Anda di halaman 1dari 29

DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH

Oleh :
Kelompok III
Nurfika Dillah
(02174087)
Muhammad Zulzidan M.
(02174082)

SEMESTER II (GENAP)
JURUSAN TARBIYAH TADRIS
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) WATAMPONE
2018
KATA PENGANTAR

‫الر ِحي ِْم‬ َّ ِ‫ْــــــــــــــــــم هللا‬


َّ ‫الرحْ َم ِن‬ ِ ‫بِس‬

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan kita kesehatan
dan kesempatan dalam rangka menyelesaikan kewajiban kami sebagai mahasiswa, yakni
dalam bentuk tugas yang diberikan oleh Bapak dosen dalam rangka menambah ilmu
pengetahuan dan wawasan kami.
Shalawat serta dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
agung Muhammad saw, sahabat beserta keluarganya karena dengan perjuangan beliau kita
bisa berkumpul di tempat yang mulia ini.
Dan kami ucapkan terima kasih kepada :
2. Dosen pengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam, yang telah memberikan pengarahan
kepada kami dalam pembuatan makalah ini sampai selesai.
3. Teman-teman sekelompok dan sekelas yang telah membantu dalam penyusunan makalah
ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari
penyusunan, bahasan, maupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang membangun, khususnya dari dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam bekal
pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.

Watampone, 14 Maret 2018

`
KELOMKOK III,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii
DAFTAR IS ..................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 4
A. Latar Belakang ................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 4
C. Tujuan Pembahasan Masalah ............................................................................. 4
D. Batasan Masalah ................................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 5
A. Pengertian Dasar Ilmu Pendidikan Islam ............................................................ 5
B. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam Menurut Al-Qur’an. ................................. 6
C. Dasar-Dasar Pendidikan Islam menurut As-Sunah/Al-Hadits ........................... 11
D. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam Menurut Ijtihad ......................................... 27
BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 28
A. Kesimpulan ......................................................................................................... 28
B. Saran ................................................................................................................... 28
DAFTAR RUJUKAN ..................................................................................................... 29

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan Islam merupakan hal yang tidak bisa terlepas dari kehidupan umat Islam.
Pendidikan merupakan unsur terpenting bagi manusia untuk meningkatkan kadar
keimanannya terhadap Allah swt, karena orang semakin banyak mengerti tentang dasar-dasar
Ilmu Pendidikan Islam maka kemungkinan besar mereka akan lebih tahu dan lebih mengerti
akan terciptanya seorang hamba yang beriman. Manusia hidup dalam dunia ini tanpa
mengenal tentang dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam, maka jelas bagi mereka sulit untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt, apa lagi menjadi hamba yang beriman. Dalam kaitannya
pernyataan di atas dapat diberikan definisi bahwa kita perlu mempelajari suatu hal yang lebih
dalam tentang Islam. Namun banyak orang yang belum mengerti apa saja yang menjadi
dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam.
Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan ada pembahasan mengenai dasar-dasar
pendidikan dalam Islam, yaitu menurut A-Qur’an, al-Hadits dan Ijtihad.
B. Rumusan Masalah
Maka berdasarkan Latarbelakang diatas maka penulis dapat merumuskan masalah tambahan
pembahasan. Yang akan menjadi pembahasan pada makalah ini yaitu :
1. Apa pengertian dasar Ilmu Pendidikan Islam ?
2. Bagaimana Dasar-Dasar Pendidikan Islam menurut A-Qur’an ?
3. Bagaimana Dasar-Dasar Pendidikan Islam menurut As-Sunah?
4. Bagaimana Dasar-Dasar Pendidikan Islam menurut Ijtihad?
C. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan yaitu :
1. Menjelaskan pengertian dasar Ilmu Pendidikan Islam
2. Menjelaskan dasar-dasar Pendidikan Islam menurut A-Qur’an
3. Menjelaskan dasar-dasar Pendidikan Islam menurut As-Sunah
4. Menjelaskan dasar-dasar Pendidikan Islam menurut Ijtihad

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Dasar Ilmu Pendidikan Islam


Dasar (Arab: Asas; Inggris: Foudation; Perancis: Fondement; Laitn: Fundamentum)
secara bahasa berarti alas, fundamen, pokok atau pangkal segala sesuatu ( pendapat, ajaran,
aturan). Dasar menurut Ramayulis, adalah landasan untuk berdirinya sesuatu.Maka fungsi
dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan
untuk berdirinya sesuatu. Dasar mengandung pengertian sebagai berikut: Pertama, sumber
dan sebab adanya sesuatu. Umpamanya, alam rasional adalah dasar alam inderawi. Artinya,
alam rasional merupakan sumber dan sebab adanya alam inderawi. Kedua, proposisi paling
umum dan makna paling luas yang dijadikan sumber pengetahuan, ajaran atau hukum.
Umpamanya, dasar induksi adalah prinsip yang membolehkan pindah dari hal-hal yang
khusus kepada hal-hal yang umum. Dasar untuk pindah dari ragu kepada yaqin adalah
kepercayaan kepada Tuhan bahwa Dia tidak mungkin menyesatkan hamba-hambaNya.Dasar
ilmu pendidikan Islam tentu saja didasarkan pada falsafah hidup umat Islam dan tidak
didasarkan kepada falsafah hidup suatu negara, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ajaran
itu bersumber dari Al-Qur`an, sunnah Rasulullah saw, (selanjutnya disebut Sunnah),
dan ra`yu ( hasil pikir manusia). Tiga sumber ini harus digunakan secara hirarkis. Al-Qur`an
harus didahulukan. Apabila suatu ajaran atau penjelasan tidak ditemukan di dalam Al-Qur`an,
maka harus dicari di dalam sunnah, apabila tidak ditemukan juga dalam sunnah, barulah
digunakan ra`yu. Sunnah tidak bertentangan dengan Al-Qur`an , dan ra`yu tidak boleh
bertentangan dengan Al-Qur`an dan sunnah.
Pada dasarnya semua dasar agama Islam akan kembali kepada kedua sumber utama
yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah agar umat Islam
tidak tersesat dalam menjalani hidupnya, sebagaimana Sabdanya sebagai berikut: Landasan
adalah merupakan dasar atau pondasi tempat berpijak yang baik dalam setiap usaha, kegiatan
dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan,

Fungsi dari landasan atau dari pendidikan Islam tersebut adalah seperti pondasi yang
akan mengokohkan berdirinya suatu bangunan. Sehingga dengan demikian usaha kegiatan
tersebut benar-benar mempunyai dasar keteguhan dan keyakinan dalam mencapai tujuan.[1]

5
َ ‫ ِكت‬: ‫َضلُّ ْوا َب ْعدِى‬
‫َاب‬ ِ ‫س ُك ْم ِب ِه َما فَلَ ْن ت‬ ْ ‫سنِةَ نَ ِب ِي ِه ت ََر ْكتُ فِ ْي ًك ْم أ َ ْم َري ِْن َم‬
َّ ‫اإن ت َ َم‬ ُ ‫هللاِ َو‬

“Aku telah meninggalkan padamu dua perkara, jika kamu berpegang teguh padanya kamu
tidak akan sesat sesudahnya, yaitu kitabullah dan sunnah nabinya”. Hadits Shahih
Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh
Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

B. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam Menurut Al-Qur’an

Abdul Wahab Khallaf (dalam Ramayulis, 2002: 122) mendefinisikan al-Qur’an sebagai
kalam Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada hati Rasulullah dengan lafadz
bahasa arab dan makna hakiki untuk menjadi hujjah bagi Rasulullah atas kerasulannya dan
menjadi pedoman bagi manusia dengan penunjuknya serta beribadah kepadanya.Al-Qur’an
adalah kitab suci yang paling benar, paling bermanfaat dan paling sempurna yang meliputi
semua hal yang menyangkut kehidupan ini. Ia adalah harta karun yang tidak akan pernah
habis mutiaranya (Abdul Basith,2002:5). Kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber pokok
pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat al-Qur’an itu sendiri. Firman Allah Surat An-Nahl
ayat 64 :

َ‫اْختَلَُفُوا ِفِي ِِه َو ُهدًى َو َرحْ َمةً ِلقَ ْو ٍم يُؤْ ِمنُون‬ َ ‫َو َما أ َ ْنزَ ْلنَا َعلَيْكَ ْال ِكت‬
ْ ‫َاب ِإ اَّل ِلتُبَ ِينَ لَ ُه ُم الاِذِي‬

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar
kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q.S An-Nahl: 64)
Sunah.
Al-Qur’an merupakan dasar pendidikan Islam karena Al-Qur’an menyampaikan
pesan-pesan pendidikan kepada umat manusia yang berakal.Ayat-ayat yang berkaitan dengan
akal pikiran manusia cukup banyak.Bukti bahwa Al-Qur’an memberikan dorongan agar
segala hal harus menggunakan akal adalah surah Al-Baqarah:142
”Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata,’Apakah yang
memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah
berkiblat kepadanya ? ’Katakanlah,’Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi
petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS.Al-Baqarah:142).
Al Quran adalah sumber agama Islam pertama dan utama. Al Quran yang menjadi
sumber nilai dan norma umat Islam itu terbagi dalam 30 juz (bagian),114surah (surat:bab)
lebih dari 6236 ayat, 77.499 kata atau 320.671 huruf.[2]
Dikarenakan landasan utama dan holistik ajaran Islam yaitu Al-Qur’an, maka dalam
mengembangkan sayap pendidikan Islam harus bisa menerjemahkan wahyu Tuhan tersebut

6
secara cerdas ke dalam bahasa manusia, agar Al-Qur’an bisa lebih kontekstual dengan
keadaan zaman, karena Al-Qur’an memuat ajaran yang lengkap dalam berbagai aspek,
Sebagaimana para mufassir mengemukakan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ajaran
yang tak lekang oleh waktu maka, dengan kata lain bahwa ajaran-ajaran yang termaktub
didalamnya sudah dipastikan memuat ajaran yang universal, kalaupun ada ayat-ayat yang
sifatnya temporal itu harus bisa diterjemahkan secara subtantif. Sehingga pendidikan Islam
seharusnya ketika mengalami kemunduran dan pudarnya sinergitas dalam dataran praktis
harus dikembalikan kepada dasar pendidikan Islam yaitu asas-asas Islam sebagaimana yang
digariskan Al-Qur’an, sebagaimana ungkapan HM.Arifin mengenai Al-Qur’an bahwa Al-
Qur’an mengandung dan membawa nilai-nilai yang membudayakan manusia,hampir dua
pertiga ayat-ayat Al-Qur’an mengandung motivasi kependidikan bagi umat manusia.

Al-qur’an merupakan kitab pendidikan dan pengajaran secara umum, juga merupakan
kitab pendidikan secara khusus pendidikan sosial, moral dan spiritual. Tidak diragukan
bahwa keberadaan al-qur’an telah mempengaruhi sistem pendekatan rosul dan para sahabat,
lebih-lebih ketika Aisyah ra menegaskan bahwa akhlak beliau adalah Al-qur’an (Surat Al-
Furqon : ٢٣ )

ً ُ ‫َوقَ ِد ْمنَا ِإلَ ٰى َما َع ِملُوا ِم ْن َع َم ٍل ِفَ َجعَ ْلنَاهُ َهبَا ًء َم ْنث‬
‫ورا‬

Berkatalah orang-orang kafir mengapa al-qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali
turun saja? Demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakannya
secara tartil.

Dari ayat diatas kita dapat mengambil 2 isyarat yang berhubungan dengan pendidikan yaitu
pengokohan hati dan pemantapan keimanan serta sikap tartil dalam membaca al-qur’an.

Kelebihan al-qur’an diantaranya terletak pada metode yang menajubkan dan unik sehingga
konsep pendidikan yang terkandung di dalamnya, al-qur’an mampu menciptakan individu
yang beriman dan senantiasa mengesakan Allah, serta mengimani hari akhir. Al-qur’an yang
terpenting adalah mendidikan manusia melalui metode yang bernalar serta sarat dengan
kegiatan meneliti, membaca, mempelajari, melayani, dan observasi ilmiah terhadap manusia
sejak manusia masih dalam bentuk segumpal darah dalam rahim ibu.

Petunjuk Al-Qur`an sebagaimana di kemukakan Mahmud Syaltut di kelompokkan


menjadi tiga pokok yang disebutnya sebagai maksud-maksud Al-Qur`an, yaitu:

7
1. Petunjuk tentang aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan
tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan serta kepercayaan akan kepastian adanya hari
pembalasan
2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma
keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan
3. Petunjuk mengenai syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar
hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubugannya dengan tuhan dan sesamanya.
Pengelompokan tersebut dapat disederhanakan menjadi dua, yaitu petunjuk tentang akidah
dan petunjuk tentang syari`ah. Menurut Mahmud Syaltut

Dalam menyajikan maksud-maksud tersebut, Al-Qur`an menggunakan metode-metode


sebagai berikut:
1. Mengajak manusia untuk memperhatikan dan mengkaji segala ciptaan Allah.
2. Menceritakan kisah umat terdahulu kepada orang-orang yang mengerjakan
kebaikan maupun yang mengadakan kerusakan, sehingga dari kisah itu manusia
dapat mengambil pelajaran tentang hukum sosial yang diberlakukan Allah
terhadap mereka.
3. Menghidupkan kepekaan bathin manusia yang mendorongnya untuk bertanya
dan berfikir tentang awal dan materi kejadiannya, kehidupannya dan
kesudahannya,sehingga insyaf akan Tuhan yang menciptakan segala kekuatan.
4. Memberi kabar gembira dan janji serta peringatan dan ancaman. Menurut
Mahmud Syaltut
Menurut M. Quraish Shihab hubungan Al-Qur`an dan ilmu tidak di lihat dari adakah suatu
teori tercantum di dalam Al-Qur`an, tetapi adakah jiwa ayat-ayatnya
menghalangi kemajuan ilmu atau sebaliknya, serta adakah satu ayat Al-Qur`an yang
bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan. Kemajuan ilmu tidak hanya
dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur
terciptanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu itu.
Dalam hal ini para ulama` sering mengemukakan perintah Allah swt langsung maupun tidak
langsung kepada manusia untuk berfikir, merenung, menalar dan sebagainya, banyak sekali
seruan dalam Al-Qur`an kepada manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran
dikaitkan dengan peringatan, gugatan,atau perintah supaya ia berfikir, merenung dan menalar.

8
Al-Qur`an disampaikan oleh Rasulallah saw kepada manusia dengan penuh amanat,
tidak sedikitpun ditambah ataupun dikurangi. Selanjutnya, manusialah hendaknya yang
berusaha memahaminya, menerimanya dan kemudian mengamalkannya.
Sering kali manusia menemui kesulitan dalam memahaminya,dan ini dialami oleh
para sahabat sebagai generasi pertama penerima Al-Qur`an. Karenanya mereka meminta
penjelasan kepada Rasulallah saw, yang memang diberi otoritas untuk itu.
Allah swt menyatakan otoritas dimaksud dalam firman Allah swt di bawah ini:

َ‫اِس َما نُ ِز َل إِلَ ْي ِه ْم َولَعَلا ُه ْم يَتَُفَ اك ُرون‬ ِ َ‫الزب ُِر ۗ َوأَ ْنزَ ْلنَا إِلَيْك‬
ِ ‫الِذ ْك َر ِلتُبَيِنَ ِللنا‬ ِ ‫بِ ْالبَيِنَا‬
ُّ ‫ت َو‬

“dan Kami turunkan kepadamu al-Dzikri (Al Quran), agar kamu menerangkan pada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir (Q. S. An-
Nahl, 44).”
Penjelasan itu disebut al-Sunnah yang secara bahasa al-Thariqoh yang artinya jalan,
adapun hubungannya dengan Rasulullah saw berarti perkataan, perbuatan, atau ketetapannya
Para ulama meyatakan bahwa kedudukan Sunnah terhadap Al-Qur`an adalah sebagai
penjelas. Bahkan Umar bin al-Khaththab mengingatkan bahwa Sunnah merupakan penjelasan
yang paling baik. Ia berkata “ Akan datang suatu kaum yang membantahmu dengan hal-hal
yang subhat di dalam Al-Qur`an. Maka hadapilah mereka dengan berpegang kepada Sunnah,
karena orang-orang yang bergelut dengan sunah lebih tahu tentang kitab Allah swt.
Menurut Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan dalam lapangan pendidikan
sunnah mempunyai dua faedah:
1. Menjelaskan sistem pendidikan Islam sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur`an dan
menerangkan hal-hal rinci yang tidak terdapat di dalamnya
2. Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat di praktikkan.
Tidak diragukan lagi, Al Qur’an sebagai dasar pertama, di dalamnya berisi firman-
firman Allah swt yang disampaikan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.
Kebenarannya tidak dapat diragukan lagi, terutama sebagai petunjuk bagi orang yang
bertaqwa. Al Qur’an di dalamnya terkandung ajaran pokok yang prinsip, yaitu menyangkut
bidang aqidah yang harus diyakini dan menyangkut dengan amal yang disebut syari’ah.
Di dalam Al Qur’an banyak dijelaskan ajaran-ajaran yang berkenaan dengan kegiatan
atau usaha pendidikan ini. Sebagai contoh dapat dibaca kisah Luqman mengajari anaknya
dalam surat AL Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19. Dalam ayat tersebut terdapat 5 Asas
pendidikan yaitu yang berkenaan dengan :

9
a. Asas Pendidikan Tahuhid
b. Asas Pendidikan akhlaq kepada orang tua dan masyarakat
c. Asas Pendidikan amar ma’ruf nahi munkar
d. Asas Pendidikan kesabaran dan ketabahan
e. Asas Pendidikan sosial kemasyarakatan (tidak boleh sombong)

Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk


manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah. Menurut Zakiah Daradjat,Ilmu
Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara,2008,hal.20 Pendidikan sangat penting karena ia ikut
menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun
masyarakat. Didalam Al-Qur’an terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan
dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri. Sekedar contoh, misalnya mengenai
proses pembentukan manusia untuk Fakultas Kedokteran yang terjemahannya( lebih kurang)
sebagai berikut,”Dialah (Allah) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari mani yang
menjadi segumpal darah. Kemudian Dialah yang mengeluarkan kamu ( dari rahim wanita )
menjadi bayi sehingga kamu dewasa dan menjadi tua…” (QS. Al Mukmin (40) kalimat
pertama ayat 67 ). Dan, kalau manusia ciptakan Allah itu sakit, Allah lah yang
menyembuhkannya, demikian maksud surat asy-Syu’ara (26):80.
Untuk disiplin Fakultas Hukum, ada ayat yang merupakan benih atau prinsip ilmu
hokum yang terjemahnya (lebih kurang) sebagai berikut,” Hai orang-orang yang beriman,
jadilah kamu (menjadi) orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi (dalam
menegakkan keadilan) karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak dan kaum
kerabatmu…” (QS.Surat an-Nisa’(4) kalimat pertama surat 135).
Dalam A-Qur’an banyak ditemukan dorongan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi demi kesejahteraan umat manusia. Bahkan, A-Qur’an yang pertama turun pun
mengisyaratkan pentingnya strategi dalam mencari ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
cara membaca alam ciptaan Allah. Dorongan untuk menguasai iptek, antara lain disebutkan
dalam ayat-ayat berikut:
ِ ‫أَِفَ َم ْن َي ْعلَ ُم أَنا َما أ ُ ْن ِز َل ِإلَيْكَ ِم ْن َر ِبكَ ْال َح ُّق َك َم ْن ه َُو أ َ ْع َم ٰى ۚ ِإنا َما َيتَِذَ اك ُر أُولُو ْاْل َ ْل َبا‬
‫ب‬

“Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu
adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal yang dapat
mengambil pelajaran. (QS. Ar-Ra’d/13:19). Dalam Firman Allah yang lain yaitu dalam QS.
Az-Zumar/39:9 yang artinya: “…katakanlah, ‘Apakah sama orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat

10
menerima pelajaran. Al Quran banyak menghimbau manusia untuk menggali dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain kedua ayat diatas masih banyak lagi
dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang diisyaratkan A-Qur’an seperti dalam
kedokteran, farmasi, pertanian, atau astronomi yang bermanfaat bagi kajuan dan
kesejahteraan umat manusia.
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa dalam pendidikan Islam harus mengunakan
Al Qur’an sebagai sumber utama dalam merumuskan beberapa teori tentang pendidikan
Islam. Atau dengan kata lain , pendidikan Islam harus berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an yang
penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perkembangan zaman.

C. Dasar-Dasar Pendidikan Islam menurut As-Sunah/Al-Hadits


Hadits adalah sumber kedua agama dan ajaran Islam. Apa yang disebutkan dalam Al-
Qur’an dijelaskan atau dirinci lebih lanjut oleh Rasulullah dengan sunah beliau. Karena itu,
sunah Rasul yang kini terdapat dalam Al-Hadits merupakan penafsiran serta penjelasan
otentik (sah,dapat dipercaya sepenuhnya) Al Quran.
Di dalam As Sunnah juga berisi ajaran tentang aqidah dan akhlak seperti Al Qur’an
yang berkaitan dengan masalah pendidikan. As Sunnah berisi petunjuk (tuntunan) untuk
kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat manusia
seutuhnya. Dan yang lebih penting lagi dalam As Sunnah bahwa dalamnya terdapat cerminan
tingkah laku dan kepribadian Rasulullah saw yang merupakan tahuladan dan edukatif bagi
manusia.[7]
Ada tiga peranan al-Hadits disamping A-Qur’an sebagai sumber agama dan ajaran
Islam. Pertama, menegaskan lebih lanjut ketentuan yang terdapat di dalam A-Qur’an.
Misalnya, mengenai shalat. Di dalam A-Qur’an ada ketentuan mengenai shalat.ketentuan itu
ditegaskan lagi pelaksanaannya. Contoh lain mengenai saum atau puasa selama bulan
Ramadhan. Di dalam A-Qur’an terdapat ayat mengenai puasa Ramadhan, tapi
pelaksanaannya ditegaskan dan dikembangkan lebih lanjut oleh Nabi melalui sunnah beliau.
Demikian juga halnya dengan zakat dan haji. Mengenai zakat dan haji ketentunnya ada di
dalam A-Qur’an, namun untuk dapat di laksanakan di kehidupan sehari-hari ketentuan itu
ditambah dalam arti dikembangkan oleh Nabi. Dengan demikian ajaran yang telah ada dalam
A-Qur’an , namun perlu ditegaskan lebih lanjut oleh Nabi.
Kedua, sebagai penjelasan isi A-Qur’an. Dengan mengikuti contoh diatas, misalnya
mengenai shalat. Di dalam A-Qur’an Allah memerintahkan manusia mendirikan
shalat.namun, di dalam kitab suci itu tidak dijelaskan banyaknya rakaat,cara,rukun dan syarat

11
mendirikan salat. Nabilah yang menyebut sambil mencontoh jumlah rakaat setiap
salat,cara,rukun dan syarat mendirikan salat. Demikian juga halnya dengan saum atau puasa
dan haji. Perintah meleksanakannya terdapat dalam A-Qur’an, tetapi tidak dijelaskan secara
rinci. Nabilah yang menjelaskannya dengan perkataan dan perbuatan beliau.dalam
menunaikan ibadah haji misalnya,Rasulullah mengatakan, “Ambillah
manasik hajimu dari manasik hajiku.” Maksudnya, ikutilah tatacara yang dilakukan Nabi
waktu melakukan ibadah haji.
Ketiga, menambahkan atau mengembangkan sesuatu yang tidak ada atau samar-samar
ketentuannya di dalam A-Qur’an. Contohnya adalah larangan Nabi mempermadu (mengawini
sekaligus atau mengawini pada waktu bersamaan) seorang perempuan dengan bibinya.
Larangan ini tidak terdapat dalam larangan- larangan perkawinan dalam surat an-Nisa’(4):23.
Namun, kalau dilihat hikmah dari larangan itu jelas bahwa larangan tersebut mencegah rusak
atau putus hubungan silaturrahim antara kedua kerabat dekat yang tidak disukai oleh agama
Islam. Dengan larangan itu, Nabi seakan-akan mengisi ”kekosongaan” mengenai larangan
perkawinan. Namun kalau direnungkan lebih lanjut,iilatnya (dasar atau motifnya) sama
dengan larangan mempermadukan dua orang bersaudara kandung,yang terdapat dalam surat
23 surat an-Nisa’ untuk mencegah rusak bahkan putusnya hubungan silaturrahim antara dua
kerabat.[8],
Nabi mengajarkan dan mempraktekkan sikap dan amal baik kepada istri dan
sahabtnya, dan seterusnya mereka mempraktekan pula seperti yang dipraktekan Nabi dan
mengajarkan pula kepada orang lain, perkataan atau perbuatan dalam ketetapan Nabi.

Assunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasulullah swt yang


dimaksud dengan pengakuan itu ialah kejadian/perbuatan orang lain yang diketahui
Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian/perbuatan itu berjalan, sunnah yang berisi
Aqidah dan syari’ah, sunnah berisi petunjuk (pedoman) untuk kemaslahatan hidup manusia
dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya/muslim yang
bertaqwa, untuk itu Rasulullah Allah menjadi guru dan pendidik utama, beliau sendiri
mendidik semua itu adalah pendidikan dalam rangka membentuk manusia muslim dan
msyarakat Islam.Oleh karena itu sunnah merupakan landasan ke dua bagi cara Pembina
pribadi manusia muslim, sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang,
itulah sebabnya mengapa ijtihad perlu di tingkatkan dalam memahaminya termsuk sunnah
yang berkaitan dengan pendidikan.

12
Assunnah sebagai dasar Islam tidak terlepas dari fungsi as-sunnah itu sendiri terhadap
al-qur’an, fungsi as-sunnah terhadap al-qur’an adalah sangat penting, ada beberapa
pembenaran yang mendesak untuk segera di tampilkan, yaitu as-sunnah menerangkan ayat-
ayat al-qur’an yang bersifat umum, maka dengan sendirinya yang menerangkan itu
terkemudian dari yang diterangkan, assunnah mengkhidmati al-qur’an, memang assunnah
menjelaskan mujmal al-qur’an menerangkan muskilnya memanjangkan keringkasannya.

Prinsip menjadikan al-qur’an dan hadits sebagas dasar pendidikan Islam bukan hanya
di pandang sebagai kebenaran keyakinan semata, lebih jauh kebenaran itu juga sejalan
dengan kebenaran yang dapat diterima oleh akal yang sehat dan bukti syarah. Dengan
demikian barangkali wajar jika kebenran itu kita kembalikan kepada pembuktian kebenaran
pernyataan Allah swt dalam al-qur’an, kebenaran yang dikandungnya adalah kebenaran yang
hakiki, bukan kebenaran spekulatif dan relativ, hal ini sesuai dengan jaminan Allah.

Hadits Rasulullah SAW mengutus sahabat Mu’adz ra. untuk menjadi pemimimpin
agama di negeri yaman, beliau di tanya oleh Rasulullahulluh SAW.

Tanya Nabi dengan apa engkau menghukum jawab Muadz dengan kitab Alloh, Nabi
berkata jikalau engkau tidak dapati jawab Mu’dz saya berijtihad dengan pikiran saya.

Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah mengirim surat kepada Syuraih, ketika ia
menjabat qodhi.

datang kepada engkau suatu urusan, maka hukumkanlah dengan apa yang ada
didalam kitab Allah, jika datang kepada engkau barang apa yang tidak didalam kitab Allah,
maka hukumkanlah dengan apa yang pernah di hukumkan oleh Rasulullah.

Oleh sebab itu maka andaikata ada sebagai ummat yang mengaku sebagai umat Islam
berkata/berpendapat, bahwa tentang urusan agama cukup mengikuti al-qur’an saya, tidak
asah dengan assunnah, maka mereka itu adalah sesat dari jalan yang benar dan sudah tidak
mengikuti pimpinan al-qur’an, karena al-qur’an telah memerintahkan dengan jelas dalam
beberapa ayatnya bahwa umat Islam harus mentaati (mengikuti pimpinan) Rasul, demikian
maka sahabat Abdullah bin Umar ra pernah berkata:

Barang siapa menyalahi akan sunnnah, maka kufurlah ia.

13
Jelaslah bahwa kewajiban umat Islam terhadap sunnah Rasulullah ialah menerima dan
mencontohnya.

Kata Imam Asy-Syathibi, Derajat/tingkatan sunnah itu ada di bawah/dibelakang al-


qur’an.

Al-qur’an di yakini kebenaran dengan tegas, sedang as-sunnah masih di sangka


kebenarannya, jelasnya al-qur’an itu dari segi ketetapan dan kenyataannya dari sangka,
kecuali yang bertingkatan mutawatir oleh sebab itu yang maqthu (diyakini dengan tegas)
harus didahulukan dari pada yang madrun (disangka) dengan demikian, maka wajiblah
mendahulukan al-qur’an daripada as-sunnah.

As-sunnah itu adakalanya untuk menjadi keterangan bagi al-qur’an dan kalanya untuk
menambah keterangan saja, maka dengan sendirinya as-sunnah terkemudian al-qur’an, yakni
yang menerangkan itu terkemudian dari yang diterangkan maka jika as-sunnah terjadi
keterangan tentu saja ia menjadi yang kedua sesudah yang diterangkan, maka Al-Qur’an
harus di dahulukan.

“Telah disampaikan kepada kami oleh Nasr bin ‘Aly al-Jahd}amy, Telah disampaikan
kepada kami oleh ‘Abd Allah bin Dawud, dari ‘Asim bin Raja’ bin Haywah, dari Dawud bin
Jamil, dari Kathir bin Qays, dia berkata suatu ketika aku duduk bersama Abu al-Darda’ di
Masjid Damaskus, Sesorang datang kepadanya dan berkata: ‘wahai Abu al-Darda’ aku
datang kepadamu dari Madinah kota Nabi Saw untuk (mendaptkan) sebuah Hadist yang
kamu dengarkan dari Rasulullah Saw’, Abu al-Darada’ berkata : Jadi kamu datang bukan
untuk berdagang? Orang itu menjawab: Bukan, Abu al-Darda berkata: dan bukan pula
selain itu ?, orang itu menjawab: bukan, Abu al-Darda’ berkata: Sesungguhnya kau pernah
mendengar Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang meniti jalan untuk mendapatkan
ilmu, Allah akan memudahan baginya jalan menuju surga.”

Hadist yang dikaji dalam makalah ini merupakan salah satu daiantara sekian banyak
Hadist Rasulullah Saw. baik dalam bentuk qawliyyah,fi’liyyah, maupun taqririyyah dimana
beliau Saw sebagai seorang yangummy (buta baca tulis) memiliki perhatian yang sangat besar
terhadap ilmu dan pendidikan. Beliau mengangkat derajat dan sangat memuliakan para
pemilik ilmu, kemudian beliau menerapkan nilai-nilai etika yang harus dipedomani oleh
orang yang berilmu. Ini menunjukkan begaimana sunnah Rasulullah Saw. telah terlebih
dahulu menciptakan kaidah paling akurat dan nilai-nilai pendidikan paling agung, yang

14
kebanyakan manusia –bahkan dari alangan kaum muslimin sendiri- beranggapan bahwa nilai-
nilai pendidikan itu adalah hasil ciptaan alam modern -yang dalam istilah Nashr Hamid Abu
Zaid "intaj al-tsaqafy"- yang tidak diketahui kecuali oleh Barat.

Pada hadis tersebut terkandung anjuran dan pahala yang sangat besar bagi mereka
yang meniti jalan untuk mencari ilmu melalui berbagai media pendidikan, bahkan Rasulullah
Saw memberikan garansi kemudahan mencapai surga bagi mereka yang meniti jalan untuk
mencari ilmu.

ِ ‫طا ِئُفَةٌ ِل َيتَُفَ اق ُهوا ِِفي الد‬


‫ِين َو ِليُ ْنِذ ُِروا قَ ْو َم ُه ْم ِإذَا‬ َ ‫۞ َو َما َكانَ ْال ُمؤْ ِمنُونَ ِل َي ْن ُِف ُروا كَاِفاةً ۚ ِفَلَ ْو ََّل نَُفَ َر ِم ْن ُك ِل ِِف ْرقَ ٍة ِم ْن ُه ْم‬
َ‫َر َجعُوا إِلَ ْي ِه ْم لَعَلا ُه ْم يَحْ ِذَ ُرون‬

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-
Taubah Ayat 122)

Pada ayat di atas Allah Swt memberikan penjelasan secara eksplisit tentang tujuan
pendidikan Islam yakni agar dapat mengajarkan kepada kelompok masyarakat tempat mereka
hidup dan bersosialisasi, nilai tujuan tersebut agar masyarakat dapat menjaga diri mereka
baik secara individual maupun kelompok.
Tujuan pendidikan secara filosofis berdasarkan pemahaman dari ayat di atas maupun
hadis Rasulullah Saw yang sedang dikaji memberikan penjelaskan bahwa manusia sejatinya
adalah makhluk yang disempurnakan dengan akal oleh Allah Swt yang merupakan potensi
dasar manusia, dengan potensi dasar tersebut manusia diharuskan untuk menuntut ilmu
melalui proses pendidikan. Oleh karena itu tujuan meninti jalan ilmu pada hakikatnya adalah
agar manusia dapat lebih mengenal dirinya dalam artian memanusiakan manusia, agar ia
benar-benar mampu menjadi khalifah di muka bumi.
Nilai penting lainnya dari memahami hadis di atas adalah bahwa dalam meniti jalan
menuntut ilmu terdapat proses pendewasaan jasmani dan rohani. yakni bahwa selain tujuan
filosofis terdapat pula tujuan insidental yaitu meningkatkan kecerdasan motorik, emosional,
intelektual dan spiritual, sebab dalam meniti jalan menuntut ilmu dibutuhkan ketenangan dan
kesabaran dalam menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan dalam belajar, Sebab kesuksesan
seorang penuntut ilmu terletak dalam kesabarannya menghadapi berbagai bentuk kesulitan,
kesusahan, dan keletihan dalam mengarungi proses pendidikan. Seluruh bentuk kesulitan

15
yang dihadapi oleh penuntut ilmu merupakan proses pendewasaan jasmani dan rohani.
Dalam al-Qur'an Allah Swt mengisahkan tentang perjalanan Nabi Musa –‘alaihi al-salam-
bersama dengan pembantunya untuk mendapatkan ilmu dari Nabi Khidhr –‘alaihi al-salam-
sebagaimana yang Allah firmankan: “Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada muridnya:
"Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau Aku
akan berjalan sampai bertahun-tahun". Pada ayat di atas menjelaskan betapa seorang Nabi
Allah Swt Musa –‘alihi al-salam- yang bergelar kalim al-rahman (teman dialog bagi Allah
Swt) terus berusaha meniti jalan dengan kesabaran menuju ilmu hingga sampai ke tempat
pendidikan dimana beliau akan mendapatkan proses pendidikan lanjutan dari Allah Swt.
melalui gurunya yang bernama Khidhr

Adapun tentang gambaran dimudahkannya seorang peniti jalan dalam menuntut ilmu
menuju ke surga, al-Nawawy menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan hal itu adalah
hendaknya seseorang menyibukkan dirinya menuntut ilmu-ilmu yang disyari’atkan (al-‘ulum
al-syar’iyyah) dengan syarat dia menuntut ilmu hanya mengharap rida Allah Swt, para ulama
mempersyaratkan adanya niat yang ikhlas karena Allah Swt dalam menempuh proses
pendidikan yang melelahkan sebab mayortitas manusia meremehkan keikhlasan dalam
belajar utamanya para pemula. Sebab kemudahan meniti jalan ke surga bagi para peniti jalan
menuntut ilmu diukur berdasarkan kadar keihlasannya dalam menjalani proses pendidikan
yang melelahkan tersebut.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa makna dari kata thariqan dan ‘ilmandalam
hadis tersebut adalah bahwa setiap manusia hendaknya memanfaatkan seluruh media
pendidikan yang dapat membantu untuk mendapatkan ilmu utamanya ilmu agama secara
bertahap dan berkesinambungan dengan tetap mengedepankan keikhlasan dan kesabaran
dalam meniti proses pendidikan baik formal maupun non-formal, dan kemudahan meniti
jalan menuju surga dapat dipahami bahwa ilmu dapat membantu memberika kemudahan
dalam mengamalkan amal-amal saleh yang dapat dengan mudah pula menghantarkan menuju
surga Allah Swt. “Menceritakan kepada kami Al-Qa’nabi dari Malik dari Abi Zinad dari Al–
A’raj dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw bersabda : “Setiap bayi itu dilahirkan atas
fitroh maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni sebagaimana unta
yang melahirkan dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat dari yang cacat?”. Para
Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan mengenai orang yang mati
masih kecil?” Nabi menjawab: “Allah lah yang lebih tahu tentang apa yang ia
kerjakan”. (H.R. Abu Dawud)

16
Setiap anak dilahirkan atas fitrohnya yaitu suci tanpa dosa, dan apabila anak tersebut
menjadi yahudi atau nasrani, dapat dipastikan itu adalah dari orang tuanya. Orang tua harus
mengenalkan anaknya tentang sesuatu hal yang baik yang harus dikerjakan dan mana yang
buruk yang harus ditinggalkan. Sehingga anak itu bisa tumbuh berkembang dalam
pedndidikan yang baik dan benar.
Rasulullah Bersabda:
“Hamid bin Abdirrahman berkata, aku mendengar Muawwiyah berkata, aku mendengar
Rasulullah saw Bersabda:” Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang yang
baik, maka Allah akan memberikan kepadanya pengetahuan dalam Agama, sesungguhnya
aku adalah orang yang membagi sementara Allah adalah sang pemberi, umat ini tidak akan
pernah berhenti menegakkan perintah Allah, dan tidak akan medhoroti mereka, orang-orang
yang menentangnya sampai datang hari kiamat.” (HR. Bukhori, Bab Siapapun yang
dikehendaki Allah menjadi baik, maka Allah pahamkan ia dalam masalah agama).
Hadis di atas menerangkan kepada kita bahwa kehendak Allah untuk menjadikan kita
baik,itu digantungkan dengan kepahaman kita menyangkut agama. Ilmu agama adalah ilmu
yang berkaitan dengan akhlak, maka dengan semakin tinggi pemahaman seseorang terhadap
masalah agama maka akan semakin baik pula akhlak dan perilakunya yang puncaknya bisa
mengantarkannya menjadi orang yang takut kepada Allah semata. Kalau dewasa ini kita
sering melihat seseorang yang dalam pengetahuan agamanya namun dia justeru makin
tenggelam dalam kesesatan, itu dikarenakan ia salah dalam mengaplikasikan ilmunya. Dia
hanya pandai beretorika namun hampa dari pengamalan. Imam Ali Karramallahu Wajhah
pernah berkata,” Bahwa yang dikatakan orang Alim bukanlah orang yang banyak ilmunya,
namun yang dinamakan orang alim adalah orang yang bias mengamalkan ilmunya.”
Rasulullah memberikan peringatan kepada kita dengan sabdanya “ barangsiapa makin tambah
ilmunya namun tidak bertambah hidayahnya, maka ia semakin bertambah jauh dari Allah
swt.” Bahkan Allah dengan tegas mengatakan bahwa yang disebut ulama hanyalah orang
yang takut kepadaNya semata.” Innama Yakhsyallaha min ibaadihil ulama”
Pernyataan firman Allah “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah: 2) adalah suatu kebenaran yang hakiki,
bukan kebenaran spekulatif, lestari dan tidak bersifat tentatif (sementara). Kebenaran yang
seperti itu pula yang dijadikan dasar pemikiran dalam membina sistem pendidikan Islam.
Berbeda dengan kebenaran yang dibuat oleh hasil pemikiran manusia, karena bagaimanapun
kebenaran hasil pemikiran manusia terbatas oleh ruang dan waktu selain itu hasil pemikiran
tersebut mengandung muatan subyektif sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Adanya

17
kedua faktor tersebut mendorong hasil pemikiran para ahli pendidikan untuk melahirkan
konsep pendidikan yang sesuai dengan pandangan hidupnya masing-masing.

Dasar Yuridis Dasar ideal pendidikan Islam adalah pancasila yaitu sila pertama yang
berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam mewujudkan sila pertama atau yang lain kita
membutuhkan pendidikan Islam, karena dengan pendidikan Islamlah kita dapat menjalankan
syari’at dengan baik dan benar. 3) Dasar konstitusional (UUD 1945) Dasar konstitusional
adalah dasar yang bersumber dari perundangundangan yang berlaku, dasar pendidikan Islam
di sini adalah pasal 29 ayat 1 dan 2 yaitu: Ayat 1: “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang
Maha Esa”. Ayat 2: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agama masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu”. Pendidikan
Islam merupakan pengembangan pikiran, penataan perilaku, pengaturan emosional,
hubungan peranan manusia dengan dunia ini, serta bagaimana manusia mampu
memanfaatkan dunia sehingga mampu meraih tujuan kehidupan sekaligus mengupayakan
perwujudannya. Seluruh ide tersebut telah tergambar secara utuh dalam dalam suatu konsep
dasar yang kokoh. Islam pun telah menawarkan konsep akidah yang wajib diimani agar
dalam diri manusia tertanam perasaan yang mendorongnya pada perilaku normatif yang
mengacu pada syariat Islam. Perilaku yang dimaksud adalah penghambaan manusia
berdasarkan pemahaman atas tujuan penciptaan manusia itu. Aspek keimanan dan keyakinan
menjadi landasan aqidah yang mengakar dan integral serta menjadi motivator yang
menggugah manusia untuk berpandangan ke depan serta optimis, sungguh-sungguh dan
kesadaran. Sudah barang tentu kesemuanya ini berdasarkan pada suatu sumber pokok yaitu
Al-Qur’an dan Hadis.1 Pada Bab ini, akan dipaparkan pengertian dan dasar-dasar pendidikan
Islam.

Pengertian Dasar Ilmu Pendidikan Islam Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
“dasar” berarti: 1. alas; fundamen 2. pokok atau pangkal suatu pendapat (ajaran, aturan); asas
3. lapisan yang paling bawah.2 Oleh karena itu, dasar adalah landasan untuk berdirinya
sesuatu. Fungsi dasar adalah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus
sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu. Kata “ilmu” secara etimologi berasal dari bahasa
Arab “„ilmu” yang berarti “idrak al- syai” (pengetahuan terhadap sesuatu). Orang yang tahu
disebut “„alim”, sedangkan orang yang mencari tahu (ilmu) disebut “Muta‟allim”. Jadi ilmu
berarti “pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-
metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang

18
(pengetahuan) itu.”3 Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” yang telah mendapat prefiks
“pe” dan sufiks“an” mengandung arti “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan.”4 Sedangkan kata “Islam” berasal dari bahasa Arab yang berarti selamat (jalannya
orang-orang yang diberi petunjuk). Al-Jurjani mendefinisikan Islam sebagai “rasa
ketundukan dan kepatuhan terhadap semua ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad
SAW.”5 Islam adalah agama yang paling benar di sisi Allah, yang berlandaskan Al-Qur’an
dan Hadis. Dengan demikian, dasar pendidikan Islam berarti landasan yang digunakan dalam
melakukan proses pendewasaan anak didik; baik pada aspek kognitif, afektif, dan
psikomotoriknya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis.

Dasar Ilmu Pendidikan Islam 1. Dasar Ideal Berbicara tentang dasar ilmu pendidikan Islam
berarti juga berbicara tentang kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena semua aspek
kehidupan yang terkandung di dalam ajaran Islam berasaskan kepada kedua sumber pokok,
yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Kedua dasar ini kemudian dikembangkan sesuai dengan
pemahaman para ulama, baik dalam bentuk qiyas syar’i, ijma yang diakui, ijtihad, dan tafsir
yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu; tentang jagat raya,
manusia, masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan, dan akhlak dengan merujuk
kepada sumber asal (Al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber utama.6 Alasan bahwa
pendidikan Islam bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis adalah berdasarkan firman Allah:
Artinya: “…Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maaidah: 44) Artinya: “…Dan barang
siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia akan bahagia sebenar-benar
bahagia.” (QS. Al-Ahzab: 71) Ayat pertama tegas mengatakan bahwa dasar hukum yang
dapat dijadikan sebagai sumber rujukan dalam mengambil segala kebijakan, termasuk bidang
pendidikan adalah Al-Qur’an. Sementara ayat kedua menjelaskan bahwa percaya dan
mematuhi Allah tidaklah cukup tanpa beriman dan mematuhi Rasul-Nya sebagai penjelas
dari segala ajaran yang diwahyukan Allah. Oleh karena itu, apabila seseorang mematuhi
Allah dan Sunah Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kebahagiaan hidup, baik di dunia
maupun di akhirat. Sebaliknya, apabila manusia tidak mengatur seluruh aspek kehidupannya
dengan berlandaskan kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul, maka kehidupan mereka akan
menjadi sempit (sengsara) dan dikuasai oleh setan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-
Nya: Artinya: “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka adalah baginya
kehidupan yang sempit.” (QS Thaha: 124) Said Ismail Ali, sebagaimana dikutip oleh Hasan

19
Langgulung menyebutkan bahwa dasar ideal pendidikan Islam terdiri dari enam macam,
yaitu: Al-Qur’an, Hadis, kata-kata sahabat, kemaslahatan umat, nilai-nilai dan adat kebiasaan
masyarakat, serta hasil pemikiran para intelektual muslim.7 Berikut ini akan dijelaskan dasar-
dasar yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

a) Al-Qur’an Bagi setiap umat yang memeluk Islam sebagai agamanya dianugerahkan
oleh Allah sebuah kitab suci Al-Qur’an yang komprehensif menjelaskan pokok-
pokok ajaran yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu,
sudah barang tentu dasar pendidikan sebagai bagian dari aspek kehidupan manusia
adalah bersumber kepada Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik
pertama pada masa awal pertumbuhan Islam telah menjadikan Al-Qur’an sebagai
dasar pendidikan Islam di samping Sunnah beliau sendiri. Kedudukan Al- Qur’an
sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat lain, di samping
ayat yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu firman Allah: Artinya: “Dan Kami
tidak menurunkan kepadamu (Al-Qur‟an) ini melainkan agar kamu dapat
menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman.” (QS. Al-Nahl: 64) Sehubungan dengan masalah ini,
Muhammad Fadhil Al-Jamali menyatakan sebagai berikut: “Pada hakikatnya Al-
Qur’an itu merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia,
terutama bidang kerohanian. Al-Qur’an pada umumnya merupakan kitab
pendidikan kemasyarakatan, moral (akhlak), dan spiritual (kerohanian).” Begitu
pula halnya, Al-Nadwi, sebagaimana dikutip Ramayulis, mempertegas dengan
menyatakan bahwa: “Pendidikan dan pengajaran umat Islam itu haruslah
bersumber kepada aqidah Islamiyah. Sekiranya pendidikan umat Islam itu tidak
didasarkan kepada aqidah yang bersumberkan Al-Qur’an dan Hadis, maka
pendidikan itu bukanlah pendidikan Islam, tetapi pendidikan asing.” Islam
memiliki objek keyakinan yang jelas karena disajikan secara memuaskan lewat Al-
Qur’an yang dengannya manusia akan menyaksikan realitas sebagai bahan
perenungan serta mengantarkan manusia pada pengetahuan tentang kekuasaan dan
keesaan Allah sesuai dengan tabiat psikologis dan fitrah keagamaan manusia. Jika
seseorang merenungkan firman Allah, maka ia akan menemukan bahwa Al-Qur’an
menjadikan dirinya sebagai bahan renungan sehingga ia mampu melihat bagaimana
Allah menciptakan dirinya dari segumpal darah, mengajarinya membaca, menulis,
atau mendayagunakan alam semesta dan dapat dididik. Kelebihan Al-Qur’an di

20
antaranya, terletak pada metode yang menakjubkan dan unik sehingga dalam
konsep pendidikan yang terkandung di dalamnya, Al-Qur’an mampu menciptakan
individu yang beriman dan senantiasa mengesakan Allah serta mengimani hari
akhir. Al-Qur’an mengawali konsep pendidikannya dari hal yang sifatnya konkret,
seperti hujan, angin, tumbuh-tumbuhan, guntur atau kilat menuju hal yang abstrak,
seperti keberadaan, kebesaran, kekuasaan dan berbagai sifat kesempurnaan Allah
swt.
b) Sunnah Setelah Al-Qur’an, pendidikan Islam menjadikan Sunnah Rasulullah SAW
sebagai dasar dan sumber kurikulumnya. Secara harfiah, Sunnah berarti jalan,
metode dan program. Sedangkan secara istilah, sunah adalah sejumlah perkara yang
dijelaskan melalui sanad yang sahih, baik itu berupa perkataan, perbuatan,
peninggalan, sifat, pengakuan, larangan, hal yang disukai, dan dibenci, peperangan,
tindak tanduk dan seluruh aktivitas kehidupan Nabi SAW. Pada hakikatnya,
keberadaan Sunnah ditujukan untuk mewujudkan dua sasaran, yaitu: 1.
Menjelaskan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an. Tujuan ini diisyaratkan Allah
dalam firman-Nya: Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur‟an agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka memikirkannya.” (QS. Al-Nahl: 44) 2. Menjelaskan syariat dan
pola perilaku, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah: Artinya: “Dialah yang
mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya (Al-Qur‟an), menyucikan mereka, dan
mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah:2) Dalam dunia
pendidikan Sunnah mempunyai dua manfaat pokok; pertama, Sunnah mampu
menjelaskan konsep dan kesempurnaan pendidikan Islam sesuai dengan konsep Al-
Qur’an serta lebih memerinci penjelasan dalam Al-Qur’an. Kedua, Sunnah dapat
menjadi contoh yang tepat dalam penentuan metode pendidikan. Misalnya, kita
dapat menjadikan kehidupan Rasulullah SAW dengan para sahabat maupun anak-
anaknya sebagai sarana penanaman keimanan. Oleh Robert L. Gullick dalam
bukunya “Muhammad The Educational” sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin
Rahmat, mengatakan: Muhammad betul-betul seorang pendidik yang membimbing
manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar serta melahirkan
ketertiban dan kestabilan yang mendorong perkembangan budaya Islam suatu
revolusi, sesuatu yang memiliki tempo yang tidak tertandingi dan gairah yang
menantang. Dari sudut pragmatis, seorang yang mengangkat prilaku manusia

21
adalah seorang pangeran di antara pendidik.11 Rasulullah adalah sosok pendidik
yang agung dan pemilik metode pendidikan yang unik. Beliau sangat
memperhatikan manusia sesuai dengan kebutuhan, karakteristik dan kemampuan
akalnya, terutama jika beliau berbicara dengan anak-anak.
c) Perkataan Para Sahabat (Qaul al-Shahabah) Pada masa Khulafa‟ al-Rasyidin,
sumber pendidikan dalam Islam sudah mengalami perkembangan. Selain Al-
Qur’an dan Sunnah juga perkataan, sikap, dan perbuatan para sahabat. Perkataan
mereka dapat dipegangi karena Allah sendiri dalam Al-Qur’an memberi
pernyataan: Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha
kepada Allah dan Allah menjadikan bagi mereka surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 100) Di antara perkataan sahabat yang
dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan Islam adalah sebagai berikut: 1. Perkataan
Abu Bakar setelah dibai’at menjadi khalifah, ia mengucapkan pidato sebagai
berikut: “Hai manusia saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal
aku bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Jika aku menjalankan tugasku
dengan baik, ikutilah aku. Tapi jika aku berbuat salah, betulkanlah aku, orang yang
kamu pandang kuat, aku pandang lemah sehingga aku dapat mengambil hak
darinya, sedangkan orang yang kamu pandang lemah, aku pandang kuat sehingga
aku dapat mengembalikan haknya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat
kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi jika aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-
Nya, kamu tidak perlu taat kepadaku.” Menurut pandangan Nazmi Luqa, ungkapan
Abu Bakar ini mengandung arti bahwa manusia harus mempunyai prinsip yang
sama di hadapan Khaliknya. Selama baik dan lurus, ia harus diikuti, tetapi
sebaliknya jika ia tidak baik dan lurus, manusia harus bertanggung jawab
memutuskannya. 2. Umar bin Khattab terkenal dengan sifat jujur, adil, dan cakap
serta berjiwa demokratis yang dapat dijadikan panutan masyarakat. Sifat-sifat Umar
disaksikan dan dirasakan sendiri oleh masyarakat pada masa itu. Sifat-sifat seperti
ini sangat perlu dimiliki oleh seseorang pendidik karena di dalamnya terkandung
nilai- nilai paedagogis yang tinggi dan teladan yang baik yang harus ditiru.
Muhammad Salih Samak, sebagaimana dikutip Ramayulis, menyatakan bahwa
contoh teladan yang baik dan cara guru memperbaiki pelajarannya, serta

22
kepercayaan yang penuh terhadap tugas, kerja, akhlak, dan agama adalah kesan
yang baik untuk sampai kepada mutlamat pendidikan agama.
d) Ijtihad Setelah jatuhnya kekhalifahan Ali bin Abi Thalib berakhirlah masa
pemerintahanKhulafa‟ al- Rasyidin dan digantikan oleh Dinasti Umayyah. Pada
masa ini Islam telah meluas sampai ke Afrika Utara bahkan ke Spanyol. Perluasan
daerah kekuasaan ini diikuti oleh ulama dan guru atau pendidik. Akibatnya terjadi
pula perluasan pusat-pusat pendidikan yang tersebar di kota-kota besar. Karena Al-
Qur’an dan Hadis banyak mengandung arti umum, maka para ahli hukum Islam,
menggunakan ijtihad untuk menetapkan hukum tersebut. Ijtihad ini terasa sekali
kebutuhannya setelah wafatnya Nabi SAW dan beranjaknya Islam mulai ke luar
tanah Arab. Para fuqaha mengartikan ijtihad dengan berfikir menggunakan seluruh
ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syari’ah Islam, dalam hal-hal yang belum
ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Hadis dengan syarat-syarat tertentu.
Ijtihad dapat dilakukan dengan Ijma’, Qiyas, Istihsan, dan lain-lain. Ijtihad di
bidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran Islam yang terdapat dalam
Al-Qur’an dan Hadis bersifat pokok-pokok dan prinsipnya saja. Bila ternyata ada
yang agak terinci, maka rinciannya itu merupakan contoh Islam dalam menerapkan
prinsip itu. Sejak diturunkan ajaran Islam sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW,
Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan
situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula.
e) Kemasyarakatan Masyarakat mempunyai andil yang sangat besar terhadap
pendidikan anak-anak. Masyarakat merupakan penyuruh kebaikan dan pelarang
kemungkaran, dan masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui
pengisolasian, pemboikotan, pemutus hubungan kemasyarakatan. Atas izin Allah,
Rasulullah SAW menjadikan masyarakat sebagai sarana membina umat Islam yang
tidak mau terlibat dalam peperangan. Beliau menyuruh para sahabat untuk
memutuskan hubungan dengan beberapa orang (tiga orang) yang tidak mau terlibat
dalam kegiatan keprajuritan. Pembinaan melalui tekanan masyarakat yang
tujuannya jelas untuk kebaikan, merupakan sarana yang paling efektif. Pendidikan
kemasyarakatan dapat dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena
bagaimanapun masyarakat muslim adalah masyarakat yang satu padu, atau dengan
kata lain pendidikan kemasyarakatan bertumpu pada landasan afeksi
kemasyarakatan, khususnya rasa saling mencintai. 2. Dasar Operasional Dasar
operasional adalah dasar yang mengatur secara langsung pelaksanaan pendidikan

23
agama di sekolah-sekolah. Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 pendidikan agama
mulai dimasukkan kedalam sekolah di Indonesia.

Dasar-dasar operasional juga mempunyai bermacam-macam bentuk yang akan


diuraikan sebagai berikut:

a. Dasar Historis Sejarah dianggap sebagai salah satu faktor budaya yang paling
penting yang telah dan tetap mempengaruhi filsafat pendidikan, baik dalam tujuan maupun
sistemnya pada masyarakat manapun juga. Kepribadian nasional, misalnya yang menjadi
dasar filsafat pendidikan di berbagai masyarakat haruslah berlaku jauh ke masa lampau,
walaupun sistem-sistemnya adalah hasil dari pemerintahan revolusioner, yang didirikannya
dengan sengaja untuk mengembangkan dan memperbaiki pola-pola warisan budaya dari umat
dan rakyat. Kandell sebagaimana dikutip Hasan Langgulung, berkata, bahwa pendidikan
perbandingan (yang menitikberatkan pada identitas nasional dalam sistem pendidikan) dan
sejarah pendidikan: “Berusaha menyingkap kekuatan-kekuatan dan faktor-faktor yang berdiri
di belakang sistem-sistem pendidikan di setiap masyarakat.” Oleh sebab itu: “Dapatlah
dianggap pendidikan perbandingan itu sebagai kelanjutan sejarah pendidikan sampai hari
ini.”16

b. Dasar Sosial Banyak aspek sosial yang mempengaruhi pendidikan, baik dari segi
konsep, teori, dan pelaksanaannya. Dimensi-dimensi sosial yang biasanya tercakup dalam
aspek sosial ini adalah fungsi-fungsi sosial yang dimainkan oleh pendidikan seperti
pewarisan budaya yang dominan pada kawasan-kawasan tertentu di suatu lembaga
pendidikan, seperti sekolah, faktor-faktor organisasi dari segi birokrasi, dan sistem
pendidikan sendiri. Dalam usaha kita untuk menganalisa masalah pendidikan dari segi sosial
kita dapat mengajukan soal- soal kepada empat aspek sosial pendidikan itu sekaligus atau kita
pusatkan pada salah satu aspek saja tetapi tidak mengabaikan aspek-aspek yang lain,
misalnya sejauhmana penerapan nilai-nilai Islam itu berkesan dalam menumbuhkan sifat-sifat
keberanian, patriotisme, kejujuran, dan lain-lain memperkuat pertahanan masyarakat.

c. Dasar Ekonomi Ekonomi dan pendidikan selalu bergandengan sejak zaman dahulu
kala. Ahli-ahli ekonomi sejak dahulu, begitu pula pencipta-pencipta sains telah mengakui
pentingnya peranan yang dimainkan oleh pendidikan dalam pertumbuhan pengetahuan
manusia belakangan ini untuk perkembangan ekonomi. Namun baru belakangan ini suatu
disiplin ilmu yang khusus untuk itu diciptakan. Dalam bidang ekonomi, yang sangat releven

24
dengan pendidikan biasanya adalah hal-hal yang berkenaan dengan investmen dan hasilnya.
Artinya kalau modal ditanam sekian, berapa banyak nanti keuntungan yang diharapkan
dari itu.18 Kalau dalam pendidikan Islam telah meletakkan dasar-dasar yang menjadi tapak
tempat berdirinya pendidikan Islam itu, maka juga dalam ekonomi Islam telah meletakkan
dasar-dasar pokok tempat ekonomi Islam itu berdiri.

d. Dasar Politik dan Administrasi Membicarakan soal politik dan administrasi dalam
pendidikan sama halnya membicarakan soal ideologi. Sebab tujuan politik adalah mencapai
tujuan ideologi di dalam negara dan masyarakat. Dengan kata lain, setiap politik
memperjuangkan suatu ideologi tertentu untuk dilaksanakan di masyarakat. Sedangkan
administrasi adalah salah satu alat, mungkin alat yang paling ampuh untuk mencapai tujuan
politik tersebut. Sepanjang sejarah Islam antara politik, administrasi, dan ideologi selalu
sejalan dan saling membantu satu sama lain menuju tujuan bersama. Sudah tentu dalam
perjalanannya selama 14 abad itu banyak masalah yang dilaluinya dan sempat
diselesaikannya dan ada yang tidak dapat diselesaikannya.

e. Dasar Psikologis Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu fungsi pendidikan
adalah pemindahan nilai-nilai, ilmu dan keterampilan dari generasi tua ke generasi muda
untuk melanjutkan dan memelihara identitas masyarakat tersebut. Dalam pemindahan nilai-
nilai, ilmu, dan keterampilan inilah psikologi memegang peranan yang sangat penting. Istilah
pemindahan yang digunakan para penulis lain, melibatkan dua aspek dalam psikologi yang
dapat perhatian besar dan mendorong begitu banyak penyelidikan. Kedua aspek itu adalah
mengajar (teaching) dan belajar (learning). Dahulu orang beranggapan bahwa sebenarnya ada
satu aspek saja yaitu mengajar. Belakangan ini kajian-kajian psikologi menunjukkan bahwa
sebenarnya belajarlah yang lebih penting. Mengajar hanyalah salah satu cara memantapkan
proses belajar itu. Jadi, hubungan psikologi dengan pendidikan adalah bagaimana budaya,
keterampilan, dan nilai-nilai masyarakat dipindahkan, dalam istilah psikologinya dipelajari
(learned), dari generasi tua ke generasi muda supaya identitas masyarakat terpelihara.

f. Dasar Filosofis Filsafat pendidikan merupakan titik permulaan dalam proses


pendidikan, juga menjadi tulang punggung kemana bagian-bagian yang lain dalam
pendidikan itu bergantung dari segi tujuan-tujuan pendidikan, kurikulum, metode mengajar,
penilaian, administrasi, alat-alat mengajar, dan lain-lain lagi aspek pendidikan yang
bergantung pada filsafat pendidikan yang memberinya arah, menunjuk jalan yang akan
dilaluinya dan meletakkan dasar-dasar dan prinsip-prinsip tempat tegaknya.Dasar dan tujuan

25
filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya identik dengan dasar dan tujuan ajaran Islam, atau
tepatnya tujuan Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Al-Qur’an
dan Hadis. Dari kedua sumber ini kemudian timbul pemikiran-pemikiran mengenai masalah-
masalah keIslaman dalam berbagai aspek, termasuk filsafat pendidikan. Dengan demikian,
hasil pemikiran para ulama seperti qiyas syar’i dan ijma sebagai sumber sekunder. Ajaran
yang termuat dalam wahyu merupakan dasar dari pemikiran filsafat pendidikan Islam. Hal ini
menunjukkan filsafat pendidikan Islam yang berisi teori umum mengenai pendidikan Islam,
dibina atas dasar konsep ajaran Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Keabsahan
kedua sumber itu untuk dijadikan dasar pemikiran filsafat pendidikan Islam bukan tanpa
alasan yang rasional. Pemikiran filsafat pendidikan Islam yang didasarkan atas ajaran wahyu
tersebut pada hakikatnya sejalan dengan yang dikehendaki oleh berfikir falsafi, yaitu
mendasar, menyeluruh tentang kebenaran yang ditawarkannya. Adanya ketentuan-ketentuan
dasar ketentuan wahyu yang dijadikan landasan pemikiran filsafat pendidikan Islam itu
sendiri sehingga filsafat pendidikan Islam berbeda dengan filsafat pendidikan lainnya
(umum). Filsafat pendidikan Islam dalam kaitannya dengan pendidikan berdasarkan lima
prinsip utama, yaitu: pandangan terhadap alam, pandangan terhadap manusia, pandangan
terhadap masyarakat, pandangan terhadap pengetahuan manusia, dan pandangan terhadap
akhlak.

Kesimpulan Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber utama pendidikan Islam. Al-
Qur’an mengawali konsep pendidikannya dari hal yang bersifat konkret menuju hal yang
abstrak. Sementara itu Sunnah mempunyai dua sasaran dan dua manfaat pokok. Perkataan,
sikap, dan perbuatan para sahabat juga merupakan dasar dan sumber pendidikan Islam. Untuk
menetapkan hukum-hukum yang belum ditegaskan Al-Qur’an dan Hadis, para ulama
menggunakan ijtihad untuk menetapkan hukum-hukum tersebut. Masyarakat mempunyai
andil yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak.

Kitab – kitab Hadist (al-Hadistt) baik di kalangan Sunni maupun Syi’i adalah sumber
pengetahuan yang monumental bagi Islam, yang sekaligus menjadi penafsir dan bagian yang
komplementer terhadap Al-Qur’an. Sunnah terutama ucapan Nabi, membahas berbagai hal
mulai dari metafisika (hal-hal non fisik atau tidak kelihatan) sampai pada tatatertib di meja
makan. Selain itu di dalam Hadist/sunah dibahas juga berbagai pertanyaan yang berhubungan
metafisika , kosmologi ( cabang metafisika yang menyelidiki alam semesta sebagai system
yang beraturan), eskatologi (masa yang akan datang –akhirat). Dan kehidupan spiritual (

26
kerohanian,kejiwaan, mental, moral). Sesudah A-Qur’an, kitab al-Hadit syang memuat sunah
Nabi adalah sumber petunjuk paling berharga yang dimiliki umat Islam, keduanya adalah
mata air seluruh kegiatan dan pikiran Islam. Keduanya merupakan sumber agama dan ajaran
Islam. Menurut Mohammad Daud Ali,Pendidikan Agama Islam…,hal.15
Oleh karena itu sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi
manusia muslim.Sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang.Itulah
sebabnya,mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk sunah yang
berkaitan dengan pendidikan. Menurut Munardji, Ilmu Pendidikan Islam

4. Dasar-Dasar Pendidikan Islam menurut Ijtihad


Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu
yang dimiliki oleh ahli syari’at Islam untuk menetapkan atau menentukan suatu hokum Islam
dalam hal-hal yang belum ditegaskan hukumnya oleh Al Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam
hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap
berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah.
Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari A-Qur’an dan as-Sunah/al-Hadist
yang diolah akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam
hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi
dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran
Islam dan kebutuhan hidup. Ijtihad dibidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran
Islam yang terdapat dalam A-Qur’an dan sunah adalah bersifat pokok-pokok dan prinsip-
prinsipnya saja. Biila ternyata ada yang agak terperinci, maka perincian itu adalah sekedar
contoh dalam menerapkan yang prinsip itu. Sejak diturunkan sampai Nabi Muhammad SAW
wafat, ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh
perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula. Sebaliknya ajaran
Islam sendiri telah berperan mengubah kehidupan manusia menjadi kehidupan muslim.
Menurut Zakiah Daradjat,Ilmu Pendidikan Islam…,hal.21-22.

27
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dasar-dasar pendidikan Islam adalah suatu landasan atau pondasi bagaimana suatu
pendidikan itu bisa berdiri baik dan kuat.
2. Pendidikan Islam harus mengunakan Al Qur’an sebagai sumber utama dalam merumuskan
beberapa teori tentang pendidikan Islam. Semua bidang pendidikan selalu berlandaskan pada
ayat-ayat A-Qur’an, misal pendidikan di bidang kesehatan terdapat dalam QS.asy-
Syuara(26):80, bidang hukum terdapat al-Maidah (5):42, dan masih banyak lagi ayat A-
Qur’an yang menjadi dasar pendidikan.
3. Al-Hadits sebagai sumber kedua agama dari ajaran Islam menjelaskan lebih lanjut Al-
Qur’an melalui Rasulullah dengan sunnah beliau, yang didalamnya terdapat cerminan tingkah
laku dan kepribadian Rasulullah saw yang merupakan petunjuk danpenjelas bagi kita umat
islam.
4. Ijtihad adalah penetapan suatu hukum syar’i yang belum ditegaskan hukumnya dalam A-
Qur’an dan as-Sunah, ijtihad ini dilakukan oleh para mujtahid. Namun demikian, ijtihad
harus mengikuti kaidah – kaidah yang ada dan tidak boleh bertentangan dengan kandungan
A-Qur’an dan as-Sunah/al-Hadits. Oleh Karena itu, ijtihad dipandang sebagai salah satu
sumber hokum Islam yang sangat penting, termasuk dalam aspek pendidikan yang sangat
dibutuhkan sepanjang masa setelah Rasulullah wafat.

B. Saran
Jadikanlah Al-Qur’an sebagai dasar utama kita dalam menjalani kehidupan ini
menyertakannya dalam semua sisi kehidupan kita, lalu di ikuti oleh sunnah yang merincikan
hal yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, serta ijtihad yang mengantar kita dalam memahami
keduanya.

28
DAFTAR RUJUKAN

Daradjat,Zakiah.2008.Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:Bumi Aksara Daud


Ali,Mohammad.2002.Pendidikan Agama Islam.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
Munardji.2004.Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Bina Ilmu
Drs. Noer Aly, MA, Ilmu Pendidikan Islam. Kudus: Perpustakaan kudus, 48. Mahmut
Syaltut, Ila Al-Qur`an al-Karim, Cairo: Mathba`ah al-Azhar, 1962
Fauziyah, Lilis,dkk.2009. Kebenaran A-Qur’an dan Hadist.Solo:PT Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri. Abdurrahman al-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al- Islamiyah, Damaskus:
Dar al-Fikr, 1979.

M. Qurais Shihab, Membumikan Al-Qur`an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam


Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan, 1995.

Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta: Rajawali Pers, 1988. Tim
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia , Jakarta: Balai Pustaka. 1994.
Tafsir Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1992.

29