Anda di halaman 1dari 42

Konstitusionalisme Indonesia #1:

Konstitusi dan Konstitusionalisme


ON JANUARY 16, 2012 BY WAHYUDIDJAFARIN HUKUM DAN HAM , KONSTITUSIONALISM E

Kendati belum terinstitusi secara apik, dan tegas disebut sebagai


konstitusionalisme, dalam sejarahnya, paham konstitusionalisme—
constitutionalism—pada dasarnya sudah hadir semenjak tumbuhnya demokrasi
klasik Athena. Politeia yang menjadi bagian dari kebudayaan Yunani, merupakan
embrio awal lahirnya gagasan konstitusionalisme. Dalam
istilah Politeia mengandung makna:

“all the innumerable characteristic which determine that state’s peculiar nature, and
these include its whole economic and social texture as well as matters governmental
in our narrower modern sense. It is a purely descriptive term, and as inclusive in its
meaning as our own use of the world constitution when we speak generally of man’s
constitution or of the constitution of matter.”[1]

Ahli-ahli hukum pada periode Yunani Kuno, seperti Plato, Socrates, dan Aristoteles
pun mengakui telah hadirnya semangat konstitusionalisme dalam praktik
ketatanegaraan polis Athena. Aristoteles, dalam bukunyaPolitics, menyatakan: “A
constitution (or polity) may be defined as the organization of a polis, in respect of its
offices generally, but especially in respect of that particular office which is souverign
in all issues.”[2] Namun demikian, belum tegasnya pemisahan antara negara dan
masyarakat dalam model pemerintahan negara kota Athena, yang berarti
warganegara sekaligus pula menjadi pelaku-pelaku kekuasaan politik yang
memegang peran dalam fungsi legislatif dan pengadilan, telah mengakibatkan abu-
abunya paham konstitusionalisme Yunani Kuno. Keharusan untuk berpartisipasi
langsung dalam proses bernegara, mengakibatkan perihal yang sifatnya publik dan
yang privat berjalan berkelindan. Kekaburan antara negara dan masyarakat dalam
demokrasi murni, yang menghendaki partisipasi secara langsung inilah, yang
memicu tidak simpatinya Plato dan Aristoteles terhadap demokrasi. Menurut
Aristoteles, suatu negara yang menerapkan demokrasi murni, dengan kekuasaan
tertinggi berada di tangan suara terbanyak, dan kekuasaan menggantikan hukum,
telah berpotensi melahirkan para pemimpin penghasut rakyat, yang menyebabkan
demokrasi tergelincir menjadi despotisme.[3]

Berangkat dari kritik Aristoteles itulah, pada masa Romawi Kuno, lahir gagasan
tentang arti penting sebuah konstitusi. Konstitusi diharapkan dapat mencerminkan
dan menyeimbangkan kepentingan-kepentingan dari semua golongan politik
menjadi suatu harapan.[4] Pada periode Romawi Kuno konstitusi mulai dipahami
sebagai suatu kekuatan di atas negara, konstitusi dimaknai sebagai suatu aturan
yang menjadi pedoman bagi bangunan kenegaraan, yang hendak didirikan berdasar
pada prinsip the higher law—konstitusi. Gagasan konstitusionalisme selanjutnya
dirangkai sebagai suatu upaya membatasi kekuasan agar tidak berperilaku
sewenang-wenang dan korup. Lord Acton mengungkapkan, manusia yang
mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, tetapi
manusia yang mempunyai kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya
secara tak terbatas pula—powers tends to corrupt, but absolute power corrupts
absolutely.[5] Karena itu kekuasaan harus dibatasi oleh konstitusi—the limited state.
Konstitusi menjamin hak-hak warganegara, dan mengatur penyelenggaraan negara
dengan pembagian sedemikian rupa, sehingga kekuasaan eksekutif diimbangi oleh
kekuasaan legislative dan lembaga-lembaga yudikatif.

Carl J. Friedrich memberi tafsiran kepada konstitusionalisme sebagai suatau


gagasan pemerintahan yang di dalamnya merefleksikan:
“a set of activities organized by and operated on behalf of the people, but subject to
a series of restraints which attempt to ensure that the power which is needed for
such governance is not abused bay those who ara called upon to do the
governing—suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas nama
rakyat, tetapi yang dikenakan beberapa pembatasan yang diharapkan akan
menjamin bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan itu tidak
disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.”[6]

Jhon Alder, mengungkapkan bahwa the rule of law dan pemisahan kekuasaan—
separation of powers—sebagai dua aspek utama yang menegakkan
konstitusionalisme, hukum harus membatasi kekuasaan pemerintahan. Secara
lengkap dikatakan, “the concepts of the rule of law and the separation of powers are
aspects of the wider notion of ‘constitutionalism’, that is, the idea that governmental
power should be limited by law.”[7] Sedangkan menurut Annen Junji,
konstitusionalisme ialah sebuah bentuk pembatasan terhadap kekuasaan politik
melalui suatau konstitusi. Senada dengan Junji, Lane mendefinisikan
konstitusionalisme sebagi doktrin politik, yang secara tegas menyatakan bahwa
otoritas politik harus dibatasi oleh sebuah lembaga yang membatasi pelaksanaan
kekuasaan.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Scott Gordon, yang menganggap


konstitusionalisme sebagai suatu sistem politik yang memberlakukan pembatasan-
pembatasan terhadap pelaksanaan kekuasaan politik. Melengkapi pendapat
sebelumnya, Walter M. Murphy mengemukakan bahwa inti lainnya dari
konstitusionalisme adalah perlindungan terhadap hak asasi manusia.[8] Selanjutnya
William G. Andrews membagi pembatasan kekuasaan—limited government,
menjadi dua tipe. Kedua tersebut meliputi hubungan antara pemerintah dengan
warganegara, dan hubungan antara lembaga pemerintahan yang satu dengan yang
lain—under constitutionalism, two types of limitations impinge on government.
Power proscribe and procedures prescribed—kekuasaan melarang dan prosedur
ditentukan.[9]

Menurut Charles Howard McIlwain, seperti dikutip Denny Indrayana, dikatakan:

“… in all its successive phases, constitutionalisme has one essential quality: it is a


legal limitation on government; it is the antithesis of arbitrary rule; its opposite is
despotic government, the government of will instead of law … the most persistent
and the most lasting essentials of true constitutionalism still remains what it has
been almost from the beginning, the limitation of government by law—kualitas
penting dari konstitusionalisme, bahwa ia adalah pembatasan legal terhadap
pemerintahan, ia adalah antithesis dari kekuasaan yang sewenang-wenang, ia
adalah kebalikan dari pemerintahan yang despotis, pemerintahan yang dikehendaki
bukan oleh hukum. Esensi konstitusionalisme masih tetap sama semenjak dahulu,
yaitu pembatasan pemerintahan oleh hukum.”[10]

Andrew Heywood memaknai konstitusionalisme ke dalam dua sudut pandang.


Dalam ruang lingkup yang sempit konstitusionalisme dapat ditafsirkan sebatas
penyelenggaraan negara yang dibatasi oleh undang-undang dasar. Artinya, suatu
negara dapat dikatakan menganut paham konstitusionalisme jikalau lembaga-
lembaga negara dan proses politik dalam negara tersebut secara efektif dibatasasi
oleh konstitusi. Dalam pengertian yang luas, konstitusionalisme adalah perangkat
nilai dan manifestasi dari aspirasi politik warganegara, yang merupakan cerminan
dari keinginan untuk melindungi kebebasan, melalui sebuah mekanisme
pengawasan, baik internal maupun eksternal terhadap kekuasaan
pemerintahan.[11]

Sementara Richard S. Kay, memberi makna kepada konstitusionalisme sebagai


berikut:
Constitusionalism implements the rule of law; It brings about predictability and
security in the relations of individuals and the government by defining in advance the
powers and limits of that government—pelaksanaan aturan-aturan hukum dalam
hubungan individu dengan pemerintah. Konstitusionalisme menghadirkan situasi
yang dapat memupuk rasa aman, karena adanya pembatasan terhadap wewenang
pemerintah yang telah ditentukan lebih dahulu.[12]

Daniel S. Lev dalam studinya mengenai konstitusionalisme Indonesia dan Malaysia


memaknai konstitusionalisme sebagai suatu proses politik—baik dengan atau tanpa
konstitusi tertulis—yang sedikit banyak berorientasi pada aturan dan institusi publik,
yang dimaksudkan untuk menentukan batas penggunaan kekuasaan politik. Lebih
lanjut dikatakan konstitusionalisme, yang memiliki kedudukan di atas rule of
law dan rechtstaat, adalah suatu paham ‘negara terbatas’, dimana kekuasaan politik
resmi dikelilingi oleh hukum yang akan mengubah kekuasan menjadi wewenang
yang ditentukan secara hukum, sehingga pada intinya konstitusionalisme adalah
suatu proses hukum yang mengatur masalah pembagian kekuasaan dan
wewenang.[13]

Sesungguhnya konstitusionalisme adalah suatu paham yang sudah sangat tua,


yang hadir sebelum lahirnya gagasan tentang konstitusi. Terbutkti
konstitusionalisme sudah menjadi anutan semenjak pemerintahan polis—negara
kota jaman Yunani Kuno, masa Romawi Kuno, dan sejarah kekhalifahan Islam,
sebagaimana terungkap dalam Piagam Madinah. Sederhananya konstitusionalisme
dihadirkan dengan tujuan untuk menjaga berjalannya pemerintahan secara tertib.
Hal ini seperti diutarakan Walton H. Hamilton, bahwa constitutionalism is the name
given to the trust which men respose in the power of words engrossed on parchment
to keep a government in order.[14] Meski telah tua usianya, akan tetapi
konstitusionalisme masih menjadi satu paham yang paling efektif untuk mengelola
kekuasaan pada masa modern saat ini. Seperti dikatakan pemikir politik
kontemporer Gabriel A. Almond, yang menyatakan bahwa bentuk pemerintahan
terbaik yang bisa diwujudkan adalah pemerintahan campuran atau pemerintahan
konstitsuional, yang membatasi kebebasan dengan aturan hukum dan juga
membatasi kedaulatan rakyat dengan institusi-institusi negara yang menghasilkan
ketertiban dan stabilitas.[15]

Menurut William G. Andrews, tiga Konsensus yang menjamin prinsip dasar


tegaknya konstitusionalisme pada jaman modern ini adalah sebagai berikut:[16]

1. The general goals of society or general acceptance of the same philosophy of


government—kesepakatan tentang tujuan atau cita-cita bersama.
2. The basis of government—kesepakatan tentang the rule of law sebagai landasan
pemerintahan atau penyelenggaraan negara.
3. The form of institutions and procedures—kesepakatan tentang bentuk institusi-
institusi dan prosedur-prosedur ketatanegaraan.

Dalam konteks Indonesia, Soedjatmoko, salah seorang anggota Dewan


Konstituante mengemukakan, bahwa ciri-ciri dasar negara konstitusional adalah
sebagai berikut:

“Fungsi daripada konstitusi di dalam masyarakat itu ialah, tentunya menentukan


batas-batas daripada kekuasaan politik terhadap kebebasan anggota masyarakat
itu, akan tetapi di samping itu juga hal lain yang ini saya tegaskan, fungsinya
konstitusi di dalam suatu masyarakat yang bebas itu ialah untuk menentukan
prosedur serta alat-alatnya untuk menyalurkan dan menyesuaikan pertentangan
politik serta pertentangan kepentingan yang terdapat di dalam tubuh
masyarakat.”[17]

Sementara Jimly Ashiddiqie menguraikan, bahwa konsensus yang menjaga


tegaknya konstitusionalisme Indonesia adalah lima prinsip dasar Pancasila, yang
berfungsi sebagai landasan filosofis-ideologis dalam mencapai dan mewujudkan
empat tujuan negara. Kelima prinsip dasar tersebut adalah: (1) ke-Tuhanan Yang
Maha Esa; (2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab; (3) Persatuan Indonesia; (4)
Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan
Perwakilan; dan (5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sedangkan
keempat tujuan negara yang musti dicapai meliputi: (1) melindungi segenap bangsa
dan seluruh tumpah darah Indonesai; (2) meningkatkan kesejahteraan umum; (3)
mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan kedilan sosial.[18] Berangkat
dari konsensus yang berfungsi sebagai landasan filosofis-ideologis itulah
selanjutnya disusun konstitusi Indonesia, yang materi muatannya merupakan
cerminan dari paham konstitusionalisme yang dianut Indonesia.

[1] Charles Howard McIlwain, Constitutionalism: Ancient and Modern, (Ithaca:


Cornell University Press, 1966), hal. 26. Seperti dikutip Jimly Ashiddiqie,
dalam Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, (Jakarta: Konstitusi Press,
2005), hal. 1.

[2] Jimly Ashiddiqie, dalam Ibid., hal. 7. Seperti dikutip dari Ernest Barker (ed
and trans), The Politics of Aristotle, (New York-London: Oxford University Press,
1958), chapter xi.

[3] Larry Diamond, Developing Democracy Toward Consolidation, (Maryland:


The Johns Hopkins University Press, 1999), hal. 2. Seperti dikutip dari Stephen
Everson (ed), Aristotle: The Politics, (Cambridge: Cambridge University Press,
1988), page 1292.
[4] David Held, Democracy and the Global Order: From the Modern State to
Cosmopolitan Governance (terj—Damanhuri), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),
hal.8.

[5] Lord Acton, Letter to Bishop Mandell, (Creighton, 1887), seperti dikutip
Miriam Budiardjo, dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik (edisi revisi), (Jakarta: Gramedia,
2008), hal. 107.

[6] Miriam Budiardo, Ibid., hal. 171, seperti dikutip dari Carl
Friedrich, Constitutional Government and Democracy, (Walheim, Mass: Blaisdell,
1967), bab vii. Lihat juga Denny Indrayana, Indonesian Constitutional…, Op. Cit., hal
92.

[7] Jhon Alder, Constituional and Administrative Law, (London: Macmillan


Education LTD, 1989), page 39.

[8] Denny Indrayana, Indonesian Constitutional…, Op. Cit., hal. 92-93.

[9] Jimly Ashiddiqie, Op. Cit., hal. 29.

[10] Denny Indrayana, Indonesian Constitutional…, Op. Cit., hal. 93. Seperti
dikutip dari Charles Howard McIlwain, Constitutionalism …, Op. Cit., hal. 21-22.

[11] Andrew Heywood, Politics, (New York: Palgrave, 2002), hal. 297. Seperti
dikutip Miriam Budiardjo dalam Op.Cit., hal. 172.

[12] Larry Alexander (ed), Constitutionalism: Philosopical Foundations,


(Cambridge: Cambridge University Press, 1999), hal. 4.
[13] Daniel S. Lev, Gerakan Sosial, Konstitusionalisme dan Hak Asasi, dalam
Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia: Kesinambungan dan Perubahan,
(Jakarta: LP3ES, 1990), hal. 513-515.

[14] Jimly Ashiddiqie, Op. Cit., hal. 23-24, seperti dikutip dari Walton H.
Hamilton, Constitutionalism, dalam Edwin R.A, etc (eds),Encyclopedia of Social
Sciences, 1931, hal. 255.

[15] Gabriel A. Almond, Political Science: The History of the Discipline, dalam
Robert E. Goodin and Hans-Dieter Klingemann (eds), A New Handbook of Political
Science, (Oxford: Oxford University Press, 1996), hal. 53-61.

[16] Jimly Ashiddiqie, Op. Cit., hal 25. Seperti dikutip dari William G.
Andrews, Constitutions and Constitutionalism, (New Jersey: Van Nostrand
Company, 1968), hal. 12-13.

[17] Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di


Indonesia: Studi Sosio Legal atas Konstituante 1956-1959, (Jakarta: Pustaka Utama
Grafiti, 1995), hal. 129. Seperti dikutip Risalah sidang Konstituante, 1957/VII, hal.
219).
Konstitusionalisme adalah suatu sistem yang terlembagakan, menyangkut pembatasan yang
efektif dan teratur terhadap tindakan-tindakan pemerintah. Gagasan mengatur dan
membatasi kekuasaan ini secara alamiah muncul karena adanya kebutuhan untuk merespon
perkembangan peran relative kekuasaan umum dala m kehidupan umat manusia.
Konstitusionalisme sebenarnya merupakan antitesis dari paham sentralisasi yang dulu marak
berkembang di eropa pada abad pertenahan. Raja atau penguasa sebagai inti kekuasaan
memerintah dengan tangan besi, sewenang -wenang. Perkembangan sentralisme ini
mengambil bentuknya dalam doktrin ‘king-in-parliament’ yang pada pokoknya mencerminkan
kekuasaan raja yang tidak terbatas. Perkembangan ini pada akhirnya menimbulkan
kekecewaan dan ketidakpuasan di mata rakyat yang kemudian menginginka n reformasi
konsep kekuasaan penguasa. Dari sinilah kemudian lahir istilah pembatasan kekuasaan yang
dikenal dengan istilah konstitusionalisme. Sehingga tidak heran jika kemudian
konstitusionalisme dianggap sebagai sebuah keniscayaan di zaman modern sepert i sekarang.

Basis pokoknya adalah kesepakatan umum atau persetujuan (consensus) di antara


mayoritas rakyat mengenai
bangunan yang diidealkan berkenaan dengan negara. Organisasi negara itu diperlukan
oleh warga masyarakat politik agar kepentingan mereka bersama dapat dilindungi atau
dipromosikan melalui pembentukan dan penggunaan mekanisme yang disebut negara. Kata
kuncinya adalah konsensus atau ‘general agreement’. Jika kesepakatan umum itu runtuh,
maka runtuh pula legitimasi kekuasaan negara yang bersangkutan, dan pada gilirannya
perang saudara dapat terjadi.

Konsensus yang menjamin tegaknya konstitusionalisme di zaman modern pada umumnya


dipahami bersandar pada tiga elemen:

1. Kesepakatan tentang tujuan atau cita-cita bersama (the general goals of society or
general acceptance of the same philosophy of government). Ini berkenaan dengan cita -cita
bersama yang sangat menentukan tegaknya konstitusi dan konstitusionalisme di suatu
Negara. Karena cita-cita bersama itulah yang pada puncak abstraksinya paling mungkin
mencerminkan kesamaan-kesamaan kepentingan di antara sesame warga masyarakat yang
pada kenyataannya harus hidup di tengah pluralisme atau kemajemukan.

2. Kesepakatan tentang ‘the rule of law’ sebagai landasan pemerintahan a tau


penyelenggaraan negara (the basis of government). Bahwa basisi pemerintahan didasarkan
atas aturan hokum dan konstitusi. Kesepakatan ke dua ini juga sangat prinsipal karena
dalam setiap Negara harus ada keyakinan bersama bahwa apapun yang hendak dilaku kan
dalam konteks penyelenggaraan Negara haruslah di dasarkan atas ‘ruke of the game’ yang
ditentukan bersama.

3. Kesepakatan tentang bentuk institusi -institusi dan prosedur-prosedur ketatanegaraan


(the form of institutions and procedures). Kesepakatan ini berkenaan dengan:
a. Bangunan organ Negara dan prosedur-prosedur yang mengatur kekuasaannya.
b. Hubungan-hubungan antar organ Negara itu dengan sama lain
c. Hubungan antar organ-organ itu dengan warga Negara

Dengan adanya kesepakatan itu, maka isi konstitusu dapat dirumuskan dengan mudah
karena benar-benar mencerminkan keinginan bersama berkenaan dengan institusi
kenegaraaan dan mekanisme ketatanegaraan yang hendak dikembangkan dalam kerangka
kehidupan Negara berkonstitusi.
Keseluruhan kesepakatan tersebut di atas, pada intinya menyangkut prinsip pengaturan
dan pembatasan kekuasaan. Konstitusionalisme mengatur dua hubungan yang saling
berkaitan satu sama lain, yaitu: Pertama, hubungan antara pemerintah dan warga Negara;
dan Kedua: hubungan antara lembaga pemerintahan yang satu dengan lembaga
pemerintahan yang lain. Karena itu, biasanya isi konstitusi dimaksudkan untuk mengatur
mengenai tigal hal yang penting, yaitu:

a) Menentukan pembatasan kekuasaan organ-organ Negara


b) Mengatur hubungan antara lembaga-lembaga Negara yang satu dengan yang lain
c) Mengatur hubungan kekuasaan antara lembaga -lembaga Negara dengan warga Negara

Carl J. Friedrich[sunting | sunting sumber]


Menurut Carl J. Friedrich dalam bukunya yang berjudul constitutional Government and Democracy,
konstitusionalisme merupakan gagasan bahwa pemerintahan merupakan:

“Suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat, tetapi yang dikenakan
beberapa pembatasan yang diharapkan akan menjamin kekuasaan yang diperlukan untuk
pemerintahan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.” –
Carl J. Friedrich[1]

Richard S. Kay[sunting | sunting sumber]


Menurut Richard S. Kay, konstitusionalisme adalah:

“Pelaksanaan aturan-aturan hukum (rule of law) dalam hubungan individu dengan pemerintah.
Konstitusionalisme menghadirkan situasi yang dapat memupuk rasa aman, karena adanya
pembatasan terhadap wewenang pemerintah yang telah ditentukan lebih dahulu.” – Richard S.
Kay[7]

Jadi, menurut Richard S. Kay, konsep rule of law dan rechtsstaat merupakan inti dari
konstitusionalisme yang nantinya akan melahirkan demokrasi konstitusional.

Andrew Heywood[sunting | sunting sumber]


Andrew Heywood melihat konstitusionalisme dari dua sudut pandang. Dalam arti sempit,
konstitusionalisme adalah: “Konstitusionalisme adalah penyelenggaraan pemerintahan yang dibatasi
oleh sistem perundang-undangan.” – Andrew Heywood Dalam arti sempit itu, dengan kata lain,
konstitusionalisme ada apabila lembaga-lembaga pemerintahan dan proses politik dibatasi secara
efektif oleh aturan-aturan konstitusi.[7]

Sementara, pengertian konstitusionalisme dalam arti luas menurut Andrew Heywood adalah:
“Konstitusionalisme merupakan perangkat nilai dan aspirasi politik yang mencerminkan adanya
keinginan untuk melindungi kebebasan dengan melakukan pengawasan (checks) internal maupun
eksternal terhadap kekuasaan pemerintah.” – Andrew Heywood

Jadi, dalam pengertian luasnya, konstitusionalisme adalah bagian penting


dari demokrasi konstitusional.[7]

KLASIFIKASI DAN KEDU DUKAN KONSTITUSI,


KONSTITUSIONALISME NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA
24 April 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Konstitusi dan konstitusionalisme jika dilihat dari segi bahasa dan inti maknanya hampir
memiliki kesamaan. Namun secara penggunaan atau penerapannya pastilah sangatlah berbeda.
Gagasan konstitusi sebenarnya secara umur tidaklah setua dengan konstitusionalisme. Konstitusi
bisa saja diartikan sebagai segala ketentuan dan aturan mengenai ketatanegaraan, atau Undang-
Undang Dasar suatu negara. Dengan kata lain, segala tindakan dan/atau perilaku setiap orang
maupun penguasa ditiap-tiap negara berupa kebijakan-kebijakan yang tidak didasarkan atau
menyimpangi konstitusi, berarti kebijakan tersebut adalah tidak sesuai dengan konstitusi suatu
negara (konstitusional). Berbeda halnya dengan konstitusionalisme, yang mana
konstitusionalisme lebih sering diartikan sebagai “suatu paham mengenai pembatasan kekuasaan
dan jaminan hak rakyat melalui konstitusi”.[1]
Melihat sepintas dalam sejarah timbulnya konstitusi negara, sebenarnya merupakan proses
sejarah yang panjang dan selalu menarik untuk dikaji, “sebagai suatu kerangka kehidupan politik
telah disusun melalui dan oleh hukum, yaitu semenjak zaman Yunani Kuno dimana mereka telah
mengenal beberapa kumpulan hukum. Pada masa kejayaan tahun 624-404 SM, Athena pernah
mempunyai tidak kurang dari 11 konstitusi. Koleksi Aristoteles sendiri berhasil terkumpul
sebanyak 158 buah konstitusi dari berbagai negara”.[2] Sehingga konstitusi pada waktu itu
dianggap oleh masyarakat hanya sebagai suatu perkumpulan dari peraturan serta adat kebiasaan
semata-mata.
Setelah melewati masa klasik di era Yunani kuno, pada masa Romawi Kuno, konstitusi hanyalah
sekedar memiliki makna sebagai tindakan pemerintahan, tidak ada sangkut pautnya dengan
konstitusi dalam terminologi modern. Akan tetapi Konstitusi Roma waktu itu sangat mempunyai
pengaruh cukup besar sampai abad pertengahan. Selanjutnya sebelum bergeser pada pemikir-
pemikir barat mengemukakan adanya konstitusi modern di eropa kontinental, sejarah Islam
terlebih dahulu mencatat bahwa pada abad VII telah lahir konstitusi / piagam Madinah, yang
mana piagam Madinah tersebut adalah konstitusi negara Madinah yang dibentuk oleh Rasulullah
SAW pada awal masa klasik Islam. Telah lahir konstitusi tertulis pertama yang kemudian dikenal
dengan konstitusi Madinah atau Konstitusi modern.
Bahwa Konstitusionalisme sebenarnya merupakan antitesis dari paham sentralisasi yang dulu
marak berkembang di eropa pada abad pertenahan. Raja atau penguasa sebagai inti kekuasaan
memerintah dengan tangan besi, sewenang-wenang. Perkembangan sentralisme ini mengambil
bentuknya dalam doktrin “king in parliament” yang pada pokoknya mencerminkan kekuasaan
raja yang tidak terbatas. Perkembangan ini pada akhirnya menimbulkan kekecewaan dan
ketidakpuasan di mata rakyat yang kemudian menginginkan reformasi konsep kekuasaan
penguasa. Dari sinilah kemudian lahir istilah pembatasan kekuasaan yang dikenal dengan istilah
konstitusionalisme. Sehingga tidak heran jika kemudian konstitusionalisme dianggap sebagai
sebuah keniscayaan di zaman modern seperti sekarang.
Sepertihalnya Indonesia yang merupakan sebuah Negara Kesatuan sudah sepantasnya
mempunyai konstitusi atau Undang-Undang Dasar (UUD). Karena Negara dan konstitusi
merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Berkenaan
dengan konstitusi Indonesia berupa UUD 1945 yang merupakan hukum tertulis yang tertinggi,
maka kehidupan konstitusial pun merupakan kehidupan hukum yang mengikat dan harus
dipatuhi oleh stiap warga negara. Seluruh kehidupan konstitusional di Negara Indonesia, baik
yang tercantum dalam batang tubuh UUD maupun yang terkandung dalam aturan-aturan dasar
yang tidak tertulis yang berkembang dalam praktik ketatanegaraan, semua mengikat warga
negara sebagai hukum.

B. Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, maka penulis
akan mengemukakan perumusan masalah yang akan menjadi pokok bahasan dalam makalah ini,
antara lain:

1. Bagaimanakah hubungan antara konstitusi dan konstitusionalisme?


2. Bagaimanakah klasifikasi konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia?
3. Bagaimanakah kedudukan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia?

C. Tujuan
Bahwa sesuai dengan perumusan masalah yang akan penulis uraikan pada makalah sederhana ini
maka yang menjadi tujuan dari makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui hubungan antara konstitusi dan konstitusionalisme.


2. Untuk mengetahui klasifikasi konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Untuk mengetahui kedudukan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hubungan Antara Konstitusi Dan Konstitusionalisme
Sebelum membahasan tentang hubungan antara Konstitusi dan Konstitusionalisme, maka sudah
sepatutnya untuk terlebih dahulu memahami apa itu Konstitusi dan konstitusionalisme.
Meskipun para ilmuan memiliki banyak definisi tentang Konstitusi, namun secara pengertian
umum Konstitusi biasa disebut sebagai ketentuan-ketentuan yang mengatur suatu Negara baik
dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis. Konstitusi berasal dari bahasa
Prancis “constituer” yang berarti membentuk. Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan
ialah pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan suatu negara.[3].
Konstitusi dapat diartikan sebagai sekelompok ketentuan yang mengatur organisasi Negara dan
susunan pemerintahan suatu Negara Sedangkan istilah Undang-Undang Dasar merupakan
terjemahan istilah yang dalam bahasa belandanya grondwet. Perkataan diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia undang-undang, dan grond berarti tanah/dasar. Terkait dengan pertanyaan apa
itu konstitusi yakni jawabannya menurut Jhon Alder dalam bukunya Constitutional and
Administrative Law, memberikan jawaban sebagai berikut:
“the term constitution means a foundation or basis, and the constitution of a country embodies
the basic framework or rules about the government of that country and about its fundamental
values.”[4].
Hans Kelsen dalam bukunya General Theory of Law and State, membagi pengertian konstitusi
menjadi konstitusi dalam arti formal dan konstitusi dalam pengertian materil. Menurut Kelsen
dalam pengertian formal konstitusi adalah :
“Suatu dokumen resmi, seperangkat norma hukum yang hanya dapat diubah di bawah
pengawasan ketentuan-ketentuan khusus, dengan tujuan untuk menjadikan perubahan norma-
norma tersebut menjadi lebih sulit. Sedangkan dalam arti materil konstitusi adalah dokumen
hukum yang berisi peraturan-peraturan yang mengatur tentang pembentukan norma-norma
hukum yang bersifat umum, khususnya pembentukan undang-undang.[5]
Negara pada umumnya selalu meiliki naskah yang disebut sebagai konsitusi atau Undang-
Undang Dasar. Dalam konsep konstitusi tercakup pengertian tertulis, kebiasaan dan konvensi
negara yang menentukan susunan dan kedudukan organ organ negara, mengatur hubungan antar
organ-organ negara itu, dan mengatur hubungan organ-organ negara itu dengan warga negara.
Konstitusi juga mengatur pembatasan kekuasaan. Berlakunya suatu konstitusi sebagai hukum
dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut
suatu negara. Konstitusi merupakan hukum yang lebih tinggi bahkan paling tinggi serta paling
fundamental sifatnya, karena konstitusi itu sendiri merupakan sumber legitimasi atau landasan
otorisasi bentuk-bentuk hukum atau peraturan perundangan lainnya.

Sedangkan Konstitusionalisme adalah pembatasan kewenangan yang dimiliki oleh suatu


lembaga negara, tidak hanya terhadap sesamanya namun juga terhadap hak kebebasaan warga
negara. Bahwa apabila lembaga-lembaga negara baik terhadap sesamanya maupun dihadapan
hak warga negara pada asasnya terbatas, sedangkan hak-hak konstitusional warga negara yang
dinalar sebagai bagian dari hak kodrati pada asasnya tidak terbatas. Pembatasan, apabila
diperlukan hanya bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan para warga negara sendiri, lewat suatu
proses yang dilaksanakan dalam suasana yang bebas. Bahwa dalam sejarahnya, paham
“constitutionalism” pada dasarnya sudah hadir semenjak tumbuhnya demokrasi klasik
Athena. Politeia yang menjadi bagian dari kebudayaan Yunani, merupakan embrio awal lahirnya
gagasan konstitusionalisme. Dalam istilah Politeia mengandung makna:
“all the innumerable characteristic which determine that state’s peculiar nature, and these
include its whole economic and social texture as well as matters governmental in our narrower
modern sense. It is a purely descriptive term, and as inclusive in its meaning as our own use of
the world constitution when we speak generally of man’s constitution or of the constitution of
matter”.[6]

Kemudian berkembang ke zaman romawi kuno melalui Cicero “constitutio”,konstitusionalisme


dalam piagam madinah, hingga akhirnya konstitusi dan konstitusionalisme di zaman modern
seperti saat ini. Konstitusionalisme mengakui adanya hukum yang lebih tinggi daripada tindakan
negara, dan tindakan negara akan dinilai berdasarkan Hukum yang Lebih Superior tersebut.
Konstitusionalisme bersifat unik dan mempunyai pengaruh besar dalam menciptakan suatu
dokumen tertulis berdasarkan persetujuan publik yang tidak hanya secara jelas kelihatan tetapi
juga secara hukum dapat ditegakkan terhadap penyelenggara negara. Konstitusionalisme
memberikan status hukum pada sejumlah prinsip pemerintahan yang adil. Jadi antara konstitui
dengan konstitusionalime sangat erat hubungannya, jika konstitusi merupakan suatau dasar atau
landasan yang digunakan oleh sebuah negara, maka konstitusionalisme merupakan sebuah
paham atau ajaran tentang tata cara dan/atau proses dalam pembatasan hak-hak kodrati warga
negara yang ada di dalam konstitusi itu sendiri.
1. Klasifikasi Konstitusi NKRI
Konstitusi biasanya diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) hal, yakni Konstitusi tertulis dan tidak
tertulis. Luasnya makna serta ruang lingkup konstitusi, khususnya jika dikaitkan dengan paham
konstitusionalisme, menjadikan beragamnya bentuk-bentuk konstitusi dalam kehidupan politik
dan bernegara modern. Para ahli mengklasifikasikan konstitusi menjadi beberapa bentuk
konstitusi. Klasifikasi kategorisasi ini umumnya didasarkan pada sejumlah hal, pertama dilihat
dari dokumen tersebut dikodifikasikan atau tidak;Kedua, dilihat dari prosedur perubahan
konstitusi; Ketiga, dilihat dari organisasi dan struktur kekuasaan yang menggunakan konstitusi
tersebut dalam menjalankan kekuasaan. Menurut pendapat C.F. Strong membagi konstitusi
menjadi dua kategori, yaitu:
“(1) konstitusi bernaskah (codified constitution) serta konstitusi tidak bernaskah (non-codified
constitution); dan (2) konstitusi lentur (flexible constitution) dan konstitusi kaku (rigid
constitution). Strong menggunakan istilah documentary dan non documentaryconstitution sebab
menurutnya pembedaan konstitusi menjadi konstitusi tertulis (written constitution) dan konstitusi
tidak tertulis (unwritten constitution) adalah suatu pembedaan yang keliru dan menyesatkan.
Kekeliruan tersebut diakibatkan oleh karena tak ada satupun konstitusi di dunia yang seluruhnya
tertulis, maupun sebaliknya tidak ada satupun konstitusi yang seluruhnya tidak tertulis.”[7] .
Namun demikian, pada kenyataanya pengklasifikasian ini tertulis dan tidak tertulis, menjadi
sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Strong pun mengakui adanya kategorisasi ini,
khususnya untuk sebuah kebutuhan yang lebih praktis. Tetapi, dia kembali menegaskan
sesungguhnya konstitusi tertulis adalah konstitusi yang terdokumentasi, sedangkan konstitusi
tidak tertulis ialah konstitusi yang tak terdokumentasi.

UUD 1945 yang merupakan konstitusi Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai sebuah konstitusi
yang terkodifikasi, tertulis, cukup rigid dan kaku, karena memerlukan prosedur khusus jika akan
dilakukan amandemen, tidak seperti prosedur pembentukan undang-undang pada umumnya,
dalam Pasal 37 UUD 1945 amandemen dan/atau perubahan ke empat telah menyebutkan:

 Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurangkurangnya 1/3 dari jumlah anggota
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
 (Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis dan
ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya.
 Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat
dihadiri sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.
 Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan persetujuan
sekurang-kurangnya limapuluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota Majelis
Permusyawaratan Rakyat.
 Khusus mengenai bentuk negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan
perubahan.
Penjelasan secara umum pada UUD 1945 menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar suatu
negara ialah hanya sebagian dari hukum dasar negara itu. Undang-Undang Dasar ialah hukum
dasar yang tertulis, sedangkan disamping undang-undang itu berlaku juga hukum dasar yang tak
tertulis, ialah aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktik penyelenggara
negara, meskipun tidak tertulis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kehidupan ketatanegaraan
Republik Indonesia selain dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah hukum tertulis, juga
memerhatikan kaidah-kaidah hukum yang tak tertulis. Kaidah-kaidah hukum yang tak tertulis itu
tumbuh dan berkembang berdampingan secara paralel dengan kaidah-kaidah hukum yang
tertulis.

Secara keumuman hampir disemua negara-negara modern di dunia di samping mempunyai


konstitusi yang tertulis, dalam praktik penyelenggaraan negara mengakui adanya apa yang
disebut konvensi. Konvensi selalu ada pada setiap sistem ketatanegaraan, terutama pada negara-
negara demokrasi. Untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, konvensi tumbuh menurut atau
sesuai dengan kebutuhan negara Indonesia. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa konvensi
tidak dapat di impor dari sistem ketatanegaraan negara lain yang mungkin berbeda asas dan
karakternya dengan sistem ketatanegaraan Indonesia.

B. Kedudukan Konstitusi Yang Berlaku Di NKRI


Dalam negara modern, penyelenggaraan kekuasaan negara dilakukan berdasarkan hukum
dasar “droit constitutionil”. Undang-Undang Dasar atau verfassung menurut Carl Schmit yaitu
dianggap sebagai “keputusan politik tertinggi”.[8] sehingga konstitusi mempunyai kedudukan
atau derajat supremasi dalam suatu negara. Konstitusi menempati kedudukan yang begitu krusial
di dalam kehidupan ketatanegaraan sebuah Negara sebab konstitusi menjadi tolak ukur
kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh dengan fakta sejarah perjuangan para
pahlawannya. Walaupun konstitusi yang terdapat di dunia ini tidak sama satu dengan lainnya
baik dalam hal bentuk, isi, maupun tujuan namun pada umumnya semuanya memiliki kedudukan
formal yang sama. Menurut K.C. Wheare dalam bukunya Modern Constitusion memberikan
ulasan cukup panjang lebar yang pada intinya “kedudukan konstitusi dalam suatu negara bisa
dipandang dari dua aspek, yaitu dari segi aspek hukum dan aspek moral”.[9]
Jika konstitusi sebagai hukum yang tertinggi haruslah ditaati oleh rakyat maupun oleh alat-alat
kelengkapan negara. berkenaan dengan UUD 1945 sebagai hukum tertulis yang tertinggi, maka
kehidupan konstitusional pun merupakan kehidupan hukum yang mengikat dan harus dipatuhi
oleh setiap warga negara. Seluruh kehidupan konstitusional di Negara Kesatuan Republik
Indonesia, baik yang tercantum dalam batang UUD maupun yang terkandung dalam aturan-
aturan dasar yang tidak tertulis yang berkembang dan terpelihara dalam praktik ketatanegaraan,
semuanya mengikat warga negara sebagai hukum. Karenanya agak keliru jika praktik
penyelenggara negara hanya diuji pada ketentuan-ketentuan UUD tertulis saja dengan
mengabaikan aturan-aturan hukum dasar yang tidak tertulis yang telah dipraktikkan di Indonesia.

Kesadaran dan semangat para penyelenggara negara harus bisa memberi jaminan dalam
melaksanakan UUD secara konstitusional atau sejalan dengan bunyi ketentuan dan jiwa naskah
konstitusi. Akan tetapi jika para penyelenggaranya tidak mempunyai kesadaran dan semangat
yang tinggi demi tercapainya tujuan negara, maka konstitusi tersebut akan memberi arti banyak
bagi kelangsungan hidup bernegara. Berarti pula bisa mengurangi kedudukan supremasi
konstitusi dalam arti hakikatnya. Pada umumnya negara-negara mengakui supremasi UUD di
atas segala peraturan perundang-undangan lainnya, hal mana terbukti dari cara mengubahnya
yang memerlukan prosedur yang lebih berat daripada pembuatan UU. Memang pembuatan UUD
didorong oleh kesadaran politik yang tinggi mengenai keperluan pengaturan penyelenggara
pemerintahan negara sebaik mungkin.

Jelas bahwa UUD 1945 benar-benar merupakan sebuah konstitusi yang mempunyai derajat
tinggi, karena berlaku sebagai hukum dasar yang menempati kedudukan tertinggi dalam hirarki
norma hukum dan perundang-undangan di Indonesia. Bentuk negara kesatuan yang dianut
Indonesia menjadikan UUD 1945 termasuk ke dalam konstitusi kesatuan, dalam sistem
pemerintahan presidensial, yang berbentuk republik dan menganut paham demokrasi.

C. Analisis Klasifikasi Beserta Kedudukan Konstitusi NKRI


Berdasarkan klasifikasi konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, UUD 1945 termasuk
dalam klasifikasi konstitusi yang sangat rijid, konstitusi tertulis dalam arti dituangkan dalam
dokumen dan/atau naskah, konstitusi berderajat tinggi, konstitusi kesatuan bahkan juga termasuk
konstitusi yang menganut sistem pemerintahan campuran. Disinilah bisa diketahui bahwa
konstitusi Indonesia merupakan suatu yang sangat bernilai. Karena UUD 1945 disamping
mengatur ciri-ciri sistem pemerintahan presidensial, juga mengaur ciri-ciri sistem pemerintahan
presidensial, juga mengatur beberapa ciri sistem pemerintahan parlementer. Disinilah keunikan
negara Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Lain dari itu terkait dengan konvensi ketatanegaraan Indonesia, sebagaimana telah disinggung
dalam pembahasan bahwa atas hadirnya konvensi adalah hal yang wajar, karena UUD 1945
mengakomodasi adanya hukum dasar yang tak tertulis yang timbul dan terpelihara dalam praktik
penyelenggaraan negara. Dalam praktik penyelenggaraan negara di masa Orde Lama dan Orde
Baru dapat dianggap sebagai konvensi ketatanegaraan . Praktik-praktik ketatanegaraan tersebut
jelas tidak bertentangan dengan UUD 1945 bahkan sebaliknya konvensi-konvensi konstitusional
tersebut merupakan pelengkap UUD 1945.

Berkaitan dengan masalah supremasi konstitusi, yaitu berkenaan dengan adanya kemungkinan
perubahan konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Realitasnya menunjukkan bahwa tidak semua
negara memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada Undang-Undang Dasar daripada
undang-undang dalam arti formal. Artinya tidak semua Undang-Undang Dasar Memerlukan
persyaratan yang lebih berat untuk perubahan atau amandemennya daripada undang-undang
biasa. Supremasi amandemen terhadap Undang-Undang Dasar penting artinya dalam hal terjadi
keragu-raguan di dalam penafsiran arti dan konsekuensi amandemen terhadap satu bagian atau
keseluruhan Undang-Undang Dasar. Kemungkinan kedua adalah dalam hal ini terjadi kebiasaan
tata negara yang menyimpulkan kaidah baru yang harus dianggap sebagai setaraf dengan
Undang-Undang Dasar dan oleh karenanya mempunyai supremasi yang sama dengan kaidah
hukum yang lainnya.

Dihubungkan dengan pengertian konstitusi dalam arti yang sangat luas dimana bagi negara
dengan konstitusi kaku perbedaan derajad antara berbagai kaidah konstitusional akan berupa
kaidah setaraf Undang-Undang Dasar, kaidah-kaidah setaraf undang-undang, dengan kaidah
setaraf peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. Mungkin jika hal ini
dibandingkan dengan negara-negara selain Indonesia, diantaranya yaitu sepertihalnya Inggris dan
New Zelan dengan konstitusi luwesnya hanya ada jenis kaidah konstitusi, yakni setaraf kaidah
undang-undang dan kaidah dibawah itu.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian latar belakang dan pembahasan serta analisis diatas, mengenai klasifikasi dan
kedudukan konstitusi dan konstitusionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat
disimpulkan bahwa Konstitusi dan/atau Undang-Undang Dasar yang berlaku di Indonesia
dikalsifikasikan dalam dua bentuk yaitu konstitusi tertulis dan tidak tertulis. Sepertihalnya UUD
1945 yang merupakan konstitusi Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai sebuah konstitusi yang
terkodifikasi, tertulis, cukup rigid. Disamping Undang-Undang Dasar 1945, berlaku juga hukum
dasar yang tak tertulis dimana hal tersebut ialah aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara
dalam praktik penyelenggara negara, meskipun tidak tertulis. Kehidupan ketatanegaraan
Republik Indonesia selain dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah hukum tertulisnya, juga
memerhatikan kaidah-kaidah hukum yang tak tertulis. Kaidah-kaidah hukum yang tak tertulis itu
tumbuh dan berkembang berdampingan secara paralel dengan kaidah-kaidah hukum yang
tertulis. Negara Kesatuan Republik Indonesia juga memposisikan UUD 1945 benar-benar
merupakan sebuah konstitusi yang mempunyai derajat paling tinggi, karena berlaku sebagai
hukum dasar negara yang menempati kedudukan tertinggi dalam hirarki norma-norma hukum
dan perundang-undangan di Indonesia. Oleh karena itu sudah jelas bahwa supremasi UUD 1945
di atas segala peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku di Indonesia.

B. Saran
Bahwa berdasarkan uraian pembahasan, analisis dan kesimpulan diatas maka sudah sepantasnya
penulis memberikan saran-saran dan/atau rekomendasi terkait klasifikasi dan kedudukan
konstitusi, konstitusionalisme NKRI sebagai berikut:

1. Bahwa terkait dengan konstitusi tertulis yang berlaku di Indonesia yang saat ini walaupun
sudah mengalami perubahan selama empat kali, tetap perlu untuk diadakan perubahan lanjutan
yang mendasar, menyeluruh, sistematis dan bertahap. Dengan demikian Undang-Undang
Dasar ini akan menjadi Undang-Undang Dasar yang cukup modern dan religius, memuat
landasan bagi kehidupan yang demokratis, pemberdayaan rakyat, penghormatan HAM dan
supremasi hukum.
2. Bahwa konvensi-konvensi ketatanegaraan Indonesia yang pernah ada pada zaman Orde Lama
dan Orde baru yang menjadi pelengkap UUD 1945, perlu untuk diperbarui, sehingga dengan
demikian, konstitusi UUD 1945 dapat lebih operasional untuk menyongsong masa depan
ketatanegaraan, sesuai dengan perkembangan zaman dan sesuai dengan kebutuhan dari suatu
masyarakat yang membangun dan modern.
3. Bahwa terkait dengan konstitusi Indonesia yang mempunyai kedudukan sebagai hukum yang
tertinggi, maka harus selalu dirawat dan diperhatikan selain itu juga harus selalu ditaati oleh
masyarakat mupun oleh alat-alat negara. Sehingga sampai kapanpun Konstitusi Indonesia
selalu menjadi Panglima yang akan mengatur hal-hal tentang ketatanegaraan.
4. Bahwa penyelenggara negara Indonesia haruslah bisa memberikan jaminan untuk
menyelenggarakan UUD sesuai dengan jiwa dan kata-kata dari naskah baik itu dilakukan oleh
badan eksekutif maupun badan pemerintah lainnya.
5. Bahwa ketika hendak melakukan perubahan konstitusi Indonesia haruslah dilakukan secara
hikmat dan penuh kesungguhan dan pertimbangan yang mendalam. Agar maksud ini dapat
dilaksanakan dengan baik maka perubahannya pada umunya mensyaratkan adanya suatu
proses dari prosedur yang khusus atau istimewa.

DAFTAR PUSTAKA
C.F. Strong, Modern Political Constitution: An Introduction to the Comparative Study of Their
History and Existing Form, terj. Spa teamwork, Bandung, Nusa Media, 2008.
Dahlan Thailib, Jazim Hamidi, et. al., Teori dan Hukum Konstitusi, Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada, Cet. Ke-11, 2013.
Hans Kelsen, General Theory of Law and State, terj. Raisun Muttaqien, Bandung: Nusamedia,
2006.
Jhon Alder, Constituional and Administrative Law, London, Macmillan Education LTD, 1989.
Jimly Ashiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta, Konstitusi Press,
2005.
Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, Balai Pustaka, Edisi ke-2, 1991.
Wirdjono Projodikoro, Asas-asas Hukum Tata Negara di Indonesia, Jakarta, Dian Rakyat, 1989.
[1] Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, Balai Pustaka, Edisi ke-2, 1991, hlm. 521.
[2] Dahlan Thailib, Jazim Hamidi, et. al., Teori dan Hukum Konstitusi, Jakarta, PT Raja
Grafindo Persada, Cet. Ke-11, 2013, hlm. 6
[3] Wirdjono Projodikoro, Asas-asas Hukum Tata Negara di Indonesia, Jakarta, Dian Rakyat,
1989, hlm. 10
[4] Jhon Alder, Constituional and Administrative Law, London, Macmillan Education LTD,
1989, page 3.
[5] Hans Kelsen, General Theory of Law and State, terj. Raisun Muttaqien, Bandung:
Nusamedia, 2006, hlm. 180
[6] Jimly Ashiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta, Konstitusi Press,
2005, hlm. 1
[7] C.F. Strong, Modern Political Constitution: An Introduction to the Comparative Study of
Their History and Existing Form, terj. Spa teamwork, Bandung, Nusa Media, 2008, hlm. 90-91
[8] Dahlan Thailib, Jazim Hamidim, et. al., op. cit., hlm. 58

. Sistem perubahan UUD , dalam hal ini menurut teori konstitusi dapat dilakukan melalui :

a. pembaharuan naskah ( perubahan dalam teks menyangkut hal-hal tertentu )

b. penggantian naskah (materi perubahan cukup mendasar dan banyak )

c. melalui naskah tambahan (annex atau adendum) menurut sistem amandemen AS

d. substansi perubahan , yaitu hal-hal apa saja yang dapat diubah / diperbaharui dan hal-

hal apa yang tidak dapat diubah atau harus terus-menerus dipertahankan dalam

constitutional reform. contoh :

a) Konstitusi Republik V Perancis  melarang perubahan bentuk pemerintahan republic

dan perubahan yang membahayakan integritas wilayah

b) Konstitusi Republik Italia  melarang perubahan bentuk pemerintahan republik

Berikut merupakan perbedaan konstitusionalisme dalam UUD 1945 sebelum dan

sesudah perubahan :[34]

Konstitusionalisme dalam UUD 1945 Konstitusionalisme dalam UD 1945


sebelum perubahan setelah perubahan

A. Aspek Prosedural/Formal : A. Aspek Prosedural/Formal :


a. Konstitusi dimaknai sebagai hukum dasar a. Merupakan konstitusi tertulis
(droit constitutionnel) yang mencakup UUD b. Pembentukan konstitusi oleh MPR
sebagai hukum dasar tertulis (written c. Perubahan oleh MPR dengan prosedur
constitution) dan hukum dasar tak tertulis yang diperberat (merupakan rigid
(unwritten constitution),yaitu aturan-aturan constitution)
dasar yang timbul dan terpelihara dalam
praktek penyelenggaraan negara
(penjelasan UUD 1945)
b. UUD bersifat singkat dan supel (flexible
constitution) agar jangan sampai sistem
UUD ketinggalan zaman (penjelasan) , maka
cara perubahan dibuat rigid oleh suatu
lembaga khusus (MPR) dengan demikian
konstitusi Indonesia bersifat flexible
sekaligus rigid
c. Prosedur penetapan (dan pembentukan)
konstitusi UUD dilakukan oleh suatu
lembaga tertinggi negara (MPR)
d. Dari penjelasan UUD 1945 juga dapat kita
simpulkan bahwa kita menganut supreme
constitution

B. Aspek Substansial/materiil: B. Aspek Substansial/ Mateeriil :

a. Asas negara persatuan (integralistik) a. Dasar negara Pancasila


b. Negara mewujudkan keadilan sosial bagi b. Bentuk negara Kesatuan (tak boleh
seluruh rakyat Indonesia diubah)
c. Negara berkedaulatan rakyat dengan c. Bentuk pemerintahan Republik
sistem permusyawaratan dan perwakilan d. Sistem pemerintahan Presidensial
d. Negara berdasarkan Ketuhanan Yang e. Tipe negara hukum
Maha Esa f. Lembaga perwakilan soft bicameralisme (
e. Negara berdasar atas hukum (rechtstaat) MPR dengan anggota dari seluruh
f. Pemerintah berdasar sistem konstitusi , anggota DPR dan seluruh anggota DPD)
menolak absolutisme g. Kedaulatan rakyat
g. Sistem MPR, sebagai pelaksana h. Pembagian kekuasaan dengan sistem
kedaulatan rakyat spenuhnya pemegang checks and balances
kekuasaan negara tertinggi yang i. Independensi kekuasaan kehakiman yang
menetapkan UUD dan GBHN , memilih berada di tangan MA beserta badan-
Presiden dan Wakil Presiden badan peradilan di bawahnya dan MK
h. Negara kesatuan dengan bentuk j. Sistem pemerintahan local dengan otonomi
pemerintahan Republik seluas-luasnya
i. Sistem pemerintahan quasi presidensial, k. Sistem demokrasi ekonomi
yaitu presiden sejajar dengan DPR l. Pengaturan HAM yang cukup lengkap
j. Kekuasaan kehakiman yang merdeka
k. Sistem pemerintahan local dengan asas
Desentralisasi dan Dekonsentrasi,
menghormati asal-usul keistimewaan
daerah
l. Demokrasi ekonomi dengan asas
kekeluargaan
m. Pengakuan HAM

Perubahan UUD 1945 yang berlangsung sebanyak empat kjali berturut-turut , yaitu perubahan

pertama (1999) , perubahan kedua (2000) ,perubahan ketiga (2001) dan perubahan keempat

(2002). Perubahan-perubahan tersebut menganut lima prinsip dasar, yaitu :[35]

1. Tidak mengubah pembukaan UUD 1945

2. Tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan

3. Mempertegas sistem pemerintahan presidensial

4. Meniadakan penjelasan dan memasukkan hal-hal normatif penjelasan ke dalam pasal-

pasal UUD

5. Perubahan UUD 1945 dilakukan dengan cara Adendum

Berkenaan dengan prosedur perubahan Undang-Undang Dasar dianut adanya tiga

tradisi yang berbeda antara satu negara dengan negara lain diantaranya :[36]

Pertama, kelompok negara yang mempunyai kebiasaan mengubah materi Undang-Undang

Dasar dengan langsung memasukkan (insert) materi perubahan itu ke dalam naskah UUD.

Contohnya konstitusi Perancis ,yang biasa disebut Konstitusi Tahun 1958 yaitu menambahkan

ketentuan mengenai pemilihan presiden secara langsung , serta perluasan ketentuan mengenai

referendum , sehingga keseluruhan materi perubahan itu langsung dimasukkan ke dalam teks

konstitusi.

Kedua, Kelompok-kelompok negara yang mempunyai kebiasaan mengadakan penggantian

naskah Undang-Undang Dasar . Di lingkungan negara-negara ini , naskah konstitusi sama

sekali diganti dengan naskah baru , seperti pengalaman Indonesia dengan konstitusi RIS tahun

1949 dan UUDS tahun 1950. Pada umumnya negara-negara demikian ini terhitung sebagai

negara yang sistem politiknya belum mapan dan masih bersifat ‘trial and error’.

Ketiga, yaitu perubahan konstitusi melalui naskah yang terpisah dari teks aslinya yang disebut

sebagai amandemen kesatu,kedua,ketiga,keempat dan seterusnya. Dengan tradisi demikian ,

naskah asli Undang-Undang Dasar tetap utuh , tetapi kebutuhan akan perubahan hukum dasar
dapat dipenuhi melalui naskah tersendiri yang dijadikan adendum tambahan terhadap naskah

asli tersebut . Dapat dikatakan tradisi perubahan demikian memang dipelopori oleh Amerika

Serikat , dan tidak ada salahnya negara-negara demokrasi yang lain termasuk Indonesia untuk

mengikuti prosedur yang baik seperti itu.

Konstitusi Negara RI
RINGKASAN
BAB II
KONSTITUSI NEGARA RI
1. KONSTITUSI YANG PERNAH DIGUNAKAN DI
INDONESIA
Seorang pemikir Romawi kuno yang bernama Cicero (106
– 43 SM) menyatakan, “Ubi societas ibi ius”, yang berarti
dimana ada masyarakat di situ ada hukum. Ungkapan ini
menunjukkan bahwa dalam setiap kehidupan kelompok
masyarakat dimanapun senantiasa terdapat aturan yang
mengikat warganya guna menjamin keamanan dan
ketertiban dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
Lebih-lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
yang merupakan kehidupan kelompok manusia yang
sedemikian banyak dan sedemikian kompleks
permasalahannya, maka sangat diperlukan adanya aturan-
aturan yang menjamin keamanan dan ketertiban, yang
harus ditaati oleh seluruh warga negaranya. Aturan
tertinggi dalam suatu Negara adalah Konstitusi atau
Undang-Undang Dasar (UUD).

Secara umum, Negara bisa dibagi dua yaitu Negara


konstitusional dan Negara absolut. Negara
konstitusional adalah Negara yang berdasarkan pada
konstitusi atau UUD yang biasanya
memuat hal-hal pokok tentang berdirinya negara,
bagaimana cara pengaturan Negara, serta apa hak dan
kewajiban pemerintah dan warga negara.
Sedangkan Negara Absolut adalah negara yang tidak
berdasarkan konstitusi tetapi berdasarkan pada kekuasaan
mutlak dari penguasa, sehingga dalam prakteknya
mengarah pada system pemerintahan yang dictator
(sewenang-wenang) dan membuat rakyatnya tertindas.
Namun demikian dewasa ini negara absolut sudah hamper
tidak ada, setiap negara telah memiliki konstitusi atau
UUD.
1. Istilah dan Pengertian Konstitusi
Istilah konstitusi berasal dari bahasa
Perancis, “Constitere” yang artinya menetapkan atau
membentuk. Dalam bahasa Inggris disebut “Constitution”.
Sedangkan dalam bahasa Belanda digunakan
istilah “Constitutie” disamping kata “Grondwet”.
Dalam istilah sehari-hari konstitusi sering disamakan
dengan Undang-Undang Dasar yang merupakan terjemahan
dari bahasa Belanda “Grondwet”, grond artinya dasar dan
wet artinya undang-undang. Namun dalam praktek,
pengertian konstitusi lebih luas dari UUD, karena konstitusi
mencakup keseluruhan peraturan, baik yang tertulis (UUD)
maupun yang tidak tertulis (convention, konvensi). Jadi
UUD hanya bagian dari konstitusi, dan menurut beberapa
ahli bahwa istilah konstitusi lebih tepat diartikan sebagai
hukum dasar.

Pengertian bahwa konstitusi itu lebih luas daripada UUD


dikemukakan oleh Herman Heller dalam
bukunya Verfassunglehre (Ajaran Konstitusi) sebagaimana
dikutip oleh Moh. Koesnardi dan Bintan Saragih (1994 :
140) yang membagi konstitusi dalam tiga tingkat, yaitu :
1. Konstitusi sebagai pengertian social politik.
Pada tingkat ini konstitusi baru mencerminkan keadaan
social politik, keadaan yang ada dalam masyarakat, belum
merupakan pengertian hukum.

1. Konstitusi sebagai pengertian hukum.


Pada tingkat ini keputusan-keputusan yang ada dalam
masyarakat tersebut dijadikan rumusan yang normatif, yang
harus ditaati. Pada tingkat ini konstitusi tidak selalu tidak
tertulis, tetapi ada juga yang tertulis dalam arti terkodifikasi
(dibukukan).

1. Konstitusi sebagai suatu peraturan hukum yang


tertulis.
Dengan demikian jelas dimana UUD merupakan salah satu
bagian dari konstitusi.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ferdinand Lasalle
yang membagi konstitusi dalam dua golongan, yaitu :

1. Konstitusi dalam pengertian sosiologis dan politis,


yaitu berupa factor-faktor kekuatan yang nyata ada
dalam masyarakat. Konstitusi menggambarkan
hubungan antara kekuasaan-kekuasaan yang nyata
dalam negara, seperti : raja, parlemen, cabinet,
pressure group, partai politik.
2. Konstitusi dalam pengertian yuridis, yaitu yang ditulis
dalam suatu naskah yang memuat semua bangunan
negara dan sendi-sendi pemerintahan.
Berikut ini adalah pengertian konstitusi yang dikemukakan
oleh para ahli :

1. James Bryce, Konstitusi adalah sebagai kerangka


negara yang diorganisasikan dengan dan melalui
hukum, dalam hal mana hukum menetapkan :
1) Pengaturan mengenai pendirian lembaga-lembaga
yang permanen.

2) Fungsi dari lembaga-lembaga tersebut.

3) Hak-hak yang ditetapkan.

1. C.F. Strong, Konstitusi itu sebagai sekumpulan asas-


asas yang mengatur kekuasaan peme-rintahan, hak-hak
yang diperintah (rakyat) dan hubungan antara
pemerintah dengan yang diperintah.
2. E.C.S. Wade dan G. Philips, Konstitusi adalah naskah
yang memaparkan rangka dan tugas-tugas pokok dari
badan-badan pemerintahan suatu negara dan
menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan
tersebut.
3. K.C. Wheare, Konstitusi adalah keseluruhan sistem
ketatanegaraan dari suatu negara, berupa kumpulan
peraturan-peraturan yang membentuk dan mengatur
atau memerintah dalam pemerintahan suatu negara.
2. Pembagian Konstitusi
Lembaga-lembaga negara Indonesia setelah amandemen UUD 1945
a. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Republik
Indonesia yang terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD. Adapun tugas dan wewenang MPR antara
lain:

a) Mengubah dan menetapkan UUD.

b) Melantik presiden dan wakil presiden berdasarkan hasil pemilu.

c) Memberhentikan presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya menurut UUD.

d) Memilih wakil presiden dari dua calon yang diusulkan oleh presiden dalam hal terjadi kekosongan
wapres.

e) Memilih presiden dan wapres dari dua pasangan calo presiden dan wapres yang diusulkan oleh partai
politik dan/atau gabungan partai politik yang meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilu
sebelumnya sampai berakhir masa jabatannya, jika presiden dan wakil presiden mangkat, berhenti, dan
diberhentikan, atau tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatan sebenarnya.

b. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merupakan lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia
sebagai lembaga perwakilan rakyat dan mememgang kekuasaan membentuk UU. DPR memiliki fungsi
legislasi, anggaran, dan pengawasan. DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum
yang dipilih langsung oleh rakyat.

c. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) adalah lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Republik
Indonesia yang merupakan wakil-wakil daerah provinsi dan dipilih langsung oleh rakyat melalui
pemilihan umum. DPD memiliki fungsi:

a) Mengajukan usul, ikut dalam permbahasan, dan memberikan pertimbangan yang berkaitan bidang
legislasi tertentu.

b) Mengawasi atas pelaksanaan UU tertentu.

d. Badan Pengawas Keuangan (BPK)

Badan Pengawas Keuangan (BPK) adalah lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Republik
Indonesia yang mempunyai wewenang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara. Badan bersifat bebas dan mandiri, serta tidak terpengaruhi atau mempengaruhi kekuasaan
pemerintah. Tugas BPK antara lain:
a) Memeriksa laporan dan tanggung jawab keuangan negara.

b) Memeriksa semua pelaksanaan APBN.

e. Mahkamah Agung (MA)

Mahkamah Agung (MA) adalah lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia yang
merupakan pemegang kekuasaan kehakiman dan badan peradilan lainnya yang terlepas dari pengaruh
semua lembaga negara. Kekuasaan kehakikaman dilakukan oleh Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah
Konstitusi (MK). MA membawahi bidang peradilan dalam lingkup peradilan umum, pengadilan negeri
dan tinggi, lingkungan peradilan agama, pengadilan agama, pengadilan tinggi agama, lingkungan
peradilan militer, dan lingkungan peradilan tata usaha negara.

f. Komisi Yudiksial (KY)

Komisi Yudiksial (KY) adalah lembaga negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan
wewenangnya bebas dari campur tangan atau penaruh kekuasaan lainnya. KY memiliki wewenang
untuk:

a) Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR.

b) Menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.

g. Mahkamah Konstitusi (MK)

Mahkamah Konstitusi (MK) adalah salah satu kekuasaan kehakiman yang diatur dalam UUD 1945.
Kewajiban dan wewenang MK adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir dengan keputusan
yang bersifat final untuk:

a) Menguji UU terhadap UUD 1945.

b) Memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.

c) Memutuskan pembubaran parpol.

d) Memutuskan perselisihan tentang pemilu.

h. Presiden dan Wakil Presiden

Presiden berfungsi sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Sebagai kepala negara, presiden
merupakan simbol resmi negara Indonesia di dunia dan sebagai kepala pemerintahan, presiden
memegang kekuasaan eksekutif, untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan sehari-hari dibantu
menteri-menteri dalam kabinet. Wakil presiden secara umum memiliki tugas untuk memabntu presiden
dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, secara khusus wakil presiden memiliki tugas:

a) Memperhatikan secara khusus, menampung masalah-masalah dan mengusahakan pemecahan masalah-


masalah menyangkut tugas-tugas kesejahteraan rakyat.
b) Melakukan pengawasan operasional pemabangunan dengan bantuan kementerian dan departemen

Abstrak

Pemahaman yang baik dan benar tentang Landasan Formil dan Materiil Konstitusional
Peraturan Perundang-undangan merupakan conditio sine quanon bagi Perancang agar
peraturan perundang-undangan yang dibuatnya tidak mudah dibatalkan melalui
pengujian ke Mahkamah Konstitusi (undang-undang) atau ke Mahkamah Agung
(peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang).
A. Pendahuluan
Mata pelajaran ‘Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan Perundang-
undangan” merupakan bagian dari mata pelajaran inti “Dasar-dasar Konstitusional
Peraturan Perundang-undangan” di samping mata pelajaran “Politik Peraturan
Perundang-undangan” dan “Sistem Pemerintahan Negara” yang diberikan pada
Pendidikan dan Pelatihan Perancang Peraturan Perundang-undangan (Diklat
Perancang). Tujuan umum mata pelajaran “Landasan Formil dan Materiil
Konstitusional Peraturan Perundang-undangan” diberikan kepada para (calon)
Perancang agar para Perancang benar-benar memahami konstitusi (Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.) sebagai sumber hukum yang utama
dalam pembentukan peraturan perundang-undangan baik secara formil maupun
materiil. Dengan memahami konstitusi maka pembentukan peraturan perundang-
undangan mendapatkan landasan konstitusional yang benar yang dipandu oleh nilai-
nilai Pancasila yang terkandung dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Secara khusus mata pelajaran tersebut diberikan agar para (calon) Perancang dapat
memahami substansi yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 baik secara tersurat maupun tersirat dan terampil serta benar
dan tepat dalam membuat konsiderans “menimbang”, dasar hukum “mengingat”, dan
menjabarkan nilai-nilai konstitusi (Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945) yang tersurat maupun tersirat ke dalam batang tubuh (pasal-pasal)
peraturan perundang-undangan sehingga secara vertikal, peraturan perundang-
undangan tersebut harmonis/selaras dengan konstitusi (Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945). Mata pelajaran “Landasan Formil dan Materiil
Konstitusional Peraturan Perundang-undangan” terdiri atas:

1. Pengertian”konstitusi” dan “UUD”, “materi muatan/nilai/sifat konstitusi”;


2. Pengertian “hukum” dan “peraturan perundang-undangan”; “hukum formil” dan
“hukum materiil”; “sumber hukum formil” dan “sumber hukum materiil”;
Pengertian undang-undang dalam arti formil dan materiil (wet in formele en
materiele zin);
3. Pelaksanaan “landasan formil” dan “landasan materiil” peraturan perundang-
undangan secara teknis;
4. Dampak amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 terhadap pembentuk dan pembentukan peraturan perundang-undangan
5. Praktik pembuatan “landasan formil” dan “landasan materiil” peraturan perundang-
undangan.
B. Pengertian Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan Perundang-
undangan dan Pentingnya dalam Pembentukan (Rancangan) Peraturan Perundang-
undangan
Pada kesempatan ini karena keterbatasan ruang dan waktu hanya akan diuraikan
Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan Perundang-undangan untuk
kepentingan praktis saja. Landasan Formil Konstitusional Peraturan Perundang-
undangan adalah dimaksudkan untuk memberikan legitimasi prosedural terhadap
pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang dicantumkan dalam dasar hukum
“mengingat” suatu peraturan perundang-undangan. Sedangkan Landasan Materiil
Konstitusional Peraturan Perundang-undangan dimaksudkan untuk memberikan sign
bahwa Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk merupakan penjabaran dari
Pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
dicantumkan juga dalam dasar hukum “mengingat” suatu Peraturan Perundang-
undangan yang (akan) dibentuk. Landasan Materiil Konstitusional Peraturan
Perundang-undangan ini kemudian diuraikan secara ringkas dalam konsiderans
“menimbang” dan dituangkan dalam norma-norma dalam pasal dan/atau ayat dalam
Batang Tubuh dan dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan suatu peraturan perundang-
undangan kalau kurang jelas.
Penjabaran Landasan Materiil Konstitusional Peraturan Perundang-undangan dalam
konsiderans “menimbang” dan dalam Batang Tubuh (pasal dan/atau ayat) disesuaikan
dengan keinginan pembentuk undang-undang (DPR dan Presiden) sebagai
kebijakan/politik hukum (legal policy) namun harus tetap dalam pemahaman koridor
konstitusional yang tersurat maupun tersirat. Semuanya ini melalui metoda penafsiran.
Kalau terjadi perbedaan penafsiran antara pembentuk undang-undang (DPR dan
Presiden) dengan Mahkamah Konstitusi terhadap pasal (-pasal) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dijabarkan dalam suatu undang-undang
maka yang dimenangkan adalah penafsiran yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi
sebagai pengawal dan penafsir akhir konstitusi (the guardian/last interpreter of the
constitution).
Landasan Formil Konstitusional Peraturan Perundang-undangan menjadi penting
dengan adanya lembaga negara dalam Kekuasaan Kehakiman yang diberikan wewenang
oleh konstitusi untuk menguji (judicial review) peraturan perundang-undangan yang
secara eksplisit dimuat dalam Pasal 24A dan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 pasca amendemen. Dalam Pasal 24A ayat (1) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Mahkamah Agung diberikan
kewenangan menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang
terhadap undang-undang. Kewenangan konstitusional semacam ini sebenarnya pernah
dimuat juga dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat Tahun 1949 (KRIS 1949).
Namun dalam Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 (UUDS 1950) maupun
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak ada
kewenangan konstitusional semacam ini yang diberikan kepada Mahkamah Agung.
Kewenangan menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang
terhadap undang-undang diberikan kepada Mahkamah Agung hanya didasarkan
undang-undang, jadi bukan kewenangan konstitusional (vide Undang-Undang Nomor
14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang
sekarang telah diganti dengan UU No. 4/2004 tentang Kekuasaan Kehakiman jo
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004).
Dalam Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 pasca amendemen Mahkamah Konstitusi diberikan kewenangan untuk menguji
undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Kewenangan konstitusional semacam ini belum pernah ada sebelumnya. Barulah
dalam rangka pelaksanaan faham/sistem ”Supremasi Konstitusi” di Era Reformasi dan
pelaksanaan sistem checks and balances dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 pasca amendemen, dengan semangat dan jiwa baru, kini suatu
undang-undang dapat diuji secara judicial (judicial review) terhadap Undang-Undang
Dasar, yang selama kurang lebih 55 tahun usia Republik Indonesia suatu undang-
undang tidak dapat diganggu-gugat. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 pra amendemen memang tidak diatur mengenai pengujian
undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, sehingga timbul kesan pemahaman
yang sama dengan hukum dasar yang diatur dalam KRIS 1949 dan UUDS 1950 bahwa
undang-undang tidak dapat diganggu-gugat (de wet is ondschendbaar) sebagaimana
diatur dalam Pasal 130 ayat (2) KRIS 1949 dan Pasal 95 ayat (2) UUDS 1950.
Sebelum dibentuknya Mahkamah Konstitusi dalam Perubahan Ketiga Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (2001) di Era Reformasi, undang-undang
juga dapat diuji terhadap Undang-Undang Dasar. Namun pengujiannya bukanlah
pengujian secara judicial melainkan pengujian secara legislatif atau secara politis
(legislative/Political Review) karena yang mengujinya adalah lembaga politik atau
lembaga legislatif yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagaimana dimuat
dalam Pasal 5 ayat (1) TAP MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata
Urutan Peraturan Perundang-undangan. TAP MPR ini sebagai pengganti TAP MPRS
No. XX/MPRS/1966.
Dengan dibentuknya Mahkamah Konstitusi yang diberikan kewenangan konstitusional
menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar dan kewenangan Mahkamah
Agung yang semula didasarkan kepada undang-undang sekarang diangkat ke dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi kewenangan
konstitusional untuk menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-
undang terhadap undang-undang, pemahaman landasan formil dan materiil
konstitusional peraturan perundang-undangan menjadi suatu conditio sine quanon bagi
para Perancang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya menyusun/membuat
peraturan perundang-undangan agar peraturan perundang-undangan tersebut tidak
mudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi atau Mahkamah Agung.

C. Teknik Pembuatan Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan


Perundang-undangan dalam Pembentukan (Rancangan) Peraturan Perundang-
undangan
Sebagaimana diuraikan di atas Landasan Formil Konstitusional Peraturan Perundang-
undangan adalah dimaksudkan untuk memberikan legitimasi prosedural terhadap
pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang dicantumkan dalam dasar hukum
“mengingat”.
Kalau pembuatan atau prosedur pembuatannya tidak benar atau menyimpang dari
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang
Susduk DPR, DPD, dan DPRD dan jabarannya dalam Peraturan Tata Tertib DPR/DPD
(untuk undang-undang) dan Tata tertib DPRD (untuk Peraturan Daerah) serta prosedur
yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 dan undang-undang
Pemerintahan Daerah (bagi Perda), maka undang-undang dan/atau Perda tersebut
dapat dibatalkan secara menyeluruh oleh Mahkamah Konstitusi (untuk undang-
undang) atau oleh Mahkamah Agung (untuk Peraturan Daerah).
Berdasarkan pemahaman di atas maka Landasan Formil Konstitusional Peraturan
Perundang-undangan untuk:

1. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Dasar


Negara Republik Indonesia Tahun 1945 jo Pasal 37 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang (UU) adalah Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 (untuk rancangan undang-undang yang datang dari
Presiden/Pemerintah), Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (untuk rancangan undang-undang yang datang dari DPR);
3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) adalah Pasal 22 Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
4. Peraturan Pemerintah (PP) adalah Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
5. Peraturan Presiden (Perpres) adalah Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
6. Peraturan Daerah (Perda) adalah Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa Landasan Materiil Konstitusional Peraturan
Perundang-undangan dimaksudkan untuk memberikan sign bahwa Peraturan
Perundang-undangan yang dibentuk merupakan penjabaran dari Pasal-pasal
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dicantumkan
juga dalam dasar hukum “mengingat” suatu Peraturan Perundang-undangan yang
(akan) dibentuk.
Landasan Materiil Konstitusional Peraturan Perundang-undangan ini kemudian
diuraikan secara ringkas dalam konsiderans “menimbang” dan dituangkan dalam
norma-norma dalam pasal dan/atau ayat dalam Batang Tubuh dan dijelaskan lebih
lanjut dalam Penjelasan suatu peraturan perundang-undangan kalau kurang jelas.
Pencantuman pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 sebagai landasan materiil konstitusional peraturan perundang-undangan
tersebut disesuaikan dengan materi muatan yang akan dijabarkan dalam batang
tubuh peraturan Perundang-undangan tersebut. Sebagai contoh, misalnya akan
dibentuk Rancangan Undang-Undang (Undang-Undang) tentang Partai Politik,
dicantumkan Pasal 28 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 karena pasal ini memuat hak-hak dasar manusia (dalam hal ini warga negara)
untuk menyatakan ekspresinya dalam suatu kegiatan politik atau membentuk
organisasi partai politik. Pencantuman Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dalam dasar hukum “mengingat” suatu rancangan
undang-undang (undang-undang) memberikan indikasi bahwa landasan materiil
konstitusional rancangan undang-undang (undang-undang) adalah yang berkaitan
dengan kesejahteraan atau kegiatan di bidang ekonomi dan sumber daya alam
(SDA).
Pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
dijadikan landasan materiil konstitusional tersebut kemudian diuraikan secara
ringkas dalam konsiderans ”menimbang”, dan dijabarkan atau dituangkan lebih
lanjut dalam pasal dan/atau ayat dalam ”Batang Tubuh”, sampai dengan
”Penjelasan” peraturan perundang-undangan yang bersangkutan kalau dibutuhkan.
Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan Perundang-undangan
kemudian diberikan landasan undang-undang yaitu Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 2004). Dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2004, ditentukan:
1. Butir 17: Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok–pokok pikiran
yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang–
undangan.
2. Butir 18: Pokok-pokok pikiran pada konsiderans undang-undang atau peraturan
daerah memuat unsur-unsur filosofis, juridis, dan sosiologis yang menjadi latar
belakang pembuatannya .
Butir 17-18 tersebut mencerminkan bahwa Peraturan Perundang-undangan tertentu
(khususnya undang-undang dan peraturan daerah) harus mempunyai landasan
formil dan materiil konstitusional yang dituangkan dalam ”menimbang” dan dasar
hukum ”mengingat”.
Unsur filosofis yang termuat dalam latar belakang pembuatan suatu undang-
undang/peraturan daerah merupakan hakekat (inti) dari landasan formil dan
materiil konstitusional Peraturan Perundang-undangan. Unsur filosofis yang akan
diuraikan secara singkat dalam ”menimbang” ini terkandung dalam:
1. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(tersurat-tersirat);
2. Aturan/norma dasar (tersurat/tersirat) dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Kehidupan masyarakat yang secara prinsip telah ”dirangkum” dan ”dimuat”
dalam nilai-nilai yang ada pada setiap sila dari Pancasila; atau
4. Setiap benda/situasi/kondisi yang akan diatur dalam Peraturan Perundang-
undangan dalam rangka mencari kebenaran di atas kebenaran dari yang akan diatur
(relatif).
Unsur sosiologis yang dimuat dalam latar belakang dibuatnya undang-
undang/peraturan daerah adalah konstatsi fakta atau keadaan nyata dalam
masyarakat. Misalnya: dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang
Narkotika unsur sosiologisnya adalah adanya penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkotika yang semakin banyak terjadi di masyarakat yang dapat merusak tatanan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Unsur yuridis yang dimuat dalam latar belakang dibuatnya undang-
undang/peraturan daerah adalah berkaitan dengan peraturan perundang-undangan
yang ada baik yang menjadi dasar hukum “mengingat” maupun yang berkaitan
secara langsung dengan substansi peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan yang harus diganti/dicabut atau diubah karena sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan dalam masyarakat.
Disamping Butir 17-18, Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan
Perundang-undangan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 diberikan alas
hukum juga yaitu dalam Butir 26 yang berbunyi: Dasar hukum memuat dasar
kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-
undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundang-undangan.
Ketentuan dalam Butir 26 tersebut berisi landasan formil dan materiil
konstitusional, apabila menyangkut Undang-Undang Dasar. Kalau menyangkut
peraturan perundang-undangan lain di bawah Undang-Undang Dasar dan TAP MPR
disebut landasan formil dan materiil yuridis (yuridis formil-materiil) peraturan
perundang-undangan.
Contoh: Landasan formil dan materiil konstitusional dan yuridis formil-materiil
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung adalah:
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 24, dan Pasal 25 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan tata Kerja Lembaga Tertinggi
Negara dan/atau AntarLembaga-lembaga Tinggi Negara;
3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 74, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 2951).

D. Kedudukan Ketetapan MPR dalam Dasar Hukum ”Mengingat”


Ketetapan MPR (TAP MPR) dapat dimuat dalam dasar hukum “mengingat” suatu
undang-undang sebagai “landasan materiil konstitusional” (kalau TAP MPR
dikategorikan aturan/hukum dasar). Kalau TAP MPR dikategorikan sebagai peraturan
perundang-undangan bukan hukum dasar maka TAP MPR dapat didudukkan sebagai
”landasan materiil-yuridis” dari pembentukan suatu undang-undang, apabila dalam
TAP MPR tersebut ada perintah langsung (secara tegas) untuk mengatur lebih lanjut
substansinya ke dalam undang-undang.
Pada masa Orde Baru TAP MPR tentang GBHN pada umumnya menjadi dasar hukum
(”mengingat”) suatu undang-undang, misalnya TAP MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang
Referendum memerintahkan secara tegas agar dibentuk Undang-Undang tentang
Referendum. Contoh lain adalah perintah TAP MPR Nomor VI/MPR/2002 kepada DPR
dan Presiden untuk merevisi (mengubah) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997
tentang Narkotika dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.
Berdasarkan TAP MPR Nomor I/MPR/2003 masih ada beberapa TAP MPRS dan TAP
MPR yang masih ”diberlakukan” atau ”berlaku” dengan syarat sampai terbentuknya
undang-undang yang mengatur substansi yang ada dalam TAP MPR tersebut atau
selesainya masalah yang disebutkan dalam TAP MPR tersebut.
Ke depan, disepakati MPR tidak akan membuat lagi produk hukum berbentuk TAP
MPR yang mengikat ke luar, walaupun dalam Keputusan MPR Nomor 7 jo Nomor
13/MPR/2004 tentang Peraturan Tata Tertib MPR-RI masih dimungkinkan
dibentuknya TAP MPR (vide Pasal 74) walaupun dalam bentuk/arti beschikking
sehingga ketentuan Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10/2004 dan
Penjelasannya tak mungkin dapat dilaksanakan yang berkaitan dengan TAP MPR
karena MPR tidak akan mengeluarkan lagi TAP MPR yang mengikat ke luar sebagai
jenis peraturan perundang-undangan.

end note
—————————————

Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi dalam pengujian undang-undang


Ketenagalistrikan, undang-undang Pemerintahan Daerah, undang-undang APBN,
undang-undang Komisi Yudisial, undang-undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi,
dan undang-undang KPK.
Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 tentang Pedoman
Beracara Dalam Perkara Pengujian Undang-Undang, Pasal 4 ayat (2): Pengujian
Materiil adalah pengujian undang-undang yang berkenaan dengan materi muatan
dalam ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang yang dianggap bertentangan
dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 4 ayat
(3): Pengujian Formil adalah pengujian undang-undang yang berkenaan dengan proses
pembentukan undang-undang dan hal-hal lain yang tidak termasuk pngujian materiil
sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kata “hal-hal lain” dapat berarti luas yaitu
mencakup “menimbang”, “mengingat”, salah ketik, salah format, dan lain-lain.
Dalam hal ini sesuai dengan ketentuan dalam TAP MPRS No. XX/MPRS/1966 jis TAP
MPR Nomor III/MPR/2000 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Undang-Undang Dasar dikategorikan
atau termasuk jenis peraturan perundang-undangan walaupun merupakan hukum
dasar. Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dasar konstitusional penetapan dan Pasal 37 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 merupakan dasar konstitusional perubahan Undang-Undang
Dasar.
Kalau RUU datang dari Presiden/Pemerintah, maka Pasal 21 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak dicantumkan sebaliknya kalau datang dari
DPR Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
tidak dicantumkan. Sebelum (pra) amendemen Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 5 ayat (1) selalu dicantumkan dalam setiap
undang-undang baik yang rancangan undang-undangnya datang dari Presiden sendiri
maupun rancangan undang-undangnya datang dari DPR, karena pembentuk undang-
undang yang utama (primaire wetgever) pada saat itu adalah Presiden, sedangkan DPR
hanyalah pembentuk undang-undang serta (medewetgever). Sehingga selama masa
Orde Baru Pasal 5 ayat (1) selalu dicantumkan dalam dasar hukum “mengingat”
undang-undang. Sedangkan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 hanya dicantumkan ketika rancangan undang-undangnya datang
dari DPR. Setelah amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, di mana pembentuk undang-undang yang utama dialihkan kepada DPR
maka kalau rancangan undang-undangnya datang dari Presiden, Pasal 5 ayat (1)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dicantumkan dalam
dasar hukum “mengingat” undang-undang. Kalau rancangan undang-undangnya
datang dari DPR, Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 yang dicantumkan, sedangkan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 tidak dicantumkan dalam dasar hukum “mengingat”
undang-undang.
Kalau masih berbentuk Perpu maka hanya Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dicantumkan dalam dasar hukum
“mengingat” Perpu. Kalau Perpu tersebut kemudian diajukan ke DPR dalam bentuk
RUU Penetapan Perpu maka landasan formil konstitusionalnya adalah Pasal 5 ayat (1),
Pasal 20, Pasal 22 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
Kalau mengikuti bunyi norma dasar Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 sebenarnya tidak hanya Peraturan Daerah (Perda) saja
yang diberikan landasan formil dan materiil konstitusional melainkan juga “peraturan-
peraturan lain” sehingga Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 ini pun dapat dicantumkan pada dasar hukum “mengingat”
Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, Peraturan Walikota dan Peraturan Desa.
Kata filosofi berasal dari kata Philosophia: philo (cinta); sophia (kebijaksanaan) secara
harfiah berarti: cinta kebijaksanaan (love of wisdom); Filsafat adalah refleksi kritis
manusia tentang segala sesuatu yang dialami untuk memperoleh makna yang radikal
dan integral. Filsafat bersifat kritis karena merupakan hasil akal budi manusia yang
mendalam. Filsafat memerlukan refleksi tentang arti dan makna yang dialami secara
kritis dan rasional. Dengan demikian melakukan transendental dan distansi terhadap
obyek untuk mengetahui makna yang sesungguhnya (berusaha dengan sungguh-
sungguh mencari kebenaran di atas kebenaran) yang berkaitan dengan nilai-nilai (a/l
keadilan, kebenaran, kesejahteraan, kepastian hukum).

Menurut A. Hamid SA (alm) dan Maria Farida (sekarang Hakim MK) Undang-Undang
Dasar dan Ketetapan MPR merupakan hukum dasar, sehingga tidak termasuk jenis
peraturan perundang-undangan. Menurut kedua ahli tersebut yang namanya peraturan
perundang-undangan adalah undang-undang dan peraturan perundang-undangan di
bawahnya dari Pusat sampai daerah. Namun menurut hukum positif (TAP MPRS No.
XX/MPRS/1966 yang kemudian dicabut oleh TAP MPR Nomor III/MPR/2000 dan
penjabarannya dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004, Undang-Undang Dasar
dan TAP MPR dikategorikan sebagai (termasuk) jenis peraturan perundang-undangan.
Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004, TAP MPR tidak lagi dimasukkan
(dihapus) sebagai jenis peraturan perundang-undangan karena di Era Reformasi tidak
akan ada lagi ada TAP MPR, kecuali sisa TAP MPRS dan TAP MPR masa Orde Lama
dan Orde Baru dan awal Reformasi yang masih “dianggap” berlaku sampai dibentuknya
suatu undang-undang atau sudah selesainya suatu masalah yang diatur dalam TAP
MPR tersebut berdasarkan TAP MPR Nomor I/MPR/2003. (H. Machmud Aziz)