Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Stroke adalah penyebab utama kematian dan cacat permanen di seluruh dunia. Terdapat dua
macam jenis stroke yaitu stroke hemoragik (15%) dan stroke iskemik (85%), yang memiliki
karakteristik yang berbeda. Stroke hemoragik memiliki karakteristik berupa perdarahan yang
terakumulasi pada ruang intrakranial, sementara stroke iskemik terjadi karena adanya suplai
aliran darah yang membawa nutrisi dan oksigen ke otak tidak adekuat.1

Sistem saraf pusat merupakan bagian yang membutuhkan suplai nutrisi dan oksigen yang
berkelanjutan dan adekuat karena sifat dari sistem ini yang tidak memiliki kemampuan untuk
menyimpan suatu cadangan energi. Oleh karena itu, bagian dari sistem saraf pusat sangat
bergantung dari suplai darah yang dipompa oleh jantung ke pembuluh darah otak. Segala
gangguan yang menyebabkan suplai darah tidak adekuat ke otak akan menyebabkan stroke
iskemik dan akan memicu inflamasi pada daerah yang mengalami gangguan.2

Peradangan berperan penting dalam patogenesis stroke iskemik, walaupun mekanisme


dasarnya tidak jelas. Peradangan yang terjadi pada daerah otak adalah akibat hipoksia
jaringan karena suplai darah yang tidak adekuat. Iskemia serebral dapat mematahkan
keseimbangan dinamis antara respons pro-inflamasi dan anti-inflamasi. Berbagai peranan
imunitas tubuh dalam memperantarai mekanisme peradangan yang terjadi nantinya akan
diperankan oleh suatu sitokin-sitokin proinflamatori seperti Tumor Necrosis Factor (TNF-α),
interleukin (IL-1, IL-6, IL-10). Pada kondisi paska stroke iskemik, nilai laboratorium sitokin
proinflamatori tersebut nantinya akan mengalami kenaikan pada darah dan cairan
serebrospinal seiring dengan derajat kerusakan dari jaringan parenkim otak. Oleh karena itu,
pada penilaian nilai laboratorium tersebut pada penderita stroke iskemik dapat digunakan
untuk menentukan kejadian stroke dan memperkirakan tingkat kerusakannya.1
Tumor Necrosis Factor(TNF-α) merupakan sitokin proinflamatori yang paling dominan dan
memainkan peranan penting pada kejadian stroke iskemik. Studi penelitian terkait TNF-α
telah banyak dilakukan, dan dinyatakan bahwa TNF-α memiliki dua peranan penting, yaitu
sebagai neuroprotektor dan perusak neuron. Studi yang dilakukan tersebut menghasilkan dua
pemahaman yang saling tumpang tindih dan masih menjadi kontroversi tentang peranan
TNF-α pada stroke iskemik.3

Pada sistem saraf pusat (SSP) TNF-α menggunakan peran homeostasis dan patofisiologis.
Dalam SSP yang sehat, TNF-α memiliki fungsi pengaturan pada proses fisiologis penting
seperti plastisitas sinaptik, pembelajaran dan memori, tidur, asupan makanan dan air, dan
penguatan sinaptik yang diinduksi secara astrosit. Dalam kondisi patologis, astrosit dan
terutama mikroglia melepaskan sejumlah besar TNF-α; produksi de novo dari sitokin ini
adalah komponen penting dari respons neuroinflamasi yang disebut yang dikaitkan dengan
beberapa gangguan neurologis. Selain itu, TNF-α dapat mempotensiasi sitotoksisitas yang
dimediasi glutamat oleh dua mekanisme pelengkap: secara tidak langsung, dengan
menghambat transport glutamat pada astrosit, dan secara langsung, dengan meningkatkan
lokalisasi reseptor glutamat ionotropika ke sinapsis. Neuroinflamasi dan eksitotoksisitas
memiliki peran kunci sebagai pemicu dan penyintas proses neurodegeneratif dan dengan
demikian, peningkatan kadar TNF-α telah ditemukan pada cedera otak traumatis, iskemia,
penyakit Alzheimer (AD), penyakit Parkinson (PD), multiple sclerosis (MS) , dan
amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Tinjauan ini merangkum pengetahuan mekanisme
seluler dan molekuler saat ini dimana TNF-α menjelaskan peran utamanya dalam
menghubungkan proses neuroinflamasi yang terjadi pada stroke iskemik.3

1. Jin R, Liu L, Zhang S, Nanda A, Li G. Role of inflammation and its mediators in


acute ischemic stroke. 2013 J Cardiovasc Transl Res ; 6(5):1-31
2. Tapuwa D, Musuka, Stephen B, Wilton, Mouhiddien Traboulsi, Michael DH.
Diagnosis and Management of acute ischemic stroke: speed is critical. CMAJ 2015;
187(12):887-93
3. Olmos G, Llado J. Tumor Necrosis Alpha: A link between Neuroinflammation and
Excitotoxicity. 2014. Mediators of Inflammation; 24:1-12