Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN BPH

No Kopetensi Elemen kompetensi


1 Asuhan keperawatan 1. Pengkajian Keperawatan
Pasien dengan BPH a. Identitas pasien
b. Keluhan utama
BPH (Hiperplasia prostat benigna) adalah c. Riwayat penyakit sekarang
suatu keadaan di mana kelenjar prostat d.Riwayat penyakit yang pernah diderita
mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke e. Riwayat gizi
dalam kandung kemih dan menyumbat aliran
f. Kondisi lingkungan
urin dengan menutup orifisium uretra. BPH
g. Pola kebiasaan
merupakan kondisi patologis yang paling umum
Data subjectife
pada pria. (Smeltzer dan Bare, 2002)

 Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.


 Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.
 Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.
 Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.

Data objectife :
o Klien tampak lemas, ,
o klien tampak pucat,
o Klien terpasang kateter
o Distensi kandung kemih (-)
o Tidak ada nyeri tekan saat palpasi kandung kemih

Pemeriksaan fisik
 inspeksi,
 palpasi,
 auskultasi,
 perkusi

Pemeriksaan Diagnostik
 Pemeriksaan rectum
 Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan urine
 Pemeriksaan darah
 Pemeriksaan radiology
 Pemeriksaan blast nier overzith (BNO)
 Pemeriksaan USG
 Cystouretroscopy

2. Diagnosa Keperawatan
a. Pre operasi
- Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
- Cemas berhubungan dengan perubahan status
kesehatan atau menghadapi proses bedah.
- Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan factor biologi
- Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan
spasme kandung kemih.
b. Post operasi
- Nyeri akut berhubungan agen injuri fisik (insisi
sekunder pada TURP)
- Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasiv
pembedahan
- Kurang pengetahuan tentang penyakit, diit, dan
pengobatan b.d kurangnya paparan informasi.
- Defisit perawatan diri berhubungan dengan imobilisasi
pasca operasi.
- Disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan
akan impoten dari TURP

Rencana tindakan :
terlampir
Tindakan keperawatan
 Ukur tanda vital,
 catat intake dan output yang akurat
 Monitor status nutrsi dan cairan
 menganjurkan minum air putih yang banyak
 observasi tanda-tanda dehidrasi
 kolaborasi pemeriksaan laboratorium
 kolaborasi pemberian iv line
 kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
 kolaborasi prosedur pembedahan

Evaluasi
Hasil yang diharapkan, pasien dapat :
- klien berkemih dengan jumlah adekuat tanpa adanya disteni
kandung kemih, jumlah volume urine residu kurang dari 75-
100 ml.
- urine jernih tanpa bau dan tidak terjadi distensi kandung
kemih.
- klien melaporkan menurunnya nyeri, ekspresi wajah dan
posisi tubuh rileks klien atau orang terdekat menyatakan
mengerti tentang proses penyakit, gejala yang perlu
dilaporkan ke dokter dan perawatan di rumah.
Rencana Keperawatan

no Diagnosa tujuan intervensi


keperawatan
1 Retensi urine Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Catat intake dan output cairan tiap 4-8 jam.
b.d. pembesaran selama ….x 24 jam Klien dapat 2. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan
kelenjar prostat. menunjukan pola eliminasi urine secara bila tiba-tiba dirasakan.
normal. 3. Observasi aliran urine, perhatikan ukuran dan
kekuatan
 Kandung kemih kosong sempurna 4. Palpasi kandung kemih/area suprapubik tiap
 Tidak ada sisa setelah buang air kecil ganti shift.
> 100-200 cc 5. Observasi TTV tiap 4 jam.
 Asupan cairan dalam rentang yang 6. Berikan rendam duduk sesuai indikasi
diharapkan 7. Kolaborasi pemasangan kateter sesuai dengan
 Menunjukan pengosongan kandung instruksi medik.
kemih dengan prosedur kateterisasi 8. Kolaborasi pemberian obat antispasmodik sesuai
secara intermitten indikasi.
 Menggambarkan rencana perawatan
dirumah
 Bebas dari infeksi saluran kemih
 Melaporkan penurunan spasme
kandung kemih

2 Nyeri b.d. Setelah dilakukan asuhan selama….x24 1. Bantu eliminasi urine dengan pemasangan kateter.
distensi kandung jam Klien akan menunjukkan tingkat 2. Monitor intake-output.
kemih. kenyamanan baik secara fisik maupun 3. Perkusi distensi kandung kemih.
psikologis. 4. Berikan posisi yang nyaman.
5. Pertahankan kepatenan kateter.
6. Kaji karakteristik nyeri (sifat, intensitas, lokasi,
kriteria hasil: lama).
1. Menunjukan tingkat nyeri. 7. Ajarkan teknik relaksasi: tarik nafas dalam.
2. Menunjukan teknik relaksasi 8. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian
individual yang efektif untuk obat analgetik.
mencapai kenyamanan.
3. Melaporkan kenyamanan fisik
dan psikologis
4. Mengenali faktor penyebab dan
menggunakan tindakan untuk
mencegah nyeri
5. Menggunakan tindakan
mengurangi nyeri dengan
analgetik dan non analgetik
secara tepat dan akurat.

3 Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Observasi suhu tubuh tiap 4-6 jam.
b.d. pemasangan selama …x24 Klien akan menunjukan 2. Lakukan pemeriksaan urine kultur.
kateter dan urine factor resiko akan hilang dengan 3. Berikan pasien minum yang banyak bila tidak ada
statis. dibuktikan oleh keadekuatan status imun kontraindikasi.
pasien, pengetahuan, pengendalian 4. Gunakan teknik aseptik untuk perawatan kateter.
infeksi dan secara konsisten menunjukan 5. Observasi warna dan karakteristik urine.
perilaku deteksi resiko dan pengendalian
resiko.

Kriteria Hasil :

1. Terbebas dari tanda atau gejala


infeksi
2. Menunjukkan hygiene pribadi yang
adekuat
3. Melaporkan tanda atau gejala
infeksi