Anda di halaman 1dari 15

1.

Prinsip Etik

2.Prinsip-Prinsip Etika Keperawatan


1. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu
membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat
sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang
lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai
persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian
dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan
otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan
dirinya.

2. Berbuat baik (Beneficience)


Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan
dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan
oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara
prinsip ini dengan otonomi.

3.Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek
profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan
keyakinan yang benar untuk memperoleh ekualitas pelayanan kesehatan.

4. Tidak Merugikan (Nonmaleficience)


Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.

5. Nilai dan Norma Masyarakat


Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat nilai dan norma masyarakat sangat penting dan perlu
ada pada diri masing-masing.malah masyarakat yang sedar tentang nilai dan norma masyarakat
berusaha keras dalam mengukuhkan nilai-nilai masyarakat.
Setiap individu tidak boleh hidup bersendirian, oleh itu seseorang itu perlu bergaul bagi
memenuhi keperluan dalam kehidupan. Oleh itu seseorang itu perlu bersedia agar dapat
bertindak dan berfungsi dalam masyarakat. Bagi seseorang itu dapat berfungsi dan bertindak
dalam masyarakat seseorang itu perlu memahami nilai- nilai masyarakat dan kelakuan norma
masyarakat yang telah disahkan masyarakat itu sendiri.
a. Nilai
Keyakinan seseorang tentang sesuatu yang berharga, kebenaran atau keinginan mengenai ide-ide,
objek, atau perilaku khusus. Individu tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai
ini diperoleh dan berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya sepanjang
perjalanan hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan menentukan tentang nilai-nilai mana
yang benar dan mana yang salah.
Untuk memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi
dimana mereka tumbuh dan berkembang.
1).Nilai-nilai tersebut diambil dengan berbagai cara antara lain :
a).Model atau Contoh
Dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau buruk melalui observasi perilaku
keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul;

b).Moralitas
Diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya bekerja dan memberikan
ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk mempertimbangkan nilai-nilai yang
berbeda;
c).Sesuka Hati
Adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai ini kurang terarah dan sangat tergantung kepada nilai-
nilai yang ada di dalam diri seseorang dan memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai
tersebut menurut kemauan mereka sendiri. Hal ini lebih sering disebabkan karena kurangnya
pendekatan, atau tidak adanya bimbingan atau pembinaan sehingga dapat menimbulkan
kebingungan, dan konflik internal bagi individu tersebut;
d).Penghargaan dan Sanksi
Perlakuan yang biasa diterima seperti: mendapatkan penghargaan bila menunjukkan perilaku
yang baik, dan sebaliknya akan mendapat sanksi atau hukuman bila menunjukkan perilaku yang
tidak baik;
e).Tanggung jawab untuk memilih;
Adanya dorongan internal untuk menggali nilai-nilai tertentu dan mempertimbangkan
konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan bimbingan dari
seseorang yang akan menyempurnakan perkembangan sistem nilai dirinya sendiri.
2).Klarifikasi Nilai-Nilai (Values)
Klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana seseorang dapat mengerti sistem nilai-nilai
yang melekat pada dirinya sendiri. Hal ini merupakan proses yang memungkinkan seseorang
menemukan sistem perilakunya sendiri melalui perasaan dan analisis yang dipilihnya dan
muncul alternatif-alternatif, apakah pilihan–pilihan ini yang sudah dianalisis secara rasional atau
merupakan hasil dari suatu kondisi sebelumnya (Steele&Harmon, 1983).
Klarifikasi nilai-nilai mempunyai manfaat yang sangat besar didalam aplikasi keperawatan. Ada
tiga fase dalam klarifikasi nilai-nilai individu yang perlu dipahami oleh perawat.
a).Pilihan:
(1). Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keunikan bagi setiap individu;
(2).Perbedaan dalam kenyataan hidup selalu ada perbedaan-perbedaan, asuhan yang diberikan
bukan hanya karena martabat seseorang tetapi hendaknya perlakuan yang diberikan
mempertimbangkan sebagaimana kita ingin diperlakukan.
(3).Keyakinan bahwa penghormatan terhadap martabat seseorang akan merupakan konsekuensi
terbaik bagi semua masyarakat.
b).Penghargaan:
(1).Merasa bangga dan bahagia dengan pilihannya sendiri (anda akan merasa senang bila
mengetahui bahwa asuhan yang anda berikan dihargai pasen atau klien serta sejawat) atau
supervisor memberikan pujian atas keterampilan hubungan interpersonal yang dilakukan;
(2).Dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut bila ada seseorang yang tidak bersedia
memperhatikan martabat manusia sebagaimana mestinya.
c).Tindakan:
(1).Gabungkan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan atau pekerjaan sehari-hari;
(2).Upayakan selalu konsisten untuk menghargai martabat manusia dalam kehidupan pribadi dan
profesional, sehingga timbul rasa sensitif atas tindakan yang dilakukan.

Semakin disadari nilai-nilai profesional maka semakin timbul nilai-nilai moral yang dilakukan
serta selalu konsisten untuk mempertahankannya. Bila dibicarakan dengan sejawat atau pasen
dan ternyata tidak sejalan, maka seseorang merasa terjadi sesuatu yang kontradiktif dengan
prinsip-prinsip yang dianutnya yaitu; penghargaan terhadap martabat manusia yang tidak
terakomodasi dan sangat mungkin kita tidak lagi merasa nyaman.
Oleh karena itu, klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana kita perlu meningkatkan
serta konsisten bahwa keputusan yang diambil secara khusus dalam kehidupan ini untuk
menghormati martabat manusia. Hal ini merupakan nilai-nilai positif yang sangat berguna dalam
kehidupan sehari-hari dan dalam masyarakat luas.

b. Norma Masyarakat
Norma adalah aturan-aturan atau pedoman social yang khusus mengenai tingkah laku, sikap,
perbuatan yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan di lingkungan kehidupannya.
Budaya dan agama mempengaruhi prilaku seseorang tanpa pilihan Setiap individu dapat
menerima keyakinan tersebut. Keyakinan adalah sesuatu yang diterima sebagai kebenaran
melalui pertimbangan dan kemungkinan,tidak berdasarkan kenyataan. Tradisi rakyat atau
keluarga merupakan keyakinan yang berjalan dari satu generasi ke generasi lain.

Norma masyarakat terbagi atas :


1).Norma Agama
Ialah peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah-perintah, laranganlarangan
dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini
akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa “siksa” kelak di akhirat. Contoh
norma agama ini diantaranya ialah:
a). “Kamu dilarang membunuh”.
b). “Kamu dilarang mencuri”.
c). “Kamu harus patuh kepada orang tua”.
d) “Kamu harus beribadah”.
e). “Kamu jangan menipu”.
2).Norma Kesusilaan
Ialah peraturan hidup yang berasal dari suara hati sanubari manusia. Pelanggaran norma
kesusilaan ialah pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan bersifat
umum dan universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia.
Contoh norma ini diantaranya ialah :
a). “Kamu tidak boleh mencuri milik orang lain”.
b). “Kamu harus berlaku jujur”.
c). “Kamu harus berbuat baik terhadap sesama manusia”.
d). “Kamu dilarang membunuh sesama manusia”.
3).Norma Kesopanan :
Ialah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan
sehingga masing-masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Akibat dari
pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah
keyakinan masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.

Hakikat norma kesopanan adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam
masyarakat. Norma kesopanan sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma
kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat
(regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap
sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian. Contoh norma
ini diantaranya ialah :
a).“Berilah tempat terlebih dahulu kepada wanita di dalam kereta api, bus dan lain-lain, terutama
wanita yang tua, hamil atau membawa bayi”.
b).“Jangan makan sambil berbicara”.
c).“Janganlah meludah di lantai atau di sembarang tempat” dan.
d).“Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua”.
4).Norma Hukum :
Ialah peraturan-peraturan yang timbul dan dibuat oleh lembaga kekuasaan negara. Isinya
mengikat setiap orang dan pelaksanaanya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-
alat negara, sumbernya bisa berupa peraturan perundangundangan, yurisprudensi, kebiasaan,
doktrin, dan agama.
Keistimewaan norma hukum terletak pada sifatnya yang memaksa, sanksinya berupa ancaman
hukuman. Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan-peraturan hukum bersifat
heteronom, artinya dapat dipaksakan oleh kekuasaan dari luar, yaitu kekuasaan negara. Contoh
norma ini diantaranya ialah :
a).“Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa/nyawa orang lain, dihukum karena
membunuh dengan hukuman setingi-tingginya 15 tahun”.
b).“Orang yang ingkar janji suatu perikatan yang telah diadakan, diwajibkan mengganti
kerugian”, misalnya jual beli.
Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi.
Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu objek etika adalah
tingkah laku manusia (Wikipedia Indonesia)

Ada 8 prinsip etika keperawatan yang wajib diketahui oleh perawat dalam memberikan
layanan keperawatan kepada individu, kelompok/keluarga, dan masyarakat.

1. Otonomi (Autonomi) prinsi otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa


individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri.
Orang dewasa mampu memutuskan sesuatu dan orang lain harus
menghargainya. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan
individu yang menuntut pembedaan diri. Salah satu contoh yang tidak
memperhatikan otonomi adalah Memberitahukan klien bahwa keadaanya
baik,padahal terdapat gangguanatau penyimpangan
2. Beneficience (Berbuat Baik) prinsip ini menentut perawat untuk
melakukan hal yan baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau
kejahatan. Contoh perawat menasehati klien tentang program latihan untuk
memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi perawat menasehati untuk
tidak dilakukan karena alasan resiko serangan jantung.
3. Justice (Keadilan) nilai ini direfleksikan dalam praktek professional
ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar
praktik dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan. Contoh ketika perawat dinas sendirian dan ketika itu ada klien
baru masuk serta ada juga klien rawat yang memerlukan bantuan perawat
maka perawat harus mempertimbangkan faktor-faktor dalam faktor tersebut
kemudian bertindak sesuai dengan asas keadilan.
4. Nonmaleficince (tidak merugikan) prinsi ini berarti tidak menimbulkan
bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Contoh ketika ada klien yang
menyatakan kepada dokter secara tertulis menolak pemberian transfuse
darah dan ketika itu penyakit perdarahan (melena) membuat keadaan klien
semakin memburuk dan dokter harus mengistrusikan pemberian transfuse
darah. akhirnya transfuse darah ridak diberikan karena prinsi beneficence
walaupun pada situasi ini juga terjadi penyalahgunaan prinsi nonmaleficince.
5. Veracity (Kejujuran) nilai ini bukan cuman dimiliki oleh perawat namun
harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan
kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan agar klien mengerti. Informasi
yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan objektif. Kebenaran
merupakan dasar membina hubungan saling percaya. Klie memiliki otonomi
sehingga mereka berhak mendapatkan informasi yang ia ingin tahu. Contoh
Ny. S masuk rumah sakit dengan berbagai macam fraktur karena kecelakaan
mobil, suaminya juga ada dalam kecelakaan tersebut dan meninggal dunia.
Ny. S selalu bertanya-tanya tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah
berpesan kepada perawat untuk belum memberitahukan kematian suaminya
kepada klien perawat tidak mengetahui alasan tersebut dari dokter dan
kepala ruangan menyampaikan intruksi dokter harus diikuti. Perawat dalam
hal ini dihadapkan oleh konflik kejujuran.
6. Fidelity (Menepati janji) tanggung jawab besar seorang perawat adalah
meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan
meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki
komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang lain.
7. Confidentiality (Kerahasiaan) kerahasiaan adalah informasi tentang
klien harus dijaga privasi klien. Dokumentasi tentang keadaan kesehatan
klien hanya bisa dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan
kesehatan klien. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan harus dihindari.
8. Accountability (Akuntabilitasi) akuntabilitas adalah standar yang pasti
bahwa tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak
jelas atau tanda tekecuali. Contoh perawat bertanggung jawab pada diri
sendiri, profesi, klien, sesame teman sejawat, karyawan, dan masyarakat.
Jika perawat salah memberi dosis obat kepada klien perawat dapat digugat
oleh klien yang menerima obat, dokter yang memberi tugas delegatif, dan
masyarakat yang menuntut kemampuan professional.

1. PRINSIP-PRINSIP ETIK

1) Otonomi (Autonomy)

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir


logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap
kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki
berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip
otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang
sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi
merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut
pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat
menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan
dirinya.

2) Berbuat baik (Beneficience)

Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,


memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain.
Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini
dengan otonomi.

3) Keadilan (Justice)

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang
lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini
direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi
yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk
memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

4) Tidak merugikan (Nonmaleficience)

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada
klien.

5) Kejujuran (Veracity)

Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh
pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap
klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti.
Prinsip veracityberhubungan dengan kemampuan seseorang untuk
mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat,
komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan
materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang
segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani
perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan
adanya batasan untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan
prognosis klien untuk pemulihan atau adanya hubungan paternalistik bahwa
”doctors knows best” sebab individu memiliki otonomi, mereka memiliki hak
untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran
merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.

6) Menepati janji (Fidelity)

Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya


terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang
untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan
kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung
jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah
penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
7) Karahasiaan (Confidentiality)

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga
privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan
klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada
seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh
klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga
kesehatan lain harus dihindari.

8) Akuntabilitas (Accountability)

Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang


profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.
3. Konsep moral dalam praktek keperawatan

1. Advokasi

Arti advokasi menurutu ANA (1985) adalah “melindungi klien atau masyarakat
terhadap pelayanan kesehatah dan keselamatan praktek tidak sah yang tidak
kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun”. Advokasi
merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan
perawatan secara aktif kepada individu untuk secara bebas menentukan
nasibnya sendiri. Pada dasarnya peran perawat sebagai advokat pasien adalah
memberi informasi dan memberi bantuan kepada pasien atas keputusan
apapun yang dibuat pasien. Memberi informasi berarti menyediakan
penjelasan atau informasi sesuai yang dibutuhkan pasien. Memberi bantuan
mengandung dua peran, yaitu peran aksi dan non aksi.

2. Akuntabilitas

Akuntabilitas mengandung arti dapat mempertanggung jawabkan suatu


tindakan yang dilakukan dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan
tersebut. Akuntabilitas mengandung dua komponen utama, yaitu tanggung
jawab dan tanggung gugat. Ini berarti bahwa tindakan yang dilakukan perawat
dilihat dari praktek keperawatan, kode etik dan undang-undang dibenarkan
atau absah.

3. Loyalitas

Merupakan suatu konsep dengan berbagai segi, meliputi simpati, peduli, dan
hubungan timbal-balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan
dengan perawat. Ini berarti ada pertimbangan tentang nilai dan tujuan orang
lain secara nilai dan tujuan sendiri. Hubungan profesional dipertahankan
dengan cara menyusun tujuan bersama, menepati janji, menentukan masalah
dan prioritas, serta mengupayakan pencapaian kepuasan bersama. Untuk
mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan
pihak yang harmonis, maka aspek loyalitas harus dipertahankan oleh setiap
perawat baik loyalitas kepada pasien, teman sejawat, rumah sakit maupun
profesi. Untuk mewujudkan hal tersebut, beberapa argumentasi yang perlu
diperhatikan sebagai berikut :

o Masalah pasien tidak boleh didiskusikan dengan pasien lain dan perawat
harus bijaksana bila informasi dari pasien harus didiskusikan secara
profesional
o Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan
berbagai persoalan yang berkaitan dengan pasien, rumah sakit atau pekerja
rumah sakit harus didiskusikan dengan umum.

o Perawat harus menghargai dan memberi bantuan kepada teman sejawat.


Kegagalan dalam melakukan hal ini dapat menurunkan penghargaan dan
kepercayaan masyarakat kepada tenaga kesehatan.

o Pandangan masyarakat terhadap profesi keperawatan ditentukan oleh


kelakuan anggota profesi. Perawat harus menunjukkan loyalitasnya kepada
profesi dengan berperilaku secara tepat pada saat bertugas

C. Permasalahan dasar etika keperawatan

Bandman dan bandman (1990) secara umum menjelaskan bahwa permasalahan


etika keperawatan pada dasarnya terdiri dari lima jenis, yaitu :

² Kuantitas Melawan Kuantitas Hidup

Contoh Masalahnya : seorang ibu minta perawat untuk melepas semua selang
yang dipasang pada anaknya yang berusia 14 tahun, yang telah koma selama 8
hari. Dalam keadaan seperti ini, perawat menghadapi permasalahan tentang
posisi apakah yang dimilikinya dalam menentukan keputusan secara moral.
Sebenarnya perawat berada pada posisi permasalahan kuantitas melawan
kuantitas hidup, karena keluaga pasien menanyakan apakah selang-selang
yang dipasang hampir pada semua bagian tubuh dapat mempertahankan
pasien untuk tetap hidup.

² Kebebasan Melawan Penanganan dan Pencegahan Bahaya.

Contoh masalahnya : seorang pasien berusia lanjut yang menolak untuk


mengenakan sabuk pengaman sewaktu berjalan. Ia ingin berjalan dengan
bebas. Pada situasi ini, perawat pada permasalahan upaya menjaga
keselamatan pasien yang bertentangan dengan kebebasan pasien.

² Berkata secara jujur melawan berkata bohong

Contoh masalahnya : seorang perawat yang mendapati teman kerjanya


menggunakan narkotika. Dalam posisi ini, perawat tersebut berada pada
masalah apakah ia akan mengatakan hal ini secara terbuka atau diam, karena
diancam akan dibuka rahasia yang dimilikinya bila melaporkan hal tersebut
pada orang lain.
² Keinginan terhadap pengetahuan yang bertentangan dengan falsafah agama,
politik, ekonomi dan ideologi

Contoh masalahnya : seorang pasien yang memilih penghapusan dosa daripada


berobat kedokter.

² Terapi ilmiah konvensional melawan terapi tidak ilmiah dan coba-coba

Contoh masalahnya : di Irian Jaya, sebagian masyarakat melakukan tindakan


untuk mengatasi nyeri dengan daun-daun yang sifatnya gatal. Mereka percaya
bahwa pada daun tersebut terdapat miang yang dapat melekat dan
menghilangkan rasa nyeri bila dipukul-pukulkan dibagian tubuh yang sakit.

Konsep Profesi Keperawatan

1. Etika hubungan tim keperawatan

Tim keperawatan terdiri dari semua individu yang terlibat dalam pemberian
asuhan keperawatan kepada pasien. Komposisi anggota tim keperawatan
bervariasi, tergantung pada tenaga keperawatan yang ada, sensus pasien, jenis
unit keperawatan, dan program pendidikan keperawatan yang
berafiliasi/kerjasama Faktor-faktor tim keperawatan yang diarahkan terhadap
kualitas asuhan keperawatan : Dalam kerjasama dengan sesama tim, semua
perawat harus berprinsip dan ingat bahwa fokus dan semua upaya yang
dilakukan adalah mengutamakan kepentingan pasien serta kualitas asuhan
keperawatan dan semua perawat harus mampu mengadakan komunikasi
secara efektif. Latar belakang pendidikan, jenis pekerjaan maupun kemampuan
bervariasi, maka dalam pemberian tugas asuhan keperawatan, perawatan
dibagi dalam berbagai kategori, misalnya perawat pelaksana, kepala bangsal,
kepala unit perawat, kepala seksi perawatan (supervisor), dan kepala bidang
keperawatan (direktor president of nursing). Dalam memberikan asuhan
keperawatan, setiap anggota harus mampu mengkomunikasikan dengan
perawat anggota lain, dimana permasalahan etis dapat didiskusikan dengan
sesama perawat atau atasannya.

2. Hubungan perawat-pasien-dokter

Perawat, pasien, dan dokter adalah tiga unsur manusia yang saling
berhubungan selama mereka masih terkait dalam suatu hubungan timbal balik
pelayanan kesehatan. Hubungan perawat dengan dokter telah terjalin seiring
dengan perkembangan kedua profesi ini, tidak terlepas dari sejarah, sifat
ilmu/pendidikan, latar belakang personal dan lain-lain. Berbagai model
hubungan perawat-pasien-dokter telah dikembangkan, diantaranya adalah
model yang dikembangkan oleh Szasz dan hollander, mereka mengembangkan
tiga model hubungan dokter-perawat di mana model ini terjadi pada semua
hubungan antar manusia, termasuk hubungan antara perawat dan dokter
Model Yang Dikembangka Szasz dan hollander :

1. Model Aktivitas – Pasivitas

Suatu model dimana dokter berperan aktif dan pasien berperan pasif. Model ini
tepat untuk bayi, pasien koma, pasien bius, dan pasien dalam keadaan darurat.
Dokter berada pada posisi mengatur semuanya, merasa mempunyai kekuasaan,
dan identitas pasien kurang diperhatikan. Model ini bersifat otoriter dan
paternalistic.

1. Model Hubungan Membantu

Merupakan dasar untuk sebagian besar dari praktek kedokteran. Model ini
terdiri dari pasien yang mempunyai gejala mencari bantuan dan dokter yang
mempunyai pengetahuan terkait dengan kebutuhan pasien. Dokter
memberikan bantuan dalam bentuk perlakuan/pengobatan. Timbal baliknya,
pasien diharapkan bekerja sama dengan mentaati anjuran dokter. Dalam model
ini, dokter mengetahui apa yang terbaik bagi pasien, memegang apa yang
diminati pasien dan bebas dari prioritas yang lain. Model ini bersifat
paternalistic atau sedikit lebih rendah.

1. Model Partisipasi Mutual

Model ini berdasarkan pada anggapan bahwa hak yang sama/kesejajaran


antara umat manusia merupakan nilai yang tinggi. Model ini mencerminkan
asumsi dasar dari proses demokrasi. Interaksi, menurut model ini, menyebutkn
bahwa pihaknya yang saling berinteraksi mempunyai kekuasaan yang sama,
saling membutuhkan, dan aktivitas yang dilakukan akan memberikan
kepuasaan kedua pihak. Robert Veatch mengembangkan empat model
hubungan dokter – pasien meliputi :

1. The Engineering Model

Dalam model ini veatch menolak sikap kemungkinan nilai bebas murni dari
ilmu atau kedokteran pilihan-pilihan dibuat secara terus menerus terhadap
fakta, observasi, desain penelitian, dan tingkatan statistik signifikasi dalam
suatu kerangka nilai-nilia dengan praduga menurut ilmu-ilmu murni. Sejumlah
besar piliha-pilihan nilai dan signifikasi harus dibuat oleh orang-orang terhadap
ilmu terapan seperti kedokteran, yang mana tidak seperti ilmu teknik, nilai-
nilai tidak dapat ditiadakan dari nasehat teknis terhadap
1. The Pristly Model

Dalam model ini dokter memegang vigure seorang ahli moral yang dapat
memberi tahu pasien apa yang harus dikerjakan pasien pada situasi tertentu.
Tradisi ini berdasarkan prinsip etis jangan kerjakan ketidak baikan. Ini
mencerminkan pelaksanaan prinsip paternalistic dengan tidak
memberitahukan berita buruk kepada pasien, tetapi memberikan suatu
pemantapan yang tidak nyata. Model ini tidak menyertakan pasien dalam
membuat keputusan, tetapi menyerahkan kebebasan kepada dokter, misalnya,
pasien tidak diizinkan menolak transfusi darah yang menurut agamanya tidak
diperbolehkan. Prinsip paternalime mengurangi takdir pasien dengan
mengurangi pengendalian pasien terhadap tubuh dan kehidupan.

1. The Collegial Model

Dalam model ini, dokter dan perawat merupakan mitra dalam mencapai tujuan
untuk menyembuhkan penyakit dan mempertahankan kesehatan pasien. Saling
percaya dan percaya diri merupakan hal utama. Kedua belah pihak mempunyai
kedudukan yang sama. Namun pada kenyataannya, veatch berpendapat bahwa
sebenarnya tidak ada dasar untuk persamaan kedudukan dalam hubungan
pasien-dokter karna perbedaan kelas sosial, status ekonomi, pendidikan dan
sistem nilai menimbulkan asumsi tentang rasa tertarik yang lazim terhadap
ilusi.

1. The Contractual Model

Dalam model ini, peserta yang mengadakan hubungan/interaksi berharap


untuk memegang ketaatan terhadap anjuran dan manfaat untuk kedua belah
pihak. Kesepakatan terhadap prinsip moral merupakan hal yang penting. Lebih
lanjut dalam kesepakatan hubungan, pasien berhak menentukan nasib mereka.
Dalam model ini terjadi curah pendapat tentang tanggung jawab dan kewajiban
etis.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien, serta hubungan


dengan dokter, dikenal beberapa peran perawat, yaitu :

1. Peran independen ( Mandiri )

Peran mandiri merupakan peran perawat dalam memberikan asuhan


keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh perawat secara mandiri

2. Peran dependen ( Tergantung Pada Dokter )


Peran tergantung merupakan peran perawat dalam melaksanakan program
kesehatan dimana pertanggung jawaban dipegang oleh dokter.

3. Peran inter dependen ( Kolaborasi )

Peran kolaborasi merupakan peran perawat dalam mengatasi permasalahan


secara team work dengan tim kesehatan lain.

3. Hubungan perawat-pasien dalam koteks etis

Peran perawat secara umum dapat digunakan kerangka yang mengacu pada
pandangan dasar hildegard E.peplav, tentang hubungan perawat-pasien, yang
merupakan suatu teori yang mendasari nilai dan martabat manusia,
pengembangan rasa percaya, pengukuran pemecahan masalah, dan kolaborasi.

Dalam konteks hubungan perawat-pasien, perawat dapat berperan sebagai


konselor pada saat pasien mengungkapkan kejadian dan perasaan tentang
penyakitnya. Dapat pula berperan sebagai pengganti orang tua (terutama pada
pasien anak), saudara kandung, atau teman bagi pasien dalam mengungkapkan
perasaannya.

Pada dasarnya hubungan antara perawat-pasien berdasarkan pada sifat


alamiah perawat dan pasien dalam berinteraksi perawat-pasien, peran yang
dimiliki masing-masing membentuk suatu kesepakatan atau persetujuan
dimana pasien mempunyai peran dan hak sebagai pasien dan perawat
mempunyai peran dan hak sebagai perawat. Dan dalam hubungan perawat-
pasien maka setiap hubungan harus didahului dengan kontrak dan kesepakatan
bersama, dimana pasien mempunyai peran sebagai pasien dan perawat sebagai
perawat. Kesepakatan ini menjadi parameter bagi perawat dalam memutuskan
setiap tindakan etis.