Anda di halaman 1dari 9

Konsep Evaluasi

A. Pengertian

Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation; dalam bahasa Arab; al-taqdir;
dalam bahasa Indonesia berarti; penilaian. Akar katanya adalah value; dalam bahasa Arab; al-qimah;
dalam bahasa Indonesia berarti; nilai.

Dalam Wikipedia Evaluasi (bahasa Inggris:Evaluation) adalah proses penilaian. Dalam perusahaan,
evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam
upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan
digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.

Secara garis besar, proses evaluasi terbagi menjadi di awal (pretest) dan diakhir (posttest). Pretest
merupakan sebuah evaluasi yang diadakan untuk menguji konsep dan eksekusi yang direncanakan.
Sedangkan, posttest merupakan evaluasi yang diadakan untuk melihat tercapainya tujuan dan
dijadikan sebagai masukan untuk analisis situasi berikutnya.

Evaluasi dapat dilakukan di dalam atau diluar ruangan. Evaluasi yang diadakan di dalam ruangan pada
umumnya menggunakan metode penelitian laboratorium dan sampel akan dijadikan sebagai
kelompok percobaan. Kelemahannya, realisme dari metode ini kurang dapat diterapkan. Sementara,
evaluasi yang diadakan di luar ruangan akan menggunakan metode penelitian lapangan dimana
kelompok percobaan tetap dibiarkan menikmati kebebasan dari lingkungan sekitar. Realisme dari
metode ini lebih dapat diterapkan dalam kehidupansehari-hari.

Untuk mencapai evaluasi tersebut dengan baik, diperlukan sejumlah tahapan yang harus dilalui yakni
menentukan permasalahan secara jelas, mengembangkan pendekatan permasalahan,
memformulasikan desain penelitian, melakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan data,
menganalisis data yang diperoleh, dan kemampuan menyampaikan hasil penelitian.

B. Tujuan Evaluasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih
difokuskan pada masing-masing komponen. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk
melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang
telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya evaluasi, program-program yang berjalan tidak akan
dapat dilihat efektifitasnya.

Dengan demikian, kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung
oleh data. Karenanya, evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta
rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan
melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan sebuah program.

Ditinjau dari bentuk-bentuk evaluasi, maka evaluasi bertujuan untuk, evaluasi formatif untuk
bertujuan untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan, sedang evaluasi
sumatif bertujuan untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi dan lanjutan.
Menurut Stufflebeam yang membagi evaluasi kepada proactive evaluation, yakni melayani pemegang
keputusan, sedangkan retroactive evaluation bertujuan untuk keperluan pertanggungjawaban.

Jadi, evaluasi hendaknya bertujuan dalam membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan


suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan
dan dukungan dari stakeholders.
Salah satu tujuan evaluasi (Sujono, 2007 : 25) adalah;

Untuk memperoleh dasar bagi pertimbangan akhir suatu periode kerja, apa yang telah dicapai, apa
yang belum dicapai, dan apa yang perlu mendapat perhatian khusus.

Untuk menjamin cara kerja yang efektif dan efisien yang membawa organisasi pada penggunaan
sumber daya yang dimiliki secara efesien dan ekonomis.

Untuk memperoleh fakta tentang kesulitan, hambatan, penyimpangan dilihat dari aspek-aspek
tertentu.

C. Fungsi Evaluasi

Adapun fungsi evaluasi program Menurut scriven (1967:225) adalah sebagai berikut:

Fungsi Formatif yaitu evaluasi dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang
berjalan (program, orang, produk, dsb).

Fungsi sumatif yaitu evaluasi dipakai untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan.
Jadi evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program,
perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan
dari mereka yang terlibat.

Fungsi diagnostik yaitu untuk mendiagnostik sebuah program

Stuffebeam menyatakan ada dua fungsi evaluasi program, yaitu:

Proactive Evaluation yaitu evaluasi program yang dilakukan untuk melayani pemegang keputusan

Retroactive Evaluation yaitu evaluasi program yang dilakukan untuk keperluan pertanggung jawaban.

Konsep Evaluasi Program Pelatihan

Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli yang dapat dipakai dalam
mengevaluasi program pelatihan. Kirkpatrick, salah seorang ahli evaluasi program training dalam
bidang pengembangan SDM selain menawarkan model evaluasi yang
diberi nama Kirkpatrick’s training evaluation model juga menunjuk model-model
lain yang dapat dijadikan sebagai pilihan dalam mengadakan evaluasi terhadap sebuah program
training. Model-model yang ditunjuk tersebut di antaranya adalah :

Five Level ROI Model (Jack PhillPS’)

CIPP Model (Daniel Stufflebeam’s)

Responsive Evaluation Model (Robert Stake’s)

Congruence-Contingency Model (Robert Stake’s)

Five Levels of Evaluation (Kaufman’s)

CIRO (Context, Input, R eaction, Outcome)

PERT (Program Evaluation and Review Technique)

Goal-Free Evaluation Approach (Michael Scriven’s)

Discrepancy Model (Provus’s)


Dari berbagai model tersebut di atas dalam tulisan ini hanya akan diuraikan secara singkat
beberapa model. Model yang diungkapkan Djuju Sudjana (2006: 225), yaitu:

A. Evaluasi model CIPP

Konsep evaluasi model CIPP ( Context, Input, Prosess and Product)


pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965 sebagai hasil usahanya
mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education Act). Konsep
tersebut ditawarkan oleh Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi
adalah bukan membuktikan tetapi untuk memperbaiki.

The CIPP approach is


based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove
but to improve (Mad aus, Scriven, Stufflebeam, 1993: 118). Evaluasi model CIPP
dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, manajemen,
perusahaan sebagainya serta dalam berbagai jenjang baik itu proyek, program
maupun institusi. Dalam bidang pendidikan Stufflebeam menggolongkan sistem
pendidikan atas 4 dimensi, yaitu context, input, process dan product, sehingga
model evaluasi yang ditawarkan diberi nama CIPP model yang merupakan
singkatan ke empat dimensi tersebut. Nana Sudjana & Ibrahim (2004: 246) menterjemahkan
masing-masing dimensi tersebut dengan makna sebagai berikut:

Context : situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan


dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam sistem
yang bersangkutan, seperti misalnya masalah pendidikan yang dirasakan, keadaan ekonomi
negara, pandangan hidup masyarakat .

Input: sarana/modal/bahan dan rencana strategi yang ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan.

Process: pelaksanaan strategi dan penggunaan sarana/modal/ bahan di dalam kegiatan nyata di
lapangan.

Product : hasil yan g dicapai baik selama maupun pada akhir pengembangan sistem
pendidikan yang bersangkutan.

B. Evaluasi model Brinkerhoff

Setiap desain evaluasi pada umumnya terdiri dari elemen-elemen yang sama,
ada banyak cara untuk menggabungkan elemen tersebut, masing-masing ahli evaluasi atau
evaluator mempunyai konsep yang berbeda dalam hal ini. Brinkerhoff & CS
(1993:111) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan
penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator -evaluator yang lain, namun dalam
komposisi dan versi mereka sendiri sebagai berikut :

1. Fixed vs Emergent Evaluation Design

Desain evaluasi yang tetap (fixed) ditentukan dan direncanakan secara sistematik
sebelum implementasi dikerjakan. Desain dikembangkan berdasarkan tujuan program
disertai seperangkat pertanyaan yang akan dijawab dengan informasi yang akan
diperoleh dari sumber-sumber tertentu. Rencana analisis dibuat sebelumnya dimana
sipemakai akan menerima informasi seperti yang telah ditentukan dalam tujuan.
Walaupun desain fixed ini lebih terstuktur daripada desain emergent, desain fixed juga dapat
disesuaikan dengan kebutuhan yang mungkin berubah. Kebanyakan evaluasi formal yang
dibuat secara individu dibuat berdasarkan desain fixed, karena tujuan program telah
ditentukan dengan jelas sebelumnya, dibiayai dan melalui usulan atau proposal
evaluasi. (Brinkerhoff & CS, 1993:111)

2. Formative vs Sumative Evaluation

Evaluasi formatif digunakan untuk memperoleh informasi yang dapat membantu


memperbaiki program. Evaluasi formatif dilaksanakan pada saat implementasi program
sedang berjalan. Fokus evaluasi berkisar pada kebutuhan yang dirumuskan oleh karyawan atau
orang-orang program. Evaluator sering merupakan bagian dari pada program dan
kerjasama dengan orang-orang program. Strategi pengumpulan informasi mungkin juga
dipakai tetapi penekanan pada usaha memberikan informasi yang berguna secepatnya bagi
perbaikan program. Evaluasi sumatif dilaksanakan untuk menilai manfaat suatu program
sehingga dari hasil evaluasi akan dapat ditentukan suatu program tertentu akan
diteruskan atau dihentikan.

Pada evaluasi sumatif difokuskan pada variable-variabel yang dianggap penting bagi sponsor program
maupun pihak pembuat keputusan. Evaluator luar atau tim reviu sering dipakai karena evaluator
internal dapat mempunyai kepentingan yang berbeda. Waktu pelaksanaan evaluasi sumatif terletak
pada akhir implementasi program. Strategi pengumpulan informasi akan memaksimalkan validitas
eksternal dan internal yang mungkin dikumpulkan dalam waktu yang cukup
lama. (Nana Sudjana & Ibrahim, 2004: 246)

3. Experimental and Quasi experimental Design vs Naural/Unotrusive

Beberapa evaluasi memakai metodologi penelitian klasik. Dalam hal seperti ini subyek
penelitian diacak, perlakuan diberikan dan pengukuran dampak dilakukan. Tujuan dari
penelitian untuk menilai manfaat suatu program yang dicobakan. Apabila siswa atau
program dipilih secara acak, maka generalisasi dibuat pada populasi yang agak lebih
luas. Dalam beberapa hal intervensi tidak mungkin dilakukan atau tidak dikehendaki.
Apabila proses sudah diperbaiki, evaluator harus melihat dokumen-dokumen, seperti
mempelajari nilai tes atau menganalisis penelitian yang dilakukan dan sebagainya.
strategi pengumpulan data terutama menggunakan instrument formal seperti tes, suvey,
kuesioner serta memakai metode penelitian yang terstandar. (Nana Sudjana & Ibrahim,
2004: 246)

C. Evaluasi model Kirkpatrick

Menurut Kirkpatrick (Djuju Sudjana 2006:246) evaluasi terh adap efektivitas program training
mencakup empat level evaluasi, yaitu: level 1 – Reaction, level 2 – Learning, level 3– Behavior, level 4
– Result

1. Evaluating Reaction

Mengevaluasi terhadap reaksi peserta training berarti mengukur kepuasan peserta


(customer satisfaction). Program training dianggap efektif apabila proses training dirasa
menyenangkan dan memuaskan bagi peserta training sehingga mereka tertarik termotivasi
untuk belajar dan berlatih. Dengan kata lain peserta training akan termotivasi apabila proses
training berjalan secara memuaskan bagi peserta yang pada akhirnya akan memunculkan reaksi dari
peserta yang menyenangkan. Sebaliknya apabila peserta tidak merasa puas
terhadap proses training yang diikutin ya maka mereka tidak akan termotivasi
untuk mengikuti training lebih lanjut. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa
keberhasilan proses kegiatan training tidak terlepas dari minat, perhatian dan motivasi
peserta training dalam mengikuti jalannya kegiatan training. Orang
akan belajar lebih baik manakala mereka memberi reaksi positif terhadap lingkungan
belajar. (Djuju Sudjana 2006:247)

Kepuasan peserta training dapat dikaji dari beberapa aspek, yaitu materi yang diberikan,
fasilitas yang tersedia, strategi penyampaian materi yang digunakan oleh instruktur,
media pembelajaran yang tersedia, jadwal kegiatan sampai menu dan penyajian konsumsi yang
disediakan. (Djuju Sudjana 2006:248)

2. Evaluating Learning

Menurut Kirkpatrick (1988: 20) learning can be defined as the extend to which participans
change attitudes, improving knowledge, and/or increase skill as a result of attending the
program. Ada tiga hal yang dapat instruktur ajarkan dalam program training, yaitu
pengetahuan, sikap maupun ketrampilan. Peserta training dikatakan telah belajar apabila pada
dirinya telah mengalamai perubahan sikap, perbaikan pengetahuan maupun peningkatan
ketrampilan. Oleh karena itu untuk mengukur efektivitas program training maka ketiga aspek
tersebut perlu untuk diukur.

Tanpa adanya perubahan sikap, peningkatan pengetahuan maupun perbaikan ketrampilan


pada peserta training maka
program dapat dikatakan gagal. Penilaian evaluating learning ini ada yang
menyebut dengan penilaian hasil (output) belajar. Oleh karena itu dalam
pengukuran hasil belajar (learning measurement) berarti penentuan satu atau lebih hal berikut:
a). Pengetahuan apa yang telah dipelajari ?, b). Sikap apa yang telah berubah ?, c). Ketrampilan apa
yang telah dikembangkan atau diperbaiki ?. (Djuju Sudjana 2006:249)

3. Evaluating Behavior

Evaluasi pada level ke 3 (evaluasi tingkah laku) ini berbeda dengan evaluasi terhadap
sikap pada level ke 2. Penilaian sikap pada evaluasi level 2 difokuskan pada perubahan
sikap yang terjadi pada saat kegiatan training dilakukan sehingga lebih bersifat internal,
sedangkan penilaian tingkah laku difokuskan pada perubahan tingkah laku setelah
peserta kembali ke tempat kerja. Apakah perubahan sikap yang telah terjadi setelah
mengikuti training juga akan diimplementasikan setelah peserta kembali ke tempat kerja,
sehingga penilaian tingkah laku ini lebih bersifat eksternal.

Perubahan perilaku apa yang terjadi di tempat kerja setelah peserta mengikuti program
training. Dengan kata lain yang perlu dinilai adalah apak ah peserta merasa senang
setelah mengikuti training dan kembali ke tempat kerja?. Bagaimana peserta dapat mentrasfer
pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperoleh selama training untuk
diimplementasikan di tempat kerjanya. Karena yang dinilai adalah perubahan perilaku
setelah kembali ke tempat kerja maka evaluasi level 3 ini dapat disebut sebagai evaluasi
terhadap outcomes dari kegiatan training. (Djuju Sudjana 2006:249)

4. Evaluating Result

Evaluasi hasil dalam level ke 4 ini difokuskan pada hasil akhir (final result) yang terjadi
karena peserta telah mengikuti suatu program. Termasuk dalam kategori hasil akhir dari
suatu program training di antaranya adalah kenaikan produksi, peningkatan kualitas,
penurunan biaya, penurunan kuantitas
terjadinya kecelakaan kerja, penurunan turnover dan kenaikan keuntungan.
Beberapa program mempunyai tujuan meningkatkan moral kerja maupun
membangun teamwork yang lebih baik. Dengan kata lain adalah evaluasi
terhadap impact program. (Djuju Sudjana 2006:250)

D. Evaluasi model Stake (Model Countenance)

Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu description dan judgement dan
membedakan adanya tiga tahap dalam program pelatihan, yaitu antecedent (context),
transaction (process) dan outcomes. Stake mengatakan bahwa apabila kita menilai suatu progr
am pelatihan, kita melakukan
perbandingan yang relatif antara program dengan program yang lain, atau perbandingan yan
g absolut yaitu membandingkan suatu program dengan standar tertentu. Penekan
an yang umum atau hal yang penting dalam model ini adalah
bahwa evaluator yang membuat penilaian tentang program yang dievaluasi. Stake
mengatakan bahwa description di satu pihak berbeda dengan judgement di lain
fihak. Dalam model ini antecendent (masukan) transaction (proses) dan outcomes (hasil) data di
bandingk an tidak han ya untuk menentukan apakah ada perbedaan antara tujuan dengan k
eadaan yang sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan
standar yang absolut untuk menilai manfaat program (Farida Yusuf Tayibnapis, 2000: 22).

Evaluasi Peserta Pelatihan

Evaluasi peserta pelatihan adalah evaluasi yang bertjuan untuk mengetahui dan mencari informasi
mengenai ketercapaian program pelatihan dilihat dari peningkatan kemampan atau kopetensi
peserta. (Moekijat, 1990:9).

Evaluasi Kemajuan Peserta merupakan evaluasi yang dilaksanakan untuk mengetahui peningkatan
peningkatan pengetahuan dan keterampilan melalui Pretest dan Post Test. (Moekijat, 1990:8).

Dari hasil Pretest dan Post Test diketahui bahwa pengetahuan yang mereka miliki dapat lebih
dikembangkan dan ditingkatkan melalui keterlibatan mereka dalam mengikuti pelatihan. Terdapat
tiga langkah evaluasi pelatihan dengan menggunakan instrumenn evaluasi dan rancangannya
tergantung dari langkah evaluasi apa yang akan dilakukan. Langkah langkah tersebut antara lain:

Evaluasi awal pelatihan; disediakan sebelum pelatihan dimulai dengan tujuan untuk (1).Mengetahui
reaksi peserta terhadap materi yang diberikan; (2). Mengetahui tingkat pengetahuan atau tingkat
kompetensi teknis peserta; (3). Sebagai informasi bagi pelatih.

Evaluasi proses pelatihan. Tujuannya adalah (1). Mengetahui reaksi peserta terhadap sebagian atau
keseluruhan program pelatihan; (2). Mengetahui hasil pembelajaran peserta; (3). Mengantisipasi
tindakan tertentu ketika diperlukan untuk mengambil langkah-langkah perbaikan.

Evaluasi program pelatihan. Tujuannya adalah (1). Mengetahui hasil pelaksanaan pelatihan dan
pengaruhnya terhadap kinerja serta masalah-masalahnya; (2) Mengetahui opini pemimpin dan
bawahan peserta mengenai hasil pelatihan; (3). Mengetahui hubungan hasil pelatihan serta
dampaknya bagi organisasi di tempat peserta bekerja. (Moekijat, 1990:20).

Evaluasi setelah pelatihan pada tingkat perilaku dalam pekerjaan sangat penting, karena belum tentu
pengetahuan dan pengalaman pembelajaran yang diperoleh dapat diterapkan dalam pekerjaan,
tetapi perilaku yang baik dalam pekerjaan merupakan gabungan dari pengetahuan, keterampilan dan
sikap. Untuk mengetahui seberapa jauh peserta mengadakan perubahan perilaku dalam pekerjaan
setelah mengikuti pelatihan, evaluasi hendaknya dilaksanakan oleh beberapa pihak, antara lain:
peserta sendiri, atasan peserta, bawahan peserta, teman sekerja dan pasen serta
masyarakat. (Moekijat, 1990:25).

Salah satu tehnik evaluasi setelah pelatihan yang berhubungan dengan perilaku adalah pendekatan
terhadap evaluasi, (Moekijat, 1990:27) dengan 3 langkah evaluasi:

Evaluasi oleh peserta segera setelah pelatihan dengan menggunakan daftar isian.

Evaluasi oleh peserta 4 bulan setelah pelatihan dengan menggunakan daftar isian

Evaluasi peserta dengan supervisornya 6 bulan setelah pelatihan dengan tehnik wawancara terpola
dan pertanyaannya meliputi: tujuan pelatihan, metoda,isi dan pendapat mengenai penerapannya.

Bagi peserta training, evaluasi training dapat memberikan feedback berupa seberapa signifikannya
training tersebut mempunyai impact bagi pekerjaannya, perubahan bagi dirinya, kecocokan program
dan manfaat-manfaat lainnya.

Ini adalah daftar berbagai aspek pelatihan yang dimasukkan ke dalam evaluasi peserta (Moekijat,
1990:30), yaitu:

Apakah tujuan pelatihan, sasaran pembelajaran, dsb, sudah terpenuhi

Pertanyaan khusus tentang kaitan dari masing-masing sesi; apakah informasi yang disampaikan sudah
sesuai dan memadai; apakah penyampaiannya diberikan dengan cara yang menarik

Bagaimana para peserta menerima dan mengambil manfaat dari setiap tugas pelatihan yang diberikan

Apakah ada yang hilang dari pelatihan tersebut

Kualitas dan hubungan dari handout

Kenyamanan tempat pelatihan

Ruang yang diberikan dari tempat pelatihan

Suhu dan sirkulasi udara dalam tempat pelatihan

Saran-saran umum tentang tempat pelatihan (kondusif untuk pelatihan, suasana yang tenang, dsb)

Kualitas konsumsi: tepat waktu, memadai, sesuai dengan harganya

Apabila para peserta memiliki ketentuan-ketentuan pelatihan lanjutan

Evaluasi Instruktur Pelatihan

Bagi sang trainer, evaluasi tidak kalah pentingnya, yaitu dapat memberikan feedback tentang apakah
peserta puas dengan isi program training, kedalaman meteri training, caranya mengajar, caranya
mendelivery ilmunya dan sebagainya. Bukan hal yang mudah bagi seorang trainer untuk dapat
memuaskan seluruh pesertanya, bisa dibayangkan, jika dalam sebuah kelas pelatihan, jumlah peserta
10, 20, 30 bahkan mungin 500 peserta, sang trainer dituntut untuk dapat bertindak secara efektif dan
efisien agar seluruh materi dapat terserap dan seluruh peserta puas dengan caranya mentransfer
seluruh isi materi. Seorang trainer dituntut mampu memainkan peran sebagai seorang trainer, coach,
guru, fasilitator, entertainer, pendongeng atau bahkan mungkin sebagai pelawak. (Moekijat,
1990:35).
Jadi, aspek yang dinilai untuk instruktur atau fasilitator meliputi: Penguasaan atas materi yang
diajarkan dan Kemampuan dalam menyajikan materi.

Contoh Instrument Evaluasi Peserta Dan Instruktur Pelatihan

Sumber : http://www.hrd-
forum.com/HRDIndonesia/Article/evaluasi-training

Kesimpulan

Pelatihan merupakan salah satu kunci untuk membawa seseorang atau suatu organisasi menjadi lebih
baik dan efektif dalam mencapai tujuannya. Evaluasi yang dilakukan pada setiap program adalah
evaluasi terhadap aspek-aspek yang menunjukkan respon selama pelatihan berlangsung.

Evaluasi peserta merupakan suatucara untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan


keterampilan melalui Pretest dan Post Test. Bagi peserta training, evaluasi training dapat memberikan
feedback berupa seberapa signifikannya training tersebut mempunyai impact bagi pekerjaannya,
perubahan bagi dirinya, kecocokan program dan manfaat-manfaat lainnya.

Evaluasi istruktur pelatihan adalah untuk memberikan feedback tentang apakah peserta puas dengan
isi program training, kedalaman meteri training, caranya mengajar, caranya mendelivery ilmunya dan
sebagainya.

Referensi:

Moekijat. (1990). Evaluasi Pelatihan Dalam Rangka Meningkatkan Produktivitas Perusahaan.Bandung:


Penerbit Mandar Maju.

Marzuki, M.S. (1992). Strategi dan Model Pelatihan. Malang : IKIP Malang.

Franco, EA. (1991). Training. Quizon City: kalayan Press Mktg Ent Inc.

Nawawi, H, (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.
Arikunto, Suharsini dan Safruddin, Cepi. (2004). Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoritis Praktis
Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Wikipedia. Evaluasi. [Online]. Tersedia di : http://id.wikipedia.org/wiki/Evaluasi (13 April 2012)

Sudijono, A. (2007). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sudjana. (2004). Manajemen Program Pendidikan, untuk pendidikan Non Formal dan Pengembangan
Sumber daya Manusia. Bandung: Falah Production

Nana Sudjan a & Ibrahim. (2004).Penelitian dan penilaian pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.