Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah kependudukan mendasar yang dihadapi negara yang sedang
berkembang termasuk Indonesia adalah masih tingginya laju pertumbuhan
penduduk serta kurang seimbangnya penyebaran dan struktur umum
penduduk. Keadaan penduduk yang demikian mempersulit usaha
peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi
pertumbuhan penduduk, semakin besar usaha yang diperlukan untuk
mempertahankan tingkat kesejahteraan rakyat.1
Badan pusat statistik menunjukkan data bahwa Indonesia merupakan
negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke-4 setelah Amerika
Serikat, China, India. Menurut Profil Kesehatan Indonesia pada tahun 2016,
jumlah penduduk Indonesia adalah 258.704.986 penduduk, sedangkan di
Papua adalah 3.207.444 penduduk. Berdasarkan data dari Badan Pusat
Statistik Kota Jayapura tahun 2016, jumlah penduduk Distrik Jayapura
Selatan khususnya pada Puskesmas Hamadi yang meliputi tiga kelurahan
(Hamadi, Argapura, Numbay) dan dua kampung (Tahima Soroma, Tobati)
berjumlah 39.384 penduduk.2,3
Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, di Indonesia
dibentuk Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),
yang salah satu programnya adalah Keluarga Berencana (KB) dengan
penggunaan kontrasepsi yang bertujuan untuk mengendalikan laju
pertumbuhan penduduk dan juga untuk meningkatkan kualitas sumber daya
Manusia.4
Dua aspek pokok dalam program KB Nasional yaitu kegiatan
Komunikasi, Edukasi, dan Informasi (KIE) dan pelayanan kontrasepsi.
Definisi dari kontrasepsi adalah melawan/mencegah terjadinya kehamilan
sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Saat ini
tersedia banyak metode atau alat kontrasepsi meliputi : IUD, suntik, pil,
implant, kontrasepsi mantap, kondom. 1