Anda di halaman 1dari 26

Identifikasi Zat Warna

Identifikasi zat warna perlu dilakukan bila kita akan melakukan pencelupan
terhadap bahan tekstil. Untuk identifikasi ini perlu diketahui jenis seratnya dan cara
identifikasinya. Semua cara identifikasi menentukan golongan zat warna, bukan jenis
zat warna dari suatu golongan zat warna.
Cara identifikasi zat warna menurut Amerika Assosiation of Textile Chemist and
Colorists (AATCC) meliputi semua golongan zat warna pada serat selulosa, serat
protein, serat rayon asetat, serat nylon, serat poliester dan acrilic. Cara identifikasi
ini berdasarkan pada pemisahan golongan zat warna secara sistematik.
1.15.1. Zat Warna pada Kain Selulosa
Serat selulosa mudah dikenal dengan uji pembakaran yang akan memberikan abu
yang rapuh dan bau seperti kertas terbakar. Kemudian dilakukan pemisahan
secara sistimatik untuk mengetahui golongan zat warna yang ada.
Zat warna yang ada mungkin digunakan untuk mencelup serat selulosa adalah : zat
warna direk, asam, basa, direk dengan penyempurnaan resin, belerang, bejana,
anilin, direk dengan pengerjaan iring, naftol, pigmen dan zat warna reaktif.
Pengujian zat warna pada serat kapas dan rayon dilakukan dengan cara yang
sama. Zat warna yang dipakai untuk mencelup serat selulosa dapat
digolongkan sebagai berikut.
1.1 5.1 .1. Golongan I
Golongan ini meliputi zat warna direk, asam, basa dan direk dengan penyempurnaan
resin. Penggolongan ini didasarkan atas kelunturan zat warnazat warna tersebut
dalam larutan amonia atau asetat encer mendidih yang dilakukan menurut urutan
yang ditentukan.
- Zat warna direk
Cara identifikasi zat warna direk ini adalah dengan mengerjakan contoh uji dalam
tabung reaksi yang diberi 5 – 10 ml air dan - 1 ml amonia pekat.
Larutan yang berisi contoh uji ini kemudian dididihkan, supaya melunturkan zat
warna sampai larutannya cukup banyak untuk dapat mencelup kapas kembali. Setelah
zat warna yang luncur cukup banyak, contoh uji dikeluarkan dan ke dalam tabung
reaksi dimasukan sepotong kain kapas putih dan garam dapur sedikit.
Larutan dididihkan selama 1 menit, dinginkan sampai suhu kamar, kainnya
diambil, dicuci dan diamati pewarnaan pada kain kapas putih tersebut.
Pencelupan kembali pada kain kapas putih dalam larutan amonia dan garam
dapur yang menghasilkan warna yang sama dengan warna contoh uji,
menunjukkan uji positif zat warna direk.

- Zat warna asam


Zat warna asam ini jarang dipakai untuk mencelup serta selulosa kecuali untuk jenis
rayon yang dapat dicelup dengan zat warna asam. Bila pada uji zat warna direk
terjadi pelunturan warna tetapi tidak mencelup dengan warna yang sangat muda, maka
larutan tersebut dinetralkan dengan asam asetat kemudian tambah 1 ml asetat 10%
dan masukkan wol putih, lalu dididihkan larutan itu selama menit, kemudian
wolnya dicuci dan diamati adanya pewarnaan pada wol tersebut. Bila terjadi
pewarnaan pada wol putih tersebut, ini menunjukkan uji positif zat warna asam.
- Zat warna basa
Zat warna basa jarang dipakai untuk mencelup serat selulosa, karena
berkembangnya pemakaian zat warna reaktif. Zat warna basa ini hanya dipakai
untuk mendapatkan bahan dengan warna yang cerah dan murah tetapi tahan luntur
warnanya jelek.
Cara pengujiannya ialah bila pada uji zat warna direk tidak terjadi pelunturan atau
hanya luntur sedikit maka perlu diadakan uji zat warna basa. Contoh uji dimasukkan
pada tabung reaksi, kemudian tambahkan ml asam asetat glasial, panaskan
dan tambahkan 5 ml air dan dididihkan. Kemudian contoh uji diambil dan masukkan
serat acrilic yang dapat dicelup dengan zat warna cationic, atau kapas yang telah
dibeits dengan tanin dan terus dididihkan.
Pencelupan kembali pada serat acrilic atau pada kapas yang ditanin
menunjukkan adanya zat warna basa. Untuk uji penentuan zat warna basa dapat
dilakukan dengan menambahkan larutan natrium hidroksida 10% pada larutan
ekstraksi tersebut, dan tambahkan juga eter.
Larutan dikocok supaya ekstraksi zat warna basa terserap ke dalam lapisan eter.
Setelah campuran didiamkan sampai terjadi pemisahan lapisan, kemudian
tambahkan air supaya lapisan atas eter berada di dekat mulut tabung,
kemudian lapisan dipindahkan ke dalam tabung reaksi tambah 2 – 3 tetas asam
asetat 10% dan dikocok kembali. Semua zat warna basa akan meninggalkan lapisan
eter dan warna asli akan terlihat dalam lapisan asam asetat.
- Zat warna direk dengan penyempurnaan resin
Bila contoh uji tidak luntur atau sedikit luntur pada uji zat warna direk, sedang pada
uji zat warna basa hasilnya negatif, maka perlu dilakukan uji kemungkinan adanya zat
warna direk dengan penyempurnaan resin.
Cara pengujiannya dilakukan dengan memasukkan contoh uji dalam tabung, lalu
tambahkan larutan asam khlorida 1% dan dididihkan selama 1 menit. Kemudian
larutan asamnya dibuang diganti dengan larutan asam yang baru, dan dilakukan
pengerjaan-pengerjaan ekstraksi kembali. Akhirnya dicuci dengan air dingin.
Pengerjaan dengan asam khlorida itu bermaksud untuk menghilangkan resin.
Setelah pengerjaan tersebut contoh uji memberikan uji positif untuk zat warna direk
maka zat warna tersebut adalah zat warna direk dengan penyempurnaan resin.
1.15.1.2. Golongan II
Golongan II meliputi zat warna yang warnanya berubah pada reduksi dengan
natrium hidrosulfit dalam suasana alkali. Pada oksidasi kembali oleh udara warna
aslinya timbul lagi. Yang termasuk golongan ini adalah zat warna belerang,
bejana dan hitam anilin. Sebelum uji golongan II dilakukan, harus diuji dulu dengan
uji untuk golongan I.
Untuk uji pendahuluan golongan II ini kita harus melakukan pengujian pada contoh
uji dengan cara memasukkannya pada tabung yang ditambahkan 5 ml air dan 1 – 2
ml larutan natrium hidroksida 10%. Larutan dipanaskan sampai mendididh, lalu
tambahkan natrium hidrosulfit dan didihkan. Semua zat warna golongan ini
warnanya berubah dengan jelas sekali kecuali indanthren biru yang luntur sekali
setelah penambahan natrium hidrosulfit.
Pada penambahan natrium hidroksida hanya luntur sedikit, berbeda dari warna asli.
Warna senyawa leuko zat warna indanthren biru yang hanya sedikit berbeda dari
warna aslinya.
Contoh uji diambil dan diletakkan di atas kertas saring. Semua zat warna
golongan ini akan teroksidasi kembali ke warna dalam waktu 5 – 6 menit.
Untuk uji penentuan zat warna indanthren biru caranya adalah dengan meletakkan
contoh uji di atas beberapa kertas saring yang tersusun, kemudian ditetesi dengan 1
– 2 tetas asam nitrat pekat dan warnanya diamati. Bila contoh uji berubah warnnya
menjadi kuning atau hijau, maka contoh uji diperas dengan kertas saring. Bila kertas
saring yang kena air perasan tersebut berwarna kuning, lalu tetesi bagian tersebut
dengan larutan pereduksi yang terdiri dari stano khlorida, asam khlorida pekat dan
air dalam perbandingan yang sama maka warna biru dari indanthren biru akan
kembali seperti warna semula.
- Zat warna belerang
Cara pengujiannya ialah dengan memasukkan contoh uji ke dalam tabung reaksi,
kemudian tambah air 2- 3 ml, natrium karbonat dan sedikit natrium sulfida. Larutan
dipanaskan sampai mendidih selama 1 – 2 menit.
Contoh uji diambil, lalu ke dalam tabung reaksi itu dimasukkan kapas putih dan garam
dapur. Setelah larutan dididihkan, kiapasnya diambil diletakkan di atas kertas saring
dan dibiarkan di udara yang teroksidasi. Dengan cara ini zat warna belerang akan
mencelup kembali kain kapas dalam warna yang sama dengan warna contoh uji
tetapi lebih muda.
Uji penentuan untuk zat warna belerang dilakukan dengan mendidihkan contoh uji
dalam 5 ml larutan natrium hidroksida 10%, cuci bersih. Setelah contoh itu dimasukkan
dalam tabung reaksi, tambahkan larutan pereduksi. Mulut tabung ditutup dengan
kertas saring di tengah kertas saring ditetesi larutan Pb asetat alkali. Tabung reaksi
tersebut kemudian diletakkan dalam gelas piala yang berisi air mendidih. Bila
dalam waktu 1 menit tetesan Pb asetat pada kertas saring berubah menjadi coklat
tua atau hitam, maka menunjukkan uji positif zat warna belerang. Uji lebih lanjut
pada zat warna belerang dapat dilakukan dengan membasahi kain contoh uji dengan
natrium hipokhlorit 10%. Zat warna belerang oleh larutan ini akan hilang warnanya
dalam waktu 5 menit.
- Zat warna bejana
Zat warna bejana dapat diidentifikasikan dengan cara memasukkan contoh uji ke
dalam tabung reaksi, yang ditambahkan air dan 1 ml larutan natrium hidroksida
10%. Kemudian tabung dipanaskan sampai mendidih tambahkan sedikit natrium
hidrosulfit dan didihkan kembali.
Contoh uji diambil ke dalam larutan zat warna masukkan kapas putih dan garam
dapur. Pemanasan diteruskan sampai mendidih, lalu dinginkan. Kapasnya diambil
dan diletakkan di atas kertas saring supaya teroksidasi oleh udara. Bila kapas
tersebut berwarna sama dengan contoh uji, tetapi lebih muda, maka ini
menunjukkan uji positif zat warna bejana. Kesimpulan ini hanya benar bila uji zat
warna belerang memberi hasil negatif.
- Zat warna hitam anilin
Semua zat warna jenis ini tidak akan mencelup kembali kain kapas putih pada uji
reduksi dengan natrium sulfida dan natrium karbonat atau uji reduksi dengan natrium
hidrosulfit dan natrium hidroksida.
Uji penentuan untuk zat warna hitam anilin ini adalah dengan memasukkan contoh
uji ke dalam cawan penguap. Kertas contoh uji dituangkan 2 – 3 ml asam sulfat
pekat dan diaduk sehingga zat warna terekstraksi. Larutan ekstraksi zat warna
dimasukkan dalam tabung yang berisi 30 ml air, disaring dengan kertas saring dan
dibilas beberapa kali. Pada sisi kertas saring ditetesi beberapa tetas larutan natrium
hidroksida 10%. Noda yang berwarna merah ungu menunjukkan uji positif zat
warna hitam anilin.
1.15.1.3. Golongan III
Golongan 3 ini termasuk zat warna yang rusak dalam larutan natrium hidrosulfit
yang bersifat alkali. Larutan ekstraksi zat warna dalam air, air amonia atau asam
asetat tidak mencelup kain kapas putih. Zat warna yang termasuk golongan ini
adalah zat warna direk dengan pengerjaan iring, zat warna naftol dan zat warna
azo yang tidak larut dan zat warna yang diazotasi dan dibangkitkan.
Uji pendahuluan untuk golongan ini adalah dengan cara memasukkan contoh uji
ke dalam tabung yang kemudian ditambahkan 5 ml air, 1 ml larutan natrium hidroksida
10% dan sedikit natrium hidrosulfit. Larutan didihkan selama 5 menit.
Semua zat warna golongan ini akan rusak, sebagian rusak seketika dan sebagian
lagi rusak setelah pendidihan yang agak lama. Kerusakan zat warna ditunjukkan oleh
adanya perubahan yang tetap dari warna asli menjadi putih, abu-abu, kuning dan
jingga. Perubahan ini terjadi baik pada kain maupun larutan ekstraksinya. Oksidasi
kembali dari contoh tidak mengembalikan warna aslinya.
- Zat warna direk dengan pengerjaan iring formaldehid
Adanya formaldehid pada contoh uji membuktikan adanya zat warna dari golongan
ini.
Uji untuk formaldehid dilakukan dengan memanaskan contoh uji dalam larutan asam
sulfat 5% sampai mendidih. Kemudian larutan ekstraksi ditambahkan setetes demi
setetes ke dalam larutan karbozol 0,1% yang dilarutkan dalam asam sulfat pekat. Bila
terbentuk endapan biru, maka ini menunjukkan adanya formaldehid.
Zat warna yang tahan lunturnya jelek terhadap pencucian biasa diperbaiki
dengan pengerjaan iring dengan formaldehid atau logam yang pada uji
golongan I menunjukkan uji positif, tetapi kelunturannya dalam larutan amonia encer
tidak cukup untuk mencelup kembali kain kapas putih.
- Zat warna naftol dan azo yang tidak larutan zat warna yang diazotasi dan
dibangkitkan
Kedua golongan zat warna azo yang tidak larut ini mempunyai sifat-sifat yang
berbeda tetapi mempunyai persamaan yaitu bahwa zat warna yang terdapat pada
bahan tidak pernah terdapat pada larutan tercelup, tetapi baru terbentuk setelah
berada dalam larutan serat.
Pada pencelupan dengan zat warna yang didiazotasi dan dibangkitkan, kain kapas
dicelup dahulu dengan zat warna direk jenis tertentu kemudian didiazotasi dan
setelah itu dikerjakan dalam larutan pembangkit.
Pada pencelupan dengan zat warna naftol, mula-mula bahan dikerjakan dengan
senyawa fenolat yang mempunyai daya tarik terhadap kapas dan kemudian
dikerjakan dengan larutan garam diazonium yang distabilkan, sehingga zat
warna akan terbentuk di dalam bahan.
Untuk identifikasi zat warna ini, pengujiannya dilakukan setelah asam zat warna lainnya
menunjukkan hasil yang negatif, sehingga tinggal membedakan kedua zat warna
tersebut.
- Zat warna naftol dan azo yang tidak larut
Sifat khusus yang utama dari jenis zat warna ini adalah kelarutannya di dalam
piridin. Cara pengujiannya dilakukan dengan memasukkan contoh uji dalam tabung
reaksi yang diberi sedikit piridin dan kemudian dididihkan. Semua jenis naftol akan
larut dalam piridin. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air, maka kelarutan zat warna
naftol dalam larutan natrium hidroksida dan hidrosulfit akan lebih lambat, bila
dibandingkan dengan zat warna lainnya dari golongan III.
Uji penentuan untuk zat warna naftol, cara uji penentuannya adalah dengan
memasukkan contoh uji ke dalam tabung dan tambahan natrium hidroksida 10%
dan sedikit alkohol. Larutan dididihkan, kemudian tambahkan air dan natrium
hidroksulfit, dan didihkan lagi. Setelah warna contoh uji tereduksi, maka larutan
ekstraksinya didinginkan dan disaring.
Pada larutan filtratnya dimasukkan kain kapas putih dan garam dapur sedikit lalu
didihkan. Kemudian dinginkan dan kapasnya diambil. Hasil pencelupan kembali
dengan warna kuning dan berfluoresensi di bawah sinar ultra violet, menunjukkan
bahwa contoh uji dicelup dengan zat warna naftol atau dicap dengan zat warna azo
yang tidak larut.
- Zat warna yang diazotasi dan dibangkitkan
Zat warna ini dapat ditentukan dengan tidak adanya jenis zat warna lain pada
identifikasi golongan III. Zat warna yang didiazotasi dan dibangkitkan tidak luntur
dalam piridin dan mudah direduksi pada pendidihan dalam larutan natrium
hidroksida dan hidrosulfit.
1.15.1.4. Golongan IV
Apabila semua uji zat warna pada serat selulosa menunjukkan hasil yang negatif,
maka kemungkinan pada contoh uji terdapat zat warna golongan IV yaitu zat
pigmen dan zat warna reaktif.
- Zat warna pigmen
Untuk menentukan adanya zat warna pigmen dengan pengikat resin dan jenis dari
pigmennya dapat dilakukan uji dengan mikroskop, uji pelarutan dalam pelarut dan
uji-uji secara kimia. Di bawah mikroskop partikel-partikel pigmen yang digunakan
untuk mewarnai rayon viskosa dengan cara pencelupan larutan, akan terlihat
merata pada seluruh serat.
Ekstraksi contoh uji dalam pelarut organik pada suhu mendidih misalnya dimetel
formamid (DMF) berguna untuk membedakan beberapa golongan zat warna dan
juga sebagai uji pendahuluan zat warna pigmen. Cara pengujiannya adalah
dengan memasukkan serat dari contoh uji dalam tabung yang kemudian ditetesi
larutan dimetil formamida dalam air (I : I), kemudian didihkan. Setelah itu dinginkan
dan pewarnaan yang terjadi pada pelarut diamati.
Kemudian contoh uji serat yang lain dimasukkan dalam tabung reaksi dan diberi
larutan dimetil formamida 100%, didihkan, lalu dinginkan dan diamati pewarnaan
yang terjadi pada pelarutnya. Tua mudanya pewarnaan pada pelarut merupakan
cara untuk membedakan zat warna pigmen dan zat warna reaktif. Bila contoh uji
dicelup dengan zat warna reaktif dan tidak dicuci sempurna, maka contoh uji luntur
sedikit dalam dimetil formida air (I : I).
Tabel di bawah ini menunjukkan hasil kelunturan macam-macam zat warna pada
ekstraksi dengan dimetil formamida.
Tabel 2– 4
Uji Kelunturan Zat dengan Dimetil Formamida
DMF : AIR (I : I) DMF 100%
Luntur (larutan berwarna) Luntur (larutan berwarna)
Semua zat warna direk, zat
warna yang diazotasi,zat warna
basa, beitsa Zat warna bejana, bejana larut, naftol
- Zat warna reaktif
Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat bereaksi secara kimia dengan serat
selulosa dalam ikatan yang stabil. Karenabelerang,
tidak ada cara yang khusus
pigmen, zat menguji
warna zat
warna reaktif, sebelum dilakukan pengujian yang menunjukkan bahwa zat warna
tersebut adalah zat warna reaktif, maka terlebih dahulu perlu diadakan pengujian

basa, beitsa
yang menunjukkan ada tidaknya zat warna yang luntur dalam air. Untuk pengujian
terhadap beberapa jenis zat warna pigmen dan zat warna reaktif hasilnya
menunjukkan reaksi yang sama.Zat warna reaktif bentuk struktur kimianya
bermacam-macam, tetapi untuk identifikasinya dapat digabungkan dengan dasar
mengetahui jenis gugus reaktifnya.
P E N C E L U P A N (D Y E I N G)

Pencelupan adalah pemberian warna pada bahan secara merata dan


permanen. Metode pemberian warna dilakukan dengan berbagai cara,
tergantung dari jenis zat warna dan serat yang akan diwarnai. Proses pewarnaan
secara pencelupan dianggap sempurna apabila sudah tercapai kondisi
kesetimbangan, yaitu zat warna yang terserap ke dalam bahan mencapai titik
maksimum.

Tahap-tahap pencelupan :

1. Migrasi

Pada tahap ini, zat warna dilarutkan dan diusahakan agar larutan zat
warna bergerak menempel pada bahan. Zat warna dalam larutan mempunyai
muatan listrik sehingga dapat bergerak kian kemari. Gerakan tersebut
menimbulkan tekanan osmosis yang berusaha untuk mencapai keseimbangan
konsentrasi, sehingga terjadi difusi dari bagian larutan dengan konsentrasi tinggi
menuju konsentrasi rendah. Bagian dengan konsentrasi rendah terletak di
permukaan serat, yaitu pada kapiler serat. Jadi zat warna akan bergerak
mendekati permukaan serat.

2. Adsorpsi

Peristiwa difusi yang dijelaskan di atas menyebabkan zat warna


berkumpul pada permukaan serat. Daya adsorpsi akan terpusat pada permukaan
serat, sehingga zat warna akan terserap menempel pada bahan.

3. Difusi

Peristiwa ini terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi zat warna di


permukaan serat dengan konsentrasi zat warna di dalam serat. Karena
konsentrasi di permukaan lebih tinggi, maka zat warna akan terserap masuk ke
dalam serat.
4. Fiksasi

Fiksasi terjadi karena adanya ikatan antara molekul zat warna dengan
serat, yaitu ikatan antara gugus auksokrom dengan serat.

Gaya-gaya pengikatan pada pencelupan yaitu :

1. Ikatan hydrogen

Ikatan hydrogen merupakan ikatan sekunder yang terjadi karena atom


hydrogen pada gugus hidroksi/amino mengadakan ikatan lemah dengan atom-
atom lainnya.

H-O-H H

H-O-H----O

2. Ikatan elektrovalen

Ikatan elektrovalen adalah ikatan antara zat warna dengan serat yang
timbul karena adanya gaya tarik-menarik antara muatan yang berlawanan.
Misalnya ikatan antara serat dengan gugus anion pada molekul zat warna.

3. Ikatan Van der Waals

Ikatan Van der Waals terjadi apabila antara zat warna dengan serat
mempunyai gugus hidrokarbon yang sesuai sehingga saat pencelupan zat warna
cenderung lepas dari air dan bergabung dengan serat.

4. Ikatan kovalen

Ikatan kovalen terjadi pada pencelupan serat dengan zat warna reaktif,
sifatnya paling kuat dibanding ikatan yang lain.

Zat warna meliputi semua bahan pewarna yang dapat larut dalam air dan
mempunyai daya tarik terhadap serat pada bahan tekstil. Suatu zat dapat
berlaku sebagai zat warna apabila :

1. Zat tersebut mempunyai gugus yang dapat menimbulkan warna (kromofor),


misalnya azo (-N=N-), nitro (-NO2), nitroso (-NO).
2. Zat tersebut mempunyai gugus yang dapat mempunyai afinitas terhadap serat
(auksokrom), misalnya amino (-NH2), hidroksil (-OH-).

Zat warna tekstil harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1. Mempunyai afinitas terhadap serat.

2. Mempunyai kemampuan untuk berdifusi.

3. Mampu menyerap hingga panjang gelombang tertentu secara intensif.

4. Dapat terdispersi dalam pelarut(umumnya air).

5. Stabil dalam serat.

Berdasar sifat pemakaian, zat warna digolongkan menjadi :

1. Zat warna subtantif, yaitu zat warna yang larut dalam air dan langsung dapat
mewarnai bahan.

2. Zat warna ajektif, yaitu zat warna yang memerlukan obat bantu untuk dapat
mewarnai bahan.

Berdasar sifat pemakaian, zat warna digolongkan menjadi :

1. Zat warna direk

Dikenal sebagai zat warna subtantif, mempunyai afinitas yang tinggi


terhadap selulosa dan tidak memerlukan senyawa Mordant. Dikenal juga sebagai
zat warna garam karena dalam pencelupan selalu harus ditambahkan garam
untuk memperbesar penyerapan. Dapat juga digunakan untuk mencelup serat
wol dan sutra.

Zat warna direk mempunyai tahan sinar yang cukup baik, namun tahan
cucinya kurang baik, sehingga memerlukan kerja iring untuk memperbaikinya.
Kerja iring dilakukan untuk memperbesar molekul zat warna dengan
menggunakan formaldehid, garam-garam diazonium, dan garam logam agar
tidak mudah luntur. Garam diazonium akan menggandeng garam lain sehingga
molekul zat warna menjadi besar. Selain itu, zat warna direk juga tidak tahan
terhadap oksidasi dan reduksi.
Pada pencelupan dengan zat warna direk, gugus hidroksil dalam molekul
selulosa memegang peranan penting. Akan terjadi ikatan hidrogen antara gugus
hidroksil dengan gugus amina dalam molekul zat warna direk, menurut reaksi :

R-N-H---O-selulosa atau R-N---HO-selulosa

H H -NR

Berdasar kerataan pencelupannya, zat warna direk digolongkan menjadi


tiga, yaitu :

a. Golongan A

Zat warna direk golongan ini mudah bermigrasi sehingga mempunyai daya
perata yang tinggi. Pada awal pencelupan mungkin tidak akan rata, namun
dengan pendidihan yang cukup akan diperoleh hasil yang rata.

Mula-mula zat warna dibuat pasta dengan air dingin dan zat pembasah.
Lalu ditambah air mendidih dan diaduk hingga larut sempurna. Larutan tersebut
ditambah Na2CO3 1-3% untuk menghilangkan kesadahan air. Selanjutnya
ditambah NaCl 5-20% tergantung ketuaan warna yang diinginkan. Bahan dicelup
pada suhu 40-500C sambil dinaikkan suhunya hingga mendidih selama 30-40
menit. Pencelupan dilanjutkan selama 45-60 menit pada suhu mendidih
tersebut. Apabila hasil celupan kurang rata, maka dapat diperpanjang waktunya
selama beberapa menit.

b. Golongan B

Zat warna direk golongan ini mempunyai daya perata yang rendah
sehingga penyerapannya perlu diatur dengan penambahan elektrolit. Apabila
pada awal pencelupan tidak akan rata, maka sulit diperbaiki.

Cara pencelupannya sama dengan golongan A, hanya penambahan NaCl


dilakukan sedikit-sedikit hingga larutan celup mendidih. Lebih baik jika NaCl
dilarutkan terlebih dahulu dan disuapkan secara kontinyu. Penyerapan dan
kepekaan zat warna terhadap elektrolit dapat dilakukan dengan penambahan
surfaktan.

c. Golongan C
Zat warna direk golongan ini mempunyai daya perata yang rendah dan
sangat peka terhadap elektrolit. Penyerapannya sangat baik walaupun tanpa
penambahan elektrolit, namun perlu dilakukan pengaturan suhu pencelupan.

Pencelupan dimulai pada suhu rendah tanpa penambahan elektrolit.


Kemudian suhu dinaikkan perlahan-lahan hingga mendidih dan pencelupan
dilanjutkan selama 45-60 menit. Pengaturan suhu harus dilakukan agar hasilnya
rata. Ketuaan warna dapat ditingkatkan dengan penambahan elektrolit setelah
larutan mendidih.

Pengerjaan iring dapat dilakukan dengan proses sebagai berikut :

a. Dengan kalium bikromat

Setelah bahan dicelup dan dibilas, kemudian dikerjakan dalam larutan


kalium bikromat 1-3% dan asam asetat 2-4% pada suhu 600C selama 20-30
menit. Selain itu dapat juga dilakukan dengan kalium bikromat 1-2%, tembaga
sulfat, dan asam asetat 2-4% pada suhu 600C selama 30 menit sehingga tahan
cuci dan tahan sinarnya dapat diperbaiki.

b. Dengan zat kation aktif

Zat kation aktif antara lain dikenal dengan nama dagang Neofix, amigen,
sandofix WE. Zat tersebut akan bergabung dengan anion dan zat warna direk
membentuk senyawa yang lebih komplek untuk memperbaiki ketahanan
cucinya. Bahan yang telah dicelup dan dibilas, dikerjakan dalam larutan zat
kation aktif 1-3% pada suhu 60-700C selama 15 menit. Pengerjaan iring dengan
zat kation aktif ini dapat menurunkan ketahanan sinarnya.

2. Zat warna basa

Zat warna basa dikenal juga dengan nama zat warna kationik atau
Mauvin, terutama digunakan untuk mewarnai serat protein, seperti wol dan
sutra. Zat warna ini tidak mempunyai afinitas terhadap selulosa, sehingga perlu
pengerjaan pendahuluan (Mordanting) dengan asam tannin agar dapat
digunakan untuk mewarnai serat selulosa.

Zat warna basa merupakan zat warna subtantif dengan kecerahan dan
intensitas yang tinggi. Tahan sinarnya jelek, tahan cucinya kurang baik. Zat
warna ini mudah larut dalam alkohol.
Zat warna basa tidak mempunyai afinitas terhadap selulosa sehingga bila
dicelup langsung akan luntur kembali. Afinitasnya tinggi terhadap serat protein,
karena akan terbentuk ikatan garam sehingga dapat berikatan dengan zat warna
basa :

NH2+-wol-COO- + D+  wol-COOD

Serat poliakrilat mempunyai gugus asam di dalam molekulnya. Zat warna


tersebut akan terserap pada tempat-tempat yang bermuatan negatif, sehingga
bila tempat tersebut telah terisi semua, maka penyerapan zat warna akan
terhenti.

Pencelupan dengan menggunakan zat warna basa dilakukan sebagai berikut :

a. Serat selulosa

Bahan yang telah dimasak dikerjakan dalam larutan asam tanin pada
suhu mendidih selama 10-20 menit. Pengerjaan diteruskan selama 2 jam
dengan tetap mempertahankan suhu larutan. Bahan diperas lalu dikerjakan lagi
dalam larutan tartar emetic pada suhu kamar selama 30 menit, selanjutnya
bahan dibilas dan diperas. Kemudian bahan dicelupkan dalam larutan celup yang
mengandung 1-3% asam asetat 30% dan 1/3 bagian larutan zat warna pada
suhu kamar selama 15 menit. Lalu 1/3 bagian lagi dimasukkan dan suhu
dinaikkan hingga 400C. Setelah 20 menit, sisa larutan zat warna dimasukkan
dan suhu dinaikkan hingga 700C.

Pencelupan dilanjutkan selama 30 menit. Setelah selesai, bahan


diMordant kembali dalam larutan asam 0.5 ml/l tartrat pada suhu kamar selama
30 menit. Selanjutnya bahan diperas dan dikerjakan dalam larutan 0.2 ml/l
tartar emetic selama beberapa menit. Hasil celupan tersebut akan meningkatkan
tahan cuci, namun dapat mengubah warna celupan.

b. Serat sutra

Bahan sutra yang telah di-degumming dimasukkan ke dalam larutan celup


yang mengandung 0.5 ml/l asam asetat 90% pada suhu kamar. Setelah 10
menit, larutan zat warna dimasukkan sebagian dan suhu dinaikkan hingga 800C.
Berikutnya sisa larutan zat warna dimasukkan dan pencelupan dilanjutkan
selama 1 jam, lalu bahan dibilas. Selanjutnya dilakukan kerja iring dalam larutan
yang mengandung 1% asam tanin pada suhu 600C selama 10 menit. Bahan
diperas dan dicelupkan kembali ke dalam larutan 0.5% tartar emetic pada suhu
kamar selama 30 menit, lalu dibilas hingga bersih.

c. Serat wol

Bahan wol yang telah dimasak dimasukkan ke dalam larutan celup yang
mengandung larutan zat warna dan 1-3% asam asetat pada suhu kamar selama
10 menit. Kemudian suhu dinaikkan hingga mendidih dan pencelupan
dilanjutkan selama 30-45 menit, lalu bahan dibilas hingga bersih.

d. Serat poliakrilat

Bahan poliakrilat yang telah dimasak dimasukkan ke dalam larutan celup


yang mengandung larutan zat warna dan campuran asam asetat-natrium asetat
1-2 g/l hingga mencapai pH 4.5-5.5 pada suhu 750C selama 10 menit. Kemudian
larutan dididihkan dan pencelupan dilanjutkan selama 1 jam. Lalu suhu
diturunkan perlahan-lahan hingga di bawah 750C dan bahan dibilas hingga
bersih.

3. Zat warna reaktif

Zat warna reaktif pada awalnya dikenal dengan nama dagang Procion.
Biasa digunakan untuk mencelup serat selulosa. Serat protein seperti wol dan
sutra juga dapat dicelup dengan zat warna ini. Pencelupan serat nilon dengan
zat warna reaktif akan menghasilkan warna muda dengan kerataan yang baik.

Zat warna reaktif tergolong ke dalam zat warna yang larut dalam air. Zat
warna ini berikatan kovalen dengan serat selulosa, sehingga zat warna tersebut
merupakan bagian dari serat. Oleh karena itu, sifat tahan cuci dan tahan
sinarnya sangat baik. Berdasar cara pemakaiannya, digolongkan menjadi:

a. Zat warna reaktif dingin, mempunyai kereaktifan tinggi dan dicelup pada suhu
rendah.

b. Zat warna reaktif panas, mempunyai kereaktifan rendah dan dicelup pada suhu
tinggi.

Mekanisme pencelupan dengan zat warna reaktif terdiri dari dua tahap.
Tahap pertama merupakan penyerapan zat warna ke dalam serat. Pada tahap ini
tidak terjadi reaksi antara zat warna dengan serat. Zat warna lebih banyak
terserap ke dalam serat dari pada terhidrolisa. Penyerapan ini dibantu dengan
penambahan elektrolit. Tahap kedua merupakan fiksasi, yaitu reaksi antara zat
warna dengan serat. Reaksi ini terjadi dengan penambahan alkali.

D-Cl + selulosa OH  D-O-selulosa + HCl

NaOH + HCl  NaCl + H2O

Pencelupan dengan menggunakan zat warna reaktif dilakukan sebagai berikut :

a. Serat selulosa

Mula-mula zat warna reaktif dingin dibuat pasta dengan air dingin lalu
ditambah air hangat hingga larut sempurna. Bahan yang telah dimasak
dikerjakan dalam larutan celup pada suhu 400C selama 30 menit. Kemudian
ditambahkan 30-60 g/l NaCl dan dilanjutkan selama 30 menit, lalu ditambah
alkali, seperti natrium karbonat dan dilanjutkan lagi selama 30-45 menit. Bahan
dicuci dengan air dingin, lalu dengan air mendidih untuk menghilangkan sisa-
sisa zat warna yang terhidrolisa. Selanjutnya bahan dicuci dengan sabun
mendidih dan dibilas hingga bersih. Proses pencelupan dengan zat warna reaktif
panas sama, hanya suhu pencelupan setelah penambahan alkali dinaikkan
hingga 85-950C

b. Serat sutra

Bahan yang telah di-degumming dicelup dalam larutan celup pada suhu
kamar selama 20 menit. Selanjutnya ditambah 20 g/l garam dapur dan
dinaikkan suhunya hingga 500C. Setelah 15 menit ditambahkan 2 g/l natrium
karbonat dan pencelupan diteruskan selama 40 menit. Bahan dicuci sabun panas
dan dibilas hingga bersih. Pada pencelupan dengan zat warna reaktif panas suhu
pencelupan setelah penambahan natrium karbonat dinaikkan hingga 70-900C.

c. Serat wol

Bahan yang telah dimasak dicelup dalam larutan celup yang mengandung
zat warna dan ammonium asetat pH 7 untuk warna muda dan pH 5.5 untuk
warna tua pada suhu 400C selama 30 menit. Selanjutnya suhu dinaikkan hingga
mendidih dan pencelupan dilanjutkan selama 1 jam. Bahan dicuci bersih.
d. Serat poliamida

Bahan yang telah dimasak dicelup dalam larutan celup yang mengandung
zat warna dan 4% asam asetat 80% pada suhu 400C. Setelah beberapa menit
suhu dinaikkan hingga 950C dan pencelupan dilanjutkan selama 1 jam. Bahan
dicuci bersih.

4. Zat warna asam

Zat warna asam merupakan zat warna yang dalam pemakaiannya


memerlukan asam mineral atau asam organic. Zat warna ini banyak digunakan
untuk mewarnai serat protein dan poliamida. Beberapa di antaranya mempunyai
susunan kimia seperti zat warna direk sehingga dapat mewarnai serat selulosa.
Zat warna asam termasuk golongan zat warna yang larut dalam air. Pada
umumnya mempunyai ketahanan cuci dan ketahanan sinar yang baik. Berdasar
cara pemakaiannya digolongkan menjadi tiga :

a. Golongan I

Sering disebut zat warna asam celupan rata (leveldying) atau zat warna
asam terdispersi molekul (molecularly dispersid). Pemakaiannya memerlukan
asam kuat pH 2-3, dapat memakai asam sulfat atau asam formiat. Pada
umumnya mempunyai ketahanan sinar yang baik, tetapi ketahanan cucinya
kurang.

Mula-mula zat warna dibuat pasta dengan air dingin kemudian ditambah
air hangat hingga larut sempurna. Bahan wol yang telah dimasak dikerjakan
dalam larutan yang mengandung 10-20% garam glauber dan 2-4% asam sulfat
pada suhu 400C selama 10-20 menit sehingga diperoleh pH yang rata di seluruh
bahan. Zat warna yang telah dilarutkan dimasukkan dan suhu dinaikkan hingga
mendidih selama 45 menit. Selanjutnya ditambahkan 1-3% asam asetat 30%
atau 1% asam sulfat pekat dan pencelupan dilanjutkan selama beberapa menit.

b. Golongan II

Pemakaiannya memerlukan asam lemah pH 5.2-6.2, dapat memakai asam


asetat. Tidak memerlukan penambahan elektrolit karena pada pH lebih dari 4.7
penambahan elektrolit akan mempercepat penyerapan. Pada umumnya
mempunyai ketahanan sinar dan ketahanan cuci yang baik.

Mula-mula zat warna dibuat pasta dengan air dingin kemudian ditambah
air hangat hingga larut sempurna. Bahan wol yang telah dimasak dikerjakan
dalam larutan yang mengandung 10-15% garam glauber dan 3-5% asam asetat
30% pada suhu 400C selama 10-20 menit. Zat warna yang telah dilarutkan
dimasukkan dan suhu dinaikkan hingga mendidih selama 45 menit. Selanjutnya
ditambahkan 1-3% asam asetat 30% dan 1% asam sulfat pekat dan pencelupan
dilanjutkan selama 40-45 menit.

c. Golongan III

Sering disebut zat warna asam milling. Pemakaiannya tidak memerlukan


penambahan asam, cukup pada pH netral. Pada suhu rendah terdispersi secara
koloidal sedang pada suhu mendidih terdispersi secara molekuler. Sifat
kerataannya sangat kurang sehingga memerlukan pengamatan yang teliti.
Ketahanan sinar dan ketahanan cucinya paling baik dibanding kedua golongan
zat warna asam lainnya.

Mula-mula zat warna dibuat pasta dengan air dingin kemudian ditambah
air hangat hingga larut sempurna. Bahan wol yang telah dimasak dikerjakan
dalam larutan yang mengandung 2-4% ammonium sulfat pada suhu 400C
selama 10-20 menit sehingga diperoleh pH yang rata di seluruh bahan. Zat
warna yang telah dilarutkan dimasukkan dan suhu dinaikkan hingga mendidih
selama 45 menit. Pencelupan dilanjutkan selama 1 jam pada suhu mendidih.

Proses pencelupan serat sutra sama, hanya suhunya lebih rendah, yaitu
850C. Hal ini disebabkan karena kekuatan serat akan menurun pada suhu
mendidih.

Mekanisme utama pada pencelupan serat protein dengan zat warna asam
adalah pembentukan ikatan garam dengan gugus amino dalam serat. Dalam
keadaan isoelektrik serat wol mengandung ikatan garam yang netral sebagai
berikut :

+
H3N-wol-COO-
Dengan penambahan ion hydrogen dari asam, akan terbentuk ion
ammonium bebas yang bermuatan positif sebagai berikut :

+
H3N-wol-COO- + H+  +H3N-wol-COOH

sehingga dapat mengikat anion dari zat warna asam sebagai berikut :

+
H3N-wol-COOH + D- DH3N-wol-COOH

5. Zat warna belerang

Zat warna belerang merupakan suatu zat warna yang mengandung unsur
belerang di dalam molekulnya, baik sebagai kromofor maupun gugus lain yang
berguna dalam pencelupannya. Zat warna ini tidak larut dalam air dan dapat
dipakai untuk mencelup serat selulosa dan serat wol. Agar dapat digunakan
untuk mewarnai serat selulosa harus direduksi terlebih dahulu. Reduktor yang
dapat dipakai yaitu natrium sulfide, natrium hidrosulfit atau campuran keduanya.
Sifat tahan cuci dan tahan sinarnya baik, harganya sangat murah. Hasil celupan
dengan zat warna belerang dapat menimbulkan kemunduran kekuatan bahan.
Mekanisme pencelupan dengan zat warna belerang terdiri dari tiga tahap, yaitu :

a. Pelarutan zat warna (reduksi)

Zat utama yang dapat dipakai untuk melarutkan zat warna adalah natrium
sulfida dengan atau tanpa tambahan natrium karbonat. Reaksinya adalah
sebagai berikut :

b. Pencelupan

Bentuk zat warna yang telah tereduksi tersebut mempunyai afinitas


terhadap serat selulosa sehingga dapat mencelupnya.

c. Pembangkitan warna (oksidasi)

Zat warna tereduksi yang telah berada di dalam serat harus diubah
menjadi bentuk semula dengan ukuran molekul yang besar agar tidak dapat
keluar lagi dari serat. Reaksinya adalah sebagai berikut :
Pencelupan dengan menggunakan zat warna belerang dilakukan sebagai berikut
:

a. Serat selulosa

Mula-mula zat warna dibuat pasta dengan air dingin, ditambah larutan
natrium sulfida dan natrium karbonat. Bahan yang telah dimasak dimasukkan ke
dalam larutan celup yang mengandung zat warna, 2 g/l natrium karbonat, dan
5-25% natrium klorida pada suhu hangat. Setelah merata, larutan celup
dipanaskan hingga 1000C dan pencelupan dilanjutkan selama 60 menit. Bahan
dicuci bersih, dioksidasi dengan larutan natrium perborat, disabun dan dibilas.

b. Serat sutra dan wol

Serat sutra dan wol dapat juga dicelup dengan zat warna belerang,
terutama untuk warna hitam. Untuk menghindari kerusakan, alkalinitas larutan
celupnya perlu dikurangi.

Mula-mula zat warna dibuat pasta dengan koloid pelindung 5% dan air
hangat, ditambah natrium sulfit dan diencerkan dengan air panas. Setelah 10
menit ditambah larutan natrium sulfida, dipanaskan hingga larut.

Bahan wol yang telah dimasak dimasukkan ke dalam larutan celup beserta
amonium sulfat pada suhu 800C selama 45 menit. Bahan dicuci bersih.

6. Zat warna bejana

Zat warna bejana merupakan salah satu zat warna alam yang telah lama
digunakan untuk mewarnai bahan tekstil. Zat warna ini terutama digunakan
untuk mewarnai serat selulosa. Selain itu dapat juga digunakan untuk mencelup
serat wol.

Zat warna bejana termasuk dalam golongan zat warna yang tidak larut
dalam air dan tidak dapat mewarnai serat selulosa secara langsung. Dalam
pemakaiannya harus direduksi (dibejanakan) menjadi larutan yang mempunyai
afinitas terhadap selulosa, yaitu larutan leuko. Warna larutan leuko lebih muda
dibanding warna aslinya. Setelah berada di dalam serat, bentuk leuko tadi
dioksidasikan kembali menjadi bentuk semula yang tidak larut di dalam air. Oleh
karena itu hasil celupannya mempunyai tahan cuci yang sangat baik. Sifat tahan
sinar dan tahan terhadap larutan hipoklorit juga baik.

Afinitas larutan leuko terhadap serat selulosa sangat besar. Hal ini sering
menyebabkan hasil celupan tidak rata. Untuk mengatasinya, dilakukan
pencelupan cara pigment padding, dimana zat warna yang tidak mempunyai
afinitas tersebut didistribusikan secara merata pada bahan sebelum direduksi
dan dioksidasi. Berdasar cara pemakaiannya, digolongkan menjadi 4 golongan,
yaitu :

a. Golongan IK (Indanthren Kalt), mempunyai afinitas yang kurang baik, sehingga


memerlukan penambahan elektrolit. Pemakaian reduktor dan alkali sedikit,
dibejanakan dan dicelup pada suhu rendah (20-250C).

b. Golongan IW (Indanthren Warm), memerlukan penambahan elektrolit untuk


penyerapannya. Pemakaian reduktor dan alkali agak banyak, dibejanakan dan
dicelup pada suhu hangat (40-500C).

c. Golongan IN (Indanthren Normal), daya serap tinggi sehingga tidak memerlukan


penambahan elektrolit. Pemakaian reduktor dan alkali banyak, dibejanakan dan
dicelup pada suhu panas (50-600C).

d. Golongan IN Special (Indanthren Normal Special), menyerupai golongan IN,


hanya pemakaian alkali dan reduktor, suhu pembejanaan dan pencelupan lebih
tinggi (600C).

Mekanisme pencelupan dengan zat warna bejana terdiri dari 3 hal pokok, yaitu :

a. Pembejanaan (proses pelarutan zat warna menjadi leuko)

Zat utama yang digunakan adalah reduktor kuat natrium hidrosulfit dan
alkali kuat natrium hidroksida. Reaksinya adalah sebagai berikut :

D=C=O + Hn  D=C-OH

ZW bejana
D-C-OH + NaOH  D=C-ONa + H2O

senyawa leuko

b. Pencelupan dengan senyawa leuko

Bentuk senyawa ini mempunyai afinitas terhadap selulosa sehingga dapat


mencelupnya.

c. Pembangkitan (oksidasi)

Agar senyawa leuko yang telah berada di dalam serat tidak kembali lagi,
perlu dioksidasi menjadi molekul semula yang berukuran besar. Reaksinya
adalah sebagai berikut :

Pencelupan dengan menggunakan zat warna bejana dilakukan sebagai berikut :

a. Serat selulosa

Mula-mula zat warna bejana dibejanakan dengan penambahan air hangat


(500C) dan natrium hidroksida, lalu ditaburi natrium hidrosulfit sambil terus
diaduk selama 10-20 menit. Selanjutnya larutan leuko tersebut dimasukkan ke
dalam larutan celup dengan penambahan alkali dan reduktor seperlunya.

Bahan dari serat kapas yang telah dimasak dikerjakan dalam larutan celup
tersebut. Untuk golongan IK, suhu pencelupan dimulai pada 40-500C, dengan
penambahan elektrolit kemudian larutan celup dibiarkan turun suhunya sehingga
akan menambah penyerapan. Sedangkan untuk golongan IW, IN, atau IN
spesial, pencelupan dimulai pada suhu 20-300C, lalu dinaikkan perlahan-lahan
hingga mencapai suhu yang diinginkan. Pencelupan berlangsung selama 30-60
menit. Bahan dicuci, dioksidasi, disabun panas dan dibilas.

b. Serat sutra

Mula-mula ke dalam larutan celup dimasukkan natrium hidroksida 10 ml/l


dan natrium hidrosulfit pada suhu 400C. Zat warna yang telah dibuat pasata
dengan air dingin dimasukkan ke dalamnya, diaduk sempurna selama 20 menit.
Bahan sutra yang telah di-degumming dicelup pada suhu 700C selama 60 menit.
Setelah selesai diperas dan dioksidasikan di udara selama 1 jam. Kemudian
dicuci dengan larutan asam asetat, dicuci, disabun pada suhu 950C dan dibilas.

7. Zat warna dispersi

Zat warna dispersi pada mulanya digunakan untuk mencelup serat


selulosa asetat yang merupakan serat hidrofob. Dengan dikembangkannya serat
hidrofob seperti poliakrilat, poliamida, dan polyester, maka penggunaan zat
warna dispersi makin meningkat. Sekarang zat warna dispersi digunakan
terutama untuk mencelup serat polyester.

Zat warna dispersi termasuk golongan zat warna yang tidak larut dalam
air, namun pada umumnya dapat terdispersi dengan sempurna. Zat warna
tersebut sebenarnya tidak dapat digunakan untuk mewarnai serat hidrofob. Pada
pemakaiannya diperlukan zat pengemban (carrier) atau adanya suhu tinggi.
Sifat tahan cuci dan tahan sinarnya cukup baik. Ukuran molekulnya berbeda-
beda, yang sangat erat hubungannya dengan sifat kerataan dalam pencelupan
dan sifat sublimasi.

Serat poliester merupakan serat hidrofob yang sangat kompak susunan


molekulnya. Oleh karena itu tidak dapat dicelup dengan cara konvensional.
Dengan penggunaan zat pengemban akan terjadi hal-hal sebagai berikut :

a. penggabungan zat pengemban dan zat warna sehingga menambah kelarutan zat
warna dalam larutan. Penambahan kelarutan ini menyebabkan penambahan
konsentrasi, sehingga terjadi difusi zat warna.

b. zat pengemban bersifat hidrofil dan mempunyai afinitas terhadap serat sehingga
memperbesar penggelembungan serat. Akibatnya pori-pori terbuka dan molekul
zat warna teradsorb.

c. tidak terjadi reaksi antara zat pengemban dan zat warna. Pada pengerjaan
reduksi dalam larutan reduktor yang alkalis zat pengemban akan keluar.

Zat warna akan tetap tinggal di dalam serat dan serat akan merapat kembali
sehingga zat warna akan tertahan dengan baik di dalam serat.
Fungsi zat pengemban dalam pencelupan serat poliester digantikan oleh
penggunaan suhu tinggi disertai tekanan. Akibatnya serat akan menggelembung
dan zat warna dapat masuk ke dalam serat. Terutama dilakukan pada
pencelupan benang dengan warna tua. Untuk pencelupan kain umumnya
dilakukan fiksasi dengan bantuan panas. Energi panas akan melunakkan serat
dan melelehkan zat warna sehingga dapat berdifusi ke dalam serat. Setelah
pencelupan selesai, serat akan kembali ke bentuk semula, dengan zat warna
tertahan di dalamnya. Cara ini sesuai dengan solid solution theory, yaitu zat
padat yang terlarut di dalam zat padat lainnya.

Pencelupan dengan menggunakan zat warna dispersi dilakukan sebagai berikut :

a. Serat selulosa asetat

Bahan selulosa asetat yang telah dimasak dicelup dalam larutan celup
yang mengandung 1.5 ml/l zat pendispersi dan zat warna dispersi pada suhu
kamar selama 15 menit. Selanjutnya suhu dinaikkan perlahan-lahan hingga 70-
800C dan pencelupan dilanjutkan selama 1 jam. Bahan dicuci bersih.

b. Serat poliester

1) dengan zat pengemban

Zat pengemban ditambahkan ke dalam larutan celup yang mengandung


zat pendispersi pada suhu 700C. Bahan poliester yang telah dimasak dikerjakan
dalam larutan tersebut selama 15-30 menit. Lalu ditambahkan zat warna
dispersi yang telah dilarutkan dan disaring. Suhu dinaikkan hingga mendidih dan
pencelupan dilanjutkan selama 2 jam. Bahan direduksi, dicuci, dan disabun.

2) dengan suhu tinggi

Bahan poliester yang telah dimasak dikerjakan dalam larutan celup yang
mengandung zat warna dispersi, 1 ml/l asam asetat, 1 ml/l zat pendispersi, dan
zat penyangga pH 5-5.5 pada suhu 600C selama 15 menit. Suhu dinaikkan
hingga 1300C dan pencelupan dilanjutkan selama 30-60 menit. Bahan direduksi,
dicuci, disabun dan dibilas.

3) secara termosol

Bahan poliester yang telah dimasak direndam peras dalam larutan celup
zat warna dispersi, kemudian dikeringkan. Selanjutnya zat warna difiksasi
dengan pemanasan. Bahan direduksi, dicuci, disabun dan dibilas.

c. Serat poliakrilat

Bahan poliakrilat yang telah dimasak dikerjakan dalam larutan celup yang
mengandung zat warna dispersi, 1 g/l natrium dihidrogen fosfat, 0.5 ml/l asam
asetat 80%, zat pendispersi pada suhu mendidih selama 90 menit. Bahan dicuci,
disabun dan dibilas.

d. Serat poliamida

Bahan poliamida yang telah dimasak dikerjakan dalam larutan celup yang
mengandung zat warna dispersi dan 2 ml/l zat pendispersi pada suhu kamar
selama 15 menit. Suhu dinaikkan hingga mendidih dan pencelupan dilanjutkan
selama 45 menit. Bahan dicuci, disabun dan dibilas.

8. Zat warna pigmen

Zat warna pigmen mula-mula digunakan dalam pencapan. Dengan


ditemukannya zat pengikat yang sangat plastis, zat warna ini mulai digunakan
dalam pencelupan. Teknik resin bonding menghasilkan celupan yang memuaskan
terutama dalam hal ketahanan cucinya. Umumnya digunakan untuk mewarnai
serat selulosa atau campurannya dengan serat lain.

Zat warna pigmen merupakan zat warna yang tidak larut dalam air dan
tidak mempunyai afinitas terhadap bahan tekstil. Resin pengikat akan
membentuk lapisan film yang dapat melindungi zat warna pigmen dan mampu
berikatan dengan serat sehingga tahan cucinya baik.

Namun pembentukan lapisan film menyebabkan pegangan kain menjadi


kaku. Selain itu, apabila ukuran molekulnya terlalu besar sangat sukar dilindungi
lapisan film sehingga ketahanan gosoknya kurang. Oleh karena itu zat warna
pigmen hanya digunakan untuk menghasilkan warna muda.
Pencelupan dengan zat warna pigmen tidak dapat dilakukan secara
konvensional karena zat warna pigmen tidak mempunyai afinitas terhadap serat
dan tidak dapat dilarutkan dalam pelarut apapun. Umumnya zat warna pigmen
hanya digunakan untuk mencelup serat selulosa yang tidak bersifat termoplastis.
Hal ini menyebabkan zat warna tidak dapat masuk ke dalam serat sehingga
tidak terikat secara sempurna. Ikatan antara zat warna dan serat dapat
diperbaiki dengan zat pengikat berupa resin, yaitu senyawa berberat molekul
rendah yang mampu berpolimerisasi membentuk jaringan tiga dimensi yang
berikatan dengan serat dan membentuk lapisan film yang sangat tipis.

Pembentukan lapisan film memerlukan bantuan panas dan suasana asam.


Hal tersebut diperoleh dengan proses pemanas awetan (curing) dan dengan
bantuan katalisator yang mampu menghasilkan asam pada waktu pemanas
awetan. Resin yang umum digunakan yaitu resin alkid dengan katalisator
magnesium klorida, diamonium fosfat, dan sebagainya.

Pemakaian zat warna pigmen dilakukan dengan merendam peras bahan


yang telah dimasak dan dikeringkan di dalam larutan celup yang mengandung
zat warna pigmen, resin, dan katalisator, diikuti dengan pengeringan dan
pemanas awetan. Umumnya zat pengikat yang digunakan sekitar 50 g/l dengan
penambahan katalisator 10-15 g/l. Sebelum bahan direndam peras, zat-zat
tersebut harus dibuat emulsi dengan pengadukan yang sempurna. Pengeringan
berlangsung pada suhu 800C, sedang pemanas awetan pada suhu 120-1500C
selama 3-5 menit.

9. Zat warna naftol

Zat warna naftol atau zat warna ingrain merupakan zat warna yang
terbentuk di dalam serat dari senyawa penggandeng (coupler) yaitu naftol dan
garam pembangkit, yaitu senyawa diazonium yang terdiri dari senyawa amina
aromatik. Penggunaannya terutama untuk mewarnai serat selulosa. Dapat juga
untuk mewarnai serat protein dan serat poliester.

Zat warna naftol termasuk golongan zat warna azo yang tidak larut dalam
air. Daya serapnya terhadap selulosa kurang baik dan bervariasi. Dapat
digolongkan menjadi 3, yaitu yang mempunyai subtantivitas rendah (Naftol AS),
subtantivitas sedang (Naftol AS-G), dan subtantivitas tinggi (Naftol AS-BO).
Ketahanan gosoknya kurang, terutama dalam keadaan basah. Sedang
tahan cuci dan tahan sinarnya sangat baik. Zat warna naftol akan mempunyai
afinitas terhadap selulosa setelah diubah menjadi naftolat, yaitu dengan
melarutkannya dalam larutan alkali.

Garam diazonium yang digunakan sebagai pembangkit tidak mempunyai


afinitas terhadap selulosa, sehingga pencelupan dengan zat warna naftol selalu
dimulai dengan pencelupan dalam larutan naftolat, baru dibangkitkan dengan
garam diazonium. Zat warna naftol dapat bersifat poligenik, artinya
menghasilkan bermacam-macam warna tergantung garam diazonium yang
digunakan. Dapat juga bersifat monogenik, yaitu mengarah pada satu warna,
tidak tergantung garam diazonium yang digunakan.

Mekanisme pencelupan dengan zat warna naftol meliputi empat hal, yaitu
:

a. Pembuatan naftolat

ONa

Zat utama yang digunakan adalah natrium hidroksida. Larutan naftolat yang
terbentuk jernih. Pembuatannya dilakukan dengan mendispersikan naftol
dengan spirtus ditambah larutan natrium hidroksida, lalu ditambah air dingin.
Dapat juga dilakukan dengan mendispersikan naftol dalam koloid pelindung
(TRO) ditambah larutan natrium hidroksida, lalu ditambah air panas. Reaksinya
adalah sebagai berikut :

+ NaOH 
+ H2O

Zat Warna Naftol Naftolat

b. Pencelupan

Zat warna naftol tidak larut dalam air dan tidak mempunyai afinitas
terhadap selulosa. Namun setelah dilarutkan menjadi larutan naftolat timbul
afinitasnya sehingga dapat mewarnai serat. Bahan yang telah dicelup perlu
diperas sebelum dibangkitkan warnanya dengan garam diazonium untuk
mengurangi terjadinya pembangkitan warna pada permukaan serat yang dapat
menyebabkan ketahanan gosoknya berkurang.
c. Diazotasi

Garam diazonium yang digunakan sebagai pembangkit dapat berupa basa


naftol, yaitu senyawa amina aromatik maupun garam diazonium, yaitu basa
naftol yang telah diazotasi. Apabila berupa garam diazonium, maka dapat
langsung dilarutkan dalam air. Namun apabila masih dalam bentuk basa naftol
perlu diazotasi dengan asam klorida berlebih dan natrium nitrit pada suhu yang
sangat rendah.

d. Pembangkitan

Naftolat yang telah berada di dalam serat perlu dibangkitkan dengan


larutan garam diazonium agar terjadi pigmen naftol yang berwarna dan
terbentuk di dalam serat.

naftolat garam diazonium

Pencelupan dengan menggunakan zat warna naftol dilakukan sebagai berikut :

a. Serat selulosa

Mula-mula zat warna naftol dilarutkan dengan cara membuat pasta


dengan penambahan TRO, kemudian ditambah natrium hidroksida dan air panas
sampai terbentuk larutan jernih. Dapat juga dibuat pasta dingin dengan
melarutkan naftol dalam spirtus, ditambah natrium hidroksida dan diencerkan
dengan air dingin hingga terbentuk larutan jernih.

Bahan selulosa yang telah dimasak dicelup dalam larutan zat warna
naftol dengan penambahan 10-15 ml/l natrium hidroksida dan 30 g/l natrium
klorida. Selanjutnya bahan diperas dan dibangkitkan di dalam larutan garam
diazonium. pH larutan pembangkit dipertahankan pada 4.5-5 dengan larutan
penyangga, yaitu natrium asetat dan asam asetat. Kadang-kadang sebagai
pembangkit digunakan basa naftol yang telah diazotasi menjadi garam
diazonium.

b. Serat protein

Mula-mula zat warna naftol dilarutkan dengan cara mencampur 3 g


sabun dan 12 g natrium karbonat dilarutkan dalam 30 ml air dan dididihkan
sampai jernih. 1.25 g naftol dibuat pasta dalam sebagian larutan tersebut,
kemudian ditambahkan sisanya dan dipanaskan hingga mendidih selama 5
menit.

Bahan wol yang telah dimasak dicelup dalam larutan zat warna naftol
pada suhu 500C selama 30 menit. Selanjutnya bahan diperas dan dibangkitkan
di dalam larutan garam diazonium selama 30 menit. Bahan diperas, dicuci air
dingin, disabun pada 500C selama 10 menit dan dibilas.