Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Islam yang hadir di tengah kerasnya peradaban jahiliyah, mampu
bermetamorfosa menyebar hampir ke seluruh penjuru jagad. Setelah masa
Rasulullah saw, yang kemudian dilanjutkan oleh masa khulafau-r-rasyidin dan
dinasti-dinasti Islam yang muncul sesudahnya. Dan telah berhasil membangun
peradaban dan kekuatan politik yang menandingi dinasti besar lainnya pada
masa itu, yakni Bizantium dan Persia.
Demikian Islam telah menorehkan tinta emas pada sejarah kehidupan umat
manusia. Dan sebagaimana Islam yang datang sebagai rahmatan lil ‘alamin,
sehingga Islam mampu berdiri tegak pada setiap masa dan kurun waktu.
Realitas spiritual dan metahistorikal yang mentransformasi kehidupan lahir
dan batin dari beragam manusia di dalam situasi temporal maupun ruang yang
berbeda. Dan secara historis Islam telah memainkan peran yang signifikan
dalam perkembangan beberapa aspek pada peradaban dunia.
Dunia Barat saat ini telah mencapai kemajuan yang sangat pesat terutama
dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun pada dasarnya
kemajuan yang diciptakan dunia Barat sekarang ini tidak terlepas dari
transformasi dan kontribusi intelektual Islam pada masa-masa sebelumnya
atau pada masa kejayaan islam. Ketika itu, dunia Barat masih berada pada
masa kegelapan akibat doktrin gereja, sedangkan di belahan timur umat Islam
telah membentuk suatu peradaban gemilang yang banyak menciptakan ilmu-
ilmu pengetahuan maupun ilmiah yang berkembang dengan pesat.
Kemajun umat islam pada saat itu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat
muslim saja, masyarakat nonmuslimpun merasakan kemajuan-kemajuan
Islam, termasuk dunia Barat. Namun seiring dengan berjalannya waktu umat
Islam pun mulai mengalami kemunduran pada abad pertengahan, yang pada
akhirnya sentuhan Islam dengan dunia Barat memunculkan transformasi
intelektual dari Islam yang melahirkan gerakan renaissance, reformasi dan
rasionalisme di dunia Barat.

1
Dengan demikian, kemajuan-kemajuan ilmu pengetahun dunia Barat yang
begitu berkembang seperti sekarang ini tidak terlepas dari kontribusi
kemajuan Islam pada saat kejayaan umat Islam waktu itu.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Pertumbuhan dan Perkembangan Peradaban Islam?
2. Bagaimana pengaruh atau Transformasi peradaban islam di dunia ?
3. Bagaimana kontribusi intelektual islam di dunia Barat ?
4. Faktor Penyebab Kemajuan dan Kemunduran Peradaban Islam ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui bagaimana Pertumbuhan dan Perkembangan Peradaban Islam
2. Mengetahui bagaimana pengaruh yang diberikan islam dalam peradaban
dunia
3. Mengetahui bagaimana kontribusi intelektual di dunia barat
4. Mengetahui Faktor Penyebab Kemajuan dan Kemunduran Peradaban
Islam.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Peradaban Islam


Sekian lamanya Islam melakukan penyebaran ajarannya, hingga lebih dari
14 abad lamanya. Tentunya dari masa perjuangan tersebut telah
menorehkan banyak hasil yang dapat dirasakan oleh dunia saat ini
walaupun sudah tidak ada lagi kekuasaan Islam yang mutlak. Karena
Islam dalam ekspansinya, tidak hanya mengambil keuntungan materi dari
daerah yang dapat dikuasai, melainkan ikut membangun dan memajukan
peradaban yang ada dan tetap toleran terhadap budaya lokal yang ada.
Terdapat masa-masa kejayaan peradaban Islam yang kemudian diwarisi
oleh peradaban dunia. Dan pereodisasi peradaban Islam tersebut, secara
umum terbagi menjadi 3 (tiga) periode, yang antara lain :
1. Periode klasik
Pada masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi dan
keemasan Islam. Sebelum wafatnya Nabi Muhammad saw (632
M), seluruh semenanjung Arabia telah tunduk ke bahwah
kekuasaan Islam, yang kemudian dilanjutkan dengan ekspansi
keluar Arabia pada masa khalifah pertama Abu Bakar ash-Shiddiq,
hingga berlanjut pada kekhalifahan berikutnya.
Pencapaian kemenangan Islam pada masa ini adalah dapat
dikuasainya Irak pada tahun 634 M, yang kemudian meluas hingga
Suria, kemudian pada masa Umar bin Khattab, Islam mampu
menguasai Damaskus (635 M) dan tentara Bizantium di daerah
Syiria pun ditaklukkan pada perang Yarmuk (636 M), selanjutnya
menjatuhkan Alexandria (641 M) dan menguasai Mesir dengan
tembok Babilonnya pada masa itu. Dan kekuasaan Islampun
meluas hingga Palestina, Syiria, Irak, Persia dan Mesir. Pada masa
khalifah Utsman bin Affan, Tripoli dan Ciprus pun tertaklukkan.
Walaupun setelah itu terjadi keguncangan politik pada masa
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, hingga wafatnya.

3
Kekhalifahan berlanjut pada kekuasaan Bani Umayyah,
yang pada masa ini kekuasaan Islam semakin meluas, berawal dari
Tunis, Khurasan, Afganistan, Balkh, Bukhara, Khawarizm,
Farghana, Samarkand, Bulukhistan, Sind, Punjab, dan Multan.
Bukan hanya itu, perluasan dilanjutkan ke Aljazair dan Maroko,
bahkan telah membuka jalan ke kawasan Eropa yaitu Spanyol, dan
menjadikan Cordova sebagai ibu kota Islam Spanyol. Lebih
ringkasnya, pada masa dinasti ini kekuasaan Islam telah menguasai
Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Semenanjung Arabia,
Irak, sebagaian dari Asia Kecil, Persia, Afganistan, Pakistan,
Turkmenia, Uzbek, dan Kirgis (di Asia Tengah).
Sejak kedinastian Bani Umayyah, peradaban Islam mulai
menampakkan pamor keemasannya. Walaupun Bani Umayyah
lebih memusatkan perhatiannya pada kebudayaan Arab. Benih-
benih peradaban baru tersebut antara lain perubahan bahasa
administrasi dari bahasa Yunani dan Pahlawi ke bahasa Arab,
dengan demikian bahasa Arab menjadi bahasa resmi yang harus
dipelajari, hingga mendorong Imam Sibawaih menyusun Al-Kitab
yang menjadi pedoman dalam tata bahasa Arab.
Pada saat itu pula (± abad ke-7 M), bermunculan sastrawan-
sastrawan Islam, dengan berbagai karya besar antara lain sebuah
novel terkenal Laila Majnun yang ditulis oleh Qais al-Mulawwah.
Lain dari pada itu, dengan adanya pusat kegiatan ilmiah di Kufah
dan Basrah, bermunculan ulama bidang tafsir, hadits, fiqh, dan
ilmu kalam.
Pada bidang ekonomi dan pembangunan, Bani Umayyah di
bawah pimpinan Abd al-Malik, telah mencetak alat tukar uang
berupa dinar dan dirham. Sedangkan pembangunan yang dilakukan
adalah pembangunan masjid-masjid di Damaskus, Cordova, dan
perluasan masjid Makkah serta Madinah, termasuk al-Aqsa di al-
Quds (Yerussalem), juga pembangunan Monumen Qubbah as-

4
sakhr, juga pembangunan istana-istana untuk tempat peristirahatan
di padang pasir, seperti Qusayr dan al-Mushatta.
Setelah kekuasaan Bani Umayyah menurun, dan
ditumbangkan oleh Bani Abbasiyah pada tahun 750 H, kembali
Islam dengan perkembangan peradabannya terus menerus bergerak
pada kemajuan. Di masa al-Mahdi, perekonomian mengalami
peningkatan dengan konsep perbaikan sistem pertanian dengan
irigasi, dan juga pertambangan emas, perak, tembaga dan lainnya
yang juga meningkat pesat. Bahkan perekonomian menjadi lebih
baik setelah dibukanya jalur perdagangan dengan transit antara
timur dan barat, dengan Basrah sebagai pelabuhannya.
Masa selanjutnya pada masa Harun al-Rasyid, kehidupan
sosial pun menjadi lebih mapan dengan dibangunnya rumah sakit,
pendidikan dokter, dan farmasi. Hingga Baghdad pada masa itu
mempunyai 800 orang dokter. Dilanjutkan pada masa al-Makmun
yang lebih berkonsenrasi pada pengembangan ilmu pengetahuan,
dengan menerjemahkan buku-buku kebudayaan Yunani dan
Sansekerta, dan berdirinya Baitu-l-hikmah sebagai pusat kegiatan
ilmiahnya. Yang disusul kemudian dengan berdirinya Universitas
Al-Azhar di Mesir. Juga dibangunnya sekolah-sekolah, hingga
Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Maka,
tak dapat dipungkiri lagi bahwa masa-masa ini dikatakan sebagai
the golden age.
Kemajuan keilmuan dan teknologi Islam mengalami masa
kejayaan di masa ini. Munculnya para ilmuwan, filosof dan
cendekiawan Muslim telah mewarnai penorehan tinta sejarah
dunia. Islam bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat
yang mereka pelajari dari buku-buku Yunani, akan tetapi
menambahkan ke dalam hasil penyelidikan yang mereka lakukan
sendiri dalam lapangan sains dan filsafat. Tokoh cendekiawan
Muslim yang terkenal adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi
sebagai metematikawan yang telah menelurkan aljabar dan

5
algoritma, al-Fazari dan al-Farghani sebagai ahli astronomi (abad
ke VIII), Abu Ali al-Hasan ibnu al-Haytam dengan teori optika
(abad X), Jabir ibnu Hayyan dan Abu Bakar Zakaria ar-Razi
sebagai tokoh kimia yang disegani (abad IX), Abu Raihan
Muhammad al-Baituni sebagai ahli fisika (abad IX), Abu al-Hasan
Ali Mas’ud sebagai tokoh geografi (abad X), Ibnu Sina sebagai
seorang dokter sekaligus seorang filsuf yang sangat berpengaruh
(akhir abad IX), Ibnu Rusyd sebagai seorang filsuf ternama dan
terkenal di dunia filsafat Barat dengan Averroisme, dan juga al-
Farabi yang juga seorang filsuf Muslim.
Selain sains dan filsafat pada masa ini juga bermunculan
ulama besar tentang keagamaan dalam Islam, seperti Imam
Muslim, Imam Bukhari, Imam Malik, Imam Syafi’I, Abu Hanifah,
Ahmad bin Hambal, serta mufassir terkenal ath-Thabari, sejarawan
Ibnu Hisyam dan Ibnu Sa’ad. Masih adalagi yang bergerak dalam
ilmu kalam dan teologi, seperti Washil bin Atha’, Ibnu al-Huzail,
al-Allaf, Abu al-Hasan al-Asyari, al-Maturidi, bahkan tokoh
tasawuf dan mistisisme seperti, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-
Bustami, Husain bin Mansur al-Hallaj, dan sebagainya. Di dunia
sastra pun mengenalkan Abu al-Farraj al-Asfahani, dan al-Jasyiari
yang terkenal melalui karyanya 1001 malam, yang telah
diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

2. Periode pertengahan
Pada periode ini, terdapat periode kemunduran Islam pada
sekitar 1250-1500 M. Yang mana satu demi satu kerajaan Islam
jatuh ke tangan Mongol, dan kerajaan Islam Spanyol pun mampu
ditaklukkan oleh raja-raja Kristen yang bersatu, hingga orang-
orang Islam Spanyol berpindah ke kota-kota di pantai utara Afrika.
Namun dengan demikian, terdapat kebangkitan kembali
kedinastian Islam pada masa 1500-1800 M. Di sana terdapat 3
kerajaan besar, yang menjadi tonggak bejayanya peradaban Islam

6
yang ke-2. Kerajaan besar tersebut adalah Kerajaan Turki Usmani,
Kerajaan Safawi Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Karajaan
Turki Usmani berhasil mengambil alih Bizantium dan menduduki
Konstantinopel (Istambul). Hingga akhirnya kekuasaan Turki
Usmani mampu menguasai Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria,
Hijaz, Yaman, Mesir, Libya, Tunis, Aljazair, Bulgaria, Yunani,
Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania.
Sedangkan di tempat lain, Persia Islam bangkit dengan
dengan Kerajaan Safawi (1252 M), dengan dinasti yang berasal
dari Azerbaijan Syaikh Saifuddin yang beraliran Syi’ah.
Kekuasaannya menyeluruh hingga seluruh Persia. Dan berbatasan
dengan kekuasaan Usmani di barat dan kerajaan Mughal di
kawasan timur.
Kerajaan Mughal di India, yang berdiri pada tahun 1482 M
dengan pendirinya Zahirudin Babur. Kekuasaannya mencakup
Afganistan, Lahore, India Tengah, Malwa dan Gujarat. Di India,
bahsa Urdu akhirnya menjadi bahasa kerajaan menggantikan
bahasa Persia. Dan kemajuannya telah membuat beberapa bukti
peninggalan sejarah antara lain, Taj Mahal, Benteng Merah,
masjid-masjid, istana-istana, dan gedung-gedung pemerintahan di
Delhi. Akan tetapi pada masa kemajuan ini, ilmu pengetahuan
tidak banyak diberikan perhatian, namun perhatiannya terhadap
seni dalam berbagai bentuk adalah sangat besar, sehingga kerajaan
Usmani mendapatkan julukan the patron of art. Ketiga kerajaan
besar tersebut lebih banyak memperhatikan bidang politik dan
ekonomi. Sedangkan di Barat, mulai menuai kebangkitan dengan
melihat jalur yang terbuka ke pusat rempah-rempah dan bahan-
bahan mentah dari daerah Timur Jauh melaui Afrika Selatan.
Hingga pada Abad ke-17, di eropa mulai mencul negara-
negara kuat, bahkan Rusia mulai maju di bawah Peter Yang
Agung. Dan melalui peperangan, Usmani mengalami kekalahan.
Dan Safawi Persia pun ditaklukkan oleh Raja Afghan yang

7
mempunyai perbedaan faham. Dan kerajaan Mughal India pecah
dikarenakan terjadi pemberontakan dari kaum Hindu, bahkan
Inggris pun berperan menguasainya pada tahun 1857 M.

3. Periode Modern
Periode ini dikatakan sebagai periode kebangkitan Islam,
yang mana dengan berakhirnya ekspedisi Napoleon di Mesir, telah
membuka mata umat Islam akan kemunduruan dan kelemahannya
di samping kemajuan dan kekuasaan Barat. Raja dan pemuka-
pemuka Islam mulai berpikir mencari jalan keluar untuk
mengembalikan keseimbangan kekuatan, yang telah pincang dan
membahayakan umat Islam. Sebab Islam yang pernah berjaya pada
masa klasik, kini berbalik menjadi gelap. Bangsa Barat menjadi
lebih maju dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan peradabannya.
Dengan demikian, timbullah pemikiran dan pembaharuan
dalam islam yang disebut dengan modernisasi dalam Islam. Sekian
tokoh pembaharu Islam telah mengeluarkan buah pikirannya guna
membuat umat Islam kembali maju sebagaimana pada periode
klasik. Para tokoh tersebut antara lain, Muhammad bin Abdul
Wahab di Arab, Muhammad Abduh, Jamaludin al-Afghani,
Muhammad Rasyid Ridha di Mesir, Sayyid Ahmad Khan, Syah
Waliyullah, dan Muhammad Iqbal di India, Sultan Mahmud II dan
Musthafa Kamal di Turki, dan masih banyak lagi yang lainnya.

2.1.1 Perkembangan Kebudayaan Islam Andalusia Zaman


Amawiyah 2
Di bawah kekuasaan Amawiyah 2, kebudayaan Andalus
dapat dikatakan masih berupa rintisan, terutama dalam bidang
kesusastraan, arsitektur, dan intelektual. Sebagai seorang perintis
Abd Rahman al-Dakhil mengusahakan terjadinya persatuan
penduduk seluruh andalusia. Ia mememerintah dari tahun 756-788
Masehi.

8
Dalam bidang seni bangun (arsitektur), Abd Rahman al-
Dakhil merintis membangun kota cordova lengkap dengan istana,
taman, dan masjid. Masjid cordova yang dibangun tahun 786 oleh
Al-Dakhil mempunyai pola dasar bentuk masjid bani umayyah
Damaskus. Kemudian masjid ini diperbesar oleh Abd Rahman II
dan Al-Hakam II sehingga menjadi masjid yang sangat indah. Pada
masa Abd Rahman III dibangun pula sebuah istana yang disebut
Al-Zahra, yang runtuh pada tahun 1013 M karena adanya serbuan
dari bangsa Barbar. Istana ini dibangun dari perpaduan seni
bangunan bergaya Byzantium dan islam.
Bidang ilmu keislaman yang berkembang pada saat itu
antara lain yaitu fiqih, hadits, tafsir, ilmu kalam, ilmu sejarah, tata
bahasa arab dan juga filsafat. Dalam bidang sejarah, sejarawan
pertama Andalus yaitu Ibn Hayyan dan yang terkenal yaitu Ibn
Khaldun (1332-1406) dengan karyanya Muqaddimah. Sementara
itu ilmu filsafat berkembang di spanyol dirintis oleh Ibn Masarroh
(883-931) yang berkembang pesat sesudah zaman Amawiyah II.
Dalam bidang kesenian mencapai puncaknya dengan
dibangunnya istana Al-Hamra di Granada yang dimulai tahun 1246
atas perintah sultan Nasriyyah. Pada masa itu muncul juga ilmu
yang menjadi cikal bakal ilmu-ilmu pengetahuan modern seperti
kedokteran, farmasi, botani dan geografi. Diantara dokter
terkemuka di spanyol diantaranya yaitu Ibn Zuhr, Ibn Rusyd,Ibn
al-Khotib, dan Ibn Khotima.

2.1.2 Penyebaran Peradaban Islam di Asia


1. Peradaban Islam di Turki
Sebelum Dinasti Utsmani berkuasa, diwilayah Anatoli dan
Turki terdapat beberapa dinasti: Saljuk, Danishmandiyah dan
Qarramaniyah. Mereka mempunyai peranan yang sangat penting
dalam perkembangan peradaban Islam. Hal ini tampak,terutama
setelah hancurnya Baghdad (ibu kota Dinasti Abbasiyah) oleh

9
bangsa Mongol. Mereka (orang-orang Turki) mempertegas
kemandirian mereka dalam membangun kekuasaannya sendiri,
seperti yang dilakukan oleh Turki Utsmani. Pengaruh Dinasti ini
menjangkau wilayah yang luas termasuk Eropa Timur, Asia Kecil,
Asia Tengah, Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara. Mengingat di
antara dinasti-dinasti tersebut terdapat dinasti yang paling berperan
dan usia pemerintahannya pun cukup lama yaitu Turki Utsmani.
2. Hasil Peradaban
Meskipun Dinasti Utsman berkuasa cukup lama, ia tidak
berarti bahwa peradabannya maju pesat seperti Dinasti Abbasiyah.
Hal itu dikarenakan politik ekspansinya yang tidak diikuti dengan
pembinaan wilayah taklukannya, di samping seratus tahun setelah
penaklukan Constatinopel para sultannya lemah-lemah. Namun
demikian, Dinasti Utsmani masih lebih baik pemerintahannya dan
tingkat kemakmurannya dibanding dengan seluruh bagian Eropa
yang dikuasai oleh kaum Kristen. Demikian juga penduduk Kristen
di bawah kekuasaan Dinasti Utsmani dapat menikmati hasil bumi,
kemerdekaan pribadi dan hasil usaha lainnya, di banding dengan
teman-teman mereka yang berada di berbagai kerajaan Kristen.
Kelihatannya, sultan-sultan Dinasti Utsmani keras, tetapi
mereka bersikap liberal dan pemurah terhadap penduduk yang
beragama Kristen. Mereka melaksanakan administrasi
pemerintahan yang adil di samping menggiatkan ekonomi dengan
menganjurkan perdagangan di antara mereka.
Dinasti Utsmani banyak mengambil ajaran etika dan politik
dari bangsa Persia. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan,
Dinasti Utsmani dipengaruhi oleh Bizantium. Namun, jauh
sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa tersebut, sejak
pertama mereka masuk Islam bansa Arab telah menunutun mereka
dalam bidang agama, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum.
Oleh karena itu huruf Arab dijadikan huruf resmi kerajaan.

10
Otoritas sultan-sultan Utsmani juga didasarkan kepada
sebuah kultur kosmopolitan yang terdiri dari unsur-unsur kultur
Arab, Persia, Bizantium dan unsur kultur bangsa Eropa.
Muhammad II mengembangkan syair-syair Persia dan juga seni
lukis Eropa. Sastrawan Arab dan Persia, pelukis Italia, dan
pujangga Yunani dan Serbia berdatangan di istananya. Meskipun
demikian, beberapa rezim melepaskan diri dari unsure pengaruh
Kristen dan pengaruh Eropa menuju sebuah kesenian yang lebih
bercorak Islam dan Turki. Sebagaimana terdapat pada istana
sultan-sultan Arab dan Persia,syair merupakan ekspresi utama
kesenian raja. Syair istana didasarkan pada aruz. Beberapa bentuk
kesenian yang utama adalah beberapa bentuk kesenian yang
sebelumnya telah dikembangkan dalam syair-syair istana Persia.
Penulisan sejarah periode awal Utsmani disusun dalam
bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki untuk
melegitimasi asal-usul dinasti ini dan kebangkitannya meraih
kekuasaan dan mengurutkan peristiwa keseharian di istana dan
berkenaan dengan kemiliteran. Karya Mustafa Ali(1541-1599)
Kunch al-Akhbar memuat catatan sejarah dunia dari adam sampai
Yesus, sejarah Islam masa awal, sejarah bangsa Turki sampai
kebangkitan imperium Utsmani, diakhiri dengan sejarah Utsmani.
Pada abad ke 17, sejarawan dipekerjakan untut mencatat peristiwa
sehari-hari di istana.
Ilustrasi manuskrip Utsmani juga mengekspresikan sikap
Utsmani terhadap nasib kerajaan. Sejak masa Muhammad II,
Dinasti Utsmani mempertahankan sebuah studio istana atau
nakkasbane yang memperkerjakan ahli-ahli geografis, pelukis,
illuminator, dan penjilid buku yang menghasikan manuskrip dan
untuk mengembangkan pola-pola (desain) keramik, kerajinan kayu,
kerajinan logam, tekstil, karpet yang khas Utsmani. Antara tahun
1451 dan 1520, beberapa preseden menjadi basis bagi seni
manuskrip Utsmani. Sejumlah seniman dari Shiraz, Tabriz, dan

11
Herat berdatangan di Istambul. Beberapa karya yang paling awal
mengilustrasikan salinan dari karya-karya Persia Klasik seperti
Attar Language of the Birds,The Love Story of Khosraw and
Shirin, dan karya Amir Khasraw Khamsa dan fabel Kalila wa
Dimna.
Manuskrip abad 16 beralih dari ilustrasi literaturklasik
kepada peristiwa-peristiwa kontemporer seperti upacara penjamuan
duta besar, pengumpulan pajak, dan penaklukan wilayah-wilayah
perbatasan di Balkan. Pada akhir abad enam belas , ilustrasi
kesejarahan,yang mengingatkan pada kemegahan Negara Utsmani
dan penaklukan yang dicpainya, merupakan kontribusi bangsa
Turki yang sangat berharga bagi tradisi manuskrip Timur Tengah
dan tradisi manuskrip muslim yang tercerahkan. Seni Manuskrip
Utsmani mengingatkan pada kesadaran dari kalangan elite Utsmani
sebagai kekuatan sejarah dunia.
Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid di sana
membuktikan kemajuannya. Sejumlah masjid dan perguruan
Utsmani mengekspresikan besarnya perhatian Utsmani terhadap
ajaran Islam juga merancang beberapa feature, seperti kubah
tunggal yang sangat besar, menara-menara tinggi yang menjulang,
sejumlah bangunan tiang yang menyangga ruang tengah istana,
menunjukan pengaruh kuat model Aya Shopia, gereja Bizantium
yang terbesar. Aya Shopia dijadikan masjid sejak masa
pemerintahan Muhammad al Fatih sampai dengan Kemal Atta
Turk. Oleh Kemal, Aya Shopia dijadikan museum sampai
sekarang. Demikianlah masjid-masjid Utsmani memperagakan
pola gereja-gereja Kristen timur yang terbesar, misalnya “Kubah
Batu” di Yerusalem, dan mengekspresikan ketinggian Islam dalam
persaingannya dengan Kristen. Hoja Sinan(1490-1578) adalah
tokoh besar dalam bidang seni arsitektur ini.
Dalam bidang pendidikan, Dinasti Utsmani mengantarkan
pada pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang

12
tersebar luas. Madrasah Utsmani pertama didirikan di Izmir pada
tahun 1331, ketika itu sejumlah ulama’ didatangkan dari Iran dan
Mesir untuk mengembangkan pengajaran muslim di beberapa
territorial yang baru. Beberapa sultan masa belakangan mendirikan
beberapa perguruan di Bursa, Edirne dan di Istambul. Pada akhir
abad limabelas beberapa perguruan ini disusun dalam sebuah
hirarki yang menentukan jenjang karir bagi ulama-ulama besar.
Perguruan yang dibangun oleh Sulaiman pada tahun 1550 dan
1559 benar benar menjadi perguruan yang tinggi rankingnya.
Ranking yang dibawahnya adalah sejumlah perguruan yang
diidirikan oleh sultan sultan terdahulu dan menempati ranking di
bawah beberapa perguruan tersebut adalah sejumlah perguruan
yang didirikan oleh kalangan pejabat Negara dan ulama’ madrasah
tidak hanya diorganisir secara ranking, tetapi juga dibeda-bedakan
berdasarkan beberapa fungsi pendidikan mereka. Madrasah tingkat
terendah mengajarkan nahwu (tata bahasa Arab) dan sharaf
(sintaksis), mantiq (logika), teologi, astronomi, geometri dan
retorika. Perguruan tingkat tertinggi mengajarkan hukum dan
teologi.

2.1.3 Penyebaran Peradaban Islam di Afrika


1. Kedatangan Islam di Afrika Utara
Kehidupan sosial masa lalu Afrika Utara adalah sebuah
kehidupan masyarakat pedesaan yang bersifat kesukuan, nomad
(berpindah-pindah tempat) dan patriarkhi. Ketika daerah ini berada
dibawah kekuasaan Romawi, tak pelak pengaruhnya sangat besar
bagi masyarakat Barbar. umumnya mereka dipengaruhi oleh para
elit kotayang mengadopsi bahasa, gagasan dan adat istiadat para
penguasa. Tetapi elit-elit ini tidak banyak. Selanjutnya, setelah
orang-orang Vandal (Barbar) memperoleh kemenangan, pengaruh
Romawi di sebagian besar Afrika mulai berhenti, kecuali pengaruh
ekonomi dan peradaban Barbar lama secara bertahap muncul

13
kembali. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada abad
1H/7M kehidupan sosial Afrika Utara lebih merupakan kehidupan
masyarakat Barbar yang bersifat kesukuan, normad dan patriarkhi.
Islam masuk wilayah Afrika Utara pada saat itu berada di
bawah kekuasaan kekaisaran Romawi sebuah imperium yang amat
luas yang melingkupi berbagai Negara dan berjenis jenis bangsa
manusia. Penaklukan daerah ini pada dasarnya sudah mulai
dirintispada masa kekhalifahan umar bin Khatab. Pada tahun 640M
‘Amr ibn al-Ash berhasil memasuki Mesir setelah sebelum
mendapat ijin bersyarat dari khalifah Umar untuk menaklukan
daerah itu..
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan penaklukan
Islam sudah meluas sampai ke Barqah dan Tripoli. penaklukan atas
kedua kota itu dimaksudkan untuk menjaga keamanan daerah
Mesir. Penaklukan itu tidak bertahan lama, karena gubernur-
gubernur Romawi menduduki kembali wilayah-wilayah yang telah
ditinggalkan itu. Namun kekejaman dan pemerasan yang mereka
lakukan telah mengusik ketentraman penduduk asli, sehingga tidak
lama kemudian penduduk asli sendiri memohon kepada orang-
orang muslim untuk membebaskan mereka dari kekuasaan
Romawi. Permohonan itu disanggupi oleh khalifah sepeninggal
Utsman yang pada waktu itu sudah berpindah ke tangan Muawiyah
ibn Sufyan., khalifah pertama daulah Bani Umayah. Ia bertekad
memberikan pukulan terakhir kepada kekuasaan romawi di Afrika
Utara, dan mempercayakan tugas ini kepada seorang panglima
yang masyhur, yakni ‘Uqbah ibn Nafi’ al-Fihri (W. 683M), yang
telah menetap di Barqah sejak daerah itu ditaklukan.
Akan tetapi, pada tahun 683 M orang-orang islam di Afrika
Utara mengalami kemunduran yang hebat, karena orang-orang
Barbar di bawah kepemimpinan Kusailah bangkit memberontak
dan mengkalahkan ‘Uqbah. Dia dan pasukannya tewas dalam
pertempuran. Sejak saat itu orang orang Islam tidak berdaya

14
mengembalikan kekuasaannya di Afrika Utara, karena selain
berhadapan dengan bangsa Barbar, mereka juga harus berhadapan
dengan bangsa Romawi yang memanfaatkan kesempatan dalam
pemberontakan Kusailah tersebut.
Pada saat pemerintahan dipegang oleh Abdul malik ibn
Marwan(685-705M), daulah Bani Umayah mulai bangkit kembali
untuk merebut Afrika Utara. Dia mengirimkan pasukan di bawah
pimpinan Hasan ibn Nu’man al Ghassani untuk memulihkan
prestise Islam yang hilang. Pasukan ini berhasil menumpas tentara
Romawi dan menghalau mereka dari Afrika Utara serta berhasil
menindas perlawanan bangsa Barbar. Sejak saat itu Afrika Utara
dan daerah Maghribi tidak lagi termasuk lingkungan daerah Mesir,
tetapi telah berdiri sebagai wilayah tersendiri yang diperintah oleh
seorang gubernur yang diangkat oleh khalifah.
2. Aspek-aspek Kemajuan dalam Peradaban
Sejak awal kedatangan Islam di Afika Utara, kebudayaan
dan peradaban Islam sudah mulai menampakan perkembangannya.
Hal ini ditandai dengan berkembangannya Qirawan yang dibangun
oleh ‘Uqbah ibn Nafi pada tahun 50 H/670 M yang tidak hanya
menjadi kota militer semata, tetapi menjadi salah satu pusat ilmu
dan peradaban yang cemerlang dalam sejarah Islam.
Kebijakan islamisasi musa ibn Nushair yang diterapkan di
daerah itu, meskipun tidak menjadikan seluruh penduduknya
menganut Islam, dapat dikatakan sebagai langkah rintisan bagi
proses perkembangan kebudayaan dan peradaban islam. Paling
tidak dengan kebijakan itu bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa
resmi Negara dan pergaulan. Langkah ini sangat efektif, sehingga
bahasa Arab dapat menggeser posisi bahasa Latin, meskipun ia
sangat sedikit mempengaruhi dialek dialek asli bangsa Barbar.
Pada gilirannya, kemajuan dalam kemajuan dalam berbagai
disiplin ilmu (yang berkaitan dengan masalah teologi, hukum,

15
sejarah, sastra, puisi, filsafat, dan biografi) di kemudian hari semua
ditulis dalam bahasa Arab.
Arsitektur Maghribi yang indah dengan pengaruh
aransemen timur yang kuatdalam bangunannya, lahir di kota
Qairawan, segara setelah dinasti Aghlabiyah (800-900 M)
menjadikannya sebagai pusat peradaban. Hal ini bisa dilihat pada
bangunan masjid besar Qairawan dan benteng Raqqada, serta kota
kediaman para penguasa yang dibangun tidak jauhdari Qairawan.
Beberapa waduk besar untuk irigasi dan pasokan air bersih bagi
penduduk kota, juga berhasil dibangun.
Pada saat itu, Qairawan bukan hanya menjadi model bagi
kehidupan kota orang-orang Islam di Afrika Utara, tetapi juga
menjadi sebuah pusat kebudayaan yang sangat penting. Para
penguasa dinasti Aghlabiyah sangat perduli terhadap masalah
intelektual, dan mereka memiliki jasa yang sangat besar dalam
membantu perkembangan di kota itu. Maka lahirlah berbagai
bidang ilmu pengetahuan, seperti teologi, hukum dan puisi
Maghribi. Bahkan dapat dikatakan sampai akhir abad 3H/9M,
perkembangan intelektual di Qairawan dapat dipersamakan dengan
pusat-pusat kebudayaan muslim yang lain pada masanya. Diantara
ilmu-ilmu terkemuka lulusan sekolah Qairawan adalah Sahnun,
seorang ahli hukum bermadzhab Maliki yang pengaruhnya masih
terasa sampai sekarang. Di samping Qairawan, Tahart (Tiaret) juga
mengalami kemajuan yang cukup pesat. Di bidang ekonomi,
daerah mengalami kemakmuran material yang luar biasa. Ia
menjadi terminal dari salah satu rute kafilah trans-sahara, sehingga
dinamakan “Irak Kecil”, di samping menjadi pusat kesarjanaan.
Segala macam pajak yang sangat memberatkan rakyat dihapuskan.
Penghasilan yang dapat dikumpulkan untuk negara sebesar
120.000 pound emas. Kehidupan masyarakat subur makmur dan
rakyat merasa tentram dan damai. Sementara itu daerah Maroko
merupakan tempat penyebaran kultur Islamdi kalangan masyarakat

16
Barbar, khususnya kultur Syi’ah. Hal lain yang mencerminkan
ketinggian peradaban Islam di Afrika Utara adalah kemajuan di
bidang ilmu kebahasaan. Pada masa ini muncullah tokoh-tokoh
Lexicographer. Sementara kemajuan di bidang kesehatan dapat
dilihat dengan berdirinya sebuah rumah sakit yang besar di
Marrakesh.
Di bidang kedokteran ada tokoh terkenal yaitu Abu
Marwan ibn Abdul Malikibn Zuhr yang lebih dikenal Ibn Zuhr. Ia
adalah seorang tabib dan ahli bedah terkenal yang hidup sezaman
dengan Ibn Rusyd (w. 1198 M). Dia lahir di Penaflor sebagai
keturunan kabilah Arab, Iyaz ibn Nizar, sehingga di belakang
namanya biasanya ditambah al-Iyazi. Keahliannya itu kemudian
diabadikan kepada Yusuf ibn Tasyfin, khalifah Bani al-
Murabithun. Dialah yang pertama kali memikirkan Bronchotomi
dengan menunjukan secara jelas cerai sendi dan patah tulang.
Puteranya, Marwan, juga mengikuti jejak ayahnya menjadi ahli
bedah dan dokter tentara Yusuf ibn Tasyfin.
Di bidang sejarah dan sosiologi, tokoh Ibn Khaldun (w.
1406 M) menjadi maestro terbesar dalam sejarah Islam. Dia adalah
keturunan Yaman yang lahir Tunis pada tahun 1332 M.
Keluarganya berasal dari Hadramaut yang berimigrasi ke Afrika
Utara ratusan tahun sebelumnya, sehingga di belakang namanya
kadang-kadang ditambah al-Hadrami. Di samping dikenal sebagai
;;[“bapak filsafat sejarah” dia juga dikenal sebagai “bapak siologi”
yang teori-teorinya masih menjadi rujukan para sosiolog modern
dewasa ini. Kitab sejarahnya yang besar adalah Kitab al-Ibar yang
ditulis selama 4 tahun di suatu daerah dekat Oran. Sementara karya
masterpiece-nya adalah kitab Muqaddimah. Dalam kitab itu dia
menyelidiki asal-usul masyarakat, perkembangan peradaban,
hukum-hukum perubahan sosial, sebab-sebab timbul dan jatuhnya
kerajaan-kerajaan dan dinasti-dinasti, juga pengaruh iklim atas
pembentukan watak bangsa.

17
2.2 Transformasi Peradaban Islam Terhadap Peradaban Dunia
Sekian lamanya Islam melakukan penyebaran ajarannya, hingga lebih
dari 14 abad lamanya. Tentunya dari masa perjuangan tersebut telah
menorehkan banyak hasil yang dapat dirasakan oleh dunia saat ini
walaupun sudah tidak ada lagi kekuasaan Islam yang mutlak. Karena
Islam dalam ekspansinya, tidak hanya mengambil keuntungan materi dari
daerah yang dapat dikuasai, melainkan ikut membangun dan memajukan
peradaban yang ada dan tetap toleran terhadap budaya lokal yang ada.
Para tokoh Islam klasik yang telah membangun peradaban di masa itu,
dan tidak dilakukan oleh orang-orang barat pada masa kegelapan, adalah
dengan mempelajari dan mempertahankan peradaban yunani kuno, serta
mengembangkan buah pemikirannya untuk menemukan sesuatu yang baru
dari segi filsafat dan ilmu pengetahuan. Seorang pemikir orientalis barat
Gustave Lebon, dan telah diterjemahkan oleh Samsul Munir Amin,
mengatakan bahwa “(orang Arablah) yang menyebabkan kita mempunyai
peradaban, karena mereka adalam imam kita selama enam abad”.

Hingga peradaban Islam telah memberi kontribusi besar dalam


berbagai bidang khususnya bagi dunia Barat yang saat ini diyakini sebagai
pusat peradaban dunia. Kontribusi besar tersebut antara lain :

1. Sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya


kaum Muslim dalam bidang filsafat, sains, dan sebagainya telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, khususnya dari Spanyol.
Penerjemahan ini sungguh telah memperkaya kurikulum
pendidikan dunia Barat.
2. Kaum muslimin telah memberi sumbangan eksperimental
mengenai metode dan teori sains ke dunia Barat.
3. Sistem notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah
dikenalkan ke dunia barat.
4. Karya-karya dalam bentuk terjemahan, kususnya karya Ibnu
Sina (Avicenna) dalam bidang kedokteran, digunakan sebagai

18
teks di lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad ke-17
M.
5. Para ilmuwan muslim dengan berbagai karyanya telah
merangsang kebangkitan Eropa, memperkaya dengan kebudayaan
Romawi kuno serta literatur klasik yang pada gilirannya
melahirkan Renaisance.
6. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh
sebelum Eropa bangkit dalam bentuk ratusan madrasah adalah
pendahulu universitas yang ada di Eropa.
7. Para ilmuwan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan
tradisi ilmiah Romawi-Persi (Greco Helenistic) sewaktu Eropa
dalam kegelapan.
8. Sarjana-sarjana Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan
tinggi Islam dan mentransfer ilmu pengetahuan ke dunia Barat.
9. Para ilmuwan Muslim telah menyumbangkan pengetahuan
tentang rumah sakit, sanitasi, dan makanan kepada Eropa.

Pada kondisi-kondisi tersebut, terutama pada abad ke-11 dan ke-12,


walaupun tradisi Islam yang diboyong ke Barat masih belum terjadi
pemisahan yang jelas antara ilmu-ilmu yang ada dan ketika itu ilmu kalam,
filsafat, tasawuf, ilmu alam, matematika, dan ilmu kedokteran masih
bercampur. Akan tetapi Islam telah mampu mendamaikan akal dengan
iman dan filsafat dengan agama. Sedangkan bangsa Barat pada masa itu
masih terdapat stereotipe yang memisahkan antara akal dan iman serta
filsafat dan agama. Hal ini juga terjadi pada ilmu pengetahuan dan ilmu
alam, yang mana Islam telah berjasa menyatukan akal dengan alam,
menetapkan kemandirian akal, menetapkan keberadaan hukum alam yang
pasti, dan keserasian Tuhan dengan alam.

Hingga akhirnya filsafat skolastik Barat mencapai puncaknya yang


telah didukung oleh adanya pilar Islam dengan dibangunnya akademi-
akademi di Eropa yang diadopsi dari gaya akademi di kawasan Timur. Hal
ini merupakan evolusi dari illuminisme biara ke kegiatan pemikiran yang

19
dialihkan kesekolahan dan akademi. Dan kurikulum yang diajarkan adalah
filsafat lama, dan ilmu-ilmu Islam terutama Averoisme Paris. Pada saat
yang sama terjadi perubahan kecenderungan pemikiran dari kesenian dan
kasusatraan ke gramatika dan logika, dari retorika ke filsafat dan
pemikiran, dan dari paganisme kesusastraan Latin ke penyucian Tuhan
sebagai pemikiran Islam.

Ilmu pengetahuan islam pada mulanya berkembang di daratan Eropa


yaitu Tolado, Kardova, dan Sevilla, Dinogari Andalusia. Kemudian
mengalir ke negara-negara Barat lewat kaum terpelajar Barat. Mereka
menerjemahkan buku-buku karangan umat islam dalam bahasa Barat. Di
antara pelajar Barat tersebut adalah :

1. Abolart Bath. Beliau berpendidikan islam di Tolado, kemudian ahli


matematika dan sebagai ahli filsafat Inggris yang mashur.
2. Mazarabez. Beliau beragama islam, tetapi karena terpaksa oleh
lingkungan Barat yang kristen dan supaya tidak dicurigai maka beliau
mengubah namanya menjadi Petrus al-Phonsi. Beliau ke Inggris dan
menjadi doktor istana raja Inggris Henri I. dia membuka perguruan
tinggi serta mengajarkan pengetahuan islam.
3. Archedeacon Dominico Gundisavi. Beliau mendirikan Bait al-
Hikmah. Di sini adalah tempat buku-buku bahasa arab.
4. Ibnu Dawud. Seorang islam bangsa Yahudi. Di Barat terkenal
dengan nama Avendeath. Beliau menyalin buku-buku berbahasa arab
ke bahasa lain mengenai ilmu astronomi dan astrologi.
5. Gerard Cremona. Beliau lahir di Cremona Italia tahun 1114 M.
beliau menerjemahkan buku tentang filsafat, matematika, kedokteran.

Demikianlah sumbangan besar Islam atas peradaban dunia Barat, yang


selanjutnya jusru dijadikan sebagai pusat peradaban dunia pada saat ini.
Hal ini dikarenakan kekonsistensian dunia Barat dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologinya. Bahkan karya-karya besar para
ilmuwan Muslim tersebut hingga kini masih dapat kita temukan di

20
perpustakaan-perpustakaan internasional, khususnya di Amerika, yang
secara profesional dan rapi telah menyimpannya. Sehingga para umat
Muslim di masa kini, yang ingin mempelajari lebih banyak tentang
khasanah Islam tersebut, harus pergi ke negara Barat (non Islam) agar
dapat meminta kembali “permata” yang sementara ini telah mereka
pinjam.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masa keemasan bani


Abbasiyah dicapai pada periode pertama. Masa keemasan tersebut bisa
kita lihat dari makin luasnya pemerintahan Bani Abbasiyah, dan
berpindahnya ibu kota ke Baghdad, di mana ibu kota Baghdad merupakan
pusat intelektual pada masa itu. Pada periode ini yang biasa kita sebut
dengan The golden age. Sebenarnya pada masa pemerintahan Bani
Abbasiyah banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan. Tetapi pada
periode pertama ini pemberontakan-pemberontakan dapat diatasi,
meskipun belum sampai ke akar-akarnya. Pemerintah Bani Abbasiyah
mencapai keemasan juga didukung oleh beberapa faktor, diantaranya
sebagai penerjemah memberi pendapatnya. Hal ini dilakukan karena
keterbatasan manusia dalam berfikir cara inilah yang terbaik dalam
memajukan ilmu pengetahuan. Cara seperti ini juga tidak akan berhasil
jika tidak didukung oleh seluruh rakyat. Dari sinilah muncul para
intelektual muslim yang sangat berpengaruh dalam ilmu pengetahuan. Al-
Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, al-Ma’mum, al-Mu’tashim, al-Wasiq,
dan al-Mutawakil merupakan orang-orang piawai dengan ilmu
pengetahuan dan akhlak yang mulia bisa membawa nama baik sebuah
bangsa umumnya dan kekhalifahan pada khususnya, sehingga dimata
dunia disebut sebagai tokoh-tokoh (ilmuan) masa keemasan di zaman
khalifah Abbasiyah.

Dari beberapa khalifah yang memimpin pada periode pertama dapat


disimpulkanbahwa masa keemasan dicapai pada masa pemerintahan
khalifah al-Mahdi, al-Hadi, Harun ar-Rasyid, al-Ma’mun, al-Mu’tashim,
al-Wasik, dan al-Mutawakil.

21
Tetapi ada anggapan bahwa pada masa khalifah Harun ar-Rasyid lah
puncak keemasan di antara khalifah-khalifah lainnya. Salah satu sebab
timbulnya anggapan tersebut adalah beliau mendirikan Baitul Hikmah
yang merupakan institusi kebudayaan dan pikiran yang cemerlang saat
itu.Pada masa keemasan Bani Abbasiyah juga lahir tokoh-tokoh intelektual
muslim, diantaranya al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Ghazali, al-
Khawarijmi, dan al-Battani. Semua tokoh-tokoh di atas sangat berperan
dalam perkembangan ilmu pengetahuan di masa Bani Abbasiyah tersebut.

2.3 Kontribusi Intelektual Islam Terhadap Dunia Barat


Dalam masa lebih dari tujuh abad, kekuasaan islam di Spanyol. Umat
islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka
peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia
kepada kemajuan yang lebih kompleks. Spanyol adalah negeri yang subur.
Kesuburannya itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan
banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol islam merupakan
masyarakat majmuk yang terdiri dari komunitas-komunitas arab.
Tidak hanya itu, perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia islam
di abad pertengahan juga didukung dengan adanya kekuatan sistem
pendidikan islam yang integral dan dinamis. Sehingga mampu
menghasilkan cendekiawan-cendekiawan besar pada hampir disegala
bidang keilmuan. Hal inilah yang pada akhirnya dapat memberikan
konstribusi yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di masa-
masa selanjutnya terutama di Barat. Di samping itu, dinamika yang
demikian masih terbungkus dengan akhlak islami yang diperlihatkan.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh para ilmuan
muslim telah melahirkan berbagai karya besar diberbagai bidang keilmuan
yang menjadi referensi bagi ilmuan Barat pada masa selanjutnya.

22
Di antara kontribusi intelektual islam atas dunia Barat di bidang intelektual
adalah :
1. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat
brilian dalam bentang sejarah islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan. Yunani Arab datang ke
Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan
mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa
Bani Umayyah yang ke-5 Muhammad Abd ar-Rahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-979 M) karya-karya ilmiah dan filosofis
diimport dari timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan
perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi
Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan didunia islam. Apa
yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol
ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada
masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu
Bakar Muhammad ibn as-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajah
dilahirkan di Saragosa. Ia pindah di Sevilla dan Granada. Meninggal
karena keracunan di Fez tahun 1938 M dalam usia yang masih muda.
Tokoh utama kedua adalah Abu Bakar ibn Tuffail penduduk asli Wadi
Asy sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat pada usia
lanjut tahun 1985 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran,
astronomi, dan filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay ibn
Yaqzhan.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya pengikut
aristoteles yang terbesar digelanggang filsafat dalam islam yaitu ibn
Rusyd dari Cordova. Ia lahir pada tahun 926 M dan meninggal pada
tahun 998 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menggeluti
masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia
juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah al-Mujtahid. Karya-karya Ibn
Rusyd yang terkenal adalah Mabadu Falasifah, Kulliyat, Tafsir

23
Urjuza, Kasful Afillah, kitab dogma-dogma dan lainnya. Ibn Rusyd
juga seorang dokter di samping filosof. Buku kedokterannya yang
terkenal adalah al-Hawi.
2. Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, astronomi, kimia dan lain-lain juga
berkembang dengan baik, Abbas ibn Farnas termasyhur dalam ilmu
kimia dan astronomi. Ibrahim dan Ibn Yahya an-Naqash terkenal
dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana
matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat
teropong modern yang bisa menentukan jarak antara tata surya dan
bintang. Ahmad ibn Ibbas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-
obatan. Umm al-Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan al-
Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Para dokter ahli kedokteran yang terkenal antara lain :
a. Thabib ibn Qurra’ (221-228 H/836-901 M) dianggap sebagai bapak
ilmu kimia.
b. Ar-Razi atau Razes (251-313 H/809-873 M) karangannya terkenal
dalam bidang penyakit campak dan cacar yang diterjemahkan
dalam bahasa latin.
c. Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M) orang eropa menyebutnya
Avicena. Di samping seorang filosof, ia juga seorang dokter dan
ahli musik. Karangannya yang terkenal adalah Shafa (terdiri dari
18 jilid), Najat, Sadidiya (terdiri dari 5 jilid), Danes Nameh, al-
Qanun fi at-Thib (buku tentang kedokteran yang diterjemahkan
dalam bahasa latin).
Dalam bidang sejarah dan geografi, melahirkan banyak pemikir
terkenal. Ibnu Jubar dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang
negeri-negeri muslim Mediteronia dan Seolia dan Ibnu Batuthah dari
Fagier (1304-1377 M) mencapai Samudra Pasai dan Cina. Ibnu al-
Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada sedangkan Ibnu
Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah.

24
3. Fiqih
Dalam bidang fiqih Spanyol Islam dikenal sebagai penganut
madzhab Maliki. Yang memperkenalkan mazdhab Maliki di sana
adalah Ziyad ibn Abd ar-Rahman. Perkembangan selanjutnya
ditentukan oleh Ibnu Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam
ibn Abd ar-Rahman. Ahli-ahli fiqih lainnya di antaranya adalah Abu
Bakar ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Said al-Baluthi, dan Hazm yang
terkenal.
4. Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara islam mencapai kecermelangan
dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi’ yang dijuluki Zaryab. Setiap kali
diselenggarakan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil dan
mempertunjukkan kebolehannya.
5. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam
pemerintahan islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-
orang islam dan non islam, bahkan penduduk asli Spanyol
menomorduakan bahasa asli mereka. Juga banyak yang ahli dan mahir
dalam bahasa Arab. Baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa
seperti Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan ibn Usfur dan Abu Hayyan al-
Gharnathi.
Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra banyak
bermunculan seperti al-Iqd al-Farid karya Ibnu Abd Rabbih, al-
Dzakirah fi Mahasin ahl al-Jazirah oleh ibn Bassam, dan kitab al-
Qalaid karya al-Fath ibn Khaqan.

25
2.4 Faktor Penyebab Kemajuan dan Kemunduran Peradaban Islam
2.4.1 Masa kemajuan islam (650-1000 M)
Masa kejayaan Islam terjadi pada sekitar tahun 650‒1250.
Periode ini disebut Periode Klasik. Pada kurun waktu itu,
terdapat dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Umayyah atau
sering disebut Daulah Umayyah dan Kerajaan Abbasiyah yang
sering disebut Daulah Abbasiyah.
Pada masa Bani Umayyah, perkembangan Islam ditandai
dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam dan berdirinya
bangunan-bangunan sebagai pusat dakwah Islam. Kemajuan
Islam pada masa ini meliputi: bidang politik, keagamaan,
ekonomi, ilmu bangunan (arsitektur), sosial, dan bidang militer.
Sementara perkembangan Islam pada masa Bani Abbasiyah
ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.
Kemajuan Islam pada masa ini meliputi bidang ilmu
pengetahuan, ekonomi, ilmu bangunan (arsitektur), sosial, dan
bidang militer.
Tentu saja kemajuan umat Islam baik pada masa Bani
Umayyah maupun Bani Abbasiyah terjadi tidak secara tiba-
tiba. Akan tetapi, ada penyebabnya, yaitu disebabkan oleh
faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal antara lain:
1. konsistensi dan istiqamah umat Islam kepada ajaran Islam,
2. ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk maju,
3. Islam sebagai rahmat seluruh alam,
4. Islam sebagai agama dakwah sekaligus keseimbangan
dalam menggapai kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Faktor eksternal antara lain seperti berikut.

1. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa


lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam

26
ilmu pengetahuan. Pengaruh Persia pada saat itu sangat
penting di bidang pemerintahan. Selain itu, mereka banyak
berjasa dalam perkembangan ilmu filsafat dan sastra.
Adapun pengaruh Yunani masuk melalui berbagai macam
terjemah dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
2. Gerakan Terjemah
Pada masa Periode Klasik, usaha penerjemahan kitab-kitab
asing dilakukan dengan giat sekali. Pengaruh gerakan
terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan
umum terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat,
kimia, dan sejarah.
Selain faktor tersebut di atas, kejayaan Islam ini disebabkan
pula oleh adanya gerakan ilmiah atau etos keilmuan dari
para ulama yang ada pada Periode Klasik tersebut, antara
lain seperti berikut.
1. Melaksanakan ajaran al-Qur’ān secara maksimal, di
mana banyak ayat dalam al-Qur’ān yang menyuruh
agar kita menggunakan akal untuk berpikir.
2. Melaksnakan isi hadis, di mana banyak hadis yang
menyuruh kita untuk terus-menerus menuntut ilmu,
meskipun harus ke negeri Cina. Bukan hanya ilmu
agama yang dicari, tetapi ilmu-ilmu lain yang
berhubungan dengan kehidupan manusia di dunia ini.
3. Mengembangkan ilmu agama dengan berijtihad, ilmu
pengetahuan umum dengan mempelajarai ilmu filsafat
Yunani. Maka, pada saat itu banyak bermunculan ulama
fiqh, tauhid (kalam), tafsir, hadis, ulama bidang sains
(ilmu kedokteran, matematika, optik, kimia, fisika,
geografi), dan lain-lain.
4. Ulama yang berdiri sendiri serta menolak untuk
menjadi pegawai pemerintahan.

27
Dari gerakan-gerakan tersebut di atas, muncullah tokoh-tokoh Islam yang
memiliki semangat berijtihad dan mengembangkan berbagai ilmu
pengetahuan, antara lain:
- Ilmu Filsafat - Bidang Astronomi
1. Al-Kindi (809‒873 M), 1.Al-Farazi: pencipta Astro
2.Al Farabi (wafat tahun lobe
916 M), 2.Al-Gattani/Al-Betagnius
3.Ibnu Bajah (wafat tahun 3.Al-Farghoni atau Al-
523 H), Fragenius
4.Ibnu Thufail (wafat tahun
581 H), - Bidang Seni Ukir Badr dan
5.Ibnu Shina (980‒1037 M), Tariff (961‒976 M) Ilmu
6.Al-Ghazali(1085‒1101M), Tafsir
7.Ibnu Rusd(1126‒1198 M) 1.Ibnu Jarir ath Tabary,
2.Ibnu Athiyah al-Andalusy
- Bidang Kedokteran (wafat 147 H),
1.Jabir bin Hayyan (wafat 3.As Suda, Muqatil bin
778 M), Sulaiman (wafat 150 H),
2.Hurain bin Ishaq (810‒ 4.Muhammad bin Ishak dan
878 M), lain-lain.
3.Thabib bin Qurra (836‒
901 M), - Ilmu Hadis
4.Ar-Razi atau Razes (809‒ 1.Imam Bukhori (194‒256
873 M). H),
2.Imam Muslim (wafat 231
- Bidang Matematika H),
1.Umar Al-Farukhan, 3.Ibnu Majah (wafat 273 H),
2.Al-Khawarizmi. 4.Abu Daud (wafat 275 H),
5.At-Tarmidzi, dan lain-
lain.

28
2.4.2 Masa kemunduran islam (1250-1500 M)
Faktor ekologis dan alami, yaitu kondisi tanah di mana
negara-negara Islam berada adalah gersang, atau semi gersang,
sehingga penduduknya tidak terkonsentrasi pada suatu
kawasan tertentu. Kondisi ekologis ini memaksa mereka untuk
bergantung kepada sungai-sungai besar, seperti Nil, Eufrat dan
Tigris.
Secara agrikultural kondisi ekologis seperti ini
menunjukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan dari
sisi pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang cukup
penting adalah Pertama, Negara-negara Islam seperti Mesir,
Syria, Iraq dan lain-lain mengalami berbagai bencana alam.
Antara tahun 1066-1072 di Mesir terjadi paceklik (krisis
pangan) disebabkan oleh rusaknya pertanian mereka.
Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit
yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq.
Kedua, letak geografis yang rentan terhadap serangan
musuh. Iraq, Syria, Mesir merupakan target serangan luar yang
terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat
dan Timur dan sewaktu-waktu bisa menjadi terget invasi pihak
luar.
Faktor eksternal : Faktor eksternal yang berperan dalam
kajatuhan peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi
dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-
1300an. “Perang Salib”, menurut Bernard Lewis, “pada
dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat
yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan
menggunakan agama sebagai medium psikologisnya.”
Sedangkan tentara Mongol menyerang negara-negara Islam di
Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizm,
dilanjutkan ke Persia (1220-1221). Pada tahun 1258 Mongol
berhasil merebut Baghdad dan diikuti dengan serangan ke

29
Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan
Abbasiyah berakhir.
Hilangnya Perdagangan Islam Internasional dan munculnya
kekuatan Barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara
kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam upayanya
mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati
negara-negara Islam.
Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur
dan juga melewati negara-negara Islam. Di saat itu kekuatan
ummat Islam baik di laut maupun di darat dalam sudah
memudar. Akhirnya pos-pos pedagangan itu dengan mudah
dikuasai mereka. Pada akhir abad ke 16 Belanda, Inggris dan
Perancis telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam dunia
perdagangan.
Selain itu, ternyata hingga abad ke 19 jumlah penduduk
bangsa Eropa telah meningkat dan melampaui jumlah
penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turkey
Uthmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta,
jika ditambah dengan Eropa timur menjadi 274 juta; sedangkan
jumlah penduduk Muslim hanya 17 juta. Kuantitas yang
rendah inipun tidak dibarengi oleh kualitas yang tinggi.
Sebagai tambahan, meskipun Barat muncul sebagai
kekuatan baru, Muslim bukanlah peradaban yang mati seperti
peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban Islam
terus hidup dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan
bahkan dianggap sebagai ancaman Barat.
Sesudah kekhalifahan Islam jatuh, negara-negara Barat
menjajah negara-negara Islam. Pada tahun 1830 Perancis
mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia.
Sedangkan Inggris memasuki Mesir pada tahun 1882. Akibat
dari jatuhnya kekhalifahan Turki Uthmani sesudah Perang
Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada

30
dibawah penjajahan Inggris dan Perancis, demikian pula
kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika.
Setelah Perang Dunia Kedua kebanyakan negara-negara
Islam merdeka kembali, namun sisa-sisa kekuasaan
kolonialisme masih terus bercokol. Kolonialis melihat bahwa
kekuatan Islam yang selama itu berhasil mempersatukan
berbagai kultur, etnik, ras dan bangsa dapat dilemahkan. Yaitu
dengan cara adu domba dan tehnik divide et impera sehingga
konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-
negara Islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil.

31
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Penyebaran ajaran Islam dan ekspansinya ke berbagai penjuru dunia telah
berhasil membawa kemajuan pada setiap masanya, baik dari segi
keagamaan maupun non agama yang berupa ilmu pengetahuan dan
teknologi.
b. Para tokoh dan cendekiawan Islam yang telah berhasil mempelajari ilmu-
ilmu Yunani dan Sansekerta, telah memberikan pengembangan yang
signifikan pada bidangnya masing-masing, jauh sebelum para ilmuwan
Barat menemukan teori-teori tentang ilmu pengetahuan.
Dengan demikian telah memberikan bukti bahwa Islam dan
peradaban yang telah dibangunnya pada masa lalu, telah memberikan
investasi besar pada pencapaian peradaban dunia modern saat ini.
Pada kebudayaan Andalusia bidang ilmu keislaman yang
berkembang saat itu antara lain yaitu fiqih, hadits, tafsir, ilmu kalam,
ilmu sejarah, tata bahasa arab dan juga filsafat. Islam masuk wilayah
Afrika Utara pada saat itu berada di bawah kekuasaan kekaisaran
Romawi sebuah imperium yang amat luas yang melingkupi berbagai
Negara dan berjenis jenis bangsa manusia. Penaklukan daerah ini pada
dasarnya sudah mulai dirintispada masa kekhalifahan umar bin Khatab.
Pada tahun 640M ‘Amr ibn al-Ash berhasil memasuki Mesir setelah
sebelum mendapat ijin bersyarat dari khalifah Umar untuk menaklukan
daerah itu. Di antara kontribusi intelektual islam atas dunia Barat di
bidang intelektual adalah Filsafat, Sains, Fiqih, Musik dan Kesenian,
Bahasa dan Sastra
Kemajuan umat Islam baik pada masa Bani Umayyah maupun Bani
Abbasiyah terjadi tidak secara tiba-tiba. Begitu juga dengan
Keemunduran nya. Akan tetapi, ada faktor penyebabnya, yaitu
disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal.

32
DAFTAR PUSTAKA

A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, PT Karya Uniperss, Jakarta; 1979

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta; 2004

Dudung Abdurahman, Sejarah Peradaban Islam, LESFI, Yogjakarta; 2009

Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, PT Pustaka Rizki Putra, Semarang; 2012

Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Prenada Media, Jakarta; 2003

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana Prenada Media Group, Jakarta;
2009

Hanafi, Hassan, Oksidentalisme : Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, (Jakarta :


Paramadina, 2000)

Hodgson, Marshal G.S, The Venture of Islam, Iman dan Sejarah Peradaban
Dunia, (masa klasik Islam), buku ke-2, Peradaban Kekhalifahan Agung, cet. 1,
terj. Mulyadhi Kartanegara, (Jakarta : Paramadina, 2002)

Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, cet. 2 (Yogyakarta :


Pustaka Book Publisher, 2009)

Mansur, Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Yogyakarta : Global Pustaka


Utama, 2004)

Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barata, Deskripsi


Analisis Abad Keemasan Islam, terj. Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah,
cet. 2, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003)

33
HASIL PRESENTASI

Presentasi Dilaksanakan Pada Tanggal 08 Desember 2017 dengan hanya dibuka 1


Sesi dan dengan Jumlah Peserta sebanyak 14 Orang.
Nama Pemakalah : Meli Gustina dan Felisia Talitha A.
Nama Moderator : Gita Affrylia ( Kelompok 9 )
Nama Notulen : Lidona Kusuma Wardani ( Kelompok 9 )
Beikut Daftar Pertanyaan beserta Jawaban.
1. Ladrena Mesiah (Kelompok 10)
Mengapa Peradaban Islam Tidak Lepas dari Pengaruh Bangsa
Barat?
Jawaban : Pada Dasarnya Bukan Peradaban Islam yang tidak Terlepas dari
pengaruh barat akan tetapi Kemajuan bangsa barat lah yang tidak terlepas
dari Pengaruh Peradaban islam. (Oleh Felisia Talitha A.)
Jadi Maksudnya, sudah seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwasanya
jauh sebelum Bangsa Barat mengalami kemajuan yang sangat Pesat, islam
sudah terlebih dahulu membangun peradaban yang gemilang. Kemudian
barulah ketika itu islam mengalami perkembangan dan sampailah ke
daratan eropa (Bangsa Barat). Dan dari proses ini, bisa dilihat bahwa pada
dasar nya bangsa Baratlah yang tidak terlepas dari pengaruh Islam bukan
Islam yang tidak terlepas dari Pengaruh Barat.(Oleh Meli Gustina)

2. Ratri Agustina ( Kelompok 3 )


Apa Makna Keterbukaan dari Agama Islam?
Jawaban : Makna Keterbukaan disini ialah Bahwasanya Agama Islam
tersebut tidak pernah menutup kemungkinan untuk siapa saja mempelajari
apapun yang ada dalam peradaban islam itu sendiri. Agama islam selalu
menerima siapa pun yang mau belajar, serta agama islam itu juga tidak
pernah segan untuk berbagi ilmu yang dimiliki (menyebarluaskan ilmu)
baik itu dengan sesama muslim maupun dengan orang-orang yang berbeda
agama sekali pun. Itulah Makna Keterbukaan dari Agama Islam. (Oleh
Meli Gustina)

34
3. Gusni Amini Siagaian ( Kelompok 10 )
Apakah Faktor-faktor yang melatarbelakangi timbulnya konflik
antara umat islam dengan bangsa romawi?
Jawaban : karena bangsa romawi tidak menaruhh hormat terhadap mksud
baik islam, saat islam menjadi lemah romawi selalu berusaha
menghancurkan islam, serta bangsa romawi tidak berkenan menjalin
hubungan perdagangan dengan negeri-negeri arab. ( Oleh Felisia Talitha
A.)

35