Anda di halaman 1dari 4

BAB VIII

PERUNDANG UNDANGAN DAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG


PEMOTONGAN TERNAK, KESEHATAN DAGING, DAN PRODUKSI SUSU DALAM
NEGERI

Perundang-undangan dan peraturan pemerintah tenteang pemotongan ternak, kesehatan


daging, dan produksi susu dalam negeri merupakan landasan hukum dan pedoman. Semua
penduduk harus taat dan tunduk terhadap semua pasal yang terteradan pelanggaran akan
diberikan sanksi-sanksi hukuman yang setimpal. Perundang-undangan dan peraturan pemerintah
yang mengatur hal tersebut:

 8.1 Staatsblad Nomor 614 tahun 1936 tentang Pemotongan Ternak Besar Betina
Bertanduk

Yang dimaksud disini adalah sapi dan kerbau. Menurut undang- undang ini, dilarang
menyembelih atau menyuruh menyembelih ternak besar betina bertanduk. Larangan tersebut
tidak berlaku apabila ternak besar betina bertanduk telah diafkir oleh petugas Dinas peternakan
dengan memberi tanda cap bakar huruf “S” (slaughter/sembelih) pada salah satu paha. Undang-
undang ini juga menyebutkan ternak betina dapat dipotong terpaksa (noodsllacht) karena
mengamuk, ditimpa kecelakaan berat, terserang penyakit, dan tentang pencegahan dan
pemberantasan penyakit hewan menular. Hal tersebut dimaksud untuk melindungi populasi
ternak agar jumlahnya tidak semakin menurun.

 8.2 Undang-undang Nomor 6 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok


Peternakan dan Kesehatan Hewan

Undang-undang ini juga disebut Undang-undang Pokok Kehewanan, yang terdiri atas 4
bab dan 27 pasal. Perombakan dan pembangunan di bidang peternakan dan kesehatan hewan
memiliki tujuan utama menambah produksi untuk meningkatkan taraf hidup peternak Indonesia
dan untuk dapat memenuhi keperluan bahan makanan yang berasal dari ternak bagi seluruh
rakyat Indonesia secara adil, merata, dan cukup.
 8.3 Peraturan Daerah Bali Nomor 5 tahun 1974 tentang Pemotongan Ternak Potong

Peraturan ini serupa dengan peraturan daerah lain di Indonesia tentang pemotongan
ternak potong, hanya terdapat sedikit variasi yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi
setempat. Perda ini terdiri atas 13 bab dan 47 pasal. Ternak potong yang akan disembelih harus
dibawa ke Rumah Potong Umum sehari sebelumnya dan di periksa oleh juru daging. ternak yang
baik untuk dipotong diberi cap “P”. Dokter hewan/petugas teknis memberi surat ‘KIR’ untuk
memotong hewan yang diberi cap “P” hanya berlaku 2x24 jam. Pemeriksaan ante-mortem
dilakukan setiap hari mulai matahari terbit sampai terbenam, setelah disembelih ternak juga
diperiksa post-mortem lagi.

 8.4 Instruksi Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertanian Nomor 18/1979
dan Nomor 5/1979 Tentang Pencegahan dan Larangan Pemotongan Ternak
Sapi/Kerbau Betina Bunting dan atau Sapi/Kerbau Betina Bibit

Inti dari Instruksi Bersama ini adalah penegasan dalam Staatblad Nomor 614 tahun 1936.
Hal ini dianggap penting karena terjadi kecenderungan penurunan populasi ternak. Terdapat
fakta bahwa para jagal cedrung memotong ternak betina karena harga belinya lebih murah dan
harga jual dagingnya sama. Petunjuk teknis Instruksi Bersama Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Pertanian adalah : (1) tempat pemotongan, (2) Syarat pemotongan, (3) Pengawasan, (4)
sanksi, (5) dan lain-lain.

 8.5 Instruksi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Tanggal 1 Oktober 1980
tentang Pencegahan dan Larangan Pemotongan Ternak Sapi/Kerbau Betina Bibit
atau Sapi/Kerbau Betina yang Masih Produktif

Khusus untuk daerah propinsi Bali, para jagal cenderung untuk memotong ternak betina
produktif atau sedang bunting. Hal ini dapat menghambat laju pertumbuhan populasi ternak.

 8.6 Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular

Isi dari pedoman ini memuat Pendahuluan, Etiologi, Epizootiologi, Pengenalan penyakit,
Tindakan, dan perlakuan pemotongan hewan dan daging. Pedoman ini dimaksudkan sebagai
bagian dari peraturan pelaksanaan yang bersumber dari Undang-undang Nomor 6 tahun 1967.
Khusus bagi hygiene daging, bab tentang perlakuan pemotongan hewan dan daging merupakan
pedoman yang sangat berharga.

 8.7 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1983 tentang


Kesehatan Masyarakat Veteriner

Peraturan Pemerintah ini terdiri atas 8 bab dan 30 pasal. Pada Bab I mengatur ketentuan
Umum, pada Bab II diatur ikhwal Pengawasan Masyarakat Veteriner (pasal 2-15), pada Bab III
mengatur ikhwal Pengujian (pasal 16-20), pada Bab IV diatur ikhwal Pemberantasan Rabies
(pasal 21-25), Pada Bab V diatur ikhwal Pengawasan dan Pengendalian Zoonosis lainnya (pasal
26-27), Pada Bab VI mengatur ikhwal Ketentuan Pidana.

 8.8 Surat Keputusan Ditektorat Jendral Peternakan Nomor 17 tahun 1983 tentang
Syarat-syarat, Tata Cara Pengawasan, dan Pemeriksaan Kualitas Susu Produksi
Dalam Negeri

Pada Bab I mengatur ketentuan umum susu, Pada Bab II mengatur Syarat-syarat
Kesehatan Sapi Perah dan Kualitas Susu yang diprouksikan, Pada Bab III mrngatur Tata Cara
Pengawasan dan Pengujian Air Susu, Pada Bab IV mengatur ikhwal Hasil Pemeriksaan dan
Pengujian Kualitas Susu.

 8.9 Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 413/Kpts/TN.310/7/1992 tentang


Pemotongan Hewan Potong dan Penanganan Daging serta Hasil Ikutannya

Pada Bab I mengatur tentang Ketentuan Umum seperti : (a) hewan potong adalah sapi,
kerbau, kuda, kambing, dan domba, (b) pemotonga hewan potong adalah kegiatan untuk
menghasilkan daging yang terdiri atas pemeriksaaan ante-mortem, penyembelihan,
penyelesaian penyembelihan, dan pemeriksaaan post-mortem, dan lain-lain. Pada Bab II
membahas Syarat-syarat dan Tata Cara Pemotongan Hewan Potong. Pada Bab III
membahas Tata Cara Penanganan Daging. Pada Bab IV mengatur ikhwal Penanganan
Hasil Ikutan dan Limbah. Pada Bab V mengatur Ketentuan-ketentuan Lain.
TUGAS KESMAVET II

RINGKASAN

BAB VIII

PERUNDANG UNDANGAN DAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG


PEMOTONGAN TERNAK, KESEHATAN DAGING, DAN PRODUKSI SUSU DALAM
NEGERI

1. Leoni Arifah Agustina 1509005101

2. Putri Nur Hasanah 1509005112

3. I Gede Pratama Chandra W 1509005114

4. Dzikri Nurma’rifah Takariyanti 1509005115

5. Kadek Satria Adi Marhendra 1509005116

6. Dinda Nur Hidayah 1509005119

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018