Anda di halaman 1dari 46

KEPEMIMPINAN DALAM PRESPEKTIF PSIKOLOGI

Defenisl

Robert dan Hunts (daiam Riyono & Zulaifah, 2001) mendefinisikan seorang pemimpin adalah

orang yang penlakunya dapat mempengaruhi atau menentukan perilaku anggoia lain dalam

kelompoknya. Lester (2002) mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi dan

mengarahkan orang dengan care kepatuhan. kepemyaan, hormat dan keija same yang

bersemangat dalam mencapai tujuan bersama‘ Sememara praku'si biasanya menerapkan

pemimpin adalah orang yang menerapkan pn‘nsip dan teknik yang memaslikan motivasi, disipiin

dan produktivitas jika bekerjasama dengan oran' lain, tugas dan siiuasi

agar mencapai tujuan organisasi.

Robbins (2002) mengamati bahwa dsfinisi kepemimpinan begitu banyak. Namun rangkuman dan‘

berbagai definisi kepemimpinan itu adaiah kepemimpinan sebagai kemampuan untuk

rnempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan‘ Sumber dari pengaruh ini bisa fonnai,

seperfi misainya karena adanya penunjukkan dan' organisasi. Pada model ini, pemimpin dapat

menialankan peran kepemimpinan semata-mata kamna kedudukannya. Pemimpin yang semacam

ini.
bisa saja dipatuhi oleh kelompok karena kedudukannya. bisajuga tidak didukung oleh kelompok

apabila dirinya benentangan dengan kepentingan kelompok. Selain itu juga dijumpai pemimpin

informal, dimana biasanya pemimpin ini fidak ditunjuk oleh organisasi untuk memimpin

kelompok, namun ia muncul dari anggota kelompok sebagai orang yang berpengaruh dalam

kelompok tersebut.

Daft (2005) mengembangkan konsep pengaruh dan pencapaian tujuan ini dalam definisi

tentang kepemimpinan yaitu" Leadership is an influence relationship among leaders and followers

who intend real changes and outcomes that reflect their shared purposes (h.5)”. Dalam konteks

ini yang ditambahkan adalah adanya saling pengaruh antara pemimpin dan yang dipimpin. Bahwa

pemimpin juga akan dipengaruhi oleh reaksi orang yang dipimpinnya, demikian sebaliknya.

Kepemimpinan juga menyiratkan adanya niat dari yang memimpin maupun yang dipimpin untuk

memhuat sebuah perubahan yang berarfi, yang tidak hanya didikte dan‘ sang pemimpin, tetapi

marupakan refleksi keinginan baik pemimpin maupun yang dipimpin. Definisi ini juga

menyiratkan bahwa kepemimpinan terjadi di antara individu, aninya, pemimpin adalah individu

yang memiliki pengikut Sena dapat menjadi contoh bagi individu Iainnya untuk bergerak.

2. Prespektif Sosiologis dan Antmpologls

a. Defenisi
Seorang ahli sosiologi, Soerjono Soekanto, menghubungkan kepemimpinan (leadership) dengan

kemampuan seseorang sebagai pemimpin (leader) untuk mempengaruhi orang Iain (anggotanya),

sehingga orang Iain itu beningkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpinannya

(Soekanto, 1984: 60): Ahli sosiologi yang lain, Wahyusumijo, lebih melihat kepemimpinan

sebagai suatu proses dalam mempengaruhi kegiatan-keglatan seseorang atau sakelompok orang

dalam usahanya menupai tujuan yang sudah ditetapkan (Wahyusumijo,1984: 60).

Kepemimpinan adalah perilaku seseorang individur ketika ia mengarahkan aktivitas

sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama (hemphill dan Coons, 19577), ada juga pendapat

Iain yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pengawalan dan pemeliharaan suatu struktur

dalam harapan clan interaksi (Stogdill, 1974:411). Sedangkan Tannenbaum,dkk berpendapat

bahwa kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan dan diarahkan.melalui

proses komunikasi, ke arah pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tenentu (Tannenbaum.

Waschler, dan Massarik, 1961 :24).

Pihak Iain, dalam an1ropologi budaya. muncul pandangan yang membedakan antara

kepemimpinan sebagai suatu kedudukan sosial dan sebagai suatu proses sosial (Koentjaraningrat,

1969: 181). Kepemimpinan sebagai kedudukan sosial merupakan kompleks dari hak—hak dan

kewajiban kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan. Sementara sebagai

suatu proses sosial, kepemimpinan meliputi segala tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau

suatu badan yang mendorong gerak warga masyarakat.

Apabila kepemimpinan diam'kan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi

orang lain sehingga mereka mengikuti kehendaknya, maka seseorang itu dapat disebut

mempunyai pengaruh terhadap oarang Iain‘ Pengaruh itu dinamakan kekuasaan atau wewenang.

lstilah kekuasaan dalam hal ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk mampengaruhi orang
atau pihak Iain, sedangkan wewenang merupakan kekuasaan seseorang atau sekelompok orang

yang mendapat dukungan atau pengakuan dan' masyarakat. Dalam hubungan dengan

kepemimpinan. Kartini Kanono (1982) mengatakan bahwa kepemimpinan harus dikaitkan

dengan tiga ha! panting yaitu kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan‘

. Unsur-unsur Kepamimpinan

Menumt Soekamto (1990:300) ada empat unsur kepemimpinan yang untukmenjalankan

kekuasaan, yaitu sebagai ben'kut:

1) Rasa takut

Pelasaan takufi pada seseorang (oontohnya penguasa) menimbulkan suatu kepatuhan

terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang dilakuti tadi. Rasa takut merupakan perasaan

negative, karena seseorang tunduk kepada orang Iain dalam keadaan terpaksa. Rasa takut juga

menyebabkan orang yang bersangkutan meniru tindakan-tindakan orang yang ditakutinya. Gejala

ini dinamakan matched dependent behavior. Rasa takut biasanya berlaku dalam masyarakat yang

mempunyai organisasiotoriter.

2) Rasa cinta

Rasa cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang pada umumnya positif. Orang—orang

lain benindak Sesuai dengan pihak yang berkuasa, untuk menyenangkan semua pihak. Rasa cinta

yang efisien dimulai dari pihak penguasa sehingga sistem kekuasaan akan dapa! berjalan dengan

baik dan teratur.

3) Kepercayaan

Kepercayaan dapat timbul sebagai hasil hubungan Iangsung antara dua orang yang Iebih

atau bersifat asosiatif. Dari kepercayaan yang bersifat pribadi akan berkembang dalam suatu
organisasi atau masyarakat secara luas. sehingga Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam

suatu kekuasaan. Jika seorang pemimpin menaruh kepercayaan pada bawahanya, maka wajib bagi

anak buahnya untuk patuh dan mempunyai sifat terpecaya, Begitupun bagi pemimpinnya. Jika

semua orang dan' mulai pemimpin, bawahannya. bahkan masyarakat luas mempunyai sifat

kepercayaan maka system kekuasaan bahkan organisasiakan berjalan dengan baik.

4) Pemujaan

Dalam system pemujaan, seseorang atau sekelompok orang yang memegang kekuasaan

mempunyai dasar pemujaan dari orang Iain. Akibatnya segala tindakan penguasa dibenarkan atau

setidak—fidaknya diangggap benar.

3. Prespektif Ekonoml/Bisnis

Kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata kewiraswastaan

akhir—akhir ini diterjemahkan dengan kaia kewirausahaan. Entrepreneur berasal dari bahasa

Perancis yaitu entreprendre yang artinya memulai atau melaksanakan. Wimswasta atau wirausaha

berasal dari kata: Wira yaitu utama, gagah berani, luhur; Swa: sendiri; Sca: berdiri; dan Usaha:

kegiatan produktif. Hisrich. Peters, dan Shepard (200311 10) mendifinisikan “Kewirausahaan

adalah pmses penciptaan sesuatuyang baru pada nilai menggunakan waktu dan upaya yang

diperlukan, menanggung risiko keuangan, fisik, sena risiko sosial yang mengiringi, menerima

imbalan moneter yang dihasilkan, serta kepuasan dan kebebasan pribadi".

Kewirausahaan dapat didefinlsikan sebagai pengambilan risiko untuk menjalankan usaha

sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan usaha baru atau dengan

pendekatan yang inovatif sehingga usaha yang dikelola berkembang menjadl besar dan mandiri

dalam menghadapi tantangan tantangan persaingan (Nasrullah Yusuf, 2006). Kata kunci dari

kewirausahaan adalah:
a) Pengambilan resiko

b) Menjalankan usaha sendiri

c) Memanfaatkan peluang-peluang

d) Menciptakan usaha baru

e) Pendekatan yang inovatif

f) Mandiri

Pemimpin entrepreneurial (entrepreneurial leader) yang terrnasuk topic bahasan relatif baru

(Greenberg, McKone-Sweet, dan Vlfllson, 2012). Pamimpin entrepreneurial tidak hams mengacu

kepada sosok entrepreneur semata, namun lebih kepada upaya yang mereka (para pemimpin)

kerjakan sebagaimana Iayaknya para entrepreneur. Leaders are people who do the right things,

managers are people who do things right (Thomas, 2006). Pemlmpln adalah mereka yang

melakukan hal yang benar (efektif), sedangkan para manajer adalah mereka yang

melakukan sesuatu/segalanya dengan benar (efisien).

Efektivltas kepemimpinan (leadership effectiveness) dapat diukur dan' aspek peran, kualitas, gaya

setiap pemimpin (Klatt dan Hieben, 2001). Sosok seorang pemimpin ditunjukkan oleh are

memimpin (leadership style), apa lperan yang dikerjakan (leadership role). serta kemampuan

dasar yang harus dimiliki (leadership qualities). Kepemimpinan melibatkan 3 unsur utama, yaitu:

melaksanakan tugas, membangun dan menjaga kelompok ken’a, serta mengembangkan individu

(Thomas, 2006).
Kepemimpinan entrepreneurial banyak jadi perhatian ahli lainnya (Cleveland, 2002;

Brooker, 2005; Hansson dan Monsted. 2006; Kuratko, 2007; Roomi dan Harrison, 2011). Sosok

entrepreneur sosial (Smith, 2010) yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat pun sangat menarik

untuk dikaji. bersamaan dengan sosok pemimpin bisnis (Amram, 2009) yang tersebar di banyak

penjuru dunia.

Entrepreneurial leaders are individuals who, through an understanding of themselves and

the contexts in which they work, act on and shape opportunities. that create value for their

organizations. their stakeholders, and the wider society Entrepreneurial leaders are driven by their

desire to consider how to simultaneously create social. environmental, and economic

opportunities (Greeberg, McKone-Sweet, dan Vlfilson, 2012).

Sosok pemimpin entrepreneurial adalah mereka yang mampu memahami diri sendiri serta

lingkungan kerjanya sekaligus dapat bertindak dan memanfaatkan semua peluang yang ada

dengan menciptakan nilai (value) bagi pemangku kepentingan serta masyarakat luas‘ Mereka

yang dapat memanfaatkan semua peluang sekaligus yang benanggung jawab terhadap

masyarakat, lingkungan, dan perkembangan ekonomi pada umumnya.

Pemimpin entrepreneurial dicirikan dengan dua hal yang fundamental, yaitu; (1) Iogika

prediksi—untuk melakukan prediksi kebutuhan, minat, dan pertumbuhan masyarakat, den (2)

logika kreasi—untuk menciptakan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Menjadi

pemimpin entrepreneurial yang efektif berarti unggul dalam logika prediksi dan kreasi sekaligus

siklus antara keduanya.

Kepemimpinan entrepreneurial bisa dipelajan', bukan ditumnkan oleh orang tua kepada

anaknya. Siapa pun bisa belajar dan memilih dan memutuskan untuk menjadi sang pemimpin
sepanjang mesa kariemya. Para pemimpin entrepreneurial senantiasa siap menangkap dan

menerjemahkan setiap peluang yang berkembang dari struktur ekonomi dan bisnis serta politik.

Apabiia mereka berada di organisasi yang sudah mapan, maka mereka siap untuk mengenalkan

produk dan proses yang baru sekaligus unggul dalam mengembangkan hasilnya. Apabila mereka

berada di organisasi sosial, maka mereka siap menyelesaikan beragam persoalan yang sering

diabaikan oleh orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Dan jika mereka berada dalam

gerakan sosial dan pilitik, maka mereka siap melakukan perubahan Iayanan dan kebijakan ke arah

yang Iebih balk (Greenberg, McKone Sweet, dan willson, 2012).

Dengan adanya kepemimpinan yang bagus niscaya akan membentuk usaha anda makin

ber‘kembang dan menjadi besar serta banyak orang mau bekerja untuk anda. kepemimpinan

dibentuk secara bertahap, sejalan dengan tumbuhnya usaha (kombinasi dari pengetahuan.

pengalaman, ketrampilan, cara mengarahkan dan penen‘maan), kepemimpinan sangat penting

dalam krisis untuk membuat setiap pegawai dan semua orang yang tertibat dalam usaha anda

percaya bahwasanya anda tidak panik, menjadi tempat last resort solusi alas semua pennasalahan

dan menjadi panutan.

Unsur utama yang mencakup dan mempengaruhi bidang kepemimpinan, unsure tersebut

ada 3, yaitu:

1) Kepemlmpinan Melibatkan Orang Lain. Seorang wirausaha akan berhas apabila dia

berhasil memimpin karyawannya atau pembantu—pembantu yang mau berkerjasama

dengan dia untuk memajukan pemsahaan.


2) Kepemimpinan Menyangkut Distribusi Kekuasaan. Para wlrausaha mempunyai otoritas

untuk memberikan sebagian kekuasan kepada karyawan atau seorang karyawan dlangkat

menjadi pemimpin pada bagian tenentu

3) Kepemimpinan Menyangkul Penanaman Pengaruh Untuk Mengarahkan Bawahanl

Semang wirausaha juga harus dapat memben' oontoh yang balk bagalmana melaksanakan

pekerjaan sesuai dengan yang dlpen'mahkan Seorang pemimpin harus mempunyai

keterampilan Technical Skill yaitu kemampuan unluk melakukan pekrjaan-pekrjaan yang

bersifat operaslonal atau teknis, Human Skill yaitu kemampuan bekelja sama dengan para

bawahan dan membangun tim kelja dengan pendekatan kemanusiaan, Conceptual Skill

yaitu kemampuan yang menyusun konsep dan mengungkapan pikiran nya

Keberhasllan atau efektlfitas kepemimpinan tidak sajalah diukur bagaimana

memberdayakan bawahannya tapi uga kemampuannya menjalankan atau melaksanakan

kebijakan perusahaan melalul cara atau gaya kepemimpinannya. Pola atau gaya kepemlmplnan

sangat tergantung pada karakteristlk indivldu pemimpin menghadapi bawahan berdasarkan

fungsinya sebagal atasan.

Tidak ada gaya kepemlmpinan yang paling balk, karena gaya kepemimpinan haruslah

fleksibel dan hams disesuaikan dengan perilaku, sistem nilai yang dianut bawahan, situasl

lingkungan, kematangan dan situasl bawahan. Seorang pemimpin yang bemasil dan efektif bila

dapal melakukan gaya kepemimpinan yang tepat pada situasl yang lepat. Terdapal knteria

perilaku kepemlmpinan yang dapat menentukan gaya kepemlmpinan pengusaha adalah:

1) Gaya Kepemimpinan Diklator


Pada kepemlmpinan diktator atau otokratis, pemimpin membuat kepulusan sendlri

karena kekuasaan terpusatkan dalam diri salu orang. Pemimpin tersebut memikul

langgung jawab dan wewenang penuh. Pengawasan bersifat kekal, langsung clan lepat.

Keputusan dipaksakan dengan menggunakan imbalan dan kekhawatiran akan

dihukum. Jika ada, maka komunikasi bersifat turun kebawah. Bila wewenang dari

pemimpin diktator bisa menjadi otokrat kebapak-bapakan.

2) Gaya Kepemimpinan Partisipasi

Pola kepemimpinan panisipasi adalah poia kepemimpinan dimana aiasan memotivasi

bawahan untuk berperan sena dalam organisasi tenmama dalam pengambiian

keputusan sehingga akan mendatangkan gairah bagi para bawahan. Pada

kepemimpinan ini pendeiegasian wewenang sangat diutamakan, sedangkan

komunikiasi berjaian baik untuk menwri soiusi dalam setiap permaslahan yang ada.

Pada kepemimpinan partisipasi, pemimpin cenderung memberikan perhatian

kepada bawahan dan pekerjaan sehingga komunikasi berjalan berbagai arah

(situasionai dan diagonal). Kepemimpinan partisipasi ini tidak efektif bila bawahan

tidak menunjang keberhasilan perusahaan karena bawahan tidak matang. Davis (1997)

dalam Daiimunthe (2002: 80) menyatakan partisipasi adalah keteriibaian dan

emosional dan‘ orang-orang dalam situasi kelompok yang mendomng mereka untuk

memberikan sumbangan pada tujuan kelompok dan ikut sena benanggungjawab.

3) Gaya Kepemimpinan Delegasi


Mendelegsaikan adalah memberi ianggung jawab sepenuhnya kepada bawahan

untuk mengen‘akan suatu pekerjaan dan meminta pertanggungan jawab dari

pelaksanaan pekerjaan‘ Seorang pemimpin berhak mendeiegasikan wewenang kepada

bawahannya untuk mengambil keputusan, pemimpin menyerahkan tanggung jawab

ates peiaksanaan tugas dan penyelesaian pekerjaan. Pimpinan tidak akan membuat

peraturan-peraturan tentang pelaksanaan pekerjaan tersebut, dan hanya melakukan

sedikit koniak dengan bawahan

4) Gaya Kepemimpinan Konsiderasi

Konsiderasi yang diberikan oleh pimpinan merupakan faktor yang penting

daiam mencapai tujuan organisasi‘ Sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin

adalah kemampuan membenkan perhatian pada bawahan, agar menghasilkan ken‘a

yang optimal. Konsiderasi yang diberikan merupakan motivasi kepada para bawahan

untuk iebih giat bekerja sehingga prestasi kerjanya akan Iebih baik.

Para bawahan yang satu dengan yang Iainnya memiliki perbedaan, perbedaan ini

seringkali didasarkan oleh tujuan dan kebutuhan masing-masing yang berbeda dari

bawahan.

4. Prespektif Manajemen

a. Deflnisi

Para ahli umumnya mengakui kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi dan mengarahkan

orang dengan Cara kepatuhan, kepercayaan, hormat dan kerja sama yang bersemangat dalam
mencapai tujuan bersama‘ Para pemraktik biasanya mendefinisikan pamimpin sebagai orang yang

menerapkan prinsip dan tekhnik yang memastikan motifasi, disiplin dan produktifitas dalam

bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi (Dale Timpe, 2002 hlm.181-182)‘

Robbins (1991) dalam Fandy Tciptono & Anastasia Diana (2001; hlm.152)

mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok anggota

agar beken‘a mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan‘

D.E. McFarIan (1978) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana

pimpinan dilukiskan akan memben' perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses

mempangaruhi pekerjaan orang Iain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan

(Sudarman Danim, Prof., Dr., 2007 hlm 04).

Sufisna (1993) dalam Mulyasa (20042107) merumuskan kepemimpinan sebagai proses

mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam

situasi tenenm. Mulyasa juga menyebutkan bahwa menurut Supardi (1998) mendefinisikan

kepemimpinan sebagai kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi,

mengajak, mengarahkan, menasehatj, membimbing, menyuruh, memenntah, melarang, dan

bahkan menghukum bila penu, serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media

manajemen mau beken'a dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien.

Dari beberapa definisi dapat kita simpulkan bahwa intj dari kepemimpinan adalah

kemampuan untuk menggerakkan bawahannya untuk melakukan sesuatu agar tujuan dari

organisasi tercapai dengan maksimal. Dengan memanfaatkan manajemen yang disesuaikan dalam

setiap situasi dan kondisi real Iapangan.

b. Mengembangkan Kepemlmpinan.
Kemampuan kepemimpinan penting untuk senantiasa di upgread agar up to date dengan

kondisi dan persoalan yang dihadapi. Banyak cara dengan Iangkah untuk mengembangkan

potensi kepemimpinan. diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Keterbukaan dan interaksi‘

2) Merawat.

3) Kualitas melawan kuantitas,

4). Pendelegasian.

c. GayaKepemimpinan.

Gaya kepemimpinan ama! sangat beragarn, menyerupai sidik jari. Artinya bahwa antara

satu dengan yang lainnya tidak sama. Masing~masing mempunyai ke-khas~an dan keunikannya

sendiri‘ Seseorang yang mempelajari gaya kepemimpinan hams bisa memilah den memilih mana

yang pas dan yang oocok dengan kondisi din'nya untuk diterapkan. Gaya kepemimpinan adalah

Iangkah dan cara yang digunakan oleh pemimpin dalam rangka berinteraksi dengan bawahannya,

Diantara gaya kepemimpinan tersebut adalah:

1) Kepemimpinan Otokratis. Yaitu pemimpin mengambil keputusan tanpa tanpa

melibatkan bawahan yang akan melaksanakannya. Kepemimpinan ini disebut juga

dengan kepemimpinan diktator‘

2) Kepemimpinan Demokratis. Penganut gaya ini. seorang pemimpin melibatkan

karyawan yang akan melaksanakan dalam membuat kebijakan atau keputusan, Namun

gaya kepemimpinan ini sering kali menghasilkan keputusan populer (disenangi banyak
orang), terkadang keputusan seperti ini tidak tepat sasaran, karena pertimbangan takut

tidak disukai.

3) Kepemimpinan Partisipatit Dalam gaya ini pemimpin pemimpin amat sedikit sekali

memegang kendali dalam proses pengambilan keputusan, la hanya menyajikan

inforrnasi mengenai suatu permasalahan dan memberikan kesempatan kepada anggota

tim untuk mengembangkan strategi dan pemecahannya. Tugas pemimpin adalah

mengarahkan tim kepada tercapainya konsensus. Dengan asumsi bahwa mereka akan

Iebih siap menerima tanggung jawab karena mereka diberdayakan untuk

mengembangkannya.

4) Kepemimpinan Beron‘entasi pada Tujuan. Gaya kepemimpinan ini, pemimpin akan

meminta anggota tim untuk memusatkan perhatiannya hanya pada tujuan yang ada.

Hanya strategi yang menghasilkan kontribusi nyata dan dapat diukur dalam mencapai

tujuan organisasilah yang dibahas Pengaruh kepn‘badian dan faktor Iainnya yang tidak

bemubungan dengan tujuan organisasi tenentu diminimumkan.

5) Kepemimpinan Situasional. Gaya kepemimpinan ini sen'ng juga disebut dengan

kepemimpinan tidak terap (fluid) atau kontingensi. Asumsi yang digunakan dalam gaya

ini adalah bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang tepat bagi setiap manajer

dalam segala kondisi. Oleh karena itu gaya kepemimpinan ini akan menerapkan gaya

tertentu dengan mempenimbangkan faktor-faktor berikut: pemimpin, pengikut dan

situasi. Ketiga faktor ini adalah vanabel yang saling bemubungan yang dikenal dengan
istilah hukum situasi (law of the situation) ( Fandy Tciptono & Anastasia Diana, 2001;

him.161-163).

Ada ungkapan bahwa apapun makanannya minumnya teh botol, begitu juga dengan

kepemimpinan, apapun gaya kepemimpinan yang akan di aplikasikan tentunya harus berdasarkan

pada pendekatan ilmu prilaku dan efektifitas kepemimpinan yang sudah terujii Menurut Richard

I. Lester dalam Dale Timpe (2002, hlm. 184-185), cirivciri pemimpin pemsahaan yang baik

adalah sebagai berikut:

1) Rasa tanggung jawab

2) Kompetensi teknis dan profesional.

3) Kegairahan.

4) Ketrampilan komunikasi

5) Standar etika yang tinggi

6) Keiuwesan

7) Pandangan kedepan

Sehingga bagi siapapun pemimpin yang akan mengadopsi gaya kepemimpinan meski

memperhatikan 7 hal yang disebutkan oleh Richard I. Lester diatas, agar kepemimpinannya bisa

berjalan dengan baik. Mengingat bahwa kondisi dan situasi berbeda maka membutuhkan gaya

dan (eon' kepemimpinan yang berbeda pula. Tentu tidak bisa dilakukan seragamisasi, artinya gaya

kepemimpinan demokrasi yang terbaik, maka harus diterapkan dalam organisasi apapun, atau

semua organisasi harus menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif misalnya, karena di

organisasi A teian diterapkan dan berhasil.

D ) Total Quality Management (TQMyManajemen Mutu Terpadu (MMT).


Total Quality Management (TQM) adalah merupakan suatu pendekatan dalam

menjalankan usaha yang menooba umuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui

perbaikan terus-menems ates produk, jasa, manusia. proses, dan lingkungannya. Juga merupakan

suatu pendekatan pengendalian mutu melalui penemuan pariisipasi karyawan yang bertujuan

memecankan memecahkan persoalan dengan menekankan pada partisipasi dan kreatifltas antar

karyawan dalam sebuah organisasi atau perusahaan (Hen Aryanto, 2013,

hlm.1)v

Evolusi gerakan Total Quality Management (TQM) semula berasal dari Amerika Serikat,

kemudian lebih banyak dikembangkan di Jepang dan kemudian berkembang ke Amenka Utara

dan Empa. Jadi TQM mengintegrasikan ketrampilan tekhnikal dan analisis dari Amerika,

keahlian dan pengorganisasian Jepang, serta tradisi keahlian dan integritas dari Empa dan Asia

Landasan TQM adalan stastical process control (SPC) yang merupakan model manajemen

manufactur, yang penama—tama dikenalkan oleh Edward Deming dan Joseph Juran dinamakan

TQM oleh US Navy pada tahun 1985. Kita ketahui bahwa TQM terus sesudah perang dunia ll

guna membantu bangsa Jepang membangun kembali infrastruktur negaranya. "Ajaran" Deming

dan Juran itu berkembang terus hingga kemudian mengalami evolusi menjadi semakin matang

dan mengaiami diversifikasi untuk aplikasi di bidang

manufaktur, industri jasa, kesehatan. dan dewasa ini di bidang pendidikan, Zainal Benian (2013)

dalam pemaparannya menyatakan bahwa ”dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia TQM

di adopsi dengan istilah "MBS" Manajemen Berbasis Sekolah" 1[2]‘

Penerapan TQM dalam institusi pendidikan merupakan hal yang baik. Secara filosofi

konsep TQM menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap perbaikan berkelanjutan

namun demikian mengingat bahwa TQM awalnya adalah manajemen yang berbasis pada dunia
perusahaan maka dalam implementasinya di dunia pendidikan memerlukan penyesuaian—

penyesuaian dan penjelasan, terutama dalam hal istilah.

5. Prespektif Pendidikan

a. Defenisi

Kepemimpinan mempakan sebuan fenomena universal, ia merupakan salah satu fungsi

manajemen yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi.kepemimpinan menurut

Tannenbaum, Wesler dan Massarik dalam wahjosumidjo (2002:17) adalah kemampuan seseorang

daiam mempengaruhi yang lain dengan sengaja dalam suatu situasi melalui proses komunikasi,

untuk mencapai tujuan atau tujuan-tujuan tertentu. Dan masih banyak lagi konsep kepemimpinan

menurut para tokoh, sebagaimana telah diuraikan diatas.

Namun dalam perspektif TQM, definisi kepemimpinan yang diberikan oleh Soetsch den

Davis (1994) adaiah kepemimpinan merupakan kemampuan untuk membangkitkan semangat

orang lain agar bersedia dan memiliki tanggung jawab total terhadap usaha mencapai atau

melampaui tujuan organisasi ( Fandy tciptono & Anastasia Diana, 2001; hlm.152).

Sehingga kepemimpinan didasarkan pada filosofi bahwa perbaikan metode dan proses

kerja secara berkesinambungan akan dapat memperbaiki kualitas, Daya. produktifitas, dan pada

gilirannya juga meningkatkan daya saing. Filosofi ini pertama kali dikemukakan oleh Deming

yang menyatakan bahwa setiap perbaikan metode dan proses kerja akan memberikan rangkaian

hasil sebagai berikut: [a] perbaikan kualitas, [b] penurunan biaya, [c] peningkatan

produktifitas,[d] penurunan harga, [e] peningkatan pangsa pasar, [f] Iapangan kerja yang lebih

luas ( Fandy Tciptono & Anastasia Diana. 2001; hlm.157).

Kepemimpinan adalah bentuk dari persuasi seni (art) pembinaan kelompok- kelompok

orang-orang tertentu biasanya melalui human relation dan motivasi yang tepat, Implementasi teori
kepemimpinan biasanya amat sangat tergantung pada karakter seorang pemimpin. Meskipun teori

yang digunakan sama, dalam implementasinya bisa dipastikan terdapat hal-hal yang membedakan

dan itulah bagian dari seni kepemimpinan (Fanah, 2004 hlm.25).

Penentu mutu dalam sebuah institusi adaiah kepemimpinan, Gaya Kepemimpinan tertentu

dapat mengantarkan institusi atau organisasi pada revolusi mutu, yaitu dengan gaya mangement

by waiking about atau manajemen dengan melaksanakan yang menekankan pentingnya kehadiran

pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka tarhadap karyawan dan proses institusi.gaya

kepemimpinan ini mementingkan komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak—pihak

lain sert berbaur dengan para staf dan pelanggan (Sallis,2008 hlm70)

Seorang pemimpin mutu didefinisikan sebagai orang yang mengukur keberhasilannya

dengan keberhasilan individu—individu di daiam organisasi.ketertiban semua unsur manajemen

dalam organisasi dalam mencapai tujuan secara bersama—sama. merupakan upaya yang

dilakukan, sehingga tidak ada seorang pun anggota dalam organisasi yang tidak sukses dalam

menjalankan fungsi dan tugasnya. Pemberdayaan yang maksimal, bukan eksploitasi bawahan,

sehingga masing-masing menjalankan fungsi dan tugasnya secara suka rela dan kesadaran yang

tinggi akan tanggung jawabnya (Arcaro, 2005 hlm 18)

Kepemimpinan yang efektif dalam suatu organisasi adaiah kepemimpinan Administratif,

yang berkenaan dengan upaya msnggerakkan orang lain supaya melaksanakan tugasnya secara

ter‘koordinasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan administratif

berdasarkan perencanaan yang rasional, bukan berdasarkan intuisi, bertindak berdasarkan

pemahaman terhadap masalah-masalah internal den ekstemai organisasi. Kepemimpinan

berdasarkan pada kesadaran diri dan menyadarkan individu-individu Iainnya terhadap tujuan

organisasi (Oemar Hamalik 1993, hlm.32).


Kepemimpinan mutu di dalam dunia pendidikan otoritas dan kekuasaan sudah tidak Iagi

digunakani Komiie sekoiah, administrator dan pemimpin harus memberikan sumber daya yang

diperiukan para staf dan guru untuk menunjang keberhasilan, Kendati otoritas dan kekuasaan

sudah tidak di pakai iagi. Namun komite sekolah. pemimpin dan administrator tetap memiliki

kewenangan membuat keputusan yang mencarminkan kepeduiian, pendapat dan sikap seluruh

staf dan customer.

Dalam kepemimpinan mutu pendidikan, setiap orang merupakan pemimpin.Untuk

mencapai visi pendidikan, pemimpin sekolah harus dapat memberdayakan para guru dan

memberi mereka wewenang seluas-Iuasnya untuk meningkatkan pembelajaran. Mereka diben‘

keleluasaan dan otonomi dalam bertindak (Sallis, 2008 hlm,174). Guru harus mengajak siswanya

untuk memandang dirinya sebagai pemilik visi, mendengarkan dan benindak berdasarkan

gagasan, inofasi dan kreatifitas siswa guna mencapai visi tersebut Sebagai pemimpin mutu, semua

orang benanggung jawab menghilangkan kendala pencapaian kinerja tinggi. Visi sebagai pemberi

arah bagi setiap orang untuk diikuti, dan setelah arahan diketahui, selanjutnya adalah

menghilangkan rintangan yang menghalangi dirinya untuk menjadi seseorang yang berkinerja

tinggi (Arcaro, 2005 hlm.20).

Joseph M Juran dalam Fandy Tciptono & Anastasia Diana, (2001: hlm.160) menyatakan

bahwa kepemimpinan yang mengarah kepada kualitas meliputi tiga fungsi manajerial. yaitu :

1) Perencanaan kualitas; fungsi ini meliputi langkah-Iangkah: identifikasi pelanggan,

identifikasi kebutuhan pelanggan, mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan

pelanggan, mengembangkan metode dan proses kerja untuk menghasilakan produk


yang memenuhi atau melampaui harapan pelanggan, dan mengubah hasil perencanaan

ke dalam tindakan nyata‘

2) Pengendalian kualiias; Iangkah—Iangkah dalam fungsi ini adalah: evaluasi kinerja

aktual, membandingkan kinerja aktual dengan tujuan, dan melakukan tindakan

perbaikan untuk mengatasi perbedaan kinerja yang ada.

3) Perbaikan kualitas; langkah—langkahnya: membenruk infrastruktur untuk perbaikan

kualitas secara berkesinambungan. identifikasi proses atau metode yang

membutuhkan perbaikan. membentuk tim yang bertanggung jawab atas proyek

perbaikan tenentu, dan menyediakan sumber daya dan pelatihan yang dibutuhkan tim

perbaikan tarsebut agar dapat mendiagnosis masalah dan mengidentifikasi

penyebabnya. menemukan pemecahannya. dan meiakukan perbaikan terhadap

masalah tersebut.

Kepemimpinan pendidikan mutu dalam memiliki peran yang sangat panting dalam

kaitannya dengan pemberdayaan guru dan para staff untuk bekerja sama dalarn satu timm yang

solid. Dengan demikian seorang pemimpin pendidikan mutu harus memiliki kriteria sebagai

berikut:

1) Melibatkan para guru dan seluruh staff dalam aktivitas penyelesaian masalah, dengan

menggunakan metode ilmiah, pn'nsip-prinsip mutu dan kontrol proses.

2) Meminta pendapat mereka tentang berbagai hal dan tentang bagaimana menjalankan

tugas dan tidak sekedar menyampaikan bagaimana seharusnya bersikap


3) Menyampaikan sebanyak mungkin informasi manajemen untuk membantu

pengembangan dan meningkatkan komitmen mereka

4) Menanyakan pendapat Staff tentang sistem dan prosedur mana saja yang menghalangi

mereka dalam menyampaikan mutu kepada pelanggan (pelajar. orang tua maupun

partner kerja).

5) Memahami bahwa keinginan untuk meningkatkan mutu tidak sesuai dengan

manajemen dari ates ke bawah (top—down).

6) Memindahkan tanggung jawab dan kontrol pengembangan tenaga profesional Iangsung

pada guru dan pekerja teknis.

7) Mengimplementasikan komunikasi yang sistematis dan kontinyu diantara setiap orang

yang tenibat dalam sekolah.

8) Mengembangkan kamampuan pemeaahan masalah serta negoisasi dalam rangka

menyelesaikan konflik1

9) Memiliki sikap membantu tanpa harus mengetahui semua jawaban bagi setiap masalah

dan tanpa merasa rendah diri.

10) Menyediakan maten‘ pembeiajaran konsep mutu Seperti membangun tim, manajemen

proses, Iayanan pelanggan. komunikasi sena kepemimpinan.

11) Memberikan teladan yang baik.

12) Belajar berperan sebagai pelatih, bukan sebagai BOS.

13) Memberikan otonomi dan berani mengambil resiko.

14) Memben'kan perhatian yang berimbang dalam menyediakan mutu bagi pelanggan

internal dan ekstemal.


b. Peran Pemimpin Pendidikan Mutu.

Komitmen terhadap mutu hams menjadi peran utama bagi pemimpin pendidikan mutu.

Menurut peters dan Austin sebagaimana dikutip Sallis (2008 hlm. 170), pemimpin pendidikan

mutu harus memiliki perspektif dibawah ini:

1) Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai insmusi kepada para staf. pelajar

dan komunitas yang lebih luas. Manajer harus memberi arahan.visi dan inspirasi.

Mentalitas yang menganggap dirinya bus hams dirubah menjadi pendukung dan

pemimpin staf.

2) Dekat dan untuk pelanggan pendidikan, yakni pelajar. Hal ini menoerminkan bahwa

institusi memiliki focus yang jelas terhada pelanggan utamanya.

3) Pemimpin harus melakukan inovasi diantara stafnya dan bersiap mengantisipasi

kegagalan yang men'mangi inovasi tersebut,

4) Menciptakan rasa kekeluargaan

5) Memiliki sifat-sifat personal yang dibutuhkan, yaitu ketulusan, kesabaran, semangat,

intensitas, dan antusiasme.

Pemimpin pendidikan mutu memiliki fungsi utama dalam manajemen mutu

di sekolah, diantara fungsi utama tersebut adalah sebagai berikut:1)

1) Penjaga visi mutu terpadu bagi institusi

2) Motivator bagi seluruh struktur organisasi disekolah untuk berkomitmen terhadap proses

peningkatan mutu, Komitrnen memenukan antusiasme dan tak henti terhadap

pemberdayaan mutu, selalu menghendaki kemajuan dengan metode dan cara yang baru

(Spanbauer dalam Sallis. 20082175).

3) Mengkomunikasikan pesan mutu


4) Memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek intitusi.

5) Mengarahkan perkembangan karyawan.

6) Memimpin inovasi dalam institusi.

7) Mampu memastikan bahwa stmktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggung

jawab dan mampu memersiapkan delegasi yang tepat.

8) Memiliki komitmen untuk menghilangkan n'ntangan. baik organisasional maupun

Kultural.

9) Membangun tim yang efektif.

10) Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawali dan mengevaluasi kesuksesan

(Sallis, 2008:173—174).

6. prespektif Politik

Dalam melakukan kajian terkait dengan kepemimpinan, perlu adanya pembedaan yang

signlfikan antara kepemimpinan yang bersifat struktural atau administratif, dengan

kepemimpinan yang lebih mengarah pada kepemimpinan politik. Olah Karena itu perlu

ditegaskan kembali dalam penelitian ini bahwa selain harus memahami pengertlan tenlang

kepemimpinan, harus dipahami pula pengertian tentang kepemimpinan politik.

Pada dasarnya kepemimpinan menjadi bagian dan‘ kekuasaan, tetapi tidak sebaliknya,

mirip dengan kekuasaan, kepemimpinan rnerupakan suatu hubungan antara pihak yang

memiliki pengaruh dan orang yang dipengaruhi, dan juga merupakan kemampuan

menggunakan sumber pengaruh secara efektif. Berbeda dengan kekuasaan yang terdlri atas

banyak jenis sumber pangaruh, kepemimpinan lebih menekankan pada kemampuan

menggunakan persuasi untuk mempengaruhi pengikut Selain itu, tidak seperti kekuasaan yang
belum tentu menggunakan pengaruh untuk kepentlngan bersama pemlmpin maupun para

pengikutnya.

Oleh karena itu, kepemimpinan politik juga berbeda dengan elit politik, karena

seperti yang dikemukakan oleh Pareto dalam (Surbakti, 1134:1990). elit ialah orang- orang

yang memiliki nilai-nllai yang paling dinilai tinggi dalam masyarakat. Seperti prestise.

keyakinan, ataupun kewenangan, memiliki kekuasaan politik berbeda dengan memiliki

kepemimpinan politik, karena dua hal, yaitu jenis sumber pengaruh yang digunakan dan

tujuan penggunaan pengaruh.

Sebutan polltik dalam kepemimplnan politik menunjukkan kepemimpinan

berlangsung dalam suprastruktur politik (lembaga-Iembaga pemerintahan). Dan yang

berlangsung dalam infrastruktur politik (partai politik dan organisasi kemasyrakatan). Oleh

karena itu, pemimpin politik juga berbeda dengan kepala suatu instansi organisasi karena

yang terakhir ini Iebih menggunakan kewenangan dalam mempengaruhl bawahannya, Tidak

seperti kepala suatu instansl yang cenderung menggunakan hubunganhubungan formal dan

impersonal dalam menggerakkan bawahannya, pemimpln polltik lebih menggunakan

hubungan-hubungan informal clan personal dalam menggerakkan pengikutnya untuk

mencapai tujuan tertentu.

Akan tetapi, orang yang secara formal menjadi elit politik atau kepala suatu instansi

dapat saja memainkan peranan sebagai pemimpin politik kalau mernenuhi karakteristik

kepemlmpinan tersebul. Penyelenggara politik dan organisasi yang sukses biasanya orang

yang dapat menggunakan berbagai tipe penggunaan sumber pengaruh sesuai dengan konteks

dan jenis permasalahan.


Selain itu, kepemimpinan politikjuga dapat dipahami dalam tiga perspektif: 1)

kepemimpinan sebagai pola perilaku. 2) Kepemimpinan sebagai kualitas personal. 3)

Kepemimpinan sebagai nilai politik. Sebagai pola perilaku, kepemimpinan terkait sekali

dengan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dalam mengupayakan tujuan yang

diharapkan.

Kepemimimpinan politik dituntut untuk mampu mempenahankan konstituen politik

dengan baik, bahkan mampu memunculkan dukungan-dukungan politik yang signifikan,

mampu mengelola potensi konflik yang ada dengan baik dan efektif, mampu memotivasi

anak buah dan konstituennya dengan baik, sehingga senantiasa optimis dan mampu bangkit

dan‘ keterpurukan‘ Di samping itu, ia juga dituntut untuk mampu bemosialisasi dan

berkomunikasi dengan segmen manapun, mampu memberi contoh dan mendorong suatu

proses pendidikan dan pencerahan politik, mampu menghadirkan proses sirkulasi elite di

dalam organisasi secara sehat. dan mampu mendudukkan orang—orangnya di posisi~posisi

strategis dalam organisasi yang dipimpinnya‘ Kepemimpinan politik juga harus selaras

dengan nilai-nilai demokrasi yang substansial. Seorang pemimpin politik harus paham

benar etika politik, sehingga proses dan dinamika politik berjalan secara beradab.

a. Model Kepemimpinan Politik

Sekurangnya terdapat 4 model kepemimpinan politik, yaitu: (1) Negarawan, (2)

Demagog, (3) Politisi Biasa, dan (4) Citizen—Leader‘ [1] Negarawan adalah seorang

pemimpin politik yang memiliki visi, karisma pribadi, kebijaksanaan praktis, dan kepedulian

terhadap kepentingan umum yang kepemimpinannya itu bermanfaat bagi masyarakat dalam

organisasinya. Demagog adalah seseorang yang menggunakan keahliannya memimpin untuk


memeroleh jabatan dengan cara menarik rasa takut dan prasangka umum untuk kemudian

menyalahgunakan kekuasaan yang ia peroleh tersebut demi keuntungan pribadi.

Politisi adalah seorang pemegang jabatan yang siap untuk mengorbankan prinsip—

prinsip yang dimiliki sebe|umnya atau mengesampingkan kebijakan yang tidak popular agar

dapat dipilih kembali. Citizen-Leader Seseorang yang mempengaruhi kekuasaan secara

meyakinkan maskipun ia tidak memegang jabatan resmi dalam suatu organisasi.

b. Karakteristik Model Kepemimpinan Politik

1) Karakteristik Negarawan adalah:

- Mengejar kebaikan umum, Pemimpin terbaik termotivasi bukan oleh kepentingan

diri sendiri yang kasar melainkan oleh kebaikan umum.

- Kebijaksaan yang praktis. Visi kebaikan pubtik, semenarik apapun tidak akan

berguna tanpa orang yang punya visi nersebut tidak tahu bagaimana cara

mencapainya. Sebab itu, pemimpin yang baik hams memiliki kebijaksaan yang

praktis, dengan mana lewat kebijaksanaan itu, pemimpin bisa memahami hubungan

antara tindakan yang diambil dengan konsekuensi-konsekuensinya.

- Keahlian politik. Pemirnpin yang baik sekaligus pula seseorang yang punya bakat

dalam menilai dan melakukan pendelegasian wewenang. Dalam memimpin negara.

pemimpin harus menjalankan birokrasi raksasa, mengarahkan para staf, bekerja

sama dengan para legislator demi meloloskan program pemerinrahan, dan

menggalang opini public sehubungan dengan kebijakan administrasi. Tanpa

keahlian politik yang menyukupi, mustahil tugas—tugas beret sepeni ini dapat

berjalan secara baik.


- Kesempatan luar biasa. Negarawan lahir dari suatu kondisi kritis. Ketika suatu

negara berada dalam pusaran kejenuhan. kebosanan, stagnasi, disorientsi. atau

perang, dari sinilah negarawan umumnya lahir.

- Nasib baik. Terkadang, seorang negarawan lahir karena nasib baik. Kadang pula

disebutkan, bahwa ia dianugerahi berkah oleh Yang Maha kuasa untuk memikul

beban organisasi yang dipimpinnya.

2) Karakteristik Demagag adalah:

Ia mengeksploitasi prasangka publik. Sebagai seorang tokoh, demagog sangat

sensitif akan prasangka-prasangka sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Ia

kemudian memerankan din‘ sebagai berdiri di sisi masyarakat sehubungan dengan

prasangka yang muncul. Peran tersebut dibarengi dengan rangkaian janji bahwa ia akan

memas’n'kan bahwa prasangka tersebut akan ditanggulangi apabila ia menduduki jabatan

politik.

- Kerap me|akukan distorsi atas kebenaran. Kebenaran adalah tidak lebih dari

komoditas politik. Apabila kebenaran tersebut tidak sejalan dengan prakteknya untuk

menggapai kekuasaan, ia akan mendistorsinya. Distorsi tersebut sebagian besar

diperkuat dengan aneka fakta "kuat” yang ia susun sehingga distorsi tersebut masuk

akall Dengan kata Iain, ia membuat "babad" yaitu rangkaian oerita histons yang

menguatkan posislnya di alas kebenaran yang ada.

- Mengumbar janji—janji manis untuk memeroleh kuasa politik. Terlebih,apabila janji

tersebut cukup populissekali lagi, bagi seorang demagog, janji adalah komoditas

polilik yang akan digunakannya sebagai instrument kampanye guna meneguhkan

posisinya dibanding para kompetitomya yang lain.


- Tidak canggung menggunakan matode yang dinilai kurang bermoral. Hal ini terkait

dengan karaktenstikvkarakteristik sebelumnyal Masalah moral bukan masalah yang

harus dipriorilaskan. Moral bergantung pada tujuan. dan moral dalam diri seorang

demagog adalah sltuasi di mana keinginannya unluk berkuasa terealisasi. Tidak ada

penilaian moral untuk metode yang la gunakan untk menyapai tujuan kekuasaan.

- Memiliki daya tarik yang besar terhadap masyarakat banyak. Seorang demagog

sekaligus adalah orang yang popular di mata publik. Aneka daya tarik bisa saja

dimiliki seorang demagog. Daya tarik inilah yang sesungguhnya membuat publik

memercayai seorang demagog. Publik tidak lagi kritis akan variabel ideosinkretik

yang melekat di dalam diri demagog. Publik hanya memercayai apa dan bagaimana

performance seorang demagog secara aktual.

- Jika negarawan secara tulus peduli akan keadilan dan kebalkan umum, maka

Demagog sekadar berpura-pura peduli dalam rangka memeroleh jabatan, yang begitu

ia mendapatkannya, tanpa ragu ia akan mengkhianatinya. Hal ini sesuai dengan

karakterlstik seorang demagog, bahwa ia hanya ingin berkuasal Setelah la berkuasa,

segala hal yang ia janjikan di masa-masa sebelumnya akan dinenegosiasi ulang.

3) Karakteristik Politisi biasa adalah:

Tidak punya visi dan bakat yang oemerlang. Seorang politlsi biasa tampak kurang

bersinar. la hanya berada di "sakeliling" tanpa pemah menjadi pusat pengambilan arah suatu

masyarakat. visi yang ia miliki tenampau umum, kurang gregetl “biasa”, dan terkesan asal ambill

Bakat yang ia miliki mungkin alami atau "karbitan", tetapi publik memandangnya sebagai

"datar". "umum", dan "kurang menarik."


- Hidup cuma day-today, dengan upaya untuk mengatasi tekanan dan hambatan yang

dialami dalam keseharian. Politisi biasa tidak hidup untuk Iong-term melainkan

short—tenn‘ la hanya dipusingkan urusan bagaimana agar ia tetap bercokol di

lingkaran kekuasaan. Ia tidak tenalu pusing apabila disebut tidak meIakukan apa-apa

di dalam jabatannya. la baru merasa pusing apabila menghadapi kemungkinan akan

tidak dipakai kembali di masa mendatang.

- Kendati ingin berbuat sesuatu yang baik, mereka selalu kesulitan menjaga isu-isu

moral dan etika secara tegas. Politisi biasa janganlah diharapkan untuk bicara

masalah moral ataupun etika. Masalah moral dan etika bukanlah prioritas di dalam

jabatannya. Kempkali memang, pofitisi biasa ingin berbuat sesuatu yang baik.

Namun. kerap pula keinginan tersebut dibatasi oleh keinginannya untuk

menyenangkan seluruh pihak. la ingin diterima oleh semua pihak dan moral sena

etika kerap menjadi korban dari kehendaknya tersebut.

- Mereka sulit mengatasi risiko politik. Karena itulah. mereka memosisikan diri

mereka di titik amen. Ia berusaha netral bahkan di saat ia ada dalam posisi tenepit

untuk memilih. Pilihan barulah ia buat apabila ada keyakinan bahwa pilihan tersehut

membawanya ke titik aman Iainnya‘ Bagi politisi biasa, perjuangan untuk tetap di

pusaran kekuasaan adalah lebih panting ketimbang ia menunjukkan posisi din'nya

yang asli.

- Kendati mereka ini umumnya tidak korup, tetapi sesungguhnya mereka mudah sekali

untuk disuap. Karena mereka enggan menanggulangi risiko politik, mereka

menerapkan image tidak korup. Dan, ketidakkorupan ini bukanlah sesuatu yang

mutlak kita tidak harus percaya. Sayangnya. mereka justru membuka din' untuk
disuap. Kesediaan disuap ini tegas dilatarbelakangi oleh kehendak mereka untuk

menyari aman‘ Toh. Bukan saya yang memima tetapi mereka.

- Mereka ini tidak lebih baik atau Iebih buruk dan’ manusia Iainnya‘ Bedanya, mereka

punya posisi untuk melakukan haI-hal buruk (ataupun baik) dengan dampak lebih

besar. Secara umum, mereka su|it dibedakan dengan warganegara Iain pada

umumnya‘ Mereka tenampau biasa, sehingga perilaku yang mereka tunjukkan di

layar kaca atau media massa sama persis dengan pen'laku kita, keluarga kite, ataupun

teman kila. Bedanya,kita. keluarga kita, ataupun teman kita tidak punya kuasa untuk

membuat kebijakan umum. Para politisi biasa inl blsa.

4) Karakteristik Citizen-Leader adalah:

- Punya pengabdian unik alas masyarakat. Mereka ini, dalam waktu lama, aktif

memimpin suatu segmen dalam masyarakat dalam memerjuangkan keyakinan dan

posisi mereka di dalam kepolilikan suatu negara. Mereka nyaris tidak lagi memiliki

kehidupan pn'vasi karana hampir di setiap saat, mereka hams bergerak, baken‘a. dan

mengatasi permasalahan segmen masyarakat yang mereka wakill. Mereka inilah

yang kerap berhadapan dengan kuasa-kuasa formal, bersitegang, dan menerima

sanksi atas keyakinan pengabdiannya. Sulit untuk meminta sesuatu yang sifatnya

formalitas pada mereka karena kuasa negara yang formal itu pun dalam anggapan

mereka sudah bersifat informal.

- Punya magnet personal di dalam dirinya. Seorang citizen-leader diyakini memiliki

daya tan‘k yang luar biasa di dalam diri mereka. Magnet inilah yang membuat para

pengikutnya bahkan rela memberlkan loyalitaas mereka kepada dirinya Daya tarlk
ini dapat merupakan perpaduan unik antara berkah dari Yang Mahakuasa dengan

bakat-bakal kepimpimpinan yang ia mliki.

- Keberaniannya di atas rata-rata, sehingga menan‘k orang-orang untuk menjadi

pengikutnya, Dare to be different adalah pasti kualitas yang ada di dalam din' seorang

citizen-leader, Keberanian yang la mlliki jauh di atas rata-rata orang di sekelilingnya.

Keberanian yang ia miliki menular kepada para pengikutnya sehingga perjuangan

yang ia bawakan memiliki stamina cukup untuk durasi panjang.

7. Prespektif Agama Islam

a. Defenisi

Semenmra itu dilihat dari sudut pandang agama (Islam), istilah kepemimpinan berasal

dari kava ‘pemimpin‘, artinya orang yang berada di depan dan memiliki pengikut, terlepas dari

persoalan apakah orang yang menjadi pemimpin itu menyesatkan atau tidakl Dalam konteks

Islam, setidaknya ada dua konsep penting yang berkaiian dengan kepemimpinan. yaitu imamah

dan khilafah. Masing-masing kelompok Islam memiliki pendefinisian berbeda tentang kedua

konsep itu, meskipun ada juga yang menyamakannya.

Kaum Sunni menyamakan pengenian khilafah dan imamah. Dengan perkataan Iain,

imamah disebmjuga sebagai khilafah, Bagi kaum Sunni, orang yang menjadi khilafah adalah

penguasa Iertinggi yang menggantikan Rasulullah SAW. Oleh karena itu khilafah juga disebut

sebagai imam (pemimpin) yang wajib ditaati (As-Salus. 1997: 16).

Sebaliknya, kaum Syiah membedakan pengenian khilafah dan imamah. Hal ini dapat

dilihat dalam sejarah kapemimpinan Islam setelah Rasulullah SAW wafat. Kaum Syiah

bersepakat bahwa pengenian imam dan khilafah itu sama ketika Ali bin Abi Thalib diangkat
menjadi pemimpin. Namun sebelum Ali bin Abu Thalib menjadi pemimpin, mereka membedakan

pengertian antara imam dan khilafah. Abu Bakar, Umar bin Khatlab, dan Ustman adalah khalifah

namun mereka bukanlah imam (Amini, 205: 18)‘ Dalam pandangan kaum Syiah, sikap seorang

imam haruslah mulia sehingga menjadi panuian para pengikutnyal lmamah didefinisikan sebagai

kepemimpinan masyarakat umum. yakni seseorang yang mengurus persoalan agama dan dunia

sebagai wakil dari Rasulullah SAW, Rasulullah SAW yang menjaga agama dan kemuliaan umat

wajib dipatuhi dan diikuti‘ Imam mengandung makna Iebih sakral dan'pada khalifah‘ Secara

implisit kaum Syiah menganut pandangan bahwa khalifah hanya mencakup ranah jabatan politik,

tidak melingkupi ranah spiritual- keagamaan; sedangkan imamah meliputi seluruh ranah

kehidupan manusia baik itu agama maupun politik.

Seperti halnya kaum Sunni dan Syiah, kalangan Islam sekular memiliki pandangan sendiri

tentang kepemimpinan. Konsep kepemimpinan kelompok Islam sekular dalam hal ini cenderung

mengacu pada kepemimpinan model Barat

Meskipun kelompok Sunni, Syiah, dan Islam sekular mempunyai sudut pandang yang

berbeda mengenai kepemimpinan, ketiganya menunjukkan kesepahaman bahwa suatu

masyarakat haruslah memiliki seseorang pemimpin. Setiap masyarakat dengan demikian tidak

mungkin dapat dipisahkan dari masalah kepemimpinan.

b. Model Kepemimplnan

Dalam era pascamoderen yang mengagungkan multikulturalisme sebagai pandangan

hidup. etika kedaifan identik dengan menghargai orang Iain (Iiyan) atau menganggap diri sebagai

sosok yang lemah dan membutuhkan keberadaan orang lain dalam menjalani kehidupan bersama

yang semakin berat. Kehidupan dalam eflka kedaifan, menurut Goenawan Muhammad

sebagaimana disitir oleh Triyanto Tiwikromo, same halnya dengan tidak manganggap orang lain
seperti yang dikatakan oleh Same yaitu sebagai neraka. Semangat multikulturalisme dan

demokrasi menempatkan rakyat sebagai sahabat, kanca, untuk mencapai masyarakat yang aman

dan sejahtera (Tiiwikromo, 2008: 4)

Dalam pandangan islam, seorang pemimpin harus mempunyai kualitas spiritual, terbebas

dari segala dosa, memiliki kemampuan sesuai dengan realitas, tidak terjebak pads dan menjauhi

kenikmatan dunia, dan harus memiliki sifat adil. Adi! dalam hal ini dapat dipahami sebagai eara

menempatkan sesuatu pada tempatnya yang Iayak. Penerapan sifat keadilan oleh seorang

pemimpin dapat dilihat dan‘ bagaimana caranya mendistn’busikan sumberdaya politik. ekonomi,

sosial, dan budaya kepada rakyatnya.

Melihat kemajemukan masyarakat Indonesia, make tantangannya adalah bagaimana cara

mengembangkan pluralisme dalam konteks membangun kepemimpinan dan kedaulatan bangsa.

Fungsi kepemimpinan adalah sebagai ulil amri dan khadimul ummah. artinya amanah jabatan dan

kekuasaan harus digunakan sesuai dengan tuntutan Allah dan RasuI—Nya. beliaku adil. Dan

melindungi kepen’a'ngan masyarakat.

Dengan demikian, meskipun Islam adalah agama mayoritas, jangan sampai kepentingan

umat Islam mengakibatkan negara Iebih banyak melayani kepentingan segelintir orang yang

mengusai aparatur negara. Sementara mereka yang bemsaha menyuarakan ide-ide demokrasi,

pluralisme, dan perlindungan hak—hak asasi manusia cenderung dituding tidak memiliki

nasionalisme.

Menurut Abdurrahaman Wahid (1988), terdapat lima jaminan dasar dalam menampilkan

universalisme Islam, baik pada perorangan atau kelompok, Kelima jaminan dasar yang dimaksud

meliputi keselamatan fisik masyarakat dan tindakan badani di luar ketentuan hukum, kmlamatan
keluarga dan keturunan, keselamatan harm benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum, dan

keselamatan profesi.

Dalam pandangan Abdurahman Wahid, kelimajaminan dasar umat manusia akan sulit

diwujudkan lanpa adanya kosmopolitanisme peradaban Islam. Kosmopolilanlsme peredaban

Islam hams menghilangkan batasan etnis, pluralisme budaya. dan heterogenitas politik. Hal inI

akan tereapal apabila terjadi keseimbangan anlara kecenderungan normatif kaum muslimin dan

kebebasan berpikir semua masyarakat termasuk kalangan nonmuslim. Oleh karena itu. rahmatan

lil alamin hams dibuktikan dalam wujud kehidupan bermasyarakat dan berbangsa serta

bernegana. Di samping itu, kosmopolilanisme Islam mengacu pada modemisasi religiusllas,

am'nya harus berlandaskan pada keagamaan dan pembebasan masyarakat untuk melakukan amar

ma’ruf nahi mungkar. Hal ini berartik bahwa konsistensi terhadap demokrasi dan hak asasi

manusia mutlak diperlukan, Lebih Ianjul dinyalakan bahwa dalam universalisme Islam terdapat

beberapa hal yaitu toleransi, keterbukaan sikap, kepedullan terhadap unsur- unsur utama

kemanuslaan, dan perhallan dengan kearifan akan keterbelakangan dan kebodohan sens

kemiskinan (Wahid, 1986).

Universalisme Islam juga berani kesalehan sosial (Munir, 2005). Meskipun demikian.

dalam konteks yang demikian bukan berani bahwa negara Islam maupun kepemimpinan Islam

adalah yang ideal. Universalisme Islam dan pluralisme Ieblh tepat dlpahami sebagai ruh dalam

konteks membangun kepemimpinan nasional. Bagi bangsa Indonesia, syarial tidak harus menjadi

fondamen dan jiwa dan’ agama dan Negara.

Perlu diperhatikan pula bahwa multikulturalitas bangsa Indonesia dapat bemakna ganda,

ibarat dua sisi mate pedang. Di situ sisi multikulturalitas itu merupakan modal sosial yang dapat

menghasilkan energi positif dan memperkaya kultur bangsa, namun di slsi sebaliknya juga dapat
menjadi energy negatif berupa ledakan destruktlf yang setiap saat dapat menghancurkan struktur

dan pilar—pilar bangsa. Masalah yang krusial adalah bagaimana cara mengatasi dan mencan'

solusi atas perpecahan yang teljadi akibat keanekaragaman itu tidak bisa dikelola dengan

kebijakan politik yang demokratis dan egaliter termasuk di dalamnya pola-pola kepemlmpinan.

Apabila ditangani dengan baik, keanekaragaman itu justru marupakan aset dan kekayaan bangsa.

Oleh karenanya, penting dibangun hubungan Intersubjektif yang mampu melahirkan

keikhlasan yang didasarkan pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran. Keikhlasan merupakan

peleburan ambisi prlbadi ke dalam pelayaran kepentingan seluruh bangsa. Harus ada konsensus

antar pemimpin dan ketundukan pada keputusan yang dimmuskan sang pemimpin. Untuk

mencapai hal itu ada dua prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu kejujuran sikap dan umpan yang

disenai dengan sikap mengalah unluk kepentingan bersama (Wahid. 2006).

Shihab (1996) menjelaskan bahwa Islam menyebutkan kepemimpinan dengan berbagai

istilah alau nama, diantaranya iamamah, ri‘ayah, imarah, dan wilayah, yang semuanya Ilu pada

hakikatnya adalah amanah (tanggung jawab). Nabi S.A.W bersabda: “Apabila amanat

disiaslakan, maka nantikanlah kehancurannya: ketika dilanya 'Bagaimana menyia-nyiakannya?“

Beliau menjawab ‘apabila wewanang pengelolaan (kepemimpinan) diserahkan kepada orang

yang tidak mampu.”

Kepemimpinan didalam Islam adalah suatu hal yang inheren, serta merupakan salah satu

sub sistem dalam sistem Islam yang mencakup pengaturan seluruh aspek kehidupan secara

prinsip. Islam mengatur niatamal- tujuan sekaligus sumber kehldupan. otak manusla, kemudian

mengatur proses hidup, perilaku, dan tujuan hidup. Dalam Islam seorang pemimpin dan yang

dipimpin harus mempunyal kaberanian untuk menegakkan kebenaran yang dilaksanakan melalui
prinsip kepemimplnan, yaiutu melaksanakan kewajiban kepemimpinan dengan penuh Ianggung

jawab seorang pemimpin dan melaksanakan hak berpartisipasi bagl yang dipimpln (Faisal, 1995).

Sejak dini, hendaknya setiap manusia selalu menanamkan kayakinan bahwa dirinya

terlahir sebagai pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah: “setiap pribadi adalah pemimpin dan

kelak akan dipeltanyakan tentang kepemimpinannya.(HR. Muslim)

Pada prinsipnya menurut islam satiap orang adalah pemimpin ini sejalan dengan fungsi

dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk senantiasa

mengabdi dan beribadah kepada-Nya

sebagaimana tercantum dalam surah AI-baqarah: 30

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhan mu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak

menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak

menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan

menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan

Engkau Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Tasmara (2002) menyamkan bahwa memimpin bukan hanya mempengaruhi agar orang

lain mengikuti apa yang diinginkannya‘ Bagi seorang muslim, memimpin berarti memberikan

arah atau visi berdasarkan nilai-nilai ruhaniah. Mereka menampilkan diri sebagai teladan dan

memberikan inspirasi bagi bawahannya untuk melaksanakan tugas sebagai keterpanggilan ilahi
sehingga mereka memimpin berdasarkan visi atau mampu melihat ke masa depan (visionary

leadership) Kepemimpinan juga berarti sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dirinya sendiri

dan orang Iain melalui keteladanan, nilai-nilai, serta prinsip yang akan membawa kebahagiaan

dunia dan akhirat (Principle centered leadership).

C. Dasar Kepemimpinan dalam Islam

1. Q.S Al-Baqarah : 30

Artinya :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfin'nan kepada para Malaikat: ”Sasungguhnya Aku hendak

menjadikan searang khalifah di muka bumi. " Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak

menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kelusakan padanya dan

menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan

Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. ”

2 Hadits tentang kepemimpinan

"setiap pribadi ads/ah pemimpin dan kelak akan dipertanyakan tentang kepemimpinannya. ” (HR.

Muslim)

3. Hadits pemimpin adalah pengabdi


Rasulullah SAW bersabda: 'Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka” (HR. Abu

Na'im). Pemimpin adalah pelayan ummat, orang yang bertugas dan diamanahkan untuk

melaksanakan tugas-tugas dalam memimpin, membimbing dan mengajak umat kearah yang Iebih

baik dalam artian sama-sama membangun.

4. Hadits pemimpin adalah perisai

Dari Abi Hurairah RA, Rasuluilah SAW bersabda:"Sesungguhnya seorang pemimpin itu

merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang Sena befiindung dengannya. Bila ia

memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla Serta bertindak adil. maka ia akan

memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka akan mendapatkan

akibatnya".

5. Hadits wajibnya kepemimpinan

"Jika keluar tiga orang dalam satu perjalanan, make hendaklah salah seorang dan mereka menjadi

pemimpinnya." (HR. Abu Dawud dan Abu Sa'id dan Abu Hurairah).

D. Konsep Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan dalam Islam merupakan Sunnatullah / ketelapan Allah SWT, yang telah

menjadikan manusia sebagai pemimpin. Kepemimpinan telah terlebih dahulu diperkenalkan

dalam Islam jauh sebelum para ahli mengemukakannya. Kepemimplnan dalam Islam adalah

kepemimpinan yang didasarkan alas melode kenabian dalam rangka menciptakan kultur

masyarakat madani memperoleh Ridha illahi.

Kepemimpinan itu wajib ada, baik secara syar‘i walaupun secara "aqli. Adapun secara

syar‘i misalnya tersirat dan firman Allah tentang doa orang—orang yang selamat pada surah Al-

Furqan: 74
Aninya :

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami

dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang

yang bertakwa.

Demikian pula firman Allah dalam surah An-nisa‘ : 59

Artinya :

Hai orang-orang yang ben’man, taatilah Allah den taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri' di antara

kamu. Kemudian jika kamu bedainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah la kepada

Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar ben‘man kepada Allah dan hari

kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Di dalam konsep (manhaj) Islam, pemimpin merupakan hal yang sangat final dan

fundamental. la menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat Islam Dalam kehidupan

berjama‘ah, pemimpin ibarat kepala dari seluruh anggota tubuhnya Ia memillki peranan yang

strategis dalam pengaturan pola (minhai) dan gerakan (harakah) Kecakapannya dalam memimpin
akan mengarahkan ummatnya kepada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan

ummat dengan iringan ridho Allah. Pemimpin digambarkan sebagai seseorang yang rela

berkorban mengorabankan dirinya demi keberlangsungan umat dalam mencapai n'dho Allah

sepeni dalam surah AI- baqarah : 207

Artinya :

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah

dan Allah Maha Penyantun kepada hambahamba-Nya. Seorang pemimpin merupakan sebuah

perisai yang melindungi kaummnya, kedudukan seorang pemimpin sangatlah panting. Bahkan

digambarkan dalam sejarah Islam (Tarikh Islam) msngenai pentingnya kedudukan pemimpin

dalam kehidupan ummat muslim. Kita Iihat dalam sejarah. ketika Rasulullah saw wafat, maka

para shahabat segera mengadakan musyawaran untuk menentukan seorang knalifah. Hlngga

jenazah Rasulullahpun harus lenunda penguburanya selama tiga hari. Para shahabat ketika itu

lebih mementingkan terpilihnya pemimpln pengganti Rasulullah, karena kekhawatiran akan

terjadinya ikhlilaf (perpecahan) di kalangan ummat muslim kala itu. Hingga akhirnya terpilihlah

Abu Bakar sebagai khalifah yang panama setelah Rasulullah saw. wafat‘

E. Kriteria Pemimpin Menurut Islam

Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat panting, karenanya siapa saja yang menjadi

pemirnpln tidak boleh den jangan sampai menyalahgunakan kepemimpinannya untuk hal-hal

yang tidak benar. Karena itu, para pemlmpin dan orang-orang yang dlpimpin harus memahamii

hakikat kn'teria seorang pemimpin dalam pandangan Islam yang secara garls besar yaitu:
1) Beriman dan Beramal Shaleh

lni sudah pasti tentunya‘ tha hams memilih pemimpin orang yang ben'man, bertaqwa, selalu

menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa

kepada kehidupan yang damai,tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga

harus yang mangamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.

2) Niat yang Lurus

“Sesungguhnya setiap amal perbualan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang

(akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasuI-Nya‘

maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangslapa yang hijrahnya karena urusan dunia

yang ingin digapalnya alau karena seorang wanila yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai

dengan apa yang diniatkannya tersebut

Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan Allah

saja dan sesungguhnya kepemimplnan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan

kesempatan dan kemuliaan

3) Lakl-Laki

Dalam Al—qur‘an surat An nisaa' (4):34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari

kaum wanita, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpln bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah

melebihkan sebaglan mereka (laki-laki) atas sebaglan yang lain (perempuan), dan karena mereka

(laki-laki) telah menatkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah

yang ta‘at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak benaku sarong ataupun curang

serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah

memelihara " “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan)
mereka kepada seorang wanita,”(Hadits Riwayat AlBukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi

Bakrah dari ayahnya).

4) Tidak Meminta Jabatan

Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu"anhu, "Wahai Abdul

Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminla untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika

kepemimpinan diben'kan kepada kamu karena pennintaan, maka kamu akan memikul tanggung

jawab sendirian, danjika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan kalena permintaan,

maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.“ (Riwayat bukhari dan Muslim)

5) Berpegang pada Hukum Allah

Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin. Allah berfirman: ”Dan hendaklah kamu

memutuskan perkara diantara meleka menurut apa yang diturunkan Allah, danjanganlah kamu

mengikuli hawa nafsu mereka" (al-Maaidah:49).

6) Memutuskan Perkara Dengan Adil

Rasulullah bersabda"Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan damng

dengannya pada han‘ kiamat dengan kondisi terlekat entah la akan diselamatkan oleh keadilan,

atau akan dijeremuskan oleh kezhalimannya" (Riwayat Baihaql dari Abu Hurairah dalam kitab

AI-Kabir),

7) Menasehati rakyat

Rasulullah bersabda"Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia

tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk

surga bersama mereka (rakyatnya).”

8) Tidak Menerima Hadiah


Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud

tersembunyi, emah ingin mendekati atau mengambil hati.oleh karena itu, hendaklah seorang

pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah bersabda. " Pemberian hadiah

kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

9) Tegas

Ini merupakan slkap seorang pemimpin yang selalu di idamidamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan

berarti otoriter. tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan

salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan A|Iah, SWT dan rasulnya.

10) Lemah Lembut

Doa Rasulluflah: “Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku Ialu ia mempersulitnya,

maka persulitlah ia. dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku Ialu ia benemah lembut

kepada mereka, maka benemah lembutlah kepadanya"

8. Prespektif Multikultural

Hersey dan Blanchard (1993) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan akan sangat efektif apabila

mengakomodir budaya dan Iingkungan‘ Untuk itu ditawarkan konsep kepemimpinan multi-

kultur, yaitu kepemimpinan yang menggunakan perspektif multukuitural. Sacara makna multi—

kultur berani membandingkan atau menangani dua atau lebih budaya yang berbeda terkait dengan

berbagai budaya daerah. bangsa dan Iainnya. Di da|am kepemimpinan multi-kultur ini, lebih

ditujukan kepada budaya pemirnpin (yang mempengaruhi) yang berbeda dengan pengikutnya

(yang dipengaruhi). Maka kapemimpinan multi—kultur merupakan kemampuan seorang

pemimpin untuk mempengaruhi dan memotivasi anggota grupnya yang berbeda budaya dengan

sengaja dan tidak seimbang menuju sasaran yang diterapkan dengan mempertimbangkan

pengetahuan dan sistem makna dan' budaya yang berbeda didaiam grup, Atau dengan kata lain
adalah pernimpin yang mampu menyesuaikan dan menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai

dengan situasi, budaya dan kondisi lingkungan yang beragam.

Budaya secara tidak Iangsung berpengamh temadap pn‘laku kepemimpinan, Hal itu

dikemukakan oleh Bowditch dan Buono (3021990) dengan atasan bahwa sikap dan prilaku

seseorang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegangnya, dan nilai — ni|ai itu dipengaruhi oleh

budaya dan Iingkungan sosial. Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya perlu

menyadari bahwa setiap individu, walaupun berada dalam satu unit kerja yang same namun tetap

memiliki nilai-nilai yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena flu, agar proses

kepemimpinan dapat berjalan dengan efektif, maka setiap pemimpin hendaknya menerapkan gaya

kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi yang ada sehingga tidak menimbulkan masalah dan

konflik dengan bawahannya dan organisasinya.