Anda di halaman 1dari 6

1

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini merupakan pembahasan dari asuhan keperawatan pada


pasien lansia dengan diabetes mellitus di ruang Anggrek Rumah Pelayanan Sosial
Lanjut Usia Pucang Gading. Dalam bab ini . penulis akan membahas meliputi
segi pengkajian, diagnosa, perencanaan keperawatan, implementasi keperawatan,
dan evaluasi keperawatan mengenai kasus yang penulis angkat.
Pengkajian adalah tahap pertama yang penulis lakukan di dalam proses
perawatan. Pada saat dilakukan pengkajian pada Ny. E di ruang Anggrek Rumah
Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading kelompok menemukan data bahwa
PM mengatakan mempunyai penyakit DM sejak 32 tahun yang lalu dan saat
dilakukan pemeriksaan gula darah : GDS : 201 mg/dL DS. PM juga mengatakan
mengikui semua kegiatan, kadang sering merasa lelah bila berjalan terlalu lama
dan bila beraktifitas penuh kadang menyebabkan pegal-pegal pada paha dan
lemas. PM berjalan nampak hati-hati, nampak sering berbaring di tempat tidur.
PM mengatakan sering terbangun dimalam hari. Saat setelah bangun tidak bisa
tidur kembali. Kadang harus mengonsumsi obat yang menyebabkan ngantuk yang
diberikan oleh dokter. Bila tidak bisa tidur, PM sering tidak merasa puas dan segar
setelah bangun tidur. PM nampak sayu pada pagi hari.
Berdasarkan hal tersebut penulis dalam kasus asuhan keperawatan pada
pasien lansia dengan diabetes melitus menegakkan sebanyak tiga diagnosa yaitu
potensial ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah, Gangguan pola tidur
berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (00095) hal 225, dan Risiko sindrom
lansia lemah berhubungan dengan faktor risiko : usia ≥ 65 tahun (00231) hal 157.
Perencanaan menurut Nanda (2013) pada kasus asuhan keperawatan diabetes
melitus dilakukan perdiagnosa. Diagnosa yang pertama Gangguan pola tidur
berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik ,dalam perencaannya menurut
Nanda (2013) adalah Kaji pola tidur PM. Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
, Identifikasi penyebab gangguan tidur, Fisik: nyeri, sering Bak, sesak nafas,
batuk, demam, mual dll. Psikis: cemas, stress, lingkungan dll. Fasilitasi PM untuk
2

tidur yang adekuat : rubah posisi tidur sesuai kondisi, Latih mengurangi
kecemasan dengan cara tarik napas dalam, Anjurkan batasi minum 2-3 jam
sebelum tidur, Anjurkan PM sebeum tidur meningkatan latihan
Manajemen lingkungan: kenyamanan. Ciptakan lingkungan yang tenang, bersih,
nyaman dan minimalkan gangguan, serta hindari suara keras dan penggunaan
lampu saat tidur malam.
Diagnosa kedua resiko ketidak stabilan gula darah , Perencanaan yang
dilakukan untuk diagnosa pertama ini yaitu Pantau kadar glukosa dalam darah
Pantau tanda-tanda hiperglikemia : poliuria, polidipsia, polifagia, kelesuan.
Tingkatkan aktifitas dan latihan. Lakukan aktifitas terjadwal Pantau diit. Anjurkan
pasien dan keluarga terhadap pencegahan, pengenalan manajemen, dan
hiperglikemia. Kolaborasi dengan dokter jika tanda dan gejala hiperglikemia
memburuk. Berdasarkan jurnal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujphl
Unnes Journal of Public Health 1 (2012) intervensi pada resiko ketidak stabilan
gula darah maka tindakan senam pada lansia hiperglikemi Senam kaki diabetes
yang dilakukan dengan rutin dan teratur dapat sangat berdampak bagi nilai Ankle
Brachial Index yang terjadi pada setiap individu karena dengan melakukan
gerakan-gerakan dalam senam kaki diabetes berguna untuk melancarkan sirkulasi
darah dikaki dan mencegah komplikasi seperti PAP (Penyakit Arteri Perifer).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Terdapat perbedaan penurunan kadar
gula darah sewaktu antara kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar (nilai
p=0,0001). Penurunan rata-rata gula darah sewaktu pada kelompok terpapar 2,3
kali lebih besar daripada kelompok tidak terpapar (31,5 mg/dl berbanding 13,5
mg/dl). Jadi, senam efektif dalam menurunkan kadar gula darah.
Diagnosa ke tiga Risiko sindrom lansia lemah berhubungan dengan faktor
risiko : usia ≥ 65 tahun tindakan keperawata berdasarkan Nanda ( 2013 ) yaitu
gali pengalaman PM mengenai latihan, pertimbangkan motivasi PM untuk
memulai atau melanjutkan progam latihan, dukung PM untuk memulai latihan,
dampingi PM saat menjadwalkan latihan secara rutin beri penguatan terjadwal
untuk meningkatkan motivasi PM monitor respon PM terhadap program latihan,
sediakan umpan balik atas usaha yang dilakukan PM.
3

Implementasi merupakan suatu perwujudan dari perencanaan yang sudah


disusun pada tahap perencanaan sebelumnya (Nanda 2013 ). Berdasarkan hal
tersebut penulis dalam mengelola pasien dalam implementasi dengan masing –
masing diagnosa. Pada diagnosa yang pertama potensial ketidak stabilan gula
darah diagnosa ini penulis selama 3 kali 24jam dilakukan implementasi sesuai
dengan rencana keperawatan yaitu Memantau kadar glukosa dalam darah,
Memantau tanda-tanda hiperglikemia : poliuria, polidipsia, polifagia, kelesuan
Melakukan aktifitas terjadwal Menganjurkan PM terhadap pencegahan,
pengenalan manajemen, dan hiperglikemia. Tujuan di lakukan tindakan
pengkajian ketidakstabilan gula darah yaitu Kriteria hasil Dapat mengontrol kadar
glukosa darah Pemahaman manajemen diabetes, Penerimaan kondisi kesehatan.
Dalam menjaga kestabilan gula darah PM maka rutin dilakukan senam kaki serta
kontrol gula darah rutin dan mengenal tanda – tanda awal hiperglikemi, serta rutin
mengkonsumsi obat – obat diabetes yang di berikan oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain nya
Diagnosa ke dua Gangguan pola tidur berhubungan dengan
ketidaknyamanan fisik diagnosa ini penulis selama 3 kali 24 jam dilakukan
implementasi sesuai dengan rencana keperawatan. Tujuan dilakukan Setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 3x8 jam PM dapat meningkatkan kualitas
dan kuantitas tidur dengan kriteria hasil : (NOC Edisi 5: 566 ) PM dapat tidur
sesuai dengan kebutuhan dan usia: - Bayi: 18-20 jam - Balita: 12-14 jam - Anak
sekolah:10-12 jam - Dewasa muda:8-9 jam - Dewasa: 6-8 jam - Lansia: sekitar 6
jam PM mengutarakan merasa segar dan puas Istirahat dan tidur cukup
Implementasi yang di lakukan Mengkaji pola tidur klien, Mengidentifikasi
penyebab gangguan tidur, Menjelaskan pentingnya tidur yang adekuat,
Menciptakan lingkungan yang tenang, bersih, nyaman dan minimalkan gangguan,
Berkolaborasi dengan PM lainnya untuk menghindari suara keras dan penggunaan
lampu saat tidur malam. Intervensi yang dilakukan untuk mengurangi gejala pola
tidur di lakukan relaksasi otot progresif seperti gerakan – gerakan ringan sebelum
tidur dan teknik nafas dalam sebelum tidur
4

Diagnosa ke tiga resiko sindrom lansia lemah berhubungan dengan faktor


risiko : usia ≥ 65 tahun (00231) hal 157 dalam diagnosa ini penulis selama 3 kali
24jam dilakukan implementasi sesuai dengan rencana keperawatan yaitu
Menanyakan pengalaman PM mengenai latihan, Mempertimbangkan motivasi PM
untuk memulai atau melanjutkan progam latihan, Mendampingi PM saat
menjadwalkan latihan secara rutin, Memberikan penguatan terjadwal untuk
meningkatkan motivasi PM dan Melakukan Terapi Aktifitas Kelompok tentang
senam kaki yang dilakukan berbarengan dengan diagnosa pertama.

Menurut Mareelli, 2007 evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari


tahap – tahap proses keperawatan untuk mengetahui apakah masalah – masalah
keperawatan yang muncul pada kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan
diabetes melitus teratasi atau tidak dan untuk membandingkan antara yang
sistematik dengan yang terencana berkaitan dengan fasilitas yang tersedia.
Berdasarkan hal tersebut penulis melakukan evaluasi keperawatan pada
kasus ini antara lain : Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan
fisik (00095) sudah teratasi karena PM mengatakan sudah bisa tidur, kurang lebih
4,5 jam PM sudah mengatur kondisi senyaman mungkin di lingkungan tempat
tidurnya dan hanya satu lampu yang dinyalakan, TD l: 125/80 mmHg, N : 83 bpm,
PM mampu mendemonstrasikan ulang tarik nafas dalam dan PM mampu
menyebutkan dan mendemonstrasikan kembali cara melakukan relaksasi otot
progresif sehingga pertahankan intervensi Latih mengurangi cara tarik napas
dalam dan Anjurkan PM sebeum tidur meningkatan latihan/Aktifitas. potensial
ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah. Diagnosa kedua yaitu resiko
ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah belum teratasi karena Kadar gula
dalam darah PM menunjukkan hasil 175 mg/dl. TD : 140/90 mmHg N : 80 bpm,
PM nampak sedikit lemas dan dilanjutkan inervensi yaitu Pantau kadar glukosa
dalam darah, Pantau tanda-tanda hiperglikemia : poliuria, polidipsia, polifagia,
kelesuan, Tingkatkan aktifitas dan latihan, Lakukan aktifitas terjadwal, Pantau
diit, dan Kolaborasi dengan dokter jika tanda dan gejala hiperglikemia memburuk.

Diagnosa yang ketiga yaitu Risiko sindrom lansia lemah berhubungan dengan
5

faktor risiko : usia ≥ 65 tahun (00231) hal 157 tidak terjadi karena PM
mengatakan bersedia mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan, PM sangat
kooperatif saat diberikan penyuluhan, PM mampu menyebutkan kembali tata cara
mandi yang benar dan perawatan kaki yang benar sehingga dipertahankan
Intervensi Libatkan dan Motivasi PM dalam aktifitas yang dapat meningkatkan
kesehatan dan pendidikan kesehatan.

BAB V
6

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Mahasiswa telah mampu melakukan pengkajian pada kelompok lanjut
usia di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading,
khususnya pada penerima manfaat Ny. E yang mengalami penyakit
diabetes melitus
2. Mahasiswa telah mampu menegakkan diagnosa keperawatan terhadap
Ny. E, sesuai dengan data-data yang didapatkan pada saat pengkajian
di kelompok lanjut usia di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia
Pucang Gading
3. Mahasiswa telah mampu membuat perencanaan tindakan keperawatan
terhadap Ny. E di kelompok lanjut usia di Rumah Pelayanan Sosial
Lanjut Usia Pucang Gading sesuai dengan diagnosa keperawatan yang
telah ditegakkan.
4. Mahasiswa telah mampu melakukan tindakan sesuai rencana tindakan
keperawatan dan melakukan pendokumentasian terhadap asuhan
keperawatan yang dilakukan pada Ny. E di kelompok lanjut usia di
Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading.

B. SARAN
1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa dapat mengkaji lebih dalam lagi mengenai masalah-
masalah keperawatan yang terjadi pada kelompok lanjut usia di
Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading.
2. Bagi Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading
Agar dapat melanjutkan kegiatan senam kaki DM pada penderita
diabetes melitus di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang
Gading secara rutin.