Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN RETENSI URINE

No. Dokumen : SOP/UKP/ II / 270 /2017


No. Revisi : 00
SOP
Tanggal Terbit : Maret 2017
Halaman :1/3
Disahkan oleh Kepala Puskesmas Tanjung
PUSKESMAS drg. Adhi Supriadi, M.Kes
TANJUNG NIP : 197504272005011006

1. Pengertian Retensi urine adalah kodisi dimana terjadi penumpukan dikandung kemih
dan tidak mempunyai kemampuan untuk menosongkannya secara sempurna.
Pada pasien retensi urine perlu dilakukan pemasangan kateter .
Indikasi :
1. Retensi urine akut-kronis
2. Menampung arus urine pada pasien inkontinensia urin
3. Pengukuran urine output
4. Periopertaif untuk beberapa prosedur bedah
5. Pasien yang immobilized
Kontra indikasi :
1. Prostatitis akut karena adanya peradangan pada prostat yang sehingga
jalan uretra menyempit. Bila dilakukan akan menyebabkan laserasi
pada prostat
2. Kecurigaan trauma uretra, seperti striktur uretra.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan pada kasus retensi urine
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas No. 103/ SK / II / 2017 Tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis
4. Referensi PERMENKES No. 75 Tahun 2014

5. Langkah - 1. Petugas kesehatan melakukan pengukuran tekanan darah, suhu badan


langkah (vital sign) dan mencatat dalam status/rekam medis pasien.
2. Dokter melakukan anamnesa terkait dengan keluhan yang dialami seperti
sejak kapan terjadinya retensi urine, adakah riwayat penyakit seperti ini
seblumnya, riwayat batu ginjal, BPH, Ca prostat, adakah nyeri yang
menyertai, adakah p erubahan warna urine, dan lain-lain
3. Dokter melakukan pemeriksaan fisik seperti bimanual pada ginjal akibat
tumor, obstruksi, ataupun infeksi ginjal. Masa suprasimfisis dapat
disebabkan karena retensi bekuan darah pada buli-buli. Colok dubur
dapat memberikan informasi adanya BPH ataupun Ca porostat.
4. Dokter menegakkan diagnosis retensi urine dan dapat ditambahakan
dengan kausa didapatkan dari hasil pemeriksaan.
5. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien dan memberikan
advis terapi sesuai dengan hasil penemuan pemeriksaan fisik.
Rencanakan tindakan yang akan dilakukan seperti pemasangan kateter
setelah menyingkirkan kontraindikasi.
6. Penandatanganan inform consent.
7. Persiapkan alat -Folley catheter -urine bag -lidocaine gel -spuit 10 cc -
aqudest atau normal saline -duk steril -kasa -cairan anti septik -Hipafix –
Handscone
8. Persiapkan pasien
- Lakukan prosedur antiseptic ke pasien
- Pasang duk
- Persiapkan kateter dan sambungkan ke urine bag
- oles gel dengan antiseptic (bila pasien perempuan) atau langsung
dimasukkan lewat ostium uretra ext (pasien laki-laki) -masukkan
kateter secara perlahan, dapat menggunakan pinset atau
menggunakan tangan. Masukkan kateter hingga mencapai pangkal
kateter. Pastikan urine mengalir.
- Kunci kateter menggunakan normal saline atau aquadest yang telah
disiapkan kedalam spuit.
- Posisikan urine bag disamping pasien
9. Edukasi mengenai katater yang telah dipasangkan, jaga kebersihan dari
kateter, kosongkan urinebag bila sudah penuh
10. Petugas kesehatan melakukan dokumentasi kegiatan yang dilakukan
kedalam rekam medis dan surat rujukan
6. Unit terkait 1. Ruangan Gawat Darurat ( UGD )
2. Ruangan Rawat Inap
3. Ruangan Rawat jalan
7. Dokumen 1. Rekam Medik
terkait
8. Rekaman Tanggal mulai
No Yang diubah Isi Perubahan
histori diberlakukan
perubahan