Anda di halaman 1dari 11

TUGAS BAHASA INDONESIA

ADAB DALAM BAHASA

OLEH :

ASTRIANI HAREFA
EVA YANTI SITUMORANG
DERMAWAN BORMETA NAINGGOLAN

INSTITUT HELVETIA MEDAN


SI-FARMASI EKSEKUTIF
TAHUN 2018
Daftar Isi
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
Kata Pengantar................................................................................................... iii
PENGARUH BAHASA INDONESIA DALAM MASYARAKAT.............. 1
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Pembahasan............................................................................................. 2
1. Pentingnya Adab dalam Bahasa.............................................................................. 2
2. Aspek Bahasa dan Fungsi Bahasa dalam adab....................................................... 3
3. Penggunaan Bahasa Indonesia Sehari-Hari
di Masyarakat Saat Ini........................................................................ 5
4. Berbicara dalam Sebuah Forum yang Resmi....................................... 8

C. Penutup.................................................................................................... 9
1. Kesimpulan.......................................................................................... 9
2. Saran-saran.......................................................................................... 10
Daftar Pustaka.................................................................................................... 11
Kata Pengantar

Atas berkat rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, saya dapat menyelesaikan tugas
Bahasa Indonesia ADAB DALAM BAHASA
Adapun tujuan makalah ini di buat agar dapat bermamfaat dan berguna untuk kehidupan
sehari-hari kita dan lebih baik lagi dalam berbahasa Indonesia yang benar.
Untuk itu kami tidak lupa berterima kasih kepada semua pihak yang membantu kami
membuat makalah ini.
Akhir kata penyusun menyampaikan berterimakasi dan semoga dapat bermamfaat.
PENGARUH BAHASA INDONESIA DALAM MASYARAKAT
A. Latar Belakang
Dalam komunikasi peranan bahasa sungguh sangat penting. Informasi apapun yang
disampaikan memerlukan bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi yang hanya
dimiliki manusia. Di Indonesia kebutuhan dunia komunikasi terhadap bahasa Indonesia telah
memungkinkan bahasa tersebut mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Bahasa
Indonesia sebagai media komunikasi utama di Indonesia semakin menunjukkan kedewasaan dan
kematangannya. Kita tahu bahwa masyarakat kita (Indonesia) sangat menjunjung kesantunan
dalam berbahasa. Makna yang akan disampaikan tidak hanya terkait dengan pemilihan kata,
tetapi juga cara penyampaiannya. Sebagai contoh, pemilihan kata yang tepat apabila
disampaikan dengan cara kasar akan tetapi dianggap kurang santun.
Senada dengan pendapat (St. Y. Slamet 2008:31) Bahasa merupakan alat komunikasi
yang umum dalam masyarakat. Bahasa diucapkan dan didengar, bukan ditulis dan dibaca,
disamping tetap ada yang diucapkan dan didengarkan. Seseorang yang memiliki kemampuan
berbicara akan lebih mudah dalam menyampaikan ide atau gagasan kepada orang lain,
keberhasilan mengunakan ide itu sehingga dapat diterima oleh orang yang mendengarkan atau
yang diajak berbicara.
Di Indonesia sendiri didalam kehidupan sehari-hari masih banyak yang menggunakan
bahasa daerahnya masing-masing, mereka beranggapan bahwa menggunakan bahasa Indonesia
dalam sehari-hari akan terasa seperti bergaya dan berlebihan. Sesungguhnya manfaat dari
berbahasa Indonesia ini yaitu memberikan atau melatih kita supaya terbiasa berbahasa Indonesia,
sehingga apabila kita dalam sebuah forum yang formal kita akan mudah menguasai bahasa
Indonesia yang sopan dan bisa memberikan pemahaman terhadap orang lain dengan jelas. Dalam
bahasa Indonesia juga terdapat pengaruh bahasa dari beberapa media cetak baik tulis maupun
media elektronik, dan juga ada pengaruhnya dari bahasa remaja atau yang dikenal dengan bahasa
gaul, sehingga bisa jadi bahasa yang kita gunakan tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia.
Didalam makalah yang saya susun ini akan membahas tentang: Apa Pentingnya Bahasa ?
Apa Aspek Bahasa dan Fungsi Bahasa ? Bagaimana Penggunaan Bahasa Indonesia Sehari-
hari di Masyarakat saat ini ? Bagaimana Kita Berbicara Dalam Sebuah Forum yang Resmi ?
B. Pembahasan
1. Pentingnya Adab dalam bahasa
Pada waktu-waktu terakhir ini makin dirasakan betapa pentingnya fungsi bahasa sebagai alat
komunikasi. Semua orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam
masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa.
Begitu pula melalui bahasa, kebudayaan suatu bangsa dapat dibentuk, dibina dan
dikembangkan serta dapat diturunkan kepada generasi-generasi mendatang. Dengan adanya
bahasa sebagai alat komunikasi, maka semua yang berada disekitar manusia: peristiwa-peristiwa,
binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, hasil cipta karya manusia dan sebagainya, akan mendapat
tanggapan dalam pikiran manusia. Disusun dan diungkapkan kembali kepada orang-orang lain
sebagai bahan komunikasi. Komunikasi melalui bahasa ini memungkinkan tiap orang untuk
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya. Yang memungkinkan
tiap orang untuk mempelajari kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan serta latar belakangnya
masing-masing.
Mengingat pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi dan memperhatikan wujud bahasa itu
sendiri, kita dapat membatasi pengertian bahasa sebagai:bahasa adalah alat komunikasi antara
anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

PENGERTIAN ADAB DAN PERADABAN


Istilah peradaban dalam bahasa Inggris disebut Civilization. Istilah peradaban sering dipakai untuk
menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu
perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus,
indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan
telah memiliki peradaban yang tinggi.Dengan batasan-batasan pengertian di atas maka istilah
peradaban sering dipakai untuk hasil-hasil kebudayaan seperti: kesenian, ilmu pengetahuan dan
teknologi, adat sopan santun serta pergaulan. Selain itu juga kepandaian menulis, organisasi bernegara
serta masyarakat kota yang maju dan kompleks.
Huntington mendefinisikan peradaban sebagai the highest social grouping of people and the broadest
level of cultural identity people have short of that which distinguish humans from other species.
Damono, 2001 menyatakan Adab berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti.
Fairchild, 1980:41, menyatakan peradaban adalah perkembangan kebudayaan yang telah mencapai
tingkat tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya.
Kontjaranigrat (1990 : 182) menyatakan peradaban untuk menyebut bagian dan unsur kebudayaan yang
halus, maju, dan indah seperti misalnya kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan,
kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, kebudayaan yang mempunyai system teknologi dan
masyarakat kota yang maju dan kompleks.
Ibnu Khaldun (1332-1406 M) melihat peradaban sebagai organisasi sosial manusia, kelanjutan dari
proses tamaddun (semacam urbanisasi), lewat ashabiyah (group feeling), merupakan keseluruhan
kompleksitas produk pikiran kelompok manusia yang mengatasi negara, ras, suku, atau agama, yang
membedakannya dari yang lain, tetapi tidak monolitik dengan sendirinya. Pendekatan terhadap
peradaban bisa dilakukan dengan menggunakan organisasi sosial, kebudayaan, cara berkehidupan yang
sudah maju, termasuk system IPTEK dan pemerintahannya.
Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor:
1 . Pendidikan
2. Kemajuan teknologi dan Ilmu pengetahuan.
Wujud Peradaban Moral :
1. Nilai-nilai dalam masyarakat dalam hubungannya dengan kesusilaan.
2 . Norma : aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu benar atau
salah, baik atau buruk.
3. Etika : nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam
megatur tingkah laku manusia. Bisa juga diartikan sebagai etiket, sopan santun.
4. Estetika : berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan,mencakup kesatuan
(unity),keselarasan (belance) dan kebalikan (contrast).

2. Aspek Bahasa dan Fungsi Bahasa dalam adab


Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol
vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbiter. Yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah
yang nyata. Hal tersebut merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat
ucap manusia harus diberikan makna tertentu. Simbol adalah tanda yang diberikan makna
tertentu, yaitu mengacu kepada sesuatu yang dapat diserap panca indra.
Bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barang atau hal yang
diwakilinya itu. Bunyi itu merupakan getaran yang merangsang alat pendengar kita (yang diserap
panca indra kita). Sedangkan arti adalah isi yang terkandung didalam arus bunyi yang
menyebabkan reaksi atau tanggapan dari orang lain.
Arti yang terkandung dalam suatu rangkaian bunyi bersifat arbiter ataumanasuka. Arbiter
atau manasuka berarti tidak terdapat suatu keharusan bahwa suatu rangkaian bunyi tertentu harus
mengandung arti yang tertentu pula. Makna sebuah kata tergantung dari konvensi (kesepakatan)
masyarakat bahasa yang bersangkutan. Apakah seekor hewan dengan ciri-ciri tertentu
dinamakan anjing, dog, hund, chien, atau canis itu tergantung dari kesepakatan anggota
masyarakat bahasa itu masing-masing.
Dalam sejarah bahasa pernah diperdebatkan apakah ada hubungan yang wajar
antara kata dengan barangnya. Satu kelompok mengatakan ada; untuk itu diusahakan bermacam-
macam keterangan mengenai timbulnya kata-kata dengan bahasa. Etimologi merupakan hasil
dari kelompok ini. Namun etimologi yang mula-mula timbul untuk mendukung pendapat itu
terlalu dibuat-buat sehingga sulit diterima.
Fungsi bahasa dapat diturunkan dari dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu sendiri. Dasar
dan motif pertumbuhan bahasa itu dalam garis besarnya dapat berupa:
a. Alat untuk menyatakan ekspresi diri
Bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat didalam dada kita, sekurang-
kurangnya untuk memaklumkankeberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri
antara lain:
1) Agar menarik perhatian orang lain terhadap kita
2) Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
Sebenarnya semua fungsi bahasa sebagai yang dikemukakan diatas tidak terpisah satu sama
lain dalam kenyataan sehari-hari.
b. Alat komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan
sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan
komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikiran, dan kita ketahui kepada
orang-orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah
dicapai oleh nenek-moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sejaman dengan
kita.
c. Alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa, disamping sebagai alat salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia
memanfaatkan pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain.
Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efesien melalui bahasa. Bahasa
sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat
dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan
kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh
efesiensi yang setinggi-tingginya.
d. Alat mengadakan kontrol sosial
Yang dimaksud dengan kontrol sosial adalah usaha untuk mempengaruhi tingkah laku dan
tindak-tanduk orang-orang lain. Tingkah laku itu dapat bersifat terbuka (overt: yaitu tingkah laku
yang dapat diamati atau diobservasi), maupun yang bersifat tertutup (convert:yaitu tingkah laku
yang tak dapat diobservasi).
Semua kegiatan sosial akan berjalan dengan baik karena dapat diatur dengan
mempergunakan bahasa. Semua tutur pertama-tama dimaksudkan untuk mendapat tanggapan,
baik tanggapan yang berupa tutur, maupun tanggapan yang berbentuk perbuatan atau tindakan.
Seorang pemimpin akan kehilangan kewibawaanya, bila bahasa yang dipergunakan untuk
menyampaikan instruksi atau penerangan kepada bawahanya, adalah bahasa yang kacau dan tak
teratur. Kekacauan dalam bahasanya akan menggagalkan pula usaha untuk mempengaruhinya
tingkah laku dan tindak-tanduk bawahannya. (Gorys Keraf 1973:6)
3. Penggunaan Bahasa Indonesia Sehari-Hari di Masyarakat Saat Ini
Di Indonesia terdapat sejumlah besar bahasa daerah yang masing-masing dituturkan sebagai
alat perhubungan antar warga masyarakat bahasa itu. Karena hidupnya berdampingan dengan
bahasa Indonesia. Terjadilah proses pemengaruhan. Hal itu nampak sekali dalam bentuk kata dan
perluasan kosa kata. Hingga kini orang masih terlalu banyak menekankan peranan bahasa
daerahnya sebagi sumber dan bukan sebagai penerima. Proses ini sebenarnya bersifat timbal
balik. Dalam bahasa daerah masa kini dapat juga disaksikan masuknya unsur bahasa Indonesia,
atau unsur bahasa asing yang diserap lewat bahasa Indonesia. (Anton M Moeliono dan Soenjono
Dardjowidjojo 1988:20)
Sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia telah melewati rajutan sejarah yang panjang
sejak difungsikan sebagai lingua franca dan bahasa resmi hingga menjadi bahasa komunikasi
ditingkat global. Sudah delapan dasawarsa bahasa Indonesia hidup, tumbuh, dan berkembang
seiring dengan perkembangan peradaban bangsa. Namun, tidak seperti perjalanan dan dinamika
manusia yang makin lama makin menemukan kematangan dan kesempurnaan hidup, bahasa
Indonesia justru mengalami perubahan yang tidak baik. Diantaranya perubahan yang dilakukan
oleh media, baik cetak maupun elektronik. Tak dapat disangkal lagi, media memiliki daya
sugesti dan persuasi yang begitu kuat terhadap publik. Bahkan, saat ini tidak sedikit orang yang
memiliki ketergantungan informasi terhadap media.
Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa bahasa media memiliki pengaruh yang cukup besar
terhadap penggunaan bahasa publik. Penggunaan satuan bahasa tertentu yang terus berulang
dalam sebuah media tak jarang diyakini sebagai bentuk yang tepat sehingga publik bersikap latah
untuk tak segan-segan menirunya. Contoh yang paling mudah, misalnya kata (dimassa =
dipukuli),seperti dalam kalimat:
“Pencopet yang tertangkap itu dimassa beramai-ramai oleh penduduk kampung”.
Dalam struktur bahasa Indonesia, awalan (bukan kata depan) di- yang melekat pada nomina
(kata benda) yang berfungsi untuk membentuk verba (kata kerja) hampir tidak pernah
ditemukan. Kita tidak pernah mengenal bentuk verbadirumah, dibatu, dibola, dan semacamnya.
Demikian juga penggunaan kata penunjuk jamak “para” yang seharusnya tak perlu lagi
digunakan didepan nomina jamak, seperti para politisi atau para kritisi yang seharusnya para
politikus atau para kritikus.
Selain itu, pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia film
mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa
gaul. Interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi
resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar. Bahasa gaul
merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini
mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya
para anak jalanan yang disebabkan dalam pergaulan sebagai preman.
Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh
sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap
eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa
pengantar dalam dunia pendidikan. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek
bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan disuatu daerah atau komunitas tertentu.
Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian
mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus
yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999. Contoh penggunaan bahasa gaul sebagai
berikut :
“Aku, Saya” diartikan “Gue”
“Kamu” menjadi “Elo”
“Tidak” menjadi “Gak”
Contoh kalimatnya:
Tidak peduli emang gue pikirin !
Gak juga kali !
Loe aja, gue engak !

4. Berbicara dalam Sebuah Forum yang Resmi


Dengan dibiasakan berbicara bahasa Indonesia membuat kita mudah menguasinya dan tidak
merasa canggung dalam berbicara disebuah forum yang formal. Bahasa Indonesia yang
merupakan bahasa persatuan dan bahasa yang dapat menyatukan bangsa ini sudah sewajarnya
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berbicara dengan bahasa yang baik tentu akan sulit
kalau tidak diterapkan dan dibiasakan apalagi berbicara disebuah forum yang sangat resmi tentu
tidaklah semudah yang dibayangkan orang. Walaupun secara alamiah berbicara setiap orang
mampu akan berbicara, namun berbicara secara formal atau dalam situasi yang resmi sering
menimbulkan kegugupan sehingga gagasan yang dikemukakan menjadi tidak teratur dan
akhirnya bahasanyapun menjadi tidak teratur pula. Bahkan yang lebih parah lagi, ada yang tidak
berani berbicara sama sekali. (Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S 1991:23)
Kemampuan berbicara bukanlah kemampuan yang berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan
dengan kemampuan yang lain. Kegiatan berbicara berhubungan erat dengan kegiatan
mendengarkan. Berbicara dan mendengarkan merupakan kegiatan komunikasi dua arah.
Keefektifan berbicara tidak hanya ditentukan oleh pembicara, tetapi juga oleh para pendengar.
Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk
mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar
menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan dan penempatan persendian. Jika dilakukan
dengan tatap muka, gerak tangan dan mimik juga berperan.
Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan
pembicaraan secara efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami isi pembicaraanya.
Seorang pembicara, berbicara karena ingin pikiranya dimiliki oleh orang lain. Karena itu
pembicara ingin disimak, dan ingin didengar. Seseorang pembicara yang merasa tidak didengar,
tentulah merasa tidak senang, dan hal ini dapat membuat seluruh kegiatanya gagal. Hendaknya
pendengar bersedia memahami dan mengangap apa yang didengarnya sehingga timbul hubungan
timbal balik yang aktif. Usaha menjadikan kegiatan berbicara ini menjadi aktivitas forum yang
hidup dan terlepas dari persyaratan adanya pendengar yang baik.
Tentu saja mendengar bukanlah sekedar mendengar. Dalam mendengarkan kita juga berpikir
agar kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Misalnya pendengar yang cakap, pandai
memilih dan mengingat apa yang penting dan mengabaikan yang tidak penting. Seseorang yang
terampil menyimak akan mampu menganalisis secara kritis dan menyimpulkan pokok-pokok
suatu pembicaraan. Hal ini tentu memerlukan latihan, sama halnya dengan kemampuan
berbicara. Apabila kita terbiasa berbicara dan terlatih tentu akan memudahkan kita dalam
mengungkapkan pendapat ataupun mendengarkan.

C. Penutup
1. Kesimpulan
a. Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam sebuah kehidupan sosial. Bahasa
juga merupakan alat komunikasi antara anggota masyarakat yang berupa simbol bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia.
b. Didalam bahasa makna sebuah kata tergantung dari konvensi (kesepakatan) masyarakat untuk
menentukan sebuah kata yang akan digunakan dalam bahasa.
c. Bahasa juga mempunyai fungsi yang dapat diturunkan dari dasar dan motif pertumbuhan bahasa
itu sendiri diantaranya yaitu :
1) Untuk menyatakan ekspresi diri
2) Sebagai alat komunikasi
3) Sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial
4) Sebagai alat untuk mengadakan kontrol sosial
d. Didalam bahasa Indonesia yang terjadi di masyarakat saat ini dipengaruhi dari media cetak
maupun media elektronik serta terbiasanya menggunakan bahasa gaul yang digunakan para anak
remaja sekarang.
e. Dalam situasi yang resmi kemampuan berbicara bukanlah kemampuan yang berdiri sendiri,
tetapi saling berkaitan dengan kemampuan yang lain. Kegiatan berbicara berhubungan erat
dengan kegiatan mendengarkan. Berbicara dan mendengarkan merupakan kegiatan komunikasi
dua arah. Keefektifan berbicara tidak hanya ditentukan oleh pembicara, tetapi juga oleh para
pendengar.

2. Saran-saran
a. Gunakanlah bahasa Indonesia yang sesuai dalam situasi yang resmi dan formal.
b. Berbicara itu mudah jika kita mau membiasakanya dan belajar dengan rajin.
c. Dalam situasi yang resmi jangan merasa canggung agar kita tidak kehilangan konsentrasi. Kita
harus percaya diri untuk menghilangkan kecanggungan itu.
d. Teruslah menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia kita.
Daftar Pustaka

Anonimous. 2009. “Perubahan Penggunaan Bahasa


Indonesia”. Dalamhttp://mgmpbismp.co.cc/2009/06/17/perubahan-penggunaan- bahasa-
indonesia/. Diunduh Pada Tanggal 30 Desember 2011, pukul 15.21 WIB.
Anton M Moeliono dan Soenjono Dardjowidjojo. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Gorys Keraf. 1973. Komposisi, Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende-Flores: Nusa Indah.
Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
St Y. Slamet. 2008. Dasar Dasar Keterampilan Berbahasa Indonesia. Surakarta: UNS Press.