Anda di halaman 1dari 22

Tugas Makalah

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGIS


NY. M G2P1A0Ah1 UMUR 33 TAHUN USIA KEHAMILAN 40+5 MINGGU
DENGAN PERDARAHAN 1 JAM POSTPARTUM
DI RB DOA IBU PURBOLINGGO
LAMPUNG TIMUR
Dosen pembimbing: Retno Heru, SSiT, MPH

Oleh:
Kelompok 4 / Kelas IV D

1. Dwi Wahyu Rohmanita (130188)


2. Dewi Lestari Palupi P (130200)
3. Bella Pelninda (130202)
4. Sepi Anggarsari (130205)
5. Martina Fitriyaningrum (130206)
6. Monica Cahyono (130214)
7. Mahfati Khuromah (130224)
8. Revina Adriyati (130227)
9. Mulin (130233)
10. Erna Fidrianti (130250)

AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA


YOGYAKARTA
2015
Penyulit Pada Persalinan Kala IV
A. Perdarahan kala IV (primer dan sekunder)
1. Definisi
Yang dimaksud dengan perdarahan post partum adalah
perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung.
Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml
selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio
plasenta. Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV
lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir
(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, 1998).

Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih


dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi (Williams,
1998). HPP biasanya kehilangan darah lebih dari 500 ml selama atau
setelah kelahiran (Marylin E Dongoes, 2001).

Perdarahan post partum tahap primer: perdarahan post partum


terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab: atonia uteri, retensio plasenta,
sisa plasenta, dan robekan jalan lahir, terbanyak dalam 2 jam pertama.

Perdarahan post partum tahap sekunder: Perdarahan post partum


terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab: robekan jalan lahir, dan sisa
plasenta atau membran.

2. Faktor-faktor penyebab:
Penyebab utama perdarahan baik secara primer maupun
sekunder adalah: grandemultipara, Jarak persalinan pendek kurang dari
2 tahun. Persalinan yang dilakukan dengaan tindakan: pertolongan kala
uri sebelum waktunya, pertolongan persalinan oleh dukun, persalinan
dengan tindakan paksa, persalinan dengan narkosa.
Penyebab utama perdarahan porstpartum primer: Antoni uteri
(50-60%). Retensio plasenta (16-17%). Sisa plasenta (23-24%).
Laserasi jalan lahir (4-5%).
Untuk mengenal tanda/gejala, penyebab serta penanganan
perdarahan kala IV baik primer maupun sekunder sama dengan bahasan
pada penyulit kala III.

3. Langkah-langkah penanganan

Secara umum dan sebagai tindakan pertama jika kita


menemukan pasien dengan Haemoragi post partum primer adalah:
a. Pijat uterus agar berkontraksi dan keluarkan bekuan darah.
b. Kaji kondisi pasien (denyut jantung, tekanan darah, warna kulit,
kesadaran, kontraksi uterus) dan perkirakan banyaknya darah yang
sudah keluar.
c. Berikan oksitosin (10 IU IV dan ergometrin 0,5 IV. Berikan
melalui IM apabila tidak bisa melalui IV).
d. Siapkan donor untuk transfuse, ambil darah untuk kroscek, berikan
NaCl 11/15 menit apabila pasien mengalamai syok (pemberian
infus sampai sekitar 3Lt untuk mengatasi syok).
e. Kandung kemih selalu dalam kondisi kosong.
f. Awasi agar uterus dapat terus berkontraksi dengan baik.
g. Jika perdarahan persisten dan uterus tetap rileks, lakukan kompresi
bimanual.
h. Jika perdarahan persisten dan uterus berkontraksi dengan baik,
maka lakukan pemeriksaan pada vagina dan serviks untuk
menemukan laserasi yang menyebabkan perdarahan tersebut.
i. Jika ada indikasi bahwa mungkin terjadi infeksi yang diikuti
dengan demam, menggigil, lochea yang berbau busuk, segera
berikan antibiotik bersprektum luas
j. Lakukan percatatan yang akurat.
4. Langkah awal penanganan perdarahan sekunder

Pada pasien dengan Hemorargi Post Partum Sekunder, penanganan


awal dan segera adalah:

a. Prioritas dalam penatalaksaan hemorargi post partum sekunder


(sama dengan penatalaksanaan hemorargi post partum primer).
b. Masukkan pasien ke rumah sakit sebagai salah satu kasus
kedaruratan.
c. Percepatan kontraksi dengan cara melakukan massage uterus, jika
uterus masih teraba.
d. Kaji kondisi pasien, jika pasien di daerah terpencil mulaiilah
sebelum di lakukan rujukan.
e. Berikan oksitosin (oksitosin 10 iu IV dan ergometrin 0,5 IV.
Berikan melalui IM apabila tidak bisa melalui IV)
f. Siapkan donor untuk tranfusi, ambil darah untuk cross cek, berikan
NaCl 11/15 menit apabila pasien mengalami syok (pemberian infus
sampai sekitar 3 liter untuk mengatasi syok), pada kasus syok yang
parah gunakan plasma ekspander.
g. Awasi agar uterus tetap nberkontraksi dengan baik. Tambahkan 40
tetes/menit.
h. Berikan antibiotik berspekturum luas.
i. Jika mungkin siapkan pasien untuk pemeriksaan segera di bawah
pengaruh anatesi.
5. Prosedur tetap (Protaf): Langkah yang harus dilakukan pertama
penanganan perdarahan:
a. Melakukan Anamnesa
b. Memeriksa bahwa uterus kenyal dan berkontraksi dengan baik.
c. Memastikan jumlah darah yang hilang.
d. Memeriksa kondisi Umum (misal kepucatan, tingkat kesadaran)
e. Memeriksa tanda-tanda vital seperti: suhu, dengan nadi, tekanan
darah
f. Memenuhi asupan cairan (setelah pasien stabil cairan IV harus
diberikan rata-rata 1 liter dalam 6-8 jam)
g. Jika dilakukan tranfusi darah harus dipantau dan volume yang
ditransfusikan harus di catat sebagai asupan cairan
h. Ukur pengeluaran urine dan membuat catatan yang akurat.

B. Syok Obstetrik
1. Konsep dasar
Suatu keadaan klinis yang akut pada seorang penderita, yang
bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah, akibat
gangguan pada sirkulasi micro. Beberapa keadaan yang menjadi
presidposisi terjadinya syok dalam kebidanan antara lain kearena: anemi,
gangguan gizi, partus lama disertai dehidrassi dan asidosis, peristiwa-
peristiwa yang dalam praktek kebidanan, dapat menimbulkan syok
adalah: perdarahan, infeksi berat, solutio plasenta, perlukaan dalam
persalinan, inversio uteri, emboliair ketuban, gabungan gua atau lebih
faktor diatas.

2. Penanganan secara umum


Mengingat bahaya syock, peristiwa-peristiwa yang dapat
menimbulkan syock harus ditanggulangi sebaik-baiknya: pertama-tama
kelancaran ventilasi harus dijammin, beri cairan infus, tanggulangi
penyebab terjadinya syock.

3. Penangann syock hemoragik


Dalam menangani ibu dalam keadaan syock hemoragik yang
penting dilakukan oleh bidan adalah: siapkan diri dengan keyakinan
bahwa kita telah benar mendeteksi penyebab syock, kemudian lakukan
langkah-langkah penanganan dengan cepat dan tepat karena sedikit saja
bidan lengah d=akan menikbulkan kematian pada ibu, ketersediaan alat-
alat dan obat juga akan mempengaruhi keberhasilan dalam menangani
syock karena perdarahan dalam beberapadetik saja pada seorang ibu
masa ini kehilangan darah akan berakibat fatal sampai kepada kematian.

Langkah yang harus dilakukan setelah siap diri, alat dan obat antara
lain: segera hentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah
tidurkan ibu dalam posisi trendelenberg, jangan sampai ibu kedinginan,
jaga jalan nafas selalu dengan posisi dan linggarkan pakaian kemudian
beri oksigen 100% kira-kira 5l/menit melalui jalan nafas, sebelum
persediaan darah siap berikan infus dengan larutan NaCl 0,9%, RL,
Dekstran, plasma dan sebagainya dengan memasang tekanan vena pusat
(CVP) dan keadaan diuresis untuk mengukur keluar masuk cairan dengan
tepat.

4. Penanganan syock septik


a. Kelancaran ventilasi harus diperhatiakn terlebih dahulu kemudian
berikan i]ooksigen (O2) diberikan dengan masker, jika perlu
mempergunakan pipa endotrakial atau melakukan trakeotomi
(dilakukan oleh dokter) serta oksigenasasi 100%.
b. Ibu harus mendapatkan cukul cairan dengan memberi larutan
garam 0,9%,RL,dekstran dan sebagainya dengan menggunakan
CVP.
c. Untuk menghindari asidosis metabolik penderita diberi bicarbonat
nitrikus.
d. Berikan antibiotik dengan spektrum yang luas dan dosis tinggi
secara intra vena sebelum jenis kuman diketahui (sesuai intruksi
dokter).
e. Pemberian glukokortikoid besar menfaatnya pada penderita ini
misal dexamethason 3mg/kg berat badan, suntikan jika perlu
diulangi 4 jam kemudian.
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGIS
NY. M G2P1A0Ah1 UMUR 33 TAHUN USIA KEHAMILAN 40+5 MINGGU
DENGAN PERDARAHAN 1 JAM POSTPARTUM
DI RB DOA IBU PURBOLINGGO
LAMPUNG TIMUR

Tgl masuk / jam : 18 Januari 2015 / 05.00 WIB

No. RM :-

I. PENGKAJIAN DATA Tgl/jam : 18 Januari 2015/05.00 WIB


A. Data Subyektif
1. Identitas
Nama : Ny. M Tn. N

Umur : 33 tahun 34 tahun


Agama : Islam Islam
Suku : Jawa Jawa
Pendidikan : SD SD
Pekerjaan : IRT Wiraswasta
Alamat : ds. Tambah Dadi Purbolinggo
2. Anamnesa
a. Keluhan Utama
Ibu mengatakan kenceng-kenceng belum teratur mulai tanggal
17 Januari 2015 jam 21.00 WIB dan kenceng-kenceng teratur
mulai tanggal 18 Januari 2015 jam 03.00 WIB.
b. Riwayat Perkawinan
Perkawinan ini yang pertama, menikah sejak umur 28 tahun,
lama pernikahan 5 tahun, status sah.
c. Riwayat Haid
Ibu mengatakan menarche umur 14 tahun, lama haid 6-7 hari,
siklus haid teratur, desminorea.
HPHT : 8-04-2014 HPL : 15 -01-2015
UK : 8 April : 3 minggu 1 hari
Mei : 4 minggu 3 hari
Juni : 4 minggu 2 hari
Juli : 4 minggu 3 hari
Agustus : 4 minggu 3 hari
September : 4 minggu 2 hari
Oktober : 4 minggu 3 hari
November : 4 minggu 2 hari
Desember : 4 minggu 3 hari
18 Januari : 2 minggu 4 hari +
: 37 minggu 26 hari
: 40 minggu 5 hari
d. Riwayat obstetric
G2P1A0Ah1
No Tahun Jenis Penolong Tempat H/ J/ BB Komp Ket
persalinan M K lahir
1. 2011 Normal Bidan BPM H P 2800 - -
gr

e. Riwayat KB
No Pasang Lepas
Metode Tahun Petugas Tempat Tahun Petugas Tempat Alasan
1. Suntik 2012 Bidan BPM 2014 Bidan BPM Ingin
punya
anak
lagi
f. Riwatat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular
seperti hepatitis, TBC, Penyakit menurun seperti diabetes
melitus, hipertensi, maupun penyakit kronis seperti jantung,
asma, dll.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menular
seperti hepatitis, TBC, Penyakit menurun seperti diabetes
melitus, hipertensi, maupun penyakit kronis seperti jantung,
asma, dll.
3) Riwayat Keluarga
Ibu mengatakan didalam keluarga ibu maupun suami tidak
ada riwayat penyakit menular, menurun, dan kronis.

g. Riwayat Kehamilan Sekarang


- ANC pertama di BPS sejak umur kehamilan 183+ minggu.
- Gerakan janin pertama kali dirasakan umur kehamilan 16
minggu.
- Gerakan janin dalam satu hari 3-5 kali.
- Frekuensi ANC
TM I :-
TM II : 2 kali
TM III : 3 kali
- Imunisasi TT : 3 kali.
TM Permasalahan dan keluhan dalam kehamilan
Masalah/ keluhan Tindakan/ terapi
I - -
II Flu Perbaiki Gizi
III Keputihan Kebersihan Genetalia
h. Pola kebutuhan sehari-hari
1) Nutrisi
Makan terakhir jam : Pukul 19.00 tanggal 17 Januari
2015
Pola makan dan porsi : 3 x sehari dengan porsi 1 piring.
Minum terakhir jam : Pukul 08.00 tanggal 18 Januari
2015
Jenis : Nasi, sayur, lauk pauk, kadang buah.
Keluhan : Tidak ada

2) Eliminasi
BAK : 3-4 x sehari, warna kuning, bau khas urin.
BAB : 1 x sehari, dengan konsistensi padat, warna kuning
kecoklatan.
Keluhan : Tidak ada
3) Istirahat
a) Kebiasaan:
Tidur siang : ± 1 – 2 jam sehari.
Tidur malam : ± 7-8 jam sehari.
b) Perubahan setelah partus
Ibu belum tidur.
4) Aktivitas
Selama hamil ibu mengerjakan pekerjaan yang ringan.
5) Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi 2x/hari.
Ibu selalu mengganti baju setelah mandi.
Ibu menggosok gigi 2x/hari.
6) Pola seksual
Ibu megatakan tidak ada masalah
7) Riwayat persalinan sekarang
a) Kenceng-kenceng belum teratur mulai tanggal 17
Januari 2015 jam 21.00 WIB
b) Kenceng-kenceng teratur mulai tanggal 18 Januari 2015
jam 03.00 WIB
c) Keluar lendir darah sejak tanggal 18 Januari 2015 jam
05.00 WIB
d) Keluar air ketuban sejak tanggal 18 Januari 2015 jam
09.00 WIB
e) Masuk VK tanggal 18 Januari 2015 jam 05.00 WIB
8) Data psikososial spiritual
1) Ibu dan keluarga sudah siap menghadapi persalinan
2) Ibu mengatakan pengambil keputusan dalam keluarga
secara musyawarah bersama.

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
KU : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB : 55 Kg
LILA : 24 cm
Vital sign: T : 110/70 mmHg N : 86 x/menit
S : 36 °C R : 24 x/menit
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Rambut hitam lurus,tidak berketombe, tidak rontok,
tidak ada benjolan dan nyeri tekan.
Muka : Ekspresi wajah tampak meringis, tidak ada oedema
pada wajah.
Mata : Simetris ki/ka, sklera tampak putih dan konjungtiva
merah muda.
Leher : Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid, limfe dan
vena jugularis.
Payudara : Simetris kiri dan kanan, putting menonjol.
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi, tampak strie albicans
bersama linea nigra.
Leopold I : Teraba bokong
Leopold II : Kanan : ekstremitas kiri: punggung
Leopold III : Teraba kepala
Leopold IV : Bagian terendah janin sudah masuk
panggul.
TBJ : (29-11)155 = 2790 gram
DJJ : 127 x/menit
HIS : 3x dalam 10 menit selama 25 detik
Ekstremitas : Normal
3. Pemeriksaan Dalam
a. Indikasi : Adanya Kontraksi kuat
b. Tujuan : Untuk mengetahui pembukaan
c. Hasil VT : Vulva uretra tenang, dinding vagina licin, porsio
teraba tebal lunak, pembukaan 4 cm, presentasi kepala, selaput
ketuban +, penurunan kepala hodge II, STLD +.
4. Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada

II. INTERPRETASI DATA


Ny. M G2P1A0Ah1 umur 33 tahun usia kehamilan 40+5 minggu dalam kala I
fase aktif.
Data Dasar:
DS :
1) Ibu mengatakan ini adalah anak yang kedua
2) Ibu mengatakan berusia 33 tahun
3) Ibu mengatakan kenceng-kenceng sejak jam 03.00 WIB
DO :
KU : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB : 55 Kg
TB : 150 cm
LILA : 24 cm
Vital sign : T : 110/70 mmHg N : 86 x/menit
S : 36 °C R : 24 x/menit
Pemeriksaan Abdomen
TFU : 29 cm
Leopold I : Teraba bokong
Leopold II : Kanan : ekstremitas kiri : punggung
Leopold III : Teraba kepala
Leopold IV : Bagian terendah janin sudah masuk panggul.
HIS : 3x dalam 10 menit selama 25 detik
TBJ : (29-11)155 = 2790 gram
Pemeriksaan Dalam
Hasil VT : Vulva uretra tenang, dinding vagina licin, porsio teraba
tebal lunak, pembukaan 4 cm, presentasi kepala, selaput
ketuban +, penurunan kepala hodge II, STLD +.

III. DIAGNOSA POTENSIAL


Tidak ada
IV. ANTISIPASI MASALAH
Tidak ada

V. PERENCANAAN Tgl/jam : 18 Januari 2015/05.15 WIB


1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Beri dukungan pada ibu
3. Memotivasi ibu untuk makan dan minum
4. Anjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman
5. Beritahu ibu cara mengurangi rasa nyeri pada saat his
6. Observasi DJJ, his, nadi, respirasi dan kemajuan persalinan
7. Siapkan partus set
8. Lakukan dokumentasi
VI. PELAKSANAAN Tgl/jam : 18 Januari 2015/05.20 WIB
1. Memberitahu ibu bahwa saat ini sudah memasuki tahap persalinan
dengan pembukaan 4 cm
2. Memberi dukungan kepada ibu dan keluarga untuk menemani ibu
3. Memberikan motivasi ibu untuk makan dan minum agar dapat
menyimpan cadangan energi pada saat persalinan
4. Menganjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman, lebih baik
miring ke kiri
5. Memberitahu ibu mengurangi rasa nyeri waktu ada jis dengan cara
menarik nafas dalam dan hembuskan lewat mulut
6. Mengobservasi Vital sign, DJJ, HIS dan pembukaan servik
7. Menyiapkan partus set
Oksitosin pertus set
Spuit 3 cc APD lengkap
Lidokain Underper
8. Melakukan pendokumentasian.
VII. EVALUASI Tgl/jam : 18 Januari 2015/05.30 WIB
1. Ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan suatu keadaannya baik
2. Ibu merasa siap dalam menghadapi persalinan atas dukungan suami dan
keluarga
3. Ibu bersedia makan dan minum
4. Ibu pilih posisi miring ke kiri agar nyaman
5. Ibu melakukan cara mengurangi rasa nyeri
6. Sudah dilakukan observasi
7. Peralatan untuk persalian sudah siap
8. Pendokumentasian telah dilakukan
KALA II Tgl/jam : 18 Januari 2015/09.00 WIB

S :

- Ibu mengatakan seperti ingin BAB


- Ibu mengatakan kenceng-kenceng semakin sering
- Ibu mengatakan seperti ingin meneran

O:
- Ada tanda-tanda persalinan dorongan meneran, tekanan pada anus,
perineum menonjol, vulva membuka
- Pemeriksaan VT
Tujuan : mengetahui adanya pembukaan servik
Hasil : Vulva uretra tenang, dinding vagina licin, porsio tidak
teraba, pembukaan lengkap, selaput ketuban (+),
presentasi kepala, UUK di jam 12, penurunan kepala
hodge IV, STLD (+).
- Pemeriksaan Abdomen
Teraba keras saat kontraksi dan hisnya 5x/10 menit lamanya 40 detik

A : Ny. M G2P1A0Ah1 umur 33 tahun usia kehamilan 40+5 minggu dalam kala

II normal

P:
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini ibu dalam
pembukaan lengkap.
Ibu telah mengerti keadaannya
2. Memberikan asuhan persalinan normal
a. Melihat adanya tanda-tanda persalinan kala II
1) Ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran
2) Ibu merasa ada tekanan kuat pada vagina dan anus
3) Perineum menonjol dan menipis
4) Vulva vagina dan sfingter ani membuka
b. Memastikan perlengkapan peralatan bahan dan obat-obatan untuk
menolong persalinan
1) Klem, Gunting, Benang tali pusat, Penghisap lender steril
siap dalam wadah
2) Semua pakaian seperti handuk, selimut dan kain bayi dalam
kondisi bersih dan hangat
3) Timbangan, pita ukur, stethoscope bayi dan thermometer
4) Patahkan ampul aksitosin 10 unit dan tempatkan spuit steril
sekali pakai dalam partus set
c. Mengenakan baju penutup atau celemek plastic yang bersih,
sepatu tertutup kedap air, penutup kepala, masker dan kaca mata
d. Melepas semua perhiasan pada lengan dan tangan lalu cuci kedua
tangan dengan sabun dan air bersih kemudian keringkan dengan
handuk atau tissue bersih
e. Memakai sarung tangan steril untuk pemeriksaan dalam
f. Mengambil sput dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan
oksitosin 10 unit dan meletakkan kembali spuit tersebut di partus
set tanpa mengontaminasi spuit
g. Membersihkan vulva dan perineum dari depan ke belakang
dengan kapas atau kassa yang dibasahi air DTT
h. Melakukan pemeriksaaan dalam untuk memastikan bahwa
pembukaan servik sudah lengkap
i. Mendekontaminasi sarung tangan dengan mencelupkan tangan
yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%,
kemudian melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
rendam dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit. Cuci kedua
tangan setelahnya.
j. Memeriksa DJJ segera setelah kontraksi terakhir untuk
memastikan DJJ dalam batas normal
k. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan jani
baik
l. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran. Membantu ibu dalam posisi setengah duduk dan
memastikan ibu merasa nyaman. Menganjurkan ibu untuk cukup
minum
m. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan.
Memperbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai. Menilai
DJJ setiap kontraksi uterus selesai
n. Meletakkan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan
bayi dan meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah
bokong ibu
o. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali
kelengkapan alat dan bahan
p. Memakai sarung tangan steril pada kedua tangan
q. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm, lindungi
perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain bersih dan kering,
tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisis
defleksi dan membantu lahirnya kepala. Menganjurkan ibu
meneran sambil bernafas cepat dan dangkal
r. Memeriksa lilitan tali pusat dan lakukan tindakan yang sesuai
s. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar
secara spontan
t. Setelah kepala putar paksi luar, memegang secara bipariental.
Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut
menggerakkan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan
muncul di bawah arcur pubis kemudian menggerakkan arah atas
dan distal untuk melahirkan bahu belakang
u. Setelah kedua bahu lahir, menggeser tangan yang berada di
bawah kea rah perineum ibu untuk menyangga kepala, lengan dan
siku sebelah bawah menggunakan tangan yang berada di atas
untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas
v. Setelah tubuh dan lengan bayi lahir, melanjutkan penelusuran
tangan yang berada di atas ke punggung, bokong, tungkai dan
kaki bayi
w. Melakukan penilaian sesaat pada bayi (beyi menangis kuat, kulit
kemerahan, gerakan aktif)
x. Mengeringkan dan memposisikan tubuh bayi di atas perut ibu
y. Memeriksa kembali perut ibu untuk memastikan tidak ada bayi
lain dalam uterus (hamil tunggal)
Tanggal 18 Januari 2015 pukul 09.15 WIB bayi lahir spontan, menangis
kuat, gerakan aktif, kulit kemerahan. Jenis kelamin laki-laki, BB: 3000
gram, PB:47 cm.

KALA III Tgl/jam : 18 Januari 2015/09.15 WIB

S:
- Ibu mengatakan senang bayinya sudah lahir
- Ibu mengatakan masih merasa mules-mules

O:
- Bayi lahir spontan
- KU : Baik
- Kesadaran : Composmentis
- Tali pusat di depan vulva, plasenta belum lahir
A: Ny. M P2A0Ah2 umur 33 tahun dalam kala III normal

P:
1. Menjelaskan kepada ibu bahwa saat ini ibu dalam persalinan kala III
normal.
Kondisi ibu baik dengan keadaan umum baik, kesadaran composmentis.
2. Melakukan manajemen aktif kala III
a. Memberitahu kepada ibu bahwa penolong akan menyuntikkan
oksitosin untuk membantu uterus berkontraksi baik
b. Dalam satu menit setelah bayi lahir, berikan suntikan oksitosin 10 unit
IM di sepertiga paha atas bagian distal lateral
c. Dengan menggunakan klem 2 menit setelah bayi lahir, jepit tali pusat
pada sekitar 3 cm dari pusat (umbilicus) bayi. Dari sisi luar klem
menjepit dorong isi tali pusat ke arah distal ibu dan lakukan penjepitan
kedua pada 2 cm distal dari klem pertama
d. Memotong tali pusat dengan tangan melindungi perut bayi dan
mengikat tali pusat
e. Menempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi.
Meletakkan baayi dengaan posisi tengkurap di dada ibu. Meluruskan
bahu bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada
sampai perut ibu. Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu
dengan posisi lebih rendah dari putting payudara ibu
f. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangaat dan kering dan pasang
topi pada kepala bayi
g. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva
h. Meletakkan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat di tep
atas simpisis dan tegangkan tali pusat dan klem dengan tangan yang
lain
i. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil
tangan yang mendorong uterus kea rah dorsokranial secara hati-hati
j. Melakukan penegangan dorsokranial hingga plasenta terlepas, lalu
minta ibu untuk tidak meneran sambil menarik tali pusat dengan arah
sejajar lantai dan kemudian kearah tas mengikuti kurve jalan lahir
k. Setelah plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan melahirkan
plasenta dengan menggunakan kedua tangan
l. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase
uterus dengan meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan
masase dengan gerakan melingkar secara lembut sehingga uterus
berkontraksi
m. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun
janin dan memastikan bahwa selaputnya lengkap atau utuh
n. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan lakukan
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan aktif
Tanggal 18 Januari 2015 pukul 09.30 WIB Plasenta lahir lengkap
jumlah kotiledon lengkap, insersi tali pusat contrailis, ada laserasi
perineum.

KALA IV Tanggal 18 Januari 2015 jam 09.30 WIB

S:
- Ibu mengatakan lemas
- Ibu mengatakan pandangan berkunang-kunang
- Ibu mengatakan keluar darah yang hebat pada jalan lahir
O:
KU : sedang (terlihat lemas)
Kesadaran : composmentis
Vital sign : TD: 90/60 mmHg N: 128x/menit
R : 35x/menit S: 36,50C
Mata : Kunjungtiva pucat
Abdomen : his : lemah
Fundus tidak teraba keras
Genitalia : darah keluar deras

A. Ny. M usia 33 tahun P2A0Ah2 dalam kala IV dengan perdarahan post


partum karena atonia uteri

P.
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan
Ibu sudah paham dengan kondisi ibu bahwa his teraba lemah dan darah
keluar sangat banyak.
2. Melakukan pemijatan uterus selama 15 detik
Pemijatan uterus sudah dilakukan dengan hasil fundus tetap lembek dan
his lemah.
3. Memastikan kembali plasenta lahir lengkap.
Plasenta lahir dengan lengkap.
4. Memberikan 20-40 unit oksitosin dalam 1000 ml larutan NaCL 0,9 %/
Ringer laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dalam 10 unit IM.
Lanjutkan infuse oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutan NaCL 0,9 %/
Ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan berhenti.
Telah diberikan 20-40 unit oksitosin dalam 1000 ml larutan NaCL 0,9 %/
Ringer laktat. Uterus tetap tidak ada kontraksi.
5. Jika perdarahan berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV (bolus selama
1 menit, dapat diulang setelah 30 menit).
Kontrkasi sudah ada tetapi lemah.
6. Lakukan pasang kondom kateter atau kompresi bimanual internal selama 5
menit.
Kondom kateter sudah terpasang.
7. Siapkan tindakan operatif atau rujuk ke fasilitas yang lebih memadai
sebagai antisipasi bila perdarahan tidak berhenti.
Rujukan sudah dilakukan.
8. Di rumah sakit rujukan, lakukan tindakan operatif bila kontraksi uterus
tidak membaik, dimulai dari yang konservatif. Pilahan-pilihan tindakan
operatif yang dapat dilakukan antara lain prosedur jahitan B-lynch,
embolisasi arteri uterine, ligasi arteri uterine dan arteri ovarika, atau
prosedur histerektomi subtotal.