Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pers merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang
melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan infornasi baik dalam
bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun
dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik,
dan segala jenis saluran yang tersedia.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pers adalah usaha percetakan
dan penerbitan usaha pengumpulan dan penyiaran berita melalui surat kabar,
majalah dan radio, orang yang bergerak dalam penyiaran berita, medium
penyiaran berita, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi atau film. Pers
(press) atau jurnalisme adalah proses pengumpulan, evaluasi dan distribusi
berita kepada public. Sedangkan Kantor Berita adalah perusahaan pers yang
melayani media cetak, media elektronik atau media lainnya serta masyarakat
umum dalam memperoleh informasi.
Pers harus dilindungi terhadap segala macam pengaruh yang dapat
mengkerdil-kan fungsi pers itu sendiri, sehingga menghalangi kebebasan
menyatakan pendapat. Peranan dan fungsi pers sebagai salah satu lembaga
kontrol atau pengawasan merupakan sarana yang strategis didalam proses
mewujudkan Negara Hukum, sebab melalui kekuatannya pers dapat dan
mampu meningkatkan kepedulian masya-rakat sehingga "social control" dapat
terlaksana dengan baik.
Di dalam negara demokratis, pers berperan penting dalam proses
pembagian informasi di sebuah lingkungan masyarakat maupun perorangan
atau individual, kita sering mendengar kebebasan pers. Kebebasan tersebut
meliputi kebebasan hal yang telah disepakati dan diatur dalam sebuah undang
undang suatu negara, contohnya kebebasan berpendapat dalam kebebasan
pers. Namun kini kebebasan itu masih berkesinambungan dengan adanya

1
undang undang yang menyalahinya atau undang undang yang dapat menekan
akibat kebebasan pers tersebut, misal undang undang yang mengatur tentang
pencemaran nama baik maka dari itu, kini kebebasan pers dibatasi agar
tercipta lingkungan yang damai tanpa kesalah pahaman antara jurnalistik dan
pranata pranata sosial dimasyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian pers?
2. Bagaimana perkembangan pers di dunia?
3. Bagaimana perkembangan pers di indonesia?
4. Apa saja peran dan fungsi pers?
5. Bagaimana kebebasan pers?
6. Apa saja dampak kebebasan pers?
7. Bagaimana penyalahgunaan kebebasan pers dalam masyarakat demokratis
di indonesia?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana pengertian pers.
2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan pers di dunia.
3. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan pers di indonesia.
4. Untuk mengetahui apa saja peran dan fungsi pers.
5. Untuk mengetahui bagaimana kebebasan pers.
6. Untuk mengetahui apa saja dampak kebebasan pers.
7. Untuk mengetahui bagaimana penyalahgunaan kebebasan pers dalam
masyarakat demokratis di indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pers
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pers adalah usaha percetakan
dan penerbitan usaha pengumpulan dan penyiaran berita melalui surat kabar,
majalah dan radio, orang yang bergerak dalam penyiaran berita, medium
penyiaran berita, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi atau film.
Pers (press) atau jurnalisme adalah proses pengumpulan, evaluasi dan
distribusi berita kepada public. Sedangkan Kantor Berita adalah perusahaan
pers yang melayani media cetak, media elektronik atau media lainnya serta
masyarakat umum dalam memperoleh informasi.
Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian, yakni pers
dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. Dalam pengertian
luas, pers mencakup semua media komunikasi massa, seperti radio, televisi,
dan film yang berfungsi memancarkan/ menyebarkan informasi, berita,
gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada
orang lain. Maka dikenal adanya istilah jurnalistik radio, jurnalistik televisi,
jurnalistik pers. Dalam pengertian sempit, pers hanya digolongkan produk-
produk penerbitan yang melewati proses percetakan, seperti surat kabar
harian, majalah mingguan, majalah tengah bulanan dan sebagainya yang
dikenal sebagai media cetak.
Pers mempunyai dua sisi kedudukan, yaitu: pertama ia merupakan
medium komunikasi yang tertua di dunia, dan kedua, pers sebagai lembaga
masyarakat atau institusi sosial merupakan bagian integral dari masyarakat,
dan bukan merupakan unsur yang asing dan terpisah daripadanya. Dan sebagai
lembaga masyarakat ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga-lembaga
masyarakat lainnya
1. Pers sebagai Medium Komunikasi
Ditinjau dari kerangka proses komunikasi, pers tidak lain adalah
medium (perantara) atau saluran (channel) bagi pernyataan-pernyataan

3
yang oleh penyampainya ditujukan kepada penerima yaitu khalayak.
Dalam proses komunikasi melalui media terdapat 5 unsur atau komponen
yang terlibat, yaitu (1) penyampai, (2) pesan, (3) saluran, (4) penerima, (5)
efek. Pers hanya sebagai saluran bagi pernyataan umum. Yang bertindak
sebagai penyampai bukan individu biasa seperti yang terdapat dalam
komunikasi tatap muka, melainkan individu yang bekerja pada surat kabar,
majalah, studio radio, televisi, dan sebagainya. Dalam penyampaian
pernyataan tersebut ia tidak bertindak sebagai individu biasa, melainkan
sebagai bagian atau mewakili media massa. Jadi ia sendiri tidak
menampilkan atau mencantumkan namanya, seperti lazimnya dalam media
massa. Ia adalah orang yang anonim.
Wilbur Schramm menyebutnya sebagai institutionalized person.
Sekalipun harus diakui bahwa tidak semua individu bekerja secara
anonim, sebab ada juga orang yang bekerja pada persuratkabaran secara
terang-terangan, misalnya seorang kolumnis. Ia adalah orang yang secara
periodik dengan menyebutkan atau menuliskan namanya dalam
penyelenggaraan suatu rubrik tertentu. Seorang kolumnis dapat juga
digolongkan sebagai opinion leader atau pembentuk pendapat umum.
Karena namanya sudah merupakan jaminan bagi mutu tulisannya, dan
tulisan itu dijadikan pedoman bagi pembaca-pembacanya yang setia.
Bahkan pengaruh seorang kolumnis kadang-kadang sampai sedemikian
besarnya, sehingga sebagai perseorangan ia mampu mempengaruhi
kebijaksanaan politik pemerintahnya.
2. Pers sebagai Lembaga Masyarakat
Pers sebagai subsistem dari sistem sosial selalu tergantung dan
berkaitan erat dengan masyarakat dimana ia berada. Kenyataan ini
mempunyai arti bahwa di manapun pers itu berada, membutuhkan
masyarakat sebagai sasaran penyebaran informasi atau pemberitaannya.
Pers lahir untuk memenuhi keperluan masyarakat akan informasi secara
terus menerus mengenai kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa besar
atau kecil yang terjadi di dalam masyarakat.

4
Peranan dan fungsi pers selain melakukan pemberitaan yang
obyektif kepada masyarakat, juga berperan dalam pembentukan pendapat
umum. Bahkan dapat berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran politik
rakyat dan dalam menegakkan disiplin nasional. Peranan pers dan media
massa lainnya yang paling pokok dalam pembangunan adalah sebagai
agen perubahan. Letak peranannya adalah dalam membantu mempercepat
proses peralihan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.

B. Perkembangan Pers Di Dunia


Sejarah dan perkembangan jurnalistik dunia Dalam perkembangan
jurnalistik, terkait penentuan jurnalis pertama dan kapan kegiatan jurnalistik
pertama dilakukan, para ahli senantiasa merujuk pada Romawi masa Cayus
Julius Caesar (100-44 SM). Jules meneruskan tradisi raja-raja terdahulu untuk
menyiarkan kabar mengenai keputusan di papan pengumuman Yang
diberinama ‘FORUM ROMANUM” yang berisi Acta Diurna (laporan atas
sidang-sidang senat dan keputusannya) dan acta diurna populi (berisi laporan
hasil rapat rapat rakyat dan berita berita lainya. Julius berpikir, walaupun
kekuasaannya tanpa batas, ia harus mendapatkan inisiasi dari publik Roma.
Sejak saat itu dikenal istilah Jurnalis yang berasal dari kata diurnalis atau
mereka yang menjadi juru tulis senat. Padahal, jika para ahli sains percaya
adanya agama terutama islam, perkembangan jurnalistik sudah ada pada masa
sebelum Julius. Misalnya, catatan Eumenes, 363 SM. Ia telah membuat kisah
orang-orang ternama masa itu, dari Alexander yang agung sampai Aristoteles.
Lebih jauh lagi beribu tahun ke belakang adalah masa Nabi Nuh. Konon, saat
banjir besar menghantam bumi atau berakhirnya zaman es, riak jurnalistik
sudah terbangun. Nabi Nuh AS membutuhkan kabar yang akurat dan faktual
tentang kondisi daratan. Dikirimlah jurnalis dadakan, namun bisa dipercaya
karena memiliki kemampuan "radar magnetis" dan otak kecil alat navigasi di
hidungnya. Yakni, burung merpati. Merpati terbang berkeliling hingga
menemukan ranting zaitun yang menyebul di lautan. Ranting itu dipatuk,
lantas dibawa sehingga Nabi Nuh mengetahui kabar akurat mengenai surutnya

5
air. Namun karena banyak ilmuwan yang tidak mengetahui hal tersebut.
Hingga sekarang julius cesar masih dianggap tentang sejarah awal jurnalistik.
Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis makin meluas pada
masa peradaban Mesir, ketika masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan
kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.
Pada abad 8 M., tepatnya tahun 911 M, di Cina muncul surat kabar cetak
pertama dengan nama “King Pau” atau Tching-pao, artinya "Kabar dari
Istana". Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara
teratur seminggu sekali.
Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak
ditemukan oleh Johan Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk
seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman.
Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di
suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke
Benua Amerika pada 1493.
Pelopor surat kabar sebagai media berita pertama yang bernama
“Gazetta” lahir di Venesia, Italia, tahun 1536 M. Saat itu Republik Venesia
sedang perang melawan Sultan Sulaiman. Pada awalnya surat kabar ini ditulis
tangan dan para pedagang penukar uang di Rialto menulisnya dan menjualnya
dengan murah, tapi kemudian surat kabar ini dicetak.
Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah
Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti
nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi
editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”.
Di Amerika Serikat ilmu persuratkabaran mulai berkembang sejak tahun
1690 M dengan istilah “Journalism”. Saat itu terbit surat kabar dalam bentuk
yang modern, Publick Occurences Both Foreign and Domestick, di Boston
yang dimotori oleh Benjamin Harris.
Pada Abad ke-17, di Inggris kaum bangsawan umumnya memiliki
penulis-penulis yang membuat berita untuk kepentingan sang bangsawan. Para
penulis itu membutuhkan suplai berita. Organisasi pemasok berita (sindikat

6
wartawan atau penulis) bermunculan bersama maraknya jumlah koran yang
diterbitkan. Pada saat yang sama koran-koran eksperimental, yang bukan
berasal dari kaum bangsawan, mulai pula diterbitkan pada Abad ke-17 itu,
terutama di Prancis.
Pada abad ke-17 pula, John Milton memimpin perjuangan kebebasan
menyatakan pendapat di Inggris yang terkenal dengan Areopagitica, A
Defence of Unlicenced Printing. Sejak saat itu jurnalistik bukan saja
menyiarkan berita (to inform), tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan
masyarakat (to influence).
Di Universitas Bazel, Swiss jurnalistik untuk pertama kali dikaji secara
akademis oleh Karl Bucher (1847 – 1930) dan Max Weber (1864 – 1920)
dengan nama Zeitungskunde tahun 1884 M. Sedangkan di Amerika mulai
dibuka School of Journalism di Columbia University pada tahun 1912
M/1913 M dengan penggagasnya bernama Joseph Pulitzer (1847 - 1911).

C. Perkembangan Pers Di Indonesia


Komunikasi merupakan kebutuhan kodrati manusia, sehingga
komunikasi cenderung menjadi persyaratan mutlak bagi kemajuannya, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Makin maju suatu
masyarakat, makin berkembanglah lalu lintas komunikasi.Tatap muka sebagai
medium komunikasi tingkat rendah, dirasakan tidak lagi memadai akibat
perkembangan masyarakat. Akibat perkembangan itu pula, masyarakat
berusaha menemukan instrumen lain untuk media komunikasinya dan di
antara media komunikasi itu adalah pers. Menurut Rachmadi bahwa pers lahir
dari kebutuhan rohaniah manusia, produk dari kehidupan manusia, produk
kebudayaan manusia, adalah hasil dari perkembangan manusia.Keberadaan
pers di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari hubungan bangsa Indonesia
dengan Eropa, khususnya dengan bangsa Belanda. Melalui hubungan itulah,
berbagai anasir kebudayaan Barat dapat dikenal di Indonesia termasuk pers.
Pengiriman dan penyebaran informasi dalam bentuk jurnal awalnya
digunakan oleh VOC untuk menyalurkan dan atau mendapat berita, baik dari

7
Eropa maupun dari pos-pos perdagangan Belanda yang tersebar di Nusantara
yang menurut Von Veber telah berlangsung sejak tahun 1615.Hal ini
dipertegas oleh Muhtar Lubis dengan mengatakan bahwa pada tahun 1615,
J.P. Coen menerbitkan Memorie de Nouvelles, sebuah jurnal cetak yang
pertama di Indonesia, memuat berita dan informasi tentang VOC.Sementara
surat kabar pertama yang terbit di Indonesia adalah Bataviase Nouvelles tahun
1744 oleh J.E. Jordens.Perancis dan Inggris yang pernah menyelingi
kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, turut pula menerbitkan
surat kabar. Perancis di bawah Daendels menerbitkanBataviasche Zoloniale
Courant. Sementara pada masa kekuasaan Inggris menerbitkan surat kabar
dengan nama The Java Government Gazette.Setelah kekuasaan Inggris
berakhir (1816) di Indonesia, maka surat kabar yang terbit menjadi organ
resmi pemerintah Belanda adalah Bataviasche Courant yang kemudian
digantikan olehJavasche Courant.Sampai dengan terbitnya surat kabar ini ada
kenampakan bahwa usaha penerbitan masih didominasi oleh pemerintah yang
berkuasa. Isinya pun dapat diduga, yaitu hanya memuat berita mengenai
kegiatan pemerintah.
Memasuki pertengahan abad ke-19, sudah semakin banyak surat kabar
terbit di Indonesia. Bahkan kaum Indo-Belanda sudah mengusahakan
penerbitan yang diperuntukkan buat kaum pribumi dan peranakan Tionghoa.
Sehingga pada masyarakat kolonial sudah dikenal adanya pers yang berbahasa
Melayu dan bahasa daerah. Surat kabar pertama berbahasa daerah
adalahBromartani yang terbit di Surakarta pada tahun 1855. Selanjutnya surat
kabar pertama berbahasa Melayu adalah Soerat Kabar Bahasa Melajoe yang
terbit di Surabaya pada tahun 1856) Di samping itu, dikenal pula surat kabar
yang berbahasa Tionghoa yang menggunakan bahasa campuran antara bahasa
Melayu rendahan dengan dialek Hokkian.Seiring dengan pemberlakuan politik
kolonial liberal atau dikenal sebagai politik pintu terbuka (open door policy)
tahun 1970, maka dinamika persuratkabaran di Indonesia juga semakin
kompleks. Kaum swasta asing Eropa (pengusaha-pengusaha penanam modal
di Indonesia) semakin banyak menerbitkan surat kabar. Dalam dekade ini pula

8
(menjelang berakhirnya abad ke-19), terdapat kemajuan di bidang jurnalistik.
Kemajuan yang dimaksud adalah semakin banyaknya orang-orang pribumi
dan orang-orang peranakan Tionghoa yang terlibat dalam penerbitan pers.
Dengan demikian sudah lahir wartawan-wartawan pribumi (Indonesia) yang
pertama. Kedudukan orang-orang ini kelak menjadi sangat penting terhadap
kelahiran pers nasional.
Sementara itu, timbulnya kesadaran kebangsaan (nasionalisme) Indonesia
yang dimanifestasikan melalui perjuangan pergerakan nasional, telah
memperjelas dan mempertegas adanya surat kabar yang mempunyai wawasan
dan orientasi informasi untuk kepentingan perjuangan pergerakan. Surat
kabar-surat kabar itulah yang pada gilirannya dikenal sebagai pers nasional
atau pers pergerakan.
Didalam UU 1945 pasal 6 tahun 1999 tentang pers disebutkan bahwa :
1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilai-nilai
dasar demokrasi mendorong terwujudnya kebebasan dan hak asasi
manusia serta menghormati ke bhinekaan.
2. Mengungkapkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat
dan benar.
3. Melakukan kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal benar dengan
kepentingan umum memperjuangkan keadilan

D. Peran Dan Fungsi Pers


Pers di Negara demokrasi sangat besar perannya dalam pengawasan
penegakan hukum. Dalam kaitan dengan peranan dan fungsi pers ini, haruslah
kita pahami bahwa memang dalam penegakan Negara Hukum dibutuhkan
adanya pilar atau komponen pers yang bebas tetapi yang juga harus berada
dalam rambu-rambu akuntabilitas dan transparansi.
Pers harus dilindungi terhadap segala macam pengaruh yang dapat
mengkerdil-kan fungsi pers itu sendiri, sehingga menghalangi kebebasan
menyatakan pendapat. Peranan dan fungsi pers sebagai salah satu lembaga
kontrol atau pengawasan merupakan sarana yang strategis didalam proses

9
mewujudkan Negara Hukum, sebab melalui kekuatannya pers dapat dan
mampu meningkatkan kepedulian masya-rakat sehingga "social control" dapat
terlaksana dengan baik.
Bahkan dapat dikatakan bahwa secara langsung pers mempunyai peranan
yang benar dan berpengaruh terhadap implementasi dari independensi
Kekuasaan Kehakiman. Melalui pemberitaan pers-lah masyarakat memperoleh
informasi apakah jalannya proses peradilan telah dilaksanakan sebaik-baiknya
dan sebagairnana seharusnya.
Oleh karena itu, kebebasan pers itu membawa implikasi sebagai lembaga
kontrol tapi juga sekaligus sebagai lembaga yang memberi informasi secara
benar, akurat dan tidak berpihak pada masyarakat tentang kinerja badan-badan
peradilan. Batasan atau rambu-rambu yang harus diperhatikan adalah bahwa
pemberitaan-pemberitaan pers haruslah bersifat informatif dan sekalipun
mengandung analitis, haruslah dihindari pemberitaan yang sudah bersifat dan
mengarah kepada "trial by the press".
Fungsi dan peranan pers Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40
tahun 1999 tentang pers, fungi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan,
hiburan dan kontrol sosial. Sementara Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa
pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut: memenuhi hak
masyarakat untuk mengetahuimenegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi,
mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta
menghormati kebhinekaanmengembangkan pendapat umum berdasarkan
informasi yang tepat, akurat, dan benarmelakukan pengawasan, kritik, koreksi,
dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering
disebut sebagai pilar keempat demokrasi ( the fourth estate) setelah lembaga
legislatif, eksekutif, dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling
potensial dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secra
optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah. Menurut
tokoh pers, jakob oetama, kebebasan pers menjadi syarat mutlak agar pers

10
secara optimal dapat melakukan pernannya. Sulit dibayangkan bagaiman
peranan pers tersebut dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap
kebebasan pers. Pemerintah orde baru di Indonesia sebagai rezim pemerintahn
yang sangat membatasi kebebasan pers . ha l ini terlihat, dengan keluarnya
Peraturna Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izn Usaha
penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata menjadi senjata
ampuh untuk mengontrol isi redaksional pers dan pembredelan.

E. Kebebasan Pers
Kebebasan pers berarti kekebalan media komunikasi meliputi surat
kabar, buku, majalah, radio dan televisi dari control/sensor pemerintah.
Kebebasan pers dianggap sebagai hal yang fundamental dalam hak-hak
individu, tanpa media yang bebas masyrakat & pemerintah yang demokratis
tidak mungkin terwujud. Melalui pengakuan atas hak untuk berseberangan
pendapat, pemerintah demokratis mendorong perubahan politik dan sosial
yang damai dan tertib. Pembubaran Departemen Penerangan dan hilangnya
SIUPP menandai sebuah perubahan besar dalam dunia pers Indonesia. Salah
saut indikasinya adlah bertambahnya jumlah media masa baik media cetak,
radio maupun televisi. Meskipun kebebasan pers membawa sisi negative
seperti mengekspos pornografi & pornoaksi yang bertentangan dengan nilai
norma yang ada di masyarakat.
Menurut Rommy Sugiantoro dalam etika ada 2 faktor yang berperan
yaitu norma & nilai norma, perilaku etis yang kongkret merupakan
penggabungan 2 hal tersebut. Namun yang dapat mengontrol etika pers adalah
masyarakat sendiri.Menurut teori tanggung jawab sosial pers, pers yang etis
bukan hanya memanfaatkan hak publik untuk mengetahui tetapi juga
menunjukan tanggung jawab atas pemberitaannya terhadap publik. Etika yng
harus dimiliki seorang jurnalis minimal sama dengan 9 prinsip sosial yang
dimiliki profesi kemasyarakatan seperti :
1. Jangan sampai menghilangkan nyawa orang lain
2. Meminimalisi kerugian

11
3. Bersikap adil (pemberitaan yang adil)
4. Membantu mereka yang perlu perhatian segera
5. Memenuhi janji
6. Menghargai setiap sumber
7. Menghargai orang (menjaga kehormatan, kehidupan pribadi &
kemandirian)
8. Jujur
9. Menghargai publik unuk mengetahui semua hal.
Melayani kepentingan umum juga merupakan prinsip yang harus
dimiliki seorang jurnalis. Wartawan bertugas menjaga kelangsungan pers
bebas, terus menggugat akuntabilitas kekuasaan, menghindari terjadinya
kepanikan, menyuarakan mereka yang tidak mampu bersuara, mendidik
masyarakat untuk mengatasi krisis.

F. Dampak Kebebasan Pers


Salah satu pilar demokrasi adalah kebebasan pers, dengan bebasnya pers
menyapaikan informasi selain ada positif juga ada negativenya disamping
berdampak juga terhadap insan dan lembaga pers itu sendiri seperti
penyerangan, pengusiran, intimidasi, pembredelan yang sampai dengan
tuntutan hukum.
Tindakan yang menjamin keterbukaan informasi
1. UU yang menjamin keterbukaan informasi
2. Meniadakan sensor politik
3. Standar profesi yang lebih tinggi para wartawan
4. Penetapan standar profesi, indepedensi & tanggung jawab
5. Penyesuaian ketentuan untuk pers bebas dan masyarakat umum
6. Fair dalam permberitaan terhadap penguasa
Jaminan kebebasan pers di Indonesia tertuang dalam:
a. UU No.40 Tahun 1999 tentang pers dan kode etik jurnalistik PWI
dan AJI
b. UU No.32 Tahun 2002 tentang penyiaran.

12
Pemerintah RI dan DPR membuat UU No.32 Tahun 2002 tentang
penyiaran. Dengan UU tersebut penyiaran berfungsi sebagai media informasi,
pendidikan, hiburan yang sehat, control dan perekat sosial. Serta UU tersebut
juga menyerahkan pengaturan penyiaran kepada KPI (Komisi penyiaran
Indonesia) untuk mengontrol penyiaran yang dilakukan media yang ada di
Indonesia.

G. Penyalahgunaan Kebebasan Pers Dalam Masyarakat Demokratis Di


Indonesia
Beban tugas pers sangat besar sehingga diperlukan tanggung jawab yang
berasal dari pengelola pers, pemilik dan para wartawannya. Saat ini suara
masyarakat terhadap pers bertambah keras dan kritis kalau terjadi pemberitaan
atau tingkah laku insane pers yang tidak proporsional jadi sudah seharusnya
pers tidak mengabaikan kritik dan protes masyarakat dengan melakukan
reflexi dan koreksi kedalam.
Pertanggung jawaban pers diberikan secara hukum. Dalam KUHP
(pernah dikumpulkan oleh Menpen Moh. Yunus dalam buku biru tahun 1998),
terkumpul pasal-pasal pidana yang bias menjerat peras, diantaranya
menyangkut pencemaran nama baik, menyebarkan rasa permusuhan dan
penghinaan. Pertanggung jawaban lainnya adalah pertanggung jawaban
wartawan, pemilik dan pengelola pers yang disebut pertanggung jawaban
etika. Oleh karena itu yang namanya control tetap diperlukan baik oleh
masyarakat maupun pemerintah.
Kontrol yang paling umum di dunia adalah dengan sensor dan di
Indonesia selain sensor ada Depen, UU pers, penerbitan SIUPP hingga yang
ekstrim pembredelan. Secara umum ada 5 mengapa buku, majalah atau koran
dilarang beredar dikita, yaitu
a. Alasan Politik
b. Alasan Agama
c. Alasan Ras
d. Alasan Pornografi

13
e. Alasan Penerbitan dalam aksara asing.
Salah satu kelemahan pemerintah kita adalah tidak adanya koordinasi
antara lembaga-lembaga pemerintah dalam mengambil kebijakan pelarangan
buku atau pers disamping itu juga lemahnya penguasaan bibliografi (usaha
mengetahui buku) apa saja yang pernah diterbitkan, perpustakaan yang
memilikinya yang bagipemerintah kita tidak mungkin dilakukan sebab tidak
ada UU wajib simpankarya cetak (UU Deposit) yang mewajibkan setiap
penerbit mengirimkan contoh terbitannya (biasanya 2 eksemplar) ke
perpustakaan yang ditunjuk (biasanyaperpustakaan nasional).
Saat ini tidak ada satu negara pun di dunia yang terang-terangan
menyebutkan sensor sebagai kebijakan resmi pemerintah. Hal ini terlihat dari
konvenan dan deklarasi yang telah disahkan mengenai kebebasan dan HAM
seperti :
1. Piagam PBB (1945)
2. DUHAM PBB (1948)
3. Konvenan Hak-hak politik dan sipil PBB (1966)
4. Konvenan tentang Hak-hak ekonomi dan Sosbudb (1966)
5. Konvenan HAM Eropa (1953)
6. Akta Final Helsinki (1975)
7. Konvenan HAM Amerika (1978).

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Komunikasi merupakan kebutuhan kodrati manusia, sehingga
komunikasi cenderung menjadi persyaratan mutlak bagi kemajuannya, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Makin maju suatu
masyarakat, makin berkembanglah lalu lintas komunikasi. Akibat
perkembangan itu pula, masyarakat berusaha menemukan instrumen lain
untuk media komunikasinya dan di antara media komunikasi itu adalah pers.
Tanpa adanya pers bisa-bisa kita akan menjadi bangsa yang terbelakang
karena media sangatlah dibutuhkan. Dapat disimpulkan bahwa fungsi dan
peranan pers di Indonesia antara lain:
1. Media untuk menyatakan pendapat dan gagasan-gagasannya.
2. Media perantara bagi pemerintah dan masyarakat.
3. Penyampai informasi kepada masyarakat luas.
4. Penyaluran opini publik.
Sedangkan untuk tingkat dunia, para ahli memperkirakan bawha kegiatan
jurnalistik pertama terjadi di pemerintahan raja Romawi yakni masa Cayus
Julius Caesar (100-44 SM). Hingga selanjutnya mulai masuk ke mesir dan
negara china serta negara negara lainya apalagi ketika di temukannya kertas
dari mesir dan penemuan mesin cetah oleh johan guttenberg kegiatan pers di
belahan dunia mulai berkembang lebih pesat.

B. Saran
Karna terbatasnya kemampuan sebagai manusia biasa, kami selaku penulis
memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat banyak kesalahan
dalam penulisan makalah ini. Demi memperbaiki makalah ini dan makalah
selanjutnya kami mohon kritik dan saran kepada para pembaca. Dan atas
perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

15
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Adji, Oemar Seno,S.H. 1997. Mass Media dan Hukum. Erlangga : Jakarta

Muis, A. 1996. Kontroversi Sekitar Kebebasan Pers: Bunga Rampai Masalah


Komunikasi, Jurnalistik, Etika dan Hukum Pers, Jakarta: Mario Grafika

Ermanto, 2005. Wawasan jurnalistik praktis. Yogyakarta: cipta pena

http://hendiharefa.blogspot.com/2013/02/perkembangan-pers-di-indonesia.html

http://dhinawahyu.blogspot.com/2012/11/sejarah-dan-perkembangan-jurnalistik-
di.html

http://www.edukasinesia.com/2016/11/apa-itu-pers-pengertian-pers-fungsi-
sejarah-peranan-dan-penjelasan-terlengkap-mengenai-pers.html

https://pemerhatihukum.wordpress.com/2013/11/05/undang-undang-tentang-pers/

16 iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
C. Tujuan ................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pers .................................................................................... 3
B. Perkembangan Pers Di Dunia ............................................................. 5
C. Perkembangan Pers Di Indonesia........................................................ 7
D. Peran Dan Fungsi Pers ........................................................................ 9
E. Kebebasan Pers ................................................................................... 11
F. Dampak Kebebasan Pers ..................................................................... 12
G. Penyalahgunaan Kebebasan Pers Dalam Masyarakat Demokratis
Di Indonesia ........................................................................................ 13
BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 15
B. Saran .................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA

17ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
telah memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah ini bisa selesai
tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah. Kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan
saran yang sifatnya membangun demi kebaikan makalah ini sangat diharapkan
dari para pembaca.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini.

Bengkulu, Febuari 2018

Penulis

18
i