Anda di halaman 1dari 15

1

MAKALAH FISIKA ENERGI


BIODIESEL

Disusun Oleh
HELMITA
14034039

Dosen Pembimbing
Dr. RAMLI, M.Si

PRODI FISIKA KONSENTRASI MATERIAL


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERISTAS NEGERI PADANG
2017
2

KATA PENGANTAR

Segala puji atas kebesaran Sang Khalik yang telah menciptakan alam semesta
dalam suatu keteraturan hingga dari lisan terpetik berjuta rasa syukur kehadirat
ALLAH SWT. Karena atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nyalah sehingga kami
diberikan kesempatan dan kesehatan untuk dapat menyelesaikan makalah
Semikonduktor ini dengan judul “BIODIESEL” yang merupakan tugas dalam
mata kuliah Semikonduktor.
Kami menyadari sepenuhnya, dalam penyusunan makalah ini tidak lepas
dari tantangan dan hambatan.Namun berkat usaha dan motivasi dari pihak-pihak
langsung maupun tidak langsung yang memperlancar jalannya penyusunan
makalah ini sehingga makalah ini dapat kami susun seperti sekarang ini.Olehnya
itu kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan motivasi yang diberikan
sehingga Penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati kami menyadari bahwa hanya


kepada ALLAH SWT jugalah kita menyerahkan segalanya.Semoga makalah ini
dapat menjadi referensi dan tambahan materi pembelajaran bagi kita semua,
Aamiin.

Padang, Desember 2017

Penulis
3

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Indonesia memiliki beragam sumberdaya energi. Sumberdaya energy
berupa minyak, gas, batubara, panas bumi, air dan sebagainya digunakan
dalam berbagai aktivitas pembangunan baik secara langsung ataupun diekspor
untuk mendapatkan devisa. Sumberdaya energy minyak dan gas adalah
penyumbang terbesar devisa hasil ekspor. Kebutuhan akan bahan bakar
minyak dalam negeri juga meningkat seiring meningkatnya pembangunan.
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa sejak pertengahan tahun 80-an terjadi
peningkatan kebutuhan energi. Disisi lain, bahwa cadangan minyak yang
dimiliki Indonesia semakin terbatas karena merupakan produk yang tidak
dapat diperbaharui ( Haryanto. 2013)
Sehingga pada suatu saat akan semakin menipis dan sampai akhirnya
akan habis. Minyak solar merupakan jenis BBM yang paling banyak
digunakan oleh masyarakat Indonesia (Prihandanaet al., 2006). Oleh sebab itu
jika ingin menekan jumlah penggunaan BBM yang berasal dari fosil, maka
caranya adalah mengurangi penggunaan nya dengan beralih ke energi
alternatif. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mencari dan mengembangkan
sumber energi alternatif yang terbarukan. ( padli. 2010 )
Sebagai solusi permasalahannya adalah diperlukannya diversifikasi
energi selain minyak bumi. Salah satu diversifikasi energinya adalah dengan
memproduksi minyak biodiesel. Minyak biodiesel merupakan bahan bakar
alternatif yang terbuat dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, meliputi
minyak tumbuhan dan hewan, baik di darat maupun di laut. Pada sektor darat
dan laut, total sumber penghasil minyak biodiesel lebih dari 50 jenis, meliputi
kelapa sawit, jarak pagar, minyak jelantah, kelapa, kapuk/randu, nyamplung,
alga, dan lain sebagainya. Biodiesel ini dapat dijadikan sebagai bahan bakar
pengganti solar, sebab komposisi fisika-kimia antara biodiesel dan solar tidak
jauh berbeda ( Suirta. IW. 2009 )
Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan penggunaan
bioenergi dari tumbuhan, misalnya biodiesel dari minyak kelapa sawit 'palm
4

biodiesel', sebab bahan bakunya tersedia melimpah, yakni kelapa sawit.


Indonesia dapat menghasilkan minyak sawit 7,0 juta ton/tahun. Sebagian besar
produksi minyak kelapa sawit ini diekspor, dan sebagian lagi digunakan untuk
memenuhi kebutuhan akan minyak goreng dalam negeri ( Suirta. IW. 2009 )
Minyak goreng mengalami perubahan kimia akibat oksidasi dan
hidrolisis, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada minyak goreng
tersebut, salah satunya Free Fatty Acid (FFA) atau asam lemak bebas
Kandungan asam lemak bebas inilah yang kemudian akan diesterifikasi
dengan metanol menghasilkan biodiesel. Sedangkan kandungan
trigliseridanya ditransesterifikasi dengan metanol, yang juga menghasilkan
biodiesel dan gliserol (Suirta. IW. 2009 )
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Apakah minyak jelantah kelapa sawit dapat diproses menjadi biodiesel
melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi.
2. Apakah sifat fisika dan sifat kimia dari biodiesel yang dihasilkan
melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi minyak jelantah kelapa
sawit memenuhi standar, yaitu standar Jerman DIN V 51606
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut ;
1. Untuk mengetahui proses esterifikasi dan transesterifikasi pada
pembuatan biodiesel
2. Untuk mengeahui sifat fisika dan kimia yang dihasilkan
5

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang
diproduksi dengan reaksi transesterifikasi dan esterifikasi minyak tumbuhan atau
lemak hewan dengan alkohol rantai pendek seperti metanol. Reaksinya
membutuhkan katalis yang umumnya merupakan basa kuat, sehingga akan
memproduksi senyawa kimia baru yang disebut metil ester (Van Gerpen, 2005).
Kelebihan biodiesel dibandingkan dengan petrodiesel antara lain: (1) Biodiesel
berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui; (2) Biodiesel memiliki
kandungan aromatik dan sulfur yang rendah (Ma & Hanna, 1999); (3) Biodiesel
memiliki cetane number yang tinggi (Zhang et al., 2003). Beberapa sifat fisik dan
kimia biodiesel dan petrodiesel disarikan dalam Tabel 2.1

Tabel 2.1 Sifat Fisik dan Kimia Biodiesel dan Petrodiesel (Demirbas, 2009)

Saat ini, penggunaan biodiesel masih sulit bersaing dengan petrodiesel


karena memiliki harga yang relatif lebih mahal. Walaupun demikian, dengan
semakin meningkatnya harga petroleum dan ketidakpastian ketersediaan
petroleum pada masa yang akan datang, pengembangan biodiesel yang bersumber
6

pada minyak tumbuhan menjadi salah satu alternatif utama karena memberikan
keuntungan baik dari segi lingkungan maupun dari segi sumbernya yang
merupakan sumber daya alam terbaharukan (Santoso. 2013).
2.2 Karakteristik Biodiesel
a. Viskositas
Viskositas adalah tahanan yang dimiliki fluida yang dialirkan dalam pipa
kapiler terhadap gaya gravitasi, dinyatakan dalam waktu yang diperlukan
untuk mengalir pada jarak tertentu. Jika viskositas semakin tinggi, maka
tahanan untuk mengalir akan semakin tinggi. Karakteristik ini sangat penting
karena mempengaruhi kinerja injektor pada mesin diesel. Pada umumnya
,bahan bakar harus mempunyai viskositas yang relatif rendah dapat mengalir
dan teratomisasi. Hal ini dikarenakan putaran mesin yang cepat
membutuhkan injeksi bahan bakar yang cepat pula (Shreve, 1956). Cara
pengukuran besarnya viskositas adalah bergantung pada alat viskosimeter
yang digunakan, dan hasilnya (besar viskositas) yang didapat harus
dibubuhkan nama viskosimeter yang digunakan serta temperatur minyak
pada saat pengukuran (Pertamina, 2003).
b. Flash Point
Titik nyala adalah sesuatu angka yang menyatakan suhu terendah dari
bahan bakar minyak dimana akan timbul pernyalaan api sesaat, apabila pada
permukaan minyak tersebut didekatkan pada nyala api. Titik nyala ini
diperlukan sehubungan dengan adanya pertimbangan pertimbangan
mengenai keamanan (safety) dari penimbunan minyak dan pengangkutan
bahan baker minyak terhadap bahaya kebakaran. Titik nyala ini tidak
mempunyai pengaruh yang besar dalam persyaratan pemakaian bahan bakar
minyak untuk mesin diesel atau ketel uap (Pertamina, 2003).
c. Berat jenis
Berat jenis (BJ) adalah perbandingan berat dari volume sampel minyak
dengan berat air yang volumenya sama pada suhu tertentu (250C)
(Apriyantono et a.l, 1989). Penggunaan spesifik gravity adalah untuk
mengukur berat/massa minyak bila volumenya telah diketahui. Bahan bakar
minyak pada umumnya mempunyai spesifik gravity antara 0,74-0,94.
7

Dengan kata lain bahan bakar minyak lebih ringan dari pada air (Pertamina,
2003).
d. Cetane Number
Cetane number menunjukkan kemampuan bahan bakar untuk menyala
sendiri. Skala cetane number biasanya menggunakan referensi berupa
campuran antara normal setana (C16H34) dengan alpha methyl naphthalene
Penggunaan bahan bakar mesin diesel yang mempunyai cetane number yang
tinggi dapat mencegah terjadinya knocking karena begitu bahan bakar
diinjeksikan ke dalam silinder pembakaran maka bahan bakar akan langsung
terbakar dan tidak terakumulasi (Shreve, 1956). Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa cetane number (CN) biodiesel lebih tinggi dari pada
minyak diesel (solar).
2.3 Minyak Kelapa
Komponen minyak kelapa adalah asam lemak jenuh sekitar 90% dan asam
lemak tak jenuh 10%. Asam lemak jenuh minyak kelapa dinominasi oleh asam
laurat yaitu 52%, memiliki rantai karbon 12, termasuk asam lemak rantai
menengah. Karakteristik minyak kelapa yang bersifat padat pada suhu dibawah
25oC menyebabkan dapat terjadinya penyumbatan pada filter engine, namun
pencampuran minyak kelapa dengan 50% solar dapat menurunkan suhu
pemadatan hingga pada suhu 15oC.
Keuntungan penggunaan miyak kelapa ditinjau dari beberapa aspek
adalah:
1. Minyak kelapa dapat diproduksi secara lokal sehingga biaya bisa lebih
murah.
Hal ini akan memberi dampak ekonomi yang penting, dengan
menurunkan biaya pembelian BBM dan menyediakan lapangan kerja
bagi penduduk lokal untuk memanen dan memproduksi minyak.
2. Minyak kelapa merupakan sumber energi yang terbarukan.
3. Minyak kelapa meningkatkan penghematan bahan bakar, lebih
ekonomis, dan ramah lingkungan.
4. Kebanyakan minyak nabati lainnya untuk diterapkan pada mesin diesel
harus dikonversi terlebih dahulu menjadi biodiesel, sementara minyak
8

kelapa yang bermutu baik dapat langsung digunakan pada mesin diesel
tanpa perlu banyak modifikasi. Minyak kelapa merupakan ester dari
gliserol dan asam lemak, sehingga dikenal juga sebagai gliserida.
Komponen minyak kelapa adalah asam lemak jenuh 90 persen dan 10
persen asam lemak tak jenuh.
2.4 Esterifikasi
Reaksi esterifikasi adalah reaksi antara asam karboksilat dengan senyawa
alkohol yang membentuk este r. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa
yang mengandung gugus –CO2 R’ dan R dapat berupa alkil maupun aril.
Esterifikasi dapat dilangsungkan dengan katalis asam dan bersifat reversible
(Fessenden & Fessenden,1982). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

( Prasetyo, Ari Eko, Anggara widhi, widayat.2012)


2.5 Transesterifikasi
Proses transesterifikasi meliputi dua tahap. Transesterifikasi I yaitu
pencampuran antara kalium hidroksida (KOH) dan metanol (CH30H) dengan
minyak sawit. Reaksi transesterifikasi I berlangsung sekitar 2 jam pada suhu 58-
65°C. Bahan yang pertama kali dimasukkan ke dalam reaktor adalah asam
lemak yang selanjutnya dipanaskan hingga suhu yang telah ditentukan. Reaktor
transesterifikasi dilengkapi dengan pemanas dan pengaduk. Selama proses
pemanasan, pengaduk dijalankan. Tepat pada suhu reaktor 63°C, campuran
metanol dan KOH dimasukkan ke dalam reaktor dan waktu reaksi mulai dihitung
pada saat itu. Pada akhir reaksi akan terbentuk metil ester dengan konversi sekitar
94%.Selanjutnya produk ini diendapkan selama waktu tertentu untuk
memisahkan gliserol dan metil ester. Gliserol yang terbentuk berada di lapisan
bawah karena berat jenisnya lebih besar daripada metil ester. Gliserol kemudian
dikeluarkan dari reaktor agar tidak mengganggu proses transesterifikasi II.
Selanjutnya dilakuknt ransesterifikasi II pada metil ester. Setelah proses
transesterifikasi II selesai, dilakukan pengendapan selama waktu tertentu agar
gliserol erpisah dari metil ester. Pengendapan II memerlukan waktu lebih pendek
9

daripada pengendapan I karena gliserol yang terbentuk relatif sedikit dan akan
larut melalui proses pencucian.
Reaksi transesterifikasi sebenarnya berlangsung dalam 3 tahap yaitu
sebagai berikut:

Gambar 2. Tiga Tahap reaksi transesterifikasi


Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil
asam asam lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah
produk, yaitu:
a. Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi
b. Memisahkan gliserol
c.Menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi
eksoterm)
Tahapan reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel selalu menginginkan agar
didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum.
2.6 Metil Ester Asam Lemak Sebagai Komponen Biodiesel
Metil ester asam lemak memiliki rumus molekul Cn-1H2(n-r)-1CO–OCH3
dengan nilai n yang umum adalah angka genap antara 8 sampai dengan 24 dan
nilai r yang umum 0, 1, 2, atau 3. Beberapa metil ester asam lemak yang dikenal
adalah :
1. Metil stearat, C17H35COOCH3 [n = 18 ; r = 0]
2. Metil palmitat, C15H31COOCH3 [n = 16 ; r = 0]
3. Metil laurat, C11H23COOCH3 [n = 12 ; r = 0]
4. Metil oleat, C17H33COOCH3 [n = 18 ; r = 1]
5. Metil linoleat, C17H31COOCH3 [n = 18 ; r = 2]
6. Metil linolenat, C17H29COOCH3 [n = 18 ; r = 3]
Kelebihan metil ester asam lemak dibanding asam-asam lemak lainnya :
1. Ester dapat diproduksi pada suhu reaksi yang lebih rendah.
2. Gliserol yang dihasilkan dari metanolisis adalah bebas air.
10

3. Pemurnian metil ester lebih mudah dibanding dengan lemak lainnya


karena titik didihnya lebih rendah.
4. Metil ester dapat diproses dalam peralatan karbon steel dengan biaya
lebih rendah daripada asam lemak yang memerlukan peralatan stainless
steel.
Metil ester asam lemak tak jenuh memiliki bilangan setana yang
lebih kecil dibanding metil ester asam lemak jenuh (r = 0). Meningkatnya
jumlah ikatan rangkap suatu metil ester asam lemak akan menyebabkan
penurunan bilangan setana. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
untuk komponen biodiesel lebih dikehendaki metil ester asam lemak jenuh
seperti yang terdapat dalam fraksi stearin minyak sawit (Haryanto, Bode.
2002 )
2.7 Katalis Asam
Alternatif lain yang dapat digunakan untuk pembuatan biodiesel adalah
dengan menggunakan katalis asam. Selain dapat mengkatalisis reaksi
transesterifikasi minyak tumbuhan menjadi biodiesel, katalis asam juga dapat
mengkatalisis reaksi esterifikasi asam lemak bebas yang terkandung di dalam
minyak menjadi biodiesel mengikuti reaksi berikut ini:
R-COOH + CH3OH 􀃆R-COOCH3 + H2O

(Asam Lemak Bebas) (Metanol) (Biodiesel) (Air)

Katalis asam umumnya digunakan dalam proses pretreatment terhadapat


bahan baku minyak tumbuhan yang memiliki kandungan asam lemak bebas yang
tinggi namun sangat jarang digunakan dalam proses utama pembuatan biodiesel.
Katalis asam homogen seperti asam sulfat, bersifat sangat korosif, sulit dipisahkan
dari produk dan dapat ikut terbuang dalam pencucian sehingga tidak dapat
digunakan kembali sekaligus dapat menyebabkan terjadinya pencemaran
lingkungan. Katalis asam heterogen seperti Nafion, meskipun tidak sekorosif
katalis asam homogen dan dapat dipisahkan untuk digunakan kembali, cenderung
sangat mahal dan memiliki kemampuan katalisasi yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan katalis basa ( santoso. 2013).
11

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Metode Penelitian
3.1.1 Bahan
Bahan yang digunakan adalah minyak jelantah; asam oksalat; KOH;
asam sulfat (H2SO4) 95%; KOH alkoholis; metanol; NaOH; natrium
thiosulfat; Magnesium sulfat anhidrid; etanol 95%; indikator
phenolphthalein 1%; indikator amilum 1%; HCl N; larutan K2Cr2O7; KI
15% ; Iodin, akuades.
3.1.2 Peralatan
Alat yang diperlukan:labu leher tiga dilengkapi kondensor untuk
sintesis,Seperangkat alat titrasi, piknometer, viskometer Ostwald,
pengaduk magnetik, pH-meter, alat-alat gelas lab.
3.1.3 Cara Kerja
1. Survey dan pengambilan minyak jelantah kelapa sawit ke pedagang
kaki lima di seputaran Kampus Bukit Jimbaran.
2. Perlakuan awal meliputi penghilangan kotoran padatan dengan
penyaringan, penghilangan air dengan pemanasan yang diikuti pemisahan
air dengan corong pisah.
3. Eksperimen di Laboratorium meliputi :
a. Penyiapan dan pembuatan reagen kimia.
b. Sintesis biodiesel melalui reaksi esterifikasi dan dilanjutkan dengan
transesterifikasi
c. Sintesis biodiesel dilakukan dengan metoda two stage acid-base
melalui dua tahap reaksi, yaitu tahap Esterifikasi, dilakukan dengan
mereaksikan sejumlah volume minyak jelantah dengan metanol pada
suhu 35oC dengan katalis asam dan disertai dengan pengadukan
selama 5 menit, dan dilanjutkan dengan pengadukan tanpa pemanasan
selama 1 jam. Kemudian didiamkan selama 24 jam. Setelah itu
dilanjutkan dengan tahap reaksi kedua yaitu Reaksi Transesterifikasi.
Campuran hasil tahap pertama ditambahkan dengan larutan natrium
metoksida, kemudian dipanaskan pada suhu 55 oC selama 2,5 jam
12

diikuti dengan pengadukan. Setelah itu campuran dipindahkan ke


dalam corong pisah dan didiamkan selam 1 jam, akan terbentuk
lapisan gliserol dan lapisan biodiesel. Pisahkan lapisan biodiesel dan
dicuci pada pH netral beberapa kali dengan air. Keringkan air yang
terdistribusi dalam biodiesel dengan garam penarik air (MgSO4
anhidrid). Pisahkan biodiesel dari garam-garam yang mengendap
dengan penyaringan. Filtrat yang diperoleh merupakan senyawa metil
ester (biodiesel) hasil sintesis.
d. Identifikasi dan interpretasi hasil sintesis dengan GC-MS yakni
biodiesel hasil sintesis dianalisis dengan GC-MS di Lab Kimia
Organik Jurusan Kimia FMIPA UGM, untuk memastikan hasil yang
diperoleh benar merupakan metil ester (biodiesel).
e. Penentuan sifat fisika dan sifat kimia biodiesel hasil sintesis,
meliputi :
Densitas, diukur dengan menimbang volume tertentu biodisel
dalam gelas piknometer.
Viskositas, diukur dengan metoda Oswald yaitu dengan
mengukur laju mengalir biodiesel kemudian dibandingkan dengan
laju mengalir dari senyawa pembanding yang telah diketahui
densitasnya.
Angka Asam, diukur dengan mentitrasi biodiesel dalam etanol
dengan larutan KOH yang telah dibakukan dengan asam oksalat,
dengan indikator phenolphtalein (pp).
Angka Penyabunan, Sejumlah berat tertentu biodiesel
direaksikan dengan jumlah tertentu KOH alkoholis berlebih dalam
erlenmeyer tertutup kemudian dididihkan sampai semua biodiesel
tersabunkan, ditandai dengan larutan bebas dari butir-butir minyak.
Kelebihan KOH dititrasi dengan HCl untuk mencari jumlah KOH
yang bereaksi dengan biodiesel.
Bilangan Iod, sejumlah berat tertentu biodiesel direaksikan
dengan I2 dan KI, kemudian ditutup rapat dan didiamkan selama
30 menit sambil sesekali digoyang. Campuran kemudian dititrasi
13

dengan natrium tiosulfat yang telah dibakukan dengan kalium


bikromat, dengan indikator amilum, sampai warna biru hilang.
Dengan cara yang sama dilakukan titrasi blangko (tanpa biodiesel)
dengan natrium tiosulfat. Selisih tiosulfat yang digunakan blanko
dan sampel mencerminkan jumlah iodin yang bereaksi dengan
biodiesel. sedangkan lapisan atas berwarna kuning keruh yang
merupakan lapisan biodiesel. Kedua lapisan tersebut kemudian
dipisahkan. Dari 200 mL minyak jelantah yang diolah, diperoleh
biodiesel sebanyak 157 mL, sehingga persentase hasil sintesis ini
adalah 78,5%.
3.2 Hasil dan pembahasan
3.2.1 Hasil sintesis biodiesel.
Sintesis biodiesel dari minyak jelantah diawali dengan reaksi esterifikasi,
dimana kandungan asam lemak bebas pada minyak jelantah akan bereaksi
dengan metanol. Hal ini dipercepat dengan penambahan katalis asam
sulfat pekat. Hasil esterifikasi ini menghasilkan suatu campuran yang
keruh. Setelah tahap pertama selesai, sintesis dilanjutkan ke tahapan kedua
yaitu reaksi transesterifikasi. Dalam tahapan ini terbentuk dua lapisan.
Lapisan bawah berwarna coklat kehitaman yang merupakan lapisan
gliserol,
3.2.2 Identifikasi senyawa biodiesel dengan kromatografi gas-
spektroskopi massa (GCMS)
Identifikasi dengan GC-MS dilakukan untuk meyakinkan bahwa hasil
sintesis yang diperoleh memang benar merupakan senyawa biodiesel.
Hasil analisis sampel biodiesel dengan kromatografi gas tersebut terlihat
pada Gambar 3. Kromatogram yang diperoleh menunjukan adanya enam
puncak dengan waktu retensi (tR) dan luas puncak (%) seperti pada Tabel
1. Berdasarkan data tersebut diduga biodiesel hasil sintesis ini
mengandung enam senyawa, dengan kelimpahan yang paling tinggi
dimiliki oleh puncak 4, sedangkan kelimpahan yang palingkecil dimiliki
oleh puncak 6. Tiap puncak hasil GC, dianalisis dengan MS dan
dibandingkan dengan data base yang ada.
14

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Biodiesel dapat disintesis dari minyak jelantah kelapa sawit melalui dua
tahapan reaksi yaitu reaksi esterifikasi dan transesterifikasi. Dari 200 mL
minyak jelantah yang digunakan diperoleh biodiesel sebanyak 157 mL
atau 78,5 %.
2. Hasil sintesis memang identik dengan biodiesel. Hal ini dapat dilihat pada
hasil
analisis GC-MS, dimana dari kromatogram kromatografi gas dan
spektrum massa yang telah disesuaikan dengan database, diperoleh
adanya enam senyawa metil ester (biodiesel), yaitu metil miristat, metil
palmitat, metil stearat, metil oleat, metil linoleat, dan metil arakhidat..
3. Uji kualitas terhadap biodiesel hasil sintesis yang meliputi uji sifat fisika
dan sifat kimia memenuhi standar DIN V 51606, yaitu densitas (0,8976
0,0003 g/mL), viskositas (4,53 0,09 mm2/s), bilangan asam (0,4238
0,0397 mg KOH/g), dan bilangan iod (9,3354 0,0288)g Iod/100 g
sampel).
B. Saran
Perlu dilakukan beberapa uji kualitas biodisel yang lainnya untuk
meyakinkan bahwa biodiesel hasil sintesis dari minyak jelantah ini dapat
digunakan sebagai bahan bakar diesel. Uji kualitas tersebut yaitu: kadar air,
kadar abu, kadar sulfur, titik nyala, dan uji lainnya.
15

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Biodiesel, INFORM, Vol 7, No.8, (1996 )
Haryanto, Bode. 2002. Bahan Bakar Alternatif Biodiesel (Bagian I. Pengenalan) .
Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara
Padli, Slamet Wahyuningsih, Amir awaludin. (2010). Pembuatan Biodiesel dari
Minyak Kelapa melalui Reaksi Metanolisis Menggunakan Katalis CaCO3
yang dipijarkan. Jurnal Natur Indonesia, vol 13 (1) , No. Hlm. 27-32
Penelitian dan pengembangan pertanian. (2006). Biodiesel dari minyak sawit,
berpeluang sebagai sumber energi alternatif, Warta Penelitian Dan
Pengembangan Pertanian, vol 28, No. Hlm 3
Prasetyo,Ari Eko, Anggara Widhi, Widayat. (2012). Potensi Gliserol Dalam
Pembuatan Turunan Gliserol Melalui Proses Esterifikasi, vol 10, issue 1,
No. Hlm. 26-31
Santoso, Harry, Ivan kristianto, Aris setyadi. 2013. Pembuatan Biodiesel
Menggunakan Katalis Basa Heterogen Berbahan Dasar Kulit Telur.
Bandung . Universitas Khatolik Prahayangan
Suirta. IW . ( 2009 ). Preparasi Biodiesel Dari Minyak Jelantah Kelapa Sawit.
Jurnal Kimia, Vol 3 (1), No. Hlm. 1-6