Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH TITRASI REDOKS

Diajukan untuk memenuhi tugas semester ganjil

Dosen pengampu : Diana Candra, M.Si

Disusun oleh:

Iffa Ainiyar Rifqi(11630008)

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2012
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanpa dipungkiri, dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dengan konsumsi
banyak bahan makanan dan minuman. Dalam makanan-makanan dan minuman-minuman
tersebut terdapat beberapa bahan kimia yang mungkin membahayakan jika manusia
mengkonsumsinya terlalu banyak.Seperti contohnya asam oksalat, banyak makanan dan
minuman yang mengandung oksalat. Seperti kubis, bayam, dan berbagai minuman soda.
Penggunaan oksalat secara berlebihan dalam tubuh dapat menggangu kesehatan ginjal.
Banyak zat yang terkandung dalam udara, salah satunya oksigen. Oksigen dapat
mengoksidasi beberapa bahan kimia sehingga tidak murni lagi ketika akan digunakan. Untuk
mengetahui kadar atau konsentrasi dari bahan kimia tersebut dilakukan titrasi redoks.
Reaksi kimia yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi di kenal sebagai reaksi redoks.
Reaksi redoks di tandai dengan adanya perubahan bilangan oksidasi. Suatu reaksi redoks
dapat terjadi apabila suatu pengoksidasian bercampur dengan zat yang dapat tereduksi.
Metode analisis yang didasarkan pada proses reaksi oksidasi dan reduksi antara titran dengan
analit dikenal sebagai titrasi redoks.
Berdasarkan uaraian di atas, maka Penulis bermaksut untuk membuat makalah tentang
Titrasi Redoks ini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai titrasi redoks dan penggunaan
titrasi redoks seperti dalam penentuan asam oksalat dengan menggunakan permanganate,
penentuan sulfit dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine dan lain-lain,

1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui prinsip umum dalam titrasi redoks.
2. Untuk mengetahui macam-macam titrasi redoks.
3. Untuk mengetahui cara pembuatan dan pembakuan larutan dalam titrasi redoks.
4. Untuk mengetahui contoh analisis titrasi redoks.

BAB II

ISI
Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat
lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi juga dikenal sebagai analisis volumetri, dimana
zat yang akan dianalisis dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui dan
dialirkan dari buret dalam bentuk larutan. Zat yang akan ditentukan kadarnya biasanya
diletakkan didalam erlemeyer, sedangkan zat yang tidak diketahui konsentrasinya biasanya
diletakkan di dalam buret atau sebaliknya. Titrasi dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang
terlibat di dalam proses titrasinya. Titrasi dibedakan menjadi 4, yaitu: 1)titrasi asam basa;
2)titrasi redoks; 3 )titrasi kompleksometri; dan 4)titrasi pengendapan.

Pada makalah ini dikhususkan untuk membahas titrasi redoks. Titrasi redoks merupakan
suatu metode analisa yang didasarkan pada terjadinya reaksi oksidasi reduksi antara analit
dengan titran. Analit yang mengandung spesi redukstor dititrasi dengan titran yang berupa
larutan standart dari oksidator atau sebaliknya. Konsep reaksi redoks tersebut merupakan konsep
reaksi reduksi oksidasin berdasarkan peruahan bilangan oksidasinya.

2.1 Prinsip Titrasi Redoks

Reduksi–oksidasi adalah proses perpindahan elektron dari suatu oksidator ke


reduktor. Reaksi reduksi adalah reaksi penangkapan elektron atau reaksi terjadinya
penurunan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi oksidasi adalah pelepasan elektron atau
reaksi terjadinya kenaikan bilangan oksidasi. Jadi, reaksi redoks adalah reaksi penerimaan
elektron dan pelepasan elektron atau reaksi penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi.

Titrasi Reduksi oksidasi (redoks) adalah suatu penetapan kadar reduktor atau
oksidator berdasarkan atas reaksi oksidasi dan reduksiantara analit dengan titran, dimana
redoktur akan teroksidasi dan oksidator akan tereduksi. Analit yang mengandung spesi
reduktor di titrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya.

Istilah okidasi mengacu pada setiap perubahan kimia di mana terjadi kenaikan
bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan biangan oksidasi.
Jadi proses oksidasi disertai dengn hilangnya electron sedangkan redulsi disertai dengan
pertamahan electron. Oksidator adalah senyawa di mna atom yang terkadung
mengalamipenurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung
mengalami kenaikan bilangan oksidasi.oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung bersama
dan salingmengkompensasisatu sama lain.istilah oksidator dan reduksi tidak mengacu pada
atom saja akan tetapi juga pada suatu senyawa. Jika suatu reagen berperan baik sebagai
oksidator atau reduktor, maka dikatakan zat tersebut mengalami autooksidasi atau
disporposionasi.

Titrasi redoks berdasarkan pada perpindahan elektron antara titran dan analit. Dalam
titrasi redoks biasanya digunakan potensiometeri untuk mendeteksi titik akhir, namun ada
pula yang mengunakan indikator yang dapat berubah warna nya dengan adanya kelebihan
titran yang digunakan

Agar dapat digunakan sebagai dasar titrasi, maka reaksi redoks harus memenuhi
persyaratan umum sebagai berikut :

1. Harus tersedia pasangan sistem redoks yang sesuai sehingga terjadi pertukaran elektron
secara stokhiometri.

2. Reaksi redoks harus berjalan cukup cepat dan berlangsung secara terukur (kesempurnaan
99%).

3. Harus tersedia cara penentuan titik akhir yang sesuai.

Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai indicator,contohnya


penentuan oksalat dengan permanganate, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat.
Indikator titrasi redoks tentunya tergantung dari jenisnya masing-masing dan pastinya
berbeda-beda. Ada yang menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks
yang melibatkan iodine. Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga
sering dipakai untuk titrasi redoks misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin. Atau
ada juga yang tidak menggunakan indikator seperti permanganometri. Biasanya dua jenis
indicator digunakan untuk menentukan titik akhir. Indicator tersebut adalah indicator
eksternal maupun indicator eksternal. Indicator dari jenis ini harus menghasilkan
perubahan potensial oksidasi di sekitar titik ekuivalen reaksi redoks.
Titik titrasi dalam titrasi redoks dapat dilakukan dengan mebuat kurva titrasi antara
potensial larutan dengan volume titrant, atau dapat juga menggunakan indicator. Dengan
memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks dengan indicator sering
kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai
indicator contohnya penentuan oksalat dengan permanganate, atau penentuan alkohol
dengan kalium dikromat.

Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa
yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya
penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan
kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat.

2.2 Macam-Macam Titrasi Redoks

Terdapat beberapa macam titrasi redoks, macam-macamnya adalah sebagai berikut:

1. Permanganometri
2. Iodine
3. Bromo
4. Cerimetri

1. PERMANGANOMETRI
Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh
kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi
yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu.
Kalium permanganate adalah oksidator kuat. Reagen ini dapat diperoleh dengan
mudah, tidak mahal, dan tidak membutuhkan indicator terkecuali untuk larutan yang
amat encer. Satu tetes 0,1 N permanganate memberikan warna merah muda yang jelas
pada volume dari larutan yang biasa dipergunakan dalam sebuah titrasi. Warna ini
digunakanuntuk mengindikasi kelebihan reagen tersebut. Kelemahannya adalah dalam
medium HCL. Cl- dapat teroksidasi, demikian juga larutannya, memiliki kestabilan yang
terbatas.
Reaksi yang paling umum ditemukan dalam laboratorium adalah reaksi yang
terjadi dalam larutan-larutan yang bersifat asam, 0.1 N atau lebih besar:

MnO4- + 8 H + + 5 e Mn2+ + 4 H2O E0 = +1,51 V


(1)

Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan


reaksi ini, namun beberapa substansi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah
katalis untuk mempercepat reaksi. Sebagai contoh, permanganat adalah agen unsur
pengoksidasi yang cukup kuat unuk mengoksidasi Mn(II) menjadi MnO 2 , titik akhir
permanganate tidak permanen dan warnanya dapat hilang karena reaksi:

3 Mn2++ + 2 MnO4- + 2 H2O 5 MnO2 (s) + 4 H+

Ungu Tidak berwarna

Reaksi ini berjalan lambat dalam keadaan asam, tapi cepat dalam keadaan netral.
Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk
mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2. Bagaimanapun juga, mengingat
reaksinya berjalan lambat, MnO2 tidak diendapkan secara normal pada titik akhir titrasi-
titrasi permanganat.

Larutan-larutan permanganat yang bersifat asam tidak stabil karena asam


permanganat terdekomposisi dan air teroksidasi dengan persamaan:

4 MnO4- + 4 H + 5 MnO2 (s) + 3 O2 (g) + 2 H2O

Ini adalah sebuah reaksi lambat di dalam larutan-larutan encer pada suhu ruangan.
Penguraiannya dikatalisis oleh cahaya panas asam-basa, ion Mn(II) dan MnO 2. Namun
demikian, jangan pernah menambahkan permanganat berlebih ke dalam sebuah unsur
reduksi dan kemudian menaikkan suhu untuk mempercepat oksidasi, karena reaksi yang
nantinya muncul akan berlangsung dengan laju yang rendah.
Pembuatan larutan baku kalium permanganat harus dijaga faktor-faktor yang
dapat menyebabkan penurunan yang besar dari kekuatan larutan baku tersebut, antara lain
dengan pemanasan dan penyaringan untuk menghilangkan zat-zat yang mudah
dioksidasi.

Standar-standar Primer untuk Permanganat

a. Natrium Oksalat

Senyawa ini, Na2C2O4 merupakan standar primer yang baik untuk permanganat
dalam larutan asam. Senyawa ini dapat diperoleh dengan tingkat kemurnian tinggi, stabil
pada saat pengeringan, dan non higroskopis. Reaksinya dengan permanganat agak sedikit
rumit dan berjalan lambat pada suhu ruangan, sehingga larutan biasanya dipanaskan
sampai sekitar 60°C. Bahkan pada suhu yang lebih tinggi reaksinya mulai dengan lambat,
namun kecepatannya meningkat ketika ion mangan (II) terbentuk. Mangan (II) bertindak
sebagai katalis, dan reaksinya disebut autokatalitik, karena katalisnya diproduksi di dalam
reaksi itu sendiri. Ion tersebut dapat memberikan efek katalitiknya dengan cara bereaksi
dengan cepat dengan permanganat untuk membentuk mangan berkondisi oksidasi
menengah (+3 atau +4), di mana pada gilirannya secara cepat mengoksidasi ion oksalat,
kembali ke kondisi divalent.

Persamaan utnuk reaksi antara oksalat dan permanganat adalah

5C2O42- + 2MnO4- + 16H+  2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O

Hal ini digunakan untuk analisis Fe (II), H2C2O4, Ca dan banyak senyawa lain.
Selama beberapa tahun analisis-analisis prosedur yang disarankan oleh McBride, yang
mengharuskan seluruh titrasi berlangsung perlahan pada suhu yang lebih tinggi dengan
pengadukan yang kuat. Kemudian, Fowler dan Bright melakukan suatu penelitian yang
sangat mendalam terhadap kesalahan- kesalahan yang mungkin di dalam titrasi. Mereka
menemukan beberapa bukti dari pembentukan peroksida

O2 + H2C2O4 H2O2 + 2 CO2


Dan bahwa apabila peroksida terurai sebelum bereaksi dengan permanganat,
terlalu sedikit dari larutan yang disebut terakhir digunakan dan normalitasnya yang
ditemukan adalah tinggi. Fowler dan Bright menyelidiki secara menyeluruh reaksinya
dan menganjurkan agar hampir semua permanganat ditambahkan secara cepat ke larutan
yang diasamkan pada suhu ruangan. Setelah reaksinya selesai, larutan tersebut
dipanaskan sampai 60°C dan titrasi diselesaikan pada suhu ini. Prosedur ini
mengeliminasi kesalahan apa pun yang disebabkan oleh pembentukan hidrogen
peroksida.

b. Arsen (III) Oksida


Senyawa As2O3 adalah standar primer yang sangat baik untuk larutan-larutan
permanganat. Senyawa ini stabil, nonhigroskopis, dan tersedia dengan tingkat kemurnian
yang tinggi. Oksida ini dilarutkan dalam natrium hidroksida dan larutan kemudian
diasamkan dengan asam klorida dan di titrasi dengan permanganat.

5HAsO2 + 2MnO4- + 6H+ + 2H2O 2Mn2+ + 5H3AsO4


(Asam yang di produksi dengan melarutkan AsO berprilaku sebagai sebuah asam
lemah monoprotik HAsO). Reaksi ini berjalan lambat pada suhu ruangan kecuali sebuah
katalis di tambahkan. Kalium iodida, KI, kalium iodidat, KIO3 , dan iodin monoklorida
ICl, telah dipergunakan sebagai katalis.

c. Besi

Kawat besi dengan tingkat kemurnian yang tinggi dapat dijadikan sebagai standar
primer. Unsur ini larut dalam asam klorida encer, dan semua besi (III) yang diproduksi
selama proses pelarutan direduksi menjadi besi (II). Oksidasi dari ion klorida oleh
permanganat berjalan lambat pada suhu ruangan. Namun demikian, dengan kehadiran
besi, oksidasi akan berjalan lebih cepat. Meskipun besi (II) adalah agen pereduksi yang
lebih kuat daripada ion klorida, ion yang belakangan disebut ini teroksidasi secara
bersamaan dengan besi. Kesulitan semacam ini tidak ditemukan dalam oksidasi dari
As2O3 ataupun Na2C2O4 dalam larutan asam klorida.

Sebuah larutan dari mangan (II) sulfat, asam sulfat dan asam fosfat, disebut
larutan “pencegah”, atau larutan Zimmermann-Reinhardt, dapat ditambahkan ke dalam
larutan asam klorida dari besi sebelum dititrasi dengan permanganat. Asam fosfat
menurunkan konsentrasi dari ion besi (III)dengan membentuk sebuah kompleks,
membantu memaksa reaksi berjalan sampai selesai, dan juga menghilangkan warna
kuning yang ditunjukkan oleh besi (III) dalam media klorida. Kompleks fosfat ini tidak
berwarna, dan titik akhirnya lebih jelas.

2. TITRASI IODIN (IODOMETRI DAN IODIMETRI )

Titrasi yang melibatkan iodium dapat dilakukan dengan dua cara yaitu titrasi
langsung (iodimetri) dan titrasi tak langsung (iodomotri).

a. Titrasi langsung (iodimetri)


Iodimetri merupakan Metode Titrasi redoks yang melibatkan iodin yang bereaksi
secara langsung. Iodium merupakan oksidator yang relative kuat dengan nilai potensial
reaksi sebesar +0,535 V. Iodium akan mereduksi senyawa – senyawa yang memilki
potensial reduksi lebih kecil dibandingkan dengan iodium. Pada reaksi oksidasi, iodium
akan mengalami reduksi menjadi iodida sesuai dengan reaksi:
I2 + 2e 2I-

larutan baku iodium dapat digunakan untuk analisis kuantitatif senyawa- senyawa
yang mempunyai potensial oksidasi lebih kecil dari pada sistem iodium-iodida
sebagaimana persamaan di atas atau dengan kata lain digunakan untuk senyawa-senyawa
yang bersifat reduktor yang cukup kuat seperti vitamin C, tiosulfat, arsenit, sulfida,
sulfit, Stibium(III), timah(II), dan ferosianida. Daya mereduksi dari berbagai macam zat
ini tergantung pada konsentrasi ion hydrogen, dan hanya dengan penyesuaian pH dengan
tepat yang dapat menghasilkan reaksi dengan iodium secara kuantitatif.
Vitamin C mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil daripada iodium
sehingga dapat dilakukan titrasi langsung dengan iodium. Reaksi yang terjadi:

OH O
OH O

+ I2 + 2HI
H2 H2
HO C HC HO C HC
O O O O
OH OH
Gambar 1 Oksidasi asam askorbat (vitamin C )dengan iodium
Menghasilkan asam dehidro askorbat
b. Titrasi tak langsung (iodometri)

Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetapkan


senyawa- senyawa yang mempunyai potensial oksidasi lebih besar daripada sistem
iodium- iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO 45H2O.
Iodometri terjadi pada zat yang bersifat oksidator seperti besi (III), tembaga (II), dimana
zat ini akan mengoksidasi iodida yang ditambahkan membentuk iodin.
Metode titrasi iodometri (tak langsung) menggunakan larutan Na 2S2O3 sebagai
titran untuk menentukan kadar iodium yang dibebaskan pada suatu reaksi redoks.Garam
ini biasanya berbentuk sabagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh
distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan
standar primer, larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Tembaga
murni dapat digunakan sebagi standar primer untuk natrium tiosulfat.
Dalam iodometri I- dioksidasi oleh suatu oksidator. Jika oksidatornya kuat tidak
apa – apa, tetapi jika oksidatornya lemah maka oksidasinya berlangsung sangat lambat
dan mungkin tidak sempurna, ini harus dihindari. Cara menghindarinya :
- Memperbesar [H+], jika oksidasinya kuat dengan menambah H+ atau menurunkan pH.
- Memperbesar [I-], misalnya oksidasi dengan Fe3+.
- Dengan mengeluarkan I2 yang berbentuk dari campuran reaksi : misalnya dikocok
dengan kloroform, karbon tetra klorida atau bisulfida, maka I2 akan masuk dalam pelarut
organik ini, sebab I2 lebih mudah larut dalam senyawa solven organic daripada dalam air.

Reaksi yang terjadi pada titrasi iodometri untuk penentuan iodat adalah sebagai
berikut :

IO3- + 5I- + 6H+ → 3I2 + H2O

I2 + 2S2O32- → 2I- + S4O62-


Adapun indikator yang digunakan dalam titrasi iodometri adalah indicator kanji,
dimana warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodine dapat
bertindak sebagai indicator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau
violet yang intens untuk zat – zat pelarut seperti karbon tetra klorida dan kloroform.
Namun demikian, larutan dari kanji lebih umum dipergunakan karena warna biru gelap
dari kompleks iodin – kanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitif untuk iodin.

3. TITRASI BROMO (BROMOMETRI DAN BROMATOMETRI )


Bromo-bromatometri merupakan salah satu metode penetapam kadar suatu zat
dengan prinsip reaksi reduksi-oksidasi. Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan
hilangnya aatu elektron atau lebih dari dalam zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu
unsur dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat
pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron, dan dalam proses itu zat tersebut
direduksi.
Reduksi adalah suatu proses yang mengakibatkan diperoleh satu elektron atau
lebih oleh zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi
berubah menjadi lebih negatif (kurang positif), jadi suatu zat pereduksi adalah zat yang
kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi.

Bromatometri merupakan salah satu metode oksidimetri dengan dasar reaksi dari
ion bromat (BrO3). Oksidasi potensiometri yang relatif tinggi dari sistem ini
menunjukkan bahwa kalium bromat adalah oksidator kuat. Hanya saja kecepatan
reaksinya tidak cukup tinggi. Untuk menaikkan kecepatan ini titrasi dilakukan dalam
keadaan panas dan dalam lingkungan asam kuat. Adanya sedikit kelebihan kalium bromat
dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion bromat, dan bromin
yang dibebaskan akan merubah larutan menjadi warna kuning pucat, warna ini sangat
lemah sehingga tidak mudah untuk menetapkan titik akhir.

Bromin yang dibebaskan ini tidak stabil, karena mempunyai tekanan uap yang
tinggi dan mudah menguap, karena itu penetapan harus dilakukan pada suhu terendah
mungkin, serta labu yang dipakai untuk titrasi harus ditutup.
Metode bromometri dan bromatometri ini terutama digunakan untuk menetapkan
senyawa-senyawa organik aromatis dengan membentuk tribrom substitusi. Metode ini
dapat juga digunakan untuk menetapkan senyawa arsen dan stibium dalam bentuk
trivalent walaupun tercampur dengan stanum valensi empat.

Dalam suasana asam, ion bromat mampu mengoksidasi iodida menjadi iod,
sementara dirinya direduksi menjadi brimida :

BrO3- + 6H+ + 6I+ Br- + 3I2 + 3H2O

Tidak mudah mengikuti serah terima elektron dalam hal ini, karena suatu reaksi
asam basa (penetralan H+ menjadi H2O) berimpit dengan tahap redoksnya. Namun
nampak bahwa 6 ion iodida kehilangan 6 elektron, yang pada gilirannya diambil oleh
sebuah ion bromat tunggal.

4. TITRASI SERIMETRI

Larutan serium(IV) sulfat dalam asam sulfat encer merupakan zat pengoksidasi
yang kuat dan lebih stabil daripada larutan kalium permanganat, dengan suatu syarat
bahwa asam sulfat cukup mampu menghindari hidrolisis dan pengendapan garam
basanya. Kalau larutan kalium permanganate dapat direduksi menjadi beberapa macam
keadaan hasil reduksi, maka reduksi larutan serium(III), menurut reaksi:

Ce4+ + e-  Ce3+

Ion Ce(IV) dipergunakan dalam larutan-larutan dengan keasaman tinggi karena


hidrolisisa akan menghasilkan pengendapan pada larutan-larutan dengan konsentrasi ion
hydrogen yang rendah.potensial redoks dari pasangan Ce(IV)/ Ce(III) tergantung pada
sifat dan konsentrasi dari asam yang ada.

Keuntungan serium (IV)sulfat sebagai suatu zat pengoksidasi standar adalah :

1. Larutan serium (IV)sulfat secara mencolok stabil selama dalam jangka waktu yang
lama .larutan ini tidak perlu dilindungi dari cahaya , dan bahkan dapat didihkan selama
waktu yang singkat tanpa perubahan yang berarti dalam konsentrasi .
2. Serium(IV)sulfat dapat digunakan dalam penetapan zat – zat pereduksi dengan adanya
konsentrasi HCl yang tunggi .

3. Larutan – larutan serium (IV)sulfat dalam larutan 0,1 N tidak terlalu berwarna untuk
dapat mengaburkan penglihatan ketika membaca miniskus dalam buret dan alat – alat
titrimetri lainnya .

4. Dalam reaksi garam serium (IV)sulfat dalam larutan asam dengan zat – zat
pereduksi,perubahan valensi yang terjadi adalah : Ce4++e-↔ Ce3+

Dengan demikian maka dianggap bobot ekivalennya adalah 1 mol atau 1 Mr .

5. Ion serium (IV) tidak berwarna (dibandingkan ion Mn (II) yang btidak berwarna dari
KMnO4 , dan ion serium (III) yang hijau dari kalium dikhromat).

6. Serium (IV)sulfat adalah zat pengoksid yang serba guna . ia dapat digunakan dalam
banyak titrasi yang sama permangganat telah digunakan ,dan juga untuk penetapan -
penetapan lainnya .

7. Larutan serium (IV) sulfat paling baik distandarisasikan dengan arsen (III)oksida atau
natrium oksalat .

Larutan serium(IV)sulfat dalam larutan asam sulfat encer adalah stabil, bahkan
pada temperature – temperature didih .larutan dalam HCl dari garam ini tidak stabil ,
karena reduksi menjadi Ce (III) oleh asam tersebut dengna dibarengi pembebasan klor.
Reaksinya:

2Ce4++2Cl-↔ 2Ce3++Cl2

Reaksi ini berlangsung benar – benar cepat pada pendidihan , maka HCl tidak
dapat digunakan dalam oksidasi – oksidasi yang memerlukan pendidihan dengan
serium(IV)sulfat berlebih dalam larutan asam .asam sulfat harus digunakan dalam
oksidasi demikian .adanya asam fluoride membentuk suatu kompleks stabil dengan
serium (IV) sulfat dan menghilangkan warna dari larutan yang kuning itu .

2.3 Preparasi dan Pembakuan Larutan

1. Titrasi permanganatometri
a. Preparasi larutan kalium permanganat
Larutan Baku Kalium Permanganat dibuat dengan melarutkan sejumlah Kalium
Permanganat P dan melarutkannya dalam air secukupnya sesuai dengan normalitas
yang dikehendaki. Meskipun demikian, karena mengingat sifat dari Kalium
Permanganat dan kenyataan bahwa Kalium Permanganat sulit diperoleh dalam
kemurnian yang tinggi maka faktor- faktor di atas perlu diperhatikan. Caranya antara
lain setelah dilarutkan didiamkan selama 24 jam sehingga reaksi peruraiannya selesai
kemudian disaring melalui asbes untuk menghilangkan semua mangandioksida yang
terjadi karena adanya mangan dioksida merupakan katalisator terbentuknya mangan
dioksida lebih lanjut serta cepat. Sangat dianjurkan untuk seringkali membakukan
larutan kalium permanganat.

b. Pembakuan kalium permanganate


Cara membakukan Larutan Baku Kalium Permanganat adalah:
Lebih kurang 200 mg natrium oksalat yang ditimbang saksama yang sebelumnya
dikeringkan pada suhu 1100C hingga bobot tetap, larutkan dalam 250 ml air.
Tambahkan 7 ml asam sulfat pekat, panaskan pada suhu kurang lebih 70 0C dan titrasi
perlahan-lahan dengan Larutan Baku Kalium Permanganat hingga terbentuk warna
merah jambu mantap dalam waktu 15 detik. Suhu pada akhir titrasi tidak boleh
kurang dari 600C. Tiap ml kalium permanganate setara dengan 6,7 mg natrium
oksalat.
Natrium oksalat merupakan zat yang sangat baik untuk pembakuan Kalium
Permanganat karena dapat diperoleh dengan kemurnian yang sangat tinggi.
Penambahan asam sulfat bertujuan supaya konsentrasi ion hydrogen tetap selama
titrasi berlangsung untuk menghindari terbentuknya mangan dioksida. Untuk
mereduksi 1 mol ion permanganate diperlukan 8 mol ion hydrogen sebagaimana
reaksi di awal.

Pada pembakuan di atas rekasi paronya dapat ditulis sebagai berikut:


MnO4 + 8 H + 5 e Mn2+ + 4 H2O
C2O42- 2 CO2 + 2 e-
Untuk memperoleh kesetimbangan maka reaksi pada permanganat dikalikan dua
sedangkan untuk oksalat dikalikan lima, sehingga reaksi oksidasi reduksinya adalah
sebagai berikut:

2 MnO4 + 16 H+ + 5 C2O42- 2 Mn2+ + 8 H 2O + 10 CO2

Dari persamaan di atas terlihat bahwa 5 mol natrium oksalat kehilangan 10


elektron pada oksidasi dengan kalium permanganat dengan demikian berat ekivalen
(BE) dari natrium oksalat adalah separo berat molekulnya (BM/2) atau tiap 1000 ml
kalium permanganat 1 N setara dengan 134/2= 67,00 mg. Dengan demikian tiap ml
kalium permanganat 0,1 N setara dengan 6,7 mg natrium oksalat. Misalkan kita tadi
menimbang natrium oksalat 200 mg dan memerlukan volume titran sebanyak 28,36
ml larutan baku kalium permanganat maka normalitas dari kalium permanganat
adalah:

mg Na 2C O
N KMnO4 = x valensi
2 4

ml KMnO 4 x BM Na2 C O 2 4

Pada reaksi pembakuan di atas valensinya adalah 2

200
N KMnO4 = x 2 = 0,1047 N
28,36 X 134

2. Titrasi Iodimetri dan Iodometri

a. Preparasi larutan
1. Preparasi larutan Iodium

Pembuatan larutan baku iodium 0,1 N dilakukan dengan cara:


Larutkan 12,7 gram iodium dalam 100 ml larutan air yang mengandung 36 gram
kalium iodide dalam labu bertutup, tambah 3 tetes asam klorida, tambahkan air
hingga 100 ml.
Iodium sukar larut dalam air (0,035 gram/ liter) maka dilarutkan dalam larutan
KI yang mana iodium mudah larut di dalamnya dengan membentuk ion kompleks
menurut reaksi:

I2 + I-  I3-

Karena iodium mudah menyublim, maka wadah harus selalu tertutup selama
titrasi berlangsung dan ujung buret tidak boleh menggunakan karet

2. Preparasi larutan tiosulfat


Larutan baku tiosulfat 0,1 N dibuat dengan cara sebagai berikut: Larutkan kira-
kira 25 gram natrium tiosulfat pentahidrat dan 200 mg natrium karbonat dalam air
yang telah didihkan sampai 1000 ml.

3. Pembakuan larutan Iodium


Adapun cara pembakuannya dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Timbang kurang lebih 150 mg arsen trioksid secara saksama dan larutkan dalam 20
ml NaOH 1 N bila perlu dengan pemanasan, encerkan dengan 40 ml air dan tambah
dengan 2 tetes metil orange dan ikuti dengan penambahan HCl encer sampai warna
kuning berubah menjadi pink. Tambahkan 2 gram NaHCO3, 20 ml air dan 30 ml
larutan kanji. Titrasi dengan baku iodium perlahan-lahan hingga timbul warna biru
tetap.
Arsen trioksid sukar larut dalam air akan tetapi mudah larut dalam larutan
natrium hidroksida (NaOH) dengan membentuk natrium arsenit menurut reaksi:

As2O3 + 6 NaOH  2 Na3AsO3 + 3 H2O


Jika iodium ditambahkan pada larutan alkali maka iodium akan bereaksi
dengan NaOH membentuk natrium hipoiodit atau senyawa- senyawa serupa yang
mana tidak akan bereaksi secara cepat dengan natrium arsenit

2 NaOH + I2  NaIO + NaI + H2O

Kelebihan natrium hidroksida dinetralkan dengan HCl menggunakan metal


orange sebagai indicator. Penambahan NaHCO3 untuk menetralkan asam iodide
(HI) yang terbentuk yang mana asam iodide ini menyebabkan reaksi berjalan bolak-
balik (reversibel). Natrium bikarbonat akan menghilangkan asam iodide secepat
asam iodide terbentuk sehingga reaksi berjalan ke kanan secara semourna. Reaksi
secara lengkap pada pembakuan iodium dengan trioksid sebagai berikut:

As2O3 + 6 NaOH  2 Na3AsO3 + 3 H2O

Na3AsO3 + I2 + 2 NaHCO3  Na3AsO4 + 2 NaI + 2 CO2 + H2O

Pada reaksi di atas dapat diketahui bahwa valensinya adalah empat. Karena 1
mol As2O3 setara dengan 2 mol Na3AsO4, sedangkan 1 mol Na3AsO3 setara dengan 1
mol I2 akibatnya 1 mol As2O3 setara dengan 2 mol I2 sehingga perhitungan
normalitasnya dari iodium:
mgrek iodium = mgrek arsen trioksid

ml I2 x N I2 = mmol As2O3 x valensi

mg As2 O X Valensi
N I2 =
3

BM As2 O X ml I 2
3

4. Pembakuan natrium tiosulfat


Adapun cara pembakuannya dilakukan dengan cara sebagai berikut: Timbang
kurang lebih 150 mg kalium iodidat yang sudah dikeringkan pada suhu 120 0C secara
saksama, larutkan dalam 25 ml air yang telah dididihkan. Tambahkan 2 gram kalium
iodida yang bebas iodidat dan 5 ml HCl pekat dalam Erlenmeyer bertutup. Iodium
yang dibebaskan dititrasi dengan natrium tiosulfat yang akan dibakukan sambil terus
dikocok. Bila larutan menjadi kuning pucat tambah 100 ml air dan 3 ml larutan
kanji. Titrasi dilanjutkan sampai warna biru tepat menjadi hilang (tidak berwarna)
Pada pembakuan di atas reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

KIO3 + 5KI + 6HCL  3I2 + 6KCl + 3 H2O


I2 + 2 Na2S2O3  2 NaI + Na2S4O6

Pada reaksi di atas valensinya adalah 6 karena 1 mol KIO 3 setara dengan 3 mol
I2, sedangkan 1 mol I2 setara denga 2e, Sehingga 1 mol KIO 3 setara dengan 6 e
akibatnya BE KIO3 sama dengan BM/6
Perhitungan normalitas dari natrium tiosulfat:

mgrek natrium tiosulfat = mgrek kalium iodidat

ml Na2S2O3 x N Na2S2O3 = mmol As2O3 x valensi

mg KIO 3 x Valensi
N Na2S2O3 =
BM KIO 3 x ml Na 2 S 2 O3

3. Titrasi Bromometri dan Bromatometri

a. Preparasi larutan brom

Cara pembuatan larutan brom 0,1 N adalah: Larutkan 3 gram kalium bromat dan
15 gram kalium bromide dalam air hingga 1000,0 ml.

b. Preparasi larutan kalium Bromat


Cara pembuatan Kalium Bromat 0,1 N adalah: Larutkan 2,784 gram Kalium P
dalam air hingga 1000 ml.
c. Pembakuan larutan brom
Adapun cara pembakuannya dalam Farmakope Indonesia Edisi IV dilakukan
dengan cara: Ukur secara saksama kurang lebih 25,0 ml larutan dan masukkan dalam
labu iodium 500 ml dan encerkan dengan 120 ml air. Tambahkan 5 ml asam klorida
pekat, tutup, kosok perlahan- laha. Kemudian tambahkan 5 ml kalium iodida 20%
(b/v), tutup kembali, kocok campuran selama 5 menit dan titrasi iodium dengan
larutan baku natrium tiosulfat 0,1 N, tambahkan 3 ml larutan kanji 0,5% pada saat
mendekati titik akhir dan hitung normalitasnya.
Ketika asam klorida pekat ditambahkan maka brom akan dibebaskan menurut
reaksi:

KBrO3 + 5 KBr + 6 HCl  3 Br2 + 6 KCl + 3 H2O

brom yang dibebaskan ini kemudian mengoksidasi iodide yang setara dengan jumlah
iodium yang dihasilkan menurut reaksi:

Br2 + 2 KI  I2 + 2 KBr

Iodium ini selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat menurut reaksi:
I2 + Na2S2O3  2 NaI + Na2S4O6

Adanya brom tidak langsung dititrasi dengan natrium tiosulfat dikarenakan perbedaan
potensialnya yang sangat besar akibatnya jika brom langsung dititrasi dengan tiosulfat
maka yang dihasilkan tidak hanya tetrationat (S4O62-) bahkan mugkin sulfida yang
berupa endapan kuning.
Normalitas larutan brom dihitung dengan cara sebagai berikut:
mgrek brom = mgrek Na-tiosulfat
4. Titrasi Serimetri

a. Preparasi larutan Serium (IV) sulfat

Pembuatan Larutan Baku Serium (IV) Sulfat dilakukan dengan cara: Pindahkan
59 gram serium ammonium nitrat pada beker, tambahkan 31 ml asam sulfat, campur
dengan hati-hati tambahkan 20 ml air sampai larut sempurna. Tutup beker dan
biarkan sampai satu malam, lalu saring melalui krus gelas dan encerkan dengan air
sampai 1000 ml.

b. Pembakuan larutan Serium (IV) sulfat


Adapun cara pembakuan Larutan Baku Serium (IV) Sulfat 0,1 N adalah dengan
cara: Timbang saksama kurang lebih 200 mg arsentrioksida yang sebelumnya
dikeringkan pada suhu 1000C selama satu jam, masukkan labu. Cuci dinding labu
dengan 25 ml NaOH (2 gram dalam 25 ml air), goyang- goyangkan hingga arsen
trioksida larut. Setelah larut semua tambah 100 ml air, dan 10 ml asam sulfat (1 dalam
3). Tambahkan 2 tetes orto fenantrolin dan larutan osmium tetraoksida (1 dalam 400
ml 0,1 N asam sulfat). Titrasi perlahan-lahan dengan laruta baku serium (IV) sulfat
sehingga warna merah jambu menjadi biru pucat. Tiap ml larutan serium(IV) sulfat
setara dengan 4,946 mg As2O3.

Pada pembakuan di atas reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

As2O3 + 6 OH -  2 AsO33-

2 Ce 4+ + AsO33- + 2 H2O  2 Ce 3+ + AsO43- + 2 H +

dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa valensinya adalah 4 sebab tiap mol
arsentrioksid setara dengan 2 mol arsenit dan 1 mol arsenit setara dengan 2 mol serium
(IV) sehingga satu mol arsen trioksid setara dengan 4 mol serium (IV) yang berarti
setara dengan 4 elektron.

mg As2 O
N Ce4+ = X4
3

4 +BM As 2O 3
ml Ce

2.4 Contoh Analisa

Titrasi redoks sering digunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang
bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan
kadar laktat pada minuman berisotonik menggunakan permanganat, penentuan sulfite dalam
minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan
menggunakan kalium dikromat.

Penentuan besi dalam bijih-bijih besi. Penentuan besi dalam bijih-bijih besi adalah
aplikasi terpenting dari permanganometri. Mula-mula bijih besi dilarutkan dalam asam
klorida, lalu besi direduksi menjadi Fe2+. Setelah semua besi berada sebagai Fe2+b,kadarnya
ditentukan dengan cara titrasi

5Fe2+ + MnO4-+ 8H+ 5Fe3++ Mn2+ + 4H2O

Pada Hidrogen perioksida. Peroksida bertindak sebagai zat pereduksi

2MnO4-+ 5H2O2 + 6H+ 2Mn2++ 5O2(g) + 8H2O

Pada Kalsium (secara tak langsung). Mula-mula kalsium diendapkan sebagai CaC 2O4.
Setelah penyaringan dan pencucian, endapan dilarutkan dalam asam sulfat dan oksalatnya
dititrasi dengan permanganat
Salah satu aplikasi titrasi redoks khususnya iodometri dengan I 2 sebagai titran adalah
untuk menentukan bilangan iod lemak dan miyak.Karena kemampampuan mengoksidasi
yang tidak besar, tidak banyak zat yang dapat dititrasi berdasarkan iodometri
langsung.Pengunaan ini memeanfaatkan kesangupan ikatan rangkap zat organic untuk
mengadisi iod. Penentuan kadar vitamin C (asam arkobat) pun dapat dialakukan dengan
titrasi ini.

Aplikasi lain dari titrasi redoks ini adalah penentuan kadar air cara Karl Fischer.
Pereaksinya tediri dari iod, belerang dioksida, piridin dan methanol. Iod dan belerang
dioksida membentuk kompleks dengan piridin, dan bila terdapat air, maka kedua kompleks
ini dengan kelebihan piridin beraksi dengan air.

a. Titrasi permanganometri
Metode permanganometri ini digunakan untuk menentukan antimony (III), arsen (III),
bromine , hydrogen peroksida, besi (II), molybdenum (III), nitrit,oksalat, timah (II), titanium
(III), tungsten (III), uranium(IV), Vanadium(IV).

b. Titrasi iodimetri dan titrasi iodometri


Metode iodimetri digunakan untuk menentukan Antimon (III), Arsen (III), ferosianida,
hydrogen sianida, hidrazin, beranng (sulfida), tiosulfat dan timah (II). Sedangkan iodometri
digunakan untuk menentukan arsenic (V), bromine,bromat, klorin, klorat, tembaga (II),
dikromat, hydrogen peroksida, iodat, nitrit, oksigen, ozon, periodat, permanganate.

c. Titrasi bromometri dan titrasi bromatomatri


Metode bromometri dan bromatometri ini terutama digunakan untuk menetapkan
senyawa-senyawa organik aromatis dengan membentuk tribrom substitusi. Metode ini dapat
juga digunakan untuk menetapkan senyawa arsen dan stibium dalam bentuk trivalent
walaupun tercampur dengan stanum valensi empat
.
d. Titrasi serimetri
Metode serimetri digunakan dalam penentuan besi, arsenic, antimon, oksalat-oksalat,
ferosianida , titanium, kromium, vanadium, molibdenium, uranium dan oksida-oksida dari
timbale dan mangan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, N. M. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasannya. Jakarta: PT Gramedia

Khopkar, S.M. 1989.Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

Mursyidi, Achmad dan Rohman. 2008. Pengantar Kimia Farmasi Analisis Volumetri dan
Gravimetri. Yogyakarta: UGM Press.
Rivai, H.1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta:Universitas Indonesia Press.

Rohman,Abdul dan Gandjar, Ibnu Gholib.2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta :


Pustaka Pulajar.

Roth, J dan Blaschke.1988. Analisa Farmasi. Yogyakarta : UGM Press.

Underwood, A.L dan Day.1993. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi V. Jakarta: Erlangga.

Wunas, J dan Said.1986. Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif. Makassar: UNHAS Press.