Anda di halaman 1dari 2

BAB 1

PENDAHULUAN

Kegawatan merupakan suatu keadaan dimana seseorang berada dalam keadaan kritis
dan apabila tidak dilakukan suatu usaha atau tindakan akan menyebabkan kematian.
Salah satu kegawat daruratan di bidang neurologi adalah status epileptikus. Walaupun
di Indonesia belum merupakan problem kesehatan masyarakat yang besar.

Sebelum membahas penyakit ini, terlebih dahulu diingatkan kembali mengenai


batasan dari epilepsi. Epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan
(seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermitten
yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-
neuron secara paroksismal dan disebabkan oleh berbagai etiologi.

Status epileptikus ditegakkan apabila kejang yang terjadi bersifat kontinyu, berulang
dan disertai gangguan kesadaran dengan durasi kejang yang berlangsung lebih dari 30
menit. Status epileptikus merupakan kejang yang paling serius karena terjadi terus
menerus tanpa berhenti dimana terdapat kontraksi otot yang sangat kuat, kesulitan
bernapas dan muatan listrik di dalam otaknya menyebar luas sehingga apabila status
epileptikus tidak dapat ditangani segera, maka besar kemungkinan dapat terjadi
kerusakan jaringan otak yang permanen dan dapat menyebabkan kematian.

Oleh karena itu, gejala ini harus dapat dikenali dan ditanggulangi secepat mungkin.
Rata-rata 15% penderita meninggal, walaupun pengobatan dilakukan secara tepat.
Lebih kurang 60-80% penderita yang bebas dari kejang setelah lebih dari 1 jam akan
menderita cacat neurologis atau berlanjut menjadi penderita epilepsi.

Status epileptikus adalah kondisi kejang berkepanjangan yang mewakili keadaan


darurat medis dan neurologis. Menurut International League Against Epilepsy, status
epileptikus adalah aktivitas kejang yang berlangsung terus menerus selama 30 menit
atau lebih.

Studi berbasis populasi di Richmond, VA, Delorenzo et al., memperkirakan bahwa


50,000-200,000 kasus status epileptikus terjadi setiap tahun di Amerika Serikat.
Angka kematian untuk status epileptikus cukup tinggi, sekitar 22%-25% walaupun
dengan terapi obat agresif. Aktivitas kejang yang berlangsung lebih dari 60 menit dan
usia lanjut adalah faktor yang berperan memperburuk diagnosis.

Berdasarkan gejala kejang yang menyertainya, status epileptikus diklasifikasikan


menjadi tiga yakni status epileptikus konvulsif, status epileptikus non-konvulsif, dan
status epileptikus refrakter. Kejang tonik klonik pada status epileptikus konvulsif
menandakan keberlanjutan aktivitas kejang. Hal ini tidak terjadi pada status
epileptikus non konvulsif. Etiologi terjadinya status epileptikus adalah usia, penyakit
cerebrovskular, hipoksia, gangguan metabolik, alkohol, tumor, infeksi trauma, dan
idiopatik.

Pada status epileptikus, baik konvulsif maupun non-konvulsif, tujuan pengobatan


adalah untuk menghentikan secepatnya aktivitas kejang. Diperlukan penatalaksanaan
yang agresif. Obat yang sering digunakan adalah golongan benzodiazepine, fosfeitoin
dan fenobarbital. The American Acedemy of Neurology merekomendasi bahwa
semua pasien status epileptikus juga mendapat tiamin (vitamin B1) dan dektrosa
50%.