Anda di halaman 1dari 22

1.

Pohon cemara

Klasifikasi:
Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Fagales

Famili: Casuarinaceae
R.Br. dalam Flinders

Suku cemara-cemaraan atau Casuarinaceae meliputi sekitar 70 jenis tetumbuhan. Sebagian


besar suku ini terdapat di Belahan Bumi Selatan, terutama di wilayah tropis Dunia Lama,
termasuk Indo-Malaysia, Australia, dan Kepulauan Pasifik.
Cemara sendiri merupakan tetumbuhan hijau abadi yang sepintas lalu dapat disangka
sebagai tusam karena rantingnya yang beruas pada dahan besar kelihatan seperti jarum, dan
buahnya mirip runjung kecil. Namun kenyataannya pepohonan ini bukan
termasuk Gymnospermae, sehingga mempunyai bunga, baik jantan maupun betina. Bunga
betinanya nampak seperti berkas rambut, kecil dan kemerah-merahan.
Casuarina equisetifolia adalah jenis cemara yang sesuai untuk dijadikan bonsai. Cemara ini
dinamakan juga "cemara udang". Pohon cemara udang dapat ditemukan disepanjang Pantai
Lombang dan Pantai Slopeng kurang lebih jarak tempuh dari pusat Kota Sumenep.

Hutan Cemara Udang Casuarina equisetifolia di Pantai Lombang,Sumenep


Cemara Norfolk 'Casuarina excelsa'

Cemara Angin ''Casuarina junghuhniana"

Cemara Balon ''Casuarina nobillis"

2. Pohon beringin

Klasifikasi ilmiah:
Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Urticales

Famili: Moraceae

Genus: Ficus
Subgenus: Conosycea

Spesies: F. Benjamina
Nama binomial

Ficus benjamina
L.[1]

Sinonim

• F. nitida Thunb.
Beringin (Ficus benjamina dan beberapa jenis (genus) Ficus lain dari suku ara-araan atau
Moraceae), yang disebut juga waringin atau (agak keliru) ara (ki ara, ki berarti “pohon”),
dikenal sebagai tumbuhan pekarangan dan tumbuhan hias pot. Pemulia telah
mengembangkan beringin berdaun loreng (variegata) yang populer sebagai tanaman hias
ruangan. Beringin juga sering digunakan sebagai objek bonsai.
Beringin sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. Tumbuhan berbentuk pohon besar ini
sering kali dianggap suci dan melindungi penduduk setempat. Sesaji sering diberikan di
bawah pohon beringin yang telah tua dan berukuran besar karena dianggap sebagai tempat
kekuatan magis berkumpul. Beberapa orang menganggap tempat di sekitar pohon beringin
adalah tempat yang “angker” dan perlu dijauhi.
Pohon bodhi sering dipertukarkan dengan beringin, meskipun keduanya adalah jenis yang
berbeda.

Pohon di Hyderabad, India.

Buah di Hyderabad, India.


Daun di Hyderabad, India.

Batang di Hyderabad, India.

Daun

3. Putri malu

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Subfamili: Mimosoideae
Genus: Mimosa
Spesies: M. Pudica

Nama binomial: Mimosa pudica L.


Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang
mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/layu dengan sendirinya
saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama,
putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena
setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.
Tumbuhan ini memiliki banyak sekali nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti:

 makahiya (Filipina, berarti "malu")


 mori vivi (Hindia Barat)
 nidikumba (Sinhala, berarti "tidur")
 mate-loi (Tonga, berarti "pura-pura mati")
Namanya dalam bahasa Tionghoa berarti "rumput pemalu". Kata pudica sendiri dalam bahasa
Latin berarti "malu" atau "menciut".
Seluruh bagian tanaman putri malu meliputi batang dan cabang berduri, bunga, bunga kering, polong biji,
serta daun yang terbuka dan tertutup

Gerak tumbuhan
Keunikan dari tanaman ini adalah bila daunnya disentuh, ditiup, atau dipanaskan akan segera
"menutup". Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan tekanan turgor pada tulang daun.
Rangsang tersebut juga bisa dirasakan daun lain yang tidak ikut tersentuh.
Gerak ini disebut seismonasti, yang walaupun dipengaruhi rangsang sentuhan (tigmonasti),
sebagai contoh, gerakan tigmonasti daun putri malu tidak peduli dari mana arah datangnya
sentuhan.
Tanaman ini juga menguncup saat matahari terbenam dan merekah kembali setelah matahari
terbit.
Tanaman putri malu menutup daunnya untuk melindungi diri dari hewan pemakan
tumbuhan (herbivora) yang ingin memakannya. Warna daun bagian bawah tanaman putri malu
berwarna lebih pucat, dengan menunjukkan warna yang pucat, hewan yang tadinya ingin
memakan tumbuhan ini akan berpikir bahwa tumbuhan tersebut telah layu dan menjadi tidak
berminat lagi untuk memakannya.

Daun

Bunga


4. Kumis kucing

Klasifikasi ilmiah:
Kingdom: Plantae
(tidak termasuk): Angiospermae
Divisi: Spermatophyta
Subdivisi: Angiospermae
(tidak termasuk): Eudikotil
Kelas: Dicotyledon
(tidak termasuk): Asteridae
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae
Genus: Orthosiphon
Spesies: O. Aristatus

Nama binomial
Orthosiphon aristatus
(Blume) Miq.

Orthosiphon aristatus atau dikenal dengan nama kumis kucing termasuk tanaman dari
famili Lamiaceae/Labiatae[1]. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang
mempunyai manfaat dan kegunaan yang cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.[2]

Sejarah
Kumis kucing merupakan tanaman obat berupa tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini
dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera),
remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Tanaman Kumis kucing berasal
dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia.

Nama daerah
Kumis kucing (Melayu – Sumatra), kumis kucing (Sunda), remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koceng
(Madura).

Ciri-ciri
Kumis kucing termasuk terna tegak, pada bagian bawah berakar di bagian buku-bukunya dan tingginya
mencapai 2 meter.[2] Batang bersegi empat agak beralur berbulu pendek
atau gundul.[2] Helai daun berbentuk bundar atau lojong, lanset, bundar telur atau belah ketupat yang
dimulai dari pangkalnya,[2] ukuran daun panjang 1 – 10 cm dan lebarnya 7.5mm – 1.5 cm. urat daun
sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya
kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai daun 7 – 29 cm. Ciri khas tanaman ada pada
bagian kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan di bagian yang
paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota yang bersifat terminal yakni berupa tandan yang keluar dari
ujung cabang dengan panjang 7–29 cm, dengan ukuran panjang 13 – 27mm, di bagian atas ditutupi oleh
bulu pendek berwarna ungu dan kemudian menjadi putih, panjang tabung 10 – 18mm, panjang bibir 4.5 –
10mm, helai bunga tumpul, bundar. Benang sari ukurannya lebih panjang dari tabung bunga dan melebihi
bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1.75 – 2mm. 2.3. gagang berbulu
pendek dan jarang, panjang 1 mm sampai 6 mm.[2]
,

Distribusi
Distribusi kumis kucing yaitu di [3]:

 asia-Iklim subtropis

1. Cina: Cina - Fujian, Guangxi, Hainan, Yunnan


2. Asia Timur: Taiwan

 asia-Iklim Tropis

1. Indo-Cina: Kamboja; Laos; Myanmar; Thailand; Vietnam


2. Malesia: Indonesia; Malaysia; Papua Nugini; Filipina

 AUSTRALASIA: Australia: Australia - Queensland

Kegunaan secara empiris


Daun Kumis kucing basah maupun kering digunakan sebagai menanggulangi berbagai penyakit, Di
Indonesia daun yang kering dipakai (simplisia) sebagai obat yang memperlancar pengeluaran air kemih
(diuretik) sedangkan di India untuk mengobati rematik. Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai
obat tradisional sebagai upaya penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu daun
tanaman ini juga bermanfaat untu pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan
penyakit syphilis., reumatik dan menurunkan kadar glukosa darah.[2] Selain bersifat diuretik, kumis kucing
juga digunakan sebagai antibakteri.

Pertumbuhan
Iklim

 1) Curah hujan yang ideal bagi pertumbuhan tanaman ini adalah lebih dari 3.000 mm/tahun.
 2) Dengan sinar matahari penuh tanpa ternaungi. Naungan akan menurunkan kadar ekstrak daun.
 3) Keadaan suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini adalah panas sampai sedang.
Media Tanam

 1) Tanaman ini dapat dengan mudah tumbuh di lahan-lahan pertanian, untuk produksi sebaiknya
dipilih tanah yang gembur, subur, banyak mengandung humus/bahan organik dengan tata air dan
udara yang baik.
 2) Tanah Andosol dan Latosol sangat baik untuk budidaya kumis kucing.
Ketinggian
Ketinggian tempat optimum tanaman kumis kucing 500 - 1.200 m dpl.

Hama dan penyakit


Hama
Selama ini tidak ada hama atau penyakit yang benar-benar merusak tanaman kumis kucing. Hama yang
sering ditemukan adalah kutu daun dan ulat daun.
Penyakit
Penyakit yang menyerang disebabkan oleh jamur upas (Upsia salmonicolor atau Corticium salmonicolor).
Jamur ini menyerang batang atau cabang tanaman yang berkayu. Pengendalian dilakukan dengan
perbaikan tata air, meningkatkan kebersihan kebun, memotong bagian yang sakit, pergiliran tanaman dan
penyemprotan pestisida selektif.
Gulma
Gulma yang banyak tumbuh di lahan pertanaman kumis kucing cukup bervariasi dan kebanyakan dari jenis
gulma kebun seperti rumput teki, lulangan, ageratum, alang-alang, dan rumput-rumput lainnya
Pengendalian hama/penyakit secara organic
Sama seperti pada tanaman obat lainnya bahwa pengendalian hama/penyakit secara organic pada
pertanaman kumis kucing lebih diusahakan secara PHT (pengendalian hama secara terpadu). Termasuk di
dalamnya system bercocok tanam secara tumpang sari akan dapat menghambat serangan hama/penyakit.
Untuk pengendalian gulma sebaiknya dilakukan secara manual dengan cara penyiangan seperti telah
dijelaskan di atas. Namun apabila diperlukan dapat diterapkan penyemprotan dengan insektisida maupun
pestisida nabati. Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam
pengendalian hama antara lain adalah:

 Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan
atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids.
 Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan
sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan.
Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.
 Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak
yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.
 Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup
selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga
pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk
menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.
 Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat
digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
 Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya
digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

5. Petai
Klasifikasi ilmiah:
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Subfamili: Mimosoideae
Genus: Parkia
Spesies: P. Speciosa

Nama binomial
Parkia speciosa

Petai, pete (IPA:pətɛ), atau mlanding (Parkia speciosa)


merupakan pohon tahunan tropika dari suku polong-polongan (Fabaceae), anak-suku petai-
petaian (Mimosoidae). Tumbuhan ini tersebar luas di Nusantara bagian barat. Bijinya, yang
disebut "petai" juga, dikonsumsi ketika masih muda, baik segar maupun direbus.
Pohon petai menahun, tinggi dapat mencapai 20m dan kurang bercabang. Daunnya majemuk,
tersusun sejajar. Bunga majemuk, tersusun dalam bongkol (khas Mimosoidae). Bunga muncul
biasanya di dekat ujung ranting. Buahnya besar, memanjang, betipe buah polong. Dari satu
bongkol dapat ditemukan sampai belasan buah. Dalam satu buah terdapat hingga 20 biji, yang
berwarna hijau ketika muda dan terbalut oleh selaput agak tebal berwarna coklat terang. Buah
petai akan mengering jika masak dan melepaskan biji-bijinya.
Biji petai, yang berbau khas dan agak mirip dengan jengkol, dikonsumsi segar maupun dijadikan
bahan campuran sejumlah menu. Sambal goreng hati tidak lengkap tanpa petai. Sambal petai
juga merupakan menu dengan petai.
Biji petai biasanya dijual dengan menyertakan polongnya. Namun, pengemasan modern juga
dilakukan dengan mengemasnya dalam plastik atau dalam stirofoam yang dibungkus plastik
kedap udara.
6. Kupu-kupu
Klasifikasi ilmiah:

Kingdom: Animalia

Filum: Arthropoda

Kelas: Insecta

Ordo: Lepidoptera

Subordo: Rhopalocera

Subgrup

Superfamilia Hedyloidea: Hedylidae

Superfamilia Hesperioidea: Hesperiidae

Superfamilia Papilionoidea: Papilionidae

Pieridae

Nymphalidae

Lycaenidae
Riodinidae
Kupu-kupu dan ngengat (rama-rama) merupakan serangga yang tergolong ke dalam
ordo Lepidoptera, atau 'serangga bersayap sisik' (lepis, sisik dan pteron, sayap).
Secara sederhana, kupu-kupu dibedakan dari ngengat alias kupu-kupu malam berdasarkan
waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal),
sedangkan ngengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal). Kupu-kupu beristirahat atau
hinggap dengan menegakkan sayapnya, ngengat hinggap dengan membentangkan sayapnya.
Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang, ngengat cenderung gelap, kusam
atau kelabu. Meski demikian, perbedaan-perbedaan ini selalu ada perkecualiannya, sehingga
secara ilmiah tidak dapat dijadikan pegangan yang pasti. (van Mastrigt dan Rosariyanto, 2005).
Kupu-kupu dan ngengat amat banyak jenisnya, di Pulau Jawa dan Pulau Bali saja tercatat lebih
dari 600 spesies kupu-kupu. Jenis ngengatnya sejauh ini belum pernah dibuatkan daftar
lengkapnya, akan tetapi diduga ada ratusan jenis (Whitten dkk., 1999). Kupu-kupu pun menjadi
salah satu dari sedikit jenis serangga yang tidak berbahaya bagi manusia.
Siklus hidup

Proses metamorfosis kupu-kupu

Kupu-kupu sedang mengawan

Banyak yang percaya bahwa kupu-kupu memiliki umur yang sangat singkat. Sebenarnya, kupu-
kupu dewasa mampu hidup selama seminggu maupun hampir setahun tergantung pada
spesiesnya. Kebanyakan spesies melalui tingkat larva yang agak lama, dan ada yang mampu
menjadi dorman ketika dalam tingkat pupa atau telur agar dapat mengarungi musim dingin.[1]
Kupu-kupu bisa bertelur sekali atau banyak kali setiap tahun. Jumlah keturunan setahun berbeda
pada pengaruh iklim, yang mana kupu-kupu yang tinggal di daerah tropis mampu bertelur lebih
sekali dalam setahun.[2]
Telur

Pandangan muka kupu-kupu dari jarak dekat

Telur kupu-kupu Ariadne merione

Telur kupu-kupu dilindungi oleh kulit berabung keras yang disebut khorion ditutupi dengan
lapisan anti lilin yang melindungi telur dari terjemur sebelum larva sempat berkembang
sepenuhnya.[3], Setiap telur memiliki pori-pori berbentuk corong yang halus di satu ujungnya,
yaitu mikropil [3] yang bertujuan memungkinkan masuknya sperma untuk bergabung dengan sel
telur. Lain spesies lain ukuran telurnya, namun semua telur kupu-kupu berbentuk bola maupun
ovat.
Telur kupu-kupu dilekatkan pada daun dengan bahan perekat khusus yang cepat mengeras. Bila
mengeras, bahan itu berkontraksi dan membengkokkan bentuk telur. Perekat ini mudah dilihat
membentuk bahan meniskus yang mengelilingi tapak setiap telur. Perekat ini jugalah yang
diproduksi oleh pupa untuk mengikat seta-seta kremaster. Perekat ini sungguh keras sampai
lapik sutra yang melekatkan seta-seta tidak bisa dipisahkan.
Telur kupu-kupu selalu diletakkan pada tumbuhan. Setiap spesies kupu-kupu memiliki rentang
tumbuhan perumah yang sendiri, baik yang hanya satu spesies maupun berbagai spesies.
Tingkat telur dilalui selama beberapa minggu untuk kebanyakan kupu-kupu, tetapi telur yang
keluar tidak lama sebelum musim dingin, terutama di daerah beriklim sedang, harus melalui
tingkat diapaus(istirahat) dan hanya menetas di musim semi. Ada spesies kupu-kupu yang lain
yang bisa bertelur pada musim semi agar telur dapat menetas pada musim panas.
Ulat

Ulat Junonia coenia.

Larva kupu-kupu, yaitu ulat, memakan daun tumbuhan dan menghabiskan seluruh waktunya
sebagai beluncas untuk mencari makanan. Kebanyakan beluncas adalah maun, tetapi ada
beberapa spesies seperti Spalgis epius dan Liphyra brassolis yang memakan serangga.
Beberapa larva, terutama yang tergolong dalam Lycaenidae, menjalin hubungan yang saling
menguntungkan dengan semut. Beluncas berhubungan dengan semut dengan menggunakan
getaran yang dipancarkan melalui substrat di samping merembeskan sinyal kimia.[4][5]Semut
sedikit banyak melindungi larva ini; sebagai balasan, larva menolong semut
mengumpulkan rembesan madu.
Beluncas membesar melalui serantaian tingkat yang disebut instar. Menjelang akhir setiap instar,
larva menjalani proses yang disebut apolisis, yang mana kulit ari, yaitu lapisan luar keras yang
terbuat dari campuran kitin dan protein-protein khusus, dikeluarkan dari epidermisyang lembut di
bawahnya, maka epidermis membentuk kulit ari yang baru di bawah. Di akhir setiap instar, larva
itu bersalin kulit lamanya, maka kulit baru berkembang lalu mengeras dan menghasilkan pigmen
dengan cepat.[6] Proses menyalin kulit ini bisa memakan waktu berhari-hari. Corak kepak kupu-
kupu mulai berkembang pada tubuh beluncas menjelang instar yang terakhir.
Ulat kupu-kupu memiliki tiga pasang kaki tetap pada segmen toraks dan tidak lebih enam
pasang prokaki yang tumbuh pada segmen abdomen. Pada prokaki ini ada gegelang kait halus
yaitu krusye yang membantu beluncas menggenggam substrat.
Beberapa ulat bisa menggembungkan sesebahagian kepalanya supaya mirip ular sebagai
langkah pertahanan. Ada juga yang dilengkapi dengan mata palsu agar lebih efisien. Beberapa
beluncas memiliki struktur khusus bergelar osmeterium yang dibokongkan untuk merembeskan
bahan kimia yang busuk pada tujuan pertahanan juga.
Tumbuhan perumah sering mengandung bahan beracun di dalamnya yang dapat dipisahkan
oleh beluncas untuk disimpan sampai tingkat dewasa agar tidak sedap dimakan burungdan
predator-predator yang sejenisnya. Ketidaksedapan ini diperlihatkan dengan warna-warna
peringatan merah, jingga, hitam atau putih, dalam kebiasaan yang dikenal
sebagai aposematisme. Bahan-bahan beracun dalam tumbuhan sering dikembangkan khusus
untuk melindungi tumbuhan dari dimakan oleh serangga. Namun, serangga berhasil
mengembangkan langkah balas atau memanfaatkan toksin-toksin ini untuk kemandirian dirinya.
"Perlombaan senjata" ini telah memicu evolusi bersama sesama serangga dan tumbuhan
perumahnya.[7]

Kebiasaan dan makanan


Banyak orang yang menyukai kupu-kupu yang indah, akan tetapi sebaliknya jarang orang yang
tidak merasa jijik pada ulat, padahal keduanya adalah makhluk yang sama. Semua jenis kupu-
kupu dan ngengat melalui tahap-tahap hidup sebagai telur, ulat, kepompong, dan akhirnya
bermetamorfosis menjadi kupu-kupu atau ngengat.
Kupu-kupu umumnya hidup dengan mengisap madu bunga (nektar/ sari kembang). Akan tetapi
beberapa jenisnya menyukai cairan yang diisap dari buah-buahan yang jatuh di tanah dan
membusuk, daging bangkai, kotoran burung, dan tanah basah.
Berbeda dengan kupu-kupu, ulat hidup terutama dengan memakan daun-daunan. Ulat-ulat ini
sangat rakus, akan tetapi umumnya masing-masing jenis ulat berspesialisasi memakan daun
dari jenis-jenis tumbuhan yang tertentu saja. Sehingga kehadiran suatu jenis kupu-kupu di suatu
tempat, juga ditentukan oleh ketersediaan tumbuhan yang menjadi inang dari ulatnya.

Kupu-kupu dan manusia


Kupu-kupu dan ngengat dikenal sebagai serangga penyerbuk tanaman, yang membantu bunga-
bunga berkembang menjadi buah. Sehingga bagi petani, dan orang pada umumnya, kupu-kupu
ini sangat bermanfaat untuk membantu jalannya penyerbukan tanaman.
Pada pihak yang lain, berjenis-jenis ulat diketahui sebagai hama yang rakus. Bukan
hanya tanaman semusim yang dimangsanya, namun juga pohon buah-buahan dan pohon pada
umumnya dapat habis digunduli daunnya oleh hama ulat dalam waktu yang relatif singkat.
Banyak jenis hama ulat, terutama dari jenis-jenis ngengat yang menjadi hama pertanian yang
serius.
Untuk memanfaatkan keindahan beberapa jenisnya, kini orang mengembangkan peternakan
kupu-kupu.

Galeri
Famili Papilionidae- Si Ekor Walet

Scarce Swallowtail,
Iphiclides podalirius.

Palawan Birdwing,
Troides trojana.

Cairns Birdwing,
Ornithoptera priamus.

Blue Mormon,
Papilio polymnestor.

Crimson Rose,
Pachliopta hector.

Pipevine Swallowtail,
Battus philenor.

Common Mime,
Chilasa clytia.
Famili Pieridae - Si Putih dan Kuning

Green-veined White,
Pieris napi.

The Orange Tip,


Anthocharis cardamines.

Common Jezebel,
Delias eucharis.

Common Brimstone,
Gonepteryx rhamni.
Famili Riodinidae - Si Metalmarks, Punches, dan Judies

Punchinello,
Zemeros flegyas

Tailed Judy,
Abisara neophron

Lange's Metalmark.
Famili Nymphalidae - Si Kupu-kupu Berkaki-sikat

Rama-rama monarch,
Danaus plexippus
kupu-kupu danaine
yang paling umum dikenal.

Common Nawab,
Polyura athamas,
charaxine Nymphalid
dari India.

Morpho rhetenor helenamorphine dari


Amerika Selatan.

Julia Heliconian,
Dryas julia.

Sara Longwing,
Heliconius sara
seekor heliconine nymphalid.

Glasswing butterfly,
Greta oto.

Lorquin's Admiral,
Limenitis lorquini
seekor limenitidine nymphalid.

Leopard Lacewing,
Cethosia cyane of
sub-famili Cyrestinae.

Peacock Butterfly,
Inachis io.

Comma Butterfly,
Polygonia c-album.

Common Buckeye,
Junonia coenia.

Crimson Patch,
Chlosyne janais.
Famili Lycaenidae - Si Blues

Red Pierrot,
Talicada nyseus.

Small Copper,
Lycaena phlaeas.

Monkey Puzzle,
Rathinda amor.

Banded Blue Pierrot,


Discolampa ethion.

Lycaena dispar

Polyommatus bellargus

7. Capung
Klasifikasi ilmiah:
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Odonata
Subordo: Epiprocta
Infraordo: Anisoptera
Selys, 1854

Suku:

Aeshnidae
Austropetaliidae
Cordulegastridae
Corduliidae
Gomphidae
Libellulidae
Macromiidae
Neopetaliidae
Petaluridae

Capung atau sibar-sibar dan Capung Jarum adalah kelompok serangga yang tergolong ke dalam
bangsa Odonata. Kedua macam serangga ini jarang berada jauh-jauh dari air, tempat mereka
bertelur dan menghabiskan masa pra-dewasa anak-anaknya. Namanya dalam bahasa daerah
adalah papatong (Sd.), kinjeng (Jw.), coblang (Jw.), kasasiur (bjn), tjapung

Capung (subordo Anisoptera) relatif mudah dibedakan dari capung jarum (subordo Zygoptera).
Capung umumnya bertubuh relatif besar dan hinggap dengan sayap terbuka atau terbentang ke
samping. Sedangkan capung jarum umumnya bertubuh kecil (meskipun ada beberapa jenis
yang agak besar), memiliki abdomen yang kurus ramping mirip jarum, dan hinggap dengan
sayap-sayap tertutup, tegak menyatu di atas punggungnya.

Habitat dan Kebiasaan


Nimfa capung

Capung dan capung jarum menyebar luas, di hutan-hutan, kebun, sawah, sungai dan danau,
hingga ke pekarangan rumah dan lingkungan perkotaan. Ditemukan mulai dari tepi pantai hingga
ketinggian lebih dari 3.000 m dpl. Beberapa jenisnya, umumnya jenis capung, merupakan
penerbang yang kuat dan luas wilayah jelajahnya. Beberapa jenis yang lain memiliki habitat yang
spesifik dan wilayah hidup yang sempit. Capung jarum biasanya terbang dengan lemah, dan
jarang menjelajah jauh.
Siklus hidup capung, dari telur hingga mati setelah dewasa, bervariasi antara enam bulan hingga
maksimal enam atau tujuh tahun. Capung meletakkan telurnya pada tetumbuhan yang berada di
air. Ada jenis yang senang dengan air menggenang, namun ada pula jenis yang senang
menaruh telurnya di air yang agak deras. Setelah menetas, tempayak (larva) capung hidup dan
berkembang di dasar perairan, mengalami metamorfosis menjadi nimfa, dan akhirnya keluar dari
air sebagai capung dewasa.
Sebagian besar siklus hidup capung dihabiskan dalam bentuk nimfa, di bawah permukaan air,
dengan menggunakan insang internal untuk bernapas. Tempayak dan nimfa capung hidup
sebagai hewan karnivora yang ganas. Nimfa capung yang berukuran besar bahkan dapat
memburu dan memangsa berudu dan anak ikan. Setelah dewasa, capung hanya mampu hidup
maksimal selama empat bulan.

Capung dan Manusia


Capung dewasa tidak pernah dianggap sebagai pengganggu atau hama.