Anda di halaman 1dari 10

34

2.6
Indeks MassaTubuh (IMT)
2.6.1
Definisi Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan alat atau cara yang sederhana
untuk memantau status gizi pada orang dewasa. Khususnya yang berkaitan dengan
kekurangan dan kelebihan berat badan (Depkes RI, 2000). Pengukuran yang
meliputi berat badan dan tinggi badan merupakan suatu indikator didalam
mengukur status gizi yang secara tidak langsung menentukan besar komposisi
tubuh dengan status tertentu. Salah satu parameter yang memberikan gambaran
mengenai gambaran massa tubuh adalah berat badan. Dalam keadaan normal dan
kesehatan yang baik serta keseimbangan anatara konsumsi dan kebutuhan zat gizi
terjamin, maka berat badan berkembang mengikut
i pertumbuhan umur.
Sebaliknya pada kondisi abnormal, terdapat 2 kemungkinan yang terjadi pada
perkembangan badan seseorang. Yaitu, dapat berkembang cepat atau lebih lambat
dari keadaan normal (Supariasa, 2002). Indeks massa tubuh (IMT) adalah rasio
berat
badan dibagi tinggi badan kuadrat yang dinyatakan dalam tabel normogram.
Angka yang menunjukkan skor indeks massa tubuh (IMT) proporsional dengan
tubuh seseorang. Skor nilai yang kecil untuk kategori orang dengan barat badan
rendah sedangkan skor nilai yan
g besar menunjukkan kategori seseorang dengan
berat badan yang berlebih (Soetjiningsih, 2004).
Menurut WHO (2000), indeks massa tubuh (IMT) merupakan kalkulasi
angka dari berat badan dan tinggi badan seseorang. Nilai yang didapatkan dari
berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi dalam ukuran meter
35
(kg/m
2
2.6.2
Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)
:
). Pada orang dewasa nilai yang ditunjukkan oleh indeks massa tubuh
(IMT) tidak bergantung pada umur maupun jenis kelamin (WHO, 2000).
1.
Menurut
World H
ealth Organization
(WHO)
Penilaian indeks massa tubuh (IMT) untuk orang dewasa yang berusia
20 tahun keatas, IMT diinterpretasi dengan menggunakan
kategori
status badan standar
yang sama untuk semua umur bagi pria dan
wanita (CDC, 2009). Secara umum, skor
nilai IMT diatas 25
didefinisikan sebagai kategori obesitas. Standar baru untuk indeks
massa tubuh telah dipublikasikan tahun 1998 oleh
World Health
Organization
(WHO). Dimana skor nilai dibawah 18,5 dikategorikan
sangat kurus atau
underweight
, sedangkan indeks massa tubuh
melebihi skor nilai 23 dikategorikan sebagai berat badan berlebih atau
overweight
.
36
Tabel 2.2
Klasifi
kasi Indeks Massa Tubuh menurut
WHO
Klasifikasi
IMT (kg/m
2
)
Principal cut
-
off point
Additional cut
-
off points
Underweight
<18,50
<
18,50
Severe thinness
<16,00
<16,00
Moderate thinness
16,00

16,99
16,00

16,99
Mild thinness
17,00

18,49
17,00

18,49
Normal range
18,50 – 24,99
18,50

22,99
23,00

24,99
Overweight
≥ 25,00
≥ 25,00
Pre
-obese
25,00 – 29,99
25,00

27,49
27,50

29,99
Obese
≥ 30,00
≥ 30,00
I.
Obese Class
30,00 – 34,99
30,00

32,49
32,50
-
34,99
II.
Obese Class
35,00 – 39,99
35,00

37,49
37,50

39,99
III.
Obese Class
≥ 40,00
≥ 40,00
Sumber: Adapted from WHO, 1995, WHO, 2000 and WHO 2004.
2.
Menurut Kriteria Asia Pasifik
Dalam Buku Sugondo (2006), dijelaskan bahwa meta
-analisis
beberapa kelompok etnik berbeda, dengan konsentrasi lemak tubuh,
usia, dan gender yang sama menunjukkan bahwa etnik Amerika kulit
hitam memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih tinggi da
ri etnik
Polinesia dan etnik Polinesia memiliki nilai Indeks Massa tubuh (IMT)
lebih tinggi dari etnik Kaukasia. Sedangkan untuk Indonesia memili
ki
nilai IMT berbeda 3,2 kg/m
2
dibandingkan etnik Kaukasia. Kriteria
Asia Pasifik diperuntukkan untuk orang-
ora
ng yang berdomisili di
daerah Asia, karena Index Massa Tubuh orang Asia lebih kecil sekitar
2- 3 kg/m
2
dibanding orang Afrika, orang Eropa, orang Amerika,
ataupun orang Australia.
37
Tabel 2.3
Klasifikasi Indeks Massa Tubuh menurut Kriteria Asia Pasifik
Klasifikasi
Ind
eks Massa Tubuh (IMT)
Kurang
dari
normal
Kisaran normal
Berat badan lebih
Beresiko
Obese I
Obese II
< 18,5
18,5 – 22,9
≥ 23
23 – 24,9
25 – 29,9
≥ 30
Referensi: Sugondo. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Ed. IV Jilid III.
3.
Menurut Departemen Kesehatan RI
Batas
ambang nilai Indeks Massa Tubuh di Indonesia dimodifikasi
kembali berdasarkan dari pengalaman klinis dan hasil beberapa
penelitian. Maka didapatkan kriteria sebagai berikut:
Tabel 2.4
Klasifikasi
Indeks Massa Tubuh menurut
Depkes
RI
Gender
Kategori IMT (kg/m
2
)
Kurus
Normal
Kegemukan
Tingkat ringan
Tingkat Berat
Pria
<18 kg/m
18

25 kg/m
2
>25

27 kg/m
2
>27 kg/m
2
2
Wanita
<17 kg/m
17
-
23 kg/m
2
>23

27 kg/m
2
2
Referensi: Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2000)
2.6.3
Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT)
Berdasarkan metode pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut
WHO, untuk menentukan indeks massa tubuh, sampel harus diukur terlebih
dahulu berat badannya dengan menggunakan timbangan kemudian diukur tinggi
badannya dan angka dari pengukuran tersebut dima
sukkan ke dalam rumus
dibawah ini:
퐼퐼퐼퐼퐼퐼
=
푏푏푏푏푏푏푏푏푏푏
푏푏푏푏푏푏푏푏푏푏
(
푘푘푘푘
)
푏푏푡푡푏푏푘푘푘푘푡푡
푏푏푏푏푏푏푏푏푏푏
(
푚푚
2
)
38
2.6.4
Interpretasi Indeks Massa Tubuh (IMT)
a.
Kategori
Underweight
Indeks massa tubuh dikatakan kurus atau
underweight
apabila
pembagian berat per kuadrat tingginya kurang dari 18 kg/m
2
b.
Kategori Normal
. Hal ini
biasanya disebabkan oleh konsumsi energ
i yang lebih rendah dari
kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh sehingga akan menyebabkan
cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan diguna
kan. Seseorang
dengan kategori indeks massa tubuh rendah cenderung memiliki
penampilan yang kurang menarik, sering mengalami keletihan serta
dapat menyebabkan timbulnya risiko penyakit infeksi.
Dalam kategori normal, berat badan normal dap
at diwuj
udkan dengan
mengkonsumsi energi
sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan tubuh,
sehingga
tidak terjadi penimbunan energi
dalam bentuk lemak,
maupun penggunaan lemak sebagai sumber energi.
c.
Kategori
Overweight
Overweight
atau kelebihan berat badan adalah keadaan dimana berat
badan seseorang melebihi berat badan normal. Skor indeks massa
tubuh (IMT) untuk kategori
overweight
berada pada rentang nilai 23
-
24,9. Hal ini disebabkan karena lebih banyak asupan makanan yang
masuk daripada yang dikeluarkan oleh t
ubuh sehingga jumlah
cadangan lemak dalam tubuh berlebih.
39
d.
Kategori obesitas
Obesitas terjadi ketika jumlah cadangan lemak sudah
overload
dan
memiliki potensi mengganggu kesehatan tubuh dan menimbulkan
berbagai penyakit. Angka penderita obesitas tiap tahun
semakin
meningkat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik serta pola
hidup yang
sedentary
.
2.6.5
Faktor
-faktor yang mempengaruhi peningkatan IMT
Ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dengan
kebutuhan tubuh menyebabkan penambahan berat badan seseorang. Ketika
makanan yang dikonsumsi memberikan kalori lebih dari kebutuhan tubuh, maka
kalori tersebut akan ditu
kar atau disimpan sebagai lemak. Pada awalnya
peningkatan hanya terjadi pada ukuran sel
-sel lemak namum apabila ukuran sel
-
sel
tersebut tidak dapat mengalami peningkatan lagi maka sel
-sel tersebut akan
bertambah banyak. Terdapat banyak penyebab terjadinya obesitas.
Ketidakseimbangan asupan kalori dan konsumsi bervariasi tiap individu. Selain
itu, usia, jenis kelamin, faktor genet
ik, psikososial, dan faktor lingkungan turut
berperan dan berkontribusi terhadap peningkatan berat badan seseorang
(Galletta,
2005).
1.
Usia
Ketika usia semakin bertambah, seseorang akan kehilangan massa otot
dan mudah terjadi akumulasi lemak dalam tubuh. Kadar metabolism
e
dalam tubuh juga akan menurun sehingga
akan menyebabkan
kebutuhan kalori yang diperlukan lebih rendah (Galletta, 2005).
40
2.
Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan faktor internal yang menentukan kebutuhan
gizi sehingga ada hubungan antara jenis kelamin dengan status gizi
(Apriadji, 1986). Jenis kelamin laki
-laki rata-
rata memiliki massa otot
yang lebih banyak dari wanita. Penggunaan kalori lebih banya
k
digunakan oleh laki
-laki dibandingkan wanita bahkan saat istirahat.
Hal ini dikarenakan otot y
ang membakar kalori lebih banyak
dibandingkan tipe
-tipe jaringan yang lain. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa wanita lebih mudah dalam peningkatan berat
badan dibandingkan laki
-laki dengan asupan kalori yang sama
(Galletta, 2005).
3.
Faktor Genetik
Menu
rut Mustofa (2010),
parental fatness
merupakan faktor genetik
yang berperan besar dalam obesitas. Bila kedua orangtua mengalami
obesitas, 80% kemungkinan anaknya akan mengalami hal yang sama.
Namun, apabila hanya salah satu orang tua yang mengalami obesitas,
angka kejadian yang timbul menjadi 40%. Sementara apabila kedua
orang tua tidak mengalami obesitas prevalensi menjadi 14%.
4.
Faktor Psikososial
Faktor emosi yang dialami dapat mempengaruhi peningkatan berat
badan.
Seseorang akan cenderung makan berlebihan
ketika sedang
merasakan bosan, putus asa, depresi ataupun karena sebab yang lain
dimana sebenarnya dalam kondisi ini tidak butuh makan. Pada
41
umumnya kondisi ini banyak dialami oleh wanita muda
karena
perasaan yang dialami sangat berpengaruh terhadap kebiasaan
makannya.
5.
Faktor Lingkungan
Dengan kemajuan teknologi, seperti adanya kendaraan bermotor,
lift
,
dan lain sebagainya dapat memicu terjadinya obesitas karena
kurangnya
aktivitas
fisik yang dilakukan oleh sesorang. Gaya hidup
yang seperti ini yang meni
ngkatkan risiko obesitas. Kebiasaan
mengonsumsi makanan
junk food
juga dapat menyebabkan obesitas
karena pada umumnya berkalori tingggi. Selain itu, aktivitas fisik
juga
merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kebutuhan
energi, sehingga apabila
aktivitas fisik rendah maka kemungkinan
terjadinya obesitas akan meningkat. Kurangnya aktivitas fisik inilah
yang menjadi penyebab obesitas karena kurangnya pembakaran lemak
dan sedikitnya energi yang dipergunakan (Mustofa, 2010).
42