Anda di halaman 1dari 3

1. TBC (TUBERCULOSIS).

Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru


lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2
bulan. BCG sebaiknya dilaksanakan setelah bayi berusia 1 bulan atau 1 bulan lebih 1 minggu.
Karena menurut penelitian karena imunologi terhadap BCG belum bisa bangkit dengan baik
pada bayi yang baru lahir, Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja.

2. DIFTERI. Untuk pencegahan penyakit tersebut seseorang harus menerima imunisasi DPT.
Pemberian imunisasi ini dilakukan sebanyak lima kali sejak anak berusia dua bulan hingga
enam tahun. Seorang anak akan disuntik pada usia dua bulan, empat bulan, enam bulan,
antara 18-24 bulan dan terakhir lima tahun. Setelahnya, dianjurkan untuk melakukan
booster Tdap (imunisasi ulang Tetanus Difteri dan Pertusis) tiap 10 tahun. imunisasi DPT
sesuai jadwal akan merangsang pembentukan kekebalan pada tubuh bayi secara bertahap,
sehingga tubuhnya akan terlindungi terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Setelah
pemberian imunisasi DPT yang pertama, tubuh belum memiliki kadar antibodi protektif
terhadap difteri, pertusis, dan tetanus. Tubuh baru akan memiliki kadar antibodi protektif
setelah mendapatkan imunisasi sebanyak tiga kali.

3. PERTUSIS. Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan


dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang
penyuntikan.

4. TETANUS. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari
imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun
telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita dan ibu hamil
sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya karena
pada ibu hamil, tetanus biasanya rentan muncul pada persalinan bayi dengan penggunaan
alat yang tidak steril.

5. POLIO. Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan imunisasi polio pada usia di bawah lima
tahun. Biasanya imunisasi tersebut dilakukan secara tetes atau oral (OPV) dan suntik (IPV).
IPV diberikan sebanyak empat kali kepada anak yang berusia dua bulan, empat bulan, enam
bulan hingga 18 bulan dilanjutkan dengan dosis penguat saat usia empat hingga enam
tahun. Sementara itu OPV diberikan pada anak usia 0-59 bulan. Pemberian imunisasi polio
yang terlambat tidak berdampak pada kesehatan anak, namun tetap diperlukan untuk
melengkapi imunisasi polio tersebut agar perlindungan dari penyakit polio yang didapatkan
optimal.

6. CAMPAK. pencegahannya adalah dengan melakukan imunisasi. Pemberian Imunisasi akan


menimbulkan kekebalan aktif dan bertujuan untuk melindungi terhadap penyakit campak
hanya dengan sekali suntikan, dan diberikan pada usia anak sembilan bulan atau lebih.
Karena Pada umumnya, hampir semua ibu sudah pernah kena campak. Sewaktu hamil, ibu
mewariskan kekebalannya pada janin yang dikandungnya melalui plasenta. Kekebalan ini
bertahan hingga bayi berusia 8 bulan. Itulah mengapa vaksinasi campak harus dilakukan
pada usia 9 bulan.

7. INFLUENZA.
Vaksin influenza diberikan dengan dosis tergantung usia anak. Pada usia 6-35 bulan cukup
0,25 mL. Anak usia >3 tahun, diberikan 0,5 mL. Pada anak berusia 8 tahun, maka dosis
pertama cukup 1 dosisi saja. Diberikan pada usia anak-anak, karena rentan terkena influenza
dan daya imun akan semakin turun. Orang dewasa di atas usia 65 tahun pun sebaiknya
diberikan vaksin influenza, mengingat daya tahan tubuh mereka yg berada di usia ini mulai
menurun.

8. DEMAM TIFOID. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan memberikan vaksinasi
yang dapat melindungi seseorang selama 3 tahun dari penyakit Demam Tifoid.

9. HEPATITIS. Vaksin diberikan sebanyak tiga sampai empat kali suntik dalam waktu enam
bulan. Dosis pertama diberikan saat bayi baru dilahirkan, dosis kedua pada usia satu sampai
dua bulan, dan dosis terakhir pada usia enam sampai 18 bulan. Tujuan dari pemberian
vaksin Hepatitis B ini adalah mencegah virus Hepatitis yang merusak hati.

10. MENINGITIS. IMUNISASI HiB dapat berupa vaksin PRP-T (konjugasi) diberikan pada usia
2, 4, dan 6 bulan, dan diulang pada usia 18 bulan. Vaksin HiB juga dapat diberikan dalam
bentuk vaksin kombinasi. Apabila anak datang pada usia 1-5 tahun, HiB hanya diberikan 1
kali . Anak di atas usia 5 tahun tidak perlu diberikan karena penyakit ini hanya menyerang
anak dibawah usia 5 tahun

11. Pneumokokus. Imunisasi yang penting lainnya yaitu imunisasi Pneumokokus untuk
mencegah infeksi kuman pneumokokus. Vaksin pneumokokus pada anak diberikan dalam 3
kali dosis dasar dan 1 kali dosis boosting. Pada dewasa pemberian vaksin dibagi menjadi dua
tahapan. Pertama, vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan selanjutnya diberikan jenis
vaksin pneumokokus polisakarida. Sedangkan pada anak diberikan pada usia di bawah 1
tahun dengan dosis 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan (Lihat Jadwal Imunisasi IDAI).
Prinsip pemberian vaksin pneumokokus pada anak adalah vaksin diberikan pada anak usia 2
bulan dengan interval 4 – 8 minggu dan diberikan selama 3 kali. Penyakit pneumokokus
merupakan penyebab kematian yang paling tinggi pada anak balita.
12. MMR. Vaksin MMR diberikan pada usia 15-18 bulan dengan minimal interval 6 bulan
antara imunisasi campak dengan MMR. MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau
sesudah penyuntikan imunisasi lain. Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR
pada usia 12-18 bulan dan diulang pada usia 6 tahun, imunisasi campak (monovalen)
tambahan pada usia 6 tahun tidak perlu lagi diberikan. Bila imunisasi ulangan (booster)
belum diberikan setelah berusia 6 tahun, berikan vaksin campak/MMR kapan saja saat
bertemu. Pada prinsipnya, berikan imunisai campak 2 kali atau MMR 2 kali.

13. Rotavirus, untuk mencegah di are karena rotavirus, digunakan vaksin rotavirus. Vaksin
rotavirus yang beredar di Indonesia saat ini ada 2 macam. Pertama Rotateq diberikan
sebanyak 3 dosis: pemberian pertama pada usia 6-14 minggu dan pemberian ke-2 setelah 4-
8 minggu kemudian, dan dosisi ke-3 maksimal pada usia 8 bulan. Kedua, Rotarix diberikan 2
dosis: dosis pertama diberikan pada usia 10 minggu dan dosis kedua pada usia 14 minggu
(maksimal pada usia 6 bulan). Apabila bayi belum diimunisasi pada usia lebih dari 6-8 bulan,
maka tidak perlu diberikan karena belum ada studi keamanannya

14. Varisela Vaksin varisela (cacar air) diberikan pada usia >1 tahun, sebanyak 1 kali. Untuk
anak berusia >13 tahun atau pada dewasa, diberikan 2 kali dengan interval 4-8 minggu.
Apabila terlambat, berikan kapan pun saat pasien datang, karena imunisasi ini bisa diberikan
sampai dewasa.

15. Hepatitis A Imunisasi hepatitis A diberikan pada usia lebih dari 2 dan diberikan sebanyak
2 dosis dengan interval 6-12 bulan. Imunisasi tifoid diberikan pada usia lebih dari 2 tahun,
dengan ulangan setiap 3 tahun. Vaksin tifoid merupakan vaksin polisakarida sehingga di atas
usia 2 tahun.

17. Hemofilus influenzae


Seorang anak harus mendapatkan vaksin Hib sebagai upaya pencegahan penyakit tersebut.
Biasanya ada empat dosis yang diberikan yaitu dosis pertama pada usia dua bulan, dosis
kedua usia empat bulan, pada usia enam bulan diberikan satu dosis dan terakhir pada usia
12 sampai 15 bulan.