Anda di halaman 1dari 33

A.

Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication)


1. Definisi Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi antarpesonal memiliki dimensi kualitatif dan dimensi kuantitatif.
Komunikasi antarpesonal adalah komunikasi yang terjadi terutama di antara dua atau
beberapa orang (kuantitatif) yang bersifat alamiah dan dapat menghasilkan suatu hubungan
produktif secara terus menerus (kualitatif). Komunikasi interpesonal mengacu pada pesan-
peasan yang dikirimkan oleh orang –orang secara intern (pemikiran), yang sering kali
berhubungan dengan diri merekasendiri (evaluasi diri). Studi komunikasi antarpesona efektif
berdasarkan teori yang logis meliputi keahlian yang dapat diterapkan pada lingkungan bisnis.
Suatu studi nasional mengenai direktur personalia menyatakan bahwa keahlian
komunikasi antarpesonal dan keahlian hubungan manusia menduduki urutan dalam keenam
belas factor terpenting yang diperlukan dalam keberhasilan prestasi kerja. 1[1]
Salah satu rumusan yang banyak digunakan, sebuah adaptasi dari Hovland (1948:
371), menyatakan bahwa komunikasi antar pribadi sebagai suatu keadaan interaksi ketika
seseorang (komunikator) mengirimkan stimulasi (biasanya simbol-simbol verbal) untuk
mengubah tingkah laku orang lain (komunikan), dalam sebuah peristiwa tatap muka.2[2]
Persoalan penilaian hubungan merupakan persoalan lain yang penting dalam
komunikasi antarpribadi. Dalam hubungan ini, dicakup setidaknya enam tahap atau tingkatan
hubungan (Ruben : 321-325)
a. Initiation. Pada tahap ini, masing-masing partisipan saling membuat kalkulasi atau menaksir-
naksir satu dengan lain, dan mencoba mengupayakan penyesuaian-penyesuaian.
b. Ekplorasi. Pada tahap ini, partisipan saling berusaha mengetahui karakter orang lain,
misalnya minat, motif, dan nilai-nilai yang dipegang.
c. Intensifikasi. Pada tahap ini, partisipan saling bertanya kepada diri sendiri apakah jalinan
komunikasi diteruskan apa tidak.
d. Formalisasi. Pada tahap ini partisispan saling sepakat mengenai hal-hal tertentu, yang
kemudian terformalisasikan kedalam berbagai tingkah laku, misalnya, berjanji untuk saling
bertemu lagi, mendatangani kontrak bisnis atau saling bercumbu.
e. Redifinisi. Pada tahap ini jalinan hubungan dan komunikasi yang ada dihadapkan pada
persoalan-persoalan baru dan silih berganti seiring dengan perjalanan waktu.
f. Hubungan yang memburuk. Gejala semakin memburuknya hubungan kadangkala tidak
disadari sepenuhnya oleh partisipan komunikasi.3[3]
Josep A. Devito dalm bukunya “ The Interpersonal Communication Book”
mendefinisikan komunikasi antar pribadi sebagai :
“Proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara
sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika”.
Pentingnya situasi komunikasi antar pribadi ialah karena prosesnya memungkinkan
berlagsung secara dialogis, dimana selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog
menunjukkan suatu bentuk komunikasi di mana seorang berbicara, yang lain mendengarkan,
jadi tidak terdapat interaksi.
2. Tujuan Komunikasi Antar Pribadi
a. Mengenal Diri Sendiri dan Orang Lain
Mengenal diri sendiri adalah melalui komuinikasi antar pribadi. Komunikasi ini memberikan
kesempatan bagi kita untuk memperbioncangkan diri kita sendiri.
b. Mengetahui Dunia Luar
Komunikasi antar pribadi memungkinkan kita untuk memahami lingkungan kita secara baik
yakni tentang objek dan kejadian-kejadian orang lain .
c. Menciptakan dan Memelihara Hubungan Menjadi Bermakna
Manusia diciptakan sebagai makhluk individu sekaligus makhluk social. Sehingga dalam
kehidupan sehari-hari, orang ingin menciptakan dan memelihara hubungan dekat dengan
orang lain.
d. Mengubah Sikap dan Perilaku
Dalam komunikasi antar pribadi sering kita berupaya mengubah sikap dan perilaku orang
lain. Singkatnya kita banyak mempergunakan waktu untuk mempersuasi orang lain melalui
komunikasi antar pribadi.
e. Bermain dan Mencari Hiburan
Bermain mencakup semua kegiatan untuk memperoleh kesenangan. Seringkali tujuan ini
dianggap penting, tetapi sebenarnya komunikasi yang demikian perlu dilakukan, karena bisa
memberi suasana yang lepas.
f. Membantu
Psikiater, psikolog klinik dan ahli terapi adalah contoh profesi yang mempunyai fungsi
menolong orang lain. Tugas-tugas tersebut sebagian besar dilakukan melalui komunikasi
antar poribadi.4[4]

3. Komunikasi antar pribadi dilihat dari komponen-komponennya.


a. Pengiriman Penerima
Komuniukasi antar pribadi melibatkan paling tidak 2 orang. Setiap orang yang terlibat dalam
komunikasi antar pribadi memformulasikan dan mengirim pesan (fungsi pengirim) dan juga
sekaligus menerima dan memahami pesan (fungsi penerioma).
b. Encoding-Decoding
Encoding adalah tindakan menghasilkan pesan. Decoding adalah tindakan untuk
menginterprestasikan dan memahami pesan-pesan yang diterima.
c. Pesan-pesan
Dalam komunikasi antar pribadi, pesan-pesan yang dipertukarkan b isa berbentuk verbal,
atau non verbal, atau gabungan antara bentuk verbal dan non verbal.
d. Saluran
Saluran berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pengirim dan penerima ionformasi
dalam komunikasi antar pribadi lazimnya, para pelaku komunikasi antar pribadi bertemu
secara tatap muka.
e. Gangguan (Noise)
Sering kali terjadi pesan-pesan yang dikirim berbeda dengan pesan-pesan yang diterima, hal
ini disebabkan adanya gangguan saat berlangsung komunikasi. Dalam komunikasi antar
pribadi, gangguan ini mencangkup 3 hal yaitu gangguan fisik, gangguan psikologis,
gangguan semantic.
f. Umpan Balik
Umpan balik memainkan peranan yang sangat penting dalam proses komunikasi antar pribadi
karena pengirim dan penerima secara terus menerus dan bergantian memberikan umpan balik
dengan berebagai cara, baik secara verbal maupun non verbal.
g. Konteks
Konteks dimana kita berkomunikasi akan mempengaruhi proses komunikasi itu sendiri.
4. Komunikasi antar pribadi dilihat dari proses pengembangannya
Menurut perspektif pengembangan, komunikasi adalah suatu proses yang
berkembang, yaitu dari yang bersifat impersonal meningkat menjadi interpersonal atau intim.
Devinisi ini membedakan komunikasi impersonal dan interpersonal antar pribadi
berdasarkan 3 faktor : prediksi pada data psikologis, interaksi berdasarkan pada pengetahuan,
dan interaksi berdasarkan aturan yang ditentukan sendiri.

a. Prediksi-prediksi bertdasarkan data psikologis


Interaksi antar pribadi yang dilakukan oleh para pelaku didasarkan pada prediksi
mereka tentang data psikologis orang lain. Artinya, dalam komunikasi antar pribadi
seseorang memprediksikan orang lain menurut cirri-ciri khas atau hal-hal spesifik dari orang
tersebut.
b. Interaksi-interaksi yang berdasarkan pada pengetahuan
Dalam situasi antar pribadi, kita tidak hanya dapat memprediksikan bagaimana
seseorang akan bertindak, tetapi juga dapat menjelaskan perilaku orang tersebut.
c. Interaksi berdasarkan pada aturan-aturan yang ditentukan sendiri
Dalam situasi-situasi impersonal, aturan-aturan perilaku interaksi ditentukan oleh
norma-norma social. Misalnya dalam masyarakat dan budaya jawa, perilaku hubungan dosen-
mahasiswa harus sesuai dengan norma-norma yang ada.5[5]
5.Menilai kualitas hubungan antara dua-orang
Pertama, dalam hubungan berkualitas tinggi, informasi tentang orang lain lebih
bersifat psikologis dari pada bersifat cultural dan sosiologis.
Kedua, karakteristik hubungan berkualitas tinggi adalah bahwa aturan-aturan dalam
hubungan ini lebih banyak dikembangkan oleh kedua orang yang terlibat di dalamnya.
Ketiga, peranan dalam hubungan antar pesona pada pokoknya lebih ditentukan oleh
karakter pribadi dari pada oleh situasi.
Keempat, hubungan berkualitas tinggi lebih menekankan pilihan perseorangan dari
pada pilihan kelompok.6[6]

B. Komunikasi Antar Kelompok

1. Karakteristik komunikasi kelompok

Komunikasi dalam kelompok yakni kegiatan dalam komunikasi yang berlangsung


diantara suatu kelompok. Pada tingkatan ini, setiap individu yang yang terlibat masing-
masing berkomunikasi sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam kelompok. Pesan atau
informasi yang disampaikan juga menyangkut kepentingan seluruh anggota kelompok, bukan
bersifat pribadi. Misalnya, ngobrol-ngobrol antara ayah, ibu, dan anak dalam keluarga,
diskusi guru dan murid di kelas tentang topic bahasan, dan sebagainnya.
Komunikasi kelompok juga bisa diartikan sebagai sekumpulan orang yang
mempunyai tujuan yang sama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan
bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka menjadi salah satu bagian
dari kelompok tersebut. Contoh : tetangga, keluarga, kawan-kawan dekat, kelompok diskusi,
kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite untuk mengambil suatu keputusan,
komunikasi in dengan sendirinya melibatkan komunikasi interpersonal (antar pribadi).

Adapun karakteristik komunikasi kelompok, antara lain :


1. Komunikasi dalam komunikasi kelompok bersifat homogen.
2. Dalam komunikasi kelompok terjadi kesempatan dalam melakukan tindakan pada saat itu
juga.
3. Arus balik di dalam komunikasi kelompok terjadi secara langsung, karena komunikator dapat
mengetahui reaksi komunikan pada saat komunikasi sedang berlangsung..
4. Pesan yang diterima komunikan dapat bersifat rasional (terjadi pada komunikasi kelompok
kecil) dan bersifat emosional (terjadi pada komunikasi kelompok besar).
5. komunikator masih dapat mengetahui dan mengenal komunikan meskipun hubungan yang
terjadi tidak erat seperti pada komunikasi interpersonal.
6. Komunikasi kelompok akan menimbulkan konsekuensi bersama untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.

2. Pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi


Adapun pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi, antara lain :
a. Konformita
Konformita adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai
akibat tekanan kelompok yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok
mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan
atau melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua
kelompok, aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta
persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan
seakan-akan anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota
berikutnya untuk sutuju juga.
b. Fasilitasi social
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan
kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga
menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965)7[7] menjelaskan bahwa kehadiran orang lain
dianggap menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi ada
berbagai situasi social, bukan hanya di depan orang yang menggairahkan kita. Energy yang
meningkat akan mempertinggi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon
dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar,
terjadi peningkatamn prestasi. Bila respo itu salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk
pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang benar; karena itu, peneliti-
peneliti melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
c. Polarisasi
Polarisasi adalah kecenderungan kea rah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok
para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka
akan lebih kuat lagi mendukung kegiatan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota
kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih
keras.
3 Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok disebut presentasi (performance) tujuan
kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation).
Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya
kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang
diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya
dalam kegiatan kelompok.8[8]
Dalam komunikasi kelompok dan pengambilan keputusan kelompok, istilah
kepemimpinan (leader ship) sangat penting. Dalam hubungan ini, kepemimpinan mempunyai
dua dimensi fungsi sekaligus : (a) mempertahankan kelangsungan kelompok (group
maintenance function), dan (b) pencapaian tujuan (group achievemen function) (Ruben,
1988:348-350). Fungsi maintenance meliputi sederet fungsi penting, seperti : (a) mendorong
partisipasi, (b) pengaturan proses-proses interaksi, (c) membantu upaya-upaya mencapai
tujuan, (d) mendorong kerjasama, (e) menengahi atau mendamaikan konflik, (f) melindungi
hak-hak individual warga kelompok, (g) memberikan acuan perilaku-perilaku ideal yang
dapat di contoh, (h) menanamkan rasa tanggung jawab terhadap kelompok terutama apabila
terjadi kegagalan-kegagalan, dan (i) membantu mendorong tumbuh berkembangnya
kelompok.
Fungsi achievement dari leadership mencakup : (a) penyampaian informasi baik
dalam pengertian internal maupun eksternal. (b) perencanaan, (c) penentuan orientasi, (d)
mengintegrasikan, (e) perwakilan, (f) mengkoordinasikan, (g) penyampaian penjelasan
apabila terjadi kesimpangsiuran tersemai benih-benih konflik, (h) evaluasi, (i) pemberian
stimulasi.
Setidaknya terdaat dua perspektif atau pendekatan penting didalam mengkaji
komunikasi kelompok, yaitu pendekatan input-proses-output, dcan pendekatan strukturasi
(Littlejohn, 2002 : 263-273). Pendekatan input-proses-output sangat dipengaruhi aliran
filsafat pragmatisme, terutama pikiran-pikiran John Dewey, yang kemudian melahirkan dua
tradisi kajian komunikasi kelompok, yakni tradisi fungsional dan tradisi interaksional.
Dewey, dalam hubungan ini, mengamati bahwa ada enam tahap dalam proses komunikasi
kelompok untuk memecahkan persoalan : (a) pengutaran kesulitan-kesulitan atau
permasalahan-permasalahan, (b) mendefinisikan permasalahan, (c) menganalisis
permasalahan, (d) pengutaraan kemungkinan-kemungkinan jalan keluar, (e) menimbang atau
membanding-bandingkan saran atau jalan keluar tersebut dan mengujinya dengan tujuan-
tujuan serta criteria-kriteria tertentu untuk mendapatkan jalan keluar yang baik, dan (f)
menerapkan atau melaksanakan jalan keluar terbaik yang dipilih.9[9]

1. Sifat komunikasi kelompok kecil


Komunikasi kelompok kecil terjadi ketika tiga orang atau lebih bertatap muka,
biasanya dibawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran
bersama dan mempengaruhi satu sama lain. Inti dari definisi ini adalah bahwa masyarakat
berinteraksi, mereka saling bergantung, dan saling mempengaruhi.
a. Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka
Komunikasi kelompok kecil yang efektif menghendaki anda untuk berkomunikasi dengn
orang lain melalui tatap muka. Interaksi yang berarti dapat berlangsung jika komunikasi
melibatkan hal berbicara dan mendengar dalam lingkungan yang umum. Melalui pengenalan,
teknologi baru-komputer, mesin faxsimili, telekonferensi, dan bentuk komunikasi cepat
lainnya-masyarakat semakin terbiasa berkomunikasi dan menyokong hubungan tanpa
kehadiran fisik orang lain. Bagaimanapun, komunikasi kelompok yang terbaik terjadi bila
orang-orang dapat segera menanggapi komunikasi verbal dan nonoverbal orang lain secara
pribadi.
b. Kelompok memiliki sedikit partisipan
Terdapat berbagai macam opini mengenai berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk
membangun sebuah kelompok kecil, tetapi umumnya berdasarkan parameter luar adalah 3
sampai 12 orang. Sedangkan ukuran sebagian lainnya ditentukan oleh tujuan kelompok. Jika
tujuannnya untuk mendorong input individu, diperlukan jumlah anggota yang lebih kecil.
Jika anggota –anggota hendak ditampakkan ke dalam berbagai sudut pandang, sebaiknya
dibentuk kelompok yang lebih besar. Keanggotaan suatu kelompok harus cukup besar
sehingga terdcapat semua fungsi yang berorientasi pada tugas dan manusia yang dibutuhkan
dalam penyelesaian pekerjaan.lima sampai tujuh orang partisipan biasanya merupakan
ukuran yang cukup bagi sebuah kelompok kerja. Kelompok ini tidak terlalu kecil untuk
membagi sebuah tugas dan juga tidak terlalu besar untuk mencegah interaksi bebas diantara
para anggota.
c. Kelompok bekerja di bawah arahan seorang pemimpin
Kepemimpinan merupakan sebuah dimensi penting dari suatu studi kelompok kecil.
Kelompok-kelompok kerja dapar berfungsi melalui kepemimpinan yang ditunjuk,
kepemimpinan yang berdasarkan jabatan atau pangkat, a tau kepemimpinan darurat.hal yang
pokok adalah tindakan kepemimpinan, atau tindakan bersama yang membantu kelompok-
kelompok yang mencapai tujuannya, sangat diperlukan untuk kesehatan, efisiensi dan
efektifitas kelompok. Biasanya, hal yang lebih efisien dilakukan adalah memiliki orang yang
telah ditunjuk sebelumnya sebagai pemimpin rapat, penyelenggara rapat, moderator,
pemimpin, atau fasilitator kelompok. Apabila pihak berwenang yang lebih tinggi tidak
menunjuk seorang pemimpin, sebaiknya mereka memilih seseorang untuk jabatan tersebut.
d. Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama
Beberapa orang berada dalam lift di sebuah gedung perkantoran. Salah seorang dari mereka
berkata,”Hari ini hari yang indah. Saya heran bagaimana merger berlangsung?” Mendapati
dirinya tidak dihiraukan justru mendapatkan tatapan dingin, dengan perasaan malu pembicara
itu terdiam dan berpikir betapa kakunya orang-orang yang bersamanya di lift itu. Lalu,
apakah kumpulan orang yang berada dalam lift tadi merupakan sebuah kelompok? Menurut
sebagian besar devinisi, kumpulan orang tersebut bukan merupakan kelompok. Untuk
menjadi sebuah kelompok, para anggota harus membagi tujuan bersama. Meskipun orang-
orang dalam lift terikat dalam aktivitas yang sama semuanya menggunakan lift-mereka
mungkin tidak menuju lantai yang sama, ruang kantor yang sama, atau tempat tujuan yang
sama. Untuk menjadi sebuah tim yang efektif, sebuah kelompok harus memiliki identitas
bersama yang ditinjukan oleh cita-cita atau tujuan bersama.
e. Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain
Untuk menjadikan anggota yang bersama-sama itu sebuah kelompok, setiap anggota harus
terbuka terdapat pengaruh bersama-setiap orang dalam kelompok itu harus ikut serta dalam
kegiatan mempengaruhi dan dipengaruhi. Semangat timbale balik ini marupakan hal penting
bagi integritas suatu kelompok kecil. Perilaku setiap anggota ditentukan dan menentukan
perilaku orang lain. Kehadiran seseorang dalam sebuah kelompok dapat menentukan perilaku
orang lain. Kehadiran seseorang dalam sebuah kelompok dapat berpengaruh sangat penting
terhadap perilaku dan pemikiran anggota lain dan keseluruhan proses dalam kelompok
tersebut. Beberapa orang memberikan kontribusi gagasan dan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan; beberapa orang lainnya menjaga kelompok tetap terpusat pada tugas.
2. Kelebihan bekerja dalam kelompok
a. Kerja sama kelompok
Kekuatan gabungan orang-orang yang berpikir bersama menghasilkan produk yang lebih baik
dari pada yang dipikirkan oleh individu pemikir terbaik dalam kelompok tersebut.
b. Kelompok lebih kreatif daripada individu
Muhammad Ali pernah berkata,”orang yang tidak memiliki imajinasi tidak memiliki sayap.”
“sayap” imajinasi lebih dinamis dalam lingkungan kelompok. Di samping memiliki lebih
banyak pengalaman bersama yang dapat digunakan.
c. Kelompok lebih banyak belajar dari pada individu
Pepatah “Belajar sambil bekerja” diterapkan dalam kelompok kerja. Anda akan belajar
banyak bila mengajarkan mata pelajaran tertentu dari pada anda mempelajari topic tersebut
sendirian.
d. Kelompok melaksanakan tindakan-tindakan yang perencanaannya dibantu anggota
Orang-orang melaksanakan berbagai keputusan yang perumusannya dibantu anggota.
3. Kekurangan bekerja dalam kelompok
a. Kelompok membutuhkan waktu lebih lama dari pada individu
Banyak orang tidak menyukai pembuatan keputusan kelompok kecil karena kerja kelompok
menghabiskan banyak waktu. Kelebihan bekerja dalam kelompok kecil hanya diperoleh
orang-orang yang memiliki kesabaran menginvestasikan waktu lebih untuk memperoleh hasil
yang diinginkan.
b. Kelompok mungkin didominasi individu
Dalam konteks kelompok, sering kali terdapat orang-orang yang ingin mendominasi suatu
diskusi. Keinginan memimpin yang besar untuk memimpin, membuat mereka mengecilkan
hati anggota lain dalam hal pemberian kontribusi yang mungkin berguna.
c. Kelompok mungkin mengandalkan satu atau dua individu untuk melakukan pekerjaan
Bekerja dalam kelompok dengan mudah menyebarkan rasa tanggung jawab. Bergabung
dengan kelompok dan memberikan sedikit kontribusi atau tidak sama sekali merupakan hal
yang mudah.
d. Kelompok mungkin mennekan para individu untuk menyesuaikan diri
Dalam lingkungan kelompok sering terdapat tekanan untuk menyesuaikan diri.
4. Pemecahan masalah dalam kelompok
a. Langkah 1: mendefinisikan dan membatasi masalah
Tahap pertama dalam berpikir bijaksana adalah mengenali masalah secara jelas melalui
pendefinisian. Jadi, seluruh anggota kelompok memiliki pengertian bersama tentang tujuan
rapat. Angota-anggota kelompok akan lebih produktif dan puas bila pemahaman bersama
tentang suatu masalah dicapai lebih awal.
b. Langkah 2: menganalisis masalah
Analisis merupakan langkah kedua dalam tahap pendeskripsian masalah. Pada saat anda
menganalisis suatu masalah, anda mengamati setiap bidang masalah tersebut. Sebagaimana
seorang dokter memeriksa penyebab masalah tersebut. Analisis melibatkan penelitian dan
penyelidikan berbagai sebab, akibat, gejala, dan riwayat penyakit; penetapan criteria
mengenai pemecahan yang harus dipenuhi; dan pemberian latar belakang informasi lainnya
mengenai masalah yang akan membantu kelompok mencapai penyelesaian.
c. Langkah 3 : menghasilkan pemecahan yang memungkinkan
Setelah masalah didefinisikan, dibatasi dan dianalisis, sekarang kelompok harus mengenali
pemecahan yang memungkinkan. Karena hal ini merupakan langkah yang paling efektif,
kelompok harus memiliki bermacam-macam pemecahan yang memungkinkan untuk
dipertimbangkan. Brainstorming (urun rembuk) merupakan salah satu alat kreatif yang
membantu menaruh gagasan-gagasan pada pemecahan yang memungkinkan untuk suatu
masalah.
Merinci sejumlah panduan yang dapat digunakan untuk mendapatkan hasil terbaik
dari sesi brainstorming.
a. Menunda penilaian
Peraturan ini melindungi gagasan para partisipan dari kritik. Kritik dan penemuan
kesalahan melumpuhkan kreaktivitas. Seharusnya, tidak seorang pun diizinkan mengkritik
saran atau mengabsahkan pemecahan sampai sesi brainstorming berakhir.
b. Berpikir liar
Setiap gagasan, betapa pun ekstrimnya, berhak untuk di dengar. Mendengarkan gagasan
seseorang mungkin mencetuskan pemikiran anggota lain. Acapkali, kombinasi kerja sama
antara saran seseorang dengan adaptasi orang lain menghasilkan pemecahan.
c. Mempraktekkan saling mendukung
Berharaplah muncul gagasan gila dan liar dari seseorang untuk mencetuskan gagasan
lain dari anggota lain.”saling mendukung” (atau “membonceng”) pada dasarnya merupakan
proses penghubungan dengan saran orang lain atau penggabungan dua gagasan.
d. Menekankan kuantitas gagasan, bukan kualitas
Meskipun aturan ini dicantumkan dalam panduan pertama, hal ini tidak dapat ditekankan
secara berlebihan.
e. Membuat daftar
Mintalah seorang anggota kelompok membaca semua gagasan yang disarankan. Para
partisipan harus melihat bahwa gagasan-gagasan mereka masih dipertimbangkan sampai
penyeleksian akhir dibuat. Jika memungkinkan, tempelkan daftar tersebut pada papan tulis
atau flip chart sehingga seluruh gagasan dapat dilihat.

d. Langkah 4 : menilai pemecahan yang dirasakan


Pemimpin harus memulai penilaian pemecahan dengan mengulas criteria yang harus dipenuhi
oleh setiap pemecahan yang dapat dipercaya. Melalui penggunaan criteria yang dimufakati,
kelompok dapat memutuskan apakah setiap pemecahan yang diusulkan dapat memecahkan
masalah. Pada tahap ini, kelompok mungkin menemukan kabutuhan untuk memodifikasikan
criteria.
e. Langkah 5 : memilih pemecahan terbaik
Setelah pemecahan dievaluasi, kelompok harus memilih pemecahan yang oleh para
anggotannya dianggap sebagai pemecahan yang terbaik. Jika anggota kelompok telah
menyetujui criteria yang berguna, memelihara semangat secara objektif, dan menjawab
pertannyaan penilaian yang pantas secara jujur, maka pasti akan terdapat consensus atau
persetujuan bersama. Konsensus memiliki bermacam-macam arti; biasannya menyiratkan
kesepakatan yang tersirat tanpa pemungutan suara formal. Kadang-kadang sebuah kelompok
tidak dapat mencapai kesepakatan umum mengenai pemecahan yang terbaik. Dalam keadaan
seperti itu, mungkin diperlukan pengambilan suara, dengan suara mayoritas.
f. Langkah 6 : melaksanakan pemecahan
Kerja kelompok tidak diselesaikan pada saat pemecahan dimufakati. Langkah terakhir dalam
tahap pemecahan masalah dari pendekatan yang bijaksana adalah pelaksanaan
(implementasi). Tes untuk setiap pemecahan adalah denngan cara mencobanya. Pertanyaan
yang pantas dalam hal ini meliputi “Bagaimana kita dapat mempraktekkan pemecahan ini?”
dan “Apa yang dapat kita lakukan untuk mengevaluasi keberhasilan pemecahan ini?”
pemecahan harus diuji dan hasilnya diamati. Penilaian kembali dan pemodifikasian
pemecahan mungkin merupakan hal yang perlu. Rencana-rencana dan prosedur harus
diletakkan pada tempatnya untuk ulasan pemecahan yang dilakukan terus-menerus, terutama
jika pemecahan masalah yang serius dan merugikan dipecahkan.10[10]

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa Latin, “comunis” yang berarti membuat kebersamaan
atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar asal katanya “communis”
yaitu “communico” yang artinya berbagi (Stuart,1983, dalam Vardiansyah, 2004 : 3).
Menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI komunikasi adalah pengiriman dan
penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat
dipahami.
Dalam literatur lain disebutkan komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau
“communicare” yang berarti ” membuat sama” (to make common). Istilah “communis”
adalah istilah yang paling sering di sebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan
akar dari kata kata Latin yang mirip Komuniksi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu
makna, atau suatu pesan di anut secara sama.
Pengertian komunikasi itu sangat bermacam-macam bergantung pendapat setiap orang.
Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisa pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa
komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan
menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu,
mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.
Penyampaian atau penerimaan informasi ada dua pihak yang terlibat yaitu :
1. Komunikator : Orang atau kelompok orang yang menyampaikan informasi atau pesan
2. Komunikan : orang atau kelompok orang yang menerima pesan.
Dalam berkomunikasi keberhasilan komunikator atau komunikan sangat ditentukan oleh
beberapa faktor yaitu :
1. Cakap
2. Pengetahuan
3. Sikap
4. Sistem Sosial
5. Kondisi lahiriah
Ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, tidak
bisa menghindari perspektif dari beberapa ahli yang tertarik pada kajian komunikasi,
sehingga definisi dan pengertian komunikasi menjadi semakin banyak dan beragam. Masing-
masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi
pada dasarnya saling melengkapi dan menyempurnakan makna komunikasi sejalan dengan
perkembangan ilmu komunikasi.

2.2 Komunikasi Verbal & Non Verbal


Komunikasi Verbal adalah penyampaian pesan yang disampaikan melalui lisan
(ucapan) maupun tulis. Disetiap kesempatan, kita selalu menggunakan mulut kita untuk
mengungkapkan sesuatu, dan terkadang ada kalanya kita hanya bisa mengungkapnya dengan
kata-kata diatas lembaran kertas.
Dengan komunikasi verbal kita dengan mudah mengungkapkan apa yang kita rasa,
menuangkan ide-ide, berkomunikasi dengan orang lain, dan sebagainya. Komunikasi verbal
bukan hanya kita sebagai pembicara atau penulis, tapi harus ada juga pendengar atau
pembaca. Mengapa? Karena disetiap komunikasi selalu ada feedback.
Media-media komunikasi verbal pun beragam, mulai dari bertatap muka langsung (face
to face), melalui telepon, surat, email, dan media lainnya yang mencakup tulis atau lisan.
Komunikasi Non Verbal adalah penyampaian pesan yang disampaikan melalui
ekspresi. Ekspresi disini bukan hanya sekedar ekspresi wajah, tapi juga tindakan seseorang
melalui gerak tubuh. Ada kalanya, kita hanya mengekspresikan diri dengan ekspresi wajah
seperti senang, sedih, muram, kesal, marah tanpa mengungkapkannya melalui kata-kata.
Terkadang, orang lain salah mempersepsikan arti dari ekspresi wajah sehingga terjadi salah
paham. Namun, banyak juga keuntungan dari komunikasi non verbal, dengan menggunakan
ekspresi atau gerakan tubuh ketika berbicara orang lain akan lebih memahami maksud dari
pesan yang kita sampaikan dibanding hanya berbicara panjang lebar tanpa berekspresi.
Bentuk komunikasi non verbal sendiri di antaranya adalah, bahasa isyarat, ekspresi
wajah, sandi, simbol-simbol, warna dan intonasi suara.
Contoh :
a. Sentuhan
Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di
punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain.
b. Gerakantubuh
Gerakan tubuh yang meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan
tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk
untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan
perasaan.
c. Vokalik
Vokalik atau paralanguage adalah cara berbicara. Contohnya adalah nada bicara, nada suara,
keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain.
d. Kronemik
Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal.
Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi
suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu
tertentu, serta ketepatan waktu (punctuality).

2.3 Unsur Unsur Komunikasi


Dari pengertian di atas menunjukkan bahwa ada 6 unsur penting dalamproses
komunikasi yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Komunikator.
Komunikator adalah pihak yang bertindak sebagai pengirim pesan dalam proses komunikasi.
Dengan kata lain, komunikator merupakan seseorang atau sekelompok orang yang berinisiatif
untuk menjadi sumber dalam sebuah hubungan. Komunikator tidak hanya berperan sebagai
pengirim pesan saja, namun juga memberikan respons dan menjawab pertanyaan yang
disampaikan sebagai dampak dari proses komunikasi yang berlangsung, baik secara langsung
maupun tidak langsung. (Wikipedia)
2. Pesan/informasi

Pesan merupakan keseluruhan apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa
kata-kata, tulisan, gambaran atau perantara lain. Pesan ini memiliki inti, yakni mengarah pada
usaha untuk mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Inti pesan akan selalu mengarah
pada tujuan akhir komunikasi itu.
3. Sarana komunikasi/channel.
Sarana komunikasi/channel biasa disebut dengan media yang digunakan sebagai penyalur
pesan dalam proses komunikasi. Pemilihan sarana/media dalam proses komunikasi
tergantung pada sifat berita yang akan disampaikan.
4. Komunikan/penerima/receiver.
Komunikan merupakan penerima pesan atau berita yang disampaikan oleh komunikator.
Komunikan bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok. Dalam proses
komunikasi, komunikan adalah elemen penting karena dialah yang menjadi sasaran
komunikasi dan bertanggung jawab untuk dapat mengerti pesan yang disampaikan dengan
baik.
5. Umpan balik/feedback.
Umpan balik dapat dimaknai sebagai jawaban komunikan atas pesan yang disampaikan oleh
komunikator kepadanya. Pada komunikasi yang dinamis, komunikator dan komunikan terus
menerus bertukar peran.
6. Dampak/effect
Dampak merupakan efek perbedaan yang dialami oleh komunikan sebelum dan sesudah
menerima pesan. Bila sikap dan tingkah laku komunikan berubah sesuai dengan isi pesan
maka komunikasi telah berjalan dengan baik. Dampak/efek sesungguhnya dapat dilihat dari
personal opinion, public opinion maupun majority opinion. Namun semuanya mengarah
kepada perubahan yang terjadi pada komunikan setelah menerima pesan.

2.4 Fungsi Dan Tujuan Komunikasi


A. Fungsi Komunikasi
Apabila komunikasi dipandang dari arti yang lebih luas, tidak hanya sebagai pertukaran
berita atau pesan, tetapi sebagai kegiatan individu dan kelompok mengenai tukar menukar
data, fakta, ide, maka fungsinya dalam setiap sistem sosial adalah sebagai berikut:
1. Informasi: pengumpulan, penyimpanan, pemorsesan, penyebaran berita, data,
gambar, fakta, pesan, opini, dan komentar yang dibutuhkan agar dapat dimengerti dan beraksi
secara jelas terhadap kondisi lingkungan dan orang lain agar dapat mengambil keputusan
yang tepat.
2. Sosialisasi: menunjuk pada upaya pendidikan, dimana adanya penyediaan sumber
ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang bersikap dan bertindak sebagaimana anggota
masyarakat yang efektif sehingga ia sadar akan fungsi sosialnya dan dapat aktif didalam
masyarakat.
3. Motivasi: menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek maupun jangka
panjang, mendorong orang untuk menentukan pilihan dan keinginannya, mendorong kegiatan
individu dan kelompok berdasarkan tujuan, mendorong kegiatan individu dan kelompok
berdasarkan tujuan bersama yang akan dikejar.
4. Perdebatan dan diskusi: menyediakan dan saling menukar fakta yang diperlukan
untuk memungkinkan persetujuan atau menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai masalah
public, menyediakan bukti-bukti relavan yang diperlukan utuk kepentingan umum agar
masyarakat lebih melibatkan diri dengan masalah yang menyangkut kepentingan bersama.
5. Pendidikan: pengalihan ilmu pengetahuan dapat mendorong perkembangan
intelektual, pembentukan watak, serta membentuk keterampilan dan kemahiran yang
diperlukan pada semua bidang kehidupan.
6. Memajukan kebudayaan: menyebarkan hasil kebudayaan dan seni dengan maksud
melestarikan warisan masa lalu, mengembangkan kebudayaan dengan memperluas horison
seseorang serta membangun imajinasi dan mendorong kreatifitas dan kebutuhan estetikanya.
7. Hiburan: memberikan hiburan kepada masyarakat, lewat penyebarluasan signal,
simbol, suara dan imajinasi dari drama, tari, kesenian, kesusatraan, music, olahraga,
kesenangan, kelompok dan individu, melalui media masa, eltronik dsb, sehingga masyarakat
dapat menikmati hiburan, dan melarikan diri dri kesulitan hidup sehari-hari, dan lain-lain.
8. Integrasi: menyediakan bagi bangsa, kelompok, dan individu kesempatan untuk
memperoleh berbagai pesan yang mereka perlukan agar mereka dapat saling kenal dan
mengerti serta menghargai kondisi pandangan dan keinginan orang lain.
Dalam kajian ilmu komunikasi banyak ahli mengemukakan pendapatnya tentang
fungsi- fungsi komunikasi. Dari berbagai pendapat yang berkembang, dalam makalah ini
pemakalah juga akan memaparkan pendapat Harold D. Laswell (1948). Secara lebih
terperinci fungsi- fungsi komunikasi, yang dikemukakan Harold D. Laswell adalah sebagai
berikut:
a. Penjajagan/ pengawasan lingkungan (surveillance of the environment).
b. Menghubungkan bagian- bagian yang terpisah dari masyarakat untuk menanggapi
lingkungannya (correlation of the part of society in responding to the environment).
c. Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi berikutnya (transmission of the social
heritage).
Lebih lanjut ia mengemukakan, ada tiga kelompok yang selama ini melaksanakan
ketiga fungsi tersebut. Fungsi pertama, dijalankan oleh para diplomat, atase dan koresponden
luar negeri sebagai usaha menjaga lingkungan. Fungsi kedua, lebih diperankan oleh para
editor, wartawan dan juru bicara sebagai penghubung respon internal. Adapun fungsi yang
ketiga, adalah para pendidik didalam pendidikan informal atau formal karena terlibat
mewariskan adat kebiasaan, nilai dari generasi ke generasi.
Charles R. Wright (1988) menambahkan satu fungsi, yakni entertainment (hiburan)
yang menunjukkan pada tindakan- tindakan komunikatif yang terutama sekali dimaksudkan
untuk menghibur dengan tidak mengindahkan efek- efek instrumental yang dimilikinya.
Sedangkan, menurut Wilbur Schramm fungsi komunikasi ini dapat dilihat dari
kategori komunikator dan komunikan. Fungsi tersebut harus cocok satu sama lainnya, isi
mengisi dan merupakan interpedensi agar supaya komunikasi dapat berjalan dengan
harmonis.
Fungsi- fungsi komunikasi juga bisa ditelusuri dari tipe komunikasi itu sendiri, yang mana
komunikasi dibagi atas empat macam tipe, yakni:
1. Komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication)
2. Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication)
3. Komunikasi publik
4. Komunikasi massa

Adapun fungsi komunikasi secara umum adalah sebagai berikut:


a. Mass Information, yakni untuk memberi dan menerima informasi kepada khalayak
b. Mass Education, yaitu untuk memberi pendidikan
c. Mass Persuasion, yaitu untuk mempengaruhi
d. Mass Entertainment, yaitu untuk menghibur

B. Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi disini menunjuk kepada suatu harapan atau keinginan yang dituju
oleh pelaku komunikasi. Secara umum Harold D Lasswel menyebutkan bahwa tujuan
komunikasi ada empat, yaitu :
1. Social Change (Perubahan Sosial). Seseorang mengadakan komunikasi dengan orang lain,
diharapkan adanya perubahan sosial dalam kehidupannya, seperti halnya kehidupannya akan
lebih baik dari sebelum berkomunikasi.
2. Attitude Change (Perubahan Sikap). Seseorang berkomunikasi juga ingin mengadakan
perubahan sikap.
3. Opinion Change (Perubahan Pendapat). Seseorang dalam berkomunikasi mempunyai
harapan untuk mengadakan perubahan pendapat.
4. Behavior Change (Perubahan Perilaku). Seseorang berkomunikasi juga ingin mengadakan
perubahan perilaku.
Pendapat lain mengatakan bahwa secara umum akibat atau hasil komunikasi dapat mencakup
tiga aspek, yakni:
a. Aspek Kognitif, yaitu menyangkut kesadaran dan pengetahuan.
b. Aspek Afektif, yaitu menyangkut sikap atau perasaan atau emosi.
c. Aspek Konatif, yaitu menyangkut perilaku atau melakukan sesuatu.
Dalam kaitannya dengan tiga aspek diatas, ada beberapa indikator dari akibat atau hasil
komunikasi, diantaranya ada tiga macam yang cukup popular, yakni Model AIDA (Attention,
Interest, Desire dan Action), model Hierarki Efek dan model Adopsi Inovasi.
Model AIDA ini memberikan gambaran bahwa dampak atau hasil komunikasi yang
terjadi pada seseorang setelah ia menerima pesan akan menyangkut empat hal,
yakni:attention (perhatian) dalam kolom kognitif, kemudian meningkat ke tingkat afektif
yaituinterest (minat) dan desire (keinginan), selanjutnya menigkat ke
tingkat action (tindakan). Diasumsikan bahwa tindakan yang diambil pada dasarnya didorong
oleh adanya perhatian, minat dan keinginan.
Model Model Hierarki Efek ini hampir sama dengan model AIDA. Hanya saja proses
proses pertahapannya lebih kompleks, yaitu mencakup enam tahap ;
1. awareness (kesadaran)
2. knowledge (pengetahuan)
3. liking (menyukai)
4. preference (pilihan)
5. conviction (meyakini)
6. purchase (membeli)
Model Adopsi Inovasi, ini dikembangkan oleh Evererr M. Rogers (1983). Model ini
memberika gambaran tentang lima tahap yang dilalui dalam proses pembuatan keputusan
untuk menerima atau menolak inovasi. Yang dimaksud inovasi disini adalah suatu ide atau
gagasan, praktek , atau benda yang dinilai baru oleh seseorang. Kelima tahap tersebut adalah
knowledge (pengetahuan), persuasion (persuasi), decision (keputusan), implementation(pelak
sanaan), confirmation (konfirmasi).
Dalam model tahap ini pelaksanaan bukanlah tahap terakhir. Karena setelah itu ada satu
tahap lagi yakni konfirmasi. Pada tahap ini seseorang akan mencari bukti-bukti penguatan
dan mempertimbangkan kembali keputusan yang telah diambil dan dilaksanakannya. Apabila
ia merasa benar, maka tindakannya akan diteruskan, tetapi bila ia merasa tidak benar, atau
terpengaruh oleh inovasi lain atau oleh kebiasaan lama, maka ia akan berhenti melaksanakan
inovasi.

2.5 PROSES KOMUNIKASI


Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada
komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan
dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi
yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi termasuk
juga suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain dimana seseorang atau
beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan
informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Komunikasi berasal dari bahasa
latin communis yang berarti sama. Communico, communicatio atau communicare yang
berarti membuat sama. Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan
antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan.
Pada umumnya komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti
oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh
keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, dan
menunjukkan sikap tertentu seperti tersenyum, mengangkat bahu dan sebagainya.
Komunikasi ini disebut komunikasi nonverbal. Proses komunikasi bertujuan untuk
menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya).
Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian
pesan untuk mewujudkan motif komunikasi. Melalui komunikasi sikap dan perasaan
seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.
Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni proses komunikasi secara primer dan
proses komunikasi secara sekunder.
a. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses komunikasi secara langsung.
b. Proses komunikasi secara sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses komunikasi dengan perantara (technologi
maupun non technologi).
Langkah-langkah proses komunikasi:
1. Komunikator memiliki gagasan atau pesan/informasi yang ingin disampaikan kepada
komunikan.
2. Komunikator membuat/menyusun sandi-sandi (encoding) untuk menyatakan maksud dalam
bentuk kata-kata ataupun lambang.
3. Perkataan dan lambang-lambang (pesan) disalurkan melalui media.
4. Komunikan menguraikan/menafsirkan pesan yang dikirimkan oleh komunikator.
5. Komunikan memberi tanggapan.

Menurut arah prosesnya, komunikasi dapat dibedakan sebagai berikut;


A. Komunikasi satu arah (one way communication)
Komunikasi yang hanya sepihak, komunikator tidak memberi kesempatan kepada komunikan
untuk memberi respon.
Keuntungan:
1. Lebih cepat dan efisien
2. Dalam hal tertentu memberi kepuasan kepada komunikator, karena komunikan tidak
mempunyai kesempatan
3. Dapat menjaga wibawa komunikator (pimpinan), karena komunikan tidak dapat mengetahui
secara langsung atau menilai kesalahan dan kelemahan komunikator
Kelemahan:
1. Tidak memberi kepuasan kepada komunikan
2. Memberikan kesan otoriter
3. Dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketidakjelasan

B. Komunikasi dua arah (two ways communication)


Berlangsung antara dua pihak antara komunikator dan komunikan baik secara vertikal,
horisontal dan diagonal.
1. Komunikasi vertikal, berlangsung dalam perusahaan antar atasan dan bawahan
2. Komunikasi horizontal, berlangsung pada komunikator dan komunikan yang mempunyai
tingkat, kedudukan, dan wewenang yang sama.
3. Komunikasi diagonal, berlangsung antara komunikator dan komunikan yang tingkat,
kedudukan dan wewenang yang berbeda.
Keuntungan:
a. Ada dialog
b. Informasi lebih jelas, akurat dan tepat
c. Memunculkan rasa kekeluargaan, keakraban dan iklim demokratis
d. Menghindari kesalahpahaman
Kelemahan:
1. Informasi lebih lambat sehingga kurang efisien
2. Keputusan tidak dapat diambil dengan cepat
3. Memberikan kesempatan kepada komunikan untuk bersikap menyerang, sehingga
suasana kerja menjadi kurang kondusif
4. Memberikan kemungkinan timbulnya berbagai macam masalah yang tidak ada
relevansinya dengan masalah yang sebenarnya

C. Komunikasi ke segala arah


Berlangsung dari beberapa komunikator dan komunikan yang saling berinteraksi.
Contoh : diskusi
2.3 Pengertian Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara seorang


komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua orang.
Sekelompok oarang yang menjadi komunikan itu bisa sedikit, bisa banyak. Apabila
jumlah oarang yang dalam kelompok itu sedikit, berarti kelompok itu kecil,
komunikasi yang berlangsung disebut komunikasi kelompok kecil, jika jumlahnya
banyak yang berarti kelompoknya besar dinamakan komunikasi kelompok besar.

2.3.1. Komunikasi Kelompok Kecil

Komunikasi kelompok kecil terjadi ketika tiga orang atau lebih bertatap muka,
biasanya dibawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran
bersama dan mempengaruhi satu sama lain. Inti dari definisi ini adalah bahwa
masyarakat berinteraksi, mereka saling bergantung, dan saling mempengaruhi.
Komunikasi kelompok kecil (small/micro group communication) ialah komunikasi yang
:

1. Ditujukan kepada kognisi komunikan


2. Prosesnya berlangsung secara dialogis

Ciri-ciri komunikasi kelompok kecil yaitu:

1. Prosesanya berlangsung secara dialogis


2. Tidak linear melainkan sirkular
3. Umpan balik (feed back) terjadi secara verbal
4. Komunikan dapat menanggapi uraian komunikator, bisa bertanya jika tidak
mengerti, dan menyanggah jika tidak setuju.

2.3.2. Komunikasi Kelompok Besar

Sebagai kebalikan dari komunikasi kelompok kecil, komunikasi kelompok besara


(large/marco group communication) adalah komunikasi yang:

1. Ditujukan kepada efeksi komunikan


2. Prosesnya berlangsung secara linear

Mereka yang heterogen dalam jumlah yang relatif sangat banyak dan berada di suatu
tempat. Khalayak yang diterpa suatu pesan dalam kondisi seperti ini menaggapinya
lebih banyak dengan perasaan ketimbang pikiran, logika tidak berjalan. Dalam situasi
kelompok besar ada yang dinamakan “congtagion mantale” yang berarti wabah mental.

Ciri komunikasi kelompok besar ialah :

1. Bersifat linear
Satu arah dari satu titik ke titik yang lain, dari komunikator ke komunikan. Tidak
seperti pada komunikasi kelompok kecil yang seperti telah diterangkan tadi
berlangsung secara sikular dialogis, bertanya jawab.

2.3.3. Sifat-sifat Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok mempunyai sifat:

1. Kelompok berkomunikasi Melalui Tatap Muka

Komunikasi kelompok kecil yang efektif menghendaki Anda untuk berkomunikasi


dengan orang lain melalui tatap muka. Interaksi yang berarti dapat berlangsung jika
komunikasi melibatkan hal berbicara dan mendengar dalam lingkungan yang umum.
Melalui pengenalan teknologi baru-komputer, mesin fax, telekonferensi, dan bentuk
komunikasi cepat lainnya-masyarakat semakin terbiasa berkomunikasi dan menyokong
hubungan tanpa kehadiran fisik orang lain. Bagaimanpun, komunikasi kelompok yang
terbaik terjadi bila orang-orang dapat segera menanggapi komunikasi verbal dan
nonverbal orang lain secara pribadi.

1. Kelompok Memiliki Sedikit Partisipan

Terdapat berbagai macam opini mengenai berapa banyak orang yang dibutuhkan
untuk membangun sebuah kelompok kecil, tetapi umumnya berdasarkan parameter
luar adalah 3 dan 12 orang.. Sedangkan ukuran sebagian lainnya ditentukan oleh
tujuan kelompok. Jika tujuannya untuk mendorong input individu, diperlukan jumlah
anggota yang lebih kecil. Jika anggota –anggota hendak ditampakkan ke dalam
berbagai sudut pandang, sebaiknya dibentuk kelompok yang lebih besar. Keanggotaan
suatu kelompok harus cukup besar sehingga terdapat semua fungsi yang berorientasi
pada tugas dan manusia yang dibutuhkan dalam penyelesaian pekerjaan. Lima sampai
tujuh orang partisipan biasanya merupakan ukuran yang cukup bagi sebuah kelompok
kerja. Kelompok ini tidak terlalu kecil untuk membagi sebuah tugas dan juga tidak
terlalu besar untuk mencegah interaksi bebas diantara para anggota.
Zarda (1982) mengatakan, “Seseorang pembentuk kelompok pengambil keputusan
akan membatasi besarnya kelompok dengan baik karena memberi dan menerima
merupakan hal yang lebih cepat dan lebih tersebar luas dalam kelompok kecil
dibandingkan kelompok besar.” Jumlah anggota yang ganjil mungkin umumya lebih
disukai sehingga pada saat pemungutan suara akan terdapat kelebihan suara.
Ketidaksetujuan dalam suatu kelompok bukan merupakan sifat tidak sehat, melainkan
kelebihan suara justru dapat mengatasi jalan buntu pada saat pemungutan suara
diperlukan.

1. Kelompok Berkomunikasi di Bawah Arahan Seorang Pemimpin


Kepemimpinan merupakan sebuah dimensi penting dari suatu studi kelompok kecil.
Kelompok-kelompok kerja dapat berfungsi melalui kepemimpinan yang ditunjuk,
kepemimpinan yang berdasarkan jabatan atau pangkat, atau kepemimpinan darurat.
Hal yang pokok adalah tindakan kepemimpinan, atau tindakan bersama yang
membantu kelompok-kelompok mencapai tujuannya, sangat diperlukan untuk
kesehatan, efisiensi, dan efektivitas kelompok. Biasanya, hal yang lebih efisien
dilakukan adalah memiliki orang yang telah ditunjuk sebelumnya sebagai pemimpin
rapat, penyelenggara rapat, moderator, pemimpin, atau fasilitator kelompok. Apabila
pihak berwenang yang lebih tinggi tidak menunjuk seorang pemimpin, sebaiknya
mereka memilih seseorang untuk jabatan tersebut.

1. Kelompok Membagi Tujuan atau Sasaran Bersama

Untuk menjadi sebuah kelompok, para anggota harus membagi tujuan bersama. Untuk
menjadi sebuah tim yang efektif, sebuah kelompok harus memiliki identitas bersama
yang ditunjukkan oleh cita-cita atau tujuan bersama.

1. Anggota Kelompok Memiliki Pengaruh Atas Satu Sama Lain

Untuk menjadikan orang yang bersama-sama itu sebuah kelompok, setiap anggota
harus terbuka terhadap pengaruh bersama-setiap orang dalam kelompok itu harus ikut
serta dalam kegiatan mempengaruhi dan dipengaruhi. Semangat timbal balik ini
merupakan hal penting bagi integritas suatu kelompok kecil. Perilaku setiap anggota
ditentukan dan menentukan perilaku orang lain. Kehadiran seseorang dalam sebuah
kelompok dapat berpengaruh sangat penting terhadap perilaku dan pemikiran anggota
lain dan keseluruhan proses dalam kelompok tersebut. Beberapa orang memberikan
kontribusi gagasan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan; beberapa orang lainnya
menjaga kelompok tetap terpusat pada tugas. Seorang anggota dapat memberikan
kontribusi pada kelompoknya dengan menghentikan ketegangan, berurusan dengan
konflik, berpegang pada jadwal, atau bertindak sebagai penyimpan catatan. Seorang
pemimpin adalah seseorang yang mempengaruhi kelompok, tetapi tindakan
kepemimpinannya membantu para anggota dalam mencapai tujuan mereka yang
sangat diperlukan bagi kesejahteraan kelompok. Setiap anggota dapat dan harus
mempengaruhi anggota-anggota lain dan keputusan kelompok.
Suatu faktor yang kritis dari partisipasi kelompok adalah bahwa setiap anggota harus
bersikap terbuka dan mampu mengesampingkan ambisi pribadi, “menyembunyikan
agenda”, dan menghindarkan perilaku lain yang dapat merusak kelompok dan hasil
akhir tujuannya.

2.3.4. Fungsi Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok mempunyai beberapa fungsi, antara lain:


1. Menjalin hubungan social antar anggota dan kelompok. Bagaimana individu
dalam suatu kelompok bisa berhubungan social tanpa komunikasi atau sejauh
mana suatu kelompok dapat memelihara hubungan social diantara anggota
dengan anggota atau pun anggota dengan kelompok.

1. Fungsi pendidikan atau e Hal ini berkaitan dengan pertukaran informasi anatar
anggota. Melalui fungsi ini kebutuhan anggota akan informasi baru dapat
terpenuhi. Dan secara tidak langsung kemampuan para anggota dibidangnya
masing-masing dapat embawa pengetahuan baru atau justru membawa
keuntungan untuk para anggota lainnya ataupun bagi kelompok.

1. Kemampuan persuasi. Fungsi ini sebelumnya dapat menguntungkan atau


merugikan pihak yang mem-persuasi. Misalnya, seorang anggota yang berusaha
mem-persuasi anggota kelompok lainnya untuk tidak atau melakuakan sesuatu.
Jika ia mem-persuasi suatu yang sejalan dengan kelompok, maka ia akan
diterima dan menciptakan iklim yang positif di dalam kelompok, tapi sebaliknya
jika ia mem-persuasi suatu yang bertentangan dengan kelompok, maka akan
berpotensi menciptakan konflik dan perpecahan di dalam kelompok.

1. Masalah problem solving. Hal ini berkaitan erat dengan jalan-jalan alternative
dari para anggota kelompok untuk memecahkan masalah.

1. Sebagai terapi. Pasti kalian pernah mendengar soal terapi kelompok bukan?
Tapi memang fungsi yang kelima ini agak berbeda dengan fungsi-fungsi
sebelumnya, karena dalam fungsi kelima ini lebih terfokus pada membantu diri
sendiri, bukan membantu kelompok. Disini para individu yang memiliki
masalah yang sama dikumpulkan, dan mereka diminta untuk saling terbuka
dalam mengungkapkan diri mereka ataupun masalah mereka. Dalam kelompok
ini juga tetap membutuhkan pemimpin sebagai pengatur atau penengah jika
terjadi konflik atau perbedaan pendapat.

2.3.5. Kelebihan komunikasi kelompok :

 Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi


& pendapat anggota yang lain.
 Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya
dengan menekan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompok.
 Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah
disepakati kelompok.

2.3.6. Kekurangan komunikasi kelompok :

 Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat


atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat memengaruhi kualitas
dan kuantitas pertemuan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikasi Antar Pribadi


komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan
antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang, dengan beberapa efek dan beberapa
umpan balik seketika. Di dalam suatu masyarakat, Komunikasi antarpribadi adalah
komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat
maupun organisasi (bisnis dan nonbisnis),dengan menggunakan media komunikasi tertentu
dan bahasa yang mudah dipahami (informal).
komunikasi antar pribadi sesungguhnya baru akan tercipta kalau terdapat kesadaran dari dua
pihak untuk mengamati keadaan masing-masing pihak dan memberikan respon atas keadaan
tersebut sebagaimana sifat komunikasi, maka hubungan yang terjadi ditandai dengan adanya
sikap saling memperhatikan, saling memahami, penuh pengertian dan keakraban.
Pemahaman yang dimaksud tidak hanya terjadi pada materi komunikasi, tetapi juga pada
pemahaman terhadap keunikan pribadi masing-masing.
Selanjutnya, terdapat beberapa definisi komunikasi antarpribadi menurut beberapa
ahli lain, diantaranya adalah:
Jurgen Ruesch dan Gregory Beteson ( dalam Lawrence dan Salman, 1997:49) mengatakan
demikian “komunikasi antar pribadi ditandai oleh adanya tindakan pengungkapan oleh
seseorang pengamatan secara sadar ataupun tidak terhadap tindakan yang dilakukan oleh
pihak lain, dan kemudian melakukan kembali bahwa tindakan yang pertama sudah diamatai
oleh pihak lain. Kesadaran akan pengamatan merupakan kejadian yang mengisyaratkan
terciptanya jalinan antar-pribadi.
a. Menurut Joseph A.Devito dalam bukunya The Interpersonal Communication
Book (Devito, 1989:4), komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan
pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa
efek dan beberapa umpan balik seketika (the process of sending and receiving messages
between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some
immediate feedback).
b. Menurut Rogers dalam Depari, komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi dari mulut
ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi.
c. Tan mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi tatap muka antara
dua orang atau lebih. (Liliweri, 1991: 12) Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang
menimbulkan efek tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh komunikator.
Berdasarkan uraian di atas, maka komunikasi antar pribadi dapat didefinisikan
sebagai proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antara individu yang satu
dengan individu lain dengan gayanya sendiri menyampaikan pesan kepada yang lain
sedangkan yang satu dengan gayanya sendiri menerima pesan dari sumber.

B. Karakteristik Komunikasi Antarpribadi


Judy C. Pearson (1983) menyebutkan enam karakteristik komunikasi antarpribadi
yaitu :
1. Komunikasi antarpribadi dimulai dengan diri pribadi (self).
Berbagai persepsi komunikasi yang menyangkut pengamatan dan pemahaman berangkat dari
dalam diri kita, artinya dibatasi oleh siapa diri kita dan bagaimana pengalaman kita. Contoh :
ketika kita berbicara dengan orang lain, maka kita akan mengungkapkan apa yang kita
persepsikan
2. Komunikasi antarpribadi bersifat transaksional.
Anggapan ini mengacu pada tindakan pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak
menyampaikan dan menerima pesan. Contoh : ketika dua orang sedang berkomunikasi, tentu
adanya saling bertukar pikiran, perasaan dll.
3. Komunikasi antarpribadi mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi.
Maksudnya komunikasi antarpribadi tidak hanya berkenaan dengan isi pesan yang
dipertukarkan, tetapi juga melibatkan siapa partner komunikasi kita dan bagaimana hubungan
kita dengan partner tersebut. Contoh : hubungan persahabatan, keluarga, rekan kerja, teman
bermain dll.
4. Komunikasi antarpribadi mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang
berkomunikasi. Contoh : A dan B ketika berdialog selalu berdekatan supaya bisa di dengar.
5. Komunikasi antarpribadi melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu dengan
lainnya (interdependen) dalam proses komunikasi. Contoh : dialog antara A dan B satu sama
lain saling bergantungan
6. Komunikasi antarpribadi tidak dapat diubah maupun diulang.
Jika kita salah menguapkan sesuatu kepada partner komunikasi kita, mungkin kita dapat
minta maaf dan diberi maaf, tetapi itu tidak berarti menghapus apa yang pernah kita ucapkan.
Demikian pula kita tidak dapat mengulang suatu pernyataan dengan harapan untuk
mendapatkan hasil yang sama, karena dalam proses komunikasi antar manusia, hal ini akan
sangat tergantung dari respons partner komunikasi kita.

Proses-proses komunikasi antarpribadi :


Komunikasi Antar Pribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan antara dua
orang, atau diantara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa
umpan balik seketika apabila kita perhatikan batasan Komunikasi Antar Pribadi dari Devito,
maka kita dapat melihat elemen-elemen apa saja yang terkandung di dalamnya. Dengan
menguraikan elemen-elemen yang ada itu, dapatlah diuraikan proses-proses Komunikasi
Antar Pribadi, yaitu :
1. Pesan
Yang dimaksud dengan pesan adalah semua bentuk komunikasi baik verbal maupun
non verbal. Bentuk pesan dapat bersifat, Informatif memberi keterangan dan komunikan
membuat persepsi sendiri. Persuasif atau bujukan untuk membangkitkan pengertian,
kesadaran, sehingga terjadi perubahan pada perdapat atau sikap. Koersif memaksa dengan
ancaman sanksi, biasanya berbentuk perintah. Adanya orang-orang atau sekelompok kecil
orang-orang yang dimaksud disini adalah bahwa apabila seseorang berkomunikasi, paling
sedikit akan melibatkan dua orang, tapi mungkin juga akan melibatkan sekelompok kecil
orang.
2. Penerimaan Pesan
Adanya penerimaan pesan (komunikan) ialah bahwa dalam suatu Komunikasi antar
pribadi, tentu pesan-pesan yang dikirimkan oleh seseorang harus dapat diterima oleh orang
lain. Misalnya kita berbicara dengan seseorang yang sedang memakai telepon dan
mendengarkan musik tertentu, sudah tentu komunikasi kita akan sukar atau tidak dapar
diterima oleh orang tersebut. Dengan demikian Komunikasi Antar Pribadi tidak akan terjadi.
3. Efek
Adanya Efek dalam suatu komunikasi tentu akan terjadi beberapa efek. Efek mungkin
berupa suatu persetujuan mutlak atau ketidak setujuan mutlak, atau mungkin berupa
pengertian mutlak atau ketidak-mengertian mutlak pula. Dengan demikian sipenerima tentu
akan terpengaruh pula oleh pengiriman pesan oleh komunikator.
4. Umpan Balik
Adanya umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali oleh si penerima, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja. Apabila komunikasi itu tatap muka, maka umpan balik bisa
berupa kata-kata, kalimat, gerakan mata, senyum, anggukan kepala atau gelengan kepala.
Konsep umpan balik ini dalam proses Komunikasi Antar Pribadi amat penting, karena
dengan terjadinya umpan balik, komunikator mengetahui apakah komunikasinya berhasil
atau gagal, dengan kata lain apakah umpan baliknya itu positif atau negatif. Bila positif, ia
patut gembira, sebaliknya jika negatif menjadi permasalahan, sehingga ia harus mengulangi
lagi dengan perbaikan gaya komunikasinya sampai menimbulkan umpan balik positif.
Hal diatas saling berhubungan dan bila salah satu diantaranya terlupakan, maka dapat
mengakibatkan komunikasi berjalan lambat. Dengan begitu, tujuan pesan terhambat atau
bahkan dapat mengakibatkan tidak tercapainya sasaran seperti yang diharapkan
komunikator.

C. Jenis-jenis Komunikasi AntarPribadi :


Secara teoritis komunikasi antarpribadi diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut
sifatnya (Effendy, 2003) yaitu :
 Komunikasi diadik (dyadic communication)
Komunikasi diadik adalah komunikasi antar pribadi yang berlangsung antara dua
orang yakni seorang adalah komunikator yang menyampaikan pesan dan seorang lagi
komunikan yang menerima pesan. Oleh karena perilaku komunikasinya dua orang, maka
dialog yang terjadiberlangsung secara intens. Komunikator memusatkan perhatiannya hanya
kepada diri komunikan.Situasi komunikasi seperti itu akan nampak dalam komunikasi triadik
atau komunikasi kelompok, baik kelompok dalam bentuk keluarga maupun dalam bentuk
kelas atau seminar.
Dalam suatu kelompok terdapat kecenderungan terjadinya pemilihan interaksi seseorang
dengan seseorang yang mengacu kepada apa yang disebut primasi diadik (dyadic primacy)
(Devito, 1979) yang dimaksudkan dengan primaci diadik ini ialah setiap dua orang dari
sekian banyak dalam kelompok itu yang terlihat dalam komunikasi berdasarkan kepentingan
masing-masing.
 Komunikasi triadik (triadic communication)
Komunikasi triadik ini adalah komunikasi antarpribadi yang pelakunya terdiri dari
tiga orang, yakni seorang komunikator dan dua orang komunikan. Jika misalnya A yang
menjadi komunikator , maka ia pertama-tama menyampaikan kepada komunikan B,
kemudian kalau dijawab atau ditanggapi , beralih kepada komunikan C, juag secara
berdialogis. Apabila dibandingkan dengan komunikasi diadik, maka komunikasi diadik lebih
efektif, karena komunikator memusatkan perhatiannya kepada seorang komunikan, sehingga
ia dapat menguasai frame of reference komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yang
berlangsung kedua faktor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses
komunikasi.
Walaupun demikian dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, misalnya
komunikasi kelompok dan komunikasi massa, komunikasi triadik karena merupakan
komunikasi antarpribadi lebih efektif dalam kegiatan mengubah sikaf, opini, atau prilaku
komunikan (Effendy, 2003).

D.Tujuan Komunikasi Antarpribadi


Tujuan komunikasi antarpribadi antara lain sebagai berikut :
1. Menyampaikan informasi
Ketika berkomunikasi dengan orang lain , tentu saja seseorang memiliki berbagai
macam tujuan dan harapan. Salah satu diantaranya adalah untuk menyampaikan informasi
kepada orang lain agar orang lain tersebut dapat mengetahui informasi tersebut. Contoh :
seorang mahasiwa yang sudah kuliah akan memberikan informasi perkuliahan dan beasiswa
kepada adik kelasnya.
2. Berbagi pengalaman
Dengan komunikasi antarpribadi juga memiliki fungsi atau tujuan untuk berbagi
pengalaman baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.
Contoh : ketika si A telah belajar di luar negeri, dia akan menceritakan dan berbagi
pengalaman yang di alaminya selama di luar negeri
3. Menumbuhkan simpati
Misalnya ketika seorang bercerita tentang permasalahan yang sedang dihadapi kepada
sahabatnya, maka akan tumbuh rasa simpati dari sahabatnya kepadanya sehingga akan timbul
rasa ingin membantu untuk menyelesaikan permasalahannya.
4. Melakukan kerja sama
Tujuan komunikasi antarprbadi yang lainnya adalah untuk melakukan kerjasama antara
seseorang dengan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk melakukan sesuatu
yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Contoh : dalam tugas mata kuliah biasanya ada
tugas kelompok yang terdiri dari dua, tiga orang atau lebih. Maka dengan komunikasi maka
akan timbul kerjasama supaya dapat menyelesaikan tugas kelompoknya dengan baik.
5. Menceritakan kekecewaan atau kekesalan
Komunikasi antarpribadi juga dapat digunakan seseorang untuk menceritakan rasa
kecewa atau kekesalan pada orang lain. Dengan pengungkapan rasa hati itu, sedikit banyak
akan mengurangi beban pikiran. Kadang disebut dengan plong ketika telah bercerita apa yang
selama ini dipendam. Contoh : seorang anak akan curhat kepada ibunya tentang apa yang
dirasakannya, baik itu rasa kekecewaan atau kekesalan terhadap temannya di sekolah.
6. Menumbuhkan motivasi
Melalui komunikasi antarpribadi, seseorang dapat memotivasi orang lain untuk
melakukan sesuatu yang baik dan positif. Motivasi adalah dorongan kuar dari dalam diri
seseorang untuk melakukan sesuatu. Pada dasarnya, seseorang cenderung untuk melakukan
sesuatu karena dimotivasi orang lain dengan cara-cara seperti pemberian insentif yang
bersifat financial maupun non financial, memberikan pengakuan atas kinerjanya ataupun
memberikan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi. Contoh : ketika seorang
sahabat mendengarkan keluhan temannya, maka sahabat itu akan terus mensupport dan
memberi motivasi kepada temannya untuk tetap teguh, sabar dan kuat dalam menghadapi
permasalahannya.

E.Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi


Komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi paling efektif untuk mengubah
sikap, pendapat atau perilaku seseorang. Setelah kita memahami pengertian komunikasi
antarpribadi, dalam perjalanannya antara komunikasi antarpribadi kepada sebuah konsep diri
sebaiknya kita memberikan sedikit pemarapan tentang ciri komunikasi antarpribadi yang
efektif menurut Kumar (Wiryanto, 2005: 36) dan De vito (Sugiyo, 2005: 4) adalah sebagai
berikut :
1. Keterbukaan (Opennes)
Sikap keterbukaan paling tidak menunjuk pada dua aspek dalam komunikasi
antarpribadi. Pertama, kita harus terbuka pada orang lain yang berinteraksi dengan kita, yang
penting adalah adanya kemauan untuk membuka diri pada masalah-masalah yang umum,
agar orang lain mampu mengetahui pendapat, gagasan, atau pikiran kita sehingga komunikasi
akan mudah dilakukan.
Dari keterbukaan menunjuk pada kemauan kita untuk memberikan tanggapan terhadap orang
lain secara jujur dan terus terang terhadap segala sesuatu yang dikatakannya.
Keterbukaan atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi
antarpribadi yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan kita
terhadap situasi yang sedang dihadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang
relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa kini tersebut.
Johnson Supratiknya, (1995: 14) mengartikan keterbukaan diri yaitu membagikan
kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan, atau
perasaan kita terhadap kejadiankejadian yang baru saja kita saksikan.Secara psikologis,
apabila individu mau membuka diri kepada orang lain, maka orang lain yang diajak bicara
akan merasa aman dalam melakukan komunikasi antarpribadi yang akhirnya orang lain
tersebut akan turut membuka diri.
2. Positif (Positiveness)
Memiliki perilaku positif yakni berpikir positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Rasa positif merupakan kecenderungan seseorang untuk mampu bertindak berdasarkan
penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan, menerima diri sebagai orang
yang penting dan bernilai bagi orang lain, memiliki keyakinan atas kemampuannya untuk
mengatasi persoalan, peka terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah
diterima. Dapat memberi dan menerima pujian tanpa pura-pura memberi dan menerima
penghargaan tanpa merasa bersalah.
Sugiyo (2005: 6) mengartikan bahwa rasa positif adalah adanya kecenderungan bertindak
pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif pada diri komunikan. Dalam
komunikasi antarpribadi hedaknya antara komunikator dengan komunikan saling
menunjukkan sikap positif, karena dalam hubungan komunikasi tersebut akan muncul
suasana menyenangkan, sehingga pemutusan hubungan komunikasi tidak dapat terjadi.
Rahmat (2005: 105) menyatakan bahwa sukses komunikasi antarpribadi banyak tergantung
pada kualitas pandangan dan perasaan diri; positif atau negatif. Pandangan dan perasaan
tentang diri yang positif, akan lahir pola perilaku komunikasi antarpribadi yang positif pula.
Contoh : dalam berkomunikasi antar individu selalu berlaku jujur dan selalu berperasangka
baik terhadap orang yang di ajak komunikasi.
3. Kesamaan (Equality)
Keefektifan komunikasi antarpribadi juga ditentukan oleh kesamaan-kesamaan yang
dimiliki pelakunya. Seperti nilai, sikap, watak, perilaku, kebiasaan, pengalaman, dan
sebagainya. Contoh : seorang siswa SMP akan lebih bisa terbuka kepada teman sebayanya di
bandingkan kepada kakak atau adik kelasnya. Contoh lain seperti murid laki-laki dan murid
perempuan sama derajat dan kedudukannya di sekolah adalah sebagai siswa, maka tidak ada
perbedaan yang mengakibatkan salah satunya merasa terdiskriminasi.
Kesetaraan merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi
atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang
keluarga atau sikap orang lain terhadapnya. Rahmat (2005: 135) mengemukakan bahwa
persamaan atau kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan
demokratis, tidak menunjukkan diri sendiri lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain karena
status, kekuasaan, kemampuan intelektual kekayaan atau kecantikan. Dalam persamaan tidak
mempertegas perbedaan, artinya tidak mengggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang
sama, yaitu mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pendapat
merasa nyaman, yang akhirnya proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar.
4.Empati (Empathy)
Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada posisi atau
peranan orang lain. dalam arti bahwa seseorang secara emosional maupun intelektual mampu
memahami apa yang dirasakan dan dialami orang lain. Contoh : Dua jurnalis yang dikirim
pada suatu kasus sosial. Dua jurnalis ini sama-sama memiliki ilmu yang hebat dalam
jurnalistik. Pembedanya adalah, salah satu jurnalistik ini hanya terpaku pada pedoman
jurnalistik tanpa mempedulikan keadaan lingkungan sekitar, karena itu informasi yang ia
peroleh hanyalah berasal dari orang-orang yang benar-benar mau bekerja sama dengannya.
Berbeda dengan jurnalis lainnya. Ia berusaha mendekatkan diri pada korban, keluarga korban,
dan kerabat dekatnya, ia juga merasakan hal yang sama dirasakan oleh korban, karena itu
bagi keluarga korban dan kerabat-kerabatnya, jurnalis tersebut merupakan teman yang baik,
dan bisa untuk berbagi kesedihan. Inilah perbedaan mendasar dari dua orang jurnalis dengan
sudut pandang hati nurani.
5. Dukungan (Supportiveness)
Komunikasi antarpribadi akan efektif bila dalam diri seseorang ada perilaku supportif.
Maksudnya satu dengan yang lainnya saling memberikan dukungan terhadap pesan yang
disampaikan. Contoh : ketika dua orang sahabat mengikuti tes masuk perkuliahan, maka satu
sama lain akan memberikan dukungan supaya keduanya diterima di universitas yang
diinginkannya.
Dalam komunikasi antarpribadi diperlukan sikap memberi dukungan dari pihak
komunikator agar komunikan mau berpartisipasi dalam komunikasi. Hal ini senada
dikemukakan Sugiyo (2005: 6) dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang
mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator. Rahmat (2005 :133)
mengemukakan bahwa “sikap supportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif”. Orang
yang defensif cenderung lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya
dalam situasi komunikan dari pada memahami pesan orang lain.Maka dalam hal ini
komunikasi antar personal akan berjalan secara efektif bila komunikan dan komunikator
saling menyukai atau dengan kata lain tertanam hubungan emosional yang kuat dan baik.
Hal-hal yang Mempengaruhi Komunikasi Antar Pribadi
Jalaludin Rakhmat (1994) meyakini bahwa komunikasi antarpribadi dipengaruhi oleh
persepsi interpersonal; konsep diri; atraksi interpersonal; dan hubungan interpersonal.

a.Persepsi interpersonal

Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan


informasi inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli
inderawi yang berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal.

b. Konsep diri

Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang
positif, ditandai dengan lima hal, yaitu: a. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah; b.
Merasa stara dengan orang lain; c. Menerima pujian tanpa rasa malu; d. Menyadari, bahwa
setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya
disetujui oleh masyarakat; e. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup
mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah.

c.Atraksi interpersonal

adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Komunkasi
antarpribadi dipengaruhi atraksi interpersonal dalam hal:

1. Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian kita terhadap orang lain tidak
semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional, kita juga makhluk emosional. Karena itu,
ketika kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan
dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika membencinya, kita cenderung melihat
karakteristiknya secara negatif.
2. Efektivitas komunikasi. Komunikasi antarpribadi dinyatakan efektif bila pertemuan
komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan.

d.Hubungan interpersonal

Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan


orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajad keterbukaan orang
untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi
dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi.