Anda di halaman 1dari 95

SEMINAR

PRAKTIK PROFESI NERS


STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB)
PASIEN DENGAN PJK (PENYAKIT JANTUNG KORONER)
DI RUANG CAMELIA RUMAH SAKIT Dr. SOETOMO SURABAYA

Disusun oleh :
Sumariono Efendi, S.Kep. 131723143091
Mey Selvi Yanti, S.Kep.131723143002
Lilis Ernawati, S.Kep. 131723143003
Delisa Alfriani, S.Kep. 131723143014
Erna Susanti, S.Kep. 131723143022

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan “Asuhan Keperawatan Pada Tn. M.T Dengan Diagnosa Medis


PJK (Penyakit Jantung Koroner) di Ruang Camelia RSUD Dr. Soetomo
Surabaya” yang telah dilaksanakan tanggal 11-16 Maret 2018 dalam rangka
pelaksanaan Program Profesi Pendidikan Ners Stase Keperawatan Medikal
Bedah di Ruang Camelia RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Telah disetujui untuk dilaksanakan Seminar Kasus di RSUD Dr.


Soetomo pada hari Kamis, 5 April 2018.

Disahkan tanggal 20 Maret 2018

Menyetujui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Dr. Abu Bakar, M.Kep., Ns, Sp. Kep.MB Binafsih, SST


NIP.198004272009121002 NIP : 197105091991032003

Mengetahui,

Kepala Ruangan Camelia


RSUD Dr. Soetomo Surabaya

ii
KATA PENGANTAR
Nur Hasanah, SST
NIP : 196902231994032002
Puji syukur kehadirat
Allah SWT atas segala limpahan
berkah dan rahmat yang diberikan, sehingga penulisan makalah seminar profesi
keperawatan medikal bedah dengan kasus PJK (Penyakit Jantung Koroner) di
ruang Camelia Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dapat terselesaikan.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang bagaimana
konsep keperawatan pada sistem kardiovaskuler dan penatalaksanaan serta asuhan
keperawatan yang tepat.
Penyusunan makalah ini, tentunya tidak terlepas dari berbagai hambatan.
Oleh karena itu, masukan dan saran kami harapkan untuk perbaikan seminar
selanjutnya. Sehubungan dengan hal tesebut, kami ucapkan terima kasih kepada
Ibu Binafsih, SST dan Bapak Abu Bakar S.Kep., Ns. Sp.Kep.MB selaku
fasilitator. Terima kasih juga kami sampaikan kepada mahasiswa Fakultas
Keperawatan Universitas Airlangga dan semua pihak yang terlibat dalam
penyelesaian makalah ini.

Surabaya, Maret 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan..........................................................................................ii
Kata pengantar ................................................................................................... iii
Daftar Isi.............................................................................................................. iv
BAB 1 Pendahuluan............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3 Tujuan............................................................................................................ 2
BAB 2 Tinjauan Pustaka..................................................................................... 3
2.1 Definisi PJK................................................................................................ 3
2.2 Faktor risiko dan Etiologi PJK.................................................................... 3
2.3 Klasifikasi PJK............................................................................................ 7
2.4 Patofisiologi PJK......................................................................................... 8
2.5 DM sebagai Pencetus PJK.......................................................................... 12
2.6 Manifestasi PJK.......................................................................................... 18
2.7 Komplikasi PJK.......................................................................................... 19
2.8 Pemeriksaan Diagnosis PJK........................................................................ 19
2.9 Penatalaksanaan PJK................................................................................... 19
2.10 Asuhan Keperawatan Teori PJK............................................................... 26
2.11 Prosedur CABG.......................................................................................... 41
BAB 3 Format Pengkajian Asuhan Keperawatan............................................... 54
BAB 4 Penutup................................................................................................... 89
Daftar Pustaka..................................................................................................... 90

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskular saat ini
merupakan salah satu penyebab utama dan pertama kematian di negara maju
dan berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 2010, secara global
penyakit ini akan menjadi penyebab kematian pertama di negara
berkembang, menggantikan kematian akibat infeksi. Diperkirakan bahwa
diseluruh dunia, PJK pada tahun 2020 menjadi pembunuh pertama
tersering yakni sebesar 36% dari seluruh kematian, angka ini dua kali
lebih tinggi dari angka kematian akibat kanker. Di Indonesia dilaporkan
PJK (yang dikelompokkan menjadi penyakit sistem sirkulasi)
merupakan penyebab utama dan pertama dari seluruh kematian, yakni
sebesar 26,4%, angka ini empat kali lebih tinggi dari angka kematian
yang disebabkan oleh kanker (6%). Dengan kata lain, lebih kurang satu
diantara empat orang yang meninggal di Indonesia adalah akibat PJK.
Berbagai faktor risiko mempunyai peran penting timbulnya PJK mulai dari
aspek metabolik, hemostasis, imunologi, infeksi, dan banyak faktor lain yang
saling terkait.
Jantung sanggup berkontraksi tanpa henti berkat adanya suplai bahan-
bahan energi secara terus menerus. Suplai bahan energi berupa oksigen dan
nutrisi ini mengalir melalui suatu pembuluh darah yang disebut
pembuluh koroner. Apabila pembuluh darah menyempit atau tersumbat
proses transportasi bahan- bahan energi akan terganggu. Akibatnya sel-sel
jantung melemah dan bahkan bias mati. Gangguan pada pembuluh
koroner ini yang disebut penyakit jantung koroner (Yahya, 2010).
Pengobatan penyakit jantung koroner dimaksudkan tidak sekedar
menggurangi atau bahkan menghilangkan keluhan. Yang paling penting
adalah memelihara fungsi jantung sehingga harapan hidup akan
meningkat (Yahya, 2010). Sebagian besar bentuk penyakit jantung adalah
kronis, pemberian obat umumnya berjangka panjang, meskipun obat-
obat itu berguna tetapi juga memberikan efek samping (Soeharto,

1
2001). Hal yang perlu diperhatikan dalam pengobatan ada beberapa obat,
meskipun memulihkan keadaan, tidak selalu membuat lebih baik,
penggunaan obat harus secara teratur. Penghentian penggobatan tanpa
konsultasi dengan dokter dapat menimbulkan masalah baru (Soeharto,
2001).
Adanya keterkaitan penyakit jantung koroner dengan faktor resiko
dan penyakit penyerta lain seperti DM dan hipertensi, serta adanya
kemungkinan perkembangan iskemik menjadi infark menyebabkan
kompleksnya terapi yang diberikan. Banyak penderita serangan jantung yang
kembali ke rumah setelah perawatan beberapa hari. Sebagian perlu
perawatan berminggu-minggu sebelum dipulangkan karena fungsi jantung
sudah menurun. Di antara penderita serangan jantung itu, ada pula yang tidak
dapat diselamatkan (Yahya, 2010).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari PJK?
2. Apa saja etiologi dari PJK?
3. Apa saja tanda dan gejala dari PJK?
4. Apa saja komplikasi yang didapat dari PJK?
5. Bagaimana mekanisme dari PJK?
6. Bagaimana penatalaksanaan PJK?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien tersebut?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari PJK
2. Untuk mengetahui etiologi dari PJK
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari PJK
4. Untuk mengetahui komplikasi dari PJK
5. Untuk mengetahhui mekanisme PJK
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari PJK
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan PJK

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian PJK
American Heart Association (AHA), mendefinisikan penyakit jantung
koroner adalah istilah umum untuk penumpukan plak di arteri jantung yang
dapat menyebabkan serangan jantung.penumpukan plak pada arteri koroner ini
disebut dengan aterosklerosis. (AHA, 2012 hal:14)

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan keadaan dimana terjadi


penimbunan plak pembuluh darah koroner. Hal ini menyebabkan arteri
koroner menyempit atau tersumbat.arteri koroner merupakan arteri yang
menyuplai darah otot jantung dengan membawa oksigen yang banyak.terdapat
beberapa factor memicu penyakit ini, yaitu: gaya hidup, factor genetik, usia dan
penyakit pentyerta yang lain. (Norhasimah,2010: hal 48)
2.2 Faktor risiko dan Etiologi
a. Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner
Faktor resiko yang tidak dapat diubah
1. Riwayat keluarga dan risiko penyakit jantung
Riwayat keluarga seseorang dari penyakit atau gen dapat meningkatkan
kecenderungan seseorang untuk mengembangkan: Hipertensi, Kolesterol tinggi,
Diabetes, Bentuk tubuh tertentu.
Meskipun memiliki riwayat keluarga dengan PJK merupakan faktor risiko
PJK, untungnya itu tidak berarti bahwa Anda juga dipastikan akan terkena PJK.
Namun, jika Anda memiliki riwayat keluarga PJK, maka sangat penting untuk
mengurangi atau menghilangkan faktor risiko lainnya. Misalnya, dengan membatasi
3
asupan lemak jenuh dan lemak trans, tidak merokok, dan melakukan gaya hidup sehat
dan aktif.
2. Usia, jenis kelamin dan risiko penyakit jantung
Umumnya, laki-laki berisiko lebih tinggi mengalami PJK pada usia
pertengahan di bandingkan perempuan. Risiko akan semakin meningkat seiring
pertambahan usia. Namun, risiko terjadinya PJK juga menjadi masalah bagi
perempuan, terutama jika mereka sudah berusia lanjut. Masih belum jelas mengapa
perempuan cenderung mengalami PJK pada usia lanjut ketimbang laki-laki, meskipun
ada kemungkinan bahwa perubahan hormonal setelah menopause, ditambah dengan
perubahan faktor risiko, memainkan peran.
Faktor resiko yang dapat diubah
1. Merokok
Sebagaimana menjadi penyebab kanker, merokok akan mempengaruhi arteri
yang memasok darah ke jantung dan bagian-bagian tubuh Anda lainnya. Hal ini
tentunya akan mengurangi jumlah oksigen di dalam darah dan merusak dinding arteri
Anda. Merokok akan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan penyakit
arteri perifer (yang dapat menyebabkan gangren dan amputasi anggota tubuh).
Merokok membuat darah menjadi 'lengket' dan menyebabkan sel-sel darah
menggumpal. Ini akan memperlambat aliran darah arteri dan akan lebih sering terjadi
penyumbatan dan meluas. Sumbatan ini dapat menyebabkan serangan jantung dan
stroke.
2. Kolesterol
Kolesterol adalah zat lemak yang diproduksi secara alami oleh tubuh.
Kolesterol juga dapat masuk ke tubuh melalui makanan yang mengandung kolesterol.
Kolesterol sebenarnya memiliki banyak manfaat di dalam tubuh, tetapi kolesterol
akan menjadi masalah jika kadarnya di dalam tubuh terlalu tinggi. Kolesterol total
yang tinggi menyebabkan zat lemak terbentuk di arteri koroner secara bertahap,
sehingga membuat darah sulit mengalir. Hal ini utamanya disebabkan oleh makanan
tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
3. Tekanan darah tinggi
Tekanan darah yang tinggi akan membebani kerja jantung dan arteri koroner,
dan mempercepat proses penyumbatan di arteri. Hal ini ujungnya akan menyebabkan
masalah seperti serangan jantung dan stroke. Jika tekanan darah tinggi tidak diobati,
jantung akan menjadi lemah karena bekerja keras secara terus menerus. Kondisi ini
4
dapat menyebabkan 'gagal jantung', sebuah kondisi serius dengan gejala seperti
kelemahan, sesak napas, dan pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki.
4. Diabetes Melitus
Penderita diabetes melitus lebih berisiko terkena serangan jantung, angina dan
stroke. Orang dengan PJK sering juga mengidap diabetes Tipe 2. Penderita diabetes
dan PJK berada dalam risiko tinggi untuk serangan jantung dan stroke.
5. Obesitas
Obesitas atau kelebihan berat badan akan meningkatkan risiko sejumlah
masalah kesehatan serius, seperti: PJK, Diabetes, Hipertensi, Kolesterol tinggi,
Penyakit kandung empedu, Masalah sendi, seperti gout, arthritis, dan nyeri sendiri,
Gangguan tidur, seperti sleep apnea, Kanker jenis tertentu. Orang obesitas dengan
bentuk badan besar di tengah (seperti buah apel) lebih berisiko mengalami masalah
kesehatan, sehingga sangat perlu untuk menurunkan berat badan.
6. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik sangat penting untuk menjaga kesehatan dan menurunkan risiko
PJK. Aktivitas fisik atau olahraga secara teratur akan dapat meningkatkan kesehatan
jangka panjang, menurunkan risiko serangan jantung, membuat tubuh lebih berenergi
(lebih bersemangat), membantu menjaga berat badan yang normal, membantu
mencapai kadar kolesterol total yang sehat, menurunkan tekanan darah, membuat
tulang dan otot menjadi lebih kuat, membuat lebih percaya diri dan bahagia, membuat
kualitas tidur menjadi lebih baik atau dengan kata lain terbebas dari masalah
gangguan tidur.
7. Depresi dan risiko penyakit jantung
Penelitian telah menunjukkan bahwa pada sebagian orang, yakni mereka yang
depresi, yang terisolasi secara sosial, atau mereka yang tidak memiliki dukungan
sosial yang berkualitas, berisiko tinggi terkena penyakit jantung koroner.
b. Etiologi
Etiologi penyakit jantung koroner adalah adanya
penyempitan, penyumbatan, atau kelainan pembuluh arteri koroner.
Penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah tersebut dapat
menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan
nyeri. Dalam kondisi yang parah, kemampuan jantung memompa darah
dapat hilang. Hal ini dapat merusak sistem pengontrol irama jantung dan
berakhir dan berakhir dengan kematian. (Hermawatirisa,2014)
5
Penyempitan dan penyumbatan arteri koroner disebabkan zat lemak
kolesterol dan trigliserida yang semakin lama semakin banyak dan menumpuk
di bawah lapisan terdalam endothelium dari dinding pembuluh arteri. Hal ini
dapat menyebabkan aliran darah ke otot jantung menjadi berkurang
ataupun berhenti, sehingga mengganggu kerja jantung sebagai pemompa
darah. Efek dominan dari jantung koroner adalah kehilangan oksigen dan
nutrient ke jantung karena aliran darah ke jantung berkurang. Pembentukan
plak lemak dalam arteri memengaruhi pembentukan bekuan aliran darah
yang akan mendorong terjadinya serangan jantung. Proses pembentukan
plak yang menyebabkan pergeseran arteri tersebut dinamakan arteriosklerosis.

6
Awalnya penyakit jantung di monopoli oleh orang tua. Namun, saat ini
ada kecenderungan penyakit ini juga diderita oleh pasien di bawah usia
40 tahun. Hal ini biasa terjadi karena adanya pergeseran gaya hidup,
kondisi lingkungan dan profesi masyarakat yang memunculkan “tren
penyakit”baru yang bersifat degnaratif. Sejumlah prilaku dan gaya hidup yang
ditemui pada masyarakat perkotaan antara lain mengonsumsi makanan
siap saji yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan
merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga, dan
stress. (Hermawatirisa,2014)
2.3 Klasifikasi Penyakit Jantung Koroner
Menurut,( Putra S, dkk, 2013) Klasifikasi PJK yaitu :
1. Angina Pektoris Stabil/Stable Angina Pectoris
Penyakit Iskemik disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan
suplai oksigen miokard. Di tandai oleh rasa nyeri yang terjadi jika
kebutuhan oksigen miokardium melebihi suplainya. Iskemia Miokard
dapat bersifat asimtomatis (Iskemia Sunyi/Silent Ischemia), terutama pada
pasien diabetes.8 Penyakit ini sindrom klinis episodik karena Iskemia Mi
okard transien. Laki-laki merupakan 70% dari pasien dengan Angina
Pektoris dan bahkan sebagian besar menyerang pada laki-laki ±50
tahun dan wanita 60 tahun.
2. Angina Pektoris Tidak Stabil/Unstable Angina Pectoris
Sindroma klinis nyeri dada yang sebagian besar disebabkan oleh disrupsi
plak ateroskelrotik dan diikuti kaskade proses patologis yang menurunkan
aliran darah koroner, ditandai dengan peningkatan frekuensi, intensitas
atau lama nyeri, Angina timbul pada saat melakukan aktivitas ringan atau
istirahat, tanpa terbukti adanya nekrosis Miokard.

7
a. Terjadi saat istirahat (dengan tenaga minimal) biasanya berlangsung>
10 menit.
b. Sudah parah dan onset baru (dalam 4-6 minggu sebelumnya), dan
c. Terjadi dengan pola crescendo (jelas lebih berat, berkepanjangan, atau
sering dari sebelumnya).
3. Angina Varian Prinzmetal
Arteri koroner bisa menjadi kejang, yang mengganggu aliran darah ke otot
jantung (Iskemia). Ini terjadi pada orang tanpa penyakit arteri koroner
yang signifikan, Namun dua pertiga dari orang dengan Angina Varian
mempunyai penyakit parah dalam paling sedikit satu pembuluh, dan
kekejangan terjadi pada tempat penyumbatan. Tipe Angina ini tidak umum
dan hampir selalu terjadi bila seorang beristirahat - sewaktu tidur.
Anda mempunyai risiko meningkat untuk kejang koroner jika anda
mempunyai : penyakit arteri koroner yang mendasari, merokok, atau
menggunakan obat perangsang atau obat terlarang (seperti kokain). Jika
kejang arteri menjadi parah dan terjadi untuk jangka waktu panjang,
serangan jantung bisa terjadi.
4. Infark Miokard Akut/Acute Myocardial Infarction
Nekrosis Miokard Akut akibat gangguan aliran darah arteri koronaria yang
bermakna, sebagai akibat oklusi arteri koronaria karena trombus atau
spasme hebat yang berlangsung lama. Infark Miokard terbagi 2 :
a. Non ST Elevasi Miokardial Infark (NSTEMI)
b. ST Elevasi Miokardial Infark (STEMI)
2.4 Patofisiologi
Aterosklerosis atau pengerasan arteri adalah kondisi pada
arteri besar dan kecil yang ditandai penimbunan endapan lemak,
trombosit, neutrofil, monosit dan makrofag di seluruh kedalaman
tunika intima (lapisan sel endotel), dan akhirnya ke tunika media (lapisan
otot polos). Arteri yang paling sering terkena adalah arteri koroner, aorta dan
arteri-arteri sereberal. (Ariesty,2011).
Langkah pertama dalam pembentukan aterosklerosis dimulai dengan
disfungsi lapisan endotel lumen arteri, kondisi ini dapat terjadi setelah cedera
pada sel endotel atau dari stimulus lain, cedera pada sel endotel meningkatkan
8
permeabelitas terhadap berbagai komponen plasma, termasuk asam lemak dan
triglesirida, sehingga zat ini dapat masuk kedalam arteri, oksidasi asam lemak
menghasilkan oksigen radikal bebas yang selanjutnya dapat merusak
pembuluh darah. (Ariesty, 2011).
Cedera pada sel endotel dapat mencetuskan reaksi inflamasi dan imun,
termasuk menarik sel darah putih, terutama neutrofil dan monosit, serta
trombosit ke area cedera, sel darah putih melepaskan sitokin
proinflamatori poten yang kemudian memperburuk situasi, menarik lebih
banyak sel darah putih dan trombosit ke area lesi, menstimulasi
proses pembekuan, mengaktifitas sel T dan B, dan melepaskan senyawa
kimia yang berperan sebagai chemoattractant (penarik kimia) yang
mengaktifkan siklus inflamasi,pembekuan dan fibrosis. Pada saat ditarik ke
area cedera, sal darah putih akan menempel disana oleh aktivasi faktor adhesif
endotelial yang bekerja seperti velcro sehingga endotel lengket terutama
terhadap sel darah putih, pada saat menempel di lapisan endotelial, monosit
dan neutrofil mulai berimigrasi di antara sel-sel endotel keruang interstisial.
Di ruang interstisial, monosit yang matang menjadi makrofag dan bersama
neutrofil tetap melepaskan sitokin, yang meneruskan siklus inflamasi.
Sitokin proinflamatori juga merangsan ploriferasi sel otot polos yang
mengakibatkan sel otot polos tumbuh di tunika intima. (Ariesty, 2011).

Selain itu kolesterol dan lemak plasma mendapat akses ke tunika intima
karena permeabilitas lapisan endotel meningkat, pada tahap indikasi dini

9
kerusakan terdapat lapisan lemak diarteri. Apabila cedera dan inflamasi terus
berlanjut, agregasi trombosit meningkat dan mulai terbentuk bekuan darah
(tombus), sebagian dinding pembuluh diganti dengan jaringan parut sehingga
mengubah struktur dinding pembuluh darah, hasil akhir adalah
penimbunan kolesterol dan lemak, pembentukan deposit jaringan parut,
pembentukan bekuan yang berasal dari trombosit dan proliferasi sel otot
polos sehingga pembuluh mengalami kekakuan dan menyempit.
Apabila kekakuan ini dialami oleh arteri-arteri koroner akibat
aterosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap
peningkatan kebutuhan oksigen, dan kemudian terjadi iskemia (kekurangan
suplai darah) miokardium dan sel-sel miokardium sehingga
menggunakan glikolisis anerob untuk memenuhi kebutuhan
energinya. Proses pembentukan energi ini sangat tidak efisien
dan menyebabkan terbentuknya asam laktat sehinga menurunkan pH
miokardium dan menyebabkan nyeri yang berkaitan dengan angina
pectoris. Ketika kekurangan oksigen pada jantung dan sel-sel otot jantung
berkepanjangan dan iskemia miokard yang tidak tertasi maka terjadilah
kematian otot jantung yang di kenal sebagai miokard infark.

WOC

Faktor yang dapat diubah:


merokok, HT, DM, obesitas, stress
faktor yang tidak dapat diubah: 10
usia, riwayat keluarga, jenis kelamin
Kerusakan sel β
pankreas
Defisiensi insulin

Transport glukosa darah terganggu

Glukoneogenesis di hati

Penumpukan glukosa dalam darah

Aterosklerosis
spasme pembuluh Aliran koronia
darah menurun

Jantung kekurangan O2

Iskemia otot jantung

Kontraksi jantung MK : Nyeri Perlu menghindari


menurun akut komplikasi

MK : Penurunan curah Diperlukan


jantung pengetahuan yang
tinggi untuk paham

Kurang pengetahuan

MK :
cemas
2.5 Diabetes Mellitus sebagai pencetus Jantung Koroner
a. Pengertian
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2012, diabetes melitus
adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang
11

Cemas
terjadi kerana kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh
darah.
b. Klasifikasi diabetes mellitus
Diabetes melitus dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori klinis yaitu:
1) Diabetes melitus tipe 1. Tipe ini disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas
sehingga kekurangan insulin absolut. Umumnya penyakit berkembang kearah
ketoasidosis diabetik yang menyebabkan kematian. Pada diabetes melitus tipe
ini biasanya terjadi sebelum umur 30 tahun dan harus mendapatkan insulin
dari luar. Beberapa faktor resiko dalam diabetes melitus tipe ini adalah:
autoimun, infeksi virus, riwayat keluarga diabetes melitus (ADA, 2012).
2) Diabetes melitus tipe 2. Pada tipe ini pankreas relatif menghasilkan insulin
tetapi insulin yang bekerja kurang sempurna karena adanya resistensi insulin
akibat kegemukan. Faktor genetis dan pola hidup juga sebagai penyebabnya.
Faktor resiko DM tipe 2 adalah : obesitas, stress fisik dan emosional,
kehamilan umur lebih dari 40 tahun, pengobatan dan riwayat keluarga
diabetes melitus. Hampir 90% penderita diabetes melitus adalah diabetes
melitus tipe 2 (ADA, 2012).
c. Etiologi
1) Obesitas. Makanan yang berlebihan menyebabkan gula dan lemak dalm tubuh
menumpuk dan menyebabkan kelenjar pankreas bekerja keras memproduksi
insulin untuk mengolah gula yang masuk (Lanywati, 2011).
2) Kekurangan insulin. Kekurangan insulin disebabkan kerena tidak memadainya
hasil sekresi insulin sehingga respon jaringan terhadap insulin berkurang. Hal
ini merupakan gejala dari heperglikemia (American Diabetes Association,
2011).
3) Pada saat hamil. Seorang ibu secara naluri akan menambah konsumsi
makanannya, sehingga berat badan ibu otomatis akan naik 7-10 kg. Pada saat
makanan ibu ditambah konsumsinya ternyata produksi insulin kurang
mencukupi, maka akan terjadi gejala diabetes melitus (Lanywati, 2011).
d. Patofisologi Diabetes mellitus
Semua tipe diabetes melitus, sebab utamanya adalah hiperglikemi atau tingginya
gula darah dalam tubuh yang di sebabkan oleh sekresi insulin, kerja dari insulin atau
keduanya (Ignativicius & Workman, 2006).
12
Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu (ADA, 2012):
1) Rusaknya sel-sel β pankreas. Rusaknya sel beta dapat di karenakan genetic,
imunologis atau dari lingkungan seperti virus. Karakteristik inii biasanya
terdapat pada Diabetes Melitus tipe 1.
2) Penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.
3) Kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer
Apabila di dalam tubuh terjadi kekurangan insulin , maka dapat mengakibatkan
beberapa hal menurut (Ignativicius dan Workman, 2006; Smeltzer et al, 2008):
1) Menurunnya transport glukosa melalui membran sel, keadaan ini mengkibatkan
sel-sel kekurngan makanan sehingga meningkatkan metabolisme lemak dalam
tubuh. Manifestasi yang muncul adalah penderita DM selalu merasa lapar atau
nafsu makan meningkat atau yang biasa disebut poliphagia.
2) Meningkatnya pembentukan glikolisis dan glukogenesis, karena proses ini
disertai nafsu makan meningkat atau poliphagia sehingga dapat mengkibatkan
terjadinya hiperglikemi. Tingginya kadar gula dalam darah mengakibatkan
ginjal tidak mampu lagi mengabsorbsi dan glukosa keluar bersama urin,
keadaan ini yang disebut glukosuria. Manifestasi yang muncul yaitu penderita
sering berkemih atau poliuria dan selalu merasa haus atau polidipsi.
3) Menurunnya glikogenesis, dimana pembentukan glikogen dalam hati dan otot
terganggu.
4) Meningkatkan glikognolisis, glukogeogenesis yang memecah sumber selain
karbohidrat seperti asam amino dan laktat.
5) Meningkatkan lipolisis, dimana pemecah trigliserida menjadi gliserol dan asam
lemak bebas.
6) Meningkatkan ketogenesis (merubah keton dari asam lemak bebas.
7) Proteolisis, dimana merubah protein dan asam amino dan dilepaskan ke otot.
e. Manifestasi Klinis Diabetes Melitus
Manifestasi klinis Diabetes Melitus dapt di golongkan menjadi gejala akaut dan
kronik (Perkeni, 2011).
1) Gejala Akut Penyakit Diabetes Melitus
Gejala penyakit diabetes melitus dari satu penderita ke penderita lain bervariasi,
bahkan mungkin tidak menunjukkan gejala apapun sampai saat tertentu. Pemula gejala
yang ditunjukkan yaitu banyak makan (poliphagia), banyak minum (polidipsi) dan
banyak kencing (poliuria).
13
Keadaan tersebut, jika tidak segera diobati maka akan timbul gejala banyak
minum, banyak kencing, nafsu makan mulai berkurang/berat badan turun dengan cepat
(turun 5 – 10 kg dalam waktu 3-4 minggu), mudah lelah, dan bila tidak segera diobati,
akan timbul rasa mual, bahkan penderita akan jatuh koma yang disebut dengan koma
diabetik.
2) Gejala Kronik Diabetes Melitus
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderiata diabetes melitus adalah
kesemutan, kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit,
kram, mudah mengantuk, mata kabur, biasanya sering ganti kaca mata, gatal di sekitar
kemaluan terutama wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual
menurun, bahkan impotensi dan para ibu hamil sering mengalami keguguran atau
kematian janin dalam kandungan atau bayi lahir dengan berat 4 kg (Soegondo dkk,
2004).
f. Komplikasi Diabetes Melitus
Kondisi kadar gula darah tetap tinggi akan timbul berbagai komplikasi. Komplikasi
pada diabetes melitus dibagi menjadi dua yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronis.
Komplikasi akut meliputi: Ketoasidosis diabetic, hiperosmolar non ketotik, dan
hiperglikemia (Perkeni,2011).
Sedangkan yang termasuk komplikasi kronik adalah, makroangiopati,
mikroangiopati dan neuropati. Makroangiopati terjadi pada pembuluh darah besar
(makrovaskular) seperti jantung, darah tepi dan otak. Mikroangipati terjadi pada
pembuluh darah kecil (mikrovaskular) seperti kapiler retina mata, dan kapiler ginjal
(perkeni, 2011).
h. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Menurut Perkeni (2011), penataksanaan diabetes melitus terdiri dari :
1) Edukasi
Diabetes melitus tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola hidup dan perilaku telah
terbentuk dengan mapan.Pemberdayaan penyandang diabetes melitus memerlukan
partisipasi aktif pasien, keluarga, masyarakat.Tim kesehatan mendampingi pasien
dalam menuju perubahan perilaku. Edukasi yang di berikan meliputi:
a) Edukasi untuk pencegahan primer yaitu edukasi yang ditunjukkan untuk
kelompok resiko tinggi.

14
b) Edukasi untuk pencegahan skunder yaitu edukasi yang ditunjukkan untuk pasien
baru. Materi edukasi beruapa penegrtian diabetes, gejala, penatalaksanaan,
mengenal dan mencegah komplikasi akut dan kronik.
c) Edukasi untuk penceghan tersier yaitu edukasi yang ditunjukkan pada pasien
tingkat lanjut, dan materi yang diberikan meliputi : cara pencegahan komplikasi
dan perawatan, upaya untuk rehabilitasi, dll.
2) Terapi gizi atau Perencanaan Makan
Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes
secara total. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari
anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain dan pasien itu sendiri).
Menurut Smeltzer et al, (2008) bahwa perencanaan makan pada pasien diabetes
meliputi:
a) Memenuhi kebutuhan energi pada pasien diabetes melitus
b) Terpenuhi nutrisi yang optimal pada makanan yang disajikan seperti vitamin dan
mineral
c) Mencapai dan memelihara berat badan yang stabil
d) Menghindari makan makanan yang mengandung lemak, karena pada pasien
diabetes melitus jika serum lipid menurun maka resiko komplikasi penyakit
makrovaskuler akan menurun
e) Mencegah level glukosa darah naik, karena dapat mengurangi komplikasi yang
dapat ditimbulkan dari diabetes melitus.
3) Latihan jasmani
Latihan jasmani sangat penting dalam pelaksanaan diabetes karena dapat
menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler.
Latihan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan
glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Latihan juga dapat
meningkatkan kadar HDL kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta
trigliserida (ADA, 2012).
Kegiatan sehari-hari dan latihan jasmani secra teratur (3-4 kali seminggu
selama kurang dari 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan
diabetes melitus. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang
bersifat aerobik seperti : jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang.
Latihan jasmani sebaiknnya disesuiakan dengan umur dan status kesegaran jasmani.

15
Menurut ADA (2012), ada beberapa pedoman umum untuk melakukan latihan
jasmani pada pasien diabetes yaitu:
a) Gunakan alas kaki yang tepat, dan bila perlu alat pelindungan kaki lainnya.
b) Hindari latihan dalam udara yang sangat panas atau dingin
c) Periksa kaki setelah melakukan latihan.
d) Hindari latihan pada saar pengendalian metabolik buruk
4) Terapi farmakologis
Pengobatan diabetes secara menyeluruh mencakup diet yang benar, olah
raga yang teratur, dan obat-obatan yang diminum atau suntikan insulin.Pasien
diabetes melitus tipe 1 mutlak diperlukan suntikan insulin setiap hari.pasien
diabetes melitus tipe 2, umumnya pasien perlu minum obat antidiabetes secara oral
atau tablet. Pasien diabetes memerlukan suntikan insulin pada kondisi tertentu, atau
bahkan kombinasi suntikan insulin dan tablet (ADA, 2012).
5) Monitoring keton dan gula darah
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri
penderita diabetes dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa
darah secara optimal. Monitoring glukosa darah merupakan pilar kelima dianjurkan
kepada pasien diabetes melitus. Monitor level gula darah sendiri dapat mencegah
dan mendeteksi kemungkinan terjadinya hipoglikemiadan hiperglikemia dan pasien
dapat melakukan keempat pilar di atas untuk menurunkan resiko komplikasi dari
diabetes melitus (Smeltzer et al, 2008).
i. Hubungan Diabetes Mellitus dengan kejadian PJK
DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau keduanya. Diagnosa DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar
glukosa darah, pemeriksaan penyaring berguna untuk menjaring pasien DM,
toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
sehingga dapat ditentukan langkah yang tepat untuk mereka. Pasien dengan TGT
dan GDPT merupakan tahapan sementara menuju DM, Setelah 5-10 tahun
kemudian 1/3 kelompok TGT akan berkembang menjadi DM, 1/3 tetap dan
1/3 lainnya kembali normal. Adanya TGT seringkali berhubungan dengan
resistensi insulin, pada kelompok TGT ini resiko terjadinya aterosklerosis
lebih tinggi dibandingkan kelompok normal. TGT seringkali berkaitan dengan
penyakit kardiovaskuler, hipertensi dan dislipidemia. Pemeriksaan penyaring
16
dapat dilakukan melalui pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) atau kadar
glukosa darah puasa (GDP) dengan puasa paling sedikit 8 jam, kemudian dapat
diikuti dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) stándar setelah pemberian
glukosa 75 gr pada orang dewasa atau 1,75 gr/kgBB untuk anak-anak,
kemudian diperiksa kadar glukosa darahnya setelah 2 jam pemberian glukosa
(Gustaviani, 2006).
Individu dengan DM mudah terjadi penyakit yang berhubungan
dengan aterosklerosis dan diyakini bahwa lebih dari dua pertiga kematian pasien
DM akibat penyakit arterial. Pada satu penelitian Helsinki policeman study,
menjelaskan bahwa angka kematian PJK 3x lipat lebih tinggi pada pasien DM
daripada individu normal. Mekanisme yang mungkin adalah berhubungan
dengan abnormalitas metabolism lipid yang dapat meningkatkan
aterogenesis dan advanced glycation endproducts (AGE) yang
menggambarkan metabolisme abnormal pada DM yang berdampak pada injuri
endotelium (Ramandika, 2012).
Intoleransi glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi
penyakit pembuluh darah (Malau,2011). Penelitian Anwar (2004)
menunjukkan bahwa laki- laki yang menderita DM berisiko mengalami PJK
sebesar 50% lebih tinggi dari pada orang normal, sedangkan pada perempuan
risikonya menjadi 2x lipat. Pada penelitian Waspadji (2003) menunjukkan
bahwa adanya hubungan penderita DM dengan kejadian PJK (Arif, 2011).

17
Gambar Hazart Rasio PJPD pada Penderita Diabetes
Melitus
Menurut penelitian APCSC diikuti selama 5,4 tahun untuk mencari
hubungan antara DM dengan kejadian PJPD, status DM masing-masing
peserta ditentukan berdasarkan riwayat medis dengan menggunakan CI 95%
maka nilai RR 2.02 (1,57-2,59) untuk stroke fatal, 2.19 (1,81-2,66 ) untuk
PJK Fatal, 2,09 (1,65-2,64) untuk total (fatal dan nonfatal ) stroke dan 1,73
( 1,34-2,22 ) untuk total PJK. Untuk semua hasil adalah sama pada populasi
Asia baik yang pesisir maupun non-pesisir. Singkatnya, diabetes
merupakan faktor risiko penting untuk stroke dan PJK pada populasi Asia.
Penelitian APCSC menunjukkan bahwa hiperglikemia berhubungan dengan
peningkatan risiko PJPD (Hata dan Kiyohara, 2013.

2.6 Manifestasi Klinis Penyakit Jantung Koroner


Menurut, Hermawatirisa 2014 : hal 3,Gejala penyakit jantung koroner
1. Timbulnya rasa nyeri di dada (Angina Pectoris)
2. Sesak nafas (Dispnea)
3. Keanehan pada iram denyut jantung
4. Pusing
5. Rasa lelah berkepanjangan

18
6. Sakit perut, mual dan muntah
Penyakit jantung koroner dapat memberikan manifestasi klinis
yang berbeda-beda. Untuk menentukan manifestasi klinisnya perlu
melakukan pemeriksaan yang seksama. Dengan memperhatikan klinis
penderita, riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, elektrokardiografi
saat istirahat, foto dada, pemeriksaan enzim jantung dapat membedakan subset
klinis dari penyakit jantung koroner (PJK) sesuai masing-masing klien.
2.7 Komplikasi Penyakit Jantung Koroner
Menurut, (Karikaturijo, 2010) Komplikasi PJK Adapun komplikasi PJK
adalah:
1. Disfungsi ventricular
2. Aritmia pasca STEMI
3. Gangguan hemodinamik
4. Ekstrasistol ventrikel
5. Takikardi dan fibrilasi atrium dan ventrikel
6. Syok kardiogenik
7. Gagal jantung kongestif
8. Perikarditis
9. Kematian mendadak (Karikaturijo, 2010).
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
Untuk mendiagnosa PJK secara lebih tepat maka dilakukan
pemeriksaan penunjang diantaranya:
a. Pemeriksaan Laboratorium
Ada dua jenis tes darah yang umumnya dilakukan, yakni tes kadar
kolesterol darah yang bisa menggunakan tes apolipoprotein B (APO B).
Penentuan konsentrasi APO B dalam darah dapat mencerminkan
jumlah partikel LDL yang terdapat dalam darah . selanjutnya yaitu
pemeriksaan enzim jantung. Pemeriksaan enzim jantung (isoenzim
CK-MB) diperlukan untuk melihat adanya kerusakan pada otot jantung.
Pemeriksaan Troponin T juga bisa dilakukan karena dapat menjadi
penanda kejadian koroner akut pada penderita angina pectoris tak
stabil.

19
b. EKG memberi bantuan untuk diagnosis dan prognosis, rekaman yang
dilakukan saat sedang nyeri dada sangat bermanfaat.
Gambaran diagnosis dari EKG adalah :
1. Depresi segmen ST > 0,05 mV

2. Inversi gelombang T, ditandai dengan > 0,2 mV inversi gelombang


T yang simetris di sandapan prekordial.

Perubahan EKG lainnya termasuk bundle branch block


(BBB) dan aritmia jantung, terutama Sustained VT. Serial EKG harus
dibuat jika ditemukan adanya perubahan segmen ST, namun EKG
yang normal pun tidak menyingkirkan diagnosis
APTS/NSTEMI. Pemeriksaaan EKG 12 sadapan pada
pasien SKA dapat mengambarkan kelainan yang terjadi dan ini

20
dilakukan secara serial untuk evaluasi lebih lanjut dengan berbagai
ciri dan katagori:
1. Angina pektoris tidak stabil; depresi segmen ST dengan atau tanpa
inversi gelombang T, kadang-kadang elevasi segmen ST
sewaktu nyeri, tidak dijumpai gelombang Q

2. Infark miokard non-Q: depresi segmen ST, inversi gelombang


T dalam (Kulick, 2014: hal 42).

EKG merupakan sarana diagnostik yang penting untuk penyakit jantung koroner.
Yang mampu di tangkap oleh EKG adalah kelainan miokard yang disebabkan oleh
terganggunya aliran koroner.

21
Terganggunya aliran koroner ini yang menyebabkan kerusakan miokard yang bisa dibagi
menjadi 3 tingkat yaitu:
1. Iskemia, yaitu kelainan yang paling ringan dan masih reversibel.
2. Injuri, yaitu kelainan yang lebih berat, tetapi masih reversibel.
3. Nekrosis, yaitu kelainan yang sudah ireversibel, karena kerusakan sel-sel miokard
sudah permanen.

Berbagai derajat iskemia pada infark miokard.


Kelainan ini masing-masing memiliki ciri-ciri yang khas pada EKG. Umumnya iskemia
dan injuri menunjukkan kelainan pada proses repolarisasi miokard, yaitu segmen ST dan
gelombang. Nekrosis miokard dapat menimbulkan gangguan pada proses depolarisasi,
yaitu gelombang QRS.
Iskemia.
Depresi ST, adalah ciri dasar iskemia miokard. Terdapat 3 macam jenis depresi ST, yaitu
horisontal, landai ke bawah, landai ke atas.
yang dianggap spesifik adalah a dan b. Depresi T ini dianggap bermakna bila lebih dari 1
mm, makin dalam makin spesifik.

22
Keterangan:
A = Depresi ST pada iskemia miokard, spesifik untuk iskemia.
B = Depresi ST landai ke bawah, spesifik untuk iskemia.
C = Depresi ST landai ke atas, kurang spesifik untuk iskemia.

Inversi U, adalah gelombang U yang negatif (terhadap 1) cukup spesifik untuk iskemia
miokard.
Injuri.
Ciri dasar injuri adalah elevasi ST dan gambaran yang khas adalah konveks ke atas.
Umumnya dianggap elevasi ST menunjukkan injuri ke daerah subepikardial, sedangkan
injuri di daerah subendokordial menunjukkan depresi ST yang dalam.
Nekrosis.

23
Ciri dasar nekrosis miokard adalah adanya gelombang Q patologis yaitu Q yang lebar dan
dalam, dengan syarat lebar lebih sama dengan 0,04 detik dalam lebih sama dengan 4 mm
atau lebih sama dengan 25% tinggi R.
b. Chest X-Ray (foto dada) Thorax foto mungkin normal atau adanya
kardiomegali, CHF (gagal jantung kongestif) atau aneurisma
ventrikiler (Kulick, 2014: hal 42).
c. Latihan tes stres jantung (treadmill)
Treadmill merupakan pemeriksaan penunjang yang standar dan banyak
digunakan untuk mendiagnosa PJK, ketika melakukan treadmill detak jantung,
irama jantung, dan tekanan darah terus-menerus dipantau, jika arteri koroner
mengalami penyumbatan pada saat melakukan latihan maka ditemukan
segmen depresi ST pada hasil rekaman
d. Ekokardiogram
Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar
jantung, selama ekokardiogram dapat ditentukan apakah semua bagian
dari dinding jantung berkontribusi normal dalam aktivitas memompa.
Bagian yang bergerak lemah mungkin telah rusak selama serangan jantung atau
menerima terlalu sedikit oksigen, ini mungkin menunjukkan penyakit arteri
koroner
e. Kateterisasi jantung atau angiografi adalah suatu tindakan invasif
minimal dengan memasukkan kateter (selang/pipa plastik) melalui
pembuluh darah ke pembuluh darah koroner yang memperdarahi jantung,
prosedur ini disebut kateterisasi jantung. Penyuntikkan cairan khusus ke dalam
arteri atau intravena ini dikenal sebagai angiogram, tujuan dari tindakan
kateterisasi ini adalah untuk mendiagnosa dan sekaligus sebagai tindakan
terapi bila ditemukan adanya suatu kelainan
f. CT scan (Computerized tomography Coronary angiogram)
Computerized tomography Coronary angiogram/CT Angiografi Koroner
adalah pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk membantu
memvisualisasikan arteri koroner dan suatu zat pewarna kontras disuntikkan
melalui intravena selama CT scan, sehingga dapat menghasilkan gambar arteri
jantung, ini juga disebut sebagai ultrafast CT scan yang berguna untuk
mendeteksi kalsium dalam deposito lemak yang mempersempit arteri koroner.
Jika sejumlah besar kalsium ditemukan, maka memungkinkan terjadinya PJK
24
g. Magnetic resonance angiography (MRA)
Prosedur ini menggunakan teknologi MRI, sering dikombinasikan
dengan penyuntikan zat pewarna kontras, yang berguna untuk
mendiagnosa adanya penyempitan atau penyumbatan, meskipun
pemeriksaan ini tidak sejelas pemeriksaan kateterisasi jantung
2.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan menurut Hermawatirisa,2014 adalah :
a. Hindari makanan kandungan kolesterol yang tinggi
Kolesterol jahat LDL di kenal sebgai penyebab utana terjadinya proses
aterosklerosis, yaitu proses pengerasan dinding pembuluh darah, terutama
di jantung, otak, ginjal, dan mata.
b. Konsumsi makanan yang berserat tinggi
c. Hindari mengonsumsi alcohol.
d. Merubah gaya hidup, memberhentikan kebiasaan merokok
e. Olahraga dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan memperbaiki
kolateral koroner sehingga PJK dapat dikurangi, olahraga bermanfaat
karena
f. Memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2 ke miokard
g. Menurunkan berat badan sehingga lemak lemak tubuh yang
berlebih berkurang bersama-sama dengan menurunnya LDL kolesterol
h. Menurunkan tekanan darah
i. Meningkatkan kesegaran jasmani

25
2. 10 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PJK
3.1 Pengkajian
1. Identitas
Meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan,
pendidikan, alamat, tanggal MRS dan diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Pasien pjk biasanya merasakan nyeri dada dan dapat dilakukan
dengan skala nyeri 0-10, 0 tidak nyeri dan 10 nyeri palig tinggi.
Pengakajian nyeri secara mendalam menggunakan pendekatan PQRST,
meliputi prepitasi dan penyembuh, kualitas dan kuatitas,
intensitas, durasi, lokasi, radiasi/penyebaran,onset.
3. Riwayat kesehatan lalu
Dalam hal ini yang perlu dikaji atau di tanyakan pada klien antara
lain apakah klien pernah menderita hipertensi atau diabetes millitus,
infark miokard atau penyakit jantung koroner itu sendiri sebelumnya.
Serta ditanyakan apakah pernah MRS sebelumnya.
4. Riwayat kesehatan sekarang
Dalam mengkaji hal ini menggunakan analisa system PQRST. Untuk
membantu klien dalam mengutamakan masalah keluannya secara lengkap.
Pada klien PJK umumnya mengalami nyeri dada.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Mengkaji pada keluarga, apakah didalam keluarga ada yang menderita
penyakit jantung koroner. Riwayat penderita PJK umumnya mewarisi juga
faktor-faktor risiko lainnya, seperti abnormal kadar kolestrol, dan
peningkatan tekanan darah.
6. Riwayat psikososial
Pada klien PJK biasanya yang muncul pada klien dengan penyakit jantung
koroner adalah menyangkal, takut, cemas, dan marah, ketergantungan,
depresi dan penerimaan realistis.
7. Pola aktivitas dan latihan
Hal ini perlu dilakukan pengkajian pada pasien dengan penyakit
jantung koroner untuk menilai kemampuan dan toleransi pasien dalam
melakukan aktivitas. Pasien penyakit jantung koroner mengalami
penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
26
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Keadaan umum klien mulai pada saat pertama kali bertemu dengan klien
dilanjutkan mengukur tanda-tand vital. Kesadaran klien juga diamati
apakah kompos mentis, apatis, samnolen, delirium, semi koma atau koma.
Keadaan sakit juga diamati apakah sedang, berat, ringan atau tampak tidak
sakit
b. Tanda-tanda vital
Kesadaran compos mentis, penampilan tampak obesitas, tekanan darah
180/110 mmHg, frekuensi nadi 88x/menit, frekuensi nafas 20
kali/menit, suhu 36,2 C.
c. Pemeriksaan fisik persistem
1) Sistem persyarafan, meliputi kesadaran, ukuran pupil, pergerakan
seluruh ekstermitas dan kemampuan menanggapi respon verbal
maupun non verbal.
2) Sistem penglihatan, pada klien PJK mata mengalami pandangan
kabur
3) Sistem pendengaran, pada klien PJK pada sistem pendengaran
telinga , tidak mengalami gangguan. (Gordon, 2015:hal 22)
4) Sistem abdomen, bersih, datar dan tidak ada pembesaran hati.
5) Sistem respirasi, pengkajian dilakukan untuk mengetahui secara
dinit tanda dan gejala tidak adekuatnya ventilasi dan oksigenasi.
Pengkajian meliputi persentase fraksi oksigen, volume tidal,
frekuensi pernapasan dan modus yang digunakan untuk bernapas.
Pastikan posisi ETT tepat pada tempatnya, pemeriksaan analisa gas
darah dan elektrolit untuk mendeteksi hipoksemia.
6) Sistem kardiovaskuler, pengkajian dengan tekhnik inspeksi,
auskultrasi, palpasi, dan perkusi perawat melakukan
pengukuran tekanan darah; suhu; denyut jantung dan iramanya;
pulsasi prifer; dan tempratur kulit. Auskultrasi bunyi jantung dapat
menghasilkan bunyi gallop S3 sebagai indikasi gagal jantung atau
adanya bunyi gallop S4 tanda hipertensi sebagai komplikasi.
Peningkatan irama napas merupakan salah satu tanda
cemas atau takut
27
7) Sistem gastrointestinal, pengkajian pada gastrointestinal meliputi
auskultrasi bising usus, palpasi abdomen (nyeri,
distensi).
8) Sistem muskuluskeletal, pada klien PJK adanya kelemahan dan
kelelahan otot sehinggah timbul ketidak mampuan melakukan
aktifitas yang diharapkan atau aktifitas yang biasanya
dilakukan.
9) Sistem endokrin, biasanya terdapat peningkatan kadar gula darah.
10) Sistem Integumen, pada klien PJK akral terasa hangat, turgor baik.
11) Sistem perkemihan, kaji ada tidaknya pembengkakan dan nyeri
pada daerah pinggang, observasi dan palpasi pada daerah abdomen
bawah untuk mengetahui adanya retensi urine
2. Penurunan curah jantung
Definisi: ketidakadekuatan pompa darah oleh jantung untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme tubuh.
Batasan karakteristik :
a. Gangguan Frekuensi dan Irama Jantung
b. Gangguan Preload
c. Gangguan Afterload
d. Gangguan kontraktilitas
e. Perilaku/Emosi
Faktor yang berhubungan :
a. Gangguan frekuensi atau irama jantung
b. Gangguan volume sekuncup
c. Gangguan preload
d. Gangguan aferload
e. Gangguan kontraktifitas
3. Intoleransi aktivitas
Definisi: ketidak cukupan energi fisiologis atau psikologisuntuk
melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus
dilakukan.
Batasan karakteristik :
a. Ketidak nyamanan atau dispnea saat beraktivitas melaporkan keletihan
atau kelemahan secara verbal.
28
b. Frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon
terhadap aktivitas
c. Perubahan EKG yang menunjukkan artitmia atau iskemia
Faktor yang berhubungan :
a. Tirah dan baring dan imobilitas.
b. Kelemahan umum
c. Ketidak seimbangan anatara suplai dan kebetuhan okisgen
d. Gaya hidup yang kurang gerak
3.3 Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut
Tujuan:
a. Memperlihatkan pengendalian nyeri,yang dibuktikan oleh indikator
sebagai berikut (1-5; tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau
selalu:
1) Mengenali awitan nyeri
2) Menggunakan tindakan pencegahan
3) Melaporkan nyeri dapat dilakukan
b. Menunjukkan tingkat nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai
indikator berikut (sebutkan 1-5; sangat berat, berat, sedang,
ringan, atau tidak ada):
1) Ekpresi nyeri pada wajah
2) Gelisah atau ketegangan otot
3) Durasi episode nyeri
4) Merintih dan menangis
5) Gelisah
Kriteria Hasil NOC :
a. Tingkat Kenyamanan: tingkat persepsi positif terhadap kemudahan
fisik dan psikologis
b. Pengendalian nyeri: tindakan individu untuk mengendalikan nyeri
c. Tingkat nyeri keparahan yang dapat di amati atau dilaporkan
Intervensi NIC :
a. Pemberian Analgesik
b. Manajemen medikasi
c. Manajemen nyeri
29
d. Bantuan analgesia yang dikendalikan oleh pasien
e. Manajemen sedasi
Aktivitas Keperawatan
a. Pengkajian
1) Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk
mengumpulkan informasi pengkajian
2) Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyamanan pada skala
0 sampai 10 (0=tidak ada nyeri atau ketidaknyamanan,
10=nyeri hebat)
3) Gunakan bagan alir nyeri untuk memantau peredaan nyeri oleh
analgesik dan kemungkinan efek sampingnya
4) Kaji dampak agama, budaya, kepercyaan, dan lingkungan terhadap
nyeri dan repons pasien
5) Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata kata sesuai usia dan
tingkat perkembanagan pasien
6) Manajemen nyeri NIC :
(a) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi,
karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi dan kualitas dan
intensitas atau keparahan nyeri, dan faktor presipitasinya
(b) Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada
mereka yag tidak mampu berkomunikasi efektif
b. Penyuluhan untuk pasien/keluarga
1) Sertakan dalam intruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus
di minum, frekuensi pemberian, kemungkinan efeksamping,
kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat
mengkonsumsi oabat tersebut (misalnya, pembatasan
aktivitas fisik, pembatasan diet), dan nama orang yang harus
dihubungi bila mengalami nyeri membandel.
2) Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat
jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai
3) Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat
meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang disarankan
4) Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesik narkotik atau opiod
(misalnya, risiko ketergantungan atau overdosis)
30
5) Manajemen nyeri (NIC): berikan informasi tenteng nyeri , seperti
penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisispasi
ketidaknyamanan akibat prosedur
6) Majemen nyeri (NIC): Ajarkan penggunaan teknik
nonfarmakologis (misalnyaa, umpan balik biologis,
transcutaneus elektrical nerve stimulation (tens) hipnosis
relaksasi, imajinasi terbimbing, terapai musik, distraksi,
terapai bermain, terapi aktivitas, akupresur, kompres hangat
atau dingin, dan masase sebelum atau setelah, dan jika
memungkinkan selama aktivitas yang menimbulkan nyeri ;
sebelum nyeri terjadi atau meningkat; dan berama penggunaan
tindakan peredaran nyeri yang lain.
c. Aktivitas kolaboratif
1) Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian opiat yang
terjadwal (misalnya, setiap 4 jam selama 36 jam) atau PCA
2) Manajemen nyeri NIC :
(a) Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri
menjadi lebih berat
(b) Laporkan kepada dokter jika tindakan berhasil
(c) Laporkan kepada dokter jika tindakn tidak berhasil atau
jika keluhan saat ini merupakan perubahan yang bermakna
dari pengalaman nyeri pasien di maa lalu.
d. Aktivitas lain
1) Sesuaikan frekuensi dosis sesuai indikasi melalui pengkajian nyeri
dan efek samping
2) Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyaman yang efektif di
masa lalu seperti ,distraksi,relaksasi ,atau kompers hangat dingin
3) Hadir di dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman
2. Penurunan curah jantung
Tujuan: penurunan curah jantung tidak sensitif terhadap isu keperawatan.
Oleh sebab itu, perawat sebaiknya tidak bertindak secara mandiri
untuk melakukannya; upaya kolaboratif perlu dan penting dilakukan.
Kriteria Hasil NOC :

31
a. Tingkat keparahan kehilangan darah : tingkat keparahan
pendarahan/hemoragi internal atau eksternal
b. Efektivitas Pompa Jantung : keadekuatan, volume darah yang
diejeksikan dari ventrikel kiri untuk mendukung tekanan
perfusi sistemik
c. Status sirkulasi : tingkat pengaliran darah yang tidak terhambat,
satu arah, dan pada tekanan yang sesuai melalui pembuluh darah
besar aliran sistemik dan pulmonal.
d. Perfuisi jaringan : organ abdomen : keadekuatan aliran darah melewati
pembuluh darah kecil visera abdomen untuk mempertahankan
fungsi organ.
e. Perfusi jaringan: jantung: keadekuatan aliran darah yang melewati
vaskulatur koroner untuk mempertahankan fungsi organ jantung
f. Perfusi jaringan: serebral : keadekuatan aliran darah yang
melewati vaskulatur serebral untuk mempertahankan fungsi otak
g. Perfusi jaringan: Perifer: keadekutan aliran darah yang melalui
pembuluh darah kecil ekstremitas untuk mempertahankan
fungsi jaringan
h. Perfusi jaringan: pulmonal: keadekutan aliran darah yang melewati
vaskulatur pulmonal untuk memerfusi unit alveoli/kapiler
i. Status tanda vital: tingkat suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan
darah dalam rentang normal.
Intervensi NIC :
a. Reduksi perdarahan
b. Perawatan jantung
c. Perawatan jantung, Akut
d. Promosi Perfusi Serebral
e. Perawatan Sirkulasi: insufisiensi arteri
f. Perawatan Sirkulasi : Alat Bantu Mekanis
g. Perawatan Sirkulasi: Insufisiensi Vena
h. Perawatan Embolus: Perifer
i. Perawatan Embolus: Paru

32
j. Regulasi Hemodinamik
k. Pengendalian Hemoragi
l. Terapi Intravena (IV)
m. Pemantauan Neurologis
n. Manajemen syok: Jantung
o. Manajemen syok: Volume
p. Pemantauan Tanda Vital
Aktivitas Keperawatan
Pada umumnya, tindakan keperawatan untuk diagnosis ini berfokus pada
pemantauan tanda-tanda vital dan gejala penurunan curah jantung,
pengkajian penyebab yang mendasari (mis, hipovolemia, disritmia),
pelaksanaan protokol atau program dokter untuk mengatasi penurunan
curah jantung, dan pelaksanaan tindakan dukungan, seperti perubahan
posisi dan hidrasi.
a. Pengkajian
1) Kaji dan dokumentasikan tekanan darah, adanya sianosis,
status pernapasan, dan status mental
2) Pantau tanda kelebihan cairan (misalnya, edema dependen,
kenaikan berat badan)
3) Kaji toleransi aktivitas pasien dengan memerhatikan adanya awitan
napas pendek, nyeri, palpitasi, atau limbung
4) Evaluasi respons pasien terhadap terapi oksigen
5) Kaji keruskan kognitif
6) Regulasi hemodinamik (NIC)
(a) Pantau fungsi pacemaker, jika perlu
(b) Pantau denyut perifer, pengisian ulang kapiler, dan suhu serta
warna ekstremitas
(c) Pantau asupan dan haluaran, haluaran urine, dan berat
badan pasien, jika perlu
(d) Pantau resistensi vaskular sistemik dan paru, jika perlu
(e) Auskultasi suara paru terhadap bunyi crackle atau suara napas
tambahan lainnya

33
(f) Pantau dan dokumentasikan frekuensi jantung, irama, dan nadi
b. Penyuluhan untuk Pasien/Keluarga
1) Jelaskan tujuan pemberian oksigen perkanula nasal atau sungkup
2) Instruksikan mengenai pemeliharaan keakuratan asupan dan
haluaran
3) Ajarkan pengguanaan, dosis, frekuensi, dan efek samping obat
4) Ajarkan untuk melaporkan dan menggambarkan awitan palpitasi
dan nyeri, durasi, faktor pencetus, daerah, kualitas, dan intensitas
5) Instruksikan pasien dan keluarga dalam perencanaan untuk
perawatan di rumah, meliputi pembatasan aktivitas, pembatasan
diet, dan penggunaan alat terapeutik
6) Berikan informasi tentang teknik penurunan stres, seperti
biofeedback, relaksasi otot progesif, meditasi dan latihan fisik
7) Ajarkan kebutuhan untuk menimbang berat badan setiap hari.
c. Aktifitas Kolaboratif
1) Konsultasikan dengan dokter menyangkut parameter pemberian
atau penghentian obat tekanan darah
2) Berikan dan titrasikan obat antiaritmia, inotropik, nitrogliserin, dan
vasodilator untuk mempertahankan kontraktilitas, preload,
dan afterload sesuai dengan program medis atau protokol
3) Berikan antikoagulan untuk mencegah pembentukan trombus
perifer, sesuai dengan program atau protokol
4) Tingkatkan penurunan afterload (misalnya, dengan pompa balon
inta-aorta) sesuai dengan program medis atau protokol
5) Lakukan perujukan ke perawat praktisi lanjutan untuk tindak-
lanjut, jika diperlukan
6) Pertimbangkan perujukan ke petugas sosial, manajer kasus atau
layanan kesehatan komunitas dan layanan kesehatan di rumah
7) Lakukan perujukan ke petugas sosisal untuk mengevaluasi
kemampuan membayar obat yang diresepkan
8) Lakukan perujukan ke pusat rehabilitasi jantung jika diperlukan

34
d. Aktifitas Lain
1) Ubah posisi pasien ke posisi datar atau Trendelenburg ketika
tekanan darah pasien berada pada rentang lebih rendah
dibandingkan dengan yang biasanya
2) Untuk hipotensi yang tiba-tiba, berat atau lama, pasang akses
intravena untuk pemberian cairan intravena atau obat untuk
meningkatkan tekanan darah
3) Hubungkan efek nilai laboratorium, oksigen, obat, aktivitas,
ansietas, dan/atau nyeri pada disritmia
4) Jangan mengukur suhu dari rektum
5) Ubah posisi pasien setiap dua jam atau pertahankan aktivitas lain
yang sesuai atau dibutuhkan untuk menurunkan stasis sirkulasi
perifer
6) Regulasi Hemodinamik (NIC) :
(a) Minimalkan atau hilangkan stresor lingkungan
(b) Pasang kateter urine, jika diperlukan
3. Intoleransi aktivitas
Definisi: ketidak cukupan energi fisiologis atau psikologisuntuk
melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus
dilakukan.
Tujuan:
a. Menoleransi aktivitas yang biasa dilakukan, yang dibuktikan oleh
toleransi aktivitas, ketahanan, penghematan energy, kebugaran fisik,
energi psikomotorik, dan perawatan diri: aktivitas kehidpan sehari hari
(AKSI)
b. Menujukkan aktivitas toleransi, yang dibuktikan oleh indikator sebagai
berikut seberat, disebutkan 1-5 gangguan ekstrem, berat,
sedang, ringan, atau tidak mengalami gangguan :
1) saturasi oksigen saat aktivitas
2) frekuensi pernapsan saat beraktivitas
3) kemampuan untuk berbicara saat beraktivitas fisik

35
c. Mendemonstrasikan penghematan energi, yang dibuktikan oleh
indikator sebagai berikut (sebutkan 1-15:tidak pernah, jarang, kadang
kadang, sering atau selalu ditampilkan) :
1) Meyadari keterbasan energi
2) Menyeimbangkan aktivtas dan istirahat
3) Mengatur jadwal aktivitas untuk menghemat energy
Kriteria Hasil NOC :
a. Tolereransi aktivitas:respons fisiologis terhadap geraka yang memakan
energi dalam aktivitas sehari-hari.
b. Ketahanan: kapasitas unutuk menyelesaikan aktivitas
c. Peng hemat energi: tindakan individu untuk mengola energi untuk
memulai dan menyelesaikan aktiviatas.
d. Kebugaran fisik: pelaksanaan aktivitas fisik yang penuh fitalitas
e. Energi psikomotorik: dorongan dan energi idividu untuk
mempertahankan aktivitas hidup sehari-hari, nutrisi dan keamanan
personal
f. Perawatan diri: ativitas kehidupa sehari-hari (aksi): kemampuan
untuk melalukan tugasa-tugas fisik yang paling dasar dan aktivitas
perwatan pribadi secara mandiri denga atau tanpa alat bantu.
g. Perawatan diri aktivitas kehidupan sehari hari instrumental(AKSI)
:kemmpuan untuk melakukuan aktvitas yang dibutuhkan dalam fungsi
dirumah atau komunitas secara amandiri dengan atau tampa alat bantu.
Intervensi NIC :
a. Terapi aktivitas:memberi anjuran tentang dan aktivitas fisik, kognitif,
sosial, dan spritual, yang spesifik untuk meningkatkan tentang,
frekuensi, atau durasi aktivitas individu (atau kelompok)
b. Menejemen energi: mengsur engunan energi untuk mengatasi atau
mencegah kelelahan dan mengoptimalkan fungsi
c. Menejemen lingkungan: memanipulasi lingkungan sekitr pasien untuk
memperoleh manfaat terapeutik, stimulasi sensorik.

36
d. Terapi latian fisik: mobilitas sendi : menggunakan geakan tubuh aktif
atau pasief umtuk memerthankan atau memperbaiki fleksi bilitas sendi.
e. Terapai latian fisik: pengendalian otot: mengunakan aktivitas atau
protokol latihan yang spesifik untuk meningkatkan atau
memulihkan gerakan tubuh yang terkontrol
f. Promosi latian fisik: latian kekuatan: mefasilitasi latian otot resistif
secara rutin untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot
g. Bantuan pemeliharaan rumah: membantu apsien dan kluarga untuk
menjaga rumah sebagai tempat tinggal yang besih,aman dan,
menyenangkan
h. Menejemen alam perasaan: memberi rasa keamanan, stabilitasi
pemulihan, dan pemeliharaan pasien yang mengalami disfunsi
alam perasaan baik depresi namun peningkatan alam perasaan
i. Bantuan perawatan diri: membantu individu untuk melakukan AKS
j. Bantuan perawtan diri aksi: membantu dan mengarahkan individu
untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari hari instrumental (AKSI)
yang diperlukan untuk berfungsi dirumah atu dikomunitas
Aktivitas keperawatan
a. Pengkajian.
1) Kaji tingkat kemampuan pasien untuk berpindah dari tempat tidur,
berdiri,ambulasi,dan melakukan aks dan aksi
2) Kaji respon emosi,sosial,dan spiritual terhadap aktivitas
3) Evaluasi motifasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan
aktifitas
4) Menejemen energi (NIC)
(a) Tentukan penyebeb keletihan (misalnya,perawat,nyeri,dan
pegobatan).
(b) Pantau respon kardioresparitori terhadap aktivitas (misalnya,
takikardia,disritmia lain: dispnea, diaforesis, pucat, tekanan
hemodinamik, dan frekuensi pernapasan).

37
(c) Pantau respon oksigen pasien (misalnya,denyut
nadi,irama jantung, dan frekuensi pernapasan) terhadap
aktivitas perawatan diri atau aktivitas keperawatan.
(d) Pantau asupan nutrisi untuk memastikan sumber-sumber energi
yag adekuat.
(e) Pantau dan dokumentasikan pola tidur pasien dan lamanya
waktu tidur dalam jam
b. Penyuluhan untuk pasien/keluarga
Instruksi kepada pasien dan keluarga dalam:
1) Pengunaan teknik napas terkontrol selama aktivitas, jika perlu
2 Mengenali tanda dan gejala intoleran aktivitas, termasuk kondisi
yang perlu dilaporkan kepada dokter
3) Pentingnya nutrisi yang baik
4) Penggunaan peralatan,s eperti oksigen, selama aktivitas
5) Penggunaan teknik relaksasi (misalnya, distraksi, visualisasi)
selama aktivitas
6 Dampak intoleran aktivitas terhadap tanggung jawab peran dalam
keluarga dan tempat
7 Tindakan untuk menghemat energi, sebagai contoh: menyimpan
alat atau benda yang sering digunakan di tempat yang mudah
di jangkau
8) Menejemen energi (NIC)
(a Ajarkan kepada pasien dan orang terdekat tentang
teknik perawatan diri yang akan meminimalkan konsumsi
oksigen (misalnya: pemantaun mandiri dan teknik
langkah untuk melakukan AKS)
(b) Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik menejemen
waktu untuk mencegah kelelahan
c. Aktivitas kolaboratif
1) Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivitas, apabila
nyeri merupakan salah satu faktor penyebab

38
2) Kolaborasikan dengan ahli terapi okupasi,fisik
(misalnaya, untuk latihan ketahanan), atau rekreasi untuk
merecanakan dan mematau program aktivitas,jika perlu.
3) Untuk pasien yang mengalami sakit jiwa, rujuk ke
layanan kesehatan jiwa di rumah
4) Rujuk pasien ke pelayanan kesehatan rumah untuk
mendapatkan pelayanan bantuan perawatan rumah, jika
perlu
5) Rujuk pasien ke ahli gizi untuk pencernaan diet
guna meningkatkan asupan makanan yang kaya energi
6) Rujuk pasien ke pusat rehabilitas jantung jika
keletihan berhubungan dengan penyakit jantung
d. Aktivitas lain
1) Hindari menjadwalkan pelaksaan aktivitas perawat selama
periode istirahat
2) Bantu pasien untuk mengubah posisi secar
berkala, bersandar,duduk,berdiri,dan ambulasi, sesuai
toleransi
3) Pantau tanda tanda vital sebelum,selama,dan setelah
aktivitas; hentikan aktivitas jika tanda tanda vital tidak
dalam rentang normal bagi pasien atau jika anda tanda tanda
bahwa aktivitas tidak dapat ditoleransi (misalnya, nyeri,
dada, pucat, vertigo, dispnea)
4) Rencanakan aktivitas bersama pasien dan keluarga
yang meningkatkan kemandirian dan ketahanan,sebagai
contoh:
(a) Anjuran periode untuk istirahat dan aktivitas secara
bergantian (b) Buat tujuan yang sederhana, realitas, dan
dapat dicapai oleh pasien yang dapat meningkatkan
kemandirian dan harga diri
5) Manajemen energi (NIC)
(a) Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas

39
(b) Rencanakan aktivitas pada periode saat pasien memiliki
energi paling banyak
(c) Bantu dengan akttivitas fisik teratur misalnaya:
ambulasi, berpindah, mengubah posisi, dan perawatan
personal), jika perlu
(d) Batasi rangsangan lingkungan (seperti cahaya dan
kebisingan)
(e) Untuk mengfasilitasi relaksasi
(f) Batu pasien untuk melakukan pemantauan
mandiri dengan membuat dokumentasi tertulis yang
mencatat asupan kalori dan energi, jika perlu.
2.11 Coronary Artery Bypass Graft ( CABG)
Coronary Artery Bypass Graft ( CABG ) adalah bedah pintas koroner yang
merupakan salah satu upaya atau tindakan yang dilakukan untuk revaskularisasi
pada penderita penyakit jantung koroner. ( Muttaqin, A.2009 )
CABG adalah operasi yang menanamkan pembuluh darah dari tempat
laindi tubuh untuk memberikan bypass ( jalur alternatif ) di dalam pembuluh
jantung yang tersumbat sehingga darah dapat kembali mengalir lancar ke seluruh
bagian jantung itu sendiri untuk memberikan nutrisi bagi jantung.
Penatalaksanaan CABG
1) Persiapan sebelum pelaksanaan operasi CABG :
Persiapan pasien :
a) Informed concern
b) Obat – obatan pra operasi : aspirin, nitrogliserin, nifedipin, diltiazem
c) Pemeriksaan laborat
1. Pemeriksaan Hemoglobin darah (HB)
Dokter bedah akan berani mengoperasi seseorang jika kadar Hb dalam
darah dalam kondisi normal adalahdi atas 10% sedang untuk operasi
darurat HB minimal 8 %. Jika memang di bawah 7%, harus dilakukan
tranfusi darah untuk menormalkannya.
2 . Pemeriksaan Sel darah putih atau leukosit

40
Laboratorium sel darah putih selalu diperiksa oleh ahli bedah untuk
mengetahui apakah kondisi pasien sedang mengalami infeksi atau tidak.
Kadar leukosit juga bisa mengetahui pasien tersebut sedang mengalami
sepsis (infeksi hebat dan menyeluruh) atau tidak.
3 . Pemeriksaan kadar trombosit / faktor pembeku darah
Trombosit adalah sel darah yang berperan penting dalam faktor
pembeku darah. Karena itu seperti halnya Hb, kadar trombosit juga
sangat diperhatikan bagi pasien yang akan dilakukan operasi. Trombosit
pasien harus dipastikan di atas 150.000 . jika kurang dari itu
( kekurangan trombosit atau thrombositopenia) diperlukan optimalisasi
terlebih dahulu dengan penambahan atau tranfusi thrombosit.
4 . Pemeriksaan Cloting time ( CT ) - Bleeding Time (BT)
Waktu pembekuan ( Cloting time ) dan waktu perdarahan ( Bleeding
time ) ini harus di periksa karena sering dijumpai dalam operasi pasien
mengalami perdarahan yang tiada henti atau lama berhenti. Ini
disebabkan waktu pembekuan dan waktu perdarahannya panjang
sehingga perdarahan juga berlangsung lama. Ini juga akan
mempengaruhi kadar trombosit dan Hb pasien yang sedang dioperasi.
Tentu kadar kedua item darah itu akan ikut terkuras.Jika di jumpai
waktu perdarahan yang memanjang dan waktu pembekuan yang lama,
maka operasi akan berjalan lama karena dokter juga sibuk untuk
mengontrol perdarahan yang terjadi.
5 . Pemeriksaan Fungsi hati ( LFT )
Pemeriksaan fungsi hati atau Liver fungsi test ini sebagai antisipasi
kesehatan fungsi hati pasien itu sendiri. Jika terdapat parameter enzim
hati di atas normal, pasti sedang terjadi sesuatu di hati penderita.
Adanya suatu peradangan atau kondisi fungsi hati yang turun akan
membuat fungsi hati semkain jelek saat dilakukan operasi. Karena obat
injeksi operasi terutama anastesi sebagian besar akan disaring di dalam
hati. sehingga jika tindakan operasi diteruskan padahal kondisi hati
sedang tidak fit, dikhawatirkan akan semakin memperburuk kondisi hati
pasien yang bersangkutan. Bermacam pemeriksaan liver fungsi test

41
( LFT ) terdiri dari SGOT, SGPT dan alkali phosphatase. Ketiga enzim
ini menjadi parameter normal atau tidaknya fungsi hati seseorang.
6 . Pemeriksaan Fungsi Ginjal
Setali tiga uang dengan fungsi hati, pemeriksaan fungsi ginjal juga
sangat penting dilakukan. karena setelah di saring di hati, obat-obatan
operasi terutama anastesi juga disaring di ginjal dan ampasnya pun akan
dibuang lewat ginjal. Jika kondisi fungsi ginjal dalam keadaan buruk,
ditakutkan akan terjadi kerusakan ginjal karena kerja ginjal akan terlalu
berat dalam menyaring obatan-obatan tersebut.Pemeriksaan
laboratorium fungsi ginjal sederhana meliputi pemeriksaan urea darah
( BUN ) dan serum creatinin ( SC ). Peningkatan kadar BUN diatas 40
gr dan angka SC diatas 1,6 maka dokter mesti waspada pasien sudah
mulai mengalami gangguan pada ginjal. walau dalam kondisi tertentu
seperti kekurangna air kadar dari dua indikator itu bisa saja mengalami
kenaikan
7 . Pemeriksaan Kadar gula Darah
Bukan penderita Diabetes melitus saja yang mesti memeriksakan
kondisi kadar gula darahnya karena pasien yang akan menjalani
operasipun diwajibkan melakukan hal yang sama. Kadar Gula Darah
sangat mempengaruhi penyembuhan luka setelah operasi. Jika kadarnya
meninggi, otomatis penyembuhan luka akan berlangsung lama dan bisa
saja akan membahayakan pasien yang bersangkutan. Apalagi jika
operasi yang akan dilakukan adalah operasi besar yang lebih
beresiko. Untuk kasus operasi yang terencana sebaiknya kada gula
darah ada di bawah 150 gr % untuk gua darah sewaktu ( Gula darah
tanpa persiapan puasa ). Jika memang dalam kondisi darurat, dokter
bedah perlu berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam lebih dahulu
sebelum melakukan tindakan
d) Pemeriksaan lainnya meliputi :
Pemeriksaan Faal paru
Uji faal paru dilakukan dengan menilai fungsi ventilasi, difusi gas,
perfusi darah paru dan transpor gas O2 dan CO2 dalam peredaran

42
darah. Untuk keperluan praktis dan uji skrining, biasanya penilaian faal
paru seseorang cukup dengan melakukan uji fungsi ventilasi paru.
Penilaian fungsi ventilasi berkaitan erat dengan penilaian mekanika
pernapasan. Untuk menilai fungsi ventilasi digunakan alat spirometer
untuk mencatat grafik pernapasan berdasarkan jumlah dan kecepatan
udara yang keluar atau masuk ke dalam spirometer.
Untuk keperluan praktis dan uji skrining, biasanya penilaian faal paru
seseorang cukup dengan melakukan uji fungsi ventilasi paru.
Pemeriksaan gigi
Sejumlah prosedur pembedahan jantung dapat meningkatkan resiko
perkembangan bakterial endokarditis, oleh karena sumber bakterimia
transien primer yang dapat menimbulkan bakterial endokarditis berada
dicavum oral. Pasien sebelum dan sesudah bedah jantung adalah
penting untuk diperhatikan. Jika gigi calon pasien bedah jantung
banyak mengandung carries gigi, akan ditakutkan kuman-kuman yang
ada di carries gigi akan menyebar ke jantung dan mempersulit
penyembuhan luka hasil operasi jantung.
Pemeriksaan gigi dan mulut harus termasuk inspeksi jaringan
lunak ekstra oral dan intra oral, ocllusal, caries dan pemeriksaan
periodental, dan serangkaian total radiography terbaru. Pemeriksaan ini
harus dilaksanakan secara spesifik untuk mendeteksi beberapa infeksi
akut atau sub akut yang dapat mencegah komplikasi pada pasien setelah
operasi. Abses aktif, fistula, penyakit periapical dan penyakit
periodontal yang aktif ditandai degan meningkatnya bakterimia
transiennya dan dapat menimbulkan bakterial endokarditis pada pasien
yang rentan (Stephen T 1995).
Pemeriksaan THT
Hal ini sangat diperlukan untuk keamanan dan kelancaran operasi
jantung. Bila mempunyai masalah dengan THT, maka ditakutkan
kuman yang ada di telinga, hidung dan tenggorokan akan menyebar ke
jantung sehingga luka penyembuhan operasi jantung bisa terhambat.
e) Persiapan darah 6 – 10 bag sesuai golongan darah pasien

43
f) Puasa malam10 – 2 jam
g) Cukur area pembedahan
h) Lepaskan perhiasan, kontak lensa, mata palsu, gigi palsu ( identifikasi dan
simpan yang aman atau berikan keluarganya ).
i) Cek benda – benda asing dalam mulut.
Tujuan CABG
1. Membuat rute dan saluran baru pada arteri yang terbendung sehingga oksigen
dan nutrisi dapat mencapai otot jantung.
2. Mengatasi terhambatnya aliran artery coronaria akibat adanya penyempitan
bahkan penyumbatan ke otot jantung.
3. Meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi gejala angina dan PJK lainnya.
4. Memungkinkan klien untuk melanjutkan gaya hidup yang lebih aktif.
5. Meningkatkan tindakan pemompaan jantung jika sudah rusak oleh serangan
jantung.
6. Menurunkan risiko serangan jantung ( pada beberapa pasien, seperti mereka
yang memiliki diabetes )
7. Meningkatkan kesempatan klien untuk bertahan hidup.

Indikasi CABG
1. Penderita penyakit arteri utama / setara
2. Penderita dengan 3 vessel disease
3. Abnormal fungsi ventrikel kiri
4. Oklusi cangkokan dari CABG sebelumnya
5. Angina yang tidak dapat di kontrol dengan terapi medis
6. Angina yang tidak stabil
7. Sumbatan yang tidak dapat ditangani dengan terapi PTCA
8. Stenosis arteri koroner kiri lebih dari 70 %

44
9. Klien dengan komplikasi kegagalan PTCA
Kontra indikasi CABG
1. Usia Lanjut
2. Tidak ada gangguan angina
3. Fungsi ventrikel kiri jelek ( kurang dari 30 % )
4. Struktur arteri koroner tidak memungkinkan untuk di sambung
5. Sumbatan pada arteri kurang 70 %, sebab jika sumbatan pada arteri kurang
dari 70 %, maka aliran darah tersebut masih cukup banyak sehingga
mencegah aliran darah yang adekuat pada pintasan, akibatnya akan terjadi
bekuan pada CABG, sehingga hasil operasi menjadi sia – sia.
Prosedur pelaksanaan CABG
1) Pemasangan CVP pada vena jugularis dekstra atau vena subklavia dekstra,
arteri line dan saturasi oksigen.
2) Pasien dipindah dari ruang premedikasi ke kamar operasi.
3) Pasang kateter dan kabel monitor suhu, diselipkan dibawah femur kiri
pasien dan diplester.
4) Pasang plate diatermi di daerah pantat / pangkal femur bawah .
5) Posisi pasien terlentang, kedua tangan disamping kiri dan kanan badan dan
diikat dengan duek kecil, dibawah punggung tepat di scapula diganjal
guling kecil.
6) Bagian lutut kaki diganjal guling, untuk memudahkan pengambilan graft
vena.
7) Menyuntikkan agen induksi untuk membuat pasien tidak sadar.
8) Petugas anestesi memasang ETT memulai ventilasi mekanik.
9) Melakukan desinfeksi dengan betadin 10 % mulai dari batas dagu dibawah
bibir kesamping leher melewati mid aksila samping kanan kiri, kedua kaki
sampai batas malleolus ke pangkal paha (kedua kaki diangkat) kemudian
daerah pubis dan kemaluan didesinfeksi terakhir selnjutnya didesinfeksi
dengan larutan hibitan 1% seperti urutan tersebut diatas dan dikeringkan
dengan kasa steril.
10) Dada dibuka melalui jalur median sternotomi dan operator mulai
memeriksa jantung.

45
11) Pembuluh darah yang sering digunakan untuk bypass grafting ini antara
lain ; arteri thoracic internal, arteri radial, dan vena saphena.
12) Saat dilakukan pemotongan arteri tersebut, klien diberi heparin untuk
mencegah pembekuan darah.
13) Pada operasi “off pump”, operator menggunakan alat untuk menstabilkan
jantung.
14) Pada operasi “on Pump”, maka ahli bedah membuat kanul ke dalam
jantung dan menginstruksikan kepada petugas perfusionist untuk memulai
cardiopulmonary bypass (CPB).
15) Setelah CPB terpasang, operator ditempat klem lintas aorta (aortic cross
clamp) diseluruh aorta dan mengintruksikan perfusionist untuk
memasukkan cardioplegia untuk menghentikan jantung.
16) Ujung setiap pembuluh darah grefting dijahit pada arteri koronaria diluar
daerah yang diblok dan ujung alin dihubungkan pada aorta.
17) Jantung dihidupkan kembali; atau pada operasi “off pump” alat
stabilisator dipisahkan. Pada beberapa kasus, aorta didukung sebagian oleh
klem C-Shaped, jantung dihidupkan kembali dan penjahitan jaringan
grafting ke aorta dilakukan sembari jantung berdenyut.
18) Protamin diberikan untuk memberikan efek heparin .
19) Sternum dijahit bersamaan dan insisi dijahit kembali.
20) Pasien akan dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU) untuk
penyembuhan.
21) Setelah keadaan sadar dan stabil di ICU (sekitar 1 hari), pasien bisa
dipindah ke ruang rawat samapi pasien siap untuk pulang.
Keperawatan Pre Operasi
A. Status psikologi : cemas
Kecemasan ini selanjutnya dapat diatasi dengan pemberian edukasi pra
bedah, yaitu :
1. Rencana Tindakan
Untuk mengatasi adanya rasa cemas dan takut, dapat dilakukan persiapan
psikologis pada pasien melalui pendidikan kesehatan, penjelasan tentang
peristiwa yang mungkin akan terjadi, seterusnya.

46
Untuk mengatasi masalah risiko infeksi atau cedera lainnya dapat
dilakukan dengan persiapan prabedah seperti diet, persiapan perut, kulit,
persiapan bernapas dan latihan batuk, persiapan latihan kaki, latihan
mobilitas, dan lain-lain.
Pendidikan Kesehatan Pasien Pasca Bedah CABG
1. Sebelum operasi
Dilakukan oleh perawat ruangan dan atau ruang rawat intermediate tentang
semua persiapan operasi termasuk kelengkapan data: laboratorium, foto
thoraks, dan data penunjang lain.
Dilakukan oleh perawat ICU ketika pasien melakukan kunjungan ke ICU
sebelum hari operasi (orientasi)
2. Setelah operasi
a. Di ruang ICU
Diberikan kepada pasien setelah sadar, dan atau kepada kepada
keluarganya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan penatalaksanaan
pengobatan dan perawatan di ICU: Melatih napas saat masih
menggunakan mesin bantu napas.
Memberikan bantuan kebutuhan aktifitas selama pasien tidak dapat
memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-harinya.
b. Di ruang perawatan
Memberikan bantuan kebutuhan aktifitas selama pasien tidak dapat
memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-harinya.
Memberikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan
kemampuan aktifitas lanjutan di rumah.
3. Pulang dari Rumah Sakit
Pasien tanpa komplikasi yang berarti dapat pulang dari rumah sakit serelah
5-7 hari paska bedah CABG. Perpanjangan lama tinggal di RS sesuai
dengan kondisi yang menyertai pasien. Jelaskan secara ringkas, jelas, dan
tepat sesuai dengan kapasitas dan kolaborasi.
a. Sebelum meninggalkan RS
Sangat penting bagi pasien dan keluarga untu turut serta dalam
program rencana pulang. Yakinkan dengan tanya jawab yang benar dan
tepat tentang semua program terapi atau obat di rumah. Berikan arahan
tertulis tentang konsumsi obat di rumah (dosis, waktu minum obat, dan
lamanya penggunaan obat tersebut).
b. Pengobatan

47
Beritahukan obat-obat emergency dan harus tersedia serta obat-obat
yang mendukung penyembuhan pasca CABG. Misalnya obat anti
platelet (aspirin, aspilet, dll), obat beta bloker, nitrat, ACE Inhibitor
(Captopril, dll).
c. Perawatan luka
Setelah pasien pulang dari rumah sakit, anjurkan untuk melakukan
perawatan luka seperti yang dikerjakan di rumah sakit. Ajarkan dan
libatkan perawatan luka terakhir sebelum pulang dari rumah sakit.
Anjurkan untuk mencari bantuan tenaga ahli atau terlatih bila merasa
belum mampu merawat luka dengan benar. Beritahu pasien untuk
mengurangi gerakan yang menggunakan bahu berlebih (main tenis,
baseball, golf) untuk mendukung penyembuhan sternum.
d. Perawatan di rumah
Anjurkan untuk tetap memonitor resiko serangan jantung koroner
dengan memperhatikan tanda-tanda vital: memeriksa tekanan darah
secara rutin, berolahraga teratur, mengurangi gaya hidup yang
mendukung hiperkolesterol, stop merokok dan menghindari merokok,
serta istirahat yang cukup.
e. Ajarkan cara mengenali waktu segera untuk segera mencari bantuan:
1) Demam lebih dari 380 C.
2) Nyeri baru atau nyeri yang lebih parah pada daerah insisi
(sternum dan kaki).
3) Denyut nadi yang cepat.
4) Luka yang kemerahan, nyeri, dan bernanah.
f. Rehabilitasi jantung
Anjurkan pasien untuk mengikuti rehabilitasi lanjutan sesuai dengan
tahap kemampuan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Anjurkan
untuk memeriksakan diri secara teratur dan meminta pemeriksaan
penunjang yang mendukung (MSCT untuk mengecek patensi graft,
treadmill test untuk mengetahui kemampuan jantung dan atau echo
untuk mengetahui curah jantung).
g. Mengurangi faktor resiko
Diskusikan rencana dan cara yang mendukung kemauan untuk
mengurangi faktor resiko PJK ulangan: stop merokok dan hindari
merokok, kontrol kadar kolesterol, gaya hidup sehat. Kolaborasi dan
diskusikan rencana diit di rumah yang menunjang kesehatan jantung.
Sertakan tenaga supervisi dan kolaborasikan dengan tim rehabilitasi.

48
Berikan rasa aman dan hindarkan hal-hal yang membuat cemas, dan
gelisah. Serta ajarkan dan anjurkan untuk mengurangi stres.
h. Sex yang aman
Beritahukan satu atau dua minggu tanpa komplikasi serangan nyeri.
Beritahukan resiko ini akan berkurang setelah enam minggu (paling
ideal). Anjurkan berkonsultasi denga psikologis berhubungan dengan
penurunan kualitas seksual berhubungan dengan pasca bedah CABG.
i. Mendapatkan lebih banyak informasi
Beritahukan dan rekomendasikan tempat-tempat yang dapat digunakan
untuk mendapat informasi seputar kesehatannya pasca bedah CABG
(Puskesmas terdekat, dokter praktek sekitar rumah, dan berikan nomor
telepon penting yang segera dapat dihubungi). Anjurkan dan dukung
pasien untuk mendapat sebanyak mungkin informasi tentang
penyakitnya dari berbagai media.
2. Persiapan Diet
Pasien yang akan dibedah memerlukan persiapan khusus dalam hal
pengaturan diet. Pasien boleh menerima makanan biasa sehari sebelum
bedah, tetapi 8 jam sebelum bedah tidak diperbolehkan makan,
sedangkan cairan tidak diperbolehkan 8 jam sebelum bedah, sebab
makanan atau cairan dalam lambung dapat menyebabkan terjadinya
aspirasi.
3. Evaluasi
Evaluasi terhadap masalah prabedah secara umum dapat dinilai dari
adanya kemampuan dalam memahami masalah atau kemungkinan yang
terjadi pada intra dan pascabedah. Tidak ada tanda kecemasan,
ketakutan, serta tidak ditemukannya risiko komplikasi pada infeksi atau
cedera lainnya.
B. Nitrogliserin SL/ transdermal-Status klinik : nyeri dada
C. Riwayat penyakit dahulu : Kaji riwayat DM karena DM memicu
aterosklerosis, menghambat penyembuhan luka dan predisposisi infeksi.
Hipertensi dan obesitas meningkatkan beban kerja jantung.
Obesitas meningkatkan resiko infeksi karena jaringan adiposa
mengandung sedikit vaskularisasi.
D Pemberian antibiotic profilaksis : Mencegah infeksi

49
E Tanda-tanda vital : Tekanan darah bilateral, nadi, suhu, RR
F Jaga pasien tetap hangat dengan memberi selimut, observasi adanya
shivering :Menggigil (Shivering) dapat meningkatkan pelepasan
katekolamin.
G Thorak foto : dapat memberikan informasi mengenai ruang jantung, aorta
torakal, pembuluh darah pulmonal. Pada pasien dengan kalsifikasi aorta
asendens yang luas maka dihindari penggunaan klem pembuluh darah
aorta atau cardiopulmonary bypass.
H Ekokardiografi :
Untuk evaluasi fungsi ventrikel sebelum dan segera setelah operasi, untuk
mengetahui adanya tumor, thrombus atau udara yang masih ada di rongga
atrium atau ventrikel setelah intervensi bedah jantung.
I Kateterisasi jantung :
Untuk mengetahui lokasi dan luasnya arteri yang menyempit/tersumbat.
J Laboratorium: DL, profil koagulan, Faal Homeostasis, RFT, LFT
K Edukasi : Melatih batuk efektif dan nafas dalam
Keperawatan Intra Operasi
1) Posisi : supin
2) Pengkajian : monitoring EKG, tanda –tanda vital, menyiapkan
defibrillator. Jika jantung fibrilasi dan tidak dapat diresusitasi maka segera
dilakukan pijatan langsung pada jantung.
3) Insisi : Median sternotomy.
Kulit diinsisi dari sternal notch sampai ke linea alba dibawah prosesus xipoidius.
4) Pemilihan saluran (conduit): Arteri mamaria interna, vena saphena, arteri
radialis, arteri gastroepiploik, arteri epigastrik inferior.
5) Pintasan jantung paru : pada pendekatan ini kanula dimasukkan melalui
atrium kanan ke vena kava superior dan inferior untuk mengalirkan darah dari
tubuh ke system pintasan.
System pompa menciptakan vakum, menarik darah ke reservoir vena ; darah
dibersihkan dari gelembung udara, bekuan darah dan partikulatnya dengan filter.
Darah kemudian dialirkan ke oksigenator, melepaskan karbondioksida dan
mendapat oksigen. Darah ditarik ke pompa dan kemudian didorong ke penukar

50
panas, dimana temperaturnya diatur, dan kemudian dikembalikan ke tubuh
melalui aorta asendens
6) Peran perawat : Membantu prosedur operasi, menjaga keamanan dan
kenyaman pasien. Ruang lingkup intervensi diantaranya mengatur posisi,
perawatan kulit, dukungan emosional pada pasien dan keluarga.
7) Komplikasi intraoperatif yang mungkin terjadi: Aritmia, perdarahan,
infark miokard, cedera pembuluh darah otak, emboli, syok.
Keperawatan Post Operasi
1) Pengkajian
a). Status neurologi :
Tingkat responsivitas, ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya, reflex, gerakan
ekstremitas, dan kekuatan genggaman tangan.
b). Status jantung :
Frekuensi dan irama jantung, CVP, curah jantung, tekanan arteri paru, PAWP,
saturasi oksigen arteri paru, drainase rongga dada, status serta fungsi pacu
jantung.
c). Status respirasi:
Gerakan dada, suara nafas, setting ventilator (frekuensi, volume tidal, konsentrasi
oksigen, mode) .
d). Status pembuluh darah perifer :
Denyut nadi perifer, warna kulit, dasar kuku, mukosa, bibir dan cuping telinga,
suhu, edema, kondisi balutan dan pipa invasive.
e). Fungsi ginjal :
Haluaran urine, berat jenis urin dan osmolaritas.
f). Status cairan dan elektrolit :
Intake dan output, nilai laboratorium untuk kalium, natrium, calcium
g). Nyeri:
Sifat, jenis, lokasi, durasi, respon terhadap analgesic.
Pasien yang menjalani CABG dengan arteri mamaria interna dapat mengalami
parestesis sementara atau menetap nervus ulnarispada sisi yang sama dengan graf
yang diambil.

51
Pasien yang menjalani CABG dengan arteri gastroepiploik juga dapat mengalami
ileus selama beberapa waktu dan akan mengalami nyeri abdomen pada tempat
insisi selain nyeri dada.
2) Pengkajian komplikasi:
a). Penurunan curah jantung
Penyebabnya antara lain ; Gangguan preload, gangguan afterload, gangguan
frekuensi jantung, gangguan kontraktilitas.
b). Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Pantau asupan dan haluaran cairan, kadar elektrolit.
c). Gangguan pertukaran gas
Indikasi gangguan pertukaran gas ; gelisah, cemas, sianosis pada selaput lendir
dan jaringan perifer, takikardia, berusaha melepas ventilator. Suara nafas ronki.
d). Gangguan peredaran darah otak: hipoksia

52
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Tanggal MRS : 12 Maret 2018 Jam Masuk : 13.30 WIB


Tanggal Pengkajian : 12 Maret 2018 No. RM : 12.61.44.xx
Jam Pengkajian : 13.45 WIB Diagnosa Masuk : PJK
Hari Rawat Ke :1 OMI Inferior + DM Tipe II pro DCA
Adhok
IDENTITAS
1. Nama Pasien : Tn. M.T
2. Umur : 65 tahun
3. Suku/ Bangsa : Madura/ Indonesia
4. Agama : Islam
5. Pendidikan : SD
6. Pekerjaan : Pensiun pelayar, sekarang Nelayan
7. Alamat : Bangkalan
8. Sumber Biaya : BPJS
KELUHAN UTAMA
Keluhan utama: sesak apabila beraktivitas
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
1. Riwayat Penyakit Sekarang:
Riwayat terkena serangan jantung dua kali pada bulan Juni & Juli 2017,
dirawat RS Bangkalan. Saat ini pasien masuk RSUD Dr. Soetomo untuk
program pro DCA Adhock.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
1. Pernah dirawat : pada tahun 2017 dengan diagnosa PJK
2. Riwayat penyakit kronik dan menular : Penyakit kronik PJK
Riwayat kontrol : Pasien kontrol ke RSUD Bangkalan dan
puskesmas, pengobatan PJK

53
Riwayat penggunaan obat : acetosal 100mg/24 jam, furosemid 40 mg ½ x
sehari, candesartan 16 mg/24 jam, fasorbid 5mg/8jam, glimepiride 1mg/24
jam, metformin 500mg/24 jam
3. Riwayat alergi:
Tidak ada alergi obat dan makanan
4. Riwayat operasi: Tidak pernah operasi
5. Lain-lain: Pasien memiliki riwayat DM tipe II sejak tahun 2012, sekitar 5 tahun
yang lalu
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada penyakit keluarga yang sama, HT dan DM juga tidak ada

Keterangan:

Laki – laki Meninggal


Perempuan ------ Tinggal serumah
Pasien

PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN


Perilaku sebelum sakit yang mempengaruhi kesehatan:
Masalah Keperawatan:
Tidak ada masalah
( ) Alkohol: Pasien tidak mengkonsumsi alkohol
( ) Merokok : 30 tahun merokok, Namun berhenti setelah terdiagnosa PJK
pada bulan juni 2017
( ) Obat : Pasien tidak mengkonsumsi obat selain dari dokter
( ) Olahraga : Pasien jarang berolahraga
Pola Kebutuhan Dasar (Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)
a. Pola Bernapas
• Sebelum sakit

54
Paseien mengatakan mengatakan jarang sekali sakit batuk pilek dan sesak
napas. Tidak ada riwayat sesak nafas. Pasien mampu bernafas spontan
• Saat sakit
Pasien mengatakan sesak nafas apabila beraktivitas berat
b. Pola makan-minum
• Sebelum sakit
Pasien mengatakan biasanya makan 3x sehari dengan 1 porsi makan
terdiri dari lauk, sayur dan nasi, pasien jarang makan buah dan minum
susu. Porsi makan dihabiskan. Pasien dapat makan secara mandiri. Pasien
mengatakan minum air putih ± 5-6 gelas ukuran 200ml.
• Saat sakit
Keluarga mengatakan pasien saat sakit makan tetap 3x sehari dengan 1
porsi makan yang disediakan oleh bagian gizi RS. Pasien minum air putih
1000 ml dalam satu hari. Pasien dibantu keluarga untuk makan dan
minum
c. Pola Eliminasi
• Sebelum sakit :
Pasien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lunak, berwarna
coklat kekuningan, berbau khas. Untuk BAK sekitar 4-5x/hari dengan
warna kuning jernih. Pasien dapat BAB dan BAK secara mandiri.
• Saat sakit :
Pasien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lunak, berwarna
coklat kekuningan, berbau khas. Untuk BAK sekitar 4-5x/hari dengan
warna kuning jernih.
d. Pola aktivitas dan latihan
• Sebelum sakit :
Pasien mengatakan beraktivitas sebagai palayaran dan sekarang sebagai
nelayan.
• Saat sakit :
Pasien mengatakan saat ini mambatasi aktivitas yang terlalu berat karena
aktivitas yang berat dapat menyebabkan sesak nafas dan kelelahan
e. Pola istirahat dan tidur
• Sebelum sakit :
Pasien mengatakan sebelum sakit tidak ada kesulitan tidur. Pasien tidur
malam ± pukul 23.00 dan bangun pukul 05.00, pasien tidak pernah tidur
siang.
• Saat sakit
Pasien mengatakan tidur siang ±pukul 13.00-16.00 dan tidur malam pukul
21.00 bangun pukul 05.00..
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

55
1. Tanda - tanda vital
S: 36o C N: 76 x/menit TD: 130/90 mmHg RR: 20 x/menit
Kesadaran : Composmentis
2. Sistem Pernapasan (Breathing)
a. RR: 20 x/menit
b. Keluhan: Pasien sesak hanya ketika beraktifitas
Batuk tidak produktif, tidak ada sekret
c. Tidak menggunaan otot bantu napas
d. Tidak ada pernafasan cuping hidung
e. Irama napas teratur
f. Suara napas Vesikuler
Masalah Keperawatan:
g. Menggunakan Alat bantu napas nasal canule 3 lpm Tidak ditemukan masalah
h. Lain – lain : keperawatan

Pemeriksaan fisik paru


Inspeksi : Pergerakan dada kanan-kiri simetris
Palpasi : Vokal Fremitus kanan-kiri sama
Perkusi
Apeks : Kanan kiri sonor
Medial : Kanan kiri sonor
Basal : Kanan redup, kiri sonor
Auskultasi :
Apeks : Kanan kiri vesikuler
Medial : Kanan kiri vesikuler
Basal : Kanan tidak terdengar, kiri vesikuler
3. Sistem Kardiovaskuler (Blood)
a. TD : 130/90 mmHg Masalah Keperawatan:
b. N : 76x/menit Resiko penurunan
c. HR : 76x/menit curah jantung
d. Keluhan nyeri dada : Ya
P : Nyeri kardiak
Q : Seperti ditusuk
R : Nyeri pada dada kiri tembus hingga ke punggung
S : Skala 6
T : Nyeri hilang tiimbul
e. Irama jantung : Reguler

56
f. Suara jantung S1/S2 tunggal
g. CRT : 2 detik
h. Akral : (√) Hangat (√) Basah (√) Merah
i. JVP : Tidak ada tanda-tanda peningkatan JVP.
j. CTR : 57% Kardiomegali
k. ECG dan interpretasinya: tanggal 12 Maret 2018
Atrium : 76x/menit Sumbu horizontal: Normal
Ventrikel : 76x/menit P-R Interval : 0,08
Sumbu frontal : Normal Q-R-S Interval: 0,12
Irama : Sinus
Deskripsi Deviasi: q patologis lead II, III AVF
P Mitral
Interpretasi: Irama Sinus 76x/menit, normo axis, OMI Inferior

4. Sistem Persyarafan dan Penginderaan (Brain)


Masalah Keperawatan:
a. S : 36°C
Tidak ada masalah
b. GCS : E4 V5 M6
c. Reflek fisiologis : () Patella + (√) Triceps + (√) Biseps +
d. Tidak ada Reflek Patologis
e. Keluhan Pusing : tidak ada
f. Isitrahat/Tidur : 8 Jam/Hari
Gangguan tidur : tidak ada
g. Penglihatan (mata)
h. Pupil : Isokor Diameter: 3mm/3mm
i. Konjungtiva : Tidak Anemis
j. IVD : Tidak terpasang IVD
k. EVD : Tidak terpasang EVD
l. ICP : Tidak ada tanda peningkatan TIK
5. Sistem perkemihan (Bladder)
a. Kebersihan : Bersih
b. Keluhan Kencing : Tidak ada keluhan
c. Produksi urine : 1500 ml/hari Warna: kuning Bau: khas urine
d. Kandung kemih membesar : Tidak ada pembesaran
Nyeri tekan : Tidak ada nyeri tekan
e. Intake cairan : oral : 1000cc/hr
Parenteral : - Jenis:
f. Alat bantu kateter : menggunakan Kondom Kateter hari 1 saat akan
dilakukan DCA
6. Sistem pencernaan (Bowel)
Masalah Keperawatan :
a. TB : 160 cm BB: 75 Kg Tidak ada masalah
b. IMT: 29,29 Interpretasi: overweight
c. Mulut : Bersih
d. Mukosa : Lembab

57
e. Tenggorokan : Tidak ada gangguan
f. Abdomen : Supell
g. Nyeri tekan : Tidak ada nyeri tekan
h. Mual : Tidak mual
i. Muntah : Tidak muntah
j. Luka operasi : Tidak ada luka bekas operasi
k. Peristaltik : 16 x/menit
l. BAB : 1x/hari Terakhir pada tanggal : 11 Maret 2018
Konsistensi : lembek
m. Diet : Lunak
n. Nafsu makan : Baik
o. Porsi makan : 1 porsi habis
Diet Khusus : TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein) : bubur kasar, 2100
kkal, protein 75 g
7. Sistem Muskulo skeletal (Bone)
a. Pergerakan sendi : Bebas
b. Kekuatan otot: 5 5 Masalah Keperawatan:
Tidak ada masalah
5 5
c. Kelainan ekstremitas : Tidak ada kelainan
d. Kelainan tulang belakang : Tidak ada Kelainan
e. Fraktur : Tidak terjadi fraktur
f. Keluhan Nyeri: Tidak ada keluhan nyeri
g. Kulit : Kemerahan
h. Turgor : Baik, elastis
i. ROM : Aktif bebas
8.Sistem Integumen
a. Penilaian risiko dekubitus
ASPEK YANG KRITERIA PENILAIAN NILA
DINILAI 1 2 3 4 I
Terbatas
PERSEPSI Sangat Keterbatasa Tidak ada
sepenuhny 4
SENSORI terbatas n ringan gangguan
a
Terus Kadang-
KELEMBAPA Sangat Jarang
menerus kadang 3
N lembab basah
basah basah
Kadang- Lebih
AKTIVITAS Bed fast Chairfast 2
kadang jalan sering jalan
MOBILISASI Immobile Sangat Keterbatasa Tidak ada 3
sepenuhny terbatas n ringan keterbatasa

58
a n
Kemungkina
Sangat Sangat
NUTRISI n tidak Adekuat 3
buruk baik
adekuat
GESEKAN
Tidak
DAN Bermasala Potensial
menimbulka 3
PERGESERA h bermasalah
n masalah
N
NOTE: Pasien dengan nilai total <16 maka dapat dikatakan
bahwa pasien berisiko mengalami dekubitus (pressure
TOTAL
ulcer). 18
NILAI
(15 or 16 =low risk, 13or 14=moderate risk, 12 or less=
high risk)
b. Warna : Sawo matang
c. Pitting edema: tidak ada
d. Ekskoriasis : Tidak ada ekskoriasis
e. Psoriasis : Tidak ada psoriasis
f. Pruritus : Tidak ada pruritus
g. Urtikaria : Tidak ada urtikaria
9.Sistem Endokrin
Pembesaran kelenjar tyroid tidak ada
Pembesaran Kelenjar getah bening tidak ada
Pasien mengalami Hiperglikemia
Luka gangren : tidak ada luka gangren
10. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL Masalah Keperawatan:

a. Persepsi klien terhadap penyakitnya: Ansietas


Pasien cemas akan penyakitnya, takut akan tindakan dignostik dan operasi
b. Ekspresi klien terhadap penyakitnya : Pasien terlihat tegang
c. Reaksi saat interaksi : Pasien Kooperatif
d. Gangguan konsep diri: Tidak ada

11. Personal Hygiene dan Kebiasaan Masalah Keperawatan:


a. Kebersihan diri : Rambut rapi, bersih, kuku pendek,
Tidak ada masalah
kulit bersih

59
b. Kemampuan klien dalam pemenuhan kebutuhan :
-Mandi : dibantu sebagian
-Ganti pakaian : dibantu sebagian
-Keramas : dibantu sebagian
-Sikat gigi : dibantu sebagian
-Memotong kuku: dibantu sebagian
-Berhias : dibantu sebagian
-Makan : dibantu sebagian
Support sistem dalam keluarga : Anak, istri
12. Pengkajian Spiritual
a. Kebiasaan beribadah sebelum sakit : Pasien Sering beribadah
b. Kebiasaan beribadah selama sakit : Pasien Kadang- kadang beribadah
dan sering berdoa
c. Bantuan yang diperlukan klien untuk memenuhi kebutuhan beribadah:
tayamum
13. Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium, Radiologi, EKG, USG, dll)
Pemeriksaan EKG tanggal 12 Maret 2018
Atrium : 76x/menit Sumbu horizontal: Normal
Ventrikel : 76x/menit P-R Interval : 0,08
Sumbu frontal : Normal Q-R-S Interval: 0,12
Irama : Sinus
Deskripsi Deviasi: q patologis lead II, III AVF
P Mitral
Interpretasi: Irama Sinus 76x/menit, normo axis, OMI Inferior
Pemeriksaan laboratorium tanggal 12 maret 2018
Lab patologi klinik
GDA : 308 mg/dl BUN : 9mg/dl
SGOT : 18 u/l Kalium : 3,7 mmol/L
SGPT : 34 u/l Natrium : 135 mmol/L
Albumin: 3,2 g/dl Klorida : 115 mmol/L
Kreatinin: 0,84 mg/dl

Hematologi
HGB : 13 g/dl WBC : 6,17 10^3/ul
RBC : 5,24 10^6/ul EO% : 2,8 %

60
HCT : 40,3 % BASO%: 0,5 %
MCV : 76,9 fl Neut% : 0,04 %
MCH : 24,8 pg RDW-SD: 36,8 fl
MCHC: 32,3 g/dl
Foto Thorax PA tanggal 7 Juli 2017
Cor : Besar dan bentuk normal
Pulmo : Tak tampak perselubungan perivaskuler kanan kiri
sinus phreniscocostalis kiri tajam
Tulang-tulang dan soft tissue normal
Kesan: edema paru
Hasil pemeriksaan echocardiografi
Clinical diagnosis coronary artery disease
Echo Summary
1. katup-katup
MR ringan (MR ERO o,1 cm², MR RV 12 ml
2. Dimensi ruang-ruang jantung
- LA normal (LA mayor 5,3 cm LA minor 3,8 cm)
- LV dilatasi (LVIDd 5,6 cm)
- RA normal (RA mayor 4,9 cm LA minor 3,6 cm)
- RV normal (RVDB 2,2 cm)
3. Fungsi sitolik LV menurun (EF BYTEICH 50%: BY MOD A4C 53%, BY
MOD A2C 45%, BY BIPLANE 45%)
Fungsi diastolic LV pseudonormal (E 7 cm/s, E/A 1,57, DT 228 ms, E/E
9037)
Fungsi sistolik RV normal (TAPSE 2,2 cm)
4. Analisis segmental LV hipokinatik di posterior(B-M), inferior segmen
normokinetik
5. TERDAPAT LVH ECCENTRIC (LVdMl 140,46 G/m2;RWT 0382)

DCA dengan hasil

61
LMCA : Tampak sianosis signnifikan 80% di osteal LM dan distal LM
median score 1-1-1
LAD : Diffuse disease dan osteal sampai distal LAD dengan stenosis
critical 95% di distal LAD
Immediate normal
LCA : Non dominan, diffuse desease dan osteal sampai distal dengan
stenosis maksimal 90% diproksimal
RCA : Dominan, tampak stenosis signifikan 70% diproksimal dan mid
RCA tampak estasia di distal RCA
Kesimpulan : PJK TVD+LM disease
Saran :1. Urgent CABG
2. Maju diskusi PPJT
3.Stop dual antiplatelet
14. Terapi
- O2 nasal canule 3 lpm
- Asam asetil salisilat 100mg/24jam peroral
- Clopidogril 75mg/24jam peroral
- Atorvastatin 20mg/24jam peroral
- Lisinopril 10 mg/24jam peroral
- Nitrovat 5mg/24jam peroral
- Concor 2,5mg/4jam peroral
- Isosorbid dinitrat 5mg/24 peroral
ANALISA DATA
MASALAH
TANGGAL / DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
12 Maret 2018 Aliran darah koronaria Resiko Penurunan
menurun Curah Jantung
DS: ↓
Pasien mengatakan sesak Jantung Kekurangan
apabila beraktivitas O2
DO: ↓
1. TD: 130/90 mmHg, HR: Iskemia otot jantung
76 x/mnt, RR: 20x/mnt. S: ↓

62
36 ºC
2. Akral hangat
3. Terpasang O2 nasal 3 Lpm
4. Irama jantung regular
5. Suara jantung s1 s2
tunggal
6. Kesadaran komposmentis,
tidak mengalami
penurunan kesadaran
7. KU baik
Kontraksi Jantung
8. Tidak pucat
menurun
9. EKG tgl 12/3/2018

Interpretasi: Irama Sinus
Curah jantung
76x/menit, normo axis,
menurun
OMI Inferior
10. Foto Thorax tgl 7/7/17
kesan: edema paru
11. Echo tgl 11/10/17
CTR: 57% kardiomegio
12. DCA tgl 13/3/18
Kesimpulan: PJK
TVD+LM disease
Saran: Urgent CABG

12 Maret 2018 Pre tindakan diagnostic Ansietas


daan pembedahan
DS: ↓
Pasien mengatakan cemas Gelisah
akan penyakitnya dan tindakan ↓
yang akan dilakukan (tindakan Sering bertanya kepada
diagnostic dan operasi) dokter dan perawat
DO: ↓
1. Pasien tampak tegang Tampak khawatir

63
2. TD: 130/90 mmHg, HR:
76 x/mnt, RR: 20x/mnt. S: ↓
36 ºC Ansietas
3. Pasien sering bertanya

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TANGGAL : 12 Maret 2018


1. Resiko penurunan curah jantung b.d stenosis arteri koroner
2. Ansietas b.d kurang pengetahuan

64
RENCANA INTERVENSI

HARI/ DIAGNOSA KEPERAWATAN


WAKTU INTERVENSI RASIONAL
TANGGAL (Tujuan, Kriteria Hasil)
Senin, 12 13.00 Diagnosa Keperawatan I: 1. Evaluasi nyeri dada 1. Mengetahui adanya nyeri
Resiko penurunan curah jantung
Maret 2018 2. Monitor status pernafasan pada dada pasien
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan 3. Monitor balance cairan 2. Mengetahui pola irama dan
keperawatan selama 4x24 jam, 4. Monitor toleransi aktivitas kedalaman pernafasan pasien
tidak ada penurunan curah 5. Anjurkan untuk mengendalikan stress 3. Mengetahui intake dan
jantung 6. Monitor TTV output cairan pasien
7. Posisikan pasien senyaman mungkin 4. Mengetahui aktivitas yang
Kriteria Hasil:
1. TTV dalam batas normal 8. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat dapat menyebabkan kellahan
TD: 90/60-120/90
9. Monitor bunyi dan irama jantung pada pasien
HR: 60-100 x/mnt
RR: 16 – 20x /mnt 10.Monitor suhu dan kelembapan kulit 5. Untuk menurunkan stress
S: 36,5-37,5ºC
11.Monitor kesadaran dan menenangkan pasien
2. Tidak ada penurunan
12.Kolaborasi pemberian terapi oksigen 6. mengetahui status
kesadaran
dan farmakologi hemodinamik pasien
13.Kolaborasi pemberian terapi untuk 7. Meningkatkan kenyamanan
menghilangkan stenosis ( obat non pasien
steroidal-anti inflammatory, suntikan 8. Meningkatkan tenaga
steroid). 9. Mengetahui adanya kelainan
bunyi jantung pasien

65
10. Mengetahui perubahan pada
kulit
11. Mengetahui tingket
kesadaran pasien
12. Membantu memperbaiki
keadaan pasien dengan terapi
yang diberikan
Senin, 12 13.00 Diagnosa Keperawatan II: 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan 1. Agar pasien tetap tenang
Ansietas
Maret 2018 meyakinkan 2. Agar pasien mengetahui
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan 2. Jelaskan prosedur tindakan yang akan tindakan yang akan
keperawatan selama 4x24 jam, dilakukan dilakukan
cemas teratasi. - Persiapan fisik (isirahat, nutrisi, 3. Agar tidak merubah
Kritera Hasil:
koping stres) persepsi pasien
1. Kecemasan berkurang
2. Menggunakan strategi - Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan 4. Agar tidak terjadi
koping efektif 3. Anjurkan keluarga untuk menganggap kesalahpahaman antara
3. Mampu mendemonstrasikan
pasien seperti sebelumnya pasien dengan tim saat
teknik relaksasi
4. Beritahu pasien tentang program medis melakukan tindakan
4. Tanda-tanda vital dalam
yang telah dibuat untuk menurunkan 5. Mengetahui status
batas normal
TD: 90/60-120/90 serangan akan datang hemodinamik pasien
HR: 60-100 x/mnt
5. Kaji tanda vital 6. Mengetahui disorientasi
RR: 16 – 20x /mnt
S: 36,5-37,5ºC 6. Kaji orientasi pasien: orang, tempat pasien
dan waktu 7. Agar selalu menenangkan

66
7. Anjurkan keluarga untuk selalu pasien
mendampingi dan menengkan pasien

67
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Hari,
DK Jam Implementasi Paraf Jam Evaluasi Paraf
Tanggal
Senin, 12 1 13.50 - Mengevaluasi nyeri dada 14.30 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 130/90 mmHg, HR: 76 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36 ºC
RR: 20x/mnt Terpasang O2 3lpm
- Memonitor toleransi aktivitas Irama jantung reguler
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Suara jantung S1 S2 tunggal
tidur Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress penurunan kesadaran
Pasien dapat mengendalikan stress dengan Pasien tidur ditempat tidur
berbicara dengan pasien sebelahnya A: Masalah belum teratasi.
- Memonitor TTV P: Lanjutkan intervensi.
TD: 130/90 mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 20x/mnt.
S: 36 ºC .
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung

68
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
- Kolaborasi pemberian terapi oksigen dan
farmakologi
- Memakai nasal 3 lpm
- Memberikan terapi farmakologi
Asam asetilsalisilat 100mg
Clopidogrel 75mg
Atorvastatin 20mg
Lisinopril 10mg
Nitrovat 5mg
Concor 2,5mg
Isosorbid dinitrat 5mg
Senin, 12 2 13.50 - Menggunakan pendekatan yang tenang dan 14.30
maret meyakinkan S: Pasien mengatakan takut saat diberi
2018 - Menjelaskan prosedur tindakan yang akan penjelasan terkait prosedur tindakan
dilakukan DCA O: Pasien dan keluarga mengerti
- Pasien merasa takut Keluarga mendampingi dan
- Pasien mengerti tentang tindaklan yang akan menenangkan pasien

69
dilakukan TD: 130/90 mmHg, HR: 76 x/mnt,
- Memberitahu pasien tentang program medis yang RR: 20x/mnt. S: 36 ºC
telah dibuat untuk menurunkan serangan akan Pasien mampu mendemonstrasikan
datang teknik relaksasi
Keluarga dan pasien mengerti dan mengikuti
prosedur yang akan dilakukan A: Masalah belum teratasi.
- Kaji tanda vital P: Lanjutkan intervensi.
TD: 130/90 mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 20x/mnt.
S: 36 ºC
- Mengkaji orientasi pasien: orang, tempat dan
waktu
Pasien merespon baik
- Anjurkan keluarga untuk selalu mendampingi dan
menenangkan pasien
Keluarga mengerti dan mendampingi pasien
Senin, 12 1 16.10 - Mengevaluasi nyeri dada 19.30 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 130/90 mmHg, HR: 80 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,2 ºC
RR: 20x/mnt Terpasan O2 3lpm
- Memonitor toleransi aktivitas Irama jantung regular
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Suara jantung S1 S2 tunggal
tidur Kesadaran komposmentis, tidak terjadi

70
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress penurunan kesadaran
Pasien dapat mengendalikan stress dengan Pasien tidur ditempat tidur
berbicara dengan pasien sebelahnya A: Masalah belum teratasi.
- Memonitor TTV P: Lanjutkan intervensi.
TD: 130/90 mmHg, HR: 80 x/mnt, RR: 20x/mnt.
S: 36,2 ºC .
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36,2ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
- Kolaborasi pemberian terapi oksigen dan
farmakologi
Memakai nasal 3 lpm

Senin, 12 2 16.10 - Menggunakan pendekatan yang tenang dan 19.30


maret meyakinkan S: Pasien mengatakan takut saat diberi

71
2018 - Menjelaskan prosedur tindakan yang akan penjelasan terkait prosedur tindakan
dilakukan DCA O: pasiendan keluarga mengerti
- Pasien merasa takut Keluarga mendampingi dan
- Pasien mengerti tentang tindaklan yang akan menenangkan pasien
dilakukan TD: 130/90 mmHg, HR: 80 x/mnt,
- Memberitahu pasien tentang program medis yang RR: 20x/mnt. S: 36,2 ºC
telah dibuat untuk menurunkan serangan akan A: Masalah belum teratasi.
datang P: Lanjutkan intervensi.
Keluarga dan pasien mengerti dan mengikuti
prosedur yang akan dilakukan
- Kaji tanda vital
TD: 130/90 mmHg, HR: 80 x/mnt, RR: 20x/mnt.
S: 36,2 ºC
- Mengkaji orientasi pasien: orang, tempat dan
waktu
Pasien merespon baik
- Anjurkan keluarga untuk selalu mendampingi dan
menengkan pasien
Keluarga mengerti dan mendampingi pasien

Senin, 12 1 22.30 - Mengevaluasi nyeri dada 05.30 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt,

72
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,4 ºC
RR: 20x/mnt Terpasan O2 3 lpm
- Memonitor toleransi aktivitas Irama jantung regular
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Suara jantung S1 S2 tunggal
tidur Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress penurunan kesadaran
Pasien dapat mengendalikan stress dengan Pasien tidur ditempat tidur
berbicara dengan pasien sebelahnya A: Masalah belum teratasi.
- Memonitor TTV P: Lanjutkan intervensi.
TD: 120/80 mmHg, HR: 72 x/mnt, RR: 20x/mnt.
S: 36,5 ºC .
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36,5ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
- Kolaborasi pemberian terapi oksigen dan

73
farmakologi
Memakai nasal 3 lpm

Senin, 12 2 22.30 - Menggunakan pendekatan yang tenang dan 05.30


maret meyakinkan S: Pasien mengatakan takut saat diberi
2018 - Menjelaskan prosedur tindakan yang akan penjelasan terkait prosedur tindakan
dilakukan DCA O: pasiendan keluarga mengerti
- Pasien merasa takut Keluarga mendampingi dan
- Pasien mengerti tentang tindaklan yang akan menenangkan pasien
dilakukan TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt,
- Memberitahu pasien tentang program medis yang RR: 20x/mnt. S: 36,7 ºC
telah dibuat untuk menurunkan serangan akan A: Masalah belum teratasi.
datang P: Lanjutkan intervensi.
Keluarga dan pasien mengerti dan mengikuti
prosedur yang akan dilakukan
- Kaji tanda vital
TD: 120/80 mmHg, HR: 72 x/mnt, RR: 20x/mnt.
S: 36,5 ºC
- Mengkaji orientasi pasien: orang, tempat dan
waktu
Pasien merespon baik
- Anjurkan keluarga untuk selalu mendampingi dan

74
menengkan pasien
Keluarga mengerti dan mendampingi pasien
Selasa, 1 09.00 - Mengevaluasi nyeri dada 13.00 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
13 Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 130/80 mmHg, HR: 80 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,6 ºC
RR: 20x/mnt Irama jantung regular
- Memonitor toleransi aktivitas Suara jantung S1 S2 tunggal
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
tidur penurunan kesadaran
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress Pasien tidur ditempat tidur
Pasien dapat mengendalikan stress dengan A: Masalah belum teratasi.
berbicara dengan pasien sebelahnya P: Lanjutkan intervensi.
- Memonitor TTV
TD: 120/80 mmHg, HR: 84 x/mnt, RR: 20x/mnt. .
S: 36,3 ºC
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit

75
S: 36,3ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
- Mempersiapkan DCA dan dilakukan tindakan
DCA
Selama tindakan tidak terjadi komplikasi, tidak
terjadi keluhan
TD: 178/100 N: 91x/mnt
- Memberikan terapi farmakologi
Asam asetilsalisilat 100mg
Clopidogrel 75mg
Atorvastatin 20mg
Lisinopril 10mg
Nitrovat 5mg
Concor 2,5mg
Isosorbid dinitrat 5mg

Selasa, 2 09.00 - Memonitor pasien agar tidak takut dilakukan 13.00


13 maret tindakan DCA S: Pasien mengatakan takut saat diberi
2018 Pasien cemas akan hasil pemeriksaan penjelasan terkait prosedur tindakan
- Menganjurkan untuk rileksasi pasien berdoa, CABG
berdzikir O: pasiendan keluarga mengerti

76
Pasien lebih tenang Keluarga mendampingi dan
- Kaji tanda vital sebelum DCA menenangkan pasien
TD: 120/80 mmHg, HR: 84 x/mnt, RR: 20x/mnt. TD: 130/90 mmHg, HR: 76 x/mnt,
S: 36,3 ºC RR: 20x/mnt. S: 36,5 ºC
- Mengkaji tanda vital setelah DCA A: Masalah belum teratasi.
TD: 178/100 mmHg, HR: 91 x/mnt, RR: 22x/mnt. P: Lanjutkan intervensi.
S: 36 ºC
- hasil DCA PJK TVD +LM disease
- saran urgent CABG
- Anjurkan keluarga untuk selalu mendampingi dan
menengkan pasien
Keluarga mengerti dan mendampingi pasien
Selasa, 1 14.00 - Mengevaluasi nyeri dada 19.00 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
13 Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 120/80 mmHg, HR: 80 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,3 ºC
RR: 20x/mnt Irama jantung regular
- Memonitor toleransi aktivitas Suara jantung S1 S2 tunggal
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
tidur penurunan kesadaran
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress Pasien tidur ditempat tidur
Pasien dapat mengendalikan stress dengan A: Masalah belum teratasi.
berbicara dengan pasien sebelahnya P: Lanjutkan intervensi.

77
- Memonitor TTV
TD: 130/80 mmHg, HR: 72 x/mnt, RR: 20x/mnt. .
S: 36,8 ºC
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36,8ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
Selasa, 2 14.00 - Menganjurkan untuk rileksasi pasien berdoa, 19.00
13 maret berdzikir S: Pasien mengatakan takut saat diberi
2018 Pasien lebi h tenang penjelasan terkait prosedur tindakan
- Kaji tanda vital CABG
TD: 130/80 mmHg, HR: 72 x/mnt, RR: 20x/mnt. O: pasien dan keluarga mengerti
S: 36,8 ºC Keluarga mendampingi dan
- Anjurkan keluarga untuk selalu mendampingi dan menenangkan pasien
menengkan pasien TD: 120/80 mmHg, HR: 80 x/mnt,
Keluarga mengerti dan mendampingi pasien RR: 20x/mnt. S: 36,3 ºC

78
A: Masalah belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi.

Selasa, 1 22.00 - Mengevaluasi nyeri dada 06.00 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
13 Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,2 ºC
RR: 20x/mnt Irama jantung regular
- Memonitor toleransi aktivitas Suara jantung S1 S2 tunggal
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
tidur penurunan kesadaran
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress Pasien tidur ditempat tidur
Pasien dapat mengendalikan stress dengan A: Masalah belum teratasi.
berbicara dengan pasien sebelahnya P: Lanjutkan intervensi.
- Memonitor TTV
TD: 130/90 mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 20x/mnt. .
S: 36,1 ºC
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung

79
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36,1ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
Selasa, 2 22.00 - Menganjurkan untuk rileksasi pasien berdoa, 06.00
13 maret berdzikir S: Pasien mengatakan takut saat diberi
2018 Pasien lebih tenang penjelasan terkait prosedur tindakan
- Kaji tanda vital CABG
TD: 130/90 mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 20x/mnt. O: pasien dan keluarga mengerti
S: 36,1 ºC Keluarga mendampingi dan
- Anjurkan keluarga untuk selalu mendampingi dan menenangkan pasien
menengkan pasien TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt,
Keluarga mengerti dan mendampingi pasien RR: 20x/mnt. S: 36,2 ºC
A: Masalah belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi.

Rabu, 14 1 09.00 - Mengevaluasi nyeri dada 13.00 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,2 ºC
RR: 20x/mnt Irama jantung regular

80
- Memonitor toleransi aktivitas Suara jantung S1 S2 tunggal
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
tidur penurunan kesadaran
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress Pasien tidur ditempat tidur
Pasien dapat mengendalikan stress dengan A: Masalah belum teratasi.
berbicara dengan pasien sebelahnya P: Lanjutkan intervensi.
- Memonitor TTV
TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 20x/mnt. .
S: 36 ºC
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
- Memberikan terapi farmakologi
Asam asetilsalisilat 100mg
Clopidogrel 75mg

81
Atorvastatin 20mg
Lisinopril 10mg
Nitrovat 5mg
Concor 2,5mg
Isosorbid dinitrat 5mg
Rabu, 14 2 09..00 - Menganjurkan untuk rileksasi pasien berdoa, 13.00 S: Pasien mengatakan takut saat diberi
maret berdzikir penjelasan terkait prosedur tindakan
2018 Pasien lebih tenang CABG
- Kaji tanda vital O: pasien dan keluarga mengerti
TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 20x/mnt. Keluarga mendampingi dan
S: 36 ºC menenangkan pasien
- Anjurkan keluarga untuk selalu mendampingi dan TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt,
menengkan pasien RR: 20x/mnt. S: 36,2 ºC A: Masalah
Keluarga mengerti dan mendampingi pasien teratasi.
P: Intervensi dihentikan

Rabu, 14 1 16.00 - Mengevaluasi nyeri dada 19.00 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 130/80 mmHg, HR: 72 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,4 ºC
RR: 20x/mnt Irama jantung regular
- Memonitor toleransi aktivitas Suara jantung S1 S2 tunggal

82
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
tidur penurunan kesadaran
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress Pasien tidur ditempat tidur
Pasien dapat mengendalikan stress dengan A: Masalah belum teratasi.
berbicara dengan pasien sebelahnya P: Lanjutkan intervensi.
- Memonitor TTV
TD: 120/80 mmHg, HR: 80 x/mnt, RR: 20x/mnt. .
S: 36,4 ºC
- Memposisikan pasien senyaman mungkin
Posisi head up 30º
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36,4ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456
Rabu, 14 1 22.00 - Mengevaluasi nyeri dada 06.00 S: Pasien mengatakan tidak nyeri dada.
Maret Pasien mengatakan tidak nyeri dada O: TD: 120/80 mmHg, HR: 76 x/mnt,
2018 - Memonitor status pernafasan RR: 20x/mnt. S: 36,2 ºC
RR: 20x/mnt Irama jantung regular

83
- Memonitor toleransi aktivitas Suara jantung S1 S2 tunggal
Pasien membatasi aktivitas, pasien tidur ditempat Kesadaran komposmentis, tidak terjadi
tidur penurunan kesadaran
- Menganjurkan untuk mengendalikan stress Pasien tidur ditempat tidur
Pasien dapat mengendalikan stress dengan A: Masalah belum teratasi pasien pulang
berbicara dengan pasien sebelahnya P: Lanjutkan intervensi.
- Memonitor TTV Discharge planning pasieng pulang
TD: 130/80 mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 20x/mnt. menunggu program operasi CABG
S: 36,3 ºC dengan pemberian edukasi menjaga
- Memposisikan pasien senyaman mungkin pola makan, aktivitas dan istirahat
Posisi head up 30º harus seimbang
- Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat
Pasien tiduran ditempat tidur
- Monitor bunyi dan irama jantung .
Irama regular, S1,S2 tunggal
- Memonitor suhu dan kelembapan kulit
S: 36,3ºC, kelembapan baik
- Memonitor kesadaran
Kesadaran komposmetis, GCS 456

84
85
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yng menyerang organ
jantung. Gejala dan keluhan dari PJK hampir sama dengan gejala yang
dimiliki oleh penyakit jantung secara umum. Penyakit jantung koroner juga
salah satu penyakit yang tidak menular. Kejadian PJK terjadi karena adanya
faktor resiko yang antara lain adalah tekanan darah tinggi (hipertensi),
tingginya kolesterol, gaya hidup yang kurang aktivitas fisik (olahraga),
diabetes, riwayat PJK pada keluarga, merokok, konsumsi alkohol dan faktor
sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantung koroner ini dapat dicegah dengan
melakukan pola hidup sehat dan menghindari fakto-faktor resiko.seperti pola
makan yang sehat, menurunkan kolesterol, melakukan aktivitas fisik dan
olahraga secara teratur, menghindari stress kerja.
4.2 Saran
1. Perlunya Upaya Kesehatan bagi Penderita penyakit jantung koroner yakni
melaksanakan upaya Promotif, Perilaku Hidup Sehat, Upaya Preventif, Upaya
Kuratif, dan Upaya Rehabilitatif,
2. Perlunya Program alternatif yang lebih memperhatikan aspek psikologis
penderita penyakit jantung koroner dengan cara mengintegrasikan dengan
program pemerintah yang lainnya.
3. Perlunya sosialisasi terhadap seluruh kelompok umur masyarakat, agar
lebih memahami karakteristik penderita penyakit jantung koroner serta faktor
resiko dan juga karakterisitik penyakit pada penderita.

86
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculpius: Jakarta
Brunner & Suddart, 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan Vol. 3. EGC: Jakarta
Smeltzer, Suzanne C., 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Ganggan Sistem Persyarafan.
Salemba Medika: Jakarta
Herdman, T. H. & Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing Diagnoses:
Definition and Classification 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell.
Bulechek, Gloria M, et al. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). USA: Mosby
Inc.
Moorhead, Sue et al. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA: Mosby Inc

87
88
89
90
91