Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

STANDARISASI BAHAN ALAM


PERCOBAAN 10
PEMANFAATAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) DALAM
ANALISIS IDENTIFIKASI JAM PALSU

Disusun oleh:
Kelompok G/3

Risa Apriani Hilyah 10060316203


Miranda Dwi Putri 10060316204
Neng Aneu Nurul H 10060316207
Diah Rohaeni 10060316208

Asisten: Aisya Qisthi.,S.Farm

Tanggal Praktikum : 14 Maret 2018


Tanggal Pengumpulan : 21 Maret 2018

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1439H/ 2018
PERCOBAAN 10
PEMANFAATAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) DALAM
ANALISIS IDENTIFIKASI JAM PALSU

I. Tujuan Percobaan
Mendeteksi adanya bahan kimia obat (BKO) pada jamu dengan metode
kromatografi lapis tipis (KLT)
II. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Chamber KLT
2. Mikroskop
3. Lampu UV 254 dan 365 nm
4. Penampak bercak
5. Pengering (Hair dryer)
6. Pipa kapiler
b. Bahan
1. Etanol
2. Jamu dari kelompok
3. Jamu simulasi dari asisten
4. Plat KLT
5. Zat kimia pembanding:
- Antalgin
- Ibuprofen
- Parasetamol
III. Prosedur Percobaan
Jamu simulasi dan jamu yang telah dibeli oleh setiap kelompok disiapkan.
Larutan sampel dan larutan pembanding dibuat dengan cara 10 mg jamu
dilarutkan dalam 5 mL etanol dan pembanding 10 mg dalm 5 mL etanol. Lalu
larutan pengembang berupa kloroform : metanol (9:1) atau pengembang yang lain
yang cocok disiapkan untuk zat kimia pembanding yang digunakan dengan
mengacu pada pustaka. Kemudian larutan pengembang dijenuhkan terlebih
dahulu.
Sebelum dilakukan penotolan plat KLT diaktivasi terlebih dahulu di dalam
oven pada suhu 105oC selama 15 menit . Larutan jamu sampel, jamu simulasi dan
BKO pembanding ditotolkan ke plat KLT. Lalu dilakukan pengelusian dengan
pengembang hingga batas 1 cm dari ujung plat. Kemudian dikeringkan dan
diamati secara visual dibawah sinar UV 254 nm dan 365 nm. Hasil pengamatan
yang didapat didiskusikan. Khusus untuk jamu simulasi, diwajibkan untuk
diidentifikasi senyawa yang terdapat di dalam jamu tersebut.
IV. Data Pengamatan dan Perhitungan
4.1. Data pengamatan
Fase Diam : Silica F 254
Fase Gerak : kloroform: metanol 9:1
Sampel : - Jamu Simulasi
- Jamu Ar Ma Lin
Zat pembanding : Antalgin, Ibuprofen, Paracetamol
Jumlah sampel : 2 totolan
Jarak Pengembangan : 5 cm

Larutan Rf

Jamu Uji 0,52

Jamu Simulasi 0,72

Antalgin 0,74

Ibuprofen 0,9

Parasetamol 0,54
Gambar Keterangan

Jamu Uji

Jamu Uji dan Jamu Simulasi


yang telah dilarutkan dengan 5
ml etanol

Larutan Pembanding yang


digunakan

Elusi
Proses pengeringan plat KLT
setelah dielusi

Hasil pengamatan KLT jamuuji,


jamu simulasi dan larutan
pembanding dibawah sinar UV
254 nm

4.2. Perhitungan
Diketahui : Jarak yang ditempuh pelarut (b) : 5 cm
Jarak yang ditempuh senyawa (a) :
Jamu Uji : 2,6 cm
Jamu Simulasi : 3,6 cm
Larutan Antalgin : 3,7 cm
Larutan Ibuprofen : 4,5 cm
Larutan Paracetamol : 2,7 cm
Ditanyakan : Rf masing-masing senyawa
2,6 𝑐𝑚
Jamu Uji : Rf = = 0,52
5 𝑐𝑚
3,6 𝑐𝑚
Jamu Simulasi : Rf = = 0,72
5 𝑐𝑚
3,7 𝑐𝑚
Larutan Antalgin : Rf = = 0,74
5 𝑐𝑚
4,5 𝑐𝑚
Larutan Ibuprofen : Rf = = 0,9
5 𝑐𝑚
2,7 𝑐𝑚
Larutan Parasetamol : Rf = = 0,54
5 𝑐𝑚
V. Pembahasan
Pada percobaan kali ini yaitu membahas tentang pemanfaatan
kromatografi lapis tipis (KLT) dalam analisis identifikasi jamu palsu dengan
tujuan untuk mengetahui kandungan bahan kimia obat (BKO) dalam jamu palsu.
Pada prinsipnya metode KLT ini yaitu pemisahan berdasarkan sifat kepolaran
suatu senyawa. (Hendayana, 2010)
Berdasarkan PERMENKES No. 246/Menkes/Per/V/1990 menyatakan
bahwa Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari
bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. Sehinga Obat Tradisional dilarang mengandung BKO.
Berdasarkan Permenkes No. 246/Menkes/Per/V/1990 Pasal 3 menyatakan
bahwa obat tradisional harus memenuhi persyaratan:
a. Secara empirik terbukti aman dan bermanfaat untuk digunakan manusia;
b. Bahan obat tradisional dan proses produksi yang digunakan memenuhi per
syaratan yang ditetapkan;
c. Tidak mengandung bahan kimia sintetik atau hasil isolasi yang berkhasiat
sebagai obat;
d. Tidak mengandung bahan yang tergolong obat keras atau narkotika.
BKO yang ditambahkan ke dalam obat tradisional umumnya dimaksudkan
untuk meningkatkan khasiat dari obat tradisional itu sendiri seperti
menghilangkan gejala sakit dengan segera (seperti pada pegal linu), secara
farmakologis menekan rangsang makan pada susunan syaraf pusat (seperti pada
jamu pelangsing), meningkatkan aliran darah ke corpus kevernosum dengan
segera (pada jamu peningkat stamina pria). Penggunaan bahan kimia obat dalam
obat tradisional ternyata dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya
terhadap kesehatan apabila digunakann secara terus-menerus dalam jangka waktu
yang relatif lama karena tidak diketahui berapa jumlah dosis yang ditambahkan
kedalam produk obat tradisional tersebut. Selain itu apabila dikonsumsi secara
terus-menerus dengan dosis yang tidak sesuai dalam jangka waktu tertentu dapat
mengakibatkan kerusakan organ tubuh bahkan dapat menimbulkan kematian.
Menurut temuan Badan POM, obat tradisional yang sering dicemari BKO
umumnya adalah obat tradisional yang digunakan pada:

Klaim kegunaan obat


BKO yang sering ditambahkan
tradisional
Fenilbutason, antalgin, diklofenak
Pegal linu / encok /
sodium, piroksikam, parasetamol,
reumatik
prednison, atau deksametason

Pelangsing Sibutamin Hidroklorida

Peningkat stamina / Obat


Sildenafil Sitrat
Kuat pria

Kencing manis / diabetes Glibenklamid

Sesak nafas / asma Teofilin

Penambah nafsu makan Dexamethason dan siproheptadine

Berikut Khasiat yang diinginkan dan efek samping dari zat pembanding
yang digunakan:

Bahan
Khasiat yang diinginkan Efek samping
Kimia Obat

Antalgin yang berat adalah gangguan


Menghilangkan rasa nyeri darah yang disebut agranulositosis (
Pada jamu pegal linu berkurangnya jumlah sel darah putih,
bekerja dengan khususnya neutrofil granulosit).
Metampiron/
menghambat sintesis Sehingga gampang terkena infeksi,
Antalgin
prostaglandin yang tubuh terasa lemah ( tidak enak
berperan sebagai mediator badan, lemah, pusing, sakit otot),
nyeri. diikuti dengan terjadinya tukak pada
membrane mukosa lambung.
Menghilangkan rasa nyeri
Pada dosis besar parasetamol dapat
Pada jamu pegal linu
merusak hati/liver menyebabkan
bekerja dengan
gangguan liver. Di dalam tubuh.
Paracetamol menghambat sintesis
Parasetamol akan dimetabolisir
prostaglandin yang
menghasilkan zat radikal bebas yang
berperan sebagai mediator
bernama N-acetyl-p-
nyeri.
benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam
keadaan normal NAPQI akan
didetoksikasi secara cepat oleh enzim
glutation dari hati. Pada dosis
berlebih. Hati tidak mampu lagi
mendetoksinya dan zat radikal bebas
tersebut justru dapat merusak hati

Ibuprofen terutama
digunakanuntuk mengobati
atritis reumatik yang
bekerja dengan cara Pada dosis besar menyebabkan
memasuki ruang sinovial gastritis, konstipasi, nausea dan
Ibuprofen
secara lambat dan pusing (Gilman, 1996).
terakumulasi dalam
konsentrasi tinggi. (Gilman,
1996).

KLT merupakan suatu sistem kromatografi fase normal dimana fase diamnya
lebih polar dibandingkan dengan geraknya (David, C. 2001) Di sini yang berperan
sebagai fase gerak (berupa cairan) adalah kloroform dan methanol, dan fase diam
(berupa padatan) adalah silica gel GF 254 nm dan 365 nm yang mengandung
pengikat (Gypsum) dan senyawa yang mampu berfluoresensi (berpendar) ketika
diamati dibawah sinar UV 254 dan 365 nm. Suatu senyawa dapat berfluoresen
karena memiliki kemampuan untuk mengabsorbsi (menyerap) suatu cahaya untuk
kemudian memancarkan cahaya lagi, namun cahaya yang dipancarkan kembali itu
memiliki warna yang berbeda dengan warna cahaya awalnya (Iskandar, 2007).
Prinsip kerja dari KLT ada 3 tahap yaitu adsorpsi, penjerapan senyawa kimia
pada fase diam.Desorpsi, ketika fase diam yang digunakan lebih polar maka
afinitas fase gerak terhadap fase diam akan lebih kuat dibandingkan senyawa
kimia, sehingga senyawa kimia akan terlepas dari fase diam. Dan elusi, senyawa
kimia yang terlepas dari fase diam selajutnya akan terelusi (Speight, 2003).
Pada pengidentifikasi jamu palsu dengan metode kromatografi lapis tipis
(KLT) larutan sampel yaitu jamu pegal linu dan jamu simulasi dilarutkan dalam
methanol, karena metanol merupakan pelarut yang baik dan dilihat dari
kepolarannya metanol lebih polar dari pada etanol. Larutan pembanding yang
digunakan adalah paracetamol, ibu profen , dan antalgin, hal ini dikarenakan
Sampel jamu adalah jamu Pegal Linu yang dicurigai adanya bahan kimia obat
dalam campuran jamu tradisional seperti Paracetamol, Antalgin, dan Ibu profen.
Selanjutnya pembuatan larutan pengembang atau eluen dilakukan dengan cara
mencampurkan kloroform: metanol 9:1 lalu dimasukkan ke dalam gelas kimia.
Penggunaan perbandingan 9:1 ini karena eluen yang kita butuhkan harus bersifat
non polar, dimana koloroform bersifat non polar sedangkan metanol bersifat polar
maka jumlah kloroform harus lebih banyak dibandingkan metanol.
Kecepatan proses KLT dipengaruhi oleh tingkat kejenuhan chamber dan daya
serap plat terhadap fase gerak (Stahl, 1969). Chamber dijenuhkan dengan cara
kertas saring dan dimasukkan kedalam chamber yang sudah diisi eluen, indikasi
yang menandakan chamber sudah terjenuhkan oleh eluen yaitu jika eluen sudah
naik dan membasahi kertas saring sampai bagian atas. Hal ini menunjukkan
bahwa kekosongan ruang struktur kloroform yang diisi dengan metanol sudah
penuh, apabila kloroform sudah sampai pada kondisi jenuh maka kloroform yang
tidak dapat mengikat metanol akan terserap ke kertas Tujuan penjenuhan agar
atmosfer dalam chamber penuh dengan uap eluen sehingga pada proses eluasi
kecepatan penguapan eluen sama pada semua sisi permukaan plat KLT.
Daya serap plat terhadap fase gerak juga mempengaruhi kecepatan proses
KLT, sebelum digunakan plat KLT harus diaktivasi dengan cara dipanaskan
dalam oven pada suhu 105oC. Hal ini bertujuan agar fase gerak dapat bergerak
cepat maka plat KLT harus dalam kondisi kering.
Setelah penjenuhan eluen dan aktivasi plat KLT dilanjutkan dengan penotolan
larutan sampel, larutan pembanding, dan zat kimia pemanding pada plat KLT .
Maka disiapkan plat silika untuk penotolan dengan ukuran 7 X4 cm. Diberi batas
bawah 1 cm dan batas atas 1 cm, sehingga diperoleh jarak eluen 5 cm. Tanda
penotolan dilakukan dengan menggunakan pensil, hal ini dilakukan karena warna
pada pensil tidak akan terbawa oleh eluen dan menjadi spot sedangkan bila kita
menggunakan pulpen atau alat tulis berwarna lain maka zat warnanya akan ikut
merambat bersama eluen dan akan mempengaruhi nilai Rf yang akan kita amati.
Langkah selanjutnya adalah melakukan penotolan sampel saat penotolan harus
serba hati-hati jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis, serta diperhatikan batas
antara totolan dan pelarut fase gerak agar totolan tidak larut dalam fase gerak
sehingga tidak terjadi elusi.dan monitor pada batas bawah plat silika. Batas atas
dan bawah plat silika dibuat untuk memudahkan kita mengamati jarak rambat
dari eluen sehingga memudahkan kita untuk menghitung harga Rf pada masing-
masing sampel. Silika gel harus dijaga sebersih mungkin, karena apabila basah
ataupun kotor akan menganggu disebabkan adanya pengotor jadi bukan dari
sampel / zat murni yang akan diteliti. Hal ini bertujuan untuk mengecek fase gerak
apakah mau memisah dan juga membersihkan fase gerak dari pengotor yang dapat
menganggu jalannya pengamatan. Setelah dilakukan penotolan sampel dan
monitor pada plat silika dan bercak dari masing-masing mengering, tempatkan
lempengan plat kedalam chamber.
Setelah eluene sampai pada batas atas dari plat KLT lalu diangin-anginkan
dengan menggunakan hair dryer dan diamati secara visual di bawah sinar UV 254
nm. Hasi Rf pada 254 yaitu Jamu uji 0,52; jamu simulasi 0,72; Parasetamol 0,54;
Antalgin 0,74; dan ibu profen 0,9. Pada pengindentifikasian BKO kami
menyimpulkan bahwa BKO yang terkandung dalam jamu pegal linu kelompok
kami adalah paracetamol karena nilai Rf jamu uji 0,52 mendekati nilai Rf
paracetamol 0,52. Sedangkan pada jamu simulasi mengandung Antalgin.

VI. Kesimpulan
BKO yang terkandung dalam jamu pegal linu kelompok kami adalah
paracetamol karena nilai Rf jamu uji 0,52 mendekati nilai Rf paracetamol 0,52.
Sedangkan pada jamu simulasi mengandung Antalgin.
Daftar Pustaka
Hendayana, Sumar. (2010). Kimia Pemisahan. Bandung: Rosda.
David, C. (2001). Cromatography. London: Kogan Page.
Iskandar, M.J. (2007). Pengantar Kromatografi Edisi Kedua. Bandung: ITB
Lenny, S. 2006. Analisi Kromatografi dan Mikroskop. ITB. Bandung.
Stahl, E. 1969. Thin Layer Cromatography. London: George Allen Unwin.
Speight, H. M. (2003). Absorption Kromatography. New York : Academic Press.
BPOM RI. 2008. Informasi Obat Nasional Indonesia. Jakarta
BPOM RI. 2016. No. Hm. 03.03.1.431.11.16.4010 tentang obat tradisiobal yang
mengandung bahan kimia obat. Jakarta.