Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH DEMOKRASI DAN HAM

“HAKEKAT DAN MOMENTUM PERKEMBANGAN HAM”

Disusun oleh

1. Hafilda Nisma Hidayati (4115164569)


2. Sarah Apridah (4115163519)
3. Yoga Andika (4115163868)

Dosen pengampu :
Drs. M. Japar, M.Si

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan


Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
KATA PENGANTAR

Segala puja hanya bagi Allah yang Maha Pengasi lagi Maha Penyayang. Berkat limpahan
karunia nikmatNya penulis dapat menyelesaikan makalah yang bertajuk “Hakekat dan
Momentum Perkembangan Hak Asasi Manusia” dengan lancar. Penyusunan makalah ini
dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Demokrasi dan HAM yang diampu oleh Bapak
M.Japar, M.Si

Dalam proses penyusunannya tak lepas dari bantuan, arahan dan masukan dari berbagai pihak.
Untuk itu penulis ucapkan banyak terima kasih atas segala partisipasinya dalam menyelesaikan
makalah ini.

Meski demikian, penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan dan kekeliruan di dalam
penulisan makalah ini, baik dari segi tanda baca, tata bahasa maupun isi. Sehingga penulis
secara terbuka menerima segala kritik dan saran positif dari pembaca.

Demikian apa yang dapat penulis sampaikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
masyarakat umumnya, dan untuk penulis khususnya.

Jakarta, 25 November 2017

Penulis
Daftar Isi

Cover……………………………………………………………………………………………

Kata pengantar…………………………………………………………………………………

Daftar isi………………………………………………………………………………………

Bab I Pendahuluan………………………………………………………………………………

a. Latar belakang…………………………………………………………………………..
b. Rumusan masalah………………………………………………………………………
c. Tujuan masalah…………………………………………………………………………

Bab II Landasan Teori……………………………………………………………………….......

Bab III Pembahasan…………………………………………………………………………......

Bab IV Penutup…………………………………………………………………………….........

a. Kesimpulan………………………………………………………………………….......
b. Rekomendasi …………………………………………………………………………...

Daftar pustaka……………………………………………………………………….................
BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia
manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh
masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan
martabatnya sebagai manusia. Dalam arti ini, maka meskipun setiap orang terlahir
dengan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan kewarganegaraan yang
berbedabeda, ia tetap mempunyai hak-hak tersebut. Inilah sifat universal dari hak-hak
tersebut. Selain bersifat universal, hak-hak itu juga tidak dapat dicabut (inalienable).
Artinya seburuk apapun perlakuan yang telah dialami oleh seseorang atau betapapun
bengisnya perlakuan seseorang, ia tidak akan berhenti menjadi manusia dan karena itu
tetap memiliki hak-hak tersebut. Dengan kata lain, hak-hak itu melekat pada dirinya
sebagai makhluk insani

b. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat perkembangan HAM di dunia ?
2. Bagaimana Momentum perkembangan HAM di dunia ?

c. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui hakikat perkembangan HAM di dunia
2. Untuk mengetahui momentum perkembangan HAM di dunia
BAB II

LANDASAN TEORI

1. Pengertiaan Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan seperangkat yang yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrahnya
yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan
setiap orang.
Sacara formal konsep mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) lahir padatanggal 10
Desember 1948, ketika PBB memproklamirkan Deklarasi Universal HAM. Yang di dalamnya
memuat 30 pasal, yang kesemuanya memaparkan tentang hak dan kewajiban umat manusia.
Secara eksplisit, Hak Asasi Manusia (HAM) adalah suatu yang melekat pada manusia, yang
tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia, sifatnya tidak dapat dihilangkan atau
dikurangi oleh siapapun.

Adapun isi dalam mukadimah Deklarasi Universal tentang HAM oleh PBB adalah:
1. Pengakuan atas martabat dan Hak-hak yang sama bagi semua anggota keluarga,
kemanusiaan dan keadilan di dunia.
2. Mengabaikan dan memandang rendah Hak Asasi Manusia (HAM) akan
menimbulkan perbuatan yang tidak sesuai dengan hati nurani umat manusia.
3. Hak-hak manusia perlu dilindungi oleh peraturan hukum.
4. Persahabatan antara Negara-negara perlu dianjurkan.
5. Memberikan Hak-hak yang sama baik laki-laki maupun perempuan.
6. Memberi penghargaan terhadap pelaksanaan Hak-hak manusia dan kebebasan
asa umat manusia.
7. Melaksanakan Hak-hak dan kebebasan secara tepat dan benar.

Berikut ini pengertian HAM menurut beberapa ahli: Menurut Tilaar “HAM adalah Hak-
hak yang melekat pada diri manusia, dan tanpa Hak-hak itu manusia tidak dapat hidup layak
sebagai manusia. Hak tersebut diperoleh Bersama dengan kelahirannya atau kehadirannya di
dalam kehidupan masyarakat”.1

1
Syarbaini dkk (2006:128)
Musthafa Kemal Pasha (2002:129) “menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Hak
Asasi Manusia (HAM) adalah Hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir yang melekat
pada esensinya sebagai anugrah Allah”.2
Sependapat dengan pendapat tersebut, John Locke (2000:15) “mengemukakan bahwa
HAM adalah Hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta”. HAM
merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai
suatu anugrah tuhan yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu,
masyarakat, atau negara. Dengan demikian, hakekat penghormatan dan perlindungan terhadap
HAM ialah menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan,
yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta keseimbangan antara kepentingan
perseorangan dengan kepentingan umum.3

Hakekat dari asasi manusia adalah keterpaduan antara Hak Asasi Manusia (HAM)
kewajiban asasi manusia dan tanggung jawab asasi manusia yang berlangsung secara sinergis
dan seimbang. Bila ketiga unsur asasi yang melekat pada setiap individu manusia baik dalam
tatanan kehidupan pribadi, masyarakat, kebangsaan, kenegaraan, dan pergaulan global, dapat
dipastikan tidak akan menimbulkan kekacauan, anarkisme, dan kesewenang-wenangan dalam
tata kehidupan umat.

2
Musthafa Kemal Pasha (2002:129)
3
John Locke (2000:15)
BAB III
PEMBAHASAN

1. Perkembangan HAM Di Dunia.


Gagasan mengenai hak asasi manusia ditandai dengan munculnya konsep ha kodrati
(natural rights theory) dimana pada zaman kuno yaitu filsafat stoika hingga ke zaman
modern dengan tulisan-tulisan hukum kodrati Thomas Aquinas, Hugo de Groot dan
selanjutnya pada zaman pasca Reinaisans, John Locke mengajukan pemikiran tentang
hukum kodrati sehingga melandasi munculnya revolusi yang terjadi di Inggris,
Amerika Serikat dan Perancis pada abad 17 dan 18.
Pemikiran tentang hukum kodrati berakar dari kekuatan konservatif yang ingin
melindungi properti-properti tertentu dengan selimut suci. Motif tersebut diakui sebagai
hak fundamental dari setiap individu dalam hidupnya. Namun uniknya dibalik sifat
konservatif gagasan hukum kodrati tadi, ternyata tersimpan juga motif yang
revolusioner, hal ini terbukti ketika pemikiran hukum kodrati tentang kesetaraan
manusia terkandung dalam dokumen hukum di Amerika dan Perancis yang bertujuan
untuk melindungi hak-hak asasi manusia.
Sebuah postulasi pemikiran yang diajukan oleh John Locke bahwa semua individu
dikaruniai oleh Tuhan hak yang melekat atas hidup, kebebasan dan kepemilikan yang
tidak dapat dicabut oleh negara sekalipun. Melalui suatu kontrak sosial perlindungan
atas hak-hak yang tidak dapat dicabut ini diserahkan kepada negara dengan tujuan agar
negara dapat menjamin dan melindungi terlaksananya hak-hak tersebut. Jika sampai
negara mengabaikan hak-hak tersebut maka oleh Locke diperbolehkan untuk
menurunkan sang penguasa dan menggantinya dengan suatu pemerintahan yang
bersedia untuk menghormati dan menjamin hak-hak tersebut.
Ide dan konsep hak-hak manusia seperti ini lahir dan berkembang marak tatkala
sejumlah pemikir Eropa Barat yang berpikiran cerah pada suatu zaman khususnya
sepanjang belahan akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mulai memainkan peranan
dalam melawan absolutisme politik.4
Hal ini sesungguhnya dikarenakan oleh kegagalan para penguasa. Dalam bahasa
Maurice Cranston “Absolutism prompted man to claim rights precisely because it
denied them”. Pada saat itu pemikir mulai mempertanyakan keabsahan kekuasaan para

4
Satya Arinanto,op. cit., hal. 77
monarki yang absolut berikut wawasan tradisionalnya yang amat diskriminatif dan
memperbudak. Tatkala di negeri-negeri Barat secara suksesif akan tetapi juga berdaya
akumulatif gagasan-gagasan baru itu mulai berpengaruh luas, gerakan revolusioner
untuk merealisasi cita-cita kebebasan dan egalitarianisme (demi ketahanan dan
kemakmuran. 5

2. Pengertian HAM
Hak Asasi Manusia menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB)
adalah "Human rights could be generally deined those rights which are inherent in
our nature and without which can not live as human being" (hak asasi manusia
adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil
dapat hidup sebagai manusia), Selanjutnya John Locke menyatakan hak asasi
manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha sebagai
hak yang kodrati. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat
mencabutnya. Dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM pasal 1 disebutkan
bahwa "HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan
manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya yang
dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintahan dan
setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.6

3. Momentum perkembangan HAM di Dunia

A. Piagam Madinah
Piagam Madinah” (Madinah Charter) adalah konstitusi tertulis pertama mendahului
Magna Carta, yang berarti Piagam Besar, disepakati di Runnymede, Surrey pada
tahun 1215. Landasan bagi konstitusi Inggris ini pula yang menjadi rujukan
Amerika membuat konstitusi yang selama ini dianggap oleh Barat sebagai
“dokumen penting dari dunia Barat” dan menjadi rujukan/model banyak negara di
dunia.

5
Satya Arinanto,op. cit., hal. 77
6
Komisi HAM PBB Jan Materson
Kehadiran “Piagam Madinah” nyaris 6 abad mendahului Magna Charta, dan hampir
12 abad mendahului Konstitusi Amerika Serikat ataupun Prancis.

Kandungan “Piagam Madinah” terdiri daripada 47 pasal, 23 pasal membicarakan


tentang hubungan antara umat Islam yaitu; antara Kaum Anshat dan Kaum
Muhajirin.

24 pasal lain membicarakan tentang hubungan umat Islam dengan umat lain,
termasuk Yahudi.

“Piagam Madinah” atau juga dikenal “Perjanjian Madinah” atau “Dustar al-
Madinah” juga“Sahifah al-Madinah” dapat dikaitkan dengan Perlembagaan
Madinah karena kandungannya membentuk peraturan-peraturan yang berasaskan
Syariat Islam bagi membentuk sebuah negara (Daulah Islamiyah) yang
menempatkan penduduk berbagai suku, ras dan agama (yang tinggal di
Madinah/Yatsrib kala itu adalah kaum Arab Muhajirin Makkah, Arab Madinah, dan
masyarakat Yahudi yang hidup di Madinah).
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mencontohkan prinsip
konstitusionalisme dalam perjanjiannya dengan segenap warga Yatsrib (Madinah).

“Piagam Madinah” yang dibuat Rasulullah mengikat seluruh penduduk yang terdiri
dari bebagai kabilah (kaum) yang menjadi penduduk Madinah.7

B. Deklarasi kairo (Cairo Declaration)

Deklarasi Kairo tentang Hak Asasi Manusia dalam islam, 5 Agustus 1990.
Konferensi islam dihadiri Sembilan Belas Menteri Luar Negeri (Sesi Damai,
interdependensi dan) yang disetonggarakan di Kairo, Republik Arab Mesir (9-
14Muharram 1411 H atau 31 Juli - 5 Agustus 1990).

Isu lentang pelaksanaan HAM tidak lepas dari perhatian umat Islam, apalagi
mayoritas Negara-negara Islam adalah torgolong kedalam barisan Negara-negara

7
Arifin Ismail, bahan diambil dari Kitab Shirah Ibnu Hisyam, Darul Qutub, Beirut, 2001)
barat atas nama HAM. Dalam pandangan Negara-negara islam, HAM Barat tidak
sesuai dengan pandangan ajaran Islam yang telah ditetapkan Allah SWT. Berkaitan
dengan itu negara-negara Islam yang tergabung dalam organization of the Islamic
(OIC/OKI) pada tanggal 5 Agustus 1990 mengeluarkan deklarasi tentang
kemanusiaan sesuai dengan syariat Islam di Kairo. Konsep hak-hak asasi manusia
hasil rumusan Negara-negara OKI ini selanjutnya dikenal dengansebutan Deklarasi
Kairo. Deklarasi ini berisi 25 pasal tentang hak asasi manusia berdasarkan Al-
Qura'an dan Sunnah yang dalam penerapan dan realitasnya memiliki beberapa
persamaan dengan pernyataan semesta hak-hak asasi manusia (The Unversal of
Human Right UDHR) yang dideklarasikan oleh PBB tahun 1948.
Menegaskan kembali membudayakanperan umat Islam Allah sebagai komunitas
terbaik dan yang memberikan manusia antara peradaban yang universal dan
seimbang, di mana harmoni didirikan antara dunia dan akhirat, pengetahuan
dikombinasikan dengan iman, dan untuk memenuhi harapan dari komunitas ini
untuk membimbing seluruh umat manusia yang bingung karena keyakinan dan
ideologi yang berbeda saling bertentangan dan memberikan solusi untuk semua
masalah kronis peradaban materialistik ini. 8

B. Momentum Perkembangan HAM Di Barat


a)Priode Sebelum Perang Dunia Kedua

1.Hak Asasi Manusia di Inggris

Pemikiran HAM di Inggris lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran empirisme. dari
Francis Bacon pada abad XVII. Menurut empirisme, pengetahuan itu hanya dapat
dibentuk melalui pengalaman sebagi sumbernya. Thomas Hobbes (1588-1679)
mengajarkan bahwa semua manusia itu memiliki sifat yang sama. Manusia
dipandang sebagai homo homini lupus yaitu naluri manusia itu bagaikan serigala
untuk selalu ingin mempertahankan dirinya sendiri, bersaing, dan saling menerkam
sesamanya. Konflik dan pertikaian akan muncul manakala manusia mengikuti
nalurinya. Menurut John Locke (1632-1704) supaya negara tidak sewenang-

8
Cairo Declaration of Human Rights in Islam: http://www1.umn.edu/humanrts/instree/cairodeclaration.html
wenang, maka kekuasaannya dipisahkan menjadi: (a) legislatif yaitu kekuasaan
membuat undang-undang,
(b) eksekutif yaitu kekuasaan untuk melaksanakan pemerintahan negara,
(c) federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga
kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan lainnya.

Pemikiran Locke kemudian dilanjutkan oleh J.J. Rousseau yang memandang


manusia itu sebagai makhluk alamiah. Dalam keadaan alamiah itu manusia
memiliki kebebasan, hak hidup, dan hak milik. Pemikiran beberapa tokoh tersebut
di atas, memberikan inspirasi untuk memperjuangkan HAM di Inggris.
Menurut Magna Charta (Al Hakim, 2002) membatasi kekuasaan Raja. Pada tahun
1629 masyarakat mengajukan Petition of Right (petisi hak asasi manusia) yang
berisi tentang pajak yang dipungut kerajaan harus mendapat persetujuan parlemen
Inggris. Pada tahun 1679 dibuatlah suatu ketentuan di dalamHabeas Corpus
Act yang menyatakan bahwa penangkapan terhadap seseorang hanya dapat
dilakukan apabila disertai dengan surat-surat yang lengkap dan sah. Ketentuan ini
disusul aturan baru yaitu pada tahun 1689 dibuat Bill of Right yang menyatakan
bahwa pemungutan pajak harus mendapat persetujuan parlemen dan parlemen
dapat mengubah keputusan Raja. Berbagai ketentuan HAM dan hukum tersebut
bertujuan untuk membatasi kekuasaan Raja agar tidak sewenang-wenang dan
melindungi warga negara sebagai manusia.9

Inggris sering disebut–sebut sebagai negara pertama di dunia yang


memperjuangkan hak asasi manusia.Tonggak pertama bagi kemenangan hak-hak
asasi terjadi di Inggris. Perjuangan tersebut tampak dengan adanya berbagai
dokumen kenegaraan yang berhasil disusun dan disahkan. Dokumen-dokumen
tersebut adalah sebagai berikut :

a)MAGNA CHARTA
Pada awal abad XII Raja Richard yang dikenal adil dan bijaksana telah diganti oleh
Raja John Lackland yang bertindak sewenang–wenang terhadap rakyat dan para
bangsawan. Tindakan sewenang-wenang Raja John tersebut mengakibatkan rasa

9
Magna Charta (Al Hakim, 2002)
tidak puas dari para bangsawan yang akhirnya berhasil mengajak Raja John untuk
membuat suatu perjanjian yang disebut Magna Charta atau Piagam Agung.

Magna Charta dicetuskan pada 15 Juni 1215 yang prinsip dasarnya memuat
pembatasan kekuasaan raja dan hak asasi manusia lebih penting daripada
kedaulatan raja. Tak seorang pun dari warga negara merdeka dapat ditahan atau
dirampas harta kekayaannya atau diasingkan atau dengan cara apapun dirampas
hak-haknya, kecuali berdasarkan pertimbangan hukum. Piagam Magna Charta itu
menandakan kemenangan telah diraih sebab hak-hak tertentu yang prinsip telah
diakui dan dijamin oleh pemerintah. Piagam tersebut menjadi lambang munculnya
perlindungan terhadap hak-hak asasi karena ia mengajarkan bahwa hukum dan
undang-undang derajatnya lebih tinggi daripada kekuasaan raja.

Isi Magna Charta adalah sebagai berikut :


1)Raja beserta keturunannya berjanji akan menghormati kemerdekaan, hak, dan
kebebasan Gereja Inggris
2)Raja berjanji kepada penduduk kerajaan yang bebas untuk memberikan hak-hak
sebagi berikut :
a)Para petugas keamanan dan pemungut pajak akan menghormati hak-hak
penduduk.
b)Polisi ataupun jaksa tidak dapat menuntut seseorang tanpa bukti dan saksi yang
sah.
c)Seseorang yang bukan budak tidak akan ditahan, ditangkap, dinyatakan bersalah
tanpa perlindungan negara dan tanpa alasan hukum sebagai dasar tindakannya.
d)Apabila seseorang tanpa perlindungan hukum sudah terlanjur ditahan, raja
berjanji akan mengoreksi kesalahannya.10

b)PETITION OF RIGHTS
Pada dasarnya Petition of Rights berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai hak-hak
rakyat beserta jaminannya. Petisi ini diajukan oleh para bangsawan kepada raja di
depan parlemen pada tahun 1628. Isinya secara garis besar menuntut hak-hak
sebagai berikut :

10
Magna Charta (Al Hakim, 2002)
a)Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan.
b)Warga negara tidak boleh dipaksakan menerima tentara di rumahnya.
c)Tentara tidak boleh menggunakan hukum perang dalam keadaan damai.11

c)HOBEAS CORPUS ACT


Hobeas Corpus Act adalah undang- undang yang mengatur tentang penahanan
seseorang dibuat pada tahun 1679. Isinya adalah sebagai berikut :
a)Seseorang yang ditahan segera diperiksa dalam waktu 2 hari setelah penahanan.
b)Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut hukum.12

d)BILL OF RIGHTS
Bill of Rights merupakan undang-undang yang dicetuskan tahun 1689 dan diterima
parlemen Inggris, yang isinya mengatur tentang :
1)Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen.
2)Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat.
3)Pajak, undang-undang dan pembentukan tentara tetap harus seizin parlemen.
4)Hak warga Negara untuk memeluk agama menurut kepercayaan masing-masing
.
5)Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja.13

2. Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat

Bangsa Amerika berasal dari kaum imigran berbagai negara Eropa, Asia, Afrika,
dan Australia. Kaum imigran tersebut semula berpikir secara sempit untuk
kepentingannya sendiri. Mereka mempunyai kebiasaan dan pengalaman sendiri
yang dibawa dari negaranya. Keanekaragaman bangsa Amerika tersebut sebagai
potensi negara harus diterima dan diberdayakan demi kejayaan Amerika. Ketika
Amerika masih di bawah pemerintahan kolonial Inggris, masyarakat diperlakukan
secara tidak adil.14

11
Porter, Lori. "Petition - SLAPPs". First Amendment Center
12
"Habeas Corpus Act 1679". Legislation.gov.uk. Retrieved 2 October 2016.
13
http://www.billofrightsinstitute.org/founding-documents/bill-of-rights/
Pada tahun 1776 bangsa Amerika menyatakan kemerdekaan dari pemerintahan
kerajaan Inggris melaluiDeclaration of Independence. Rakyat Amerika yang
bersifat heterogen itu harus dapat hidup berdampingan secara damai. Hak-hak asasi
masyarakat harus dijamin dan dilindungi tanpa pengecualian. Simbol HAM dan
demokrasi itu diujudkan dengan patung liberty. Ketika sedang berkecamuk perang
dunia ke II, Presiden Franklin Delano Roosvelt dihadapan konggres Amerika
(1941) menyatakan ada empat kemerdekaan yaitu:
(a) freedom of speech (kebebasan berbicara dan berpendapat), (b) freedom of
Religon ( kebebasan beragama),
(c) freedom from fear (bebas dari rasa takut) dan
(d)freedom from want (bebas dari kemiskinan).

Pemikiran filsuf John Locke (1632-1704) yang merumuskan hak-hak alam,seperti


hak atas hidup, kebebasan, dan milik (life, liberty, and property) mengilhami
sekaligus menjadi pegangan bagi rakyat Amerika sewaktu memberontak melawan
penguasa Inggris pada tahun 1776. Pemikiran John Locke mengenai hak – hak dasar
ini terlihat jelas dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang dikenal
dengan DECLARATION OF INDEPENDENCE OF THE UNITED STATES.

Revolusi Amerika dengan Declaration of Independence-nya tanggal 4 Juli 1776,


suatu deklarasi kemerdekaan yang diumumkan secara aklamasi oleh 13 negara
bagian, merupakan pula piagam hak – hak asasi manusia karena mengandung
pernyataan “Bahwa sesungguhnya semua bangsa diciptakan sama derajat oleh
Maha Pencipta. Bahwa semua manusia dianugerahi oleh Penciptanya hak hidup,
kemerdekaan, dan kebebasan untuk menikmati kebhagiaan.

John Locke menggambarkan keadaanstatus naturalis, ketika manusia telah


memiliki hak-hak dasar secara perorangan. Dalam keadaan bersama-sama, hidup
lebih maju seperti yang disebut dengan status civilis, locke berpendapat bahwa
manusia yang berkedudukan sebagai warga negara hak-hak dasarnya dilindungi
oleh negara.
Declaration of Independence di Amerika Serikat menempatkan Amerika sebagai
negara yang memberi perlindungan dan jaminan hak-hak asasi manusia dalam
15
konstitusinya, kendatipun secara resmi rakyat Perancis sudah lebih dulu
memulainya sejak masa Rousseau. Kesemuanya atas jasa presiden Thomas
Jefferson presiden Amerika Serikat lainnya yang terkenal sebagai “pendekar” hak
asasi manusia adalah Abraham Lincoln, kemudian Woodrow Wilson dan Jimmy
Carter.

Amanat Presiden Flanklin D. Roosevelt tentang “empat kebebasan” yang


diucapkannya di depan Kongres Amerika Serikat tanggal 6 Januari 1941 yakni :

a)Kebebasan untuk berbicara dan melahirkan pikiran (freedom of speech and


expression).
b)Kebebasan memilih agama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya
(freedom of religion).
c)Kebebasan dari rasa takut (freedom from fear).
d)Kebebasan dari kekurangan dan kelaparan (freedom from want).

Kebebasan- kebebasan tersebut dimaksudkan sebagai kebalikan dari kekejaman dan


penindasan melawan fasisme di bawah totalitarisme Hitler (Jerman), Jepang, dan
Italia. Kebebasan – kebebasan tersebut juga merupakan hak (kebebasan) bagi umat
manusia untuk mencapai perdamaian dan kemerdekaan yang abadi. Empat
kebebasan Roosevelt ini pada hakikatnya merupakan tiang penyangga hak-hak
asasi manusia yang paling pokok dan mendasar.

3. Hak Asasi Manusia di Perancis

Pemikiran yang berkembang di Perancis lebih banyak bercorak rasionalisme,


artinya rasio dijadikan sumber dan ukuran untuk menentukan kebenaran. Rene
Descates mengatakan cogito ergo sum, artinya aku berpikir maka aku ada.
Keberadaanku ditentukan oleh cara berpikirku. Menurutnya hak asasi manusia
terletak pada kebebasan untuk berpikir dan berkehendak. Rasionalisme tumbuh

15
"Four Freedoms" Lesson plan for grades 9–12 from National Endowment for the Humanities
subur di Perancis dan dikembangkan lebih lanjut oleh Auguste Comte melalui tiga
tahap: Pertama, tahap theologis dimana kehidupan masyarakat ditentukan oleh
kepercayaan pada kekuatan adi kodrati. Kedua, tahap metafisis dimana kehidupan
masyarakat ditentukan oleh kekuatan berpikir rasional. Ketiga, tahap positif dimana
kehidupan masyarakat ditentukan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.16

Perjuangan bangsa Perancis dalam mewujudkan HAM ditandai dengan


dirobohkannya penjara Bastille, seraya mengumadangkan
semboyan liberty(kemerdekaan) equality (persamaan), danegality (persaudaraan).
Revolusi Perancis (1789) dimulai dengan dideklarasikanDeclaration des droits
de`lHomme et du Citoyen (deklarasi tentang hak asasi manusia dan penduduk).
Deklarasi tersebut berisi pernyataan bahwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan
bebas dan mempunyai kedudukan yang sama.

Perjuangan hak asasi manusia di Prancis dirumuskan dalam suatu naskah pada awal
Revolusi Prancis. Perjuangan itu dilakukan untuk melawan kesewenang-wenangan
rezim lama. Naskah tersebut dikenal dengan DECLARATION DES DROITS DE
L’HOMME ET DU CITOYEN yaitu pernyataan mengenai hak-hak manusia dan
warga negara. Pernyataan yang dicetuskan pada tahun 1789 ini mencanangkan hak
atas kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan atau kesetiakawanan (liberte, egalite,
fraternite).

Lafayette merupakan pelopor penegakan hak asasi manusia masyarakat Prancis


yang berada di Amerika ketika Revolusi Amerika meletus dan mengakibatkan
tersusunnya Declaration des Droits de I’homme et du Citoyen. Kemudian di tahun
1791, semua hak-hak asasi manusia dicantumkan seluruhnya di dalam konstitusi
Prancis yang kemudian ditambah dan diperluas lagi pada tahun 1793 dan 1848. Juga
dalam konstitusi tahun 1793 dan 1795. revolusi ini diprakarsai pemikir – pemikir
besar seperti : J.J. Rousseau, Voltaire, serta Montesquieu. Hak Asasi yang tersimpul
dalam deklarasi itu antara lain :

16
"Déclaration des Droits de l'Homme et du Citoyen de 1789". Conseil constitutionnel (in French). Retrieved 14
May 2012.
a.Manusia dilahirkan merdeka dan tetap merdeka.
b.Manusia mempunyai hak yang sama.
c.Manusia merdeka berbuat sesuatu tanpa merugikan pihak lain.
d.Warga Negara mempunyai hak yang sama dan mempunyai kedudukan serta
pekerjaan umum.
e.Manusia tidak boleh dituduh dan ditangkap selain menurut undang-undang.
f.Manusia mempunai kemerdekaan agama dan kepercayaan.
g.Manusia merdeka mengeluarkan pikiran.
h.Adanya kemerdekaan surat kabar.
i.Adanya kemerdekaan bersatu dan berapat.
j.Adanya kemerdekaan berserikat dan berkumpul.
k.Adanya kemerdekaan bekerja,berdagang, dan melaksanakan kerajinan.
l.Adanya kemerdekaan rumah tangga.
m.Adanya kemerdekaan hak milik.
n.Adanya kemedekaan lalu lintas.
o.Adanya hak hidup dan mencari nafkah.

4) Konferensi Buruh Internasional (Philadelpia)


Pada tahun 1944 diadakan Konferensi Buruh Internasional di Philadelphia. Isi dari
konferensi tersebut tentang kebutuhan penting untuk mencipta perdamaian dunia
berdasaran keadilan sosial dan perlindungan seluruh manusia apapun ras,
kepercayaan atau jenis kelaminya, memiliki hak untuk mengejar perkembangan
material dan spritual dengan bebas dan bermartabat, keamanan ekonomi dan
kesempatan yang sama. Semua hak-hak diatas sesudah perang dunia ll (sesuda
Hitler memusnahkan berjuta-juta manusia) dijadikan dasar pemikiran untuk
menjadi embrio rumusan HAM yang bersifat universal sebagaimana dalam The
Universal Declaration of Human rights PBB tahun 194817

b). Periode Setelah Perang Dunia Kedua


1.Perserikatan Bangsa-Bangsa
Setelah perang dunia kedua, mulai tahun 1946, disusunlah rancangan piagam hak-
hak asasi manusia oleh organisasi kerja sama untuk sosial ekonomi Perserikatan

17
http://www.ilo.org/global/lang--en/index.htm
Bangsa-Bangsa yang terdiri dari 18 anggota. PBB membentuk komisi hak asasi
manusia (commission of human right).Sidangnya dimulai pada bulan januari 1947
di bawah pimpinan Ny. Eleanor Rossevelt. Baru 2 tahun kemudian, tanggal 10
Desember 1948 Sidang Umum PBB yang diselenggarakan di Istana Chaillot, Paris
menerima baik hasil kerja panitia tersebut. Karya itu berupa UNIVERSAL
DECLARATION OF HUMAN RIGHTS atau Pernyataan Sedunia tentang Hak –
Hak Asasi Manusia, yang terdiri dari 30 pasal. Dari 58 Negara yang terwakil dalam
sidang umum tersebut, 48 negara menyatakan persetujuannya, 8 negara abstain, dan
2 negara lainnya absen. Oleh karena itu, setiap tanggal 10 Desember diperingati
sebagai hari Hak Asasi Manusia.

Universal Declaration of Human Rights antara lain mencantumkan, Bahwa setiap


orang mempunyai Hak :
1.Hidup
2.Kemerdekaan dan keamanan badan
3.Diakui kepribadiannya
4.Memperoleh pengakuan yang sama dengan orang lain menurut hukum untuk
mendapat jaminan hokum dalam perkara pidana, seperti diperiksa di muka umum,
dianggap tidak bersalah kecuali ada bukti yang sah
5.Masuk dan keluar wilayah suatu Negara
6.Mendapatkan asylum
7.Mendapatkan suatu kebangsaan
8.Mendapatkan hak milik atas benda
9.Bebas mengutarakan pikiran dan perasaan
10.Bebas memeluk agama
11.Mengeluarkan pendapat
12.Berapat dan berkumpul
13.Mendapat jaminan sosial
14.Mendapatkan pekerjaan
15.Berdagang
16.Mendapatkan pendidikan
17.Turut serta dalam gerakan kebudayaan dalam masyarakat
18.Menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan18

4. Kasus Pelanggaran HAM


Kekerasan Rohingya Dinilai Berdampak Buruk bagi HAM di Asia Tenggara
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas
HAM) Nurkholis mengatakan bahwa krisis kemanusiaan yang menimpa etnis
Rohingya di Rakhine State, Myanmar, akan memberi dampak buruk bagi situasi
HAM, utamanya di kawasan Asia Tenggara.
Karena itu, Nurkholis menegaskan bahwa penindasan kepada etnis Rohingya
tersebut harus segera dihentikan.
"Ini adalah sebuah konflik yang kemudian menimbulkan korban masyarakat sipil
yaitu merupakan tragedi kemanusian. Untuk itu kekerasan dari semua pihak harus
segera dihentikan," kata Nurkholis dalam keterangan tertulis, Senin (4/9/2017).Tak
hanya itu, Komnas HAM juga mendorong untuk segera dibuka akses bagi tim
pencari fakta yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk
mengumpulkan fakta dalam rangka menemukan akar masalah guna penyelesaian
jangka panjang.
"Peristiwa yang terjadi di Rakhine, Myanmar dapat diduga merupakan pelanggaran
hak asasi manusia," ujar Nurkholis.
Dia juga mengingatkan negara-negara d kawasan Asia Tenggara terkait masalah
pengungsi yang kemudian harus menjadi kepedulian bersama.
"Akses bantuan seperti, makanan dan bantuan lainnya harus segera dibuka bagi
masyarakat sipil yang menjadi korban," tutur Nurkholis.
Diketahui, kekerasan terhadap etnis Rohingya semakin memburuk di negara bagian
Rakhine, Myanmar, dalam beberapa hari terakhir.
Korban tewas meningkat karena bentrokan bersenjata antara tentara dan militan
Rohingya terus berlanjut.

18
http://www.un.org/en/universal-declaration-human-rights/
Kekerasan juga membuat ribuan Muslim Rohingya khawatir dan melarikan diri ke
perbatasan Bangladesh.19

BAB III
PENUTUP
A. KESMIPULAN
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan seperangkat yang yang melekat pada
hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugrahnya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi
oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang. Perkembangan HAM di
dunia merupakan rangkaian peristiwa yang akhirnya membuat pendeklarasian
HAM dilakukan tanggal 10 desember 1948 oleh PBB.

B. REKOMENDASI
Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan
memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa
menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan
pelanggaran HAM. Dan jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-
injak oleh orang lain.Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu
menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita dengan orang lain.

19
http://nasional.kompas.com/read/2017/09/04/18424771/kekerasan-rohingya-dinilai-berdampak-buruk-
bagi-ham-di-asia-tenggara
DAFTAR PUSTAKA
1. Kurniawan Kunto Yuliarsono, dan Nunung Prajarto. 2005. Hak Asasi
Manusia (HAM) di Indonesia (Menuju Democratic Governances).
Yogyakarta: Jurnal ilmu sosial politik Vol.8 No.3
2. Arifin Ismail, Kitab Shirah Ibnu Hisyam, Darul Qutub, Beirut, 2001)
3. Magna Charta (Al Hakim, 2002)
4. Porter, Lori. "Petition - SLAPPs". First Amendment Center
5. "Habeas Corpus Act 1679". Legislation.gov.uk. Retrieved 2 October
2016.
6. Four Freedoms" Lesson plan for grades 9–12 from National Endowment
for the Humanities
7. Déclaration des Droits de l'Homme et du Citoyen de 1789". Conseil
constitutionnel (in French). Retrieved 14 May 2012.
8. http://www.billofrightsinstitute.org/founding-documents/bill-of-rights/
9. Cairo Declaration of Human Rights in Islam:
http://www1.umn.edu/humanrts/instree/cairodeclaration.html
10. http://www.ilo.org/global/lang--en/index.htm
11. http://www.un.org/en/universal-declaration-human-rights/
12. http://nasional.kompas.com/read/2017/09/04/18424771/kekerasan-
rohingya-dinilai-berdampak-buruk-bagi-ham-di-asia-tenggara