Anda di halaman 1dari 5

hidup mati: PERUMUSAN/PENENTUAN SISTEM SILVIKULTUR PA... http://joxzyn.blogspot.com/2009/01/perumusanpenentuan-sistem-silvikul...

Lainnya Blog Berikut» Buat Blog Masuk


0

Rabu, 21 Januari 2009

PERUMUSAN/PENENTUAN SISTEM SILVIKULTUR PADA HUTAN National Geographic Photos


SEKUNDER DATARAN RENDAH

OLEH :
TRI JOKO PITOYO (F2A107002)

PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU, MEI 2008

Pelaksanaan pengelolaan hutan di Indonesia ditengarai hingga


akhir tahun 90-an tidak mengindahkan konsep kelestarian
karena masih memegang paradigma lama yaitu ekonomi atau
mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari sumber daya
Endangered Animal of the
alam yang ada. . Day
Dengan demikian pelaksanaan pengelolaan hutan menerapkan

Ever feel you're


sistem silvikultur yang lebih mementingkan pemanenan hasil
hutan tanpa mengindahkan prinsip pengelolaan hutan yang

in the wrong
lestari (sustainable) dan tidak memperhatikan pertumbuhan
ekonomi dan sosial masyarakat di sekitar areal pengelolaan yang

place
menggantungkan hidupnya dari hutan.
Adanya perubahan paradigma pengelolaan hutan dari prinsip
kelestarian hasil (sustainable yield) menjadi prinsip pengelolaan
hutan yang lestari (sustainable forest management) dengan
mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan
404 (Page Not Found)
pengelolaan hutan maka dalam penentuan sistem silvikultur yang Error
akan diterapkan pada suatu unit manajemen disesuaikan dengan
kondisi hutan dan masyarakat setempat.. Pada UU 41/1999 If you're the site owner, one
ditegaskan bahwa bidang kehutanan yang semula berorientasi
of two things happened:
pada Timber management menjadi Forest Resources
management yang melihat hutan dan lahan sebagai satu 1. 1) You entered an incorrect
kesatuan yang utuh khususnya di dalam suatu wilayah
pengelolaan DAS. Mengenai Saya
Dalam penentuan sistem silvikultur yang akan diterapkan dalam
kegiatan pengelolaan di hutan dataran rendah yang telah joxzyn
mengalami proses suksesi sekunder perlu dirumuskan dengan Banjarbaru, Kalimantan
mempertimbangkan aspek ekologi, aspek ekonomi, aspek teknis Selatan
dan aspek sosial budaya masyarakat setempat. Lihat profil lengkapku

Aspek Ekologi
Dalam aspek ekologi ada beberapa hal yang dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan, antara lain adalah ; Arsip
1. Ekosistem
► 2008 (12)
a. Identifikasikan terlebih dahulu penyebaran DAS, sub DAS yang
▼ 2009 (6)
ada di areal pengelolaan. Sedapat mungkin DAS atau Sub DAS
▼ Januari (5)
bagian hulu dimana terdapat sumber mata air dari sungai utama
PERUMUSAN/PENENTUAN SISTEM
tidak dilakukan sistem tebang habis namun dengan sistem tebang SILVIKULTUR PADA HUTAN ...
pilih, sehingga fungsi tata air pada DAS atau sub DAS yang Ketergantungan Manusia kepada
bersangkutan tidak terganggu. Alam
b. Identifikasikan penyebab suksesi sekunder pada areal konservasi gajah kalimantan
pengelolaan. WS Rendra
- Apabila hutan sekunder yang dimaksud merupakan areal bekas KEBIJAKAN KEHUTANAN DI BIDANG
FLORA DAN FAUNA
kebakaran, maka dapat dilakukan sistem tebang habis (land

1 of 5 23/10/2013 10:30
hidup mati: PERUMUSAN/PENENTUAN SISTEM SILVIKULTUR PA... http://joxzyn.blogspot.com/2009/01/perumusanpenentuan-sistem-silvikul...

clearing)dengan permudaan buatan. Hal ini dapat dilakukan ► November (1)


karena kondisi ekologi yang ada pada ekosistem tersebut telah
berubah akibat kebakaran, sehingga dengan adanya permudaan
buatan diharapkan dapat membantu mempercepat proses Label
suksesi.
- Apabila hutan sekunder yang dimaksud merupakan areal eks advonturir (5)
tebangan (log aver area) bukan merupakan areal bekas makalah (11)

kebakaran, maka tidak dibenarkan dilakukan sistem tebang habis poem (2)

(land clearing) karena dapat merubah kondisi ekologi setempat,


iklim mikro dan dapat mengurangi/melenyapkan
keanekaragaman jenis (biodeversity). Sistem silvikultur yang Geo IP Tool
dapat diterapkan adalah sistem tebang pilih dengan penurunan
batas diameter atau tebang jalur. Host / IP:
c. Identifikasikan kondisi topografi/kelerengan dan jenis tanah Show info
pada areal pengelolaan. Host: 36.77.70.52
- Lokasi dengan lereng rataan lebih dari 40 % harus dijadikan IP: 36.77.70.52
kawasan lindung dalam hutan produksi pada areal pengelolaan Country: Indonesia
karena dikhawatirkan apabila dilakukan penebangan dapat
menyebabkan terjadinya erosi atau bahkan dapat terjadi tanah
longsor.
- Lokasi dengan lereng 25 % - 40 % harus dikelola dengan
sistem silvikultur tebang pilih untuk mengurangi resiko
terjadinya erosi pada lokasi tersebut.
- Lokasi dengan lereng rataan lebih kecil dari 25 % dapat dikelola
dengan sistem silvikultur tebang habis atau tebang jalur dengan ©2013 Google -
alasan kecilnya resiko terjadi erosi. Show me more info �
- Pada lokasi dengan jenis tanah yang sangat peka dengan erosi
dihindari sistem tebang habis untuk meminimalisir rumpang atau
keterbukaan tajuk yang dapat mempercepat proses erosi.
- Kombinasi antara kelerengan dan jenis tanah juga sebagai
pertimbangan dalam penentuan sistem silvikultur.
d. Identifikasikan kawasan lindung lokal. Pada lokasi sempadan
sungai, danau, mata air, pantai, tepi jalan, dll yang merupakan
kawasan lindung lokal tidak diperkenankan dilaksanakan
penebangan.

2. Jenis pohon dan sumber keanekaragaman genetik.


a. Identifikasikan jenis pohon yang ada pada areal pengelolaan
- Hutan homogen (satu jenis yang mendominasi) dapat dilakukan
sistem silvikultur tebang habis atau tebang jalur dengan
permudaan buatan
- Hutan heterogen dengan banyak jenis pohon dapat dilakukan
sistem silvikultur tebang pilih atau tebang jalur.
b. Identifikasikan lokasi sumber keanekaragaman genetik yang
ada pada areal pengelolaan. Pada lokasi yang diidentifikasikan
sebagai lokasi yang memiliki keanekargaman tinggi dan
merupakan sumber genetik setempat (endemik), langka dan
dilindungi sedapat mungkin tidak dilakukan penebangan. Lokasi
ini dapat dimanfaatkan sebagai lokasi kebun bibit atau plasma
nutfah.
3. Keamanan terhadap bahaya kebakaran
Identifikasikan lokasi yang potensial atau yang
berdekatan/berbatasan dengan sumber resiko kebakaran. Pada
lokasi tersebut sedapat mungkin tidak dilakukan penebangan
yang menyebabkan timbulnya serasah yang merupakan bahan
bakar kebakaran. Pada lokasi yang berbatasan dengan sumber
yang berbatasan dengan sumber resiko kebakaran harus
berbentuk sekat bakar dan diusahakan agar bersih dari bahan
bakar.

Aspek Ekonomi
Dalam aspek ekonomi ada beberapa hal yang dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan, antara lain adalah ;
1. Potensi

2 of 5 23/10/2013 10:30
hidup mati: PERUMUSAN/PENENTUAN SISTEM SILVIKULTUR PA... http://joxzyn.blogspot.com/2009/01/perumusanpenentuan-sistem-silvikul...

Perhitungkan potensi hasil hutan yang akan dipanen berdasarkan


hasil survey/inventarisasi per jenis maupun kelompok jenis per
hektar untuk setiap blok/petak tebangan tahunan. Apabila
potensi tinggi dapat dilakukan sistem silvikultur tebang pilih.
Untuk potensi yang rendah digunakan sistem tebang habis
sehingga biaya eksploitasi yang dikeluarkan dapat tertutup
dengan jumlah panenan. Namun untuk mengurangi kemerosotan
fungsi hutan, pada areal hutan sekunder tersebut dapat
diterapkan sistem silvikultur tebang jalur.
2. Jarak lokasi tebangan
a. Jarak areal hutan yang dikelola dengan lokasi industri
Jarak areal pengelolaan yang jauh dari lokasi industri akan
memperbesar variabel biaya pengangkutan yang akan
mempengaruhi nilai jual hasil hutan yang diangkut, sehingga
perlu dipertimbangkan jumlah hasil hutan yang dipanen dalam
jumlah yang cukup. Apabila potensi areal hutan sekunder rendah
dengan jarak yang jauh dari industri maka dapat
dipertimbangkan untuk pelaksanaan sistem silvikultur dengan
tebang jalur atau dengan tebang habis dengan harapan jumlah
hasil hutan yang dipanen dan atau diangkut dapat mencukupi
atau menutup biaya pengangkutan.
b. Jarak blok/petak tebangan
Jarak blok/petak tebangan yang jauh lebih banyak memerlukan
biaya pengangkutan daripada blok/petak yang lebih dekat.
Apabila potensi yang ada terbatas, maka hasilnya tidak dapat
menutup biaya produksi. Untuk blok/petak tebangan yang jauh
perlu diperhitungkan jumlah panenan yang lebih besar. Apabila
luas lokasi blok/petak sama dengan potensi yang sama, maka
dapat dipertimbangkan untuk penerapan sistem silvikultur tebang
jalur, namun apabila lokasi blok/petak tebangan diperluas
sehingga potensinya lebih besar maka sistem silvikultur yang
diterapkan adalah tebang pilih dengan penurunan batas
diameter.
3. Peruntukan produk
Tentukan peruntukan hasil hutan yang dipanen, apakah sebagai
bahan baku pertukangan, veneer atau sebagai bahan baku
serpih/pulp.
- Apabila hasil hutan yang dipanen diperuntukan sebagai bahan
baku pertukangan atau veneer, maka sistem silvikultur yang
digunakan adalah tebang pilih karena industri tersebut menuntut
jenis tertentu yang dipersyaratkan (komersil/laku di pasaran,
keindahan,kekuatan,keawetan, dll) serta batas diameter tertentu
yang dapat diolah di industri.
- Apabila hasil hutan yang dipanen diperuntukkan sebagai bahan
baku serpih/pulp, maka sistem silvikultur yang digunakan adalah
tebang jalur atau tebang habis karena industri tersebut tidak
menuntut jenis dan diameter tertentu, hanya mempersyaratkan
jenis serat.
4. Kondisi topografi dan jenis tanah
Kondisi topografi yang berat dan jenis tanah akan mempengaruhi
jenis peralatan eksploitasi yang digunakan dan pada akhirnya
akan meningkatkan biaya produksi. Untuk itu perlu dilakukan
analisa ekonomi dan finansial yang tepat sehingga sistem
silvikultur yang akan diterapkan masih menguntungkan.
Topografi yang berat akan memerlukan peralatan yang memiliki
kinerja bagus, sedangkan lokasi yang memiliki tanah sangat peka
terhadap erosi hendaknya tidak menggunakan peralatan dengan
ban rantai (chain) tapi menggunakan ban roda (wheel). Dalam
sistem tebang habis akan memerlukan jumlah dan jenis
peralatan yang lebih banyak dan kinerja yang lebih bagus
daripada peralatan yang digunakan pada sistem tebang pilih.

Aspek Teknis

3 of 5 23/10/2013 10:30
hidup mati: PERUMUSAN/PENENTUAN SISTEM SILVIKULTUR PA... http://joxzyn.blogspot.com/2009/01/perumusanpenentuan-sistem-silvikul...

Aspek teknis berkaitan dengan peralatan dan metode eksploitasi


yang akan digunakan. Dalam aspek teknis ada beberapa hal yang
menjadi pertimbangan, antara lain adalah ;
1. Potensi, kondisi topografi dan jenis tanah
- Potensi yang tinggi namun dengan kondisi topografi yang berat
dan jenis tanah yang peka erosi dapat menggunakan sistem
silvikultur tebang pilih dengan metode skyline. Dengan metode
ini diharapkan kondisi tanah dan tegakan bawah tidak rusak
akibat kegiatan penyaradan.
- Potensi yang rendah dan kondisi topografi ringan dapat
menggunakan sistem silvikultur tebang habis atau tebang jalur
dengan metode konvensional (semi mekanis) atau full mekanis.
2. Jumlah dan jenis peralatan eksploitasi
Jumlah dan jenis peralatan yang tersedia akan mempengaruhi
kemampuan/kinerja dan merupakan salah satu bahan
pertimbangan dalam menentukan sistem silvikultur yang akan
digunakan. Jumlah dan jenis peralatan yang lengkap dan dalam
kondisi baik dapat dimaksimalkan dalam pelaksanaan sistem
silvikultur. Sebaliknya jumlah dan jenis peralatan yang terbatas
akan menyulitkan pelaksanaan sistem silvikultur yang
diterapkan.

Aspek Sosial Budaya


Dalam aspek sosial budaya masyarakat ada beberapa hal yang
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan, antara lain adalah ;
1. Penyebaran pemukiman dan lahan masyarakat hutan
Identifikasikan pemukiman masyarakat yang ada, baik jumlah
dan penyebarannya, apakah di luar atau di dalam areal
pengelolaan. Demikian juga dengan luas dan penyebaran lahan
garapan. Pada lokasi hutan yang berbatasan dengan pemukiman
dan lahan masyarakat tersebut diusahakan untuk tidak dilakukan
penebangan namun dikembangkan sebagai zona pelindung.
2. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Identifikasikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat
sampai sejauh mana tingkat ketergantungan masyarakat
terhadap hutan secara sosial dan ekonomi. Kumpulkan data
mengenai jumlah penduduk, mata pencaharian, pendapatan,
tingkat pendidikan, angka kelahiran, angka kematian dll.
Gunakan data yang terkumpul untuk perhitungan tingkat
pertumbuhan penduduk sehingga dapat memperkirakan desakan
penggunaan lahan di masa yang akan datang. Pastikan sistem
silvikultur yang akan diterapkan dapat mengakomodir
kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat. Usahakan agar
masyarakat setempat dapat berpartisipasi secara aktif dalam
pengelolaan areal hutan.
3. Kondisi budaya masyarakat
Identifikasikan kondisi budaya masyarakat setempat mengenai
keberadaan masyarakat dan hukum adat yang berlaku. Pastikan
sistem silvikultur yang diterapkan dapat mengakomodir hukum
adat yang berlaku termasuk kawasan hutan adat yang ada.
Usahakan agar kebudayaan lokal dapat tetap eksis dan
berkembang.

Rekomendasi
Dalam penentuan sistem silvikultur yang akan diterapkan pada
hutan sekunder dataran rendah perlu mempertimbangkan
berbagai aspek yaitu, aspek ekologi, aspek ekonomi, aspek teknis
dan aspek sosial budaya masyarakat setempat. Berdasarkan
pertimbangan tersebut diperoleh beberapa hal yang dapat
dijadikan suatu rekomendasi, antara lain adalah ;
1. Sistem silvikultur yang akan diterapkan hendaknya tidak
merubah kondisi ekologi secara drastis sehingga hutan
kehilangan fungsinya.

4 of 5 23/10/2013 10:30
hidup mati: PERUMUSAN/PENENTUAN SISTEM SILVIKULTUR PA... http://joxzyn.blogspot.com/2009/01/perumusanpenentuan-sistem-silvikul...

2. Sistem silvikultur tidak dapat diterapkan secara seragam di


seluruh areal pengelolaan, namun disesuaikan dengan kondisi
yang ada pada setiap blok/petak tebangan dan atau pada setiap
DAS atau sub DAS dengan mempertimbangkan aspek ekologi,
ekonomi, teknis dan sosial budaya masyarakat.
3. Berdasarkan kondisi hutan sekunder yang ada, sistem
silvikultur yang mungkin diterapkan adalah tebang pilih dengan
penurunan batas diameter atau tebang jalur dengan permudaan
buatan.
Diposkan oleh joxzyn di 04.33

Reaksi:

Label: makalah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Link ke posting ini

Buat sebuah Link

Posting Lebih Baru Beranda Posting Lama

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

5 of 5 23/10/2013 10:30