Anda di halaman 1dari 9

Jurnal

Elektro

PENS

Teknik Elektro Industri Vol.1, No.1, 2017

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Vol.1, No.1, 2017 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Rancang Bangun Alat Pengaturan Suplai Daya Untuk Optimasi

Rancang Bangun Alat Pengaturan Suplai Daya Untuk Optimasi Energi

Yuta Fajar Muhammad [1] , Yahya Chusna Arif [2] , Hendik Eko Hadi Suharyanto [3]

Program Studi D4 Teknik Elektro Industri Departemen Teknik Elektro Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Kampus PENS, Jalan Raya ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Tel: (031) 594 7280; Fax: (031) 594 6114

Email: yutafajar@pe.student.pens.ac.id [1] ,yahyaca@pens.ac.id [2] , hendik@pens.ac.id [3] .

Abstrak

Dengan semakin berkembangnya teknologi di dunia,kebutuhan energi dunia juga semakin meningkat. Selain itu sebagian besar energi yang dikonsumsi berupa energi fosil yang tidak dapat diperbarui. Ketersediaan energi fosil sebagai sumber energi sangat terbatas dan terus mengalami ancaman kelangkaan karena penggunaan dalam skala besar. Hal ini juga menyebabkan harga jual listik sendiri semakin meningkat seiring dengan semakin langkanya sumber energi ini.Namun kelangkaan sumber energi dan kenaikan harga jual listrik ini tidak diiringi oleh fasilitas pembangkit dan pendapatan per kapita yang mencukupi. Sehingga tidak semua kalangan dapat menikmati listrik.Pada Jurnal ini disampaikan perancangan sistem yang menggunakan suplai dari 3 sumber yaitu panel surya dan wind generator yang dipasang secara paralel, dan jala jala PLN.Perancangan dilakukan dengan menggunakan mikrokontroller ARM sebagai pusat kendali, sensor arus, sensor tegangan, buck-boost converter, rangkaian inverter, dan trafo. Panel surya dan wind generator digunakan untuk menyuplai baterai 96v yang akan terhubung dengan switch yang bekerja berdasarkan besar daya pada baterai. Apabila daya pada baterai sudah mencukupi maka beban akan disuplai oleh baterai, namun apabila tidak akan disuplai oleh jala-jala PLN. Diharapkan dari dibuatnya alat ini dapat mengurangi penggunaan irrenewable energy dan meratanya penggunaan listrik di seluruh pelosok Indonesia.

Kata Kunci : Mikrokontroler, Daya, Switching

1. Pendahuluan.

Dengan semakin berkembangnya teknologi di dunia , kebutuhan energy juga akan semakin meningkat. Namun sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan tersedianya sumber daya alam yang cukup untuk masa depan. Karena rata rata energy yang digunakan adalah energy fosil, yang kita tahu tidak dapat diperbaharui, dan proses terciptanya yang cukup lama. Sehingga akan muncul beberapa masalah :

Energi fosil akahn habis apabila kita menggunakannya terus menerus.

Penggunaan Energi terbaharukan yang masih jarang.

Biaya yang dikerluarkan cukup mahal ketika menggunakan energi secara terus menerus.

Dari masalah-masalah tersebut maka tujuan proyek akhir ini adalah perancangan sebuat alat yang dapat memaksimalkan penggunaan energy terbaharukan, dalam hal ini adalah energy angina dan energy surya yang digunakan menyuplai beban rumah tangga, sehingga penggunaan energy fosil dapat diminimalisir. Oleh karena

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

itu pada proyek akhir ini akan di buat alat optimasi pemakaian beban dan pengatur suplai daya. Untuk menyempurnakan tujuan diatas maka digunakan beberapa referensi yaitu :

Jurnal Elektro UGM Vol. 3, No. 1, Februari 2014 “Tenaga Hibrid (Angin dan Surya) di Pantai baru Pandansimo bantuk Yogyakarta” yang disusun oleh Tri Suhartanto Mahasiswa S2 Teknik Elektro Univertsitas Gajahmada menjelaskan tentang pengaplikasian tenaga hybrid sebagai pengganti bahan bakar fosil di daerah pantai selatan kota Jogjakarta.

Tugas akhir RANCANG BANGUN UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY (UPS) DENGAN ENERGI HYBRID (HARDWARE)disusun oleh Akhmad Zaky Fanani mahasiswa Teknik Elektro Industri , Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS-ITS). Pada tugas Akhir ini penulis menjelaskan tentang sistem UPS yang menggunakan suplai hybrid beruapa sepada listrik dan jala-jala PLN.

Dari kedua referensi diatas maka dalam proyek akhir ini akan di buat perancangan alat penggabungan kedua penelitian diatas yaitu sistem penturan suplai daya dan pemakaian energi.

2. Metode.

Perancangan dan pembutan proyek akhir ini berpatokan pada blok diagram sistem serta alur kerja dari blok diagram. Berikut merupakan gambaran umum sistem yang ditunjukkan seperti pada gambar 1

gambaran umum sistem yang ditunjukkan seperti pada gambar 1 Gambar 1 Blok Diagram Sistem Gambar 1

Gambar 1 Blok Diagram Sistem

Gambar 1 diatas adalah blok diagram sederhana untuk menjelaskan alur sistem. Untuk mendukung agar blok diagram dan alur kerja berjalan sesuai dengan rencana dibutuhkan komponen- komponen pendukung seperti mikrokontroller ARM STM32F4VG, Buck Boost Converter, Inverter Full Bridge 1 Fasa, Trafo Step Up, Static Transfer Switch ,Sensor dll. Berikut dasar teori dari komponen penyusun proyek akhir ini.

2.1 Mikrokontroler ARM STM32F4VG

ARM STM32F4VG merupakan mikrokontroler dengan berbasis Digital Signal Processing (DSP) yang dilengkapi dengan hardware Floating Point Unit (FPU) sehingga memiliki kemampuan clock atau perhitungan bilangan yang lebih cepat dibanding mikrokontroler tanpa FPU. Mikrokontroler ARM STM32F4VG dilengkapi dengan hardware yang mendukung aplikasi motor control seperti 2 channel ADC dan 15 Channel

Timer.

Kemampuan ARM STSM32F4VG didukung oleh processor ARM- Cortex-M dengan kemampuan sampai dengan 168 MHz. Untuk mikrokontroler ARM STM32F407VG tipe processor yang terpasang adalah ARM-Cortex M4, dimana terdapat layer struktur pemprograman tunggal yaitu Cortex Microcontroller Software Interface Standard (CMSIS). Sedangkan fitur yang disediakan oleh ARM STM32F4VG berupa:

a. STM32F407VGT6 microcontroller featuring32-bit ARM Cortex-M4F core, 1 MB Flash, 192KB RAM in an LQFP100 package.

b. On-board ST-LINK/V2 with selection mode switch to use the kit as a standalone STLINK/V2 (with SWD connector forprogramming and debugging).

c. Board power supply: through USB bus or froman external 5 V supply voltage.

d. External application power supply: 3 V and 5 V.

e. LIS302DL, ST MEMS motion sensor, 3-axisdigital output accelerometer.

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

f. MP45DT02, ST MEMS audio sensor, omnidirectionaldigital microphone.

g. CS43L22, audio DAC with integrated class Dspeaker driver.

Delapan lampu LED:

a. LD1 (merah/hijau) untuk komunikasi USB.

b. LD2 (merah) untuk 3.3 V power on.

c. Four user LEDs, LD3(oranye), LD4(hijau), LD5(merah)dan LD6(biru).

d. 2 USB OTG LEDs LD7 (hijau) VBus and.

e. LD8 (merah) untuk over-current.

f. USB OTG FS dengan konektor micro-AB.

2.2 Buck Boost Converter Pada beberapa aplikasi industri, diperlukan peralatan yang dapat mengubah sumber tegangan DC tetap menjadi tegangan DC yang bersifat variabel yaitu menggunakan DC chopper dan biasa disebut DC ke DC. DC chopper dapat digunakan sebagai regulator mode pensaklaran untuk mengubah tegangan DC, yang tidak teregulasi menjadi tegangan DC yang teregulasi. Regulasi tidak biasa dicapai melalui pengaturan PWM (Pulse Widht Modulation) pada frekuensi tertentu dan devais pensaklaran menggunakan BJT, MOSFET, atau IGBT. Salah satu jenis topologi dasar pensaklaran yaitu Buck-boost converter. Prinsip kerja buckboost converter dapat diklasifikasikan ke dalam prinsip kerja DC Chooper step up dan DC Chooper step down, tegangan keluaran dari buckboost converter dapat dibuat lebih besar atau lebih kecil dari tegangan masukannya Susunan kerja untuk rangkaian buck-bost converter ditunjukkan pada Gambar 2.4 ketika transistor ON maka tegangan masuk ke induktor. Arus pada induktor akan naik secara linear. Apabila saklar MOSFET ditutup selama waktu t 1, arus induktor menjadi naik dan energi disimpan pada induktor L dan C.

menjadi naik dan energi disimpan pada induktor L dan C. Gambar 2 Rangkaian Buck – Boost

Gambar 2 Rangkaian Buck Boost Conveter

Analisa untuk switch tertutup Dapat dilihat pada gambar 2 ketika switch tertutup tegangan induktor adalah

Sehingga

= =

=

=

=

(∆) =

ketika switch off, dan energi yang disimpang pada induktor L akan mengalir ke beban melalui diode D.

= − =

 

 

=

 

=

=

(1 − ) =

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

(∆) = (1 )

Sehingga perubahan arus pada induktor magnetisasi dalam satu periode sama dengan nol, maka:

(∆) + (∆) = 0

+ (1 − )

= 0

Maka tegangan output dari buck-boost converter adalah:

Arus inductor rata-rata, IL adalah

= −

1 −

=

= 2

=

=

(1 − ) 2

2.3 Inverter 1 Fasa Inverter digunakan untuk mengubah tegangan input DC menjadi tegangan

AC. Keluaran inverter

dapat berupa tegangan yang dapatdiatur dan tegangan yang tetap. Sumber tegangan input inverterdapat menggunakan battery, cell bahan bakar, tenaga surya, atau sumber tegangan DC yang lain. Tegangan output yang biasa dihasilkan adalah 120 V 60 Hz, 220 V 50 Hz, 115 V 400 Hz. Inverter dapat diklasifikasikan

menjadi 2 macam :

1. Inverter 1 fasa

2. Inverter 3 fasa.

Inverter biasanya menggunakan rangkaian modulasi lebar pulsa (pulse width modulation PWM). Inverter juga dapat dibedakan dengan cara pengaturan tegangannya, yaitu :

1. Jika yang diatur tegangan input konstan disebut Voltage Fed Inverter (VFI)

2. Jika yang diatur arus input konstan disebut Current Fed Inverter (CFI)

3. Jika tegangan input yang diatur disebut Variable dc linked inverter

input yang diatur disebut Variable dc linked inverter Gambar 3. Cara Kerja sakelar Prinsip kerja inverter

Gambar 3. Cara Kerja sakelar

Prinsip kerja inverter dapat dijelaskan dengan menggunakan 4 sakelar seperti ditunjukkan pada Gambar 4. Bila sakelar S1 dan S2 dalam kondisi on maka akan mengalir aliran arus DC ke beban R dari arah kiri ke kanan.

jika yang hidup adalah sakelar S3 dan S4 maka akan mengalir aliran arus DC ke beban R dari arah kanan ke kiri.

Bila posisi sakelar yang On :

1. S1 dan S2 + VDC

2. S3 dan S4 VDC

3. S1 dan S3 0

4. S2 dan S4 0

Jika posisi sakelar ada pada posisi 1, maka R akan dialiri listrik dari arahkiri

ke kanan. Jika sakelar pada

dari arah kanan ke kiri, inilah prinsip arus bolak balik

posisi ke dua, maka R akanmendapatkan aliran listrik

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

(AC) pada satu perioda yang merupakan gelombang sinus setengah gelombang pertama pada posisi positif dan setengah gelombang kedua pada posisi negatif. 2.4 ATS -SSR ATS-SSR (Automatic Transfer Switch menggunakan SSR) adalah jenis saklar pengalih (cange over switch) yang memanfaatkan metode AC-AC konverter. Secara umum ATS-SSR bekerja dengan mengubah saklar pengalih berupa kontak relay menjadi sebuah TRIAC. Gambar 1 menunjukan skema dasar dari ATS. ATS-SSR dapat melakukan transfer suplai listrik antara dua atau lebih sumber tenaga tanpa terjadi hubung paralel antar sumber-sumber tersebut. Kerja saklar pengalihan dapat terjadi dalam waktu kurang dari 5 millisecond (1/4 cycle). ATS-SSR dapat melakukan transfer antara dua sumber pada tegangan kurang dari 600 V. Kerja ATS- SSR ini dapat digunakan sebagai proteksi beban terhadap adanya gangguan. Gambar 2.1 adalah gambar rangkaian pengganti ATS-SSR.

Mai n

Source

Reserve

Source

rangkaian pengganti ATS-SSR. Mai n Source Reserve Source STS Stage 1 STS Stage 2 Gambar 4.
rangkaian pengganti ATS-SSR. Mai n Source Reserve Source STS Stage 1 STS Stage 2 Gambar 4.
rangkaian pengganti ATS-SSR. Mai n Source Reserve Source STS Stage 1 STS Stage 2 Gambar 4.
rangkaian pengganti ATS-SSR. Mai n Source Reserve Source STS Stage 1 STS Stage 2 Gambar 4.

STS

Stage 1
Stage 1
pengganti ATS-SSR. Mai n Source Reserve Source STS Stage 1 STS Stage 2 Gambar 4. Skema

STS

Stage 2
Stage 2
ATS-SSR. Mai n Source Reserve Source STS Stage 1 STS Stage 2 Gambar 4. Skema dasar
ATS-SSR. Mai n Source Reserve Source STS Stage 1 STS Stage 2 Gambar 4. Skema dasar

Gambar 4. Skema dasar Automatic Transfer Switch-SSR

Gambar 4 merupakan rangkaian pengganti dari SSR yang dipasang pada sumber daya utama (stage 1) dan sumber daya cadangan (stage 2) yang keduanya dihubungkan parallel dengan beban. SSR yang digunakan adalah komponen TRIAC yang didalamnya terdiri dari dua buah SCR yang dihubungkan antiparallel. Perbedaan mencolok antara ATS-SSR dengan ATS terlihat dari kecepatan respon terhadap adanya gangguan seperti yang ditunjukan oleh Gambar 5. dan 6. Penginderaan level tegangan dan arus dilakukan pada daerah yang ditunjukan oleh Gambar 6. Perbedaan waktu respon yang sangat signifikan ini disebabkan karena adanya perbedaan komponen pensaklaran (switching).

karena adanya perbedaan komponen pensaklaran ( switching ). Gambar 5. Daerah aksi dan penginderaan tegangan. Main

Gambar 5. Daerah aksi dan penginderaan tegangan.

Main Reserve Source Source Dead Time 0,5 mS
Main
Reserve
Source
Source
Dead
Time
0,5
mS

Gambar 7. Respon penggunaan ATS-SSR

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

Untuk peralatan ATS digunakan komponen relay untuk melakukan pensaklar. Dari Gambar 6 terlihat bahwa Relay membutuhkan waktu±50 mS untuk on dan ±50 mS untuk off sehingga total waktu respon untuk melakukan pengalihan sumber (cange over switch) ±100 mS. Dengan menggunakan ATS beban akan mengalami dead time yang cukup lama sekitar 5 cycle, sehingga respon kerja dari ATS dapat dirasakan langsung oleh indera pengelihatan berupa kedip cahaya pada nyala lampu pijar. Waktu ini juga cukup untuk membuat peralatan rumah tangga yang sensitif terhadap aliran daya beban semisal komputer akan mengalami restart. Dengan penggunaan ATS-SSR dengan waktu respon kurang dari ¼ cycle maka pada indera pengelihatan seperti tidak terjadi sesuatu dan peralatan yang sensitif terhadap aliran daya beban tidak akan terganggu. Kinerja dari ATS-SSR akan terlihat mirip dengan kinerja ATS model sinkron, namun dengan catatan bahwa penggunaan ATS-SSR akan lebih murah dan lebih handal.

Main Reserve Source Source Dead Time 50 mS
Main
Reserve
Source
Source
Dead Time 50 mS

Gambar 6. Respon Penggunaan ATS

ATS-SSR sering disinergikan dengan UPS (Uninterruptible Power Suply).Penggunaan ATS-SSR pada beban rumah tangga 900 VA umumnya untuk menjaga kontinuitas akibat gangguan susut tegangan, tegangan lebih dan blank out tegangan. Dengan adanya sinergi ATS-SSR dengan UPS maka beban rumah tangga yang sensitif terhadap kontinuitas suplai daya dapat terjamin keberlangsungan kerjanya. ATS-SSR juga berperan ganda sebagai proteksi beban terhadap arus lebih. Jika gangguan arus lebih terjadi maka beban harus diamankan dari jalur kedua suplai daya (suplai utama dan suplai cadangan). Secara umum pengamanan beban dari ganguan arus lebih menggunakan peralatan fuse dan MCB. Kedua peralatan pengaman ini bekerja berdasarkan koefisien termal akibat kenaikan arus (I 2 R). Pemakian fuse dapat memberikan respon lebih cepat dari MCB. Berdasarkan standart UL/CSA 248-I4 fuse harus memberikan respon dalam interval waktu selama 1 menit pada kenaikan arus sebesar 200%.

3. Hasil Pengujian dan Analisa. Dalam bab ini akan dibahas mengenai pengujian dan analisa integrasi.

3.1. Pengujian Efisiensi Sistem Backup Pengujian ini dilakukan dengan menguji rangkaian system backup dengan diberi beban penuh, beban yang digunakan pada pengujian ini adalah beban resistif berupa lampu pijar dengan nilai daya yang bervariasi dan nilai tegangan masukan yang bervariasi. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya drop tegangan dan ketahanan system backup pada perubahan beban.

Tabel 1. Data Pengujian Efisiensi system backup

Vin

Iin

Pin

Vout

Pout

Eff

(V)

(A)

(W)

(V)

(W)

(%)

96,6

1,3

126,4

217,7

95,0

75,2

96,1

2,45

235,7

218,0

185,0

78,5

95,6

3,7

361,8

217,0

280,0

77,4

95,1

5,07

482,8

213,0

370,0

76,6

Dari data hasil pengujian nilai effisiensi didapatkan nilai effisiensi Suplai daya cadangan dari alat ini sebesar 77%.

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

3.2. Pengujian Secara Close Loop Sistem backup

Dari hasil pengujian secara close loop didapatkan data pada table 2 dengan beban 400 Watt dan tegangan sumber

berubah.

Tabel 2. Data Pengujian Close Loop Sistem backup

Vin

Iin

Vo ukur

Vo LCD

Io

(V)

(A)

(V)

(V)

(A)

96

1,3

207

216

214

1,7

95

2,02

207

216

214

1,7

93

6,34

207

216

214

1,7

92

6,98

207

216

214

1,7

Dari data pengujian pada 7able 2 dapat disimpulkan bahwa peralatan sudah dapat berjalan cukup baik, namun pembacaan tegangan pada sisi AC yang dilkukan masih kurang sempurna.

3.3. Pengujian SSR saat ada gangguan Over/Under Voltage

Pengujian ini perlu dilakukan untuk mengetahui system pemutus saat terjadi gangguan, pada pengujian ini hanya dilakukan uji over dan under voltage pada sisi suplai daya utama, pengujian ini dilakukan dengan mengatur tegangan menggunakan variac 1 fasa. Data hasil uji dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Data pengujian SSR dengan tegangan suplai utama berubah

Vs_1

SSR1

SSR2

0-198

OFF

ON

199-230

ON

OFF

231-

OFF

ON

Dari data hasil pengujian pada tabel 3 dapat dilihat bahwa saat tegangan suplai utama berada pada kondisi undervoltage sesuai standard PLN yaitu 95% dari 220 Volt (dibawah 199 Volt) SSR akan merubah suplai daya ke suplai daya cadangan, dan saat kondisi tegangan normal (199 230 Volt) suplai daya beban akan berubah ke sumber utama dan saat terjadi overvoltage yaitu 105% dari 220 Volt (diatas 231 Volt). Gambar 7 dan 8 adalah gelombang tegangan beban saat terjadi perpindahan kondisi SSR sehingga mengakibatkan berubahnya sumber daya listrik yang digunakan.

SSR sehingga mengakibatkan berubahnya sumber daya listrik yang digunakan. Gambar 7. Perpindahan Suplai 1 ke suplai

Gambar 7. Perpindahan Suplai 1 ke suplai 2

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017 Gambar 8. Perpindahan suplai 2 ke suplai 1

Gambar 8. Perpindahan suplai 2 ke suplai 1

Dari kedua hasil pengujian didapatkan waktu delay untuk perpindahan tidaklah 10ms hal ini dikarenakan adanya komutasi alami dari TRIAC yang difungsikan sebagai STS, sehingga STS tidak akan off apabila masih terdapat tegangan yang menyuplai TRIAC tersebut. Sehingga deadtime perpindahan suplai daya yang menyuplai beban adalah kurang dari 10ms pada saat gangguan over/under voltage. Namun akan berbeda ketika perpindahan suplai terjadi akibat black out atau sumber utama mari secara total. Tabel 4. Data Perbandingan Kecepatan Switch

On / Off respon over/under voltage (Praktek)

On / Off respon black out (Praktek)

On / Off respon (Datasheet)

Komponen

Rating

Alat Proyek Akhir

BTA41- 600

40 A / 600 V

10 ms / 10 ms

8,93 ms / 8,93 ms

12,32 ms /

12,32ms

Alat Siap Pakai

SSRC-240D5

5A / 280V

8,3 ms / 8,3 ms

-

-

SRD-S12DMFXX

12A / 250 V

8 ms / 5 ms

-

Dari tabel 4. dapat dilihat perbandingan kecepatan antara proses perpidahan ketika terjadinya black out dan over/under voltage pada salah satu suplai. Pada tabel 4. Juga dapat dilihat perbandingan kecepatan switching BTA41-600 dengan piranti switching lainya menurut datasheet.

4. Kesimpulan

Dari perencanaan dan pembuatan sistem kemudian dilakukan pengujian software dan beberapa analisa dan metode yang digunakan, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

Sensor tegangan AC yang dipasang suplai PLN dan suplai daya cadangan sudah bekerja dengan baik yaitu dengan nilai error 1 V s/d 2 V pada tegangan 220 V sehingga dapat digunakan sebagai refferensi untuk switching SSR.

Efisiensi dari inverter fulbridge masih rendah ,dikarenakan pegaruh komponen yang digunakan.

Lamanya death time dipengaruhi pula oleh komutasi alami dari TRIAC.

Referensi

[1]

Castro, Antonio. (2009, Juni). Introduction to Solar Technologies. Instructor of Physics & Engineering.

[2]

Datasheet of ARM STM

[4]

S u h a rta n to Tri , Tenaga Hibrid (Angin dan Surya) di Pantai baru Pandansimo bantuk Yogyakarta, urnal

[5]

Elektro UGM Vol. 3, No. 1, Februari 2014 Akhmad Zaky Fanani, Tugas Akhir: RANCANG BANGUN UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY (UPS)

[6]

DENGAN ENERGI HYBRID (HARDWARE), Diploma IV Teknik Elektro Industri , Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS-ITS),. Muchammad Choirul Sholeh, Tugas Akhir: SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN UNTUK PENGISIAN BATERAI, Diploma IV Teknik Elektro Industri , Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Jurnal Elektro PENS, Teknik Elektro Industri, Vol.1, No.1, 2017

(PENS-ITS).