Anda di halaman 1dari 22

Toksoplasmosis

Penulis : Natharina Yolanda Tanggal : 2014-03-11


Daftar isi

 Gejala
 Penyebab
 Pengobatan

DEFINISI
Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii.
Penyakit ini dapat terjadi pada manusia, mamalia darat dan laut, serta beberapa jenis burung.

GEJALA
Pada orang tanpa gangguan imun, toksoplasmosis hanya bergejala pada 10 – 20% penderita yang
terinfeksi. Pada kelompok penderita ini, toksoplasmosis merupakan penyakit ringan dan dapat
sembuh spontan. Gejala yang timbul antara lain:

 pembesaran kelenjar getah bening di leher berukuran < 3 cm dan tidak nyeri;
 demam, rasa tidak enak badan, keringat malam, dan pegal – pegal;
 dapat disertai nyeri tenggorokan;
 nyeri perut akibat pembesaran kelenjar getah bening di sekitar usus ;
 bintik – bintik merah pada kulit.

Pada orang dengan gangguan imun (AIDS, kanker, orang dengan konsumsi obat penekan sistem
imun), gejala dapat berupa:

 kejang, gangguan keseimbangan, kelumpuhan sebelah anggota gerak, gangguan saraf,


gangguan kesadaran, nyeri kepala (toksoplasmosis otak);
 gangguan penglihatan berupa pandangan buram, nyeri mata, silau, mata merah, gelap
pada sebagian lapang pandang (retinochoroiditis);
 batuk, sesak, nyeri dada, demam (penumonitis toksoplasma);
 pembesaran kelenjar getah bening.
Pada bayi dengan toksoplasmosis turunan, gejala berupa kepala yang besar (hidrosefalus) atau
sangat kecil (mikrosefalus), pengkapuran pada otak, dan gangguan penglihatan.

PENYEBAB
Toxoplasma gondii mempunyai inang mutlak, yaitu kucing. Kucing dapat terinfeksi oleh T.
gondii akibat memakan daging mentah yang terkontaminasi, burung liar, atau tikus. T. gondii
kemudian berkembang biak dalam usus kucing dan ikut keluar bersama feses kucing. Feses yang
mengandung parasit ini dapat mencemari tanah dan air. Manusia dapat terinfeksi saat berkontak
dengan tanah atau feses kucing tersebut atau melalui konsumsi air / makanan yang
terkontaminasi. Ibu hamil yang menderita toksoplasmosis dapat menularkan penyakit ini pada
janin yang dikandungnya.

PENGOBATAN
Pada penderita tanpa gangguan imun, pengobatan cukup secara rawat jalan, sedangkan pada
penderita gangguan imun mungkin perlu dirawat inap untuk beberapa hari. Obat anti-parasit
pilihan adalah obat tablet kombinasi pyrimethamine dan sulfadiazine (atau clindamycin) selama
6 minggu, ditambah dengan asam folat.

Pengobatan toksoplasmosis pada ibu hamil adalah spiramisin selama 3 minggu diikuti dengan
pyrimetamine – sulfadiazine selama 3 minggu; atau dengan pyrimetamine dan sulfadiazine
sampai waktu melahirkan.

Toxoplasmosis is caused by infection with the protozoan Toxoplasma gondii, an obligate


intracellular parasite. The infection produces a wide range of clinical syndromes in humans, land
and sea mammals, and various bird species. T gondii has been recovered from locations
throughout the world, except Antarctica (see the image below). (See Etiology and
Pathophysiology.)
Toxoplasmosis. Toxoplasma gondii tachyzoites
(Giemsa stain).

Nicolle and Manceaux first described the organism in 1908, after they observed the parasites in
the blood, spleen, and liver of a North African rodent, Ctenodactylus gondii. The parasite was
named Toxoplasma (arclike form) gondii (after the rodent) in 1909. In 1923, Janku reported
parasitic cysts in the retina of an infant who had hydrocephalus, seizures, and unilateral
microphthalmia. Wolf, Cowan, and Paige (1937-1939) determined that these findings
represented the syndrome of severe congenital T gondii infection.

There are 3 major genotypes (type I, type II, and type III) of T gondii. These genotypes differ in
their pathogenicity and prevalence in people. In Europe and the United States, type II genotype is
responsible for most cases of congenital toxoplasmosis.[1]

T gondii infects a large proportion of the world's population (perhaps one third) but uncommonly
causes clinically significant disease.[2] However, certain individuals are at high risk for severe or
life-threatening toxoplasmosis. Individuals at risk for toxoplasmosis include fetuses, newborns,
and immunologically impaired patients. (See Etiology and Pathophysiology and Epidemiology.)

Congenital toxoplasmosis is usually a subclinical infection. Among immunodeficient


individuals, toxoplasmosis most often occurs in those with defects of T-cell–mediated immunity,
such as those with hematologic malignancies, bone marrow and solid organ transplants, or
acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).In most immunocompetent individuals, primary
or chronic (latent) T gondii infection is asymptomatic. A small percentage of these patients
eventually develop retinochoroiditis, lymphadenitis, or, rarely, myocarditis and polymyositis.
(SeePresentation and Workup.)
Patient education

Primary prevention based on prenatal education could be an effective strategy to reduce


congenital toxoplasmosis. Educate the public in toxoplasmosis-prevention methods, such as
protecting children's play areas from cat litter. Mothers with toxoplasmosis must be completely
informed of the disease’s potential consequences to the fetus.[3] [#Etiology]

http://emedicine.medscape.com/article/229969-overview

Penyakit Toxoplasmosis
Sekilas mengenai penyakit toxoplasmosis

Toxoplasmosis atau sering hanya disebut penyakit toxo merupakan penyakit yang disebabkan
oleh parasit Toxoplasma gondii. Dalam banyak kasus, infeksi pada manusia terjadi terutama setelah
parasit tersebut tertelan. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala, tetapi penyakit
ini memiliki potensi untuk menyebabkan masalah serius pada beberapa orang, terutama pada
mereka yang mengidap penyakit immunodepressed dan pada wanita hamil karena dapat
menyebabkan keguguran.

Jika timbul gejala, biasanya menyerupai flu (nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening,
malaise) dan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Pada beberapa kasus, infeksi yang berat
dapat menyebabkan masalah pada organ mata, gangguan otak, kejang, dan jarang, menyebabkan
kematian. Obat-obatan tertentu, baik secara tunggal maupun dalam kombinasi, dapat digunakan
untuk mengobati toxoplasmosis.

Sebagian besar orang terkena infeksi dari makan daging yang terinfeksi atau mengonsumsi
makanan yang terkontaminasi kotoran kucing atau anak kucing. Pencegahan penyakit ini terutama
berpusat pada usaha menghindari kontak dengan daging yang mentah/terkontaminasi dan kontak
dengan kucing/kotoran kucing.

Organisme ini pertama kali diamati pada tikus pada tahun 1908. Toxoplasma tercatat
menyebabkan infeksi kongenital (artinya diturunkan dari ibu ke janin selama kehamilan) pada
tahun 1930 dan menjadi dikenal luas sebagai penyebab penyakit pada orang dengan
immunodepressed pada akhir tahun 1960. Lebih banyak infeksi yang tercatat mulai tahun 1983
ketika orang-orang dengan HIV / AIDS terserang Ensefalitis toksoplasma (peradangan otak).

CDC menganggap toxoplasmosis menjadi penyebab ketiga kematian paling umum yang disebabkan
oleh makanan di AS dan memperkirakan sekitar 60 juta orang di Amerika Serikat membawa
parasit Toxoplasma gondii. Kebanyakan orang yang terinfeksi memiliki sistem kekebalan yang
menekan parasit, sehingga sebagian besar orang tidak menunjukkan gejala. Namun, jika sistem
kekebalan tubuh menjadi tertekan, parasit tersebut dapat menyebabkan penyakit serius.

Penyebab Toxoplasma

Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa yang menginfeksi sebagian besar spesies hewan
berdarah panas (misalnya, kucing, babi, domba, dan manusia) dan menyebabkan penyakit
toksoplasmosis. Hanya kucing (kucing domestik dan kerabat lainnya dalam keluarga Felidae) yang
dikenal sebagai hewan inang yang memungkinkan parasit untuk melengkapi siklus hidupnya.
Picture credit to Cambridge University Press

Ketika kucing memangsa tetikus atau burung yang terinfeksi, bradyzoit yang tertelan berkembang
menjadi baik takizoit atau ookista. Siklus hidup Toxoplasma selesai ketika ookista keluar melalui
kotoran kucing. Manusia dan hewan lain bukan bagian dari siklus hidup lengkap (kecuali dimakan
oleh kucing); sebagian besar infeksi terjadi ketika manusia, peliharaan atau hewan lain menelan
makanan, tanah, atau hewan lain yang mengandung baik ookista yang telah bersporulasi atau
jaringan hewan yang mengandung Toxoplasma bradyzoit.
Siklus Hidup Toxoplasma Gondii

Manusia biasanya terinfeksi dengan mengkonsumsi daging, makanan, atau air yang terkontaminasi.
Infeksi juga dapat ditularkan melalui transfusi darah yang terkontaminasi, transplantasi organ
terinfeksi, atau dari ibu yang terinfeksi kepada janin. Yang terakhir, penyakit ini dapat diperoleh
dengan langsung terhisap kotoran kucing, yang mungkin terjadi saat membersihkan kotak kotoran
kucing.

Gejala Toxo

Sekitar 80% -90% dari orang yang terinfeksi Toxoplasma tidak menunjukkan gejala. Mereka yang
mengalami gejala biasanya mengalami pembengkakan kelenjar getah bening serviks dan gejala
mirip flu yang hilang dalam beberapa minggu atau bulan tanpa pengobatan. Organisme ini
sebenarnya masih berada di tubuh dalam kondisi laten dan dapat aktif kembali jika orang tersebut
menjadi immunodepressed. Sebagai contoh, pasien dengan AIDS dapat terkena lesi di otak akibat
reaktivasi Toxoplasma. Pasien kemoterapi dapat terserang pada organ mata, jantung (miokarditis),
paru-paru atau otak ketika parasit menjadi aktif kembali.

Infeksi bawaan Toxoplasma bisa menyebabkan masalah serius pada mata, telinga, dan kerusakan
otak pada saat lahir. Namun, infeksi bawaan mungkin asimtomatik sampai beberapa tahun pertama
kehidupan atau bahkan sampai dekade kedua atau ketiga ketika mata (penurunan penglihatan atau
kebutaan), telinga (pendengaran), atau gejala kerusakan otak (kejang, perubahan status mental)
terkena. Toxoplasmosis merupakan penyebab utama retinochoroiditis (peradangan retina dan
koroid mata) di Amerika Serikat.

Kapan saatnya Mencari Perawatan Medis

Karena sebagian besar orang tidak mengalami gejala pada Toxoplasmosis, kebanyakan orang yang
terinfeksi tidak berusaha mencari layanan kesehatan. Namun, orang yang mengalami kelenjar getah
bening leher yang membesar dan mengalami sindrom mirip flu dan curiga atau tahu bahwa mereka
telah memiliki asosiasi dekat dengan kucing atau makanan/air yang mungkin terkontaminasi harus
mempertimbangkan mencari perawatan medis. Jika wanita yang sedang merencanakan kehamilan
atau sedang hamil mengalami gejala ini, mereka harus segera mencari perawatan medis. Orang
dengan immunodepressed, terutama mereka yang terinfeksi HIV, juga harus mencari perawatan
medis jika gejala yang disebutkan di atas terjadi atau jika mereka merasakan perubahan pada mata
atau perubahan status mental.

Pemeriksaan dan Tes Toxoplasma

Kebanyakan orang yang terinfeksi tidak akan memiliki kelainan fisik yang terasa, tetapi pada
pemeriksaan fisik, beberapa orang akan memiliki kelenjar getah bening serviks yang membesar
(temuan fisik yang paling umum), atau pembesaran limpa atau hati. Orang dengan infeksi sedang
sampai berat mungkin menunjukkan penyakit kuning (terutama bayi), peningkatan lebam karena
masalah pada organ hati, masalah mata (penurunan penglihatan atau kebutaan),
meningoencephalitis (radang otak dan lapisan otak), kejang, pneumonitis, dan perubahan status
mental.

Sayangnya, banyak penyakit ringan dan berat lain dapat menyebabkan gejala yang sama (misalnya,
penyakit Chagas, giardiasis, malaria, penyakit cakaran kucing, abses otak, sepsis, cytomegalovirus,
dan banyak lainnya). Untungnya, ada sejumlah tes yang dapat membantu membedakan
Toxoplasmosis dari penyakit lain dan memberikan bukti untuk diagnosis sementara atau definitif.

Diagnosis definitif Toxoplasmosis dibuat dengan mengidentifikasi organisme Toxoplasma gondii


dalam darah, cairan tubuh (misalnya, cairan tulang belakang atau ketuban), atau jaringan (sampel
biopsi). Selain itu, cairan tubuh dapat disuntikkan ke tikus, sehingga tikus tersebut akan terkena
penyakit jika parasit berada dalam cairan tubuh yang disuntikkan. Juga, cairan tubuh dapat
diinokulasi ke dalam kultur sel dimana parasit dapat berkembang biak. Tes ini biasanya dilakukan
di laboratorium khusus oleh personel yang berpengalaman.

Tes-tes lain dapat menghasilkan diagnosis presumptif dan didasarkan pada respon kekebalan
seseorang terhadap parasit. Cairan tubuh dapat diuji dengan PCR atau teknik enzim-linked
immunosorbent assay (ELISA) yang dapat menunjukkan infeksi akut. Tes lain, seperti tes Sabin-
Feldman, mengukur antibodi IgG pasien yang ditujukan terhadap parasit Toxoplasma gondii dan
merupakan tes acuan standar untuk Toxoplasmosis. Antibodi IgG menunjukkan bahwa infeksi
toksoplasma telah terjadi di masa lalu tetapi tidak mengatakan apakah infeksi saat ini adalah
sebagai akibat Toxoplasma gondii.

Tes lain yang biasa digunakan adalah dengan mendeteksi antibodi IgM yang diarahkan terhadap
parasit dan dapat mendeteksi antibodi ini pada minggu pertama infeksi. Tes ini paling sering
dilakukan dan tes ini dilakukan oleh laboratorium khusus. Waktu tes adalah penting, karena akan
mempengaruhi interpretasi hasil. Beberapa orang mungkin memiliki hasil positif karena ia
sebelumnya telah terinfeksi, akan tetapi gejala yang ia rasakan sekarang merupakan dikarenakan
penyakit yang lain bukan karena Toxoplasma gondii. Konsultasi dengan ahli penyakit menular
dapat membantu menentukan diagnosis ketika hanya bukti dugaan yang tersedia.

Wanita hamil dan mereka yang berencana untuk hamil bisa diuji dengan tes imunologi serupa
seperti yang disebutkan di atas untuk diagnosis dan menentukan apakah ada risiko bagi ibu untuk
menularkan infeksi toksoplasma pada janin. Jika seorang wanita tidak memiliki antibodi dalam
aliran darahnya, dia rentan untuk terkena dan dapat dipantau lebih dekat.

Pengobatan Toxoplasma

Toxoplasmosis dapat ditangani secara medis. Ada beberapa obat, biasanya digunakan dalam
kombinasi, untuk mengobati infeksi oleh parasit ini. Tiga obat yang paling sering digunakan ke
pasien, termasuk orang dengan HIV adalah pirimetamin (Daraprim), sulfadiazin (Microsulfon), dan
asam folinic. Namun, pasien hamil diobati dengan spiramisin (Rovamycine) dan leucovorin
(Wellcovorin) di samping obat yang tercantum di atas. Pasien dengan HIV biasanya membutuhkan
pengobatan seumur hidup untuk menjaga parasit tetap ditekan. Obat lain kadang-kadang
digunakan adalah klindamisin (Cleocin), azitromisin (Zithromax), atau atovakuon (Mepron). Obat
ini digunakan terutama ketika pasien alergi terhadap pirimetamin atau sulfadiazin. Dosis
bervariasi, cara terbaik untuk menentukan perawatan medis individu adalah didasarkan pada
situasi kesehatan pasien.

Sayangnya, pirimetamin (Daraprim) dan sulfadiazin (Microsulfon) dapat menyebabkan efek


samping yang signifikan, terutama pada janin. Dua dari efek samping utama adalah penekanan
sumsum tulang (pengobatan leucovorin dapat mengurangi penekanan ini) dan toksisitas hati untuk
pirimetamin. Untuk sulfadiazin, efek samping bisa mual, muntah, toksisitas hati, kejang, dan gejala
lainnya. Obat ini digunakan pada wanita hamil karena risiko infeksi oleh Toxoplasma biasanya lebih
parah daripada efek samping obat. Dokter yang merawat harus diberitahu cepat jika efek samping
terjadi.

Pencegahan Toxoplasma

Pencegahan Toxoplasmosis utamanya adalah untuk menghindari masuknya parasit. Berikut ini
disarankan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terinfeksi Toxoplasmosis:

 Benar-benar memasak semua daging (daging beku selama beberapa hari juga mengurangi
kemungkinan Toxoplasma).
 Mencuci tangan dan peralatan dengan benar setelah menyentuh daging mentah.
 Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi
 Jangan minum susu yang tidak dipasteurisasi atau minum air mentah.
 Beri makan kucing dengan makanan yang dimasak dengan matang.
 Jangan mengadopsi atau memegang kucing liar.
 Jangan memelihara kucing baru saat hamil.
 Wanita hamil harus memakai sarung tangan saat berkebun, benar-benar mencuci tangan
mereka setelah itu, dan menghindari kontak dengan kotoran kucing, dan sebaiknya
meminta orang lain untuk membersihkan kotak kotoran kucing (bersihkan kotak kotoran
kucing setiap hari).
 Taruh kotak pasir kotoran kucing di luar ruangan saat tidak digunakan.

Ibu hamil yang terinfeksi Toxoplasma dapat menginfeksi janin, akan tetapi pengobatan terhadap
sang ibu dapat mengurangi kemungkinan menginfeksi janin. Organ dan darah donor terinfeksi
Toxoplasma bisa menularkan parasit ke penerima, pengujian donor untuk parasit dapat mencegah
jenis infeksi ini. Studi sedang berlangsung untuk menghasilkan vaksin Toxoplasma, namun sampai
saat ini, tidak ada vaksin yang tersedia atau diproduksi secara komersial baik untuk manusia
maupun kucing.

http://www.info-kes.com/2013/05/penyakit-toxoplasmosis-toxo.html

Ciri-Ciri Gejala Penyakit Toxoplasma


Ciri-Ciri Gejala Penyakit Toxoplasma- -Hidup sehat dan beraktifitas nikmat dan fisik sempurna ternyata
tidak menjamin bahwa seseorang tersebut bebas dari suatu penyakit, ya pada hakekatnya manusia itu
pasti akan mengalami sakit tinggal bagaimana cara manusia untuk bertahan melawan penyakit sehingga
tetap sehat, tetapi tahukah anda terkadang dengan tubuh atau fisik yang terlihat sehat ketika dipriksa
ditelah terfonis penyakit besar, salah satunya seperti penyakit Toxoplasma sebuah penyakit yang
ditularkan dari hewan kepada manusia dan bisa menurun trus menurun kepada keturunan dan diakhiri
kepada kematian, maka untuk mengetahui semua itu maka anda wajib mengetahui tentang ciri-ciri
gejala penyakit toxoplasma.

Gejala klinik yang muncul pada penderita sifatnya individual. sedangakan gejala serius muncul pada bayi
yang dilahirkan abortus dan lahir dini ( 1:10 bayi yang terinfeksi) adalah infeksi mata, pembesaran hati
dan limpa, kuning pada mata dan kulit dan diikuti kematian. Sedangakan bayi yang lahir normal, gejala
akan tampak setelah beberapa minggu, bulan atau tahun setelah lahir. Bahkan gejala-gejala banyak
dijumpai setelah pubertas misalkan ganguan pada mata bahkan hingga terjadi pembutaan, kegagalan
dalam sistem syaraf, gangguan pendengaran, demam, penyakit kuning akibat ganguan hati, ganguan
pernafasan.
Pada penderita AIDS, kanker ataupun transplantasi organ gejala akan cepat terlihat yaitu adanya
gangguan sistem syaraf, pembesaran limfoglandula, ganguan mata, pendengaran, pernafasan dan
jantung, dan ketika penyakit ini postif maka nilai keselamatanya kecil.

Itulah tadi Ciri-Ciri Gejala Penyakit Toxoplasma, semoga apa yang disampikan oleh Asuhan Dunia
Keperawatan dapat bermanfaat bagi kita semua, Baca juga artikel lainya Cara Pencegahan Penyakit
Toxoplasmosis

http://neoaskep.blogspot.co.id/2013/07/ciri-ciri-gejala-penyakit-toxoplasma.html

Gejala Klinis dan Perubahan Patologi


Toxoplasmosis
Posted by: Debby Fadhilah in Parasitologi

Kucing

Gejala klinis pada kucing jarang terlihat walaupun infeksi Toxoplasma gondii sering terjadi.
Kadang-kadang infeksi pada kucing menunjukkan gejala dan perubahan patologi berupa demam
yang persisten, ada eksudat dari mata, diare dan ada bercak-bercak pendarahan di feses, mukosa
kekuningan, enteritis penbesaran limfoglandula, pneumonia (sesak nafas, batuk, bersin),
pembesaran limfonodus mesenterika, perubahan degeneratif pada sistem saraf pusat dan
encepalitis dilaporkan pada infeksi secara eksperimental. Penularan secara kongenital dapat
terjadi meskipun jarang, hal ini terjadi karena aktifasi kista bradizoit selama kehamilan.
Toxoplasmosis dapat bersifat akut pada kucing muda maupun usia tua.

Anjing
Onset penyakit pada anjing ditandai dengan terjadinya demam, emasiasio kelesuan/kelemahan,
anoreksia dan diare. Pneumonia dan gejala saraf (neurologi) akibat meningoencepalitis sering
ditemui pada anjing. Infeksi dapat terjadi bersamaan dengan distemper dan dapat menyebabkan
kegagalan vaksinasi distemper. Hasil nekropsi menunjukkan, kista bradizoit dapat terlihat pada
otak (Gambar 2), sistem pernafasan disertai dengan pembesaran limfonodus.

Ruminansia

Gejala klinis yang terlihat pada hewan ruminansia yaitu demam, sesak nafas, batuk-batuk, bersin,
gejala saraf seperti ataxia dan hyperaesthesia yang diikuti kelemahan serta aborsi. Pada
pemeriksaan postmortem, bradizoit terlihat pada otak dengan fokus nekrosis pada kasus akut dan
nodul glial pada kasus kronis. Pada sapi dapat menyebabkan penyakit yang berlangsung akut. T.
Gondii dapat juga ditemukan pada susu dan karkas sapi. Peran penting toxoplasmosis pada
ruminansia yaitu berhubungan dengan aborsi pada biri-biri dan kematian perinatal pada bayi biri-
biri. Infeksi yang terjadi pada awan kebuntingan pada biri-biri (<55 hari) akan mengakibatkan
kematian fetus dan pengeluaran paksa fetus yang masih kecil (hal ini jarang terjadi). Infeksi yang
terjadi pada pertengahan kebuntingan akan mengakibatkan aborsi dan mumifikasi. Organisme
dapat ditemukan dengan tipe lesio putih dengan diameter 2 mm pada kotilidon plasenta dan pada
jaringan fetus. Apabila fetus bertahan pada uterus, bayi biri-biri akan lahir prematur atau jika
lahir normal akan mengalami kelemahan.

Sumber: Noakes et al. 2001

Gambar 1 Plasenta biri-biri yang aborsi akibat infeksi Toxoplasma gondii

Induk semang yang lain


Toxoplasmosis telah dilaporkan terjadi pada babi dan unggas. Selain itu, titer antibodi (serologis)
T. Gondii juga telah ditemukan pada kuda dan kelinci liar. Gejala klinis yang terlihat pada babi
yaitu inkoordinasi, tremor dan apabila infeksi telah sampai pada plasenta akan menyebabkan
aborsi.

Sumber: Foreyt 2001; Dubey 2010

Gambar 2 (A) takizoid dari Toxoplasma gondii pada susunan saraf pusat burung liar, (B) Kista
yang mengandung bradizoit pada otak

Manusia

Infeksi pada manusia terjadi secara akuasita (dapatan) atau kongenital. Infeksi pada manusia
secara akuasita dapat terjadi melalui dua betuk: (a) infeksi terjadi karena memakan makanan
yang terkontaminasi ookista (dari feses kucing). Kontaminasi ookista dapat terjadi melalui
tangan ketika membersihkan kandang kucing atau tempat feses kucing, kontaminasi ookista pada
sayuran dapat terjadi karena tanah tempat tumbuh sayuran mengandung ookista dari feses
kucing, kontaminasi makanan oleh feses kucing serta lalat dapat berperan sebagai vektor
mekanik yang dapat membawa ookista ke dalam makanan; (b) infeksi yang terjadi karena
memakan makanan (daging) mentah atau kurang matang yang mengandung kista T. Gondii.

Gejala klinis yang muncul pada manusia tergantung dari organ yang diserang dan kerusakan
jaringan yang ditimbulkan. Kerusakan ini tergantung pada beberapa hal yaitu: (a) umur, pada
bayi akan mengalami kerusakan jaringan yang berat dibandingkan pada usia dewasa; (b)
virulensi, tergantung dari strain T. Gondii; (c) jumlah parasit, semakin banyak parasit maka
kerusakan jaringan yang ditimbulkan semakin berat; (d) organ tubuh yang diserang, kerusakan
(lesi) pada susunan saraf pusat biasanya lebih berat dan permanen karena jaringan ini tidak
mampu berregenerasi.

Secara umum infeksi T. Gondii secara akuasita pada umur dewasa bersifat asimtomatis (tanpa
gejala klinis). Gejala klinis yang muncul biasanya ringan. Beberapa kasus dapat menunjukkan
gejala klinis berupa deman yang ringan, malaise dengan limpadenopati predominan,
mononukleosis infeksiosa, kelelahan, sakit kepala, kadang-kadang terjadi eksantem. Infeksi pada
organ vital jarang terjadi, beberapa kasus pernah dilaporkan terjadi miokarditis, encepalitis dan
retinochoroiditis. Toxoplasmosis dapat muncul kembali (recrudescence of infection) apabila
terjadi pada pasien immunosuppressed.

Infeksi secara kongenital terjadi ketika wanita terinfeksi pertama kali selama kehamilan. Infeksi
secara kongenital dapat menjadi serius karena takizoit dapat melewati plasenta dan terdapat pada
maternal antibodi. Lebih dari 10% infeksi kongenital menyebabkan aborsi, kelahiran prematur
atau kerusakan pada sistem saraf pusat fetus. Keparahan infeksi secara kongenital tergantung
pada usia fetus saat terinfeksi. Semakin muda usia fetus saat terinfeksi, maka akan semakin berat
kerusakan pada organ tubuh. Infeksi yang terjadi pada awal kehamilan (kehamilan muda) dapat
menyebabkan keguguran atau anak lahir mati. Infeksi pada kehamilan tua dapat menyebabkan
infeksi pada bayi yang dilahirkan dengan gejala klinis berupa retinokoroiditis, hidrosefalus,
pengapuran intrakranial, kerusakan otak, pembesaran hati dan limpa, bercak-bercak merah,
konvulsi, eritroblastosis, hidrops fetalis serta terjadi kelainan psikomotorik. Kadang-kadang bayi
lahir normal, tetapi gejala klinis baru muncul setelah beberapa minggu atau sampai beberapa
tahun.

Gejala susunan saraf paling sering meninggalkan gejala sisa seperti reterdasi mental dan motorik.
Pada mata, apabila terjadi retinokoroiditis waktu remaja biasanya dapat disebabkan karena
infeksi T. Gondii secara kongenital. Pada anak dengan infeksi T. Gondii yang lahir prematur
biasanya gejala klinis yang muncul berupa hepatomegali, ikhterus limfadenopati, kelainan
susunan saraf pusat dan lesi mata. Biasanya gejala yang terlihat lebih berat dibandingkan anak
yang lahir normal. Infeksi T. Gondii dapat terjadi juga secara parenteral melalui jarum suntik
atau alat-alat laboratorium yang terkontaminasi dengan T. Gondii, melalui tranfusi darah,
transplantasi organ dari donor yang menderita toxoplasmosis laten. Infeksi secara parenteral
sangat jarang terjadi.

Sumber:

Dubey JP. 2010. Toxoplasmosis of Animals and Humans. Edisi ke-2. USA: CRC Press.

Foreyt WJ. 2001. Veterinary Parasitology. Edisi ke-5. USA: Blackwell Publishing.

Noakes DE, Parkinson TJ, England GCW. 2001. Arthur’s Veterinary Reproduction and
Obstetrics. London: W.B. Saunders.

Tampubolon MP. 2004. Protozoologi. Bogor: Pusat Studi Ilmu Hayati IPB.

Urquhart GM, Armour J, Duncan JL, Dunn AM, Jennings FW. 1996. Veterinary Parasitology.
UK: Blackwell Science.

http://ilmuveteriner.com/gejala-klinis-dan-perubahan-patologi-toxoplasmosis/

1. 1. Kucing dan Toxoplasma Nusdianto Triakoso 2012 Program Kreatifitas Mahasiswa


Universitas Airlangga
2. 2. Toksoplasmosis • Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan parasit,
Toxoplasma gondii • Parasit intraselular • Penyakit zoonosis • Menyerang pada semua
hewan, termasuk manusia • Felidae adalah induk semang definitif • Hewan lain adalah
induk semang intermediate (antara)
3. 3. Prevalensi • Toxoplamosis merupakan salah satu penyakit zoonosis yang tersebar luas
di dunia • Seroprevalensi bervariasi, 20-60% • Prevalensi oosit pada kucing sangat kecil
(0-1%) • Bergantung pakan yang diberikan dan tempat dipelihara • Peluang terinfeksi
sangat besar bila hewan berada di luar rumah, berburu atau makan daging mentah
4. 4. Prevalensi • Republik Czech (2006) sera 413 anjing dan 286 kucing • Antibodi IgM :
anjing 2,4% dan kucing 2,8% • Antibodi IgG : anjing 25,9% dan kucing 44,1% • Tidak
ada perbedaan prevalensi pada hewan tampak sehat (115) dan sakit (80) – IgM, sehat
0,87% dan sakit 1,25% – IgG, sehat 33,9% dan sakit 33,75% • Pada anjing peliharaan
tertinggi, diikuti anjing polisi • Tidak ditemukan gejala klinis
5. 5. Prevalensi • Turki (2007), 150 sera anjing dengan uji indirect fluorescence antibody
test – Hasil, positif 51,3% (77/150) – Umur dan jenis kelamin tidak berpengaruh • Belgia
(2008), 567 sera kucing rumahan diuji indirect immunofluorescence assay – Hasil, positif
25%. – 12% umur <1tahun, meningkat 44% umur 7 tahun – Seroprevalensi berkaitan
dengan titer IgG
6. 6. Prevalensi • Seoul, Korea (2010), sera 72 kucing liar dan rumahan menggunakan
ELISA dan PCR. Kucing liar 38,9% (28/72) positif, jantan lebih tinggi dibanding betina.
Kucing rumahan, bebas Toxoplasma • Seoul, Korea (2011) 456 sera kucing liar
menggunakan ELISA dan PCR – ELISA = 15,8% (69/456) dan PCR = 17,5% (80/456) –
Jantan : ELISA, 17% (44/259) ELISA dan PCR,16.2% (42/259) – Betina : ELISA, 14.3%
(28/196) dan PCR, 19.4% (38/196) • Di Han River, prevalensi 15,1% (29/192) dengan
ELISA and 15,6% (30/192) dengan PCR di dataran tinggi dan 16,4% (43/264) dengan
ELISA and 18,9% (50/264) dengan PCR di dataran rendah
7. 7. Prevalensi • Urmia, Iran (2011) uji modified agglutination test (MAT) 130 sera kucing
liar dan rumahan – Hasil, positif 35,3% (46/130). Titer antibodi berkisar 1:20 -1:1280 – 3
ekor kucing mengeluarkan T. gondii-like size oocysts (seronegatif MAT) – Tidak
berbeda jenis kelamin dan umur • Surabaya (2004) – Tidak ditemukan ookista dari 100
ekor kucing yg diperiksa
8. 8. Prevalensi • Asimptomatis : sapi, unta, rusa, ayam • Fatal pada monyet, marsupialia,
terwelu (Lepus europaeus), rubah artik, mamalia laut, burung (Magpie geese) • Kista (di
jaringan) sering ditemukan pada kambing, domba, babi, kuda. Sasmita (1991) 42,4%
kambing RPH Surabaya positif, RPH Malang 40%, Kediri 20%, KalSel, 61% (Dafee et
al., 1976) • Prevalensi ayam (umbaran) sangat tinggi (~ 100%) • Ayam, seroprevalensi :
Costa Rica (40,5%); Iran (2256%); Amerika (~100%)
9. 9. Anamnesis • • • • • • • Umumnya penderita tidak menunjukan gejala Gejala yang tidak
khas : lethargy, depresi, anoreksia Kehilangan berat badan (weight loss) Demam
Discharge okular, fotophobia, miosis pupil (kucing) Distress respirasi Neurologis—
ataksia; seizure; tremor; paresis/paralisis; defisit syaraf kranial • Pencernaan—muntah;
diarrhea; sakit abdominal; ikhterus • Stillborn kittens
10. 10. Klinik • Gejala awal lesu dan depresi. Anoreksia, demam ringan, pireksia, lethargy.
Batuk, takipnea, atau dispnea • Gejala lain kehilangan berat badan, diare, muntah,
dermatitis, ikhterus, hiperesthesia, pincang dan pembesaran abdomen. Pembesaran
kelenjar limfe • Kadang disertai gejala syaraf dan mata menyebabkan buta, inkoordinasi,
jalan berputar, ataxia, seizure, perubahan perilaku, tidak bisa mengontrol defekasi, urinasi
• Gejala SSP mirip rabies, intoksikasi timbal, arsenik
11. 11. Pemeriksaan fisik • Paling parah anak kucing terinfeksi transplasental [stillborn atau
mati prasapih] • Anakan kucing hidup – Anoreksia; lethargy; demam tinggi non respon
antibiotik; nekrosis/inflamasi paru (dyspnea, suara respirasi abnormal), liver (ikhterus,
ascites), and CNS (encephalopati) • Respirasi dan gastrointestinal (postnatal) – Sangat
sering; anoreksia; lethargy; demam tinggi non respon antibiotik; dyspnea; kurus; ikhterus;
muntah; diarrhea; abdominal effusion • Neurologis (postnatal) – < 10% pasien; kebutaan;
stupor; inkoordinasi; circling; tortikollis; anisocoria; seizures • Gejala Okular (postnatal)
– Sering; uveitis (aqueous flare, hyphema, mydriasis); iritis; lepas retina; iridocyclitis;
keratic precipitates
12. 12. Pemeriksaan fisik • Muda – Umumnya sistemik; demam; kurus; anoreksia; tonsillitis;
dyspnea; diarrhea; muntah • Dewasa – Cenderung infeksi terlokalisir; terutama berkiatan
dengan gejala syaraf dan muskular • Neurologis – Bervariasi; refleksi gejala neurologis
difus; seizures; tremors; ataksia; paresis; paralysis; kelemahan muskulus; tetraparesis •
Okular – Jarang; pada anjing mirip gejala pada kucing • Jantung – Umumnya gejala tidak
jelas
13. 13. Klinis • Kucing yang terinfeksi Toksoplasma seringkali tidak menunjukkan gejala
klinis (asimptomatik) • Imunitas rendah – Kucing anakan – Stress – Menderita feline
immunodeficiency virus(FIV) atau feline leukemia virus (FeLV) • Gejala klinis tidak
spesifik – Akibat penyakit lain / infeksi primer akibat respon imun yang tidak bagus
sehingga tidak mampu melawan invasi tachyzoite – Reaktivasi infeksi subklinis pada
individu yang kekebalan menurun sehingga cyst bradizoite berubah dan mengalami
multiplikasi cepat menjadi tachyzoid
14. 14. Klinik • Penyakit sering tampak pada kucing <2 tahun, berkaitan dengan insufisiensi
respon imun. Anak kucing menunjukkan encephalitis, liver insufficiency, atau pneumonia
• Infeksi prenatal akan menimbulkan abortus, stillbirth, dan kematian perinatal (tanpa
sebab yg jelas), termasuk the fading kitten syndrome • Infeksi T. gondii secara
eksperimental (neonatal) terhadap 25 ekor anak kucing – 3 anak kucing stillborn – 22
ekor anak kucing yg hidup, 95% menunjukkan proliferative interstitial pneumonia,
necrotizing hepatitis, myocarditis, dan skeletal myositis – Infeksi pada tahap neonatus
juga menyerang sistem syaraf pusat (SSP)
15. 15. Klinikopatologi • Anemia non regeneratif, disertai leukositosis neutrofilik,
limfositosis, monositosis dan eosinofilia [akut sistemik] • Hyperglobulinemia akibat
stimulasi antigenik yang kronik [kronis] • Peningkatan alanine aminotransferase (ALT)
[penyakit hepatoseluler] • Peningkatan asparate aminotransferase (AST) dan kreatin
kinase (CK) [kerusakan otot] • Hiperbilirubinemia [cholangiohepatitis atau hepatik
lipidosis akibat disfungsi hepat sekunder]
16. 16. Klinikopatologi • Histologis : lesi terjadi kerusakan/kematian sel akibat replikasi
intraseluler T. gondii • Reaksi inflamasi pada hewan dewasa : makrofag • Reaksi
inflamasi pada neonatus : neutrophil and makrofag (pyogranulomatous), dengan atau
tanpa komponen limfoplasmasitik • Kista akan menetap (persisten) di jaringan
17. 17. Klinikopatologi • SSP, encephalitis akibat tachyzoites menginfeksi
astrocytes.Nekrosis difus dan infiltrasi limfositik non suppuratif terjadi di otak dan
meluas hingga meningens • Hepatitik nekrotik dengan nekrosis koagulatif pada lobular •
Paru, kongesti dan edema pulmonum disertai kolaps paru dengan area multifokal keras
berwarna putih,kuning atau keabuan pada parenkim paru. Toxoplasma menginvasi
pneumocyte tipe 1 dan 2, makrofag alveolar, fibroblas, sel endotelial dan sel otot polos.
Reaksi proliferatif pada dinding alveolar menimbulkan adenomatosis. • Limfadenopati
yang parah juga terjadi
18. 18. Klinikopatologi • Pericardial effusion akibat tachyzoid menginfeksi myocardium •
Invasi pada jaringan limfatik intestinal menimbulkan radang ulseratif usus halus •
Muskulus, biasanya terjadi proses nekrosis kronis sehingga terbentuk nodul granulomatus
yang besar • Mata, cukup sering dan menyebabkan inflamasi retina atau bagian anterior
(anterior uveitis) disertai inflamasi granulomatus • Plasenta, nekrosis lokal dengan atau
tanpa foki mineralisasi • Kulit, nodule tunggal 3 cm di sekitar kelenjar mamaria pada
kucing Jepang 16 tahun.
19. 19. Siklus hidup • Pada kucing – Enteroepitelial (generative) – Extraintestinal (non
generative) • Pada individu lain – Extraintestinal (non generative)
20. 20. Siklus Hidup • Ookista – Hanya dikeluarkan oleh kucing – Ookista dikeluarkan 3-5
hari setelah kucing terinfeksi (cyste) atau 20-34 hari (ookista), selama 10-14 hari pada
infeksi primer – Ookista yang tidak bersporulasi tidak berbahaya (not infective).
Sporulasi membutuhkan oksigen, kelembaban dan suhu yang mendukung (1-5 hari) •
Tachyzoite, sangat infektif – Ditemukan pada jaringan hewan yang terinfeksi akut, juga
pada susu, dan telur – Mudah mati dengan pasteurisasi, asam lambung dan enzim
pencenaan • Bradyzoite – Karnivora terinfeksi Toksoplasma dari memakan daging yang
mengandung cyst bradyzoite, termasuk manusia (babi, kambing, domba)
21. 21. Diagnosis • Pemeriksaan ookista (feses) – Memerlukan teknik dan pengalaman. –
Umumnya tidak memuaskan. Ookista dikeluarkan 1-3 minggu setelah infeksi – Gejala
klinik muncul setelah ookista selesai dikeluarkan • • Pemeriksaan klinis juga tidak
spesifik Serologis (memeriksa antibodi terhadap Toxoplasma). Titer serum IgM, IgG, dan
antigen — merupakan sumber informasi definitif dari sampel tunggal. Menentukan tipe
infeksi (aktif, akut, kronik) dengan pengambilan 3 mgg kemudian (pairing sample) –
ELISA, indirect fluorescence antibody assay, indirect hemagglutination assay, modified
agglutination test, latex agglutination test • • • Biologis PCR Histologis
22. 22. Diagnosis • Antibodi IgM – Alat diagnosis infeksi aktif – meningkat 1-2 mgg pasca
infeksi – menurun hingga 2-3 bulan pasca infeksi. Titer antibodi IgM (>1:256) = positif –
prolonged titer : reaktivasi atau IgG lambat akibat imunosupresi (FIV, FIP atau
pemberian steroid) – false negatif (infeksi akut) – 80-90% penderita – penderita FIV
tidak menunjukkan IgM
23. 23. Diagnosis • Antibodi IgG muncul 4-6 mgg setelah infeksi, bertahan hingga setahun
atau lebih (6 tahun) • Titer tunggal IgG tinggi tidak bersifat diagnostik • IgG diukur ulang
(stadium akut dan convalescence, interval 3-4 mgg). Hasilnya meningkat 4 kali = positif •
Seropositif IgG – Tidak mengeluarkan ookista – Infeksi ulang, ookista sedikit •
Seronegatif IgG – Tidak mengeluarkan ookista – Dalam tahap perkembangan, bila
terifeksi Toksoplasma • Antigen : positif 1–4 mgg pasca infeksi; antigen tetap positif
dalam kondisi infeksi aktif atau kronik persisten, tidak berpengaruh terhadap titer
antibodi
24. 24. Diagnosis • CSF dan aqueous humor dianalisa terhadap adanya tachyzoite atau
antibodi anti-T. gondii. Pemeriksaan postmortem, tachyzoite tampak dengan teknik tissue
impression smears • Pemeriksaan histologis menunjukkan adanya tachyzoite atau
bradyzoite. Morfologi T. gondii mirip dengan protoza lain dan harus dibedakan dengan
Sarcocystis spp (sapi), S. neurona (kuda), Neospora caninum (anjing)
25. 25. Diagnosis • Definitif : – Deteksi tachyzoite (Dye test, gold standart pada manusia) –
DNA (PCR, polymerase chain reaction) – Cairan tubuh, cairan respirasi, biopsi jaringan
(metode sitologi, histologi, imunohistokimia, PCR)
26. 26. Diagnosa Banding • Penyakit intraokular (anterior eveitis) – FIP, FeLV, FIV, trauma
• Dispnea – Asthma, kardiogenik, pneumonia [bakteri, viral, parasit], neoplasia, cacing
jantung, hernia diafragmatika • Neurologik (meningoencephalitis) – Viral [FIP, rabies,
pseudorabies], fungal [cryptococcosis, blastomycosis, histoplasmosis] – Bakterial,
Idiopati [feline polioencephalomyelitis]
27. 27. Terapi • Terapi umumnya sulit. Efikasi obat tidak banyak diketahui • Clindamycin
HCl, 25-50 mg/kg/hari IM/PO (dosis terbagi), 2-4 minggu – Respon bervariasi – Periksa
2 hari pasca terapi – gejala klinis (demam, hiperestesia, anoreksia, uveitis). Uveitis
sembuh dg baik dalam 1 minggu – Periksa 2 minggu pasca terapi – neuromuskular mulai
membaik, (defisit neurologis bisa permanen – SSP atau kerusakan neuromuskular perifer)
– Periksa 2 minggu pasca pemilik menyatakan membaik – memutuskan pengobatan
dihentikan; defisit neuromuskular permanen – Efek samping : anoreksia, muntah, diare
(dose dependent) – Clindamycin dan Pyrimethamine (1 mg/kg/hari)
28. 28. Terapi • Azithromycin (10 mg/kb PO q24h) • Kombinasi Sulfadiazine (30 mg/kg PO
q12h) dengan Pyrimethamine (0,5 mg/kg PO q12h) selama 2 minggu; [depresi, anemia,
leukopenia, thrombositopenia, terutama pada kucing] • Asam folat (5 mg/hari) selama
terapi, memperbaiki efek supresi sum-sum tulang • Trimethoprime/Sulfadiazine •
Antikoksidia lain, Monensin atau Toltrazuril dapat menurunkan oocyte shedding • Belum
ada vaksin (Live vaccine untuk domba [Tovovax, Intervet BV, The Netherlands; AgVax,
AgResearch, New Zealand])
29. 29. Terapi • Tidak ada obat yang dapat mengatasi penyakit (menghilangkan Toxoplasma)
secara sempurna • Prognosis infausta pada penderita yang disertai gangguan pada hepar,
paru, SSP • Enukelasi mata pada penderita luksasio lensa dan glaucoma • Penderita
disertai gejala SSP tidak bisa pulih
30. 30. Pencegahan • Jaga agar kucing tidak defekasi di sembarang tempat • Ganti kotak pasir
tiap hari. Desinfeksi kotak pasir • Jauhkan kucing dari kotak pasir (tutup jika tidak
digunakan) atau tempat bermain dimana kucing kemungkinan defekasi • Jangan
mengunakan pasir bekas kotak pasir untuk pupuk, media tanam • Jaga agar kucing tidak
berburu, mencari makan di luar rumah • Beri pakan komersial atau makanan matang •
Diduga kecoak dan lalat bertindak sebagai vektor mekanik
31. 31. Pencegahan • Hindari makan makanan mentah – – – – Sayuran Daging Susu Telur •
Cuci dengan baik sayuran atau buah yang akan dimakan (air mengalir) • Gunakan sarung
tangan bila berkebun dan cuci tangan • Bila merencanakan hamil, periksa sebelumnya
(TORCH) • Ibu hamil sebaiknya tidak mengganti kotak pasir • Ibu hamil sebaiknya
menghindari kontak dengan tanah, kotak pasir, daging segar
32. 32. Pencegahan • Memasak menggunakan mikrowave, pengasapan, penggaraman tidak
mampu membunuh Toksoplasma dengan baik • T. gondii di dalam daging, mati pada
panas (>67 oC) atau dingin (-13 oC) yang ekstrim • Pembekuan bahan makanan hingga -
10 oC selama 24 jam dapat membunuh cyste Toksoplasma di jaringan, namun oocyte
yang bersporulasi bertahan hidup pada -20 oC dalam 28 hari
33. 33. Reference • • • • • • Lappin, MR, Greene CE, Winston S, Tool S, Epstein ME. (1989)
Clinical feline toxoplasmosis. Serological diagnosis and therapeutic management in 15
cases. J Vet.Int.Med. 3(3):139-143 Sedlak K, E Bartova. (2006) The prevalence of
Toxoplasmosis gondii IgM and IgG antibodies in dogs and cats from Chezch Republic.
Vet.Med. 51(12):555-558 De Craeye S,A Fracart, J Chabauty, V de Vreen (2008)
Prevalence Toxoplasma gondii infection in Belgian house cats. Vet.Par. 157(1):128-132
Oncel, T., E Handemir, K Kamburgl, S Yurtalan (2007) Determination of Seropositivity
for Toxoplasma gondii in Stray Dog in Istanbul Turkey.Revue.Med.Vet. 158(5):223228
Park. et al. 2012. Cutaneous Toxoplasmosis in a Female Japanese Cats. Vet.Pathol.
49(20): Lingard, A. 2011. Update On Toxoplasmosis Diagnosis : Serology. ACVSc
Week.Melbourne. 83-84

http://www.slideshare.net/triakoso/kucing-dan-toxoplasma-2012-triakoso