Anda di halaman 1dari 33

Laporan Kasus

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN KANKER SERVIKS

Oleh:
Intan Harlie Felita Christie
17014101278
Masa KKM 5 Februari 2018 – 15 April 2018

Supervisor Pembimbing:
Prof. Dr. dr. Freddy Wagey, Sp.OG(K)

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN OBSTETRI GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

MANADO

2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan judul:

“DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN KANKER SERVIKS”

Oleh:

Intan Harlie Felita Christie

17014101278

Masa KKM 5 Februari 2018 – 15 April 2018

Telah dibacakan, dikoreksi dan disetujui pada tanggal April 2018 untuk memenuhi
syarat tugas Kepanitraan Klinik Madya di Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Koordinator Pendidikan Supervisor Pembimbing


Bagian Obstetri dan Ginekologi
FK Unsrat

dr. Suzanna P. Mongan, Sp.OG(K) Prof. Dr. dr. Freddy WageySp.OG(K)

2
BAB I
PENDAHULUAN

Serviks merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris,


menonjol dan berhubungan dengan vagina melalui ostium uteri eksternum.
Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Penyebab kanker
serviks adalah virus HPV (Human Papilloma Virus) sub tipe onkogenik, terutama
sub tipe 16 dan 18.1
Pada tahun 2012 kanker serviks merupakan kanker yang paling umum
keempat di antara perempuan di dunia. Di negara berkembang kanker serviks
menempati urutan kedua yang paling sering didiagnosis setelah kanker payudara
dan penyebab utama ketiga kematian akibat kanker payudara dan paru-paru.
Diperkirakan terdapat 528.000 kasus baru kanker serviks dan sekitar 85% terjadi
di negara berkembang. Sekitar 266.000 perempuan meninggal karena kanker
serviks, terhitung 7,5% dari semua kematian akibat kanker pada perempuan.
Sebanyak kurang lebih 87% kematian akibat kanker serviks terjadi di daerah yang
kurang berkembang.2 Di Indonesia kanker serviks menduduki urutan kedua dari
10 kanker terbanyak berdasar data dari Patologi Anatomi tahun 2010 dengan
insidens sebesar 12,7%. Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI saat ini,
jumlah wanita pasien baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100.000
penduduk dan setiap tahun terjadi 40 ribu kasus kanker serviks.3
Diagnosis kanker serviks ditegakkan atas dasar anamnesis dan pemeriksaan
klinis. Pada anamnesis, gejala yang paling umum bila telah menjadi kanker
invasif adalah perdarahan (contact bleeding, perdarahan saat berhubungan intim)
dan keputihan. Sedangkan lesi prakanker belum memberikan gejala. Pemeriksaan
klinis pada kanker serviks meliputi inspeksi, kolposkopi, biopsi serviks,
sistoskopi, rektoskopi, USG, BNO-IVP, foto thoraks dan bone scan, CT scan atau
MRI, PET scan.1,4
Penanganan kanker serviks disesuaikan dengan fasilitas pelayanan kesehatan
dan stadium yang terjadi. Tatalaksana kanker serviks meliputi farmakologis dan
nonfarmakologis (operatif dan nonoperatif). Selain itu juga diberikan dukungan
nutrisi dan peran rehabilitasi medik.1,5,6

1
Berikut ini akan dilaporkan kasus kanker serviks stadium IIIB pada seorang
wanita usia 66 tahun yang dirawat di bagian obstetri dan ginekologi RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Serviks
merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol dan
berhubungan dengan vagina melalui ostium uteri eksternum.1,5

B. Epidemiologi
Kanker serviks merupakan kanker yang paling umum keempat di antara
perempuan di dunia pada tahun 2012. Namun, di negara-negara berkembang
kanker serviks menempati urutan kedua yang paling sering didiagnosis
setelah kanker payudara dan penyebab utama ketiga kematian akibat kanker
payudara dan paru-paru. Diperkirakan terdapat 528.000 kasus baru kanker
serviks dan sekitar 85% terjadi di negara berkembang. Sekitar 266.000
perempuan meninggal karena kanker serviks, terhitung 7,5% dari semua
kematian akibat kanker pada perempuan. Sebanyak kurang lebih 87%
kematian akibat kanker serviks terjadi di daerah yang kurang berkembang.2
Di Indonesia kanker serviks menduduki urutan kedua dari 10 kanker
terbanyak berdasar data dari Patologi Anatomi tahun 2010 dengan insidens
sebesar 12,7%.3 Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI saat ini,
jumlah wanita penderita baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per
100.000 penduduk dan setiap tahun terjadi 40 ribu kasus kanker serviks.1,7

C. Etiologi dan Faktor Risiko


Penyebab kanker serviks diketahui adalah virus HPV (Human Papilloma
Virus) sub tipe onkogenik, terutama sub tipe 16 dan 18. Adapun faktor risiko
terjadinya kanker serviks antara lain aktivitas seksual pada usia muda,
berhubungan seksual dengan multipartner, merokok, mempunyai anak
banyak, sosial ekonomi rendah, pemakaian pil KB (dengan HPV negatif atau
positif), penyakit menular seksual, dan gangguan imunitas.7,8

3
D. Patofisiologi
Perkembangan kanker invasif berawal dari terjadinya lesi neoplastik pada
lapisan epitel serviks, dimulai dari neoplasia intraepitel serviks (NIS) 1, NIS
2, NIS 3 atau karsinoma in situ (KIS). Selanjutnya setelah menembus
membran basalis akan berkembang menjadi karsinoma mikroinvasif dan
invasif.8,9

Gambar 1. Patofisiologi perjalanan kanker serviks8

E. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis dan pemeriksaan klinis.
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pada umumnya, lesi prakanker belum memberikan gejala. Bila telah
menjadi kanker invasif, gejala yang paling umum adalah perdarahan
(contact bleeding, perdarahan saat berhubungan intim) dan keputihan.1,7
Pada stadium lanjut, gejala dapat berkembang menjadi nyeri pinggang
atau perut bagian bawah karena desakan tumor di daerah pelvik ke arah
lateral sampai obstruksi ureter, bahkan sampai oligo atau anuria. Gejala
lanjutan bisa terjadi sesuai dengan infiltrasi tumor ke organ yang terkena,
misalnya: fistula vesikovaginal, fistula rektovaginal, edema tungkai.1,4

4
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan klinik ini meliputi inspeksi, kolposkopi, biopsi serviks,
sistoskopi, rektoskopi, USG, BNO-IVP, foto thoraks dan bone scan, CT
scan atau MRI, PET scan. Kecurigaan metastasis ke kandung kemih atau
rektum harus dikonfirmasi dengan biopsi dan histologik. Khusus
pemeriksaan sistoskopi dan rektoskopi dilakukan hanya pada kasus
dengan stadium IB2 atau lebih.1,5
Stadium kanker serviks didasarkan atas pemeriksaan klinik oleh
karena itu pemeriksaan harus cermat kalau perlu dilakukan dalam narkose.
Stadium klinis ini tidak berubah bila kemudian ada penemuan baru. Kalau
ada keraguan dalam penentuan maka dipilih stadium yang lebih
rendah.1,5,6

F. Klasifikasi
Diagnosis kanker serviks berdasarkan stadium klinis menurut FIGO, yaitu:11
0 Karsinoma in situ (karsinoma preinvasif)
I Karsinoma serviks terbatas di uterus (ekstensi ke korpus uterus dapat
diabaikan)
IA Karsinoma invasif didiagnosis hanya dengan mikroskop.
Semua lesi yang terlihat secara makroskopik, meskipun
invasi hanya superfisial, dimasukkan ke dalam stadium IB
IA1 Invasi stroma tidak lebih dari 3,0 mm kedalamannya dan 7,0 mm atau
kurang pada ukuran secara horizontal
IA2 Invasi stroma lebih dari 3,0 mm dan tidak lebih dari 5,0 mm dengan
penyebaran horizontal 7,0 mm atau kurang
IB Lesi terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara
mikroskopik lesi lebih besar dari IA2
IB1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4,0 cm atau
kurang
IB2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari
4,0 cm
II Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak sampai ke dinding panggul
atau mencapai 1/3 bawah vagina
IIA Tanpa invasi ke parametrium
IIA1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4,0 cm atau
kurang
IIA2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari
4,0 cm
IIB Tumor dengan invasi ke parametrium
III Tumor meluas ke dinding panggul/ atau mencapai 1/3 bawah vagina

5
dan/atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
IIIA Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai dinding panggul
IIIB Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan / atau menimbulkan
hidronefrosis atau afungsi ginjal
IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan/atau
meluas keluar panggul kecil (true pelvis)
IVB Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peritoneal, keterlibatan
dari kelenjar getah bening supraklavikula, mediastinal, atau para aorta,
paru, hati, atau tulang)

Gambar 2. Stadium kanker serviks menurut FIGO12

G. Tatalaksana
1. Tatalaksana Lesi Prakanker1,5-7
Tatalaksana lesi pra kanker disesuaikan dengan fasilitas pelayanan
kesehatan, sesuai dengan kemampuan sumber daya manusia dan sarana
prasarana yang ada.

6
Pada tingkat pelayanan primer dengan sarana dan prasarana terbatas
dapat dilakukan program skrining atau deteksi dini dengan tes IVA. Skrining
dengan tes IVA dapat dilakukan dengan cara single visit approach atau see
and treat program, yaitu bila didapatkan temuan IVA positif maka
selanjutnya dapat dilakukan pengobatan sederhana dengan krioterapi oleh
dokter umum atau bidan yang sudah terlatih.
Pada skrining dengan tes Pap smear, temuan hasil abnormal
direkomendasikan untuk konfirmasi diagnostik dengan pemeriksaan
kolposkopi. Bila diperlukan maka dilanjutkan dengan tindakan Loop Excision
Electrocauter Procedure (LEEP) atau Large Loop Excision of the
Transformation Zone (LLETZ) untuk kepentingan diagnostik maupun
sekaligus terapeutik.
Bila hasil elektrokauter tidak mencapai bebas batas sayatan, maka bisa
dilanjutkan dengan tindakan konisasi atau histerektomi total.
Temuan abnormal hasil setelah dilakukan kolposkopi :
 LSIL (low grade squamous intraepithelial lesion), dilakukan LEEP
dan observasi 1 tahun.
 HSIL (high grade squamous intraepithelial lesion), dilakukan LEEP dan
observasi 6 bulan
Berbagai metode terapi lesi prakanker serviks:
1. Terapi NIS dengan Destruksi Lokal
Beberapa metode terapi destruksi lokal antara lain: krioterapi dengan
N2O dan CO2, elektrokauter, elektrokoagulasi, dan laser. Metode tersebut
ditujukan untuk destruksi lokal lapisan epitel serviks dengan kelainan lesi
prakanker yang kemudian pada fase penyembuhan berikutnya akan
digantikan dengan epitel skuamosa yang baru.
a. Krioterapi
Krioterapi digunakan untuk destruksi lapisan epitel serviks
dengan metode pembekuan atau freezing hingga sekurangkurangnya -
20oC selama 6 menit (teknik Freeze-thaw-freeze) dengan
menggunakan gas N2O atau CO2. Kerusakan bioselular akan terjadi
dengan mekanisme: (1) sel‐ sel mengalami dehidrasi dan mengkerut;

7
(2) konsentrasi elektrolit dalam sel terganggu; (3) syok termal dan
denaturasi kompleks lipid protein; (4) status umum sistem
mikrovaskular.
b. Elektrokauter
Metode ini menggunakan alat elektrokauter atau radiofrekuensi
dengan melakukan eksisi Loop diathermy terhadap jaringan lesi
prakanker pada zona transformasi. Jaringan spesimen akan
dikirimkan ke laboratorium patologi anatomi untuk konfirmasi
diagnostik secara histopatologik untuk menentukan tindakan cukup
atau perlu terapi lanjutan.
c. Diatermi Elektrokoagulasi
Diatermi elektrokoagulasi dapat memusnahkan jaringan lebih luas
dan efektif jika dibandingkan dengan elektrokauter, tetapi harus
dilakukan dengan anestesi umum. Tindakan ini memungkinkan untuk
memusnahkan jaringan serviks sampai kedalaman 1 cm, tetapi
fisiologi serviks dapat dipengaruhi, terutama jika lesi tersebut sangat
luas.
d. Laser
Sinar laser (light amplication by stimulation emission of
radiation), suatu muatan listrik dilepaskan dalam suatu tabung yang
berisi campuran gas helium, gas nitrogen, dan gas CO2 sehingga akan
menimbulkan sinar laser yang mempunyai panjang gelombang 10,6u.
Perubahan patologis yang terdapat pada serviks dapat dibedakan
dalam dua bagian, yaitu penguapan dan nekrosis. Lapisan paling luar
dari mukosa serviks menguap karena cairan intraselular mendidih,
sedangkan jaringan yang mengalami nekrotik terletak di bawahnya.
Volume jaringan yang menguap atau sebanding dengan kekuatan dan
lama penyinaran.

8
2. Tatalaksana Kanker Serviks Invasif:1,5-7
Stadium 0 / KIS (Karsinoma in situ)
Pada stadium 0 / KIS dapat dilakukan konisasi (Cold knife conization),
dengan beberapa syarat berikut.
 Bila margin bebas, konisasi sudah adekuat pada yang masih
memerlukan fertilitas.
 Bila tidak tidak bebas, maka diperlukan re-konisasi.
 Bila fertilitas tidak diperlukan histerektomi total
 Bila hasil konisasi ternyata invasif, terapi sesuai tatalaksana kanker
invasif.

Stadium IA1 (LVSI negatif)


Pada stadium IA1 dilakukan konisasi (Cold Knife) bila free margin
(terapi adekuat) apabila fertilitas dipertahankan. (Tingkat evidens B). Namun,
bila tidak free margin dilakukan rekonisasi atau simple histerektomi.
Histerektomi total apabila fertilitas tidak dipertahankan.

Stadium IA1 (LVSI positif)


Pada stadium IA1 dapat dilakukan operasi trakelektomi radikal dan
limfadenektomi pelvik apabila fertilitas dipertahankan. Bila operasi tidak
dapat dilakukan karena kontraindikasi medik dapat dilakukan Brakhiterapi

Stadium IA2, IB1, IIA1


Terdapat beberapa pilihan untuk stadium IA2, IB1, dan IIA1, yaitu:
1. Operatif
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi pelvik. (Tingkat
evidens 1 / Rekomendasi A). Ajuvan Radioterapi (RT) atau Kemoradiasi
bila terdapat faktor risiko yaitu metastasis KGB, metastasis parametrium,
batas sayatan tidak bebas tumor, deep stromal invasion, LVSI dan faktor
risiko lainnya. Hanya ajuvan radiasi eksterna (EBRT) bila metastasis
KGB saja. Apabila tepi sayatan tidak bebas tumor / closed margin, maka
radiasi eksterna dilanjutkan dengan brakhiterapi.

9
2. Non operatif
Terapi non operatif terbagi menjadi radiasi (EBRT dan brakiterapi)
dan kemoradiasi (Radiasi : EBRT dengan kemoterapi konkuren dan
brakiterapi).

Stadium IB 2 dan IIA2


Pada stadium ini terdapat beberapa pilihan terapi, yaitu:
1. Operatif (Rekomendasi A)
Histerektomi radikal dan pelvik limfadenektomi. Tata laksana
selanjutnya tergantung dari faktor risiko, dan hasil patologi anatomi
untuk dilakukan ajuvan radioterapi atau kemoterapi.
2. Neoajuvan kemoterapi (Rekomendasi C)
Tujuan dari Neoajuvan Kemoterapi adalah untuk mengecilkan massa
tumor primer dan mengurangi risiko komplikasi operasi. Tata laksana
selanjutnya tergantung dari faktor risiko, dan hasil patologi anatomi
untuk dilakukan ajuvan radioterapi atau kemoterapi.

Stadium IIB
Pada stadium IIB terdapat beberapa pilihan tatalaksana, yaitu:
1. Kemoterapi (Rekomendasi A)
2. Radioterapi (Rekomendasi B)
3. Neoajuvan kemoterapi (Rekomendasi C)
Kemoterapi (tiga seri) dilanjutkan radikal histerektomi dan pelvik
limfadenektomi.
4. Histerektomi ultraradikal, laterally extended parametrectomy (dalam
penelitian)

Stadium IIIA --> IIIB


Pada stadium IIIA menuju IIIB terdiri dari 2 pilihan terapi, yaitu:
1. Kemoterapi (Rekomendasi A)
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat
melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan

10
utamanya untuk membunuh sel kanker dan menghambat
perkembangannya. Tujuan pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis
kanker dan fasenya saat didiagnosis. Beberapa kanker mempunyai
penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan
pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya
diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan
adjuvant.
Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol
penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin
sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi
digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih
baik. Kemoterapi kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase
karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan
keuntungan yang memuaskan Contoh obat yang digunakan pada kasus
kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adremycin Platamin),
PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan lain – lain. Cara pemberian
kemoterapi dapat secara ditelan, disuntikkan dan diinfus
Obat kemoterapi yang paling sering digunakan sebagai terapi awal /
bersama terapi radiasi pada stage IIA, IIB, IIIA, IIIB, and IVA adalah
cisplatin, flurouracil. Sedangkan Obat kemoterapi yang paling sering
digunakan untuk kanker serviks stage IVB / recurrent adalah : mitomycin.
pacitaxel, ifosamide, topotecan telah disetujui untuk digunakan bersama
dengan cisplastin untuk kanker serviks stage lanjut, dapat digunakan
ketika operasi / radiasi tidak dapat dilakukan atau tidak menampakkan
hasil; kanker serviks yang timbul kembali / menyebar ke organ lain.
Kemoterapi dapat digunakan sebagai :
1. Terapi utama pada kanker stadium lanjut
2. Terapi adjuvant/tambahan – setelah pembedahan untuk
meningkatkan hasil pembedahan dengan menghancurkan sel kanker
yang mungkin tertinggal dan mengurangi resiko kekambuhan
kanker.

11
3. Terapi neoadjuvan – sebelum pembedahan untuk mengurangi
ukuran tumor
4. Untuk mengurangi gejala terkait kanker yang menyebabkan
ketidaknyamanan dan memperbaiki kehidupan pasien (stadium
lanjut / kanker yang kambuh)
5. Memperpanjang masa hidup pasien (stadium lanjut / kanker yang
kambuh)

2. Radioterapi (Rekomendasi B)
Terapi ini menggunakan sinar ionisasi (sinar X) untuk merusak sel-sel
kanker. Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks
serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker
serviks stadium II B, III, IV diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi
disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau
paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang
telah menjalar ke sekitarnya dan atau bermetastasis ke kelenjar getah
bening panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin
kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus
halus, ureter. Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada
stadium II sampai III B. Bila sel kanker sudah keluar rongga panggul,
maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan secara selektif
pada stadium IV A. Ada 2 macam radioterapi, yaitu :
1. Radiasi eksternal : sinar berasal dari sebuah mesin besar
Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya
dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.
2. Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul
dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan
selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit.
Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah :
a. Iritasi rektum dan vagina
b. Kerusakan kandung kemih dan rektum

12
c. Ovarium berhenti berfungsi.
Biasanya, selama menjalani radioterapi penderita tidak boleh melakukan
hubungan seksual. Kadang setelah radiasi internal, vagina menjadi lebh
sempit dan kurang lentur, sehingga bisa menyebabkan nyeri ketika
melakukan hubungan seksual. Untuk mengatasi hal ini, penderita diajari
untuk menggunakan dilator dan pelumas dengan bahan dasar air. Pada
radioterapi juga bisa timbul diare dan sering berkemih.

Stadium IIIB dengan CKD


Pada stadium IIIB dengan CKD terdiri dari:
1. Nefrostomi / hemodialisa bila diperlukan
2. Kemoradiasi dengan regimen non cisplatin atau
3. Radiasi

Stadium IVA tanpa CKD


Pada stadium IVA dengan fistula rekto-vaginal, direkomendasi terlebih
dahulu dilakukan kolostomi dan dilanjutkan dengan kemoradiasi paliatif atau
radiasi paliatif.

Stadium IVA dengan CKD, IVB


Pada stadium IVA dengan CKD maupun IVB tatalaksana yang
dilakukan ialah paliatif. Namun, bila tidak ada kontraindikasi, kemoterapi
paliatif / radiasi paliatif dapat dipertimbangkan.

3. Dukungan Nutrisi
Pasien kanker serviks berisiko mengalami malnutrisi dan kaheksia
kanker, sehingga perlu mendapat terapi nutrisi adekuat, dimulai dari skrining
gizi, dan apabila hasil skrining abnormal (berisiko malnutrisi), dilanjutkan
dengan diagnosis serta tatalaksana nutrisi umum dan khusus.1,7
Tatalaksana nutrisi umum mencakup kebutuhan nutrisi umum (termasuk
penentuan jalur pemberian nutrisi), farmakoterapi, aktivitas fisik, dan terapi
nutrisi operatif (lihat lampiran). Pasien kanker serviks dapat mengalami

13
gangguan saluran cerna, berupa diare, konstipasi, atau mual-muntah akibat
tindakan pembedahan serta kemo- dan atau radio-terapi. Pada kondisi-kondisi
tersebut, dokter SpGK perlu memberikan terapi nutrisi khusus, meliputi
edukasi dan terapi gizi serta medikamentosa, sesuai dengan masalah dan
kondisi gizi pada pasien.1,7
Penyintas kanker sebaiknya memiliki BB ideal dan menerapkan pola
makan yang sehat, tinggi buah, sayur dan biji-bijian, serta rendah lemak,
daging merah, dan alkohol dan direkomendasikan untuk terus melakukan
aktivitas fisik sesuai kemampuan secara teratur dan menghindari gaya hidup
sedenter (Rekomendasi tingkat A).1

4. Rehabilitasi Medik
Rehabilitasi medik bertujuan untuk mengoptimalkan pengembalian
kemampuan fungsi dan aktivitas kehidupan sehari-hari serta meningkatkan
kualitas hidup pasien dengan cara aman & efektif, sesuai kemampuan
fungsional yang ada.1,7
Pendekatan rehabilitasi medik dapat diberikan sedini mungkin sejak
sebelum pengobatan definitif diberikan dan dapat dilakukan pada berbagai
tahapan & pengobatan penyakit yang disesuaikan dengan tujuan penanganan
rehabilitasi kanker: preventif, restorasi, suportif atau paliatif.1,7

H. Prognosis
Angka kesintasan hidup kanker serviks dalam 5 tahun ditunjukkan dalam
tabel berikut.13

Tabel 2. Kesintasan hidup 5 tahun kanker serviks


Stadium Kesintasan 5 tahun
IA1 95%
IA2 95%
IB 80%
IIA 69%
IIB 65%

14
IIIA 37%
IIIB 40%
IVA 18%
IVB 8%

15
BAB III
LAPORAN KASUS

A. ANAMNESIS
1. Identitas
Identitas pasien :
Nama : Ny. AW
Usia : 66 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SLTA
Alamat : Desa Tounelet Jaga I, Sonder
MRS : 14 Februari 2018

Identitas suami :
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SLTA
Alamat : Desa Tounelet Jaga I, Sonder
Keterangan : Sudah meninggal pada tahun 2009

2. Keluhan Utama
Keluar darah dari jalan lahir

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik ginekologi dengan keluhan keluar darah
dari jalan lahir kurang lebih 2 bulan yang lalu. Keluar darah dirasakan
cukup banyak hingga mengganggu aktivitas dan mengganti pembalut
berukuran 35cm ± 3-4 kali/hari. Keluar darah setelah berhubungan intim
disangkal karena suami pasien sudah lama meninggal (tahun 2009).
Kadang ada keputihan yang berwarna agak kekuningan, tidak gatal dan
sedikit berbau. Pasien juga merasa nyeri pada daerah pinggang dan

16
daerah kelamin. Pasien BAK sedikit-sedikit dan terkadang ada sedikit
darah, pasien juga merasa nyeri setelah berkemih. BAB tidak ada
keluhan. Riwayat penurunan nafsu makan dan berat badan disangkal
pasien. Saat ini pasien sudah terdiagnosis Ca Cervix Stadium IIIB
berdasarkan hasil biopsi pada tanggal 14 Desember 2017, yaitu
Karsinoma Sel Squamous Cervix Uteri, juga berdasarkan hasil CT-Scan
abdomen-pelvic dengan kontras pada tanggal 15 Desember 2017, kesan
Ca Cervix Stadium IIIB (massa serviks menyebar sampai dinding
panggul dextra) dan direncanakan untuk dilakukan Sistoskopi pada
tanggal 16 Februari 2018.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


 Keluar darah dari jalan lahir sudah dialami sejak Agustus 2016 tapi
tidak diobati.
 Riwayat penyakit hipertensi, paru-paru, diabetes melitus, jantung,
ginjal disangkal.

5. Riwayat Penyakit Keluarga


 Riwayat penyakit hipertensi, paru-paru, diabetes melitus, jantung,
ginjal disangkal.
 Hanya pasien yang menderita sakit seperti ini.

6. Riwayat Perkawinan
 Status perkawinan sekarang : sudah menikah (janda)
 Kawin : 1 kali
 Usia perkawinan : 37 tahun
 Berhubungan seksual pertama kali : usia 19 tahun dengan suami
yang sudah meninggal
 Riwayat berganti pasangan : tidak ada

7. Riwayat Kehamilan
 P1 ♂/ 1972/ RS Gunung Wenang/ Spontan / 2700gr/ Dokter/ Hidup

17
 P2 ♀/ 1973/ Rumah/ Spontan/ 2600gr/ Biang kampung/ Hidup
 P3 ♀/ 1978/ RS Bethesda Tomohon/ 3100gr/ Spontan/ Dokter/
Hidup
 A1 1975/ kuretase di Puskesmas Sonder
 A2 1976/ kuretase di RS Pancaran Kasih

8. Riwayat Haid
 HPHT pasien sudah lupa
 Lamanya haid ± 3-4 hari
 Ganti pembalut ± 3-4 pembalut/hari
 Siklus teratur 28 hari
 Menarche ± usia 13 tahun
 Menopause usia 53 tahun

9. Riwayat Kontrasepsi
 Pasien menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) pada tahun
1972 dan dilepas tahun 1974, kemudian menggunakan KB suntikan /
3 bulan selama ± 2 tahun. Pada tahun 1978 pasien menggunakan
implan dan dilepas tahun 1983. Selama menggunakan alat kontrasepsi
pasien tidak mempunyai keluhan.

10. Riwayat Kebiasaan


 Pasien melakukan kegiatan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
 Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol.
 Pasien jarang berolahraga.

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Praesens
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan Darah : 140/80 mmHg

18
Nadi : 72 x/ menit, regular, isi cukup
Respirasi : 20 x/ menit
Suhu : 36,2 ºC
BB : 57 kg
TB : 154 cm
IMT : 24 kg/m2
Mata : pupil isokor, konjungtiva anemis -/-,
sklera ikterik -/-
Hidung : Rhinore (-/-), epistaksis (-/-), sekret (-/-)
Gigi dan mulut : karies (-), beslag (-)
Tenggorokan : T1/T1
Telinga : serumen (-/-), cairan (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-)
Jantung : bunyi jantung I – II reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru-paru : Sp.vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Hati : tidak teraba
Limpa : tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, edema (-)

2. Status Lokalis
Abdomen : Inspeksi : Datar
Palpasi : Teraba massa padat 2 jari di bawah pusat
Perkusi : Pekak berpindah (-)
Auskustasi : Peristaltik usus (+) normal

3. Status Ginekologi
Inspeksi : fluksus (+), fluor (-), vulva tak ada kelainan
Inspekulo : fluksus (+), fluor (-), tampak massa endofitik ukuran ±
6x5x5 cm, berbenjol-benjol, rapuh, mudah berdarah, meluas sampai 2/3
distal vagina, OUE tertutup.
VT : fluksus (+), teraba massa endofitik ukuran ± 6x5x5 cm,
berbenjol-benjol, rapuh, mudah berdarah, meluas sampai 2/3

19
distal vagina, nyeri goyang (-), CUT sulit dievaluasi, AP
bilateral kaku, cavum doughlas tidak menonjol.
RT : CFS 0 %

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Biopsi Patologi Anatomi tanggal 14-12-2017 : kesimpulan karsinoma sel
squamous cervix uteri.
2. CT-Scan Abdomen-pelvic + kontras tanggal 15-12-2017 : kesan Ca
Cervix Stadium IIIB (massa cervix telah menyebar sampai dinding
panggul dextra)
3. EKG tanggal 14-02-2018 : normal sinus ritme dengan heart rate 80 kali
per menit.
4. Laboratorium Klinik tanggal 14-02-2018 :
PARAMETER HASIL NILAI RUJUKAN SATUAN
Leukosit 9200 4000 – 10000 /uL
Eritrosit 3.72 4.70 – 6.10 106/uL
Hemoglobin 11.6 11.5 – 16.5 g/dL
Hematokrit 33.7 37.0 – 47.0 %
Trombosit 378 150 – 450 103/uL
MCH 31.2 27.0 – 35.0 Pg
MCHC 34.4 30.0 – 40.0 g/dL
MCV 90.6 80.0 – 100.0 fL
GDS 107 70 – 125 mg/dL
SGOT 18 <33 U/L
SGPT 11 <43 U/L
Ureum Darah 36 10 – 40 mg/dL
Kreatinin Darah 1.4 0.5 – 1.5 mg/dL
Uric Acid Darah 6.0 2.0 – 5.7 mg/dL
Albumin 3.83 3.50 – 5.70 g/dL
Chlorida Darah 98.1 98.0 – 109.0 mEq/L
Kalium Darah 4.40 3.50 – 5.30 mEq/L
Natrium Darah 135 135 – 153 mEq/L
PT 12.1 12.0 – 16.0 Detik
INR 0.88 0.80 - 130 Detik
APTT 28.9 27.0 – 39.0 Detik

D. RESUME MASUK
Pasien perempuan 65 tahun datang ke poliklinik ginekologi dengan
keluhan keluar darah dari jalan lahir kurang lebih 2 bulan yang lalu dan

20
mengganggu aktivitas. Pasien mengganti pembalut berukuran 35cm ± 3-4
kali/hari. Keluar darah setelah berhubungan intim disangkal karena suami
pasien sudah lama meninggal (tahun 2009). Kadang ada keputihan yang
berwarna agak kekuningan, tidak gatal dan sedikit berbau. Pasien menopause
pada usia 53 tahun. Pasien juga merasa nyeri pada daerah pinggang dan
daerah kelamin. BAK sedikit dan terkadang didapatkan darah, pasien juga
merasa nyeri setelah berkemih. BAB tidak ada keluhan. Sebelumnya pasien
pernah mempunyai riwayat keluar darah dari jalan lahir 2 tahun yang lalu
tapi tidak diobati.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit
sedang, kesadaran compos mentis, tekanan darah 140/80 mmHg, nadi 72 kali
per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu 36,2 ºC, konjungtiva tidak
anemis. Pada palpasi abdomen teraba massa padat 2 jari di bawah pusat. Pada
pemeriksaan ginekologi melalui inspeksi didapatkan fluksus (+), fluor (-),
vulva tak ada kelainan. Melalui inspekulo didapatkan fluksus (+), fluor (-),
tampak massa endofitik ukuran ± 6x5x5 cm, berbenjol-benjol, rapuh, mudah
berdarah, meluas sampai 2/3 distal vagina, OUE tertutup. Pada pemeriksaan
dalam didapatkan fluksus (+), teraba massa endofitik ukuran ± 6x5x5 cm,
berbenjol-benjol, rapuh, mudah berdarah, meluas sampai 2/3 distal vagina,
nyeri goyang (-), CUT sulit dievaluasi, adneksa parametrium bilateral kaku
cavum doughlas tidak menonjol.

E. DIAGNOSIS
P3A2 65 tahun dengan Ca Cervix Stadium IIIB

F. SIKAP
Asam Mefenamat 3 x 500 mg p.o
Asam Tranexamat 3 x 500 mg p.o
SF 1 x 200 mg p.o
Masuk rumah sakit untuk persiapan Sistoskopi tanggal 16 Februari 2018

21
G. FOLLOW UP
Perawatan Hari Ke-2, Kamis 15-02-2018
S : keluar darah dari jalan lahir (+), sulit BAK
O : KU: cukup Kesadaran: compos mentis
TD : 110/70 mmHg N : 80 x/m RR : 20 x/m SB : 36,4ºC
Konjungtiva anemis -/- Sklera ikterik -/-
A : P3A2 66 tahun dengan Ca Cervix Stadium IIIB
P : Persiapan Sistoskopi Jumat, 16-02-2018
Asam Mefenamat 3 x 500 mg p.o
Asam Tranexamat 3 x 500 mg p.o
SF 1 x 200 mg p.o

H. LAPORAN SISTOSKOPI
- Pasien dibaringkan dalam posisi litotomi.
- Dilakukan tindakan septik dan antiseptik pada daerah vulva, vagina dan
sekitarnya.
- Folley kateter dipasang, kandung kemih dikosongkan.
- Kemudian dilakukan sistoskopi, tampak ostium ureter berbentuk oval, tidak
ada striktur, tidak ada peradangan, warna urin jernih.
- Mukosa vesika permukaan licin, vaskularisasi normal, ditemukan peradangan
dan dendritus.
- Kesan : sistitis.
- Rektoskopi : mukosa rektum licin, tidak tampak varises. Kesan : normal.

Perawatan Hari Ke-4, Sabtu 17-02-2018


S : post sistoskopi
O : KU: cukup Kesadaran: compos mentis
TD : 120/80 mmHg N : 76 x/m RR : 20 x/m SB : 36,3ºC
Konjungtiva anemis -/- Sklera ikterik -/-
A : P3A2 66 tahun dengan Ca Cervix Stadium IIIB
P : Asam Mefenamat 3 x 500 mg p.o
Asam Tranexamat 3 x 500 mg p.o

22
SF 1 x 200 mg p.o
Rawat jalan hari ini

23
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien


didiagnosis dengan P3A2 66 tahun dengan Ca Cervix Stadium IIIB. Kanker
serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel skuamosa. Kanker
serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu
daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim,
letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina.3
Pada anamnesis, pasien datang dengan keluhan utama keluar darah dari jalan
lahir sejak 2 bulan yang lalu. Perdarahan berupa darah merah segar dengan
jumlah yang cukup banyak hingga mengganti pembalut 3-4 kali per hari. Pasien
sudah 12 tahun menopause. Kadang didapatkan keputihan berbau tapi tidak
diobati. Berdasarkan teori, pada anamnesis biasanya ditemukan
ketidakteraturannya siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan keputihan yang
berbau busuk, perdarahan pasca senggama, dan perdarahan yang muncul diluar
siklus haid. Selain itu terdapat nyeri yang dirasakan menjalar ke ekstermitas
bagian bawah dari daerah lumbal. Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan
biasa timbul lebih bervariasi, secret dari vagina berwarna kuning, berbau dan
terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. Perdarahan pervaginam akan makin
sering terjadi dan nyeri makin progresif.10
Pada kasus ditemukan adanya keluhan nyeri pada pinggang dan sulit untuk
BAK. Berdasarkan teori, kanker serviks stadium lanjut didapatkan gejala dapat
berkembang menjadi nyeri pinggang atau perut bagian bawah karena desakan
tumor di daerah pelvic ke arah lateral sampai obstruksi ureter, bahkan sampai
oligo atau anuria. Gejala lanjutan bisa terjadi sesuai dengan infiltrasi tumor ke
organ yang terkena, misalnya : fistula vesikovaginal, fistula rektovaginal, dan
edema tungkai. Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa kanker serviks sudah
berkembang sampai stadium lanjut karena pasien merasa nyeri sampai daerah
punggung bawah dan nyeri setelah berkemih yang kemungkinan disebabkan
karena desakan tumor di daerah pelvic ke arah lateral sampai obstruksi ureter,
sehingga pasien sulit BAK.

24
Pada pemeriksaan fisik, pasien datang dengan keadaan tampak sakit sedang,
namun kesadaran masih baik. Pasien mengalami perdarahan dan keputihan, tidak
tampak anemis. Pada palpasi abdomen teraba massa padat 2 jari di bawah pusat,
tidak ada nyeri tekan. Menurut teori pada umumnya, lesi pra-kanker belum
memberikan gejala. Bila telah terjadi invasif, maka gejala yang paling umum
adalah perdarahan (contact bleeding, perdarahan saat berhubungan intim) dan
keputihan. Gejala dapat berkembang menjadi nyeri pinggang atau perut bagian
bawah pada stadium lanjut. Hal ini terjadi karena desakan tumor di daerah pelvic
ke arah lateral sampai obstruksi ureter, bahkan sampai oligo atau anuria. Gejala
lanjutan yang dapat terjadi sesuai infiltrasi tumor ke organ yang terkena yaitu
fistula vesikovaginal, fistula rektovaginal, edema tungkai. Keadaan umum pasien
terlihat apakah ada tidaknya anemia. Tanda-tanda metastase di paru jika
didapatkan sesak napas dan batuk darah. Status lokalis abdomen umumnya tidak
khas, jarang menimbulkan kelainan berupa benjolan, kecuali bila sudah ada
penyebaran ke rektum yang menimbulkan obstipasi ileus obtruktif. Palpasi hepar,
supra klavikula, dan diantara kedua paha untuk melihat ada tidaknya benjolan
untuk meyakinkan ada tidaknya metastase.11
Pada kasus ini, dilakukan pemeriksaan dalam dan ditemukan adanya fluksus,
vulva tak ada kelainan, portio tampak berbenjol-benjol, dan teraba massa
endofitik ukuran ± 6x5x5 cm, rapuh, mudah berdarah, meluas sampai 2/3 distal
vagina, nyeri goyang (-), CUT sulit dievaluasi, adneksa parametrium bilateral
kaku cavum doughlas tidak menonjol, dan OUE tertutup. Hal ini sesuai dengan
teori kepustakaan, pada pemeriksaan ginekologi, secara makroskopis atau
inspekulo pada tingkat lanjut dimana portio terlihat benjol-benjol menyerupai
bunga kol (pertumbuhan eksofitik) atau mungkin juga ditemukan fistula recto
vaginal ataupun vesiko vagina. Pada keadaan ini portio mudah sekali berdarah
karena kerapuhan sel.11 Adapun faktor resiko yang didapatkan pada pasien ini
yaitu aktivitas seksual pada usia muda (sejak 19 tahun) dan multiparitas (P3A2).
Diagnosis Kanker serviks berdasarkan stadium klinis menurut FIGO. Pada
stadium I, karsinoma yang hanya menyerang serviks (tanpa bisa mengenali
ekstensi ke corpus), stadium IA Karsinoma invasif yang hanya didiagnosis
melalui pemeriksaan mikroskopis, kedalaman invasi <3 mm dan ekstensi terluas

25
> 7mm. Stadium IA1 terjadi Invasi stroma sedalam < 3 mm dan seluas < 7 mm,
sedangkan stadium IA2 Invasi stroma sedalam > 3 mm dan seluas >7 mm. Pada
stadium IB lesi yang nampak secara klinis, terbatas pada serviks uteri atau kanker
preklinis yang lebih besar daripada stadium IA. Stadium IB1 lesi yang nampak <
4 cm sedangkan stadium IB2 Lesi yang nampak > 4 cm. Pada stadium II
Karsinoma yang menginvasi dekat uterus, tapi tidak menginvasi dinding pelvis
atau sepertiga bawah vagina. Stadium IIA tanpa invasi ke parametrium, stadium
IIA1 Lesi yang nampak < 4 cm, stadium IIA2 lesi yang nampak > 4 cm, dan
stadium IIB tumor dengan invasi ke parametrium. Pada stadium III tumor meluas
ke dinding pelvis dan/atau melibatkan 1/3 bawah vagina dan/atau menyebabkan
hidronefrosis atau merusak ginjal. Stadium IIIA tumor melibatkan 1/3 bawah
vagina, tanpa ekstensi ke dinding panggul. Stadium IIIB ekstensi ke dinding
pelvis dan/atau hidronefrosis atau merusak ginjal. Stadium IV karsinoma yang
meluas ke pelvis sejati atau telah melibatkan mukosa kandung kemih atau rectum,
stadium IVA pertumbuhannya menyebar ke organ-organ sekitarnya, dan stadium
IVB Menyebar ke organ yang jauh. 14
Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan kanker serviks stadium IIIB. Pada
keadaan ini, menurut hasil ct-scan abdomen pelvic massa serviks telah menyebar
sampai ke dinding panggul dextra dan telah mencapai 2/3 distal vagina sehingga
pasien sering mengeluhkan nyeri pada daerah panggul.
Penanganan untuk kasus ini sesuai dengan kepustakaan, yaitu dapat dilakukan
kemoterapi ataupun radioterapi. Tetapi pasien masih dalam tahap pemeriksaan
sistoskopi sebagai pemeriksaan lanjutan. Setelah itu baru bisa konseling keluarga
untuk direncanakan pilihan terapi selanjutnya.

26
BAB V
PENUTUP

A. Ringkasan
Diagnosis kanker serviks pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan
perdarahan pervaginam dan keputihan, nyeri punggung bawah. Dari pemeriksaan
fisik khususnya pemeriksaan ginekologi didapatkan teraba massa endofitik
ukuran ± 6x5x5 cm yang berasal dari portio, berbenjol-benjol, rapuh, mudah
berdarah, dan OUE tertutup. Pasien ini didiagnosis dengan P3A2, 65 tahun
dengan kanker serviks stadium IIIB. Pada pasien ini sudah dilakukan sistoskopi
dan didapatkan kesan sistitis. Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad malam
karena pada stadium IIIB angka kesintasan hidup dalam 5 tahun sekitar 40%.

B. Saran
Pemberian edukasi tentang kanker serviks sebaiknya lebih digiatkan pada
wanita dengan umur 30 tahun ke atas atau pada wanita dengan faktor resiko
kanker serviks yang tinggi. Kemudian, skrining kanker serviks serta edukasi
kepada pasien tentang pentingnya melakukan screening sebaiknya lebih digiatkan
pada pusat-pusat pelayanan kesehatan di pusat dan perifer. Pencegahan primer
berupa mengurangi risiko infeksi HPV, pencegahan sekunder berupa screening
dan penanganan lesi pra-kanker, dan pencegahan tersier berupa penanganan
kanker invasive sebaiknya dimasukan dalam program kesehatan nasional.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Panduan Penatalaksanaan Kanker Serviks. Kementrian Kesehatan Republik


Indonesia
2. GLOBAL BURDEN OF CANCER IN WOMEN Current status, trends, and
interventions. [Internet]. American Cancer Society. [cited 1 Februari 2018].
Available from: https://www.cancer.org/content/dam/cancer-
org/research/cancer-facts-and-statistics/global-cancer-facts-and-
figures/global-burden-of-cancer-in-women.pdf
3. Departemen Kesehatan Indonesia. Seminar sehari dalam rangka
memperingati hari kanker sedunia. 2013. [cited 1 Februari 2018]. Available
from: http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2233.
4. Prawirohardjo. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.2011
5. Berek JS, Hacker NF. Practical gynecology oncology third ed. Lippincott
Williams & Wilkins. 2011
6. American Cancer Society. Cervical cancer. 2016. [cited 1 Februari 2018].
Available from:
http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/webcontent/003094-pdf.pdf
7. Pedoman Pelayanan Medik Kanker Ginekologi, Kanker Serviks2011;19-28.
8. Hoffman B, Schorge J, Bradshaw K, Halvorson L, Schaffer J, Corton M.
Williams gynecology. 3rd Ed. New York [etc.]: McGraw-Hill Education;
2016. Pp 657-78.
9. Clinical Practice Guidelines in Oncology V.2.2013. National Comprehensive
Cancer Network.
10. Bloss JD, Blessing JA, Behrens BC, Mannel RS, Rader JS, Sood
AK,Markman M, Benda J. Randomized Trial of Cisplatin and Ifosfamide
With or Without Bleomycin in Squamous Carcinoma of the Cervix: A
Gynecologic Oncology Group Study. J Clin Oncol 20:1832-1837.
11. Denny L, Quinn M. FIGO Cancer Report 2015. International Journal of
Gynecology & Obstetrics 2015; 131 (suppl 2).

28
12. Colombo N, Carinelli S, Colombo A, Marini C, Rollo D, Sessa C. Cervical
Cancer: ESMO Clinical Practice Guidelines For Diagnosis, Treatment, and
Follow-Up. Ann Oncol 2012; 23 (suppl 7): vii 27 -vii32.
13. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kandungan, Edisi III. Jakarta : PT Bina
Pustaka. 2011. Hal 290-9.

29
SEMINAR LAPORAN KASUS MAHASISWA
KEPANITERAAN KLINIK MADYA

Nama : Intan Harlie Felita Christie


NRI : 17014101278
Masa KKM : 5 Februari 2018 – 15 April 2018
Judul : Diagnosis dan Penatalaksanaan Kanker Serviks
Tanggal Baca : April 2018
Pembimbing : Prof. Dr. dr. Freddy Wagey, Sp.OG(K)

No Nama NRI TandaTangan


1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20

30
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30

Koordinator Pendidikan Pembimbing


Bagian Obstetri dan Ginekologi
FK UNSRAT

dr. Suzanna Mongan, Sp.OG(K) Prof. Dr. dr. Freddy Wagey, Sp.OG(K)

Presentan

Intan H.F. Christie

31