Anda di halaman 1dari 15

Nama: Sulastry Pandensolang

NIM: 00117047
Lokal: B (S.Kep – Konversi)

INTOKSIKASI
A. Pengertian Keracunan
Keracunan adalah masuknya suatu zat kedalam tubuh kita yang dapat mengganggu
kesehatan bahkan dapat mengakibatkan kematian. Keracunan merupakan kondisi
kedaruratan yang sering terjadi pada anak, mengingat kondisi bila tidak di tangani dengan
segera, maka kondisi tersebut akan mengancam jiwa anak.

B. Penyebab Terjadinya Keracunan


Zat yang dapat menyebabkan keracunan dapat berbentuk :
1. Padat, misalnya obat-obatan, dan makanan.
2. Gas, misalnya CO.
3. Cair, misalnya alcohol, bensin, minyak tanah, dan zat kimia.

Seseorang dapat mengalami keracunan dengan cara :


1. Tertelan melalui mulut, misalnya keracunan makanan, minuman dan obat-obatan.
2. Terhisap melalui hidung, misalnya keracunan gas CO.
3. Terserap melalui kulit/mata, misalnya keracunan zat kimia.
4. Melalui suntikan atau gigitan, misalnya gigitan/sengatan binatang berbisa (ular,
kalajengking), dan obat suntik.

C. Gejala Dan Tanda Keracunan Secara Umum


Gejala dan tanda keracunan yang khas biasanya sesuai dengan jalur masuk racun ke
dalam tubuh. Bila masuk melalui saluran pencernaan, maka gangguan utama akan terjadi
pada saluran pencernaan. Bila masuk melalui jalan nafas maka yang terganggu adalah
pernafasannya dan bila melalui kulit akan terjadi reaksi setempat lebih dahulu. Gejala
lanjutan yang terjadi biasanya sesuai dengan sifat zat racun tersebut terhadap tubuh.
Gejala dan tanda keracunan umum :
1. Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan
2. Penurunan respon
3. Gangguan pernafasan
4. Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan
5. Mual, muntah, diare
6. Lemas, lumpuh, kesemutan
7. Pucat atau sianosis
8. Kejang-kejang
9. Gangguan pada kulit
10. Bekas suntikan, gigitan, tusukan
11. Syok
12. Gangguan irama jantung dan peredaran darah pada zat tertentu.

1. Intoksikasi Amfetamin
Amfetamin adalah suatu senyawa sintetik yang tergolong perangsang susunan
sarafpusat.
Ada 3 jenis amfetamin, yaitu:
1. Laevoamfetamin (benzedrin)
2. Dekstroamfetamin (deksedrin)
3. Metilamfetamin (metedrin)

Banyak macam derivat amfetamin dibuat dengan sengaja oleh laboratorium


dengan tujuan penggunaan rekreasional, misalnya yang banyak disalahgunakan di
Indonesia saat ini adalah 3,4 metilen-di-oksi met-amfetamin (MDMA) atau lebih
dikenal sebagai ekstasi, dan met-amfetamin (sabu-sabu). Metilfenidat (Ritalin) jarang
disalahgunakan. Dalam bidang Psikiatri, metilfenidat digunakan untuk terapi anak
dengan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif).
Pada umumnya, amfetamin dikonsumsi melalui suntikan intravena atau subkutan,
inhalasi uap, snorting, supositoria, atau secara oral.

 gejala : mulut kering, hiperaktif, anorexsia, takikardi, aritmia, psikosis, kegagalan


pernafasan dan sirkulasi.
 tindakan :Bilas lambung,Klorpromazin 0,5-1 mg/kg dapat di ulang tiap 30 menit,
kurangi rangsangan luar(sinar, bunyi).
2. Intoksikasi Baygon
Keracunan organofosfat atau keracunan Obat Nyamuk adalah reaksi keracunan
karena seseorang menghirup, atau meminum cairan organofosfat. Organofosfat adalah
salah satu jenis insektisida. Dosis tinggi dari organofosfat dapat membahayakan nyawa
manusia dan hewan. Keracunan ini terjadi ketika anda terpapar terlalu banyak, terlalu lama
dan dalam kadar yang tinggi.
Organofosfat dicirikan sebagai cairan yang berubah warna menjadi coklat pada suhu
ruangan. Beberapa cairan bahkan memiliki bau seperti buah-buahan. Sehingga sangat sulit
dibedakan terutama bagi anak-anak.
Keracunan Insektisida Gol.Organofosfat (Diazinon, Malathion, baygon)
Gejala: mual, muntah, nyeri perut, hipersalivasi, nyeri kepala, mata miosis, kekacauan
mental, bronchokonstriksi, hipotensi, depresi pernafasan dan kejang.
Tindakan:
 Atropin 2 mg tiap 15 menit sampai pupil melebar
 Jangan diberi morfin dan aminophilin.

3. Intoksikasi Morfin
Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupaakan alkaloida utama
dari opium (C17H19NO3). Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih
atau dalam bentuk cairan berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan.
1. Keracunan Narkotika (Heroin, Morfin, Kodein)
Gejala: mual, muntah, pusing, kulit dingin, pupil miosis, pernafasan dangkal sampai
koma.
Tindakan:
 Jangan lakukan emesis
 Beri Nalokson 0,4 mg iv tiap 5 menit (atau Nalorpin 0,1 mg/Kg BB.
Obat terpilih Nalokson (dosis maximal 10 mg), karena tidak mendepresi pernafasan,
memperbaiki kesadaran, hanya punya efek samping emetik.
Karenanya pada penderita koma tindakan preventif untuk aspirasi harus disiapkan

Nama- Nama Obat Lebel Biru


1. Cohistan Expectorant
Cohistan adalah terapi untuk meredakan batuk produktif dan batuk alergi.Cohistan
akan meningkatkan produksi dan mengubah kekentalan secret saluran pernapasan menjadi
lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan. COHISTAN akan menyejukkan selaput lendir
yang teriritasi, menyebabkan pasien lega dari batuk produktif dan batuk alergi.
COHISTAN meredakan batuk karena alergi, COHISTAN menghambat histamine yang
menyebabkan kongesti, spasme dan gatal-gatal ditenggorokan tanpa mengganggu
kelembutan mukosa saluran napas yang normal. Obat ini akan meredakan dan mencegah
reaksi-reaksi alergi yang dapat memperberat batuk yang bukan karena alergi.
Komposisi

Setiap 5 ml ( 1 sendok takar ) mengandung :


Guaifenesin : 50 mg
Klorfeniramin Maleat : 1 mg
Indikasi

Cohistan Expectorant mencairkan sekret yang kental untuk mempermudah


pengeluarannya dan meredakan batuk produktif dan batuk karena alergi.
Dosis

(3 – 4 kali sehari)
Anak-anak 2 – 6 tahun : 5 ml ( 1 sendok takar )
Anak-anak 7 – 12 tahun : 7,5 ml (1 ½ sendok takar )
Dewasa : 15 ml ( 3 sendok takar )
Atau atas petunjuk dokter.
Perhatian

Selama minum obat ini tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan
mesin.

2. Chloramphenamine Maleat 4mg

Merek dagang

 CTM, Chlorphenamine, Chlorpheniramin Maleat


 Obat Kombinasi: Aficitom, Allergen, Alleron, Bephenon, Bernamin, Ceteem,
Chlorophene, Chlorphenon, Cohistan, Decaphenon, Defemin, Histacure, Hufaphenon,
Iphachlor, Kalphenon, Kalphenon, Metachlor, Metasma, M-Phenon, Orphen,
Paraphenon, Pehachlor, Piriton Expectorant Linctus, Phenfamal, Piriton, Prohistab,
Samphenon, Sinamin, Tiramin, Xepachlor, Zecamex
Indikasi:

Pengobatan pada gejala-gejala alergis, seperti: bersin, rinorrhea, urticaria, pruritis, dll.
Komposisi: Tiap tablet mengandung: Chlorpheniramini maleas 4 mg
Efek Samping: Kadang-kadang menyebabkan rasa ngantuk. Perhatian: Selama minum
obat ini, jangan mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.
Dosis

Dewasa: 3 – 4 kali sehari 0.5 – 1 tablet.


Anak-anak 6 – 12 tahun: 0.5 dosis dewasa.
Anak-anak 1 – 6 tahun: 0.25 dosis dewasa

Per oral: 4 mg tiap 4-6 jam; maksimal 24 mg/hari.

Anak
 di bawah 1 tahun tidak dianjurkan;
 1-2 tahun 1 mg 2 kali sehari;
 2-5 tahun 1 mg tiap 4-6 jam, maksimal 6 mg/hari;
 6-12 tahun 2 mg tiap 4-6 jam, maksimal 12 mg/hari.
Injeksi:
1. Injeksi subkutan atau intramuskular: 10-20 mg, diulang bila perlu maksimal 40 mg
dalam 24 jam.
2. Injeksi intravena lambat, lebih dari 1 menit: 10-20 mg dilarutkan dalam spuit dengan
5-10 ml darah atau dengan NaCl steril 0,9% atau air khusus untuk injeksi.

3. Pyrantel
Golongan

Kandungan
Pyrantel pamoat.
Indikasi
Ascariasis, oxyuriasis, ankylostomiasis, necatoriasis, trichostrongyliasis dalam bentuk
infeksi tunggal atau infeksi campuran.
Perhatian
Pasien yang mempunyai gangguan fungsi hati.
Kemasan
Suspensi 125 mg/5 ml x 60 ml
Dosis
Dosis tunggal 10 mg/kg berat badan.
Penyajian
Dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau tidak
Pabrik
Belum tersedia hanya sebagai informasi.

3. Miconazole krim 2%
Informasi Miconazole Krim 2%.
Pabrik
Kimia Farma.
Komposisi
Tiap gram mengandung :
Miconazol nitrat 0,02 gram.
Indikasi
 Terapi topical : tinea pedis, kruris dan korporis oleh epidermophyton, microsporum
dan trichophyton.
 Kandidiasis kulit oleh candida albicans.
 Tinea versikolor oleh malassezia furfur.
Kontraindikasi
Hipersensitive.
Cara pemakaian
Dewasa dan anak-anak : dioleskan secukupnya.
 Tinea pedis, kruris, korporis dan kandidiasis : 2 kali sehari (pagi dan malam), selama
2 minggu.
 Tinea versikolor : sekali sehari.
Peringatan dan perhatian
 Hindarkan kontak dengan mata.
 Diperlukan kepatuhan pasien untuk menyelesaikan terapi.
 Apabila setelah 1 bulan pengobatan tidak terlihat adanya perbaikan, diagnosa harus
ditelah kembali.
 Apabila terjadi reaksi hipersensitivitas berupa iritasi, maserasi atau rasa terbakar,
penggunaan obat harus dihentikan.

5. Zinkid zinc sirup 10mg/5ml.


Golongan:

Deskripsi
Tiap 5 ml mengandung zinc sulfate 27,45 mg setara dengan zinc 10 mg.
Indikasi

Pelangkap untuk pengobatan diare pada anak-anak di bawah 5 tahun, diberikan bersama
oralit.
Cara Kerja Obat :
Pengobatan diare bersama oralit bertujuan untuk mencegah atau mengobati dehidrasi dan
untuk mencegah kekurangan nutrisi.
Pemberian zinc bersama oralit sesegera mungkin stelah terjadi diare akan mengurangi
lama dan tingkat keparahan dari dehidrasi.setelah dehidrasi berhenti berikan zinc secara
kontinyu untuk menggantikan zinc yang hilang.Resiko anak akan mengalami diare
kembali dalam waktu 2-3 bulan ke depan dapat berkurang.
Kemasan

Sirup 100 mL rasa tutty fruity x 1's


Dosis

Bayi 2- 6 bulan : 5 ml diberikan setiap hari selama 10 hari berturut-turut ( bahkan ketika
diare telah berhenti .
Anak 6 bualn - 5 tahun : 10 ml diberikan setiap hari selama 10 hari berturut-turut
( bahkan ketika diare telah berhenti .
Jika terjadi muntah dalam waktu 1/2 jam setelah pemberian obat,berikan lafi obat yang
masih baru.
Tak Ada Pilihan

Tak ada pilihan


Pabrik

Indofarma

A. Susunan Piramidal dan Ekstrapiramidal


Susunan Piramidal
Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik secara langsung ke LMN atau
melalui interneuronnya, tergolong dalam kelompok UMN. Neuron-neuron tersebut
merupakan penghuni girus presentralis . Oleh karena itu, maka girus tersebut dinamakan
korteks motorik. Mereka berada dilapisan ke-V dan masing-masing memiliki hubungan
dengan gerak otok tertentu. Melalui aksonnya neuron korteks motorik menghubungi
motoneuron yang membentuk inti motorik saraf kranial dan motoneuron dikornu anterius
medulaspinalis.
Akson-akson tersebut menyusun jaras kortikobulbar dan kortikospinal. Sebagai
berkas saraf yang kompak mereka turun dari korteks motorik dan ditingkat thalamus dan
ganglia basalia mereka terdapat diantara kedua bangunan yang dikenal sebagai kapsula
interna.
Sepanjang batang otak, serabut-serabut kortikobulbar meninggalkan kawasan mereka
untuk menyilang garis tengah dan berakhir secara langsung dimotoneuron saraf kranial
motorik atau interneuronnya disisi kontralateral. Sebagian dari serabut kortikobulbar
berakhir di inti-inti saraf kranial motorik sisi ipsilateral juga.
Diperbatasan antara medulla oblongata dan medulla spinalis, serabut-serabut
kortikospinal sebagian besar menyilang dan membentuk jaras kortikospinal lateral yang
berjalan di funikulus posterolateral kontralateralis. Sebagian dari mereka tidak menyilang
tapi melanjutkan perjalanan ke medula spinalis di funikulus ventralis ipsilateralis dan
dikenal sebagai jaras kortikospinal ventral atau traktus piramidalis ventralis.

Susunan Ekstrapiramidal
Susunan ekstrapiramidal terdiri atas korpus striatum, globus palidus, inti-inti
talamik, nukleus subtalamikus, subtansia nigra, formatio retikularis batang
otak,serebelum berikut dengan korteks motorik tambahan, yaitu area 4, area 6 dan area 8.
komponen-komponen tersebut dihubungkan satu dengan yang lain oleh akson masing-
masing komponen itu. Dengan demikian terdapat lintasan yang melingkar yang dikenal
sebagai sirkuit. Oleh karena korpus striatum merupakan penerima tunggal dari serabut-
serabut segenap neokorteks, maka lintasan sirkuit tersebut dinamakan sirkuit striatal
yang terdiri dari sirkuit striatal utama (principal) dan 3 sirkuit striatal penunjang
(aksesori).
Sirkuit striatal prinsipal tersusun dari tiga mata rantai, yaitu (a) hubungan segenap
neokorteks dengan korpus striatum serta globus palidus, (b) hubungan korpus
striatum/globus palidus dengan thalamus dan (c) hubungan thalamus dengan korteks area
4 dan 6. Data yang tiba diseluruh neokorteks seolah-olah diserahkan kepada korpus
striatum/globus paidus/thalamus untuk diproses dan hasil pengolahan itu merupakan
bahan feedback bagi korteks motorik dan korteks motorik tambahan. Oleh karena
komponen-komponen susunan ekstrapiramidal lainnya menyusun sirkuit yang pada
hakekatnya mengumpani sirkuit striata utama, maka sirkuit-sirkuit itu disebut sirkuit
striatal asesorik.
Sirkuit striatal asesorik ke-1 merupakan sirkuit yang menghubungkan stratum-
globus palidus-talamus-striatum. Sirkuit-striatal asesorik ke-2 adalah lintasan yang
melingkari globus palidus-korpus subtalamikum-globus palidus. Dan akhirnya sirkuit
asesorik ke-3, yang dibentuk oleh hubungan yang melingkari striatum-subtansia nigra-
striatum

B. Gejala Ektrapiramidal (EPS)


Istilah gejala ekstrapiramidal (EPS) mengacu pada suatu kelompok atau reaksi yang
ditimbulkan oleh penggunaan jangka pendek atau panjang dari medikasi antipsikotik.
Istilah ini mungkin dibuat karena banyak gejala bermanifestasikan sebagai gerakan otot
skelet, spasme atau rigitas, tetapi gejala-gejala itu diluar kendali traktus kortikospinal
(piramidal). Namun, nama ini agak menyesatkan karena beberapa gejala (contohnya
akatisia) kemungkinan sama sekali tidak merupakan masalah motorik. Beberapa gejala
ekstrapiramidal dapat ditemukan bersamaan pada seorang pasien dan saling menutupi satu
dengan yang lainnya.
Gejala Ektrapiramidal merupakan efek samping yang sering terjadi pada pemberian
obat antipsikotik. Antipsikotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati kelainan
psikotik seperti skizofrenia dan gangguan skizoafektif.
Gejala ekstrapiramidal sering di bagi dalam beberapa kategori yaitu reaksi distonia akut,
tardiv diskinesia, akatisia, dan parkinsonism (Sindrom Parkinson).

a. Reaksi Distonia Akut (ADR)

Keadaan ini merupakan spasme atau kontraksi involunter, akut dari satu atau
lebih kelompok otot skelet yang lazimnya timbul dalam beberapa menit. Kelompok otot
yang paling sering terlibat adalah otot wajah, leher, lidah atau otot ekstraokuler,
bermanifestasi sebagai tortikolis, disastria bicara, krisis okulogirik dan sikap badan
yang tidak biasa. Suatu ADR lazimnya mengganggu sekali bagi pasien. Dapat nyeri
atau bahkan dapat mengancam kehidupan dengan gejala-gejala seperti distonia laring
atau diafragmatik. Reaksi distonia akut sering sekali terjadi dalam satu atau dua hari
setelah pengobatan dimulai, tetapi dapat terjadi kapan saja. Keadaan ini terjadi pada
kira-kira 10% pasien, lebih lazim pada pria muda, dan lebih sering dengan neuroleptik
dosis tinggi yang berpotensi lebih tinggi, seperti haloperidol dan flufenazine. Reaksi
distonia akut dapat merupakan penyebab utama dari ketidakpatuhan dengan neuroleptik
karena pandangan pasien mengenai medikasi secara permanent dapat memudar oleh
suatu reaksi distonik yang menyusahkan.
b. Akatisia
Sejauh ini EPS ini merupakan yang paling sering terjadi. Kemungkinan terjadi
pada sebagian besar pasien yang diobati dengan medikasi neuroleptik, terutama pada
populasi pasien lebih muda. Terdiri dari perasaan dalam yang gelisah, gugup atau suatu
keinginan untuk tetap bergerak. Juga telah dilaporkan sebagai rasa gatal pada otot.
Pasien dapat mengeluh karena anxietas atau kesukaran tidur yang dapat disalah
tafsirkan sebagai gejala psikotik yang memburuk. Sebaliknya, akatisia dapat
menyebabkan eksaserbasi gejala psikotik akibat perasaan tidak nyaman yang ekstrim.
Agitasi, pemacuan yang nyata, atau manifestasi fisik lain dari akatisisa hanya dapat
ditemukan pada kasus yang berat. Juga, akinesis yang ditemukan pada parkinsonisme
yang ditimbulkan neuroleptik dapat menutupi setiap gejala objektif akatisia. Akatisia
sering timbul segera setelah memulai medikasi neuroleptikdan pasien sudah pada
tempatnya mengkaitkan perasaan tidak nyaman. Yang dirasakan ini dengan medikasi
sehingga menimbulkan masalah ketidakpatuhan pasien.

c. Sindrom Parkinson
Merupakan EPS lain yang agak lazim yang dapat dimulai berjam-jam setelah
dosis pertama neuroleptik atau dimulai secara berangsur-angsur setelah pengobatan
bertahun-tahun. Manifestasinya meliputi berikut :
Akinesia: yang meliputi wajah topeng, kejedaan dari gerakan spontan, penurunan
ayunan lengan pada saat berjalan, penurunan kedipan, dan penurunan mengunyahyang
dapat menimbulkan pengeluaran air liur. Pada bentuk yang yang lebih ringan, akinesia
hanya terbukti sebagai suatu status perilaku dengan jeda bicara, penurunan spontanitas,
apati dan kesukaran untuk memulai aktifitas normal, kesemuanya dapat dikelirukan
dengan gejala negative skizofrenia.
Tremor: khususnya saat istiraha, secara klasik dari tipe penggulung pil. Tremor dapat
mengenai rahang yang kadang-kadang disebut sebagai “sindrom kelinci”. Keadaan ini
dapat dikelirukan dengan diskenisia tardiv, tapi dapat dibedakan melalui karakter lebih
ritmik, kecerendungan untuk mengenai rahang daripada lidah dan responya terhadap
medikasi antikolinergik.
Gaya berjalan membungkuk: menyeret kaki dengan putaran huruf en cetak dan
hilangnya ayunan lengan.
Kekuan otot: terutama dari tipe cogwheeling
d. Tardive Diskinesia

Dari namanya sudah dapat diketahui merupakan sindrom yang terjadi lambat
dalam bentuk gerakan koreoatetoid abnormal, gerakan otot abnormal, involunter,
menghentak, balistik, atau seperti tik. Ini merupakan efek yang tidak dikehendaki dari
obat antipsikotik. hal ini disebabkan defisiensi kolinergik yang relatif akibat
supersensitif reseptor dopamine di puntamen kaudatus. Wanita tua yang diobati jangka
panjang mudah mendapatkan gangguan tersebut walaupun dapat terjadi di perbagai
tingkat umur pria ataupun wanita. Prevalensi bervariasi tetapi tardive diskinesia
diperkirakan terjadi 20-40% pasien yang berobat lama. Tetapi sebagian kasus sangat
ringan dan hanya sekitar 5% pasien memperlihatkan gerakan berat nyata. Namun,
kasus-kasus berat sangat melemahkan sekali, yaitu mempengaruhi berjalan, berbicara,
bernapas, dan makan. Factor predisposisi dapat meliputi umur lanjut, jenis kelamin
wanita, dan pengobatan berdosis tinggi atau jangka panjang. Pasien dengan gangguan
afektif atau organikjuga lebih berkemungkinan untuk mengalami diskinesia tardive.
Gejala hilang dengan tidur, dapat hilang timbul dengan berjalannya waktu dan
umumnya memburuk dengan penarikan neuroleptik. Diagnosis banding jika
mempertimbangkan diskinesia tardive meliputi penyakit Hutington, Khorea
Sindenham, diskinesia spontan, tik dan diskinesia yang ditimbulkan obat (contohnya
levodopa, stimulant dan lain-lain). Perlu dicatat bahwa diskinesia tardive yang diduga
disebabkan oleh kesupersensitivitasan reseptor dopamine pasca sinaptik akibat
blockade kronik dapat ditemukan bersama dengan sindrom Parkinson yang diduga
disebabkan karena aktifitas dopaminergik yang tidak mencukupi. Pengenalan awal
perlu karena kasus lanjut sulit di obati. Banyak terapi yang diajukan tetapi evaluasinya
sulit karena perjalanan penyakit sangat beragam dan kadang-kadang terbatas.
Diskinesia tardive dini atau ringan mudah terlewatkan dan beberapa merasa bahwa
evaluasi sistemik, Skala Gerakan Involunter Abnormal (AIMS) harus dicatat setiap
enam bulan untuk pasien yang mendapatkan pengobatan neuroleptik jangka panjang.

C. Obat Antipsikosis yang Mempunyai Efek Samping Gejala Ekstrapiramidal


Obat antispikosis dengan efek samping gejala ekstrapiramidalnya sebagai berikut :

Antipsikosis Dosis (mg/hr) Gejala ekstrapiramid

Chlorpromazine 150-1600 ++
Thioridazine 100-900 +
Perphenazine 8-48 +++
trifluoperazine 5-60 +++
Fluphenazine 5-60 +++
Haloperidol 2-100 ++++
Pimozide 2-6 ++
Clozapine 25-100 -
Zotepine 75-100 +
Sulpride 200-1600 +
Risperidon 2-9 +
Quetapine 50-400 +
Olanzapine 10-20 +
Aripiprazole 10-20 +
Pemilihan obat antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek
samping obat.

D. Penanganan Gejala Ektrapiramidal (EPS)


Pedoman umum :
1. Gejala ekstrapiramidal dapat sangat menekan sehingga banyak ahli menganjurkan terapi
profilaktik. Gejala ini penting terutama pada pasien dengan riwayat EPS atau para
pasien yang mendapat neuroleptik poten dosis tinggi.
2. Medikasi anti-EPS mempunyai efek sampingnya sendiri yang dapat menyebabkan
komplians yang buruk. Antikolinergik umumnya menyebabkan mulut kering,
penglihatan kabur, gangguan ingatan, konstipasi dan retensi urine. Amantadin dapat
mengeksaserbasi gejala psikotik.
3. Umumnya disarankan bahwa suatu usaha dilakukan setiap enam bulan untuk menarik
medikasi anti-EPS pasien dengan pengawasan seksama terhadap kembalinya gejala.
a. Reaksi Distonia Akut (ADR)
Medikasi antikolinergik merupakan terapi ADR bentuk primer dan praterapi dengan
salah satu obat-obat ini biasanya mencegah terjadinya penyakit. Paduan obat yang
umum meliputi benztropin (Congentin) 0,5-2 mg dua kali sehari (BID) sampai tiga
kali sehari (TID) atau triheksiphenidil (Artane) 2-5 mg TID. Benztropin mungkin
lebih efektif daripada triheksiphenidil pada pengobatan ADR dan pada beberapa
penyalah guna obat triheksiphenidil karena “rasa melayang” yang mereka dapat
daripadanya. Seorang pasien yang ditemukan dengan ADR berat, akut harus diobati
dengan cepat dan secara agresif. Bila dilakukan jalur intravena (IV) dapat diberikan
benztropin 1 mg dengan dorongan IV. Umumnya lebih praktis untuk memberikan
difenhidramin (Benadryl) 50 mg intramuskuler (IM) atau bila obat ini tidak tersedia
gunakan benztropin 2 mg IM. Remisi ADR dramatis terjadi dalam waktu 5 menit.
b. Akatisia
Pengobatan akatisia mungkin sangat sulit dan sering kali memerlukan banyak
eksperimen. Agen yang paling umum dipakai adalah antikolinergik dan amantadin
(Symmetrel); obat ini dapat juga dipakai bersama. Penelitian terakhir bahwa
propanolol (Inderal) sangat efektif dan benzodiazepine, khususnya klonazepam
(klonopin) dan lorazepam (Ativan) mungkin sangat membantu.
c. Sindrom Parkinson
Aliran utama pengobatan sindrom Parkinson terinduksi neuroleptik terdiri atas agen
antikolinergik. Amantadin juga sering digunakan . Levodopa yang dipakai pada
pengobatan penyakit Parkinson idiopatik umumnya tidak efektif akibat efek
sampingnya yang berat.
d. Tardive Diskinesia
Pencegahan melalui pemakaian medikasi neuroleptik yang bijaksana merupakan
pengobatan sindrom ini yang lebih disukai. Ketika ditemukan pergerakan involunter
dapat berkurang dengan peningkatan dosis medikasi antipsikotik tetapi ini hanya
mengeksaserbasi masalah yang mendasarinya. Setelah permulaan memburuk,
pergerakan paling involunter akan menghilang atau sangat berkurang, tetapi keadaan
ini memerlukan waktu sampai dua tahun. Benzodiazepine dapat mengurangi
pergerakan involunter pada banyak pasien, kemungkinan melalui mekanisme asam
gamma-aminobutirat-ergik. Baclofen (lioresal) dan propanolol dapat juga membantu
pada beberapa kasus. Reserpin (serpasil) dapat juga digambarkan sebagai efektif
tetapi depresi dan hipotensi merupakan efek samping yang umum. Lesitin lemak
kaya kolin sangat bermanfaat menurut beberapa peneliti, tetapi kegunaannya masih
diperdebatkan. Pengurangan dosis umumnya merupakan perjalanan kerja terbaik
bagi pasien yang tampaknya mengalami diskinesia tardive tetapi masih memerlukan
pengobatan. Penghentian pengobatan dapat memacu timbulnya dekompensasi yang
berat, sementara pengobatan pada dosis efektif terendah dapat mempertahankan
pasien sementara meminimumkan risiko, tetapi kita harus pasti terhadap dokumen
yang diperlukan untuk penghentian pengobatan.