Anda di halaman 1dari 2

SOP syncope

1. Pengertian
Syncope disebut pula fainting adalah bentuk neurogetic shock disebabkan oleh
cerebral ischemia dan timbul sekunder setelah terdapat vasodilatasi atau suatu kenaikan
volume darah pada peripheral vascular bed disertai suati penurunan dalam tekanan darah
dengan tanda-tanda
 Sering dijumpai sebagai komplikasi setelah perlakuan anestesi local
 Tidak selalu diikuti dengan hilangnya kesadaran
 Merasa mau pingsan
 Merasa mau muntah
 Merasa pusing dan ringan di kepala
 Kulit berubah warna menjadi pucat
 Berkeringat dingin
 Tekanan pulsus kecil
 Kalau terlambat ditangani maka tampak pasien sudah tak sadarkan diri, pupil mata
dilatasi lebar dan kaki penderita menunjukan kejang-kejang
Penatalaksanaan syncope adalah tindakan untuk mengatasi syncope.

2. Tujuan
Sebagai acuan kerja dalam melaksanakan tindakan pertolongan pertama untuk
pasien dengan syncope di BP Gigi

3. Kebijakan
SK Kepala Puskesmas Cigugur No.821/066/KAPUS/2016 Tahun 2016tentang
layanan klinis yang menjamin kesinambungan layanan.

4. Refrensi
1. Standar Pelayanan Profesional Kedokteran Gigi Indonesia, Dpkrs RI. Direktorat
jendral Pelayanan Medik Direktorat Kesehatan Gigi Tahun 1992
2. Standar Pelayanan Medis Kedokteran Gigi Indonesia Pengurus Besar Persatuan
Dokter Gigi Indonesia ( PB PDGI ) Tahun 1999
3. Eliastarn M., dkk, 1998, Penuntun kedaruratan Medis, EGC, Jakarta

5. Prosedur
1. Petugas membaringkan pasien dengan kaki lebih tinggi dari kepala dengan cara :
 Merebahkan sandaran punggung kursi gigi ke belakang, dan dalam keadaan
pasien berbaring di kursi gigi, petugas mengangkat kaki pasien sehingga kepala
penderita lebih rendah dari kakinya, atau apabila sandaran kursi gigi tidak bisa
direbahkan maka dilakukan dengan cara.
 Mendorong kepala pasien kedepan sewaktu masih di posisi duduk hingga badan
terbungkuk sampai kepala pasien berada pada posisi antara kedua kaki yang
terbuka lebar dan dengan berat badan petugas tekan badan pasien beberapa lama
pada posisi tertunduk ini

2. Petugas melonggarkan pakaian penderita yang terlalu ketat


3. Petugas memberikan aplikasi air dingin pada muka penderita
4. Petugas memberikan kapas alcohol 70% ( sebagai pengganti ammonia aromatic )
pada lubang hidung pasien
5. Petugas memberikan O2 dengan kecepatan aliran 2-4 liter/menit dan obat vasopressor
( missal epinephirine ) apabila kondisi penderita melanjut menjadi pingsan
6. Petugas mempertahankan kedudukan penderita dengan posisi terlentang sampai
penderita benar-benar siuman
7. Petugas memperhatikan terus pulpus penderita, pernafasannya da ukur tekanan darah

6. Unit Terkait
BP Gigi