Anda di halaman 1dari 17

KERANGKA ACUAN KERJA

KABUPATEN PADANG LAWAS

1. LATAR BELAKANG
Provinsi Aceh merupakan provinsi yang mempunyai potensi pengembangan areal pertanian.
Usaha pengembangan areal pertanian memerlukan perbaikan, peningkatan dan perluasan sarana
irigasi. Menyadari atas pentingnya air untuk berbagi kebutuhan, maka pemerintah berupaya
untuk memberikan prioritas dalam membangun sarana dan prasarana pengairan.
Pemerintah yang dalam hal ini Dinas Pengairan Aceh selama beberapa tahun telah berupaya untuk
memperbaiki ataupun membuat sarana dan prasarana baru di bidang pertanian.

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Adapun maksud dari pekerjaan adalah : Memenuhi kebutuhan air pada areal irigasi dan
mendukung program ketahanan pangan pemerintah.

Sedangkan tujuanya adalah : Untuk mendapatkan data sebagai parameter pembuatan desain
Bendung yang memenuhi kaidah – kaidah secara teknis.

3. SASARAN
Menghasilkan desain dengan semua aspek teknisnya sehingga dapat dipakai dan dijadikan
sebagai dasar pada proses pelaksanaan konstruksi.

4. LOKASI PEKERJAAN
Lokasi kegiatan terletak di Kabupaten Padang Lawas

5. SUMBER PENDANAAN
Untuk pelaksanaan kegiatan ini diperlukan biaya Rp. 200.000.000,- (Dua ratus juta rupiah)
termasuk PPN dengan sumber dana dari APBA Tahun Anggaran 2018

6. NAMA DAN ORGANISASI SATUAN KERJA PEMERINTAH


Kuasa Pengguna Anggaran/ :
Kuasa Pengguna Barang
SKPA :

7. STANDART DAN PERATURAN TEKNIS YANG DIGUNAKAN


Survey Investigasi Desain bendung dapat dipakai beberapa standar yang berlaku di indonesia
antara lain :

halaman|1
a. Standar Perencanaan Irigasi oleh Direktorat Jenderal Pengairan KP.01 s/d 07, PT.01 s/d
04.
b. Perencanaan Banjir untuk Spilway Bendungan ; SNI - 03 - 3432 – 1994.
c. Design Flood/Perhitungan Banjir ; SNI – 03 – 2415 – 1991.
d. Peraturan Beton Bertulang ; PBI – 2 Tahun 1971
e. Peraturan Pembebanan Indonesia ; SNI – 1772 – 1989 F.
f. Ameican Society of Testing Materials (ASTM).
g. Standar Nasional Indonesia ; SNI -03 – 3432 – 1994, 05 – 2919 – 1991.
h. Standar untuk penyelidikan Geoteknik dan Mekanika Tanah.

8. LINGKUP KEGIATAN
Lingkup Kegiatan Meliputi :
a. Pengumpulan peta – peta dan data – data sekunder;
b. Pengukuran topografi dan pembuatan peta situasi Sungai;
c. Pengukuran potongan memanjang sungai;
d. Pengukuran potongan melintang sungai;
e. Pengukuran topografi dan pembuatan peta situasi bendung;
f. Rekayasa teknis bangunan Bendung dan Bangunan pelengkap lainnya;
g. Analisa Hidrologi/Hidrolika;
h. Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika Tanah;
i. Perencanaan Rinci (Detail Desain);
j. Spesifikasi Teknis;
k. Penyusunan Laporan;

8.1. Inventarisasi Lapngan dan Pengumpulan Data


Langkah – Langkah yang harus ditempuh untuk mendapatkan data dan informasi
adalah sebagai berikut :
 Melakukan survey, penyelidikan dan penelitian langsung ke lapangan.
 Mencari, mengumpulkan, menginventarisasi dan mengelompokkan data sehingga
susunannya akan lebih praktis, sederhana dan mudah diinterpretasikan.
 Mencatat kekurangan data yang dibutuhkan dan mencocokan, mengevaluasi,
menguji data baik di studio atau dilapangan yang berupa tabel/daftar, diagram dan
peta.
 Mengolah dan menganalisis data yang telah tersusun.
8.2. Pengukuran Topografi
Pengukuran dilakukan pada lokasi rencana bendung dan bangunan pelengkap lainnya.
1. Pengukuran dan Pemetaan Situasi Skala 1 : 2000
Pemetaan situasi sungai dilaksanakan minimal sepanjang 1000 (seribu) meter ke
arah upstrem dan 500 (lima ratus) km ke arah downstream dari rencana bendung
dilaksanakan dengan skala 1 : 2000 sedangkan pemetaan lokasi bendung
dilaksanakan dengan skala 1 : 500, hal ini untuk menunjang perencanaan bendung
dari komponen lainnya.

halaman|2
Peta tersebut harus memuat data ketinggian planimetri dari keadaan topografi
secara rinci dengan benar dan jelas. Interval kontur 0,25 m untuk daerah datar dan
0,50 m untuk daerah berbukit.
Secara garis besar pengukuran dan pemetaan situasi meliputi :
 Pemasangan patok BM & CP.
 Kontrol horizontal dan vertikal.
 Penggambaran.
 Reproduksi.
2. Dasar Survey
a) Catatan Khusus
b) Data untuk kontrol horizontal dan vertikal juga ditujukan dalam catatan khusus
c) Koordinat – koordinat dari stasiun teriangulasi yang ada
d) Sistem grid yang digunakan ialah proyeksi UTM
3. Umum
a) Semua data penting yang digunakan untuk menentukan koordinat benchmark
diperoleh dengan cara pengukuran langsung dilapangan.
b) Semua alat ukur yang digunakan harus dalam keadaan baik dan memenuhi
syarat ketelitian yang diminta.
(N1.2,NAK atau yang sejenis), sebelum dan sesudah pengukuran alat ukur harus
diperiksa ketelitian garis bidiknya, jumlah jarak belakang diusahakan sama
dengan jumlah jarak muka dan jarak dari alat ke rambu tidak boleh lebih > dari
60 m sedangkan alat terdekat dari alat ke rambu tidak boleh lebih < dari 5 m.
Ketelitian pengukuran waterpass utama lebih dari 10/D dan waterpass utama
tidak lebih 30/D, dimana D adalah jumlah jarak dalam satuan kilometer.
 Diskripsi Bench Mark
Seluruh benchmark dan patok dibuat diskripsinya. Koordinat (X, Y) dan
elevasinya (Z). Bentuk penyajian diberikan seperti dibawah ini :
Seluruh Bench Mark yang sudah di pasang harus dibuat diskripsinya pada
formulir yang terdapat di lampiran, selanjutnya dibuat tabel sebagai berikut:

Semua benchmark dan patok poligon harus ditunjukan pada peta situasi
yang berskala 1 : 2000. Nama benchmark dan elevasinya harus dicantumkan

halaman|3
dengan jelas, elevasi tanah ditunjukan sebagai pusat ketinggian. Untuk
patok poligon, hanya nama/nomor dan elevasi tanah asl yang dicantumkan.
Simbol/nomenklatur dari BM tersebut terbuat dari marmer dan harus
mendapat persetujuan dari Direksi. Cat BM & CP warna biru.
c) Pengukuran Situasi
Situasi diukur berdasarkan jaringan kerangka horizontal dan vertikal yang telah
dipasang, dengan melakukan pengukuran keliling serta pengukuran didalam
daerah survey. Bila perlu jalur poligon dapat ditarik lagi dari kerangka utama dan
cabang untuk mengisi detail planimetris, berikut spot height yang cukup,
sehingga menghasilkan informasi ketinggian yang memadai. Titik – titik spot
height terlihat tidak lebih dari interval 10 cm pada peta skala 1 : 2000. Interval ini
ekuivalen dengan jarak 20 m tiap penambahan satu titik spot height atau 8 – 10
titik spot height untuk tiap1 hektar diatas tanah.
Beberapa titik spot height bervariasi tergantung kepada kecuraman dan
ketidakteraturan terrain. Kerapatan titik –titik spot height yang dibutuhkan
dalam daerah pengukuran tidak hanya daerah sawah, tetapi juga kampung,
kebun, jalan setapak, tanaman sepanjang jalan, alur dan sungai dan lain – lain,
akan tetapi dengan kerapatan yang berbeda. Pengukuran situasi dilakukan
dengan metode Tacheometry menggunakan theodolith atau T.2. Jarak dari alat
ke rambu tidak boleh lebih dari 100 meter.
Kontur digambar apa adanya dan harus teliti, dan bagian luar daerah sawah
kontur diplot hanya berdasarkan titik – titik spot height – efek artistik tidak
diperlukan. Interval garis kontur sebagai berikut :

8.3. Penyelidikan Geoteknik/Mekanika Tanah


Penyelidikan geoteknik/mekanika tanah pada pekerjaan ini meliputi :
a. Pemboran tangan
b. Sondir
c. Pengambilan Contoh Tanah
 Pengujian Index Properties
 Pengujian Engineering Properties
Penyelidikan/Pengujian contoh tanah dilakukan lapangan dan laboraturium.
 Cara Penyelidikan Mekanika Tanah

halaman|4
Dalam pekerjaan ini pengambilan contoh tanah dilakukan pada setiap jarak
kedalaman 0,75 – 2 meter atau sesuai petunjuk lain direksi, yaitu dengan cara
menekan tabung contoh tanah (sampler) secara hati – hati (terutama untuk
tanah uang tidak terganggu) yang dipasang pada ujung bawah batang bor. Pada
waktu pengeboran dilakukan, contoh tanah dapat diperiksa dalam pipa bor
yang ditarik keluar. Jika pada tahap ini ditemui perubahan jenis tanah dan
kedalamannya harus dicatat, dan kemudian contoh tanah tambahan diambil.
Pada lapisan tanah yang dianggap penting untuk diketahui karakteristik
tanahnya, maka pengambilan contoh continue diperlukan setelah mendapat
persetujuan dari pihak direksi pekerjaan. Pada saat pengeboran berlangsung
kedalaman muka air tanah harus diperiksa dengan teliti, hal ini dapat
mempersulit pelaksanaan pembangunan fondasi struktur nantinya, dan dapat
pula mengakibatkan kesalahan analisis stabilitasnya.
8.1. Bor Tangan (Hand Auger)
Cara pengeboran ini termasuk cara pengeboran yang paling sederhana
dalam pembuatan lubang didalam tanah dengan menggunakan alat bor. Alat
bor ini hanya dapat digunakan bila tanah mempunyai kohesi yang cukup,
sehingga lubang bor dapat stabil disepanjang lubangnya dan alat jenis ini
tidak dapat digunakan pada pasir yang terendam air. Penetrasi mata bor
terbatas pada kekuatan tangan yang memutarnya, oleh sebab itu tanah
harus tidak mengandung batu atau lapisan tanah keras lainnya. Bor tangan
ini dapat menembus sampai 10 m, tapi pada umumnya hanya dapat
menembus maksimum 6 – 8 m
Pengeboran tangan dalam pekerjaan ini dilakukan mengetahui jenis lapisan
tanah lebih jelas, maka diperlukan pemboran tangan dengan kedalaman 5 m,
dengan diameter lubang bor antara 12 – 15 cm. Handbor ini dilakukan
sebanyak 3 (tiga) titik yang tersebar pada lokasi rencana konstruksi. Lokasi
pengambilan titik bor ditentukan oleh tenaga ahli dan mendapat
persetujuan dari pihak Direksi dan setiap titik maka pembuatan lubang yang
lebih dalam pada tanah kohesif dapat menggunakan bor ulir.
8.2. Sondir
Peralatan ini dipergunakan untuk mengukur tahan penetrasi dengan cara
menembus lapisan tanah dengan konus yang ujungnya berbentuk kerucut

halaman|5
dengan kemiringan 60° dan luasnya 10 cm² dengan kecepatan konstan 1,5 – 2
cm/detik perlapisan tanah dan variasi kedalaman pada lapisan yang cukup
keras. Dengan menggunakan jenis konus ganda didapat besarnya lekatan.
Pembacaan pada setiap interval kedalaman 20 cm dan hasil pengujiannya
diplot pada setiap interval kedalaman 20 cm dan hasil pengujiannya diplot
dalam grafik dimana tekanan sebagai absis dan kedalaman sebagai
ordinatnya. Hasil sondir dapat digunakan untuk memperkirakan konsistensi
kepadatan dan berdasarkan garfik hasil penyondiran, maka dapat
diperkirakan letak bidang longsoran yang dinyatakan dengan nilai tahanan
konus yang paling kecil dan untuk penentuan bidang longsoran sebaiknya
dilakukan pembacaan tiap interval 5 cm dengan konus tunggal.
Penyelidikan Sondir/Cone Penetration Test (CPT) Dutch Cone dengan
Biconus type Begemann. Pembacaan tekanannya dilakukan dengan 2 mata
sondir yang digunakan adalah Biconus sehingga akan diperoleh hasil dari
perlawanan konus dan nilai letaknya (local friction). Pengujian tersebut
dilakukan pada setiap interval 20 cm melalui pembacaan tekanan konus
ditambah gaya gesek selimut konus.
Pekerjaan sondir tersebut dilakukan pada 3 (tiga) titik yang pelaksanaannya
akan diajukan pada Direksi pekerjaan. Selama kegiatan sondir tersebut
berlangsung didokumentasikan dan hasil sondir tersebut menghasilkan
gambar berupa data dan grafik sondir.
8.3. Pengambilan Contoh Tanah
Untuk mengadakan penelitian tanah di Laboraturium, pengambilan contoh
tanah ini sangat penting untuk mengetahui sifat dan jenis tanahnya,
sehingga pengambilan contoh tanah ini dilakukan.
Agar data parameter dan sifat – sifat tanahnya masih dapat digunakan maka
perlu sekali diperhatikan pada saat pengambilan, pengangkutan dan
penyimpanan contoh – contoh tanah ini, maka dilakukan hal – hal sebagai
berikut : Struktur tanahnya tidak terlalu terganggu atau lapangan. Kadar air
asli masih dapat dianggap sesuai dengan keadaan lapangan. Sebelum
pengambilan contoh tanah dilakukan, dinding tabung sebelah dalam diberi
pelumas (oli) agar gangguan terhadap contoh tanah ini. Pada saat
pengambilan contoh tanah ini diusahakan dengan memberikan tekanan

halaman|6
sentris sehingga struktur tanahnya yang berbeda, dan menyimpan tabung
sample supaya dihindarkan penyimpanan tabung sample pada suhu yang
cukup panas.
Laboraturium Mekanika Tanah
 Pengujian Laboraturium Mekanika Tanah terhadap contoh tanah yang telah
diambil harus meliputi pengujian index properties dan engineering
properties.
 Pengujian index properties meliputi : Specific gravity, Unit weight, Atterberg
limit Limit, dan Grain size analisys.
 Pengujian engineering properties meliputi : Rembesan, Konsolidasi dan CU
Triaksial.
Semua pengujian laboraturium mekanika tanah yang dilakukan harus mengikuti
standar ASTM.
8.4. Analisa Hidrologi
Kegiatan ini dilakukan untuk menganalisa hidrologi. Analisa Hidrologi ini meliputi :
a. Data Curah Hujan
b. Analisis debit andalan
c. Analisis frekuensi
d. Analisis curah hujan rancangan
e. Analisis debit banjir rancangan
Sangatlah penting untuk dibuat perhitungan stabilitasnya dalam perencanaan.
8.5. Detail Desain
Berdasarkan hasil survey dan analisis harus dilakukan detail desain untuk dapat
digunakan pada saat pelaksanaan konstruksi.
8.6. Penggambaran
Gambar – gambar pengukuran dan perenccanaan dibuat dengan format Digitalisasi
AutoCAD, diformat pada kertas A1 kemudian diplot/dicetak pada kertas kalkir ukuran A1
dan kertas A3 (ukuran kertas kalkir A1 adalah 59,4 cm x 84,1 cm dengan type kertas
90/95 gram/m²), untuk print out pada kertas A1 merupakan format standart sesuai
dengan skala dan print out pada kertas A3 merupakan hasil penyesuaian dari format A1.
Perencanaan potongan memanjang dan potongan melintang diplot pada gambar hasil
pengukuran lapangan.
Untuk penggambaran bangunan dipakai skala sebagai berikut :
Denah 1 : 100, potongan – potongan 1 : 50, Detail 1 : 10 dan 1 : 20 atau semua gambar
disesuaikan skalanya. Ukuran – ukuran garis, legenda, penulisan angka ukuran,
penomoran, arsiran dan keterangan – keterangan lainnya yang digunakan pada
penggambaran mengacu pada ketentuan yang berlaku (Standar Perencanaan

halaman|7
Bangunan Air yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementrian
Pekerjaan Umum) dengan tidak mengabaikan faktor artistiknya.
8.7. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Dalam perhitungan biaya disesuaikan dengan desain akhir (desain final) dan dengan
harga terbaru sesuai dengan harga yang berlaku didaerah setempat.
Perhitungan Rencana Anggaran Biaya, meliputi :
 Perhitungan volume pekerjaan berdasarkan hasil perencanaan
 Rencana anggaran biaya meliputi perhitungan analisa harga satuan dan rencana
anggaran biaya.
8.8. Pengawasan Pekerjaan
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) akan menunjukan pengawas pekerjaan yang
akan mengadakan pengawasan rutin terhadap mutu, arah serta jalannya penyelidikan,
pengukuran dan perencanaan agar dapat memperoleh hasil – hasil yang memuaskan.
Pengawasan meliputi kegiatan – kegiatan :
 Pengawasan program kerja
 Pengecekan alat yang dipakai
 Pengecekan personil yang ditugaskan
 Daftar/absensi personil
 Surat – surat perjanjian, dsb
 Pengawasan pelaksanaan dilapangan
 Pengawasan hasil kerja
 Pengawasan perhitungan
 Pengawasan cara penggambaran
8.9. Diskusi dan Asistensi Pekerjaan
Untuk menjamin penyelesaian pekerjaan selesai tepat mutu dan tepat waktu diperlukan
suatu pengendalian tahapan kegiatan sebagai berikut :
Konsultan diharuskan melakukan diskusi dan asistensi minimal1 (satu) bulan
sekali atau dilakukan setiap waktu sesuai keperluan, diskusi dan asistensi
dilakukan oleh tenaga ahli yang terlibat dalam pekerjaannya kepada Direksi
pekerjaan guna untuk memperoleh masukan serta kesepahaman bersama baik
secara lisan maupun tulisan, diskusi dilakukan terhadap permasalahan yang
akan dibahas mengenai pekerjaan yang sedang berjalan dan yang akan dibahas
mengenai pekerjaan yang sedang berjalan dan yang telah diselesaikan, diskusi
serta asistensi termasuk menyampaikan alternative pilihan, guna memperoleh
persetujuan serta pengajuan program kerja untuk selanjutnya.
Untuk setiap bagian item/bab pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Konsultan
agar mengasistensikan secara bertahap kepada Pejabat Pelaksana Teknis

halaman|8
Kegiatan (PPTK) dan/atau pengawas, sehingga pengawas bisa
mengontrol/mengoreksi hasil pekerjaan dengan baik.
Diskusi dan asistensi ini dilakukan secara kontinue di Kantor Dinas Pengairan
Kabupaten Padang Lawas Bidang Program dan Pelaporan.
Konsultan diharuskan melakukan presentasi rencana dan hasil kerja pada
pengawas dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di Dinas Pengairan
Kabupaten Padang Lawas.
Dalam hal kealpaan diskusi dan asistensi oleh pihak Konsultan sebagaiamana
yang telah diatur, hal ini diluar tanggung jawab pihak pengguna jasa.
Untuk memudahkan pengawasan pekerjaan secara kontinue disetiap saat maka,
diskusi dan asistensi pekerjaan juga dapat dilakukan menggunakan media elektronik
(e-mail).
8.10. Expose Hasil Kerja
Diskusi dan expose diharuskan untuk menyatukan persepsi dengan mengacu pada
kaidah – kaidah perencanaan yang akan dilakukan, urutan pelaksanaan diskusi dan
expose sebagai berikut :
Diskusi Laporan Pendahuluan
Mendiskusikan dan membahas tentang laporan pendahuluan. Diskusi dilaksanakan
di Ruang Rapat Dinas Pengairan dan/atau Ruang Rapat Bidang Program dan
Pelaporan.
Diskusi Laporan Interim
Mendiskusikan dan membahas tentang laporan interim. Diskusi dilaksanakan di
Ruang Rapat Dinas Pengairan dan/atau Ruang Rapat Bidang Program dan
Pelaporan.
Diskusi dan Expose Draft Laporan Final
Mendiskusikan dan membahas tentang laporan final. Diskusi dilaksanakan di Ruang
Rapat Dinas Pengairan dan/atau Ruang Rapat Bidang Program dan Pelaporan untuk
membahas keseluruhan hasil pekerjaan guna memperoleh berbagai masukan dan
saran serta kesepakatan dari beberapa pihak yang diikutsertakan dalam
pembahasan tersebut.

9. KELUARAN
Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah laporan – laporan dan gambar
desain Bendung Kabupaten Padang Lawas.

10. PERALATAN, PERSONIL DAN FASILITAS


10.1. Peralatan;

halaman|9
Peralatan yang disediakan oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang dapat
digunakan dan harus dipelihara oleh penyedia jasa bila ada;
10.2. Personil;
Personil yang disediakan oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) adalah personil
Pengawas/Pendamping (Pengguna jasa akan mengangkat petugas atau wakilnya yang
bertindak sebagai pengawas atau pendamping/counterpart, dan/atau project officer
(PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konstruksi mulai dari tanda tangan kontrak kerja
sama sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai;
10.3. Fasilitas;
Fasilitas yang disediakan oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang dapat
digunakan dan harus dipelihara oleh penyedia jasa bila ada;

11. PERALATAN, MATERIAL DARI PENYEDIA JASA


Penyedia jasa harus menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang
dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
Peralatan disediakan oleh Penyedia jasa yang akan digunakan dan harus diperlihatkan dan
dilakukan pemeriksaan oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) cq. Pengawas
Lapangan :
Konsultan dapat memberikan hasil yang berkualitas tinggi. Pekerjaan akan diperiksa
sewaktu – waktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan.
Konsultan menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil
pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut pihak Direksi.
Trasportasi lokal : mobil kerja, dan sepeda motor (sewa).
Peralatan kantor : Komputer, Note Book dan Printer (Sewa).

12. LINGKUP KEWENANGAN PENYEDIA JASA


12.1. Semua barang dan peralatan yang mempunyai resiko tinggi terjadi kecelakaan,
pelaksanaan pekerjaan, serta pekerja – pekerja untuk pelaksanaan pekerjaan kontrak
atas segala resiko yaitu kecelakaan, kerusakan – kerusakan, kehilangan, serta resiko lain
yang tidak dapat diduga, pihak ketiga sebagai akibat kecelakaan di tempat kerjanya.
12.2. Hal – hal lain yang ditentukan berkaitan dengan asuransi.
12.3. Besarnya asuransi sudah diperhitungkan dalam penawaran dan termasuk dalam nilai
kontrak.

13. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN KEGIATAN


Waktu yang diperlukann untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah 4 (Empat) bulan atau 120
(Seratus Dua Puluh) hari kalender bulan terhitung semenjak dikeluarkannya Surat Perintah
Mulai Kerja (SPMK) dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Padang Lawas.

h a l a m a n | 10
14. PERSONIL
Personil dari konsultan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
A. TENAGA PROFESIONAL
1. Ketua Tim/Ahli Irigasi
Seorang Ketua Tim/Ahli Irigasi mempunyai sertifikat keahlian Teknik Irigasi/Sumber
Daya Air (SDA) yang dikeluarkan oleh HATH/LPJK, berpendidikan sarjana teknik
sipil/pengairan (S1) lulusan perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta
yang telah terakreditasi, diutamakan yang mempunyai pengalaman sekurang –
kurangnya 7 (tujuh) tahun dalam pelaksanaan pekerjaan dibidang perencanaan
bangunan air atau irigasi diutamakan perencanaan Bendung dan mempunyai
pengalaman sebagai ketua Tim minimal 3 kali. Ketua Tim mempunyai tugas utama
memimpin dan mengkoordinir seluruh kegiatan anggota tim kerja dalam pelaksanaan
pekerjaan sesuai jadwal secara penuh sampai dengan pekerjaan selesai (khususnya
internal) dengan volume lama kerja adalah 3 (tiga) bulan.
2. Tenaga Ahli Geoteknik
Seorang Ahli Geoteknik harus mempunyai Sertifikat Keahlian Geoteknik/Sumber Daya
Air yang dikeluarkan oleh asosiasi profesi Himpunan Ahli Teknik Hidraulik
Indonesia/Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (HATHI/LPJK/HATTI), seorang
Ahli Geoteknik disyaratkan minimal Strata Satu (S1) Lulusan Perguruan Tinggi Negeri
atau Perguruan Tinggi Swasta yang telah terakreditasi, tenaga ahli harus mempunyai
pengalaman sekurang – kurang nya 5 (lima) tahun.
B. TENAGA PENDUKUNG
1. Chief Surveyor Topograf
Tenaga yang disyaratkan adalalh minimal lulusan Diploma Teknik Sipil D3 yang
berpengalaman dalam mengkoordinir tim survey topografi agar pekerjaan efisien dan
efektif sekurang – kurangnya 5 (lima) tahun. Menguasai teknik pengukuran,
perhitungan, penggambaran yang digunakan dalam pemetaan untuk pembangunan
dibidang pekerjaan kesipilan khususnya survey untuk pelaksanaan pembangunan
Bendung/Irigasi/Bangunan Air lainnya dan survey pelaksanaan pambangunan jalan.
2. Surveyor Topograf
Tenaga yang disyaratkan adalah minimal Lulusan SMK/STM Bidang pengukuran/Teknik
Sipil yang berpengalaman dalam menangani pengkuran/topografi dibidang keairan
sekurang – kurangnya 3 (tiga) tahun. Menguasai teknik – teknik pengukuran,
perhitungan dan penggambaran yang digunakan dalam pemetaan.
3. Tenaga Lokal Topograf

h a l a m a n | 11
Mampu melakukan pekerjaan – pekerjaan untuk membantu surveyor topografi
seperti memegang rambu ukur dan membersihkan tanaman yang menghalangi
kegiatan pengukuran.
4. Estimate Engineer
Tenaga yang disyaratkan adalah minimal lulusan Diploma Teknik Sipil D3 yang
berpengalaman dalam kegiatan perkiraan biaya pekerjaan keairan sekurang –
kurangnya 5 (lima) tahun. Memiliki keahlian dalam pekerjaan perhitungan volume dan
perkiraan biaya pekerjaan di bidang keairan, menghitung seluruh volume dan biaya
perkiraan biaya pekerjaan, rencana anggaran biaya, IRR.
5. Cad Operator
Tenaga yang disyaratkan adalah minimal STM/SMK Teknil Sipil memiliki keahlian dalam
mengoperasikan software CAD/Gambar Teknik. Memiliki keahlian dalam menggambar
bangunan – bangunan keairan. Berpengalaman dalam menangani gambar – gambar
bangunan keairan sekurang – kurangnya 3 (tiga) tahun.
6. Administrasi
Tenaga yang disyaratkan adalah minimal lulusan SMK/sederajat. Memiliki keahlian
dalam bidang administrasi perkantoran dan manajerial keuangan.
7. Operator Komputer
Tenaga yang disyaratkan adalah minimal lulusan SMK/Sederajat. Memiliki keahlian
dalam mengoperasikan komputer, menguasai software MS – office dan software –
software lain yang mendukung pekerjaan.

15. LAPORAN
Konsultan menyusun beberapa laporan yang akan diserahkan kepada pemilik pekerjaan.
Laporan – laporan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Rencana Mutu Desain
Rencana Mutu Kontrak merupakan dokumen jaminan mutu (Quality assurance) yang
berisi rencana tindakan yang sistematis dan terencana demi pencapaian tingkat mutu
yang diinginkan. Maksud penyusunan Rencana Mutu Kontrak adalah untuk
menguraikan secara rinci, lengkap dan jelas tentang tata cara pelaksanaan kegiatan
pembuatan desain yang disusun sesuai urutan tahapan kegiatan, mulai tahap persiapan,
tahap pembuatan sampai dengan tahap penerapan dokumen mutu desain.
2. Laporan Pendahuluan
Laporan ini berisi rincian rencana program kerja meliputi mobilisasi tenaga dan
peralatan, peralatan yang akan digunakan, metode kerja yang akan diterapkan, data –

h a l a m a n | 12
data yang diperoleh, personil dan hambatan – hambatan yang diperkirakan akan timbul
dalam menangani pekerjaan ini.
3. Laporan Bulanan
Secara umum Laporan Bulanan sebagai laporan kemajuan pelaksanaan pekerjaan setiap
bulan dalam masa kontrak. Muatan Laporan bulanan tentang laporan kemajuan
pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan beserta hambatan yang ada, catatan hasil
diskusi, perintah direksi/surat – menyurat, schedule pelaksanaan pekerjaan, ite
pekerjaan yang telah dilaksanakan dan menjelaskan program kerja yang akan
dilaksanakan pada bulan berikutnya.
4. Laporan Antara
Laporan ini berisikan tentang data – data yang telah diperoleh hasil investigasi
lapangan dengan berbagai permasalahannya, analisis dan elaborasi data – data
metodologi pendekatan pemecahan masalah dengan berbagai metode, rencana kerja
berikutnya dan kerangka Laporan Akhir. Laporan Interim bahan diskusi harus
diserahkan kepada pemberi pekerjaan paling lambat 40 hari kerja terhitung sejak
tanggal mulai kerja diterapkan dalam SPMK.
5. Draft Laporan Antara (Intern Report)
Laporan ini berisikan tentang konsep data – data yang telah diperoleh, hasil investigasi
lapangan dengan berbagai permasalahannya, analisis dan elaborasi data – data,
metodologi pendekatan pemecahan masalah dengan berbagai metode, rencana kerja
berikutnya dan kerangka Laporan Akhir, Laporan Interim bahan diskusi harus
diserahkan kepada pemeberi pekerjaan paling lambat 40 hari kerja terhitung sejak
tanggal mulai kerja ditetapkan dalm SPMK.
6. Laporan Hidrologi
Data – data cuarah hujan, analisis ketersediaan air, kebutuhan air, debit banjir, dan
sedimentasi.
7. Laporan Geoteknik/Mekanika Tanah
Laporan ini berisikan tentang semua data – data hasil mekanika tanah baik hasil survey
lapangan maupun hasil uji laboraturium.
8. Laporan Design Note
Laporan ini berisikan seluruh analisis dan perhitungan jaringan yang diusulkan dalam
perencanaan detail desain.
9. Draft Laporan Design Note
Draft laporan ini berisikan tentang konsep dari seluruh analisis dan perhitungan
jaringan yang diusulkan dalam perencanaan detail desain.
10. Laporan Bill of Quantity, RAB, SPEKTEK, Metode Kerja, IRR

h a l a m a n | 13
Laporan ini berisikan tentang penyajian volume setiap item pekerjaan yang
direncanakan, analisa biaya konstruksi, spesifikasi teknis, metode kerja serta Tingkat
Pengembalian Internal (IRR).
11. Deskripsi BM dan CP, Buku Data Ukur, Lap.Pengukuran Topografi
Data – data x, y, z BM/CP lengkap gambar situasi BM/CP, data – data ukur topografi
(situasi dan cross section) dan perhitungan.
12. Laporan Akhir
Laporan ini berisikan seluruh hasil perencanaan pekerjaan yang telah dilaksanakan
secara lengkap, berisikan konsep perencanaan, detail data, peta, grafikan gambar –
gambar termasuk kesimpulan dan rekomendasi mengenai tindak lanjutnya serta
perbaikan dari draft laporan nota penjelasan secara ringkas.
13. Gambar Desain dan Peta – Peta Ukuran A3
Gambar ini merupakan gambar hasil perencanaan final yang telah rinci (Detail Desain)
yang ukurannya diperkecil menjadi gambar ukuran A3 dan juga berisikan peta – peta
dalam ukuran A3 sesuai dengan standar penggambaran yang telah dipersyaratkan.
14. Dokumentasi Foto
Berisikan Album foto dokumentasi lapangan dan kegiatan – kegiatan lain yang disusun
secara lengkap.
15. External Memory
Berisi seluruh laporan – laporan, analisi, perhitungan, program, gambar – gambar, peta
dan Data – data x, y, z BM/CP lengkap, gambar situasi BM/CP dan Foto Dokumentasi
Lapangan lengkap.
16. Penggandaan Gambar Detail Design Ukuran A1
Gambar ini merupakan gambar hasil perencanaan final yang telah rinci (Detail Desain),
dan telah jelas tata letak (layout) dan type bangunan serta dimensi untuk setiap
potongannya. Penyajian gambar serta detail dengan satuan skala 1 : 50 atau 1 : 100
dengan petunjuk lain dari direksi pekerjaan yang sesuai dengan standar penggambaran
yang telah dipersyaratkan.

Semua laporan tersebut diatas diserahkan kepada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
dengan jumlah masing – masing laporan terlampir.

16. PERSYARATAN KERJASAMA


Jika kerjasama dengan penyedia jasa konsultasi lain diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan
jasa konsultasi ini maka persyaratan berikut harus dipatuhi.

17. PEDOMAN PENGUMPULAN DATA LAPANGAN

h a l a m a n | 14
Pengumpulan data lapangan harus memenuhi persyaratan standar aturan teknis lapangan
yang berlaku.

18. ALIH PENGETAHUAN


Apabila dipandang perlu oleh penggunan jasa, maka konsultan harus mengadakan pelatihan,
kursus singkat, diskusi dan seminar terkait dengan substansi pelaksanaan pekerjaan dalam
rangka alih pengetahuan kepada staf Bidang Program dan Pelaporan.

h a l a m a n | 15
Catatan :

h a l a m a n | 16
 Laporan pendahuluan harus didiskusikan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
 Laporan dalam bentuk draft harus disetujui oleh Direksi sebelum dijadikan Laporan
Final.
 Semua Produk/Laporan harus diserahkan tepat pada waktunya.
 K = Kalkir (Ukuran A1), HVS1 = (Ukuran A3), DVD - R

h a l a m a n | 17