Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kita pasti sudah tahu bahwa salah satu kebutuhan utama makhluk
hidup adalah makanan, Makanan merupakan bahan utama yang kita
butuhkan untuk menghasilkan energi guna melaksanakan semua aktivitas
hidup.
Bagaimana dan di mana makanan dapat diubah menjadi suatu bentuk
energi yang siap pakai sehingga suatu aktivitas dapat terjadi? Kita pasti
sudah menduga bahwa perubahan makanan menjadi energi, tentu terjadi
dalam sel sebagai suatu satuan fungsional dan struktural terkecil yang
menyusun tubuh makhluk hidup.
Pada makalah ini kita akan membahas tentang bagaimana proses
perubahan suatu zat makanan menjadi suatu bentuk energi siap pakai
melalui reaksi katabolisme dan bagaimana makhluk hidup, khususnya
tumbuhan membentuk suatu zat asal menjadi zat makanan yang siap
dimanfaatkan melalui reaksi anabolisme.
Sel sebagai satuan fungsional dan struktural terkecil dalam tubuh
makhluk hidup, dapat diibaratkan sebagai suatu mesin kimia, Sebagaimana
suatu mesin kimia, untuk mempertahankan kelangsungan hidup mesin
tersebut, sel mengonsumsi bahan bakar berupa makanan (terutama glukosa)
dan membebaskan hasil berupa energi dan zat sisa berupa karbon dioksida
dan air. Energi yang dihasilkan sel dari bahan makanan digunakan untuk
melakukan kerja, yaitu bergerak, memperbaiki bagian yang rusak,
menyusun bagian tubuh, dan aktivitas lainnya. Proses perubahan zat
makanan menjadi energi yang siap digunakan, harus melalui suatu
rangkaian reaksi kimia yang tidak sederhana. Seperti telah dijelaskan
sebelumnya, reaksi kimia ini terjadi pada sel yang merupakan materi hidup
sehingga reaksinya adalah reaksi biokimia. Seluruh proses atau reaksi
1
biokimia dalam sel untuk memperoleh dan menggunakan energi guna
melaksanakan aktivitas serta untuk menjaga kelangsungan hidupnya disebut
metabolisme. Metabolisme terdiri atas reaksi pemecahan makanan menjadi
energi atau katabolisme dan reaksi pembentukan zat makanan atau
anabolisme.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian metabolisme?


2. Apa saja komponen yang berperan dalam metabolisme?
3. Apa itu katabolisme?
4. Apa itu anabolisme?
5. Apakah keterkaitan antara proses katabolisme dan anabolisme?
6. Apakah keterkaitan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein?
7. Apa saja teknologi yang terkait dengan metabolisme?

C. Tujuan Penulisan
1. Supaya lebih mudah dalam pembelajaran Biologi.
2. Agar dapat mempraktekan dalam kehidupan nyata.

D. Manfaat penulisan
Dengan membaca makalah ini diharapkan dapat lebih memahami
pembelajaran mengenai metabolisme.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN METABOLISME

Seperti yang Anda ketahui dalam proses penyediaan energi, baik pada
tumbuhan maupun manusia, melalui rentetan reaksi kimia. Jika seluruh
reaksi kimia terjadi dalam sel makhluk hidup, maka reaksinya disebut reaksi
biokima.
Seluruh proses atau reaksi biokimia yang terjadi dalam sel disebut
metabolisme, Metabolisme merupakan rangkaian reaksi kimia yang diawali
oleh substrat awal dan diakhiri dengan produk akhir, yang terjadi dalam sel.
Perlu Anda ketahui reaksi tersebut meliputi reaksi penyusunan energi
(anabolisme) dan reaksi penggunaan energi (katabolisme).
Dalam reaksi biokimia terjadi perubahan energi dari satu bentuk ke
bentuk yang lain, misalnya energi kimia dalam bentuk senyawa Adenosin
Trifosfat (ATP) diubah menjadi energi gerak untuk melakukan suatu
aktivitas seperti bekerja, berlari, jalan, dan lain-lain.
Proses metabolisme yang terjadi di dalam sel makhluk hidup seperti pada
tumbuhan dan manusia melibatkan sebagian besar enzim (katalisator) baik
berlangsung secara sintesis (anabolisme) dan respirasi (katabolisme). Apa
peran enzim di dalam reaksi kimia yang terjadi di dalam sel? Pada saat
berlangsungnya peristiwa reaksi biokimia di dalam sel, enzim bekerja secara
spesifik. Enzim mempercepat reaksi kimia yang menghasilkan senyawa
ATP dan senyawa-senyawa lain yang berenergi tinggi seperti pada proses
respirasi, fotosintesis, kemosintesis, sintesis protein, dan lemak.
Senyawa Adenosin Trifosfat (ATP) merupakan molekul kimia berenergi
tinggi. Berasal dari manakah energi itu? Molekul Adenosin Trifosfat (ATP)
berasal dari perubahan glukosa melalui serangkaian reaksi kimia yang
panjang dan kompleks. Energi yang terkandung dalam glukosa tersebut
3
berupa energi ikatan kimia yang berasal dari proses transformasi energi
sinar matahari. Bagan transformasi energi dalam biologi dapat dibedakan
menjadi tiga proses berikut.

1. Transformasi energi oleh klorofil


Energi radiasi sinar matahari yang ditangkap oleh klorofil
kemudian diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis.
Energi kimia tersebut digunakan untuk mensintesis CO2 dan H2O
menjadi glukosa dan senyawa kompleks lainnya sebagai energi pengikat
dan penghubung inti-inti atom yang tersimpan dalam bentuk senyawa
karbohidrat (sebagai bahan makanan).
Jadi, energi radiasi matahari yang berbentuk energi kinetik diubah
menjadi energi potensial dan energi kimiawi yang disimpan dalam
molekul karbohidrat dan bahan makanan lainnya sebagai energi ikatan
yang menghubungkan atomatom bakunya.

2. Transformasi energi oleh mitokondria


Di dalam mitokondria energi kimia digunakan untuk mengubah
karbohidrat dan senyawa lainnya sebagai energi ikatan fosfat melalui
respirasi sel untuk oksidasi DNA, RNA, protein, dan lemak. Mitokondria
banyak terdapat pada sel-sel otot makhluk hidup dan sel-sel saraf.

membran dalam

membran luar

Mitokondria
Sumber: Image.google.co.id

4
3. Transformasi energi oleh sel
Jika sel melakukan kegiatan, maka energi kimiawi dari ikatan
fosfat akan terlepas dan berubah menjadi energi bentuk lain seperti
energi mekanik untuk kerja kontraksi otot, energi listrik untuk
meneruskan impuls saraf, energi sintesis untuk membangun senyawa
pertumbuhan, serta sisanya akan mengalir ke sekeliling sel dan hilang
sebagai energi panas.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, pada saat
berlangsungnya proses metabolisme dalam sel makhluk hidup, ada
beberapa komponen penting yang berperan di dalamnya yaitu adanya
aktivitas enzim, dihasilkan energi tinggi berupa Adenosin Trifosfat (ATP)
dan reaksi oksidasi reduksi (pelepasan dan pembebasan) elektron.

B. KOMPONEN YANG BERPERAN DALAM METABOLISME

Motor dapat bergerak karena adanya energi. Energi yang didapatkan


tersebut berasal dari bensin. Di dalam mesin motor, bensin mendapat energi
minimum untuk bereaksi menghasilkan energi dari percikan api yang dipicu
oleh busi. Suhu di dalam mesin pun dapat mencapai ratusan derajat celcius.
Energi minimum yang diperlukan suatu substrat untuk bereaksi
dinamakan sebagai energi aktivasi. Bagaimanakah dengan tubuh manusia
atau mahluk hidup lainnya? Tentu kita tidak dapat memenuhi kebutuhan
energi pemic pada keadaan seperti di mesin. Akan tetapi, dengan suhu yang
cukup rendah, bahan makanan yang kita makan tetap dapat menghasilkan
energi untuk menunjang aktivitas kita.
Ternyata, tubuh organisme menyediakan molekul berenergi dan
molekul yang dapat mempercepat (mengkatalisasi) terjadinya reaksi kimia
dalam tubuh. Molekul tersebut adalah ATP (Adenosin trifosfat) dan enzim.

5
1. Molekul Energi
Dalam banyak reaksi tubuh, perpindahan energi dilakukan
bersamaandengan dilepaskan atau dibentuknya senyawa dengan ikatan
fosfat. Sumber
energi utama yang mengandung senyawa fosfat adalah ATP
(Adenosin trifosfat) yang memiliki 3 gugus fosfat. Senyawa ini menjadi
sumber energi langsung yang dibutuhkan oleh tubuh dalam melakukan
usaha (aktivitas) karena pelepasan satu gugus fosfat akan menghasilkan
energi yang besar.
Pada kondisi laboratorium, satu mol ATP menghasilkan energi
sebesar 7,3 kkal. ATP terdiri atas gugus adenin yang mengandung gugus
nitrogen, ribosa, menghasilkan 5 molekul karbon gula, serta 3 molekul
fosfat.
Untuk menghasilkan energi, ATP mengalami fosforilasi yang
dibantu oleh enzim fosforilase menjadi ADP (Adenosin difosfat).
Makhluk hidup yang beraktivitas, menggunakan ATP terus-menerus.
Akan tetapi, ATP tidak habis karena merupakan sumber daya yang dapat
diperbarui dengan menambahkan satu gugus fosfat pada ADP. Hal ini
dapat dilakukan melalui respirasi sel pada hewan. Pada tumbuhan
digunakan energi cahaya untuk membentu ATP kembali.
Dalam proses transfer energi, terdapat beberapa jenis molekul
energi lainnya yang berperan sebagai molekul penyimpan energi, yakni
NADH2, FADH, dan ATP. Semua molekul tersebut memiliki kesetaraan
dengan produksi ATP. NADH setara dengan 3 ATP dan FADH setara
dengan 2 ATP.

2. Enzim
Enzim merupakan protein pengkatalis. Katalis adalah agen
kimiawi yang mempercepat laju reaksi tanpa mengubah struktur enzim
itu sendiri. Tanpa adanya enzim, reaksi kimia pada jalur metabolisme
akan terhenti.
6
SUBSTRAT HASIL

ENZIM

Sumber: Image.google.co.id

1. Struktur Enzim
Enzim memiliki sisi aktif, yakni bagian atau tempat pada enzim
yang berfungsi sebagai tempat menempelnya substrat. Kerja enzim
sangat spesifik karena sisi aktif dari enzim sangat selektif terhadap
bentuk kimia dari substrat yang akan dikatalisis. Ikatan yang
terbentuk antara enzim dengan substrat bersifat lemah sehingga
reaksi dapat berlangsung bolak-balik. Substrat menempel pada sisi
aktif enzim dan akan menghasilkan produk baru.
Tubuh enzim terdiri atas beberapa bagian. Bagian utama enzim
berupa protein yang disebut apoenzim. Bagian lainnya adalah
bagian yang tersusun atas materi anorganik, seperti senyawa logam
yang disebut gugus prostetik.
Beberapa enzim memerlukan molekul yang membantu kerja
enzim menguatkan ikatan dengan substrat, yakni kofaktor. Banyak
molekul logam anorganik yang berfungsi sebagai kofaktor, seperti
ion logam Fe2+, Cu2+, dan Mg2+. Beberapa komponen kimia enzim
yang tersusun atas molekul organik nonprotein disebut koenzim.
Koenzim membawa atom fungsional ketika enzim bereaksi. Contoh
koenzim yang berada pada bagian gugus prostetik enzim adalah
koenzim A, yang membawa sumber karbon ketika memecah piruvat
dan asam lemak. Ikatan antara apoenzim dan kofaktor disebut
holoenzim.
7
2. Sifat Enzim
Enzim bekerja dengan cara menurunkan energi aktivasi
sehingga energi awal minimun untuk sebuah reaksi dapat diperkecil.
Enzim bukanlah penambah energi awal dalam bereaksinya substrat,
tetapi hanya sebagai pengikat sementara sehingga reaksi dapat
berlangsung pada keadaan di bawah energi aktivasinya. Hal ini
menyebabkan reaksi akan berjalan lebih cepat. Enzim merupakan
protein yang dapat terdenaturasi(struktur dan sifatnya berubah) oleh
suhu, pH, atau logam berat.

Empat sifat umum enzim sebagai berikut.


1) Enzim bukanlah penyebab reaksi, namun enzim hanya
mempercepat reaksi. Tanpa adanya enzim, suatu reaksi tetap
dapat terjadi. Akan tetapi, diperlukan energi yang besar dan
berlangsung sangat lambat.
2) Enzim tidak berubah secara permanen atau habis bereaksi.
Enzim yang sama dapat digunakan berulang-ulang.
3) Enzim yang sama dapat digunakan untuk reaksi kebalikannya.
Suatu enzim dapat mengubah substrat A menjadi molekul B
dan C. Enzim yang sama dapat bekerja sebaliknya membentuk
substrat A dari molekul B dan C.
4) Setiap jenis enzim hanya bekerja pada zat tertentu saja.

3. Cara Kerja Enzim


Terdapat dua teori yang menerangkan cara kerja enzim, yakni
teorilock and key dan teori induced fit. Teori lock and key
menganalogikan mekanisme kerja enzim seperti kunci dengan anak
kunci. Substrat masuk ke dalam sisi aktif enzim. Jadi, sisi aktif
enzim seolah-olah kunci dan substrat adalah anak kunci.

8
Substrat

Produk

Enzim
Teori lock and key
Sumber: Biological cience, 1986

Adapun teori induced fit mengemukakan bahwa setiap


molekul substrat memiliki permukaan yang hampir pas dengan
permukaan sisi aktif enzim.

Substrat Kompleks enzim


Produk
substrat

Enzim Enzim
Teori induced fit

Sumber: Biological cience, 1986

Jika substrat masuk ke dalam sisi aktif enzim, akan terbentuk


kompleks enzim substrat yang pas (Keeton and Gould, 1986: 79).

9
Grafik kerja enzim
Sumber: Image.google.co.id

4. Penamaan Enzim
Penamaan enzim umumnya disesuaikan dengan substrat yang
diuraikan, lalu dibubuhi akhiran ase. Sebagai contoh, enzim amilase
menguraikan amilum menjadi maltosa di mulut. Enzim lipase
bekerja menguraikan lipid(lemak) menjadi asam lemak.

5. Jenis enzim
Berdasarkan lokasi kerjanya, enzim dapat dibagi menjadi dua jenis,
sebagai berikut.
1) Eksoenzim, yakni enzim yang bekerja di luar sel, contohnya:
amilum amilase maltosa
maltosa maltase glukosa
2) Endoenzim, yakni enzim yang bekerja di dalam sel, contohnya:
glukosa heksokinase glukosa-6-Phospat

6. Faktor yang Memengaruhi Kerja Enzim


Seperti halnya protein yang lain, sifat enzim sangat
dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Kondisi yang tidak sesuai
dapat menyebabkan kerja enzim terganggu.
Berikut adalah beberapa faktor yang memengaruhi kerja enzim.

1) Temperatur
Enzim memiliki rentang temperatur tertentu agar dapat
bereaksidengan optimal. Pada temperatur yang tinggi, enzim
akan rusak (terdenaturasi) sebagai sifat umum dari protein.
Pada kondisi ini, struktur enzim sudah berubah dan rusak
sehingga tidak dapat digunakan lagi. Adapun pada rendah,
enzim berada pada kondisi inaktif (tidak aktif). temperatur yang
Enzim akan bekerja kembali dengan adanya kenaikan
10
temperatur yang sesuai. Semua enzim memiliki kondisi
temperatur yang spesifik untuk bekerja optimal. Enzim memiliki
kecenderungan semakin meningkat seiring dengan kenaikan
temperatur hingga pada batas tertentu. Setelah itu, enzim
kembali mengalami penurunan kinerja. Pada saat kerja enzim
optimal maka dapat dikatakan bahwa pada temperatur tersebut
temperatur optimum.

100

50

0 20 40 60
Temperatur (Co)
Sumber: Biological cience, 1986

2) pH
Seperti halnya temperatur, pH dapat memengaruhi
optimasi kerja enzim. Setiap enzim bekerja pada kondisi pH
yang sangat spesifik. Hal ini berkaitanerat dengan lokasi enzim
yang bekerja terhadap suatu substrat.
Pada umumnya, enzim akan bekerja optimum pada pH
6-8. Perubahan pH lingkungan akan mengakibatkan
terganggunya ikatan hidrogen yang ada pada struktur enzim.
Jika enzim berada pada kondisi pH yang tidak sesuai, enzim
dapat berada pada keadaan inaktif. Dengan adanya kondisi pH
yang spesifik ini, enzim tidak akan merusak sel lain yang berada
di sekitarnya. Contohnya, enzim pepsin yang diproduksi
pankreas untuk mencerna protein dalam lambung, tidak akan
11
mencerna protein yang ada di dinding pankreas karena enzim
pepsin bekerja pada pH 2-4.

3) Konsentrasi Substrat dan Konsentrasi Enzim


Kerja enzim sangat cepat maka untuk mengoptimalkan hasilnya,
perlu perbandingan jumlah atau konsentrasi antara substrat
dengan enzim yang sesuai. Jumlah substrat yang terlalu banyak
dan konsentrasi enzim sedikit akan menyebabkan reaksi tidak
optimal.
Konsentrasi enzim membatasi laju reaksi. Enzim akan
“jenuh” jika sisi aktif semua molekul enzim terpakai setiap
waktu. Pada titik jenuh, laju reaksi tidak akan meningkat
meskipun substrat ditambahkan. Jika konsentrasi enzim
ditambahkan, laju reaksi akan meningkat hingga titik jenuh
berikutnya.

4) Kofaktor
Kofaktor dapat membantu enzim untuk memperkuat
ikatan dengan substrat atau kebutuhan unsur anorganik, seperti
karbon. Selain itu, kofaktor juga membantu proses transfer
elektron.
5) Inhibitor Enzim
Inhibitor mengganggu kerja enzim. Berdasarkan
pengertian dari kata dasarnya (inhibit artinya menghalangi),
inhibitor merupakan senyawa yang dapat menghambat kerja
enzim. Inhibitor secara alami dapat berupa bisa(racun) yang
dikeluarkan oleh hewan, seperti ular atau laba-laba. Inhibitor
akan mencegah sisi aktif untuk tidak bekerja. Beberapa obat-
obatan juga berfungsi sebagai inhibitor, seperti penisilin yang
berguna menghambat kerja enzim pada mikroorganisme.

12
Inhibitor terbagi atas dua macam, yakni inhibitor kompetitif
dan inhibitor nonkompetitif
Pada inhibitor kompetitif, inhibitor ini akan bersaing
dengan substrat untuk bergabung dengan enzim sehingga kerja
enzim akan terganggu. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif
tidak akan bersaing dengan substrat untuk bergabung dengan
enzim karena memiliki sisi ikatan yang berbeda (Keeton and
Gould, 1986: 81).

6) Kadar Air
Kerja enzim sangat dipengaruhi oleh air. Rendahnya
kadar air dapat menyebabkan enzim tidak aktif. Sebagai contoh,
biji tanaman yang dalam keadaan kering tidak akan
berkecambah. Hal ini disebabkan oleh tidak aktifnya enzim
sebagai akibat dari rendahnya kadar air dalam biji. Biji akan
berkecambah jika direndam. Kadar air yang cukup dapat
mengaktifkan kembali enzim. bertindak.

C. KATABOLISME

Katabolisme adalah reaksi penguraian senyawa kompleks menjadi


senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan enzim. Penguraian senyawa
ini menghasilkan atau melepaskan energi berupa ATP yang biasa digunakan
organisme untuk beraktivitas. Katabolisme mempunyai dua fungsi, yaitu
menyediakan bahan baku untuk sintesis molekul lain, dan menyediakan
energi kimia yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas sel. Reaksi yang
umum terjadi adalah reaksi oksidasi. Energi yang dilepaskan oleh reaksi
katabolisme disimpan dalam bentuk fosfat, terutama dalam bentuk
ATP(Adenosin trifosfat) dan berenergi elektron tinggi NADH2 (Nikotilamid
adenin dinukleotida H2) serta FADH2 (Flavin adenin dinukleotida H2).

13
Contoh katabolisme adalah respirasi. Berdasarkan kebutuhan akan
oksigen, katabolisme dibagi menjadi dua, yaitu respirasi aerob dan anaerob.
Respirasi aerob adalah respirasi yang membutuhkan oksigen untuk
menghasilkan energi. Sedangkan, respirasi anaerob adalah respirasi yang
tidak membutuhkan oksigen untuk menghasilkan energi. Mari cermati
uraian di bawah ini.

1. Respirasi Anaerob
Sebagian besar hewan dan tumbuhan melakukan respirasi aerob.
Respirasi aerob adalah peristiwa pembakaran zat makanan menggunakan
oksigen dari pernapasan untuk menghasilkan energi dalam bentuk ATP.
Selanjutnya, ATP digunakan untuk memenuhi proses hidup yang selalu
memerlukan energi. Respirasi aerob disebut juga pernapasan, dan terjadi
di paru-paru. Sedangkan, pada tingkat sel respirasi terjadi pada organel
mitokondria. Secara sederhana, reaksi respirasi adalah sebagai berikut:

C6H12O6 + 6O2 → 6H2O + 6CO2 + 36 ATP


Glukosa oksigen air karbondioksida energi
Pada respirasi ini, bahan makanan seperti senyawa karbohidrat,
lemak atau protein dioksidasi sempurna menjadi karbondioksida dan air.
Pada reaksi di atas, substrat yang dioksidasi sempurna adalah glukosa.
Oksigen diperlukan sebagai akseptor elektron terakhir pada rantai
transpor elektron di mitokondria.
Karbondioksida (CO2) dibebaskan keluar sel sebagai sampah. Pada
manusia, CO2 dilarutkan dalam darah, kemudian dibuang melalui
pernapasan dari paru-paru. Molekul air juga merupakan sampah dari
respirasi dan dibuang lewat plasma darah ke paru-paru, kemudian
dikeluarkan melalui hembusan napas.
Respirasi aerob dapat dibedakan menjadi tiga tahap, yaitu:
glikolisis, siklus krebs, dan transpor elektron. Untuk memahami tahapan-
tahapan tersebut, cermati uraian berikut ini.
14
a. Glikolisis
Glikolisis adalah peristiwa pengubahan molekul glukosa(6 atom C)
menjadi 2 molekul yang lebih sederhana, yaitu asam piruvat (3 atom
C). Glikolisis terjadi dalam sitoplasma sel. Prosesnya terdiri atas
sepuluh langkah.
Peristiwa glikolisis menunjukkan perubahan dari glukosa, kemudian
makin berkurang kekomplekan molekulnya dan berakhir sebagai
molekul asam piruvat. Produk penting glikolisis adalah:

1) 2 molekul asam piruvat


2) 2 molekul NADH sebagai sumber elektron berenergi tinggi
3) 2 molekul ATP dari 1 molekul glukosa

Sebenarnya, dari 1 molekul glukosa dihasilkan 4 molekul ATP,


tetapi 2 molekul digunakan untuk beberapa reaksi kimia. Dari
kesepuluh langkah pemecahan glukosa, dua di antaranya bersifat
endergonik, dan menggunakan 2 molekul ATP.

b. Siklus krebs
Siklus krebs merupakan tahap kedua respirasi aerob. Nama siklus
ini berasal dari nama orang yang menemukan reaksi tahap kedua
respirasi aerob ini, yaitu Hans Krebs. Siklus ini disebut juga siklus
asam sitrat.
Siklus krebs diawali dengan adanya 2 molekul asam piruvat yang
dibentuk pada glikolisis yang meninggalkan sitoplasma masuk ke
mitokondria. Sehingga, siklus krebs terjadi di dalam mitokondria.
Tahapan siklus krebs adalah sebagai berikut:

a) Asam piruvat dari proses glikolisis, selanjutnya masuk ke siklus


krebs setelah bereaksi dengan NAD+ (Nikotinamida adenine
15
dinukleotida) dan ko enzim A atau Ko-A, membentuk asetil Ko-A.
Dalam peristiwa ini, CO2 dan NADH dibebaskan. Perubahan
kandungan C dari 3C (asam piruvat) menjadi 2C (asetil ko-A).

b) Reaksi antara asetil Ko-A (2C) dengan asam oksalo asetat (4C)
dan terbentuk asam sitrat (6C). Dalam peristiwa ini, Ko-A
dibebaskan kembali.

c) Asam sitrat (6C) dengan NAD+ membentuk asam alfa ketoglutarat


(5C) dengan membebaskan CO2.

d) Peristiwa berikut agak kompleks, yaitu pembentukan asam


suksinat (4C) setelah bereaksi dengan NAD+ dengan
membebaskan NADH, CO2 dan menghasilkan ATP setelah
bereaksi dengan ADP dan asam fosfat anorganik.

e) Asam suksinat yang terbentuk, kemudian bereaksi dengan FAD


(Flarine Adenine Dinucleotida) dan membentuk asam malat (4C)
dengan membebaskan FADH2.

f) Asam malat (4C) kemudian bereaksi dengan NAD+ dan


membentuk asam oksaloasetat (4C) dengan membebaskan NADH,
karena asam oksalo asetat akan kembali dengan asetil ko-A seperti
langkah ke 2 di atas.
Dapat disimpulkan bahwa siklus krebs merupakan tahap kedua dalam
respirasi aerob yang mempunyai tiga fungsi, yaitu menghasilkan
NADH,FADH2, ATP serta membentuk kembali oksaloasetat.
Oksaloasetat ini berfungsi untuk siklus krebs selanjutnya. Dalam
siklus krebs, dihasilkan 6 NADH, 2 FADH2,dan 2 ATP.

c. Transpor elektron
16
Transpor elektron terjadi di membran dalam mitokondria, dan
berakhir setelah elektron dan H+ bereaksi dengan oksigen yang
berfungsi sebagai akseptor terakhir, membentuk H2O. ATP yang
dihasilkan pada tahap ini adalah 32 ATP. Reaksinya kompleks, tetapi
yang berperan penting adalah NADH, FAD, dan molekul-molekul
khusus, seperti Flavo protein, ko-enzim Q, serta beberapa sitokrom.
Dikenal ada beberapa sitokrom, yaitu sitokrom C1, C, A, B, dan A3.
Elektron berenergi pertama-tama berasal dari NADH, kemudian
ditransfer ke FMN (Flavine Mono Nukleotida), selanjutnya ke Q,
sitokrom C1, C, A, B, dan A3, lalu berikatan dengan H yang diambil
dari lingkungan sekitarnya. Sampai terjadi reaksi terakhir yang
membentuk H2O. Secara sederhana, reaksi transpor elektron
dituliskan:
24e- + 24 H+ + 6 O2 → 12 H2O
Jadi, hasil akhir proses ini terbentuknya 32 ATP dan H2O sebagai
hasil sampingan respirasi. Produk sampingan respirasi tersebut pada
akhirnya dibuang ke luar tubuh, pada tumbuhan melalui stomata dan
melalui paru-paru pada pernapasan hewan tingkat tinggi.

2. Respirasi Anaerob
Respirasi anaerob merupakan respirasi yang tidak menggunakan
oksigen sebagai penerima akhir pada saat pembentukan ATP. Respirasi
anaerob juga menggunakan glukosa sebagai substrat. Respirasi anaerob
sering disebut juga fermentasi.
Organisme yang melakukan fermentasi di antaranya adalah
bakteri dan protista yang hidup di rawa, lumpur, makanan yang
diawetkan, atau tempat-tempat lain yang tidak mengandung oksigen.
Beberapa organisme dapat berespirasi menggunakan oksigen,
tetapi dapat juga melakukan fermentasi. Organisme seperti ini melakukan
fermentasi jika lingkungannya miskin oksigen. Sebagai contoh, sel-sel
otot dapat melakukan respirasi anaerob jika kekurangan oksigen.
17
Pada fermentasi, glukosa dipecah menjadi 2 molekul asam
piruvat, 2 NADH, dan terbentuk 2 ATP. Tetapi, fermentasi tidak bereaksi
secara sempurna memecah glukosa menjadi karbon dioksida dan air,
serta ATP yang dihasilkan pun tidak sebesar ATP yang dihasilkan dari
glikolisis.
Dari hasil akhirnya, fermentasi dibedakan menjadi fermentasi
asam laktat dan fermentasi alkohol.

a. Fermentasi asam laktat


Fermentasi asam laktat merupakan respirasi anaerob, hasil
akhir fermentasi ini ialah asam laktat yang disebut juga asam susu.
Sebagian masyarakat menyebut asam laktat sebagai asam kelelahan,
karena erat kaitannya dengan rasa lelah. Hal ini terjadi pada
manusia, karena bergerak melebihi batas sehingga terjadi
penimbunan asam laktat yang merupakan hasil akhir fermentasi pada
otot tubuh.
Proses fermentasi juga dimulai dengan glikolisis yang
menghasilkan asam piruvat. Karena pada proses ini tidak ada
oksigen yang merupakan reseptor terakhir, maka asam piruvat
diubah menjadi asam laktat. Kejadian ini berakibat pada elektron
yang tidak meneruskan perjalanannya, tidak lagi
menerima elektron dari NADH dan FAD. Karena tidak terjadi
penyaluran elektron, berarti pula NAD+ dan FAD yang diperlukan
dalam siklus krebs juga tidak terbentuk. Akibatnya, reaksi siklus
krebs pun terhenti. Asam laktat merupakan zat kimia yang
merugikan karena bersifat racun atau toksis.

b. Fermentasi alkohol
Pada beberapa mikroorganisme, peristiwa pembebasan energi
terjadi karena asam piruvat diubah menjadi asam asetat dan CO2.
Selanjutnya, asam asetat diubah menjadi alkohol. Pada peristiwa ini,
18
NADH diubah menjadi NAD+. Dengan terbentuknya NAD+,
glikolisis dapat terjadi. Dengan demikian, asam piruvat selalu
tersedia, kemudian diubah menjadi energi.
Pada fermentasi ini, energi (ATP) yang dihasilkan dari 1
molekul glukosa hanya 2 molekul ATP, berbeda dengan proses
respirasi aerob yang mengubah 1 molekul glukosa menjadi 34 ATP.

D. ANABOLISME

Setelah kita membahas reaksi katabolisme, selanjutnya akan dibahas


reaksi penyusunan atau anabolisme. Reaksi anabolisme yang paling penting
yaitu anabolisme karbohidrat yang dikenal dengan fotosintesis.
Selain itu, akan dibahas pula tentang Kemonsintesis karena
pengubahan CO2 (karbon anorganik) menjadi organik (karbohidrat) tidak
harus selalu melalui proses fotosintesis.

1. Fotosintesis
Seluruh makhluk hidup di bumi secara langsung atau tidak
langsung bergantung pada fotosintesis. Dalam peristiwa fotosintesis,
karbon anorganik(CO2) dan air akan diubah menjadi karbon organik
(karbohidrat) yang merupakan senyawa dasar bagi pembentukan
senyawa-senyawa utama yang berguna untuk menunjang kehidupan
makhluk hidup.
Di samping itu dalam reaksi fotosintesis juga dihasilkan oksigen
yang merupakan unsur vital kehidupan.
Fotosintesis terutama dapat dilakukan oleh tumbuhan hijau
disamping oleh alga dan beberapa bakteri. Pada tumbuhan tinggi, organ
utama yang melakukan fotosintesis adalah daun. Dilihat dari reaksi pada
fotosintesis, daun selain membutuhkan CO2 dan air, juga harus
mengandung klorofil dan pigmen lain sebagai penangkap energi cahaya

19
matahari untuk diubah menjadi energi kimia dalam bentuk senyawa
organik.
Pigmen fotosintesis pada tumbuhan tinggi digolongkan menjadi
dua golongan, yaitu klorofil dan karotenoid (terdiri atas karoten dan
xantofil). Klorofil menyerap cahaya matahari pada panjang gelombang
tertentu, bergantung pada jenis klorofilnya.
Klorofil sebagai salah satu komponen penting dalam fotosintesis
terdapat pada sel daun dan tersimpan pada organel yang disebut
kloroplas. Kloroplas terdiri atas beberapa bagian, yaitu grana yang
tersusun atas tumpukan membran tilakoid dan struktur seperti jeli yang
ada di sekitar grana dan disebut stroma (perhatikan lagi bab tentang sel).
Karena klorofil berada di kloroplas, maka peristiwa fotosintesis adalah
terjadi pada organ tersebut. Fotosintesis terjadi pada kloroplas dalam dua
tahap reaksi, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap.
Sebelum dijelaskan tentang reaksi terang dan reaksi gelap, terlebih
dahulu akan dibahas tentang beberapa hal penting yang berkaitan dengan
kedua reaksi tersebut.

a. Peran Pigmen dalam Fotosintesis


Pigmen fotosintesis pada tumbuhan tinggi digolongkan menjadi
dua golongan, yaitu klorofil dan karotenoid (terdiri atas karoten dan
xantofil).
Klorofil merupakan pigmen utama yang diperlukan dalam
fotosintesis. Klorofil menyerap cahaya merah dan ungu biru sehingga
terlihat hijau karena warna tersebutlah yang dipantulkan. Spektrum
cahaya yang diserap klorofil dapat berbeda-beda bergantung pada
jenis klorofilnya.
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa pigmen berperan
dalam menangkap cahaya matahari. Selanjutnya cahaya matahari yang
ditangkap dalam bentuk foton akan digunakan oleh sistem yang ada
dalam fotosintesis untuk menjalankan reaksi. Apa yang sebenarnya
20
terjadi, jika energi foton dari matahari ditangkap oleh pigmen?
Pigmen adalah senyawa kimia yang dapat menyerap/mengabsorpsi
cahaya tampak. Cahaya yang terserap merupakan sesuatu yang
mengandung energi tinggi. Karena energinya yang tinggi, foton (yang
terkandung dalam cahaya) dapat menyebabkan terlemparnya elektron
yang ada pada pigmen, dan elektron yang terlempar disebut sebagai
elektron yang berada pada keadaan tereksitasi. Dalam keadaan
tersebut, elektron berada dalam kondisi yang tidak stabil dan
menyimpan energi yang tinggi. Untuk menstabilkan dirinya, elektron
yang tereksitasi akan berusaha kembali ke keadaan semula sambil
melepaskan energinya.
Pada reaksi terang, pigmen yang tereksitasi akan kehilangan
elektron, sehingga menghasilkan molekul yang bermuatan positif.
Elektron yang dilepaskan dalam peristiwa tersebut kemudian
akan ditangkap oleh molekul lain yang disebut penangkap elektron
atau akseptor elektron. Dalam hal ini klorofil ada dalam bentuk
teroksidasi dan akseptor elektron menjadi senyawa yang tereduksi.
Dalam hal ini klorofil dapat juga disebut sebagai donor elektron.

b. Unit-Unit Fotosintetik dan Pusat Reaksi


Unit-unit fotosintetik terdapat dalam membran tilakoid pada
grana dari sebuah kloroplas. Unit fotosintetik terdiri atas sejumlah
klorofil a, klorofil b, dan karotenoid yang masing-masing mempunyai
klorofil a khusus sebagai pusat reaksi. Dalam membran tilakoid
terdapat dua tipe unit fotosintetik, yaitu fotosistem I dan II (PSI dan
PSII). PSI disebut juga P700 dan PSII disebut P680 (sesuai puncak
absorpsi panjang gelombang yang diserapnya).
Fotosistem mengandung kumpulan pigmen tambahan yang akan
melakukan energi foton yang ditangkapnya menuju molekul pigmen
utama dan molekul ini disebut pusat reaksi. Pada pusat reaksi, energi
yang ditangkap dari cahaya digunakan untuk menjalankan reaksi. Jadi,
21
di sinilah energi cahaya diubah menjadi energi kimia sehingga pusat
reaksi dapat disebut pusat pengubah energi dalam fotosintesis.

c. Reaksi Terang (Fotofosforilasi)


Reaksi terang adalah reaksi yang terjadi pada membran
tilakoid grana, yang akan menghasilkan ATP dari ADP+fosfat
(fosforilasi) dan NADPH2 dari NADP. Pembentukan ATP pada reaksi
terang menggunakan energi matahari (foton) sehingga peristiwanya
disebut fotofosforilasi. Dalam reaksi terang juga dibutuhkan hidrogen
untuk mereduksi NADP menjadi NADPH2. Pada tumbuhan, hidrogen
diperoleh dari pemecahan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.
Hasil reaksi terang selanjutnya akan digunakan dalam reaksi gelap.
Jika cahaya (foton) mengenai PSII maupun PSI, energinya
yang tinggi akan menyebabkan klorofil yang ada pada kedua
fotosistem tersebut melepaskan elektron, menjadi klorofil+. Pada PSII,
foton juga sekaligus menyebabkan pecahnya molekul air menjadi
hidrogen dan oksigen dengan melepaskan elektron. Elektron yang
dilepaskan air akan menggantikan
elektron yang hilang pada klorofil (PSII), sedangkan elektron
yang dilepaskan klorofil pada PSII akan ditangkap oleh suatu akseptor
elektron (X). Selanjutnya elektron dilepaskan kembali oleh akseptor X
dan melalui suatu rantai pembawa elektron. Elektron tersebut akhirnya
sampai di PSI. Elektron ini menggantikan elektron yang dilepaskan
klorofil pada PSI, sedangkan elektron yang dilepaskan PSI akan
ditangkap oleh akseptor hidrogen, yaitu Y.
Selanjutnya Y melepaskan elektron tersebut dan melalui
serangkaian pembawa elektron, elektronnya ditangkap oleh NADP
untuk membentuk NADPH2. Elektron yang ditangkap oleh Y selain
dapat ditangkap oleh NADP juga dapat kembali ke PSI.
Selama pergerakan elektron dari akseptor X menuju PSI dan
dari Y menuju PSI, energi yang dilepaskannya digunakan untuk
22
memfosforilasi ADP menjadi ATP. Untuk setiap pasang elektron
dapat dihasilkan 2 molekul ATP.

d. Reaksi Gelap (Fiksasi CO2 atau Siklus Calvin)


Reaksi gelap adalah lanjutan dari reaksi terang dan terjadi pada
stroma. Pada reaksi tersebut energi berupa ATP dan molekul
pereduksi NADPH2 yang dihasilkan reaksi terang, digunakan untuk
mereduksi/memfiksasi CO2.
Pada reaksi gelap/siklus Calvin, CO2 dan air dari lingkungan
secara enzimatis direaksikan dengan suatu molekul akseptor yang
mengandung 5 atom C (Ribulosa,1,5-bifosfat/RuBP) untuk
membentuk 2 molekul antara beratom C3 yaitu asam fosfogliserat
(PGA). Molekul antara ini kemudian direduksi untuk menghasilkan
karbohidrat. Peristiwa tersebut juga dilengkapi dengan pembentukan
kembali (regenerasi) molekul C5 yang selanjutnya akan digunakan
lagi untuk mengikat CO2 yang masuk. Jadi, dalam siklus Calvin
terdapat 3 tahap reaksi, yaitu:

a. Karboksilasi (pengambilan CO2) oleh akseptor RuBP membentuk 2


molekul PGA yang mengandung 3 atom C.
b. Reduksi molekul PGA menjadi asam fosfogliseraldehid (PGAL)
yang selanjutnya akan membentuk karbohidrat berupa glukosa,
sukrosa, dan amilum.

c. Regenerasi (pembentukan kembali) akseptor CO2, yaitu RuBP, dari


molekul PGAL. Proses ini diperlukan karena CO2 terus-menerus
dihasilkan dari reaksi terang sehingga harus selalu tersedia senyawa
yang dapat mengikatnya, yaitu RuBP. Untuk lebih memperjelas
hubungan antara ketiga tahap reaksi tersebut.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa reaksi terang
berhubungan langsung dengan reaksi gelap untuk menghasilkan
23
suatu produk, yaitu karbohidrat yang merupakan senyawa utama
penyusun senyawa-senyawa vital untuk kehidupan organisme.

2. Kemosintesis
Pengubahan CO2 (karbon anorganik) menjadi karbon organik
(karbohidrat) tidak harus selalu melalui proses fotosintesis, energi
diambil dari energi cahaya (foton). Beberapa organisme, seperti bakteri,
mampu memfiksasi CO2 menjadi karbohidrat dengan menggunakan
sumber energi lain, yaitu energi kimia. Organisme semacam ini disebut
organisme kemosintetik.
Pada organisme kemosintetik, energi diambil dari oksidasi materi
anorganik seperti hidrogen, hidrogen sulfida, sulfur (belerang),
besi (Fe), amonia dan nitrit. Beberapa contoh reaksi yang dilakukan oleh
beberapa macam bakteri untuk memperoleh energi yang selanjutnya
digunakan untuk memfiksasi CO2. Bakteri kemosintetik berperan penting
di alam karena dapat menjaga kesuburan tanah melalui aktivitasnya
dalam daur nitrogen. Kemosintesis adalah reaksi pembentukan
karbohidrat dari CO2 dan air tanpa menggunakan energi matahari sebagai
sumber energi, tetapi menggunakan energi dari reaksi kimia.
Kemosintesis dapat dilakukan oleh bakteri kemosintetik
E. KETERKAITAN PROSES KATABOLISME DAN ANABOLISME

Seperti telah dibahas secara terperinci pada subbab di atas metabolisme


meliputi dua proses utama yang keduanya merupakan proses yang
saling berkaitan. Pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana
untuk menghasilkan energi disebut katabolisme. Karena dalam peristiwa ini
dihasilkan energi, maka reaksinya bersifat eksergonik. Sebaliknya proses
penyusunan atau sintesis dari molekul sederhana menjadi molekul yang
lebih kompleks disebut anabolisme, dan dalam proses ini dibutuhkan
energi(endergonik).

24
Anabolisme selain meliputi sintesis karbohidrat, juga sintesis lemak,
sintesis protein, dan senyawa organik lain yang dibutuhkan sel, sedangkan
katabolisme terutama adalah katabolisme glukosa dalam respirasi sel.

F. KETERKAITAN METABOLISME KARBOHIDRAT, LEMAK, DAN


PROTEIN

Secara terperinci telah dibahas tentang metabolisme karbohidrat. Pada


kenyataannya sel tidak hanya membutuhkan atau menyediakan karbohidrat,
sebagai bahan bakar untuk respirasi seluler, tetapi juga senyawa organik lain
seperti lemak dan protein Bagaimana metabolisme kedua senyawa tersebut
dan bagaimana hubungannya dengan metabolisme karbohidrat?

Pada metabolisme karbohidrat (glukosa), glikolisis dan daur Krebs


merupakan jalur utama dalam pemecahan glukosa menjadi energi. Seperti
halnya glukosa, lemak dan protein juga dapat digunakan sebagai bahan
bakar untuk menghasilkan energi dengan menggunakan jalur metabolisme
yang hampir sama.
Melalui reaksi hidrolisis, protein dalam sel akan dipecah menjadi
asam amino-asam amino. Monomer ini kemudian dapat diubah menjadi
piruvat, Asetil Ko A atau zat-zat antara pada daur Krebs. Piruvat, Asetil Ko
A dan zatzat yang dihasilkan selama daur Krebs dapat disebut zat antara
yang nantinya dapat digunakan untuk menyusun senyawa-senyawa lain
yang dibutuhkan sel. Hal ini dapat terjadi karena reaksi pemecahan dan
penyusunan bersifat reversible (dapat berkebalikan). Sebagai contoh Asetil
Ko A hasil pemecahan asam amino dapat digunakan sebagai bahan dasar
penyusun steroid, yaitu senyawa yang dibutuhkan sel dalam membentuk
hormon. Jumlah energi yang dapat dihasilkan dari 1 gram protein sama
dengan energi yang dihasilkan dari 1 gram karbohidrat, yaitu 4 kalori.
Dengan demikian, jumlah ATP yang dihasilkannya akan sama pula.
(Mengapa demikian? Dengan cara penghitungan yang telah dijelaskan

25
dalam metabolisme karbohidrat, hitung jumlah ATP yang dapat dihasilkan
dari 1 molekul protein.
Lemak juga mengalami hal serupa, tetapi sedikit lebih kompleks.
Pemecahan lemak dimulai dengan hidrolisis dari trigliserid menjadi gliserol
dan asam lemak. Selanjutnya gliserol akan dimodifikasi menjadi
gliseraldehid-3-fosfat (PGAL) dan masuk ke tahap ke-4 dari glikolisis
menjadi asam piruvat, Asetil Ko A dan masuk daur Krebs. Asam lemak
akan dipecah membentuk Asetil Ko A dan masuk ke daur Krebs yang
dengan penambahan NADH dan FADH2 dioksidasi dalam rantai transpor
elektron.
Dari sini dapat dikatakan bahwa dari 1 senyawa lemak dapat
dihasilkan 2 molekul Asetil Ko A karena 1 molekul lemak dapat dipecah
menjadi 1 molekul gliserol dan 1 molekul asam lemak.Tiap-tiap molekul
tersebut dapat menghasilkan 1 molekul asetil Ko A. Dengan cara yang
serupa dengan penghitungan ATP pada metabolisme glukosa, kita dapat
menghitung jumlah ATP yang dihasilkan untuk setiap 1 molekul lemak
(B.3). 1 gram lemak dapat menghasilkan 9 kalori atau hampir 2.5 kali lebih
banyak dibanding dengan gula atau protein.

G. TEKNOLOGI YANG TERKAIT DENGAN METABOLISME

Pengetahuan manusia tentang metabolisme, menjadi dasar


ditemukannya teknologi yang bertujuan memecahkan permasalahan yang
dihadapi manusia sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya. Manusia
sering kali mengalami suatu kondisi yang tidak sesuai dengan keadaan
normal, misalnya karena penyakit. Penyakit-penyakit tertentu dapat
disebabkan oleh kondisi makanan yang dikonsumsinya. Di samping itu,
keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan, dapat mengancam
ketersediaan bahan makanan untuk kelangsungan hidup manusia. Beberapa
usaha manusia dalam mengatasi kedua permasalahan di atas akan dibahas
lebih lanjut.

26
1. Makanan Berkadar Gula Rendah
Dalam keadaan normal, konsumsi gula (sukrosa) dalam jumlah
tertentu tidak akan menjadi suatu permasalahan bagi tubuh. Namun,
dalam kondisi sakit, misalnya karena kelainan metabolisme pada
penyakit diabetes mellitus, dan kegemukan (obesitas), konsumsi gula
dalam jumlah normal dapat menimbulkan permasalahan serius bagi
penderita penyakit di atas karena dapat meningkatkan kadar gula dalam
darah dan meningkatkan berat badan bagi penderita kegemukan.
Seperti diketahui, dalam memilih makanan kita tidak hanya
memperhitungkan nilai gizi yang terkandung, tetapi juga
mempertimbangkan rasa. Hampir semua manusia menyukai rasa manis.
Bagaimana dengan penderita kedua penyakit tadi yang juga masih
membutuhkan rasa manis pada
makanannya, tetapi tidak boleh mengonsumsi gula dalam jumlah
tertentu? Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan bahan pengganti
gula dengan rasa yang tetap manis, tetapi dengan kalori rendah.
Aspartam adalah salah satu bahan pengganti gula yang ditemukan oleh
G.D. Searle pada tahun 1965. Bahan ini 200 kali lebih manis dibanding
dengan gula, sehingga untuk menimbulkan rasa manis, tidak
dibutuhkan bahan dalam jumlah banyak. Searle mematenkan Aspartam
dengan nama dagang Nutrasweet. Tahun 1981, Badan Pengawas
Makanan dan Obat Amerika (FDA), merekomendasikan digunakannya
pemanis ini dalam “soft drink diet” , yoghurt berkadar lemak rendah
dan pada puding beras. Aspartam terdiri atas dua molekul asam amino
esensial, yaitu phenilalanin dan asam aspartat. Sakarin merupakan
pemanis buatan yang telah lama kita kenal. Bahan ini 20 kali lebih
murah dibandingkan Aspartam. Sakarin hampir tidak mengandung
kalori sehingga penggunaannya tidak akan menimbulkan permasalahan
kelebihan kalori.

27
HFCS (High Fructose Corn Syrup), bukan merupakan pemanis
buatan, tetapi karena fruktosa lebih manis dibanding dengan glukosa
dalam kadar yang sama, maka penggunaan pemanis ini juga dapat
mengurangi jumlah kalori. Fruktosa (HFCS) seperti namanya berasal
dari jagung dan dibuat dengan proses pengubahan glukosa
menggunakan enzim glucosa isomerase yang dimobilisasi.
Gula alkohol adalah gula hasil turunan alkohol yang secara alami
banyak ditemukan pada buah-buahan dan sayuran. Di antara gula
alkohol yang kita kenal adalah sorbitol yang sering digunakan untuk
menimbulkan rasa manis pada permen, permen karet, atau roti.

2. Teknologi Pengawetan Makanan


Untuk menjaga kelangsungan hidupnya, manusia harus senantiasa
menjaga ketersediaan bahan makanannya. Namun seperti diketahui,
bahan makanan manusia juga merupakan media yang baik bagi
pertumbuhan mikroorganisme yang ada di lingkungan. Dengan
demikian, manusia harus berusaha mencegah agar bahan makanan
tersebut tidak dijadikan sebagai media bagi pertumbuhan mikroba,
dengan cara mengawetkannya.
Mengawetkan dalam hal ini dapat berarti mencegah masuknya
mikroba atau membunuh dan mencegah pertumbuhan mikroba yang
telanjur masuk ke dalam bahan makanan tersebut. Dengan pengawetan
yang baik, bahan makanan menjadi lebih berkualitas karena dapat selalu
digunakan dalam keadaan yang terbaik dan terbebas dari organisme
pengganggu beserta senyawa-senyawa merugikan yang dihasilkannya.
Bermacam-macam metode pengawetan makanan telah dilakukan
oleh manusia dari yang paling sederhana, seperti pengeringan,
pemanisan, pengasinan sampai yang lebih canggih, seperti iradiasi,
pengozonan, dan perlakuan dalam kondisi vakum (hampa udara).

a. Pengeringan
28
Proses ini sebenarnya bertujuan menghilangkan air dari bahan
yang diawetkan. Dengan menurunnya kadar air, mikroba tidak
dapat tumbuh dengan baik karena untuk pertumbuhannya air
merupakan komponen terpenting.

b. Pemanisan dan pengasinan


Tujuan kedua proses tersebut adalah untuk menaikkan
tekanan osmotik larutan dalam lingkungan mikroba dengan
penambahan gula atau garam dalam konsentrasi tinggi. Dengan
demikian, air akan ditarik dari sel mikroba dan sel akan mengalami
dehidrasi, metabolisme terhenti sehingga memperlambat atau
menghambat pertumbuhan mikroba.

c. Suhu tinggi/rendah
Perlakuan suhu yang ekstrem, seperti panas, dingin atau beku,
dapat menghambat atau membunuh mikroba. Dengan suhu
ekstrem, enzimenzim dalam mikroba akan rusak atau berhenti
bekerja sehingga proses metabolisme terhenti yang pada akhirnya
menyebabkan kematian atau terhambatnya pertumbuhan mikroba.

d. Iradiasi
Iradiasi merupakan metode pengawetan makanan yang relatif
baru.
Iradiasi bahan makanan biasanya menggunakan iradiasi
elektromagnetik, yaitu iradiasi yang menghasilkan foton berenergi
tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya ionisasi dan eksitasi
pada materi yang dilaluinya. Iradiasi semacam ini dikenal dengan
29
iradiasi pengion. Iradiasi pengion yang paling sering digunakan
adalah sinar γ (gamma) yang dipancarkan dari kobalt radioaktif
(Cobalt-60) dan sesium radioaktif (Caesium-37). Keefektifan
radiasi berintensitas tinggi ini dalam mensterilkan suatu produk
tidak diragukan lagi. Namun, pengaruh iradiasi terhadap rasa, bau,
aroma, warna, tekstur dan mutu gizi masih perlu dikaji dengan
lebih baik. Demikian pula dengan perubahanperubahan kimiawi
yang mungkin dihasilkan dari bahan pangan yang diiradiasi, masih
perlu dievaluasi pengaruhnya terhadap manusia dan hewan.

3. Makanan Suplemen
Dalam kondisi normal, kebutuhan gizi manusia sebenarnya telah
dapat tercukupi dari makanan seimbang yang dikonsumsinya. Namun,
dalam keadaan tertentu misalnya sakit, untuk beraktivitas terlalu tinggi
atau baru sembuh dari sakit, sering kali diperlukan suplemen makanan
yang dapat manambah atau mengganti zat-zat gizi yang kurang
terpenuhi karena kondisi kondisi tersebut. Sebagai contoh orang sakit
yang tidak sadarkan diri atau tidak mampu makan dengan normal,
tubuhnya tetap harus disuplai dengan zat-zat gizi. Dari mana zat gizi
tersebut dapat diperoleh? Zat-zat gizi dalam bentuk lain selain makanan
yang kita makan sehari-hari, dan dapat mengganti atau menambah
kebutuhan gizi manusia kita kenal dengan makanan suplemen.
Makanan suplemen tersebut misalnya berupa sumber energi, berupa
cairan infus, protein, tablet vitamin, atau multivitamin dan mineral.

a. Cairan Infus
Cairan infus sebagai makanan suplemen (makanan
pengganti) biasanya mengandung larutan gula berupa glukosa.
Seperti kita ketahui glukosa adalah bahan yang paling mudah
diserap usus dan diubah menjadi energi siap pakai. Dengan

30
demikian, kebutuhan energi bagi penderita tidak harus disuplai
melalui makanan, tetapi dapat digantikan dengan cairan ini.

b. Protein Sel Tunggal (PST)


Protein sel tunggal dihasilkan dari material mikroba termasuk
fungi(terutama ragi) dan alga berupa Chlorella dan Spirullina. PST
mempunyai nilai nutrisi yang tinggi karena bahan terbanyak yang
dikandung mikroba-mikroba tersebut adalah protein. Protein
mikroba tersebut dapat digunakan secara langsung sebagai bagian
dari bahan makanan manusia, meskipun saat ini masih lebih sering
digunakan sebagai makanan hewan. Ada beberapa alasan mengapa
PST dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif.
Mikroba dapat tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan
hewan dan tumbuhan, dapat menggunakan substrat yang bervariasi
termasuk bahan limbah sehingga sekaligus dapat menekan polusi,
dan mikroba dapat tumbuh pada tempat yang relatif sempit. Karena
hal-hal tersebut, PST sering dikatakan sebagai sumber protein masa
depan.

c. Vitamin
Vitamin juga dapat dikatakan sebagai makanan suplemen
karena pada kondisi tertentu, seperti sakit atau baru sembuh dari
sakit, diperlukan tambahan vitamin selain dari makanan untuk
mempercepat penyembuhan. Vitamin dapat berfungsi sebagai
koenzim dalam proses-proses metabolik penting (misalnya B
kompleks) dan fungsi-fungsi lain seperti antioksidan (misalnya
vitamin A,C,dan E).
31
d. Mineral
Beberapa mineral dapat ditambahkan pada makanan
suplemen yang disebut multivitamin, yang di dalamnya selain
mengandung vitamin juga terdapat beberapa mineral. Mineral
penting yang sangat dibutuhkan tubuh, di antaranya P (fosfor), Ca
(kalsium), dan Fe (besi). Manusia memerlukan kalsium dan fosfor
dalam jumlah relatif besar untuk pembentukan dan pemeliharaan
tulang. Kalsium juga diperlukan untuk fungsi normal otot, dan
fosfor merupakan unsur pembentuk ATP dan asam nukleat. Besi
adalah mineral yang penting dalam pembentukan hemoglobin.

32
GLOSARIUM
Anabolisme = reaksi pembentukan senyawa komplek dari senyawa
sederhana.
Apoenzim = bagian dari enzim yang terdiri atas protein, yang harus
menyatu dengan kofaktor agar berfungsi secara aktif.
Autotrof = organisme yang dapat memenuhi bahan organik yang
dibutuhkan dengan cara mensintesisnya dari bahan
anorganik.
Biokatalisator = enzim atau katalisator yang berperan dalam reaksi-reaksi
kimia dalam sel tubuh makhluk hidup.
Fermentasi = pemecahan senyawa organik oleh mikroba yang berlangsung
dalam keadaan anaerob.
Fotosintesis = Peristiwa penyusunan zat organik (karbohidrat) dari zat
anorganik yang dilakukan oleh klorofil dengan bantuan
cahaya matahari.
Glikolisis = pengubahan satu molekul gula 6C menjadi 2 molekul asam
piruvat (3C), 2 molekul NADH dan 2 molekul ATP.
Inhibitor = zat atau senyawa yang menghalangi kerja enzim.
Katabolisme = Reaksi penguraian yang berlangsung di dalam tubuh
organisme, dari molekul kompleks menjadi molekul
sederhana.
Koenzim = Bagian bukan protein pada enzim, berupa senyawa organik
(misalnya vitamin) berfungsi mempercepat kerja enzim
sebagai biokatalisator.
Prostetik = gugusan bukan protein pada enzim, merupakan gugusan
yang aktif.
Substrat = bahan tempat enzim melakukan kegiatan.

33
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Metabolisme adalah seluruh proses atau reaksi biokimia dalam sel
untuk memperoleh dan menggunakan energi guna melaksanakan aktivitas
dan menjaga kelangsungan hidup sel tersebut. Metabolisme terdiri atas
anabolisme (penyusunan) dan katabolisme (pemecahan).
Setiap peristiwa metabolisme membutuhkan komponenkomponen
penunjang utama. Komponen tersebut terdiri atas enzim sebagai
biokatalisator, kofaktor enzim berupa FAD, FMN, NADP, ATP, dan reaksi
oksidasi-reduksi (redoks).
Respirasi sel adalah peristiwa katabolisme ketika terjadi pemecahan/
oksidasi glukosa menjadi CO2 dan air untuk menghasilkan energi dalam
bentuk ATP. Respirasi sel dapat terjadi dengan adanya oksigen (aerob) dan
tanpa oksigen (anaerob).
Respirasi secara aerob terdiri atas tiga reaksi, yaitu glikolisis,
dekarboksilasi oksidatif (siklus Krebs), dan rantai transpor elektron.
Fotosintesis merupakan peristiwa anabolisme (penyusunan)
karbohidrat, terutama dilakukan oleh tumbuhan hijau. Dalam peristiwa ini,
molekul CO2 dan air diubah menjadi karbohidrat dan oksigen dengan
bantuan klorofil dan energi matahari. Fotosintesis terdiri atas dua tahap
reaksi, yaitu reaksi terang yang menghasilkan ATP dan NADPH2 dan reaksi
gelap yang menghasilkan karbohidrat. Kedua reaksi terjadi di kloroplas.
Kemosintesis adalah reaksi pembentukan karbohidrat dari CO2 dan
air, tidak menggunakan energi matahari sebagai sumber energi, tetapi
menggunakan energi dari reaksi kimia. Kemosintesis dapat dilakukan oleh
bakteri kemosintetik.

B. KRITIK DAN SARAN

34
Demikian makalah yang kami buat ini, apabila ada kesalahan atau
kekurangan dalam penyusunan makalah ini kritik dan saran para pembaca lah
yang membangun kami untuk memperbaiki penyusunan makalah-makalah
berikutnya. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyusunan makalah kami
ini. Semoga makalah kami ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca
maupun penulisnya.

35
DAFTAR PUSTAKA

Herlina, Ida. 2009. Biologi 3 : Kelas XII SMA dan MA.Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.

Rachmawati, Faidah. 2009. Biologi : untuk SMA/ MA Kelas XII Program IPA.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Kristinnah, Idun. 2009. Biologi 3 : Makhluk Hidup dan Lingkungannya Untuk


SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Ferdinand, Fictor. 2009. Praktis Belajar Biologi 3. Jakarta: Pusat Perbukuan


Departemen Pendidikan Nasional.

36