Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I. BUDAYA MASYARAKAT LAHAN KERING

1. Pengertian Budaya dan Kebudayaan

Dalam kehidupan sehari-hari, dikenal istilah kebudayaan. Juga dalam kehidupan sehari-hari,
orang selalu berurusan dengana hasil-hasil kebudayaan. Kata budaya berasal dari bahasa
sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi dan daya. Buddhi
memiliki arti budi atau akal atau akal pikiran. Sedangkan “daya” mempunyai arti usaha atau
ikhtiar. Dalam bahasa Inggris, budaya dikenal dengan istilah “culture” atau budaya, yang
sebenarnya berasal dari kata latin “colere”, artinya mengolah atau mengerjakan tanah
(bertani). Melville J. Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang diturunkan dari
satu generasi ke generasi, yang disebut superorganik. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan
adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri dengan cara belajar.

Dikenal ada 2 (dua) istilah yaitu budaya lokal dan budaya nasional. Budaya lokal, adalah suatu
budaya yang perkembangannya terjadi di daerah-daerah dan merupakan milik suku bangsa.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultural dalam suku bangsa dan budaya.
Sedangkan budaya nasional yaitu suatu kebudayaan yang terbentuk dari keseluruhan budaya
lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan merupakan hasil serapan
dari unsur-unsur budaya asing atau global. Kebudayaan nasional berfungsi sebagai kontinuitas
sejak zaman kejayaan bangsa Indonesia pada masa lampau sampai kebudayaan nasional masa
kini.

Wujud budaya suatu bangsa dapat berupa:

(1) Wujud abstrak, berupa Sistem Gagasan. Budaya dalam bentuk ini bersifat abstrak,
artinya tidak dapat diraba karena ada dalam pikiran tiap anggota masyarakat penganut
budaya yang bersangkutan. Gagasan itulah yang akhirnya menghasilkan berbagai karya
manusia berdasarkan nilai-nilai dan cara berfikir serta perilaku mereka.
(2) Bentuk tindakan. Budaya dalam bentuk tindakan bersifat kongkret yang dapat dilihat.
Contoh: cara petani mengolah lahan ladang dan sawah, cara beternak.
(3) Bentuk hasil karya. Budaya dalam bentuk hasil karya bersifat kongkret sehingga bisa
dilihat dan diraba. Contoh: pengrajin tenun ikat menghasilkan kain dengan berbagai
motif (flora, fauna dan manusia), berbagai peralatan seperi peralatan dapur dan
peralatan untuk bertani, beternak, berburu, menangkap ikan, dll.

Wujud budaya suatu bangsa juga dapat berupa:

(1) Cara berahasa.


(2) Cara berakaian.
(3) Peralatan hidup.
2

Selo Sumarjan dan Soeleman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya,
rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan pengetahuan, teknologi serta
kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh
manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar potensi dan hasilnya dapat diperuntukkan bagi
kelangsungan hidup masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaidah
dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan antara lain
agama, ideologi, kebatinan dan semua unsur yang merupakan ekspresi jiwa manusia yang
hidup sebagai anggota masyarakat. Cipta merupakan kemampuan mental dan berpikir orang-
orang yang hidup bermasyarakat, hasilnya antara lain berupa filsafat dan ilmu pengetahuan.
Kebudayaan sebagai suatu sistem pengetahuan manusia dapat digolong-golongkan
dalamkompleks pengetahuan yang khusus yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan tertentu
dalam kehidupan manusia sebagai pendukung suatu kebudayaan tertentu. Pengetahuan yang
kompleks bagi kegiatan tertentu tersebut dikenal dengan “pranata-pranata kebudayaan”.
Secara operasional, pranata-pranata kebudayaan terwujud sebagai seperangkat aturan-aturan
yang mengatur kedudukan-kedudukan , peranan-peranan, hak-hak dan kewajiban-kewajiban
masyarakat yang terwujud dalam bentuk lembaga-lembaga dan organisasi sosial sebagi wadah
bagi kegiatanarga masyarakat bersangkutan. Misalnya lembaga Subak di Bali yang mengatur
pembagian air untuk sistem pengairan sawah, dan lembaga ..... di Rote Ndao. Sebagai suatu
sistem pengetahuan, pola dan corak suatu kebudayaan ditentukan oleh:

(1) Keadaan lingkungan, dan


(2) Kebutuhan dasar utama dari para pendukung kebudayaan tersebut.

Dengan demikian, setiap masyarakat akan memiliki kebudayaannya sendiri-sendiri sesuai


dengan kondisi lingkungan hidup sebagai tempat mereka bermukim dan bertempat tinggal
untuk memenuhi kebutuhan dasar. Suatu kebudayaa dengan semua pranatanya dapat saja
berubah bahkan selalu berubah secara dinamis karena tidak ada kebudayaan yang sifatnya
statis dan tertutup. Perubahan kebudayaan dapat terjadi karena faktor internal dan external.

Menurut para ahli, lingkungan hidup suatu masyarakat merupakan faktor yang menentukan
dalam perkembangan kebudayaan. Etnografi adalah suatu studi yang mempelajari dan
menjelaskan tentang kebudayaan suatu masyarakat tertentu dengan tujuan untuk
menemukenali dan melukiskan bagaimana masyarakat menanggulangi masalah-masalah dalam
lingkungan hidupnya serta menggali pranata-pranata sosial-ekonomi manakah yang dimiliki
oleh warga masyarakat dalam upayanya untuk memenuhi kebutuhan dasar utama manusia
(basic human needs), juga bagaimanakah mekanisme perubahan yang mengatur pemanfaatan
pengelolaan sumberdaya alam (SDA) maupun sumberdaya sosialnya. Secara teoritis,
pemenuhan kebutuhan dasar utama itu terdiri dari:

a. Pemenuhan kebutuhan dasar bilologis meliputi sandang, pangan, papan, reproduksi,


kesehatan, dan mempertahankan diri.
3

b. Pemenuhan kebutuhan sosial meliputi kebutuhan akan hidup bersama untuk mencapai
tujuan bersama dan individu, pembentukan komuniti, dan kelompok sosial serta
berbagai keteraturan sosial.
c. Pemenuhan kebutuhan integratif atau kejiwaan meliputi kebutuhan aan etika dan moral,
rasa keindahan dan sebagainya.

Menurut Charles Erasmus, bahwa setiap pribadi pada hakekatnya terdapat 2 (dua) unsur
penting yaitu motif dan daya indra. Daya indra bersifat aktif yang diperoleh secara berulang
dari pengalaman masa lalunya. Perpaduan motif dan daya indra akan menghasilkan keinginan
dan keinginan inilah yang akan menjadi perilaku. Perubahan pengalaman seseorang akan
memberi peluang perubahan keinginannya. Dengan demikian pengalaman masa lampau secara
berulang adalah salah satu unsur penting pemberi corak budaya yang berupa ide (gagasan,
perilaku dan hasil perilaku).

Apabila dikaitkan dengan pengalaman masa lampau yang berulang tersebut maka untuk
wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah berkaitan pula dengan kondisi lingkungan lahan
kering, topografi berombak, berbukit dan bergunung serta berbagai ancaman berulang masa
lampau yang menghantui kelangsungan hidup masyarakat. Dengan demikian kondisi
lingkungan lahan kering yang bercirikan kekeringan yang membawa risiko kegagalan panen,
harus selalu diperhitungkan oleh masyarakat NTT dalam kehidupan sehari-harinya. Kenyataan
inilah yang dialami secara berulang dan membentuk daya indra serta persepsi dan pola pikir
masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku, sebagai bagian dari kebudayaan
masyarakat lahan kering.

2. Corak Lahan Kering Wilayah Nusa Tenggara Timur dan Pengaruhnya terhadap
Budaya Lahan Kering

Istilah lahan kering secara umum selalu diakaitkan dengan lahan tanpa pengairan. Dalam
pengertian ini, di Indonesia terdapat area lahan kering yang luas baik di Jawa, Sumatra,
Kalimantan, Suawesi, Maluku dan Papua. Namun lahan kering dalam pengertian tersebut secara
klimatologis berada di zone agroklimat basah. Dalam kaitan lahan kering pada materi kuliah ini,
batasan lahan kering yang dimaksudkan adalah lahan tanpa pengairan di area yang tidak
pernah jenuh oleh air secara permanen sepanjang musim (Widyatmika, 1987). Daerah demikian
pada umumnya terdapat pada daerah yang curah hujannya relatif rendah. Daerah dengan
curah hujan relatif rendah pada umumnya merupakan daerah yang secara klimatologis
termasuk daerah Arid dan Semi Arid.

Daerah Semi Arid didefinisikan dengan berbagai cara. Salah satunya dikembangkan oleh
Thornthwite (1948) yang mendasarkan atas hubungan antara rata-rata bulan hujan dan potensi
evapotranspirasi. Definisi lain dikembangkan oleh de Martonine yang didasarkan atas nilai
Indeks Ariditas. Daerah Semi Arid didefinisikan sebagi daerah yang nilai Indeks Ariditasnya
jatuh antara 10 - 20 (Finkel, 1986). Menurut kriteria Ferguson bulan basah = CH-nya < 60
mm/bulan dan bulan kering = CH-nya > 100 mm/bulan. Selanjutnya suatu daerah disebut
4

kering apabila memiliki tipe CH D, E dan F dengan 4,5 – 7,9 bulan kering. Sedangkan menurut
klasifikasi Oldeman (bulan kering = CH-nya < 100 mm/bulan). Menurut Tholl (1966 dalam
Ruthenberg, 1980), salah satu unsur Curah Hujan (CH) yang dipakai untuk klasifikasi agroklimat
di daerah tropik adalah CH bulanan, dimana CH bulanan > dari 200 mm/bulan disebut bulan
basah. Selanjutnya berdasarkan banyaknya bulan basah dalam setahun, daerah tropik dapat
dibagi menjadi 4 (empat) zone agroklimat yaitu:

a. Daerah beriklim sangat lembab, dengan bulan basah > 9 bulan.


b. Daerah beriklim sangat lembab, dengan bulan basah > 7 – 9 bulan
c. Daerah beriklim sangat lembab, dengan bulan basah > 4,5 - 7 bulan
d. Daerah beriklim setengah kering, dengan bulan basah > 2 – 4,5 bulan.
e. Daerah beriklim kering, dengan bulan basah < 2 bulan.

Daerah NTT sebenarnya secara keseluruhan tidak persis termasuk daerah Semi Arid, karena
terdapat daerah-daerah yang memiliki CH bulanan relatif tinggi. Secara klimatologis menurut
klasifikasi Schmidt dan Ferguson, sekitar 60 % daratan di NTT bertipe iklim E, 30 % nya F dan
10 %nya dengan tipe iklim B dan D. Sedangkan menurut klasifikasi Oldeman, 62,6 % dari total
wilayah NTT memiliki 7-9 bulan kering (Tipe D4 dan E3). Itulah sebabnya, Soegiri (1972 dalam
Widyatmika, 1987) berpendapat bahwa NTT termasuk wilayah beriklim kering (Arid) atau semi
kering (Semi Arid) dan vegetasinya cenderung didominasi oleh savana dan stepa.

Dalam Benu dan Nuningsih (2001) ditulis bahwa Provinsi NTT merupakan wilayah kepulauan
yang terdiri atas 75,0% laut dan sisanya daratan. Wilayah NTT seluas 47.349,90 km2, terdiri
dari 566 buah pulau besar dan kecil, dan hanya 42 pulau yang berpenghuni. Secara morfologis
topografis, 73,13 % wilayah daratan bergunung dan berbukit, yang dengan kemiringan 15 %-
40 % seluas 38,07 % dan dengan kemiringan > 40 % seluas 35,46 %; dengan variasi
ketinggian tempat antara 100-1.000 m di atas permukaan laut. Menurut laporan CIDA (1976)
dari total luas wilayah NTT, ada 66,4 % (3.227.660 ha) yang memiliki kemiringan tajam
sehingga tidak cocok diusahakan sebagai lahan pertanian. Luas lahan pertanian sekitar
1.637.000 ha (34 % dari luas wilayah), 92 %nya adalah lahan kering.

Berdasarkan beberapa data di atas maka jelaslah bahwa sebagian besar wilayah NTT adalah
didominasi oleh lahan kering beriklim kering. Lahan kering di NTT tersebar di Timor Barat,
Sumba, Alor, Sabu dan Flores.

Kondisi klimatologis dan geografis tersebut sangat memberi warna pada pola kehidupan dan
perilaku bagi masyarakatnya terutama pada aktivitas pertanian dan peternakan sebagai mata
pencaharian sebagian besar penduduknya. Salah satu ciri pembatas kehidupan usahatani di
lahan kering adalah kekeringan yang berdampak pada risiko kegagalan panen yang besar
antara lain untuk tanaman pakan ternak (berbagai rumput-rumputan) dan tanaman pangan
setahun (padi dan palawija). Selain itu, keringnya rerumputan dan tanaman semak
menyebabkan rawan api. Kebakaran sebagai akibat baik ketidak sengajaan maupun kegiatan
pembersihan dalam membuka ladang baru atau untuk menumbuhkan rumput muda dan
berburu sering ditemui.
5

Lahan kering beriklim kering dengan topografi berombak dan bergunung berdampak pada
budaya masyarakat NTT yang meliputi pola pikir, perilaku dan hasil perilaku masyarakatnya.
Dengan kata lain, berdasarkan lingkungan hidup yang khusus, masyarakat NTT adalah
masyarakat lahan kering. Masyarakat lahan kering di wilayah beriklim kering ini memiliki ciri-ciri
sosial budaya yang membedakan dirinya baik dari masyarakat yang hidup di lahan basah
ataupun lahan kering di wilayah beriklim basah.

3. Keterkaitan Budaya Masyarakat Lahan Kering dengan Sistem Mata Pencaharian

Budaya masyarakat NTT adalah budaya masyarakat yang bertumpu pada pertanian
(Widyatmika, 1987). Menurut Nordholdt (1969), antara agama (kepercayaan) dan sistem
pertanian serta sistem politik pada masyarakat Atoni (Timor) ada saling keterkaitan yang erat.

Mata pencaharian hidup yang paling utama dari masyarakat lahan kering di NTT adalah bertani.
Dalam kehidupan bertani, terdapat 2 (dua) sumber kehidupan yakni usaha tani lahan kering
dan beternak. Selain bertani dan berternak, masyarakat yang tingggal di pantai memiliki mata
pencaharian menangkap ikan di laut dan mencari biota laut yang bisa dikonsumsi (ikan, kerang,
keong, kepiting, dan rumput laut) di laut sepanjang pesisir pantai pada saat makameting (air
laut surut).

Kehidupan usaha tani lahan kering adalah berupa perladangan berpindah, berkebun (untuk
tanaman keras atau tanaman tahunan) dan pemanfaatan lahan pekarangan. Lahan untuk
perladangan ada 2 (dua) jenis yakni ladang baru yaitu yang baru dibuka dengan membabat
semak belukardan hutan desa kemudian membersihkan dengan cara membakar, dan ladang
lama yaitu yang sudah diusahakan beberapa tahun. Dalam mengusahakan perladangan, setelah
ladang diusahakan beberapa tahun, kemudian tidak diusahakan (bero) selama beberapa musim
tanam karena kesuburan tanahnya menurun.

Lahan pekarangan dimanfaatkan untuk memelihara ternak sedang (babi dan kambing) serta
ternak kecil (ayam dan itik) serta berbagai jenis tanaman pangan dan hortikultuta serta pakan
ternak. Jenis-jenis tanaman pangan yang diusahakan di ladang dan pekarangan adalah padi
ladang, jagung, sorghum, jewawut, ketela pohon, ubi jalar, kacang nasi, kacang hijau, kacang
kayu, kacang tanah, talas, pisang, mangga, jambu, pepaya dll. Jenis-jenis tanaman yang
diusahakan di kebun yaitu pinang, kelapa, kemiri, buah-buahan dan berbagai pohon yang
daunnya dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti lamtoro, turi, dan gamal.

Di lahan kering beriklim kering, kendala utama adalah penyediaan pakan untuk ruminansia dan
kurang bermutunya padang rumput pada musim kering. Terkait dengan kondisi fisik geografis
di NTT, ternak besar (sapi, kerbau dan kuda) diusahakan secara ekstensif dengan cara
penggembalaan di padang.

Kegiatan berburu dilakukan oleh penduduk khusus laki-laki secara berkelompok dengan
bantuan anjing dan hasilnya dibagi menurut peran masing-masing. Satwa yang menjadi obyek
berburu secara umum adalah rusa, babi hutan, kera, musang dan berbagai jenis burung serta
6

itik liar. Di Pulau Sumba (khususnya di Dusun Dasa Elu, Dusun Konda dan Dusun Maloba dulu
dikenal sebagai pada perburuan kaum bangsawan Desa Konda Maloba Kabupaten Sumba
Tengah, dan kerbau liar pernah menjadi satwa yang menjadi obyek berburu para tokoh
pemerintahan dan tokoh masyarakat.. Namun sejak tahun 1993 kerbau-kerbau liar ini tidak ada
lagi karena berpindah dengan cara berenang melalui laut ke pantai Ti’das, akibat kegiatan
berburu dilakukan dengan senjata api. Hal menarik, penduduk memiliki pengetahuan yang baik
tentang perilaku satwa buruan dan mereka memiliki peralatan berburu seperti panah, sumpit,
tombak, ranjau dari bambu, serta anjing untuk mengejar dan menangkap hewan buruan.

Provinsi NTT memiliki jenis sumberdaya kelautan yaitu:

a. Sumber mineral berupa garam industri dan garam pangan, modul nikel dan mangan di
dasar laut.
b. Suberdaya hayati atas ikan, kerang mutiara alam dan budidaya di (Labuan Bajo, Alor
dan Kupang), rumput laut, udang, teripang dan ikan hias.
c. Suberdaya wisata bahari.

Jenis sumberdaya ikan yang potensial antara lain:

 Ikan demersial
 Ikan pelagis
 Ikan tuna
 Ikan cakalang
 Ikan tongkol
 Ikan tembang
 Ikan kembung
 Udang barong prawn)
 Udang (shrimp)
 Cumi
 Teripang

Rendahnya produksi ikan karena kualitas teknologi penangkapan ikan masih sederhana.

4. Pengetahuan dan Teknologi Pertanian Lahan Kering Beriklim Kering

Pengetahuan adalah hasil pengalaman manusia yang diperoleh dari proses interaksi dengan
lingkungan. Intraksi manusia dengan lingkungan pada dasarnya didorongoleh hasrat untuk
memenuhi kebutuhan dasar (basic human needs). Semua pengalaman yang diperoleh manusia
sebagai hasil interaksi dengan lingkungan direkam dalam ingatan. Pengalaman yang baik dan
bermanfaat akan dipraktekkan dalam hidup secara berulang-ulang dan disebut sebagai
kebiasaan-kebiasaan. Sebaliknya pengalaman yang tidak mengenakkan atau merugikan yang
dihindari melahirkan konsep tabu atau pantangan atau dikenal dengan istilah pemali.
Keseluruhan hasil pengalaman apakah berupa kebiasaan dan pantangan disebut pengetahuan.
Penggunaan pengetahuan secara sistematis dan berulang-ulang disebut Ilmu Pengetahuan.
7

Dalam proses interaksi dengan lingkungan, manusia memperoleh pengetahuan tentang cara-
cara terbaik yang memudahkan dalam mencapai tujuan sehingga lahirlah teknologi atau
pengetahuan berupa alat-alat, bahan, dan cara serta pemakaiannya untuk mendapatkan
efisiensi kerja.

Pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh suatu masyarakat, adalah berupa pengetahuan
sebatas lingkungan hidup atau kondisi fisik yang melingkupinya. Secara umum, pengetahuan
masyarakat terkait kegiatan pertanian secara lokal disesuaikan dengan kondisi SDA setempat,
oleh Warren disebut dengan suatu istilah yaitu indigenouse knowledge (pengetahuan dan
teknologi asli berupa kearifan budaya lokal) yang mengandung 2 (dua) aspek yaitu:
a. Tempat (local).
b. Keaslian atau kedekatan dengan alam (belonging naturally).

Dipandang dari aspek sejarah dan dinamika pengetahuan, indigenouse knowledge oleh Louise
Gtenier dikatakan sebagai merupakan pengetahuan yang bersifat unik tradisional dan lokal yang
dikembangkan oleh masyarakat sesuai dengan lingkungannya dan memiliki dimensi biologi.
Dalam prakteknya sehari-hari, dapat berupa pola pikir tradisional dari berbagai kondisi lapangan
dengan ruang lingkup pertanian, peternakan, perikanan dsb. Dengan indigenouse knowledge,
manusia:

a. Memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam (SDA) untuk memenuhi kebutuhan


dasarnya (basic human needs) agar bisa bertahan hidup dan melanjutkan keturunan.
b. Dapat mengatasi berbagai masalah yang berhubungan dengan:
 Ketahanan pangan (food security).
 Keselamatan ternak.
 Pengelolaan lingkungan.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian, risiko kegagalan panen dalam berusahatani diatasi
dengan menerapkan:

a. Usahatani ladang berpindah. Indikator yang digunakan untuk mengetahui bahwa suatu
lahan sudah bisa diusahakan kembali sangat bervariasi. Di Desa Parabubu (Therik, dkk,
1989) adalah dengan melihat keberadaan tai faka. Apabila ditemukan dalam jumlah
banyak, berarti tanahnya dinilai sudah kembali subur sehingga lahannya bisa diusahakan
kembali. Sedangkan petani di Timor, menggunakan indikator “ladang sudah masak”,
yaitu seluruh permukaan lahan sudah dipadati dengan rerumputan dan emak belukar.
b. Pola tanam campuran (mix croping), yaitu pada lahan yang sama diusahakan berbagai
jenis tanaman tanpa jarak tanam teratur. Beberapa jenis tanaman bahkan ditanam
dalam satu lubang yang sama (dikenal dengan istilah “salome” atau satu lubang rame-
rame. Masyarakat mengetahui jenis-jenis tanaman yang dapat ditanam dalam satu
lubang, misalnya padi ladang dengan labu kuning (pumpin), sedangkan jagung dengan
kacang nasi dimana batang jagung sekaligus berfungsi sebagai ajir (tempat tanaman
kacang nasi merambat).
8

c. Penentuan saat tanam yang tepat dengan menggunakan indikator alam yaitu
ditemukannya tumbuhan berbiji kecil dan pipih telah tumbuh dalam populasi besar atau
permukaan air sumur sudah mencapai bibir sumur. Secara teoritis, “kebutuhan air untuk
waktu tanam” berkaitan erat dengan “Curah Hujan Efektif”, yaitu bagian dari CH yang
betul-betul masuk ke dalam tanah dan tinggal di daerah perakaran tanaman sehingga
dapat diambil oleh tanaman. Permulaan waktu tanam efektif atau CH Efektif yang juga
umum disepakati adalah: (i) hujan selama 19 hari berturut-turut dan setelah waktu
tersebut makaminimum sama dengan 20 mm, atau (ii) waktu hujan turun dan
jumlahnya telah mampu membasahi bagian yang berada pada 5 cm lapisan tanah paling
atas sampai berada pada keadaan kapasitas lapang.
d. Memprediksi munculnya serangan hama dan menggesr waktu tanam. Petani ternyata
memiliki pengetahuan bentuk dewasa (imago) hama tanaman dan jangka waktu bentuk
kupu-kupinya bertelur sampai menetas menjadi ulat. Misalnya ketika mereka melihat
jenis kupu-kupu tertentu yang menjadi imago hama ulat tentara atau dikenal sebagai
ulat “grayak’ (merupakan hama utama tanaman jagung) maka petani akan menggeser
waktu tanam untuk menghindarkan tanaman jagung yang baru tumbuh diserang oleh
hama ulat tentara.
e. Kalender musim atau pranoto mongso (istilah dalam bahasa Jawa yang telah populer),
yaitu pengalokasian waktu dalam satu tahun yang terdiri dari 12 bulan atau wula (dalam
bahasa Anakalang di Sumba Tengah). air, dan bulan. Masing-masing bulan ditandai
dengan gejala alam yang bisa berupa perilaku tumbuhan, satwa, angin, air, bintang dan
bulan.

Berdasarkan hasil penelitian Pengkajian Sosial Budaya dan Lingkungan Masyarakat Terasing
Desa Konda Maloba Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah (Gomang dkk., 1996)
ditemukan bahwa masyarakat petani setempat memiliki “kalender pertanian” unik yang
penerapannya adalah untuk mengantisipasi kegagalan panen karena merujuk pada indikator
alam. Dengan menggunakan indikator alam maka saat tanam relatif tepat waktu sehingga risiko
kegagalan panen dapat ditekan. Berikut ini adalah “kalender pertanian” yang diterapkan oleh
masyarakat Desa Konda Maloba dalam berusaha tani tanaman pangan:

Bulan 1 (Wula Hibu Mangata, bulan tumbuhan mangata berbunga), ditandai dengan
tumbuhan mangata berbunga secara serempak.

 Bulan terakhir petani menanam padi ladang. Kegiatan penanaman padi lewat waktu tersebut
diyakini tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Bulan 2 (Wula Laboya, bulan nyale terhempas di pantai Lamboya)

 Saat panen jagung.


 Saat awal tanam padi sawah.

Bulan 3 (Wula nyale bakul, bulan nyale banyak), ditandai dengan nyale (cacing laut)
ditemukan dalam jumlah besar di semua pantai yang berbatasan dengan Samudera Indonesia
9

 Saat paling baik untuk tanam padi sawah, sampai batas pertengahan bulan.,
 Saat panen nyale di pantai.

Bulan 4 (Wula nyali nibu, bulan ujung tombak), ditandai buah polong muda tumbuhan legum
padang muncul seperti ujung tombak.

 Saat karabuk (mencabut rumput) disusul penanaman ubi jalar di ladang bekas padang
rumput.

Bulan 5 (Wula ngura, bulan ubi muda), ditandai dengan ubi manusia mulai terbentuk.

 Saat tanam jagung yang ke-II.

Bulan 6 (Wula tua, bulan ubi tua), ditandai ubi manusia, biji legum dan padi telah tua.

 Saat panen padi sawah dan panen ubi di hutan dan ladang.

Bulan 7 (Wula Rigi Manu, bulan bulu sayap ayam merenggang), ditandai suhu udara paling
dingin dan pohon dadap mekar, ayam-ayam naik di pohon atau atap rumah dengan bulu ayam
merenggang.

 Saat membuka hutan untuk ladang dengan kegiatan tebas pohon dan semak.

Bulan 8 (Wula ba’da rara, bulan daun merah), ditandai saat pohon berdaun lebar (decidous
tree) mengugurkan daunnya.

 Saat paling tepat untuk mengolah/membalik tanah ladang.


 Saat panen jagung ke-II.

Bulan 9 (Wula dapa diha, bulan tidak masuk dalam hitungan dan dianggap bulan
”panas”), ditandai dengan suhu yang sangat dingin.

 Pantang melakukan aktifitas apapun termasuk memberi nama anak, menguburkan orang
mati dan menikahkan anak.

Bulan 10 (Wula wadu kudu atau wula ti’dung, bulan angin kecil atau bulan
berkedudukan di atas kepala atau bulan berkedudukan di zenith), ditandai dengan cuaca
sangat terik disertai angin bertiup sangat lembut.

 Saat membakar ranting-ranting terakhir


 Diyakini bahwa sinar matahari mampu mensterilkan tanah

Bulan 11 (Wula wadu bakul, bulan angin besar), ditandai panas terik membakar bumi disertai
angin kencang yang berlangsung selama ½ bulan, dan setengah bulan berikutnya hujan mulai jatuh
ke bumi.

 Saat hujan turun, dimulai tanam jagung pertama.

Bulan 12 (Wula pahita, bulan pahit namun dianggap sebagai bulan ”suci”), ditandai dengan
hujan lebat dasertai angin dan babi hutan mulai membuat sarang di padang dari rumput kering.
10

Disebut bulan ”pahit” karena pada saat ini biasanya persediaan bahan pangan di lumbung menipis
atau habis untuk mendukung kegiatan kerja sawah, sebaliknya pekerjaan sawah sangat menguras
dana dan tenaga.

 Saat melakukan kegiatan sawah yang banyak menguras tenaga


 Meskipun babi hutan pada bulan ini dalam posisi lemah yaitu bersarang di bawah tumpukan
rumput kering di padang ssehingga mudah ditangkap, tapi di ”pemalikan” untuk ditangkap
atau dibunuh. Barangsiapa yang membunuh babi hutan pada kondisi “lemah” tersebut,
dianggap laki-laki bermental “pengecut”.

KESIMPULAN:

 Dalam berusahatani, masyarakat lokal memiliki kerarifan budaya lokal yaitu selalu menjaga
kelestarian SDA setempat ysng menjadi bagian dari lingkungan hidupnya.
 Kalender Pertanian tersebut merupakan rujukan yang relatif tepat dalam kegiatan pertanian yang
menjamin terhindarnya kegagalan panen akibat salah musim dalam memulai saat tanam, karena
masyarakat lokal melakukan aktifitas pertanian dengan menggunakan ecological indicator, namun
demikian masih perlu dikaji lebih lanjut untuk pembuktiannya.
 Masyarakat lokal hanya memanfaatkan sumebrdaya hayati (SDH) dalam jumlah secukupnya, tidak
berlebihan meskipun di alam tersedia dalam jumlah berlimpah. Misalnya

Contoh lain dari hasil penelitian di Desa Konda Maloba :

o Masyarakat Konda Maloba hanya mengambil ubi di hutan pada musim paceklik dalam jumlah
sebatas untuk kebutuhan selama masa menunggu saat panen.
o Sangat hati-hati menangani hasil panen dari sejak di lapangan sampai di lumbung, agar tidak
terbuang atau tercecer.
o Memiliki teknik pengolahan pengawetan bahan pangan hewani dan nabati dalam upaya
mengantisipasi kekurangan bahan pangan di musim paceklik. Misalnya pengawetan daging untuk
jangka waktu penyimpanan 2 tahun, pengolahan ikan untuk bumbu masakan (mirip pembuatan
terasi dengan teknik fermentasi), pengolahan ubi jalar dan ubi kayu menjadi bahan pangan
awetan.

Contoh dari hasil penelitian masyarakat terasing Desa Parabubu di Kabupaten Sikka
(Filemon da Lopez, Retno Nuningsih, Hendrikus Ataupah dan Tom Therik, 1997), petani
memiliki indigenouse knowledge antara lain:

o Memiliki varietas padi pare ampera yang tahan terhadap kendala angin kencang. Padi ini
ditanam di Detu Sokoria yang setiap musim tanam selalu mengalami kendala alam berupa angin
Barat Laut yang bertiup sangat kencang.
o Memiliki varietas padi pare wularua yang selalu ditanam dalam populasi sedikit bersama padi lain
(sebagai tanaman padi pokok di lahan sawah tahan hujan) karena memiliki keunggulan yaitu
berumur sangat genjah (2 bulan) sehingga mampu mengatasi kebutuhan bahan pangan yang
mulai menipis pada masa musim tanam (musim menunggu saat panen), sekalipun produksinya
rendah.
o Memiliki varietas jagung keo tobe yang ditanam di Detu Sokoria karena memiliki sifat tahan
rebah, bertongkol besar dan tahan dalam penyimpanan (sampai 2 tahun) tanpa rusak.
o Mengenal dengan sangat baik kegunaan dari jenis-jenis tumbuhan tertentu baik untuk obat,
bahan pangan, pakan, ramuan rumah, peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, dan kayu
bakar.
11

o Mengenal dengan sangat baik lingkungan SDA pertanian (fisik dan hayati), sehingga bisa
menghindari kegagalan panen dengan menggeser waktu tanam.
o Menggunakan indikator alam untuk menentukan apakah suatu lahan sudah dapat diusahakan
kembali setelah diberakan (dalam sistem ladang berpindah) yaitu berupa seberapa banyak tai
faka (kotoran cacing) yang dapat ditemukan di atas suatu lahan. Apabila di atas suatu lahan
sudah ditemukan banyak tai faka maka berarti lahan tersebut sudah dapat diusahakan kembali.
o Mengusahakan jenis tanaman yang sesuai dengan lingkungan fisik setempat. Masyarakat desa
Parabubu memiliki koleksi benih dari 13 varietas padi dan 3 vareitas jagung.

Contoh dari hasil wawancara dengan petani disekitar Polen (TTS) :

o Memiliki teknologi pengolahan dan pengawetan hasil tanam (termasuk menghilangkan racun
dari bahan pangan) untuk tujuan food security di musim paceklik.
o Mereka menggunakan pupuk organik (kotoran sapi/kambing) dan daun-daun kering untuk
pupuk.
o Membersihkan lahan dengan cara membakar pada pagi hari atau malam saat tidak ada angin,
dan membuat sekat api (disebut sako) sekeliling ladang untuk mencegah api merambat ke lahan
yang lain.

Sumber Pustaka

1. Benu, A dan R. Nuningsih. 2001. Potensi Wilayah dan Masalah pembangunan Pertanian
di Wilayah Kering dan Sumberdaya Kelautan, Kajian NTT. Dalam Semangun, H dan F.F.
Karwur (Penyunting). 1995. Prosiding Konferensi Internasional Pembangunan Pertanian
Semi Arid Nusa Tenggara Timur, Timor Timur dan Maluku Tenggara Tanggal 10-16
Desember 1995 di Kupang. Penerbit Widya Sari Salatiga untuk Pemerintah Provinsi NTT
dan Universitas Kristen Satya Wacana: halaman 38-53..
2. Gomang, S., R. Nuningsih, Ataupah, H., F.D. Lopez dan Y. Benufinit. 1996. Pengkajian
Sosial Budaya dan Lingkungan Masyarakat Terasing Desa Konda Maloba Kecamatan
Katikutana, Kabupaten Sumba Barat. Kantor Wilayah Departemen Sosial Provinsi NTT,
Kupang.
3. Koentjaraningrat. 1971. Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Penerbit Djambatan.
4. Lopez, F.D, R. Nuningsih, T.G. Therik, dan H, Ataupah. 1997. Pengkajian Sosial Budaya dan
Lingkungan Masyarakat Terasing Desa Parabubu, Perwakilan Kecamatan Paga, Kabupaten
Sikka. Kantor Wilayah Departemen Sosial Provinsi NTT, Kupang.
5. Nuningsih, R. 2007. Teknologi Indigenouse: Suatu Strategi Masyarakat Lokal dalam
Pertanian Berkelanjutan. Buletin Penelitian dan Pengembangan, Indonesia Australia Eastern
Universities Project Alumni Forum, Kupang, Folume 8, Nomor 3: halaman 1-8.
6. Soekanto, S. 1999. Sosiologi: Suatu Pengantar. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
7. Widiyatmika. 1987. Budaya Masyarakat Lahan Kering. Pusat Penelitian Universitas Nusa
Cendana, Kupang.