Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul“PRINSIP-
PRINSIP PERKEMBANGAN dan IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN"
Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses
perkuliahan. Dari lubuk hati yang paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih
kepada para penulis yang tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.

KELOMPOK 7 1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................1

DAFTAR ISI….............................................................................................................................. ..... Error!


Bookmark not defined.
BAB I ...................................................................................................................................................... 3
Pendahuluan ........................................................................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 4
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 4
1.4 Metode Penulisan ........................................................................................................................ 4
1.5 Manfaat Penulisan ....................................................................................................................... 4
BAB II..................................................................................................................................................... 5
Pembahasan......................................................................................................................................... 5
I. Definisi Perkembangan ............................................................................................................... 5
II. Prinsip - Prinsip Perkembangan Menurut Para Ahli....................................................................... 6
III. Faktor-faktor Penentu Perkembangan Individu dan Implikasinya terhadap Pendidikan ..................... 8
IV. Prinsip – Prinsip Perkembangan dan Implikasinya................................................................... 10
BAB III ................................................................................................................................................. 17
PENUTUP ........................................................................................................................................ 17
KESIMPULAN ................................................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................. 18

KELOMPOK 7 2
BAB I
Pendahuluan
Peserta didik khususnya anak sekolah dasar merupakan individu yang bersifat unik,
imajinatif, dan khas. Dimana dalam fase tersebut seorang anak mengalami suatu
metamorfosis perkembangan. Baik perkembangan secara kemampuan berpikir,
keterampilan, mental, psikis, emosional, fisik, dan juga kemampuan berinteraksi sosial
dengan lingkungan.
Kemudian bagaimana cara kita sebagai seorang pendidik untuk mengetahui dan
mengoptimalkan perkembangan peserta didik tersebut. Sehingga kita harus mengetahui
prinsip-prinsip perkembangan perserta didik, terdiri dari beberapa komponen yakni: kaitan
perkembangan dengan perubahan, bandingan perubahan awal dengan perubahan
selanjutnya, hubungan perkembangan dengan proses kematangan dan belajar, karakteristik
dan urutan pola perkembangan, perbedaan individu dalam perkembangan, karakteristik
setiap periode perkembangan, harapan sosial pada setiap periode perkembangan dan
bahaya-bahaya potensial yang dikandungnya, dan variasi kebahagian pada berbagai periode
perkembangan.
Perkembangan merupakan cabang ilmu Psikologi mempealajari perubahan-perubahan
atau perkembangan baik fisik maupun segala hal yang berkaitan dengan prilaku manusia.
Karena setiap mahluk hidup akan mengalami perkembangan, baik cepat ataupun lambat.
Oleh karena itu, perlu adanya aspek-aspek pendukung atau hal-hal yang mempengaruhi
perkembangan mahluk hidup. Perkembangan ini bersifat sistematis, progresif, dan
berkesinambungan .
Sistematis : Berarti adanya keterkaitan antara faktor fisik dengan aspek kejiwaan atau
tingkah laku yang ditimbulkan. Contoh: anak bayi bisa berjalan karena kematangan otot yang
sudah kuat untuk berjalan.
Progresif : Berarti bahwa perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang
lebih sempurna seiring dengan bertambahnya umur manusia. Contoh: perubahan anak dari
kecil menjadi dewasa serta perubahan pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik.
Berkesinambungan : Berarti proses perubahan itu sifatnya bertahap. Contoh: untuk
bisa berjalan seorang bayi pasti melalui tahapan melata, merangkak, dan berdiri. Begitupun
berjalan adalah merupakan syarat tahapan anak untuk bisa berlari.

KELOMPOK 7 3
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Prinsip-Prinsip Perkembangan dan Implikasinya?
2. Bagaimana Prinsip-Prinsip Perkembangan Menurut Ahli?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip Perkembangan
2. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip Perkembangan Menurut Ahli

1.4 Metode Penulisan


Adapun metode dari pembuatan laporan penulisan ini adalah metode pustaka.
Metode pustaka, yaitu sumber data yang didapat dari internet, penulis menganalisis,
menyimpulkan serta memahami data-data yang ada sebagai bahan utama pembuatan
makalah sesuai dengan permasalahan yang penulis bahas dalam makalah ini.

1.5 Manfaat Penulisan


Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara
praktis maupun secara teoritis antara lain adalah

KELOMPOK 7 4
BAB II
Pembahasan

I. Definisi Perkembangan

Apa itu Perkembangan? Tentu saja kita sangat sering mendengar kata
Perkembangan sekaligus maknanya, setiap kita pasti berpikiran berbeda tentang
pengertian dan arti dari perkembangan tersebut. Sebelum itu kita perhatikan terlebih
dahulu pengertian perkembangan menurut para ahli.
Menurut Kasiram (1983 : 23), “Perkembangan mengandung makna adanya
pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya, mengandung arti
bahwa perkembangan merupakan perubahan sifat individu menuju kesempurnaan
yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.”
Menurut Santrok Yussen (1992), Perkembangan merupakan pola
perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang
hayat dan bersifat involusi. Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses
terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan
berlangsung sampai akhir hayat yang bersifat timbul adanya perubahan dalam diri
individu.
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan
adalah proses perubahan individu yang bersifat dinamis ke arah kesempurnaan secara
terus – menerus sejak lahir hingga akhir hayat.
Dalam menumbuh kembangkan kualitas peserta didik, yang perlu dilakukan
oleh tenaga pendidik adalah mengenali peserta didik dengan sebaik-baiknya.
Mengenali disini diartikan seperti mengenal psikolog anak, bagaimana pribadi si anak,
dan bagaimana cara menghadapi watak atau karakteristik anak yang berbeda-beda.
Dengan mengenali karakter si anak, maka pendidik akan lebih mudah dalam
menyampaikan materi ajar pada si anak. Sehingga anak akan lebih mudah menerima
apa yang disampaikan oleh Gurunya.
Konsep dasar perkembangan meliputi :
a) Pertumbuhan (growth)
Perubahan yang bersifat kuantitatif baik perubahan secara alamiah maupun
hasil belajar.
b) Kematangan ( maturation )
Perubahan kualitatif fungsi psiko fisik organisme dari tidak siap menjadi siap
melakukan fungsinya. perubahannya alamiah dan hasil belajar.
c) Belajar ( Learning )
Perubahan perilaku sebagai akibat pengalaman, disengaja, bertujuan/terarah
baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

KELOMPOK 7 5
d) Latihan (exercise)
Perubahan perilaku yang bersifat mekanistis dan lebih banyak menyentuh
aspek psikomotor organisme sebagai akibat pengalaman, disengaja,
bertujuan/terarah baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

II. Prinsip - Prinsip Perkembangan Menurut Para Ahli

1) Menurut William Stern


William Stern merupakan pencetus teori konvergensi yang bertumpu
pada teori sebelumnya, yaitu teori empirisme (dipengaruhi pengalaman) yang
kurang realistis. Karena kenyataannya keturunan yang baik saja tanpa adanya
pengaruh lingkungan pendidikan yang baik dan maksimal tidak akan dapat
membina kepribadian yang ideal. Lebih tepatnya teori konvergensi ini
menyatakan kecerdasan itu bukan hanya dipengaruhi oleh pengalaman saja
tetapi juga bisa dipengharuhi oleh faktor lingkungan pendidik sekitar. Teori
konvergensi ini juga mengatakan bahwa walaupun manusia berasal dari
pembawaan yang sama, namun dipengaruhi oleh lingkungan.
Sebagai contoh, dapat dikemukakan bahwa anak yang normal,
menurut bakat dan pembawaannya memiliki sifat-sifat untuk berbicara.
Namun demikian, untuk berbicara tersebut mereka mendengar kata-kata dan
kalimat bahasa dalam pergaulan dengan alam sekitarnya. Seorang anak
keturunan Inggris yang baru lahir dan dibesarkan di Indonesia, serta dipelihara
oleh orang Indonesia dan dalam pemeliharaan sehari-harinya menggunakan
bahasa Indonesia, tidak mungkin bisa berbahasa Inggris, karena pendidikannya
termasuk pergaulan sehari-harinya, tidak memberikan kesempatan untuk
berbicara bahasa Inggris.
Seorang anak yang lahir dalam keadaan tuli, walaupun alat-alat
bicaranya cukup baik dan menurut pembawaannya manusia itu adalah
makhluk yang dapat berbicara, karena kesempatan berbicara untuk belajar
terganggu (alat pendengarannya rusak), ia tidak mungkin dapat berbicara dan
mengenal bahasa.
2) Menurut J. L. Moreno
Moreno memiliki kedudukan yang khas dalam sejarah psikologi
perkembangan. Dia menolak adanya pandangan bahwa pandangan anak-anak
itu semata-mata tergantung pada kenyataan pada diri mereka yang masih
lemah dan pengaruh lingkungan. Sebaliknya menurut Moreno, bahwa ada
kesempatan bagi setiap anak untuk memilih sendiri jalan perkembangannya.
Dengan demikian, dasar perkembangan manusia itu berada pada diri masing-
masing ketika dalam usia anak-anak. Atas dasar pandangan ini, kata Moreno,
maka pendidikan punya kemungkinan untuk dilaksanakan.

KELOMPOK 7 6
3) Menurut Jean Piaget
Piaget adalah orang yang paling banyak memperhatikan
perkembangan anak-anak hingga usia 7 tahun. Ia memandang bahwa pada
setiap anak terdapat dua faktor, yaitu pengenalan dan perasaan. Keduanya
berguna untuk penyesuaian ruhani terhadap lingkungan. Katanya pula bahwa
dalam ruhani anak terdapat fungsi pikiran. Akan tetapi, kecakapan berpikir
secara logis tidak dibawa anak secara lahir. Kecakapan berpikir baru timbul
setelah ia mencapai taraf perkembangan tertentu.
4) Menurut Montessori
Menurut Montessori setiap fase perkembangan itu mempunyai arti
biologis. Prinsip montessori terkenal dengan sebutan masa peka, menurutnya
masa peka merupakan masa pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah
sekali dipengaruhi dan dikembangkan. Masa ini hanya datang sekali seumur
hidup, sehingga masa ini harus digunakan sebaik-baiknya maka fungsi-fungsi
jiwa akan mengalami kelainan/abnormal, dan akan mempengaruhi
perkembangan selanjutnya.
Masa peka antara anak yang satu dengan anak yang lainnya tidah
mudah untuk di ketahui, karena hal ini memerlukan penelitian yang seksama
melalui berbagai percobaan. Misalnya, untuk menentukan apakah seorang
anak sudah mengalami masa peka bagi pembuatan kerajinan tangan tertentu
dan lain-lain. Suatu gejala kepekaan seharusnya diselidiki dengan percobaan,
yaitu apakah anak tersebut sudah tampak terarah minatnya pada suatu fungsi
tersebut apa belum.
5) Menurut J. B. Watson dan Pavlov
Keduanya menyatakan bahwa perkembangan itu pada hakikatnya
merupakan kumpulan dari sejumlah refleks yang karena sudah terlatih
sedemikian rupa hingga akhirnya membentuk tingkah laku seseorang yang
bersifat konstan, atau bisa diartikan sebagai gerak spontan yang bersifat
otomatis. Inilah yang menurutnya disebut dengan refleks wajar yang masih
murni, yang asli dibawa sejak lahir. Setelah mendapat latihan dan pembiasaan,
lalu disebut dengan refleks bersyarat. Jadi, menurutnya, perkembangan
merupakan proses terbentuknya refleks wajar menjadi refleks
bersyarat. (Baharuddin,2010:74)

KELOMPOK 7 7
III. Faktor-faktor Penentu Perkembangan Individu dan Implikasinya terhadap
Pendidikan

Faktor-faktor penentu perkembangan individu merupakan salah satu masalah


yang menjadi perhatian para ahli psikologi. Hasil studi psikologi sebagai jawaban
terhadap permasalahan tersebut dapat di bedakan menjadi tiga kelompok teori, yaitu
Nativisme, Empirisme dan Konvergensi.
i. Nativisme
Schoupenhauer adalah salah seorang tokoh teori Nativisme. Penganut
teori Nativisme berasumsi bahwa setiap individu dilahirkan ke dunia
membawa factor-faktor turunan (heredity) yang dibawa sejak lahir yang
berasal dari orang tuanya. Faktor turunan yang dibawa sejak lahir yang
berasal dari orang tuanya itu dikenal pula dengan istilah dasar (nature).
Bagi penganut teori Nativisme bahwa dasar (nature) ini dipandang sebagai
satu-satunya penentu perkembangan individu. Penganut teori Nativisme
umumnya mempertahankan konsepsinya dengan menunjukkan berbagai
kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya. Contoh:
apabila ayahnya terampil melukis, maka anak-anaknya pun diyakini akan
terampil melukis; jika orang tuanya pandai dalam bidang sains, maka anak-
anaknya pun diyakini akan memiliki kepandaian dalam bidang sains; dsb.
Teori Nativisme memberikan implikasi yang tidak kondusif
terhadap pendidikan. Teori Nativisme tidak memberikan kemungkinan bagi
pendidik dalam upaya mengubah kepribadian peserta didik. Berdasarkan
hal itu, peranan pendidikan atau sekolah sedikit sekali dapat
dipertimbangkan untuk dapat mengubah perkembangan peserta didik.
Teori demikian dipandang sebagai teori yang pesimistis terhadap upaya-
upaya pendidikan untuk dapat mengubah atau turut menentukan
perkembangan individu. Teori Nativisme tidak dapat dipertahankan
kebenarannya.Teori Nativisme tidaklah dapat kita diterima, baik sebagai
asumsi dalam ilmu pendidikan maupun dalam praktik pendidikan. Sebab,
jika teori Nativisme kita terima sebagai suatu asumsi, jika kita menerima
sebagai sesuatu kebenaran bahwa perkembangan individu semata-mata
tergantung pada dasar, maka konsekuensinya bahwa sekolah sepantasnya
dibubarkan saja. Para orang tua, para guru dan siapapun tidak perlu
melakukan pendidikan, sebab pendidikan dipandang tidak akan berfungsi
untuk dapat mengubah keadaan anak, anak akan tetap sesuai dasar yang
dimilikinya. Namun demikian, hal tersebut bertentangan dengan realitas
yang sesungguhnya, karena terbukti bahwa sejak dulu hingga sekarang
para orang tua dan para guru, baik di rumah maupun di sekolah, mereka
mendidik anak-anak/siswa-siswanya karena pendidikan itu terbukti
merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan harus dilakukan
dalam rangka membantu anak/siswa agar berkembang ke arah yang di
harapkan. Dengan demikian, teori Nativisme tidak dapat dipertahankan

KELOMPOK 7 8
dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak perlu diadopsi
secara keseluruhannya.

ii. Empirisme
John Locke dan J.B. Watson adalah tokoh teori Empirisme. Sebagai
penganut Empirisme Locke dan Watson menolak asumsi Nativisme.
Penganut Empirisme berasumsi bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia
dalam keadaan bersih ibarat papan tulis yang belum ditulisi. Individu lahir
ke dunia tidak membawa ide-ide bawaan. Penganut Empirisme meyakini
bahwa setelah kelahirannya, faktor penentu perkembangan individu
ditentukan oleh factor lingkungan/pengalamannya. Faktor penentu
perkembangan individu yang diyakini oleh penganut empirisme dikenal
pula dengan istilah ajar (nurture). Perkembangan individu tergantung
kepada hasil belajarnya sedangkan faktor penentu utama dalam belajar
sepenuhnya berasal dari lingkungan. Dengan demikian, mereka tidak
percaya kepada faktor turunan atau dasar (nature) yang dibawa sejak lahir
sebagai penentu perkembangan individu. Sebaliknya, mereka meyakini
pengalaman/lingkungan atau ajar (nurture) itulah satu-satunya factor
penentu perkembangan individu.
Implikasi teori Empirisme terhadap pendidikan yakni memberikan
kemungkinan sepenuhnya bagi pendidik untuk dapat membentuk
kepribadian peserta didik; tanggung jawab pendidikan sepenuhnya ada di
pihak pendidik.Teori Empirisme memberikan implikasi yang bersifat
optimistis terhadap pendidikan untuk dapat sepenuhnya mempengaruhi
atau menentukan perkembangan individu seperti apa yang diharapkan
pendidik.
Berdasarkan uraian di atas, dapat Anda pahami bahwa para
penganut teori Empirisme begitu optimis dengan pendidikan sebagai upaya
yang dapat diandalkan dalam rangka membentuk individu/siswa.
Sebagaimana dikemukakan Sumadi Suryabrata (1990:187-188) bahwa “Jika
sekiranya konsepsi Empirisme ini memang benar, maka kita akan dapat
menciptakan manusia ideal sebagaiman kita cita-citakan asalkan kita dapat
menyediakan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk itu. Tetapi kenyataan
membuktikan hal yang berbeda daripada yang kita gambarkan itu”.
iii. Teori Konvergensi
Tokoh teori Konvergensi antara lain William Stern dan Robert
J.Havighurst. Mereka berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan
oleh dasar (nature) atau faktor turunan (heredity) yang dibawa sejak lahir
maupun oleh factor ajar (nurture) atau lingkungan/pengalaman. Misalnya,
Havighurst menyatakan bahwa "karakteristik tugas perkembangan pada

KELOMPOK 7 9
masa bayi dan anak kecil adalah biososial. Sebab, perkembangan anak
adalah berdasarkan kematangan yang berangsur-angsur dari organ
tubuhnya (biologis), dan berhasil tidaknya dalam tugas perkembangan itu
tergantung kepada lingkungan sosialnya. Penelitian yang dilakukan
beberapa ahli juga menunjukkan bahwa perkembangan individu
dipengaruhi oleh interaksi dengan cara yang kompleks dari faktor hereditas
dan factor lingkungan.
Implikasi teori Konvergensi terhadap pendidikan yakni memberikan
kemungkinan bagi pendidik untuk dapat membantu perkembangan
individu sesuai dengan apa yang diharapkan, namun demikian
pelaksanaannya harus tetap memperhatikan faktor-faktor hereditas
peserta didik: kematangan, bakat, kemampuan, keadaan
mental,dsb. Kiranya teori konvergensi inilah yang cocok kita terapkan
dalam praktek pendidikan.

IV. Prinsip – Prinsip Perkembangan dan Implikasinya

1. PRINSIP KESATUAN ORGANIS


Anak adalah kesatuan organ bukan kumpulan elemen-elemen
atau unsur-unsur yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri tanpa ada
hubungan satu sama lain. Perkembangan fungsi itu bersangkut paut
saling mempengaruhi, dan merupakan suatu keseluruhan atau suatu
kebulatan.
Tiap-tiap fungsi tidak tumbah dan berkembang terlepas dari
fungsi-fungsi yang lain. Masing-masing fungsi dan unsur-unsur baru
mempunyai arti dalam hubungannya dalam keseluruhan.
Prinsip ini menyarankan agar supaya pelajaran yang diberikan
di sekolah ada hubungannya satu sama lain. Integrated Kurikulum
yang dianjurkan dalam pendidikan modern sebenarnya bersendi
kepada prinsip-prinsip kesatuan organis dari perkembangan individu.
Dan prinsip kesatuan organis ini menentang pandangan psikologi daya
yang menganggap jiwa manusia terdiri dari bermacam daya atau
fakulti-fakulti yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri tanpa ada
hubungannya satu sama lain, sehingga masing-masing daya itu dilatih
secara terpisah-pisah tanpa mempengaruhi daya-daya yang lain.
Perkembangan individu merupakan satu kesatuan antara
beberapa fungsi yang saling berpengaruh antara satu dengan yang lain.
Contoh : Perkembangan kognitif anak harus juga ditinjau dari
perkembangan yang lain (afektif atau psikomotorik)

KELOMPOK 7 10
Implikasinya : Pelajaran-pelajaran yang diberikan harus berhubungan
satu dengan yang lain; adanya kurikulum yang terintegrasi dengan baik.

2. TEMPO DAN IRAMA PERKEMBANGAN


Menurut prinsip ini tiap-tiap anak memikili irama
perkembangannnya sendiri-sendiri. Ada anak yang memiliki tempo
perkembangan cepat ada anak yang memiliki tempo perkembangan
lambat. Ada anak yang tetap berjiwa anak, tetapi ada pula yang lekas
berfikir dan bertindak seperti orang dewasa.
Ada anak lancar jalan perkembangannya pada masa kecil, ada
pula anak yang lancar perkembangannya pada masa kemudian. Lagi
pula garis perkembangan itu menunjukkan sifat yang menggelombang
bukan sifat yang lurus. Dengan demikian terdapat adanya irama dalam
perkembangan, dimana pada suatu saat anak memiliki sifat-sifat yang
tenang, kemudian disusul adanya sifat memberontak, goncang
akhirnya tenang lagi demikian selanjutnya.
Prinsip ini menganjurkan adanya bimbingn yang bersifat
indidvidual disamping bersifat klasikal. Anak yang memiliki umur
kronologis yang sama tidak selalu mengalami taraf perkembangan yang
sama, dan memiliki sifat-sifat perkembangan yang sama.
Walaupun pada umumnya anak umur enam tahun telau
matang untuk mengikuti pelajaran di sekolah dasr pada tingkat
permulaan, tetapi terjadi juga anak umur tujuh tahun belum
matang mengikuti pelajaran di sekolah tersebut karena
perkembangannya terlambat.
Contohnya : Anak mungkin bukan anak lemah jiwa, tetapi karena
perkembangannya dalam saat yang lambat. Menekankan bahwa
masing-masing individu memiliki irama sendiri dalam
perkembangannya; ada yang cepat dan ada yang lambat
Implikasinya : Proses pembelajaran harus menghargai keunikan
masing-maasing peserta didik.
3. Tiap-Tiap Individu Mengikuti Pola Perkembangan Yang Umum
Proses pertumbuhan perkembangan dalah suatu perubahan
yang pada garis besarnya sama pada semua anak dari segala bangsa di
dunia. Memang tidak dapat disangkal bahwa di antara mereka terdapat
perbedaan-perbedaan dan variasi-variasi individual akibat pengaruh
lingkungan hidup dan pembawaan yang berbeda-beda, akan tetapi di

KELOMPOK 7 11
antara mereka itu terdapat ciri-ciri umum atau ciri-ciri pokok yang
menunjukkan kesamaan-kesamaan yang besar.
Anak tidak akan bisa berjalan sebelum dapat berdiri tegak, badn
pada umur yang sama pada umumnya terdapat minat yang sama.
Masatrotz atau masa kemratu-ratuan pada umumnya dialami oleh
anak dimana saja pada umur sekitar tiga tahun.
Demikian juga semua anak mengalami masa pubertas (dalam
arti mengalami perubahan alat kelamin sekunder) dalam waktu yang
tidak jauh berbeda. Semua anak umur enam tahun telah dianggap
matang masuk sekolah dasar, dan semua orang yang berumur 22 tahun
dianggap matang perkembangan jasmaninya.
Sesuai dengan prinsip ini sekolah melaksanakan penddikan
klasikal. Lain daripada itu dengan adanya pola umum yang sama itu
memungkinkan diadakannya unformitas pendidikan bagi anak-anak
normal dalam timgkatan umum umur tertentu.
Dan prinsip itu juga memungkinkan adanya pendidikan yang
dapay dipergunakan secara terus menerus dari generasi yang satu ke
generasi berikutnya bagi anak-anak yang umurnya sebaya.
Misalnya kita dapat menyediakan bangku, papan tulis, ruang
kelas yang dapat ditempati oleh setiap anak umur enam tahun yang
masuk sekolah dasr pertama kali. Meskipun individu memiliki irama
dan tempo yang berbeda, disertai bakat yang berbeda, namun individu
tersebut masih mengikuti garis perkembangan umum. Jadi perbedaan
itu bisa disebabkan karena pembawaan dan lingkungan.
Contoh : A : Berjalan 1 tahun
B : Berjalan 1,5 tahun
Baik A dan B masih mengikuti pola perkembangan
umum, walaupun A lebih cepat berjalan dari B
Implikasinya : Proses pendidikan dapat diberikan secara klasikal.
Penggunaan alat peraga pendidikan bisa digunakan dalam rentang
waktu yang relatif lama (tidak selalu ganti)
4. Konvergensi/Interaksi
Antara pembawaan dan lingkungan sama-sama berpengaruh
dalam perkembangan individu. Prinsip konvergensi berlaku untuk
semua makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.
Namun demikian terdapat perbedaan besar antara perkembangan
tumbuhan-tumbuhan dan hewan dengan pertumbuhan n=manusia.

KELOMPOK 7 12
Tumbuh-tumbuhan dan hewan tidak dapat memnetukan
proses perkembangan. Kedua jenis makhluk itu tdidak dapat secara
sadar mengarahkan proses perkembangannya ke suatu arah
tertentu.
Manusia dapat menentukan arah perkembangannya sendiri.
Mungkin hakl ini tidak akan terjadi pada masa kecil tetapi bila ia
sudah besar, si anak dengan kemaunnya sendiri dapat memberi
pengaruh terhadap arah perkembangan dirinya. Anak tidaka akan
menyerahkan diri begitu saja kepada kekuasaan lingkungan dan
pembawaan. Ia dapat menjauhkan diri dari kawan-kawannya yang
jelek dan berusaha menekan sifat-sifat sendiri yang buruk, serta
berusaha dengan sekuat tenaga mengembangkan pembawaan-
pembawaan yang luhur.
Dengan adanya kemauan manusia daat secara sadar
menentukan hari kemudiannya. Hal ini tidak dimiliki oleh binatang,
sebab binatang tidk terdapat kemauannya. Itulah salah satu lelebihan
manusia dibandingkan dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Dengan adanya unsur kemauan ini berarti menyangkut soal
tanggung jawab. Artinya bila tersesat perkembangannya manusia
tidaj dapat mengatakan bahwa itu semata-mata kesalahan
pembawaan dan lingkungan hidup tempat ia dibesarkan dan dididik.
Memang kedua faktor itu ada pengaruhnya yang mungkin
pembawa ke arah kejelekan namun pengruaruh tersebuttidak dapat
meniadakan tanggung jawab.
Prinsip Konvergensi memiliki implikasi yang jelas:
v Implikasi Pertama
Ialah bahwa pendidikan harus berusaha memberikan
laingkungan kepada anak yang sebanyak mungkin dan beraneka
ragam supaya seluruh pembawaan anak –anak didiknya dapat
diberi kemungkinan berkembang secara maksimal, dan
sebaliknya pembawaan-pembawaan yang tidak baikdapat
dicegah perkembangannya.
v Implikasi Kedua
Implikasi kedua ini adalah pengaruh pendidikan itu
dibatasi oleh pembawaan anak. Maka dari itu bimbingan yang
diberikan kepada anak harus memperhatikan pada sifat-sifat
yang terdapat pada anak itu sendiri.

KELOMPOK 7 13
v Implikasi Ketiga
Implikasi ketiga ialah bahwa anak tidak boleh dianggap
sebagai makhluk yang pasif, yang menerima apa saja yang
datang dari luar, akan tetapikita harus berpendapat bahwa
anak adalah organisme yang aktif bisa menemukan dan memilih
segala sesuatu mana yang kiranya baik bagi dirinya dan mana
yang kiranyan yang tidak baik bagi dirinya. Aktivitas itu harus
dipupuk dalam pendidikan.
5. Kematangan
Prinsip kematangan mengatakan bahwa efek usaha belajar
tergantung pada tingkat kematangan yang telah dicapai oleh anak.
Prinsip ini mengandung arti bahwa tidak ada gunanya memaksa
individu melaksnakan usaha itu.
Kita tidak akan berhasil bila anak umur enam bulan kita latih
untuk belajar berjalan, karen aanak tersebut belum matang untuk
melakukan tugas itu. Usaha yang demikian itu bukan mingkin
menimbulkan akibat yang mengecewakan. Anak tidak mendapatkan
perkembangan yang lebih cepat namun bahkan sebaliknya.
Prinsip kematangan mempunyai implikasi pendididkan yang
penting. Pendidikan tidak boleh memaksa atau memperkosa
perkembangan anak. Mengajar fungsi-fungsi yang belum masanya
merupakan usaha yang sia-sia.
Semua bahan pelajaran yang diberikan kepada anak harus
sesuai dengan taraf perkembangan yang telah dicapai. Sampai saat
ini bahan pelajaran pada sekolah-sekolah kita masih banyak yang
tidak cocok dengan taraf perkembangan anak yang diberinya. Untuk
kepentingan pendidikan perlu kiranya diadakan penelitain yang
sebaik-baiknya guna mengetahui dengan tepat waktu untuk
memberikan berbagai bahan pelajaran.
Contoh : anak usia 7 bulan baru bisa duduk, tidak boleh dipaksa
berjalan.
6. Setiap hasrat perkembangan terdapat hasrat untuk :
A. MEMPERTAHANKAN DIRI
Dengan terbukti adanya nafsu makan, tidur, minum,
istirahat dan menghindarkan diri dari segala macam bahaya.
Hasrat mengembangkan diri tampak dengan adanya nafsu
bermain, nafsu bergerak dan menyelidiki atan mengetahui segala
sesuatu.

KELOMPOK 7 14
B. MENGEMBANGKAN DIRI
Adanya keinginan untuk bereksplorasi, bergerak dan bermain.

Implikasinya : Jalannya proses pembelajaran harus


memperhatikan adanya hasrat/kebutuhan tersebut.

7. Fungsi psikis tidak timbul secara berturut-turut, tetapi secara


bersamaan
Dalam lapangan psikologi ada teori perkembangan yang
dikenak dengan nama teori rekapitulasi. Menurut teori ini,
perkembangan individu merupakan ulangan dari jenisnya.
Akibat pengaruh teori rekapitulasi, orang sering beranggapan
fungsi psikis tumbuh dan berkembang secara berturut-turut. Anak
dari lahir sampai dewasa dapat dibagi-bagi pertumbuhannya menjadi
beberapa fase atau periode dan masing-masing dianggap merupakan
saat munculnya fungsi-fungsi tertentu.
Contoh : Kegiatan menulis melibatkan fungsi ingatan, pikiran,
perasaan, dan gerak secara bersamaan
Implikasinya : Proses pendidikan hendaknya memperhatikan
keterlibatan beberapa fungsi dalam kegiatan pembelajaran
8. Perkembangan mengikuti proses diferensiasi dan integrasi
Dengan bertambahnya umur, perkembangan individu akan
semakin maju juga, sehingga terjadi suatu proses diferensiasi dan
integrasi.
Contoh : Bayi memiliki gerakan yang tidak teratur. Dengan
bertambahnya umur gerakannya dapat dipisahkan (gerakan tangan
saja) atau koordinasi gerakan (tangan dan kaki secara bersamaan)
Implikasinya : Proses pembelajaran harus memperhatikan
diferensiasi dan integrasi. Misal: dalam berhitung, ada proses
pembelajaran tambah, kurang kali dan bagi secara terpisah, tapi
kemudian per bagian diintegrasikan dalam perhitungan yang makin
kompleks.

9. Pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan suatu asuhan atau


bimbingan yang dilakukan dengan sadar
Pertumbuhan bukan sesuatu yang timbul dengan sendirinya
tanpa adanya pengaruh luar. Langeveld seorang ahli pendidik
belanda mengatakan bahwa anak adalah animal educandum. Artinya
anak adalah binatang yang dapat dididik. Bahkan sebetulnya anak
bukan hanya makhluk yang dapat dididik, tetapi harus dididk, sebab
bila tidak, ia akan mencapai pertumbuhan yang biasanya kita

KELOMPOK 7 15
namakan tidak normal, bahkan mungkun tidak dapat tumbauh sama
sekali.
Implikasinya : Para pendidik harus menyadari secara baik
bahwa apa yang diberikan kepada para peserta didik itu baik dan
sesuai dengan tahapan perkembangannya yang sudah dirancang
secara terencana.

KELOMPOK 7 16
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

SARAN

KELOMPOK 7 17
DAFTAR PUSTAKA

KELOMPOK 7 18