Anda di halaman 1dari 1

Nifa Anzalta Minfadlika Failusuf

15114095
K-01 Dina A. Sarsito
Dasar-Dasar Geodesi Fisik

Tinggi Dinamik

Sistem tinggi dinamik memiliki hubungan yang sangat kuat dengan sistem
geopotensial, sistem ini pernah dikembangkan oleh Helmert ( 1884 ). Pada tinggi
dinamis, gaya berat rata–rata diambil suatu harga berat normal standar bagi daerah
yang bersangkutan, yaitu harga gaya berat normal yang dekat dengan nilai harga gaya
berat rata –rata di daerah itu. Untuk tinggi dinamis global, biasanya diambil harga gaya
berat normal pada lintang 45o . Untuk Indonesia bisa ditentukan harga gaya berat
normal di ekuator dengan sistem referensi GRS – 1967 yaitu : 978.032 gal. ( Irawan
Syafri , 1990 ).
Nilai geopetensial didefinisikan sebagai nilai konstanta. Tinggi dinamis
menyerap karakter yang sama, hal yang membedakannya adalah tinggi dinamis
memiliki dimensi jarak. Dengan kata lain tinggi dinamis tidak memiliki nilai geografis,
melainkan hanya memiliki nilai kuantitas fisik bumi ( Physical Quantity ). Tinggi dinamis
dapat dinyatakan dengan banyaknya lapisan-lapisan bidang ekipotensial, sehingga
setiap tinggi memiliki satuan potensial. ( Heiskanen and Moritz, 1967; Jakeli, 2000 ).
Pada prinsipnya, tinggi dinamis adalah titik-titik yang terletak pada bidang
ekipotensial yang dianggap memiliki tinggi yang sama. Perbedaan tinggi dinamik
dengan bilangan geopotensial hanya dalam skala atau satuan saja. Tinggi dinamik
memiliki koreksi yang sangat besar karena terdapat perbedaan gaya berat dari ekuator
ke kutub sehingga tinggi dinamik tidak sesuai untuk digunakan sebagai tinggi secara
praktis.