Anda di halaman 1dari 11

PEMBAHASAN

1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)


Teori keagenan menyatakan bahwa antara manajemen dan pemilik mempunyai
kepentingan yang berbeda (Jensen dan Meckling, 1976). Perusahaan yang memisahkan
fungsi pengelolaan dan kepemilikan akan rentan terhadap konflik keagenan (Lambert, 2001).
Dalam model keagenan dirancang sebuah sistem yang melibatkan kedua belah pihak,
sehingga diperlukan kontrak kerja antara pemilik (principal) dan manajemen (agent). Dalam
kesepakatan tersebut diharapkan dapat memaksimumkan utilitas principal, dan dapat
memuaskan serta menjamin agen untuk menerima reward dari hasil aktivitas pengelolaan
perusahaan. Perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen terletak pada
maksimalisasi manfaat (utility) pemilik (principal) dengan kendala (constraint) manfaat
(utility) dan insentif yang akan diterima oleh manajemen (agent). Karena kepentingan yang
berbeda sering muncul konflik kepentingan antara pemegang saham/ pemilik (principal)
dengan manajemen (agent).
Pada dasarnya agency theory merupakan model yang digunakan untuk
memformulasikan permasalahan (conflict) antara manajemen (agent) dengan pemilik
(principal). Model principal-agent dapat digambarkan dalam gambar-1 sebagai berikut
(Lambert, 2001):
Gambar-1

Model Principal-Agent

…………
Contract s(x,y) Agent selects Performance measures Agent is paid s(x,y)
Agreed Upon action (a) (x,y,etc.) observed Principal keeps x-s(x,y)

Pada gambar tersebut “s” merupakan fungsi kompensasi yang akan dijadikan dasar
dan bentuk fungsi yang menghubungkan pengukuran kinerja dengan kompensasi agen; “y”
menunjukkan vector pengukuran kinerja berdasarkan kontrak. Berdasarkan kontrak tersebut
agen akan menyeleksi dan atau melakukan aktivitas (action “a”) yang meliputi kebijakan
operasional (operation decisions), kebijakan pendanaan (financing decision), dan kebijakan
investasi (investment decisions). Sedangkan “x” menunjukkan “outcome” atau hasil yang
diperoleh perusahaan, dan selanjutnya digunakan sebagai dasar pengukuran kinerja dan
kompensasi agen.

1
Kinerja perusahaan yang telah dicapai oleh pihak manajemen diinformasikan kepada
pihak pemilik (principal) dalam bentuk laporan keuangan. Dalam sistem desentralisasi,
manajemen mempunyai informasi yang superior dibandingkan dengan pemilik, karena
manajemen telah menerima pendelegasian untuk pengambilan keputusan/ kebijakan
perusahaan. Ketika pemilik tidak dapat memonitor secara sempurna aktivitas manajemen,
maka secara potensial manajemen dapat menentukan kebijakan yang mengarah pada
peningkatan level kompensasinya. Pada model hubungan principal-agent, seluruh tindakan
(actions) telah didelegasikan oleh pemilik (principal) kepada manajer (agent). Rajan dan
Saouma (2006) menunjukkan bahwa arus informasi hubungan antara principal-agent dapat
digambarkan pada gambar-2

Gambar- 2

Urutan Arus Informasi - Model Hubungan Principal-Agent

Time Line

0 1 2 3

..…….......….
s contract contract efforts π compensation
revealed menu offered selected chosen realized made
by owner by manager

Berdasarkan gambar tersebut, maka urutan arus informasi dapat dijelaskan berikut.
Pertama, pada periode nol (time 0) manajer menerima sinyal, s dan pada periode satu (time
1) pemilik menawarkan kepada manajer satu menu kontrak. Jika manajer setuju, maka
manajer mengkomunikasikan pilihan kontraknya kepada pemilik; sebaliknya jika manajer
menolak, maka hubungan berakhir. Kedua, pada periode dua (time 2), manajer memilih level
aktivitas (effort) dan konsekuensinya dengan profit yang dihasilkan (π). Ketiga, pada periode
tiga (time 3), pemilik membayar kompensasi kepada manajer berdasarkan kontrak yang telah
disepakati.
Model hubungan principal-agent diharapkan dapat memaksimumkan utilitas
principal, dan dapat memuaskan serta menjamin agen untuk menerima reward dari hasil
aktivitas pengelolaan perusahaan. Ketika pemilik tidak dapat memonitor secara sempurna
aktivitas manajemen, maka secara potensial manajemen dapat menentukan kebijakan yang
mengarah pada peningkatan level kompensasinya. Rajan dan Saouma (2006) menyatakan
bahwa besarnya kompensasi yang diterima oleh pihak manajemen (agent) tergantung pada
besarnya laba/ profit (π) yang dihasilkan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dengan

2
pihak pemilik (owner). Besarnya laba yang diinformasikan melalui laporan keuangan, tidak
terlepas dari kebijakan akuntansi yang dibuat oleh manajemen. Berdasarkan uraian tersebut,
dapat dinyatakan bahwa besarnya kompensasi yang diterima oleh pihak manajemen (agent)
tergantung pada besarnya laba/ profit (π) yang dihasilkan sesuai dengan kontrak yang telah
disepakati dengan pihak pemilik.

1.2 Pengertian Teori Agensi


Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan hubungan keagenan di dalam teori agensi
(agency theory) bahwa perusahaan merupakan kumpulan kontrak (nexus of contract) antara
pemilik sumber daya ekonomis (principal) dan manajer (agent) yang mengurus penggunaan
dan pengendalian sumber daya tersebut. Tujuan dari teori agensi adalah :
1. Meningkatkan kemampuan individu (baik prinsipal maupun agen) dalam
mengevaluasi lingkungan dimana keputusan harus diambil (The belief revision role).
2. Mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah diambil guna mempermudah
pengalokasian hasil antara prinsipal dan agen sesuai dengan kontrak kerja
(The performance evaluation role).
Secara garis besar teori agensi dikelompokkan menjadi dua (Eisenhardt,1989), yaitu :
1. Positve agent research, memfokuskan pada identifikasi situasi dimana agen dan
prinsipal mempunyai tujuan yang bertentangan dan mekanisme pengendalian yang
terbatas hanya menjaga perilaku self serving agen. Secara ekslusif, kelompok ini
hanya memperhatikan konflik tujuan antara pemilik (stockholder) dengan manajer.
2. Principal agent research, memfokuskan pada kontrak optimal antara perilaku dan
hasilnya, secara garis besar penekanan pada hubungan principal dan agent. Principal-
agent research mengungkapkan bahwa hubungan agent-principal dapat diaplikasikan
secara lebih luas, misalnya untuk menggambarkan hubungan pekerja dan pemberi
kerja, lawyer dengan kliennya, auditordengan auditee.

Teori agensi tidak dapat dilepaskan dari kedua belah pihak diatas, baik prinsipal
maupun agen merupakan pelaku utama dan keduanya mempunyai bargaining
position masing-masing dalam menempatkan posisi, peran dan kedudukannya. Prinsipal
sebagai pemilik modal memiliki akses pada informasi internal perusahaan sedangkan agen
sebagai pelaku dalam praktek operasional perusahaan mempunyai informasi tentang operasi
dan kinerja perusahaan secara riil dan menyeluruh. Posisi, fungsi, situasi, tujuan, kepentingan
dan latar belakang prinsipal dan agen yang berbeda dan saling bertolak belakang tersebut
akan menimbulkan pertentangan dengan saling tarik menarik kepentingan (conflict of
interest) dan pengaruh antara satu sama lain. Berkaitan dengan auditing, baik prinsipal

3
maupun agen diasumsikan sebagai orang yang memiliki rasionalitas ekonomi, dimana setiap
tindakan yang dilakukan termotivasi oleh kepentingan pribadi atau akan memenuhi
kepentingannya terlebih dahulu sebelum memenuhi kepentingan orang lain. Teori keagenan
mengatakan sulit untuk mempercayai bahwa manajemen (agent) akan selalu bertindak
berdasarkan kepentingan pemegang saham (principal), sehingga diperlukan monitoring dari
pemegang saham (Copeland dan Weston,1992:20). Shareholder atau prinsipal
mempekerjakan agen untuk melaksanakan tugas termasuk pengambilan keputusan ekonomik,
dalam lingkungan yang tidak pasti seperti perusahaan dalam kondisi financial distress. Agen
sebagai seorang manajer akan mengambil keputusan untuk melakukan berbagai strategi guna
mempertahankan kelangsungan usaha perusahaan. Disisi lain agen merupakan pihak yang
diberikan kewenangan oleh prinsipal berkewajiban mempertanggungjawabkan apa yang telah
diamanahkan kepadanya. Teori keagenan menyatakan bahwa dalam pengelolaan perusahaan
selalu ada konflik kepentingan (Brigham dan Gapenski,1996) antara (1) manajer dan pemilik
perusahaan (2) Manajer dan bawahannya, (3) Pemilik perusahaan dan kreditor.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pihak yang melakukan proses pemantauan dan
pemeriksaan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh pihak-pihak tersebut diatas. Aktivitas
pihak-pihak tersebut, dinilai lewat kinerja keuangannya yang tercermin dalam laporan
keuangan. Lebih lanjut dalam agency theory, pemilik perusahaan membutuhkan auditor untuk
memverifikasi informasi yang diberikan manajemen kepada pihak perusahaan. Sebaliknya,
manajemen memerlukan auditor untuk memberikan legitimasi atas kinerja yang mereka
lakukan (dalam bentuk laporan keuangan), sehingga mereka layak mendapatkan insentif atas
kinerja tersebut. Disisi lain, kreditor membutuhkan auditor untuk memastikan bahwa uang
yang mereka kucurkan untuk membiayai kegiatan perusahaan, benar-benar digunakan sesuai
dengan persetujuan yang ada, sehingga kreditor bisa menerima bunga atas pinjaman yang
diberikan.
Pengawasan atau monitoring yang dilakukan oleh pihak independen memerlukan
biaya atau monitoring cost dalam bentuk biaya audit, yang merupakan salah satu dari agency
cost (Jensen dan Meckling, 1976). Biaya pengawasan (monitoring cost) merupakan biaya
untuk mengawasi perilaku agent apakah agent telah bertindak sesuai kepentingan
principal dengan melaporkan secara akurat semua aktivitas yang telah ditugaskan kepada
manajer. Uraian tersebut diatas memberi makna bahwa auditor merupakan pihak yang
dianggap dapat menjembatani kepentingan pihak pemegang saham (principal) dengan pihak
manajer (agent) dalam mengelola keuangan perusahaan (Setiawan, 2006) termasuk menilai
kelayakan strategi manajemen dalam upaya untuk mengatasi kesulitan keuangan perusahaan.
4
Auditor independen melakukan fungsi pengawasan atau monitoring atas pekerjaan manajer
melalui sebuah sarana yaitu laporan keuangan, sehingga auditor akan melakukan proses audit
terhadap kewajaran laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan modal dan laporan arus kas termasuk catatan atas laporan keuangan yang
kemudian akan memberikan pendapat atas pekerjaan auditnya dalam bentuk opini audit.
Auditor independen melakukan pengawasan atau monitoringkarena manajer berkeinginan
untuk menyajikan laporan keuangan agar tampak lebih baik dari kondisi senyatanya
(Cosserat, 1999). Sejalan dengan pendekatan audit topdownholistic, auditor berkewajiban
untuk mengevaluasi resiko bisnis klien (Boynton, 2002). Perusahaan yang
mengalami financial distress memiliki resiko bisnis yang lebih besar. Oleh karena itu, auditor
akan mempertimbangkan rencana dan tindakan stratejik yang dilakukan manajemen,
khususnya rencana manajemen yang terlalu optimistik (Hackenbrack dan Nelson, 1996).
Pengguna laporan keuangan akan mengambil keputusan ekonomi atas dasar laporan
keuangan auditan. Oleh karena itu, opini tentang kemampuan perusahaan untuk melanjutkan
usahanya merupakan informasi penting bagi pengguna laporan keuangan. Opini going
concern, yang secara jelas menyebutkan adanya keraguan auditor akan kemampuan
perusahaan untuk melanjutkan usahanya merupakan signal bahwa perusahaan sedang
menghadapi masalah going concern, seperti masalah kesulitan keuangan.

1.3 Konflik Antara Manajer Dan Agen


Agency Theory menimbulkan masalah "perilaku yang mementingkan diri sendiri”
dalam organisasi. Manajer Sebuah perusahaan relatif memiliki tujuan-tujuan pribadi yang
bertentangan dengan tujuan untuk memaksimalkan kekayaan pemilik pemegang saham.
Karena manajer pemegang saham memiliki hak untuk mengelola aset perusahaan, sebuah
potensi konflik kepentingan muncul antara dua kelompok. Perbedaan kepentingan antara
prinsipal dan agen inilah disebut dengan Agency Problem, yang salah satunya disebabkan
oleh adanya Asymmetric Information.
Asymmetric Information (AI), yaitu ketidakseimbangan informasi yang disebabkan
karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen. Dalam hal ini,
prinsipal seharusnya memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam mengukur tingkat hasil
yang diperoleh dari usaha agen, namun ternyata informasi tentang ukuran keberhasilan yang
diperoleh oleh prinsipal tidak seluruhnya disajikan oleh agen. Sebagai akibatnya, informasi
yang diperoleh prinsipal kurang lengkap sehingga tetap tidak dapat menjelaskan kinerja agen
yang sesungguhnya dalam mengelola kekayaan prinsipal yang dipercayakan kepada agen.

5
Akibat adanya informasi yang tidak seimbang ini dapat menimbulkan 2 permasalahan
yang menyebabkan adanya kesulitan prinsipal untuk memonitor dan melakukan kontrol
terhadap tindakan-tindakan agen. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan permasalahan
tersebut adalah :
(a) Moral Hazard
Moral hazard adalah permasalahan yang muncul jika agen tidak melaksanakan hal-
hal yang telah disepakati bersama dalam kontrak kerja.
(b) Adverse Selection
Adverse selection adalah suatu keadaan di mana prinsipal tidak dapat mengetahui
apakah suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas
informasi yang telah diperolehnya, atau terjadi sebagai sebuah kelalaian dalam
tugas.
Adanya agency problem di atas, menimbulkan biaya keagenan yang menurut Jensen dan
Meckling (1976) terdiri dari :
a. The monitoring expenditures by the principle
Biaya monitoring dikeluarkan oleh prinsipal untuk memonitor prilaku agen,
termasuk juga usaha untuk mengendalikan perilaku agen melalui budget restriction
dan compensation policies.
b. The bonding expenditures by the agent.
The bonding cost dikeluarkan oleh agen untuk menjamin bahwa agen tidak
akan menggunakan tindakan tertentu yang akan merugikan prinsipal atau untuk
menjamin bahwa prinsipal akan diberi kompensasi jika ia tidak mengambil banyak
tindakan.
c. The residual loss
The residual loss merupakan penurunan tingkat kesejahteraan prinsipal
maupun agen setelah adanya agency relationship.

1.4 Biaya Dari Konflik Pemegang Saham Dan Manajemen


Biaya Agency didefinisikan sebagai biaya yang ditanggung oleh pemegang saham
untuk mendorong manajer dalam memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham daripada
berperilaku mementingkan diri sendiri. Gagasan biaya agen mungkin dihubungkan dengan
Jurnal pada makalah yang berjudul Journal of Finance pada tahun 1976 oleh Michael Jensen
dan William Meckling, yang menyarankan tingkat utang perusahaan dan tingkat manajemen

6
ekuitas baik dipengaruhi oleh keinginan untuk mengendalikan biaya kantor. Ada tiga jenis
utama dari biaya agen yaitu :
1) Pengeluaran untuk memantau kegiatan manajerial.
2) Pengeluaran untuk struktur organisasi dengan cara yang membatasi perilaku
manajerial yang tidak diinginkan.
3) Biaya kesempatan yang dapat terjadi ketika pemegang saham-dikenakan pembatasan.

1.5 Mekanisme Untuk Menghadapi Konflik Antara Manajer Dan Pemegang Saham
Ada dua posisi kunci untuk menghadapi konflik-konflik agency pemegang saham dan
manager. Pada keadaan ekstrim, manajer perusahaan bertindak sepenuhnya berdasarkan
perubahan harga saham. Dalam hal ini, biaya agen akan rendah karena manajer memiliki
insentif besar untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham hal tersebut tentu akan
sangat sulit, olehkarena itu, dalam keadaan tersebut menyewa manajer berbakat di bawah
ikatan kontrak karena pendapatan perusahaan akan dipengaruhi oleh peristiwa ekonomi yang
tidak berada di bawah kendali manajerial. Pada keadaan ekstrim lainnya, pemegang saham
dapat memonitor setiap tindakan manajerial, tapi ini akan sangat mahal dan tidak efisien.
Solusi optimal terletak di antara ekstrim, di mana kompensasi eksekutif terkait dengan
kinerja, tetapi beberapa pemantauan juga dilakukan.
Selain pemantauan, mekanisme berikut ini mendorong para manajer untuk bertindak
dalam kepentingan pemegang saham yaitu insentif berbasis kinerja rencana, intervensi
langsung oleh pemegang saham, ancaman penembakan, dan ancaman pengambilan alihan.
Sebagian besar perusahaan publik kini memberlakukan kinerja saham, dimana saham yang
diberikan kepada eksekutif berdasarkan kinerja seperti yang didefinisikan oleh tindakan
keuangan seperti laba per saham, imbal hasil aset, imbal hasil ekuitas, dan perubahan harga
saham. Jika kinerja perusahaan berada di atas target kinerja, manajer perusahaan
mendapatkan lebih banyak saham. Jika kinerja di bawah target, mereka menerima lebih
sedikit dari 100 persen saham. rencana kompensasi insentif berbasis kinerja seperti saham,
dirancang untuk memenuhi dua tujuan. Pertama, mereka menawarkan insentif eksekutif
untuk mengambil tindakan yang akan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Kedua,
rencana ini membantu perusahaan menarik dan mempertahankan manajer yang memiliki
kepercayaan diri untuk risiko masa depan keuangan mereka pada kemampuan mereka sendiri
yang harus mengarah pada kinerja yang lebih baik.
Peningkatan persentase saham biasa di perusahaan Amerika dimiliki oleh investor
institusional seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, dan reksadana. Manajer keuangan
institusional memiliki pengaruh, jika mereka memilih, untuk menggunakan pengaruh yang
cukup besar atas operasi perusahaan. Kelembagaan investor dapat mempengaruhi manajer

7
sebuah perusahaan dalam dua cara utama. Pertama, mereka dapat bertemu dengan
manajemen perusahaan dan menawarkan saran-saran mengenai operasi perusahaan. Kedua,
pemegang saham institusional dapat mensponsori proposal untuk dipilih di dalam rapat
umum pemegang saham tahunan, bahkan jika proposal ini ditentang oleh manajemen.
Meskipun proposal pemegang saham yang disponsori tersebut nonbinding dan melibatkan
isu-isu di luar operasi sehari-hari, hasil suara ini jelas mempengaruhi pendapat manajemen.
Di masa lalu, kemungkinan manajemen sebuah perusahaan besar digulingkan oleh
pemegang saham yang begitu jauh merupakan ancaman kecil. Ini benar karena kepemilikan
sebagian besar perusahaan sangat luas, dan kontrol manajemen mengenai mekanisme suara
begitu kuat, sehingga hampir tidak mungkin bagi pemegang saham pembangkang untuk
mendapatkan suara yang diperlukan untuk menghapus manajer. Dalam beberapa tahun
terakhir, bagaimanapun, kepala petugas eksekutif di American Express Co, General Motors
Corp, IBM, dan Kmart semua mengundurkan diri di tengah-tengah oposisi institusional dan
spekulasi bahwa keberangkatan mereka terkait dengan kinerja operasi perusahaan mereka
yang rendah.
Pengambilalihan secara tidak baik, yang terjadi ketika manajemen tidak ingin menjual
perusahaan, yang paling mungkin untuk mengembangkan saat saham suatu perusahaan
adalah dibawah nilai relatif terhadap potensi karena pengelolaan yang tidak memadai. Dalam
pengambilalihan secara tidak baik, para manajer senior dari perusahaan yang diakuisisi
biasanya diberhentikan, dan mereka yang ditahan kehilangan kemerdekaan mereka sebelum
terjadi akuisisi. Ancaman dari disiplin pengambilalihan secara tidak baik mengubah perilaku
manajerial dan mendorong manajer berusaha untuk memaksimalkan nilai pemegang saham.
Menurut Bathala et al, (1994) terdapat beberapa cara yang digunakan untuk
mengurangi konflik kepentingan, yaitu : a) meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen (insider ownership), b) meningkatkan rasio dividen terhadap laba bersih (earning
after tax), c) meningkatkan sumber pendanaan melalui utang, d) kepemilikan saham oleh
institusi (institutional holdings). Sedangkan dalam penelitian Masdupi (2005) dikemukakan
beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengurangi masalah keagenan :
1. Pertama, dengan meningkatkan insider ownership. Perusahaan meningkatkan
bagian kepemilikan manajemen untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan
pemegang saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham.
Dengan meningkatkan persentase kepemilikan, manajer menjadi termotivasi
untuk meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran
pemegang saham.

8
2. Kedua, dengan pendekatan pengawasan eksternal yang dilakukan melalui
penggunaan hutang. Penambahan hutang dalam struktur modal dapat mengurangi
penggunaan saham sehingga meminimalisasi biaya keagenan ekuitas. Akan
tetapi, perusahaan memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjaman dan
membayarkan beban bunga secara periodik.
3. Ketiga, institutional investor sebagai monitoring agent. Moh’d et al, (1998)
menyatakan bahwa bentuk distribusi saham dari luar (outside shareholders)
yaitu institutional investor dan shareholders dispersion dapat mengurangi biaya
keagenan ekuitas (agency cost). Hal ini disebabkan karena kepemilikan
merupakan sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau
menantang keberadaan manajemen, maka konsentrasi atau
penyebaran power menjadi suatu hal yang relevan dalam perusahaan.

KESIMPULAN

9
DAFTAR PUSTAKA

http://anhyfreedom.blogspot.co.id/2013/01/teori-keagenan-agency-theory.html
https://bungrandhy.wordpress.com/2013/01/12/teori-keagenan-agency-theory/
http://muwahidummah.blogspot.co.id/2013/10/teori-agensi.html

10