Anda di halaman 1dari 9

Laporan Fisiologi

Peredarah Darah Tepi

Kelompok A.10

Fitriani 102013018

Wilko William 102013019

Hermita Octoviagnes Buarlele 102013148

Vanesha Cicilia Kwentano 102013229

Yogi Aditya 102013240

Marsha Islia El Japa 102013273

Fendy 102013345

Risma Prameswari Hermawan 102013434

Uzairie Bin Anwar 102013490

Andriani Kairuniza 102013442

Dwi Afriani 102013549

Brian Angelo Soekamto 102008188

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telepon: (021) 5694-2061 (hunting), Fax: (021) 563-1731
Peredarah Darah Tepi

Tujuan
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai peredaran darah tepi dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.

Alat dan Bahan


1. Sfignomanometer
2. 2 buah waskom: berisi air panas (42 - 45⁰C)
3. Termometer
4. 2 Mistar

Cara Kerja
Percobaan 1: Peredaran Darah Vena

A. Pembuluh Darah Vena Lengan Bawah


1. Pilihlah sebagai orang percobaan seseorang dengan pembuluh vena lengan bawah yang
terlihat jelas.
2. Perhatikan dengan seksama berbagai pembuluh darah vena di permukaan lengan bawah
bagian voler orang percobaan tersebut.
3. tekanlah salah satu vena di dekat siku dan perhatikanlah vena-vena yang mengembang.
4. pilihlah diantara beberapa vena yang mengembang itu sebuah cena yang paling jelas tampak
di permukaan dan cobalah mendorong darah di dalamnya ke arah perifer dengan perlahan-
lahan.
5. hentikanlah tekanan pada vena di dekat siku tadi dan tekanlah sekarang salah satu vena di
dekat pergelangan tangan yang jelas terlihat mengembang.
6. Kosongkanlah sebagian vena yang mengembang tersebut dengan cara mendorong darah di
dalamnua ke arah sentral melewati katip dan perhatikanlah bagian vena yang kosong itu.
7. Ulangi pengosongan seperti sub 6 di berbagai bagian pembuluh vena yang lain di lengan
bawah bagian voler orang percobaan tersebut.
8. buatlah diagram pembuluh vena lengan bawah bagian voler dengan katup-katupnya sesuai
dengan pengamatan saudara di atas.

B. Pengaruh Gaya Berat Pada Peredaran Darah Vena


1. Sambil berdiri angkatlah lengan kanan saudara setinggi-tingginya dengan sikap lurus ke aras
sedangkan lengan kiri dibiarkan menggantung lurus ke bawah.
2. sesudah 1 menit, gerakkanlah kedua lengan dalam keadaan tetap lurus ke suatu tempat setinggi
jantung dan bandingkanlah warna kulit kedua telapak tangan saudara.

3. Ulangilah percobaan itu dan bandingkanlah sekarang pengembangan vena kedua punggung
tangan tersebut.
C. Waktu Pengisian Pembuluh Darah Vena
1. Pasanglah manset sfignomanometer pada lengan atas kanan orang percobaan yang berbaring
telentang.
2. Angkatlah lengan ini dengan sikap lurus sehingga lebih tinggi dari jantung dan pompalah
manset dengan cepat ssehingga tekanan di dalam manset sedikit di bawah tekanan diastolik
(± 50-60 mmHg)
3. Catatlah lama waktu pengisian vena mulai dari akhir pemompaan manset sanpai tampak
dengan jelas pengembangan salah satu vena pada punggung tangan orang percobaan
4. Ulangilah sub 2 tetapi setelah melakukan pemompaan, gerakkanlah otot-otot lengan bawah
dengan jalan membuka dan mengepalkan tangan sekuat-kuatnya sebanyak 10 atau 20 kali.
5. Catatlah lama waktu pengisian vena sampai tampak derajat pengembangan vena seperti pada
sub 3.

D. Pengukuran tekanan darah vena dengan cara tak langsung (cara Gartner)
1. Orang percobaan berbaring telentang di meja praktikum dengan menggantungkan salah satu
lengannya lurus ke bawah sehingga vena di punggung tangan tersebut terisi dan
mengembang.
2. Angkatlah lengan orang orang percobaan tetap dalam keadaan lurus perlahan-lahan ke atas
sehingga vena di punggung tangannya tepat mengosong.
3. Ukurlah jarak ventrikel (dalam cm) antara vena yang mengosong di punggung tangan dan
katup trikuspidalis jantung. Jarak ini menunjukkan besar tekanan darah vena punggung
tangan dalam cm darah

Letak Katup Trikuspidalis Jantung

 Pada orang yang berbaring terlentang : kira-kira dipertengahan jarak antara meja dan sternum
 Pada orang beridiri : pada sternum di ruang interkostal yang ke-4

4. Ulangilah sub 1 sampai 3 dengan kedua tungkai orang percobaan diangkat setinggi-
tingginya.
5. Ulangilah sub 1 sampai dengan 3 pada orang percobaan melakukan tindakan valsalva
6. Ulangi sub 1 sampai dengan 3 pada orang percobaan yang sama tetapi pada sikap berdiri
dengan kedua lengan tergantung ke bawah.
7. Terangkanlah hal-hal yang menyebabkan perbedaan hasil pelbagai pengukuran tekanan
darah vena di atas

Percobaan 2: Peredaran Darah Kulit

A. Vasodilatasi aktif kapiler


1. Sediakanlah ember yang berisi air panas 450C
2. Pasanglah manset sfignomanometer pada lengan atas orang percobaan
3. Hentikanlah dengan tiba-tiba aliran darah (oklusi) dalam lengan orang percobaan tersebut
dengan cara memompa manset secepat-cepatnya sampai 150-175 mmHg dan masukkanlah
tangan serta setengah bagian lengan bawah ke dalam air panas 450C selama 3 menit.
4. Perhatikanlah perubahan warna kulit tangan dan lengan bawah
5. Hentikanlah oklusi pada kengan orang percobaan tersebut dengan menghilangkan tekanan
dalam manset
6. Perhatikanlah sekarang perubahan warna kulit tangan dan lengan bawah

B. Vasodilatasi Pasif Kapiler


1. Pasanglah sekarang manset sfignomanometer pada lengan yang lain dan pompalah sampai
50-60 mmHg sehingga terjadi pembendungan (obstruksi).
2. Masukkanlah sekarang tangan serta setengah bagian lengan bawah itu ke dalam air panas
450C selama 3 menit. Kemudian keluarkanlah tangan dan lengan itu dari air panas dan
perhatikanlah perubahan warna bagian kulit yang dimasukkan ke dalam ait panas dan yang
tidak.
3. Hilangkanlah tekanan di dalam manset dan perhatikanlah perubahan warna kulit.

Landasan Teori

Karakteristik sistem vascular adalah pembuluh darah bersifat distensible (mudah meregang). Vena
adalah yang paling distensible dari seluruh pembuluh. Bahkan dengan sedikit peningkatan tekanan
vena sudah dapat menampung 0.5 sampai 1.0 liter darah tambahan. Oleh karena itu vena
menyediakan fungsi penampung (reservoir) untuk menyimpan sejumlah besar darah tambahan
yang dapat digunakan setiap saat dibutuhkan dalam sirkulasi. Rata-rata distensibilitas vena 8x
lebih besar dibandingkan arteri. Dengan kenaikan tekanan tertentu akan menyebabkan peningkatan
volume darah disebuah vena kira-kira sebanyak 8x.

Di seluruh sistem vena sistemik volume darah biasanya berkisar dari 2000 sampai 3500 ml, dan
perubahan volume sebanyak beberapa ratus mililiter diperlukan untuk mengubah tekanan vena
hanya sebesar 3-5 mmHg. Hal tersebut menjelaskan bahwa sebanyak setengah liter darah dapat
ditransfusikan ke orang sehat dalam waktu beberapa menit. Peningkatan tonus otot polos muscular
yang disebabkan oleh rangsangan simpatis telah terbukti akan meningkatkan tekanan pada setiap
volume arteri atau vena. Pengaturan kapasitasi vascular dengan cara simpatis sangat penting
sewaktu perdarahan. Penguatan tonus simpatis pembuluh terutama pada vena akan mengurangi
ukuran pembuluh sehingga sistem sirkulasi dapat terus berjalan mendekati normal meskipun darah
telah terbuang sebanyak 25%.

Vena mampu berkonstriksi dan berdilatasi dengan demikian dapat menyimpan darah dalam jumlah
besar maupun kecil serta menyediakan kembali bila diperlukan oleh bagian lain dari sirkulasi.
Vena perifer juga dapat mendorong darah maju dengan cara yang disebut pompa vena, dan bahkan
dapat membantu mengatur curah jantung.

Darah dari semua vena sistemik mengalir ke dalam atrium kanan. Bila jantung sebelah kanan
memompa dengan kuat, tekanan atrium kanan akan menurun. Sebaliknya, kelelahan jantung akan
meningkatkan tekanan atrium kanan. Begitu pula setiap pengaruh yang menyebabkan darah masuk
secara cepat dari vena perifer ke dalam atrium kanan akan meningkatkan tekanan atrium kanan.

Factor-faktor yang meningkatkan aliran balik vena adalah peningkatan volume darah, peningkatan
tonus pembuluh besar di seluruh tubuh yang berakibat naiknya tekanan vena perifer, dan dilatasi
arteriol yang menurunkan tahanan perifer dan memungkinkan darah mengalir dengan cepat dari
arteri ke dalam vena.

Di vena lengan tekanan pada titik setinggi tulang rusuk teratas biasanya sekitar +6 mmHg akibat
kompresi vena subclavia sewaktu melewati tulang rusuk tersebut. Tekanan gravitasi di sepanjang
lengan kemudian ditentukan oleh jarak dari tulang rusuk ini.

Hasil Pengamatan

Percobaan 1: Peredaran Darah Vena

A. Pembuluh Darah Vena Lengan Bawah

OP: Yogi Aditya

B. Pengaruh Gaya Berat Pada Peredaran Darah Vena

OP: Andriani

Pada percobaan ini, pada posisi berdiri lengan kanan disejajarkan dengan lengan kiri setelah lengan
kanan diangkat lurus ke atas berlawanan dengan gaya gravitasi. Hasil akhir percobaaan adalah
berupa perubahan warna kulit pada punggung tangan OP, pada punggung tangan kanan terjadi
perubahan warna kulit menjadi pucat dan vena mengembang sedangkan pada punggung tangan
kiri memerah.

C. Waktu Pengisian Pembuluh Darah Vena


OP: Dwi afriani

Percobaan ini dilakukan dengan sikap OP terlentang, dimana lengan atas kanan dipasangakan
manset kemudian diluruskan ke atas menjauhi gravitasi. Pada percobaan pertama dilakukan
obstruksi dengan lengan tangan lurus ke atas, hasilnya adalah vena mengembang dalam kurun
waktu 28 detik. Pada percobaan kedua, dilakukan kepalan tangan sebanyak 10 sampai 20 kali dan
didapatkan waktu vena mengembang dalam kurun waktu 21 detik.

D. Pengukuran tekanan darah vena dengan cara tak langsung (cara Gartner)

OP: Brian angelo

 Berbaring telentang : 9 cm
 Berbaring telentang dan kedua tungkai diangkat : 23 cm
 Berbaring telentang sambil melakukan valsalva : 26 cm
 Berdiri dan kedua tangan ke bawah : 16 cm

Percobaan 2: Peredaran Darah Kulit

A. Vasodilatasi aktif kapiler

OP: Uzairie

Tangan kiri dimasukkan ke waskom

 Warna tangan sebelum dilakukan percobaan: kuning langsat


 Warna tangan dengan oklusi manset (150-175 mmHg): Putih kebiruan
 Warna tangan setelah oklusi ditiadakan: merah
B. Vasodilatasi Pasif Kapiler

OP: Uzairie

Tangan kiri dimasukkan ke waskom

 Warna tangan sebelum dilakukan percobaan: kuning langsat


 Warna tangan dengan oklusi manset (50-60 mmHg) : kemerahan
 Warna tangan setelah oklusi ditiadakan: kuning langsat

Pembahasan

Percobaan 1: Peredaran Darah Vena

A. Pembuluh Darah Vena Lengan Bawah

Vasokontriksi vena dan kompresi eksternal vena keduanya akan mengarahkan pembuluh darah
kembali ke jantung. Jika kita memencet suatu pipa di tengah-tengah, cairan yang ada di dalamnya
akan pergi ke dua arah. Dalam vena terdapat katup, katup ini menyebabkan vena hanya bisa
mengalir ke satu arah, yakni ke jantung. Pada percobaan ini dilakukan pemijatan ke arah sentral
(mempercepat aliran balik vena) dan terlihat ada penonjolan, penonjolan ini menunjukan letak
katup vena. Aliran balik yang lebih banyak daripada normal akan menyebabkan kerja katup
menjadi lebih nyata sehingga dapat terlihat di permukaan kulit.

B. Pengaruh Gaya Berat Pada Peredaran Darah Vena

Lengan kanan diangkat lurus ke atas, yang berarti melawan gravitasi, hal ini berarti terjadi
gangguan pada aliran darah. Jadi ketika aliran darah arteri ke telapak tangan terhambat oleh gaya
berat itu membuat telapak tangan susah mendapat aliran darah maka dari itu menjadi pucat.
Sedangkan lengan kiri yang dibiarkan tergantung mendapat aliran darah yang dipengaruhi pula
dengan gaya gravitasi.
C. Waktu Pengisian Pembuluh Darah Vena

Pada percobaan pertama yaitu menghitung waktu pengisian pembuluh darah vena setelah
dilakukan manset pada lengan kanan, waktu yang diperlukan adalah 28 detik, sedangkan pada
percobaan kedua waktu yang diperlukan adalah 21 detik. Waktu pengisian pembuluh darah vena
pada percobaan kedua lebih cepat karena setelah melakukan manset, OP diminta mengepal-
kepalkan telapak tangannya. Hal itu membuat otot-otot di lengan OP berkontraksi. Kontraksi otot-
otot rangka dapat menekan pembuluh darah vena dan itu akan membuat aliran balik darah vena
menjadi lebih cepat.

D. Pengukuran tekanan darah vena dengan cara tak langsung (cara Gartner)

pada keadaan berbaring telentang dan kedua tungkai diangkat terdapat angka yang lebih besar
daripada keadaan berbaring. Hal ini disebabkan adanya venous return yang dipercepat dengan
pengangkatan kedua tungkai. Venous return yang dipercepat berarti ada lebih banyak aliran darah
yang masuk melalui vena cava ke atrium kanan, sehingga ada lebih banyak darah yang diisikan ke
ventrikel kanan, sehingga EDV akan meningkat. Sesuai dengan hokum Frank-Starling,
peningkatan EDV akan meningkatkan cardiac output dengan memompa stroke volume dengan
volum yang lebih besar.

Pada percobaan valsalva, OP melakukan tahanan pada ekspirasi kuat. Hal ini tentunya akan
menyebabkan kontraksi otot di beberapa tempat, terutama di daerah abdomen. Kontraksi otot akan
menekan pembuluh vena sehingga aliran vena akan dipercepat, sehingga tekanannya meningkat.

Pada percobaan sikap berdiri tegak dan kedua tangan di bawah, otot-otot kaki terutama
m.gastrocnemius dan teman-temannya berkontraksi untuk mempertahankan posisi tubuh saat
berdiri. Seperti pembahasan sebelumnya, kontraksi otot akan menyebabkan aliran vena mengalami
percepatan sehingga tekanannya meningkat.

Percobaan 2: Peredaran Darah Kulit

A. Vasodilatasi aktif kapiler

Ketika tangan dioklusi, aliran arteri dan vena OP terhambat yang menyebabkan distribusi darah
yang mengandung oksigen berkurang. Sehingga tangan menjadi berwarna putih kebiruan, karena
panas menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. Setalah oklusi dilepaskan, pembuluh arteri dan
vena yang tadinya dihambat pelan-pelan akan jalan kembali, yang tadinya menyempit
(vasokontiksi) menjadi lebar kembali (vasodilatasi). Vasodilatasi aktif terjadi jika aliran arteri dan
vena keduanya dihambat. Dalam hal ini vasodilatasi aktif menyebabkan warna kulit menjadi merah
karena darah yang tadinya terhambat mengalir kembali.
B. Vasodilatasi Pasif Kapiler

Berbeda dengan percobaan sebelumnya, manset pada percobaan ini hanya dipompa hingga 50-60
mmHg. Hal ini menyebabkan pembuluh vena terhambat, sedangkan arteri tidak terhambat. Vena
berada lebih dekat dengan permukaan kulit dibandingkan dengan arteri yang berada lebih dalam.
Dengan vena yang teroklusi, kulit OP berwarna kemerahan (masih ada arteri yang mengalir). Pada
tangan yang dicelupkan ke dalam air panas, terjadi vasodilatasi local sehingga berwarna merah.
Pada tangan yang dioklusi warnanya tak semerah yang dicelupkan ke dalam air panas. Setelah
oklusi ditiadakan, aliran vena lancar kembali.

Kesimpulan

Pembuluh vena manusia memiliki sistem katup yang menyebabkan vena hanya berjalan ke satu
arah, yakni menuju jantung. Hal ini sangat baik karena mencegah vena mengalir ke arah yang
berlawanan oleh pengaruh gravitasi. Gravitasi memiliki pengaruh penting dalam peredaran darah
sistemik manusia. Jika berlawanan dengan arah gravitasi (misalnya pada percobaan lengan
diangkat) aliran arteri akan terhambat sehingga pasokan darah ke bagian tubuh tersebut akan
terganggu. Oklusi atau penyumbatan pada arteri, vena, atau keduanya juga menyebabkan
vasokontriks, berakibat pada kurangnya pasokan darah yang mengandung oksigen ke bagian tubuh
tertentu. Jika oklusi dilepaskan,akan terjadi vasodilatasi yakni pelebaran pembuluh darah sebagai
bagian dari sistem pengaturan pembuluh darah sehingga darah akan mengalir kembali. Dalam
percobaan ini telah dibuktikan bahwa panas berpengaruh pada vasodilatasi.

Daftar Pustaka

1. Sheerwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke 6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2014.
2. Hall JE. Guyton dan Hall buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke 12. Jakarta: SAUNDERS
Elsevier; 2014.