Anda di halaman 1dari 27

Proposal penelitin

( Masalah Sistem Transportasi )


Mengurangi Tingkat Kemacetan di kota
Makassar

NAMA : ACHMAD MUSAWIR

NIM : 45 13 041 080

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL


UNIVERSITAS 45 BOSOWA MAKASSAR
TAHUN 2015
HALAMAN PENGESAHAN

LEMBARAN PENGESAHAN

Nomor :

Judul : Mengurangi Tingkat Kemacetan Di Kota


Makassar

(PLTA)

Nama / stambuk : Achmad Musawir / 4513041080

Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Sipil (S1)

Dosen Pembimbing

Pembimbing

(Amirudin Rana, MT)

Mengetahui :

Ketua Program StudiTeknik Sipil Dekan Teknik

(Ir.Tamrin Malawangeng, ST, MT) ( Ridwan, ST, Msi )


KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulilah hirabbil alamin puji
syukur tak henti-hantinya kita penjatkan kepada sang pencipta dan maha kuasa
disegala hal, yang masih senantiasa memberikan kesempatan pada kita untuk
melakukan aktivitas kita seperti biasanya, berusaha serta berharap hari ini lebih
baik dari hari kemarin.

Syalawat dan salam taklupa pula kita kirimkan kepada baginda rasullullah SAW
yang telah membawa kita dari alam kebodohan atau kegelapan ke alam
pendidikan / yang terang bendereang, sekaligus pembawa ajaran yang telah
menjadikan sebagai petunjuk hidup.

Ucapan terimakasih kami disampaikan kepaada pihak-pihak yang terkait dalam


penelitian ini yang senaantiasa memberikan dukungan berupa sumbangsih saran
ataupun finansial. Terima kasih kepada ke tiga pembimbing saya yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dalam penelitian ini. Adapun sebagai harapan
kita bersama penelitian ini nantinya dapat terealisasikan dan meningkatkan
kemaslahatan masyarakat utamanya mampu mengurangi jumlah kemacetan yang
ada di kota makassar. Mudah-mudaahan penelitian bisa dijadikan suatu aset dalam
pembangunan.

penulis
Daftar isi

A. Sampul
B. Lembar pengesahan
C. Kata pengantar
D. daftar isi
E. Pendahuluan
1. Latar belakang
2. Maksud dan tujuan
3. Manfaat
4. Batasan masalah
5. Hipotesa
F. Landasan teori
1. Pengertian
2. Pengambilan sampel
G. Lokasi jadwal dan biaya
1. Lokasi
2. Jadwal
3. Biaya
H. Kerangka pikir
Daftar pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang.

Perkembangan suatu kota sangat dipengaruhi oleh perkembangan system


transportasi di kota tersebut. Suatu sistem haruslah berjalan baik sepanjang
waktu. Makin meningkatnya kegiatan penduduk suatu daerah, maka makin
menungkat pula pergerakan manusia, barang dan jasa sehingga kebutuhan
akan jasa transportasi akan meningkat pula. Karena itu pemenuhan
kebutuhan transportasi perlu terus ditingkatkan untuk menunjang
pergerakan manusia, barang maupun jasa. Suatu kota yang berpenduduk
dalam jumlah besar dan mempunyai kegiatan perkotaan yang luas
memerlukan pelayanan transportasi berkapasitas tinggi dan ditata secara
terpadu. Oleh karena itu pada dasarnya transportasi merupakan Devired
Demand artinya permintaan akan jasa transportasi timbul dari kebutuhan
sector-sektor lain. Kota yang baik dapat ditandai antara lain dengan
melihat kondisi transportasinya. Sektor transportasi harus mampu
memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat dalam segala
kegiatannya di semua lokasi yang berbeda dan tersebar dengan
karakteristik fisik yang berbeda pula. Dengan kata lain, setiap wilayah
kota harus dapat dijangkau oleh system pelayanan angkutan umum yang
ada, untuk itu kebutuhan transportasi harus seimbang dengan penyediaan
prasarana dan didukung oleh sistem jaringan jalan dengan tingkat
pelayanan yang memadai. Lalu lintas dan jaringan jalan memiliki peranan
yang sangat penting sehingga penyelenggaraannya dan pembinaannya
dikuasai oleh Negara dan swasta dengan tujuan untuk mewujudkan lalu
lintas dan jaringan jalan yang selamat, aman, cepat, lancar, tertib,teratur,
nyaman dan efisien. Disamping itu untuk meningkatkan daya guna dan
hasil guna dalam penggunaan dan pemanfaatan jalan, diperlukan pula
adanya ketentuan-ketentuan bagi pemerintah dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan perencanaan, pengaturan, dan pemeliharaan fasilitas
perlengkapan jalan. Kota sebagai simul jasa distribusi, memiliki peranan
yang penting dalam memacu perkembangan ekonomi, sedangkan
pertumbuhan ekonomi yang cepat akan mengakibatkan perubahan aktifitas
kota yang berdampak pada struktur dan karakteristik serta pola
penggunaan lahan koa kemidian diikuti oleh pengembangan kota. Kota
Makassar merupakan Ibukota dari Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai
luasan sekitar 175,77 Km2 yang dibagi kedalam 14 kecamatan dan 143
kelurahan. Kota Makassar yang merupakan kota metropolitan, pada saat
ini tingat kepadatannya bisa dikatakan sangat tinggi khususnya pada ruas
Jl. AP.Pettarani yang pada jam-jam sibuk kendaraan yang berlalu-lalang
sangat padat sehingga sering menimbulkan kemacetan. Hal inilah yang
mendasari kami tertarik mengambil ruas Jalan AP. Pettarani sebagai studi
kasus yang nantinya dapat menjadi pertimbangan untuk mengatasi
masalah lalu lintas yang ada di ruas jalan ini.
2. Rumusan Masalah.
2.I Terdapatnya 12 penyebab kemacetan di kota Makassar

diaryarnie.blogspot.com
Melihat kondisi sekarang ini, Makassar semakin hari semakin macet.
Yah memang sih,adanya kemacetan menjadi indikator bahwa kota tersebut
menuju kota metropolitan. Namun, banyaknya jumlah kendaraan yang
bertambah setiap hari tak seimbang dengan fasilitas yang ada terutama
yang menyangkut masalah lahan yang tak mengalami perubahan .Selain
masalah diatas ,ada beberapa penyebab kemacetan lainnya yaitu:

2.Ia). Banyaknya jasa pak ogah/ petugas pengarah jalan ilegal yang egois
dimana mereka seenaknya saja mengatur lalu lintas .Contoh kecilnya saja
,ketika mereka seenaknya menghentikan kendaraan demi memberi jalan
bagi kendaraan yang berputar arah. Hal ini mereka lakukan karena
mendapat uang jasa. Yah,kebanyakan dari mereka lebih mementingkan
uang karena dari situlah mereka mendapat penghasilan.

2.Ib). Maraknya masyarakat yang menggunakan jalan raya protokol untuk


belajar mengendarai kendaraan pada saat jam-jam padat.Hal ini
menyebabkan kemacetan karena terkadang mereka berjalan begitu
lambatnya sehingga membuat kendaran di belakangnya ikut mengantri.

2.Ic). Pinggir jalan yang dijadikan sebagai tempat parkir


darurat/dadakan.Kebanyakan terjadi di depan pusat pembelanjaan ( Mall
Mtos dan Pasar Sentral Makassar). Ulah supir mobil angkutan umum
yang seenaknya saja menaikkan dan menurunkan penumpang membuat
jalanan semakin macet. Ada pula ulah supir truk dan moko/mobil toko
yang menepi di bahu jalan yang akhirnya membuat jalanan menjadi
sempit sehingga menghambat lajunya kendaraan.

2.Id). Adanya pembangunan ruko,hotel dan perumahan yang marak


dibangun tanpa memperhatikan Analisi Dampak Lingkungan (Amdal)

2.Ie). Maraknya pedagang kaki lima yang mengambil lahan untuk


menjajakan dagangannya.
2.If). Adanya demonstrasi yang dilakukan dengan menutup jalan raya.
Selain menghambat kendaraan juga menyebabkan lumpuhknya aktivitas
masyarakat Makassar

2.Ig). Banyaknya kendaraan berukuran besar seperti bus dan truk yang
melenggang di jalan raya saat jam padat lalu lintas ( jam 07.00- 09.00 dan
jam 17.00- jam 20.00) .Hal ini tentunya sangat mengganggu kelancaran
lalu lintas .

2.Ih). Volume kendaraan yang setiap hari bertambah dan melebihi daya
tampung jalan raya. Coba anda tengok sejenak ke pelabuhan Makassar
dimana ratusan kendaraan bermotor baru dan siap jual terpajang di sana-
sini.

2.Ii). Adanya kemudahan kredit kendaraan bermotor yang akhirnya


menyebabkan tingginya pembelian kendaraan pribadi. Coba anda masuk
ke dealer-dealer kendaraan bermotor, syarat untuk mendapatkan kendaraan
cukup mudah bahkan uang mukanya tidak sampai satu juta.

2.Ij). Kurang disiplinnya para pengendara terhadap rambu-rambu lalu


lintas . Hal ini menandakan bahwa masyarakat memandang rambu lalu
lintas sebagai pajangan jalanan saja.

2.Ik). Putaran arah kendaraan tidak dirancang dengan baik sehingga


menyebabkan kendaraan seenaknya berputar haluan.

2Il). Adanya faktor-faktor yang tidak bisa diduga semisal kecelakaan lalu
lintas dan adanya hujan deras yang menyebabkan genangan air di sana-sini
sehingga kendaraan memperlambat kendaraannya.
dok:BPBD Kota Makassar

Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan yang


terjadi di lokasi penelitian yaitu:

Bagaimana manajemen yang baik untuk diterapkan dalam transportasi


jalan raya agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan dalam
transportasi perkotaan?

2. Maksud dan Tujuan Penelitian.


a. Maksud
Adapun Maksud dari diadakannya penyusunan makalah ini adalah untuk
memberikan saran untuk peningkatan kualitas dari pelayanan lalu lintas di
wilayah studi.
b. Tujuan
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mencari dan mengetahui
manajemen transportasi pada jalan raya agar dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan transportasi perkotaan, dan untuk
menjelaskan pengaruh kebijakan tersebut diatas dan faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan implementasinya.
3. Manfaat Penelitian.
3.I. Agar dapat menentukan bagaimana manajemen yang baik untuk
diterapkan dalam transportasi jalan raya, agar dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan dalam transportasi perkotaan dan dapat
menghasilkan solusi jangka panjang, yakni pemerintah memiliki konsep
middle ring road (jalan lingkar tengah). Jalan lingkar tengah ini akan
menghubungkan Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Syeh Yusuf, atau
tepatnya alternatif jalan yang menjadi akses pilihan antara Kabupaten
Maros, Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar. Jalan
trans ini, dalam konsep besarnya disebut dengan proyek maminasata
(Maros, Makassar, Sungguminasa, dan Takalar).
3.II. Dapat menguraikan kemacetan di kota Makassar secara mendalam.
4. Hipotesis.
khusus untuk Kota Makassar, sudah saatnya dibuat jalan layang antara
Jalan Alauddin dan Jalan AP Pettrani. Arus lalu lintas di jalan ini memang
sangat pada karena menghubungkan dengan kabupaten tetangga, yakni
Gowa. Selain itu, di jalan ini terdapat sejumlah kampus besar. Setiap kali
terjadi demonstrasi, kemacetan tak dapat dihindarkan.
dan juga jalan penghubung antara Jalan perintis kemerdekaan, Jalan
panaikang dan Jalan yang tembus antang, tepatnya yang dulu di sebut
adipura. agar dibuat pula jalan layang karena sebelumnya terdapat jalan
tello yang menjadi satu-satunya akses masyarakat menuju Jalan ke kota
sehingga tidak ada akses lain yang menjadi pilihan masyarakat ketika
terjadi kemacetan.
LANDASAN TEORI

Kemacetan sudah menjadi moomok yang harus dihadapi hampir


oleh seluruh kota-kota besar di dunia, terutama untuk kota-kota besar di
negara berkembang. dengan status sebagai kota besar, kota makassar juga
mengalami hal yang sama yaitu kemacetan. Jalan A.P. Pettarani, Jalan
Urip Sumoharjo, serta Jalan Perintis Kemerdekaan adalah beberapa jalan
protokol kota ini yang di landa masalah kemacetan. Pemerintah kota
melalui beberapa kebijakan yang dikeluarkannya berusaha agar masalah
ini dapat teratasi dengan baik. Kebijakan pelebaran jalan, Pengaturan
wilayah operasional kendaraan becak motor, serta pelarangan parkir pada
bahu jalan merupakan sebagian kebijakan yang digunakan untuk
mengatasi kemacetan di kota Makassar tersebut. Penelitian ini bertujuan
untuk menjelaskan pengaruh kebijakan tersebut dan faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan implementasinya. Data-data yang
dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder dengan teknik
pengumpulan data berupa survey, wawancara dan analisis dokumen.
Variabel-variabel yang digunakan untuk menilai keberhasilan
implementasi dirangkum dari berbagai teori yang ada. Begitupun dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan tetap disimpulkan melalui
proses deduksi. faktor-faktor tersebut adalah kurangnya kordinasi antar
lembaga,jumlah staf atau personel yang belum memadai, minimnya
pendanaan dan peralatan, rendahnya kesadaran masyarakat, dan yang
terakhir adalah kemudahan akses kepemilikan kendaraan pribadi. Hal ini
dikarenakan kebijakan yang ada hanya dapat menyelesaikan masalah
dalam waktu singkat dan sementara saja. Terdapat dua faktor yang dapat
menyebabkan kebijakan yang ada itu menjadi tidak efektif. Kedua faktor
tersebut adalah konsistensi penerapan kebijakan yang rendah serta
sinkronisasi dan countinuitas yang rendah dari kebijakan yang ada.
A. PENGERTIAN
1. Pengertian Transportasi
Menurut Setijowarno dan Frazilla (2001) transportasi adalah suatu
kegiatan untuk memindahkan sesuatu (orang dan atau barang) dari suatu
tempat ke tempat lain, baik dengan atau tanpa sarana (kendaraan, pipa, dan
lain-lain).
UU RI Nomor 14 Tahun 1992 mendefinisikan transportasi sebagai
memindahkan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lain
dengan menggunakan kendaraan. Selanjutnya yang dimaksud kendaraan
dalam UU RI Nomor 14 Tahun 1992 adalah suatu alat yang bergerak di
jalan, baik kendaraan bermotor atau tidak bermotor.
(Handayani, R. 2006)
Unsur-unsur dasar transportasi ada lima, yaitu:
a) Manusia, yang membutuhkan transportasi
b) Barang, yang diperlukan manusia
c) Kendaraan, sebagai sarana transportasi
d) Jalan, sebagai prasarana transportasi dan
e) Organisasi.
Transportasi merupakan bagian integral dari suatu fungsi masyarakat. Ia
menunjukkan hubungan yang sangat erat dengan gaya hidup, jangkauan
dan lokasi dari kegiatan yang produktif, dan selingan serta barang-barang
dan pelayanan yang tersedia untuk dikonsumsi. (Morlok:33)
Perbedaan sifat jasa, operasi, dan biaya pengangkutan membedakan alat
angkutan atau moda angkutan dalam lima kelompok sebagai berikut:
angkutan kereta api, (rail road railway), angkutan bermotor dan jalan raya
(motor/road/highway transportation), angkutan laut (water/sea
transportation), angkutan udara (air transportation), dan angkutan pipa
(pipeline). (Nur Nasution:26).

2. Transportasi Jalan Raya


System lalu lintas jalan pada dasarnya terdiri dari sub-sub system yang
antara lain adalah pemakai jalan (pengemudi dan pejalan kaki), sarana
angkutan (kendaraan), prasarana jalan dan lingkungan, di mana dalam
gerak dinamikanya interaksi dan kombinasi daripada sub-sub system
tersebut akan menghasilkan karakteristik daripada pergerakan lalu lintas
barang dan penumpang.
System lalu lintas jalan merupakan suatu interaksi antara prasarana (jalan),
sarana (kendaraan), dan manusia yang dikendalikan oleh hukum (Undang-
Undang dan peraturan-peraturan).
(Badan Pendidikan dan Latihan Perhubungan Pusat Pendidikan dan
Latihan Perhubungan Darat, 1997:1-2)

3. Prasarana Jalan
Menurut Siregar (1981) jalan raya adalah prasarana perhubungan darat
dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan
palengkap dan pelengkapnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas
kendaraan, orang dan hewan, sehingga pengertian jalan tidak hanya
terbatas pada jalan konvensional (tanah), akan tetapi termasuk juga jalan
yang melintasi sungai besar/danau/laut, di bawah permukaan tanah dan air
(terowongan) dan di atas permukaan tanah (jalan laying). Bagian
pelengkap jalan adalah bangunan yang tidak dapat dipisahkan dari jalan,
seperti jembatan, pontoon, tempat parker, sedangkan perlengakapan jalan
adalah rambu-rambu lalu lintas, tanda-tanda jalan, pagar pengaman lalu
lintas, dan lain-lain.
(Handayani, R. 2006)
Jalan mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, politik, social,
budaya, dan pertahanan keamanan serta dipergunakan untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Di samping itu, jalan mempunyai peranan
untuk mendorong pengembangan semua Satuan Wilayah Pengembangan
dalam usaha mencapai tingkat perkembangan antar daerah yang semakin
merata. Oleh karena itu, jalan merupakan suatu kesatuan system jaringan
jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan
dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu
hubungan hirarki.
3.1 Jaringan Jalan
Jaringan merupakan suatu konsep matematik yang digunakan untuk
menggambarkan prasarana jalan. Jaringan jalan mempunyai dua elemen,
yaitu ruas jalan (link) dan simpul (node). Dalam jaringan jaan biasanya
diadakan pembedaan antara berbagai kelas/klasifikasi jalan.
a. Kelas Jaringan Berdasarkan Wewenang Pembinaannya
Berdasarkan wewenang pembinaan jalan, kelas jaringna jalan dapat
dibedakan ke dalam 6 kelas jalan, yaitu:

a) Jalan Nasional adalah jalan umum yang wewenang pambinaannya


dilakukan oleh Menteri
.b) Jalan Provinsi adalah jalan umum yang wewenang pembinaannya
dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas usul Pemerintah Daerah
Tingkat I dengan memperhatikan pendapat Menteri.
c) Jalan Kabupaten adalah jalan umum yang wewenang pembinaannya
dilakukan oleh Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atas usus
Pemerintah Daerah Tingkat II bersangkutan dengan memperhatikan
pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.
d) Jalan Kota Madya adalah jalan umum yang wewenang pembinaanya
dilakukan oleh Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atas usus
Pemerintah Daerah Kota Madya bersangkutan dengan memperhatikan
pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.
e) Jalan Desa adalah jalan umum yang wewenang pembinaannya
dilakukan oleh keputusan Pemerintah Daerah Tingkat II bersangkutan
dengan memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.
f) Jalan Khusus adalah jalan yang dibangun/dipelihara oleh
instansi/perorangan dengan memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh
Menteri.
b. Kelas Jaringan Jalan Berdasarkan Peranan/Fungsinya.
Menurut peran dan fungsinya serta persyaratan jalan, jalan terbagi menjadi
tiga macam, yaitu :
• Jalan arteri
Adalah jalan melayani angkutan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan
jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.
• Jalan arteri primer, menghubungkan kota jenjang kesatu yang terletak
berdampingan atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota
jenjang kedua.
Kecepatan rencana > 60 km/jam
Lebar badan jalan minimal 8 meter.
Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata.
Lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik, lalu
lintas lokal dan kegiatan lokal.
Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan
kapasitas jalan dapat tercapai.
Jalan persimpangan dengan pengaturan tertentu tidak mengurangi
kecepatan rencana dan kapasitas jalan.
Jalan arteri primer tidak terputus walaupun memasuki kota.
• Jalan arteri sekunder, menghubungkan kawasan primer dengan sekunder
kesatu atau kawasan kesatu dengan kawsan sekunder kedua.
Kecepatan rencana > 30 km/jam.
Lebar badan jalan minimal 8 meter.
Kapasitas jalan sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.
Tidak boleh diganggu oleh lalu lintas lambat.
Persimpangan dengan pengaturan tertentu, tidak mengurangi kecepatan
dan kapasitas jalan.
b) Jalan kolektor
Adalah jalan yang melayani angkutan pengumpulan atau pembagian
dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan
jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
• Jalan kolektor primer, menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota
jenjang kedua atau kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga.
Kecepatan rencana > 40 km/jam.
Lebar badan jalan minimal 7 meter.
Kapasitas jalan lebih besar atau sama dengan volume lalu lintas rata-rata.
Jalan masuk dibatasi, direncanakan sehingga tidak mengurangi kecepatan
rencana dan kapasitas jalan.
Jalan kolektor primer tidak terputus walaupun memasuki kota.
• Jalan kolektor sekunder, menghubungkan kawasan sekunder dengan
kawasan sekunder kedua atau kawasan sekunder kedua dengan kawasan
sekunder ketiga.
Kecepatan rencana minimal 20 km/jam.
Lebar jalan minimal 7 meter.
c) Jalan lokal
Adalah jalan yang melayani angkutan pengumpulan atau pembagian
dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan
jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
• Jalan lokal primer, menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil
atau jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang
ketiga dengan kota jenjang di bawahnya, kota jenjang ketiga dengan persil
atau kota di bawah kota jenjang ketiga sampai persil.
Kecepatan rencana > 20 km/jam.
Lebar badan jalan minimal 6 meter.
Jalan lokal primer tidak terputus walaupun memasuki desa.
• Jalan lokal sekunder, menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan
perumahan atau kawasan sekunder ketiga dan seterusnya dengan
perumahan.
Kecepatan rencana > 10 km/jam.
Lebar badan jalan minimal 5 meter.
Lebar badan jalan tidak diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga atau
lebih, minimal 3,5 meter.
Persyaratan teknik tidak diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga atau
lebih.
c. Kelas Jaringan Jalan Berdasarkan Kemampuan Daya Dukung Jalan
a) Jalan Kelas I yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m, panjang tidak
melebihi 18 m dan muatan sumbu terberat yang diijinkan >10 ton.
b) Jalan Kelas II yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m, panjang tidak
melebihi 18 m dan muatan sumbu terberat yang diijinkan 10 ton.
c) Jalan Kelas III A yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m,
panjang tidak melebihi 18 m dan muatan sumbu terberat yang diijinkan 8
ton.
d) Jalan Kelas III B yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m,
panjang tidak melebihi 12 m dan muatan sumbu terberat yang diijinkan 8
ton.
e) Jalan Kelas III C yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,1 m,
panjang tidak melebihi 9 m dan muatan sumbu terberat yang diijinkan 8
ton.
(Badan Pendidikan dan Latihan Perhubungan Pusat Pendidikan dan
Latihan Perhubungan Darat, 1997:3-6 – 3-11)
4. Sarana/Moda
4.1 Klasifikasi Kendaraan Bermotor
Kendaraan pada dasarnya dibuat untuk memenuhi salah satu dari 3
kegunaan dasar angkutan, yaitu:
a) Angkutan pribadi, adalah transportasi untuk masing-masing individu
dan keluarga yang memiliki kedaran yang digunakan untu keperluan
pribadi mereka; termasuk didalam kategori ini adalah kendaraan yang
bukan milik pribadi tetapi digunakan secara pribadi, misalnya kendaraan
perusahaan, kendaraan yang disediakan untuk pegawai pemerintah, dan bis
pegawai.
b) Angkutan umum, angkutan yang tersedia untuk umum yang membayar
ongkos untuk menggunakan kendaraan tersebut. Angkutan umum dapat
merupakan moda angkutan lain, khususnya angkutan jalan rel, dan juga
angkutan air (ferry) dan angkutan udara.
c) Ankutan barang, adalah untuk memuat segala jenis barang, dari yang
kecil dan bernilai tinggi hinggi yang besar dan bersifat barang curah, dari
makanan dan binatang hingga barang cair dan mineral, dsb.
4.2 Klasifikasi Kendaraan Bermotor Menurut Jenisnya
Kendaraan Bermotor yang beroperasi di Indonesia dapat dikelompokkan
menjadi 5 jenis yaitu:
a) Sepeda Motor, adalah setiap kendaraan bermotor yang berdua dua.
b) Mobil Penumpang, yaitu kendaraan bermotor yang semata-mata
diperlengkapi dengan sebanyak-banyaknya 8 tempat duduk, tidak
termasuk tempat duduk pengemudinya, baik dengan atau tanpa
perlengkapan pengangkutan bagasi.
c) Mobil Bus, adalah kendaraan bermotor yang diperlengkapi dengan lebih
dari 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan
maupun tanpa perlengkapan pengangkutan barang.
d) Mobil Barang, adalah kendaraan bermotor selain dari ada yang
termasuk dalam definisi mobil penumpang, mobil bus, dan selain
kendaraan bermotor beroda dua.
e) Mobil Kendaraan Khusus, adalah kendaraan bermotor selain daripada
kendaraan bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk
barang yang digunakan untuk keperluan khusus atau mengangkut muatan
khusus.
4.3 Pembagian Kendaraan Bermotor Menurut Berat Dan Dimensinya
a) Pembagian kendaraan bermotor berdasarkan panjang Maksimum yang
diizinkan oleh pemerintah untuk setiap jenis kendaraan adalah sebagai
berikut:
• Mobil Bis : 12 m
• Mobil Barang tanpa kereta gandengan : 9 m
• Mobil Barang dengan kereta gandengan : 16,5 m
• Mobil Barang dengan kereta tempelan : 15,5 m
• Mobil Penumpang : 6 m
• Panjang maximum kereta gandengan bersumbu satu : 5 m
b) Ketentuan dan peraturan panajng muatan menjorok, lebar dan tinggi
yang diizinkan adalah sebagai berikut :
• Kebelakang tidak boleh melebihi 2 meter dari sisi belakang kendaraan.
• Kedepan tidak boleh melampaui kaca depan.
• Lebar maksimal 2,5 m dan,
• Tinggi maksimal 3,5 m.
c) Ketentuan dan peraturan panjang muatan menjorok, lebar dan tinggi
yang diizinkan adalah sebagai berikut :
• Kebelakang tidak boleh melebihi 2 meter dari sisi belakang kendaraan.
• Kedepan tidak boleh melampaui kaca depan.
• Lebar maksimal 2,5 m dan
• Tinggi maksimal 3,5 m
d) Untuk panjang rangkaian kendaraan penarik (tractor Head) dan kereta
tempelan maksimum adalah 17,5 meter, lebar kendaraan maksimum 2,5
meter dan tinggi maksimum 4 meter.
e) Untuk mobil kendaraan khusus yang beroperasi di jalan pada prinsipnya
harus memenuhi persyaratan teknik dan lain jalan sesuai ketentuan yang
berlaku.
f) Untuk pembagian kendaraan bermotor berdasarkan berat/muatan sumbu
terberat (MST) dikelompokan menjadi 3 kelas yaitu :
• Kendaraan bermotor dengan muatan sumbu = 10 ton
• Kendaraan bermotor dengan muatan sumbu = 8 ton
• Kendaraan bermotor dengan muatan sumbu = < 8 ton, yang masih dibagi
menjadi kelas 5 ton
4.4 Klasifikasi Kendaraan Bermotor Menurut Jenis dan Muatan Sumbu
Terberat (MST).
a) Klasifikasi kendaraan bermotor menurut jenisnya berdasarkan
klasifikasi kendaran bermotor menurut muatan sumbunya dan dengan
tidak memperhitungkan kereta tempelan dan kereta gandengan, yaitu :
• Mobil penumpang dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.1) mempunyai
MST kendaraan kurang dari 3,5 ton.
• Mobil Bus di bedakan menjadi 2 (dua) yaitu :
Mobil bus sedang dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.2) mempunyai
MST kendaraan 8 ton.
Mobil bus besar dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.2) mempunyai
MST kendaraan 10 ton.
• Mobil barang dibedakan menjadi 4 (empat) yaitu :
Mobil barang ringan dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.1) mempunyai
MST kendaraan kurang dari 3,5 ton.
Mobil barang sedang dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.2)
mempunyai MST kendaraan 5-8 ton.
Mobil barang berat dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.2) mempunyai
MST kendaraan sama dengan 10 ton.
Mobil barang berat dengan sumbu tandem (jenis sumbu 1.22) mempunyai
MST kendaraan lebih besar dari 10 ton.
• Mobil kendaraan khusus dibedakan menjadi 4 (empat) yaitu :
Mobil kendaraan khusus ringan dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.1)
mempunyai MST kendaraan kurang dari 3,5 ton.
Mobil kendaraan khusus sedang dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.2)
mempunyai MST kendaraan 5-8 ton.
Mobil kendaraan khusus berat dengan sumbu tunggal (jenis sumbu 1.2)
mempunyai MST kendaraan sama dengan 10 ton.
Mobil kendaraan khusus berat dengan sumbu tandem (jenis sumbu 1.22)
mempunyai MST kendaraan lebih besar dari 10 ton.
(Badan Pendidikan dan Latihan Perhubungan Pusat Pendidikan dan
Latihan Perhubungan Darat, 1997:4-2 – 4-7)
5. Pelengkap Jalan
5.1 Marka Jalan
Menurut Setijowarno dan Frazila (2001) Marka Jalan (road marking)
adalah suatu tanda di atas permukaan dan bahu jalan yang terdiri dari garis
berbentuk memanjang (membujur) dan melintang termasuk symbol, huruf,
angka atau tanda-tanda lainnya, kecuali rambu dan lampu lalu lintas.
Marka jalan berfungsi mengatur, mengarahkan, dan menyalurkan lalu
lintas kendaraan ataupun untuk memperingatkan atau menuntun pemakai
jalan.isong satu atau beberapa memotu at melintang
Bentuk marka jalan sebagaimana dimaksud dalam pengertian marka jalan
adalah sebagai berikut:
a) Marka membujur atau memanjang yaitu marka yang terdiri dari garis
memanjang kearah gerak lalu lintas yang berupa garis penuh (uth) dan
garis putus-putus
b) Marka melintang yang terdiri dari garis melintang atau memotong satu
atau beberapa jalur lalu lintas yang dapat berupa garis penuh dan atau
putus-putus.
c) Marka bentuk lain seperti panah, garis sejajar atau seorang, atau tulisan
yang boleh digunakan untuk mengulangi petunjuk yang diberikan oleh
rambu atau untuk menyampaikan pemberitahuan kepada pemakain jalan
yang dapat dijelaskan dengan sempurna oleh rambu.
Fungsi utama dari adanya marka jalan adalah: 1) meningkatkan
keselamatan lalu lintas, 2) menghindarkan atau mengurangi kemacetan, 3)
menunjukkan arah, 4) mendukung pola kebijaksanaan pengendalian
(sirkulasi) arus lalu lintas.

Marka jalan menurut bentuknya:


a) Garis putus-putus.
b) Garus penuh.
c) Tempat penyeberangan jalan (zebra cross) pada lokasi.
d) Chevron yang dipasang di daerah sebelum dan atau sesudah adanya
penghalang yang berfungsi sebagai pengaruh lalu lintas.
e) Marka pada pulau pada persimpangan dipasang sebagai pengarah
kendaraan yang berbelok sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas.
f) Garis larangan berhenti.
g) Marka pengarah jalur.
(Handayani, R. 2006)
5.2 Perparkiran
Ketiadaan pelataran parkir di kawasa tertentu dalam kota sudah pasti
berakibat berkurangnya lebar jalan di tempat tersebut. Kendaraan diparkir
di pinggir jalan, naik ke bahu jalan, atau menyerobot sebagian kaki lima
(trotoar) sehingga jelas mengurangi daya tampung jalan tersebut.
Kesulitannya, makin besar jumlah kendaraan, makin besar pula kebutuhan
akan pelataran parkir. Sebagai gambaran, dengan hanya memarkir tiga
kendaraan pada suatu ruas jalan sepanjang 1 km sudah berarti mengurangi
lebar jalan yang semula 5,5 m menjadi 4,6 m.
Luas yang dibutuhkan untuk pelataran parkir bergantung pada dua hal
pokok, yaitu ukuran kendaraan yang diperkirakan parkir dan sudut parkir.
Sudut parkir yang . Panjang dan lebar dan 90, 60, 45, 30umumnya
digunakan adalah 0 petak parkir serta daya tampung panjang ruas jalan
yang dibutuhkan terdapat pada tabel 2.1 dan tabel 2.2.
B. PENGAMBILAN SAMPEL

Secara pengamatan visual di sulawesi tengah kabupaten morowali,


tepatnya desa dampala terdapat sungai yang memiliki potensi yang sangat
tinggi dijadikan sebagai pembangkit tenaga listrik (PLTA) dalam hal ini
sungai ini adalah merupakan induk sungai yang memiliki debit yang
sangat besar. Disamping itu mengingat desa dampala merupakan salah
satu desa yang belum terjangkau listrik pemerintah daerah, sehinggah
harus beradaptasi memenuhi kebutuhan listrik dengan menggunakan
mesin diesel yang memerlukan biaya primer/sekunder yang tidak sedikit.
LOKASI JADWAL DAN BIAYA

a. Lokasi
Adapun yang menjadi tempat atau lokasi kami dalam melakukan
penelitian ini adalah Profinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar,
tepatnya ada 5 lokasi Jalan Yakni :
Jalan Sultan Alauddin.
Jalan A.P Pettarani.
Jalan Urip Sumoharjo.
Jalan Panaikang.
Jalan Perintis Kemerdekaan.
Jalan Tello'.
Jalan Tembusan Antang.
ADIPURA.
b. Jadwal
Waktu pelaksanaan yang kami rencanakan adalah setelah akhir
semester, pada hari senin, 12 Januari 2015. Untuk lebih jelasnya kami
telah mennyusun rangkaian kegiatan utama yang telah dijadwalkan
sebagai berikut:

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN


SUNGAI DAMPALA
HARI WAKTU TEMPAT KEGIATAN KETERANGAN
08.00- Perintis Sosialisasi kepada
Senin 10.00 kemerdekaan pengguna jalan
08.00 -
Selasa 09.00 Adipura Survei lokasi pengamatan
13.00- Jl. AP. Pengukuran/ pengambilan
Rabu 14.30 Pettarani data
15.00 - Jl. Sultan Pengukuran/ pengambilan
Kamis 16.00 Alauddin data
17.00- Jl.Urip
Jum'at 17.30 Sumoharjo Pengamatan Lokasi
08.00 -
Sabtu selesai Kampus 45 Perampungan Data.
RINCIAN
BIAYA
HARI KONSUMSI PERALATAN TRANSPORTASI KETERANGAN
Pulpen, Buku, Peralatan dan
Senin Rp. 15.000,- Papan Alas,HP Motor transportasi dari Pribadi
Pulpen, Buku,
Selasa Rp. 15.000,- Papan Alas,HP Motor
Pulpen, Buku,
Rabu Rp. 15.000,- Papan Alas,HP Motor
Pulpen, Buku,
Kamis Rp. 10.000,- Papan Alas,HP Motor
Pulpen, Buku,
Jumat Rp. 10.000,- Papan Alas,HP Motor
Sabtu Rp. 15.000,- Laptop, HP Motor
Pulpen, Buku,
Papan
TOTAL Rp. 70.000,- Alas,HP,Laptop Motor

KERANGKA BERPIKIR

memiliki belum terjangkau Lokasi


Menentukan
Penelitian
Judul

Berpotensi

Membantu
Sumber energi menambah Sumber
listrik(PLTA) energi listrik

meningkatkan
Ekonomi Akses
masyarakat informasi
baik

Daftar pustaka

[1] Fanchi. John R., Energy – Technology and Directions for the Future. Elsevier
Academic Press, 2004.
[2] Freris. Leon, Infield. David, Renewable Energy in Power Systems. John Wiley
& Sons, Ltd, 2008.
[3] Boyle. Godfrey, Renewable Energy, Power for a Sustainable Future. Oxford
University Press, 1996.
[4] Masters. Gilbert M., Renewable and Efficient Electric Power Systems. John
Wiley & Sons, Ltd, 2004.
[5] http://www.eia.doe.gov/iea/
*) gambar ilustrasi PLTA diambil dari
http://bulgarian.ibox.bg/news/id_799478867