Anda di halaman 1dari 58
PENGARUH PEMBERIAN BIJI KETUMBAR ( Coriandrum sativum L) TERHADAP ORGAN DALAM AYAM BROILER Sherly Andika

PENGARUH PEMBERIAN BIJI KETUMBAR (Coriandrum sativum L) TERHADAP ORGAN DALAM AYAM BROILER

Sherly Andika Sari

D24080187

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

RINGKASAN

Sherly Andika Sari. D24080187. 2012. Pengaruh Pemberian Biji Ketumbar (Coriandrum sativum L) terhadap Organ Dalam Ayam Broiler. Skripsi. Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama

Pembimbing Anggota : Ir. Lidy Herawati, MS.

: Dr.Ir. Rita Mutia, M.Agr.

Ketumbar adalah jenis herbal yang aman dikonsumsi pada batas normal oleh ternak tanpa mengakibatkan efek samping dalam mengurangi tingkat stress. Dalam penelitian ini biji ketumbar dipakai untuk dipelajari pengaruhnya terhadap ayam broiler yang dipelihara secara intensif. Ketumbar mengandung minyak atsiri dengan salah satu zat aktifnya yaitu flavonoid yang bersifat antibakteri dan antioksidan yang mampu meningkatkan kerja sistem imun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemberian biji ketumbar yang dicampur pada ransum terhadap organ dalam ayam broiler. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang (Kandang B), Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Sebanyak 120 ekor ayam broiler umur satu hari (DOC) dibagi kedalam 4 perlakuan dan 3 ulangan (10 ekor/kandang). Pakan perlakuan terdiri atas P0 (kontrol), P1 (pemberian 1% biji ketumbar), P2 (pemberian 2% biji ketumbar) dan P3 (pemberian 3% biji ketumbar). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (analysis of variance, ANOVA). Perlakuan yang memberikan pengaruh nyata terhadap peubah yang diamati akan dilakukan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan biji ketumbar tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol pada gizzard, duodenum, illeum, pankreas, seka, hati, jantung dan limpa. Pemberian perlakuan biji ketumbar berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol bursa fabrisius. Bobot Bursa fabrisius berkisar antara 0,16-0,24%. Perlakuan ketumbar untuk peubah bobot timus sangat berbeda nyata (P<0,01) yang berkisar antara 0,20-0,40 %. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian biji ketumbar sampai level 3% tidak berpengaruh terhadap gizzard, duodenum, jejenum, illeum, pankreas, seka, hati, jantung dan limpa ayam broiler umur 5 minggu. Pemberian biji ketumbar sampai level 2% meningkatkan bobot bursa fabrisius dan pemberian biji ketumbar sampai level 3% meningkatkan bobot timus

Kata-kata kunci : antioksidan, flavonoid, herbal, ketumbar, stress,

ABSTRACT

Effects of coriander seeds (Coriandrum sativum L) on the Internal Organs of Broilers.

S A. Sari, R. Mutia, and L. Herawati

Herb is plant used as a medicine, seasoning, or flavoring. When consumed by livestock in a normal dosage, it can reduce stress without any negative effects. In this study, coriander, a type of herb, was given to the broilers which were reared intensively. Coriander contains flavonoid, which is antibacterial in nature, and it also has an antioxidant that can enhance the work of immune system. The objective of this experiment was to study the effect of coriander seed in the diet on the internal organs of broilers. The research was conducted in the Laboratory of Poultry Production (Cage B), Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University. This study used by a completely randomized design (CRD). The study involved 120 DOC with 4 dietary treatments and 3 replication (10 broilers / cage). The dietary treatments consisted of P0 (control, without corianders seeds), P1 (1% coriander seeds), P2 (2% coriander seeds) and P3 (3% coriander seeds). The data obtained were analyzed using analysis of variance, ANOVA. The treatment that indicated a significant effect on the observed variables would be further tested by using Duncan. The research results show that the treatment of giving coriander seeds were not significant different (P> 0.05) compared to the control on gizzard, duodenum, jejenum, illeum, pancreas, seka, liver, heart and spleen. The coriander seeds treatment was significantly different (P <0.05) compared to the control on the bursa fabrisius and highly significantly different (P <0.01) on thymus weight. Coriander seeds treatment up to the level of 3% had no effects on the gizzard, duodenum, jejenum, illeum, pancreas, seka, liver, heart, kidneys, and spleen of broilers aged 5 weeks. The coriander seeds treatment up to the level of 2% increased the weight of bursa fabrisius and coriander seeds treatment up to the level of 3% increased the weight thymus.

Keywords: antioxidant, coriander, flavonoid, herb, stress,

Judul

: Pengaruh Pemberian Ketumbar (Coriandrum sativum L) terhadap Organ Dalam Ayam Broiler

Nama : Sherly Andika Sari

NIM

: D24080187

Pembimbing Utama

(Dr.Ir. Rita Mutia, M.Agr.) NIP : 19630917 198803 2 001

Menyetujui,

Pembimbing Anggota

(Ir. Lidy Herawati, MS.) NIP : 19620914 198703 2 009

Mengetahui:

Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

(Dr.Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr.) NIP : 19670506 199103 1 001

Tanggal Ujian : 20 Juli 2012

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Sherly Andika Sari,

dilahirkan pada tanggal 8 Agustus 1991 di Pangkalpinang,

Kecamatan Gerunggang, Bangka Belitung. Penulis adalah

anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak

Nurjali dan Ibu Sunarti.

Pendidikan dasar diselesaikan pada tahun 2002 di

Sunarti. Pendidikan dasar diselesaikan pada tahun 2002 di SD Negeri 81 Pangkalpinang, Kecamatan Gerunggang, Bangka

SD Negeri 81 Pangkalpinang, Kecamatan Gerunggang,

Bangka Belitung. Pendidikan lanjutan menengah pertama

diselesaikan pada tahun 2005 di SLTP Negeri 3

Pangkalpinang dan pendidikan lanjutan menengah atas diselesaikan pada tahun 2008

di SMA Negeri 4 Pangkalpinang, Bangka Belitung. Penulis diterima sebagai

mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,

Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada

tahun 2008.

Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah magang di Balai Embrio Ternak,

Cipelang, Bogor. Penulis juga pernah berkesempatan menjadi panitia dalam acara

yang diadakan HIMASITER.

Bogor, Agustus 2012

Sherly Andika Sari

D24080187

.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirabbil’alamin. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Biji Ketumbar (Coriandrum Sativum L) Dalam Ransum Terhadap Organ Dalam Ayam Broiler”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan biji ketumbar dalam ransum terhadap organ dalam ayam broiler. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli- Agustus 2011 di Laboratorium Lapang (Kandang B) Bagian Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisa proksimat kandungan ketumbar dan ransum dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pertumbuhan ayam broiler tyang cepat dan efisien dalam mengubah makanan menjadi daging, umumnya mudah mengalami stress yang disebabkan oleh berbagai sumber antara lain praktek manajemen, nutrisi, dan kondisi lingkungan Indonesia yang merupakan daerah tropis secara umum suhu dan kelembaban lingkungan hariannya tinggi sehingga berpotensi untuk memberikan cekaman panas pada pengembangan ayam broiler. Kerugian yang ditimbulkan dari stress panas adalah dapat menurunkan produksi, konsumsi ransum, daya tahan tubuh, meningkatkan oksidasi sel, dan mortalitas. Skripsi ini ditulis sebagai upaya mencari solusi untuk mengatasi masalah di atas. Pemanfaatan biji ketumbar yang ditambahkan ke dalam ransum diharapkan dapat mengurangi stress akibat cekaman panas lingkungan sehingga organ dalam ayam broiler berfungsi normal. Dalam skripsi ini ditampilkan penelusuran pustaka dan pembahasan pengaruh biji ketumbar dalam ransum terhadap organ dalam ayam broiler. Skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat baik untuk kalangan peternak ayam broiler yang ingin menggunakan biji ketumbar sebagai pakan alternatif dan juga kalangan akademis sebagai sumber referensi.

Bogor,Agustus 2012

Penulis

DAFTAR ISI

RINGKASAN

ABSTRACT

LEMBAR PERNYATAAN

LEMBAR PENGESAHAN

RIWAYAT HIDUP

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang Tujuan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Ketumbar Komposisi Minyak Ketumbar Sifat Fisika Kimia dan Mutu Minyak Ketumbar Perkembangan Ketumbar di Indonesia Ayam Broiler Saluran Pencernaan Unggas Gizzard Usus Halus Pankreas Seka Hati Jantung Limpa Ginjal Timus Bursa Fabrisius Lingkungan Ternak Cekaman Panas

MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu Materi

Ternak Kandang dan Peralatan

Halaman

i

ii

iii

iv

v

vi

vii

ix

x

xi

1

1

2

3

3

5

6

8

9

9

11

11

12

12

13

13

14

15

15

16

17

19

19

19

19

19

Peralatan Penunjang Ransum dan Air Minum Prosedur Pemilihan Biji Ketumbar Pembuatan Ransum Tahap Pembuatan Ransum Pemberian Air minum Pemeliharaan Ternak dan Penerapan Perlakuan Pengukuran Organ Pencernaan dan Organ Dalam Rancangan Percobaan …… Peubah yang Diamati

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Proksimat Ketumbar ……………………………… Pemberian Ketumbar terhadap Organ Pencernaan Ayam BroilerGizzard Duodenum Jejenum Illeum Seka Pankreas Hati Pemberian Ketumbar terhadap Organ Dalam Ayam Broiler ……… Jantung Ginjal Limpa Bursa Fabrisius Timus

KESIMPULAN ……………………………………………

Kesimpulan

Saran

UCAPAN TERIMA KASIH

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………

LAMPIRAN ……………………………

………

……………………………

19

20

20

20

20

22

22

22

23

23

24

24

25

25

26

27

27

27

27

27

27

28

28

28

29

29

30

32

32

33

34

38

Nomor

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Komposisi Kimia Minyak Ketumbar

5

2. Sifat Fisika Kimia Minyak Ketumbar

7

3. Volume dan nilai impor ketumbar serta pertumbuhannya

9

4. Hasil Analisa Proksimat Pada Pakan Penelitian

21

5. Kandungan Nutrien Ketumbar

25

6. Pengaruh Pemberian Ketumbar Terhadap Organ Pencernaan

6

7. Pengaruh Pemberian Ketumbar Terhadap Organ Dalam

28

Nomor

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Tahap Pembuatan Ransum

22

2. Rataan jumlah Bursa Fabrisius Ayam Broiler

29

3. Hubungan Level Pemberian Ketumbar dengan Bobot Bursa Fabrisius Ayam Broiler

30

4. Rataan Jumlah Timus Ayam Broiler

30

5. Hubungan Level Pemberian Ketumbar dengan Bobot Timus Ayam Broiler

31

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

1. Analisis Ragam Bobot Relatif Hati ……………

2. Analisis Ragam Bobot Relatif Jantung

3. Analisis Ragam Bobot Relatif Bursa Fabrisius …………

4. Analisis Ragam Bobot Relatif Limpa ……………

5. Analisis Ragam Bobot Relatif Gizzard ………………

6. Analisis Ragam Bobot Relatif Ginjal

7. Analisis Ragam Bobot Relatif Timus

8. Analisis Ragam Panjang Duodenum

9. Analisis Ragam Bobot Relatif Duodenum

10. Analisis Ragam Panjang Jejenum

11. Analisis Ragam Bobot Relatif Jejenum

12. Analisis Ragam Panjang Illeum

13. Analisis Ragam Bobot Relatif Illeum

14. Analisis Ragam Panjang Seka

15. Analisis Ragam Bobot Relatif Seka

16. Analisis Ragam Bobot Relatif Pankreas

Halaman

39

39

39

39

40

40

40

40

41

41

41

41

42

42

42

42

PENDAHULUAN

Latar Belakang Imbuhan pakan atau feed additives adalah suatu bahan yang dicampurkan di dalam pakan yang dapat mempengaruhi kesehatan, produktivitas, maupun keadaan gizi ternak, meskipun bahan tersebut bukan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi (Adam, 2000). Imbuhan pakan yang sudah umum digunakan dalam industri perunggasan salah satunya adalah antibiotika. Mekanisme kerja antibiotika pada prinsipnya adalah untuk mengurangi populasi bakteri di dalam saluran pencernaan sehingga meningkatkan ketersediaan zat gizi ransum dan penyerapannya dan akhirnya dapat memacu pertumbuhan ternak (Walton, 1977). Aktivitas organ tubuh merupakan pencerminan dari performa ternak. Untuk mencapai performa maksimal, peternak perlu mengetahui dan memahami organ-organ tubuh dan fungsinya sehingga dapat dilakukan rekayasa sehingga tercipta manajemen pemeliharaan yang efisien dan menghasilkan prduksi maksimal sesuai potensi genetik (Kartasudjana et al., 2008) Ayam broiler merupakan salah satu jenis ayam yang banyak dibudidaya karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Daging ayam broiler juga merupakan sumber protein hewani yang murah, aman, mudah didapat dan diolah. Keunggulan- keunggulan ini menjadikan ayam broiler dapat diandalkan sebagai penyuplai sumber protein hewani yang utama. Daging ayam broiler yang aman dalam hal ini adalah bebas dari residu akibat penggunaan antibiotika yang berlebihan yang dikhawatirkan akan menimbulkan alergi pada konsumen, gangguan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan serta resistensi mikroorganisme terhadap antibiotika (Bogaard et al., 2000). Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti antibiotika adalah zat aktif yang terdapat dalam tanaman herbal. Tanaman herbal mengandung zat aktif seperti flavonoid, alkaloid, glikosida, saponin dan tanin yang dapat meningkatkan kesehatan karena berperan sebagai antioksidan (Sreenives, 1999). Aktivitas antioksidan dalam rempah-rempah berperan penting dalam menghambat replikasi virus, inflamasi, menghambat alergi dan radang sendi, mencegah kanker dan penyakit jantung, dan untuk menetralkan racun (Aggarwal et al., 2002).

Tanaman herbal yang sudah banyak diteliti penggunaannya untuk ternak diantaranya adalah temulawak (Zainuddin et al., 2001), bawang putih (Chowdhury et al., 2002), kunyit (Kim et al., 2005). Dari berbagai macam tanaman herbal yang banyak digunakan, salah satunya yang sangat potensil untuk digunakan sebagai imbuhan pakan pengganti antibiotika pada unggas adalah ketumbar. Ketumbar (Coriandrum sativum L) merupakan salah satu jenis tanaman bumbu-bumbuan yang sejak lama digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat atau untuk meningkatkan cita rasa bahan pangan (Purseglove et al., 1981). Ketumbar (Coriandrum sativum L) memiliki reputasi yang bagus sebagai komponen obat, minyak atsiri pada ketumbar memiliki antioksidan (Wangensteen et al., 2004) dan efek stimulasi dalam proses pencernaan (Cabuk et al., 2003). Namun, belum banyak laporan yang tersedia tentang dampak biji ketumbar pada ternak unggas.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan biji ketumbar dalam ransum terhadap fungsi fisiologi organ dalam ayam broiler meliputi gizzard, usus halus, seka, pankreas, hati, jantung, limpa, bursa fabrisius dan timus sehingga meningkatkan ketersediaan zat gizi ransum dan penyerapannya dan akhirnya dapat memacu pertumbuhan ternak.

TINJAUAN PUSTAKA

Ketumbar Tanaman ketumbar (Coriandrum sativum Linn) diduga berasal dari sekitar Laut Tengah dan Pegunungan Kaukasus di Timur Tengah. Di Indonesia, tanaman ketumbar belum dibudidayakan secara intensif dalam skala luas, penanaman hanya terbatas pada lahan pekarangan dengan sistem tumpangsari dan jarang secara monokultur. Tanaman ketumbar (Coriandrum sativum Linn) diduga berasal dari sekitar Laut Tengah dan Pegunungan Kaukasus di Timur Tengah. Tanaman ketumbar di Indonesia dikenal dengan sebutan katuncar (Sunda), ketumbar (Jawa dan Gayo), katumbare (Makassar dan Bugis), katombar (Madura), ketumba (Aceh), hatumbar (Medan), katumba (Padang), dan katumba (Nusa Tenggara) (Hadipoentyani dan Wahyuni, 2004). Tanaman ketumbar berupa semak semusim, dengan tinggi sekitar satu meter. Akarnya tunggang bulat, bercabang, dan berwarna putih. Batangnya berkayu lunak, beralur, dan berlubang dengan percabangan dichotom berwarna hijau. Tangkainya berukuran sekitar 5-10 cm. Daunnya majemuk, menyirip, berselundang dengan tepi hijau keputihan. Buahnya berbentuk bulat, waktu masih muda berwarna hijau, dan setelah tua berwarna kuning kecokelatan. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna kuning kecokelatan (Hadipoentyani dan Wahyuni, 2004; Astawan, 2009). Ketumbar dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini dipanen setelah berumur tiga bulan, kemudian dijemur, dan buahnya berwarna kecoklatan dipisahkan dari tanamannya. Hasil panen umumnya dijual ke pasar tradisional untuk keperluan bumbu rumah tangga (Hadipoentyani dan Wahyuni, 2004; Astawan, 2009). Tanaman ketumbar di Indonesia belum dibudidayakan secara intensif dalam skala luas, penanamannya hanya terbatas pada lahan pekarangan dengan sistem tumpangsari, dan jarang secara monokultur. Produksi biji ketumbar tertinggi tercatat sebesar 1.500 ton/tahun (Badan Pusat Statstik, 2005). Daerah penanaman yang cocok dan sudah berproduksi adalah Cipanas, Cibodas, Jember, Boyolali, Salatiga, Temanggung, dan sebagian daerah di Sumatera Barat (Astawan, 2009).

Perkembangan Pertumbuhan Ketumbar di Indonesia Ketumbar merupakan tanaman asli dari daratan Eropa Timur, kemudian menyebar ke India, Marocco, Pakistan, Rumania dan Rusia (Purseglove et al., 1981). Rusia merupakan produsen terbesar rempah-rempah, sedang untuk ketumbar, India merupakan produsen terbesar dengan daerah-daerah penyebarannya meliputi Madras, Madya Pradesh, Bombay, Mysore dan Bihar. Negara-negara produsen ketumbar lainnya adalah Iran, Turki, Mesir, Libanon dan Israel. Ketumbar dapat tumbuh pada kisaran iklim yang lebar, tetapi dapat tumbuh dengan baik pada tanah-tanah medium sampai berat pada lokasi yang subur, berdrainase baik dan kondisi lembab (Purseglove et al., 1981). Produksi pohon ketumbar di Indonesia baru sebatas diambil daunnya yang masih muda untuk lalab, sayuran dan konsumsi swalayan. Produksi dalam bentuk biji masih rendah, sehingga untuk memenuhi kebutuhan bumbu dapur, penyedap rasa dan untuk industri penyamak kulit setiap tahunnya harus mengimpor dari India, Rusia, Eropa Timur dan negara produsen lainnya dalam volume yang cukup besar antara 6.222.832 kg tahun 2004 (Badan Pusat Statistik, 2005). Besarnya impor ketumbar berfluktuasi, tetapi kecenderungannya selalu meningkat rata-rata sekitar 11,71% per tahun dari tahun 19912005 (Tabel 1). Daerah penanaman yang dianggap cocok dan sudah ada tanamannya adalah Cipanas, Cibodas, Temanggung, Jember dan Sumatera Barat (Wahab dan Hasanah, 1996). Penanaman biasanya disela-sela bedengan tanaman wortel. Penanaman komoditas ketumbar secara luas belum terdata secara pasti walaupun telah lama digunakan di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanaman ketumbar belum diperhatikan oleh petani maupun pengusaha di bidang pertanian. Berikut pertumbuhan serta nilai impor ketumbar disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Volume dan Nilai Impor Ketumbar serta Pertumbuhannya

Tahun

Volume (kg)

Pertumbuhan(%)

Nilai (US $)

Pertumbuhan(%)

1991

5.450.626

-

2.268.832

-

1992

9.489.567

74,1

4.918.327

116,77

1993

10.377.594

9,35

4.123.283

-16,16

1994

6.480.936

-3,75

2.571.685

-37,63

1995

6.405.832

-1,15

2.286.131

-11,1

1996

7.958.029

24,23

3.795.046

66,04

1997

9.046.600

13,67

4.369.046

15,09

1998

7.703.923

-14,84

2.895.809

-83,7

1999

11.531.408

49,68

3.064.437

5,87

2000

8.947.338

-22,4

2.510.503

-22,06

2001

9.244.317

3,32

2.865.280

14,13

2002

9.695.702

4,88

3.551.953

23,96

2003

6.613.014

-31,79

2.741.475

-22,81

2004

15.165.938

129,33

5.525.710

112,65

2005

6.222.832

-58,96

2.062.503

-62,67

 

8.728.910,40

11,71

3.303.334,60

6,55

Sumber : Badan Pusat Statistik (2005)

Kandungan Gizi dan Khasiat Ketumbar Biji ketumbar (Coriandrum sativum L) juga merupakan salah satu jenis tanaman bumbu-bumbuan yang sejak lama digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat atau untuk meningkatkan cita rasa bahan pangan (Purseglove et al., 1981). Zat yang terkandung pada minyak atsiri selain fenol adalah flavonoid. Flavonoid bersifat antibakteri dan antioksidan (Wangensteen et al., 2004), mampu meningkatkan kerja sistem imun karena leukosit sebagai pemakan benda asing lebih cepat dihasilkan dan sistem limfa lebih cepat diaktifkan (Angka, 2004). Beberapa tipe senyawa flavonoid yang terdapat di dalam biji ketumbar adalah kuersetin, asam ferulat, rutin, koumarat, asam proto katekuat dan asam vanilat. Tipe-tipe tersebut merupakan derivat dari asam sinamat dan flavonol. Biji ketumbar juga mengandung berbagai macam mineral. Mineral yang banyak terkandung pada biji ketumbar adalah kalsium, fosfor, magnesium, potasium, dan besi. Kalsium selain berperan sebagai mineral tulang, juga berperan menjaga tekanan darah agar tetap normal. Mineral fosfor berperan dalam pembentukan dan

pertumbuhan tulang. Fosfor juga berperan dalam menjaga keseimbangan asam dan basa tubuh. Magnesium merupakan mineral yang berperan dalam metabolisme kalsium dan potasium, serta membantu kerja enzim dalam metabolisme energi. Potasium membantu keseimbangan cairan elektrolit dalam tubuh. Besi merupakan mineral yang dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah, hemoglobin, dan mioglobin otot (Fauci et al., 2008; Astawan, 2009). Vitamin yang banyak terkandung dalam biji ketumbar adalah vitamin C dan B. Vitamin C berberan sebagai antioksidan. Antioksidan berperan dalam mencegah dan mengurangi bahaya yang ditimbulkan radikal bebas. Radikal bebas adalah suatu senyawa yang dapat mengganggu metabolisme tubuh yang berbahaya bagi kesehatan (Wangensteen et al., 2004). Niasin adalah salah satu jenis vitamin B yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh, terutama metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak menjadi bentuk energi yang dapat digunakan oleh tubuh. Kandungan vitamin dan mineral yang dimiliki biji ketumbar ini sangat berkhasiat sebagai stimulan atau membantu meningkatkan kesegaran tubuh (Astawan, 2009). Ketumbar berfungsi sebagai antioksidan (Wangensteen et al., 2004), antidiabetes (Gallagher et al., 2003) dan efek stimulasi dalam proses pencernaan (Cabuk et al., 2003). Aktivititas biologis di dalamnya dapat merangsang enzim pencernaan dan peningkatan fungsi hati (Hermandez et al, 2004). Minyak atsiri pada biji ketumbar memiliki sifat antimikroba terhadap spesies patogen seperti Salmonella (Isao et al., 2004). Minyak atsiri adalah cairan lembut, bersifat aromatik, dan mudah menguap pada suhu kamar. Minyak atsiri memiliki daya antibakteri disebabkan adanya senyawa fenol dan turunannya yang mampu mendenaturasi protein sel bakteri (Wangensteen et al., 2004). Daya antibakteri minyak atsiri lebih efektif karena memiliki zona hambat lebih besar dan bersifat bakterisidal. Minyak atsiri merupakan suatu produk alam yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam obat-obatan, rokok, kosmetika, bahan pewangi, farmasi, aroma makanan dan minuman, permen, aromaterapi, bahan pengawet maupun sebagai bahan pestisida (Narpati, 2000). Di Indonesia terdapat kurang lebih 50 jenis tanaman yang mengandung minyak atsiri, namun baru 14 jenis tanaman yang sudah diusahakan secara komersial dan menjadi komoditas ekspor antara lain minyak nilam, minyak seraiwangi, minyak akarwangi, minyak kenanga, minyak

cendana, minyak pala, minyak daun cengkeh, minyak kayu putih (Rusli, 2002). Salah satu minyak atsiri yang dapat dikembangkan adalah minyak ketumbar. Ketumbar (Coriandum sativum) dapat digunakan untuk sayuran, bahan penyedap dan obat-obatan, mengandung karbohidrat, lemak dan protein yang cukup tinggi (Wahab dan Hasanah, 1996). Ketumbar juga berdampak positif terhadap kesehatan karena hampir seluruh bagian tanaman dapat digunakan sebagai obat, daun yang muda untuk lalaban, analgesik dan obat sakit mata dan bunganya bersifat karminatif (Hargono, 1989). Ampas sisa dari penyulingan ketumbar setelah dikeringkan dapat digunakan untuk makanan ternak karena masih mengandung 11- 17% protein dan 11-21% lemak (Ketaren, 1985). Beberapa dari hasil penelitian, seperti di Eropa Tengah dengan cara penyulingan uap menghasilkan minyak atsiri ketumbar sebesar 0,5%. Rendemen minyak ketumbar selain dipengaruhi lama penyulingan, faktor yang lainnya adalah penanganan bahan sebelum penyulingan yaitu penghalusan bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan yang dihaluskan dapat meningkatkan rendemen minyak ketumbar. Meningkatnya rendemen minyak ketumbar dikarenakan air dan bahan lebih mudah kontak sehingga memudahkan minyak keluar dari bahan, penetrasi air atau uap ke dalam jaringan bahan akan lebih mudah akibatnya minyak akan lebih mudah keluar dari dalam jaringan bahan. Menurut Guenther (1949), buah ketumbar dari Hongaria diperoleh rendemen minyak 1,1%. Buah ketumbar dari Jerman dan Cekoslovakia masing-masing menghasilkan rendemen minyak 0,8 dan 1%. Buah ketumbar berasal dari Perancis rendemen minyaknya sekitar 0,4%, buah ketumbar berasal dari Italia 0,35%, buah ketumbar berasal dari Maroko rendemen minyaknya sekitar 0,3% sedangkan buah ketumbar dari Indonesia menghasilkan rendemen minyaknya antara 0,15-0,25% (Guenther, 1949). Berbagai kandungan rendemen minyak yang telah disebutkan diatas menunjukkan bahwa rendemen minyak atsiri dipengaruhi oleh faktor iklim, tempat tumbuh dan ketinggian tempat.

Komposisi Minyak Ketumbar

Ketumbar mempunyai aroma yang khas, aromanya disebabkan oleh komponen kimia yang terdapat dalam minyak atsiri. Ketumbar mempunyai kandungan minyak atsiri berkisar antara 0,4-1,1%, minyak ketumbar termasuk senyawa hidrokarbon beroksigen,

komponen utama minyak ketumbar adalah linalool yang jumlah sekitar 60-70% dengan

komponen pendukung yang lainnya adalah geraniol (1,6-2,6%), geranil asetat (2-3%) kamfor

(2-4%) dan mengandung senyawa golongan hidrokarbon berjumlah sekitar 20% (α-pinen, β-

pinen, dipenten, p-simen, α-terpinen dan γ-terpinen, terpinolen dan fellandren) (Lawrence

dan Reynolds, 1988; Guenther, 1990). Komposisi kimia minyak ketumbar dapat dilihat pada

Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi Kimia Minyak Ketumbar

No

Komponen

Jumlah (%)

1 Hidrokarbon, terdiri dari:

d-α-pinen dl-α-pinen β-pinen dipenten p-simen α-terpinen dan γ-terpinen terpinolen dan fellandren

20

2 Hirdrokarbon beroksigen, terdiri dari:

d-linalool

n-desil aldehid

geraniol

l-borneol

asam asetat

asam desilat

60-70

Sumber : Guenther (1990)

Berdasarkan jenis unsur penyusun senyawa minyak atsiri, minyak ketumbar termasuk golongan senyawa hidrokarbon beroksigen. Senyawa tersebut menimbulkan aroma wangi dalam minyak atsiri, serta lebih tahan dan stabil terhadap proses oksidasi dan resinifikasi. Tingkat kematangan ketumbar akan mempengaruhi komposisi minyak ketumbar, komposisi minyak akan menentukan mutu minyak ketumbar. Pada ketumbar yang belum masak, komponen minyaknya adalah golongan aldehid sedangkan ketumbar yang masak, komponen minyaknya adalah golongan alkohol monoterpen dan linalool. Persenyawaan linalool, jika dioksidasi akan menghasilkan sitral atau persenyawaan geraniol (Guenther, 1987).

Sifat Fisika Kimia dan Mutu Minyak Ketumbar Setiap minyak atsiri mempunyai sifat-sifat yang berbeda antar satu dengan yang lainnya. Sifat khas suatu minyak atsiri dibentuk oleh komposisi senyawa- senyawa kimia yang dikandungnya dan biasanya dinyatakan dalam sifat organoleptik dan sifat fisika kimia. Sifat organoleptik minyak atsiri dinyatakan dengan warna dan aroma, sedangkan sifat fisika kimia meliputi berat jenis, indeks bias, putaran optik, bilangan asam dan kelarutan dalam etanol 70 %, bilangan asam, bilangan ester, serta komposisi senyawa kimia yang dikandungnya dapat dijadikan kriteria untuk menentukan tingkat mutu dari minyak. Sifat kimia menyatakan jumlah atau besaran kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam minyak atsiri tersebut (Guenther, 1987). Nilai-nilai sifat fisika kimia minyak atsiri merupakan gambaran umum minyak atsiri. Nilai-nilai tersebut digunakan sebagai patokan dalam perdagangan, baik di dalam negeri (Standar Nasional Indonesia) maupun Internasional (Standar Internasional). Sifat fisika kimia minyak ketumbar dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Sifat Fisika Kimia Minyak Ketumbar

Karakteristik

Nilai

Berat jenis, pada 15 o C Putaran optic Indeks bias pada 20 o C

0,870-0,885, biasanya tidak lebih dari 0,878 +8 0 0’ sampai +13 o O’ 1,463 - 1,471

Bilangan asam, maks

5,0

Bilangan ester

3,0 - 22,7

Kelarutan dalam alkohol 70% pada suhu 20 o C

larut dalam 2-3 volume

Sumber : Guenther (1952) dalam Ketaren, 1985

Minyak atsiri merupakan hasil metabolisme sekunder di dalam tumbuhan. Karakteristik fisika kimia minyak atsiri setiap tanaman berbeda. Mutu minyak atsiri pada tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya jenis atau varietas tanaman, iklim, bibit unggul, kondisi lingkungan tumbuh, umur dan waktu panen, cara penanganan bahan, metode ekstraksi, penyulingan yang tepat, jenis logam alat penyulingan, jenis kemasan dan cara penyimpanan minyak (Ketaren, 1985; Rusli,

2002).

Menurut Guenther (1987), faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen minyak ketumbar dipengaruhi oleh (1) suhu pengeringan, dikeringkan dengan alat pengering, sebaiknya tidak lebih dari 40 o C, (2) tingkat kematangan buah ketumbar, buah ketumbar yang belum matang akan menghasilkan mutu dan rendemen minyak yang rendah. Ketumbar yang matang dan segera disuling menghasilkan rendemen minyak sekitar 0,83%. (3) tanah tempat tumbuh, tanaman ketumbar cocok ditanam pada tanah yang agak liat, (4) iklim, (5) ukuran bentuk buah ketumbar, buah ketumbar berukuran kecil menghasilkan rendemen minyak lebih tinggi dibandingkan buah berukuran besar dan (6) teknik penyulingan, pada penyulingan uap, jumlah air yang kontak langsung dengan bahan yang disuling, diusahakan sedikit mungkin, tetapi air harus ada untuk membantu kelancaran proses difusi, (7) varietas ketumbar, varietas Coriandrum sativum var. Microcarpum D.C diameter buahnya berkisar antara 1,5-3 mm lebih kecil kandungan minyak atsirinya lebih tinggi daripada Coriandrum sativum var. Vulgare Alet diameter buahnya berkisar antara 3-6 mm (Hadipoentyanti dan Udarno, 2002). Hasil penelitian Setyaningsih (1992), menunjukkan bahwa masak fisiologi tercapai pada saat buah ketumbar berwarna kuning sampai coklat (sekitar 4-6 bulan setelah tanam) dimulai dengan mengeringnya tangkai payung yang diikuti dengan mengerasnya pangkal perlekatan buah dengan tangkai payungnya serta buah-buah pada payung telah berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan. Senyawa linalool merupakan komponen yang menentukan intensitas aroma harum, sehingga minyak ketumbar dapat dipergunakan sebagai bahan baku parfum, aromanya seperti minyak lavender atau bergamot. Linalool banyak digunakan dalam industri farmasi sebagai obat analgesic (obat menekan rasa sakit), parfum, aroma makanan dan minuman, sabun mandi, bahan dasar lilin, sabun cuci, sintesis vitamin E dan pestisida hama gudang maupun insektisida untuk basmi kecoa dan nyamuk. Kegunaan ketumbar sebagai obat antara lain untuk diuretik (peluruh air kencing), antipiretik (penurun demam), stomatik (penguat lambung), stimulan (perangsang), laxatif (pencahar perut), antelmintif (mengeluarkan cacing), menambah selera makan, mengobati sakit empedu dan bronchitis (Wahab dan Hasanah, 1996).

Ayam Broiler

Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes, family Phasianidae, genus Gallus dan spesies Gallus domesticus yang dihasilkan dari bangsa ayam tipe berat Cornish. Ayam broiler merupakan ayam pedaging tipe berat yang lebih muda dan berukuran lebih kecil. Ayam ini dapat tumbuh sangat cepat dan dapat dipanen pada umur empat minggu untuk menghasilkan daging dan menguntungkan secara ekonomis. Bangsa ayam yang dipilih adalah yang berbulu putih dan seleksi diteruskan sehingga menghasilkan ayam broiler seperti sekarang (Amrullah, 2004). Ayam broiler merupakan ayam-ayam jantan atau betina yang menghasilkan daging dan umumnya dipanen pada umur sekitar 5-6 minggu dengan bobot badan antara 1,2-1,9 kg/ekor (Kartasudjana, 2005).

Saluran Pencernaan Unggas Sistem organ dan saluran pencernaan pada unggas terdiri dari mulut, kerongkongan, crop, proventrikulus, gizzard, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), seka, kolon dan kloaka serta organ vital lainnya seperti hati, jantung, limpa dan bursa fabricius. Setiap makanan yang masuk akan mengalami proses pencernaan (mekanik atau kimia). Organ yang berperan dalam pencernaan mekanik pada unggas adalah rempela (gizzard). Fungsi rempela untuk menggiling dan menghancurkan makanan menjadi partikel-partikel kecil dan biasanya dibantu oleh grit (Pond et al., 1995). Usus akan menerima makanan yang telah mengalami pencernaan mekanik di rempela. Usus halus yang berfungsi untuk mengabsorpsi nutrisi bahan pada ternak merupakan organ penting dalam pencernaan (Gillespie, 2004). Usus halus terdiri dari tiga bagian yang tidak terpisah secara jelas yaitu, duodenum, jejenum dan illeum (Amrullah, 2004). Duodenum merupakan bagian pertama dari usus halus yang letaknya sangat dekat dengan dinding tubuh dan dan terikat pada mesentri yang pendek yaitu mesoduodenum. Jejenum dengan mudah dapat dipisahkan dengan duodenum yang letaknya kira-kira bermula pada posisi ketika mesentri mulai terlihat memanjang (pada duodenum mesentrinya pendek). Jejenum dan illeum letaknya bersambungan dan tidak ada batas yang jelas diantaranya. Bagian terakhir dari usus halus adalah illeum yang bersambungan dengan usus besar (Frandson, 1992). Luas permukaan usus dapat meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah vili usus yang berfungsi untuk penyerapan zat-zat

makanan (Frandson, 1992). Struktur villi usus halus dipengaruhi oleh jenis ransum yang berbeda (Gillespie, 2004). Menurut Ressang (1984), fungsi usus halus dipengaruhi oleh fungsi lambung, gangguan fungsi hati dan pankreas, sakit, stress dan kesalahan susunan bahan makanan. Panjang usus halus bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh, tipe makanan dan faktor lainnya. Pada usus halus terjadi gerakan peristaltik yang berperan dalam mencampur digesta dengan cairan pankreas dan empedu. Enzim yang terdapat pada usus halus terdiri dari enzim protease (peptidase), maltase, laktase, sukrase yang berperan dalam pemecahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh usus (Pilliang dan Djojosoebagio, 2000). Amrullah (2003) menyatakan bahwa ukuran panjang, tebal dan bobot saluran pencernaan unggas bukan besaran yang statis. Perubahan dapat terjadi selama proses perkembangan karena dipengaruhi oleh jenis ransum yang diberikan. Ransum yang banyak mengandung serat akan menimbulkan perubahan ukuran saluran pencernaan sehingga menjadi lebih berat, lebih panjang, dan lebih tebal. Perubahan ini juga diikuti dengan jumlah villi usus atau jonjot usus dan kemampuan sekresi enzim- enzim pencernaan, semakin tinggi kadar serat kasar dalam ransum, maka laju pencernaan dan penyerapan zat makanan akan semakin lambat. Anggorodi (1994), menyatakan bahwa semakin tinggi kandungan serat kasar dalam suatu bahan makanan maka semakin rendah daya cerna bahan makanan tersebut.

Gizzard Gizzard terletak antara proventikulus dengan batas atas usus halus. Gizzard mempunyai dua pasang otot yang kuat dan sebuah mukosa (North dan Bell, 1990). Kontraksi otot rempela baru akan terjadi apabila makanan masuk ke dalamnya. Jika unggas biasa mendapat makanan yang kasar atau berupa bijian maka ukuran gizzardnya jauh lebih besar, lebih kuat dan berlapis epitel tanduk yang lebih tebal, ukuran gizzard mudah berubah bergantung pada jenis makanan yang biasa dimakan oleh unggas (Amrullah, 2004). Bobot gizzard dipengaruhi oleh umur, bobot badan dan makanan. Pemberian makanan yang lebih banyak akan mengakibatkan beban gizzard lebih besar untuk mencerna makanan, akibatnya urat daging gizzard akan lebih tebal sehingga memperbesar ukuran gizzard.

Amrullah (2004) menyatakan bahwa dalam gizzard berlangsung mastikasi yaitu secara mekanis makanan dicerna dan dalam organ ini sering ditemukan bebatuan kecil (grit) yang ikut menghasilkan digesta. Grit dalam gizzard berfungsi untuk mengoptimalkan pencernaan makanan yang ada di dalam karena dapat meningkatkan motilitas makanan, aktivitas menggiling makanan dan meningkatkan kecernaan ransum. Putnam (1991) menyatakan bahwa presentase berat gizzard ayam broiler berkisar 1,6-2,3% dari berat hidup.

Usus Halus Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejenum dan illeum (Sturkie, 2000). Usus halus merupakan tempat terjadinya pencernaan dan penyerapan makanan. Selaput lendir usus halus mempunyai jonjot yang lembut dan menonjol seperti jari. Fungsi usus halus selain sebagai penggerak aliran pakan dalam usus juga untuk meningkatkan penyerapan sari makanan (Akoso, 1993). Usus halus menghasilkan enzim amilase, protease, dan lipase yang berfungsi memecah zat makanan menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat diserap tubuh (Moran, 1985). Rose (1997) menyatakan bahwa ukuran usus halus pada unggas pendek sedangkan pakan yang lewat akan cepat turun dari saluran pencernaan. Panjang usus halus bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh, tipe makanan dan faktor-faktor lainnya. Bagian yang membentuk U adalah duodenum dengan kelenjar pankreas di dalamnya. Kelenjar ini mensekresikan enzim-enzim pemecah polimer pati, lemak, dan protein yaitu amilase, lipase dan tripsin. Cairan pankreas dan empedu masuk kedalam usus halus sehingga masing-masing dicerna dan dapat diserap sebagian besar di jejenum (Amrullah 2004). Dinding duodenum akan mensekresikan enzim yang mampu meningkatkan pH zat makanan yang masuk, sehingga kelarutan dan penyerapan di jejenum dan illeum akan lebih meningkat. Selain itu, duodenum merupakan pusat terjadinya lipolisis dalam tubuh, sedangkan jejenum merupakan tempat penyerapan zat makanan terbesar. Illeum merupakan tempat pertumbuhan bakteri saluran pencernaan (Anggordi, 1995).

Pankreas Pankreas adalah suatu glandula tubulo alveolar yang memiliki bagian endokrin maupun eksokrin. Bagian eksokrin dari pankreas menghasikan NaHCO 3 serta enzim-enzim pencernaan yang melalui saluran pankreas ke duodenum dekat dengan muara saluran empedu (Frandson, 1992). Pankreas terletak di antara lekukan duodenum usus halus. Organ ini adalah sebuah kelenjar yang mensekresikan sari cairan yang kemudian masuk ke dalam duodenum melewati saluran pankreas dimana enzim-enzimnya membantu pencernaan, pati, lemak, dan protein. Sari cairan ini menetralisir kondisi asam lambung (Amrullah, 2004). Penelitian Mustaqim (2006) menghasilkan persentase berat pankreas ayam pedaging umur 5 minggu adalah

0,34%.

Seka

Seka adalah saluran pencernaan (sepasang kantong buntu) yang terletak pada sambungan usus halus dan usus besar (North dan Bell, 1990). Menurut McNab (1973) fungsi seka pada unggas adalah untuk penyerapan air, dekomposisi selulosa oleh mikroorganisme, penyerapan protein dan penyerapan non protein nitrogen serta produksi anti gen. Panjang dan bobot sekum akan meningkat dengan meningkatnya kandungan serat kasar dalam ransum. Pond et al. (1995), menyatakan bahwa sebagian serat dapat dicerna di dalam seka yang disebabkan adanya bakteri fermentasi, tetapi jumlahnya sangat rendah dibandingkan dengan sebagian spesies mamalia. Amrullah (2004), menyatakan bahwa setiap sekum panjangnya mencapai 15 cm pada ayam dewasa yang kesehatannya normal. Menurut Syukron (2006) panjang seka (cm/100g) dengan strain Hubbard sebesar 2,54-3,20.

Hati

Hati sebagai organ vital berperan utama dalam metabolisme zat makanan, sekresi empedu, metabolisme lipida, detoksifikasi senyawa beracun, pembentukan eritrosit (Ressang, 1984). Pilliang dan Djojosoebagio (2000) bahwa hati juga berperan dalam sintesis kolesterol yang tersusun dari senyawa asetil Koenzim A (asetil KoA). Ukuran hati yang mengecil dapat disebabkan oleh respon kondisi luar yang bersifat merusak. Jika terjadi keracunan, hati pada umumnya lebih kecil dari pada hati yang normal. Menurut Putman (1991), persentase berat hati ayam broiler

berkisar antara 1,7-2,8% dari bobot badan. Ukuran berat, konsistensi dan warna tergantung bangsa, umur dan status nutrisi individu ternak (Nickel et al., 1977). Hati mensekresikan sekitar satu liter empedu setiap hari, garam empedu penting untuk pencernaan dan absorpsi lemak dalam usus halus. Kelainan pada hati ditunjukkan dengan adanya perubahan warna hati, pembesaran, pengecilan lobi dan tidak ditemukannya kantong empedu (Ressang, 1984),

Organ Dalam Organ-organ tertentu berkaitan dengan pencernaan yang berfungsi membantu dalam pemrosesan pakan. Organ tersebut yaitu jantung, ginjal, limpa, bursa fabrisius dan timus.

Jantung Jantung adalah organ otot yang memegang peranan penting di dalam peredaran darah. Jantung unggas memiliki empat ruangan yaitu dua bilik dan dua serambi. Unggas yang mempunyai ukuran tubuh lebih kecil mempunyai laju yang lebih tinggi dibandingkan dengan unggas yang mempunyai ukuran tubuh lebih besar (North dan Bell, 1990). Jantung merupakan organ yang berfungsi sebagai pemompa darah dalam sistem transportasi atau sirkulasi tubuh. Jantung dapat mengalami pembesaran karena adanya akumulasi racun pada otot jantung sehingga menyebabkan pembesaran jaringan otot jantung (Ressang, 1984). Persentase berat jantung berkisar antara 0,42-0,7% dari berat hidup (Putnam, 1991). Menurut Ressang (1984), ukuran jantung sangat dipengaruhi oleh jenis, umur, besar, dan aktivitas hewan. Frandson (1992) menyatakan bahwa jantung sangat rentan terhadap racun dan zat antinutrisi, pembesaran jantung dapat terjadi karena adanya akumulasi racun pada otot jantung.

Limpa

Limpa dan bursa fabrisius merupakan organ yang berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh unggas. Selain itu, limpa juga merupakan salah satu organ yang berperan dalam sistem sirkulasi yakni sebagai daerah penampungan darah (Frandson, 1992). Ressang (1984) menyebutkan bahwa limpa berfungsi dalam pembinasaan eritrosit yang sudah tua, membantu metabolisme nitrogen dalam pembentukan asam urat serta membentuk zat limfosit yang berhubungan dengan

antibodi. Limpa akan membentuk sel limfosit untuk membentuk antibodi apabila ransum toksik, mengandung zat antinutrisi maupun penyakit. Aktivitas limpa ini mengakibatkan limpa semakin membesar atau semakin mengecil ukurannya karena limpa terserang penyakit atau benda asing tersebut. Limpa juga dikenal sebagai organ limfoid yang berperan dalam pembentukan sel limfosit pada sistem kekebalan tubuh. Swenson (1984) menyatakan limfosit adalah satu jenis leukosit agranulosit yang merupakan leukosit terbanyak dalam darah unggas. Populasi limfosit dalam darah mencakup 3 tipe sel yaitu sel T, sel B dan sel null, yang tampak mirip satu sama lain pada mikroskop cahaya. Limfosit memiliki fungsi utama merespon antigen (benda-benda asing) dengan membentuk antibodi yang bersikulasi di dalam darah atau dalam pengembangan imunitas (kekebalan seluler). Apabila limfosit T mengalami ekspose terhadap antigen, limfosit T akan dirangsang untuk berganda dengan cepat dan menghasilkan lebih banyak lagi yang dapat bekerja langsung melawan antigen spesifik. Antigen yang menyebabkan timbulnya penyakit kronis cenderung merangsang kekebalan seluler melalui limfosit T (Tizzard, 1988). Menurut Putnam (1991) bobot limpa berkisar 0,18-0,23% dari berat hidup ayam broiler.

Timus

Secara anatomis, timus ayam terletak pada sisi kanan dan kiri saluran pernafasan (trakea). Warna pucat kuning kemerah-merahan, bentuknya tidak teratur dan berjumlah 3-8 lobi pada masing-masing leher. Tiap lobus dihubungkan oleh jaringan ikat dan membentuk suatu untaian yang berjalan dekat dengan vena jugularis. Ukuran timus sangat bervariasi, ukuran relatif yang paling besar pada hewan yang baru lahir sedangkan ukuran absolutnya terbesar pada waktu pubertas. Setelah dewasa timus mengalami atrofi dari parenkhima dan korteks diganti oleh jaringan lemak. Timus yang mengalami atrofi cepat merupakan reaksi terhadap stress, sehingga hewan yang mati sesudah menderita sakit yang lama mungkin mempunyai timus yang sangat kecil (Tizard, 1988). Timus terdiri dari sejumlah lobul berisi epitelial yang tersusun longgar dan setiap lobul dibatasi oleh kapsul jaringan ikat. Kelenjar timus berada dibagian anterior mediastinum, terbagi dalam dua lobus dan banyak lobulus yang masing- masing terdiri atas korteks dan medula. Kapiler yang terjadi dari arteriol ini dibatasi

oleh penghalang yang terdiri dari endotel, membran basal yang sangat tebal dan lapisan luar dari sel epitelial yang berkesinambungan. Penghalang ini efektif mencegah antigen yang beredar memasuki korteks timus. Tidak ada saluran limfe yang masuk ke dalam timus (Tizard, 1988). Niu et al. (2009) menyatakan bahwa persentase bobot thymus ayam broiler umur 6 minggu rata-rata 0,30% dari bobot hidup. Ukuran timus dipengaruhi oleh aktivitas produksi limfosit. Rendahnya produksi limfosit akan mempertahankan ukuran timus, dan sebaliknya tingginya produksi limfosit akan memperbesar ukuran timus (O’rahilly, 1995).

Bursa Fabrisius Bursa fabrisius merupakan organ limfoid yang hanya ditemukan pada unggas. Organ ini terletak pada daerah dorsal kloaka. Bursa fabrisius terdiri dari sel-sel limfoid yang tersusun atas kelompok-kelompok yang disebut folikel limfoid. Pada bagian dalam ditemukan lumen, lumen dibatasi oleh deretan epitel yang membungkus folikel limfoid. Setiap folikel limfoid terdiri dari korteks yang berisi sel-sel limfosit, sel plasma, dan makrofag, sedangkan bagian medula hanya terdiri dari sel-sel limfosit. Bursa fabrisius adalah organ limfoid primer yang fungsinya sebagai tempat pendewasaan dan diferensial bagi sel dari sistem pembentukan antibodi. Unggas yang mempunyai bobot relatif bursa fabrisius lebih besar akan lebih tahan terhadap berbagai penyakit (Tizzard, 1988). Beberapa organ yang berperan di dalam reaksi tanggap kebal antara lain bursa fabrisius, timus dan limpa. Bursa fabrisius merupakan organ limfoepitel yang berasal dari pertemuan ektodermal sebagai struktur berbentuk bulat seperti kantong. Bursa fabrisius mempunyai tugas untuk memproduksi dan mendewasakan sel limfosit B. Selanjutnya sel B dipindahkan ke dalam sirkulasi dan siap untuk menerima dan memberikan reaksi terhadap benda asing yang masuk kedalam tubuh (Tizzard, 1988). Antigen yang memasuki tubuh akan dikenal sedemikian rupa sehingga dapat dikenali sebagai benda asing. Setelah itu informasi yang diperoleh harus dikirim ke sistem pembentuk antibodi dalam hal ini bursa fabrisius. Sistem ini nantinya akan menanggapi dengan membentuk antibodi khusus dan sel yang mampu menyingkirkan antigen. Pada unggas yang terjangkit bakteri pathogen maka bursa

fabrisius membentuk antibodi akibatnya akan menyebabkan deplesi dan folikel limfoid menjadi kecil sehingga persentase bobot bursa fabrisius menurun (Tizzard, 1988). Bursa fabricius akan mengalami regresi dan inovulasi secara lengkap pada saat ayam mencapai kematangan seksual yaitu pada umur 14-20 minggu. Unggas yang mempunyai berat relatif bursa fabricius besar cenderung relatif tahan terhadap berbagai penyakit. Niu et al., (2009) menyatakan bahwa persentase bobot bursa fabrisius ayam broiler umur 42 hari (6 minggu) rata-rata 0,17% dari bobot hidup.

Lingkungan dan Ternak Definisi lingkungan menurut Ensminger et al

(1991) ialah semua keadaan,

kondisi, pengaruh sekitarnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan produktivitas ternak. Suhu lingkungan panas merupakan salah satu kondisi yang menimbulkan cekaman yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah. Thermonetral Zone (TNZ) adalah daerah yang nyaman dengan suhu lingkungan yang sesuai untuk ternak. Peningkatan atau penurunan suhu lingkungan terhadap suhu nyaman akan mengakibatkan peningkatan produksi panas dalam upaya membuang kelebihan panas atau mempertahankan panas tubuh. Suhu kritis terendah yang dapat diterima oleh ternak disebut Lower Critical Temperature (LCT) dan suhu kritis teratas yang dapat diterima oleh ternak disebut Upper Critical Temperature (UCT).

Cekaman Panas Cekaman merupakan kondisi dimana kesehatan ternak terganggu disebabkan oleh adanya kekuatan lingkungan yang secara terus menerus terjadi pada hewan dan mengganggu proses homeostasis (Lesson dan Summers, 2005). Stress biasanya berhubungan dengan iklim yang ekstrim misalnya terlalu dingin atau terlalu panas dan akan berhubungan langsung dengan beberapa kelainan metabolisme dalam tubuh (Austic, 2000) Zona suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal adalah berkisar 20-27 C, hal ini tergantung pada jenis

adalah berkisar 20-27 C, hal ini tergantung pada jenis dan umur ayam. Pada zona ini produktivitas

dan umur ayam. Pada zona ini produktivitas ayam mencapai titik optimum sesuai potensi genetiknya (Kusnadi, 2006). Suhu lingkungan yang direkomendasikan untuk

pertumbuhan optimum broiler yang memasuki umur 3 minggu adalah 25 C dan kelembaban 60% (Charoen Pokphand, 2005). Ayam broiler yang hidup pada suhu tinggi memperlihatkan beberapa perubahan perilaku, yang bertujuan untuk menurunkan panas tubuhnya. Ayam broiler akan istirahat lebih banyak, beberapa ekor ayam akan berdiri dan tidak bergerak, sedangkan ayam yang lain dekat dinding atau tempat air minum. Biasanya ayam akan membuka sayapnya, mengurangi isolasi panas tubuh untuk mendinginkan tubuhnya. Dalam tubuh ayam darah dialirkan dari organ tubuh seperti hati, ginjal, usus halus ke pembuluh darah perifer yang mengembang pada kulit untuk mempermudah pembuangan panas. Faktor lingkungan akan sangat mempengaruhi keberhasilan produksi (Kusnadi, 2006).

MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli sampai Agustus 2011 di Laboratorium Lapang (Kandang B) Bagian Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisa proksimat kandungan ketumbar dan ransum dilakukan di Laboratorium Terpadu, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Materi

Ternak Penelitian ini menggunakan 120 ekor ayam umur satu hari (DOC). Ayam pedaging yang digunakan adalah strain CP 707. Ayam ini dibagi ke dalam empat perlakuan dan tiga kali pengulangan. Waktu pemeliharaan dalam penelitian ini adalah 5 minggu.

Kandang dan Peralatan Kandang yang digunakan adalah 4 buah kandang berukuran 2,85 x 2,85 m 2 berupa kandang sistem litter beralaskan sekam padi yang telah difumigasi. Setiap kandang dibagi menjadi empat petak anak kandang dengan ukuran 1,2 x 0,9 m. Setiap petakan kandang berisi 10 ekor ayam dan kandang dilengkapi dengan tempat makan dan minum.

Peralatan Penunjang Setiap petak kandang dilengkapi dengan satu tempat ransum dan satu tempat air minum serta lampu pijar 60 watt sebanyak empat buah sebagai penghangat buatan, brooder. Peralatan lain yang digunakan diantaranya tirai penutup, kertas koran, timbangan digital, ember untuk tempat ransum, ember untuk mengambil air, seng sebagai lingkar pembatas, sapu, sekam pengganti, termometer, tali rafia, gelas ukur, pisau, tali tambang, selotip, karung, mangkuk, sendok, sikat lantai, detergen, karbol, masker, baju lapang dan alat tulis. Timbangan yang digunakan adalah timbangan digital merk “oc ADAM” dengan ketelitian 0.02 g dan timbangan kitchen scale dengan kapasitas 2 kg.

Ransum dan Air Minum Ransum yang digunakan adalah ransum buatan sendiri dengan penambahan biji ketumbar 1%, 2% dan 3%. Air minum diberikan setiap hari selama pemeliharaan. Pemberian ransum dengan penambahan ketumbar dilakukan mulai dari ayam berumur 1 hari. Berikut Komposisi Ransum Penelitian dan Analisis Proksimat Bahan Pakan disajikan dalam Tabel 4 dan 5.

Tabel 4. Analisis Proksimat Bahan Pakan

Bahan

GE

BK

PK

LK

SK

Ca

P aval

BETN

ABU

Baku

(Kkal/kg)

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

Jagung *

4430

88

8,50

4,41

2,52

0,04

0,69

68,19

2,12

Dedak *

 

Padi

3442

87,27

11,32

5,20

26,24

0,07

2,80

19,30

27,03

Bungkil *

 

Kedelai

3504

87,24

45,08

3,45

4,23

0,38

0,91

28,40

6,08

Tepung *

 

Ikan

3612

86,48

50,69

2,14

0,01

5,11

4,80

18,76

14,88

CPO **

8060

0

0,00

95,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Biji

*

Ketumbar

5052

89,19

17,30

11,59

31,26

1,01

0,82

22,89

6,15

CaCO3 **

0,00

99,00

0,00

0,00

0,00

40,00

0,00

0,00

0,00

DCP **

0,00

93,50

0,00

0,00

0,00

22,00

18,70

0,00

0,00

Premix **

0,00

100,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

L-Lysin **

0,00

98,00

98,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

DL

**

Methionin

0,00

99,00

58,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Keterangan : * **

Hasil analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fapet IPB (2011) Hasil data PT indofeed Bogor

Tabel 5. Komposisi Ransum Penelitian

Bahan pakan

 

Starter

 

Finisher

 
 

R0

R1

R2

R3

R0

R1

R2

R3

Jagung Dedak Padi Bungkil kedelai Tepung ikan CPO Biji ketumbar 1

 

54,1

54,3

53,7

53,8

60,4

60

59,6

59,2

6

5,17

4,85

4,01

5,17

4,73

4,3

3,86

28

28

28

28

19,5

19,3

19,2

19,1

6,05

5,99

5,93

5,88

9,39

9,45

9,52

9,58

3,61

3,38

3,34

3,09

3,37

3,27

3,18

3,08

0

1

2

3

0

1

2

3

CaCO 3 DCP Premiks Lysin Methionin+Cystin

1

1

1

1

1

1

1

1

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

Perhitungan Nutrien 2 ME (Kkal/kg) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Calsium (%) P aval (%) Lysin (%) Metionin+Cystin (%)

3050

3050

3050

3050

3100

3100

3100

3100

22

22

22

22

20

20

20

20

6,19

6,1

6,2

6,1

6,17

6,22

6,27

6,32

2,97

3,3

3,66

3.98

2,81

3,16

3,51

3,87

0,96

0,97

0,97

0,97

1,16

1,17

1,18

1,2

0,53

0,53

0,53

0,52

0,62

0,62

0,62

0,63

1,44

1,43

1,43

1,42

1,35

1,34

1,34

1,34

0,95

0,95

0,95

0,95

0,75

0,75

0,75

0,75

Keterangan: 1 Komposi nutrien biji ketumbar (Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fapet IPB, 2011), komposisi nutrien bahan pakan (Lesson dan Summers, 2005), dan EM (Energi Metabolis)

2 Perhitungan berdasarkan Lesson dan Summers 2005

Prosedur

Pemilihan Biji Ketumbar Sampel biji ketumbar diperoleh dari pasar tradisional di Pasar Cibereum- Ciampea. Biji ketumbar dari pasar ini dipasok dari Tangerang (impor), Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berikut merupakan ketumbar yang digunakan pada penelitian diperlihatkan pada Gambar 1. Ketumbar ini berwarna kuning kecoklatan dengan diameter berkisar antara 1,5-3 mm.

kuning kecoklatan dengan diameter berkisar antara 1,5-3 mm. Gambar 1. Coriandrum sativum var Microcarpum Pembuatan

Gambar 1. Coriandrum sativum var Microcarpum

Pembuatan Ransum Ransum penelitian diformulasi berdasarkan rekomendasi Lesson dan Summer (2005) yaitu dengan Protein Kasar (PK) 22% dan kebutuhan Energi Metabolis (EM) 3050 kkal/kg untuk fase starter dan Protein Kasar (PK) 20% dan Energi Metabolis (EM) 3100 kkal/kg. Komposisi ransum penelitian (Tabel 5) ditambah dengan persentase ketumbar 1%, 2% dan 3% yang disesuaikan dengan perlakuannya. Biji ketumbar digiling hingga berbentuk mash dengan menggunakan mesin blender kemudian dilakukan penyusunan dan penimbangan bahan-bahan penyusun ransum sesuai formula, setelah itu pencampuran bahan-bahan hingga homogen kemudian diolah di dalam mesin crumble. Tahapan terakhir adalah penimbangan dan pengemasan sesuai perlakuan (Gambar 2). Ransum yang digunakan terbagi menjadi 2 periode, yaitu periode starter (0-21 hari) dan periode finisher (22-panen).

Ketumbar digiling/diblender hingga bertekstur mash

Ketumbar digiling/diblender hingga bertekstur mash Penyusunan dan penimbangan bahan-bahan sesuai formulasi Pencampuran

Penyusunan dan penimbangan bahan-bahan sesuai formulasi

mash Penyusunan dan penimbangan bahan-bahan sesuai formulasi Pencampuran bahan-bahan hingga homogen Penimbangan &

Pencampuran bahan-bahan hingga homogen

sesuai formulasi Pencampuran bahan-bahan hingga homogen Penimbangan & pengemasan sesuai perlakuan Penyimpanan

Penimbangan & pengemasan sesuai perlakuan

hingga homogen Penimbangan & pengemasan sesuai perlakuan Penyimpanan pada gudang Gambar 2. Tahap Pembuatan Ransum

Penyimpanan pada gudang

Gambar 2. Tahap Pembuatan Ransum

Pemberian Air Minum Air minum diberikan ad libitum dan diberikan setiap hari selama pemeliharaan. Tempat air minum dibersihkan dua kali dalam sehari, yaitu pada pagi dan sore hari.

Pemeliharaan Ternak dan Penerapan Perlakuan DOC (Day Old Chicken) yang digunakan dalam penelitian ditempatkan secara acak dalam kandang berdasarkan ransum perlakuan yang diberikan. Jumlah DOC yang digunakan 120 ekor dengan penempatan 10 ekor dalam satu kandang. Air minum diberikan secara ad libitum selama pemeliharaan. Pakan perlakuan sudah mulai diberikan saat hari pertama DOC datang. Pemberian vaksin ND diberikan saat ayam berumur 4 hari melalui tetes mata dan pada umur 21 hari melalui mulut atau lewat air minum. Vaksin Gumboro diberikan saat ayam berumur 14 hari. Setiap minggu dilakukan penimbangan ayam untuk mengetahui pertambahan bobot badan dan penimbangan pakan sisa untuk mengetahui pakan yang dikonsumsi. Pengamatan mortalitas setiap hari sampai akhir penelitian.

Pengukuran Organ Pencernaan dan Organ Dalam Sampel yang digunakan pada penelitian adalah 12 sampel, tiga sampel dari masing-masing perlakuan. Ayam broiler dipuasakan terlebih dahulu selama 3 jam

agar tidak terdapat makanan saat mengukur organ dalam. Untuk menentukan bobot relatif organ hati, jantung, ginjal, timus, bursa fabrisius, limpa, rempela, pankreas, usus halus (duodenum, jejenum, illeum), dan seka dilakukan penimbangan bobot badan ayam, kemudian dilakukan bedah bangkai dan penimbangan bobot organ hati, jantung, ginjal, thymus, bursa pabrisius, limpa, rempela, pankreas, sedangkan untuk usus halus (duodenum, jejenum, illeum), dan seka dilakukan penimbangan bobot organ dan pengukuran panjang. Hasil penimbangan bobot organ tersebut kemudian dibagi dengan hasil penimbangan bobot badan masing-masing ayam sebelum dipotong, sehingga diperoleh persen bobot relatif organ hati, jantung, ginjal, thymus, bursa fabrisius, limpa, rempela dan pankreas.

Rancangan Percobaan Penelitian ini menggunakan rancangan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan pakannya sebagai berikut :

P0 = Pakan tanpa pemberian biji ketumbar P1 = Pakan dengan penambahan biji ketumbar 1% P2 = Pakan dengan penambahan biji ketumbar 2% P3 = Pakan dengan penambahan biji ketumbar 3%

Rumus matematik untuk rancangan RAL adalah Yij = μ + Ai + E ijk

Keterangan :

Yij = Efektivitas biji ketumbar perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

μ = Rataan umum

Ai = Pengaruh perlakuan ke-i Eij = Galat percobaan pengaruh acak perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisa ragam (analysis of variance, ANOVA). Perlakuan yang memberikan pengaruh nyata terhadap peubah yang diamati akan dilakukan uji lanjut Duncan (Steel dan Torrie, 1993).

Peubah yang Diamati Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah organ pencernaan dan organ dalam meliputi jantung, hati, timus, bursa fabrisius, limpa, pankreas, rempela, usus halus (duodenum, jejenum, illeum) dan seka.

Jantung

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Ginjal

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Limpa

=

Bobot organ (g)x 100% Bobot hidup (g)

Bursa fabrisius

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Timus

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Gizzard

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Panjang Duodenum

=

Panjang organ (cm) Bobot organ (g)

Berat duodenum

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Panjang Jejenum

=

Panjang organ (cm) Bobot organ (g)

Berat jejenum

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Panjang Illeum

=

Panjang organ (cm) Bobot organ (g)

Berat illeum

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Panjang seka

=

Panjang organ (cm) Bobot organ (g)

Berat seka

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Pankreas

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

Hati

=

Bobot organ (g) x 100% Bobot hidup (g)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Biji ketumbar dapat dijadikan makanan ternak dikarenakan biji ketumbar yang sangat aplikatif. Proses pengolahannya sampai diberikan pada ternak tidak rumit dan relatif pendek, sehingga peternak dapat lebih mudah dalam menggunakan biji ketumbar sebagai pakan untuk ternaknya. Pengolahan biji ketumbar setelah dipisahkan dari buahnya, hanya dijemur, lalu digiling, dan bisa langsung dicampur dengan bahan pakan lain dalam mesin. Proses yang cepat ini karena biji ketumbar memiliki bahan kering yang tinggi yaitu 89,19% (Tabel 4). Berdasarkan kandungan nutrien ketumbar diatas menunjukkan bahwa biji ketumbar juga dapat digunakan untuk makanan ternak karena mengandung protein dan lemak yang cukup tinggi yaitu sekitar 11-17% protein dan 11-21% lemak (Ketaren, 1985). Biji ketumbar juga tinggi akan serat kasar, akibatnya semakin tinggi level pemberian menyebabkan kadar serat kasar dalam ransum naik, sehingga kadar serat kasar pada biji ketumbar harus diseimbangkan dengan bahan baku pakan lain yang mengandung serat kasar tinggi seperti dedak padi agar serat kasar pada pakan ayam broiler tidak melebihi batas toleransi (Tabel 5).

Peforma Rangkaian respon fisiologis tubuh ayam ke keadaan negatif secara terus- menerus (stres) akibat suhu lingkungan yang fluktuatif, berdampak pada penurunan peforma (Austic, 2000) dan kepekaan terhadap berbagai penyakit. Stres secara kasat mata (peforma) dalam jangka waktu lama dapat dicerminkan dengan produktivitas yang tidak optimal, seperti keseragaman, bobot badan, dan pertambahan bobot badan yang rendah (di bawah standar), serta feed conversion ratio (FCR) dan mortalitas (infeksi penyakit) cenderung tinggi (Austic, 2000). Data mengenai seluruh peubah penelitian yang berhubungan dengan peforma broiler umur 5 minggu disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Performa Broiler Umur 5 Minggu

Peubah

Perlakuan

R0

R1

R2

R3

Bobot Badan (g/e) PBB starter (g/e) PBB finisher (g/e) Konsumsi starter (g/e) Konsumsi finisher (g/e) Konversi Pakan Keseragaman (%) Panting (kali/menit)

1.217

± 34

816 ±14 b

1383 ± 88

816

1.383

± 14 ab ± 88

1,87 ± 0,13 21,7 ± 2,8

124

± 5,13

1.215 ± 16 692 ± 41 a 1339 ± 92 692 ± 41 a 1.338 ± 92 1,73 ± 0,06 51,8 ± 22,6 124 ± 1,35

1256 ± 84 836 ± 73 c 1388 ± 127 836 ± 79 b 1388 ± 127 1,84 ± 0,09 54,4 ± 21,2 132 ± 5,20

1308 ± 108 773 ± 30 bc 1299 ± 84 773 ± 30 ab 1299 ± 84 1,65 ± 0,18 42,7 ± 12,7 136 ± 8,66

Keterangan: R0 (ransum tanpa biji ketumbar/kontrol); R1 (ransum dengan biji ketumbar 1%); R2 (ransum dengan biji ketumbar 2%); R3 (ransum dengan biji ketumbar 3%). PBB (Pertambahan Bobot Badan), Keseragaman = Bobot Badan ± 10% Bobot Badan, g/e (gram/ekor), panting diukur saat suhu maksimum pemeliharaan. Superskrip non-kapital pada baris (PBB dan konsumsi starter) menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05).

Data di atas menunjukkan broiler seluruh perlakuan mengalami kondisi stres, seperti akibat suhu lingkungan. Hal ini bisa dilihat dari panting yang lebih dari 90

kali/menit (saat suhu di atas 25 C) (Austic, 2000). Taraf penggunaan biji ketumbar

2%-3% dalam ransum, mampu meningkatan konsumsi dan pertambahan bobot badan

(PBB) starter. Hal ini sangat berkaitan dengan meningkatnya bobot pada bursa fabrisius dan timus (Tabel 9) pada taraf 2%-3% yang menyebabkan kekebalan tubuh

pada ayam broiler meningkat sehingga konsumsi pada ayam broiler meningkat dan bobot badan ayam broiler pun meningkat. Hal ini dikarenakan minyak atsiri yang

terkandung dalam ketumbar mengandung fenol dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan (Wangensteen et al., 2004) dengan cara mengaktivasi sistem imun untuk

menghasilkan limfosit lebih cepat. Minyak atsiri juga memiliki sifat efek stimulasi dalam proses pencernaan (Cabuk et al., 2003) yang bermanfaat bagi pencernaan

ayam broiler dengan cara merangsang sistem saraf pusat untuk menghasilkan getah lambung seperti amylase, tripsin dan lipase sehingga meningkatkan fungsi

pencernaan dan penyerapan (Guenther, 1990).

Kondisi Umum Pemeliharaan Berkurangnya performa pada ternak yang mengalami cekaman panas dan dingin merupakan akibat dari gangguan pada proses termoregulasi yang

mempengaruhi perubahan keseimbangan energi, air dan endokrin. Peningkatan atau

penurunan suhu lingkungan terhadap suhu nyaman akan mengakibatkan peningkatan

produksi panas dalam upaya membuang kelebihan panas atau mempertahankan

panas tubuh.

Stress biasanya berhubungan dengan iklim yang ekstrim misalnya terlalu

dingin atau terlalu panas dan akan berhubungan langsung dengan beberapa kelainan

metabolisme dalam tubuh. Stres secara kasat mata (peforma) dalam jangka waktu

lama dapat dicerminkan dengan produktivitas yang tidak optimal, seperti

keseragaman, bobot badan, dan pertambahan bobot badan yang rendah (di bawah

standar), serta feed conversion ratio (FCR) dan mortalitas (infeksi penyakit)

cenderung tinggi (Austic, 2000). Berikut merupakan data suhu harian hasil penelitian

selama 5 minggu.

Tabel 7. Rataan Suhu Penelitian

Minggu ke-

7.00

Waktu Pengamatan (jam)

14.00

18.00

1

23

33

27

2

23

32

27

3

23

32

27

4

23

32

27

5

23

32

27

Rataan

23

32

27

Keterangan:

Pengukuran suhu

menggunakan termometer

(rataan dari 3 kandang setiap

waktu

pengukuran).

Dari hasil Tabel rataan suhu di atas menunjukkan bahwa ayam broiler hanya

mengalami stres pada waktu siang hari dengan suhu yang mencapai 32 o C, menurut

Kusnadi (2006), zona suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam untuk dapat tumbuh

suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal adalah berkisar 20-27

dan berkembang secara optimal adalah berkisar 20-27 C, hal ini tergantung pada

jenis dan umur ayam. Pada zona ini produktivitas ayam mencapai titik optimum

sesuai potensi genetiknya. Stress yang dialami ayam broiler pada siang hari dapat di

minimalkan oleh antioksidan yang terdapat pada ketumbar, hal ini terlihat dari

pertambahan bobot badan ayam broiler yang meningkat seiring meningkatnya level

ketumbar dalam ransum. Sebagaimana dijelaskan Austic (2000), stres secara kasat

mata (peforma) dalam jangka waktu lama dapat dicerminkan dengan produktivitas

yang tidak optimal, seperti keseragaman, bobot badan, dan pertambahan bobot badan

yang rendah (di bawah standar), serta feed conversion ratio (FCR) dan mortalitas (infeksi penyakit) cenderung tinggi.

Organ Pencernaan Organ pencernaan merupakan organ penting yang berfungsi untuk mencerna dan mengabsorpsi zat-zat nutrisi pada ternak. Sistem organ dan saluran pencernaan pada unggas terdiri dari mulut, kerongkongan, crop, proventrikulus, gizzard, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), seka, kolon dan kloaka. Rataan organ pencernaan ayam broiler disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan Panjang dan Berat Organ Pencernaan Ayam Broiler

Organ Pencernaan

P0

P1

P2

P3

Gizzard (%)

1,74±0,21

1,86±0,12

2,03±0,49

1,67±0,29

Duodenum Panjang (cm/g)

2,51±0,19

2,52±0,04

2,40±0,28

2,26±0,24

Berat (%)

0,61±0,07

0,62±0,08

0,58±0,07

0,45±0,12

Jejenum

Panjang (cm/g)

5,88±0,18

6,13±0,60

5,83±0,92

5,39±0,81

Berat (%)

1,20±0,13

1,24±0,10

1,08±0,23

0,92±0,20

Illeum Panjang (cm/g)

6,20±0,22

6,42±0,72

5,92±0,47

5,47±0,88

Berat (%)

0,96±0,21

1,00±0,04

0,93±0,37

1,01±0,29

Seka Panjang (cm/g )

2,73±0,36

2,49±0,40

2,78±0,46

2,64±0,25

Berat (%)

0,34±0,06

0,31±0,04

0,31±0,08

0,35±0,09

Pankreas (%)

0,27±0,08

0,35±0,04

0,29±0,04

0,30±0,09

Hati (%)

2,57±0,42

2,16±0,02

2,47±0,40

2,65±0,34

Keterangan : P0 = Pakan kontrol tanpa pemberian biji ketumbar, P1 = Pakan mengandung 1% biji ketumbar, P2 = Pakan mengandung 2% biji ketumbar, P3 = Pakan mengandung 3% biji ketumbar.

Berdasarkan sidik ragam, persentase bobot gizzard tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa pemberian biji ketumbar tidak menyebabkan pembesaran pada gizzard. Ini mengindikasikan bahwa serat kasar dalam ransum masih dalam batas yang ditentukan sehingga kerja gizzard tidak terlalu besar. Persentase rataan bobot gizzard hasil penelitian berkisar antara 1,67-2,03%. Persentase ini masih dalam

kisaran normal seperti halnya menurut Putnam (1991) yang berkisar antara 1,6-2,3%. Menurut Amrullah (2004), ukuran gizzard mudah berubah bergantung pada jenis makanan yang biasa dimakan oleh unggas. Pemberian makanan yang lebih banyak dan serat kasar yang tinggi akan mengakibatkan beban gizzard lebih besar untuk mencerna makanan, akibatnya urat daging gizzard akan lebih tebal sehingga memperbesar ukuran gizzard. Usus merupakan organ yang berfungsi dalam penyerapan zat-zat makanan di dalam tubuh. Berdasarkan sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian biji ketumbar dalam ransum tidak menyebabkan perubahan pada usus halus (duodenum, jejenum dan illeum), hal ini mengindikasikan bahwa penambahan biji ketumbar dalam ransum tidak menyebabkan perubahan panjang dan berat pada usus halus dikarenakan kandungan serat kasar pada ransum masih dalam batas yang bisa ditolerir oleh ayam broiler. Menurut Amrullah (2004) bahwa ukuran panjang, tebal dan bobot usus halus bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh, tipe makanan dan faktor lainnya. Berdasarkan sidik ragam menunjukkan bahwa persentase panjang dan bobot seka tidak berbeda nyata, hal ini mengindikasikan bahwa penambahan biji ketumbar dalam ransum tidak menyebabkan perubahan panjang dan berat pada seka dikarenakan kandungan serat kasar pada ransum masih dalam batas yang ditentukan atau bisa ditolerir oleh ayam broiler. Persentase rataan panjang seka hasil penelitian berkisar antara 2,49-2,78%. Persentase ini masih dalam kisaran normal seperti halnya menurut menurut Syukron (1991) yang berkisar antara 2,54-3,20%. Panjang dan bobot seka akan meningkat dengan meningkatnya kandungan serat kasar dalam ransum (Amrullah, 2004). Berdasarkan hasil sidik ragam persentase rataan bobot pankreas tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa pemberian biji ketumbar tidak menyebabkan perubahan berat pada pankreas. Persentase rataan bobot pankreas hasil penelitian adalah 0,30%. Persentase ini masih dalam rataan normal seperti halnya menurut Putnam (1991) yang berkisar antara 0,34%. Menurut Ressang (1984), fungsi usus halus dipengaruhi oleh fungsi lambung, gangguan fungsi hati, dan pankreas, sakit, stress dan kesalahan susunan bahan makanan. Dalam hal ini fungsi usus halus dalam

keadaan normal sehingga mengindikasikan pankreas tidak terganggu dan berfungsi normal.

Pemberian biji ketumbar tidak mempengaruhi persentase bobot hati ayam broiler. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa persentase bobot hati ayam broiler tidak berbeda nyata, hal ini mengindikasikan bahwa penambahan biji ketumbar dalam ransum tidak menyebabkan perubahan berat pada hati dikarenakan ransum yang digunakan tidak mengandung toksik ataupun antinutrisi sehingga kerja hati tidak terlalu berat. Persentase rataan bobot hati hasil penelitian berkisar antara 2,16-2,65%. Persentase ini masih dalam kisaran normal seperti halnya menurut Putnam (1991) yang berkisar antara 1,7-2,8%. Terjadinya pembesaran atau pengecilan bobot hati dikarenakan adanya toksik dalam ransum sehingga menyebabkan kerja hati semakin berat untuk menetralkan racun. Ukuran berat, konsistensi dan warna tergantung bangsa, umur dan status nutrisi individu ternak (Nickel et al., 1977).

Organ Dalam Organ-organ tertentu berkaitan dengan pencernaan yang berfungsi membantu dalam pemrosesan pakan. Organ tersebut yaitu jantung, limpa, bursa fabrisius dan timus. Rataan organ dalam ayam broiler disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Berat Organ Dalam Ayam Broiler

Organ Dalam

P0

P1

P2

P3

Jantung (%) Limpa (%) Bursa Fabricius (%) Timus (%)

0,50±0,04

0,10±0,03

0,22±0,01 ab

0,20±0,03

B

0,54±0,06

0,12±0,02

0,21±0,03

0,36±0,07

ab

A

0,56±0,08

0,12±0,05

0,24±0,04

0,26±0,05

a

B

0,51±0,05

0,10±0,05

0,16±0,02 b

0,40±0,00

A

Keterangan : Superskrip huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01), superskrip huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

Berdasarkan sidik ragam persentase bobot jantung tidak berbeda nyata, hal ini menunjukkan bahwa penambahan biji ketumbar dalam ransum tidak menyebabkan perubahan bobot pada jantung. Ini mengindikasikan bahwa ransum yang digunakan tidak mengandung racun atau zat antinutrisi yang dapat mengakibat kerja jantung semakin keras untuk menetralkan racun yang ada. Persentase rataan

bobot jantung hasil penelitian berkisar antara 0,50-0,56%. Persentase ini masih dalam kisaran normal seperti halnya menurut Putnam (1991) yang berkisar antara 0,42-0,7%. Menurut Ressang (1984), ukuran jantung sangat dipengaruhi oleh jenis, umur, besar, dan aktivitas hewan. Sebagaimana dengan pernyataan Frandson (1992) yang menyatakan bahwa jantung sangat rentan terhadap racun dan zat antinutrisi, pembesaran jantung dapat terjadi karena adanya akumulasi racun pada otot jantung. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh dari pemberian biji ketumbar terhadap bobot limpa. Persentase rataan bobot limpa hasil penelitian berkisar antara 0,10-0,12%. Persentase ini lebih kecil daripada Putnam (1991) yang berkisar antara 0,18-0,23%. Ini diduga karena limpa bekerja lebih keras untuk menghasilkan antibodi ketika ayam mengalami cekaman panas pada siang hari dengan rataan suhu mencapai 32 o C (Tabel 7). Menurut Tizzard (1988) limpa akan membentuk sel limfosit untuk membentuk antibodi apabila ransum toksik, mengandung zat antinutrisi maupun penyakit. Aktivitas limpa ini mengakibatkan limpa semakin membesar atau semakin mengecil ukurannya karena limpa terserang penyakit atau benda asing. Tizard (1988) menyatakan bursa fabrisius adalah organ limfoid primer yang fungsinya sebagai tempat pendewasaan dan diferensial bagi sel dari sistem pembentukan antibodi. Pemberian biji ketumbar dari hasil sidik ragam mempengaruhi persentase bursa fabrisius ayam broiler. Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa persentase bursa fabrisius berbeda nyata (P<0,05). Persentase bobot bursa fabrisius pada pakan perlakuan 2% lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (Gambar 3). Berikut grafik hubungan level pemberian biji ketumbar terhadap persentase rataan bobot bursa fabrisius.

Gambar 3. Grafik Hubungan Taraf Penggunaan Biji Ketumbar 0% (P0), 1% (P1), 2% (P2), dan

Gambar 3. Grafik Hubungan Taraf Penggunaan Biji Ketumbar 0% (P0), 1% (P1), 2% (P2), dan 3% (P3) dalam Ransum Terhadap Persentase Bobot Bursa Fabrisius Broiler Umur 5 Minggu

Pemberian biji ketumbar dengan level 2% optimum meningkatkan daya tahan

tubuh ayam broiler terhadap penyakit diduga karena zat aktif fenol dan flavonoid

yang terkandung dalam minyak atsiri dapat mengaktivasi sistem imun ayam broiler

dengan merangsang organ bursa fabrisius untuk memproduksi limfosit lebih cepat.

Terjadi penurunan persentase bobot bursa fabrisius pada penggunaan biji ketumbar

pada taraf 3% dibandingkan kontrol. Hal ini diduga karena pada taraf 3% ransum

menjadi toksik sehingga membuat bobot bursa fabrisius menurun. Tingkat kesehatan

individu ternak dipengaruhi oleh kondisi kesehatan seperti penyakit tertentu, serta

kondisi lain (lingkungan) yang ditanggapi individu berbeda, sehingga mempengaruhi

organ penghasil sel imunitas (Gregg, 2002). Rataan persentase bobot bursa fabrisius

perlakuan berada pada kisaran 0,16-0,24%. Nilai ini berada di atas persentase bobot

yang dilaporkan Niu et al., (2010) yaitu 0,17% bobot hidup. Bursa fabrisius yang

relatif tetap dan membesar seiring peningkatan bobot atau umur ternak, cenderung

tahan terhadap berbagai penyakit (Tizard, 1988).

Berdasarkan dari hasil sidik ragam pemberian biji ketumbar mempengaruhi

persentase timus ayam broiler, hal ini dapat dilihat data pada Tabel 9 yang

menunjukkan persentase timus sangat berbeda nyata (P<0,01). Persentase bobot

timus dengan perlakuan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (Gambar 4).

Hubungan level perlakuan biji ketumbar terhadap persentase rataan bobot timus

diperlihatkan pada Gambar 4

persentase rataan bobot timus diperlihatkan pada Gambar 4 Gambar 4. Grafik Hubungan Taraf Penggunaan Biji Ketumbar

Gambar 4. Grafik Hubungan Taraf Penggunaan Biji Ketumbar 0% (P0), 1% (P1), 2% (P2), dan 3% (P3) dalam Ransum Terhadap Persentase Bobot Timus Broiler Umur 5 Minggu

Hasil ini mengindikasikan bahwa pemberian biji ketumbar sampai level 3%

dapat meningkatkan bobot timus sehingga diduga meningkatkan kekebalan tubuh

ayam boiler. Meningkatnya kekebalan tubuh ayam broiler dikarenakan zat aktif fenol

dan flavonoid yang terkandung di dalam minyak atsiri pada biji ketumbar yang

bersifat antibakteri dan antioksidan (Wangensteen et al., 2004) dengan cara

mengaktivasi sistem imun ayam broiler dengan merangsang organ timus untuk

memproduksi limfosit lebih cepat. Rataan persentase bobot timus perlakuan berada

pada kisaran 0,20-0,40%. Nilai ini berada di atas persentase bobot yang dilaporkan

Niu et al., (2010) yaitu 0,30% bobot hidup. Menurut O’rahilly (1995), produksi

limfosit yang rendah akan mempertahankan ukuran timus, dan sebaliknya besarnya

ukuran timus dapat memperbanyak produksi limfosit. Menurut Kusnadi et al., (2006)

turunnya jumlah limfosit dikarenakan stress dapat menyebabkan sistem kekebalan

tubuh menjadi rendah. Turunnya jumlah limfosit dapat disebabkan oleh

berkurangnya bobot organ limfoid (Siegel, 1995).

Evaluasi Penggunaan Biji Ketumbar dalam Ransum

Data-data mengenai evaluasi biaya penggunaan biji ketumbar dalam ransum terhadap

pertambahan bobot badan broiler disajikan Tabel 10.

Tabel 10.

Biaya Penggunaan Biji Ketumbar dalam Ransum Terhadap Pertambahan Bobot Badan Broiler Umur 5 Minggu

Perlakuan

Penilaian

 

R0

R1

R2

R3

Konsumsi Ransum Starter (g/ekor)

815,74

691,87

835,81

773,36

Harga Ransum Starter (Rp/Kg)

6.350

6.500

6.700

6.850

Biaya Ransum Starter (Rp/ekor)

5.180

4.497

5.600

5.298

Konsumsi Ransum Finisher (g/ekor)

1.383

1.339

1.388

1.299

Harga Ransum Finisher (Rp/Kg)

6.200

6.400

6.550

6.700

Biaya Ransum Finisher (Rp/ekor)

8.576

8.568

9.089

8.703

Total Biaya Ransum (Rp/ekor)

13.756

13.065

14.689

14.000

Pertambahan Bobot Badan (g/ekor)

1.175

1.173

1.214

1.266

Biaya Ransum Perbobot Badan (Rp/g)

11,70

11,14

12,10

11,06

Keterangan :

R0 (ransum tanpa biji ketumbar/kontrol); R1 (ransum dengan biji ketumbar 1%); R2 (ransum dengan biji ketumbar 2%); R3 (ransum dengan biji ketumbar 3%).

Biaya ransum starter maupun finisher dengan penggunaan biji ketumbar

meningkatkan harga ransum. Hal ini menunjukan bahan baku biji ketumbar sebesar

Rp 20.000/kg meningkatkan harga ransum. Profit yang dihasilkan jika melihat biaya

ransum yang harus dikeluarkan untuk kenaikan satu gram bobot badan R3 lebih

rendah dari ransum lainnya. Hal ini karena perlakuan R3 menghasilkan pertambahan

bobot badan rata-rata tertinggi. Biaya ransum yang harus dikeluarkan R3 paling

besar untuk memperoleh profit yang lebih besar. Jika dilihat dari tingkat kesehatan

yang diperoleh dari keterkaitan seluruh peubah, dengan asumsi manajemen

pemeliharaan dan kondisi lingkungan sama, menghasilkan broiler R2 dalam tingkat

kesehatan tertinggi diantara yang lain. Tingkat kesehatan broiler mulai dari yang

tertinggi adalah R2, R1, R0, dan R3, serta untuk peforma adalah R3, R2, R1, dan R0.

Bahan baku ransum alternatif atau alami (herbal) seperti biji ketumbar sangat

aplikatif, memberi efek positif dalam menjaga atau mengurangi penurunan kesehatan

dan peforma yang menjadi masalah peternak tropis. Hal ini tentu menguntungkan

bagi produsen karena memiliki ternak lebih sehat dengan peforma baik, sehingga

bisa memiliki pasar khusus (daging ayam organik) dan meningkatkan profit.

KESIMPULAN

Kesimpulan Pemberian biji ketumbar sampai taraf 3% dalam ransum tidak berpengaruh negatif terhadap organ pencernaan dan organ dalam lainnya (hati, jantung, ginjal, limpa dan pankreas). Pemberian biji ketumbar 2%-3% dapat menyehatkan ayam broiler sehingga menghasilkan performa yang baik pada ayam broiler.

Saran Percobaan perlakuan dengan taraf yang lebih besar perlu dilakukan pada broiler untuk melihat pengaruh atau khasiat biji ketumbar dalam menurunkan efek negatif akibat stres.

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr sebagai Dosen Pembimbing Utama dan Ir. Lidy Herawati, MS sebagai Dosen Pembimbing Anggota atas segala kesabaran untuk memberikan tuntunan, bimbingan dan pengorbanan waktu serta pikirannya dari mulai penelitian hingga akhir penulisan skripsi. Kepada Ibu Lanjarsih atas bantuannya dikandang. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman satu penelitian : Feni, Agista, Umam, Handi, Rifki, Riadhi dan Adhtya atas partisipasinya sehingga penelitian ini dapat terwujud. Terima kasih untuk Rizky Rahayu, Wesley Maylander, Febriyandi Randana, Karnila Sari, Sinta Mutia Harpa, Yulifa Devi Dwijayanti, Novita L Zahro dan Septi Prima Yesti serta teman-teman INTP 45 atas semangat, doa, motivasi, jasa dan perhatiannya selama penelitian serta pembuatan skripsi ini. Ucapan terima kasih yang amat besar kepada Ayahanda Nurjali, Ibunda Sunarti, kakak tercinta Chali Andika dan adik tersayang Hilda Wardani atas dukungan, doa, dan kasih sayangnya. Teman-teman dan saudara-saudara di Wisma Ayu atas kesediaan dan keridho’annya menjadi curahan hati. Mungkin ada banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama pembuatan skripsi ini namun tidak dapat disebutkan satu persatu, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih. Semoga skripsi ini bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, C. A. 2000. The role of nutricines in health in and total nutrition. Proc. Aust. Poult. Sci. Sys. 12: 17-24

Akoso, B. T. 1993. Manual Kesehatan Unggas. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Aggarwal, B. B., N. Ahmad & H. Mukhtar. 2002. Spices as Potent Antioxidants with Therapeutic Potential. Dalam: E. Cadenas dan L. Packer (Eds.). Handbook of Antioxidants 2 nd Ed. Marcel Dekker Inc., New York, Basel.

Amrullah,

Dua

I.

K.

2004.

Nutrisi

Ayam

Broiler.

Cetakan

Ketiga.

Lembaga

Gunungbudi, Bogor.

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan Ke-5. PT Gramedia, Jakarta.

Anggorodi, R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. PT Gramedia, Jakarta.

Angka, S. L. 2004. Penyakit motile aeromonad septicemia pada ikan lele dumbo Clarias sp. Forum Pascasarjana vol 27: 339-350

Astawan, M. 2009. Ketumbar. http://cybehealt.cbn.net.id [3 Februari 2011]

Austic, R. E. 2000. Feeding poultry in hot and cold climates. Bagian Mata Kuliah Yousef, editor. Stress Physiology in Livestock Poultry. CRC Press. Florida. 3: 123-136.

Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Impor. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Bogaard, A. E. & E. E. Stobberingh. 1999. Antibiotic usage in animals: impact on bacterial resistance and public health. Drugs. 58: 589-607

Brake, J., G. B. Haavenstain, S. E. Schidelet, P. R. Ferket & D. V. River. 1993. Relationship of sex, age, and body weight to broiler carcass yield and offal production. J. Poult. Sci. 70 : 680-688.

Cabuk, M., A. Alcicek, M. Bozkurt & N. Imer, 2003. Antimicrobial properties of the essential oils isolated from aromatic plants and using possibility as alternative feed additives. II. National Animal Nutrition Congress. 18-20 September, Konya, Turkey, pp : 184-187.

Charoen

707.

Pokphand

Indonesia.

2005.

Manual

manajemen

broiler

CP

www.charoenpokphand.org.com [3 Februari 2011]

Chowdhury, S. R. & T. K. Smith. 2002. Effects of dietary garlic on cholestrol metabolism in laying hens. Poult. Sci. 81: 1856-1862

Ensminger, M. E. 1991. Animal Science (Animal Agriculture Series). 9 th Ed. Interstate Publisher, Inc. Danville, Illinois.

Fauci, B., K. Hauser, Longo, & Jameson. 2008. Princiciples of Internal Medicine.

17 th Ed. McGraw Hill Companies, New York.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi ke-4. Terjemahan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Gallagher, A. M., P. R. Flatt, G. Duffy & Y. H. Abdel-Wahab. 2003. The effects of traditional antidiabetic plants on in vitro glucose diffusion. Nutr. Res., 23:

413-424.

Gillespie, R. J. 2004. Modern Livestock and Poultry Production. 7 th Edition. Inc. Thomson Learning. United States.

Gregg, J. C. 2002. Immunity Commercial Chicken Meat and Egg Production. 5 th Ed. Springer Science and Business Media, New York.

Guenther, E. 1949. The essential oils. D. Van Nostrand Co., Inc. 1: 354-356.

Penerbit

Guenther,

E.

1987.

Minyak

Atsiri.

Jilid

I,

Penerjemah

S.

Ketaren.

Universitas Indonesia.

Guenther, E. 1990. Minyak Atsiri. Jilid IV B, Penerjemah S. Ketaren dan R. Mulyono Penerbit Universitas Indonesia.

Hadipoentyani, E. & L., Udarno. 2002. Karakteristik plasma nutfah ketumbar (Coriandrum sativum L.). Prosiding Simposium Nasional II Tumbuhan Obat dan Aromatik, Bogor.

Hargono,

Kesehatan,

D.

1989.

Vademekum

Bahan

Obat

Alam.

Departemen

Indonesia.

Hermandez, F., J. Madrid, V. Garcia, J. Orengo & M.D. Megias, 2004. Influence of two plant extract on broiler performance, digestibility and digestive organ size. Poult. Sci. 83: 169-174

Isao, K., F. Ken-Ichi, K. Aya, N. Ken-Ichi, & A. Tetsuya. 2004. Antimicrobial activity of coriander volatile compound against Salmonella choleraesuits. J. Agric. Food Chem. 52: 3329-3332.

Kartasudjana, R. 2005. Manajemen Ternak Unggas. Fakultas Peternakan. Universitas Padjajaran Press, Bandung.

Kartasudjana, R. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan. Universitas Padjajaran Press, Bandung.

Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. PN Balai Pustaka, Jakarta.

Kim

Antibacterial activity of curcuma longa L. against methicillin-resistant

K.

J,

H.

H. Yu,

J.

D. Cha,

S.

J.

Seo, N.

Y. Choi

& Y. O. You. 2005.

Staphylococcus aureus. Phytother. Res. 19: 599-604

Kusnadi, E., R. Widjajakusuma., T. Sutardi & A. Habibie. 2006. Pemberian antanan dan vitamin C sebagai upaya mengatasi efek cekaman panas pada broiler. Med. Pet. 29 :121-140

Lawrence, B. M. & R. J., Reynolds. 1988. Progress in essential oils. Perfumer Flavorist. An Allured Publication. 13: 49-50.

Lesson, S & J. Summers. 2005. Nutrition of The Chicken. 5 th Ed. Ontario. Canada

McNab, J. M. 1973. The avian caeca : A review. World Poultry. Sci. Journal 29 (3) :

251-263

Moran, E. T. 1985. Digestive Physiology of Duck. Farrel, D.J. & P. Stapleton (Eds.). Duck Production and World Practise. University of New England, Armidale.

Mujahid, A., Y. Akiba & M. Toyomizu. 2007. Acute heat stress induces oxidative stress and decreases adaption in young white leg-horn cockerels by down regulation of avian uncoupling protein. Poultry Sci. 86: 364-371

Mustaqim. 2006. Persentase bobot karkas, organ dalam dan lemak abdomen broiler yang diberi imbuhan tepung daun sambiloto (Andrographis paniculata Nees). Skripsi. Fakutas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Narpati, D. 2000. Prospek dan kendala ekspor nilam. Prosiding Gelar Teknologi Pengolahan Gambir dan Nilam. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

H. L. Wight. 1977.

Nickel, R. A., Schummer, E. Seiferle., W. G. Siller & P. Anatomy of Domestic Bird. Verlag Paul Parey. Berlin.

Niu, Z. Y., F.

Li. 2009. Effect of different levels of

vitamin E on growth performance and immune responses of broilers under

Z. Liu, Q. L. Yan & W. C.

heat stress. Poultry Sci. 88: 2101-2107

North, M. & D. D. Bell. 1990. Commercial Chiken Production Manual. 4 th Edition. Van Nastrand Reinhold Publ, New York.

O'rahilly, R. 1995. Anatomy. Edisi Kelima. Zunilda S. Bustami, Penerjemah. UI PRESS. Jakarta.

Pilliang, W. G. & S. Djojosoebagjo. 1990. Fisiologi Nutrisi. Volume I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal PendidikanTinggi. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Pond, W. G., D. C. Church & K. R. Pond. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. Fourth Edition. John Wiley and Sons, New York.

Purseglove, J. W., E. G. Brown, C. L. Green & S. R. J. Robbin, 1981, Coriander, in Spices Vol. 2, Tropical Agriculture Series, Longman, New York, 2: 736-791.

Purseglove, J. W., E. G. Brown, C. L. Green & S. R. J. Robbin, 1981. Spices. Vol II. Longman Group Limited, New York. p. 813

Putnam, P. A. 1991. Handbook of Animal Science. Academy Press, San Diego.

Ressang, A. A. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Edisi Kedua. NV Percetakan Bali, Denpasar.

Rose, S. P. 1997. Principles of Poultry Science. CAB International, London.

Rusli, S. 2002. Diversifikasi ragam dan peningkatan mutu minyak atsiri. Makalah Workshop Nasional Minyak Atsiri. Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Jakarta.

Samarasinghe, K., C. Wenk, K. F. S. T. Silva & J. M. D. M. Gunasekera. 2003. Turmeric (curcuma longa), root powder and manano ligo Sacharides as alternatif to antibiotic in broiler chiken diets. Asian-aust. J. anim. Sci. 16:

1495-1500

Setyaningsih, P. 1992. Studi fenologi dan pengaruh posisi payung terhadap viabilitas benih ketumbar. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sreenivas, P. 1999. Herbal Healing. Far Eastern Agriculture, September 1999. pp.

31-32

Standar Nasional Indonesia, 2006. Minyak Nilam. Badan Standarisasi Nasional.

Steel, R. G. D. & J. H Torrie. 1983. Prinsip dan Prosedur Statistik. Suatu Pendekatan Biometrik. Terjemahan : M. Syah. PT Gramedia, Jakarta.

Sturkie, P. D. 2000. Avian Physiology. 15 th Ed. Spinger-Verlag, New York.

Swenson,

Chemical

M.

J.

1984.

Physiological

Properties

and

Cellular

and

Constituents of Blood In Swenson, M.J. (Edition). Duke’s Physiology of Domestic Animal. 10 th Edition Cornell University Press, Ithaca and London.

Syukron, M. 2006. Kandungan lemak dan kolesterol daging serta persentase organ dalam ayam broiler yang diberi ransum finisher dengan penambahan kepala udang. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tizard, I. 1988. Pengantar Imunologi Veteriner. Edisi Ke-2. Terjemahan Masduki Partodirejo. Airlangga University Press, Surabaya.

Wahab, I. & M. Hasanah, 1996. Perkembangan penelitian aspek perbenihan tanaman ketumbar (Coriandrum sativum Linn). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 15: 1-5.

Walton, J.R. 1977. A Mechanism of growth promotion: Non-lethal feed antibiotics induced cell wall lesions in enteric bacteria. Butterworths, London. Pp 259-

264

Wangensteen, H., A. B. Samuelsen & K. E. Malterud. 2004. Antioksidan activity in extracts from coriander. Food.Chem.88:293-297.

Zainuddin, D., W. Puastuti & A. Habibie. 2001. Pengaruh suplementasi tepung temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dalam ransum terhadap kadar kolesterol telur, serum dan feses dari ayam ras petelur. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor.

LAMPIRAN 43

LAMPIRAN

Lampiran 1. Analisis Ragam Bobot Gizzard

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,229

0,076

0,812

0,522

Galat

8

0,753

0,094

Total

11

0,983

Lampiran 2. Analisis Ragam Panjang Duodenum

 
 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,142

0,047

1,102

0,403

Galat

8

0,343

0,043

Total

11

0,485

Lampiran 3. Analisis Ragam Bobot Duodenum

 
 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

.055

0,018

2,455

0,138

Galat

8

.060

0,008

Total

11

.116

Lampiran 4. Analisis Ragam Panjang Jejenum

 
 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,848

0,283

0,597

0,635

Galat

8

3,791

0,474

Total

11

4,639

Lampiran 5. Analisis Ragam Bobot Jejenum

 
 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,178

0,059

1,935

0,203

Galat

8

0,246

0,031

Total

11

0,424

Lampiran 6. Analisis Ragam Panjang Illeum

 
 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

1,369

0,456

1,179

0,377

Galat

8

3,098

0,387

Total

11

4,467

Lampiran 7. Analisis Ragam Bobot Illeum

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,013

0,004

0,065

0,977

Galat

8

0,539

0,067

Total

11

0,552

Lampiran 8. Analisis Ragam Panjang Seka

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,140

0,047

0,326

0,807

Galat

8

1,144

0,143

Total

11

1,283

Lampiran 9. Analisis Ragam Bobot Seka

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,003

0,001

0,192

0,899

Galat

8

0,038

0,005

Total

11

0,041

Lampiran 10. Analisis Ragam Bobot Pankreas

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,010

0,003

0,738

0,558

Galat

8

0,035

0,004

Total

11

0,044

Lampiran 11. Analisis Ragam Bobot Hati

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,412

0,137

1,199

0,370

Galat

8

0,917

0,115

Total

11

1,330

Lampiran 12. Analisis Ragam Bobot Jantung

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,007

0,002

0,663

0,597

Galat

8

0,028

0,003

Total

11

0,034

Lampiran 13. Analisis Ragam Bobot Limpa

 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,001

0,000

0,154

0,924

Galat

8

0,012

0,002

Total

11

0,013

Lampiran 14. Analisis Ragam Bobot Bursa fabrisius

 
 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,009

0,003

4,130

0,048

Galat

8

0,006

0,001

Total

11

0,015

Uji Jarak Duncan

 
   

Subset for alpha = 0.05

 

Perlakuan

N

1

2

R3

 

3

 

.1667

 

R1

3

.2133

.2133

R0

 

3

 

.2200

 

.2200

R2

 

3

   

.2433

Sig.

.051

.234

Lampiran 15. Analisis Ragam Bobot Timus

 
 

db

Jumlah Kuadrat

Rataan Tengah

F

Sig.

Perlakuan

3

0,072

0,024

11,058

0,003

Galat

8

0,017

0,002

Total

11

0,089

Uji Jarak Duncan

 

Subset for alpha = 0.05

Perlakuan

N

1

2

R0

3

.2033

 

R2

3

.2633

R1

3

.3633

R3

3

.3967

Sig.

.152

.405

Lampiran 16. Suhu Harian Kandang Percobaan

Waktu Pengamatan (WIB)

Hari Ke-

07.00

14.00

18.00

H-1

23

33

26

1

23

32

26

2

23

32

26

3

23

32

26*

4

23

33

26

5

24

32

26

6

24

33

26*

7

22

32

28

8

24

32

28*

9

23

32

28

10

23

32

28

11

23

31*

26

12

24

32

26

13

23

32

26*

14

23

32

26

15

23

32

26*

16

23

32

26

17

23

29*

26

18

23

32

26

19

23

33

26

20

23

32

26

21

23

33

26

22

23

32

26

23

23

33

26

24

23

33

26*

25

23

32

26

26

23

33

26

27

23

33

26

28

23

33

26

29

23

32

26

30

23

33

26

31

23

32

26*

32

23

33

26

33

23

33

26

34

23

<