Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Osteomielitis merupakan infeksi yang terjadi pada tulang. Infeksi ini dapat
terjadi akibat infeksi yang menyebar melalui pembuluh darah atau penyebaran melalui
jaringan sekitar. Infeksi ini juga dapat terjadi akibat infeksi langsung terhadap tulang
tersebut. Kejadian seperti trauma dapat mengubah integrasi dari tulang dan
menimbulkan onset infeksi pada tulang.1
Prevalensi terjadinya osteomielitis telah mengalami penurunan selama
beberapa tahun disebabkan oleh semakin meningkatnya kontrol penyebaran
osteomyelitis pada banyak rumah sakit. Hal ini juga terjadi akibat semakin
meningkatnya pemahaman mengenai pengobatan osteomielitis. Insidensi
osteomielitis pada anak di Amerika pada tahun 1970 telah mengalami pengurangan
dari 87 per 10.000 kejadian menjadi 47 per 10.000 kejadian.1
Osteomielitis masih merupakan permasalahan di Indonesia karena tingkat
higienis yang masih rendah dan pengertian mengenai pengobatan yang belum baik,
diagnosis yang sering terlambat sehingga biasanya berakhir dengan osteomyelitis
kronis, fasilitas diagnostik yang belum memadai di puskesmas, angka kejadian
tuberkulosis yang masih tinggi sehingga kasus-kasus tuberkulosis tulang dan sendi
juga masih tinggi, pengobatan osteomyelitis memerlukan waktu yang cukup lama dan
biaya tinggi, serta banyaknya penderita dengan fraktur terbuka yang datang terlambat
dan biasanya datang dengan komplikasi osteomyelitis.2,3
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI
Nama : Tn. B
Umur : 55 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : RT.023 jelutung
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Petani

II. ANAMNESIS :
Keluhan Utama :
Luka menghitam pada semua jari kaki bagian kanan sejak + 2 bulan SMRS

Riwayat Perjalanan Penyakit :

Os datang dengan keluhan luka menghitam pada semua jari kaki kanan sejak + 2 bulan
SMRS . Awalnya luka timbul pada ibu jari kaki kanan sebesar kelereng, kemudian makin
lama luka makin meluas hingga ke semua jari kaki. Keluhan luka disertai nyeri seperti
berdenyut,berair dan mengeluarkan nanah. Os mengaku bahwa keluhan luka timbul pada
saat os berjalan dan tak sengaja tersandung batu, dan tanpa ia sadari timbul luka kecil. Saat
itu luka hanya dibersihkan dengan air dan dibiarkan tanpa diobati, namun keluhan luka tidak
kunjung sembuh dan makin membesar dan menghitam hingga meluas ke semua jari kaki
kanan. Pasien mengeluh sedikit susah untuk menggerakan jari-jari kakinya.
+ 1 minggu yang lalu os mengeluh badan terasa lemas, disertai nafsu makannya mulai
menurun, sehingga pasien hanya berbaring di tempat tidur, keluhan disertai demam
mendadak dan dirasakan terus-menerus, tidak disertai menggigil, pasien mengaku sudah
meminum obat penurun panas dari bidan namun lupa nama obatnya, dan demam tetap tidak
.turun
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat amputasi pada jari-jari kaki bagian kiri + 4 tahun yang lalu
Riwayat kencing manis (+) diketahui sejak 5 tahun yang lalu

Riwayat Penyakit dalam Keluarga :


Riwayat kencing manis (+) pada ibu kandung

Riwayat Sosial Ekonomi :

Riwayat minum jamu-jamuan (-), riwayat minum obat-obatan (-), merokok (-), alcohol
(-)

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
HR : 98x/menit, reguler isi dan tegangan cukup
RR : 22x/menit
Tekanan Darah : 110/60 mmHg
Suhu : 37,2oC
BB : 60 Kg
TB : 167 cm
Status gizi : Baik
Kesan : gizi baik
Status Generalis
1. Kepala dan Leher
 Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut, alopesia (-)
 Kepala : Bentuk simetris, dalam batas normal
 Mata : Reflek cahaya (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
pupil isokor
 Hidung : Epistaksis (-), sekret (-)
 Mulut : Bentuk normal, bibir sianosis (-), bibir kering (-)
 Tenggorokan: Faring dan tonsil hiperemis (-), Tonsil T1-T1
 Leher : Pembengkakan KGB (-), Pembesaran kel.tyroid (-)
2. Thoraks:
 Paru
- Inspeksi : Simetris kiri dan kanan, retraksi (-), sela iga melebar (-/-), sesak
nafas (-), jejas (-/-), ketinggalan gerak (-/-)
- Palpasi : Fremitus vocal menurun (-/-)
- Perkusi : Sonor
- Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)
 Jantung
- Inspeksi : Iktus kordis tidak dapat terlihat
- Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga V di linea mid clavikula sinistra sekitar
1 jari ke arah medial, tidak kuat angkat.
- Perkusi : Batas Atas : ICS II Linea parasternal sinistra
Batas Kiri : ICS V Linea midclavicula sinistra
Batas Kanan : ICS III Linea parasternal dextra
Batas Bawah : ICS IV Line parasternal dextra
- Auskultasi : BJ1-BJ2 Normal, murmur (-), gallop (-), regular

3. Abdomen
- Inspeksi : Datar, Simetris, venektasi (-).
- Auskultasi : Bising usus (+) normal
- Palpasi : Soepel, Nyeri tekan (-), hepar, lien,ginjal tidak teraba
- Perkusi : Timpani
4. Extermitas
Ekstremitas atas : akral hangat, edema (- /-), sianosis (-/-), CRT <2 detik.
Ekstremitas bawah : akral hangat, CRT <2 Detik, Luka pada digiti minimi dextra ±
berukuran akral hangat, CRT <2 Detik, Edem (+) kedua tungkai, Luka pada digiti
minimi pedis dextra ± berukuran 7 x 3 cm, dengan bentuk tidak beraturan. Warna kulit
luka hitam. Tepi luka merata, dan terdapat pus, kulit sekitar luka edema.
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Darah Lengkap


Darah Rutin
Jenis Pemeriksaan Hasil Normal
WBC 26.17 (3,5-10,0 103/mm3)
RBC 3.4 (3,80-5,80 106/mm3)
HGB 8.3 (11,0-16,5 g/dl)
HCT 24.5 (35,0-50,0 %)
PLT 599 (150-390 103/mm3)
MCV 72.1 (80-97 fl)
MCH 24.4 (26,5-33,5 pg)
MCHC 339 (320-360 g/dl)
Kesan : Leukositosis, anemia mikrositik hipokrom

2. Faal Ginjal
Parameter Satuan Nilai Normal
Ureum 30 15 - 39 mg/dl
Creatinin 1.2 P= 0,6 – 1,1 mg/dl

Kesan : Normal

3. Pemeriksaan elektrolit
Parameter Satuan Nilai Normal
Natrium (Na) 130.17 135 – 148 mmol/L
Kalium (K) 4.73 3,5 – 5,3 mmol/L
Chlorida (Cl) 77.16 98 – 110 mmol/L
Calsium (Ca) 1.23 1,19-1,23 mmol/L
Kesan : Hiponatremi, hipoklorida

V. DIAGNOSIS

VI. PENATALAKSANAAN

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam :

Quo ad functionam :

Quo ad sanactionam :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Osteomielitis (berasal dari kata osteo dan mielitis) adalah radang tulang yang
disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai organ infeksi lain juga dapat
menyebabkannya. Ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang,
melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa, dan periosteum.2
Osteomielitis adalah infeksi tulang dan sumsum tulang. Penyebab tersering
adalah bakteri, walaupun penyebab lain seperti jamur juga didapati pada penderita
dengan imunikompromais, seperti neonatus dan pasien dengan defisiensi imun.
Penyebaran mikroorganisme ke dalam tulang dapat secara hematogen, inokulasi
langsung dari luar seperti pada trauma (fraktur terbuka atau operasi), ataupun melalui
penyebaran langsung dari struktur yang terinfeksi di sekitarnya.4

2.2 EPIDEMIOLOGI
Prevalensi keseluruhan adalah 1 kasus per 5.000 anak. Prevalensi neonates
adalah sekitar 1 kasus per 1.000 kejadian. Sedangkan kejadian pada pasien dengan
anemia sel sabit adalah sekitar 0,36%. Prevalensi osteomielitis setelah trauma pada kaki
sekitar 16% (30-40% pada pasien dengan DM). Insidensi osteomielitis vertebral adalah
sekitar 2,4 kasus per 100.000 penduduk. Osteomielitis hematogen akut banyak
ditemukan pada anak-anak, anak laki-laki lebih sering terkena dibanding perempuan
(3:1). Tulang yang sering terkena adalah tulang panjang dan tersering adalah femur,
tibia, humerus, radius, ulna, fibula. Pada dewasa infeksi hematogen biasanya paling
banyak pada tulang vertebra dibandingkan tulang panjang.
Orang dewasa terkena karena menurunnya pertahanan tubuh karena kelemahan,
penyakit ataupun obat-obatan. Diabetes juga berhubungan dengan osteomielitis,
imunosupresi sementara baik yang didapat ataupun di induksi meningkatkan faktor
predisposisi, trauma menentukan tempat infeksi, kemungkinan disebabkan oleh
hematom kecil atau terkumpulnya cairan di tulang. Morbiditas dapat signifikan dan dapat
termasuk penyebaran infeksi lokal ke jaringan lunak yang terkait atau sendi; berevolusi
menjadi infeksi kronis, dengan rasa nyeri dan kecacatan; amputasi ekstremitas yang
terlibat; infeksi umum; atau sepsis. Sebanyak10-15% pasien dengan osteomielitis
vertebral mengembangkan temuan neurologis atau kompresi corda spinalis. Sebanyak
30% dari pasien anak dengan osteomielitis tulang panjang dapat berkembang menjadi
trombosis vena dalam (DVT). Perkembangan DVT juga dapat menjadi penanda adanya
penyebarluasan infeksi.5

2.3 Etiologi
Staphylococcus aureus merupakan organisme tersering penyebab osteomielitis
terutama osteomiletis akut yaitu lebih kurang 90% kasus. Tempat masuk dari bakteri
ialah melalui kulit yang terluka dan terinfeksi, lecet, dan jerawat atau bisul. Terkadang
juga dapat melalui mukosa membran selaput lendir dari saluran napas atas sebagai
komplikasi dari infeksi tenggorokan atau hidung. Bahkan bila menyikat gigi yang telalu
kuat dan menyebabkan inflamasi gusi dapat mengakibatkan bakteremia transien. Adanya
bakteremia, memainkan peranan penting dalam menentukan bagian tulang yang
berkembang menjadi osteomielitis (kemungkinan karena ada trombosis lokal dan
penurunan resistensi terhadap infeksi) selain itu juga menjelaskan mengapa insiden
osteomielitis lebih tinggi pada laki-laki dan lebih sering menyerang ekstremitas bawah.6
Selain itu bakteri lain yang dapat menyebabkan osteomielitis ialah Streptococcus
dan Pneumococcus terutama pada bayi. Dengan berkembangnya vaksin yang efektif
maka Haemophilus influenzae sudah jarang menyebabkan osteomielitis.7 Bakteri lain
yang dapat menyebabkan osteomielitis yaitu E. colli, Aerogenus kapsulata, Salmonella
tifosa, Psedumonas aerogenus, Proteus mirabilis, Brucella, dan bakteri anaerobik yaitu
Bakteroides fragilis.2
Untuk osteomielitis kronis terutama disebabkan bakteri Staphylococcus auerus
(75%) atau E.colli, Proteus, atau Pseudomonas. Staphylococcus epidermidis merupakan
penyebab utama osteomielitis kronik pada pasien operasi ortopedi yang menggunakan
implan.2

Organisme penyebab osteomielitis tersering berdasarkan umur pasien :


Bayi ( < 1 tahun) - Grup B Streptococci
- Staphylococcus auereus
- Escherichia coli
Anak (1 – 16 tahun) - Staphylococcus auereus
- Streptococcus pyogenes
- Haemophilus influenzae
Dewasa ( >16 tahun) - Staphylococcus epidermidis
- Staphylococcus auereus
- Pseudomonas aeruginosa
- Serratia mercescens
- Escherichia coli
Tabel 1. Organisme Penyebab Osteomielitis Berdasarkan Umur2

2.4 Patofisiologi
Penyebaan osteomielitis terjadi melalui dua cara, yaitu: 2
1. Penyebaran umum
- Melalui sirkulasi darah berupa bakteremia dan septikemia
- Melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifokal pada daerah-
daerah lain
2. Penyebaran lokal
- Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui periost
- Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah kulit
- Penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi arthritis septik
- Penyebaran ke medula tulang sekitarnya sehingga sistem sirkulasi ke dalam
tulang terganggu.
Perkembangan awal dan cepat dari osteomielitis hematogen yang tidak diobati
ditandai adanya fokus awal kecil dari inflamasi bakteri disertai hiperemia awal dan
edema pada tulang cancellous dan sumsum daerah metafisis tulang panjang. Tidak
seperti jaringan lunak yang mampu berkembang untuk mengakomodasi
pembengkakan, tulang merupakan suatu ruang yang tertutup dan kaku. Oleh karena
itu, edema awal dari proses inflamasi menyebabkan peningkatan tajam tekanan
intraosseous. Sehingga menimbulkan gejala berupa nyeri lokal yang berat dan konstan.
Terbentuknya pus juga semakin meningkatkan tekanan lokal dan menyebabkan
trombosis pembuluh darah dan nekrosis tulang.6
Infeksi yang tidak diobati akan menyebar cepat dengan berbagai cara,
menghancurkan tulang melalui osteolisis. Melalui pembuluh darah yang rusak di lesi
lokal, sejumlah besar bakteri kembali menyerang aliran darah dan bakteremia yang
tidak terdeteksi tersebut menjadi septikemia yang bermanifestasi menjadi malaise,
anoreksia, dan demam. Penyebaran lokal infeksi melalui ekstensi langsung dibantu oleh
peningkatan tekanan lokal, menembus korteks yang tipis di daerah metafisis dan
melibatkan periosteum yang sangat sensitif sehingga terjadi tenderness lokal.
Periosteum yang melekat pada tulang selama masa kanak-kanak menjadi longgar lalu
terpisah dari meninggi dari tulangnya. Hasilnya berupa abses subperiosteal yang tetap
terlokalisasi atau menyebar ke seluruh shaft tulang. Periosteum yang meninggi akan
mengganggu aliran darah yang mendasari korteks sehingga memperluas nekrosis
tulang.6

Gambar 1. Mekanisme Terjadinya Osteomielitis4

Setelah beberapa hari pertama, infeksi menembus periosteum dan menyebabkan


selulitis dan akhirnya berupa abses jaringan lunak. Pada daerah metafisis di dalam sendi
sinovial, seperti ujung atas femur dan radius, penetrasi periosteum membawa infeksi
secara langsung ke dalam sendi dan menyebabkan arthritis septik. Di sisi lain ketika
daerah metafisis luar tetapi dekat dengan sendi maka sering terbentuk efusi sinovial
steril.
Sementara itu, penyebaran infeksi lokal melalui rongga meduler dapat
mengganggu sirkulasi internal. Daerah yang dihasilkan dari nekrosis tulang yang
mungkin berbeda dalam batas dari spicule kecil ke seluruh shaft dan akhirnya terpisah
sehingga terbentuk kepingan jaringan tulang yang sudah mati dan disebut sebagai
sekuestrum. Pembentukan tulang baru yang luas dari lapisan dalam periosteum
menyebabkan shaft tulang terbungkus atau disebut sebagai involokrum, yang
mempertahankan eterlibatan tulang bahkan ketika segemen besar dari shaft mati dan
mengalami sekuestrum. Lempeng epifisis berperan sebagai penghalang penyebaran
langsung infeksi tetapi bila lempeng tersebut sudah rusak maka gangguan pertumbuhan
yang serius akan muncul di kemudian hari. Jika tidak dikontrol, setiap saat septikemia
dapat menyebabkan fokus metafisis infeksi pada tulang lainnya. Lebih pentingnya hal
tersebut akan menyebabkan fokus infeksi pada organ lain terutama di paru-paru dan
otak juga menyebabkan kematian.6

2.5 Klasifikasi
Osteomielitis secara umum dapat diklasifikasikan berdasarkan perjalanan
klinis, yaitu osteomielitis akut, subakut, dan kronis. Hal tersebut tergantung dari
intensitas proses infeksi dan gejala yang terkait.8
2.5.1 Osteomielitis Hematogen Akut
Osteomielitis hematogen akut merupakan infeksi tulang dan sumsum
tulang akut yang disebabkan oleh bakteri piogen di mana mikroorganisme
berasal dari fokus di tempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. Kelainan
ini sering ditemukan pada anak-anak dan sangat jarang pada orang dewasa.
Diagnosis yang dini sangat penting oleh karena prognosis tergantung dari
pengobatan yang tepat dan segera.9
Sebanyak 90 % disebabkan oleh Stafilokokus aureus hemoliticus
(koagulasi positif) dan jarang oleh streptokokus hemolitikus. Pada anak umur di
bawah 4 tahun sebanyak 50 % disebabkan oleh Hemofilus influenza. Adapun
organisme lain seperti B. Colli, B. Aerogenus kapsulata, Pneumococcus sp,
Salmonella tifosa, Pseudomonas aerogenus, Proteus mirabilis, Brucella sp, dan
bakteri anaerobik yaitu Bakteroides fragilis juga dapat menyebabkan
osteomielitis hematogen akut. Faktor predisposisi osteomielitis akut adalah
sebagai berikut.8
- Umur, terutama mengenai bayi dan anak-anak
- Jenis kelamin, lebih sering pada laki-laki daripada wanita dengan
perbandingan 4:1.
- Trauma, hematogen akibat trauma pada daerah metafisis, merupakan salah
satu faktor predisposisi terjadinya osteomielitis hematogen akut.
- Lokasi, osteomielitis hematogen akut sering terjadi pada daerah metafisis
karena daerah ini merupakan daerah aktif tempat terjadinya pertumbuhan
tulang.
- Nutrisi, lingkungan dan imunitas yang buruk serta adanya fokus infeksi
sebelumnya (seperti bisul, tonsilitis) merupakan faktor predisposisi
osteomielitis hematogen akut.2,7

2.5.2 Osteomielitis Hematogen Subakut


Gejala osteomielitis hematogen subakut lebih ringan oleh karena
organisme penyebabnya kurang purulen dan penderita lebih resisten.
a. Etiologi
Osteomielitis hematogen subakut biasanya disebabkan oleh Stafilokokus
aureus dan umumnya berlokasi di bagian distal femur dan proksimal tibia.
b. Patologi
Biasanya terdapat kavitas dengan batas tegas pada tulang kanselosa dan
mengandung cairan seropurulen. Kavitas dilingkari oleh jaringan granulasi yang
terdiri atas sel-sel inflamasi akut dan kronik dan biasanya terdapat penebalan
trabekula.
c. Gambaran Klinis
Osteomielitis hematogen subakut biasanya ditemukan pada anak-anak
dan remaja. Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah atrofi otot, nyeri
lokal, sedikit pembengkakan, dan dapat pula penderita menjadi pincang.
Terdapat rasa nyeri pada daerah sekitar sendi selama beberapa minggu atau
mungkin berbulan-bulan. Suhu tubuh biasanya normal.7,8,10
d. Pemeriksaan Radiologis
Dengan foto Rontgen biasanya ditemukan kavitas berdiameter 1-2 cm
terutama pada daerah metafisis dari tibia dan femur atau kadang-kadang pada
daerah diafisis tulang panjang.

Gambar 2. Radiologi abses Brodie pada epifisis distal tibia pada anak usia 3 tahun 8

Gambar 3. Radiologik dari abses Brodie yang dapat ditemukan pada osteomielitis sub
akut/kronik. Pada gambar terlihat kavitas yang dikelilingi oleh daerah sklerosis.
2.5.3 Osteomielitis Hematogen Kronik
Osteomielitis kronis umumnya merupakan lanjutan dari osteomielitis
akut yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dengan baik. Osteomielitis kronis
juga dapat terjadi setelah fraktur terbuka atau setelah tindakan operasi pada
tulang.
a. Etiologi
Bakteri penyebab osteomielitis kronis terutama oleh Stafilokokus
aureus (75 %), atau E colli, Proteus sp atau Pseudomonas sp.
b. Patologi
Infeksi tulang dapat menyebabkan terjadinya sekuestrum yang
menghambat terjadinya resolusi dan penyembuhan spontan yang normal
pada tulang. Sekuestrum ini merupakan benda asing bagi tulang dan
mencegah terjadinya penutupan kloaka (pada tulang) dan sinus (pada kulit).
Sekuestrum diselimuti oleh involucrum yang tidak dapat keluar/dibersihkan
dari tulang kecuali dengan tindakan operasi. Proses selanjutnya terjadi
destruksi dan sklerosis tulang yang dapat terlihat pada foto Rontgen.
c. Gambaran Klinis
Penderita sering mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari
luka/sinus setelah operasi yang bersifat menahun. Kelainan kadang-kadang
disertai demam dan nyeri yang hilang timbul di daerah anggota gerak
tertentu. Pada pemeriksan fisik ditemukan adanya sinus, fistel atau sikatriks
bekas operasi dengan nyeri tekan. Mungkin dapat ditemukan sekuestrum
yang menonjol keluar melalui kulit. Biasanya terdapat riwayat fraktur
terbuka atau osteomielitis pada penderita.2,8
d. Pemeriksaan Radiologis
Pada foto Rontgen dapat ditemukan adanya tanda-tanda porosis dan
sklerosis tulang, penebalan periosteum, elevasi periosteum dan mungkin
adanya sekuestrum.
Gambar 4. Gambaran sekuestrum pada tibia dengan osteomielitis kronis 8

Gambar 5. Osteomielitis lanjut pada seluruh tibia dan fibula kanan. Ditandai dengan adanya gambaran
sekuestrum (panah).

2.6 Diagnosis
Osteomielitis harus dicurigai bila pasien datang dengan rasa sakit, bengkak,
eritema atau kehangatan kulit dan jaringan lunak diatas tulang. Pada kondisi subakut
atau kronis manifestasi yang muncul umumnya hanya berupa nyeri. Gejala sistemik
(demam yaitu dan menggigil) terjadi pada pasien dengan osteomielitis akut tapi jarang
terdapat pada pasien dengan kronis osteomielitis kronis. Lubang drainase biasanya
terlihat pada kasus-kasus osteomyelitis kronis. Tes probe-to-bone banyak digunakan
untuk mendiagnosis osteomyelitis pada pasien dengan diabetes ulkus kaki dan
contiguous osteomyelitis. Grayson et al. menemukan bahwa tes ini memiliki
sensitivitas 66% dan nilai prediksi positif 89%.
Konfirmasi dari osteomyelitis membutuhkan penggunaan berbagai tes
laboratorium, mikrobiologi, radiografi dan tes patologis. Tingkat sedimentasi eritrosit
(ESR) dan protein C-reaktif (CRP) biasanya normal. Jumlah sel darah putih kadang-
kadang meningkat. Jumlah trombosit dapat meningkat (penanda inflamasi) sedangkan
konsentrasi hemoglobin bisa rendah (anemia penyakit kronis). kultur darah mungkin
positif pada hematogen akut dan osteomielitis vertebral. Kultur pada luka dangkal atau
saluran drainase harus diinterpretasikan secara hati-hati tidak boleh digunakan untuk
memilih terapi antimikroba kecuali telah dilakukan isolasi terhadap S. aureus.
Pengambilan sampel jaringan tulang melalui aspirasi jarum di bawah bimbingan
radiologis atau prosedur bedah memungkinkan identifikasi organisme yang
imenginfeksi dan penentuan profil kerentanan in vitro. Informasi yang didapat penting
untuk pemberian antimikroba yang tepat dan efektif. Jaringan tulang yang dikumpulkan
dari tempat terinfeksi juga dapat diajukan untuk dilakukan pemeriksaan histopatologi
yang dianggap baku emas untuk diagnosis osteomielitis.
Radiografi konvensional memiliki sedikit nilai dalam mendiagnosis
osteomielitis akut tetapi mungkin akan membantu dalam kasus-kasus osteomielitis
kronis. Setidaknya 10-14 hari diperlukan sebelum kelainan yang konsisten dengan
osteomielitis terlihat. Dalam sebuah penelitian, sensitivitas radiografi polos dalam
kasus osteomielitis kaki diabetik ditemukan menjadi 54%, sedangkan spesifisitasnya
68%. Tanda-tanda radiografi yang dapat menggambarkan osteomielitis termasuk
adanya fokal atau wilayah geografis dari lucency sumsum, hilangnya korteks dengan
erosi tulang, pembentukan tulang baru, sklerosis tulang dengan atau tanpa erosi,
penyerapan, involucrum, dan elevasi periosteal. Scan tulang dengan nuklir
menggunakan berbagai radiotracers (Teknesium 99m metilen diphosphonate,
Galliumcitrate 67, dan Indium 111-berlabel sel darah putih) yang umum digunakan
untuk mendiagnosis osteomielitis. Kinerja dari scan bervariasi tergantung pada klinis
dan situasi. Pada orang dewasa dengan radiografi normal (tidak ada lesi yang
menyebabkan pergantian tulang meningkat), threephase bone scan memiliki akurasi
yang lebih tinggi daripada scan lainnya dengan sensitivitas 94% dan 95% spesifisitas.
Namun, ketika remodeling tulang meningkat, spesifisitas tes menurun menjadi 33%.
Positron emission tomography (PET) menggunakan 18-fluorodeoxyglucose
semakin banyak digunakan dalam diagnosis osteomielitis. Dalam review sistematis dan
meta-analisis, Termaat et al. menemukan bahwa PET scan memiliki sensitifitas 96%
dan spesifisitas 91% untuk diagnosis osteomielitis. PET scan adalah modalitas lebih
murah bila dibandingkan dengan teknik pemindaian tulang nuklir lainnya dan biasanya
dilakukan dalam satu hari. Sayangnya, hasil positif palsu dapat ditemukan pada
penyembuhan tulang. Computed tomography (CT) menampilkan detail kortikal tulang
yang baik yang menunjukkan erosi tulang kortikal atau perusakan dan reaksi periosteal.
Bisa juga menunjukkan fokus kecil udara dalam saluran medula, badan asing kecil
berfungsi sebagai nidus untuk infeksi dan pembentukan sekuestrum.
Magnetic resonance imaging (MRI) lebih sensitif dibandingkan CT dalam
mendeteksi osteomyelitis dan sensitif seperti studi nuklir. Sensitivitas dan spesifisitas
MRI berkisar antara 82% sampai 100% dan 75% sampai 96%. MRI dianggap sebagai
pilihan modalitas pencitraan dalam penegakan kasus osteomielitis karena
memungkinkan penentuan tingkat infeksi yang akurat,terutama dalam hal osteomielitis
vertebra (mengidentifikasi epidural abses, phlegmon, dan cord compression).11

2.7 Tatalaksana
Pengobatan antibiotik harus didasarkan pada identifikasi kultur tulang pada saat
biopsi tulang atau debridement. Pertama, kultur tulang diambil, dan berikan
antimikroba parenteral inisiasi untuk pengobatan suspek patogen. Namun, pengobatan
dapat dimodifikasi setelah organisme diidentifikasi. Perbaikan klinis biasanya terlihat
dalam 24-48 jam setelah pemberian antibiotika. Lama pemberian antibiotik pada
osteomielitis akut adalah 2-3 minggu. Antibiotik parenteral dan oral dapat digunakan
tunggal atau dalam kombinasi tergantung pada hasil sensivitas mikroorganisme,
kepatuhan pasien, dan konsultasi penyakit menular. Antibiotik oral yang telah terbukti
efektif termasuk klindamisin, rifampisin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan
fluoroquinolones. Jika hasil kultur negatif, pemberian antibiotik oral dapat diteruskan
selama 6 minggu. Osteomielitis pada dewasa biasanya terjadi pada pasien dengan
imunodefisiensi dan penyebabnya dapat berupa bakteri gram negatif, sehingga
antibiotik awal yang diberikan harus sensitif terhadap S. aureus dan juga bakteri gram
negatif.
Indikasi pembedahan pada osteomielitis adalah jika pasien tidak respon
terhadap pengobatan antimikroba spesifik, jika ada bukti dari abses jaringan lunak yang
persisten, atau jika dicurigai adanya infeksi sendi bersamaan. Debridement jaringan
nekrotik, penghapusan bahan asing, dan kadang-kadang penutupan kulit dari luka
diperlukan dalam beberapa kasus.1,4

2.8 Komplikasi
Infeksi supuratif mencakup struktur tulang yang berdekatan, seperti misalnya
persendian dan jaringan lunak, yang menyebabkan terbentuknya saluran sinus.
Osteolisis dan fraktur patologis telah dijelaskan sebagai komplikasi yang jarang dengan
adanya temuan penyakit dan terapi osteomyelitis sejak dini.
Penyebab secara hematogen dan sepsis dapat terjadi, meskipun mungkin sulit
untuk ditentukan apakah sumber utama infeksinya di darah atau di tulang. Pembentukan
saluran sinus mungkin berhubungan dengan neoplasma, terutama pada keadaan infeksi
yang lama dengan rentang waktu 4 sampai 50 tahun.
Karsinoma sel skuamosa merupakan tumor yang paling sering dihubungkan
dengan osteomyelitis, tumor-tumor lainnya yang telah dilaporkan terdiri atas
fibrosarcoma, myeloma, lymphoma, plasmacytoma, angiosarcoma,
rhabdomyosarcoma, dan malignant fibrous histiocytoma. Pada kebanyakan pasien
yang menderita neoplasma memiliki riwayat intervensi pembedahan berulang.
Perkembangan tumor malignan ditandai dengan makin membesarnya massa tumor,
peningkatan rasa nyeri, saluran luka yang berbau busuk, perdarahan, juga terdapat bukti
radiologis yang berupa destruksi tulang. Oleh karena itu, infeksi tulang yang tidak
sembuh dengan terapi konvensional seharusnya dilakukan biopsi untuk mengevaluasi
adanya malignansi dari berbagai sisi (termasuk ulkus, saluran sinus, dan dasar tulang).12

2.9 Prognosis
Dengan diagnosa awal dan pengobatan yang tepat, prognosis osteomyelitis adalah
baik. Pada umumnya, pasien yang diobati dengan regimen antibiotik yang tepat dan respon
yang baik dari pasien mengalami penyembuhan total tanpa komplikasi. Namun, pada
pasien dengan diagnosa atau pengobatan yang terlambat atau terjadinya kompresi pasokan
darah pada jaringan tertentu akibat trauma, hal ini dapat mengakibatkan defisit permanen
pada pasien. Apabila operasi bone grafting diperlukan, hal ini akan memperlambat proses
penyembuhan.1
BAB III
KESIMPULAN

Osteomielitis merupakan infeksi tulang ataupun sumsum tulang, biasanya disebabkan


oleh bakteri piogenik atau mikobakteri. Osteomielitis bisa mengenai semua usia tetapi
umumnya mengenai anak-anak dan laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Oteomielitis
umumnya disebabkan oleh bakteri, diantaranya dari species staphylococcus dan sreptococcus.
Selain bakteri, jamur dan virus juga dapat menginfeksi langsung melalui fraktur terbuka. Tibia
bagian distal, femur bagian distal, humerus , radius dan ulna bagian proksimal dan distal,
vertebra, maksila, dan mandibula merupakan tulang yang paling beresiko untuk terkena
osteomielitis karena merupakan tulang yang banyak vaskularisasinya.
Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu: osteomielitis akut, sub
akut dan kronis. Gambaran klinis terlihat daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan
membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri. Osteomielitis menahun sering
menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran
nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari
tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk
dari tulang menuju kulit.
Oteomielitis didiagnosis banding dengan osteosarkoma dan Ewing sarkoma sebab
memiliki gambaran radiologik yang mirip. Gambaran radiologik osteomielitis baru terlihat
setelah 10-14 hari setelah infeksi, yang akan memperlihatkan reaksi periosteal, sklerosis,
sekwestrum dan involikrum.
Osteomielitis dapat diobati dengan terapi antibiotik atau dengan debridement.
Prognosis osteomielitis bergantung pada lama perjalanan penyakitnya, untuk yang akut
prognosisnya umumnya baik, tetapi yang kronis umumnya buruk.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kishner, S. 2015. Osteomyelitis. Available from :


http://emedicine.medscape.com/article/1348767-overview#a6 [diakses April
2018]
2. Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Jakarta: Yarsif
Watampone. 2007
3. Sabiston DC. 2009. Buku ajar bedah bagian II. Jakarta: EGC.
4. Greene W.B. 2014, Netter’s Orthopaedics, 1st ed, Elsevier Inc. USA
5. W King, Randall. 2015. Osteomyelitis in Emergency Medicine. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/785020-overview#a6 [diakses april
2018]
6. Shalter, R.B., 1999. Textbook of Disorders and Injuries of the Muskuloskeletal
System Third Edition. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins
7. Wilson Scott C. 2013. Chapter 8 – orthopedic infections. Dalam: Current
diagnosis & treatment in orthopedics, fourth edition. New Orleans: The
McGraw-Hill Companies.
8. Canale ST, Beaty JH. 2010. Chapter 16 – Osteomyelitis. Dalam: Campbell's
operative orthopaedics, 11th ed. Pennsylvania: Saunders Elsevier Publishing.
9. Brinker. Review of orthopaedic infections. Pennsylvania: Saunders Company.
2009.
10. Wittman Dietmar, Condon Robert E. 2015. Surgical infections. Dalam: Oxford
textbook of surgery. Oxford: Oxford University Press.
11. Eid AJ, Berbari EF. 2012. Osteomyelitis: Review of Pathophysiology,
Diagnostic Modalities and Therapeutic Options. J Med Liban : 51-60.
12. Achdiono, D.N.W., Richardo, M., 2014. Osteomielitis dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Indonesia: Interna Publishing.