Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Umum


2.1.1 Pengertian Cagar Budaya
Bangunan Cagar Budaya adalah sebuah kelompok bangunan bersejarah dan
lingkungannya, yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan nilai sosial budaya masa kini
maupun masa lalu (Burra Charter, 1992: 21). Pada dasarnya dasar pelakasanaan konservasi
bangunan arsitektur cagar budaya mengacu pada rambu-rambu kebijakan secara nasional dalam
bentuk peraturan perundang-undangan cagar budaya dan peraturan terkait lainnya, maupun
peraturan-peraturan yang dikeluarkan yang diberlakukan secara regional, misalnya Pemda DKI
Jakarta. Secara garis besar terdapat beberapa rambu-rambu yang menjadi rujukan adalah sebagai
berikut.

1. Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 1 yang


menyatakan “Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan
Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki
nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui
proses penetapan. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam
atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak
berdinding, dan beratap.”

2. Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 5 yang


menyatakan “Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya,
Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:
a. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
b. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
c. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau
kebudayaan; dan
d. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.”

3. Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 77 yang menyatakan :
a. Pemugaran Bangunan Cagar Budaya dan Struktur Cagar Budaya yang rusak dilakukan untuk
mengembalikan kondisi fisik dengan cara memperbaiki, memperkuat, dan/atau
mengawetkannya melalui pekerjaan rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, dan restorasi.
b. Pemugaran Cagar Budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperhatikan:
a) Keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan/atau teknologi pengerjaan
b) Kondisi semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin
c) Penggunaan teknik, metode, dan bahan yang tidak bersifat merusak
d) Kompetensi pelaksana di bidang pemugaran.
c. Pemugaran harus memungkinkan dilakukannya penyesuaian pada masa mendatang dengan
tetap mempertimbangkan keamanan masyarakat dan keselamatan Cagar Budaya.

4. SK Gubernur KDKI Jakarta No.475 tahun 1993 yang mengatakan, Penetapan


Bangunan-bangunan Bersejarah di daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya.

5. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang
dilestarikan; Pasal 7 yang menyatakan:
a. Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 terdiri atas:
a) Peruntukan dan Intensitas bangunan gedung
b) Arsitektur bangunan gedung
c) Pengendalian dampak lingkungan
b. Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberlakukan dalam hal
bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan mengalami perubahan fungsi, bentukm
karakter fisik dana tau penambahan gedung.

6. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang
dilestarikan; Pasal 10 yang menyatakan:
a. Penyelenggaraan bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan meliputi kegiatan:
a) Persiapan
b) Perencanaan Teknis
c) Pelaksanaan
d) Pemanfaatan
e) Pembongkaran

7. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang
dilestarikan; Pasal 14 yang menyatakan:
1. Rekomendasi dan tindakan pelestarian bangunan gedung cagar budaya sebagaimana
dimaksud dalam pasal 12 ayat (5) berupa
a) Perlindungan
b) Pengembangan
c) Pemanfaatan
2. Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas
a) Pemeliharaan
b) Pemugaran
3. Pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas
a) Revitalisasi
b) Adaptasi

8. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang
dilestarikan; Pasal 16 yang menyatakan “Adaptasi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 14
ayat (3) huruf b dilakukan melalui upaya pengembangan bangunan gedung cagar budaya untuk
kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan cara melakukan perubahan
terbatas yang tidak mengakibatkan penurunan nilai penting atau kerusakan pada bagian yang
mempunyai nilai penting.”
1.1.2 Upaya Mempertahankan Bangunan Cagar Budaya
Dalam mempertahankan bangunan cagar budaya terdapat rambu-rambu dan kebijakan
dalam pelaksanaannya, yang diatur secara peraturan perundang-undangan. Salah satunya adalah
Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 83 yang menyatakan:
1. Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk
memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap mempertahankan:
a) Ciri asli dan/atau muka Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya; dan/atau
b) Ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah Situs Cagar Budaya atau Kawasan
Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi.
2. Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan:
a) Mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada cagar budaya;
b) Menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan;
c) Mengubah susunan ruang secara terbatas; dan/atau
d) Mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di
sekitarnya.

2.1.3 Definisi Preservasi


Sebuah tindakan atau proses yang bertujuan mempertahankan bentuk asli dan kondisi
pada bangunan dan berusaha untuk mementingkan proses pemeliharaannya. Preservasi jarang
digunakan pada Negara Amerika, karena mereka menggunakan istilah yang mirip yaitu
konservasi. Istilah preservasi digunakan pada Negara Inggris dan Australia. Oleh sebab itu
penulis kedepan akan menggunakan istilah yang digunakan oleh Negara Inggris.

2.1.4 Definisi dan Bentuk-Bentuk Konservasi


Konservasi adalah suatu proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar
makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Yang termasuk cara
pemeliharaan dan bila memungkingkan menurut keadaan proses preservasi, restorasi,
rekonstruksi, dan adaptasi, maupun kombinasinya termasuk kedalam proses konservasi. (Burra
Charter :1999).Konservasi juga merupakan salah satu pengelolaan sumber budaya.
Konservasi merupakan suatu proses memahami, menjaga, yang juga mementingkan
pemeliharaan, perbaikan, pengembalian, dan adaptasi terhadap aset sejarah untuk memelihara
kepentingan kebudayaan. Konservasi merupakan salah satu proses pengelolaan yang
berkelanjutan terhadap perubahan, yang dalam prosesnya memperhatikan beberapa pendekatan
nilai yaitu nilai umur dan kelangkaan, nilai arsitektur, nilai artistik, nilai kebudayaan, nilai
asosiatif, nilai ekonomi, nilai pendidikan, nilai emosi, nilai sejarah, nilai landscape, kekhasan
daerah, nilai politik, nilai masyarakat, nilai agama, nilai sosial, nilai simbolik, nilai teknik, nilai
sains, penelitian dan pengetahuan, dan tampilan suatu kota (Architectural Conservation:Aylin
Orbasli).

Bentuk-bentuk kegiatan konservasi diantaranya:

Tabel 1. Istilah dan Pengertian


KONSERVASI Sebuah proses yang bertujuan memperpanjang umur warisan budaya
bersejarah, dengan cara memelihara dan melindungi keotentikan dan
maknanya dari gangguan kerusakan, agar dapat dipergunakan pada saat
sekarang maupun masa yang akan dating baik dengan menghidupkan
kembali fungsi lama atau dengan memperkenalkan fungsi baru yang
dibutuhkan
PRESERVASI Sebuah tindakan atau proses yang bertujuan mempertahankan bentuk asli,
(Murtagh, 1988) integritas, dan material dari suatu bangunan atau struktur mencakup juga
bentuk-bentuk asli dan tanaman-tanaman yang ada di dalam tapaknya.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah pekerjaan stabilisasi, jika diperlukan ,
tanpa melupakan pemeliharaan yang terus menerus pada material bangunan
RESTORASI Sebuah tindakan atau proses yang bertujuan mengembalikan bentuk serta
(Murtagh, 1988) detail-detail sebuah property dan settingnya secara akurat seperti tampak
pada periode tertentu, dengan cara menghilangkan bagian-bagian tambahan
yang dilakukan kemudian, ataupun dengan melengkapi kembali bagian-
bagiannya yang hilang
REKONSTRUKSI Sebuah tindakan atau proses membangun kembali sebuah bangunan atau
(Murtagh, 1988) struktur atau objek atau bagian-bagiannya yang telah hilang atau rusak
seperti tampak pada periode tertentu
ADAPTIVE-USE Sebuah proses pengubahan sebuah bangunan untuk kegunaan berbeda
(Murtagh, 1988) dari tujuan kegunaan ketika bangunan tersebut didirikan
REHABILITTASI Tindakan atau proses pengembalian sebuah objek pada konsisi yang dapat
(Murtagh, 1988) dipergunakan kembali melalui perbaikan atau perubahan yang
memungkinkan penggunaan sementara yang efisien , sementara wujud-
wujud yang bernilai sejarah, arsitektur dan budaya tetap dipertahankan
RENOVASI Moderanisasi bangunan bersejarah yang masih dipertanyakan dengan
(Murtagh, 1988) terjadinya perbaikan yang tidak tepat yang menghilangkan wujud dan
detail penting
REVITALISASI Sebuah proses untuk meningkatkan kegiatan sosial dan ekonomi
bangunan/lingkungan bersejarah, yang sudah kehilangan vitalitas aslinya
FASADISASI Mempertahankan hanya bagian fasaf bangunan bersejarah sepanjang proses
(Murtagh, 1988) perubahan, dimana sisa dari wujud struktur tersebut hampir seluruhnya
diubah atau dihancurkan
HERITAGE Sesuatu yang dilestarikan oleh generasi terdahulu(tangible dan intangible)
(Murtagh, 1988) dan diserahkan kepada generasi yang ada sekarang untuk diteruskan ke
generasi yang akan datang
CULTURAL Heritage yang diasosiasikan dengan manusia dan kegiatannya (tangible
HERITAGE dan intangible)
(De Silva,
ICOMOS
1996:61)
BANGUNAN Bangunan beserta tapaknya yang telah memenuhi kriteria yang ditentukan
BERSEJARAH oleh UURI 92 tentang benda cagar budaya
Sumber: Harastoeti. 2011. 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung

2.1.4 Penerapan, Prinsip dan Panduan Konservasi


A. Etika Konservasi
Selain prinsip umum, terdapat peran lain yang mendasari dalam tahap konservasi yaitu etika
dalam konservasi. pendekatan terhadap nilai yang didapatkan mendukung suatu kegiatan
konservasi juga harus didasari oleh unsur keutuhan dan keaslian.

Keutuhan (Integrity)
Konservasi harus dilakukan dengan keutuhan untuk mengembalikan bangunan, dengan
menggunakan material yang sesuai untuk tujuan dan “cara yang tepat”. Bangunan bersejarah
merupakan barang peninggalan dari masa lalu yang memberikan detail dan informasi tentang
masa lalu tersebut yang merupakan salah satu keutuhan sejarah. Mengembalikan bangunan dapat
melalui restorasi atau rekonstruksi yang dapat mencirikan keadaan dimasa lalu, untuk tujuan
penyajian keaslian dari bangunan. Keutuhan disini mencakup:
a) Keutuhan Fisik bangunan (material bangunan dan hubungan antar unsur lainnya)
b) Keutuhan struktur yang digunakan
c) Keutuhan desain
d) Keutuhan estetika yang digunakan
e) Keutuhan bangunan (layout dan fungsi)
f) Integritas dari tim professional konservasi.

Keaslian (Authenticity)
Keaslian menurut kamus bahasa inggris oxford berarti asli, yang sumber asal mulanya tidak
perlu dipertanyakan kembali. Sumber lain mengatakan juga bahwa keaslian sebagai kebenaran.
Terdapat banyak unsur keaslian pada projek bangunan konservasi yang perlu diperhatikan, salah
satunya dari keaslian suatu penggunaan material untuk mempertahankan desain semula yang
digunakan arsitek. Keaslian berarti asli dalam arti mengembalikan bangunan ke bentuk semula.
Keaslian dalam unsur konservasi berkaitan dengan:
a) Bentuk desain
b) Material
c) Teknik, tradisi dan proses
d) Tempat, konteks, layout
e) Fungsi dam kegunaan bangunan
Replika merupakan salah satu contoh penerapan yang memiliki kekurangan unsur
keasliannya. Padahal material asli pada bangunan merupakan salah satu bukti nyata dalam
sejarah untuk masa depan, sehingga material asli pda bangunan tidak boleh diganti secara
keseluruhan harus tetap mempertahankan yang ada. Walapun teknologi telah maju dan dapat
menciptakan sesuai aslinya, tetapi unsur keaslian dan spririt dari bangunan tersebut telah hilang.

B. Penerapan tindakan konservasi pada fisik dan fungsi bangunan


Dalam berkembangnya kebutuhan, sering terdapat penyesuaian fungsi pada bangunan lama
agar bisa dimanfaatkan kemabali pada masa kini maupun pada masa yang akan datang.
Buttenshaw et.al (1991:157-158 dalam Tiesdell et al, 1996:4) menyatakan bahwa kegagalan
untuk mencari fungsi baru pada bangunan lama akan menyebabkan sebuah kota menjadi kota
museum. Sehingga dalam mengatas permasalahan tersebut, alternatif penyesuaiannya
menggunakan konsep adaptive-use, yang dapat dilihat dari 2 sisi, yakni:
a) Bangunan yang dipreservasi pada umumnya bentuk asli harus dipertahankan, tidak boleh
diubah, sehingga penyeleksian dalam memilih fungsi baru pada bangunan
b) Bangunan yang dikonservasi lebih bebas dalam menampung, berbagai fungsi baru, karena
masih dimungkinkan mengubah bangunan, jika memang diperlukan, sampai batas-batas
tertentu, sejauh tidak menyalahi konsep konservasi

Tabel 2. Kaitan Antara Kegiatan Konservasi dengan Perubahan Fisik dan Fungsi
FISIK FUNGSI
TIDAK BERUBAH TIDAK BERUBAH
BERUBAH BERUBAH
Penambaha Pembongkar- Menerus & Adaptasi
KEGIATAN n& an sebagian berkembang terhadap
penyisipan & (extended- kebutuhan
elemen penggantian Use) baru
bangunan elemen baru (adaptive-
baru Use)
KONSERVASI
Renovasi
Rehabilitasi
Fasadisasi
PRESERVASI
Rekonstruksi
Restorasi
Replikasi
REVITALISASI
Sumber: Harastoeti. 2011. 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung

= terjadi = Tidak Terjadi


Dapat kita lihat pada tabel 1.2 penerapan jenis kegiatan konservasi terhadap perubahan fisik
dan fungsi bangunan, bahwa kelompok kegiatan konservasi (renovasi, rehabilitasi, fasadisasi)
memungkinkan adanya perubahan fisik bangunan, fungsi boleh menerus atau berubah.
Sedangkan kelompok kegiatan preservasi (rekonstruksi, restorasi, dan replikasi) sebaliknya.
C. Penerapan pada Bangunan
Dalam pengerjaan suatu proyek konservasi tentu akan menemukan bebepa keputusan yang
harus dibuat agar proses dapat berlangsung. Oleh karena itu terdapat prinsip-prinsip dasar
konservasi yang telah dibagi menjadi 3 bagian yaitu pemahaman, pelaksanaan, dan evaluasi.

Tabel 3. Prinsip Dasar dari Konservasi


Berdasarkan bukti dan keterangan yang telah ada (kondisi fisik)
Pemahaman Pemahaman sejarah bangunan
Lokasi bangunan dan lingkungan sekitarnya
Pelaksanaan Penggunaan fungsi yang sesuai
Perbaikan material
Tradisi dan Teknologi
Kesinambungan
Bukti historical
Tindakan pendekatan baru pada permasalahan yang baru
Evaluasi Suistainability
Interpretasi
Sumber:Aylin Orbasli. 2008. Architectural Conservation

Berdasarkan tabel diatas kita dapat mengambil kesimpulan yaitu:


a) Konservasi harus didasari oleh pemahaman sejarah dari kondisi awal hingga saat ini, yang
merupakan nilai bagi budaya maupun yang lainnya.
b) Perbaikan material sebaiknya mengikuti petunjuk yang telah ada atau konsultasi dengan
pakar yang mengerti tentang material baik itu secara kualitas dan usia
c) Pendekatan yang sesuai harus didasarkan pada kejujuran dan keaslian
d) Prinsip diatas bertujuan sebagai sumber dan petunjuk dalam pelaksanaan konservasi, pada
saat proses pengerjaan tetap harus berkonsultasi dengan pakar
e) Konservasi memperhatikan masa lalu- masa kini dan masa depan (suistainability)
Dari setiap jenis kegiatan konservasi, adaptive reuse merupakan salah satu kegiatan yang
cocok untuk diaplikasikan pada Gedung Rotterdamsche Lloyd yang diikuti dengan kegiatan
restorasi.

2.1.5 Pengertian Adaptive reuse


Hampir setiap bangunan akan mengalami perubahan fungsi seiring berjalannya waktu,
yang diikuti dengan perubahan layout ruang dan perubahan fasad/permukaan bangunan.
Melakukan perubahan pada bangunan untuk memuat fungsi baru juga dikatakan mengaktifkan
kembali kegunaan pada bangunan bersejarah. Walaupun demikian pemuatan fungsi baru harus
sesuai dengan fasad bangunan dan integritasnya yang kuat.
Bangunan menjadi terbuang atau tidak terpakai disebabkan oleh berapa hal diantaranya
terjadinya perubahan ekonomi, industri, demografi, dan kenaikan biaya perawatan bangunan, dan
yang paling utama bangunan sudah tidak sesuai dengan fungsi yang dibutuhkan. Oleh sebab itu
agar bangunan dapat memenuhi kebutuhan dari pemiliknya, bangunan mengalami adaptasi dan
diperbarui, sementara struktur utama tetap.
Tidak semua fungsi baru yang digunakan pada bangunan bersejarah sesuai, Apabila
tingkat intervensi yang diperlukan untuk memasukan fungsi baru pada gedung menimbulkan
kerusakan pada nilai sejarahnya, maka fungsi tersebut dikatakan tidak sesuai dengan
bangunannya. Fungsi baru pada bangunan harus mempertimbangkan apakah fungsi yang ingin
dimasukan sesuai dengan bangunannya (apakah memiliki jendela yang cukup, apakah fungsi
yang baru dapat melindungi dan mengangkat bukti kebudayaan pada gedung tersebut). Selain
fungsi, lokasi menjadi salah satu pertimbangan dalam memasukan fungsi baru dalam sebuah
bangunan. Karena setiap lokasi memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

2.2 Tinjauan Khusus


2.2.1 Sejarah Kota Jakarta
Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah
sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer
persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia,Taman Sari dan Roa Malaka).
Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta
Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan
sumber daya melimpah.
Pada zaman VOC, di sepanjang Kali Besar ada berbagai bangunan seperti gudang,
pemukiman pribadi, gereja, dan pasar. Beberapa pasar yang ada di kawasan Kali Besar antara
lain Pasar Sayur, Pasar Pisang, Pasar Ayam, dan Pasar Beras. Di antara bangunan yang terletak
di sepanjang Jl. Kali Besar Barat dan Jl. Kali Besar Timur yang rata-rata bergaya Eropa serta
didirikan pada abad ke-19, meliputi bangunan lama, kantor dan juga gudang. Kali Besar
merupakan pusat perekonomian dan perdagangan VOC dimana terdapat bangunan-bangunan
untuk pembuatan dan perbaikan kapal-kapal serta orang-orang kuli atau budak bekerja. Daerah
Kali Besar dipandang sebagai daerah kediaman kelas elit pada awal abad ke-18 dan menjadi
daerah pusat kantor-kantor perdagangan internasional di era berikutnya. Salah satu contohnya
adalah bangunan Toko Merah. Banyak rumah orang Tionghoa terdapat di sini yang dibakar pada
tahun 1740. Kali Besar beberapa kali berubah fungsi, setelah Ciliwung diluruskan (1632) kapal-
kapal kecil membawa barang dari laut dan dari pedalaman ke pelabuhan. Sejak tahun 1870
semakin banyak perusahaan niaga yang berkantor di Kali Besar, hingga sampai tahun 1960-an
merupakan daerah pusat kantor-kantor perdagangan internasional.
Ketika Kali Besar menjadi pusat dagang, berakibat keberadaan gereja dan pasar lenyap.
Posisinya sebagai pusat dagang hampir saja tergeser dengan selesainya Pelabuhan Tanjung Priok
yang hanya berjarak 10 km dari Kali Besar (1885). Munculnya wabah malaria menjadikan
daerah ini tidak kondusif sebagai pusat bisnis baru. Baru pada tahun 1900, banyak pengusaha
yang pindah ke sepanjang Noordwijk dan Rijswijk.

2.2.2 Sejarah Gedung Rotterdamsche Lloyd


Bangunan Rotterdamsche Lloyd dahulu dikenal sebagai gedung Dunlop& Kolff yang
berfungsi sebagai kantor perusahaan percetakan dan ban tahun 1900, pada tahun 1938 bangunan
ini bealih fungsi menjadi kantor Rotterdamsche Llyod dibidang perkapalan. setelah awal abad
ke-20 menjadi termasuk kedalam kawasan gedung internationale credit en Handelsvereeniging
Rotterdam, atau lebih dikenal dengan nama Rotterdam Internatio yang sekarang kita kenal
dengan PT. Cipta Niaga. Gedung ini merupakan rancangan yang dibuat oleh biro arsitek Ed
Cuypers en Hulswit. Gedung ini memiliki pintu masuk menghadap ke Jalan kali besar timur 3,
dan kearah jalan pintu besar utara. Gedung yang memiliki 2 lantai ini serta basement yang
berfungsi sebagai penyimpanan uang pada zaman kolonial, serta lorong yang
menghubungkannya dengan pintu di pelabuhan sunda kelapa. Saat nasionalisasi perusahaan-
perusahaan belanda, gedung ini diambil alih dan dijadikan aset oleh PT. Aneka Niaga dan
sempat menjadi area pedagang pada kawasan kota tua tahun . Tetapi sekarang telah menjadi hak
milik PT.Perusahaan Perdagangan Indonesia.