Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN NY. JD DENGAN Ca. RECTI DI RUANGAN BEDAH WANITA

RSUD dr. M. HAULUSSY AMBON

OLEH :

FRANSISCA MARSELA KAILOLA

NPM. 1490118014

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MALUKU HUSADA

NERS ANGKATAN IV

2018
LAPORAN PENDAHULUAN CA RECTI

A. DEFINISI
Ca. Recti adalah keganasan jaringan epitel pada daerah rektum. Kanker colorectal
berasal dari jaringan kolon (bagian terpanjang di usus besar) atau jaringan rektum (beberapa
inci terakhir di usus besar sebelum anus). Sebagian besar kanker colorectal adalah
adenocarcinoma (kanker yang dimulai di sel-sel yang membuat serta melepaskan lendir dan
cairan lainnya).( Parkwaycancercentre.com )
Karsinoma rekti adalah suatu keadaan dimana terjadi pertumbuhan jaringan
abnormal pada daerah rectum. Jenis terbanyak adalah adenokarsinoma (65%), banyak
ditemui pada usia 40 tahun keatas dengan insidens puncaknya pada usia 60 tahun (Price A.
Sylvia, 2012)

B. ETIOLOGI ( Faktor penyebab )


Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko
telah teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga, riwayat
penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak protein dan daging serta rendah serat. (
Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1123 ).
Penyebab pasti belum diketahui namun telah dikenali beberapa faktor predisposisi
yang penting yang berhubungan dengan carsinoma recti.
1. Diet
Makanan yang banyak mengandung serat misalnya sayur-sayuran akan
menyebabkan waktu transitbolus di intestin akan berkurang, sehingga kontak zat yang
potensial karsinogen pada mukosa lebih singkat. Selain itu makan makanan yang
berlemak dan protein hewani yang tinggi dapat memicu terjadinya Ca. Rekti

2. Kelainan di colon
 Adenoma di kolon, bentuk villi dapat mengalami degenerasi maligna menjadi
adenokarsinoma
 Familial poliposis merupakan kondisi premaligna dimana + 7 % polipasis akan
mengalami degenerasi maligna
 Kolitis ulserativa, mempunyai resiko besar yang terjadi Ca. Rekti
3. Herediter
Hasil penelitian menunjukkan anak – anak yang berasal dai ortu yang menderita
Ca.kolateral mempunyai frekuensi 3,5 x lebih besar dari pada anak yang mempunyai
orang tua yang sehat
4. Polip di usus (Colorectal polyps)

Polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam kolon atau rektum, dan sering
terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan
kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker.

5. Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn


Orang dengan kondisi yang menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya
colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang
lebih besar
6. Riwayat kanker pribadi
Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat terkena kanker
colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat kanker di indung
telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi
untuk terkena kanker colorectal.
7. Riwayat kanker colorectal pada keluarga
Jika Anda mempunyai riwayat kanker colorectal pada keluarga, maka
kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih besar, khususnya jika saudara Anda
terkena kanker pada usia muda.
8. Faktor gaya hidup

Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi lemak dan sedikit
buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker
colorectal.

9. Usia di atas 50
Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia lebih tua. Lebih dari 90
persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas.
C. JENIS KLASIFIKASI
Dokter membagi kanker colorectal berdasarkan stadium berikut:
1. Stadium 0: Kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam di kolon atau rektum.
Carcinoma in situ adalah nama lain untuk kanker colorectal Stadium 0.
2. Stadium I: Tumor telah tumbuh ke dinding dalam kolon atau rektum. Tumor belum
tumbuh menembus dinding.
3. Stadium II: Tumor telah berkembang lebih dalam atau menembus dinding kolon atau
rektum. Kanker ini mungkin telah menyerang jaringan di sekitarnya, tapi sel-sel kanker
belum menyebar ke kelenjar getah bening,
4. Stadium III: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, tapi belum
menyebar ke bagian tubuh yang lain.
5. Stadium IV: Kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya hati atau paru-
paru.
6. Kambuh: Kanker ini merupakan kanker yang sudah diobati tapi kambuh kembali setelah
periode tertentu, karena kanker itu tidak terdeteksi. Penyakit ini dapat kambuh kembali
dalam kolon atau rektum, atau di bagian tubuh yang lain.
( parkwaycancercentre.com )

Menurut klasifikasi dukes berdasarkan atas penyebaran sel karsinoma dibagi


menjadi :
Kelas A : Tumor dibatasi mukosa dan submukosa.
Kelas B : Penetrasi atau penyebaran melalui dinding usus.
Kelas C : Invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional.
Kelas D : Metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas.
( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1126 ).

E. MANIFESTASI KLINIS

 Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit/konstipasi)


 Usus besar Anda terasa tidak kosong seluruhnya

 Ada darah (baik merah terang atau kehitaman) di kotoran Anda

 Kotoran Anda lebih sempit dari biasanya


 Sering kembung atau keram perut, atau merasa kekenyangan

 Kehilangan berat badan tanpa alasan

 Selalu merasa sangat letih

 Mual atau muntah-muntah.


( parkwaycancercentre.com )

D. PATOFISIOLOGI DAN BAGAN PENYIMPANGAN KDM


Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul dari
lapisan epitel usus). Di mulai sebagai polip jinak (dapat diakibatkan pola diet rendah serat)
tetapi dapat menjadi ganas karena faktor mutasi (sesuai dengan teori seleksi sel,dr. Jan
tambayong,patofisiologi hal. 69) dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas
kedalam struktur sekitarnya, sel kanker dapat terlepas dari tumor dan menyebar ke bagian
tubuh yang lain terutama yang paling sering ke hati. Melalui proses invasi dengan cara
tumbuh menyebar keluar lokasi asalnya, dilanjutkan pemisahan sel dengan menembus
pembuluh darah,kemudian menetap pada endotelium yang disebut proses diseminasi
akhirnya sel kanker ini menetap pada area baru dan menyasuaikan diri untuk pertumbuhan
selanjutnya yang disebut proliferasi. (Sumber : Patofisiologi untuk keperawatan hal.67-72
(dr. Jan tambayong) dan brunner & sudarth,hal. 1136.)
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Endoskopi
• Untuk mengetahui adanya tumor/kanker di kolon/rectum
• Untuk menentukan sumber pendapatan
• Untuk mengetahui letak obstruksi
2. Radiologi
• Foto dada : Untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker paru Untuk persiapan
pembedahan
• Foto colon (Banum enema)
• Dapat terlihat suatu filling deffect pada suatu tempat/suatu striktura
• Dapat menentukan lokasi tempat kelainan
3. USG
• Untuk mengetahui apakah ada metastasis kanker ke kelenjar getah bening di
abdomen dan hati
• Gambaran metastasis kanker dihati akan tampak massa multi nodular dengan gema
berdensitas tinggi homogeny. Endosonggrafi Pada karsinoma akan tampak massa
yang hypoechoic tidak teratur mengenai lapisan dinding kolon
4. Histopatologi
Gambaran histopatologi pada karsinoma recti C adenokarsinoma dan perlu
ditentukan differensiasi sel
5. Laboratorium
• Hb : menurun pada perdarahan
• Tumor marker (LEA) > 5 mg/ml
• Pemeriksaan tinja secara bakteriologis ; terdapat sigela dan amoeba
6. Tes darah samar pada feses/kotoran (Fecal Occult Blood Test – FOBT)
Terkadang kanker atau polip mengeluarkan darah, dan FOBT dapat mendeteksi
jumlah darah yang sangat sedikit dalam kotoran. Karena tes ini hanya mendeteksi darah,
tes-tes lain dibutuhkan untuk menemukan sumber darah tersebut. Kondisi jinak (seperti
hemoroid), juga bisa menyebabkan darah dalam kotoran.

7. Sigmoidoskopi
Dokter akan memeriksa rektum Anda dan bagian bawah kolon dengan tabung
cahaya (sigmoidoskop). Jika ditemukan polip (pertumbuhan jinak yang dapat menjadi
kanker), maka polip bisa diangkat.
8. Kolonoskopi
Dokter akan memeriksa rektum dan seluruh kolon dengan menggunakan tabung
panjang bercahaya (kolonoskop). Jika ditemukan polip (pertumbuhan jinak yang dapat
menjadi kanker), maka polip bisa diangkat.
9. Enema barium kontras ganda (Double-contrast barium enema)
Prosedur ini mencakup pengisian kolon dan rektum dengan bahan cair putih
(barium) untuk meningkatkan kualitas gambar sinar X. Dengan demikian,
ketidaknormalan (seperti polip) dapat terlihat dengan jelas.
10. Pemeriksaan rektal secara digital
Pemeriksaan rektal seringkali menjadi bagian pemeriksaan (check-up) fisik rutin.
Dokter akan memasukkan jari dengan sarung tangan yang telah dilumasi ke dalam
rektum, untuk merasakan ketidaknormalan.
( parkwaycancercentre.com )

G. PENATALAKSANAAN
1. Penghisapan nasogastrik
Jika didapati pasien dengan obstruksi usus dan terjadi perdarahan yang cukup berarti.
2. Terapi komponen darah (Endoskopi, Ultrasonografi, Laparoskopi)
Dilakukan pada periode pre operatif.
3. Terapi ajufan
 Kemoterapi : Kemoterapi yang biasa diberikan ialah 5 florourasil (5FU)
4. Terapi radiasi
Setelah dilakukan tindakan pembedahan perlu dipertimbangkan untuk melakukan
radiasi dengan dosis adekuat
5. Imunotropi : Dilakukan/dapat digunakan pada periode pre operatif,intraoperatif dan post
operatif.

Alat radiasi intrakovitas


Digunakan pasca operasi untuk mengurangi resiko kekambuhan tumor dengan
cara diimplantasikan.
Metode pentahapan yang sering digunakan secara luas adalah klasifikasi duke :
Kelas A : Tumor dibatasi mukosa dan submukosa.
Kelas B : Penetrasi atau penyebaran melalui dinding usus.
Kelas C : Invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional.
Kelas D : Metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas
( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1126 ).
6. Penatalaksanaan bedah :
 Kolonoskopi : Untuk kanker yang terbatas pada satu sisi.

 Polipektomi : Metode dalam kolostomi laparoskopik agar dapat meminimalkan area


pembedahan pada beberapa usus.

 Laser Nd:YAG : Efektif untuk lesi A,B dan C

Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan besarnya tumor. Pemilihan prosedur
pembedahan tumor sebagai berikut (menurut Duoghty & Jackson,2011)
 Reseksi segmental : anastomosis ( pengngkatan tumor dan porsi usus pada sisi
pertumbuhan,pembuluh darah dan nodus limfatik.
 Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen (pengangkatan tumor
dan persi sigmoid dan semua rektum dan sfingter anal).
 Kolostomi sementara dengan reseksi segmental dan anastomosis serta reanastomosis
lanjut dari kolostomi (memungkinkan dekompresi usus awal dan persiapan usus
sebelum reseksi)
 Kolostmi permanen atau ileostomi (untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak
dapat direseksi).
(Brunner & suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah ed.8,hal. 1127).

H. KOMPLIKASI

1. Karsinoma kolon dapat bermetastase dengan jalan


 Langsung perkontinuitatum dinding usus dan organ disekitarnya

 Hematogen

 Linefogen : Metastasis sering terjadi ke kelenjar getah bening dan organ lain, misal ke
hati, paru dan otak

2. Komplikasi lainnya
 Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus pertial/lengkap
 Pertumbuhan dan ulserasi dapat menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang
menyebabkan hemoragi
 Perforasi dapat terjadi yang menyebabkan pembentukan abses
 Peritonitis /sepsis yang dapat menimbulkan syock

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM


PENCERNAAN SEHUBUNGAN DENGAN NEOPLASMA, Ca. RECTI
A. PENGKAJIAN
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah
1. Anamnese
 Identitas pasien.
 Identitas penanggung jawab.
Keluhan utama : Dilihat dari tanda dan gejala penyakit.
Riwayat penyakit sekarang : Dengan format P Q R S T
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit keluarga
Pola kebiasaan
 Aktivitas/istirahat:
Gejala: a)Kelemahan, kelelahan/keletihan
 Perubahan pola istirahat/tidur malam hari;
adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan
berkeringat malam hari. Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen
lingkungan, tingkat stres tinggi.
 Sirkulasi:
Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda: Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.
 Integritas ego:
Gejala:
a) Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres
(merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)
b) Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)
c) Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
Tanda: Menyangkal, menarik diri, marah.

 Eliminasi:
Gejala: Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi
Tanda: a)Perubahan bising usus, distensi abdomen
b)Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah
 Makanan/cairan:
Gejala:
a) Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan
bahan pengawet)
b) Anoreksia, mual, muntah
c) Intoleransi makanan
Tanda: Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot 6.
 Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala: Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses
penyakit
 Keamanan
Gejala: Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda: Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia
 Interaksi social
Gejala:
a) Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
b)Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status
kesehatan
Riwayat spiritual,sosial dan konsep diri.

2. Pemeriksaan Fisik
 Tonus sfingterani keras/lembek.
 Mukosa kasar, kaku biasanya tidak dapat digeser.
 Ampula rektum kolaps/kembung terisi feses atau tumor yang dapat teraba ataupun
tidak.
 Sirkulasi
Takikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi dan nyeri), kemerahan,
ekimosis, hipotesis
 Respirasi
Sarak nafas, batuk, ronchi, expansi paru yang terbatas
 GIT
Anoreksia, mual, muntah, penurunan bising usus, kembung, nyeri abdomen, perut
tegang, nyeri tekan pada kuaran kiri bawah
 Eliminasi
BAB berlendir dan berdarah, BAB tidak ada flatur tidak ada, BAB kecil seperti feses
kambing, rasa tidak puas setelah BAB, perubahan pola BAB/konstiasi/hemoroid,
perdarahan peranal, BAB ; oliguria
 Aktifitas/istirahat
Kelemahan, keleahan, insomnia, gelisah dan ansietas

3. Pemeriksaan Penunjang
 Tes darah samar pada feses/kotoran (Fecal Occult Blood Test – FOBT).
 Sigmoidoskopi
 Kolonoskopi
 Enema barium kontras ganda (Double-contrast barium enema)
 Pemeriksaan rektal secara digital

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus
sekunder terhadap proses keganasan usus. Ditandai dengan:
Peningkatan bunyi usus/peristaltik
Peningkatan defekasi cair
Perubahan warna feses
Nyeri/kram abdomen

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien,
status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus. Ditandai dengan:
Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk
Peningkatan bunyi usus
Konjungtiva dan membran mukosa pucat
Mual, muntah, diare
3. Ansietas (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status
kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang
simpatis (proses neoplasma) Ditandai dengan:
Eksaserbasi penyakit tahap akut
Penigkatan ketegangan, distres, ketakutan
Iritabel
Fokus perhatian menyempit
4. Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui
ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri
hebat, sistem pendukung tak adekuat) Ditandai dengan:
Menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah, putus asa, ansietas
Menyatakan diri tidak berharga
Depresi dan ketergantungan
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d
kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi. Ditandai dengan:
Mengajukan pertanyaan, meminta informasi atau kesalahan pernyataan konsep
Tidak akurat mengikuti instruksi
Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah
6. Nyeri akut b/d proses penyakit (kompresi/destruksi jar. Saraf, infiltrasi saraf atau
suplai vaskularnya, obstruksi jaras saraf, inflamasi) efek samping berbagai agen
terapi saraf kanker. Ditandai dengan :
keluhan nyeri
memfokuskan pada diri sendiri/ penyempitan fokus
distraksi/ perilaku berhati-hati
gelisah, respons autonomik

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus
sekunder terhadap proses keganasan usus.
INTERVENSI KEPERAWATAN
 Bantu kebutuhan defekasi (bila tirah baring siapkan alat yang diperlukan dekat
tempat tidur, pasang tirai dan segera buang feses setelah defekasi).
 Tingkatkan/pertahankan asupan cairan per oral.
 Ajarkan tentang makanan-minuman yang dapat memperburuk/mencetus-kan
diare.
 Observasi dan catat frekuensi defekasi, volume dan karakteristik feses.
 Observasi demam, takikardia, letargi, leukositosis, penurunan protein serum,
ansietas dan kelesuan.
 Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program terapi (antibiotika,
antikolinergik, kortikosteroid).
RASIONAL
 Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda sehingga perlu diantisipasi dengan
menyiapkan keperluan klien.
 Mencegah timbulnya maslah kekurangan cairan.
 Membantu klien menghindari agen pencetus diare.
 Menilai perkembangan maslah.
 Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi dan peritonitis yang memerlukan
tindakan kedaruratan.
 Antibiotika untuk membunuh/menghambat pertumbuhan agen patogen biologik,
antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus dan menurunkan sekresi
digestif, kortikosteroid untuk menurunkan proses inflamasi
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status
hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.
INTERVENSI KEPERAWATAN
 Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi
 Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).
 Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan
klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa)
 Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia) Bila perlu,
kolaborasi pemberian nutrisi parenteral.
RASIONAL
 Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan
simpanan energi. Meningkatkan kenyamanan dan selera makan. Asupan kalori
dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme
klien keganasan.
 Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian
asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karen amalbasorbsi.
 Pemberian peroral mungkin dihentikan
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status
hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus
INTERVENSI KEPERAWATAN
 Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi
 Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).
 Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan
klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa)
 Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia) Bila perlu,
kolaborasi pemberian nutrisi parenteral.
RASIONAL
 Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan
simpanan energi.
 Meningkatkan kenyamanan dan selera makan.
 Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status
hipermetabolisme klien keganasan.
 Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian
asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karen amalbasorbsi.
 Pemberian peroral mungkin dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran
cerna

4. Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status


kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis
(proses neoplasma)
INTERVENSI KEPERAWATAN
 Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang
diharapkan.
 Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik. Tekankan bahwa
kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi
klien saat ini.
 Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan
pertahankan ketenangan lingkungan.
 Kolaborasi pemberian obat sedatif. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal
klien yang menunjukan kecemasan
RASIONAL
 Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan
kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien
mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.
 Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat masalah kecemasan dan menawarkan
solusi yang dapat dilakukan klien.
 Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien
satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya.
 Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan
kecemsan. Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat. Menilai
perkembangan masalah klien
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang
pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.
INTERVENSI KEPERAWATAN
 Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan belajar
klien.
 Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab/faktor risiko, dan dampak penyakit
terhadap perubahan status kesehatan-sosio-ekonomi, fungsi-peran dan pola
interaksi sosial klien.
 Jelaskan tentang terapi pembedahan, radiasi dan kemoterapi serta efek samping
yang dapat terjadi Tekankan pentingnya mempertahan-kan asupan nutrisi dan
cairan yang adekuat
RASIONAL
 Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien.
 Meningkatkan pengetahuan klien tentang masalah yang dialaminya.
 Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien untuk mengikuti program terapi.
 Penderita kanker yang mengikuti program terapi yang tepat dengan status gizi
yang adekuat meningkatkan kualitas hidupnya
6. Nyeri akut b/d proses penyakit (kompresi/destruksi jar. saraf, infiltrasi saraf atau suplai
vaskularnya, obstruksi jaras saraf, inflamasi)
INTERVENSI KEPERAWATAN
 Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang
intensitas pada skala 0
 Kaji pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien
 Catat kemungkinan penyebab nyeri
RASIONAL
 Membantu dalam evaluasi gejala nyeri karena kanker.
 Penggunaan skala rentang membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan
memberikan alat untuk evaluasi keefektifan analgesic
 meningkatkan control nyeri

PRE OPERASI
DIAGNOSA 1
Nyeri sehubungan dengan adanya kanker pada daerah rektal.
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL EVALUASI
Setelah dilakukan  Kaji tingkat nyeri.  Untuk mengetahuiNyeri yang
tindakan seberapa dalam nyeridirasakan klien
 Berikan tehnik yang dirasakan.
distraksi dan
 Agar membantu
relaksasi
mengurangi rasa sakit.
keperawatan
 Berikan  Meningkatkan relaksasi
diharapkan nyeri
lingkungan yang dan membantu
yang dirasakan tidak dirasakan
nyaman pada memfokuskan kembali
oleh klien hilang lagi.
klien. perhatian.
atau tidak
dirasakan lagi.  Berikan analgetik  Nyeri adalah komplikasi
sesuai serng pada kanker,dengan
prosedur/instruksi memberi analgetik dapat
dokter. mengurangi rasa nyeri.

DIAGNOSA 2
Cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan dan rasa takut karena resiko kematian.
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL EVALUASI
Setelah  Kaji klien/orang  Pengetahuan tentangKlien memperoeh
dilakukan terdekat terhadap proses berdukapengetahuan akan
tindakan duka yang memperkuat penyakitnya dan klien
keperawatan dialami. Jelaskan normalitas dapat beraktivitas dengan
diharapkan klien sesuai kebutuhan. perasaan/reaksi normal,merencanakan
dapat informasi terhadap apa yangmasa depan.
 Perkirakan syok
yang diperukan dialami dan dapat
awal dan ketidak
dan dapat membantu pasien
yakinan setelah
mengembalikan menghadapi lebih
diagnosis kanker
kepercayaan diri efektif dengan
dan/atau prosedur
seperti semula. mereka.
yang
menimbulkan  Sedikit pasien yang

trauma. benar-benar siap


untuk realita
 Diskusikan
perubahan yang
dapat terjadi.

 Untuk
menyampaikan

informasi yang informasi yang

diperlukan klien dibutuhkan oleh


pasien.
 Dorong
pengungkapan  Pasien merasa

pikiran/masalah terdukung

dan penerimaan mengekspresikan

ekspresi perasaan dengan

kesedihan,marah memahami bahwa

dan penolakan konflik emosi yang


dalam dan sering
adalah normal dan
dapat dialami oleh
orang lain dalam
situasi sulit.

DIAGNOSA 3
Nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan hipermetabolik akibat kanker.
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL EVALUASI
Setelah  Pantau masukan  Mengidentifikasi BB stabil dan
dilakukan makanan tiap hari, kekuatan/defisiensi pemahaman
tindakan biarkan pasien kekuatan. pengaruh
keperawatan menyimpan buku individual pada
 Kebutuhan jaringan
diharapkan BB harian tentang masukan adekuat
metabolik ditingkatkan
stabil dan makanan sesuai dan klien mampu
begitu juga cairan (untuk
pemahaman indikasi. berpartisipasi
menghilangkan produk
pengaruh dalam intervensi
 Dorong pasien
untuk makan diet
tinggi kalori kaya
nutrien dengan
masukan cairan
adekuat dan
dorong sisa) dan suplemen dapat

penggunaan memainkan peran penting

suplemen dan dalam mempertahankan

makan maskan kalori da protein

sering/lebih adekuat.

sedikit dibagi-bagi
individual pada  Membuat waktu makan
selama sehari.
masukan adekuat lebih menyenangkan,yang
dan pasien dapat dapat meningkatkan
 Ciptakan suasana spesifik untuk
berpartisipasi masukan
makan malam merangsang nafsu
dalam intervensi yang
 Sering sebagai sumbermakan.
spesifik untuk menyenangkan.
distres emosi khususna
merangsang Dorong pasien
untuk orang terdekat yang
nafsu makan. untuk berbagi
menginginkan untuk
makanan dengan
memberi makan pasien
keluarga/teman.
dengan sering. Bila pasien

 Dorong menolak orang terdekat

komunikasi dapat merasa

terbuka mengenai ditolak/frustasi.

masalah
anoreksia.

POST OPERASI
DIAGNOSA 1
Nyeri pada post operasi sehubungan dengan pembedahan.
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL EVALUASI
 Bermanfaat dalam
evaluasi.
 Kaji tingkat nyeri.

 Nyeri menentukan
 Atur posisi pasien
Setelah efektivitas terapi.
senyaman
dilakukan
mungkin. Klien mengungkapkan
tindakan  Meningkatkan
tidak nyeri lagi,nyeri
keperawatan relaksasi dan
 Ajarkan tenik berkurang dan klien
diharapkan nyeri meningkatkan
distraksi dan tidak tampak meringis
yang dirasakan kemampuan koping
relaksasi. dan menahan sakit
oleh klien hilang pasien.
lagi.
atau tidak  Kolaborasi dengan
 Membantu
dirasakan lagi. tim dokter dalam
memfokuskan
pemberian terapi
perhatian dan
analgetik
membantu pasien
untuk mengatasi nyeri.

DIAGNOSA 2
Resiko infeksi sehubungan dengan adanya luka akibat pembedahan.
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL EVALUASI
Setelah dilakukan  Observasi tanda-  Pengontrolan tanda-Tanda-tanda

tindakan keperawatan tanda infeksi. tanda infeksi sejakinfeksi tidak


diharapkan klien tidak dini. terjadi.
 Gunakan tehnik
akan mengalami infeksi
septik dalam  Mencegah masuknya
akibat
setiap tindakan mikroorganisme
mikroorganismelalui
keperawatan melalui luka
luka pembedahan.
terhadap luka pembedahan.

pembedahan.
 Membantu potensial
sumber infeksi
 Tekankan higiene
dan/atau
personal.
pertumbuhan
sekunder.

DIAGNOSA 3
Defisit perawatan diri sehubungan dengan keterbatasan aktivitas fisik.
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL EVALUASI
Setelah dilakukan  Ajakan pada keluarga  Salah satu
tindakan keperawatan untuk membantu pemenuhan
diharapkan defisit pemenuhan kebutuhan rasa nyaman.
keperawatan diri dasar klien seperti mandi
Kebutuhan dasar
pasien dan makan.  Salah satu
aktivitas pasien
pemenuhan
terpenuhi.
dapat teratasi.  Bantu perawatan rasa nyaman.
Dengan kriteria diri/personal hygiene

hasil : kuku dan kulit klien seperti perawatan

pasien tidak kotor. kuku,rambut dan kulit.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Potter, Patricia A Perry, Anne Griffin. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.
Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Doenges, Marlynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Ramali, Ahmad. 2003. Kamus Kedokteran : Arti dan keterangan Istilah. Jakarta : EGC.

www.google.com//kanker rectum/PCC (Parkway Cancer Centre).