah terjadi. Bercak mungkin timbul. Ramalan berubah-ubah
secara luas, tetapi kebanyakan orang bisa menempuh
hidup aktif meskipun ada gejolak kadang-kadang
kekacauan.
Gejala mungkin termasuk kehausan berlebihan, buang
air kecil, dan selera makan, seperti komplikasi
bervariasi dengan jangka panjang.
Sel beta dari
Pengobatan seumur hidup dengan insulin diperlukan,
pankreas (yang
Diabetes mellitus tipeI sekalipun perusakan sel pankreas berhenti, karena tidak
memproduksi
cukup sel pankreas yang ada untuk memproduks
insulin)
iinsulin yang cukup. Prognosis bervariasi sekali dan
cenderung menjadi lebih jelek kalau penyakitnya parah
dan bertahan hingga waktu yang lama.

5
Vasculitis bisa mempengaruhi pembuluh darah di satu bagian badan (seperti syaraf,
kepala, kulit, ginjal, paru-paru, atau usus) atau beberapa bagian. Ada beberapa macam.
Gejala (seperti bercak, rasa sakit abdominal, kehilangan berat badan, kesukaran
Pembuluh
Vasculitis pernafasan, batuk, rasa sakit dada, sakit kepala, kehilangan pandangan, dan gejala
darah
kerusakan syaraf atau kegagalan ginjal) bergantung pada bagian badan mana yang
dipengaruhi. Prognosis bergantung pada sebab dan berapa banyak jaringan rusak.
Biasanya, prognosis lebih baik dengan pengobatan.
1. Penyakit autoimun melalui antibodi
Berbagai autoantibodi dapat menimbulkan kerusakan secara langsung.
Kerusakan pada penyakit autoimun terjadi melalui antibodi (tipe II dan III), Tipe IV
yang mengaktifkan sel CD4+ atau sel CD8+. Kerusakan antibodi juga terjadi melalui
autoantibodi yang mengikat tempat fungsional self antigen seperti reseptor hormon,
reseptor neurotransmitter dan protein plasma. Autoantibodi tersebut dapat menyerupai
atau menghambat efek ligan endogen untuk self protein yang menimbulkan gangguan
fungsi tanpa terjadinya inflmasi atau kerusakan jaringan. Fenomena ini jelas terlihat
pada autoimunitas endokrin dengan autoantibodi yan menyerupai atau menghambat
efek hormon seperti TSH, yang meni mbulkan aktifitas berlebihan atau kurang dari
tiroid.
Penyakit serta autoantigennya antara lain :
 Anemia hemolitik autoimun (SDM)
 Limfopeni (limfosit)
 Sindrome Goodpasture (membran basal glomerulus)
 Miastenia gravis (reseptor asetilkolin)
 Grave disease (reseptor TSH)
 Granulomatosis wegener (proteinase III PMN)
 Miksedemia primer (reseptor TSH)
2. Penyakit autoimun melalui antibodi dan sel T.
Karena sel T-helper mengendalikan imunitas selular maupun humoral, sel T regulator
(Treg) sangat penting untuk menghambat terjadinya autoreaktif dari sel-sel yang lolos
dari negative selection. toleransi sel T-helper dianggap sangat penting bagi
pencegahan penyakit autoimun. Ada lebih dari satu jalur yang memungkinkan
toleransi dapat dipintas, dan semua jalur tersebut meliputi kombinasi gen
suseptibilitas serta pemicu dari lingkungan (khususnya infeksi).
Sistemik :
 Artritis rheumatoid (efektor H) mengenai persendian dan anyaman vaskular
 LES (efektor H) mengenai ginjal, kulit, sistem saluran pernapasan, sistem
kardiovaskular
Organ spesifik :
 Sindrom Sjorgen (efektor H) menyerang kelenjar lakrimal dan saliva
 Sklerosis multiple (efektor T) menyerang sistem saraf
 Miastenia gravis (efektor H) menyerang sistem saraf
3. Penyakit autoimun melalui kompleks antigen (Ag) antibodi (Ab)

6
4. Penyakit autoimun melalui defisiensi komplemen.
5.
1.3 Etiologi
Ada beberapa mekanisme mengenai induksi autoimunitas
1. pelepasan antigen sekuester
2. kemiripan molekular
3. ekspresi MHC-II yang tidak sesuai

1. Sequestered Antigen
Adalah antigen sendiri yang karena letak anatominya tidak terpajan dengan sel b/
sel T dari sistem imun. Pada keadaan normal, sequestered antigen dilindungi dan tidak
ditemukan untuk dikenal sistem imun.
Perubahan anatomi dalam jaringan seperti inflamasi (sekunder oleh infeksi,
kerusakan iskemia/ trauma) dapat memajankan sequestered antigen dengan sistem
imun yang tidak terjadi pada keadaan normal. Contohnya protein lensa intraokular,
sperma, dan MBP.

2. Gangguan Presentasi (kemiripan molekular)


Gangguan dapat terjadi pada presentasi antigen, infeksi yang meningkatkan
respons MHC, kadar sitokin yang rendah (misalnya TGF-B) dan gangguan respons
terhadap IL-2. Pengawasan beberapa sel autoreaktif diduga bergantung pada sel Ts/
Tr. Bila terjadi kegagalan sel Ts/ Tr, maka terjadi rengsangan ke sel Th yang akhirnya
menimbulkan autoimuntas

3. Ekspresi MHC-II yang Tidak Sesuai

7
Pada orang sehat, sel B mengekspresikan MHC-I yang lebih sedikit dan tidak
mengekspresikan MHC-II sama sekali. Namun pada penderita dengan IDDM ekspresi
MHC-I dan MHC-II denga kadar tinggi. Contoh lain pada penderita Grave yang
mengekspresikan MHC-II pada membran.
Ekspresi MHC-II Yng tidak pada tempatnya itu yang biasanya diekspreskan pada
APC dapat mensensitasi sel Th terhadap peptida yang berasal dari sel B/ tiroid dan
mengaktifkan sel B/Tc/Th1 terhadap self antigen.
Kerusakan pada penyakit autoimun terjadi melalui antibodi (tipe II dan III), tipe
IV yang mengaktifkan sel CD4+ /sel CD8+ kerusakan organ dapat juga terajdi melalui
autoantibodi yang mengikat tempat fungsional self antigen seperti reseptor hormon,
reseptor neurotransmitor, dan protein plasma. Autoantibodi tersebut dapat menyerupai
/menghambat efek ligan endogen untuk self protein yang menibulkan gangguan
fungsi tanpa terjadinya inflamasi/ kerusakan jaringan fenomena ini terliha pada
penyakit autoimunitas endokrin dengan autoantibodi yang menyerupai/ menghambat
efek hoormon seperti TSH, yang menimbulkan aktifitas berlebihan/ kurang dari tiroid.

1.4 Patofisiologi
Ada beberapa patofisiologi terjadinya autoimun, diantaranya:
1. Pelepasan Ag yang terasing
Beberapa penyakit yang berhubungan dengan pelepasan Ag yang terasing,
dikarenakan adanya kerusakan sel yang di awali suatu faktor lingkungan misalnya
infeksi dan faktor lainnya seperti asap rokok sehingga menyebabkan penyakit
autoimun. Beberapa contoh diantaranya:
 Merokok yang dapat menyebabkan Goodpasture’s syndrome
Pada keadaan normal, alveolar tidak terekspose untuk sistem imun. Adanya asap
rokok yang dapat merusak alveoli, menyebabkan kolagen yang terkespose.
Kolagen yang terekspose tadi akan membentuk anti kolagen antigen yang dapat
merusak alveoli dan jaringan ginjal.
Anti-sperm Ab yang diproduksi pada beberapa pria yang telah dilakukan
vasectomy. Juga merupakan suatu proses autoimun.

Gambar 2. Proses pelepasan Ag yang terasing

2. Stimulasi imun
Mikroba dapat mengaktifkan APC untuk mengekspresikan kostimulator, dan
ketika APC ini muncul sebagai self antigen sehingga Self reactive Tcells menjadi
aktif melebihi toleransi yang ada, sehingga menyebabkan autoimunitas pada
jaringan manusia.

8
Gambar 3. Proses stimulasi imun yang menyebabkan autoimunitas

3. Molecular mimicry
Beberapa antigen mikroba mempunyai reaksi silang terhadap self antigen
(Molecular mimicry). Hal ini menyebabkan respon kekebalan yang dicetuskan
oleh mikroba yang dapat mengaktifkan sel T spesifik untuk self antigen.

Gambar 4. Proses molecular mimicry

4. Faktor genetik
Beberapa genetik dengan alel MHC spesifik sangat rentan terhadap terjadinya
proses autoimun. Diabetes Tipe 1 salah satu contoh proses autoimun yang terjadi
pada alel MHC spesifik. Berawal dari sel B yang mempunyai alel MHC spesifik
memproses sel antigen dengan antigen fragmen yang tampak pada MHC II.
Fragmen Dengan adanya presentasi antigen pada T sel akan menyebabkan B cell
antigen berikatan dengan T-cell receptor (TCR) dan hal ini akan menyebabkan
perangsangan signal pada T cell. Karena aktifasi T cell sehingga terjadinya
produksi sitokin inflamasi yang kemudian mengaktifasi makrofag.

Toleransi Imun

Toleransi imun merupakan sistem imun yang tidak atau kurang dapat
mengekspresikan imunitas humoral atau seluler terhadap satu atau lebih antigen
spesifik. Beberapa faktor eksogen dapat merusak toleransi. Akibatnya dapat
berbahaya; bergantung pada derajat kerusakan toleransi.

Toleransi Sel T

9
a. Toleransi sentral
Toleransi sentral adalah induksi toleransi saat limfosit berada dalam perkembangannya di
timus. Proses seleksi terjadi untuk menyingkirkan limfosit yang self-reaktif. Melalui proses
yang disebut seleksi positif, sel hidup melalui ikatan dengan kompleks MHC. Sel T dengan
TCR yang gagal berikatan dengan self-MHC dalam timus akan mati dengan apoptosis.

b. Toleransi perifer
Toleransi perifer merupakan mekanisme yang diperlukan untuk mempertahankan
toleransi terhadap antigen yang tidak ditemukan dalam organ limfoid primer atau terjadi bila
ada klon sel dengan reseptor afinitas rendah yang lolos dari seleksi primer. Terdapat
mekanisme yang dapat mencegah terjadinya toleransi perifer, seperti ignorance, anergi dan
kostimulasi dan mekanisme regulasi oleh sel Treg.

10
Toleransi Sel B

a. Toleransi sentral
Prinsip seleksi dan eliminasi sel yang self reaktif pada toleransi sel T juga berlaku pada
sel B. sel B yang self reaktif dihancurkan dalam sumsum tulang. Toleransi sentral sel B
terjadi bila sel B imatur terpajan dengan self-antigen yang multivalent dalam sumsum tulang.
Hal tersebut menimbulkan apoptosis atau spesifisitas baru yang disebut receptor editing.

b. Toleransi perifer
Setelah meninggalkan sumsum tulang, sel B yang relative imatur bermigrasi ke zona sel
T luar dalam limpa. Sel B dengan seleksi negative menempati limpa, diproses untuk induksi
anergi, dicegah bermigrasi ke sel folikel sel B dan apoptosis ditingkatkan. Siklus hidup sel B
self-reaktif dalam limpa adalah 1-3 hari. Namun beberapa sel B anergik self-reaktif masih
dapat mengikat antigen dengan afinitas tinggi, berperan dalam respon terhadap antigen asing.
Proses hipermutasi somatik gen immunoglobulin pada sel B matang di sentrum
germinativum kelenjar limfoid juga mempunyai potensi untuk membentuk autoantibodi.
Produksi antibodi self-reaktif adalah terbatas. Sel B yang mengenal antigen, tetapi tidak
menerima bantuan dari sel T akan menjadi anergik atau apoptosis dan tidak dapat berfungsi.
Bila sel T dan sel B keduanya mengenal antigen asal pathogen pada waktu dan lokasi yang
sama, sel T akan memberikan bantuan untuk sel B dan memacunya untuk memproduksi dan
melepas antibodi. Seperti halnya dengan sel T stimulasi kronis kadar rendah antigen lebih
cenderung menimbulkan anergi, sedang stimulasi yang meningkat dengan cepat cenderung
menimbulkan aktivasi.

11
LI 2. Mengerti dan memahami Sistemic Lupus Eritematosus
2.1 Definisi

Penyakit autoimun yang melibatkan berbagai organ dengan manifestasi klinis yang
bervariasi dari yang ringan sampai berat ( Mansjoer, Arif.2005 ).
Suatu penyakit dengan demam, radang, penyakit ulti sistem yang mudah berubah
ubah gejalanya, dan berwatak variatif ( Robbins.1999 )
SLE Merupakan prototipe penyakit autoimun yang ditandai oleh produksi antibodi
terhadap komponen-komponen inti sel yang brhubungan dengan manifestasi klinis yang luas
( W.Sudoyo Ari,dkk.2006 )

2.2 Epidemiologi
Penyebaran SLE di Indonesia. Suku yang terbanyak menderita penyakit LES adalah:
suku Jawa (33,7%), diikuti suku Sunda (17,3%), Bangsa Cina 16,8%, suku Minang (9,9%) ,
Batak (7,9%), Betawi (6,4%), Palembang (2,0%), Aceh dan Bugis (1,5%), Lampung (1,0%)
serta Ambon, Bali, Jambi dan Banjar masing-masing (0,5%). Laporan-laporan tentang suku
terbanyak di Indonesia yang sakit LES belum ada. Responden yang terbanyak adalah suku
Jawa dan Sunda, termasuk Cina, hal ini disebabkan penyebaran jumlah penduduk ke- 3 suku
tersebut memang tinggi di Indonesia, dengan melihat persentasi penyebaran penyakit LES,
maka disimpulkan bahwa penyakit ini hampir merata di Indonesia.
(Philips,1991;Lupus,2003)
Di Amerika Serikat hingga bulan Maret tahun 2000 terdapat 500.000 pasien telah
didiagnosa sebagai SLE. 3 Prevalensi SLE di Amerika Serikat yaitu antara14,6/100.000-
50,8/100.000. Insiden bervariasi antara 1,8-1,6/100.000 per tahun. Insiden SLE bervariasi di
seluruh dunia. Eropa Utara telah melaporkan adanya SLE sebesar 40/100.000. (Lamon, DW)
Ras Afrika-Amerika tiga hingga empat kali lebih rentan terhadap SLE dibandingkan
wanita kulit putih. Ras Amerika latin dan Asia juga rentan terhadap penyakit ini. 3 Pada anak-
anak prevalensi SLE antara 0/100.000 pada wanita kulit putih di bawah usia 15 tahun sampai
31/100.000 pada wanita Asia usia 10-20 tahun. Insiden SLE pada usia 10-20 tahun
bervariasi yaitu 4,4/100.000 pada wanita kulit putih, 31/100.000 pada wanita Asia,
19,86/100.000 pada kulit hitam dan 13/100.000 pada Amerika latin. (Lehman, TJA)
Oleh beberapa ahli menyebutkan bahwa bangsa Negro ( kulit hitam), faktor herediter
atau familier ada tendensi mempengaruhi distribusi penyakit SLE, sedangkan faktor ekonomi,
pendidikan, pekerjaan, dan geografi tidak mempengaruhi distribusi penyakit lupus (Harry,
2002; Lupus, 2003).

2.3 Etiologi
Faktor Internal
1. Genetik:
a. Sering pada anggota keluarga dan saudara kembar monozigot (25%) dibanding
kembar dizigotik (3%), berkaitan dengan HLA seperti DR2, DR3 dari MHC kelas
II.
b. Individu dengan HLA DR2 dan DR3 risiko 2-3 kali dibanding dengan HLA DR4
dan HLA DR5.
c. Gen HLA diperlukan untuk proses pengikatan dan presentasi antigen, serta aktivasi
sel T.

12
d. Haploptip (pasangan gen yang terletak dalam sepasang kromosom yang menetukan
ciri seseorang), HLA menggangu fungsi sistem imun yang menyebabkan
peningkatan autoimunitas.
Penemuan terakhir menyebutkan tentang gen dari kromosom 1. Hanya
10% dari penderita yang memiliki kerabat (orang tua maupun saudara kandung)
yang telah maupun akan menderita lupus. Statistik menunjukkan bahwa hanya
sekitar 5% anak dari penderita lupus yang akan menderita penyakit ini.

2. Defisiensi komplemen
a. Defisiensi C3 / C4 jarang pada yang manifestasi kulit dan SSP.
b. Defisiensi C2 pada LES dengan predisposisi genetik.
c. 80% penderita defisiensi komplemen herediter cenderung LES.
d. Defisiensi C3 menyebabkan kepekaan tehadap infeksi meningkat, yang akan
menyebabkan predisposisi penyakit kompleks imun.
e. Defisiensi komplemen menyebabkan eliminasi kompleks imun terhambat,
menaikkan jumlah kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi lebih lama, lalu
mengendap di jaringan yang menyebabkan berbagai macam manifestasi LES.

3. Hormon
a. Estrogen: imunomodulator terhadap fungsi sistem imun humoral yang akan
menekan fungsi sel Ts dengan mengikat reseptor menyebabkan peningkatan
produksi antibodi.
b. Androgen akan induksi sel Ts dan menekan diferensiasi selB (imunosupresor).
c. Imunomodulator adalah zat yang berpengaruh terhadap keseimbangan s.imun.
d. 3 jenis imunomodulator :
 Imunorestorasi
 Imunostimulasi
 Imunosupresi

4. Autoantibodi
Antigen Spesifik Prevalensi (%) Efek Klinik Utama

Anti-ds DNA 70-80 Gangguan ginjal, kulit

Nukleosom 60-90 Gangguan ginjal, kulit

Ro 30-40 Gangguan ginjal, kulit,


gangguan jantung fetus

La 15-20 Gangguan jantung fetus

Sm 10-30 Gangguan ginjal

Reseptor NMDA 33-50 Gangguan otak

Fosfolipid 20-30 Trombosis, abortus

α-Actinin 20 Gangguan ginjal

C1q 40-50 Gangguan ginjal

13
Faktor Eksternal
5. Lingkungan
a. Bakteri atau virus yang mirip antigen atau berubah menjadi neoantigen.
b. Sinar UV akan meningkatkan apoptosis, pembentukan anti DNA kemudian terjadi
reaksi epidermal lalu terjadi kompleks imun yang akan berdifusi keluar endotel
setelah itu terjadi inflamasi
Faktor lingkungan yang mungkin berhubungan dengan patogenesis SLE

Faktor fisik/ kimia:


 Amin aromatic
 Hydrazine
 Obat-obatan (prokainamid, hidralizin, klorpromazin, isoniazid, fenitoin,
penisilamin)
 Merokok
 Pewarna rambut
 Sinar ultraviolet (UV)
Faktor makanan:
 Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan
 L-canavanine (kuncup dari alfalfa)
Agen infeksi:
 Retrovirus
 DNA bakteri/ endotoksin
Hormone dan esterogen lingkungan (environmental esterogen):
 Terapi sulih hormone (HRT), pil kontrasepsi oral
 Paparan estrogen parental

14
2.4 Patofisiologi

Faktor genetik, lingkungan, dan hormonal

Tenaga pendorong abnormal sel T CD 4+

Autoantibodi terhadap eritropoiten


Hilangnya self tolerance sel T

1. Penurunanan produksi eritropoiten


Muncul sel T autoreaktif 2. Resistensi eritropoiten pada sel eritroid
3. Besi terikat dengan besi pengikat
4. Penurunan respon eritropoiten
Induksi dan ekspansi sel B 5. Efek supresif IL terhadap eritropoises

Produksi autoantibodi
Penurunan Hb

Untuk antigen nukleoplasma (DNA, protein histon,


non histon) tidak tissue specific meningkat ANEMIA
komponen integral semua jenis sel

Membentuk kompleks DNA (ANA) yang akan memasuki sirkulasi

ANA mengendap di berbagai macam organ, terutama membran basal glomerulus

Terjadi fiksasi komplemen pada organ tersebut

Aktivasi komplemen mengerahkan granulosit

Timbul reaksi radang/inflamasi Folikel menyempit


Aktivasi komplemen  rambut rontok

L
Aktivasi C5a Gangguan fungsi Mukosa bibir Pajanan matahari 
ginjal inflamasi  muka menjadi
stomatitis merah

15
Gangguan fungsi
ginjal

Gangguan pada kapiler glomerulus Defek intrinsik Proteinuria  hipoalbuminemia


eksresi natrium dan  penurunan volume darah
air arteri efektif
Selektivitas dinding glomerulus
menurun

Retensi Na dan air oleh ginjal


Albumin, globulin protein dengan
berat molekul besar menembus
dinding glomerulus Buang air kecil <<<

Kebocoran protein plasma dalam urine

Proteinuria

Hipoalbuminemia

Tekanan osmotik
ADH meningkat
plasma menurun

Volume plasma
menurun
Retensi Air
Sistem
reninangiotensin
Ekstremitas, asites, palpebral, dan
anasarca

Aldosteron Nadi meningkat


Tekanan hidrostatik meningkat dan
Retensi Na Hipertensi tekanan onkotik menurun

EDEMA Cairan masuk ke jaringan interstitial

16
Aktivasi komplemen C 5
a

Permeabilitas vaskular meningkat Menarik sel PMN yang


memfagositosis ANA

Degranulasi mast cell dan


pembebasan radikal O2, leukotrin,
enzim lisosomal, prostaglandin,
collagenous, dan stromlysin

Inflamasi dan kerusakan jaringan


(erosi rawan sendi dan tulang)

Ket :

 Radikal O2  depolimerisasi hyaluronate  penurunan viskositas cairan sendi 


merusak kolagen dan proteoglikan rawan sendi.

 Kompleks imun mengendap  sel T masuk membran synovial  terbentuk pannus


(elemen dekstruktif pada arthritis)  menghancurkan sendi

2.5 Manifestasi
Gejala sistemik meliputi lemah, anoreksia, demam, lemah, dan menurunnya
berat badan. Gejala di kulit termasuk ruam malar (butterfly rash), ulkus di kulit dan
mukosa, purpura, alopesia (kebotakan),fenomena Raynaud, dan fotosensitifitas.
Gejala sendi sering ditemukan. Bersifat simetris dan tidak menyebabkan kelainan
sendi.
Nefritis lupus umumnya belum bergejala pada masa awitan, tetapi sering
berkembang menjadi progresif dan menyebabkan kematian. Gejalanya berupa edema,
hipertensi, gangguan elektrolit, dan gagal ginjal akut. Biopsi ginjal diindikasikan pada
pasien yang tidak responsive pada terapi kortikosteroid. Pengendalian hipertensi
sangat penting untuk mempertahankan fungsi ginjal.
Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa) mungkin terjadi tetapi
termasuk manifestasi yang jarang. Keluhan yang banyak adalah nyeri perut akibat
vaskulitis peradangan pembuluh darah). Keterlibatan susunan saraf pusat dapat
berupa kejang, koma, hemiplegia (kelumpuhan pada satu sisi tubuh), neuropati
(kelainan saraf) fokal, dan gangguan perilaku.

17
Gejala klinis dan perjalanan penyakit SLE sangat bervariasi. Onset penyakit
dapat spontan atau didahului oleh faktor presipitasi. Setiap serangan biasanya disertai
dengan gejala umum yang jelas seperti demam, malaise, kelemahan, nafsu makan
berkurang, berat badan menurun, dan iritabilitas. Yang paling menonjol adalah
demam, kadang-kadang disertai menggigil. 1 Banyak wanita SLE menderita flare pada
fase postovulasi dari siklus menstruasi, dan mengalami resolusi ketika telah terjadi
haid. 4

Muskuloskeletal
Gejala yang paling sering berupa artritis atau atralgia (53-95%) dan biasanya
mengawali gejala yang lain. Selain kelemahan dan edema dapat pula terjadi efusi
yang bersamaan dengan poliartritis yang bersifat simetris, nonerosif, dan biasanya
tanpa deformitas4, bukan kontraktur atau ankilosis. Kaku pagi hari jarang ditemukan.
Adakalanya terdapat nodul reumatoid. Mungkin juga terdapat nyeri otot dan miositis.
1
Paling sering mengenai interfalangeal proksimal (PIP) dan metakarpofalangeal,
pergelangan tangan, siku dan lutut. 4

Gejala mukokutan
Ruam kulit yang dianggap khas untuk SLE adalah ruam kulit berbentuk kupu-
kupu (butterfly rash) berupa eritema pada hidung dan kedua pipi (55-90%). Pada
bagian tubuh yang terpapar matahari dapat timbul ruam kulit yang terjadi karena
hipersensitivitas. 1

Lesi diskoid berkembang melalui 3 tahap yaitu eritema, hiperkeratosis dan


atrofi. Biasanya tampak sebagai bercak eritematosus yang meninggi, tertutup oleh
sisik keratin disertai penyumbatan folikel, dan jika telah berlangsung lama akan
terbentuk sikatriks. 1

Vaskulitis kulit dapat berupa memar yang dalam dan bisa menyebabkan
ulserasi serta perdarahan jika terjadi pada membran mukosa mulut, hidung, atau
vagina. Pada beberapa orang dapat terjadi livido retikularis, lesi ungu-kemerahan pada
jari-jari tangan dan kaki atau dekat kuku jari. 3 Alopesia dapat pulih kembali jika
penyakit mengalami remisi. Kadang-kadang terdapat urtikaria yang tidak dipengaruhi
oleh kortikosteroid dan antihistamin. Biasanya hilang beberapa bulan setelah penyakit
tenang secara klinis dan serologis. 1

18
(A) (B)

(C)

(A)Butterflyrush (B)Lesi Diskoid (C)Vaskulitis

Ginjal
Sebanyak 70% pasien SLE akan mengalami kelainan ginjal. Pengendapan
komplek imun yang mungkin mengandung ds-DNA, bertanggung jawab atas
terjadinya kelainan ginjal. Bentuk in situ kompleks imun memungkinkan pengikatan
DNA ke membran basalis glomeruluis dan matriks ekstraseluler. Dengan mikroskop
elektron, kompleks imun akan tampak dalam pola kristalin di daerah mesangeal,
subendotelial atau subepitelial. IgG merupakan imunoglobulin yang paling sering
tampak diikuti oleh IgA dan IgM. Kadang-kadang tampak IgG, IgA, IgM, C3, C4 dan
C1q pada glomerulus yang sama (pola “full house“).2

Sistem saraf
Gangguan neurologik mengenai 25% penderita SLE. Disfungsi mental ringan
merupakan gejala yang paling umum, namun dapat pula mengenai setiap daerah otak,
saraf spinal, atau sistem saraf. Beberapa gejala yang mungkin tampak adalah seizure,
psikosis, organic brain syndrome, dan sakit kepala.8 Pencitraan otak menunjukkan
adanya kerusakan serabut saraf dan mielin. Gejala yang tampak berupa irritabilitas,
kecemasan, depresi, serta gangguan ingatan dan konsentrasi ringan. 3

19
Kardiovaskuler
Kelainan jantung dapat berupa perikarditis ringan sampai berat (efusi perikard),
iskemia miokard dan endokarditis verukosa (Libman Sacks). 3 Keadaan tersebut dapat
menimbulkan nyeri dan arithmia.8

Paru
Efusi pleura , dan pleuritis dapat terjadi pada SLE. 8 Diagnosis pneumonitis lupus baru
dapat ditegakkan jika faktor-faktor lain telah disingirkan seperti infeksi, virus jamur,
tuberkulosis.1 Gejalanya berupa takipnea, batuk, dan demam. Hemoptisis menandakan
terjadinya pulmonary hemorhage.4 Nyeri dada dan pernapasan pendek sering tejadi bersama
gangguan tersebut. 8

Saluran pencernaan
Sekitar 45% pasien SLE menderita masalah gastrointestinal, termasuk nausea,
kehilangan berat badan, nyeri abdomen ringan, dan diare.3 Radang traktus intestinal jarang
terjadi yaitu sekitar 5% pasien dan menyebabkan kram akut, muntah, diare, dan walaupun
jarang, perforasi usus. 4 Retensi cairan dan pembengkakan dapat menyebabkan terjadinya
obstruksi intestinal. 3

Mata
Peradangan pembuluh darah pada mata dapat mengurangi suplai darah ke retina,
sehingga menyebabkan degenerasi sel saraf dan resiko terjadinya perdarahan retina. Gejala
yang paing umum adalah cotton-wool-like spots pada retina. Sekitar 5% pasien mengalami
kebutaan sementara yang terjadi secara tiba-tiba.3 Kelainan lain berupa konjungtivitis, edema
periorbital, perdarahan subkonjungtival, uveitis dan adanya badan sitoid di retina. 1

2.6 Diagnosis
Pemeriksaan fisik
a.Keadaan umum lemah, kurus (kaheksia),
b.Rambut kepala dan alis mudah rontok,
c.Urtikaria pada wajah,
d.Ulkus mucosa mulut,
e.Bercak hiperpigmentasi pada kulit tangan dan kaki, terutama pada daerah yang
terpapar sinar matahari.
http://penelitian.unair.ac.id

Klasifikasi LES mengacu pada klasifikasi yang dibuat oleh American College of
Rheumatology (ACR) pada tahun 1982 dan dimodifikasi pada tahun 1997. Kriteria diagnosis
pada anak berdasarkan kriteria tersebut mempunyai sensitivitas 96% dan spesifisitas 100%.
Diagnosis LES ditegakkan bila terdapat paling sedikit 4 dari 11 kriteria ACR tersebut.

Kriteria diagnosis lupus menurut ACR (American College of Rheumathology)

20
Kriteria Definisi
Bercak malar (Butterfly rash) Eritema datar atau menimbul yang menetap
didaerah pipi, cenderung menyebar ke lipatan
nasolabial
Bercak discoid Bercak eritema yang menimbul dengan adherent
keratotic scaling dan follicular plugging, pada lesi
lama dapat terjadi parut atrofi
Fotosensitif Bercak dikulit yang timbul akibat paparan sinar
matahari, pada anamnesis atau pemeriksaan fisik
Ulkus mulut Ulkus mulut atau nasofaring, biasanya tidak nyeri
Arthritis Arthritis nonerosif pada dua atau lebih persendian
perifer, ditandai dengan nyeri tekan, bengkak atau
efusi
Serositis a. Pleuritis Riwayat pleuritic pain atau terdengar
pleural friction rub atau terdapat efusi pleura
pada pemeriksaan fisik atau
b. Perikarditis Dibuktikan dengan EKG atau
terdengar pericardial friction rub atau terdapat
efusi pericardial pada pemeriksaan fisik
Gangguan ginjal a. Proteinuria persisten > 0,5 g/hr atau pemeriksaan
+3 jika pemeriksaan kuantitatif tidak dapat
dilakukan atau
b. Cellular cast : eritrosit, Hb, granular, tubular atau
campuran
Gangguan saraf a. Kejang
Tidak disebabkan oleh obat atau kelainan metabolik
(uremia, ketoasidosis atau ketidak seimbangan
elektrolit) atau
b. Psikosis
Tidak disebabkan oleh obat atau kelainan metabolik
(uremia, ketoasidosis atau ketidak seimbangan
elektrolit)
Gangguan darah Terdapat salah satu kelainan darah :
Anemia hemolitik → dengan retikulositosis
Lekopenia → < 4000/mm3 pada ≥ 1 pemeriksaan
Limfopenia → < 1500/mm3 pada ≥ 2 pemeriksaan
Trombositopenia → < 100.000/mm3 tanpa adanya
intervensi obat
Gangguan imunologi Terdapat salah satu kelainan :
Anti ds-DNA di atas titer normal
Anti Sm (Smith) (+)
Antibodi fosfolipid (+) berdasarkan kadar serum
IgG atau IgM antikardiolipin yang abnormal

21
Anti koagulan lupus (+) dengan menggunakan tes
standar
Tes sifilis (+) positif palsu, paling sedikit selama 6
bulan dan dikonfirmasi dengan ditemukannya
Treponema palidum atau antibodi treponema
Antibodi antinuklear (ANA) Test ANA (+)

 Hasil pemeriksaan ANA positif pada hampir semua pasien dengan sistemik lupus dan ini
merupakan pemeriksaan diagnosa terbaik yang ada saat ini untukmengenali sistemik lupus.
 Hasil pemeriksaan ANA negatif merupakan bukti kuat bahwa lupus bukanlah penyebab
sakitnya orang tersebut walaupun sangat jarang terjadi dimana SLE muncul tanpa
ditemukannya ANA.
 Kemungkinan seseorang mempunyai pemeriksaan ANA positif akan meningkat seiring
dengan meningkatnya usia. Pola dari hasil pemeriksaan ANA sangat membantu dalam
menentukan jenis penyakit autoimun yang muncul dan menentukan program pengobatan
seperti apa yang cocok bagi seorang pasien Lupus.
 Hasil pemeriksaan ANA bisa positif pada banyak keadaan, oleh karenaitu dalam
pemeriksaan ANA harus di dukung dengan catatan kesehatan pasien serta gejala-gejala
klinis lainnya. Karena itu apabila hasil tes laboratorium ANA positif (hanya ANA saja)
tidak cukup untuk mendiagnosa lupus. Lain halnya jika ANA negatif merupakan bantahan
terhadap lupusakan tetapi tidak sepenuhnya mengesampingkan adanya penyakit tersebut.

Bagaimanapun juga jika hasil pemeriksaan ANA positif, bukanlah bukti keberadaan Lupus,
karena hasil pemeriksaan juga bisa positif terhadap :
Ø Orang - orang dengan penyakit jaringan connective lainnya.
Ø Pasien yang sedang diobati dengan obat-obatan tertentu, misal menggunakan
obatprokrainamid, hidralazin, isoniazid klorpromazin. dan
Ø Orang-orang dengan kondisi selain dari lupusseperti skeloderma, sjogren’s
syndrome, rematik arthritis, penyakit kelenjar gondok (thyroid), penyakit hati (liver).

Diagnosis banding

22
Dengan adanya gejala di berbagai organ, maka penyakit-penyakit yang didiagnosis
banding banyak sekali. Beberapa penyakit yang berasosiasi dengan LES mempunyai
gejala-gejala yang dapat menyerupai LES, yaitu :
o Artritis reumatoid dan penyakit jaringan ikat lainnya
o Endokarditis bakterial subakut
o Septikemia disebabkan gonokokus/ meningokokus yang disertai artritis
dan lesi kulit
o Reaksi terhadap obat
o Limfoma
o Leukimia
o Trombotik trombositopenik purpura
o Sarkoidosis
o Lues II
o Sepsis bakterial

2.7 Penatalaksanaan
• Penyakit yang ringan (ruam, sakit kepala, demam, artritis, pleuritis,
perikarditis) hanya memerlukan sedikit pengobatan.
• Untuk mengatasi artritis dan pleurisi diberikan obat anti peradangan non-steroid.
• Untuk mengatasi ruam kulit digunakan krim korti Untuk gejala kulit dan artritis
kadang digunakan obat anti malaria (hydroxycloroquine).
• Jika penderita sangat sensitif terhadap sinar matahari, sebaiknya pada saat bepergian
menggunakan tabir surya, pakaian panjang ataupun kacamata).

Sebelum diadakan penatalaksanaan LES perlu diadakanya beberapa pertnyaan untuk


mendeteksi dini LES dengan mudah diketahui diantaranya:
1. Apakah pasien masuk criteria ARA atau tidak
2. Bila tidak, apakah pasien memenuhi criteria biopsi atau tidak. Dengan
panduan biopsi apakah masuk LES atau discoid lupus.
3. Apakah keluhan yang muncul bagian dari bagian dari penyakit konektif
lainnya atau tidak.
4. Setelah mengetahui LES, pastikan organ yang terkena dan derajat sakitnya.
5. Adakah penyakit lain yang dapat terjadi bersamaan dengan LES. Bila ada
tentukan apakah primer atatu sekunder.
6. Upaya pengobatan ditujukan untuk menignkatkan untung-rugi dari suatu
regimen pengobatan.
Dari hal-hal tersebut diatas kita dapat mulai penatalaksanaan LES dengan baik,
Penatalaksanaan LES dibagi atas :

1. Penatalaksanaan umum
 Kelelahan
 Merokok
 Cuaca
 Stress dan trauma fisik
 Diet

23
 Sinar matahari
 Kontrasepsi oral
2. Pengobatan farmakologis
1. Steroid sistemik
Yang penting pada penatlaksanaan ini adalah pertimbangan untik memilih regimen
pengobatan oleh karna pengobatan akan berlangsung lama, dengan efek samping yang
akan terjadi. Menurut Dubois, LES dibagi atas 2 klompok besar yaitu:
a. Kelompok ringan : panas, arthritis, perikarditis ringan, efusi pleura/perikard ringan,
kelelahan dan sakit kepala.
Panduan umum LES ringan:
 Aspirin dan obat antiinflamasi non steroid
 Dosi disesuikan dengan derajat penyakitnya
 Penambahan obat anti malaria jika terdapat skin rash dan lesi di
mukosa membrane
 Jika pengobatan diatas mengalami kegagalan dapat ditambah
prednisone 2,5 mg-5mg/hari, dosis dapat dinaikan 20% secara bertahap tiap 1-2
minggu,sesuai kebutuhan.
b. Klompok berat : efusi pleura dan perikard massif, penyakit ginjal, anemia hemolitik,
trombositopenia, lupus pembuluh darah akibat bahan yang terkandung pada rokok
Panduan umum LES berat:

 Pemberian steroid sistemik


 Obat anti inflamasi non steroid dan anti malaria tidak diberikan.
 Pemberian prednison dan lama pemberian disesuaikan dengan kelaianan organ
sasaran yang
Demikian pula keterlibatan dermatologis dan nutrisionis. Perpindahan terapi
ke masa dewasa harus direncanakan sejak remaja. Diet seimbang dengan masukan
kalori yang sesuai. Dengan adanya kenaikan berat badan akibat penggunaan obat
glukokortikoid, maka perlu dihindari makanan “junk food” atau makanan
mengandung tinggi sodium untuk menghindari kenaikan berat badan berlebih.
Penggunaan tabir surya dengan kadar SPF lebih dari 15 perlu diberikan pada anak jika
berada di luar rumah, karena dapat melindungi dari sinar UVB.
Pencegahan infeksi dilakukan dengan cara imunisasi, karena risiko infeksi
meningkat pada anak dengan LES. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis dihindari
dan hanya diberikan sesuai dengan hasil kultur. Terdapat beberapa patokan untuk
penatalaksanaan infeksi pada penderita lupus, yaitu:
diagnosis dini dan pengobatan segera penyakit infeksi, terutama infeksi bakterial
sebelum dibuktikan penyebab lain, demam disertai leukositosis (leukosit >10.000)
harus dianggap sebagai gejala infeksi,
gambaran radiologi infiltrat limfositik paru harus dianggap dahulu sebagai
infeksi bakterial sebelum dibuktikan sebagai keadaan lain, dan setiap kelainan urin
harus dipikirkan dulu kemungkinan pielonefritis.
Lupus diskoid Terapi standar adalah fotoproteksi, anti-malaria dan steroid topikal.
Krim luocinonid 5% lebih efektif dibadingkan krim hidrokrortison 1%. Terapi dengan
hidroksiklorokuin efektif pada 48% pasien dan acitrenin efektif terhadap 50% pasien.

24
Serositis lupus (pleuritis, perikarditis)
Standar terapi adalah NSAIDs (dengan pengawasan ketat terhadap gangguan ginjal),
antimalaria dan kadang-kadang diperlukan steroid dosis rendah.

Arthritis lupus.
Untuk keluhan muskuloskeletal, standar terapi adalah NSAIDs dengan
pengawasan ketat terhadap gangguan ginjal dan antimalaria. Sedangkan untuk
keluhan myalgia dan gejala depresi diberikan serotonin reuptake inhibitor
antidepresan (amitriptilin).

Miositis lupus
Standar terapi adalah kortikosteroid dosis tinggi, dimulai dengan prednison
dosis 1-2 mg/kg/hari dalam dosis terbagi, bila kadar komplemen meningkat mencapai
normal, dosis di tapering off secara hati-hati dalam 2-3 tahun sampai mencapai dosis
efektif terendah. Metode lain yang digunakan untuk mencegah efek samping
pemberian harian adalah dengan cara pemberian prednison dosis alternate yang lebih
tinggi (5 mg/kg/hari, tak lebih 150-250 mg), metrotreksat atau azathioprine.

Fenomena Raynaud
Standar terapinya adalah calcium channel blockers, misalnya nifedipin; alfa 1
adrenergic-receptor antagonist dan nitrat, misalnya isosorbid mononitrat.

Lupus nefritis
Kelas I : Tidak ada terapi khusus dari klasifikasi WHO
Kelas II : (mesangial) mempunyai prognosis yang baik dan membutuhkan terapi
minimal. Peningkatan proteinuria harus diwaspadai karena menggambarkan
perubahan status penyakit menjadi lebih parah.
Kelas III : (focal proliferative Nefritis/FPGN) memerlukan terapi yang sama agresifnya
dengan DPGN, khususnya bila ada lesi focal necrotizing.
Kelas IV : (DPGN) kombinasi kortikosteroid dengan siklofosfamid intravena ternyata
lebih baik dibandingkan bila hanya dengan prednison. Siklofosfamid intravena
telah digunakan secara luas baik untuk DPGN maupun bentuk lain dari lupus
nefritis. Azatioprin telah terbukti memperbaiki outcome jangka panjang untuk
tipe DPGN. Prednison dimulai dengan dosis tinggi harian selama 1 bulan, bila
kadar komplemen meningkat mencapai normal, dosis di tapering off secara
hati-hati selama 4-6 bulan. Siklofosfamid intravena diberikan setiap bulan,
setelah 10-14 hari pemberian, diperiksa kadar lekositnya. Dosis siklofosfamid
selanjutnya akan dinaikkan atau diturunkan tergantung pada jumlah lekositnya
(normalnya 3.000-4.000/ml).
Kelas V : regimen terapi yang biasa dipakai adalah
(1). monoterapi dengan kortikosteroid.
(2). terapi kombinasi kortikosteroid dengan siklosporin A
, (3). sikofosfamid, azathioprine,atau klorambusil. Proteinuria sering bisa
diturunkan dengan ACE inhibitor. Pada Lupus nefritis kelas V tahap lanjut.
pilihan terapinya adalah dialisis dan transplantasi renal.
Gangguan hematologis
Untuk trombositopeni, terapi yang dipertimbangkan pada kelainan ini adalah
kortikosteroid, imunoglobulin intravena, anti D intravena, vinblastin, danazol dan
splenektomi. Sedangkan untuk anemia hemolitik, terapi yang dipertimbangkan adalah
kortikosteroid, siklfosfamid intravena, danazol dan splenektomi

25
Pneumonitis interstitialis lupus
Obat yang digunakan pada kasus ini adalah kortikosteroid dan siklfosfamid intravena.
Vaskulitis lupus dengan keterlibatan organ penting
yang digunakan pada kasus ini adalah kortikosteroid dan siklfosfamid intravena.
Obat-obat yang sering digunakan pada penderita LES

1.Antimalaria : Hidroksiklorokin 3-7 mg/kg/hari PO dalam garam sulfat (maksimal 400


mg/hari). Antimalaria efektif digunakan untuk manifestasi ringan atau sedang (demam,
atralgia, lemas atau serositis) yang tidak menyebabkan kerusakan organ-organ penting.
Beberapa mekanisme aksi dari obat antimalaria adalah stabilisasi membran lisosom sehingga
menghambat pelepasan enzim lisosom, mengikat DNA, mengganggu serangan antibodi
DNA, penurunan produksi prostaglandin dan leukotrien, penurunan aktivitas sel T, serta
pelepasan IL-1 dan tumor necrosing factor α (TNF- α).

Pemberian antimalaria dilakukan pada 1 sampai 2 minggu awal terapi dan


kebanyakan pasien mengalami regresi eritema lesi kulit pada 2 minggu pertama. Jika pasien
memberikan respon yang baik maka dosis diturunkan menjadi 50% selama beberapa
bulan sampai manifestasi SLE teratasi. Sebelum pengobatan dihentikan sebaiknya
dilakukan tapering dosis dengan memberikan obat malaria dosis rendah dua atau tiga kali per
minggu. Sekitar 90% pasien kambuh setelah 3 tahun penghentian obat (Herfindal et al.,
2000).

Obat malaria yang sering digunakan adalah:

Klorokuin

Klorokuin mempunyai indeks terapetik yang sempit sehingga tidak dianjurkan pemberian
secara parenteral untuk anak-anak. Dosis yang digunakan 150 mg (250 mg klorokuin fosfat)
per hari. Efek samping yang terjadi meliputi ocular toksisitas (keratopati dan retinopati),
saluran cerna, SSP, kardiovaskular, dll. Sebaiknya diberikan bersama dengan makanan
karena bioavailabilitasnya bagus (absorpsi meningkat). Secara luas didistribusikan di seluruh
tubuh, mengikat sel-sel yang mengandung melanin yang terdapat dalam kulit dan mata,
50% – 65% terikat dengan protein plasma. Diekskresi secara lambat di ginjal dan yang tidak
terabsorpsi diekskresi dalam feses (McEvoy, 2002).

Hidroksiklorokuin

Dosis yang digunakan 155 – 310 mg (200 – 400 mg hidroksiklorokuin sulfat). Efek samping
yang terjadi sama dengan klorokuin tetapi kardiomiopati jarang terjadi. Didistribusikan ke
dalam air susu ibu (ASI) (McEvoy, 2002).

2.Kortiko-steroid : Prednison dosis harian (1 mg/kg/hari); prednison dosis alternate yang


lebih tinggi (5 mg/kg/hari, tak lebih 150-250 mg); prednison dosis rendah harian (0.5
mg/kg)/hari yg digunakan bersama methylprednisolone dosis tinggi intermitten (30
mg/kg/dosis, maksimum mg) per minggu.

Penderita dengan manifestasi klinis yang serius dan tidak memberikan respon
terhadap penggunaan obat lain seperti NSAID atau antimalaria diberikan terapi
kortikosteroid. Beberapa pasien yang mengalami lupus eritematosus pada kulit baik kronik

26
atau subakut lebih menguntungkan jika diberikan kortikosteroid topikal atau intralesional.
Kortikosteroid mempunyai mekanisme kerja sebagai antiinflamasi melalui hambatan enzim
fosfolipase yang mengubah fosfolipid menjadi asam arakidonat sehingga tidak terbentuk
mediator – mediator inflamasi seperti leukotrien, prostasiklin, prostaglandin, dan
tromboksan-A2 serta menghambat melekatnya sel pada endotelial terjadinya inflamasi dan
meningkatkan influks neutrofil sehingga mengurangi jumlah sel yang bermigrasi ke tempat
terjadinya inflamasi. Sedangkan efek imunomodulator dari kortikosteroid dilakukan dengan
mengganggu siklus sel pada tahap aktivasi sel limfosit, menghambat fungsi dari makrofag
jaringan dan APCs lain sehingga mengurangi kemampuan sel tersebut dalam merespon
antigen, membunuh mikroorganisme, dan memproduksi interleukin-1, TNF-α,
metaloproteinase, dan aktivator plasminogen (Katzung, 2002). Tujuan pemberian
kortikosteroid pada SLE adalah untuk antiinflamasi, imunomodulator, menghilangkan
gejala, memperbaiki parameter laboratorium yang abnormal, dan memperbaiki manifestasi
klinik yang timbul. Penderita SLE umumnya menerima kortikosteroid dosis tinggi selama 3
sampai 6 hari (pulse therapy) untuk mempercepat respon terhadap terapi dan menurunkan
potensi efek samping yang timbul pada pemakaian jangka panjang. Yang sering digunakan
adalah metil prednisolon dalam bentuk intravena (10 – 30 mg/kg BB lebih dari 30 menit).
Terapi ini diikuti dengan pemberian prednison secara oral selama beberapa minggu.

Penggunaan kortikosteroid secara intravena pada 75% pasien menunjukkan perbaikan


yang berarti dalam beberapa hari meskipun pada awalnya marker yang menunjukkan
penyakit ginjal (serum kreatinin, blood urea nitrogen) memburuk. Proteinuria membaik
pada 4 sampai 10 minggu pemberian glukokortikoid. Kadar komplemen dan antibodi
DNA dalam serum menurun dalam 1 sampai 3 minggu. Beberapa manifestasi seperti
vaskulitis, serositis, abnormalitas hematologik, abnormalitas CNS umumnya memberikan
respon dalam 5 sampai 19 hari.

Oral prednison lebih sering digunakan daripada deksametason karena waktu paronya
lebih pendek dan lebih mudah apabila akan diganti ke alternate-day therapy. Jika tujuan
terapi sudah tercapai maka untuk terapi selanjutnya didasarkan pada pengontrolan gejala
yang timbul dan penurunan toksisitas obat. Setelah penyakit terkontrol selama paling sedikit
2 minggu maka dosisnya diubah menjadi satu kali sehari. Jika penyakitnya sudah
asimtomatik pada 2 minggu berikutnya maka dilakukan tapering dosis menjadi alternate-
day dan adanya kemungkinan untuk menghentikan pemakaian. Yang perlu diperhatikan
adalah ketika akan melakukan tapering dosis prednison 20 mg per hari atau kurang dan
penggantian menjadi alternate-day sebaiknya berhati-hati karena dapat terjadi insufisiensi
kelenjar adrenal yang dapat menyebabkan supresi hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA).

Pada penyebaran penyakit tanpa kerusakan organ-organ besar (contoh demam,


atralgia, lemas atau serositis), tapering dosis dapat dilakukan dengan mudah yaitu dengan
penambahan NSAID atau hidroksiklorokuin. Sedangkan untuk kerusakan organ-organ besar
selama penyebaran (contoh nefritis) tidak selalu dipertimbangkan untuk
melakukan tapering dosis karena penggunaan dosis tinggi lebih efektif untuk mengontrol
gejala (Herfindal et al., 2000).

Penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dapat menyebabkan diabetes melitus atau


hipertensi sehingga diperlukan monitoring terhadap tekanan darah dan kadar glukosa darah
selama penggunaan obat ini. Kortikosteroid dapat mensupresi sistem imun sehingga dapat
meningkatkan kerentanan terhadap infeksi yang merupakan salah satu penyebab kematian
pada pasien SLE. Osteoporosis juga terjadi pada pasien yang menerima kortikosteroid

27
karena kortikosteroid dapat menyebabkan penurunan absorpsi kalsium dan peningkatan
ekskresi kalsium dalam urin sehingga kalsium diambil dari tulang dan tulang kehilangan
kalsium, oleh karena itu pada pasien SLE terapi kortikosteroid sering dikombinasikan
dengan suplemen kalsium dan vitamin D (Rahman, 2001).

3.Obat imuno-supresif : Siklofosfamid 500-750 mg/m2 IV 3 kali sehari selama 3 minggu.


maksimal 1 g/m2. Harus diberikan IV dengan infus terpasang, dan dimonitor. Monitor
lekosit pada 8-14 hari mengikuti setiap dosis (lekosit dimaintenance > 2000-3000/mm3).
Azathioprine 1-3 mg/kg/hari PO 4 kali sehari.

4.Non-steroidal anti-inflam-matory drugs (NSAIDs)


Naproxen 7-20 mg/kg/hari PO dibagi 2-3 dosis maks 500-1000 mg/hari
Tolmetin 15-30 mg/kg/hari PO dibagi 2-3 dosis maks 1200-1800 mg/hari
Diclofenac
< 12 tahun : tak dianjurkan
> 12 tahun : 2-3 mg/kg/hari PO digagi 2 dosis maksimal 100-200 mg/hari

Merupakan terapi utama untuk manifestasi SLE yang ringan termasuk salisilat dan
NSAID yang lain (Delafuente, 2002). NSAID memiliki efek antipiretik, antiinflamasi,
dan analgesik (Neal, 2002). NSAID dapat dibedakan menjadi nonselektif COX inhibitor
dan selektif COX-2 inhibitor. Nonselektif COX inhibitor menghambat enzim COX-1 dan
COX-2 serta memblok asam arakidonat. COX-2 muncul ketika terdapat rangsangan dari
mediator inflamasi termasuk interleukin, interferon, serta tumor necrosing factor
sedangkan COX-1 merupakan enzim yang berperan pada fungsi homeostasis tubuh
seperti produksi prostaglandin untuk melindungi lambung serta keseimbangan
hemodinamik dari ginjal. COX-1 terdapat pada mukosa lambung, sel endotelial vaskular,
platelet, dan tubulus collecting renal (Katzung, 2002). Efek samping penggunaan NSAID
adalah perdarahan saluran cerna, ulser, nefrotoksik, kulit kemerahan, dan alergi
lainnya. Celecoxib merupakan inhibitor selektif COX-2 yang memiliki efektivitas seperti
inhibitor COX non selektif, tapi kejadian perforasi lambung dan perdarahan menurun
hingga 50% (Neal, 2002).

Terapi pada SLE didasarkan pada kesesuaian obat, toleransi pasien terhadap efek
samping yang timbul, frekuensi pemberian, dan biaya. Pemberian terapi pada pasien SLE
dilakukan selama 1 sampai 2 minggu untuk mengevaluasi efikasi NSAID. Jika NSAID
yang digunakan tidak efektif dan menimbulkan efek samping maka dipilih NSAID yang
lain dengan periode 1 sampai 2 minggu. Penggunaan lebih dari satu NSAID tidak
meningkatkan efikasi tetapi malah meningkatkan efek samping toksisitasnya sehingga
tidak direkomendasikan. Apabila terapi NSAID gagal maka dapat digunakan
imunosupresan seperti kortikosteroid atau antimalaria tergantung dari manifestasi yang
muncul (Herfindal et al., 2000).

Efek antiinflamasi dan analgesik aspirin dapat digunakan untuk pengobatan


demam, artritis, pleuritis, dan perikarditis. Dosis yang digunakan adalah 1,5 g sehari.
Selain itu dosis rendah aspirin (60–80 mg sehari selama kehamilan minggu ke-13–26)
yang dikombinasikan dengan heparin dapat digunakan pada pasien SLE yang mengalami
kehamilan dengan sindrom antifosfolipid antibodi melalui hambatan pembentukan
tromboksan-A2 Pemberian aspirin dapat dilakukan bersama dengan makanan, air dalam
jumlah besar, atau susu untuk mengurangi efek samping pada saluran cerna. Aspirin
diabsorpsi di dalam saluran cerna sebesar 80-100% dari dosis oral. Di dalam tubuh, aspirin

28
mengalami hidrolisis menjadi metabolitnya yaitu salisilat. Obat ini didistribusikan secara
cepat dan luas ke dalam jaringan dan cairan tubuh dan mempunyai ikatan yang lemah
dengan protein plasma. t1/2 aspirin 15 – 20 menit. Apirin diekskresi di dalam urin dalam
bentuk metabolit salisilat, hanya 1% dari dosis oral yang diekskresikan sebagai aspirin
tidak terhidrolisis melalui urin (McEvoy,2002).

5. Suplemen Kalsium dan vitamin D


Kalsium karbonat
< 6 bulan : 360 mg/hari
6-12 bulan : 540 mg/hari
1-10 bulan : 800 mg/hari
11-18 bulan : 1200 mg/hari
Calcifediol
< 30 kilogram : 20 mcg PO 3 kali/minggu
> 30 kilogram : 50 mcg PO 3 kali/minggu

6. Anti-hipertensi
Nifedipin 0.25-0.5 mg/kg/dosis PO dosis awal, tak lebih dari 10 mg, diulang tiap 4-8
jam.
Enalapril 0.1 mg/kg/hari PO 4 kali sehari atau 2 kali sehari bisa ditingkatkan bila perlu,
maksimum 0.5 mg/kg/hari
Propranolol 0.5-1 mg/kg/hari PO dibagi 2-3 dosis, dapat ditingkatkan bertahap dalam 3-7
hari dengan dosis biasa 1-5 mg/kg/hari

Terapi
1. Terapi konservatif, untuk pasien LES yang tidak mengancam nyawa dan tidak
berhubungan dengan kerusakan organDiberikan apabila penyakit ini tidak mengancam
nyawa dan tidak berhubungan dengan kerusakan organ. Bila dipertimbangkan
pemberian glukokortikoid dapat diberikan prednison 0.5 mg/kgBB/hari.
o Arthritis, arthralgia, myalgia
Merupakan keluhan yang sering dijumpai pada penderita SLE. Keluhan ringan
seperti ini dapat diberikan analgetik sederhana/obat antiinflamasi nonsteroid, tetapi
pemberiannya dihentikan bila menunjukkan efek samping yang memperberat keadaan
umum penderita, seperti pada sistem gastrointestinal, hepar, dan ginjal sehingga
diperlukan pemantauan kreatinin serum berkala. Bila pemberian analgetik dan OAINS
tidak berespon baik, pertimbangkan pemberian obat antimalaria :
Hidroksiklorokuin 400mg/hari (bila hingga 6 bulan tidak memberikan respon baik,
maka pemberian dihentikan). Hidroksiklorokuin (> 6 bulan pemakaian) dan klorokuin
(> 3 bulan pemakaian) perlu diperiksa oftalmologik karena beresiko toksik terhadap
retina.
Bila pemberian OAM tidak berespon baik, pertimbangkan pemberian kortikosteroid
dosis rendah (< 15 mg/pagi hari). Metotreksat (7.5-15 mg/minggu) dan diberikan
berdampingan dengan obat anti artritis.
Bila terjadi artralgia pada 1 atau 2 sendi yang “menetap” dan bukan merupakan
bukti tambahan peningkatan aktivitas penyakit, kemungkinan penderita mengalami
osteonekrosis (terutama pada penderita terapi kortikosteroid). Osteonekrosis awal,
sering tidak menunjukkan gambaran bermakna pada foto radiologik konvensional,
sehingga memerlukan pemeriksaan MRI.

29
o Lupus kutaneus
Sekitar 70% mengalami fotosensitifitas. Eksaserbasi akut SLE timbul bila penderita
terpapar sinar UV, inframerah, fluoresensi. Sehingga perlu diberikan sunscreen berupa
cream, minyak, lotion, atau gel yang mengandung PABA (ρ-aminobenzoit acid) dan
esternya, benzofenon, salisilat, sinamat yang kesemuanya dapat menyerap sinar UV α
dan β (pemakaian diulang setelah mandi dan berkeringat).
Glukokortikosteroid lokal (cream, salep, atau injeksi) dapat dipertimbangkan pada
dematitis lupus, pemilihan preparat harus diperhatikan karena bersifat diflorinasi (atrofi
kulit, depigmentasi, teleangiektasis, dan fragilitis), anjuran preparat steroid untuk kulit :
 Muka [steroid lokal berkekuatan rendah dan tidak diflorinasi (hidrokortison)]
 Badan dan lengan [steroid lokal berkekuatan sedang (betametason valerat dan
triamsinolon asetonid)]
 Palmar dan plantar pedis dengan lesi hipertrofik (glukokortikoid berkekuatan
tinggi contohnya betametason dipropionat, penggunaan cream dibatasi selama 2
minggu dan diganti dengan yang berkekuatan rendah)
OAM sangat baik untuk mengatasi lupus kutaneus, baik subakut maupun diskoid.
OAM mempunyai efek :
 Sunblocking
Mengikat melanin
 Antiinflamasi
 Imunosupresan
Berhubungan dengan ikatannya pada membran lisosomal sehinggga mengganggu
metabolisme rantai α dan β HLA II.
 Mengurangi pelepasan IL-1, IL-6, TNF-α oleh makrofag, IL-2 dan IFN-γ oleh sel
T.
Pada penderita resisten OAM, dapat dipertimbangkan pemberian glukokortikoid
sistemik dan obat eksperimental lainnya.

Dapson dapat dipertimbangkan pemberiannya pada penderita lupus diskoid,


vaskulitis, lesi LE berbula, selain itu perhatikan efek sampingnya seperti :
 Methemoglobinemia
 Sulfhemoglobinemia
 Anemia hemolitik (memperburuk ruam LE kulit)

o Fatigue dan keluhan sistemik


Fatigue merupakan keluhan yang sering terjadi, demikian juga penurunan berat
badan, dan demam. Fatigue juga dapat timbul akibat terapi glukokortikoid, sedangkan
penurunan berat badan dan demam diakibatkan oleh pemberian quinakrin. Seringkali
hal ini tidak memerlukan terapi spesifik, cukup dengan menambah waktu istirahat dan
mengatur jam kerja. Pada keadaan yang berat dapat menunjukkan peningkatan
akitivitas SLE dan pemberian glukokortikoid sistemik dapat dipertimbangkan.

o Serositis (radang membran serosa)


Nyeri dada dan abdomen merupakan tanda serositis. Keadaan ini dapat diatasi
dengan salisilat, OAINS, OAM, atau glukokortikoid dosisi rendah (< 15 mg/hari). Pada
keadaan berat diberikan glukokortikoid sistemik.

30
2. Terapi agresif
Pemberian glukokortikoid dosis tinggi segera saat mulai timbul manifestasi serius
SLE dan mengancam nyawa, misalnya:
 Vaskulitis
 Lupus kutaneus berat
 Poliartritis
 Poliserositis
 Miokarditis pneumonitis lupus
 Glomerulonefritis (bentuk proliferatif)
 Anemia hemolitik
 Trombositopenia
 Sindrom otak organik
 Defek kognitif berat
 Mielopati
 Neuropati perifer
 Krisis lupus (demam tinggi, prostrasi)

Dosis glukokortikoid lebih penting untuk diperhatikan dibandingkan dengan jenisnya


yang akan diberikan. Sebaiknya hindari pemberian deksametason karena berefek panjang,
lebih baik menggunakan prednison karena lebih mudah untuk mengatur dosisnya. Pemberian
glukokortikoid oral sebaiknya diberikan pada pagi hari. Pada manifestasi berat dapat
diberikan prednison 1-1.5 mg/kgBB/hari.
Pemberian bolus metilprednisolon intravena 1 gram atau 15 mg/kgBB/hari selama 3-5
hari, dapat dipertimbangkan sebagai pengganti glukokortikoid dosis tinggi, kemudian
dilanjutkan dengan prednison oral 1-1.5 mg/kgBB/hari. Efek terapi dapat terlihat secepat
mungkin atau mungkin 6-10 minggu kemudian. Toksisitas SLE merupakan masalah
tersendiri pada penatalaksanaan SLE.
Setelah pemerian glukokortikoid dosis tinggi selama 6 minggu, maka harus dilakukan
penurunan dosis bertahap (5-10%) setiap minggu agar tidak timbul ekserbasi akut. Setelah
dosis prednison mencapai 30 mg/hari, maka penurunan dosis dilakukan 2.5 mg/minggu.
Setelah dosis prednison mencapai 10-15 mg/hari, penurunan dosis dilakukan 1 mg/minggu.
Bila timbul ekserbasi akut, naikkan dosis hingga dosis efektif sampai beberapa minggu,
kemudian turunkan dosis kembali.
Bila dalam 4 minggu pemberian glukokortikoid tidak menunjukkan perbaikan yang
nyata, maka pertimbangkan untuk memberikan imunosupresan lain atau terapi agresif
lainnya. Obat sitotoksik adalah bolus siklofosfamid intravena 0.5-1 gr/m2 dalam 250 ml NaCl
0.9% selama 60 menit diikuti dengan pemberian cairan 2-3 liter/24 jam setelah pemberian
obat. Siklofosfamid diindikasikan pada:
 Penderita SLE dengan terapi steroid dosis tinggi (steroid sparing agent)
 Penderita SLE dengan kontraindikasi terhadap steroid dosis tinggi
 Penderita yang kambuh setelah diterapi dengan steroid jangka panjang lama atau
berulang
 Glomerulonefritis difus awal
 SLE dengan trombositopenia yang resisten terhadap steroid
 Penurunan GFR atau peningkatan kreatinin serum tanpa adanya faktor-faktor
ekstrarenal lainnya.
 SLE dengan manifestasi SSP

31
Pada penderita dengan penurunan fungsi ginjal sampai 50%, dosis siklofosfamid
diturunkan sampai 500-750 mg/m2. Setelah pemberian siklofosfamid, segera pantau jumlah
leukosit darah, bila mencapai 1500/ml maka dosis siklofosfamid berikutnya diturunkan 25%.
Kegagalan menekan jumlah leukosit sampai 4000/ml menunjukkan dosis yang tidak adekuat,
sehingga harus ditingkatkan 10% pada pemberian berikutnya. Siklofosfamid diberikan
selama 6 bulan dengan interval 1 bulan, kemudian tiap 3 bulan selama 2 tahun. Selama
pemberian siklofosfamid diberikan, dosis steroid diturunkan secara bertahap dengan
memperhatikan aktifitas lupusnya. Toksisitas siklofosfamid meliputi :
 Nausea
 Vomitus alopesia
 Sistitis hemoragika
 Keganasan kulit
 Penekanan fungsi ovarium dan azoospermia

Obat sitotoksik lain dengan toksisitas dan efektifitas yang lebih rendah dari
siklofosfamid adalah azatioprin yang merupakan analog purin yang dapat digunakan sebagai
alternatif siklofosfamid dengan dosis 1-3 gr/kgBB/hari peroral. Obat ini dapat diberikan
selama 6-12 bulan pada penderita SLE, setelah penyakitnya dapat dikontrol dengan steroid
seminimal mungkin, maka dosis azatioprin dapat diturunkan perlahan dan dihentikan.
Toksisitas dari azatioprin meliputi :
 Penekanan sistem hemopoetik
 Peningkatan enzim hati
 Mencetuskan keganasan

Imunosupresan lain yang dapat digunakan adalah siklosporin-A dosis rendah (3-6
mg/kgBB/hari) dan mofetil mikofenolat. Siklosporin A dapat digunakan pada SLE baik tanpa
manifestasi renal maupun dengan nefropati membranosa. Selama pemberian harus
diperhatikan tekanan darah dan kada kreatinin darah, bila kadar kreatinin darah meningkat
20% dari kadar sebelum pemberian siklosporin maka dosis harus diturunkan.

Terapi lain masih dalam taraf penelitian yaitu :


 Terapi hormonal
 Imunoglobulin
 Afaresis
o Plasmafaresis
o Leukofaresis
o Kriofaresis
Yang paling banyak digunakan yaitu danazol, merupakan androgen yang dapat
mengatasi trombositopenia pada SLE. Mekanismenya tidak diketahui secara pasti. Pemberian
Ig intravena juga dapat mengatasi trombositopenia, dengan dosis 300-400 mg/kgBB/hari
selama 5 hari berturut-turut, diikuti dosis pemeliharan setiap bulan untuk mencegah
kekambuhan. Pemberian Ig kontraindikasi mutlak dengan penderita defisiensi IgA pada
penderita SLE.

32
2.8 Komplikasi
Gagal ginjal adalah penyebab tersering kematian pada penderita SLE. Gagal ginjal
dapat terjadi akibat deposit kompleks antibody-antigen pada glomerulus disertai
pengaktifan komplemen resultan yang menyebabkan cedera sel, suatu contoh reaksi
hipersensitivitas tipe III.
• Dapat terjadi perikarditis (peradangan kantong perikardium yang mengelilingi
jantung).
• Peradangan membran pleura yang mengelilingi paru dapat membatasi
pernafasan.sering terjadi bronkitis.
• Dapat terjadi vaskulitis disemua pembulu serebrum dan perifer.
• Komplikasi susunan saraf pusat termasuk stroke dan kejang. Perubahan kepribadian,
termasuk psikosis dan depresi dapat terjadi. Perubahan kepribadian mungkin
berkaitan dengan terapi obat atau penyakitnya.

Komplikasi LES pada anak meliputi:


• Hipertensi (41%)
• Gangguan pertumbuhan (38%)
• Gangguan paru-paru kronik (31%)
• Abnormalitas mata (31%)
• Kerusakan ginjal permanen (25%)
• Gejala neuropsikiatri (22%)
• Kerusakan muskuloskeleta (9%)
• Gangguan fungsi gonad (3%).

2.9 Prognosis
Beberapa tahun terakhir ini prognosis lupus semakin membaik, banyak
penderita yang menunjukkan penyakit yang ringan. Wanita hamil penderita lupus
dapat bertahan sampai melahirkan bayi yang normal. Angka harapan hidup 10 tahun
meningkat sampai 85%. Prognosis yang paling buruk ditemukan pada penderita yang
mengalami kelainan otak, paru-paru, jantung dan penyakit jantung yang berat.

LI 3. Memahami dan Menjelaskan Bersabar, Ikhlas, Ridho dalam Pengobatan Menurut


Pandangan Islam.
 Sabar

“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan
senja hari.” (QS Al-Kahfi: 28)

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 152-157)

33
Secara istilah, definisi sabar adalah: menahan diri dalam melakukan sesuatu
atau meninggalkan sesuatu untuk mencari keridhaan Allah, Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya” (Ar-Ra’d: 22).

Macam – macam sabar


Sabar terdiri dari 3 macam, yaitu:
1. sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah
2. sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat terhadap Allah
3. sabar dalam menerima taqdir yang menyakitkan.

 Ikhlas
Definisi ikhlas
Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur
dengan hal-hal yang bisa mencampurinya.
Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi) Syaikh Abdul Malik
menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat
dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada yang
mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah
tatkala beribadah”, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan
wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia.
Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari
komentar manusia”, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu
maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk
mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu.
Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya
engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya. Dan inilah yang seharusnya yang
diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya
kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar
manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia,
karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia
tidak meridhoimu).

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Quran) dengan (membawa)


kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.
Ingatlah! Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik) ….” (QS Az-
Zumar: 2-3)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan


memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”” (QS Az-Zumar:
11)

34
 Ridho
“Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah
hanyalah islam.” (QS Ali Imran: 19)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saw itu suri tauladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

Definisi ridho
Ridho (‫)رض‬ ِ berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan
qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang
menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun
yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi
hamba-Nya.

Macam – macam ridho


Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ridho terhadap takdir Allah terbagi
menjadi tiga macam:
1. Wajib direlakan, yaitu kewajiban syariat yang harus dijalankan oleh umat Islam dan
segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya. Seluruh perintah-Nya haruslah mutlak
dilaksanakan dan seluruh larangan-Nya haruslah dijauhkan tanpa ada perasaan bimbang
sedikitpun. Yakinlah bahwa seluruhnya adalah untuk kepentingan kita sebagai umat-Nya.

2. Disunnahkan untuk direlakan, yaitu musibah berupa bencana. Para ulama mengatakan
ridho kepada musibah berupa bencana tidak wajib untuk direlakan namun jauh lebih baik
untuk direlakan, sesuai dengan tingkan keridhoan seorang hamba. Namun rela atau tidak,
mereka wajib bersabar karenanya. Manusia bisa saja tidak rela terhadap sebuah musibah
buruk yang terjadi, tapi wajib bersabar agar tidak menyalahi syariat. Perbuatan putus asa,
hingga marah kepada Yang Maha Pencipta adalah hal-hal yang sangat diharamkan oleh
syariat.

3. Haram direlakan, yaitu perbuatan maksiat. Sekalipun hal tersebut terjadi atas qodha
Allah, namun perbuatan tersebut wajib tidak direlakan dan wajib untuk dihilangkan.
Sebagaimana para nabi terdahulu berjuang menghilangkan kemaksiatan dan kemungkaran di
muka bumi.

Ayat al-quran tentang ridho

35
“Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah
Islam.” (QS Ali Imran :19)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

36
Daftar Pustaka

Baratawidjaja, Karnen Garna. 2009. Imunologi Dasar Edisi ke 6. Balai Penerbit FK UI:
Jakarta.
Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi. 7 nd ed , Vol. 1. Jakarta:
Penerbit. Buku Kedokteran EGC, 2007 : 189-1.
Albar Z. Lupus eritematosus sistemik. Dalam: Noer MS, editor kepala. Ilmu penyakit dalam.
Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1996. h: 150-9.

37